Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan gawat darurat merupakan bentuk pelayanan yang

bertujuan untuk menyelamatkan kehidupan penderita, mencegah

kerusakan sebelum tindakan/perawatan selanjutnya dan menyembuhkan

penderita pada kondisi yang berguna bagi kehidupan. Oleh karena itu

diperlukan perawat yang mempunyai kemampuan yang bagus dalam

mengaplikasikan asuhan keperawatan gawat darurat untuk mengatasi

berbagai permasalahan kesehatan baik aktual atau potensial. Salah satu

tindakan yang dilakukan di IGD dan membutuhkan keterampilan perawat

adalah Pengkajian Airway, Breathing, Circulation (ABC).

Pengkajian Airway, Breathing, Circulation (ABC) yang disebut

survei primer meliputi pemeriksaan jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi

yang harus selesai dilakukan dalam 2 - 5 menit. Terapi dikerjakan

serentak jika korban mengalami ancaman jiwa akibat banyak sistem yang

cedera. Tindakan pemeriksaan ABC yang cepat dan akurat membutuhkan

perawat yang mempunyai pendidikan, pengalaman dan kualifikasi yang

baik (Kartikawati, 2013).

Penanganan pasien gawat darurat, membutuhkan pemeriksaan

airway, breathing, circulation (ABC) yang tepat, terutama pasien dengan

cedera kepala. Neurologis pernapasan sangat kompleks, kerusakan

1
2

neurologis dapat menimbulkan masalah pada beberapa tingkat. Beberapa

lokasi pada hemisfer serebral mengatur control volunter terhadap otot

yang digunakan pada pernapasan, pada singkronisasi dan koordinasi

serebrum. Serebrum juga mempunyai beberapa control terhadap

frekuensi dan irama pernapasan. Pasien cedera kepala juga mempunyai

masalah untuk mempertahankan status hidrasi yang seimbang. Pada

beberapa hal, kondisi ini akan mengurangi kemampuan tubuh berespons

terhadap stres. Dalam keadaan stres fisiologis, makin banyak hormone

antideuretik (ADH) dan makin banyak aldosteron diproduksi,

mengakibatkan retensi cairan dan natrium (Hudak dan Gallo, 2010).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilaksanakan peneliti pada

Kamis 3 November 2016, setelah melakukan wawancara dengan salah

satu perawat di IGD RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat diketahui

bahwa pelaksanaan Pengkajian ABC yang dilaksanakan oleh perawat

berbeda-beda tiap perawat dalam pelaksanaannya. Perbedaan ini terjadi

terutama pada urutan dan waktu yang dibutuhkan perawat untuk

melaksanakan tindakan pengkajian airway, breathing dan circulation. Hal

ini disebabkan karena masing-masing perawat memiliki latar belakang

pendidikan dan pelatihan yang berbeda. Di samping itu sikap perawat

dalam menghadapi masalah keperawatan yang muncul di ruangan juga

berbeda. Masalah-masalah yang muncul seperti frekuensi kunjungan

pasien yang tinggi, keterbatasan alat dan masalah lainnya berpengaruh


3

pada sikap perawat dalam melaksanakan tindakan pengkajian airway,

breathing dan circulation (ABC).

Menurut WHO setiap tahun di Amerika Serikat hampir terdapat

1.500.000 kasus cedera kepala. Dari jumlah tersebut 80.000 di antaranya

mengalami kecacatan dan 50.000 orang meninggal dunia. Saat ini di

Amerika terdapat sekitar 5.300.000 orang dengan kecacatan akibat

cedera kepala (Thygerson, 2006). Di Indonesia, cedera kepala

berdasarkan hasil Riskesdas 2013 menunjukkan insiden cedera kepala

dengan 100.000 jiwa meninggal dunia tahun 2013 (Depkes RI, 2013).

Tahun 2007 data kunjungan pasien ke Instalasi Gawat Darurat

(IGD) di seluruh Indonesia mencapai 4.402.205 (13,3% dari total seluruh

kunjungan di RSU). Berdasarkan Riskesdas 2014, kasus cedera kepala di

Nusa Tenggara Barat berjumlah 0.4% dari total seluruh kasus cedera.

Data dari Riskesdas Provinsi Nusa tenggara Barat tentang

persentase cedera kepala dari total seluruh kasus cedera yang terjadi

tahun 2013: Lombok Barat 8.1%, Lombok Tengah 14.2%, Lombok Timur

9.5%, Sumbawa 11.6%, Dompu 17.8%, Sumbawa Barat 9.4%, Kota

Mataram 15,7% Kota Bima 20.5%.

Pada tahun 2007, data kunjungan pasien ke IGD di seluruh

Indonesia mencapai 4.402.205 (13,3% dari total seluruh kunjungan di

RSU, dengan jumlah kunjungan 12% dari kunjungan IGD berasal dari

rujukan dengan jumlah rumah sakit umum 1.033 dari 1.319 rumah sakit

yang ada. Jumlah yang signifikan ini kemudian memerlukan perhatian


4

yang cukup besar dengan pelayanan pasien gawat darurat (Kepmenkes,

2009).

Menurut data Rekam Medis RSUD Provinsi NTB, pada bulan

Agustus tahun 2016 jumlah kunjungan ke IGD RSUD Provinsi NTB

adalah 2.546 orang. Ini menunjukkan adanya peningkatan dari bulan Juni

yaitu 2.424 orang. Berdasarkan data bulan agustus tahun 2015 tingkat

pendidikan perawat yang bekerja di Instalasi Gawat Darurat RSUP NTB

.Jumlah perawat 48 orang dengan 18 orang S1 keperawatan, 4 orang D4

keperawatan dan 26 orang D3 keperawatan.

Pasien yang mengalami kondisi gawat darurat pertama kali akan

dilakukan triase. Triase berfungsi untuk menentukan kondisi pasien dan

diklasifikasikan ke dalam kondisi gawat dan darurat (kartu merah), kondisi

gawat dan tidak darurat (kartu kuning), kondisi tidak gawat dan tidak

darurat (kartu hijau) serta “death arrival” (kartu hitam). Kondisi pasien saat

dilakukan triase dibagi menjadi 5 klasifikasi antara lain I. Resulsitasi, II.

Emergent, III. Urgent, IV. None Urgent, dan V. False Emergency.

Selanjutnya pasien yang telah dimasukkan ke dalam ruang label-label

tersebut akan dilakukan primary survey beserta berbagai tindakan sesuai

dengan tahapan prosedur primary survey ABC (Marie FG,2009 dalam

Jurnal Ace Sudrajad , 2014).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Aziz Nur Fatoni tahun 2009

mengenai hubungan pengetahuan perawat tentang basic life support

dengan perilaku perawat dalam pelaksanaan primary survey didapatkan


5

hasil bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang

basic life support dengan perilaku perawat pada pelaksanaan primary

survey.

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian tentang bagaimana “Perilaku perawat dalam

pelaksanaan pengkajian airway, breathing , circulation (ABC) pada pasien

COB di IGD RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan

masalah pada penelitian ini adalah: “apakah ada hubungan pengetahuan

dan sikap perawat terhadap penerapan prinsip pengkajian airway,

breathing, circulation (ABC) pada pasien COB di Instalasi Gawat

Darurat?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum peneelitian ini adalah: “Mengidentifikasi

hubungan antara pengetahuan dan sikap perawat terhadap penerapan

prinsip pengkajian airway, breathing, circulation (ABC) pada pasien

COB di Instalasi Gawat Darurat.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi pengetahuan perawat tentang pengkajian

airway, breathing, circulation (ABC) pada pasien COB.


6

b. Mengidentifikasi sikap perawat tentang pengkajian airway,

breathing, circulation (ABC) Pada Pasien COB.

c. Mengidentifikasi pelaksanaan pengkajian airway, breathing,

circulation (ABC) pada pasien COB di Instalasi Gawat Darurat.

D. Hipotesis

1. H1 = Ada hubungan antara pengetahuan dan sikap perawat terhadap

penerapan prinsip pengkajian airway, breathing, circulation (ABC)..di

Intalasi Gawat Darurat.

2. H0 = Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap perawat

terhadap penerapan prinsip pengkajian Airway, breathing, circulation

(ABC) di Instalasi Gawat Darurat.

E. Manfaat Hasil Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan

wawasan, serta sebagai bahan untuk pengembangan ilmu

pengetahuan dan penelitian khususnya dalam bidang keperawatan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Perawat

Dapat meningkatkan kepatuhan perawat dalam penerapan

pelaksanaan pengkajian airway, breathing, circulation (ABC) di

Instalasi Gawat Darurat.


7

b. Bagi Institusi Pendidikan

Dapat digunakan sebagai informasi bagi institusi

pendidikan dalam pengembangan dan peningkatan mutu

pendidikan di masa yang akan datang.

c. Bagi Mahasiswa dan Peneliti Lain

Mampu mengembangkan penelitian lebih lanjut mengenai

pelaksanaan pengkajian airway, breathing, circulation (ABC)

pada pasien gawat darurat.