Anda di halaman 1dari 9

18 HARKAT: Media Komunikasi Islam Tentang Gebder dan Anak, 12 (2), 2017

GENDER DAN KEMAJUAN TEKNOLOGI


Pemberdayaan Perempuan Pendidikan dan Keluarga

Muhammad Aqibun Najih


Mahasiswa Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Konsentrasi Timur Tengah (KTT)
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRAK
Peran dan fungsi sosial antara perempuan dan laki-laki yang diciptakan oleh masyarakat
sering menimbulkan ketidaksetaraan gender. Kemajuan teknologi yang tidak merata perlu
penanganan khusus terutama terhadap pemberdayaan perempuan dengan memanfaatkan
kemampuan talentanya untuk membangun jaringan dengan komunitas-komunitas sosial-
nya. Fenomena saat ini adalah penggunaan Teknologi Informasi (TI) dapat membantu
perempuan di bidang ekonomi dengan perdagangan online. Sedangkan dalam bidang pen-
didikan ketidaksetaraan gender justru nampak pada pemilihan jurusan di sekolah lanju-
tan dan perguruan tinggi, dimana pemilihan jurusan pada perempuan dikaitkan dengan
fungsi domestiknya. Dengan pengarahan terhadap anak yang tidak tepat dalam sistem
keluarga, lebih banyak diakibatkan dari pola pendidikan yang diterapkan orang tua terh-
adap anak-anaknya yang masih berorientasi pada dogma-dogma patriarkis. Maka dengan
konsep kesetaraan dan keadilan gender dapat dijelaskan secara lebih baik tentang perma-
salah-permasalahan yang ada dan juga dapat ditarik kesimpulan untuk menemukan solusi
dan jalan keluar yang lebih bijak.
Kata kunci: Gender, Teknologi, Perempuan

A. Pendahuluan perempuan. Perempuan senantiasa


dipandang bukan sebagai beban
Rendahnya apresiasi perempuan
pembangunan, tetapi perempuan dapat
terhadap hak-hak hidupnya adalah suatu hal
dijadikan mitra, bahkan sebagai subjek
yang menyalahi kodratnya sebagai manusia,
pembangunan. Perempuan memiliki
karena hak-hak hidup merupakan sesuatu
berbagai posisi strategis untuk mendukung
yang bersifat asasi dan universal. Setiap
kegiatan pembangunan. Oleh karena itu,
manusia berkebutuhan terhadap hak-hak
upaya pengembangan potensi perempuan
tersebut, baik laki-laki maupun perempuan.
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
Sifat kebutuhan dasar manusia tersebut
dan bernegara adalah sebuah keharusan
adalah alamiah, dalam konteks apa dan
sebagai bentuk pemberdayaan dari
dimana pun senantiasa menjadi perhatian,
ketidakberdayaan (powerless) perempuan
hanya saja dalam implementasinya masih
selama ini (Remiswal, 2013: 2).
jauh dari yang diharapkan, apalagi jika
ditetapkan sebuah standar kelayakan dalam Peran dan fungsi sosial antara
mencapai hak-hak hidup tersebut. perempuan dan laki-laki yang diciptakan
oleh masyarakat sering menimbulkan
Terjadinya pergeseran paradigma
ketidaksetaraan gender. Demikian justru
pembangunan berdampak positif terhadap

Copyright @ 2017|HARKAT|ISSN 1412-2324


HARKAT: Media Komunikasi Islam Tentang Gebder dan Anak, 12 (2), 2017 19

nampak pada pemilihan jurusan dalam dibagun oleh masyarakat di Indonesia.


bidang pendidikanya dimana pemilihan Dengan begitu penelitian ini diharapkan
jurusan tersebut pada perempuan dikaitkan dapat bermanfaat bagi pembaca dan
dengan fungsi domestiknya. Kesenjangan mampu menunjang terhadap para peneliti
gender dalam Ilmu pengetahuan dan selanjutnya.
teknologi sebenarnya dimulai dari tingkat
B. Permasalahan ketidak setaraan
paling awal anak-anak untuk mengenal
gender dalam bidang pendidikan
pembelajaran melalui sosialisasi dalam
keluarga. Banyak di antara para keluarga Dalam hal pendidikan formal,
lebih menekankan tugas-tugas yang semakin banyak perempuan yang bisa
berkaitan dengan teknologi, kterampilan menduduki jenjang pendidikan lanjutan
dan peralatan elektronik kepada anak laki- dan pendidikan di perguruan tinggi.
laki ketimbang kepada anak perempuan. Berdasarkan Laporan Pencapaian
Sementara anak perempuan ditekankan Millenium Development Goals (MDG)
pada tugas-tugas yang berkaitan semua Indonesia Tahun 2007, Angka Partisipasi
hal yang berbau ‟care‟ merawat, Murni (APM) anak perempuan terhadap
mengasuh, dan melayani. Meskipun anak laki-laki cenderung meningkat.
semakin banyak dukungan-dukungan Menghilangkan ketidaksetaraan gender
yang menekankan pandangan bahwa dalam bidang pendidikan merupakan salah
pendidikan adalah hak semua individu, satu target yang ingin dicapai dalam tujuan
akan tetapi dalam kenyataan orangtualah pembangunan pendidikan di Indonesia.
yang tetap memegang peran penting dalam Jika pada periode sebelumnya (1992-
memutuskan jenis pendidikan, kualitas 2002), rasio APM SMA/MA perempuan
pendidikan yang akan diterima anaknya rata-rata hanya 98,76% pertahun maka pada
(Tri Marhaeni Pudji Astuti, 2007: 63). periode 2002-2006 rasio APM meningkat
menjadi rata-rata 99,07% pertahun. Pada
Maka dalam penelian ini yang
jenjang perguruan tinggi juga mengalami
akan menjadi fokus pembahasan utamanya
kecenderungan yang sama, rasio APM
adalah tentang peranan perempuan dan
Perguruan Tinggi Perempuan meningkat
lawan jenisnya dalam bidang teknologi
dari rata-rata 85,73% (1992-2002) menjadi
dengan menjelaskan hambatan-hambatan
97,24% (2003-2006).
dan pemecahan masalah yang ada, dengan
pendekatan pendidikan, keluarga dan juga Walaupun angka partisipasi
konsep kesetaraan dan keadilan gender. hampir sebanding, ketidaksetaraan gender
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui justru nampak pada pemilihan jurusan di
kondisi rill dilapangan dan sejauh mana sekolah lanjutan dan perguruan tinggi,
kesetaraan gender dengan kemajuan dimana pemilihan jurusan pada perempuan
Teknologi Informasi (TI) yang telah dikaitkan dengan fungsi domestiknya
Copyright @ 2017|HARKAT|ISSN 1412-2324
20 HARKAT: Media Komunikasi Islam Tentang Gebder dan Anak, 12 (2), 2017

(Linda Widiyanti, 2009: 142). Misalnya misalnya, sering kita jumpai kalimat
domain feminin lebih tertarik terhadap seperti “Ketika bapak pergi ke kantor, ibu
jurusan yang bersifat Seni, Sastra, berbelanja ke pasar”, ayah membaca koran
Psikologi, dan Keperawatan. Untuk domain dan ibu memasak di dapur”. Posisi-posisi
maskulin memilih jurusan Teknologi, berbeda yang jelas sangat jauh dari keadilan
Komputer, Perbengkelan, Mesin, dan gender muncul pada kalimat-kalimat
Teknik. Disamping itu bukti dilapangan semacam di atas yang akan direkam secara
dapat dilihat role model perempuan otomatis oleh siswa dan dianggap wajar
yang berkarier dalam bidang science sehingga mengukuhkan posisi-posisi yang
dan teknologi masih sangat kurang (Tri stereotip.
Marhaeni Pudji Astuti, 2007: 64).

Ternya dalam penelitian yang


C. Solusi Kesetaraan dan Keadilan
dinyatakan oleh Widarmanto terdapat
gender dalam bidang Pendidikan
ketidakadilan gender pada pendidikan
formal yang dari awal seringkali terjadi Bias gender dan ketidakadilan
pada jenjang pendidikan dasar; Secara gender di dunia pendidikan terus menerus
tidak sadar guru memberikan peran dan terjadi karena kurang pekanya para birokrat
kesempatan yang lebih pada siswa laki-laki pendidikan akan keadilan gender. Para
dibandingkan dengan siswa perempuan. birokrat pendidikan harus meningkatkan
Pada upacara di sekolah, anak laki-laki kesadaran dan kepekaan gender dan tidak
cenderung ditunjuk menjadi pemimpin selalu menggunakan standar laki-laki dalam
karena suaranya keras, sedangkan anak menentukan kebijakan dengan menuju
perempuan cukup menjadi penyanyi yang pendidikan yang berperspektif gender.
menyanyikan lagu kebangsaan atau sekedar Ketidakadilan gender bisa diubah menjadi
protokol karena dianggap lebih merdu keadilan gender sesuai dengan normatifnya
suaranya dibanding siswa laki-laki. Siswa kedua jenis kelamin sebagai sumber daya
laki-laki juga lebih banyak mendapatkan manusia. Keduanya harus dipandang
peranan penting sebagai ketua kelas atau sebagai aset sumber daya pembangunan
ketua OSIS karena dianggap lebih mampu oleh karena itu kebutuhan gender praktis
bersikap tegas dan lebih cepat mengambil dan strategis keduanya harus diperhatikan.
keputusan dibandingkan siswa perempuan.
Keadilan gender bisa diwujudkan
Masih dalam pernyataan melalui pendidikan, baik pendidikan di
Widarmanto; Tidak terlintas sedikitpun rumah maupun pendidikan formal di sekolah
oleh para guru bahwa buku-buku pelajaran yang berperspektif gender. Orang tua dalam
yang mereka pakai penuh ketidakadilan pendidikan di rumah harus mengajarkan
gender. Dalam pelajaran bahasa Indonesia bahwa anak laki-laki maupun perempuan

Copyright @ 2017|HARKAT|ISSN 1412-2324


HARKAT: Media Komunikasi Islam Tentang Gebder dan Anak, 12 (2), 2017 21

memiliki peran di sektor domestik dan perkembangan studi wanita (women’s


publik yang sama. Orang tua harus sesering studies) yang dimulai pada akhir tahun
mungkin menukar peran anak laki-laki 1960-an, dan perkembangan program
dan perempuan. Anak laki-laki juga harus studi antar disiplin mengenai hubungan
dibiasakan mampu menjalankan tugas ilmu pengetahuan dan teknologi dengan
domestik dan sebaliknya,anak perempuan masyarakat (Science, Technology and
juga diberi kesempatan luas berperan luas Society Programs). Perkembangan Studi-
di sektor publik. Studi Wanita dalam ilmu-ilmu sosial dan
humaniora berkembang sangat pesat dalam
Pendidikan di sekolah pun jangan
tahun 1970-an, karena angka representasi
berpikiran mana yang pantas dilakukan anak
perempuan dalam bidang-bidang tersebut
laki-laki dan mana yang pantas dikerjakan
cukup tinggi. Namun, riset dan pengajaran
anak perempuan, keduanya harus diberi
feminis dalam bidang ilmu pengetahuan
akses yang sama sebagai sumber daya yang
dan teknologi berkembang sangat lambat.
potensial. Peningkatan pemahaman gender,
Hal ini di karenakan: (1) Jumlah perempuan
kesadaran, dan sensitivitas gender harus
yang menekuni bidang ilmu pengetahuan
dilakukan oleh para praktisi pendidikan
dan teknologi sangat terbatas, dan jika
sehingga bisa mengubah persepsi gender
perempuan menekuni teknologi itupun
yang lebih adil. Buku pelajaran yang bias
dipakai untuk menunjang pekerjaannya
gender harus diubah menjadi adil gender
yang khas “pekerjaan perempuan” misalnya
sehingga siswa lebih memahami tentang
sekretaris; (2) Bidang ilmu pengetahuan
keadilan gender dan posisi yang seimbang
dan teknologi masih dianggap domain
antara peran perempuan dan laki-laki.
maskulin (Tri Marhaeni Pudji Astuti, 2007:
Meningkatnya kesadaran gender melalui
65).
pendidikan baik formal maupun pendidikan
keluarga yang berperspektif gender yang Isu gender dan Teknologi,
mempertimbangkan kebutuhan gender merupakan satu dari tiga isu penting
praktis dan strategis untuk perempuan dan besar yang dihadapi wanita secara
dan laki-laki secara seimbang akan global saat ini setelah isu kemiskinan dan
mempercepat terwujudnya keadilan gender kekerasan terhadap perempuan (Retno Budi
secara luas (Esti Zaduqisti, 2009: 78). Lestari, 2011: 88). Teknologi Informasi (TI)
tidak selamanya melemahkan perempuan
D. Kesetaraan gender dalam Ilmu
dan menjadikan jurang pemisah antara
pengetahuan dan Teknologi
laki-laki dan perempuan, namun di sisi lain
Isu tentang keterkaitan antara dapat menjadi sarana yang efektif untuk
perempuan dan teknologi mulai muncul pemberdayaan perempuan seperti bidang
ke permukaan menjelang akhir tahun ekonomi. TI juga menjadi alat yang efektif
1970-an, sebagai konsekuensi logis dari bagi perempuan untuk memberdayakan

Copyright @ 2017|HARKAT|ISSN 1412-2324


22 HARKAT: Media Komunikasi Islam Tentang Gebder dan Anak, 12 (2), 2017

dirinya mengatasi kendala-kendala dalam rumah sehingga tugas dan tanggungjawab


kekurangan informasi. terhadap keluarga masih terpenuhi (Retno
Budi Lestari, 2011: 90).
Salah satu talenta yang dimiliki
perempuan adalah kemampuannya E. Konsep Kesetaraan dan Keadilan
membangun jaringan dan komunikasi. Gender dalam Keluarga
Perempuan dikenal memiliki kepribadian
1. Pengertian
yang luwes. Ia pintar membentuk
komunitas, mulai dari kegiatan sosial, a. Kesetaraan gender: Kondisi
arisan, sampai urusan hobi. Dalam era perempuan dan laki-laki
teknologi informasi yang kian maju, para menikmati status yang setara
perempuan pun tak mau ketinggalan untuk dan memiliki kondisi yang
memanfaatkannya. Dengan kecanggihan sama untuk mewujudkan
media internet, perempuan yang memiliki secara penuh hak-hak asasi dan
bakat marketing bisa memanfaatkan media potensinya bagi pembangunan
tersebut untuk memasarkan produknya. di segala bidang kehidupan.
Tidak hanya dalam lingkup negaranya Definisi dari USAID
melainkan bisa merambah ke manca menyebutkan bahwa “Gender
negara. Semua aktivitas itu bisa dilakukan Equality permits women and
bahkan hanya dari tempat tidur. Sehingga men equal enjoyment of human
bisnis online pun menjadi alternatif yang rights, socially valued goods,
menguntungkan. opportunities, resources and
the benefits from development
Fenomena saat ini adalah
results. (kesetaraan gender
penggunaan Teknologi Informasi membantu
memberi kesempatan baik
perempuan di beberapa bidang seperti
pada perempuan maupun laki-
perdagangan dan kewirausahaan sebagai
laki untuk secara setara/sama/
sumber informasi dan sebagai sarana untuk
sebanding menikmati hak-
mempromosikan dan memasarkan produk
haknya sebagai manusia, secara
mereka, salah satunya melalui perdagangan
sosial mempunyai benda-benda,
online. Pemberdayaan perempuan di
kesempatan, sumberdaya dan
bidang ekonomi yaitu dengan pemanfaatan
menikmati manfaat dari hasil
TI untuk bisnis telah menjadi sebuah
pembangunan).
fenomena saat ini dengan maraknya bisnis
online berbasis internet. Pemanfaatan b. Keadilan gender: Suatu kondisi
internet untuk bisnis online banyak adil untuk perempuan dan laki-
dimanfaatkan oleh perempuan karena laki melalui proses budaya dan
lebih fleksibel menjalankan bisnisnya dari kebijakan yang menghilangkan

Copyright @ 2017|HARKAT|ISSN 1412-2324


HARKAT: Media Komunikasi Islam Tentang Gebder dan Anak, 12 (2), 2017 23

hambatan-hambatan berperan and productive (socially,


bagi perempuan dan laki- economically and politically)
laki. Definisi dari USAID participant in society, including
menyebutkan bahwa “Gender access to resources, services,
Equity is the process of being labor and employment,
fair to women and men. To information and benefits”.
ensure fairness, measures must (Kapasitas untuk menggunakan
be available to compensate sumberdaya untuk sepenuhnya
for historical and social berpartisipasi secara aktif
disadvantages that prevent dan produktif (secara sosial,
women and men from operating ekonomi dan politik) dalam
on a level playing field. Gender masyarakat termasuk akses ke
equity strategies are used to sumberdaya, pelayanan, tenaga
eventually gain gender equality. kerja dan pekerjaan, informasi
Equity is the means; equality is dan manfaat). Contoh: Memberi
the result”. (Keadilan gender kesempatan yang sama bagi
merupakan suatu proses anak perempuan dan laki-laki
untuk menjadi fair baik pada untuk melanjutkan sekolah
perempuan maupun laki-laki. sesuai dengan minat dan
Untuk memastikan adanya fair, kemampuannya, dengan asumsi
harus tersedia suatu ukuran sumberdaya keluarga yang
untuk mengompensasi kerugian mencukupi.
secara histori maupun sosial
b. Partisipasi; diartikan sebagai
yang mencegah perempuan dan
“Who does what?” (Siapa
laki-laki dari berlakunya suatu
melakukan apa?). Suami dan
tahapan permainan. Strategi
istri berpartisipasi yang sama
keadilan gender pada akhirnya
dalam proses pengambilan
digunakan untuk meningkatkan
keputusan atas penggunaan
kesetaraan gender. Keadilan
sumberdaya keluarga secara
merupakan cara, kesetaraan
demokratis dan bila perlu
adalah hasilnya).
melibatkan anak-anak baik laki-
2. Wujud Kesetaraan Gender dalam laki maupun perempuan.
keluarga
c. Kontrol; diartikan sebagai
a. Akses; diartikan sebagai “the ”Who has what?” (Siapa punya
capacity to use the resources apa?). Perempuan dan laki-laki
necessary to be a fully active mempunyai kontrol yang sama

Copyright @ 2017|HARKAT|ISSN 1412-2324


24 HARKAT: Media Komunikasi Islam Tentang Gebder dan Anak, 12 (2), 2017

dalam penggunaan sumberdaya melainkan Ibu juga dapat ikut membantu


keluarga. Suami dan istri dapat mencari mendapatkan uang dengan bekerja
memiliki properti atas nama di luar, bukan hanya berkemelut di dalam
keluarga. rumah. Dengan adanya tambahan ekonomi
dari ibu, yang mampu menghasilkan
d. Manfaat; Semua aktivitas
pendapatan sendiri, maka urusan keluarga
keluarga harus mempunyai
semakin ringan tanpa mengandalkan
manfaat yang sama bagi seluruh
pendapatan dari ayah saja, maka segala
anggota keluarga (Herien
keperluan yang di perlukan bisa dibeli,
Puspitawati, 2012: 5-6).
seperti; membeli makanan yang bergizi,
Keluarga merupakan sub sistem membeli perabotan rumahtangga yang
dari masyarakat dan negara, yang ramah lingkungan, menggaji pembantu
memiliki struktur sosial serta sistemnya untuk membersihkan rumah agar lebih
sendiri. Dalam keluarga, kehidupan nyaman, serta dapat memenuhi keperluan
seseorang dimulai, dimana seorang anak pendidikan anak-anak dengan kebutuhan
mendapat perlindungan dengan nyaman, yang diperlukanya. Dengan begitu keluarga
seorang istri/ibu melakukan tugas, dapat meningkatkan kualitas yang lebih
mendapatkan haknya dan melakukan baik.
tugas-tugas keibuanya, seorang ayah/suami
Dengan pendapatan yang telah
memberikan kenyamanan, ketentraman,
mapan dalam keluarga maka kesehatan
melakukan tugas-tugasnya sebagai
dan pedidikan anak sudah sangat pasti
kepala keluarga. Banyak hal dimulai dari
akan terjamin. Namun yang perlu di
rumah, anak tumbuh dan berkembang,
perhatikan dalam kesetaraan gender dalam
mengenal dirinya, ayah dan ibunya, belajar
keluarga adalah Pertama, anak-anak ketika
memahami segala sesuatu yang terjadi di
mereka telah lepas dari pengawasan dari
sekitar lingkungannya. (Lilis Widaningsih,
kedua orang tua yang telah sibuk untuk
KUP Indonesia.103.23.244.11)
bekerja. Anak-anak tetaplah anak-anak
Jika di pahami secara sederhana mereka terkadang merasa bebas saat tidak
tentang pertumbuhan ekonomi dalam ada pengawasan dari orang tua mereka
keluarga akibat tanpa adanya ketimpangan dengan bertingkah semau mereka. Kedua,
gender dan tanpa pengaruh sebuah kontruksi perasaan maskulin dari seorang laki-
budaya yang menetapkan perempuan dalam laki apabila pendapatan istri lebih tinggi
wilayah kerja sumur, kasur, dan dapur daripada suaminya, biasanya laki-laki akan
(Mukhrizal Arif, dkk: 2004). Maka tentunya merasa rendah di keluarganya dan dapat
akan menumbuhkan taraf ekonomi yang dengan mudah terpancing emosi. dan yang
meningkat, karena bukan hanya Ayah yang Ketiga, istri harus tetaplah menghargai
menjadi tulang punggung mencari nafkah, kepala keluarga (suami) jangan pernah

Copyright @ 2017|HARKAT|ISSN 1412-2324


HARKAT: Media Komunikasi Islam Tentang Gebder dan Anak, 12 (2), 2017 25

merasa dirinya telah mampu mandiri luas ke konflik masyarakat dan bahkan
dan bisa bertingkah semau hati dengan konflik kemanusiaan.
kesibukannya dengan melupakan tanggung
Relasi vertikal dalam keluarga
jawabnya didalam keluarga.
yang memposisikan hierarki keluarga
Peran-peran dalam keluarga tidak berdasarkan sistem kekuasaan telah banyak
seluruhnya kaku sebagai tugas/peran ibu, menimbulkan konflik berkepanjangan
ayah, anak laki-laki, atau anak perempuan dalam keluarga, karena relasi seperti
saja, tetapi ada beberapa tugas/peran yang itu cenderung menumbuhkan sikap-
dapat dipertukarkan. Sebaiknya, peran- sikap otoriter. Pendekatan yang bersifat
peran yang melekat pada perempuan companionship yaitu hubungan yang
atau laki-laki di dalam keluarga tidak horizonal (tidak hierarkis) antar anggota
terjebak pada penegasan yang kaku keluarga lebih memungkinkan pembagian
yang dilekatkan pada perbedaan gender. peran yang seimbang antara laki-laki (ayah/
Kesalahan mendasar pada sistem keluarga, suami dan anak laki-laki) dan perempuan
lebih banyak diakibatkan pola pendidikan (ibu/istri dan anak perempuan). Kesetaraan
yang diterapkan orang tua terhadap anak- gender yang didasarkan pada perbedaan
anaknya yang masih berorientasi pada aspirasi, kemampuan, kebutuhan spesifik
dogma-dogma patriarkis. masing-masing individu dalam keluarga
akan menumbuhkan kesadaran kolektif
Image anak perempuan lebih lemah,
antar anggota untuk memperkuat fungsi-
rapuh serta berbagai sifat-sifat feminimnya
fungsi yang ada di dalam sistem keluarga.
sedangkan anak laki-laki yang dipandang
Apabila fungsi keluarga sebagai sistem
lebih kuat, tidak cengeng dan dengan segala
terkecil dalam sebuah negara sudah berjalan
atribut maskulinitasnya mengakibatkan
dengan harmonis, maka didalam keluarga
perbedaan perlakuan dan pola pendidikan
tersebut akan tumbuh manusia-manusia
yang diberikan orang tua dalam kehidupan
yang berkualitas yang dapat memberikan
sehari-hari. Padahal, setiap anak baik
kontribusi pada kemajuan masyarakat dan
perempuan maupun laki-laki memiliki
negara baik dalam lingkungan pendidikan
sifat feminim dan maskulin meskipun pada
maupun kemajuan dalam bidang teknologi
masing-masing jenis kelamin ada sifat
(Lilis Widaningsih, KUP Indonesia.
yang lebih dominan. Pembiasaan perlakuan
103.23.244.11).
dan pembagian peran gender dalam
keluarga yang tidak seimbang, bahkan
menempatkan posisi perempuan sebagai
subordinat banyak menimbulkan konflik
dalam keluarga yang secara tidak sadar
konflik tersebut akan berkembang lebih

Copyright @ 2017|HARKAT|ISSN 1412-2324


26 HARKAT: Media Komunikasi Islam Tentang Gebder dan Anak, 12 (2), 2017

Penutup Pudji, Astuti, Tri M, “Bias Gender dalam


Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”,
Dengan mengintegrasikan INFOKAM, No. II / Th. III / September /
pertimbangan strategi keadilan dan 07.
kesetaraan gender kedalam kebijakan Puspitawati, Herien, Konsep Teori dan
para birokrat pendidikan dan pemanfaatan Analisis Gender, Bogor: IPB Press, 2012.
kemajuan teknologi yang dapat diimbangi
Remiswal, Menggugah Partisipasi Gender
dengan pemberdayaan perempuan serta di Lingkungan Komunitas, Yogyakarta:
peran keluarga yang mampu mengatasi Graha Ilmu, 2013.
perbedaan peranan suami/istri/anak laki-Widaningsih, Lilis, “Relasi Gender
laki/perempuan untuk memilih minat Dalam Keluarga: Internalisasi Nilai-Nilai
dan bakat yang sesuai tanpa dibatasi Kesetaraan Dalam Memperkuat Fungsi
dogma-dogma patriarkis tentu dapat Keluarga”, Staf Pengajar pada Jurusan
Pendidikan Teknik Arsitektur Fakultas
menambah ruang gerak yang lebih luas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
dengan masyarkat yang berkualitas tentu Universitas Pendidikan Indonesia dan Tim
kesejahteraan dan kemajuan lingkungan Pokja Gender Bidang Pendidikan Dinas
dan negara tidak dapat dihidarkan lagi. Pendidikan Provinsi Jawa Barat. KUP
Indonesia, TPGBP Dinas, PPJ Barat -
103.23.244.11
Daftar Pustaka
Arif, Mukhrizal, dkk, Pendidikan Pos
Modern Isme, Telaah Kritis Pemikiran Widiyanti, Linda, Ulasan Berita Surat
Tokoh Pendidikan, Yogyakarta: Ar-Ruzz Kabar Masalah Gender, Kesehatan
Media, 2014. dan Lingkungan di Indonesia, Jakarta:
Pusat Penelitian Kesehatan Universitas
Indonesia, 2009.
Budi, Retno, Lestari, “Teknologi Informasi
dan Pemberdayaan Perempuan”, Jurnal Zaduqisti, Esti, “Stereotipe Peran Gender
Teknologi dan Informatika Vol. 1 No. 1, bagi Pendidikan Anak”, MUWÂZÂH, Vol.
(2011). 1, No. 1, (2009).

Copyright @ 2017|HARKAT|ISSN 1412-2324