Anda di halaman 1dari 126

IDENTIFIKASI DAN ANALISIS PENILAIAN RISIKO

BAHAYA PENYIMPANAN PRODUK B3 DENGAN


PENDEKATAN HIRA, FTA DAN 6S
(Studi Kasus : Perusahaan Kimia dan Petrokimia Kota Cilegon)

SKRIPSI

Oleh
JESSICA DEWI MARBUN
3333150060

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON – BANTEN
2019
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS PENILAIAN RISIKO
BAHAYA PENYIMPANAN PRODUK B3 DENGAN
PENDEKATAN HIRA, FTA DAN 6S
(Studi Kasus : Perusahaan Kimia dan Petrokimia Kota Cilegon)

Skripsi ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam


mendapatkan gelar Sarjana Teknik

Oleh
JESSICA DEWI MARBUN
3333150060

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON – BANTEN
2019
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam
penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Oktober 2018 sampai April 2010 ini
ialah “Risk Assessment dalam Penyimpanan B3”.
Terimakasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ing. H. Asep Ridwan, S.T.,
M.T. dan Ibu Dyah Lintang Trenggonowati, S.T., M.T. selaku pembimbing, Ibu
Dr. Ir. Maria Ulfah, M.T., dan Bapak Akbar Gunawan S.T., M.T. sebagai penguji,
serta teman-teman seperjuanganku (Winda, Helen, Melwita, Arinta, Fifi, Bima)
dan abangku yang telah banyak memberi masukan dan saran untuk kesempurnaan
penelitian ini. Disamping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada para praktisi
dan akademisi dari COE Petrokimia Untirta, yang telah membantu selama
pengumpulan data. Ungkapan terimakasih juga disampaikan kepada Papa, Mama,
serta seluruh keluarga atas do’a, kasih saying, dan motivasinya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Cilegon, 22 Mei 2019

Jessica Dewi Marbun


RINGKASAN

Jessica Dewi Marbun. Identifikasi dan Analisis Penilaian Risiko Bahaya


Penyimpanan Produk B3 dengan Pendekatan HIRA, FTA, dan 6S. Dibimbing
oleh Dr. Ing. H. Asep Ridwan, S.T., M.T. dan Dyah Lintang Trenggonowati, S.T.,
M.T.

Latar belakang; Keberadaan bahan berbahaya dan beracun (B3) pada


dasarnya tidak dibatasi oleh lingkungan tertentu. Dalam penyimpanan produk
jenis B3, dapat diidentifikasi peluang terjadinya potensi bahaya seperti kebakaran,
ledakan, keracunan, iritasi, dan sebagainya yang dapat membahayakan para
pekerja di perusahaan tersebut. Berdasarkan banyaknya potensi bahaya yang dapat
terjadi dan belum adanya penelitian pada penyimpanan produk B3, penulis tertarik
untuk melakukan penelitian mengenai identifikasi dan analisis penilaian risiko
bahaya dalam penyimpanan B3.
Perumusan masalah; berdasarkan latar belakang dan kerangka berpikir
maka masalah yang diteliti terdiri dari berapa besar nilai risiko potensi bahaya dan
kategori potensi bahaya pada area penyimpanan produk B3 di perusahaan-
perusahaan tersebut, apa yang menjadi faktor penyebab terbesar terjadinya
kecelakaan kerja akibat dari potensi-potensi bahaya pada kategori extreme atau
tinggi pada area penyimpanan produk B3 di perusahaan-perusahaan tersebut, dan
bagaimana cara mengurangi risiko kecelakaan kerja pada penyimpanan produk B3
di perusahaan-perusahaan tersebut.
Tujuan Penelitian; tujuan yang dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk
menentukan besar nilai risiko potensi bahaya dan kategori potensi bahaya pada
area penyimpanan produk B3 di perusahaan-perusahaan tersebut, menentukan
faktor penyebab terbesar terjadinya kecelakaan kerja akibat dari potensi-potensi
bahaya pada kategori extreme atau tinggi pada area penyimpanan produk B3 di
perusahaan-perusahaan tersebut, dan mengurangi risiko kecelakaan kerja pada
penyimpanan B3 di perusahaan-perusahaan tersebut.
Metode Penelitian; metode yang digunakan dalam penelitian ini dimulai
dari studi literatur dan observasi lapangan, kemudian membuat rumusan masalah,
dilanjut dengan tujuan penelitian, batasan masalah, kemudian pengumpulan data
dengan wawancara dan data perusahaan, lalu dilakukan pengolahan data berupa
analisa potensi bahaya dengan metode HIRA, dilanjut dengan FTA, 6S, dan
mitigasi risiko, kemudian analisa dan kesimpulan.
Hasil Penelitian; berdasarkan pengolahan data menggunakan metode HIRA
didapat hasil untuk zona 1 terdiri dari 15 perusahaan dengan kategori risiko
rendah, 4 perusahaan dengan kategori risiko sedang, dan 1 perusahaan dengan
kategori risiko tinggi. Pada zona 2 terdiri dari 7 perusahaan dengan kategori risiko
rendah, 5 perusahaan dengan kategori risiko sedang, dan 3 perusahaan dengan
kategori risiko tinggi. Serta pada zona 3 terdiri dari 18 perusahaan dengan
kategori rendah, 14 perusahaan dengan kategori sedang, dan 1 perusahaan dengan
kategori tinggi. Dimana kategori nilai risiko tertinggi didapatkan oleh jenis B3 gas
dan metanol, sehingga pada pengolahan data FTA kegagalan gas disebabkan
karena adanya penipisan dinding tabung gas. Penyebab penipisan dinding tabung
gas ini dikarenakan adanya korosi eksternal pada tabung atau pipa gas. Korosi
eksternal disebabkan adanya tabung gas yang terpapar bahan pengoksidasi,
penempatan tabung gas di ruang terbuka. Sedangkan kegagalan human error ini
disebabkan karena pekerja tidak taat aturan atau tidak adanya tata tertib atau
rambu peringatan. Sedangkan pada kegagalan methanol disebabkan adanya
kebakaran warehouse, karena bahan methanol ini mudah terbakar. Penyebab
kebakaran methanol ini karena adanya ledakan tabung metanol. Ledakan
methanol ini disebabkan karena tabung methanol terpapar panas matahari atau
bereaksi dengan bahan pengoksidasi, atau terpapar api. Hal ini disebabkan karena
penempatan diruang terbuka. Upaya yang dapat dilakukan perusahaan untuk
mengurangi risiko bahaya kebakaran dan ledakan pada gudang penyimpanan gas
dan metanol dengan menggunakan prinsip 6S yaitu pada seiri terdiri dari
mengurangi atau menghilangkan penggunaan api dan listrik di area gudang
penyimpanan produk, mengecek barang yang ada di area masing-masing, dan
sebagainya. Pada seiton terdiri dari mengelompokkan barang-barang sesuai
kebutuhannya dan jenisnya, serta beri label / identifikasi untuk memudahkan
pencarian barang. Pada seiso terdiri dari membersihkan suku cadang alat bantu
kerja tertentu, serta membersihkan tabung / pipa produk jenis B3 dan lantai
gudang penyimpanan. Pada seiketsu terdiri dari menjaga suhu dan kelembaban
udara gudang penyimpanan sesuai dengan jenis B3, pada perusahaan penghasil
gas dan metanol yang hasil produknya disimpan dalam tangki penyimpanan
diharuskan memiliki ruang vakum pada tangki, dan sebagainya. Pada shitsuke
terdiri dari dilakukannya audit secara berkala, minimal 1 tahun sekali, serta
sosialisasi berkaitan materi 5S kepada karyawan. Pada safety terdiri dari pekerja
menggunakan APD sesuai standar serta penggunaan yang benar, pelatihan K3
minimal 1 bulan sekali, dan sebagainya.
Kesimpulan; Besar nilai risiko potensi bahaya dan kategori potensi bahaya
pada area penyimpanan produk B3 di industri kimia dan petrokimia yang
tergolong kategori extreme atau tinggi yaitu pada jenis produk B3 berupa metanol
dengan nilai risiko 50 dan jenis B3 gas dengan nilai risiko 60. Faktor penyebab
terbesar terjadinya kecelakaan kerja pada kegagalan gas dan metanol disebabkan
karena adanya penempatan tabung gas diruang terbuka, dan pekerja yang tidak
taat aturan atau tidak adanya tata tertib / rambu peringatan di area warehouse.
Cara mengurangi risiko kecelakaan kerja yaitu pada seiri terdiri dari mengurangi
atau menghilangkan penggunaan api dan listrik di area gudang penyimpanan
produk, pada seiton terdiri dari mengelompokkan barang-barang sesuai
kebutuhannya dan jenisnya, pada seiso terdiri dari membersihkan suku cadang alat
bantu kerja tertentu, serta membersihkan tabung / pipa produk jenis B3 dan lantai
gudang penyimpanan, pada seiketsu terdiri dari menjaga suhu dan kelembaban
udara gudang penyimpanan sesuai dengan jenis B3, pada shitsuke terdiri dari
dilakukannya audit secara berkala minimal 1 tahun sekali, dan pada safety terdiri
dari pekerja menggunakan APD sesuai standar serta penggunaan yang benar.

Kata Kunci : FTA, HIRA, Risk Assessment, 6S


ABSTRAK

JESSICA DEWI MARBUN. Identifikasi dan Analisis Penilaian Risiko


Bahaya Penyimpanan Produk B3 dengan Pendekatan HIRA, FTA, dan 6S.
Dibimbing oleh DR. ING. H. ASEP RIDWAN, S.T., M.T. dan DYAH
LINTANG TRENGGONOWATI, S.T., M.T.

B3 didefinisikan sebagai bahan berbahaya dan / atau beracun yang karena


sifatnya atau konsentrasinya baik secara langsung atau tidak langsung dapat
mencemarkan lingkungan atau merusak lingkungan hidup, kesehatan hidup
manusia, serta makhluk hidup lainnya. Dalam penyimpanan produk jenis B3,
peluang terjadinya potensi bahaya seperti kebakaran, ledakan, keracunan, iritasi,
dan sebagainya yang dapat membahayakan para pekerja di perusahaan tersebut.
Berdasarkan banyaknya potensi bahaya yang dapat terjadi, maka dilakukan
penelitian mengenai identifikasi dan analisis penilaian risiko bahaya dalam
penyimpanan B3 dengan pendekatan HIRA, FTA dan 6S, studi kasus pada
perusahaan-perusahaan industri kimia dan petrokimia yang memproduksi B3 di
Kota Cilegon. Tujuan penelitian ini yaitu menentukan besar nilai risiko potensi
bahaya dan kategori potensi bahaya, menentukan faktor penyebab terbesar
terjadinya kecelakaan kerja akibat adanya potensi bahaya pada kategori extreme
atau tinggi, serta untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja pada area
penyimpanan produk B3. Berdasarkan hasil penelitian dengan metode HIRA
terdapat 5 perusahaan dengan nilai risiko tinggi diantaranya 4 perusahaan
dengan produk B3 gas mendapat skor 60 dan 1 perusahaan dengan produk B3
metanol mendapat skor 50. Dari hasil kategori tinggi pada penilaian risiko HIRA,
dilakukan pengendalian risiko pada penyimpanan produk B3 dengan metode FTA
dan 6S.

Kata Kunci : B3, HIRA, FTA, Penilaian Risiko, dan 6S


ABSTRACT

JESSICA DEWI MARBUN. Identification and Analysis of Hazardouse


Product Storage Risk Assessment by the HIRA, FTA, and 6S Approach. Guided
by DR. ING. H. ASEP RIDWAN, S.T., M.T. and DYAH LINTANG
TRENGGONOWATI, S.T., M.T.

B3 is defined as a hazardous and / or toxic material which due to its nature or


concentration can directly or indirectly contaminate the environment or damage
the environment, the health of human life, and other living things. In the storage
of B3 type products, the chances of potential hazards such as fire, explosion,
poisoning, irritation, and so on can endanger the workers in the company. Based
on the number of potential hazards that can occur, a study was conducted on the
identification and analysis of hazard risk assessments in B3 storage with the
HIRA, FTA and 6S approaches, case studies on chemical and petrochemical
companies producing B3 in Cilegon City. The purpose of this study is to
determine the risk value of potential hazards and potential hazard categories,
determine the biggest cause of occurrence of work accidents due to potential
hazards in extreme or high categories, and to reduce the risk of workplace
accidents in the B3 product storage area. Based on the results of the research
with the HIRA method, there are 5 companies with high risk value including 4
companies with B3 gas products that score 60 and 1 company with B3 methanol
products scores 50. From the high category results on HIRA risk assessment, risk
control is carried out on B3 product storage with the FTA and 6S methods.

Keywords : B3, HIRA, FTA, Risk Assessment, and 6S


DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ........................................................................................... i

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ............................................................. iii

HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iv

PRAKATA ..............................................................................................................v

RINGKASAN ....................................................................................................... vi

ABSTRAK ............................................................................................................ ix

ABSTRACT .............................................................................................................x

DAFTAR ISI ......................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL .............................................................................................. xiv

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................xv

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xviii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang........................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 5

1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................... 5

1.4 Batasan Masalah ..................................................................................... 5

1.5 Sistematika Penulisan ............................................................................. 6

1.6 Penelitian Terdahulu ............................................................................... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA


2.1 Kecelakaan di Industri .......................................................................... 9
2.2 Bahan Berbahaya dan Beracun .............................................................. 9
2.3 HIRA .................................................................................................... 11
2.4 Fault Tree Analysis (FTA) ................................................................... 13
2.5 Risiko .................................................................................................... 14
2.5.1 Definisi Risiko ...................................................................................... 14
2.5.2 Risiko Lingkungan ............................................................................... 15
2.5.2.1 Definisi Risiko Lingkungan.................................................................. 15
2.5.2.2 Industri dan Perusakan Lingkungan ..................................................... 16
2.5.2.3 Sumber Polusi Udara ............................................................................ 17
2.5.2.4 Solusi Dalam Menyelesaikan Masalah Risiko Lingkungan ................. 19
2.6 6S .......................................................................................................... 19
BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian ............................................................................22


3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................23
3.2.1 Lokasi Penelitian ...................................................................................23
3.2.2 Waktu Penelitian ...................................................................................23
3.3 Alur Penelitian .......................................................................................23
3.3.1 Flow Chart Pengolahan Data Umum ....................................................23
3.3.2 Deskripsi Flow Chart Pengolahan Data Umum ....................................24
3.4 Analisis Data .........................................................................................28
3.4.1 Flow Chart Pengolahan Data Metode HIRA ........................................28
3.4.2 Deskripsi Flow Chart Pengolahan Data HIRA .....................................28
3.4.3 Flow Chart Pengolahan Data Metode FTA ...........................................30
3.4.4 Deskripsi Flow Chart Pengolahan Data Metode FTA ..........................31
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Pengumpulan Data .................................................................................33


4.1.1 Data Penyimpanan B3 Perusahaan Kimia di Kota Cilegon ..................33
4.2 Pengolahan Data ....................................................................................37
4.2.1 Identifikasi Risiko Bahaya.....................................................................37
4.2.1.1 Penilaian Risikoo Zona 1 – Kecamatan Ciwandan ...............................51
4.2.1.2 Penilaian Risiko Zona 2 – kecamatan Citangkil ....................................58
4.2.1.3 Penilaian Risiko Zona 3 – Kecamatan Grogol, Pulomerak, Cibeber ....64
4.2.1.4 Rantai Pasok PT. IGS ............................................................................75
4.2.2 Diagram FTA .........................................................................................76
4.2.3 Pengendalian Risiko ..............................................................................78
BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

5.1 Analisa Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya .................................88


5.2 Analisa Diagram FTA ...........................................................................91
5.3 Analisa Pengendalian Risiko .................................................................92
5.3.1 Analisa 6S Pada Kegagalan Gas dan Metanol ......................................92
5.3.2 Analisa Mitigasi Risiko .........................................................................97
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan ..........................................................................................101


6.2 Saran ....................................................................................................103
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Penelitian Terdahulu ................................................................................8


Tabel 2. Tiga Jenis Kecelakaan yang Lazim Terjadi Pada Industri Kimia ...........9
Tabel 3. Contoh Beberapa Musibah dan Kedaruratan .........................................10
Tabel 4. Tingkat Keparahan ................................................................................12
Tabel 5. Kemungkinan dan Peluang ....................................................................13
Tabel 6. Matriks Penilaian Risiko .......................................................................13
Tabel 7. Konsep 6S ..............................................................................................20
Tabel 8. Data Penyimpanan B3 Perusahaan Kimia dan Petrokimia
Kota Cilegon ..........................................................................................33
Tabel 9. Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya ..............................................38
Tabel 10. Tata Tertib Penanganan dan Penyimpanan Metanol .............................82
Tabel 11. Strategi Mitigasi Risiko .........................................................................84
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Simbol Bahaya B3 ............................................................................11


Gambar 2. Simbol-Simbol Fault Tree Analysis ................................................14
Gambar 3. Flow Chart Pengolahan Data Umum................................................24
Gambar 4. Flow Chart Pengolahan Data Metode HIRA ....................................29
Gambar 5. Flow Chart Pengolahan Data Metode FTA ......................................31
Gambar 6. Grafik Surface Kategori Risiko Perusahaan Kimia
di Kota Cilegon .................................................................................50
Gambar 7. Grafik Radar Kategori Risiko Zona 1 – Kecamatan Ciwandan........51
Gambar 8. Grafik Kategori Risiko PT. AC ........................................................51
Gambar 9. Grafik Kategori Risiko PT. SBA ......................................................51
Gambar 10. Grafik Kategori Risiko PT. PAC Tbk ...............................................52
Gambar 11. Grafik Kategori Risiko PT. GC ........................................................52
Gambar 12. Grafik Kategori Risiko PT. ID ..........................................................52
Gambar 13. Grafik Kategori Risiko PT. ASG ......................................................53
Gambar 14. Grafik Kategori Risiko PT. IH Tbk ..................................................53
Gambar 15. Grafik Kategori Risiko PT. II ...........................................................53
Gambar 16. Grafik Kategori Risiko PT. PI ..........................................................54
Gambar 17. Grafik Kategori Risiko PT. IPI .........................................................54
Gambar 18. Grafik Kategori Risiko PT. CSDPK .................................................54
Gambar 19. Grafik Kategori Risiko PT. CCPK ...................................................55
Gambar 20. Grafik Kategori Risiko PT. ISK .......................................................55
Gambar 21. Grafik Kategori Risiko PT. COL ......................................................55
Gambar 22. Grafik Kategori Risiko PT. IL ..........................................................56
Gambar 23. Grafik Kategori Risiko PT. ISN .......................................................56
Gambar 24. Grafik Kategori Risiko PT. IBP ........................................................56
Gambar 25. Grafik Kategori Risiko PT. IS ..........................................................57
Gambar 26. Grafik Kategori Risiko PT. JS ..........................................................57
Gambar 27. Grafik Kategori Risiko PT. PS .........................................................57
Gambar 28. Grafik Kategori Risiko PT. IRS ........................................................58
Gambar 29. Grafik Radar Kategori Risiko Zona 2 – Kecamatan Citangkil .........58
Gambar 30. Grafik Kategori Risiko PT. ILA .......................................................59
Gambar 31. Grafik Kategori Risiko PT. IGA .......................................................59
Gambar 32. Grafik Kategori Risiko PT. IA ..........................................................59
Gambar 33. Grafik Kategori Risiko PT. IC ..........................................................60
Gambar 34. Grafik Kategori Risiko PT. KF .........................................................60
Gambar 35. Grafik Kategori Risiko PT. RAI .......................................................60
Gambar 36. Grafik Kategori Risiko PT. BSK ......................................................61
Gambar 37. Grafik Kategori Risiko PT. IR ..........................................................61
Gambar 38. Grafik Kategori Risiko PT. LGCR ...................................................61
Gambar 39. Grafik Kategori Risiko PT. KKIMR.................................................62
Gambar 40. Grafik Kategori Risiko PT. IHR .......................................................62
Gambar 41. Grafik Kategori Risiko PT. IGS .......................................................62
Gambar 42. Grafik Kategori Risiko PT. IT ..........................................................63
Gambar 43. Grafik Kategori Risiko PT. IW .........................................................63
Gambar 44. Grafik Kategori Risiko PT. BKKW ..................................................63
Gambar 45. Grafik Radar Kategori Risiko Zona 3 – Kecamata Grogol,
Pulomerak, dan Cibeber ....................................................................64
Gambar 46. Grafik Kategori Risiko PT. IPA .......................................................64
Gambar 47. Grafik Kategori Risiko PT. TBB ......................................................65
Gambar 48. Grafik Kategori Risiko PT. IPPB .....................................................65
Gambar 49. Grafik Kategori Risiko PT. LIMB ....................................................65
Gambar 50. Grafik Kategori Risiko PT. IC ..........................................................66
Gambar 51. Grafik Kategori Risiko PT. IGC .......................................................66
Gambar 52. Grafik Kategori Risiko PT. SC .........................................................66
Gambar 53. Grafik Kategori Risiko PT. CD ........................................................67
Gambar 54. Grafik Kategori Risiko PT. RCCPI ..................................................67
Gambar 55. Grafik Kategori Risiko PT. PMJ.......................................................67
Gambar 56. Grafik Kategori Risiko PT. RJ ..........................................................68
Gambar 57. Grafik Kategori Risiko PT. IOOK ....................................................68
Gambar 58. Grafik Kategori Risiko PT. LGK ......................................................68
Gambar 59. Grafik Kategori Risiko PT. IGRK ....................................................69
Gambar 60. Grafik Kategori Risiko PT. PL .........................................................69
Gambar 61. Grafik Kategori Risiko PT. NTCL ...................................................69
Gambar 62. Grafik Kategori Risiko PT. IFTEPCM .............................................70
Gambar 63. Grafik Kategori Risiko PT. ICM ......................................................70
Gambar 64. Grafik Kategori Risiko PT. AEN ......................................................70
Gambar 65. Grafik Kategori Risiko PT. MPN .....................................................71
Gambar 66. Grafik Kategori Risiko PT. AIP .......................................................71
Gambar 67. Grafik Kategori Risiko PT. SMPUP III ............................................71
Gambar 68. Grafik Kategori Risiko PT. PP .........................................................72
Gambar 69. Grafik Kategori Risiko PT. PBP .......................................................72
Gambar 70. Grafik Kategori Risiko PT. HIP .......................................................72
Gambar 71. Grafik Kategori Risiko PT. ATS ......................................................73
Gambar 72. Grafik Kategori Risiko PT. CS .........................................................73
Gambar 73. Grafik Kategori Risiko PT. PTS .......................................................73
Gambar 74. Grafik Kategori Risiko PT. ISS ........................................................74
Gambar 75. Grafik Kategori Risiko PT. IT ..........................................................74
Gambar 76. Grafik Kategori Risiko PT. CT .........................................................74
Gambar 77. Grafik Kategori Risiko PT. IMT.......................................................75
Gambar 78. Grafik Kategori Risiko PT. CIU Tbk................................................75
Gambar 79. Rantai Pasok PT. Samator Gas Industri ............................................76
Gambar 80. Diagram FTA Kegagalan Gas...........................................................77
Gambar 81. Diagram FTA Kegagalan Metanol ...................................................78
Gambar 82. Usulan Penataan Gudang Penyimpanan Produk B3 .........................80
Gambar 83. Contoh Penerapan Label Kemasan Produk Metanol ........................81
Gambar 84. Peringatan yang Dapat Digunakan di Warehouse ............................83
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kriteria Penilaian Resiko


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keberadaan bahan berbahaya dan beracun (B3) pada dasarnya tidak dibatasi
oleh lingkungan tertentu. Artinya B3 bisa berada di lingkungan mana saja, sesuai
dengan tingkat kebutuhan dan aktivitas manusia (masyarakat). Banyak masyarakat
yang dalam kesehariannya akrab dengan B3 karena profesinya, atau sebagai
pengguna atau konsumen, baik secara langsung maupun tak langsung. Dalam
kehidupan sehari-hari, mungkin masyarakat tidak menyadari bahwa bahan yang
mereka konsumsi atau alat (perkakas) yang mereka manfaatkan sebetulnya
termasuk kelas bahaya B3, misalnya : bahan insektisida, bahan bakar (minyak /
gas), makanan yang mengandung zat pewarna dan pengawet, dan lain-lain.
Dengan demikian, B3 bukan selalu berarti limbah atau bahan cemaran
lingkungan.
Bahan berbahaya dan beracun didefinisikan sebagai bahan berbahaya dan /
atau beracun yang karena sifatnya atau konsentrasinya baik secara langsung atau
tidak langsung dapat mencemarkan lingkungan atau merusak lingkungan hidup,
kesehatan hidup manusia, serta makhluk hidup lainnya. Dari definisi tersebut
dapat ditafsirkan bahwa B3 dapat berupa bahan baku (alamiah), atau bahan olahan
(produk), atau sisa dari suatu proses (limbah) yang bersumber dari kegiatan
industri atau domestik (rumah tangga). Ditinjau dari strukturnya, maka B3 bisa
berupa bahan yang memiliki sifat fisika dan kimia. Sifat fisika (fisik) pada
umumnya dilihat karena bentuknya, seperti runcing / tajam, keras licin, gas, dan
lain-lain. Sedangkan sifat kimia dilihat dari mudahnya bereaksi, baik dengan
struktur tubuh makhluk hidup (manusia, hewan, dan tumbuhan), maupun benda-
benda mati.
Dampak yang diakibatkan oleh sifat fisik pada umumnya berupa perusakan
fisik, seperti luka, sesak nafas, pingsan, bahkan sampai tak sadarkan diri. Adapun
dampak dari sifat kimia antara lain: kebakaran, ledakan, keracunan, korosif

1
terhadap benda (peralatan), dan lain-lain. Berdasarkan dampak yang
disebabkannya, maka B3 terutama berdasarkan sifat kimianya, dapat
dikelompokkan menjadi bahan beracun (toxic), bahan oksidator, bahan korosif,
bahan yang reaktif terhadap air, bahan mudah terbakar, bahan eksplosif (mudah
meledak), gas bertekanan, bahan reaktif terhadap asam, bahan radioaktif, dan
logam berat (Utomo, 2012).
Tidak semua B3 adalah limbah, oleh karena itu keberadaan B3 tidaklah
terbatas pada lokasi tertentu. Banyak industri yang memanfaatkan B3 sebagai
bahan baku untuk produksi atau memproduksi bahan yang bersifat bahaya dan
beracun. Salah satunya di Kota Cilegon yang dikenal sebagai Kota Industri atau
Kota Baja. Kota ini merupakan penghasil baja terbesar di Asia Tenggara, karena
sekitar 6 juta ton baja dihasilkan setiap tahunnya di Kawasan Industri Krakatau
Steel, Cilegon. Tak hanya itu, banyak perusahaan industri kimia dan petrokimia di
Kota Cilegon yang mana sebagian besar memproduksi B3 seperti PT PT.
Mitsubishi Chemical Indonesia, PT. Dover Chemical, PT. Indorama Polypet
Indonesia, PT. Nippon Shokubai Indonesia dan sebagainya. Berbagai industri
kimia telah tumbuh dan berkembang di Indonesia antara lain industri petrokimia,
oleokimia, agrokimia, dan sebagainya.
Bahan yang tergolong B3 pada umumnya adalah bahan kimia. Peraturan
terkait pengelolaan B3 terdapat dalam Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bahwa “Setiap orang
yang memasukkan kedalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, memanfaatkan,
membuang, mengolah, dan atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3”.
Adapun dalam Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Bahan Berbahaya dan Beracun.
Dalam penyimpanan produk jenis B3, dapat diidentifikasi peluang
terjadinya potensi bahaya seperti kebakaran, ledakan, keracunan, iritasi, dan
sebagainya yang dapat membahayakan para pekerja di perusahaan tersebut. Setiap
produk B3 memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga perlu diperhatikan letak
penyimpanannya, karena ada beberapa B3 yang jika terpapar atau bercampur
dengan gas atau cairan tertentu dapat meledak atau terbakar. Maka dari itu
diperlukan ketelitian khusus dalam penanganan B3 tersebut seperti dalam hal
letak penyimpanan, alat pelindung diri yang digunakan, risiko bahaya apa saja
yang akan terjadi, dan penanganannya dimana setiap pekerja wajib berhati-hati
dalam melakukan suatu pekerjaan.
Dalam aspek K3, kerugian berasal dari kejadian yang tidak diinginkan yang
timbul dari aktivitas perusahaan. Tanpa menerapkan manajemen risiko perusahaan
dihadapkan dengan ketidakpastian. Manajemen tidak mengetahui apa saja bahaya
yang dapat terjadi dalam organisasi atau perusahaannya sehingga perusahaan tidak
mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Manajemen risiko K3 adalah suatu
upaya mengelola risiko K3 untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak
diinginkan secara komprehensif, terencana, dan terstruktur dalam suatu
kesisteman yang baik, salah satu sumber daya yang penting dalam perusahaan
adalah sumber daya manusia (Darmawan, 2017). Sumber daya manusia
merupakan elemen terpenting dalam mengoperasikan seluruh sumber daya lain
yang terdapat di dalam perusahaan.
Metode yang membantu dalam menganalisis potensi kecelakaan kerja ini
adalah HIRA (Hazard Identification and Risk Assesment) yaitu merupakan suatu
proses mengidentifikasi bahaya, mengukur, mengevaluasi risiko yang muncul dari
sebuah bahaya, lalu menghitung kecukupan dari tindakan pengendalian yang ada
dan memustukan apakah risiko yang ada (Kurniawati, 2013). Setelah didapat nilai
risiko tertinggi, dilakukan analisa penyebab risiko bahaya dengan pendekatan
FTA (Fault Tree Analysis) yaitu suatu teknik yang digunakan untuk
mengidentifikasi risiko yang berperan terhadap terjadinya kegagalan (Roehan dkk,
2014). Perusahaan dikatakan baik apabila membuat area kerja berjalan lebih
terorganisir dan melakukan pemeliharaan tempat kerja. Salah satu kegiatan yang
bisa dilakukan perusahaan untuk melakukan perbaikan dalam area kerja adalah
dengan menerapkan metode 6S (Sort, Set in Order, Shine, Standardize, Sustain,
Safety). Metode 6S adalah enam langkah penataan dan pemeliharaan tempat kerja
yang dikembangkan melalui upaya intensif dalam bilang manufaktur.
Berdasarkan banyaknya potensi bahaya yang dapat terjadi dan belum
adanya penelitian pada penyimpanan produk B3, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai identifikasi dan analisis penilaian risiko bahaya dalam
penyimpanan B3 dengan pendekatan HIRA (Hazard Identification and Risk
Assessment), FTA (Fault Tree Analyzis) dan 6S, studi kasus pada perusahaan-
perusahaan industri kimia dan petrokimia yang memproduksi B3 di Kota Cilegon.
Metode HIRA dipilih karena memiliki kelebihan yaitu mengidentifikasi potensi-
potensi bahaya yang ada di area kerja dengan cara mengidentifikasi karakteristik
bahaya-bahaya yang mungkin terjadi di area tersebut dan mengevaluasi risiko
yang terjadi melalui penilaian risiko dengan menggunakan matriks penilaian
risiko dan metode FTA digunakan untuk menganalisa sebuah kegagalan sistem
dimana pada setiap masalah ada faktor-faktor penyebab dari masalah tersebut.
Metode 6S diterapkan untuk mengoptimalkan permasalahan yang terjadi di dalam
gudang penyimpanan produk B3.
Pada penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian ini dengan
metode HIRA dan FTA, sudah pernah dilakukan oleh Kiki Rizki Amir Roehan
dkk (2014) tentang Usulan Perbaikan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) di PT. XXX, serta dilakukan oleh Roberto Anthony dan
Sunday Noya (2015) tentang mengendalikan kecelakaan kerja di divisi
pencampuran pakan Dewa Dewi Farm dengan penilaian risiko yang dilakukan
terdapat 1 aktivitas kerja berisiko ekstrim, 7 berisiko tinggi, 4 risiko sedang, dan
12 berisiko rendah. Pada penelitian lainnya dengan metode 6S, sudah pernah
dilakukan oleh Vashanadia Astharina dan Hery Suliantoro (2011) tentang analisis
penerapan 6S pada area warehouse PT. Bina Busana Internusa (BBI) karena
adanya perbedaan ukuran dan jenis, cepatnya pergantian produk yang ada
digudang serta terbatasnya space dalam gudang inilah yang menyebabkan sulitnya
mengatur penyimpanan yang ada pada gudang, serta penelitian yang dilakukan
oleh Erry Rimawan dan Eko Sutowo (2011) tentang analisa penerapan 6S pada
warehouse di PT. Multifilling Mitra Indonesia dengan mengkaji ulang 6S yang
telah diterapkan perusahaan agar dapat berjalan sesuai keinginan perusahaan dan
mampu memberikan nilai tambah pada pelayanan di perusahaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahaya apa saja yang terjadi,
penilaian risiko, dan upaya pengendalian risiko. Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Dengan menggunakan
metode HIRA, FTA dan 6S diharapkan dapat membantu menjawab karakteristik
bahaya dan tingkatan bahaya dengan melakukan penilaian risiko dan dicari faktor-
faktor penyebabnya sehingga mengurangi risiko kecelakaan kerja di Perusahaan
Kimia dan Petrokimia Kota Cilegon.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan dibahas
pada penelitian ini diantaranya sebagai berikut.
1. Berapa besar nilai risiko potensi bahaya dan kategori potensi bahaya pada
area penyimpanan produk B3 di perusahaan-perusahaan tersebut ?
2. Apa yang menjadi faktor penyebab terbesar terjadinya kecelakaan kerja
akibat dari potensi-potensi bahaya pada kategori extreme atau tinggi pada
area penyimpanan produk B3 di perusahaan-perusahaan tersebut ?
3. Bagaimana cara mengurangi risiko kecelakaan kerja pada penyimpanan
produk B3 di perusahaan-perusahaan tersebut ?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini, diantaranya sebagai
berikut.
1. Menentukan besar nilai risiko potensi bahaya dan kategori potensi bahaya
pada area penyimpanan produk B3 di perusahaan-perusahaan tersebut.
2. Menentukan faktor penyebab terbesar terjadinya kecelakaan kerja akibat
adanya potensi-potensi bahaya pada kategori extreme atau tinggi pada area
penyimpanan produk B3 yang dilakukan di perusahaan-perusahaan tersebut.
3. Mengurangi risiko kecelakaan kerja pada area penyimpanan produk B3 di
perusahaan-perusahaan tersebut.

1.4 Batasan Masalah


Adapun batasan masalah dalam penelitian ini, diantaranya sebagai berikut.
1. Penelitian dimulai dari bulan Agustus – Oktober 2018.
2. Data diambil berdasarkan wawancara dan data perusahaan berupa nama-
nama industri kimia dan petrokimia di Kota Cilegon dan jenis B3 yang
diproduksi.
3. B3 yang dinilai risikonya dilakukan untuk produk akhir dilakukan terhadap
produk akhir setiap industri kimia dan petrokimia yang ada di Cilegon, tidak
dilakukan pada B3 sebagai bahan baku, disebabkan karena kesulitan
memperoleh data B3 sebagai bahan baku dari setiap industri kimia dan
petrokimia di Kota Cilegon.
4. Penilaian risiko berasal dari akademisi dan praktisi di COE Petrokimia
Cilegon bekerja sama dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (KLHK RI) dengan jumlah 10 orang.
5. Dilakukan dalam 3 zona kawasan yang terdapat industri kimia / petrokimia,
diantaranya zona 1 – Kecamatan Ciwandan, zona 2 – KIEC Kecamatan
Citangkil, dan zona 3 – Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber.

1.5 Sistematika Penulisan


Berikut ini merupakan sistematika penulisan dalam penelitian mengenai
identifikasi dan analisis penilaian risiko bahaya dalam penyimpanan B3.
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang, rumusan masalah,
tujuan penelitian, batasan masalah, sistematika penulisan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Bab ini diuraikan tentang teori-teori yang digunakan dalam analisis
dan pembahasan seperti HIRA, B3, risiko, 6S dan sebagainya.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan mengenai rancangan penelitian, lokasi dan waktu
penelitian, alur penelitian, dan analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN
Bab ini memuat pengumpulan data dan pengolahan data. Data yang
didapat merupakan data dari berbagai perusahaan manufaktur
memproduksi B3 di daerah Cilegon. Data tersebut kemudian diolah
menggunakan metode HIRA.
BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini menjelaskan mengenai analisa dan pembahasan dari hasil
pengumpulan dan pengolahan data yang dilakukan dibab IV beserta
perbaikannya.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan penutup dari penelitian studi kasus yang telah
dilakukan, yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian dan saran yang
diajukan.

1.6 Penelitian Terdahulu


Berikut ini merupakan tabel 1 tentang penelitian-penelitian terdahulu yang
menjadi referensi dalam pelaksanaan penelitian :
Tabel 1. Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti Judul Tahun Tempat Penelitian Metode
Usulan Perbaikan Sistem Manajemen
Kiki Rizki Amir HIRA
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
1 Roehan, Yuniar, 2014 PT. XXX Dan
Menggunakan Metode Hazard Identification and
Arie Desrianty FTA
Risk Assesment (HIRA)
M. Irwansyah, Pengendalian Risiko Kecelakaan Kerja Pada
2 Lovely Lady, Ani Proses Bongkar Muat Produk Dengan 2013 PT. XYZ HIRA
Umyati Pendekatan HIRA (Studi Kasus Di PT. XYZ)
Analisis Penerapan Keselamatan Kerja
Ade Sri Mariawati, PT. Barata HIRA
Menggunakan Metode Hazard Identification and
3 Ani Umyati, Febi 2017 Indonesia, Cilegon, Dan
Risk Assessment (HIRA) Dengan Pendekatan
Andiyani Banten FTA
Fault Tree Anlysis (FTA)
Aristy Yulanda Hazard Identification and Risk Assessment PT. Pertamina
4 Ambarani, Abdul (HIRA) Pada Proses Fabrikasi Plate Tanki 42-T- 2016 (Persero) RU VI HIRA
Rohim Tualeka 501A PT Pertamina (Persero) Ru Vi Balongan Balongan
Analisis Potensi Kecelakaan Kerja Pada PT. Malindo
Eni Kurniawati,
Departemen Produksi Springbed Dengan Metode Intitama Raya,
5 Sugiono, Rahmi 2017 HIRA
Hazard Identification and Risk Assessment Malang, Jawa
Yuniarti
(HIRA) Timur
The Application of Hazard Identification and
Dewa-Dewi Farm HIRA
Roberto Anthony Risk Analysis (HIRA) and Fault Tree Analysis
6 2015 Di Blitar, Jawa Dan
And Sunday Noya (FTA) Methods for Controlling Occupational
Timur FTA
Accidents in Mixing Division Dewa-Dewi Farm
Hazard Identification and Risk Assessment In Instalasi
Fajrul Falakh,
7 Water Treatment Plant Considering 2018 Pengolahan Air PT. HIRA
Onny Setiani
Environmental Health and Safety Practice XYZ
Vashanadia PT. Bina Busana
Analisis Penerapan 5S + Safety Area Warehouse 6S,
8 Astharina, Hery 2011 Internusa Group,
di PT. Bina Busana Internusa Group Semarang Fishbone
Suliantoro Semarang
Benny Henry Putra Analisis Prinsip Kerja 5S (Seiri, Seiton, Seiso,
CV. Kokoh Bersatu
9 dan Bambang Seiketsu, Shitsuke) Pada CV. Kokoh Bersatu 2014 5S
Plastik, Surabaya
Haryadi Plastik, Surabaya
Erry Rimawan dan Analisa Penerapan 5S + Safety Pada Warehouse PT. Multifilling
10 2011 6S
Eko Sutowo di PT. Multifilling Mitra Indonesia Mitra Indonesia
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kecelakaan di Industri


Kecelakaan (accident) adalah kejadian yang pada umunya merupakan akibat
dari rentetan peristiwa sebelumnya yang dikemudian hari menyebabkan cedera,
kematian, kerusakan, kebakaran, atau kerugian harta benda dan kerusakan
lingkungan (Arismunandar, 2015). Oleh karena itu, keselamatan (safety)
merupakan suatu kondisi terhindar dari atau usaha mencegah terjadinya
kecelakaan melalui penerapan sains dan teknologi untuk mengidentifikasi dan
mengeleminasi potensi bahaya tersebut. Bahaya atau potensi bahaya (hazard)
merupakan kondisi fisik, kimia, ataupun lingkungan yang berpotensi
menyebabkan kerusakan dan risiko bagi manusia, aset, dan lingkungan. Risiko
(risk) merupakan ukuran tentang cedera dan korban pada manusia, kerugian
ekonomi, atau kerusakan lingkungan yang dinyatakan dalam kemungkinan risiko
dan besarnya kerugian, cedera, dan korban yang dapat terjadi.
Jenis kecelakaan pada berbagai kegiatan industri dapat bermacam-macam.
Pada industri kimia, jenis kecelakaan dengan profitabilitas kecelakaan tinggi ialah
kebakaran. Berikut ini ada tabel 2 tentang tiga jenis kecelakaan yang lazim terjadi
pada industri kimia:
Tabel 2. Tiga Jenis Kecelakaan yang Lazim Terjadi Pada Industri Kimia
Kemungkinan Potensi Jatuh Potensi Kerugian
Jenis Kecelakaan
Kejadian Korban Ekonomi
Kebakaran Tinggi Rendah Sedang
Ledakan Sedang Sedang Tinggi
Keracunan Rendah Tinggi Rendah
(Sumber : Arismunandar, 2015)

2.2 Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)


Industri semakin lama semakin banyak menggunakan material dan proses
yang tergolong berbahaya, seperti material yang mudah terbakar, berdaya ledak,
korosif, radioaktif, infektif, toksik, mutagenik, karsinogenik, teratogenik, reaktif,
menyebabkan defisiensi oksigen, dan campuran dari berbagai karakteristik yang
sering dikelompokkan sebagai bahan berbahaya dan beracun (B3) (Soemirat,

9
2015). Berikut ini adalah tabel 3 tentang contoh beberapa musibah dan
kedaruratan :
Tabel 3. Contoh Beberapa Musibah dan Kedaruratan
Tahun Lokasi Zat B3 Penyebab Korban Meninggal / Cedera
Luar Negeri
3 Desember Metil-iso-sianat
Bhopal, India Kebocoran gas 10.000 / 20.000
1984 (MIC)
Over-heating
26 April 1986 Chernobyl, Rusia Uranium 28 + 17/30 jt (Ca)
reactor
18 November King's Cross Railway
Ceceran oli Korek api 31 / banyak
1987 Station
Piper Alpha, North Gas dan minyak Kebocoran pipa,
6 Juli 1988 Semua awak/-
Sea bumi ledakan
Indonesia
13 Desember PT. Indorama,
Kebocoran pipa,
2005 dan 11 Cibinong – Therminol / PCB -/620, -/21 (Kompas.com)
ledakan
Januari 2009 Purwakarta
10 September
Batan, Serpong Instalasi nuklir Reaksi kimia -/4, (maxindo.net.id)\
2007
2008, 2009 Puluhan Industri Api / panas Kebakaran -/-, berbagai media
(Sumber : Soemirat, 2015)

Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) didefinisikan sebagai bahan yang


karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup,
dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup
manusia serta mahkluk hidup lainnya (PP No. 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan
Bahan Berbahaya dan Beracun), sedangkan definisi menurut OSHA
(Occupational Safety and Health of the United State Government) adalah bahan
yang karena sifat kimia maupun kondisi fisiknya sangat berpotensi menyebabkan
gangguan pada kesehatan manusia, kerusakan properti dan atau lingkungan. Dari
kata sifat dan konsentrasinya sudah dapat kita simpulkan bahwa bahan berbahaya
dan beracun merupakan bahan kima, baik kimia organik, maupun anorganik
(Alamendah, 2014).
Mengingat penting dan dampaknya bahan berbahaya dan beracun bagi
manusia, lingkungan, kesehatan, dan kelangsungan hidup manusia dan makhluk
hidup lainnya, pemerintah melakukan pengaturan ketat. Pengaturan pengelolaan
B3 ini meliputi pembuatan, pendistribusian, penyimpanan, penggunaan, hingga
pembuangan limbah B3. Simbol suatu gambar tertentu untuk menandakan sifat /
karakteristik bahaya B3 dalam suatu pengemasan, penyimpanan, dan
pengumpulan atau pengangkatan. Berikut ini adalah gambar 1 tentang simbol
bahaya B3 :

Gambar 1. Simbol Bahaya B3


(Sumber : Adzim, 2013)

Efek kesehatan B3 perlu dicantumkan dimana saja ia berada, baik ditempat


penyimpanan, penggunaan, transportasi, maupun pembuangan, dll. Efek
kesehatan dari B3 biasa tercantum didalam MSDS bahan tersebut dan dalam
berbagai label / stiker / poster. Transportasi bahan maupun limbah B3 perlu
dilakukan dengan peraturan dan dokumen khusus, mulai dari sumber, saat
ditranspor, diterima, digunakan, dan dimusnahkan. Dokumen khusus sedemikian
dikenal sebagai tracking documents, yaitu dokumen yang dapat memberi
informasi / kemampuan telusur tentang zat B3 dari mana asalnya, kemana
ditranspor, untuk kegunaan apa, siapa penerimanya, dan seterusnya. Sehingga
apabila terjadi kecelakaan, dapat ditelusuri semua informasi yang diperlukan.

2.3 HIRA
Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) merupakan salah satu
metode identifikasi kecelakaan kerja dengan penilaian risiko sebagai salah satu
poin penting untuk mengimplementasikan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) (Roehan dkk, 2014). Dilakukannya HIRA bertujuan
untuk mengidentifikasi potensi-potensi bahaya yang terdapat disuatu perusahaan
untuk dinilai besarnya peluang terjadinya suatu kecelakaan atau kerugian.
Identifikasi bahaya dan penilaian risiko serta pengontrolannya harus dilakukan
diseluruh aktifitas perusahaan, termasuk aktifitas rutin dan non rutin, baik
pekerjaan tersebut dilakukan oleh karyawan langsung maupun karyawan kontrak,
supplier dan kontraktor, serta aktifitas fasilitas atau personal yang masuk ke dalam
tempat kerja. Cara melakukan identifikasi bahaya dengan mengidentifikasi
seluruh proses / area yang ada dalam segala kegiatan, mengidentifikasi sebanyak
mungkin aspek keselamatan dan kesehatan kerja pada setiap proses / area yang
telah diidentifikasi sebelumnya dan identifikasi K3 dilakukan pada suatu proses
kerja baik pada kondisi normal, abnormal, emergency, dan maintenance.
Hazard Identification and Risk Assesment (HIRA) merupakan suatu proses
mengidentifikasi bahaya, mengukur, mengevaluasi risiko yang muncul dari
sebuah bahaya, lalu menghitung kecukupan dari tindakan pengendalian yang ada
dan memutuskan apakah risiko yang ada dapat diterima atau tidak (Kurniawati
dkk, 2013). HIRA (Hazard Identification and Risk Assesment) merupakan suatu
metode atau teknik untuk mengidentifikasi potensi bahaya kerja dengan
mendefinisikan karakteristik bahaya yang mungkin terjadi dan mengevaluasi
risiko yang terjadi melalui penilaian risiko dengan menggunakan matriks
penilaian risiko. Pengendalian terhadap bahaya kecelakaan kerja ini sangat
penting untuk dilakukan demi keselamatan kerja para karyawan.
Berikut ini adalah matriks yang digunakan untuk penilaian risiko dengan
menggunakan metode HIRA pada tabel 4 tentang tingkat keparahan, tabel 5
tentang kemungkinan atau peluang, dan tabel 6 tentang matriks penilaian risiko
yang merupakan kategori penilaian risiko.
Tabel 4. Tingkat Keparahan
Tingkatan Kriteria Penjelasan
A Insignificant (tidak bermakna) Tidak ada cedera, kerugian materi sangat kecil.
Cedera ringan, memerlukan perawatan P3K, langsung
B Minor (kecil)
dapat ditangani di lokasi kejadian, kerugian materi sedang.
Hilang hari kerja, memerlukan perawatan medis, kerugian
C Moderate (sedang)
materi cukup besar.
Cedera mengakibatkan cacat atau hilang fungsi tubuh
D Major (besar)
secara total, kerugian material besar.
E Catastrophic (bencana) Menyebabkan kematian, kerugian materi sangat besar.
(Sumber : Susihono, 2012)
Tabel 5. Kemungkinan atau Peluang
Tingkatan Kriteria Penjelasan
Almost Certain (hampir pasti akan Terjadi hampir pada semua keadaan, terjadinya 1
A
terjadi) kejadian dalam setiap hari.
Sangat mungkin terjadi pada semua keadaan.
B Likely (cenderung untuk terjadi)
Misalnya terjadi 1 kejadian dalam satu minggu.
Dapat terjadi sewaktu-waktu. Misalnya terjadi satu
C Moderate (mungkin dapat terjadi)
kejadian dalam satu bulan.
Mungkin terjadi sewaktu-waktu. Misalnya terjadi 1
D Unlikely (kecil kemungkinan terjadi)
kejadian dalam satu tahun.
Hanya dapat terjadi pada keadaan tertentu. Misalnya
E Rare (jarang sekali)
terjadi 1 kejadian dalam lebih dari 1 tahun.
(Sumber : Susihono, 2012)

Tabel 6. Matriks Penilaian Risiko


Kemungkinan Keparahan atau Akibat
(peluang) 1 2 3 4 5
A H H E E E
B M H H E E
C L M H E E
D L L M H E
E L L M H H
(Sumber : Susihono, 2012)

2.4 Fault Tree Analysis (FTA)


Fault Tree Analysis (FTA) adalah suatu teknik yang digunakan untuk
mengidentifikasi risiko yang berperan terhadap terjadinya kegagalan (Roehan dkk,
2014). Metode ini dilakukan dengan pendekatan yang bersifat top down, yang
diawali dengan asumsi kegagalan atau kerugian dari kejadian puncak (top event)
kemudian merinci sebab-sebab suatu top event sampai pada suatu kegagalan dasar
(root cause). Fault tree analysis merupakan metode yang efektif dalam
menemukan inti permaslaahan karena memastikan bahwa suatu kejadian yang
tidak diinginkan atau kerugian yang ditimbulkan tidak berasal pada suatu titik
kegagalan. Fault tree analysis mengidentifikasi hubungan antara faktor-faktor
penyebab dan ditampilkan dalam bentuk pohon kesalahan yang melibatkan
gerbang logika sederhana. Gerbang logika menggambarkan kondisi yang memicu
terjadinya kegagalan, baik kondisi tunggal maupun sekumpulan dari berbagai
kondisi. Jadi secara umum metode fault tree analysis adalah sebuah metode
menyelesaikan kasus apabila terjadi sesuatu kegagalan atau hal yang tidak
diinginkan dengan mencari akar-akar permasalahan basic event yang muncul dan
diuraikan dari setiap indikasi kejadian puncak (top event). Berikut ini merupakan
gambar 2 simbol-simbol yang ada pada fault tree analysis.

Gambar 2. Simbol-Simbol Fault Tree Analysis


(Sumber : Roehan dkk, 2014)

2.5 Risiko
2.5.1 Definisi Risiko
Ada banyak definisi tentang risiko (risk). Risiko dapat diartikan sebagai
bentuk keadaan ketidakpastian tentang suatu keadaan yang akan terjadi nantinya
(future) dengan keputusan yang diambil berdasarkan berbagai pertimbangan pada
saat ini. Menurut Ricky W. Griffin dan Ronald J. Ebert (1996) dalam Fahmi
(2014) risiko adalah uncertainty about future events. Adapun Joel G. Siegel dan
Jae K. Shim (1999) dalam Fahmi (2014) mendefinisikan risiko pada tiga hal,
sebagai berikut :
1. Pertama adalah keadaan yang mengarah kepada sekumpulan hasil khusus,
dimana hasilnya dapat diperoleh dengan kemungkinan yang telah diketahui
oleh pengambil keputusan,
2. Kedua adalah variasi dalam keuntungan, penjualan, atau variabel keuangan
lainnya, dan
3. Ketiga adalah kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang
mempengaruhi kinerja operasi perusahaan atau posisi keuangan, seperti
risiko ekonomi, ketidakpastian politik, dan masalah industri.
Risk control (pengendalian risiko) adalah metode pengendalian risiko yang
tidak melibatkan uang / dana. Pengendalian risiko merupakan langkah penting dan
menentukan dalam keseluruhan manajemen risiko (Soputan dkk, 2014).
Pengendalian risiko berperan dalam meminimalisir / mengurangi tingkat risiko
yang ada sampai tingkat terendah atau sampai tingkatan yang dapat ditolerir. Cara
pengendalian risiko dilakukan melalui eleminasi, substitusi, engineering,
administratif, dan Alat Pelindung Diri (APD).
Pengendalian risiko adalah cara untuk mengatasi potensi bahaya yang
terdapat dalam lingkungan kerja. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan
dengan menentukan suatu skala prioritas terlebih dahulu yang kemudian dapat
membantu dalam prioritas terlebih dahulu yang kemudian dapat membantu dalam
pemilihan pengendalian risiko yang disebut hirarki pengendalian risiko. Hirarki
pengendalian risiko menurut OHSAS 18001, terdiri dari lima hirarki pengendalian
yaitu eliminasi, subtitusi, engineering control, Administrative control, dan alat
pelindung diri (APD) (Wijaya dkk, 2015).

2.5.2 Risiko Lingkungan


2.5.2.1 Definisi Risiko Lingkungan
Lingkungan (Fahmi, 2014) adalah segala yang berada dialam dan diluar
organisasi yang ikut memberi pengaruh pada berjalannya organisasi tersebut.
Secara umum lingkungan ada 2 (dua) yaitu :
1. Lingkungan internal, dan
2. Lingkungan eksternal.
Kedua bentuk lingkungan tersebut bersifat saling terkait satu sama lainnya.
Lingkungan eksternal bisa mempengaruhi lingkungan internal, dan lingkungan
internal berusaha menyerap serta memfilter setiap informasi yang masuk dari
lingkungan eksternal. Hasil dari serapan tersebut akhirnya membentuk suatu
model lingkungan yang bersifat mengapresiasi setiap perubahan secara sistematis
dan bertahap.
Risiko lingkungan (environtment risk) (Fahmi, 2014) adalah risiko yang
terjadi pada lingkungan akibat dari tindakan yang disengaja atau tidak disengaja,
dan telah menimbulkan kerusakan atau kehancuran pada lingkungan. Dampak
penghancuran lingkungan yang dilakukan sengaja akibat ekspansi suatu
perusahaan. Ekspansi tersebut dapat terjadi dalam bentuk seperti penambahan
produk, penciptaan produk baru, eksplorasi tambang, dan lain sebagainya. Dimana
semua itu telah menimbulkan kerugian pada lingkungan. Kerugian tersebut dapat
diukur dalam bentuk finansial atau nonfinansial.
2.5.2.2 Industri dan Perusakan Lingkungan
Persoalan perusakan lingkungan yang dilakukan oleh sebagian perusahaan
pada era sekarang ini telah dipandang sebagai perusahaan serius dan tidak bisa
dipandang sebelah mata. Sebuah perusahaan dengan berbagai aktivitas ruang
lingkup bisnisnya telah membawa dampak positif dan negatif. Pada dampak
positif mampu memberi pengaruh bagi usaha mendorong penciptaan kebutuhan-
kebutuhan yang selama ini belum terpenuhi untuk selanjutnya terpenuhi, dan
pihak perusahaan memperoleh profit sebagai bentuk imbal dari penjualan
produknya, sedangkan pada dampak negatif terjadi pada akibat-akibat yang terjadi
selama proses atau usaha meraih keuntungan tersebut dilakukan, seperti
pencemaran lingkungan akibat buangan limbah dan polusi yang telah ditimbulkan.
Disini suatu bisnis khususnya industri, memegang peranan besar dalam
ikut memberikan dampak tersebut. Ada beberapa jenis sektor industri yang
dianggap sebagai dominan dalam memberikan pengaruh pada perusahaan
lingkungan alam, antara lain adalah (Fahmi, 2014):
a. Sektor pertambangan (mining)
b. Sektor pabrik (manufacture)
c. Sektor minyak dan gas (oil and gas)
d. Sektor perhotelan dan real estate
Keempat sektor ini dianggap memiliki dominasi tinggi dalam mendukung
timbulnya pengaruh pada perusakan lingkungan. Sektor tambang dalam eksplorasi
pertambangan telah membawa berbagai dampak kerugian, seperti perusakan hutan
dikawasan yang dianggap ditemukan bahan tambang. Dalam kasus perusahaan
tambang batu bara telah menyebabkan terdapatnya lubang-lubang besar yang
ditinggal karena batu baranya diambil. Pada sektor minyak dan gas, pengeboran
minyak lepas pantai, dalam kasus kebocoran pipa atau meledaknya kapal
pengangkut telah menyebabkan pencemaran laut dan membuat berbagai habitat
dilaut menjadi mati.
Disisi lain pada sektor bisnis pabrik tekstil telah menyebabkan
pembuangan limbah hasil olahan pabrik menimbulkan pencemaraan pada
lingkungan sekitar, seperti sungai, laut, dan lain sebagainya. Sehingga masyarakat
yang biasanya minum air sungai sekarang telah tercemar, termasuk matinya ikan-
ikan yang biasa dapat ditangkap disungai tersebut menjadi sulit untuk ditemukan,
sedangkan pada sektor perhotelan dan real estate telah menimbulkan dampak
tajam pada perusakan lingkungan. Seperti pada pembangunan perumahan dengan
membeli tanah persawahan masyarakat, sehingga dengan begitu hasil produksi
padi mengalami penurunan. Pembangunan vila dikawasan puncak juga telah
menyebabkan pohon-pohon ditebang, sehingga ini berakibat pada berkurangnya
debit air di tanah.
2.5.2.3 Sumber Polusi Udara
Produksi energi, pengangkutan, konversi serta rumah tangga, industri dan
penggunaan kendaraan bermotor, merupakan penyumbang antropogemik utama
kepada polusi udara. Bahan-bahan pencemar utama yang penting (Laporan Bang
Dunia, 2003) adalah timbal, partikel halus, karbon monoksida (CO), nitrogen
oksida (NOx), hidrokarbon (HC), sulfur dioksida (SO2), dan karbon dioksida
(CO2).
Disamping yang disebutkan diatas ada beberapa sumber lainnya yang
dapat dikategorikan sebagai sumber pencemar polusi udara, yaitu (Fahmi, 2014) :
a. Timbal. Timbal adalah salah satu sumber polusi udara yang bersumber
dari pembuangan bahan bakar kendaraan bermotor, cat, dan sejenisnya.
Dimana saat ini begitu banyak kendaraan bermotor yang mempergunakan
bensin sebagai salah satu sumber bahan bakarnya, dan hasil buangan
bakaran bensin tersebut telah menyebabkan timbulnya timbal. Dan timbal
ini mampu memberi pengaruh pada kesehatan seperti mempengaruhi urat
syaraf, jantung, ginjal, dan lain sebagainya.
b. Partikel. Partikel yang menyebar diudara menjadi salah satu penyebab
pendukung timbulnya polusi diudara. Kota-kota besar di Indonesia seperti
Jakarta menjadi salah satu tempat dimana jumlah partikel memiliki tingkat
yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan kota-kota lainnya di
Indonesia. Sumber partikel berasal dari emisi bahan bakar seperti buangan
dari proses industri, polusi dari pembakaran berbagai sampah, aktivitas
rumah tangga dalam bidang memasak, dan berbagai aktivitas home
industri lainnya. Untuk pulau Jawa dengan jumlah penduduk yang padat
dan berbagai aktivitas industri besar dan kecil telah menyebabkan tingkat
kepadatan polusi partikel disana jauh lebih tinggi.
c. Nitrogen Dioksida. Nitrogen dioksida atau NO2 merupakan sumber
pencemaran yang bersumber dari aktivitas lalu lintas dijalanan. Dengan
tingkat kepadatan lalu lintas yang begitu tinggi maka jumlah NO2 yang
dihasilkan juga akan semakin meningkat. Dampak bagi kesehatan juga
terjadi yaitu bisa mengakibatkan kejang-kejang, kesulitan bernafas, bahkan
bisa menyebabkan pembengkakan pada paru-paru.
d. Karbon Monoksida. Karbon monoksida atau CO merupakan salah satu
sumber pencemaran udara yang bersumber dari pembakaran kendaraan
dan hutan yang berlangsung secara tidak sempurna. Jika kita berada
didalam sebuah pabrik dan terjadi pembakaran mesin-mesin pabrik, maka
asap yang ditimbulkan tersebut secara terus menerus dan tidak ada
ventilasi udara yang layak. Maka ini bisa berakibat pada kematian. Karena
udara pembakaran yang terhirup dan masuk ke paru-paru, dimana lama
kelamaan bisa membentuk ikatan kuat dengan pigmen darah. Para perokok
juga dianggap mereka yang menikmati CO.
e. Hidrokarbon. Hidrokarbon yang mudah menguap (VHC), dengan adanya
sinar matahari, dapat bereaksi dengan NOx untuk membentuk ozon (suatu
zat pencemar kedua). Adalah sulit untuk membuat suatu penyamarataan
tentang pengaruh kesehatan dari VHC karena merupakan senyawa khusus.
Beberapa VHC secara signifikan adalah beracun, dan sejumlah lainnya
telah terbukti atau dicurigai dapat menyebabkan kanker (carcinogen)
(Laporan Bank Dunia, 2003).
f. Ozon. Posisi ozon berada diketinggian 30 Km diatas bumi. Fungsi ozon
menjadi penting, karena ia berfungsi sebagai pelindung bumi dari sinar
ultraviolet (UV-B). Jika lapisan ozon menipis maka sinar ultraviolet
tersebut akan bisa langsung menyerang bumi, maka ini sangat berbahaya
bagi kesehatan terutama kesehatan kulit.
2.5.2.4 Solusi Dalam Menyelesaikan Masalah Risiko Lingkungan
Ada beberapa solusi yang dapat diterapkan dalam rangka menghindari
terjadinya risiko lingkungan yaitu (Fahmi, 2014):
a. Perusahaan menganggarkan sejumlah dana untuk dialokasikan guna
menyelesaikan berbagai permasalahan-permasalahan yang berhubungan
dengan risiko lingkungan (environment risk).
b. Menerapkan konsep pembangunan yang berkeseimbangan dengan alam
serta turut mengembangkan alam atau eco-development. Ini sebagaimana
dikemukakan oleh Emil Salim (1990) bahwa, “Maka segala perkembangan
sains, ilmu teknologi yang menunjang pembangunan dikuasai oleh
semangat dan keperluan menumbuhkan proses eco-development ini.”
c. Dibangunnya solusi konstruktif dalam bidang pengembangan lingkungan.
Seperti bagaimana melakukan pengendalian populasi udara, pencemaran
air, kesadaran dan kepedulian pada lingkungan sekitar, penyelamatan
hutan dan margasatwa, penataan perumahan yang berbasis harmoni
dengan alam, dan lain sebagainya.
d. Bagi sebuah perusahaan menempatkan satu devisi khusus yang bertugas
menyelesaikan berbagai urusan yang berhubungan dengan environment
risk.

2.6 6S
Upaya untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi adalah kegiatan yang
tidak pernah berakhir bagi banyak perusahaan (Shinde, 2014). Teknik 6S ini
sudah banyak mendapat perhatian besar dalam perusahaan industri dan telah
banyak berpengaruh dalam pengurangan limbah dan cacat, meningkatkan
produktivitas dan efisiensi, sehingga menghilangkan bahaya tempat kerja dan
kecelakaan (Sweta, 2014). Oleh karena itu, metodologi 6S adalah perluasan dari
5S yang dirancang untuk mengurangi limbah dan mengoptimalkan produktivitas
di tempat kerja untuk menghilangkan cacat dan mengurangi jumlah kecelakaan.
6S merupakan teknik sederhana yang bertujuan untuk mencapai lingkungan
kerja yang bersih, rapi, higienis, dan nyaman bagi karyawan. Oleh karena itu, 6S
menggunakan 5 pilar tambahan untuk keselamatan. Ditunjukkan pada tabel 7
dibawah ini.
Tabel 7. Konsep 6S
Istilah Inggris / Indonesia Yang Ditampilkan
Menghilangkan material yang tidak diinginkan atau
Sort / Ringkas
tidak dibutuhkan dalam area kerja
Mengatur semuanya pada area kerja agar pengambilan
Set In Order / Rapi
dan penyimpanan dilakukan dengan cepat
Shine / Resik Membersihkan dan memeriksa area kerja
Membuat metode standarisasi untuk menjaga
Standardize / Rawat
kerapihan, ketertiban, dan kebersihan
Selalu berkomitmen dengan metode standarisasi dan
Sustain / Rajin
mempraktikkan sebagai rutinitas sehari-hari
Memastikan lingkungan atau area kerja yang aman
Safety / Keselamatan
serta bebas dari bahaya yang dapat dikenali
(Sumber : Chang & Chen, 2014)

Didapatkan bahwa 6S ini adalah pondasi yang kuat untuk suatu tindakan
yang lebih disiplin, serta dapat mempromosikan budaya perbaikan jangka panjang
dan efisiensi yang berkelanjutan (Chang & Chen, 2014). Tujuan dalam penerapan
budaya kerja 6S adalah sebagai berikut (Osada, 2004):
1. Keamanan
Keamanan dalam area kerja merupakan hal yang sangat penting dalam area
kerja. Keamanan yang terjaga dalam area kerja mampu mengurangi kecelakaan
kerja, contohnya perlaatan kerja yang digunakan tersusun dengan rapi dan tidak
mengganggu area kerja. Selain itu penerapan budaya kerja 6S sangat penting
dalam menjaga keamanan pribadi dan bagi semua orang yang terlibat di dalamnya
dalam mencegah hal-hal yang dapat membahayakan kesehatan. Kecelakaan akan
lebih sedikit bagi perusahaan yang menerapkan budaya kerja 6S dibandingkan
dengan perusahaan yang tidak menerapkan.
2. Efisiensi
Terciptanya efisiensi waktu dan biaya ketika melakukan penerapan budaya
kerja 6S. Peralatan dalam keadaan siap ketika diperlukan, sehingga hal ini mampu
mempercepat proses produksi dan menghemat waktu.
3. Mutu
Mutu produk yang kurang baik dalam proses produksi dikarenakan mesin
yang macet. Mesin yang macet terjadi dikarenakan mesin kurang bersih sehingga
terjadinya kemacetan pada mesin operator dan menghambat proses pada lantai
produksi. Apabila telah menerapkan budaya kerja 6S pada suatu perusahaan atau
pabrik maka peralatan dan mesin akan selalu terjaga kebersihannya sehingga
mampu meningkatkan mutu produk yang di produksi.
4. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Tujuan utama dari keselamatan dan kesehatan kerja yaitu mampu
menghasilkan tenaga kerja yang bersih, sehat dan produktif. Sehingga dalam
penerapan 5S + Safety mampu meningkatkan kinerja karyawan dan mengurangi
kecelakaan kerja pada area kerja.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Rancangan penelitian didasarkan atas permasalahan penelitian. Dalam
penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif.
Pendekatan penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan
untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial,
sikap, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Data dihimpun
dengan pengamatan seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang mendetail
disertai catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen.
Penelitian deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang ditujukan untuk
menggambarkan masalah-masalah yang ada diperusahaan, yang berlangsung saat
ini atau saat yang lampau, mengolah data, menganalisis, meneliti, dan
menginterpretasikan serta membuat kesimpulan dan memberi saran yang
kemudian disusun pembahasannya secara sistematis sehingga masalah yang ada
diperusahaan dapat dipahami. Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau
pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu kondisi
apa adanya. Penggambaran kondisi bisa individual atau menggunakan angka-
angka.
Penelitian deskriptif, bisa mendeskripsikan suatu keadaan saja, tetapi bisa
juga mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya,
penelitian demikian disebut penelitian perkembangan (developmental studies).
Dalam penelitian perkembangan ini ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang
waktu dan ada yang bersifat cross sectional atau dalam potong waktu. Data yang
diperoleh berdasarkan data lapangan, dan wawancara dengan COE Petrokimia dan
Kimia Kota Cilegon.

22
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Berikut ini adalah lokasi dan waktu penelitian yang dilakukan dalam
penelitian mengenai identifikasi dan analisis penilaian risiko bahaya dalam
penyimpanan B3 dengan pendekatan HIRA (Hazard Identification and Risk
Assessment) dan FTA (Fault Tree Analyzis):
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di beberapa perusahaan kimia dan petrokimia yang
terletak di Kota Cilegon, Provinsi Banten. Lebih tepatnya penelitian ini ditujukan
pada perusahaan kimia yang memproduksi jenis B3.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan yaitu terhitung dari bulan Agustus –
Oktober 2018. Pada pertengahan bulan Agustus 2018, peneliti melakukan
observasi dilapangan sebagai studi awal. Hal ini dilakukan agar peneliti benar-
benar mengenal area proses kerja dan kondisi kerja dari penyimpanan B3. Pada
akhir bulan Agustus sampai Oktober 2018 merupakan proses pengambilan data
dan pengolahan data, serta dilanjutkan dengan proses pembuatan laporan hingga
selesai. Dalam melakukan suatu penelitian dilakukan beberapa tahap atau
langkah-langkah yaitu mulai dari tahap persiapan sampai dengan selesai
penyusunan laporan.

3.3 Alur Penelitian


Berikut ini adalah alur penelitian yang dilakukan dalam penelitian mengenai
identifikasi dan analisis penilaian risiko bahaya dalam penyimpanan B3 dengan
metode HIRA (Hazard Identification and Risk Assessment) dan FTA (Fault Tree
Analyzis) studi kasus pada perusahaan-perusahaan industri kimia dan petrokimia
yang memproduksi B3 di Kota Cilegon.
3.3.1 Flow Chart Pengolahan Data Umum
Berikut ini adalah gambar 3 tentang flow chart pengolahan data umum pada
penelitian mengenai identifikasi dan analisis penilaian risiko bahaya dalam
penyimpanan B3 dengan pendekatan HIRA (Hazard Identification and Risk
Assessment), FTA (Fault Tree Analyzis), dan 6S studi kasus pada perusahaan-
perusahaan industri kimia dan petrokimia yang memproduksi B3 di Kota Cilegon.
Mulai

Studi Literatur Observasi Lapangan

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Batasan Masalah

Pengumpulan Data :
1. Wawancara
2. Data perusahaan serta studi
literatur lain sebagai sumber data

Pengolahan Data :
1. Analisa potensi bahaya dengan Metode HIRA
2. FTA (Fault Tree Analisis)
3. 6S
4. Mitigasi Risiko

Analisa

Kesimpulan dan Saran

Selesai
Gambar 3. Flow Chart Pengolahan Data Umum

3.3.2 Deskripsi Flow Chart Pengolahan Data Umum


Dibawah ini adalah deskripsi flow chart pengolahan data umum dalam
penelitian mengenai analisa potensi bahaya dalam penyimpanan B3 dengan
metode HIRA studi kasus di beberapa perusahaan daerah Kota Cilegon.
a) Mulai
Tahapan ini menunjukkan awal dari aliran proses dalam penelitian studi
kasus perusahaan-perusahaan di Kota Cilegon.
b) Studi Literatur
Merupakan landasan teori yang digunakan dalam suatu penelitian,yang
bersifat teoritis untuk menunjang argument peneliti. Dalam hal ini studi
literatur juga bisa dijadikan landasan suatu pemecahan masalah.
c) Observasi Lapangan
Merupakan kegiatan memperhatikan, mencatat, dan menghubungkan
fenomena yang berkaitan dengan masalah yang pelajari. Selain itu,
observasi juga digunakan sebagai alat rechecking atau pembuktian terhadap
keterangan yang didapat sebelumnya.
d) Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini terdiri dari berapa besar nilai risiko
potensi bahaya dan kategori potensi bahaya pada area penyimpanan produk
B3 di perusahaan-perusahaan tersebut, apa yang menjadi faktor penyebab
terbesar terjadinya kecelakaan kerja akibat dari potensi-potensi bahaya pada
kategori extreme atau tinggi pada area penyimpanan produk B3 di
perusahaan-perusahaan tersebut, dan bagaimana cara mengurangi risiko
kecelakaan kerja pada penyimpanan produk B3 di perusahaan-perusahaan
tersebut.
e) Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dalam penelitian di PT ATA ini yaitu untuk menentukan
besar nilai risiko potensi bahaya dan kategori potensi bahaya pada area
penyimpanan produk B3 di perusahaan-perusahaan tersebut, menentukan
faktor penyebab terbesar terjadinya kecelakaan kerja akibat dari potensi-
potensi bahaya pada kategori extreme atau tinggi pada area penyimpanan
produk B3 di perusahaan-perusahaan tersebut, dan mengurangi risiko
kecelakaan kerja pada penyimpanan B3 di perusahaan-perusahaan tersebut.
f) Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini terdiri dari penelitian dimulai dari
bulan Agustus – Oktober 2018, data diambil berdasarkan wawancara dan
data perusahaan berupa nama-nama perusahaan kimia dan petrokimia di
Kota Cilegon dan jenis B3 yang diproduksi, serta penilaian risiko berasal
dari akademisi dan praktisi di COE Petrokimia Cilegon bekerja sama
dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK RI)
g) Pengumpulan Data
Tahapan ini dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam
rangka mencapai tujuan penelitian. Data yang diperlukan dalam penelitian
ini bersumber dari data primer yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
Data primer dapat diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung
dilapangan dan wawancara dengan pihak-pihak terkait. Metode
pengumpulan data yang digunakan yaitu berupa :
1. Wawancara
Teknik ini digunakan karena wawancara mempunyai sejumlah kelebihan,
antara lain : dapat digunakan oleh peneliti untuk lebih cepat memperoleh
data dan informasi yang dibutuhkan, informasi yang diperoleh lebih
meyakinkan, memberikan keleluasaan yang lebih besar dalam
mengajukan pertanyaan.
2. Data Perusahaan
Berupa nama-nama perusahaan beserta data penyimpanan B3 tiap
perusaahaan. Serta berdasarkan studi literatur dari beberapa jurnal dan
beberapa buku.
h) Pengolahan Data
Tahapan ini dilakukan untuk mengolah data yang telah dikumpulkan
menjadi bentuk yang lebih berguna. Pengolahan data yang dilakukan dalam
penelitian di PT ATA ini berupa :
1. Analisa Potensi Bahaya Dengan Metode HIRA
Tahapan ini dilakukan identifikasi potensi-potensi bahaya dalam
penyimpanan B3 untuk menentukan potensi-potensi bahaya apa saja
yang akan terjadi dalam penyimpanan B3 di perusahaan-perusahaan
tersebut, penilaian risiko untuk menentukan nilai risiko tertinggi, serta
pengendalian risiko untuk menentukan pengendalian apa yang akan
digunakan perusahaan untuk mengurangi bahaya yang akan terjadi.
2. FTA (Fault Tree Analisis)
Tahapan ini dilakukan untuk menganalisa sebuah kegagalan sistem
dimana pada setiap masalah ada faktor-faktor penyebab dari masalah
tersebut. Identifikasi faktor penyebab terjadinya potensi bahaya di area
penyimpanan produk B3 hanya pada perusahaan yang memiliki nilai
risiko tinggi atau tergolong kategori extreme.
3. 6S
Tahap ini terdiri dari 6 tahap yaitu sort / seiri mencakup pemilihan
konten dalam tempat kerja dan membuang item yang tidak perlu, set in
order / seiton mencakup menempatkan item yang dibutuhkan pada
tempatnya dan menyediakan kemudahan akses, shine / seiso mencakup
membersihkan tempat kerja, menjaga kebersihan sehari-hari, standardize
/ seiketsu mencakup membuat kontrol visual dan panduan untuk menjaga
tempat kerja tetap tertata, teratur, dan bersih, tahap sustain / shitsuke
mencakup pelatihan dan disiplin untuk memastikan semua orang
mengikuti standar 6S, dan safety mencakup peran dan tanggung jawab
dalam mengamati serta mengoreksi jika terdapat perilaku rekan kerja
yang mengabaikan safety.
4. Mitigasi Risiko
Tahap ini upaya yang akan dilakukan untuk mencegah kecelakaan kerja
dan mendorong keselamatan dan kesehatan kerja terhadap risiko bahaya
yang ada.
i) Analisa
Usaha untuk mengamati secara detail suatu hal dengan cara menguraikan
komponen-komponen pembentuknya untuk dikaji lebih lanjut.
j) Kesimpulan dan Saran
Hasil yang didapatkan dari suatu peneliitian adalah kesimpulan, dan dari
kesimpulan tersebut dapat diusulkan saran-saran untuk penelitian
selanjutnya.
k) Selesai
Merupakan tahapan akhir dari aliran proses, dimana penelitian telah selesai
dilakukan

3.4 Analisis Data


Berikut ini adalah analisis data berupa gambar flow chart pengolahan data
metode HIRA dan FTA beserta deskripsinya.
3.4.1 Flow Chart Pengolahan Data Metode HIRA
Dibawah ini adalah gambar 4 tentang flow chart pengolahan data metode
HIRA dalam penelitian mengenai identifikasi dan analisis penilaian risiko bahaya
dalam penyimpanan B3 studi kasus pada perusahaan-perusahaan kimia dan
petrokimia yang memproduksi B3 di Kota Cilegon.
Mulai

Identifikasi Potensi Bahaya

Menentukan Bobot Keparahan

Menentukan Bobot Kemungkinan Terjadi

Menentukan Nilai Risiko

Menentukan Kategori Risiko

Analisa dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai
Gambar 4. Flow Chart Pengolahan Data Metode HIRA

3.4.2 Deskripsi Flow Chart Pengolahan Data Metode HIRA


Dibawah ini adalah deskripsi flow chart pengolahan data metode HIRA
dalam penelitian mengenai identifikasi dan analisis penilaian risiko bahaya dalam
penyimpanan B3 studi kasus pada perusahaan-perusahaan industri kimia dan
petrokimia yang memproduksi B3 di Kota Cilegon.
1. Mulai
Mulai merupakan tahap awal melakukan penelitian.
2. Identifikasi Potensi Bahaya
Pada tahap ini, mengidentifikasi potensi bahaya dengan melakukan
observasi langsung ke lapangan dan melakukan brainstorming atau
wawancara dengan karyawan.
3. Menentukan Bobot Keparahan
Pada tahap ini, menentukan nilai bobot atau keparahan yang diperoleh dari
tabel matriks HIRA tingkat keparahan oleh pengawas lapangan. Pada bobot
keparahan pada kelas bahaya B3 diisi oleh peneliti berdasarkan data MSDS
dan PP No. 74 Tahun 2001.
4. Menentukan Bobot Kemungkinan Terjadi
Pada tahap ini, menentukan nilai bobot kemungkinan terjadi yang diperoleh
dari tabel matriks HIRA kemungkinan atau peluang oleh pengawas.
5. Menentukan Nilai Risiko
Pada tahap ini, menentukan nilai risiko yang diperoleh dari penggabungan
hasil tabel matriks bobot konsekuensi atau keparahan dengan tabel matriks
bobot kemungkinan atau peluang oleh pengawas.
6. Menentukan Kategori Risiko
Pada tahap ini, menentukan nilai kategori risiko yang diperoleh dari tabel
matriks HIRA matriks penilaian risiko.
7. Analisa dan Pembahasan
Pada tahap ini dilakukan analisa dan pembahasan terhadap hasil pengolahan
data yang dilakukan berdasarkan teori yang ada. Analisa dimaksudkan untuk
lebih menjelaskan hasil yang telah didapat untuk mendapatkan tujuan yang
ditetapkan.
8. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan dibuat berdasarkan hasil dari pengolahan data dan analisa yang
telah dilakukan dan merupakan jawaban dari perumusan masalah dan tujuan
penelitian. Sedangkan saran merupakan saran yang diberikan peneliti untuk
selanjutnya yang berkaitan dengan hasil penelitian.
9. Selesai
Tahap akhir dalam melakukan penelitian.

3.4.3 Flow Chart Pengolahan Data Metode FTA


Dibawah ini adalah gambar 5 tentang flow chart pengolahan data metode
FTA dalam penelitian mengenai identifikasi dan analisis penilaian risiko bahaya
dalam penyimpanan B3 studi kasus pada perusahaan-perusahaan industri kimia
dan petrokimia yang memproduksi B3 di Kota Cilegon.
Mulai

Penentuan Kejadian Puncak

Menganalisis Penyebab

Analisis Diuraikan Sampai Kejadian Dasar

Analisa dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai
Gambar 5. Flow Chart Pengolahan Data Metode FTA

3.4.4 Deskripsi Flow Chart Pengolahan Data Metode FTA


Dibawah ini adalah deskripsi flow chart pengolahan data metode FTA
dalam penelitian mengenai analisa potensi bahaya dalam penyimpanan B3 dengan
pendekatan HIRA dan FTA studi kasus di beberapa perusahaan daerah Kota
Cilegon.
1. Mulai
Memulai pengolahan data.
2. Penentuan Kejadian Puncak
Penentuan kejadian puncak dari hasil potensi bahaya kerja yang akan
diidentifikasi penyebabnya.
3. Menganalisis Penyebab
Menganalisis penyebab terjadinya potensi bahaya kerja yang terjadi.
4. Analisis Diuraikan Sampai Kejadian Dasar
Analisis diuraikan sampai kejadian dasar untuk menentukan kesalahan
sampai kepada penyebab dasar.
5. Analisa dan Pembahasan
Pada tahap ini dilakukan analisa dan pembahasan terhadap hasil pengolahan
data yang dilakukan berdasarkan teori yang ada. Analisa dimaksudkan untuk
lebih menjelaskan hasil yang telah didapat untuk mendapatkan tujuan yang
ditetapkan.
6. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan dibuat berdasarkan hasil dari pengolahan data dan analisa yang
telah dilakukan dan merupakan jawaban dari perumusan masalah dan tujuan
penelitian. Sedangkan saran merupakan saran yang diberikan peneliti untuk
selanjutnya yang berkaitan dengan hasil penelitian.
7. Selesai
Tahap akhir dalam melakukan penelitian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1 Pengumpulan Data


Adapun data yang diperlukan dalam penyelesaian tugas akhir ini bersumber
dari data primer, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif berupa hasil dari
wawancara dan data B3 perusahaan.
4.1.1 Data Penyimpanan B3 Perusahaan Kimia di Kota Cilegon
Berikut ini adalah data penyimpanan B3 dari tiap-tiap perusahaan kimia dan
petrokimia di Kota Cilegon.
Tabel 8. Data Penyimpanan B3 Perusahaan Kimia dan Petrokimia Kota Cilegon
Nama Jenis
No. Alamat Kecamatan Komoditi
Perusahaan Industri
Jl. Australia II Kav. M1
1 PT. ILA Citangkil Kimia Gas
Kawasan KIEC Warnasari
Jl. Raya Merak Km. 116 Kel. O2, N2, Ar Cair, Gas
2 PT. IPA Grogol Kimia
Rawa Arum N2, H2
Jl. Eropa I Kav. 1 2/1 KIEC
3 PT. IGA Citangkil Kimia Gas
Kel. Warnasari
Jl. Australia I Blok F.1 KIEC Synthetic Resin
4 PT. IA Citangkil Kimia
Kel. Warnasari emulsion
Jl. Raya Anyer Km 122
5 PT. AC Ciwandan Kimia VCM, PVC, CA
Gunung Sugih
6 PT. SBA Jl. Raya Pelindo II No.1 Kepuh Ciwandan Kimia Aspal
JL. Yos Sudarso Link. Pulorida
7 PT. TBB Pulomerak Kimia Pelumas
Lebak Gede
Jl. Raya Merak Km. 116, Komp
8 PT. IPPB Grogol Kimia PTA
PT. Lotte Rawa Arum
Jl. Raya Merak Km. 116,
9 PT. LIMB Grogol Kimia Kemasan Plastik
Komplek PT. Lotte Kel. Gerem
Jl. Amerika I Kav. A-5 Kel.
10 PT. IC Citangkil Kimia Carbon Black
Warnasari
Jl. Raya Anyer km 123 Gunung Ethylene, Propylene,
11 PT. PAC Tbk. Ciwandan Kimia
Sugih Butadiene
Jl. Raya Merak Km. 117 Kel.
12 PT. IC Grogol Kimia Pelumas
Gerem
13 PT. GC Jl. Raya Anyer Km.18 Kepuh Ciwandan Kimia Semen
Jl. Australia Kav 1 1/3 KIEC
14 PT. IGC Grogol Kimia Garam
Warnasari
Jl. Raya Merak Km. 118 Kel.
15 PT. SC Grogol Kimia Butyl Acetat
Gerem
Jl. Raya Anyer Km 123 Azodicarbonamide
16 PT. ID Ciwandan Kimia
Gunung Sugih ADCA

33
Tabel 8. Data Penyimpanan B3 Perusahaan Kimia dan Petrokimia Kota Cilegon
(lanjutan)
Nama Jenis
No. Alamat Kecamatan Komoditi
Perusahaan Industri
Jl. Raya Merak km 116 Formaldehyd,
17 PT. CD Grogol Kimia
Gerem Formalin/Resin
Jl. Australia II Kav. R1
18 PT. KF Citangkil Kimia Pelumas
KIEC Kel. Warnasari
Jl. Lingkar Selatan Link
19 PT. ASG Ciwandan Kimia Garam
Jangkar Wetan Tegal Ratu
Jl. Raya Pelabuhan No. 1
20 PT. IH Tbk. Ciwandan Kimia Penggilingan Semen
Kawasan Pelindo II Kepuh
Jl. Sunan Demak No.8
21 PT. II Ciwandan Kimia Kokas
Kepuh
Jl. Australia I Kav. BI/I
22 PT. RAI Citangkil Kimia Semen Tahan Api
KIIEC Kebonsari
Jl. Antartika I, Kotasari,
23 PT. RCCPI Grogol Kimia Nitrogen
Grogol
Jl. Raya Anyer km 121
24 PT. PI Ciwandan Kimia PTA
Kepuh
Jl. Raya Anyer km 121
25 PT. IPI Ciwandan Kimia PET
Kepuh
JL. Raya Bojonegara Km.
26 PT. PMJ Cibeber Kimia Conblok
3 Kedaleman
Jl. Raya Bojonegara
27 PT. RJ Cibeber Kimia Readymix Concrete
Kedaleman
Jl. Australia II KIEC Kel.
28 PT. BSK Citangkil Kimia Kapur
Warnasari
Jl. Antartika II Kav. C4/3
29 PT. IOOK Grogol Kimia Desulfurizer, Fluospar
KIEC Kel. Kotasari
30 PT. LGK Kawasan KIEC GRogol Kimia Kapur
Jl. Afrika Kawasan PT. Naphtalene, BTX,
31 PT. CSDPK Ciwandan Kimia
Krakatau Posco Carbon Black Oil
Jl. Afrika Kawasan PT.
32 PT. CCPK Ciwandan Kimia Kapur Bakar (CaO)
Krakatau Posco
33 PT. ISK Kawasan KBS Tegalratu Ciwandan Kimia Semen
Jl. Antartika II Kav. C5 Pemanfaatan Blast
34 PT. IGRK Grogol Kimia
Kel. Kotasari Furnace & BOF Slag
Jl. Raya Anyer km 123 Azodicarbonamide
35 PT. COL Ciwandan Kimia
Gunung Sugih ADCA
Jl. Afrika Kawasan PT.
36 PT. IL Ciwandan Kimia Gas
Krakatau Posco
Jl. Raya Suralaya Link.
37 PT. PL Pulomerak Kimia Limbah B3
Pulorida Kel. Lebak Gede
Jl. Raya Merak Km. 116
38 PT. NTCL Grogol Kimia HDPE, LLDPE
Kel. Rawa Arum
PT. Jl. Raya Merak Kel.
39 Grogol Kimia Pet Film
IFTEPCM Gerem
Jl. Raya Merak Kelurahan
40 PT. ICM Grogol Kimia PTA / PET
Gerem
Jl. Raya Anyer Km 122
41 PT. ISN Ciwandan Kimia Asam Akrilat
Gunung Sugih
Tabel 8. Data Penyimpanan B3 Perusahaan Kimia dan Petrokimia Kota Cilegon
(lanjutan)
Nama Jenis
No. Alamat Kecamatan Komoditi
Perusahaan Industri
Jl. Raya Merak Km. 117,5
42 PT. AEN Grogol Kimia Pelumas
Kel. Gerem
Jl. Eropa II Kav. C3 KIEC
43 PT. MPN Grogol Kimia Pelumas
Kel. Kotasari
Jl. Eropa II Kav. B-3 No. 3
44 PT. AIP Grogol Kimia Filter Aid
Kel. Kotasari
Jl. RE Marthadinata Kel.
45 PT. SMPUP III Grogol Kimia Penyaluran BBM
Gerem
46 PT. PP Jl. Yos Sudarso Lebakgede Pulomerak Kimia BBM
Jl. Asia I Kav. G3/1 KIEC Plasterboard &
47 PT. PBP Grogol Kimia
Kotasari Compound
Jl. Raya Anyer Km 123 Butadiene &
48 PT. IBP Ciwandan Kimia
Gunung Sugih Rafinate
Jl. Raya Merak Km. 116
49 PT. HIP Grogol Kimia Kemasan Plastik
Kel. Rawa Arum
Jl. Australia Kav. B1
50 PT. IR Citangkil Kimia CO2 Cair
No.VA Kiec Warnasri
Jl. Australia I Kav. A1 No.
51 PT. LGCR Citangkil Kimia Pelumas
3-4 Kiec Warnasari
Jl. Australia I Kav.6-1
52 PT. KKIMR Citangkil Kimia CO2 Cair
KIEC Warnasari
Jl. Eropa III Kav. M2 KIEC
53 PT. IHR Citangkil Kimia Acrylic Emulsion
Kel. Warnasari
Jl. Eropa I Kav. I2/1 KIEC
54 PT. IGS Citangkil Kimia Distributor Gas
Warnasari
JL. Raya Serang
55 PT. ATS Cibeber Kimia Bata Tahan Api
Kedaleman
Jl. Raya Pulorida
56 PT. CS Pulomerak Kimia Semen
Lebakgede
Kawasan Pelabuhan KBS
57 PT. IS Ciwandan Kimia Semen
Tegalratu
Jl. Lingkar Selatan Link
58 PT. JS Ciwandan Kimia Semen
Jangkar Wetan Tegal Ratu
Pengepakan
59 PT. PS Jl. Komp. Pelindo II Kepuh Ciwandan Kimia
Semen
Jl. Raya Merak Km. 118 PVC Resin
60 PT. PTS Grogol Kimia
Kel. Gerem Ryuron
Jl. Antartika II Kav. B4.I Mould Flux &
61 PT. ISS Grogol Kimia
Kel. Kotasari Laddle Filler
Poly Butadiene
Jl. Raya Anyer km 123
62 PT. IRS Ciwandan Kimia Rubber, Styrene
Gunung Sugih
Butadiene Rubber
Jl. Eropa I Kav. A3 KIEC PVC Heat
63 PT. IT Grogol Kimia
Kel. Kotasari Stabilizer
Jl. Raya Merak Km. 117 Acrylamide
64 PT. CT Grogol Kimia
Kel. Gerem Monomer
Jl. Australia I Kav H2/3
65 PT. IT Citangkil Kimia Pengolahan LB3
Kawasan KIEC Warnasari
Jl. Raya Cilegon Merak Km
66 PT. IMT Grogol Kimia Polystyrene,Latex
117,5 Gerem
Tabel 8. Data Penyimpanan B3 Perusahaan Kimia dan Petrokimia Kota Cilegon
(lanjutan)
Nama Jenis
No. Alamat Kecamatan Komoditi
Perusahaan Industri
Jl. Raya Merak Km. 117,5 Linier Alkyl
67 PT. CIU. Tbk Grogol Kimia
Kel. Gerem Benzene LAB
Jl. Australia I Kav B1/2
68 PT. IW Citangkil Kimia Pengolahan LB3
KIEC Kel. Warnasari
Jl. Australia I Kav K2/1 Beton / Tiang
69 PT. BKKW Citangkil Kimia
Kawasan KIEC Warnasari pancang

Berdasarkan tabel 8 tentang data penyimpanan B3 perusahaan kimia dan


petrokimia di Kota Cilegon, dapat diketahui bahwa perusahaan-perusahaan
manufaktur kimia yang memproduksi B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
tersebut terdiri dari berbagai kecamatan yaitu Citangkil, Grogol, Pulomerak
Ciwandan, dan Cibeber di Kota Cilegon. Daerah kecamatan Cibeber terdiri dari
perusahaan PT. PMJ (memproduksi Conblok), PT. RJ (memproduksi Redymix
Concrete), dan PT. ATS (memproduksi Bata Tahan Api).
Daerah kecamatan Citangkil terdiri dari perusahaan PT. ILA (memproduksi
Gas), PT. IGA (memproduksi Gas), PT. IA (memproduksi Synthetic Resin
Emulsion), PT. IC (memproduksi Carbon Black), PT. KF (memproduksi
Pelumas), PT. RAI (memproduksi Semen Tahan Api), PT. BSK (memproduksi
Kapur), PT. IR (memproduksi CO2 Cair), PT. LGCR (memproduksi Pelumas),
PT. KKIMR (memproduksi CO2 Cair), PT. IHR (memproduksi Acrylic
Emulsion), PT. IGS (distributor Gas), PT. IT (pengolahan LB3), PT. IW
(pengolahan LB3), dan PT. BKKW (memproduksi Beton / Tiang Pancang).
Daerah kecamatan Ciwandan terdiri dari perusahaan PT. AC (memproduksi
VCM, PVC, dan CA), PT. SBA (memproduksi Aspal), PT. PAC Tbk.
(memproduksi Ethylene, Propylene, dan Butadiene), PT. Cemido Gemilang
(memproduksi semen), PT. ID (memproduksi Azodicarbonamide ADCA), PT.
ASG (memproduksi Garam), PT. IH Tbk. (penggilingan Semen), PT. II
(memproduksi Kokas), PT. PI (memproduksi PTA), PT. IPI (memproduksi PET),
PT. CSDPK (memproduksi Naphtalene, BTX, dan Carbon Black Oil), PT. CCPK
(memproduksi Kapur Bakar atau CaO), PT. ISK (memproduksi Semen), PT. COL
(memproduksi Azodicarbonamide ADCA), PT. IL (memproduksi Gas), PT. ISN
(memproduksi Asam Akrilat), PT. Ptrokimia Butadiene Indonesia (memproduksi
Butadiene dan Rafinate), PT. IS (memproduksi Semen), PT. JS (memproduksi
Semen), PT. PS (pengepakan Semen), dan PT. IRS (memproduksi Poly Butadiene
Rubber dan Styrene Butadiene Rubber).
Daerah kecamatan Grogol terdiri dari perusahaan PT. IPA (memproduksi
O2, N2, Ar Cair, Gas N2, dan H2), PT. IPPB (memproduksi PTA), PT. LIMB
(memproduksi Kemasan Plastik), PT. IC (memproduksi Pelumas), PT. IGC
(memproduksi Garam), PT. SC (memproduksi Butyl Acetat), PT. CD
(memproduksi Formaldehyd, Formalin / Resin), PT. RCCPI (memproduksi
Nitrogen), PT. IOOK (memproduksi Desulfurizer dan Fluospar), PT. LGK
(memproduksi Kapur), PT. IGRK (pemanfaatan Blast Furnace dan BOF Slag),
PT. NTCL (memproduksi HDPE dan LLDPE), PT. IFTEPCM (memproduksi Pet
Film), PT. ICM (memproduksi PTA / PET), PT. AEN (memproduksi Pelumas),
PT. MPN (memproduksi Pelumas), PT. AIP (memproduksi Filter Aid), PT.
SMPUP III (penyaluran BBM), PT. PBP(memproduksi Plasterboard dan
Compound), PT. HIP (memproduksi Kemasan Plastik), PT. PTS (memproduksi
PVC Resin Ryuron), PT. Stolberg Samil Indonesia (memproduksi Mould Flux dan
Laddle Filler), PT. IT (memproduksi PVC Heat Stabilizer), PT. CT
(memproduksi Acrylamide Monomer), PT. IMT (memproduksi Polystyrene dan
Latex), dan PT. CIU Tbk. (memproduksi Linier Alkyl Benzene / LAB). Daerah
kecamatan Pulomerak terdiri dari perusahaan PT. TBB (memproduksi Pelumas),
PT. PL (limbah B3), PT. PP (memproduksi BBM), dan PT. CS (memproduksi
Semen).

4.2 Pengolahan Data


Berikut ini adalah pengolahan data berdasarkan data yang telah
dikumpulkan dari beberapa perusahaan manufaktur bidang kimia di Kota Cilegon.
4.2.1 Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya
Berikut ini adalah tabel 8 tentang identifikasi dan penilaian risiko bahaya
pada penyimpanan B3 di beberapa perusahaan kimia dan petrokimia Kota
Cilegon.
Tabel 9. Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya

38
Tabel 8. Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya (lanjutan)

39
Tabel 9. Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya (lanjutan)

40
Tabel 9. Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya (lanjutan)

41
Tabel 9. Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya (lanjutan)

42
Tabel 9. Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya (lanjutan)

43
Tabel 9. Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya (lanjutan)

44
Tabel 9. Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya (lanjutan)

45
Tabel 9. Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya (lanjutan)

46
Contoh perhitungan no.1 di PT. AC untuk jenis B3 VCM, yaitu:
Nilai Risiko = Jumlah Hazard x Jumlah Exposure
Nilai Risiko VCM = (3 + 3 + 2 + 3) x (2 + 2)
Nilai Risiko VCM = 11 x 4 = 44

Berdasarkan tabel 9 identifikasi bahaya dan penilaian risiko dalam


penyimpanan B3, dapat diketahui bahwa perusahaan kimia tersebut terbagi
menjadi 3 zona. Pada zona 1 daerah kecamatan Ciwandan terdiri dari perusahaan
PT. AC memproduksi VCM yang termasuk dalam kategori risiko sedang, PVC
yang termasuk dalam kategori risiko sedang, dan CA yang termasuk pada kategori
risiko rendah; PT. SBA memproduksi Aspal yang termasuk dalam kategori risiko
sedang; PT. PAC Tbk. memproduksi Ethylene yang termasuk dalam kategori
risiko sedang, Propylene yang termasuk dalam kategori risiko sedang, dan
Butadiene yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. Cemido Gemilang
memproduksi semen yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. ID
memproduksi Azodicarbonamide ADCA yang termasuk dalam kategori risiko
rendah; PT. ASG memproduksi Garam yang termasuk dalam kategori risiko
rendah; PT. IH Tbk. penggilingan Semen yang termasuk dalam kategori risiko
rendah; PT. II memproduksi Kokas yang termasuk dalam kategori risiko rendah;
PT. PI memproduksi PTA yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. IPI
memproduksi PET yang termasuk dalam kategori risiko rendah, Etilen Glikol /
1,2-Ethanediol yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. CSDPK
memproduksi Naphtalene yang termasuk dalam kategori risiko sedang, BTX yang
termasuk dalam kategori risiko rendah, dan Carbon Black Oil yang termasuk
dalam kategori risiko rendah; PT. CCPK memproduksi Kapur Bakar atau CaO
yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. ISK memproduksi Semen yang
termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. COL memproduksi
Azodicarbonamide ADCA yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. IL
memproduksi Gas yang termasuk dalam kategori risiko tinggi; PT. ISN
memproduksi Asam Akrilat yang termasuk dalam kategori risiko sedang, dan
Hidrokwinon yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. IBP memproduksi
Butadiene yang termasuk dalam kategori risiko rendah dan Rafinate yang
termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. IS memproduksi Semen yang
termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. JS memproduksi Semen yang
termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. PS dalam pengepakan Semen
termasuk dalam kategori risiko rendah; dan PT. IRS memproduksi Poly Butadiene
Rubber yang termasuk dalam kategori risiko rendah dan Styrene Butadiene
Rubber yang termasuk dalam kategori risiko rendah.
Daerah zona 2 yaitu kecamatan Citangkil terdiri dari perusahaan PT. ILA
memproduksi Gas yang termasuk dalam kategori risiko tinggi; PT. IGA
memproduksi Gas yang termasuk dalam kategori risiko tinggi; PT. IA
memproduksi Synthetic Resin Emulsion yang termasuk dalam kategori risiko
rendah; PT. IC memproduksi Carbon Black yang termasuk dalam kategori risiko
rendah; PT. KF memproduksi Pelumas yang termasuk dalam kategori risiko
sedang; PT. RAI memproduksi Semen Tahan Api termasuk dalam kategori risiko
rendah; PT. BSK memproduksi Kapur yang termasuk dalam kategori risiko
rendah; PT. IR memproduksi CO2 Cair yang termasuk dalam kategori risiko
rendah; PT. LGCR memproduksi Pelumas yang termasuk dalam kategori risiko
sedang; PT. KKIMR memproduksi CO2 Cair yang termasuk dalam kategori risiko
rendah; PT. IHR memproduksi Acrylic Emulsion yang termasuk dalam kategori
risiko sedang; PT. IGS distributor Gas yang termasuk dalam kategori risiko tinggi;
PT. IT pengolahan LB3 yang termasuk dalam kategori risiko sedang; PT. IW
pengolahan LB3 yang termasuk dalam kategori risiko sedang; dan PT. BKKW
memproduksi Beton / Tiang Pancang yang termasuk dalam kategori risiko rendah.
Daerah zona 3 daerah kecamatan Cibeber, Grogol, dan Pulomerak terdiri
dari perusahaan PT. PMJ memproduksi Conblok yang termasuk dalam kategori
risiko rendah; PT. RJ memproduksi Redymix Concrete yang termasuk dalam
kategori risiko rendah; PT. ATS memproduksi Bata Tahan Api yang termasuk
dalam kategori risiko rendah; PT. IPA memproduksi O2 yang termasuk dalam
kategori risiko sedang, N2 yang termsuk dalam kategori risiko sedang, Ar Cair
yang termasuk dalam kategori risiko sedang, Gas N2 yang termasuk dalam
kategori risiko rendah, dan H2 yang termasuk dalam kategori risiko sedang; PT.
IPPB memproduksi PTA yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. LIMB
memproduksi Kemasan Plastik termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. IC
memproduksi Pelumas yang termasuk dalam kategori risiko sedang; PT. IGC
memproduksi Garam yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. SC
memproduksi Butyl Acetat yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. CD
memproduksi Melamina yang termasuk dalam kategori risiko sedang, Methanol
yang termasuk dalam kategori risiko tinggi, Vinil Asetat yang termasuk dalam
kategori risiko rendah, Formaldehyd yang termasuk dalam kategori risiko rendah,
Formalin / Resin yang termasuk dalam kategori risiko sedang; PT. RCCPI
memproduksi Nitrogen yang termasuk dalam kategori risiko sedang; PT. IOOK
memproduksi Desulfurizer yang termasuk dalam kategori risiko rendah dan
Fluospar yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. LGK memproduksi
Kapur yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. IGRK pemanfaatan Blast
Furnace yang termasuk dalam kategori risiko sedang dan BOF Slag yang
termasuk dalam kategori risiko sedang; PT. NTCL memproduksi HDPE yang
termasuk dalam kategori risiko rendah dan LLDPE yang termasuk dalam kategori
risiko rendah; PT. IFTEPCM memproduksi Pet Film yang termasuk dalam
kategori risiko rendah; PT. ICM memproduksi PTA / PET yang termasuk dalam
kategori risiko rendah, Asam Teraftalik yang termasuk dalam kategori risiko
rendah, Asam Posfat (Ortho-Phosphoric Acid) yang termasuk dalam kategori
risiko sedang, Ksilena yang termasuk dalam kategori risiko rendah, Asam Asetat /
Acetic Acid yang termasuk dalam kategori risiko rendah, dan Etilen Glikol / 1,2–
Ethanediol yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. AEN memproduksi
Pelumas yang termasuk dalam kategori risiko sedang, PT. MPN memproduksi
Pelumas yang termasuk dalam kategori risiko sedang, PT. AIP memproduksi
Filter Aid yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. SMPUP III
penyaluran BBM yang termasuk dalam kategori risiko sedang; PT.
PBPmemproduksi Plasterboard yang termasuk dalam kategori risiko rendah dan
Compound yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. HIP memproduksi
Kemasan Plastik yang termasuk dalam kategori risiko rendah; PT. PTS
memproduksi PVC Resin Ryuron yang termasuk dalam kategori risiko rendah;
PT. Stolberg Samil Indonesia memproduksi Mould Flux yang termasuk dalam
kategori risiko sedang dan Laddle Filler yang termasuk dalam kategori risiko
sedang; PT. IT memproduksi PVC Heat Stabilizer yang termasuk dalam kategori
risiko rendah; PT. CT memproduksi Acrylamide Monomer yang termasuk dalam
kategori risiko sedang; PT. IMT memproduksi Polystyrene yang termasuk dalam
kategori risiko rendah dan Latex yang termasuk dalam kategori rendah; PT. CIU
Tbk. memproduksi Linier Alkyl Benzene / LAB yang termasuk dalam kategori
risiko sedang; PT. TBB memproduksi Pelumas yang termasuk dalam kategori
sedang; PT. PL limbah B3 yang termasuk dalam kategori risiko sedang; PT. PP
memproduksi BBM yang termasuk dalam kategori risiko sedang; dan PT. CS
memproduksi Semen yang termasuk dalam kategori risiko rendah.
Kategori Risiko Perusahaan Kimia di Kota Cilegon
20
18
16
14 Zona 1
12
10
8 Zona 2
6
4
Zona 3
2
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 6. Grafik Kategori Risiko Perusahaan Kimia di Kota Cilegon

Berdasarkan gambar grafik kategori risiko pada perusahaan kimia di Kota


Cilegon, dapat diketahui bahwa untuk zona 1 terdiri dari 15 perusahaan dengan
kategori risiko rendah, 4 perusahaan dengan kategori risiko sedang, dan 1
perusahaan dengan kategori risiko tinggi. Pada zona 2 terdiri dari 7 perusahaan
dengan kategori risiko rendah, 5 perusahaan dengan kategori risiko sedang, dan 3
perusahaan dengan kategori risiko tinggi. Serta pada zona 3 terdiri dari 18
perusahaan dengan kategori rendah, 14 perusahaan dengan kategori sedang, dan 1
atau tidak ada perusahaan dengan kategori tinggi.
4.2.1.1 Penilaian Risiko Zona 1 – Kecamatan Ciwandan
Berikut ini ada grafik penilaian risiko jenis produk B3 perusahaan kimia
dan petrokimia yang berada di zona 1 Kecamatan Ciwandan.
Zona 1 - Kecamatan Ciwandan
20
15
10
5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 7. Grafik Radar Kategori Risiko Zona 1 - Kecamatan Ciwandan

Berdasarkan gambar 7 grafik radar tersebut, dapat diketahui bahwa


kategori risiko zona 1 kecamatan Ciwandan didominasi golongan rendah dengan
jumlah 15 perusahaan. Hanya ada 1 perusahaan kimia yang memiliki kategori
risiko tinggi yaitu PT. IL dengan jenis produk B3 berupa gas. Dan untuk kategori
risiko sedang terdapat 5 perusahaan kimia.
PT. AC
3

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 8. Grafik Kategori Risiko PT. AC

Berdasarkan gambar 8 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. AC
terdiri dari 1 kategori risiko rendah dan 2 kategori risiko sedang.
PT. SBA
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 9. Grafik Kategori Risiko PT. SBA


Berdasarkan gambar 9 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori
risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. SBA
terdiri dari 1 kategori risiko sedang.
PT. PAC Tbk.
3

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 10. Grafik Kategori Risiko PT. PAC Tbk

Berdasarkan gambar 10 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. PAC
Tbk terdiri dari 1 kategori risiko rendah dan 2 kategori risiko tinggi.
PT. GC
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 11. Grafik Kategori Risiko PT. GC

Berdasarkan gambar 11 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. GC
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. ID
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 12. Grafik Kategori Risiko PT. ID


Berdasarkan gambar 12 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori
risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. ID
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. ASG
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 13. Grafik Kategori Risiko PT. ASG

Berdasarkan gambar 13 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. ASG
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. IH Tbk.
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 14. Grafik Kategori Risiko PT. IH Tbk.

Berdasarkan gambar 14 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. IH Tbk
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. II
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 15. Grafik Kategori Risiko PT. II


Berdasarkan gambar 15 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori
risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. II terdiri
dari 1 kategori risiko rendah.
PT. PI
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 16. Grafik Kategori Risiko PT. PI

Berdasarkan gambar 16 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. PI terdiri
dari 1 kategori risiko rendah.
PT. IPI
3

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 17. Grafik Kategori Risiko PT. IPI

Berdasarkan gambar 17 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. IPI
terdiri dari 2 kategori risiko rendah.
PT. CSDPK

3
2
1
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 18. Grafik Kategori Risiko PT. CSDPK


Berdasarkan gambar 18 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori
risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. CSDPK
terdiri dari 2 kategori risiko rendah dan 1 kategori risiko sedang.
PT. CCPK
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 19. Grafik Kategori Risiko PT. CCPK

Berdasarkan gambar 19 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. CCPK
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. ISK
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 20. Grafik Kategori Risiko PT. ISK

Berdasarkan gambar 20 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. ISK
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. COL
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 21. Grafik Kategori Risiko PT. COL


Berdasarkan gambar 21 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori
risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. COL
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. IL
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 22. Grafik Kategori Risiko PT. IL

Berdasarkan gambar 22 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. IL terdiri
dari 1 kategori risiko tinggi.

PT. ISN
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 23. Grafik Kategori Risiko PT. ISN

Berdasarkan gambar 23 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. ISN
terdiri dari 1 kategori risiko rendah dan 1 kategori risiko sedang.

PT. IBP
3
2
1
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 24. Grafik Kategori Risiko PT. IBP
Berdasarkan gambar 24 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori
risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. IBP
terdiri dari 2 kategori risiko rendah.
PT. IS
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 25. Grafik Kategori Risiko PT. IS

Berdasarkan gambar 25 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. IS terdiri
dari 1 kategori risiko rendah.
PT. JS
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 26. Grafik Kategori Risiko PT. JS

Berdasarkan gambar 26 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. JS terdiri
dari 1 kategori risiko rendah.
PT. PS
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 27. Grafik Kategori Risiko PT. PS


Berdasarkan gambar 27 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori
risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. PS
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.

PT. IRS
3
2
1
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 28. Grafik Kategori Risiko PT. IRS

Berdasarkan gambar 28 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 1 kecamatan Ciwandan pada perusahaan PT. IRS
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.

4.2.1.2 Penilaian Risiko Zona 2 – Kecamatan Citangkil


Berikut ini adalah grafik penilaian risiko produk jenis B3 pada perusahaan
kimia dan petrokimia di zona 2 Kecamatan Citangkil .

Zona 2 - Kecamatan Citangkil


8

0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 29. Grafik Radar Kategori Risiko Zona 2 – Kecamatan Citangkil

Berdasarkan gambar 29 grafik radar tersebut, dapat diketahui bahwa nilai


kategori risiko pada zona 2 kecamatan Citangkil didominasi golongan rendah
dengan jumlah 7 perusahaan kimia. Sedangkan untuk kategori risiko tinggi
dimiliki 3 perusahaan dan untuk kategori risiko sedang dimiliki 5 perusahaan
kimia.
PT. ILA
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 30. Grafik Kategori Risiko PT. ILA

Berdasarkan gambar 30 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. ILA
terdiri dari 1 kategori risiko tinggi.
PT. IGA
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 31. Grafik Kategori Risiko PT. IGA

Berdasarkan gambar 31 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. IGA
terdiri dari 1 kategori risiko tinggi.

PT. IA
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 32. Grafik Kategori Risiko PT. IA

Berdasarkan gambar 32 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. IA terdiri
dari 1 kategori risiko rendah.
PT. IC
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 33. Grafik Kategori Risiko PT. IC

Berdasarkan gambar 33 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. IC terdiri
dari 1 kategori risiko rendah.

PT. KF
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 34. Grafik Kategori Risiko PT. KF

Berdasarkan gambar 34 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. KF
terdiri dari 1 kategori risiko sedang.

PT. RAI
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 35. Grafik Kategori Risiko PT. RAI

Berdasarkan gambar 35 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT.
Indonesia Refpactories terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. BSK
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 36. Grafik Kategori Risiko PT. BSK

Berdasarkan gambar 36 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. BSK
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.

PT. IR
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 37. Grafik Kategori Risiko PT. IR

Berdasarkan gambar 37 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. IR terdiri
dari 1 kategori risiko rendah.

PT. LGCR
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 38. Grafik Kategori Risiko PT. LGCR

Berdasarkan gambar 38 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. LGCR
terdiri dari 1 kategori risiko sedang.
PT. KKIMR
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 39. Grafik Kategori Risiko PT. KKIMR

Berdasarkan gambar 39 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. KKIMR
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.

PT. IHR
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 40. Grafik Kategori Risiko PT. IHR

Berdasarkan gambar 40 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. IHR
terdiri dari 1 kategori risiko sedang.
PT. IGS
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 41. Grafik Kategori Risiko PT. IGS

Berdasarkan gambar 41 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. IGS
terdiri dari 1 kategori risiko tinggi.
PT. IT
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 42. Grafik Kategori Risiko PT. IT

Berdasarkan gambar 42 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. IT terdiri
dari 1 kategori risiko sedang.

PT. IW
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 43. Grafik Kategori Risiko PT. IW

Berdasarkan gambar 43 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. IW
terdiri dari 1 kategori risiko sedang.

PT. BKKW
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 44. Grafik Kategori Risiko PT. BKKW

Berdasarkan gambar 44 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 2 Kecamatan Citangkil pada perusahaan PT. BKKW
terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
4.2.1.3 Penilaian Risiko Zona 3 – Kecamatan Grogol, Pulomerak, Cibeber
Berikut ini adalah grafik penilaian risiko dari beberapa perusahaan kimia
dan petrokimia pada zona 3 di kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber.

Zona 3 - Grogol, Pulomerak, Cibeber


20

15

10

0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 45. Grafik Radar Kategori Risiko Zona 3 – Kecamatan Grogol, Pulomerak,
dan Cibeber

Berdasarkan gambar 45 grafik radar tersebut, dapat diketahui bahwa nilai


kategori risiko pada zona 3 kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber
didominasi golongan rendah dengan jumlah 18 perusahaan kimia. Sedangkan
untuk kategori risiko tinggi dimiliki 1 perusahaan dan untuk kategori risiko
sedang dimiliki 14 perusahaan kimia.
PT. IPA
6

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 46. Grafik Kategori Risiko PT. IPA

Berdasarkan gambar 46 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. IPA terdiri dari 1 kategori risiko rendah dan 4 kategori risiko
sedang.
PT. TBB
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 47. Grafik Kategori Risiko PT. TBB

Berdasarkan gambar 47 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. TBB terdiri dari 1 kategori risiko sedang.
PT. IPPB
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 48. Grafik Kategori Risiko PT. IPPB

Berdasarkan gambar 48 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. IPPB terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. LIMB
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 49. Grafik Kategori Risiko PT. LIMB

Berdasarkan gambar 49 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. LIMB terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. IC
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 50. Grafik Kategori Risiko PT. IC

Berdasarkan gambar 50 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. IC terdiri dari 1 kategori risiko sedang.
PT. IGC
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 51. Grafik Kategori Risiko PT. IGC

Berdasarkan gambar 51 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. IGC terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. SC
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 52. Grafik Kategori Risiko PT. SC

Berdasarkan gambar 52 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. SC terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. CD
3
2
1
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 53. Grafik Kategori Risiko PT. CD

Berdasarkan gambar 53 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. CD terdiri dari 2 kategori risiko rendah, 2 perusahaan dengan
kategori risiko sedang dan 1 perusahaan dengan kategori risiko tinggi.

PT. RCCPI
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 54. Grafik Kategori Risiko PT. RCCPI

Berdasarkan gambar 54 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. RCCPI terdiri dari 1 kategori risiko sedang.
PT. PMJ
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 55. Grafik Kategori Risiko PT. PMJ

Berdasarkan gambar 55 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. PMJ terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. RJ
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 56. Grafik Kategori Risiko PT. RJ

Berdasarkan gambar 56 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. RJ terdiri dari 1 kategori risiko rendah.

PT. IOOK
3
2
1
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 57. Grafik Kategori Risiko PT. IOOK

Berdasarkan gambar 57 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. IOOK terdiri dari 2 kategori risiko rendah.
PT. LGK
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 58. Grafik Kategori Risiko PT. LGK

Berdasarkan gambar 58 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. LGK terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. IGRK
3
2
1
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 59. Grafik Kategori Risiko PT. IGRK

Berdasarkan gambar 59 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. IGRK terdiri dari 2 kategori risiko rendah.

PT. PL
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 60. Grafik Kategori Risiko PT. PL

Berdasarkan gambar 60 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. PL terdiri dari 1 kategori risiko sedang.

PT. NTCL
3
2
1
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 61. Grafik Kategori Risiko PT. NTCL

Berdasarkan gambar 61 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. NTCL terdiri dari 2 kategori risiko rendah.
PT. IFTEPCM
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 62. Grafik Kategori Risiko PT. IFTEPCM

Berdasarkan gambar 62 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. IFTEPCM terdiri dari 1 kategori risiko rendah.

PT. ICM
6
4
2
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 63. Grafik Kategori Risiko PT. ICM

Berdasarkan gambar 63 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. ICM terdiri dari 5 kategori risiko rendah dan 1 produk jenis B3
dengan kategori sedang.

PT. AEN
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 64. Grafik Kategori Risiko PT. AEN

Berdasarkan gambar 64 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. AEN terdiri dari 1 kategori risiko sedang.
PT. MPN
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 65. Grafik Kategori Risiko PT. MPN

Berdasarkan gambar 65 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. MPN terdiri dari 1 kategori risiko sedang.
PT. AIP
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 66. Grafik Kategori Risiko PT. AIP

Berdasarkan gambar 66 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. AIP terdiri dari 1 kategori risiko rendah.

PT. SMPUP III


1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 67. Grafik Kategori Risiko PT. SMPUP III

Berdasarkan gambar 67 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. SMPUP III terdiri dari 1 kategori risiko sedang.
PT. PP
1,5

0,5

0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 68. Grafik Kategori Risiko PT. PP

Berdasarkan gambar 68 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. PP terdiri dari 1 kategori risiko sedang.

PT. PBP
3
2
1
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 69. Grafik Kategori Risiko PT. PBP

Berdasarkan gambar 69 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. PBP terdiri dari 2 kategori risiko rendah.
PT. HIP
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 70. Grafik Kategori Risiko PT. HIP

Berdasarkan gambar 70 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. HIP terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. ATS
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 71. Grafik Kategori Risiko PT. ATS

Berdasarkan gambar 71 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. ATS terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. CS
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 72. Grafik Kategori Risiko PT. CS

Berdasarkan gambar 72 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. CS terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. PTS
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 73. Grafik Kategori Risiko PT. PTS

Berdasarkan gambar 73 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. PTS terdiri dari 1 kategori risiko rendah.
PT. ISS
3
2
1
0
Rendah Sedang Tinggi
Gambar 74. Grafik Kategori Risiko PT. ISS

Berdasarkan gambar 74 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. ISS terdiri dari 2 kategori risiko sedang.

PT. IT
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 75. Grafik Kategori Risiko PT. IT

Berdasarkan gambar 75 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. IT terdiri dari 1 kategori risiko rendah.

PT. CT
1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 76. Grafik Kategori Risiko PT. CT

Berdasarkan gambar 76 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. CT terdiri dari 1 kategori risiko sedang.
PT. IMT
3
2
1
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 77. Grafik Kategori Risiko PT. IMT

Berdasarkan gambar 77 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. IMT terdiri dari 2 kategori risiko rendah.

PT. CIU Tbk.


1,5
1
0,5
0
Rendah Sedang Tinggi

Gambar 78. Grafik Kategori Risiko PT. CIU Tbk

Berdasarkan gambar 78 grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kategori


risiko produk jenis B3 zona 3 Kecamatan Grogol, Pulomerak, dan Cibeber pada
perusahaan PT. CIU Tbk terdiri dari 1 kategori risiko sedang.

4.2.1.4 Rantai Pasok PT. IGS


Berikut ini adalah rantai pasokan pada PT. IGS yang terletak di Kota
Cilegon bekerja sama dengan PT. SK, yang memproduksi dan mendistribusikan
jenis B3 berupa gas seperti tabung gas LPG, gas Oksigen, gas Nitrogen dan
sebagainya, serta menyediakan layanan jasa pemasangan pipa gas yang memiliki
risiko bahaya tinggi identifikasi dan penilaian risiko.
Pemasok
Medical
Equipment

Ritel

Pemasok
Cylinder

Kesehatan

Pemasok
Portable
Gas System
Gudang Proses Gudang Barang
Bahan Baku Produksi Produk Jadi Konsumsi
Pemasok
Specialty
Gases

Infrastruktur

Pemasok
Calcium
Carbide

Lainnya

Pemasok
Ammonium
Nitrate

Gambar 79. Rantai Pasok PT. IGS

Berdasarkan gambar 79 tersebut dapat diketahui bahwa sistem rantai


pasokan PT IGS di Kota Cilegon terdiri dari pemasok medical equipment,
cylinder, portable gas system, specialty gases, calcium carbide, dan ammonium
nitrate yang disimpan digudang bahan baku, lalu melewati proses produksi
menghasilkan suatu produk B3 yang disimpan di gudang produk jadi. Lalu dari
gudang produk jadi didistribusikan ke bagian ritel, kesehatan, barang konsumsi,
perusahaan infrastruktur, dan lainnya.

4.2.2 Diagram FTA


Fault Tree Analysis adalah suatu teknik yang digunakan untuk
menghubungkan beberapa rangkaian kejadian yang menghasilkan sebuah kejadian
lain. Metode ini menggunakan pendekatan deduktif yang mencari penyebab dari
sebuah kejadian. Metode ini biasanya dipakai untuk invertigasi kecelakaan kerja
itu sendiri. Berikut ini adalah diagaram FTA dari jenis B3 yang memiliki nilai
risiko tinggi.
Kegagalan
Gas

Kebakaran
Warehouse

Ledakan
Tabung Gas

OR

Kegagalan Tabung Gas Human Error

Kebocoran Tabung Gas


Pekerja Kurang
Hati-Hati / Lalai
Penipisan Dinding Tabung Gas
OR
Korosi Eksternal

Tabung Gas Terpapar Bahan


Pengoksidasi Pekerja Tidak Ada
Tidak Taat Tata Tertib /
Aturan Rambu
Penempatan Peringatan
di Ruang
Terbuka

Gambar 80. Diagram FTA Kegagalan Gas

Berdasarkan gambar 80 diagram FTA diatas, dapat diketahui bahwa


kegagalan gas disebabkan karena adanya kebakaran warehouse. Kebakaran
warehouse ini disebabkan adanya ledakan pada tabung gas atau pipa gas di
perusahaan tersebut. Meledaknya tabung atau pipa gas ini disebabkan oleh adanya
kegagalan tabung gas atau human error. Kegagalan komponen ini dapat berupa
kebocoran tabung gas yang disebabkan karena adanya penipisan dinding tabung
gas. Penyebab penipisan dinding tabung gas ini dikarenakan adanya korosi
eksternal pada tabung atau pipa gas. Korosi eksternal disebabkan adanya tabung
gas yang terpapar bahan pengoksidasi, hal ini dikarenakan penempatan tabung gas
di ruang terbuka. Sedangkan kegagalan human error ini disebabkan karena
pekerja yang kurang hati-hati / lalai. Pekerja yang kurang hati-hati / lalai ini
disebabkan karena pekerja tidak taat aturan atau tidak adanya tata tertib atau
rambu peringatan.

Kegagalan Metanol

Kebakaran
Warehouse
Ledakan Tabung
Metanol

OR

Tabung Metanol Terpapar Tabung Metanol


Panas Matahari Bereaksi dengan
Bahan Tabung Metanol
Pengoksidasi Terpapar Api

Penempatan
diruang
terbuka Penempatan
diruang
terbuka

Gambar 81. Diagram FTA Kegagalan Metanol

Berdasarkan gambar 81 diagram FTA diatas, dapat diketahui bahwa


kegagalan methanol disebabkan adanya kebakaran warehouse, karena bahan
methanol ini mudah terbakar. Penyebab kebakaran methanol ini karena adanya
ledakan tabung metanol. Ledakan methanol ini disebabkan karena tabung
methanol terpapar panas matahari atau bereaksi dengan bahan pengoksidasi, atau
terpapar api. Tabung metanol terpapar panas matahari disebabkan karena
penempatan diruang terbuka. Pada tabung metanol yang bereaksi dengan bahan
pengoksidasi disebabkan karena penempatan diruang terbuka.

4.2.3 Pengendalian Risiko


Berikut ini adalah bentuk pengendalian risiko dari bahaya yang ditimbulkan
pada B3 dari setiap perusahaan kimia berdasarkan nilai risiko tertinggi pada
kegagalan gas dan kegagalan metanol.
1. 6S Pada Kegagalan Gas dan Metanol
Kegagalan gas adalah suatu risiko yang paling fatal karena gas merupakan
suatu bahan beracun yang mudah meledak. Metanol merupakan jenis bahan
berbahaya dan beracun yang memiliki risiko terbakar jika terpapar panas atau
nyala api serta dapat bereaksi dengan bahan pengoksidasi. Maka dalam hal ini
diperlukan perlakuan khusus untuk mencegah risiko tersebut dengan
menggunakan pendekatan 6S, sebagai berikut.
A. Sort / Seiri / Ringkas
Sort / Seiri / Ringkas / Pemilahan dalam penerapannya di gudang
penyimpanan gas dan atau metanol tersebut berupa aktivitas membedakan
antara yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan, mengambil keputusan
yang tegas, dan menerapkan manajemen stratifikasi untuk membuang
barang yang tidak diperlukan. Hal ini dilakukan guna mengurangi terjadinya
penumpukan barang-barang yang tidak jelas, dan juga perlu diperhatikan
akan kebersihan dan kerapihan gudang penyimpanan tersebut. Debu-debu
yang menempel pada barang-barang akan membuat barang menjadi kotor.
B. Set in Order / Seiton / Rapi
Set in Order / Seiton / Rapi / Penataan merupakan aktivitas yang dilakukan
digudang penyimpanan dengan tahap menyimpan barang ditempat yang
tepat atau tata letak yang benar, sehingga dapat dipergunakan dalam
keadaan mendadak dan dapat menghilangkan proses pencarian. Dalam tahap
ini juga dilakukan penggolongan barang-barang sesuai dengan jenis barang
serta penataan produk B3 perusahaan tersebut sesuai dengan jangka
waktunya atau barang yang baru diproduksi diletakkan di urutan paling
belakang, sehingga yang dipergunakan yang lama terlebih dahulu. Penataan
barang dilantai untuk jenis barang-barang berat yang sulit dipindahkan,
kondisi lantai harus dalam keadaan bersih dan tidak dikotori oleh bekas-
bekas minyak yang bisa menyebabkan bahan kimia atau jenis B3 berupa gas
dan atau metanol ini bisa terbakar. Serta penataan pada produk B3 gas dan
atau metanol yang ada didalam gudang penyimpanan harus dilapisi dengan
palet yang fungsinya untuk menghindari barang kimia ini panas diatas lantai
dan dapat menyebabkan adanya penguapan pada produk B3 berupa kimia
ini berisiko tinggi yang akan diterima, dimana produk gas dan atau metanol
ini bisa saja terbakar dan meledak. Pada tahap Seiton ini juga bisa dibuat
display atau papan peringatan akan bahaya dari jenis B3 tersebut, sehingga
pekerja bisa lebih berhati-hati dalam bekerja. Adanya label nama produk
lengkap dengan kondisi produk serta presentase pemakaian dari setiap
barang-barang yang akan dipergunakan dilapangan, dapat menunjukan
bahan kimia mana saja yang sering digunakan dan jarang digunakan
dilapangan, sehingga dapat diketahui kondisi barang / produk tersebut.

Ruang
Pallet Besar Kerja

Material
Rack

Gambar 82. Usulan Penataan Gudang Penyimpanan Produk B3

Berdasarkan gambar 82 tentang usulan penataan gudang penyimpanan


produk B3 dengan tampilan tampak atas, dapat diketahui untuk produk jenis
B3 yang diletakkan diatas pallet akan disusun di pojok kiri atas, sedangkan
untuk beberapa material yang akan disimpan di rak akan diletakkan dipojok
kiri bawah, dan untuk bagian ruang kerja akan diletakkan dipojok kanan atas
dengan pintu masuk berada di sebelah kanan berdekatan dengan ruang kerja.
C. Shine / Seiso / Resik
Shine / Seiso / Resik / Pembersihan, merupakan aktvitas membersihkan
yang dilakukan digudang penyimpanan B3, seperti membuang sampah,
kotoran dan benda-benda asing serta membersihkan segala sesuatu.
Pembersihan ini juga salah satu dari bentuk pemeriksaan, sehingga
pembersihan ini tidak hanya sekedar membersihkan saja tetapi juga
sekaligus merupakan komitmen untuk bertanggung jawab atas segala aspek
barang yang digunakan dan memastikan barang yang ada didalam gudang
zat kimia ini terus terjaga keamanannya. Kriteria kebersihan perlu juga
harus diketahui apa saja yang harus dibersihkan pada area-area gudang.
Benda-benda apa saja yang tidak berguna di area lantai, rak dan tempat
kerja, harus dibuang ataupun dipindahkan jika benda tersebut masih
memiliki nilai ekonomis. Dengan kondisi tersebut membuat keadaan
lingkungan gudang terlihat seperti tidak terawat sehingga lingkungan kerja
menjadi tidak nyaman dan berbau kotoran serangga, tapi dengan kita
menerapkan prinsip seiso digudang penyimpanan dapat membuat keadaan
lingkungan gudang menjadi bersih, membuat ruangan terkesan lebih luas
serta petugas atau pekerja bagian gudang penyimpanan dapat melakukan
kegiatan didalam gudang penyimpanan produk B3 dengan nyaman.
D. Standardize / Seiketsu / Rawat
Standardize / Seiketsu / Rawat / Pemantapan, merupakan pengulangan
aktivitas dan kesadaran pekerja bagian gudang penyimpanan produk dalam
memellihara dan mempertahankan aktivitas Seiri, Seiton, dan Seiso di
gudang penyimpanan B3 berupa gas dan atau metanol secara terus menerus,
sehingga mendapatkan kondisi yang tetap terjaga maupun lingkungan yang
stabil serta menjaga nilai-nilai ekonomis barang yang ada didalam gudang,
dengan membuat atau menentukan jadwal pembersihan di gudang
penyimpanan B3. Hal ini juga berhubungan dengan adanya pengecekan
rutin pada tabung atau pipa penyimpanan gas atau metanol, sehingga
mencegah terjadinya korosi pada tabung atau pipa. Serta dapat dilakukan
dengan memberi tanda / nama / label pada lantai kerja, pada peralatan, pada
laci/rak, kotak penyimpanan, dan sebagainya.

Gambar 83. Contoh Penerapan Label Kemasan Produk Metanol

Berdasarkan gambar 83 tentang contoh penerapan label kemasan produk


metanol, dapat diketahui bahwa dalam label tersebut terdiri dari rumus
kimia, batas waktu kedaluarsa produk, kuantitas suatu kemasan, order
number, data transport, nama produk, karakteristik bahaya, dan sebagainya.
E. Sustain / Shitsuke / Rajin
Sustain / Shitsuke / Rajin / Pembiasaan, merupakan kegiatan atau aktivitas
pembiasaan pada karyawan bagian gudang sudah dilakukan dengan baik
untuk mengingatkan tentang aktivitas-aktivitas yang harus dijalankan dan
dilaksanakan, kedisiplinan karyawan dalam mengerjakan suatu pekerjaan
ataupun melaksanakan keempat S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu) secara rutin
sehingga tercipta kebiasaan dan kesadaran masing” karyawan bagian
gudang, dengan memberikan penyuluhan betapa pentingnya kebersihan
pada lingkungan. Salah satu cara untuk terus meningkatkan karyawan ialah
dengan memasang plang atau display tata tertib tentang kebersihan agar
petugas gudang atau karyawan tersebut dapat menaati peraturan yang sudah
ditetapkan dilingkungan kerja tersebut.
Tabel 10. Tata Tertib Penanganan dan Penyimpanan Metanol
No. Tata Tertib Penanganan dan Penyimpanan Metanol
1 Penyediaan ventilasi yang cukup
2 Jauhkan dari sumber pembakaran
3 Dilarang merokok
4 Jauhkan dari makanan, minuman, dan bahan pakan hewan
5 Jaga wadah tabung / pipa tertutup rapat
6 Suhu penyimpanan yang disarankan 15 - 25 derajat Celcius

Berdasarkan tabel 10 tentang tata tertib penanganan dan penyimpanan


metanol tersebut dapat diketahui bahwa tindakan yang dapat dilakukan
untuk mencegah risiko yang akan terjadi dapat berupa penyediaan ventilasi
yang cukup, jauhkan dari sumber pembakaran, dilarang merokok, jauhkan
dari makanan, minuman, dan bahan pakan hewan, jaga wadah tabung atau
pipa metanol tertutup rapat, suhu penyimpanan yang disarankan 15 – 25 oC.
F. Safety / Keselamatan
Keselamatan merupakan cara menjaga pekerja dan area kerja agar tetap
aman. Hal ini berfokus pada menghilangkan bahaya dan menciptakan
lingkungan kerja yang aman. Para pekerja harus mengenakan Alat
Pelindung Diri (APD) selama bekerja agar aman saat melakukan pekerjaan
di industri. Perlengkapan APD terdiri dari helm untuk pelindung kepala,
kacamata untuk pelindung mata, ada pelindung telinga, sepatu safety, sarung
tangan, dan lain-lain. Kotak pertolongan pertama disediakan minimal 1
untuk setiap 150 pekerja dan diperiksa setiap bulan mengenai obat-obatan
yang cukup dan tanggal kedaluwarsanya. Pemadam api harus disediakan di
setiap dapartemen dan juga harus diperiksa kedaluwarsanya.

Gambar 84. Peringatan yang Dapat Digunakan di Warehouse

Berdasarkan gambar 84, dapat diketahui bahwa dibuatnya peraturan berupa


peringatan yang dapat digunakan di warehouse seperti display gunakan
helm atau use helmet yang berguna melindungi kepala dari benturan benda
keras dan display gunakan sepatu pengaman atau use safety shoes yang
berguna melindungi kaki dari benturan benda keras atau paku / serpihan
kaca di lantai.

2. Mitigasi Risiko
Dilihat dari aspek penilaian risiko bahaya terdapat 5 perusahaan yang
tergolong kategori risiko tinggi, dimana 4 diantaranya perusahaan penghasil
produk jenis B3 berupa gas dan 1 diantaranya penghasil produk jenis B3
berupa metanol. Dikatakan bahaya, karena jenis B3 tersebut tergolong
mudah terbakar dan meledak sehingga dapat menimbulkan kerugian yang
cukup besar dan cedera parah hingga meninggal dunia bagi para pekerja
tersebut. Oleh sebab itu, untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih
besar dan banyak akibat bahaya ledakan tersebut, diperlukan upaya-upaya
yang mengarah kepada tindakan meminimalisir akibat yang akan
ditimbulkan. Berikut ini adalah strategi mitigasi risiko untuk pencegahan
atau solusi untuk meminimasi risiko bahaya.
Tabel 11. Strategi Mitigasi Risiko
Strategi PIC / Penanggung
No. Penerapan
Mitigasi Risiko Jawab
1 Mengurangi atau menghilangkan penggunaan api dan listrik di area gudang penyimpanan produk Warehouse Staff
2 Seiri / Sort Mengecek barang yang ada di area masing-masing Warehouse Staff
3 Siapkan tempat untuk menyimpan / membuang / memusnahkan barang yang tidak digunakan Warehouse Staff
4 Seiton / Set in Mengelompokkan barang-barang sesuai kebutuhannya dan jenisnya Warehouse Staff
5 Order Beri nama / identifikasi pada rak penyimpanan untuk memudahkan pencarian barang Warehouse Staff
6 Membersihkan suku cadang alat bantu kerja tertentu Staf Maintenance
Seiso / Shine
7 Membersihkan tabung / pipa produk jenis B3dan lantai gudang penyimpanan Staf Maintenance
8 Menjaga suhu dan kelembaban udara gudang penyimpanan sesuai dengan jenis B3 Warehouse Staff
Pada perusahaan penghasil gas dan metanol yang hasil produknya disimpan dalam tangki penyimpanan
9 diharuskan memiliki ruang vakum pada tangki, serta tangki dilapisi dengan pearlite atau bahan isolator Manajer Produksi dan QC
lainnya
10 Membuat SOP Staf PPIC
11 Seiketsu / Memberikan jarak yang antar gedung untuk mencegah penjalaran api Manajer HSE
12 Standardize Penyediaan jalur evakuasi yang memadai Manajer HSE
13 Menyediakan alat fire alarm, pendeteksi asap, keran hydrant, pemercik (sprinkier), dsb Manajer HSE
14 Pembuatan poster 5S dan ditempel disudut-sudut ruangan warehouse Manajer HSE
15 Menerapkan reward dan punishment untuk mempertahankan kondisi yang bersih dan rapi Manajer HSE dan HRD
Pemberian kode warna diterapkan di lingkungan kerja, terutama pada lantai dan dinding yang dicat
16 Manajer HSE
dengan warna terang
17 Shitsuke / Dilakukannya audit secara berkala, minimal 1 tahun sekali Manajer HSE
18 Sustain Sosialisasi berkaitan materi 5S kepada karyawan Manajer HSE dan HRD
19 Menyediakan alat pemadam api yang mudah dijangkau berupa APAR jenis foam dan powder Manajer HSE
20 Sosialisasi tentang keselamatan kerja atau K3 minimal 1 bulan sekali Manajer HSE dan HRD
Safety
21 Menyediakan petugas pemadam kebakaran (Damkar) dari perusahaan yang berjaga selama 24 jam Manajer HSE
22 Pekerja menggunakan APD sesuai standar serta penggunaan yang benar Manajer HSE

84
Berdasarkan tabel 10 tentang strategi mitigasi risiko dapat diketahui bahwa
upaya yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengurangi risiko bahaya
kebakaran dan ledakan pada gudang penyimpanan gas dan metanol dengan
menggunakan prinsip 6S yaitu pada seiri terdiri dari mengurangi atau
menghilangkan penggunaan api dan listrik di area gudang penyimpanan
produk, mengecek barang yang ada di area masing-masing, siapkan tempat
untuk menyimpan / membuang / memusnahkan barang yang tidak
digunakan. Pada seiton terdiri dari mengelompokkan barang-barang sesuai
kebutuhannya dan jenisnya, serta beri label / identifikasi untuk
memudahkan pencarian barang. Pada seiso terdiri dari membersihkan suku
cadang alat bantu kerja tertentu, serta membersihkan tabung / pipa produk
jenis B3 dan lantai gudang penyimpanan. Pada seiketsu terdiri dari menjaga
suhu dan kelembaban udara gudang penyimpanan sesuai dengan jenis B3,
pada perusahaan penghasil gas dan metanol yang hasil produknya disimpan
dalam tangki penyimpanan diharuskan memiliki ruang vakum pada tangki,
serta tangki dilapisi dengan pearlite atau bahan isolator lainnya, membuat
SOP, memberikan jarak yang antar gedung untuk mencegah penjalaran api,
penyediaan jalur evakuasi yang memadai, menyediakan alat fire alarm,
pendeteksi asap, keran hydrant, pemercik (sprinkier), membuat poster 5S
dan ditempel di sudut-sudut ruangan warehouse, menerapkan reward dan
punishment untuk mempertahankan kondisi yang bersih dan rapi, pemberian
kode warna diterapkan dilingkungan kerja, terutama pada lantai dan dinding
yang dicat dengan warna terang. Pada shitsuke terdiri dari dilakukannya
audit secara berkala, minimal 1 tahun sekali, serta sosialisasi berkaitan
materi 5S kepada karyawan. Pada safety terdiri dari pekerja menggunakan
APD sesuai standar serta penggunaan yang benar, pelatihan K3 minimal 1
bulan sekali, menyediakan petugas pemadam kebakaran (Damkar) dari
perusahaan yang berjaga selama 24 jam, serta menyediakan alat pemadam
api yang mudah dijangkau berupa APAR jenis foam dan powder.
BAB V
ANALISA DAN PEMBAHASAN

Keberadaan bahan berbahaya dan beracun (B3) pada dasarnya tidak dibatasi
oleh lingkungan tertentu. Banyak perusahaan – perusahaan kimia dan petrokimia
yang memproduksi B3 atau memanfaatkan B3 sebagai bahan baku untuk di
produksi. Dampak yang ditimbulkan dari B3 ini bisa berupa kebakaran, ledakan,
keracunan, korosif terhadap benda (peralatan), dan lain-lain. Seperti kejadian
ledakan dan kebakaran yang terjadi di pabrik yang memproduksi bahan kimia PT.
PAC Cilegon, pada Sabtu siang 10 Juni 2017 (Deslatama, 2017). Menurut
informasi yang didapat, ledakan tersebut di akibatkan karena adanya kebocoran
gas dan zat kimia. Kebakaran yang terjadi masih dalam skala minor, hanya di unit
furnace serta penanganan kebakaran berlangsung cepat sehingga tidak merembet
ke lokasi lain dan tidak menimbulkan korban jiwa. Adapun kejadian kebakaran
lainnya terjadi di sebuah perusahaan di Bekasi Kawasan Cibitung. Menurut
informasi yang didapat ledakan dari tabung gas produksi yang bocor hingga
menyambar ke semua instalasi ruang produksi. Adanya korban jiwa karena saat
kejadian kebakaran berlangsung aktivitas oleh para karyawan PT. XXX, sehingga
kegiatan produksi sementara dihentikan pada saat itu. Dengan adanya kejadian
tersebut, menjadi suatu alasan kuat untuk dilakukannya penelitian dalam penilaian
risiko penyimpanan khususnya produk B3 dengan studi kasus perusahaan kimia
dan petrokimia Kota Cilegon.
HIRA (Hazard Identification and Risk Assessment) merupakan salah satu
metode identifikasi kecelakaan kerja dengan penilaian risiko sebagai salah satu
poin penting untuk mengimplementasikan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) (Roehan dkk, 2014). Adapun yang terkait dengan HIRA
adalah bahaya (Hazard) yaitu segala sesuatu yang berpotensi merusak atau
merugikan. Setiap perusahaan memiliki tim SMK3 (Sistem Manajemen K3) yang
berperan aktif dalam menanggapi kesehatan dan keselamatan kerja. salah satu
upaya yang dilakukan yaitu dengan memfasilitasi penggunaan Alat Pelindung Diri

85
(APD) seperti sepatu safety, masker, sumbat telinga atau ear plug, helmet, dan
sarung tangan pada setiap operator. Namun hal tersebut belum sepenuhnya
menjamin tidak adanya potensi bahaya pada area kerja. Maka dari itu sesuai
dengan dilakukannya penelitian ini yaitu identifikasi risiko menggunakan metode
HIRA. Kelebihan dari metode HIRA yaitu mengidentifikasi potensi-potensi
bahaya yang ada di area kerja dengan cara mendefinisikan karakteristik bahaya-
bahaya yang mungkin terjadi di area tersebut dan mengevaluasi risiko yang terjadi
melalui penilaian risiko dengan menggunakan matriks penilaian risiko dan FTA
(Fault Tree Analysis) yang digunakan untuk menganalisa sebuah kegagalan
sistem dimana pada setiap masalah ada faktor-faktor penyebab dari masalah
tersebut. Perusahaan dikatakan baik apabila membuat area kerja berjalan lebih
terorganisir dan melakukan pemeliharaan tempat kerja. Salah satu kegiatan yang
bisa dilakukan perusahaan untuk melakukan perbaikan dalam area kerja adalah
dengan menerapkan metode 6S (Sort, Set in Order, Shine, Standardize, Sustain,
Safety). Metode 6S adalah enam langkah penataan dan pemeliharaan tempat kerja
yang dikembangkan melalui upaya intensif dalam bilang manufaktur.
Pada penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian ini dengan
metode HIRA dan FTA, sudah pernah dilakukan oleh Kiki Rizki Amir Roehan
dkk (2014) tentang Usulan Perbaikan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) di PT. XXX, serta dilakukan oleh Roberto Anthony dan
Sunday Noya (2015) tentang mengendalikan kecelakaan kerja di divisi
pencampuran pakan Dewa Dewi Farm dengan penilaian risiko yang dilakukan
terdapat 1 aktivitas kerja berisiko ekstrim, 7 berisiko tinggi, 4 risiko sedang, dan
12 berisiko rendah. Pada penelitian lainnya dengan metode 6S, sudah pernah
dilakukan oleh Vashanadia Astharina dan Hery Suliantoro (2011) tentang analisis
penerapan 6S pada area warehouse PT. Bina Busana Internusa (BBI) karena
adanya perbedaan ukuran dan jenis, cepatnya pergantian produk yang ada
digudang serta terbatasnya space dalam gudang inilah yang menyebabkan sulitnya
mengatur penyimpanan yang ada pada gudang, serta penelitian yang dilakukan
oleh Erry Rimawan dan Eko Sutowo (2011) tentang analisa penerapan 6S pada
warehouse di PT. Multifilling Mitra Indonesia dengan mengkaji ulang 6S yang
telah diterapkan perusahaan agar dapat berjalan sesuai keinginan perusahaan dan
mampu memberikan nilai tambah pada pelayanan di perusahaan.
Berdasarkan banyaknya potensi bahaya yang dapat terjadi dan belum
adanya penelitian pada penyimpanan produk B3, maka diadakannya penelitian ini
untuk melakukan penelitian mengenai identifikasi dan analisis penilaian risiko
bahaya dalam penyimpanan B3 dengan pendekatan HIRA (Hazard Identification
and Risk Assessment), FTA (Fault Tree Analyzis) dan 6S. Metode 6S diterapkan
untuk mengoptimalkan permasalahan yang terjadi di dalam gudang penyimpanan
produk B3.
Cara pengukuran atau penilaian risiko berupa kemungkingan dikali
keparahan atau dalam penelitian ini menggunakan jumlah hazard dikalikan
jumlah exposure. Dimana kemungkinan merupakan frekuensi dan lamanya
terpapar pekerjaan berbahaya, sedangkan keparahan merupakan keparahan luka.
Pada penelitian ini, jumlah hazard terdiri dari jumlah atau point kelas bahaya B3,
sifat, frekuensi kejadian, dan objek yang terdampak, sedangkan pada jumlah
exposure terdiri dari jumlah atau point media lingkungan dan waktu paparan.
Penilaian ini berdasarkan kriteria hazard pada penyimpanan B3 yang sudah
disesuaikan oleh para praktisi dan akademisi COE Kimia dan Petrokimia.
Pengambilan data menggunakan kuesioner dan hasil wawancara dengan pekerja di
salah satu perusahaan kimia. Kuesioner disebar kepada para praktisi dan
akademisi yang hasilnya di akumulasikan atau dirata-ratakan.

5.1 Analisa Identifikasi dan Penilaian Risiko Bahaya


Menurut Peraturan Pemerintah nomor 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan
Bahan Berbahaya dan Beracun, B3 didefinisikan sebagai bahan yang karena sifat
dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
makhluk hidup lainnya. Risiko merupakan suatu kemungkinan terjadinya
kecelakaan dan kerugian pada periode waktu tertentu atau siklus operasi tertentu.
Identifikasi risiko dilakukan dengan melakukan observasi pada pekerjaan yang
dilakukan, studi literatur dan melakukan wawancara terbuka terhadap pekerja
yang melakukan pekerjaan. Sedangkan bahaya adalah kemampuan yang melekat
pada sesuatu baik energi, peralatan, maupun aktivitas dan mempunyai potensi
untuk menimbulkan kerugian (Pasman, 2015). Identifikasi bahaya merupakan
suatu proses yang dapat dilakukan untuk mengenali seluruh situasi ataupun
keadaan yang berpotensi sebagai penyebab terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja yang mungkin timbul di tempat kerja. Analisis risiko dilakukan untuk
menentukan besarnya nilai dari suatu risiko dengan mempertimbangkan antara
estimasi nilai konsekuensi dengan perhitungan terhadap program pengendalian
yang telah dilakukan.
Penilaian risiko dalam penyimpanan produk jenis B3 (Bahan Berbahaya dan
Beracun) berdasarkan skenario terparah tanpa adanya perlakuan tindakan
pengendalian. Hal ini bertujuan untuk mengetahui besaran risiko yang akan
dihasilkan beserta strategi tindakan pengendaliannya. Kota Cilegon terdiri dari
beberapa perusahaan kimia dan petrokimia penghasil B3 beserta limbahnya.
Setelah mengidentifikasi risiko maka didapat risk event dari keadaan aktual di
lapangan. Maka selanjutnya dilakukan penilaian risiko dengan mengacu kepada
analisis semi kuantitatif untuk mendapat nilai hazard dan exposure, dimana nilai
kedua faktor sudah ditentukan menggunakan standar penilaian diadobsi dari COE
Petrokimia dan Kimia. Kedua faktor akan dikalikan mendapat nilai risiko. Dari
data yang didapat dan telah dilakukan perhitungan, terdapat 4 perusahaan
penghasil gas dan 1 perusahaan penghasil metanol yang mana mendapat nilai
risiko tinggi. Tingkatan risiko tinggi pada gas dikarenakan risiko bahaya yang
akan ditimbulkan, seperti ledakan atau kebocoran gas yang akan menyebabkan
kebakaran sehingga digolongkan pada kelas bahaya B3 tinggi dengan point 3,
dengan nilai bahaya pada sifat tergolong tinggi karena reaksi gas yang mudah
meledak sehingga mendapat point 3, pada frekuensi kejadian termasuk dalam
kategori sering dengan point 3 karena kejadian risiko bahaya tersebut mungkin
muncul pada kebanyakan situasi dengan frekuensi kejadian lebih dari 15 kali
sebulan, dengan objek yang terdampak termasuk dalam kategori tinggi dengan
point 3 karena jika ledakan atau kebakaran terjadi maka akan berdampak pada
manusia yang luka-luka terbakar ataupun meninggal dunia, binatang dan tanaman
yang mati terbakar, dan lingkungan sekitar perusahaan seperti penduduk desa
yang terkena dampak asap dari kebakaran tersebut dan ada kemungkinan api akan
menjalar sampai kerumah warga ataupun ke perusahaan lain apabila tidak segera
ditangani. Pada penilaian exposure pada jenis B3 gas terdiri dari media
lingkungan tergolong sedang dengan point 2 dikarenakan saat risiko ledakan atau
kebakaran terjadi media lingkungan yang akan terkena dampaknya yaitu tanah
dimana puing-puing bangunan gudang atau puing-puing lainnya yang berasal dari
ledakan gas tersebut berserakan di tanah sehingga menjadi limbah dan udara
berupa asap kebakaran yang menimbulkan polusi, serta penilaian waktu paparan
tergolong tinggi dengan point 3 hal ini dikarenakan lamanya paparan dari saat
ledakan atau kebakaran terjadi sampai perusahaan mulai beroperasi dengan
normal lagi lebih dari 1 bulan. Sehingga didapat nilai risiko sebesar 60, yang
mana tergolong kategori risiko tinggi.
Sedangkan pada jenis B3 berupa metanol dengan penilaian risiko hazard
terdiri dari kelas bahaya tinggi dengan point 3 dikarenakan metanol merupakan
jenis b3 yang mudah terbakar apabila terpapar panas dan / atau api, pada sifat
termasuk kategori tinggi dengan point 3 dikarenakan metanol juga termasuk
bahan yang reaktif terhadap bahan pengoksidasi, cairan dan uap metanol amat
mudah menyala dan dapat menyebabkan iritasi kulit, pada frekuensi kejadian
termasuk kategori jarang dengan point 1 dikarenakan kejadiannya dapat muncul
pada saat yang sama dalam kurun waktu kurang dari 7 kali setiap bulan, objek
yang terdampak termasuk dalam kategori tinggi dengan point 3 karena dapat
berdampak pada manusia (dapat merusak kesuburan atau janin, berbahaya jika
ditelan, dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan, kerusakan organ dan
sebagainya), binatang dan tanaman (dapat menyebabkan kematian) dan
lingkungan (jika kebakaran terjadi asap akan timbul sehingga menjadi polusi, dan
api bisa menyebar ke lingkungan sekitar gudang penyimpanan). Penilaian pada
exposure untuk metanol terdiri dari tingkat paparan pada media lingkungan
tergolong sedang dengan point 2 artinya bahan terpapar dengan dua media
lingkungan seperti tanah dan udara, dan penilaian waktu paparan termasuk dalam
kategori tinggi dengan point 3 dikarenakan lamanya paparan dari saat terjadinya
ledakan hingga perusahaan kembali beroperasi normal kembali lebih dari 1 bulan.
Sehingga didapat nilai risiko sebesar 50, yang mana tergolong kategori risiko
tinggi.

5.2 Analisa Diagram FTA


Fault Tree Analysis (FTA) merupakan analisis yang digunakan untuk
menentukan akar penyebab potensi kegagalan yang tejadi dalam sistem sehingga
dapat dilakukan upaya untuk mengurangi produk cacat tersebut (Satriyo, 2015).
FTA adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko yang
berperan terhadap terjadinya kegagalan. Metode ini dilakukan dengan pendekatan
yang bersifat top down, yang diawali dengan asumsi kegagalan atau kerugian dari
kejadian puncak (top event) kemudian merinci sebab-sebab suatu top event sampai
pada suatu kegagalan dasar (root cause). Pada Fault Tree Analysis penelitian ini
di fokuskan pada kegagalan gas dan metanol, dimana keduanya sama-sama jenis
B3 yang mudah terbakar dan meledak.
Dari hasil identifikasi dan penilaian risiko didapat nilai kategori tinggi pada
jenis B3 gas dengan nilai risiko 60 dan metanol dengan nilai risiko 50. Sehingga
pada FTA gas, top event kegagalan gas berupa adanya kebakaran warehouse.
Kebakaran warehouse ini disebabkan adanya ledakan pada tabung gas atau pipa
gas di perusahaan tersebut. Meledaknya tabung atau pipa gas ini disebabkan oleh
adanya kegagalan tabung gas atau human error. Kegagalan tabung gas ini dapat
berupa kebocoran tabung gas yang disebabkan karena adanya penipisan dinding
tabung gas. Penyebab penipisan dinding tabung gas ini dikarenakan adanya korosi
eksternal pada tabung atau pipa gas. Korosi eksternal disebabkan karena tabung
gas terpapar bahan pengoksidasi. Tabung gas terpapar bahan pengoksidasi
dikarenakan penempatan di ruang terbuka. Pada kegagalan human error ini
disebabkan karena pekerja yang kurang hati-hati atau lalai. Hal ini disebabkan
karena adanya pekerja yang tidak taat aturan atau tidak ada tata tertib / rambu
peringatan.
Pada FTA metanol, top event penyebab kegagalan metanol yaitu adanya
kebakaran warehouse, berdasarkan MSDS metanol memiliki flash point 11oC dan
tergolong bahan yang mudah terbakar jika kontak dengan sumber api (panas,
nyala api, dan pengoksidasi). Penyebab kebakaran methanol ini karena adanya
ledakan tabung metanol. Ledakan tabung methanol ini disebabkan karena tabung
methanol terpapar panas yang berasal dari matahari, atau bereaksi dengan bahan
pengoksidasi, atau terpapar api yang bisa berasal dari kegiatan kerja seperti
mengelas, mengerinda, ataupun berasal dari instalasi kelistrikan yang mengalami
loose connection. Tabung metanol terpapar panas matahari atau bereaksi dengan
bahan pengoksidasi disebabkan karena penempatan diruang terbuka.

5.3 Analisa Pengendalian Risiko


Berikut ini adalah analisa pengendalian risiko pada risiko bahaya yang
ditimbulkan dalam penyimpanan produk B3 di perusahaan kimia dan petrokimia,
berupa analisa 6S pada kegagalan metanol dan gas serta analisa mitigasi risiko.
5.3.1 Analisa 6S Pada Kegagalan Gas dan Metanol
5S (Sort, Set in order, Shine, Standardize, dan Sustain) adalah sikap kerja
yang bertujuan menciptakan suasana dan lingkungan kerja yang bersih, rapi, dan
aman (Sutowo, 2011). Dengan begitu 5S dapat mengurangi pemborosan pada
tempat kerja, yang dapat menghambat efisiensi dan produktivitas pekerja dalam
bekerja, dan juga dapat mengurangi barang hasil produksi yang kotor, yang
disebabkan oleh tempat kerja yang kurang bersih. Konsep ini berasal dari negara
Jepang dan merupakan kunci sukses bagi industri di negeri matahari terbit
tersebut. Pemeliharaan kualitas lingkungan tempat kerja yang baik akan dapat
mengurangi potensi terjadinya bencana atau bahaya seperti kesulitan mencari
dokumen penting, staff yang cedera karena tersandung, bahkan bencana
kebakaran pada warehouse penyimpan tabung gas dan metanol yang bisa
menyebabkan kerugian bagi perusahaan karena dampaknya berupa kematian para
pekerja, kegiatan produksi yang tertunda, hingga kerugian harta karena warehouse
yang terbakar. Hal ini diakibatkan oleh ketidak rapihan dan ketidak terorganisiran
barang-barang ditempat kerja. Metode 6S (5S + safety) merupakan perluasan dari
5S yang dirancang untuk mengurangi limbah dan mengoptimalkan produktivitas
di tempat kerja untuk menghilangkan cacat dan mengurangi jumlah kecelakaan.
Pertama, sort / ringkas merupakan aktivitas membedakan antara yang
diperlukan dan tidak diperlukan dan menyingkirkan yang tak diperlukan (Sutowo,
2011). Ditahap ini pekerja melakukan aktivitas memisahkan peralatan atau
material yang tidak diperlukan dengan peralatan atau material yang masih
diperlukan. Hal ini dilakukan guna mengurangi terjadinya penumpukan barang-
barang yang tidak jelas, sehingga akan memberikan space yang lebih besar untuk
menyimpan material lain yang masih digunakan. Barang-barang yang tidak
diperlukan tersebut sebaiknya harus segera dipindahkan ke gudang atau dibuang
ke tempat sampah. Dengan adanya aktivitas tersebut, material dan peralatan yang
tidak digunakan tidak memenuhi ruang gudang dan mengganggu aktivitas
pergudangan, serta lingkungan warehouse menjadi lebih ringkas. Dan juga perlu
diperhatikan akan kebersihan dan kerapihan gudang penyimpanan tersebut. Debu-
debu yang menempel pada barang-barang akan membuat barang menjadi kotor.
Kedua, set in order / menata merupakan aktivitas menata semua barang
yang ada setelah ringkas, setiap barang memiliki tempat dengan pola yang teratur
dan tertib (Sutowo, 2011). Ditahap ini dilakukan penggolongan barang-barang
sesuai dengan jenis barang serta penataan produk B3 perusahaan tersebut sesuai
dengan jangka waktunya atau barang yang baru diproduksi diletakkan di urutan
paling belakang, sehingga yang dipergunakan yang lama terlebih dahulu. Dengan
tersusunnya barang secara rapi akan meminimasi waktu yang dibutuhkan untuk
mencari barang. Sehingga saat barang hendak diambil atau dipindahkan oleh
pekerja dapat ditemukan dengan cepat. Serta penataan pada produk B3 gas dan
atau metanol yang ada didalam gudang penyimpanan harus dilapisi dengan palet
yang fungsinya untuk menghindari barang kimia ini panas diatas lantai dan dapat
menyebabkan adanya penguapan pada produk B3 berupa kimia ini berisiko tinggi
yang akan diterima, dimana produk gas dan atau metanol ini bisa saja terbakar dan
meledak. Pada tahap Seiton ini juga bisa dibuat display atau papan peringatan
akan bahaya dari jenis B3 tersebut, sehingga pekerja bisa lebih berhati-hati dalam
bekerja. Adanya label nama produk lengkap dengan kondisi produk serta
presentase pemakaian dari setiap barang-barang yang akan dipergunakan
dilapangan, dapat menunjukan bahan kimia mana saja yang sering digunakan dan
jarang digunakan dilapangan, sehingga dapat diketahui kondisi barang / produk
tersebut. Penetapan layout barang di dalam gudang memegang peranan penting,
maka dari itu dibuat Layout usulan penataan area warehouse pada gambar 82,
dimana pembagian wilayah untuk produk jenis B3 (gas atau metanol) yang
diletakkan diatas pallet akan disusun di pojok kiri atas, sedangkan untuk beberapa
material yang akan disimpan di rak akan diletakkan dipojok kiri bawah, dan untuk
bagian ruang kerja akan diletakkan dipojok kanan atas dengan pintu masuk berada
di sebelah kanan berdekatan dengan ruang kerja. Perusahaan sebaiknya
menetapkan standar internal penyimpanan yang dijalankan di dalam gudang.
Ketiga, shine / membersihkan merupakan aktivitas menjaga kondisi mesin
dengan bentuk pemeriksaan yang mengungkapkan abnormalitas dan kondisi
sebelum terjadinya kesalahan yang dapat berdampak buruk terhadap kualitas atau
menyebabkan kerusakan pada mesin, maka mesin selalu dalam keadaan yang siap
dipakai dan dalam keadaan bersih (Sutowo, 2011). Menciptakan kondisi tempat
dan lingkungan kerja yang bersih. Lingkungan yang bersih merupakan tanggung
jawab dari keseluruhan karyawan. Kriteria kebersihan perlu juga harus diketahui
apa saja yang harus dibersihkan pada area-area gudang. Benda-benda apa saja
yang tidak berguna di area lantai, rak dan tempat kerja, harus dibuang ataupun
dipindahkan jika benda tersebut masih memiliki nilai ekonomis. Dengan kondisi
adanya tumpukan sampah dan debu, membuat keadaan lingkungan gudang terlihat
seperti tidak terawat sehingga lingkungan kerja menjadi tidak nyaman dan berbau
kotoran serangga, tapi dengan kita menerapkan prinsip seiso digudang
penyimpanan dapat membuat keadaan lingkungan gudang menjadi bersih,
membuat ruangan terkesan lebih luas serta petugas atau pekerja bagian gudang
penyimpanan dapat melakukan kegiatan didalam gudang penyimpanan produk B3
dengan nyaman. Perusahaan juga bisa menerapkan kebijakan adanya hari untuk
bersih-bersih misalnya dihari sabtu, agar tidak adanya sampah dan debu di dalam
warehouse. Adapun tahapan-tahapan yang juga dapat mendukung atau mencapai
seiso yang berkala yaitu menentukan daftar perlatan kebersihan yang dibutuhkan
beserta jumlahnya serta menentukan tanggung jawab kebersihan untuk setiap area.
Keempat, standardize / rawat merupakan aktivitas memperluas konsep
kebersihan pada diri pribadi dan terus-menerus mempraktekkan tiga langkah
terdahulu. Selalu berusaha menjaga keadaan yang sudah baik melalui standar
(Sutowo, 2011). Pada tahap ini, salah satu yang langkah yang diambil yaitu
dengan membuat standarisasi untuk kegiatan-kegiatan di dalam warehouse.
Membuat peraturan yang jelas mengenai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan
di area warehouse. Hal ini juga berhubungan dengan adanya pengecekan rutin
pada tabung atau pipa penyimpanan gas atau metanol, sehingga mencegah
terjadinya korosi pada tabung atau pipa. Serta dapat dilakukan dengan memberi
tanda / nama / label pada lantai kerja, pada peralatan, pada laci/rak, kotak
penyimpanan, dan sebagainya. Pada gambar 83 tentang contoh penerapan label
kemasan produk metanol, dapat diketahui bahwa dalam label tersebut terdiri dari
rumus kimia, batas waktu kedaluarsa produk, kuantitas suatu kemasan, order
number, data transport, nama produk, karakteristik bahaya, dan sebagainya.
Pembuatan label kemasan ini dapat memudahkan karyawan akan peringatan risiko
bahaya yang akan ditimbulkan pada produk jenis B3 tersebut serta SOP produk
tersebut.
Kelima, sustain / rajin merupakan aktivitas membangun disiplin diri pribadi
dan membiasakan diri untuk menerapkan 5S melalui norma kerja dan standarisasi
dan menjaga tempat kerja agar tetap stabil dengan proses terus menerus dari
peningkatan berkesinambungan (Sutowo, 2011). Salah satu cara untuk terus
meningkatkan karyawan ialah dengan memasang plang atau display tata tertib
tentang kebersihan agar petugas gudang atau karyawan tersebut dapat menaati
peraturan yang sudah ditetapkan dilingkungan kerja tersebut. Pada tabel 9 tentang
tata tertib penanganan dan penyimpanan metanol tersebut dapat diketahui bahwa
tindakan yang dapat dilakukan pada area penyimpanan untuk mencegah risiko
yang akan terjadi dapat berupa penyediaan ventilasi yang cukup, jauhkan dari
sumber pembakaran, dilarang merokok, jauhkan dari makanan, minuman, dan
bahan pakan hewan, jaga wadah tabung atau pipa metanol tertutup rapat, suhu
penyimpanan yang disarankan 15 – 25 oC. Hal ini dikarenakan metanol stabil
dalam kondisi penyimpanan dan penangan suhu dan tekanan ambient normal dan
terantisipasi. Berdasarkan lembar data keselamatan (2016), pada metanol,
kemungkinan reaksi berbahaya dengan asam, bahan pereduksi, dan asam mineral.
Uap metanol dapat membentuk campuran eksplosif dengan udara. Metanol dan
gas merupakan jenis B3 yang mudah terbakar. Uap dari bahan tersebut lebih berat
dari pada udara, menyebar ditanah dan membentuk campuran yang dapat meledak
dengan udara.
Keenam, safety / keselamatan merupakan perlindungan diri terhadap segala
kemungkinan yang dapat menyebabkan kecelakaan (Sutowo, 2011). Hal ini
berfokus pada menghilangkan bahaya dan menciptakan lingkungan kerja yang
aman. Membuat peraturan yang jelas mengenai hal yang boleh dan tidak boleh
dilakukan di dalam warehouse. Peraturan ini dapat berupa kontrol visual seperti
larangan membuang sampah, tidak merokok, dan kewajiban menggunakan alat
pelindung diri selama berada di lingkungan warehouse. Para pekerja harus
mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) selama bekerja agar aman saat
melakukan pekerjaan di industri. Perlengkapan APD terdiri dari helm untuk
pelindung kepala, kacamata untuk pelindung mata, ada pelindung telinga, sepatu
safety, sarung tangan, dan lain-lain. Kotak pertolongan pertama disediakan
minimal 1 untuk setiap 150 pekerja dan diperiksa setiap bulan mengenai obat-
obatan yang cukup dan tanggal kedaluwarsanya. Pemadam api harus disediakan di
setiap dapartemen dan juga harus diperiksa kedaluwarsanya. Serta pembuatan
larangan dapat dilakukan dengan membuat rambu-rambu yang bisa dilihat oleh
semua pengunjung warehouse dan harus dipatuhi selama berada di area
warehouse seperti pada gambar 84 mengenai peringatan penggunaan helm yang
berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras serta rambu
peringatan gunakan sepatu pengaman yang berguna melindungi kaki dari benturan
benda keras atau paku / serpihan kaca dilantai.
5.3.2 Analisa Mitigasi Risiko
Upaya pencegahan terjadinya bencana disebut sebagai mitigasi, yang
didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dampak dari
suatu bencana (alam maupun disebabkan oleh manusia) terhadap suatu bangsa
atau komunitas, agar masyarakat merasa aman dalam beraktivitas di tempatnya
(Mubekti, 2008). Berdasarkan hasil pengolahan data HIRA didapat 5 perusahaan
yang tergolong kategori tinggi, dimana 4 diantaranya perusahaan penghasil
produk jenis B3 berupa gas dan 1 diantaranya penghasil produk jenis B3 berupa
metanol. Dikatakan bahaya, karena jenis B3 tersebut tergolong mudah terbakar
dan meledak sehingga dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar baik bagi
karyawan maupun perusahaan tersebut dan cedera parah hingga meninggal dunia
bagi para pekerja tersebut. Oleh sebab itu, untuk menghindari jatuhnya korban
yang lebih besar dan banyak akibat bahaya ledakan tersebut, diperlukan upaya-
upaya yang mengarah kepada tindakan meminimalisir akibat yang akan
ditimbulkan.
Pada seiri / sort, penerapan mitigasi risiko yang dapat dilakukan berupa
mengurangi atau menghilangkan penggunaan api dan listrik di area gudang
penyimpanan, mengecek barang yang ada di area masing-masing, serta siapkan
tempat untuk menyimpan / membuang / memusnahkan barang yang tidak
digunakan dengan penanggung jawab oleh warehouse staff. Dengan mengurangi
atau menghilangkan penggunaan api dan listrik di area gudang dapat mengurangi
potensi tabung metanol dan gas meledak. Serta membedakan antara yang
diperlukan dan tidak diperlukan di area warehouse dan menyingkirkan yang tidak
diperlukan. Membuat tempat kerja yang ringkas, yang hanya menampung barang-
barang yang diperlukan saja. Tambahkan tanda pembeda tempat yang
membedakan antara barang baru dan barang lama, barang lama seharusnya
diletakkan pada tempat depan atau tumpukan atas sebelum kedatangan barang
baru. Map dokumen sesuai dengan pengelompokkannya diletakkan atau disimpan
pada warna yang sama. Tambahkan nomor urut di samping map dokumen, agar
dalam pencarian tidak membutuhkan waktu untuk mencarinya.
Pada seiton / set in order, penerapan strategi mitigasi risiko yang dapat
dilakukan berupa mengelompokkan barang-barang sesuai kebutuhannya dan
jenisnya, serta beri nama / identifikasi pada rak penyimpanan untuk memudahkan
pencarian barang dengan penanggung jawab oleh warehouse staff. Dengan menata
semua barang yang ada setelah ringkas, setiap barang memiliki tempat kerja
dengan pola yang teratur dan tertib seperti membuat rancangan perbaikan untuk
tata letak penyimpanan barang berupa tabung gas atau tabung metanol, serta
membuat atau melakukan jadwal penataan. Tanda pengenal untuk setiap rak
penyimpanan dapat diletakkan di setiap pojokkan rak penyimpanan.
Pada seiso / shine, penerapan strategi mitigasi risiko yang dapat dilakukan
berupa membersihkan suku cadangan alat bantu kerja tertentu serta membersihkan
tabung / pipa produk jenis B3 dan lantai gudang penyimpanan dengan
penanggung jawab oleh staff maintenance. Ditambahkan tempat sampah sebagai
proses pembuangan untuk menjaga kebersihan pada warehouse. Sebelum
mengembalikan peralatan atau material sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu
untuk menghilangkan debu atau kotoran yang menempel. Membuat jadwal
pembersihan selama 3 menit setiap hari sebelum dan sesudah melakukan
pekerjaan demi menjaga lingkungan kerja tetap bersih dan nyaman.
Pada seiketsu / standardize, penerapan strategi mitigasi risiko yang dapat
dilakukan berupa menjaga suhu dan kelembaban udara gudang penyimpanan
sesuai dengan jenis B3, pada metanol suhu penyimpanan yang disarankan 15 –
25oC serta penyediaan ventilasi yang cukup dengan penanggung jawab oleh
warehouse staff. Pada perusahaan penghasil gas dan metanol yang hasil
produknya disimpan dalam tangki penyimpanan diharuskan memiliki ruang
vakum pada tangki, serta tangki dilapisi dengan pearlite atau bahan isolator
lainnya, hal ini bertujuan supaya panas matahari tidak langsung terpapar ke
tabung gas maupun metanol untuk mengurangi dampak ledakan pada tabung
dengan penanggung jawab oleh manajer produksi dan QC, membuat SOP dengan
penanggung jawab oleh staf PPIC, memberikan jarak yang antar gedung untuk
mencegah penjalaran api, penyediaan jalur evakuasi yang memadai, menyediakan
alat fire alarm, pendeteksi asap, keran hydrant, pemercik (sprinkier). Membuat
poster 5S dan ditempel di sudut-sudut ruangan warehouse dengan penanggung
jawab agar selalu diingat oleh pengguna gudang dan karyawan dapat melihat
dengan jelas dan selalu berusaha menerapkannya setiap harinya oleh manajer
HSE. Menerapkan reward dan punishment untuk mempertahankan kondisi yang
bersih dan rapi dengan penanggung jawab oleh manajer HSE dan HRD, reward
bagi karyawan yang mematuhi peraturan-peraturan warehouse dan berpartisipasi
aktif dalam penerapan 5S, serta punishment diberikan kepada karyawan yang
tidak mematuhi peraturan yang ada di dalam warehouse. Pemberian kode warna
diterapkan dilingkungan kerja, terutama pada lantai dan dinding yang dicat
dengan warna terang serta memperhatikan dan melakukan pengecekkan pada cat
secara berkala dengan penanggung jawab oleh manajer HSE.
Pada shitsuke terdiri dari dilakukannya audit secara berkala, minimal 1
tahun sekali dengan penanggung jawab oleh manajer HSE. Dalam melaksanakan
audit, pengaudit harus memiliki kriteria dalam penilaian yang telah ditentukan
sebelumnya sehingga akan memudahkan dalam proses audit. Audit dapat
dilakukan dengan turun langsung ke warehouse dan melakukan penilaian. Serta
sosialisasi berkaitan materi 5S kepada karyawan dengan penanggung jawab oleh
manajer HSE dan HRD. Sosialisasi ini berisi penyadaran diri akan etika kerja,
seperti disiplin terhadap standar, saling menghormati, malu melakukan
pelanggaran, dan lain-lain.
Pada safety terdiri dari pekerja menggunakan APD sesuai standar serta
penggunaan yang benar dengan penanggung jawab oleh manajer HSE. Hal ini
bertujuan untuk melindungi pekerja dari risiko bahaya yang akan terjadi di
lapangan khususnya area warehouse, seperti penggunaan helm, sepatu safety,
rompi, masker, dan sebagainya. Pelatihan K3 minimal 1 bulan sekali dengan
penanggung jawab oleh manajer HSE dan HRD. Sosialisasi ini berisi penyadaran
diri akan penggunaan APD, postur kerja yang baik dan pentingnya keselamatan
kerja dalam pekerjaan. Menyediakan petugas pemadam kebakaran (Damkar) dari
perusahaan yang berjaga selama 24 jam. Serta menyediakan alat pemadam api
yang mudah dijangkau berupa APAR jenis foam dan powder dengan penanggung
jawab oleh manajer HSE. Hal ini dikhususnya bagi setiap perusahaan memiliki
alat pemadam api dan karyawan diharuskan memiliki keahlian tanggap darurat
dalam menangani risiko kebakaran serta penggunaan APAR yang benar.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berikut ini adalah kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian tentang
identifikasi dan analisis penilaian risiko bahaya pada penyimpanan produk B3 di
perusahaan kimia dengan pendekatan HIRA, FTA, dan 6S.
1. Besar nilai risiko potensi bahaya dan kategori potensi bahaya pada area
penyimpanan produk B3 di perusahaan-perusahaan kimia dan petrokimia
yang tergolong kategori extreme atau tinggi yaitu :
a. Pada zona I - Kecamatan Ciwandan terdiri dari PT. IL pada jenis produk
B3 berupa gas dengan nilai risiko 60,
b. Pada zona II – Kecamatan KIEC – Citangkil terdiri dari PT. ILA pada
jenis produk B3 berupa gas dengan nilai risiko 60, PT. IGA pada jenis
produk B3 berupa gas dengan nilai risiko 60, PT. IGS pada jenis produk
B3 berupa gas dengan nilai risiko 60, dan
c. Pada zona III – Kecamatan Grogol, Pulomerak, Cibeber terdiri dari PT.
CD pada jenis produk B3 berupa metanol dengan nilai risiko 50.
2. Faktor penyebab terbesar terjadinya kecelakaan kerja akibat dari potensi-
potensi bahaya pada kategori extreme atau tinggi pada area penyimpanan
produk B3 di perusahaan-perusahaan kimia dan petrokimia pada kegagalan
gas berupa kebakaran dari ledakan tabung gas yang disebabkan :
a. Adanya korosi eksternal pada tabung gas akibat penempatan tabung gas
diruang terbuka, dan
b. Pekerja yang lalai atau kurang hati-hati karena adanya pekerja yang tidak
taat aturan atau tidak adanya tata tertib / rambu peringatan di area
warehouse.
Sedangkan pada kegagalan metanol berupa kebakaran dari ledakan tabung
metanol yang disebabkan :

100
a. Adanya tabung metanol yang terpapar matahari atau tabung metanol
bereaksi dengan bahan pengoksidasi akibat penempatan tabung metanol
diruang terbuka, atau tabung metanol terpapar api.
3. Cara mengurangi risiko kecelakaan kerja pada penyimpanan produk B3 di
perusahaan-perusahaan kimia dan petrokimia dengan menggunakan
pendekatan 6S dan penerapan strategi mitigasi risiko yaitu :
Pada seiri terdiri dari :
a. Mengurangi atau menghilangkan penggunaan api dan listrik di area
gudang penyimpanan produk,
b. Mengecek barang yang ada di area masing-masing,
c. Siapkan tempat untuk menyimpan / membuang / memusnahkan barang
yang tidak digunakan.
Pada seiton terdiri dari :
a. Mengelompokkan barang-barang sesuai kebutuhannya dan jenisnya, dan
b. Beri label / identifikasi untuk memudahkan pencarian barang.
Pada seiso terdiri dari :
a. Membersihkan suku cadang alat bantu kerja tertentu, dan
b. Membersihkan tabung / pipa produk jenis B3 dan lantai gudang
penyimpanan.
Pada seiketsu terdiri dari :
a. Menjaga suhu dan kelembaban udara gudang penyimpanan sesuai
dengan jenis B3,
b. Pada perusahaan penghasil gas dan metanol yang hasil produknya
disimpan dalam tangki penyimpanan diharuskan memiliki ruang vakum
pada tangki, serta tangki dilapisi dengan pearlite atau bahan isolator
lainnya,
c. Membuat SOP,
d. Memberikan jarak yang antar gedung untuk mencegah penjalaran api,
e. Penyediaan jalur evakuasi yang memadai,
f. Menyediakan alat fire alarm, pendeteksi asap, keran hydrant, pemercik
(sprinkier),
g. Membuat poster 5S dan ditempel di sudut-sudut ruangan warehouse,
h. Menerapkan reward dan punishment untuk mempertahankan kondisi
yang bersih dan rapi,
i. Pemberian kode warna diterapkan dilingkungan kerja, terutama pada
lantai dan dinding yang dicat dengan warna terang.
Pada shitsuke terdiri dari :
a. Dilakukannya audit secara berkala, minimal 1 tahun sekali, dan
b. Sosialisasi berkaitan materi 5S kepada karyawan.
Pada safety terdiri dari :
a. Pekerja menggunakan APD sesuai standar serta penggunaan yang benar,
b. Pelatihan K3 minimal 1 bulan sekali,
c. Menyediakan petugas pemadam kebakaran (Damkar) dari perusahaan
yang berjaga selama 24 jam, dan
d. Menyediakan alat pemadam api yang mudah dijangkau berupa APAR
jenis foam dan powder.

6.2 Saran
Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat menjadi masukan bagi
perusahaan maupun penelitian berikutnya.
1. Audit dapat dilakukan setiap minggu di akhir pekan oleh manager atau tim
audit dari masing-masing divisi agar karyawan lebih disiplin terhadap 6S
dan menjadi budaya para karyawan.
2. Melakukan perbaikan – perbaikan kerja pada pekerja dengan cara
memberikan pelatihan / training berkala, dan dengan cara menerangkan
secara jelas tentang metoda-metoda kerja sesuai standar operasional
prosedur dan K3 yang telah diterapkan oleh perusahaan.
3. Pengendalian risiko atau mitigasi risiko pada penelitian selanjutnya
dilakukan dengan menggunakan metode-metode lainnya seperti HOR.
4. Bagi pihak perusahaan, strategi mitigasi risiko yang direkomendasikan
dapat dijadikan pertimbangan dalam perumusan program pengendalian
risiko kritis pada aktivitas warehouse.
5. Sebaiknya dilakukan perawatan dan pengecekkan, penataan dan
penyimpanan produk B3 di warehouse secara berkala.
DAFTAR PUSTAKA

Adzim, H. I. (2013, October 1). Label (Tanda / Simbol) Transportasi Bahan


(Material) Berbahaya / B3. Retrieved November 10, 2018, from Sistem
Manajemen Keselamatan Kerja:
https://sistemmanajemenkeselamatankerja.blogspot.com/2013/10/label-
transportasi-bahanmaterial.html

Alamendah. (2014, October 5). Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), Pengertian
dan Jenis. Retrieved November 10, 2018, from Alamendah's Blog:
https://alamendah.org/2014/10/05/bahan-berbahaya-dan-beracun-b3-
pengertian-dan-jenis/

Arismunandar, W. (2015). Keselamatan Mekanis dan Pencegahan Kecelakaan di


Industri. In I. R. Salami, Kesehatan dan Keselamatan Lingkungan Kerja
(pp. 263 - 281). Bandung: Gajah Maja University Press.

Darmawan, R., Ummi, N., & Umyati, A. (2017). Identifikasi Risiko Kecelakaan
Kerja Dengan Metode Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA)
di Area Batching Plant PT. XYZ. Jurnal Teknik Industri , 308 - 313.

Fahmi, I. (2014). Manajemen Risiko. Bandung: Alfabeta.

Kurniawati, E., Sugiono, & Yuniarti, R. (2013). Analisis Potensi Kecelakaan


Kerja Pada Departemen Produksi Springbed Dengan Metode Hazard
Identification and Risk Assessment (HIRA). Jurnal Ilmiah Teknik Industri ,
11 - 23.

Lamprea, E., Carreno, Z., & Sanchez, P. (2015). Impact of 5S on Productivity,


Quality, Organizational Climate and Industrial Safety in Caucho Metal Ltda.
Journal International , 107 - 117.

Roehan, K. R., Yuniar, & Desrianty, A. (2014). Usulan Perbaikan Sistem


Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Meggunakan
Metode Hazard Identification and Risk Assesment (HIRA). Jurnal Online
Institut Teknologi Nasional , 311 - 321.

Soemirat, J. (2015). Sistem Pengelolaan Kedaruratan. In I. R. Salami, Kesehatan


dan Keselamatan Lingkungan Kerja (pp. 345 - 364). Bandung: Gajah Mada
University Press.
Soputan, G. E., Sompie, B. F., & Mandagi, R. J. (2014). Manajemen Risiko
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Jurnal Ilmiah Media Engineering ,
229 - 238.

Susihono, W. (2012). Manajemen Bahaya Kerja I. Diktat Mata Kuliah


Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Cilegon: FT UNTIRTA.

Utomo, S. (2012). Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan Keberadaannya Di


Dalam Limbah. Jurnal Ilmiah Teknik Kimia , 37 - 46.

Wijaya, A., Panjaitan, T. W., & Palit, H. C. (2015). Evaluasi Kesehatan dan
Keselamatan Kerja Dengan Metode HIRARC Pada PT. Charoen Pokphand
Indonesia. Jurnal Titra , 29 - 34.
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1. Kriteria Penilaian Risiko

1. Kriteria Hazard Dalam Penyimpanan B3


Tabel 11. Kriteria Hazard Dalam Penyimpanan B3
Kriteria Hazard Kategori Hazard Penjelasan
Sedang Jenis B3 Kategori II
Kelas Bahaya
Tinggi Jenis B3 Kategori I
Rendah Bersifat korosif, iritasi, dan berbahaya pada lingkungan
Sifat Sedang Beracun
Tinggi Mudah meledak, mudah menyala, dan reaktif
JarangTerjadi Kurang dari 7 kali per bulan
Frekuensi
Sedang Diantara 7 sampai 14 kali per bulan
Kejadian
Sering Diantara 15 sampai 30 kali per bulan
Rendah Berdampak terhadap lingkungan
Tingkat
Sedang Berdampak terhadap orang/binatang dan tanaman
Keparahan
Tinggi Berdampak terhadap orang/binatang, tanaman dan lingkungan
Rendah Bahan terpapar kesatu media lingkungan
Tingkat Paparan
Sedang Bahan terpapar kedua media lingkungan
Pada Media
Tinggi Bahan terpapar ketiga media lingkungan
Rendah Lamanya paparan kurang dari 1 minggu
Waktu Paparan Sedang Lamanya paparan 1 minggu sampai 1 bulan
Tinggi Lamanya paparan lebih dari 1 bulan

2. Nilai Risiko
Tabel 12. Nilai Risiko
Nilai Resiko Keterangan
Rendah 10 – 29
Sedang 30 – 59
Tinggi 60 – 90