Anda di halaman 1dari 7

PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN BILIRUBIN DIREK

PADA PENGKOMSUMSI  ALKOHOL DAN YANG


TIDAK MENGKOMSUMSI ALKOHOL DI DAERAH TIMOHO YOGYAKARTA

NAMA : IMELDA BAREK WOHO

NIM : 123 000 48

KELAS : A.4.2

ANALIS KESEHATAN
STIKES GUNA BANGSA YOGYAKARTA
2014/2015
BAB II

TINJAUAN UMUM DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Umum

Pemahaman yang komperhensif akan apa yang merupakan masalah dalam penelitian tidak
terlepas dari pemahaman yang baik  akan landasan teoritis penelitian itu sendiri. Oleh karena itu,
sebelum memetakan kerangka berpikir, peneliti terlebih dahulu membahas konsep-konsep yang
terkait dengan masalah penelitian.

1. Hati

Hati merupakan parenkim yang paling besar. Organ yang paling bertanggung jawab atas lebih
dan 500 aktifitas metabolisme ini memiliki dua peran sentral, yaitu mempertahankan hidup dan
membentuk dan mengeksresikan empedu. Fungsi hati dalam membentuk dan mengeksresi
empedu dimulai dari  proses pengangkutan empedu melalui saluran empedu sampai ke kandung
empedu untuk selanjutnya disimpan dan disekresikan ke usus halus sesuai kebutuhan. Volume
empedu yang dieksresikan pun amat banyak, yaitu berkisar antara 500 hingga 1000 ini empedu
kuning per hari. Empedu yang terkomposisi atas air elektrolit, garam empedu, dan fosfolipid
(terutama esitin) ini, berperanan dalam mengabsorpsi lemak dalam usus halus setelah diubah
oleh bakteri usus halus. Namun demikian, garam empedu yang diabsorpsi dalam illium
mengalami sirkulasi ke hati yang kemudian di sekresi lagi oleh hati. Akhirnya, bilirubin atau
pigmen empedu menjadi hasil akhir dari proses sekresi metabolisme itu. Pigmen empedu
tersebut meski secara fisiologis tidak penting, namun ia merupakan petunjuk akan adanya
penyakit. Demikian halnya saluran empedu, ia penting karena bilirubin cenderung mewarnai
jaringan kontak lainnya ( Price dan Wilson, 2006).
2. Pengertian Bilirubin

Bilirubin adalah pigmen empedu yang terbentuk dari  pemecahan eritrosit tua dalam system
monosit makrofag. Seperti diketahui, masa hidup rata-rata eritrosit adalah 120 hari dan setiap
hari dihancurkan sekitar 50 ml untuk menghasilkan 250-350 mg bilirubin. Ia merupakan
konstituen utama empedu. Meski ia tidak berperan dalam pencernaan, tetapi merupakan salah
satu produksi sisa yang dieksresikan dalam empedu. Empedu terdiri dari cairan alkali encer
(serupa dengan sekresi NaHCO2 pankreas ) dan beberapa konstituen organic seperti garam-
garam empedu, kolesterol, lesitin, dan bilirubin. Empedu penting untuk proses pencernaan dan
penyerapan lemak, terutama melalui aktifitas garam empedu. Bilirubin terdiri atas dua jenis yaitu
1) bilirubin terkonjugasi yaitu bilirubin yang dapat bereaksi langsung larut dalam air, dan 2)
bilirubin tak terkonjugasi yaitu bilirubin yang memiliki reaksi tidak langsung atau bilirubin yang
membentuk ikatan protein. Korelasi keduanya pada kondisi kisaran normal Di mana, jika
bilirubin total maka kadar bilirubin langsung dan tidak langsung perlu dianalisis, namun jika
hanya satah satu nilai dilaporkan maka nilai tersebut mewakili bilirubin total. Bilirubin darah
normal terikat sebagian besar ke albumin yang sifatnya tidak larut. Proses ini bermula dan set
retikuloendental sebelum dan hati, kemudian di dalam plasma interkonjugasi yang larut di dalam
air masuk ke dalam darah. Karena kebocoran minor pada hepatosit, ia menjauhi dalam
pembentukan, dan eksresi empedu. Jumlah total dan fraksi bilirubin yang terkonjugasi dan yang
tidak terkonjugasi sangat bermanfaat dalam diagnosis ikterus dan penyakit hati. Sementara
bilirubin pascahepatik terkonjugasi bereaksi cepat pada berbagai percobaan. Karena kelarutan
laheren zat inilah sehingga Ia disebut sebagai zat yang bereaksi langsung. Jika dikategorikan,
maka bilirubin di dalam darah dibagi atas dua bentuk, yaitu bilirubin direk dan bilirubin indirek.
Hal yang membedakan keduanya adalah sifat kelarutannya. Karakter utama dari  biIirubin direk
adalah Ia larut dalam air dan dapat dikeluarkan melalui urin. Sedangkan karakter utama dari
bilirubin indirek adalah tidak larut dalam air dan terikat pada albumin. Jika kemudian kedua
bilirubin ini digabungkan, maka disebut bilirubin total. Atau dalam rumusan lain, bilirubin total
merupakan penjumlahan dari bilirubin direk dan indirek. Adanya kadar peningkatan bilirubin
direk menunjukan adanya penyakit hati (liver) atau saluran empedu. Sedangkan peningkatan
bilirubun indirek jarang terjadi pada penyakit hati (liver). Pemeriksaan bilirubin dilakukan
dengan cara mereaksikan bilirubin dengan Diazotized Sulfanilic Acid sampai membentuk
azobilirubin berwarna, Dari  reaksi tersebut, biasanya diketahui bahwa hanya bilirubin direk
yang larut (dalam air) dan yang mampu bereaksi dengan reagen. Dengan demikian, untuk
mendapatkan nilai bilirubin total diperoleh dengan melepas bilirubin indirek dan ikatan dengan
albumin sehingga larut dalam air (http://labkesehatan.blogspot.com/2009/12/bilirubin-serum.)

3.     Metabolisme Bilirubin


Proses metabolisme bilirubin bermula dan proses katabolisme hemoglobin terutama
terjadi di dalam limfa. Dimana globulin mula-mula dipisahkan dan hem. Setelah itu, hem diubah
menjadi biliverdin. Biliverdin adalah pigmen kehijauan yang dibentuk melalui oksidasi bilirubin.
Bilirubin yang tak terkonjugasi, yang berkarakter larut dalam lemak tetapi tidak larut dalam air
serata tidak dapat disekresiakan dalam empedu atau urin bilirubin, membentuk ikatan dengan
albumin dalam satu ikatan kompleks larut dalam air yang kemudian diangkut oleh darah ke set-
sel hati (Price dan Wilson, 2006). Proses metabolisme Bilirubin pun di bagi atas tiga fase, yaitu
prehepatik, intrahepatik, dan pascahepatik. Ketiga fase ini kemudian diperluas lagi dengan due
fase baru .sehingga menjadi lima fase, yaitu fase pembentukan bilirubin, transport plasma, liver
uptake konjugasi, dan eksresi bilier. Namun demikian, peneliti hanya membahas pembagian
pertama karena pembagian kedua sudah tercakup dalam pembahasan ketiga fase tersebut.
Berikut penjelasan lanjutan atas ketiga fase tersebut;

A. Fase Prahepatik

Fase prahepatik atau hemolitik adalah tahapan menyangkut jaundice yaitu hal-hal yang
disebabkan oleh meningkatnya hemolisis (rusaknya sel darah merah). Pada tahap ini terjadi dua
proses yaitu pembentukan bilirubin dan transport plasma.
1. Pembentukan bilirubin, sekitar 250 sampai 350 mg bilirubin atau sekitar 4 mg/kg berat badan
terbentuk setiap harinya dan 70 sampai 80% berasal dan pemecahan sel darah merah matang.
Sedangkan sisanya 20 sampai 30% dating dan protein heme lainnya yang berada di dalam
sum-sum tulang dan hati. Meningkatnya hemolisiz sel darah merah tersebut merupakan
penyebab utama peningkatan pembentukan billrubin.
2. Transport Plasma, bilirubin tidak larut dalam air sehingga bilirubin transportnya dalam
plasma yang terikat dengan albumin Ia juga tidak dapat melalui membrane glomerolus
sehingga tidak muncul dalam air seni.

B.   Fase Intrahepatik


Fase intrahepatik yaitu tahap dimana terjadinya peradangan atau adanya kelainan pada
hati yang biasanya mengganggu proses pembuangan bilirubin. Pada tahap ini terjadi beberapa
proses yaitu liver uptake dan konjugasi.
1. Liver uptake, proses pengambilan bilirubin tak terkonjugasi oleh hati secara rind belum
jelas. Demikian halnya dalam peningkatan protein seperti ligandin atau protein Y.
pengambilan bilirubin pun begitu aktif dan berjalan cepat namun tidak termasuk dalam
proses pengambilan albumin.
2. Konjugasi, bilirubin bebas yang terkonsentrasi dalam sel hati mengalami konjugasi
dengan asam glukoronik sehingga membentuk bilirubin diglukuronida) bilirubin
konjugasil bilirubin direk.
Karena bilirubin yang tidak terkonjugasi merupakan bilirubin yang tidak larut dalam air, kecuali
bila jenis bilirubin terikat sebagai kompleks dengan molekul amfipatik seperti albumin dan tidak
terdapat dalam empedu, maka bilirubin harus dikonversikan menjadi deavate yang larut dalam
air sebelum dieksresikan oleh system biller. Proses ml terutama dilaksanakan oleh konjugasi
bilirubin pada asam glukoronat hingga terbentuk bilirubin glukoronid. Reaksi konjugasi terjadi di
dalam retikulum endoplasmah hepatosit dan dikatalis oleh enzim bilirubin glukoronosil
transferase dalam reaksi dua tahap.

C.   Fase Pascahepatik


Organik atau obat-obatan untuk itu, bilirubin perlu dieksresi secara konjugasi yang
dikeluarkan lewat kanalikyus bersama bahan lainnya. Pada usus flora, bakteri mendekonjugasi
dan mereduksi bilirubin menjadi sterkobilinogen dan mengeluarkannya sebagian besar kedalam
tinja yang berwarna coklat Sementara path bilirubin yang tak terkonjugasi yang bersifat tidak
larut dalam air namun larut dalam lemak, akan melewati bailer darah otak atau masuk ke dalam
plasenta. Sedangkan dalam sel hati, bilirubin tak terkonjugasi mengalami proses konjugasi
sdengan gula melalui enzim glukurontransferase den larut dalam empedu cair.
(http://freshlifegreen.blogspot.com/2011/03/metabolisme-bilirubin.html).

3. Patofisiologi Bilirubin
Bilirubin adalah produk penguraian hem yang sebagian besar terjadi dan penguraian
hemoglobin dan sebagian kecil dan senyawa lain seperti mioglobin. Sel retikuloendotel
menyerap kompleks haploglobin dengan hematobin yang telah dibebaskan dan set darah merah.
Sel-sel ini kemudian mengeluarkan besi dari  hem sebagai cadangan untuk sintesis berikutnya
dan memutuskan cincin hem untuk sintesis berikutnya dan memutuskan cincin hem untuk
menghasilkan tetrapisol bilirubin, yang disekresikan dalam bentuk yang tidak larut dalam air
(bilirubin tidak terkonjugasi, indirek). Karena ketidaklarutan ini, bilirubin dalam plasma terikat
ke albumin dan diangkat dalam medium air sewaktu beredar dalam tubuh dan melewati lobules
hati Kemudian hepatosit melepas bilirubin dan albumin sehingga terlarut air dan mengakibatkan
bilirubin ke asam glukoronat yaitu ke bilirubin konjugasi direk (Sacher RA, 2004).
Bilirubin sebagai pigmen kuning yang menyebabkan empedu berwarna kuning, mengalami
modifikasi di dalam saluran pencernaan oleh enzim-enzim bakteri yang kemudian menyebabkan
feses berwarna coklat. Jauh dan itu, apabila duktur bilirubin tersumbat secara total oleh empedu,
maka feses akan berwarna putih keabu-abuan. Pada kondisi normal, sejumlah kecil bilirubin
diabsobpsi oleh usus untuk kembali ke darah dan akhirnya di keluarkan bersama urin. Bilirubin
itulah penyebab utama warna kuning pada air kemih. Sementara ginjal baru mampu
mengeksresikan bilirubin apabila zat ini telah di modifikasi dari hati dan usus (Sherwood, 1996).
Pada bilirubin langsung atau terkonjugasi kerap muncul akibat ikterus obstruktif, baik yang
bersifat ekstrahepatika yaitu akibat pembentukan batu atau tumor maupun yang bersifat
intrahepatika. Bilirubin terkonjugasi tidak dapat keluar dan empedu menuju usus sehingga
kembali diabsorbsi oleh darah. Sel hati yang rusak dapat menyebabkan hambatan sinosit empedu
sehingga meningkatkan kadar bilirubin langsung maupun tidak langsung (Joice, 2002).
Apabila jumlah bilirubin yang dibentuk lebih cepat dan pada dieksresikan, maka terjadi
penimbulan bilirubin pada tubuh. Efeknya adalah ikterus, yaitu tubuh pasien tampak kuning.
Warna ini tampak jelas pada bagian mata. Ikterus sendiri ditimbulkan oleh tiga mekanisme, yaitu
1) ikterus prahepatik atau hemolik yaitu ikterus yang disebabkan oleh penguraian (hemolisis)
berlebihan sel darah merah sehingga hati lebih banyak bilirubin dan pada kemampuan
normalnya. 2) ikterus hakpatik yaitu ikterus yang terjadi jika hati sakit sehingga tidak mampu
menangani beban normal bilirubin. 3) ikterus pascahepatik atau obstruktif yaitu ikterus yang
terjadi jika duktus bitaris tersumbat.