Anda di halaman 1dari 16

KONSEP MEDIS DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

PADA TRAUMA ABDOMEN

Dibimbing Oleh :
Nur Hidayah S.Kep.,Ns.,M.Kep

Disusun Oleh :
Ahmad Nur Hasan
Ainur Ratna Khumairoh ()
Andini Agustin C (1702012408)
Nadia Zuli Cahyaningtias (1702012433)
6B Keperawatan

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah S.W.T atas rahmat karunia dan hidayahnya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “ Konsep Medis dan Konsep
Asuhan keperawatan pada Trauma Abdomen ” yang bertujuan untuk memenuhi salah satu
tugas Keperawatan Gawat Darurat.
Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu kami
mengucapkan terimakasih kepada :

1. .................... S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku dosen pembimbing


2. Teman kelompok sebagai kolaborasi dalam penyelesaian makalah ini.
Kami mengakui ada hal yang tidak dapat kami deskripsikan dengan sempurna dalam
makalah ini. Kami melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kami
miliki.
Maka dari itu kami bersedia menerima kritik dan saran. Kami akan menerima semua
kritik dan saran tersebut agar dapat memperbaiki makalah kami di masa mendatang.
Sehingga semoga makalah berikutnya dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik.

Lamongan, 23 Maret 2020

ii
DAFTAR ISI

TUGAS KEPERAWATAN KOMUNITAS...........................................................................................i


KATA PENGANTAR...........................................................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................................1
1.1 Konsep Komunitas......................................................................................................................1
1.1.1 Teori CAP.............................................................................................................................1
1.1.2 Peran Perawat Komunitas.....................................................................................................1
Peran perawat komunitas sebagai berikut :....................................................................................1
1.2 Konsep Penyakit..........................................................................................................................3
1.2.1 Definisi Balita Pendek (Stunting).........................................................................................3
1.2.2 Etiologi.................................................................................................................................3
1.2.3 Tanda Gejala.........................................................................................................................4
1.2.4 Patofisiologi..........................................................................................................................5
1.2.5 Penatalaksanaan....................................................................................................................6
BAB II TINJAUAN KASUS................................................................................................................8
2.1 Kasus...........................................................................................................................................8
2.2 Pengkajian...................................................................................................................................8
2.3 Diagnosa Keperawatan..............................................................................................................16
2.4 Rencana Keperawatan...............................................................................................................16
2.5 Implementasi.............................................................................................................................17
2.6 Evaluasi.....................................................................................................................................17
BAB III PENUTUP.............................................................................................................................18
3.1 Kesimpulan................................................................................................................................18
3.2 Saran..........................................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................19

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Trauma merupakan keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera. Trauma juga
mempunyai dampak psikologis dan sosial. Pada kenyataannya, trauma adalah kejadian yang
bersifat holistik dan dapat menyebabkan hilangnya produktivitas seseorang.

iii
Pada pasien trauma, bagaimana menilai abdomen merupakan salah satu hal penting
dan menarik. Penilaian sirkulasi sewaktu primary survey harus mencakup deteksi dini dari
kemungkinan adanya perdarahan yang tersembunyi pada abdomen dan pelvis pada pasien
trauma tumpul. Trauma tajam pada dada di antara nipple dan perineum harus dianggap
berpotensi mengakibatkan cedera intraabdominal. Pada penilaian abdomen, prioritas maupun
metode apa yang terbaik sangat ditentukan oleh mekanisme trauma, berat dan lokasi trauma,
maupun status hemodinamik penderita.

Cedera abdomen menduduki urutan ketiga penyebab kematian akibat trauma. Cedera
ini pendarahan. Kematian yang terjadi lebih dari 48 jam setelah cedera abdomen disebabkan
oleh sepsis dan komplikasinya. Pada trauma intra abdomen, jarang sekali terjadi hanya cedera
pada satu organ saja.

Adanya trauma abdomen yang tidak terdeteksi tetap menjadi salah satu penyebab kematian
yang sebenarnya dapat dicegah. Sebaiknya jangan menganggap bahwa ruptur organ berongga
maupun perdarahan dari organ padat merupakan hal yang mudah untuk dikenali. Hasil
pemeriksaan terhadap abdomen mungkin saja dikacaukan oleh adanya intoksikasi alkohol,
penggunaan obat-obat tertentu, adanya trauma otak atau medulla spinalis yang menyertai,
ataupun adanya trauma yang mengenai organ yang berdekatan seperti kosta, tulang belakang,
maupun pelvis. Setiap pasien yang mengalami trauma tumpul pada dada baik karena pukulan
langsung maupun deselerasi, ataupun trauma tajam, harus dianggap mungkin mengalami
trauma visera atau trauma vaskuler abdomen.

Trauma tumpul cenderung menyebabkan kerusakan serius di organ padat dan trauma tembus
paling sering mencederai organ berongga. Kompresi dan deselerasi pada trauma tumpul
menyebabkan fraktur pada kapsul organ padat dan parenkim, sementara organ berongga
dapat kolaps dan menyerap gaya tersebut. Namun usus yang menempati sebagian besar
rongga abdomen terpajan cedera yang disebabkan oleh trauma tembus. Umumnya organ
padat merespon trauma dengan pendarahan. Organ berongga rupture dan mengeluarkan
isinya ke dalam ruang peritoneum yang menyebabkan peradangan dan infeksi. (Morton, P.G.
et.al. 2008)

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan beberapa rumusan masalah yang

iv
akan dibahas pada bab selanjutnya yaitu:
1. Bagaimana Konsep Dasar Medis Trauma Abdomen?
2. Bagaimana Konsep Asuhan Keperawatan Trauma Abdomen?

1.3 Tujuan
Penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Kegawatdaruratan dan
meningkatkan pemahaman penulis maupun pembaca mengenai trauma abdomen.

1.4 Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mengenai
trauma abdomen sehingga dapat diterapkan dalam menangani kasus-kasus trauma abdomen
di klinik sesuai kompetensi tenaga medis terutama perawat.

1.1 Konsep Medis dan Asuhan Keperawatan

1.2.1 Definisi

Abdomen adalah bagian tubuh yang berbentuk rongga terletak diantara toraks
dan pelvis. Rongga ini berisi viscera dan dibungkus dinding (abdominal wall) yang terbentuk
dari dari otot-otot abdomen, columna vertebralis, dan ilium. Trauma adalah sebuah
mekanisme yang disengaja ataupun tidak disengaja sehingga menyebabkan luka atau cedera
pada bagian tubuh. Jika trauma yang didapat cukup berat akan mengakibatkan kerusakan
anatomi maupun fisiologi organ tubuh yang terkena. Trauma abdomen adalah terjadinya
cedera atau kerusakan pada organ abdomen yang menyebabkan perubahan fisiologi sehingga
terjadi gangguan metabolisme, kelainan imunologi dan gangguan faal berbagai organ (MH
Assiddqi, 2014).

1.2.2 Etiologi

Penyebab trauma abdomen antara lain: trauma, iritasi, infeksi, obstruksi dan operasi.
Kerusakan organ abdomen dan pelvis dapat disebabkan trauma tembus, biasanya tikaman
atau tembakan dan trauma tumpul akibat kecelakaan mobil, pukulan langsung atau jatuh.
Luka yang tampak ringan bisa menimbulkan cedera eksterna yang mengancam nyawa (MH

v
Assiddqi, 2014).

1.2.3 Manifestasi klinis

Secara umum manifestasi klinik trauma abdomen antara lain :


1. Nyeri
2. Nyeri tekan lepas menandakan iritasi peritoneum karena cairan gastrointestinal atau
darah
3. Distensi abdomen
4. Demam
5. Anoreksia
6. Mual dan muntah
7. Takikardi
8. Peningkatan suhu tubuh
Sementara manifestasi berdasarkan etiologinya:
1. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi ke dalam rongga peritonium):
Manifestasi klinis dari trauma tembus tergantung pada berbagai faktor, termasuk jenis
objek yang menembus, area tempat cedera terjadi, organ yang mungkin terkena, dan
lokasi serta jumlah luka. Tanda dan gejala yang seringkali muncul adalah:
a. Terdapat nyeri dan/atau nyeri tekan lepas serta perdarahan
Nyeri dapat menjadi petunjuk terjadinya kerusakan organ. Semisal, terdapat
nyeri bahu, mungkin nyeri tersebut merupakan akibat dari limpa yang rusak
dengan darah subphrenic.
b. Biasanya disertai dengan peritonitis
Tanda-tanda peritoneal terjadi ketika katup peritoneal dan aspek posterior dari
dinding abdomen anterior mengalami inflamasi. Darah dan organ di dalam
peritoneal atau retroperineal terangsang oleh ujung saraf yang lebih dalam
(serabut visceral aferen nyeri) dan mengakibatkan rasa yang sangat nyeri.
Iritasi pada peritoneum parietal mengarah ke nyeri somatik yang cenderung
lebih terlokalisasi.
c. Distensi abdomen. Apabila distensi abdomen pada pasien tidak responsif, hal
tersebut dapat menunjukkan adanya perdarahan aktif.
d. Pada laki-laki, prostat tinggi-naik menunjukkan terjadinya cedera usus dan
cedera saluran urogenital. Jika ditemukan terdapat notasi darah di meatus

vi
uretra juga merupakan tanda adanya cedera saluran urogenital.
e. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
Hilangnya fungsi organ dapat menjadi penanda terjadinya syok, karena pada
saat syok, darah akan dipusatkan kepada organ yang vital, sehingga untuk
organ yang tidak begitu vital kurang mendapatkan distribusi darah yang
mencukupi untuk dapat bekerja sesuai dengan fungsinya sehingga kinerja
organ dapat mengalami penurunan atau bahkan fungsi organ menjadi terhenti
(Offner, 2014).
2. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi ke dalam rongga peritonium)
Penilaian klinis awal pada pasien trauma abdomen tumpul seringkali sulit dan akurat.
Tanda dan gejala yang paling nampak antara lain:
a. Nyeri
b. Perdarahan gastrointestinal
c. Hipovolemia
d. Ditemukannya iritasi peritoneal
Sebagian besar darah dapat menumpuk di rongga peritoneal dan panggul tanpa
adanya perubahan signifikan atau perubahan awal dalam temuan pemeriksaan
fisik. Bradikardi dapat mengindikasikan adanya darah disekitar
intraperitoneal.
Pada pemeriksaan fisik, biasanya ditemukan:
a. Tanda lap belt: berhubungan dengan adanya ruptur usus kecil
b. Memar berbentuk kemudi, sering terjadi pada kecelakaan
c. Memarekimosis di sekitar panggul (Grey Turner sign) atau umbilikus (cullen
sign): mengindikasikan perdarahan retroperitoneal, tetapi biasanya terjadi
setelah beberapa jam atau beberapa hari
d. Distensi abdomen
e. Auskultasi bising usus dada: menunjukkan adanya cedera diafragma
f. Bruit abdomen: mengindikasikan penyakit vaskular yang mendasari atau
trauma fistula arteriovena
g. Nyeri secara keseluruhan atau lokal, kekakuan, atau nyeri tekan lepas:
mengindikasikan adanya cedera peritoneal
h. Kepenuhan dan konsistensi pucat pada palpasi: mengindikasikan perdarahan
intra abdominal
i. Krepitasi atau ketidakstabilan rongga dada bagian bawah: menunjukkan

vii
potensi cedera limpa atau hati (Legome, 2016).

1.2.4 klasifikasi

Trauma pada dinding abdomen terdiri dari:

1. Trauma penetrasi: trauma tembak, trauma tusuk (MH Assiddqi, 2014).

Trauma penetrans merupakan 8-12% dari abdominal trauma yang datang ke trauma
center. Luka tembak merupakan penyebab yang sering pada trauma penetrasi pada
populasi anak dan menyebabkan kematian pada laki-laki kulit hitam pada umur 15-
24 tahun. Penyebab lain trauma penetrans adalah stab wound, impalements, gigitan
anjing, dan kecelakaan mesin. Oleh karena kebanyakan trauma penetrans pada
abdomen biasanya memerlukan tindakan pembedahan maka persiapan di ruang
operasi harus simultan dengan assessment pasien (Pratama, 2014).

2. Trauma non-penetrasi atau trauma tumpul: diklasifikasikan ke dalam 3 mekanisme


utama, yaitu tenaga kompresi (hantaman), tenaga deselerasi dan akselerasi. Tenaga
kompresi (compression or concussive forces) dapat berupa hantaman langsung atau
kompresi eksternal terhadap objek yang terfiksasi. Misalnya hancur akibat
kecelakaan, atau sabuk pengaman yang salah (seat belt injury). Hal yang sering
terjadi adalah hantaman, efeknya dapat menyebabkan sobek dan hematom
subkapsular pada organ padat visera. Hantaman juga dapat menyebabkan
peningkatan tekanan intralumen pada organ berongga dan menyebabkan rupture
(MH Assiddqi, 2014).

Trauma tumpul abdomen lebih dominan pada populasi anak. Lebih dari 80% trauma
pada anak adalah berupa trauma tumpul dan kebanyakan berhubungan dengan
kecelakan kendaraan bermotor. Cedera abdominal dapat disebabkan juga oleh
karena terjatuh dan langsung mengenai dinding abdomen misalnya pada handlebar
injuri (Pratama, 2014).

viii
1.2.5 Patofisiologi

1.2.6 Penatalaksanaan Medis

Pengkajian diagnostic yang diperlukan selama kondisi preoperative di gawat darurat,


meliputi pemeriksaan darah (hemoglobin, leukosit, laju endap darah, waktu perdarahan
dan waktu pembekuan darah, serta hematokrit), serum elektrolit, pemeriksaan USG, Foto
polos (abdomen dan toraks), dan CT scan (muttaqin, kumalasari, 2013).

Pemeriksaan diagnostic dapat mencakup sonografi abdomen terfokus untuk trauma,


(FAST, focused abdomen sonography for trauma), lavase peritoneum diagnostic (DPL,
diagnostic peritoneal lavage), foto toraks (untuk menentukan kelainan makroskopik serta
adanya pergeseran organ), dan CT scan abdomen.
1. Pemeriksaan FAST
 Pemeriksaan yang relative cepat menyediakan informasi yang bermanfaat dan
banyak digunakan oleh pusat trauma
 Pemeriksaan ini dilakukan dengan menaruh ultrasound probe diatas berbagai area
abdomen yang menentukan apakah ada cairan bebas di area tersebut. Area yang
dievaluasi adalah kantong morison di kuadran kanan atas, kantong pericardial,
region splenorenal di kuadran kiri atas, dan panggul (kantong douglas).
 Jika hasil FAST positif dan hemodinamik pasien tidak stabil, maka dilakukan
laparotomi eksploratif.
2. Pemeriksaan DPL
 Prosedur diagnostic cepat yang digunakan selama fase resusitasi pada perawatan
pasien trauma hemodinamiknya tidak stabil untuk menegakkan diagnosa
perdarahan intra-abdomen.
 Indikasi: cedera tumpul abdomen dengan perubahan status mental, hipotensi tidak
jelas sebabnya, penurunan hematokrit, syok, hasil pemeriksaan abdomen tidak
jelas, cedera medulla spinalis, cedera alih (fraktur tulang, trauma dada), trauma
tembus abdomen (jika eksplorasi tidak diindikasikan).

ix
 Kontraindikasi: riwayat pembedahan abdomen berulang, kehamilah trimester
tiga, sirosis hati lanjut, obesitas morbid, riwayat koagulopati, dan riwayat
pembedahan abdomen berulang kali (terdapat peningkatan resiko laserasi
omentum dan visera atau perforasi vascular jika DPL dilakukan pada pasien yang
menunjukkan temuan ini).
 Teknik: masukkan kateter lavase ke ruang peritoneum melalui insisi 1 -2 cm,
upayakan aspirasi cairan peritoneum, infusikan salin normal atau ringer laktat
mengggunakan gaya gravitasi, miringkan pasien ke kiri dan kanan (kecuali
kontraindikasi), Biarkan cairan masuk ke dalam kantong melalui gravitasi, kirim
specimen ke laboratorium.
 Hasil positif: 10-20 ml darah makroskopik pada aspirasi awal, > 100.000 sel
darah merah/mm3, lebih dari 500 sel drah putih/mm3, kadar amylase meningkat,
adanya (empedu, bakteri, atau feses)
 Jika hasil DPL positif dan hemodinamik pasien tidak stabil, dilakukan laparotomi
eksploratif.
 Ketika melakukan DPL, penting terlebih dahulu memastikan bahwa pasien
terpasang kateter foley dan slang orogastrik atau nasogastrik untuk
mendekompresi lambung dan kandung kemih sehingga mencegah terjadinya
perforasi tidak sengaja saat memasang kateter lavase. Ketika kateter foley dan
slang orogastrik atau nasogastrik terpasang, katetter lavase dimasukkan ke dalam
ruang peritoneum. Jika darah makroskopi yang kembali kurang dari 10 ml,
kantong berisi satu liter kristaloid (larutan RL atau NS 0,9%) hangat diinfuskan
ke dalam peritoneum. Setelah infuse selesai, kantong IV diletakkan pada posisi
tergantung guna memungkinkan cairan keluar dari abdomen karena gravitasi.
3. CT Scan
 Lebih sering digunakan pada pasien yang hemodinamiknya lebih stabil.
 Sering dilakukan dengn kontras IV atau oral untuk melihat organ dan mengetahui
adanya gangguan.
 CT scan memungkinkan visualisasi area peritoneum, retroperineum, dan panggul
serta memungkinkan perkiraan jumlah cairan di area ini.
 CT scan juga digunakan untuk menentukan derajat cedera pada organ padat
 Keterbatasan penggunaan CT mencakup lama waktu yang diibutuhkan untuk
melakukan pemeriksaan, kebutuhan untuk memindahkan pasien keluar dari area

x
resusitasi, dan syarat bahwa pasien harus memiliki hemodinamik yang stabil dan
pergerakan dibatasi selama pemeriksaan. (Morton ,2011)
1.2.7 Penatalaksanaan non medis
Penatalaksanaan kegawatdaruratan Trauma Abdomen
1. Trauma Tumpul Abdomen
Hal umum yang perlu mendapat perhatian adalah atasi dahulu ABC bila pasien telah
stabil baru kita memikirkan penatalaksanaan abdomen itu sendiri. Pipa lambung, selain
untuk diagnostic, harus segera dipasang untuk mencegah terjadinya aspirasi bila terjadi
muntah. Sedangkan kateter di pasang untuk mengosongkan kandung kencing dan
menilai urin. Pada trauma tumpul, bila terdapat kerusakan intra peritoneum harus
dilakukan laparotomi, sedangkan bila tidak, pasien diobservasi selama 24-48 jam.
Tindakan laparotomi dilakukan untuk mengetahui organ yang mengalami kerusakan.
Bila terdapat perdarahan, tindakan yang dilakukan adalah penghentian perdarahan.
Sedangkan pada organ berongga, penanganan kerusakan berkisar dari penutupan
sederhana sampai reseksi sebagian.
2. Trauma Tembus Abdomen
Hal umum yang perlu mendapat perhatian adalah atasi dahulu ABC bila pasien telah
stabil baru kita memikirkan penatalaksanaan abdomen itu sendiri. Pipa lambung,
selain untuk diagnostic, harus segera dipasang untuk mencegah terjadinya aspirasi bila
terjadi muntah. Sedangkan kateter di pasang untuk mengosongkan kandung kencing
dan menilai urin.
Peningkatan nyeri di daerah abdomen membutuhkan eksplorasi bedah. Luka tembus
dapat mengakibatkan renjatan berat bila mengenai pembuluh darah besar atau hepar.
Penetrasi ke limpa, pancreas, atau ginjal biasanya tidak mengakibatkan perdarahan
massif kecuali bila ada pembuluh darah besar yang terkena. Perdarahan tersebut harus
diatasi segera, sedangkan pasien yang tidak tertolong dengan resusitasi cairan harus
menjalani pembedahan segera.
Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada baian
bawah atau abdomen berbeda-beda. Namun semua ahli bedah sepakat semua pasien
dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani eksplorasi bedah, tetapi hal
ini tidak pasti bagi pasien tanpa tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil.
Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu.
Bila luka menembus peritoneum maka tindakan laparatomi diperlukan. Prolaps visera,
tanda-tanda peritonitis, syok, hilangnya bising usus, terdapat darah dalam lambung,

xi
buli-buli dan rectum, adanya udara bebas intera peritoneal, dan lavase peritoneal yang
positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. Bila tidak ada, pasien harus
diobservasi selama 24-48 jam. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar
dilakukan laparotomi.
Menurut Catherino (2003), Penatalaksanaan kegawatdaruratan Trauma Abdomen
ialah :
 Pasien yang tidak stabil atau pasien dengan tanda-tanda jelas yang menunjukkan
trauma intra-abdominal (pemeriksaan peritoneal, injuri diafragma, abdominal free air,
evisceration) harus segera dilakukan pembedahan
 Trauma tumpul harus diobservasi dan dimanajemen secara non-operative berdasarkan
status klinik dan derajat luka yang terlihat di CT
 Pemberian obat analgetik sesuai indikasi
 Pemberian O2 sesuai indikasi
 Lakukan intubasi untuk pemasangan ETT jika diperlukan
 Trauma penetrasi :
Dilakukan tindakan pembedahan di bawah indikasi tersebut di atas Kebanyakan GSW
membutuhkan pembedahan tergantung kedalaman penetrasi dan keterlibatan
intraperitoneal Luka tikaman dapat dieksplorasi secara lokal di ED (di bawah kondisi
steril) untuk menunjukkan gangguan peritoneal ; jika peritoneum utuh, pasien dapat
dijahit dan dikeluarkan Luka tikaman dengan injuri intraperitoneal membutuhkan
pembedahan Bagian luar tubuh penopang harus dibersihkan atau dihilangkan dengan
pembedahan.
Sedangkan menurut ENA (2000) penatalaksanaan kegawatdaruratan trauma abdomen yaitu :
 Monitor TTV
 Monitor CVP
 Monitor AGD
 Berikan terapi oksigen sesuai indikasi
 Berikan resusitasi cairan IV dengan cairan kristaloid, darah atau komponen darah
 Pasang kateter urine
 Monitor pemasukan dan haluaran
 Pasang NGT sesuai indikasi
 Berikan analgesik jika diijinkan
 Minimalkan rangsangan dari luar

xii
 Siapkan intervensi bedah sesuai indikasi
 Monitor GCS
 Monitor perfusi jaringan perifer
 Antiembolic stoking untuk mencegah pembentukan trombus sekunder untuk
meningkatkan trombosit
 Monitor tingkat kesadaran
 Monitor CRT
 Jelaskan prosedur dengan sederhana
 Jawab pertanyaan pasien
 Monitor serum amilase dan lipase
 Monitor serum dan kadar gula dalam urine
 Monitor suhu tubuh
 Monitor serum amilase dan lipase
 Monitor serum dan kadar gula dalam urine
 Monitor tanda-tanda peritonitis : spasme otot/kekakuan abdomen, penurunan sampai
tidak ada bising usus.
Menurut Bambang Suryono (2008),pengelolaan trauma abdomen ialah :
Perawatan pasien dengan perdarahan abdomen difokuskan seputar pencegahan dan
penanganan syok. Pengobatan definitif untuk perdarahan internal hanya dapat dilakukan di
ruang operasi rumah sakit. Tanda-tanda syok harus dinilai sejak dini, periksa periksa dengan
cermat nadi penderita, kesadaran dan warna kulit. Penurunan tekanan darah merupakan tanda
yang terlambat. Tanda-tanda itu akan muncul setelah perdarahan internal menyebabkan
kehilangan darah yang signifikan. Pasien yang diduga mengalami perdarahan internal harus
dianggap serius dan harus dirujuk ke rumah sakit secepatnya.
Seperti semua pasien, prioritas pertama adalah ABC. Pastikan pembukaan jalan nafas,
pernafasan yang adekuat dan sirkulasi. Pasien dengan perdarahan internal kemungkinan akan
memburuk dengan cepat. ABC dan tanda vital harus sering dimonitor. Persiapkan untuk
mempertahankan jalan nafas pasien, untuk memberikan ventilasi atau melakukan RJP jika
diperlukan.

xiii
BAB II

TINJAUAN KASUS

2.1 Kasus

Tn. P umur 65 tahun bekerja sebagai wiraswata, pendidikan terakhir SD, dan bertempat
tinggal di Terusan Sigura-gura Blok E60 Kota Malang datang ke RS minggu tgl 5 juni 2016,
dengan keluhan sakit pada perut sebelah kanan. Riwayat kesehatan Tn. P : ± 2 jam yang lalu
sebelum masuk rumah sakit, ketika sedang mengendarai sepeda motor, klien mengalami
kecelakaan. Sepeda motor klien menabrak truk yang ada di depannya. Klien terjatuh dengan
posisi dada dan perut kanan membentur aspal. Setelah kejadian, klien masih bisa pulang
sendiri dengan mengendarai sepeda motornya. Tapi setelah beberapa saat di rumah, klien
merasa tidak enak saat bernapas, perut sebelah kanan perlahan kembung sampai punggung
dan nyeri dibagian perut kanan bertambah parah, pasien mengatakan nyeri di rasakan sejak
terjadinya kecelakaan sampai saat ini. Oleh keluarga di antar ke IGD Rumah Sakit Dr. Saiful
Anwar Malang sesampainya di IGD di lakukan pengkajian pada pukul 14.00. Pasien dan
keluarga cemas akan kondisi yang terjadi saat ini. Mereka memerlukan informasi terkait
kondisi dan rencana pembedahan darurat. Pada saat di lakukan pemeriksaan oleh perawat di
temukan wajah klien tampak tegang, akrak dingin, wajah tampak pucat, dan mukosa bibir
tampak kering. Klien juga mengeluh nyeri terus-menerus dengan skala nyeri 7/10. Saat
dilakukan primary survey ABCDE didapatkan data sebagai berikut :
 Airway : Bebas, tidak ada sumbatan, tidak ada secret
 Breathing : Klien bermafas secara spontan. Klien menggunakan O2 4L/menit, RR :
26x/menit. Pernafasan irreguler.
 Circulasi
TD : 130/90 mmHg, N : 90x/menit, Capillary reffil : 3 detik
 Disability
GCS : E4M5V6, Kesadaran : compos mentis
 Exposure : Terdapat luka lecet ,jejas dan hematoma pada abdomen sebelah kanan
Saat dilakukan secondary survey, didapatkan data sebagai berikut:
 Alergi :Klien dan keluarga mengatakan klien tidak memiliki alergi, baik makanan
ataupun obat-obatan.
 Medicasi :Klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit tidak mengkonsumsi obat
apapun.
 Pastillnes :Klien sebelumnya pernah di rawat di RS Dr. Saiful Anwar Malang dengan
penyakit paru-paru
 Lastmeal :Klien mengatakan sebelum kecelakaan, klien hanya minum segelas teh.
 Environment : Klien tinggal di daerah yang padat penduduknya.
Pada saat perawat melakukan pemeriksaan fisik, didapatkan data bentuk kepala: simetris,
rambut dan kulit kepala tampak cukup bersih. Kepala dapat digerakkan kesegala arah, pupil
isokor, sklera tidak ikhterik, konjungtiva tidak anemis. Hidung simetris tidak ada secret.
Bagian leher : tidak ada kaku kuduk. Bagian parubentuk simetris, gerakan antara kanan dan
kiri sama, terdapat fremitus vokal kanan dan kiri sama, saat dilakukan perkusi terdapat suara
sonor, dan saat auskultasi suara vesikuler. Bagian abdomen terdapat jejas dan hematoma pada
abdomen sebelah kanan, peristaltik usus 7x/menit, tidak ada pembesaran hati, dan saat
dilakukan perkusi terdapat pekak. Pada bagian ekstermitas atas dan bawah tidak ada edema,
turgor kulit baik. Kekuatan otot ektermitas atas dan bawah dalam batas normal. Urin baik
Saat dilakukan pemeriksaan penunjang didapatkan hasil :
 Hemoglobin : 14,5 g/dl (n : 14-17,5 g/dl)
 Eritrosit : 5,05 106/ul (n : 4,5-5,9 106/ul)
 Leukosit : 12,1 103/ul (n : 4,0-11,3 103/ul)
 Hematokrit : 36% (n : 40-52%)
 Trombosit : 204
 Gol darah :O
 HBSAG :-

2.2 Pengkajian

Data Umum

1. Nama kepala keluarga :

2. Alamat dan telepon :

3. Pekerjaan Kepala Keluarga :

4. Pendidikan Kepala Keluarga :


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA