Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

MANAJEMEN DANA BANK SYARIAH

LOGO

Disusun oleh:

……………………

……………………….

SEKOLAH ……………………………………

Alamat: …………………………………………………………

Tlp. …………………………….
KATA PENGANTAR

Puji syukur dengan tulus dipersembahkan ke hadirat Allah swt. Karena hanya
atas ridha dan karunia-Nyalah maka kami masih dapat menyelesaikan makalah
desain pembelajaran “Manajemen Dana Bank Syariah”. Makalah ini berisi tentang
hal-hal yang berhubungan dengan Manajemen Bank Syariah khususnya dalam Mata
Pelajaran KK Syariah.

Kami berharap semoga makalah ini berguna dan bermanfaat bagi siapa saja
yang membacanya untuk menambah pengetahuan kita tentang pentingnya
manajemen perbankan islam . Akhir kata, kami mohon maaf atas kesalahan yang
terdapat dalam makalah ini sebelumnya. Semoga Allah swt menerima makalah ini
sebagai bagian amal ibadah dari kami. Terima kasih.

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................i

DAFTAR ISI .............................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................1

A. PENGERTIAN ..............................................................................................1

BAB II PENMBAHASAN .......................................................................................2

A. BANK SYARIAH SEBAGAI LEMBAGA INTERMDIARI, FINANCIAL,


DAN CONTRACTUAL ...............................................................................2
B. MANAJEMEN DANA BANK SYARIAH ..................................................3
C. PERMASALAH-PERMASALAHAN, TUJUAN DAN FUNGSI
MANAJEMEN DANA BANK SYARIAH................................................... 5
D. SUMBER-SUMBER DANA BANK SYARIAH .........................................8

BAB III PENUTUP ...................................................................................................11

A. KESIMPULAN .............................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................12


BAB I

PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN

Bank sebagai salah satu lembaga keuangan yang memiliki fungsi menghimpun dana
masyarakat. Dana yang telah terhimpun, kemudian disalurkan kembali kepada
masyarakat. Kegiatan bank mengumpulkan dana disebut dengan kegiatan Funding.
Sementara kegiatan menyalurkan dana kepada masyarakat oleh bank disebut dengan
financing dan lending. Dalam menjalankan dua aktivitas besar tersebut, bank
syari’ah harus menjalankan sesuai dengan pengumpulan dan penyaluran dana
menurut Islam. Namun bagi syari’ah, disamping harus memenuhi tuntutan kaidah
Islam, juga mengikuti kaidah hukum perbankan yang berlaku dan telah diatur oleh
bank sentral.

Jika dilihat dari sisi fungsi bank syari’ah mengumpulkan dana dan menyalurkan dan
itu kembali kepada masyarakat, maka bank syari’ah berfungsi sebagai perantara
keuangan (financial intermediary) antara pihak surplus kepada pihak minus. Maka
daripada itu, dalam makalah ini akan kami bahas mengenai manajemen dana bank
syari’ah.
BAB II

PEMBAHASAN

A. BANK SYARI’AH SEBAGAI LEMBAGA INTERMEDIARY,


FINANCIAL, DAN CONTRACTUAL.

Bank sebagai salah satu lembaga keuangan memiliki fungsi untuk menghimpun dana
masyarakat. Dana yang telah terhimpun, kemudian disalurkan kembali kepada
masyarakat.kegiatan bank dalam mengumpulkan dana disebut dengan kegiatan
funding, sementara kegiatan menyalurkan dana kepada masyarakat disebut oleh bank
disebut dengan kegiatan financing atau lending. Dalam menjalankan dua aktivitas
besar tersebut, bank sayari’ah harus menjalankan sesuai dengan kaidah-kaidah
perbankan yang berlaku, namun bagi syari’ah disamping harus memenuhi tuntutan
kaidah islam, juga mengikuti kaidah hukum perbankan yang beraku dan telah diatur
oleh bank central.

Kunci keberhasilan manajemen bank adalah bagaimana usaha bank tersebut menarik
hati masyarakat sehingga peranannya sebagai financial intermediary berjalan dengan
baik. Oleh karena itu semua pelayanan bank terhadap masyarakat, peralatan canggih
yang dimiliki, keterampilan personel, dan lain-lain adalah dalam rangka menjalankan
peranannya selaku perantara keuangan, artinya menjalankan dua fungsi utama bank,
yaitu:

1. Menghimpun dana masyarakat (to receive deposits).


2. Memberikan kredit/ pembiayaan (to make loans/ financing).

Sehingga manajemen dana bank adalah sebagai suatu proses pengelolaan


penghimpun dana-dana masyarakat ke dalam bank pengalokasian dana-dana tersebut
bagi kepentingan bank dan masyarakat pada umumnya, serta pemupukannya secara
optimal melalui penggerakan semua sumber daya yang tersedia demi mencapai
ingkat rentabilitas yang memadai sesuai dengan batas ketentuan peraturan yang
berlaku.
Ruang lingkup kegiatan Manajemen Dana dengan bertitik tolak dari
pengertian/definisi diatas adalah:

1. Segala aktivitas bank dalam rangka penghimpun dana-dana masyarakat.


2. Aktivitas bank untuk menjaga kepercayaan masyarakat dengan penyediaan
uang tunai bagi pemeliharaan kepentingan masyarakat penyimpan.
3. Penempatan dana dalam bentuk kredit/pembiayaan sebagai usaha pelayanan
kebutuhan uang masyarakat dan penempatan dana dalam bentuk-bentuk lain,
baik bersifat jangka pendek maupun jangka panjang, demi kepentingan
rentabilitas (profitability).
4. Pengelolaan modal bank agar dapat berfungsi wajar sesuai dengan
peranannya selaku penggerak aktivitas.

Aktivitas utama dari Direksi Bank adalah Manajemen Dana-Dana (Manajemen of


funds) baik mengatur dana yang masuk dari masyarakat (giro, tabungan, dan
deposito) maupun yang dikeluarkan bank (berbentuk kredit/pemiayaan). Hal tersebut
sesuai dengan peranan bank selaku perantara keuangan masyarakat (financial
intermediary). Untuk lebih jelasnya akan dibahas secara jelas mengenai sumber dana
bank dan alokasi dana bank.

Jika dilihat dari fungsi sisi bank syari’ah mengumpulkan dana dan menyalurkan dana
kembali kepada masyarakat, maka bank syari’ah berfungsi sebagai perantara
keuangan antara pihak surplus kepada pihak minus. Dalam menjalankan fungsi
financial intermediary.

B. MANAJEMEN DANA BANK SYARI’AH

Manajemen dana bank syari’ah adalah upaya yang dilakukan oleh lembaga bank
syari’ah dalam mengelola atau mengatur posisi dana yang diterima dari aktivitas
funding untuk disalurkan kepada aktivitas financing, dengan harapan bank yang
bersangkutan tetap mampu memenuhi criteria-kriteria likuiditas, rentabilitas dan
solvabilitasnya. Sebagaimana halnya dengan bank konvensional,bank syari’ah juga
mempunyai peran sebagai lembaga perantara (intermediary) antara satuan-satuan
kelompok masyarakat atau unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan dana
(surplus unit) dengan unit-unit lain yang mengalami kekurangan dana (deficit unit).
Berbeda dengan bank konvensional, hubungan antara bank syari’ah dengan
nasabahnya bukan hubungan antara debitur dengan kredit, melainkan hubungan
kemitraan antara penyandang dana (shahibul mal) dengan pengelola dana
(mudharib). Oleh karena itu, tingkat laba Bank Syari’ah bukan saja berpengaruh
terhadap tingkat bagi hasil untuk para pemegang saham, tetapi juga berpengaruh
terhadap hasil-hasil yang dapat diberikan kepada nasabah menyimpan dana. Dengan
demikian, kemampuan manajemen untuk melaksanakan fungsinya sebagai
penyimpan harta, pengusaha dan pengelola investasi yang baik akan sangat
nenentukan usahanya sebagai lembaga intermediary dan kemampuanya
menghasilkan laba.[1]

Pokok-pokok permasalahan manajemen dana bank pada umumnya dan bank syari’ah
pada khususnya adalah sebagai berikut:

1. Berapa memperoleh dana dan dalam bentuk apa dengan biaya yang relative
murah
2. Berapa jumlah dana yang ditanamkan dan dalam bentuk apa untuk
memperoleh pendapatan yang optimal
3. Berapa besarnya dividen yang dibayarkan yang dapat memuaskan
pemilik/pendiri dan laba ditahan yang memadai untuk pertumbuhan Bank
Syari’ah.

Dari permasalahan yang ada diatas, maka manajemen dana bank syari’ah
mempunyai tujuan sebagai berikut:

1. Memperoleh profit yang optimal


2. Menyediakan aktiva cair dan kas yang memadai
3. Menyimpan cadangan
4. Mengelola kegiatan-kegiatan lembaga ekonomi dengan kebijakan yang
pantas bagi seseorang yang bertindak sebagai pemelihara dana-dana orang
lain
5. Memenuhi kebutuhan masyarakat akan pembiayaan.

Bank syari’ah dirancang untuk melakukan fungsi pelayanan sebagai lembaga


keuangan bagi para nasabah dan masyarakat. Untuk itu, bank syari’ah harus
mengelola dana yang dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Kekayaan bank syari’ah dalam bentuk:

a. Kekayaan yang menghasilkan (Aktiva Produktif) yaitu pembiayaan untuk


debitur serta penempatan dana dibank atau investasi lain yang menghasilkan
pendapatan.
b. Kekayaan yang tidak menghasilkan yaitu kas dan investasi (harta tetap).

2. Modal bank syari’ah berasal dari:

a. Modal sendiri yaitu simpanan pendiri (modal), cadangan dan hibah,


infaq/shadaqah.
b. Simpanan/hutang dari pihak lain.
4. Pendapatan usaha keuangan bank syari’ah berupa bagi hasil atau mark up dari
pembiayaan yang diberikan dan biaya administrasi serta jasa tabungan bank
syari’ah di bank.
5. Biaya yang harus dipikul oleh bank syari’ah yaitu biaya operasi, biaya gaji,
manajemen, kantor dan bagi hasil simpanan nasabah penabung.[3]

C. PERMASALAHAN-PERMASALAHAN, TUJUAN DAN FUNGSI


MANAJEMEN DANA DI BANK SYARI’AH

Semua organisasi, baik yang berbentuk badan usaha swata, badan yang bersifat
publik ataupun lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan tentu mempunyai suatu
tujuan sendirI-sendiri yang merupakan motivasi dari pendiriannya. Manajemen di
dalam suatu badan usaha, baik industri, niaga dan jasa, tidak terkecuali jasa
perbankan, didorong oleh motif mendapatkan keuntungan (profit). Untuk mendapat
keuntungan yang besar, manajemen haruslah diselenggarakan dengan efisien. Sikap
ini harus dimiliki oleh setiap pengusaha dan manajemen dimanapun meeka berada,
baik dalam organisasi bisnis, pelayanan publik, maupun organisasi sosial
kemasyarakatan. Perbedaannya hanyalah pada falsafah hidup yang dianut oleh
masing-masing pendiri atau manajer badan usaha tersebut.

Manajemen yang kita kenal sekarang ini adalah manajemen barat yang
individualistis dan kapitalistis. Di dalam masyarakat yang individualistis,
kepentingan bersama dapat ditangguhkan demi kepentingan diri sendiri. Hal ini
disebabkan karena mereka telah meninggalkan nilai-nilai religius yang berdasarkan
hubungan tanggung jawab antara manusia dengan tuhannya, baik mengenai suruhan
yang ma’ruf dan pencegahan yang munkar, semata-mata ditunjukan untuk memenuhi
kebutuhannya.[4]

Pokok-pokok permasalahan manajemen dana bank pada umumnya dan bank syari’ah
pada khususnya adalah:

1. Beberapa memperoleh dana dan dalam bentuk apa dengan biaya yang relatif
murah
2. Berapa jumlah dana yang dapat ditanamkan dan dalam bentuk apa untuk
memperoleh pendapatan yang optimal
3. Berapa besarnya deviden yang dibayarkan yang dapat memuaskan
pemilik/pendiri dan laba ditahan yang memadai untuk pertumbuhan bank
syari’ah.

Dari permasalahan yang ada diatas, maka manajemen dana mempunyai tujuan
sebagai berikut:

1. Memperoleh profit yang optimal


2. Menyediakan akhir cair dan kas yang memadai
3. Penyimpan cadangan
4. Mengelola kegitan-kegiatan lembaga ekonomi dengan kebijakan yang pantas
bagi seseorang yang bertindak sebagai pemelihara dana-dana orang lain.
5. Memenuhi kebutuhan masyarakat akan pembiayaan.

Dari tujuan-tujuan diatas bila diamati akan terdapat kontradiksi antara tujuan yang
satu dengan yang lainya. Misalnya disatu sisi bertujuan untuk memperoleh laba yang
sebesar-besarnya. Tentunya ini dapat direalisasi dengan memberikan pembiayaan
yang sebesar-besarnya, namun disisi lain kita juga harus menyediakan dana kas
untuk memenuhi kewajiban-kewajiban segera dibayar yang harus didukung oleh
tersedianya dana yang memadai.

Bank syariah dirancang untuk melakukan fungsi pelanggan sebagai lembaga


keuangan bagi para nasabah dan masyarakat. Untuk itu bank syariah harus
mengelola dana yang dapat digolongakn sebagai berikut:

1. Kekayaan bank syariah dalam bentuk:


a. Kekayaan yang menghasilkan (aktiva produkif) yaitu pembiayaan untuk
debitur serta penempatan dana di bank atau investasi lain yang menghasilkan
pendapatan.
b. Kekayaan yang tidak menghasilkan yaitu kas dan investasi (harta tetap).

2. Modal bank syariah berasal dari:

a. Modal sendiri yaitu simpanan pendiri (modal), cadangan dan hibah, infaq
atau shodakoh.
b. Simpanan atau hutang dari pihak lain

3. Pendapatan uasaha keuangan bank syariah berupa bagi hasil atau mark up dari
pembiayaan yang diberikan dan biaya administrasi serta jasa tabungan bank syariah

4. Biaya yang harus dipikul oleh bank syariah yaitu biaya operasi, biaya gaji
manajemen, kantor dan bagi hasil simpanan nasabah penabung.

Untuk mengatasi hal tersebut pihak bank syariah dapat melakukan kegiatan
manajemen sebagai berikut:

1. Rencana keuangan (budgeting)


2. Batasan dan pengukuran atas:
a. Struktur modal
b. Pemeliharaan liquiditas
c. Pengawasan efisiensi
d. Rentabilitas
e. Aktifa produktif (pembiayaan).[5]

D. SUMBER-SUMBER DANA BANK SYARI’AH

Sumber-sumber dana bank syariah pada dasarnya tidak memiliki banyak perbedaan
dengan bank konvensional, karena sama-sama berasal dari tiga dana atau tiga elemen
dasar jika kita perhatikan secara lebih seksama lagi, yaitu sebagaimana tersebut
dibawah ini:

1. Dana pihak pertama (Dana Pribadi)

Dana pihak pertama (Dana Pribadi) adalah sebuah dana yang berasal dari pemilik
bank syariah atau bisa juga berasal dari para pemegang saham, yang mana mereka
mengeluarkan dananya untuk operasional awal berdiri yang kemudian mereka
menambahkannya pada waktu dikemudian hari guna memperbesar bank tersebut.
Dana pihak pertama terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

a. Modal yang disetor

Yaitu modal yang dihimpun atau dikumpulkan pertama kali oleh pendiri bank
tersebut, yang biasanya modal ini dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan bank di awal mula berdirinya, seperti pelengkapan kantor, peralatan
kantor, dll.

b. Cadangan

Yaitu sebagian laba yang tidak dibagi, disisihkan untuk menutup timbulnya risiko
kerugian di kemudian hari.

c. Laba ditahan

Yaitu sebagian laba yang seharusnya dibagikan kepada para pemegang saham, tetapi
oleh pemegang saham sendiri melalui RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham)
diputuskan untuk ditanam kembali sebagai cara untuk menambah dana modal.

2. Dana pihak kedua (Pinjaman/ bantuan)

Yaitu dana yang biasanya digunakan ketika bank mengalami kesulitan dalam
mencari dana sendiri atau dalam mencari atau menghimpun dana dari masyarakat,
sehingga mengharuskan bank mencari bantuan dari dana lain untuk mencakupi
segala kebutuhan operasional bank dalam kurun waktu tertentu dan juga berfungsi
untuk mencapai CAR (Capital Adequacy Ratio/Minimum Modal) yang telah
ditetapkan BI. Pihak yang memberikan dana pihak kedua ada 4, yaitu:

a. Pinjaman dari bank lain didalam Negeri atau bisa juga disebut pinjaman antar
bank (interbank call money).
b. Pinjaman dari Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), yaitu kadang kala
pinjaman ini bukan berbentuk pinjaman, namun hanya berbentuk surat berharga
yang dapat diperjualbelikan sebelum tanggal jatuh tempo.
c. Pinjaman dari Bank Indonesia, yaitu pinjaman tersebut diberikan oleh Bank
Indonesia apabila bank tersebut ditunjuk untuk menjadi penyalur pinjaman-
pinjaman ke sektor-sektor usaha yang mendapatkan prioritas dari pemerintah
untuk dikembangkan, misalnya Kredit Usaha Tani (KUT) atau Kredit Usaha
Rakyat (KUR) dan sebagainya.

3. Dana pihak ketiga (Dana Nasabah/ masyarakat)

Yaitu dana yang dihimpun dari masyarakat, baik perorangan, perusahaan,


pemerintahan rumah tangga dan lain-lain. Dan dana pihak ketiga inilah dana yang
terbesar yang dimiliki oleh bank dan ini juga telah menggambarkan sebagai salah
satu fungsi bank sebagai penghimpun dana dari masyarakat yang kelebihan dana,
dan dana-dana tersebut dihimpun dalam berbagai variasi yang telah ditawarkan oleh
bank. yaitu sebagai berikut ini:

a. Tabungan, ialah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan dengan


persyaratan yang telah disepakati oleh nasabah dengan bank, akan tetapi tidak
dapat diambil dengan cek atau alat yang dipersamakan dengan itu.
b. Giro, ialah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan cek,
bilyet giro, sarana perintah lainnya atau dengan pemindah bukuan.
c. Deposito, ialah simpanan berjangka yang penarikannya tidak dapat dilakukan
sewaktu-waktu dan waktu simpanannya berjangka panjang. Dan deposito yang
ada di Indonesia pada saat ini ada 3, yaitu:
1. Deposito berjangka adalah deposito yang penarikannya hanya dapat dilakukan
sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama antara nasabah dan Bank.
2. Sertifikat deposito adalah sertifikat berjangka bukti simpanannya dapat
diperjualbelikan dan juga dipindahtangankan kepada pihak lain.
3. Deposito on call, ialah deposito yang penarikannya hanya dapat dilakukan
dengan cara pemberitahuan sebelumnya yang telah disepakati antara nasabah
dengan pihak bank.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pengertian dari manajemen dana bank syariah adalah upaya yang dilakukan oleh
lembaga bank syariah dalam mengelola dan mengatur posisi dana yang diterima dari
aktifitas funding untuk disalurkan kepada aktivitas financing dengan harapan bank
yang bersangkutan tetap mampu memenuhi kriteria-kriteria likuiditas, rentabilitas,
dan solvabilitas. Pertumbuhan suatu bank sangat dipengaruhi oleh perkembangan
kemampuannya menghimpun dana mayarakat baik yang berskala kecil maupun
besar dengan masa pengendapan yang memadahi. Sebagai lembaga keuangan maka
dana merupakan masalah bank yang paling utama. Tanpa dana yang cukup maka
bank tidak dapat melakukan fungsi-fungsinya sebagai financial intermediary secara
maksimal.

Sumber dana perbankan syariah itu terdapat dari 3, yaitu:

1. Dana pihak pertama


2. Dana pihka kedua
3. Dana Pihak ketiga

Pokok-pokok permasalahan manajemen dana bank pada umumnya dan bank syari’ah
pada khususnya adalah:

1. Beberapa memperoleh dana dan dalam bentuk apa dengan biaya yang relatif
murah
2. Berapa jumlah dana yang dapat ditanamkan dan dalam bentuk apa untuk
memperoleh pendapatan yang optimal
3. Berapa besarnya deviden yang dibayarkan yang dapat memuaskan
pemilik/pendiri dan laba ditahan yang memadai untuk pertumbuhan bank
syari’ah.