Anda di halaman 1dari 8

“ MAKALAH PRINSIP DASAR ASURANSI DAN POLIS

ASURANSI “

DOSEN PEMBIMBING : ADITYA RUSLI, SE., MM.


KELOMPOK 7

1. DEDIK SAMPURNA 17120045

2. IVAN NOVIESTA S 17120031

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA


(STIE) INDONESIA MALANG
Prinsip Dasar dalam Asuransi dan Polis Asuransi

Ø  Prinsip – prinsip Dasar Asuransi


Pelaksanaan perjanjian asuransi antara perusahaan asuransi dengan pihak nasabahnya
tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Setiap perjanjian dilakukan mengandung prinsip-
prinsip asuransi. Tujuannya adalah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian
hari antara pihak perusahaan asuransi dengan pihak nasabahnya.
Prinsip-prinsip asuransi yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1.      Insurable interest  merupakan hal berdasarkan hukum untuk mempertanggungkan suatu risiko
berkaitan dengan keuangan, yang diakui sah secara hukum antara tertanggung dan suatu yang
dipertanggungkan dan dapat menimbulkan hak dan kewajiban keuangan secara hukum. Semua
ini tergambar dari kontak asuransi, kemudian dalam terhadap barang yang dipertanggungkan.
Contoh Insurable interest adalah mengasuransikan rumah yang dibangun atau mengasuransikan
toko beserta isinya.
2.      Utmost good faith atau “itikat baik” dalam penetapan setiap suatu kontrak haruslah
didasarkan kepada iktikad baik antara tertanggung dan penanggung mengenai seluruh informasi
baik materiil maupun immateril.
3.      Indemnity berarti mengembalikan posisi finansial tertanggung setelah terjadi kerugian seperti
pada posisi sebelum terjadinya kerugian tersebut. Dengan demikian, indemnity merupakan
prinsip ganti rugi oleh penanggung terhadap tertanggung. Prinsip ini tidak berlaku bagi kontrak
asuransi jiwa atau asuransi kecelakaan karena prinsip indemnity ini berkaitan dengan
penggantian kerugian finansial yang dialami tertanggung. Oleh karena itu, indemnity dapat
diartikan sebagai suatu mekanisme dimana penanggung memberikan ganti rugi atau kompensasi
finansial kepada tertanggung untuk mengembalikan posisi finansial tertanggung sama seperti
sebelum terjadinya kerugian. Menurut perinsip ini, tertanggung tidak dibenarkan memperoleh
pembayaran ganti rugi melebihi kepentingan tertanggung terhadap objek yang dipertanggungkan
tersebut.
4.      Proximate Cause
Proximate cause adalah suatu sebab aktif, efisien, yang mengakibatkan terjadinya suatu
peristiwa secara berani tanpa intervensi suatu kekuatan lain, yang diawali dan bekerja dengan
aktif dari suatu sumber baru dan independen. Seperti diketahui, kontrak  asuransi yang
dinyatakan dalam polis hanya menangung jenis risiko tertentu saja dan polis umumnya
menyebabkan beberapa persyaratan pengecualian mengenai risiko yang tidak ditanggung. Dalam
kaitan itulah asuransi harus memahami betul hubungan antar risiko yang merupakan bagian yang
dijamin oleh polis dengan prinsip proximate cause.
5. Subrogasi dan Kontribusi
·         Subrogasi
Subrogasi atau subrigation pada prinsipnya merupakan hak penanggung, yang telah memberikan
ganti rugi kepada tertanggung, untuk menuntut pihak lain yag mengakibatkan kepentingan
asuransinya mengalami suatu peristiwa kerugian. Prinsip indemnity didasarkan pada suatu
ketentuan bahwa tertanggung tidak boleh menerima ganti rugi melebihi apa yang diperjanjikan
dalam polis. Atau dengan kata lain, prinsip indemnity menempatkan tertanggung pada keadaan
keuangan yang sama sebelum terjadi kerugian atau peristiwa. Dengan adanya prinsip subrogasi
ini, tertanggung tidak dimungkinkan memperoleh ganti rugi yang lebih besar daripada kerugian
yang benar – benar dideritanya. Misalnya, dalam asuransi kendaraan bermotor, apabila
tertanggung mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan mobilnya rusak karena
ditabrak oleh pengendara lain, maka proses pembayaran ganti rugi dapat dilakukan dengan
penanggung mengganti kerugian/kerusakan pihak tertanggung. Kemudian, penanggung
menuntut pembayaran ganti rugi dari penabrak yang menyebabkan timbulnya kerugian. Dalam
hal ini, tertanggung tidak berhak lagi meminta ganti rugi dari penabrak. Hak melakukan tuntutan
ganti rugi kepada pihak penabrak oleh penanggung disebut hak subrogasi.
·         Kontribusi
Prinsip kontribusi merupakan salah satu akibat wajar dari prinsip indeminity. Prinsip kontibusi
pada dasarnya adalah suatu prinsip dimana penanggung berhak mengajak penanggung –
penanggung lain yang memiliki kepentingan yang sama untuk ikut serta membayar ganti rugi
kepada seorang tertanggung meskipun jumlah tanggungan masing – masing penanggung belum
tentu sama besar. Hal tersebut dapat saja terjadi apabila tertanggung, dalam waktu yang
bersamaan mempertanggungkan suatu benda atas suatu risiko yang sama kepada beberapa
penanggung. Dalam kondisi tersebut, apabila terjadi klaim maka masing – masing penanggung
harus membayar ganti rugi secara proporsional dengan jumlah yang ditanggungnya.

Ø POLIS ASURANSI
Polis asuransi adalah bukti tertulis atau surat perjanjian antara pihak-pihak yang
mengadakan perjanjian asuransi. Dengan adanya polis asuransi perjanjian antara kedua belah
pihak mendapatkan kekuatan secara hukum. Polis asuransi memuat hal-hal sebagai berikut:
1. Nomor polis
2. Nama dan alamat tertanggung
3. Uraian risiko
4. Jumlah pertanggungan
5. Jangka waktu pertanggungan
6. Besar premi, bea materai, dan lain-lain
7. Bahaya-bahaya yang dijaminkan
8. Khusus untuk polis pertanggungan kendaraan bermotor ditambah dengan nomor polisi, nomor
rangka, dan nomor mesin kendaraan.
Maka pihak yang dirugikan harus mempunyai  bukti yang nyata dan sah
Polis merupakan suatu perjanjian tertulis yang berisi kesepakatan antara pihak
perusahaan asuransi dengan pihak tertanggung. Dengan kata lain, polis merupakan bukti bahwa
telah terjadi perjanjian pertanggungan yang sah. Misalnya, Anda mendaftar asuransi untuk
kendaraan bermotor Anda. Ketika Anda selesai melakukan perjanjian dengan pihak asuransi,
Anda akan mendapatkan polis standar asuransi kendaraan bermotor Indonesia.
Polis Asuransi adalah sesuatu perjanjian asuransi atau pertanggungan bersifat konsensual
(adanya kesepakatan), harus dibuat secara tertulis dalam sesuatu akta antara pihak yang
mengadakan perjanjian. Pada akta yang dibuat secara tertulis itu dinamakan “polis”. Jadi, polis
adalah tanda bukti perjanjian pertanggungan yang merupakan bukti tertulis.

Ø MACAM – MACAM POLIS ASURANSI DISERTAI CONTOHNYA


Pengertian polis asuransi itu sendiri tidak hanya satu, tapi ada beberapa pengertian polis
asuransi dan bermacam-macam polis asuransi. Antara lain : 
1. Polis Kendaraan Bermotor
Suatu dokumen asuransi yang di dalamnya berisi kesepakatan antara pihak tertanggung
(pemegang polis) dengan pihak penanggung (pihak asuransi). Di dalam kontrak perjanjian ini
terlampir bahwa perusahaan asuransi tersebut akan menanggung sejumlah kerugian pada
kendaraan bermotor milik nasabah asuransi (pemegang polis) jika dimasa mendatang
terjadi suatu kerugian yang merugikan sang pemegang polis.

2. Voyage Policy (Polis Perjalanan)


Jenis polis yang menanggung asuransi bagi pemegang polis selama  berada dalam
perjalanan dari suatu tempat pemberangkatan, sampai sang pemegang polis tersebut kembali lagi
ke tempat pemberangkatan awal. Jadi masa berlakunya pertanggungan atas polis ini tidak
didasarkan pada suatu jangka waktu tertentu, tetapi berdasarkan pada suatu perjalanan/ pelayaran
tertentu saja dan meliputi barang bawaan sang pemilik polis.
3. Polis Asuransi Kesehatan
Sebuah dokumen yang secara khusus menjamin biaya kesehatan atau perawatan para
pemegang asuransi tersebut jika mereka jatuh sakit atau mengalami kecelakaan. Secara garis
besar ada dua jenis perawatan yang ditawarkan perusahaan-perusahaan asuransi, yaitu rawat inap
(in-patient treatment) dan rawat jalan (out-patient treatment).
4. Polis Asuransi Jiwa
Suatu Dokumen asuransi yang dapat menanggung seseorang terhadap kerugian finansial
tak terduga yang disebabkan karena meninggalnya terlalu cepat atau hidupnya terlalu lama. Di
dalam polis ini terlukis bahwa akan ada penggantian dari suatu perusahaan asuransi kepada sang
pemegang polis apabila terjadi Risiko kematian atau Hidup seseorang terlalu lama.
5. Polis Asuransi Rumah
Suatu dokumen dari perusahaan asuransi yang khusus untuk memberikan perlindungan
terhadap tempat tinggal anda dari musibah atau hal-hal yang tidak diinginkan oleh Anda.
Biasanya meliputi bangunan rumah tersebut dan properti didalamnya tergantung kebijakan
perusahaan asuransi.
6. Polis Ditaksir / Valued Policy
Merupakan sebuah polis atau dokumen kontrak pembayaran yang jumlah harga
pertanggungannya  dapat ditaksir. Di dalam polis dicantumkan syarat valued at atau so valued.
Polis ini dapat berupa polis perjalanan atau polis waktu atau polis yang lainnya.
7. Polis Tidak Ditaksir / Unvalued Policy
Polis ini adalah kebalikan dari valued policy. Harga pertanggungan yang dicantumkan
dalam polis diperlukan sebagai dasar untuk perhitungan premi asuransi dan batas maksimal ganti
rugi yang diberikan oleh perusahaan asuransi tersebut.
8. Polis Risiki Perang
Suatu dokumen kontrak yang menjamin sang pemegang polis saat berada di medan
perang, biasa di dalam polis itu menjamin biaya atas semua hal yang terjadi di medan perang,
kerugian atas kerusuhan dan kekacauan akibat perbuatan orang-orang jahat.
9. Polis Veem
Dokumen kontrak pembayaran yang menanggung barang selama berada di dalam gudang
atau suatu tempat dari kemungkinan risiko kerusakan, risiko kebakaran dan risiko kehilangan.

Ø PEMBUKTIAN POLIS ASURANSI BILA TERKADI KLAIM


Pasal 255 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (“KUHD”), perjanjian asuransi
harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut dengan “Polis”. Selain itu,
berdasarkanPasal 19 ayat (1) PP No. 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha
Perasuransian, Polis atau bentuk perjanjian asuransi dengan nama apapun, berikut lampiran
yang merupakan kesatuan dengannya, tidak boleh mengandung kata-kata, atau kalimat yang
dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda mengenai risiko yang ditutup asuransinya,
kewajiban penanggung dan kewajiban tertanggung, atau mempersulit tertanggung mengurus
haknya.
Menurut Prof. Abdulkadir Muhammad, S.H., dalam bukunya “Hukum Asuransi
Indonesia” (hal. 58), berdasarkan ketentuan dua pasal tersebut di atas, maka dapat diketahui
bahwa polis berfungsi sebagai alat bukti tertulis bahwa telah terjadi perjanjian asuransi
antara tertanggung dan penanggung. Sebagai alat bukti tertulis, isi yang tercantum dalam
polis harus jelas, tidak boleh mengandung kata-kata atau kalimat yang memungkinkan perbedaan
interpretasi sehingga mempersulit tertanggung dan penanggung merealisasikan hak dan
kewajiban mereka dalam pelaksanaan asuransi. Di samping itu, polis juga memuat kesepakatan
mengenai syarat-syarat khusus dan janji-janji khusus yang menjadi dasar pemenuhan hak dan
kewajiban untuk mencapai tujuan asuransi.
Alat bukti dalam Hukum Acara Perdata sebagaimana diatur dalam Pasal 164 Het
Herzien Inlandsch Reglement (“HIR”) jo. Pasal 1866 KUHPerdata adalah:
a. bukti tertulis;
b. bukti saksi;
c. persangkaan;
d. pengakuan;
e. sumpah.
M. Yahya Harahap SH menyatakan dalam bukunya, Hukum Acara Perdata (hal. 559)
bahwa dalam acara perdata bukti tulisan merupakan alat bukti yang penting dan paling utama
dibanding dengan yang lain. Bukti tertulis/tulisan ini (dalam hal ini polis asuransi) merupakan
suatu bentuk akta di bawah tangan, bukan akta otentik karena tidak dibuat oleh atau di hadapan
pejabat umum yang berwenang (lihat Pasal 1868 KUHPerdata).
Mengenai daya kekuatan pembuktiannya, Yahya Harahap menyebutkan bahwa untuk Akta di
Bawah Tangan memiliki 2 (dua) jenis daya kekuatan yang melekat padanya yaitu:
i.      Daya Kekuatan Pembuktian Formil;
a.    Orang yang bertanda tangan dianggap benar menerangkan hal yang tercantum dalam akta;
b.         Tidak mutlak untuk keuntungan pihak lain.
ii.    Daya Pembuktian Materiil.
a.    Isi keterangan yang tercantum harus dianggap benar;
b.    Memiliki daya mengikat kepada ahli waris dan orang yang mendapat hak dari padanya;
Apabila para pihak telah memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut di atas, yaitu para pihak
telah mengakui kebenaran akta/polis tersebut, maka polis tersebut memiliki kekuatan
pembuktian yangsempurna dan mengikat berdasarkan Pasal 1875 KUH Perdata

BAB 13 : PREMI ASURANSI

Premi asuransi adalah sejumlah uang yang wajib dibayarkan setiap bulannya dari pihak
tertanggung atas keikutsertannya dalam asuransi. Besarnya uang yang dibayarkan atas
keikutsertaan pihak tertanggung pada asuransi telah ditentukan oleh perusahaan asuransi dengan
memperhatikan keadaan dari pihak tertanggung.

Ø MACAM – MACAM PREMI UNTUK ASURANSI KERUGIAN DAN ASURANSI JIWA


Asuransi kerugian ini dapat dipilah sebagai berikut:
a)  Asuransi kebakaran adalah asuransi yang menutup risiko kebakaran.
b) Asuransi pengangkutan adalah asuransi pengangkutan penanggung atau perusahaan asuransi
akan menjamin kerugian yang dialami tertanggung akibat  terjadinya kehilangan atau kerusakan
saat pelayaran.
c) Asuransi aneka adalah jenis asuransi kerugian yang tidak dapat digolongkan kedalam kedua
asuransi diatas, missal : asuransi kendaraan bermotor, asuransi kecelakaan diri, dan lain
sebagainya.
Jenis-jenis asuransi jiwa agar bisa membeli produk asuransi yang tepat. Saat ini ada tiga jenis
produk asuransi jiwa yang digunakan oleh perusahaan asuransi jiwa di Indonesia. Produk-produk
tersebut adalah:
1.    Asuransi Term Life
Asuransi term life (berjangka) berfungsi untuk memberi proteksi kepada tertanggung
dalam jangka waktu tertentu saja. Kelebihan produk ini adalah nasabah mendapatkan kebebasan
dalam menentukan premi sesuai kemampuan mereka. Idealnya, premi asuransi ini dimulai dari
Rp. 250.000 per bulan.
Kelebihan lainnya adalah uang pertanggungan yang bisa didapat oleh pemegang polis
bisa mencapai milyaran rupiah. Ini berarti bahwa ketika tertanggung meninggal dunia ketika
masa kontrak masih aktif, maka keluarga tertanggung akan mendapatkan uang pertanggungan
yang sangat banyak.
Sementara itu, kekurangan asuransi jiwa berjangka adalah tertanggung bisa saja
kehilangan polis dan uang pertanggungan mereka jika dia tidak mengalami masalah kesehatan
dan meninggal dunia hingga masa kontrak habis. Hal inilah yang membuat banyak pengguna
asuransi mulai meninggalkan produk asuransi ini.
2.    Asuransi Whole Life
Asuransi whole life (seumur hidup) adalah produk asuransi yang memberikan manfaat
proteksi hingga 99 tahun. Bagian terbaiknya adalah asuransi ini memungkinkan para pemegang
polis untuk mendapatkan nilai tunai dan polis yang sudah dibayarkan. Nilai tambah lainnya
adalah jika para tertanggung tidak dapat membayar angsuran premi secara berkala, mereka bisa
menggunakan nilai tunai dari premi yang sudah dibayar untuk membayar premi selanjutnya.
Kekuranganya adalah premi asuransi ini lebih mahal dibandingkan premi asuransi term
life (bisa mencapai 2 kali lipat atau bahkan lebih). Hal ini sebabkan karena angka harapan hidup
masyarakat Indonesia untuk laki-laki adalah 65 tahun sedangkan wanita adalah 70 tahun
sehingga klaim asuransi sebelum masa proteksi berakhir pasti ada.
Di samping itu, nilai tunai dan total premi yang diberikan tidak terlalu banyak karena
bunga asuransi ini hanya sebesar 4% saja per tahun. Bagian terburuknya, bunga tersebut akan
dipotong pajak sehingga nasabah bisa saja mendapat nilai tunai yang rendah atau bahkan tidak
sama sekali.
3.    Asuransi Endowment
Jenis asuransi yang terakhir ini adalah asuransi endowment (dwiguna) yang merupakan
asuransi jiwa berjangka dan juga tabungan. Ini berarti bahwa para pemegang polis bisa
mendapatkan nilai tunai dari premi asuransi yang sudah dibayar dan bisa menarik polis asuransi
dalam waktu tertentu sebelum masa kontrak berakhir. Misalnya, tertanggung butuh dana
pendidikan untuk menyekolahkan anaknya, maka dia bisa mengklaim polis asuransi jiwanya
dengan catatan asuransi ini hanya diberikan dalam beberapa tahun sekali sesuai perjanjian.
Kekurangan produk asuransi ini adalah preminya yang cukup mahal karena produk ini
memiliki dua fungsi. Hal ini membuat jenis asuransi ini hanya diminati oleh kalangan menengah
ke atas saja yang mampu mengeluarkan dana jutaan rupiah untuk membayar premi per bulannya