Anda di halaman 1dari 11

Laporan Modul 02, MG 3017 Pengolahan Bahan Galian

Sampling dan Analisis Ayak


Charles Candra Pratama (12116082) / Kelompok 3 / Jumat, 14.00-
17.00 WIB / 22 Februari 2019
Asisten : Arief Prasetyo Marwan (12515036)

Laboratorium Geomekanika dan Peralatan Tambang


Program Studi Teknik Pertambangan
Institut Teknologi Bandung

Abstrak

Praktikum modul 02 Sampling dan Analisis Ayak - Praktikum ini dilakukan untuk menjelaskan praktikan terkait kegiatan
sampling serta analisis ayak. Tujuan dari praktikum ini adalah menentukan P80, menentukan selang rataan tiap metode
sampling, serta menentukan metode sampling terbaik. Kedua percobaan menggunakan mineral galena (PbS) dan silika (SiO2).
Pada praktikum tersebut, terdapat 2 kegiatan percobaan, yang pertama yaitu analisis ayak, sedangkan yang kedua yaitu
sampling. Pada kegiatan analisis ayak, material campuran yang digunakan sebnayak 500 gram yang sudah dipasang
saringan. Setelah semua saringan disusun dan material dimasukan ke dalam saringan dengan ukuran mesh terkecil, saringan
diletakkan di atas vibrator. Pengayakan dilakukan selama 15 menit. Kemudian ditunggu. Setelah pengayakan selesai,
material yang tertahan di masing-masing saringan ditimbang di setiap pengayak ukuran berbeda.. Hasil ayakan material
digunakan untuk kegiatan yang kedua, yaitu sampling. Percobaan ini menggunakan tiga teknik sampling yaitu metode coning
dan quartering, increment sampling, dan riffle. . Teknik coning quartening menggunakan corong untuk membentuk kerucut
pada sampel. Lalu kerucut tersebut ditekan dengan menggunakan nampan sehingga sampel berbentuk lingkaran. Setelah itu,
sampel dibagi menjadi empat bagian yang sama besar dengan menggunakan penggaris, lalu di grain counting. Lalu metode
increment sampling, sampel yang berbentuk kerucut tadi langsung disekop pada bagian tengahnya. Lalu dihitung kadarnya
dengan teknik grain counting.Dan yang terakhir adalah riffle menggunakan suatu alat yang bernama riffle untuk membagi
sampel ke dalam dua bagian yang sama besar. Setelah itu, dipilih sampel yang akan dihitung kadarnya dengan menggunakan
teknik grain counting di antara dua sampel yang tersedia. Grain counting merupakan suatu teknik menghitung kadar dengan
menggunakan sembilan persegi sama besar dan menghitung jumlah butir masing-masing mineral yang ada di persegi dengan
nomor ganjil.. Butiran mineral ditaburkan di atas kertas,lalu dihitung. Dari percobaan ini didapatkan hasil yaitu P80 bernilai
0,397 mm, selang rataan galena metode coning quartening 47,535< λ< 56,385, selang rataan galena metode increment 3
7,275< λ< 51,951 , selang rataan metode riffle 45,165< λ<59,784 . Berdasarkan analisa menggunakan selang rataan
terkecil dan variansi yang kecil didapatkan metode sampling terbaik adalah metode Coning Quartening

A. Tinjauan Pustaka Increment yaitu sejumlah material yang diambil


sebagai contoh dari lot dengan menggunakan alat
Sampling adalah operasi pengambilan sebagian, yang sampling dan dengan satu kali operasi (misal dengan satu
banyaknya cukup untuk dianalisis atau uji fisik dari suatu kali sekop).
yang besar jumlahnya, sedemikian rupa sehinggga
perbandingan dan distribusi kualitas keduanya sama. Terdapat 3 metode dalam sampling, yaitu coning
quartnening, metode increment, dan metode riffle.
Suatu yang besar jumlahnya seperti disebut di atas Semuanya akan di grain counting untuk mendapatkan data
disebut lot atau populasi. Besaran tentang populasi disebut galena dan silikaa yang dianggap representative.
parameter sedangkan besaran yang diperoleh dari contoh
disebut statistik. Agar perkiraan dari statistik terhadap Riffle
parameter sesuai, contoh yang diperoleh harus Riffle merupakan alat sampling yang membagi
representatif atau dapat dipercaya. Artinya, harus diambil
mineral yang diumpankan menjadi dua bagian. Metode ini
menurut teknik dan prosedur yang benar.
cukup bagus dalam mengambil saple untuk melakukan
Random sampling yaitu cara mengumpulkan contoh
grain counting dalam percobaan ini.
sedemikian rupa sehingga setiap unit yang membentuk lot
mempunyai kesempatan/peluang yang sama untuk Coning & Quatering
diikutkan ke dalam contoh.
Metode lain yang digunakan adalah metode
Sistematic sampling ialah cara mengumpulkan
Coning & Quatering. Metode ini dilakukan secara manual,
contoh dari lot pada interval yang spesifik dan teratur, baik
dalam istilah jumlah, waktu dan ruang. tidak menggunakan alat seperti riffle. Increment yang
diambil dibagi 4 bagian utama. Bagian yang diambil
untuk grain counting adalah bagian yang saling besar dari ukuran lubang saringan dan meloloskan material
bersebrangan. yang berukuran lebih kecil daripada ukuran lubang
saringan. Tutup ayakan digunakan untuk menutup ayakan
Grain Counting tertatas agar ketika ayakan digetarkan partikel yang ringan
tidak terbang. Sedangkan vibrator digunakan untuk
Prosedur yang dilakukan setelah mengambil sample mengetarkan ayakan sehingga partikel di dalam ayakan
dalam increment adalah grain counting. Grain counting dapat bergetar.
merupakan teknik penentuan kadar suatu mineral dengan
Gaudin – Schuhmann Plot
menghitung butir yang ada dalam kotak-kotak seperti pada
Gaudin – Schuhmann Plot dinyatakan dalam
gambar dibawah ini.
persamaan

1 2 Y = 100 [ x / k ]m

Y = % berat kumulatif lolos ukuran x

5 m = modulus distribusi

k = modulus ukuran dalam mikron


3 4
x = ukuran partikel

Data hasil analisis ayak umumnya dipresentasikan


Butiran dari inkremen dijatuhkan diatas kotak 5, dalam bentuk grafik yaitu memplot ukuran partikel pada
kemudian hitung jumlah butiran masing-masing mineral di absis (sumbu x) dan berat sebagai ordinat (sumbu y). Ada
masing-masing kotak. Dalam menghitung jumlah butiran dua pendekatan dalam menggambarkan berat yaitu jumlah
masing-masing mineral digunakan dasar perbedaan warna berat masing-masing fraksi dalam persen atau, jumlah
dan kilap dalam menentukan perbedaan mineral-mineral berat kumulatif yaitu jumlah berat dalam persen yang lebih
dalam sample. Misalnya, dalam percobaan ini digunakan besar dan lebih kecil ukuran tertentu.
campuran kasiterit dan kuarsa. Kuarsa berwarna putih dan
kasiterit berwarna hitam 1. Direct plot
Pada grafik ini ukuran partikel pada jarak yang sama
Dalam pengolahan bahan galian, untuk menentukan sebagai absis diplot terhadap persen berat tertampung
efisiensi berbagai peralatan, menghitung derajat liberasi, pada masing-masing ayakan berukuran tertentu.
serta mencari penyebab dan ukuran mineral berharga yang 2. Cumulative direct plot
hilang bersama tailing, dilakukan analisis ayak. Karena itu, Pada grafik ini persen berat kumulatif tertampung atau
pengetahuan ukuran ayakan, tata cara analisis ayak, serta persen berat kumulatif lolos ayakan diplot terhadap
presentasi hasilnya dalam grafik sangat diperlukan. ukuran. Tipe grafik semacam ini banyak dipergunakan
3. Semi-log plot
Analisis saringan atau analisis ayakan (sieve
Pada grafik ini sumbu x menggunakan skala logaritmik
analysis) adalah prosedur yang digunakan untuk
4. Log-log plot
mengukur distribusi ukuran partikel dari suatu bahan.
Baik sumbu tegak maupun sumbu horisontal
Analisis ayak sangat banyak digunakan dalam pengolahan
menggunakan skala logaritmik
bahan galian, antara lain digunakan untuk menentukan
efisiensi berbagai peralatan, menghitung derajat liberasi, B. Data Percobaan
mencari penyebab dan ukuran mineral berharga yang
hilang bersama tailing. Karena itu pengetahuan ukuran Diagram Alir
ayakan, tata cara analisis ayak serta presentasi hasilnya
dalam bentuk grafik sangat diperlukan. a. Analisis Ayak

Peralatan yang digunakan pada percobaan analisis Disiapkan peralatan pengayakan dan juga
ayak adalah timbangan, sekop, wadah, kuas, saringan, sample serta dijelaskan mengenai mekanisme
tutup ayakan, dan vibrator. Timbangan berfungsi untuk pengayakan oleh asisten.
mengukur berat material awal dan mengukur berat material
yang tertahan di setiap saringan. Sekop digunakan untuk
mengambil material dari kantong sampel yang tersedia di
laboratorium. Wadah digunakan untuk menampung 500 gram bijih disiapkan untuk dilakukan
material awal dan hasil ayakan untuk ditimbang. Kuas analisis ayak.
digunakan untuk membersihkan ayakan dari partikel yang
menempel pada dinding atau lubang ayakan. saringan
digunakan untuk menahan material yang beruukuran lebih
Disiapkan ayakan mesh berukuran 35, 65, 80,
100, serta 140
Saringan-saringan yang akan digunakan
dibersihkan dengan menggunakan kuas.

Material sampel dituangkan ke dalam ayakan

Sample diambil dari 2 sisi berseberangan

Ayakan yang sedah berisi sample diletakkan di


alat penggetar

Dilakukan grain counting dan dicatat hasilya

Waktu diatur selama 15 menit untuk dilakukan


pengayakan dengan cara digetarkan oleh alat Percobaan diulang sebanyak 5 kali
penggetar

c. Sampling dengan metode Riffle


Masing-masig fraksi ayakan ditimbang
Sample diambil dengan sekop lalu
permukaanya diratakan

Dihitung berat tertampung dan berat lolos

Material dimasukkan ke riffle sehingga terpisah

Hasil pencatatan diproses sesuai prosedur


perhitungan
Memilih salah satu dari material yang terpisah

b. Sampling dengan metode Coning Quartening

Seluruh bahan yang tersedia di dalam plastik


sampel dituangkan ke dalam suatu wadah Sample diambil sedikit untuk di grain counting

Sampel tersebut diaduk hingga campuran


Hasil dicatat dan dilakukan 5 kali
galena dan kuarsa menjadi rata.

d. Sampling dengan metode Increment


Sampel yang sudah tercampur rata
dimasukkan ke dalam corong untuk Corong diberdirikan

Kerucut yang terbentuk ditekan dengan


Material sample dimasukkan dan diangkat
nampan hingga berbentuk lingkaran.
sehingga menggunung

Material dibagi menjadi 4 bagian


c. Grain Counting metode Increment

1 2 3 4 5

Diambil setengah tinggi gunung sample H P H P H P H P H P


3 13 2 3 2 2 2 4 18 38
2 1 2 1 1 3 2 7 9 12
1 10 9 17 2 3 1 5 5 31
Dari situ diambil sedikit untuk grain counting 3 2 4 7 9 21 10 23 54 101
6 12 12 33 3 2 3 14 8 42
TABEL 4. DATA PERCOBAAN SAMPLING DENGAN INCREMENT

C. Pengolahan Data Percobaan


Hasil dicatat dan percobaan dilang 5 kali
ANALISIS AYAK
Data Percobaan Hasil ayakan
Mesh Berat %Berat %BTK %BLK
Fraksi (Mesh) gram 35 >35 112.5 22.5 22.5 77.5
35   113 -35 65 239.9 47.98 70.48 29.52
-35 65 240 -65 80 78.3 15.66 86.14 13.86
-65 80 78.3 -80 100 2 0.4 86.54 13.46
-80 100 2 -100 140 47.1 9.42 95.96 4.04
-100 140 47.1 -140 >140 17 3.4 99.36 0.64
-140   17     496.8 99.36 100 0
TABEL 5. DATA HASIL PENGAYAKAN
Total  Loss 2,6 gr 497,4 gram
TABEL 1. DATA PERCOBAAN ANALISIS AYAK
BERAT TOTAL 500 gr
a. Grain Counting metode Coning Quartening
Keterangan :
1 2 3 4 5
% BTK = Persentase Berat Tertampung Kumulatif
H P H P H P H P H P
% BLK = Persentasi Berat Lolos Kumulatif
23 52 31 43 14 26 5 9 54 72
4 29 6 22 4 15 3 4 42 76
4 24 5 13 12 31 9 22 31 57
3 4 6 20 5 8 1 2 20 53
2 4 3 10 1 3 2 6 8 29
TABEL 2. DATA PERCOBAAN SAMPLING DENGAN CONING

b. Grain Counting metode Riffle

1 2 3 4 5  
H P H P H P H P H P
4 1 10 22 2 3 3 9 3 14
GRAFIK 1"DIRECT PLOT"
4 6 2 15 3 6 3 8 22 32
2 10 2 6 2 5 1 9 8 23 Hasil Regresi Direct Plot, didapatkan persamaan linier:
5 20 5 24 3 12 3 10 22 63 Y = -245,07x + 125,11 , dengan nilai R2 = 0,9902
4 8 14 4 6 3 3 8 59 78
TABEL 3. DATA PERCOBAAN SAMPLING DENGAN RIFFLE

GRAFIK 2"DIRECT PLOT DENGAN SUMBU Y %BERAT


TERTAMPUNG
Hasil Regresi Direct Plot, didapatkan persamaan linier: Untuk menentukan P80 digunakan persamaan Gaudin-
Y = 63,434x + 4,0634 , dengan nilai R2 = 0,1779
x m
Schuhman yaitu: Y =100 [ ]
k

Dimana: Y = % berat kumulatif lolos ukuran x

m = modulus distribusi

k = modulus ukuran

x = ukuran partikel

Variabel m didapatkan dari nilai gradien regresi linier pada


grafik log-log plot. Sehingga nilai m adalah 2,9336.
GRAFIK 3"CUMMULATIVE DIRECT PLOT"
Nilai k ditentukan dari persamaan regresi linier grafik
Hasil Regresi Direct Plot, didapatkan persamaan linier: cummulative direct plot. Dengan nilai k sama dengan nilai
Y = -245,07x + 125,11 , dengan nilai R2 = 0,9902 x pada persamaan tersebut. Nilai y dapat disubtitusikan
dengan 80.
Ukuran Mesh (mm) Fraksi (Mesh) %Log Ukuran Mesh Log % BLK
0.42 35 0.37675071 0.110698297  y=245,07 x−25,11
0.21 65 0.677780705 0.529883647
 80=245,07 x−25,11
0.177 80 0.752026734 0.85823677
 105,11=245,07 x
0.149 100 0.826813732 0.87095494
0.113 140 0.946921557 1.393618635  x=k =0,429
0.113 -140 0.946921557 2.193820026
Setelah semua variabel diketahui, kita dapat menghitung
TABEL 6.DATA ANALISIS AYAK DALAM LOG nilai P80 yang adalah nilai x pada persamaan Gaudin-
Schuhman. Nilia Y dapat disubtitusikan dengan 80.

x m
 Y =100 ( )
k
x 2,9336
 80=100( )
0,429
 x=0,1519 × 2,1044√ 0,8
 x=0,397 mm

Jadi, P80 bernilai 0,397 mm.

GRAFIK 4"SEMILOG PLOT" SAMPLING


Hasil Regresi Direct Plot, didapatkan persamaan linier:
Y = 130,36x – 21,534 , dengan nilai R2 = 0,957 A1.No.
HASIL GRAIN
% BeratCOUNTING
(Xi) GALENA(Xi-Xbar)^2
(Xi-Xbar) (PbS)
1 DENGAN CONING QUARTENING
53.88219545 1.925489044 3.707508059
2 26.7048164 -25.25189 637.6579486
3 30.56768559 -21.38902081 457.4902114
4 66.4556962 14.4989898 210.2207052
5 56.91056911 4.953862701 24.54075566
6 65.56881704 13.61211064 185.289556
7 41.87437687 -10.08232953 101.6533689
8 50.39596832 -1.560738082 2.43590336
9 44.21052632 -7.746180089 60.00330596
10 44.21052632 -7.746180089 60.00330596
11 58.71779509 6.761088683 45.71232017
12 41.32841328 -10.62829312 112.9606146
13 50.55672585 -1.399980554 1.959945552
14 62.27758007 10.32087367 106.5204332
15 46.82274247 -5.133963929 26.35758563
16 59.47323704 7.516530639 56.49823285
17 66.4556962 14.4989898 210.2207052
18 GRAFIK51.93734542
5"LOG-LOG PLOT"
-0.01936098 0.000374848
19 56.91056911 4.953862701 24.54075566
20 46.82274247 -5.133963929 26.35758563
21 66.4556962 14.4989898 210.2207052
Hasil Regresi Direct Plot, didapatkan persamaan linier:
22 59.34598304 7.38927664 54.60140926
Y = 2,9336x – 1,2207 , dengan nilai R2 = 0,7461 23 58.95938052 7.002674115 49.03744476
24 49.9197718 -2.036934609 4.149102602
25 42.15280391 -9.80390249 96.11650404
RATA-RATA 51.9567064 JUMLAH 2768.256288
Selisih selang = 52,468-43,618 = 8,849

2768.26
Variansi = S2 = =115,344
25−1

Standar deviasi = S = √ 115,344=10,74 B1.HASIL GRAIN COUNTING GALENA(PbS)


DENGAN METODE INCREMENT
Selang:
No. % Berat (Xi) (Xi-Xbar) (Xi-Xbar)^2
10,74 10,74
51,96−2,06 < λ <51,96+2,06 1 62.12804328 17.2894 298.92343
√25 √ 25 2 15.91591592 -28.9227 836.5240285
3 79.10447761 34.26584 1174.147556
47,535< λ<56,385
4 20.15209125 -24.6865 609.4257402
Selisih selang = 56,386 – 47,535 = 8,845 5 43.08943089 -1.74921 3.059736125
6 36.21867882 -8.61996 74.30374871
7 15.91591592 -28.9227 836.5240285
8 41.69366034 -3.14498 9.890903573
A2.HASIL GRAIN COUNTING SILIKA DENGAN
9 39.84962406 -4.98902 24.8902904
CONING QUARTENING
10 51.00612423 6.167483 38.03784898
No. % Berat (Xi) (Xi-Xbar) (Xi-Xbar)^2 11 27.4611399 -17.3775 301.9775459
1 46.11780455 -1.92548904 3.707508059 12 53.17725753 8.338616 69.53252493
2 73.2951836 25.25189 637.6579486 13 36.21867882 -8.61996 74.30374871
3 69.43231441 21.38902081 457.4902114 14 46.90265487 2.064014 4.260153089
4 33.5443038 -14.4989898 210.2207052 15 20.15209125 -24.6865 609.4257402
5 43.08943089 -4.9538627 24.54075566 16 43.08943089 -1.74921 3.059736125
6 34.43118296 -13.6121106 185.289556 17 56.98924731 12.15061 147.6372328
7 58.12562313 10.08232953 101.6533689 18 65.43209877 20.59346 424.0905012
8 49.60403168 1.560738082 2.43590336 19 46.54448263 1.705842 2.909895528
9 55.78947368 7.746180089 60.00330596
20 63.85542169 19.01678 361.6379463
10 55.78947368 7.746180089 60.00330596
21 44.41993824 -0.4187 0.175312029
11 41.28220491 -6.76108868 45.71232017
22 33.5443038 -11.2943 127.5620537
12 58.67158672 10.62829312 112.9606146
13 49.44327415 1.399980554 1.959945552 23 70.12377294 25.28513 639.3378954
14 37.72241993 -10.3208737 106.5204332 24 41.45434833 -3.38429 11.45343712
15 53.17725753 5.133963929 26.35758563 25 66.52719665 21.68856 470.3934447
16 40.52676296 -7.51653064 56.49823285 RATA-RATA 44.83864104 JUMLAH 7153.484479
17 33.5443038 -14.4989898 210.2207052
18 48.06265458 0.01936098 0.000374848 7153,484
Variansi = S2 = =298,04
19 43.08943089 -4.9538627 24.54075566 25−1
20 53.17725753 5.133963929 26.35758563
21 33.5443038 -14.4989898 210.2207052 Standar deviasi = S = √ 298,04=17,264
22 40.65401696 -7.38927664 54.60140926
23 41.04061948 -7.00267411 49.03744476 Selang:
24 50.0802282 2.036934609 4.149102602
25 57.84719609 9.80390249 96.11650404 17,264 17,264
44,838−2,06 < λ< 44,838+ 2,06
RATA-RATA 48.0432936 JUMLAH 2768.256288 √ 25 √25
2768.26 37,275< λ< 51,951
Variansi = S2 = =115,344
25−1
Selisih selang = 51,951-37,275 = 14,675
Standar deviasi = S = √ 115,344=10,74

Selang:

10,74 10,74
48,043−2,06 < λ< 48,043+ 2,06
√ 25 √ 25
43,618< λ<52,468
B2.HASIL GRAIN COUNTING SILIKA DENGAN
METODE INCREMENT HASIL GRAIN COUNTING GALENA DENGAN
METODE RIFFLE
No. % Berat (Xi) (Xi-Xbar) (Xi-Xbar)^2
1 37.87195672 -17.2894 298.92343 No. % Berat (Xi) (Xi-Xbar) (Xi-Xbar)^2
2 84.08408408 28.92273 836.524028 1 91.3539967 38.8791372 1511.5873
3 20.89552239 -34.2658 1174.14756 2 63.7813212 11.3064616 127.83607
4 79.84790875 24.68655 609.42574 3 34.5679012 -17.906958 320.65916
5 56.91056911 1.74921 3.05973613 4 39.7727273 -12.702132 161.34416
6 63.78132118 8.619962 74.3037487 5 56.9105691 4.43570955 19.675519
7 84.08408408 28.92273 836.524028 6 54.5596259 2.08476632 4.3462506
7 26.0465116 -26.428348 698.45757
8 58.30633966 3.144981 9.89090357
8 46.8227425 -5.6521171 31.946428
9 60.15037594 4.989017 24.8902904
9 35.4969574 -16.977902 288.24916
10 48.99387577 -6.16748 38.037849
10 90.2394107 37.7645511 1426.1613
11 72.5388601 17.3775 301.977546
11 63.7813212 11.3064616 127.83607
12 46.82274247 -8.33862 69.5325249
12 56.9105691 4.43570955 19.675519
13 63.78132118 8.619962 74.3037487
13 51.3761468 -1.0987128 1.2071698
14 53.09734513 -2.06401 4.26015309 14 39.7727273 -12.702132 161.34416
15 79.84790875 24.68655 609.42574 15 84.0840841 31.6092245 999.14308
16 56.91056911 1.74921 3.05973613 16 46.8227425 -5.6521171 31.946428
17 43.01075269 -12.1506 147.637233 17 49.7630332 -2.7118264 7.3540023
18 34.56790123 -20.5935 424.090501 18 22.6904376 -29.784422 887.11179
19 53.45551737 -1.70584 2.90989553 19 44.2105263 -8.2643332 68.299204
20 36.14457831 -19.0168 361.637946 20 49.7630332 -2.7118264 7.3540023
21 55.58006176 0.418703 0.17531203 21 36.1445783 -16.330281 266.67809
22 66.4556962 11.29434 127.562054 22 64.4891122 12.0142527 144.34227
23 29.87622706 -25.2851 639.337895 23 47.883711 -4.5911486 21.078645
24 58.54565167 3.384293 11.4534371 24 47.9825518 -4.4923078 20.180829
25 33.47280335 -21.6886 470.393445 25 66.6451509 14.1702913 200.79716
RATA-RATA 55.16135896 JUMLAH 7153.48448 RATARATA 52.4748596 JUMLAH 7554.6114

7153,484
Variansi = S2 = =298,04
25−1 7554,6114
Variansi = S2 = =314,775
25−1
Standar deviasi = S = √ 298,04=17,264
Standar deviasi = S = √ 314,775=17,741
Selang:
Selang:
17,264 17,264
55,161−2,06 < λ<55,161+2,06
√ 25 √ 25 17,741 17,741
52,475−2,06 < λ<52,475+2,06
√ 25 √25
48,048< λ<62,27
45,165< λ<59,784
Selisih selang = 62,27-48,048=14,225
Selisih selang = 59,784 – 45,165 = 14,619
persamaan Gaudin-Schuhman. Persamaan tersebut memuat
variabel Y, m, k, dan x yang didapatkan dari grafik
cummulative direct plot serta log-log plot. Variabel k
didapatkan dari grafik cummulative direct plot, kemudian
x dan y dapat dicari melalui persamaan. Nilai x didapat
kan bila y disubtitusikan dengan 80 pada persamaan
regresi linier grafik. Sedangkan pada grafik log-log plot
nilai gradien pada persamaan regresi linier grafik tersebut
sama dengan nilai m. Untuk variabel Y disubtitusikan
HASIL GRAIN COUNTING SILIKA DENGAN dengan nilai 80. Setelah semua variabel diketahui, kita
METODE RIFFLE dapat mencari nilai P80 yang sama nilainya dengan
variabel x pada persamaan Gaudin-Schuhman. Setelah
No. % Berat (Xi) (Xi-Xbar) (Xi-Xbar)^2 dihitung, didapatkan hasil percobaan analisis ayak P80
1 8.6460033 -38.879137 1511.5873 adalah 0,397 mm.
2 36.218679 -11.306462 127.83607
3 65.432099 17.906958 320.65916 Ada beberapa faktor yang berpengaruh pada hasil
percobaan ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi analisis
4 60.227273 12.702132 161.34416
ayak adalah lamanya waktu pengayakan, amplitudo
5 43.089431 -4.4357095 19.675519
pengayakan, dan distribusi ukuran partikel. Apabila
6 45.440374 -2.0847663 4.3462506
Semakin lama waktu pengayakan, maka akan semakin
7 73.953488 26.428348 698.45757
banyak partikel yang dapat lolos ke ayakan yang lebih
8 53.177258 5.6521171 31.946428
halus. Demikian juga dengan anplitudo pengayakan,
9 64.503043 16.977902 288.24916 semakin besar amplitudo pengayakan, maka semakin
10 9.7605893 -37.764551 1426.1613 banyak partikel yang dapat lolos ke ayakan yang lebih
11 36.218679 -11.306462 127.83607 halus.Karena prinsip getaran ini digunakan untuk
12 43.089431 -4.4357095 19.675519 menggerak-gerakan partikel sehingga lolos dari ayakan.
13 48.623853 1.0987128 1.2071698 Sedangkan faktor distribusi ukuran partikel akan
14 60.227273 12.702132 161.34416 menentukan lamanya pengayakan untuk menghasilkan
15 15.915916 -31.609225 999.14308 hasil pengayakan yang baik. Semakin tersebar distribusi
16 53.177258 5.6521171 31.946428 ukuran partikel, maka akan dibutuhkan waktu pengayakan
17 50.236967 2.7118264 7.3540023 yang lebih lama untuk menghasilkan hasil pengayakan
18 77.309562 29.784422 887.11179 yang baik.Sebaliknya, bila distribusi ukuran partikel sudah
19 55.789474 8.2643332 68.299204 relative homogeny, pengayakan dapat dibuat lebih cepat,
20 50.236967 2.7118264 7.3540023 meskipun tidak menjamin pengayakan berlangsung efektif
21 63.855422 16.330281 266.67809 dengan waktu yang singkat.
22 35.510888 -12.014253 144.34227
Sedangkan,ada beberapa faktor yang disebabkan oleh
23 52.116289 4.5911486 21.078645
praktikkan, di antaranya adalah pembersihan ayakan yang
24 52.017448 4.4923078 20.180829
tidak bersih, partikel yang menyumbat lubang ayakan,alat
25 33.354849 -14.170291 200.79716
ayakan yang sudah cukup lama digunakan, dan ukuran
RATARATA 47.52514 JUMLAH 7554.6114
partikel yang sangat halus dapat terbuang ketika diayak
akibat tutup ayakan tidak rapat. Pembersihan ayakan yang
tidak baik akan meninggalkan partikel yang mengganggu
7554,6114 sehingga dapat menambah berat partikel saat ditimbang.
Variansi = S2 = =314,775
25−1 Partikel yang menyumbat lubang ayakan akan
menghambat partikel untuk turun ke ayakan yang lebih
Standar deviasi = S = √ 314,775=17,741 halus. Sedangkan partikel yang masih tertinggal di ayakan
ketika ingin ditimbang dapat mengurangi jumlah partikel
Selang:
pada ayakan tersebut.
17,741 17,741
47,525−2,06 < λ< 47,525+2,06 Hasil percobaan sampling dapat dibagi menjadi
√ 25 √25 berdasarkan mineral penyusun bahan yang disediakan di
laboratorium, yaitu galena dan silika. Pada percobaan
40,215< λ<54,834 sampling dengan coning quartening didapatkan variansi
115,344 dan selang rataan galena yaitu 4
Selisih selang = 54,834 – 40,215 = 14,619
7,535< λ< 56,385 dan selang rataan silica
D. Analisa Hasil Percobaan 43,618<λ<52,468. Metode increment sampling didapatkan
variansi sebesar 298,04 selang rataan untuk galena yaitu 3
Berdasarkan hasil percobaan yang didapatkan pada 7,275< λ< 51,951 dan selang rataan untuk silica yaitu
Analisis Ayak, P80 diperoleh dengan menggunakan
48,048<λ<62,27. Metode riffle didapatkan variansi sebesar 5. Persamaan Regresi Cummulative Direct Plot adalah
314 dan selang rataan galena metode riffle Y = -245,07x + 125,11 , dengan nilai R2 = 0,9902
45,165< λ<59,784 dan selang rataan silica yaitu
40,215<λ<54,834 6. Persamaan Regresi Semi grafik Log Plot adalah
Y = 130,36x – 21,534 , dengan nilai R2 = 0,957
Berdasarkan hasil yang didapat dari analisis sampling,
dapat ditentukan mana metode sampling yang dirasa cukup 7. Persamaan Regresi grafik Log-Log Plot adalah
baik di antara 3 metode yang telah dilakukan, Metode yang Y = 2,9336x – 1,2207 , dengan nilai R2 = 0,7461
terbaik adalah sampling dengan coning quartening karena
rata-rata selisih selang galena dan kuarsanya memberikan Sampling
nilai yang terkecil di antara metode sampling yang lainnya.
1. Pada percobaan sampling dengan coning quartening
Nilai selisih selang nya yaitu 8,845, sedangkan metode
didapatkan variansi 115,344 dan selang rataan galena yaitu
increment 14,225 dan metode riffle 14,619. Selisih selang
47,535< λ< 56,385.
yang rapat berarti selang kepercayaannya memiliki
variansi yang kecil sehingga hasil yang percobaan yang 2. Metode increment sampling didapatkan variansi sebesar
didapat cukup akurat. Karena selisih selang lebih rapat,
298,04 selang rataan galena yaitu 37,275< λ< 51,951 .
maka dapat disimpullkan bahwa pada praktikum sampling
ini, metode yang lebih baik adalah coning quartening. 3. Metode riffle didapatkan variansi sebesar 314 dan
selang rataan galena metode riffle 45,165< λ<59,784 .
Terdapat beberapa kendala yang dihadapi saat sampling
dan memberi pengaruh terhadap hasil perhitungan
4.Metode sampling terbaik adalah sampling dengan
percobaan,yaitu tidak meratanya campuran galena dan
menggunakan Coning Quartening dengan pertimbangan
silika, tidak ratanya bahan yang disekop saat sampling
selang rataan yang lebih rapat dan nilai variansi yang lebih
dengan riffle dan increment sampling, penuangan bahan ke
kecil, sehingga nilai yang lebih akurat.
dalam riffle dengan sekop yang tidak tepat ditengah, tidak
meratanya pembagian empat bagian, adanya material yang
tumpah saat memasukkan bahan ke dalam corong dengan
wadah saat sampling dengan teknik coning quartering dan F. Daftar Pustaka
increment sampling, penyekopan kerucut sampel yang
Gaudin, A.M.. 1975. Principles of Mineral Processing.
tidak tepat di tengah saat increment sampling, serta
New York: McGraw Hill Book Co. Hal.
perhitungan jumlah butir galena dan kuarsa yang tidak
teliti akibat ukurannya yang sangat halus dan warna kuarsa Wills, B.A.. 1992. Mineral Processing Technology, 5th
yang mirip dengan warna kertas. ed.. Oxford: Pergamon Press. Hal
Kegiatan sampling ini juga dilakukan di industri G. Lampiran
pengolahan bahan galian, contohnya untuk menentukan
karakteristik suatu bijih atau batubara. Dalam tahap Jawaban Pertanyaan dan Tugas
eksplorasi, karakteristik bijih atau batubara merupakan
salah satu tahap penentu dalam studi kelayakan apakah biji 1. Jelaskan teknik pengambilan contoh serta reduksi
atau batubara tersebut ekonomis untuk ditambang atau jumlah yang umum dilakukan di pabrik pengolahan?
tidak. Begitu pun dalam tahap produksi dan pengapalan Jawab:
atau penjualan bijih atau batubara, karakteristik dijadikan Teknik pengambilan contoh yang umum dilakukan di
acuan dalam menentukan harga bijih atau batubara pabrik pengolahan adalah dengan menggunakan
tersebut. automatic sampler. Biasanya dilakukan dengan
memasang alat yang bisa memotong aliran material
yang akan diolah sehingga dapat dikumpulkan
sebagian kecil material tersebut. Alat tersebut disebut
E. Kesimpulan
dengan cutter. Reduksi jumlah yang umum dilakukan
Analisis Ayak adalah riffle, coning quartering, dan increment
sampling. Riffle
1. Nilai k pada percobaan analisis ayak adalah 0,429. membagi material menjadi dua bagian, yang kemudian
salah satu bagian diambil sebagai conto. Sedangkan
2. Nilai m pada percobaan analisis ayak adalah 2,9336. coning quartering dilakukan dengan membentuk
material menjadi tumpukan berbentuk kerucut
3. Nilai P80 (x) pada percobaan analisis ayak adalah terpotong, kemudian membaginya menjadi empat
0,397 mm. bagian sama besar. Conto diambil dari dua bagian yang
berseberangan/berhadapan. Untuk increment sampling,
4. Persamaan Regresi grafik Direct Plot adalah pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil
Y = -245,07x + 125,11 , dengan nilai R2 = 0,9902 dalam satu kali operasi (misal dalam satu kali sekop).
Namun untuk increment sampling, jarang digunakan
pada pabrik pengolahan.

2. Pada pengambilan contoh, perlu ditentukan lebih


dahulu berat contoh atau banyaknya increment yang
akan diambil. Jelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi banyaknya increment atau berat contoh
yang akan diambil.
Jawab:
Faktor yang mempengaruhi banyaknya increment yang
DOKUMENTASI 2. PRAKTIKAN MEMASUKAN MATERIAL
diambil antara lain adalah bentuk dan ukuran partikel,
KE PENGAYAK
tingkat akurasi yang diinginkan dalam sampling, dan
tujuan sampling. Bentuk dan ukuran partikel
mempengaruhi jumlah increment karena semakin besar
ukuran partikel maka semakin banyak pula increment
yang harus diambil agar didapatkan sampel yang
heterogen. Semakin tinggi tingkat akurasi yang
diinginkan berarti sampel yang didapatkan harus benar-
benar representatif. Semakin banyak sampel yang
diambil, akan semakin representatif. Sehingga jika
akurasi yang diinginkan semakin tinggi, semakin
banyak pula increment yang harus diambil. Tujuan
sampling juga mempengaruhi banyaknya increment
yang dibutuhkan. Apabila sampling ditujukan untuk
mendapatkan deskripsi secara jelas dari suatu material,
maka increment yang diambil seharusna juga semakin
banyak.

DOKUMENTASI 3. PENIMBANGAN CAMPURAN GALENA


DAN SILIKA

DOKUMENTASI 1. AYAKAN YANG DIGUNAKAN PADA


PRAKTIKUM ANALISIS AYAK

DOKUMENTASI 6. METODE RIFFLE


DOKUMENTASI 1. METODE SAMPLING RIFFLE

DOKUMENTASI 5. METODE INCREMENT

DOKUMENTASI 6. METODE SAMPLING INCREMENT

DOKUMENTASI 4 METODE SAMPLING CORNING DOKUMENTASI 2 METODE SAMPLING


QUARTENING INCREMENT