Anda di halaman 1dari 21

PENGKAJIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

Pengkajian keperawatan komunitas merupakan suatu proses tindakan


untuk mengenal komunitas. Mengidentifikasi faktor positif dan negative yang
berbenturan dengan masalah kesehatan dari masyarakat hingga sumber daya yang
dimiliki komunitas dengan tujuan merancang strategi promosi kesehatan. Pada
tahap pengkajian ini perlu didahului dengan sosialisasi program perawatan
kesehatan komunitas serta program apa saja yang akan dikerjakan bersama–sama
dalam komunitas tersebut.
Yang dapat dikaji berupa :
Data inti :
1. Usia yang berisiko
2. Pendidikan
3. Jenis kelamin
4. Pekerjaan
5. Agama
6. Keyakinan
7. Nilai – nilai
8. Riwayat komunitas, yang dapat merupakan stressor timbulnya
gangguan Yang perlu dikaji pada kelompok atau komunitas
adalah :
a. Core atau inti: data demografi kelompok atau komunitas yang
terdiri: umur, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, agama,
nilai-nilai, keyakinan serta riwayat timbulnya kelompok atau
komunitas.
b. Delapan subsistem yang mempengaruhi komunitas (Betty
Neuman) :
 Perumahan
 Pendidikan
 Keamanan dan keselamatan di lingkungan tempat tinggal
 Politik dan kebijakan pemerintah terkait dengan kesehatan
 Pelayanan kesehatan yang tersedia .
 System komunikasi
 Ekonomi
 Rekreasi
c. Status kesehatan komunitas
Status kesehatan komunitas dapat dilihat dari biostatistik
dan vital statistic, antara lain angka mortalitas, angka morbiditas,
IMR, MMR, serta cakupan imunisasi.

Data Subsistem
1. Perumahan yang dihuni penduduk.
2. Status pendidikan, sarana pendidikan
3. Pelayanan perlindungan

4. Politik dan kebijakan

5. Health & Social Services berupa PKK, Karang taruna, panti


, LKMD, Posyandu dan lain-lain

6. Sarana komunikasi

7. Sosial ekonom

8. Rekreasi

Langkah pengkajian :

1. Mengumpulkan data primer


a) Wawancara
 Masyarakat
 Tokoh masyarakat
 Kader
 Aparat kelurahan / desa
 Pemerintah Daerah setempat
b). Observasi
 Norma
 Nilai
 Keyakinan
 Struktur kekuatan
 Proses penyelesaian masalah
 Dinamika kelompok masyarakat
 Pola komunikasi
 Situasi/ kondisi lingkungan wilayah
 Mengumpulkan data sekunder
2. Membahas data yang terkumpul
Kegiatan yang dilakukan yaitu Lokakarya mini atau pertemuan
khusus pada forum koordinasi. Melalui pembahasan ini dirumuskan
masalah serta mencari penyebabnya.

DIMENSI LOKASI
(data Dimensi lokasi bisa mengambil dari data Rt/Rw/Desa/Kecamatan)
a. Batasan Komunitas
b. Batas wilayah dan peta wilayah dari tempat praktek
c. Karakteristik batasan wilayah (zona wilayah)
d. Lokasi Pelayanan Kesehatan
e. Tempat dan jarak pelayanan kesehatan
f. Cara mencapai lokasi yankes
1.  Gambaran Geografis
a. Kesuburan dan peta topografi
b. Kemiringan dan ketinggian tanah
c. Iklim
d. Curah hujan dan kelembaban
e. Prakiraan musim hujan dan kemarau
2. Flora dan Fauna
a. Jenis tanaman
b. Jenis hewan (ternak dan liar)
3. Lingkungan buatan
a. Sarana Olah Raga
b. Saranan Rekreasi
c. Lingkungan pemukiman

DIMENSI POPULASI
1. Ukuran
Jumlah Penduduk
Laki-laki
Perempuan
Jumlah kepala Keluarga
2. Kepadatan
a. Perbandingan jumlah penduduk dengan luas wilayah
keseluruhan
b. Perbandingan jumlah penduduk dengan luas wilayah
pemukiman
c. Distribusi penduduk berdasarkan kelompok umur dan
jenis kelamin

3. Budaya Penduduk
a. Latar Belakang budaya / etnik penduduk
b. Sejarah Budaya Penduduk

4. Mobilitas Penduduk
a. Jenis Kependudukan
b. Pemanfaatan waktu oleh penduduk

PRINSIP COMMUNITY AS PARTNER


Konsep Community as Partnerdiperkenalkan Anderson dan McFarlane.

Model ini merupakan pengembangan dari model Neuman yang menggunakan

pendekatan totalitas manusia untuk menggambarkan status kesehatan klien.

Neuman memandang klien sebagai sistem terbuka dimana klien dan

lingkungannya berada dalam interaksi yang dinamis. Menurut Neuman, untuk

melindungi klien dari berbagai stressor yang dapat mengganggu keseimbangan,

klien memiliki tiga garis pertahanan, yaitu fleksible line of defense, normal line of

defense, dan resistance defense.

Agregat klien dalam model Community as Partner ini meliputi intrasistem

dan ekstrasistem. Intrasistem terkait adalah sekelompok orang-orang yang

memiliki satu atau lebih karakteristik (Stanhope & Lancaster, 2004). Agregat

ekstrasistem meliputi delapan subsistem yaitu komunikasi, transportasi dan

keselamatan, ekonomi, pendidikan, politik dan pemerintahan, layanan kesehatan

dan sosial, lingkungan fisik dan rekreasi (Helvie, 1998; Anderson & McFarlane,

2000; Ervin, 2002; Hitchcock, Schubert, Thomas, 1999; Stanhope & Lancaster,

2004; Allender & Spradley, 2005).

Delapan subsistem dipisahkan dengan garis putus-putus artinya sistem satu

dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Di dalam komunitas ada lines of

resistance, merupakan mekanisme internal untuk bertahan dari stressor. Rasa

kebersamaan dalam komunitas untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan

contoh dari line of resistance. Anderson dan McFarlane (2000) mengatakan


bahwa dengan menggunakan model Community as Partnerterdapat dua

komponen  utama yaitu roda pengkajian komunitas dan proses keperawatan. Roda

pengkajian komunitas terdiri dari dua bagian utama yaitu inti dan delapan

subsistem yang mengelilingi inti yang merupakan bagian dari pengkajian

keperawatan, sedangkan proses keperawatan terdiri dari beberapa tahap mulai dari

pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

Komunitas sebagai klien/partner berarti kelompok masyarakat tersebut

turut berperan serta secara aktif meningkatkan kesehatan, mencegah dan

mengatasi masalah kesehatannya.

WINDSHEILD SURVEY

Windshield Survey merupakan pengamatan terhadap suatu wilayah untuk


mendapatkan gambaran umum situasi dan keadaan suatu wilayah, yang didapat
melalui wawancara dengan penduduk setempat, tokoh masyarakat dan observasi
lingkungan. Gambaran umum tersebut dapat digunakan sebagai langkah awal
dalam penentuan masalah yang ada di dalam suatu wilayah tersebut. Baik masalah
kesehatan maupun masalah maladaptive lainnya yang ada dalam suatu wilayah (
Efendi, Ferry. 2009).
Windshield Survey adalah cara pengumpulan data dengan berkendaraan
atau berjalan-jalan di sepanjang lingkungan yang diamati. Pengamatan dilakukan
menggunakan penglihatan, pendengaran, rasa, penciuman, dan sentuhan.
Windshield Survey merupakan tahapan awal yang baik untuk memberikan
gambaran tentang masyarakat luas secara keseluruhan (Maulana, H. D. J. 2007).
Windshield survey yaitu survey dengan berjalan mengelilingi
wilayah komunitas dengan melihat beberapa komponen .
Hal-hal yang harus diperhatikan:
1. Data yang dikumpulkan bersifat subjektif, maka bagian dari data
tidak harus digunakan sebagai fakta dalam pengkajian komunitas.
2. Data hasil windshield survey harus dikombinasikan dengan jenis
dan sumber data lain untuk menetapkan diagnosis keperawatan
komunitas, karena satu bagian data saja tidak adekuat untuk
membuat kesimpulan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN KOMUNITAS


Diagnosa keperawatan  adalah suatu pernyataan yang menjelaskan 
respons manusia (status kesehatan atau  resiko perubahan pola) dari individu atau 
kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasaikan dan
memberikan interfensi secara pasti untuk menjaga status  kesehatan  menurunkan
membatasi ,mencegah ,dan  merubah ( Carpenito,2010).

            Diagnosa Keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon


individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau
potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara
akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk
menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien
(Carpenito, 2000; Gordon, 2014 & NANDA).

NANDA Menyatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah “keputusan


klinik tentang respon individu ,keluarga dan masyarakat tentang masalah
kesehatan actual atau potensial ,sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan
untuk mencapai tujuan asuhan  keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat 
“semua diagnosa keperawatan harus didukung oleh data ,dimana menurut
NANDA  diartikan sebagai”definisi karaktristik “definisi karakterristik di
namakan “tanda dan gejalah “tanda adalah suatu yang dapat diobossitas dan 
gejalah adalahb sesuatu yang di rasakan oleh klien.

INTERVENSI KEPERAWATAN KOMUNITAS

Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan


keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan
diagnosis eperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya
kebutuhan pasien ( Pender,N. Murdaugh,C, Parsons, M.2015).

Jadi perencanaan asuhan keperawatan kesehatan masyarakat disusun


berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan dan rencana
keperawatan yaitu :

1. Observasi. Observasi diperlukan dalam pelaksanaan keperawatan .


Observasi dilakukan sejak pengkajian awal dilakukan dan merupakan
proses yang terus menerus selama melakukan kunjungan (Hitchcock,
Schubert & Thomas, 1999). Lingkungan yang perlu diobservasi yaitu
keadaan, kondisi rumah, interaksi antar keluarga, tetangga dan
komunitas. Observasi diperlukan untuk menyusun dan
mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada .

2. Terapi modalitas. Terapi modalitas adalah suatu sarana penyembuhan


yang diterapkan pada dengan tanpa disadari dapat menimbulkan
respons tubuh berupa energi sehingga mendapatkan efek penyembuhan
(Starkey, 2004). Terapi modalitas yang diterapkan pada, yaitu:
manajemen nyeri, perawatan gangren, perawatan luka baru, perawatan
luka kronis, latihan peregangan, range of motion, dan terapi hiperbarik.

3. Terapi komplementer (complementary and alternative


medicine/CAM). Terapi komplementer adalah penyembuhan alternatif
untuk melengkapi atau memperkuat pengobatan konvensional maupun
biomedis (Cushman & Hoffman, 2004; Xu, 2004) agar bisa
mempercepat proses penyembuhan. Pengobatan konvensional
(kedokteran) lebih mengutamakan penanganan gejala penyakit,
sedangkan pengobatan alami (komplementer) menangani penyebab
penyakit serta memacu tubuh sendiri untuk menyembuhkan penyakit
yang diderita (Sustrani, Alam & Hadibroto, 2005).
Ranah terapi komplementer dan bentuk-bentuk terapi komplementer
(Cushman & Hoffman, 2004):
1. Pengobatan alternative : Terapi herbal, akupunktur, pengobatan
herbal Cina
2. Intervensi tubuh dan pikiran : Meditasi, hipnosis, terapi perilaku,
relaksasi Benson, relaksasi progresif, guided imagery, pengobatan
mental dan spiritual
3. Terapi bersumber bahan organik : Terapi diet , terapi jus,
pengobatan orthomolekuler (terapi megavitamin), bee pollen, terapi
lintah, terapi larva
4. Terapi pijat, terapi gerakan somatis, dan fungsi kerja tubuh : Pijat
refleksi, akupresur, perawatan kaki, latihan kaki, senam
5. Terapi energi : Qigong, reiki, terapi sentuh, latihan seni pernafasan
tenaga dalam, Tai Chi
6. Bioelektromagnetik : Terapi magnet
Bentuk intervensi terapi modalitas dan komplementer memerlukan
kajian dan pengembangan yang disesuaikan dengan peran dan fungsi
perawat, terutama pada agregat .

PROMOSI KESEHATAN
Promosi kesehatan adalah upaya meningkatkan kemampuan masyarakat
melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka
dapat mandiri menolong diri sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang
bersumber daya masyarakat sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat dan
didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. (Depkes RI, 2007).
Program promosi kesehatan memiliki tiga tingkat, yaitu (Barker, 2007):
1. kesehatan primer cenderung berfokus pada orang-orang yang sehat dan
berfokus pada sekitar layanan seperti klinik untuk wanita, klinik bayi,
pesan seks yang aman, imunisasi anak (Barker, 2007). Tugas promosi
kesehatan tingkat ini seperti pencegahan yang bertujuan untuk mencegah
penyakit dan cedera, meningkatkan homeostasis biologis, dan self-
regulation tubuh dengan menyebarluaskan informasi kesehatan dengan
selektif yang berasal dari medis yang berkaitan dengan individu tentang
faktor risiko dan tindakan pencegahan yang terkait (Piper, 2009).
2. Promosi kesehatan sekunder berfokus pada orang-orang yang sudah
sakit dan perawat dalam situasi ini akan berusaha untuk membantu orang
kembali ke keadaan sehat (Barker, 2007). Tujuan dari manajemen diri
pasien yang memiliki cedera atau penyakit adalah untuk memaksimalkan
peluang pemulihan secara penuh, pemulihan fungsi dan untuk
meminimalkan risiko terjadinya komplikasi atau munculnya kembali
penyakit (Piper, 2009).
3. Promosi kesehatan pencegahan tersier berfokus pada situasi di mana
seorang pasien atau klien memiliki masalah kesehatan yang sedang
berlangsung atau cacat, misalnya pada orang yang memiliki kanker yang
agresif, mereka dapat ditawarkan perawatan paliatif untuk meningkatkan
kualitas hidup mereka dan menjadi sejahtera sebagai bentuk promosi
kesehatan (Piper, 2009; Barker, 2007).

a. Model Promosi Kesehatan


Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal
(fisik dan psikis) maupun faktor eksternal (sosial, budaya, lingkungan fisik,
politik, ekonomi seta pendidikan). Hal tersebut dapat menjadi latar belakang
dikembangkannya model-model kesehatan. Model-model promosi kesehatan
tersebut di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Health Belief Model (HBM), merupakan model kognitif, yang digunakan
untuk meramalkan perilaku  peningkatan kesehatan yang digunakan untuk
menjelaskan kegagalan partisipasi masyarakat secara luas dalam program
pencegahan atau deteksi penyakit. Menurut HBM, kemungkinan seseorang
melakukan tindakan pencegahan dipengaruhi oleh keyakinan dan penilaian
kesehatan (Maulana,  2009) yang di pengaruhi oleh :
a. Ancaman yang dirasakan dari sakit atau luka (perceived threat of injury
or illness). Hal ini berkaitan dengan sejauh mana seseorang berpikir
bahwa penyakit atau kesakitan betul-betul merupakan ancaman bagi
dirinya. Oleh karena itu, jika ancaman yang dirasakan meningkat,
perilaku pencegahan juga akan meningkat.
b. Keuntungan dan kerugian (benefits and costs). Pertimbangkan antara
keuntungan dan kerugian perilaku untuk memutuskan melakukan
tindakan pencegahan atau tidak.
c. Petunjuk berperilaku. Petunjuk berperilaku disebut sebagai keyakinan
terhadap posisi yang menonjol. Hal ini berupa berbagai informasi dari
luar atau nasihat mengenai permasalah kesehatan (misalnya media
massa, kampanye, nasihat orang lain, penyakit dari anggota keluarga
yang lain atau teman).
HBM memiliki fungsi sebagai model pencegahan atau preventif (Stanley &
Maddux; 1986 dalam Community Health Nursing, 2010). 6 komponen dari
HBM ini, yaitu :
1. Perceived Susceptibility (kerentanan yang dirasakan). Contohnya
seseorang percaya kalau semua orang berpotensi terkena kanker.
2. Perceived Severity (bahaya/kesakitan yang dirasakan). Contohnya
individu percaya kalau merokok dapat menyebabkan kanker. 
3. Perceived Benefits (manfaat yang dirasakan dari tindakan yang
diambil).Contohnya melakukan perilaku sehat seperti medical check
up rutin selain itu kalau tidak merokok, dia tidak akan terkena kanker.
4. Perceived Barriers (hambatan yang dirasakan akan tindakan yang
diambil).Contohnya kalau tidak merokok tidak enak, mulut terasa
asam. 
5. Cues to Action (isyarat untuk melakukan tindakan).Saran dokter atau
rekomendasi menjadi cues to action untuk bertindak dalam konteks
berhenti merokok.
6. Self Efficacy. Merasa percaya diri dengan perilaku sehat yang
dilakukan
2. Theory of  Reasoned Action (TRA), digunakan dalam berbagai perilaku
manusia, khususnya berkaitan dengan masalah sosiopsikologis, kemudian
berkembang dan banyak digunakan untuk menentukan faktor-faktor yang
berkaitan dengan perilaku kesehatan. (Maulana, 2009) Teori ini
menghubungkan antara keyakinan (beliefs),sikap (attitude), kehendak
(intention),  dan perilaku.. TRA Merupakan model untuk meramalkan
perilaku preventif dan telah digunakan dalam berbagai jenis perilaku sehat
yang berlainan, seperti pengaturan penggunaan substanti terterntu (merokok,
alcohol, dan narkotik), perilaku makan dan pengaturan makan, pencegahan
AIDS dan penggunaan kondom dll.  (Maulana, 2009)      
 Keuntungan TRA. Teori TRA pegangan untuk menganalisis komponen
perilaku dalam item yang operasional.  Fokus sasaran prediksi dan
pengertian perilaku yang dapat diamati secara langsung dan berada
dalam kendali seseorang, artinya perilaku sasaran harus diseleksi dan
diidentifikasi secara jelas.
 Kelemahan TRA. Kelemahan TRA adalah tidak mempertimbangkan
pengalaman sebelumnya dengan perilaku dan mengabaikan akibat-akibat
jelas dari variable eksternal terhadap pemenuhan  intensi perilaku.

3. Transteoritikal Model (TTM), adalah kerelaan individu untuk berubah,


yaitu  merubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat, dan yang sehat
menjadi lebih sehat lagi. Terbagi menjadi 5 tahap yaitu :
1) Pre-contemplation. Individu tidak mengetahui adanya masalah dan
tidak memikirkan adanya perubahan.
2) Contemplation.Individu berfikir tentang perubahan di masa yang akan
datang dengan cara memberi dukungan dan motivasi.
3) Decission/ determination. Membuat rencana perubahan namun butuh
bantuan dalam mengembangkan dan mengatur tujuan dan rencana
tindakan.
4) Action. Implementasi dari rencana dan tindakan spesifik dapat dibantu
dengan diberikannya umpan balik dan dukungan sosial.
5) Maintenance. Individu dapat menunjukan tindakan yang ideal dan
mampu mengulangi tindakan yang direkomendasikan secara berkala.

4. PRECEDE dan PROCEED Model. Model ini dikembangkan untuk


diagnosis mengenai pendidikan mulai dari kebutuhan pendidikan
sampaipengembangan program. PRECEDE merupakan
kependekandari Predisposing, Reinforcing, and Enable Causes in
Educational Diagnosis and Evaluation. Terdapat tujuh tahap dalam
merumuskan diagnosis dalam model ini, yaitu: diagnosis sosial, diagnosis
epidemologi, diagnosis perilaku dan lingkungan, diagnosis pendidikan.
Perawat dapat mengembangkan pernyataan diagnosa yang menggambarkan
pendidikan apa yang dibutuhkan oleh klien (Ivanov & Blue, 2008).
PROCEED yang merupakan kependekan dari Policy, Regulatory, and
Organizational Construct for Educational and Enviromental
Development digunakan untuk merencanakan, mengimplementasi, dan
mengevaluasi dalam program pendidikan kesehatan. Model ini terdiri dari
empat tahap implementasi, proses, dampak, dan evaluasi hasil dari proses
pendidikan (Ivanov & Blue,  2008).
Fokus model ini adalah mempengaruhi individu, kelompok dan masyarakat
untuk berperilaku sehat dalam diagnosa, pendidikan dan evaluasi. Green &
Kreuter (2005) dalam Saifah (2011) mendefinisikan bahwa terdapat tiga
faktor yang dapat digunakan dalam menginvestigasi perilaku yang
berkontribusi terhadap status kesehatan, yaitu :
a. Faktor predisposisi (predisposing factor) 
b. Faktor pemungkin (enabling factor) 
c. Faktor penguat (reinforcing factor) 

METODE BOLA SALJU

Dalam rangka mengaktifkan masyarakat dalam pembelajaran perlu


diupayakan dengan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang bervariasi.
Salah satu metode promosi yang bisa mengaktifkan masyarakat adalah metode
snow balling.
Dinamakan metode snow balling dikarenakan dalam pembelajaran
masyarakat melakukan tugas individu kemudian berpasangan. Dari pasangan
tersebut kemudian mencari pasangan yang lain sehingga semakin lama anggota
kelompok   semakin besar bagai bola salju yang menggelinding.
Metode ini digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari
masyarakat secara bertingkat. Dimulai dari kelompok yang lebih kecil berangsur-
angsur kepada kelompok yang lebih besar sehingga pada akhirnya akan
memunculkan dua atau tiga jawaban yang telah disepakati oleh masyarakat secara
kelompok.

Langkah-langkah penerapan:
1. Sampaikan topik materi yang akan diajarkan.
2. Minta siswa untuk menjawab secara berpasangan.
3. Setelah siswa yang bekerja berpasangan tadi mandapatkan
jawaban, pasangan tadi digabung dengan pasangan di sampingnya.
Dengan demikian terbentuk kelompok yang beranggotakan 4 orang.

4. Kelompok berempat ini bekerja mengerjakan tugas yang sama


seperti dalam kelompok 2 orang. Tugas ini dapat dilakukan dengan
membandingkan jawaban kelompok 2 orang dengan kelompok 2 orang
lainnya. dalam kegiatan ini perlu dipertegas bahwa jawaban harus
disepakati oleh semua anggota kelompok yang baru.

5. Setelah kelompok berempat ini selesai mengerjakan tugas, setiap


kelompok digabung lagi dengan kelompok berempat lainnya. Dengan
demikian sekarang setiap kelompok baru beranggotakan 8 orang.

6. Yang dikerjakan pada kelompok baru ini sama dengan tugas pada
langkah ke-4 di atas. Langkah ini dapat dilanjutkan sesuai dengan jumlah
siswa dan waktu yang tersedia.

7. Masing-masing kelompok diminta menyampaikan hasil diskusinya


di depan kelas.

8. Guru akan membandingkan hasil dari masing-masing kelompok


kemudian memberikan ulasan-ulasan yang dianggap perlu.

UPAYA PREVENTIF, KURATIF DAN REHABILITATIF


 
1. Upaya Preventif

Upaya preventif ditujukan untuk mencegah terjadinya penyakit dan


gangguan terhadap kesehatan terhadap individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat melalui kegiatan :

a. Imunisasi massal terhadap bayi, balita serta ibu hamil


b. Pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui Posyandu, Puskesmas
maupun kunjungan rumah

c. Pemberian vitamin A dan yodium melalui Posyandu, Puskesmas ataupun


di rumah

d. Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan meyusui

2. Upaya Kuratif

Upaya kuratif ditujukan untuk merawat dan mengobati anggota-anggota


keluarga, kelompok dan masyarakat yang menderita penyakit atau masalah
kesehatan, melalui kegiatan:

a. Perawatan orang sakit di rumah (home nursing)

b. Perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut perawatan dari Puskesmas dan
rumah

c. sakit.

d. ibu hamil dengan kondisi patologis di rumah, ibu bersalin dan nifas.

e. Perawatan payudara

f. Perawatan tali pusat bayi baru lahir

3. Upaya Rehabilitatif

Upaya rehabilitatif merupakan upaya pemulihan kesehatan bagi penderita-


penderita yang dirawat di rumah, maupun terhadap kelompok-kelompok tertentu
yang menderita penyakit yang sama, misalnya Kusta, TBC, cacat fisik dan
lainnya, dilakukan melalui kegiatan:

a. Latihan fisik, baik yang mengalami gangguan fisik seperti penderita


Kusta, patah tulang mapun kelainan bawaan
b. Latihan-latihan fisik tertentu bagi penderita-penderita penyakit tertentu,
misalnya TBC, latihan nafas dan batuk, penderita stroke: fisioterapi
manual yang mungkin dilakukan oleh perawat

EVALUASI KEPERAWATAN KOMUNITAS


Menurut Ziegler, Voughan – Wrobel, & Erlen (1986) dalam Craven &
Hirnle (2000), evaluasi terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Evaluasi struktur
Evaluasi struktur difokuskan pada kelengkapan tata cara atau keadaan
sekeliling tempat pelayanan keperawatan diberikan. Aspek lingkungan
secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi dalam pemberian
pelayanan. Persediaan perlengkapan, fasilitas fisik, rasio perawat-klien,
dukungan administrasi, pemeliharaan dan pengembangan kompetensi staf
keperawatan dalam area yang diinginkan.
b. Evaluasi proses
Evaluasi proses berfokus pada penampilan kerja perawat dan apakah
perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan merasa cocok, tanpa
tekanan, dan sesuai wewenang. Area yang menjadi perhatian pada evaluasi
proses mencakup jenis informasi yang didapat pada saat wawancara dan
pemeriksaan fisik, validasi dari perumusan diagnosa keperawatan, dan
kemampuan tehnikal perawat.
c. Evaluasi hasil
Evaluasi hasil berfokus pada respons dan fungsi klien. Respons prilaku
klien merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan dan akan terlihat
pada pencapaian tujuan dan kriteria hasil.

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN KOMUNITAS


Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi
kestatus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang
diharapkan (Gordon, 1994., dalam Potter & Perry, 1997).

Ukuran intervensi keperawatan yang diberikan kepada klien terkait dengan


dukungan, pengobatan, tindakan untuk memperbaiki kondisi, pendidikan untuk
klien-keluarga, atau tindakan untuk mencegah masalah kesehatan yang muncul
dikemudian hari.
Menurut Craven dan Hirnle (2000) secara garis besar terdapat tiga kategori
dari implementasi keperawatan, antara lain:
a. Cognitive implementations, meliputi pengajaran/ pendidikan,
menghubungkan tingkat pengetahuan klien dengan kegiatan hidup
sehari-hari, membuat strategi untuk klien dengan disfungsi
komunikasi, memberikan umpan balik, mengawasi tim keperawatan,
mengawasi penampilan klien dan keluarga, serta menciptakan
lingkungan sesuai kebutuhan, dan lain lain.
b. Interpersonal implementations, meliputi koordinasi kegiatan-kegiatan,
meningkatkan pelayanan, menciptakan komunikasi terapeutik,
menetapkan jadwal personal, pengungkapan perasaan, memberikan
dukungan spiritual, bertindak sebagai advokasi klien, role model, dan
lain lain.
c. Technical implementations, meliputi pemberian perawatan kebersihan
kulit, melakukan aktivitas rutin keperawatan, menemukan perubahan
dari data dasar klien, mengorganisir respon klien yang abnormal,
melakukan tindakan keperawatan mandiri, kolaborasi, dan rujukan,
dan lain-lain.

METODE PROMOSI KESEHATAN


Pelaksanaan promosi kesehatan agar dapat menarik perhatian masyarakat untuk
mengikutinya, perlu memperhatikan metode yang digunakan dalam promosi
kesehatan.  Metode promosi kesehatan merupakan cara atau pendekatan tertentu
yang digunakan dengan tujuan tercapainya tujuan dari proses promosi kesehatan
(Effendi & Makhfudli, 2009). Pendidik harus dapat memilih dan menggunakan
metode (cara) mengajar yang cocok atau relevan, sesuai dengan kondisi setempat.
Meskipun berlaku pedoman umum bahwa tidak ada satu pun metode belajar yang
paling baik dan tidak ada satu pun metode belajar yang berdiri sendiri (Maulana,
2009).
Secara garis besar metode dalam proses promosi kesehatan terdapat dua
jenis metode, yaitu metode didaktif dan metode sokratik (Maulana, 2009). 

a. Metode didaktif, didasarkan atau dilakukan secara satu arah atau one way
method, misalnya ceramah, film, leaflet, buklet, poster, dan siaran radio). 
b. Metode sokratik, dilakukan secara dua arah atau two way method.
Metode ini kemungkinan antara pendidik dan peserta didik bersikap aktif
dan kreatif, misalnya diskusi kelompok, debat, panel, forum, buzzfgroup,
seminar, bermain peran, sosiodrama, curah pendapat, demonstrasi, studi
kasus, lokakarya, dan penugasan perorangan). 
Pemilihan metode promosi kesehatan harus dilakukan secara cermat dan
tepat agar menjadi metode belajar yang efektif dan efisien ini harus
mempertimbangkan hal-hal berikut.
1. Hendaknya disesuaikan dengan tujuan pendidikan
2. Bergantung pada kemampuan guru atau pendidiknya
3. Kemampuan pendidik
4. Bergantung pada besarnya kelompok sasaran atau kelas
5. Harus disesuaikan dengan waktu pemerian atau penyampaian pesan.
6. Hendaknya mempertimbangkan fasilitas-fasilitas yang ada. 

Metode pembelajaran selain terdapat dua jenis, metode pun menurut


Notoatmodjo, 2007) ; Maulana (2009), diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu,
metode pendidikan individu, kelompok, dan massa. Memiliki pendapat yang sama
menurut Departemen Kesehatan RI menggolongkan metode promosi kesehatan
berdasarkan jumlah sasaran yang ingin dicapai yaitu, pendekatan perorangan,
pendekatan kelompok, dan pendekatan massal. 
1. Metode pendidikan individu
a. Bimbingan berisi penyampaian inforasi yang berkenaan dengan masalah
pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan masalah sosial yang disajikan dalam
bentuk pelajaran.
b. Konseling adalah proses belajar yang bertujuan memungkinkan konseling
(peserta didik) mengenal dan menerima diri sendiri serta realistis dalam
proses penyelesaian dengan lingkungannya (Nurihsan, 2005)
dalam (Maulana, 2009). 
2. Metode pendidikan kelompok
a. Ceramah, ialah pidato yang disampaikan oleh seorang pembicaraa di
depan sekelompok pengunjung atau pendengar. Metode ini dipergunakan
sesuai kondisi–kondisi tertentu. 
b. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu atau beberapa ahli
tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat
dimasyarakat. 
c. Diskusi kelompok, percakapan yang direncakan atau dipersiapkan di
antara tuga orang atau lebih tentang topik tertentu dan salah seorang di
antaranya memimpin diskusi tersebut. 
d. Bermain peran (role play), peserta diminta memainkan atau memerankan
bagian-bagian dari berbagai karakter dalam suatu kasus.
e. Simulasi, suatu cara peniruan karakteristik-karakteristik atau perilaku-
perilaku tertentu dari dunia rill sehingga para peserta latihan dapat
berekasi seperti pada keadaan sebenarnya.
3. Metode pendidikan massa
Metode pendidikan massa dilakukan untuk mengonsumsikan pesan-pesan
kesehatan yang ditujukan untuk masyarakat. Pesan yang ingin disampaikan
perlu dirancang agar dapat ditangkap oleh massa.
Metode kesehatan pun dapat digolongkan berdasarkan teknik komunikasi
dan indera penerima dari sasaran promosi kesehatan.
1. Berdasarkan teknik komunikasi
a. Metode penyuluhan langsung.
b. Metode yang tidak langsung.
2. Berdasarkan indera penerima
a. Metode melihat/memperhatikan.
b.      Metode pendengaran
c.       Metode “kombinasi”