Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KEPERAWATAN KOMUNITAS

BALITA DENGAN STUNTING

OLEH:

ANDINIAGUSTIN C NIM 1702012389


FARADIBA NIM 131714153019
ZULIS KARLINA NIM 1702012433

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2020

1
2

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas

terselesaikannya penyusunan makalah yang berjudul “BALITA DENGAN

STUNTING”. Penulisan makalah ini sebagai syarat untuk menyelesaikan tugas

mata kuliah Keperawatan Komunitas pada Program Studi S1 Keperawatan

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Lamongan.

Makalah ini dapat penulis selesaikan berkat dukungan dari berbagai pihak.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih atas segala bantuan

materi maupun non materi, dorongan dan doa dalam menyelesaikannya. Penulis

mengucapkan terimakasih kepada:

1. Drs. H. Budi Utomo, M. Kes, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah

Lamongan beserta para Wakil Rektor yang telah memberikan kesempatan

dan fasilitas kepada penulis untuk menempuh pendidikan di Program Studi

S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah

Lamongan.

2. Arifal Aris, S.kep.,Ns.,M.Kes, selaku Ketua Program Studi Program Studi

S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah

Lamongan yang telah bersedia memberi arahan, perhatian, memberikan

fasilitas dan motivasi dalam menyelesaikan makalah ini.

3. Suhariyati ........., selaku Dosen Penanggung Jawab Mata Kuliah yang

senantiasa memberi inspirasi, motivasi, bimbingan, dan penguatan dalam

mengerjakan makalah ini.


3

4. Arifal Aris, S.kep.,Ns.,M.Kes, selaku Dosen Fasilitator yang senantiasa

memberi inspirasi, motivasi, bimbingan, dan penguatan dalam

mengerjakan makalah ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas segala semua kebaikan yang

telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Besar harapan

penulis semoga tesis ini dapat membawa manfaat.

Lamongan,18 MARET 2020

Penulis
4

DAFTAR ISI

Halaman

TUGAS KEPERAWATAN KOMUNITAS............................................................1

KATA PENGANTAR.............................................................................................2

DAFTAR ISI............................................................................................................4

BAB 1 5
1.1 KONSEP KOMUNITAS......................................................................5
1.1.1 Teori CAP.................................................................................5
1.1.2 Peran Perawat Komunitas.......................................................5
1.2 KONSEP PENYAKIT..........................................................................5
1.2.1 Definisi.....................................................................................5
1.2.2 Etiologi.....................................................................................5
1.2.3 Tanda Gejala.............................................................................5
1.2.4 Patofisiologi..............................................................................5
1.2.5 Penatalaksanaan .......................................................................5
1.3 ANALISIS JURNAL............................................................................5

BAB 2 7
2.1. KASUS...............................................................................................7
2.2. PENGKAJIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS...........................7
2.3. DIAGNOSA KEPERAWATAN........................................................7
2.4. PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN....................................7
2.5. INTERVENSI KEPERAWATAN.....................................................7
2.6. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN...............................................7
2.7. EVALUASI KEPERAWATAN.........................................................7

BAB 3 8
3.1 KESIMPULAN.....................................................................................8
3.2 SARAN.................................................................................................8

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................9

LAMPIRAN10
5
6

BAB 1

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 KONSEP KOMUNITAS

1.1.1 Teori CAP

CAP menurut Hitchcock, Schubert dan Thomas, pada tahun 1999 adalah

panduan proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai implementasi dalam

keperawatan komunitas yang terdiri dari tiga tingkatan pencegahan (primer,

sekunder dan tersier) serta program evaluasi.

Model CAP adalah gambaran tentang konsep CAP, Agregat individu atau

klien dalam model CAP menurut Stanhope dan Lancaster pada tahun 2004

meliputi intersistem (kelompok yang karakteristiknya satu atau lebih) dan

ekstrasistem meliputi delapan subsistem meliputi komunikasi, transportasi dan

keselamatan, ekonomi, pendidikan, politik dan pemerintahan, layanan kesehatan

dan sosial, lingkungan fisik dan rekreasi (Anderson & McFarlane, 2000).

Anderson dan McFarlane (2000) menyebutkan bahwa model CAP terdiri

dari dua komponen utama yaitu roda pengkajian komunitas dan proses

keperawatan, Roda pengkajian komunitas terdiri dari dua bagian utama yaitu inti

dan delapan subsistem yang mengelilingi inti dan merupakan bagian dari

pengkajian keperawatan, proses keperawatan terdiri dari beberapa tahap mulai

dari pengkajian sampai dengan evaluasi.

1.1.2 Peran Perawat Komunitas

Peran perawat komunitas sebagai berikut :


1. CARE GIVER
7

Memberikan asuhan keperawatan yang holistik/utuh serta


berkesinambungan/komprehensif. Asuhan keperawatan dapat diberikan
melalui tatanan kesehatan: peskesmas, ruang inap
puskesmas,puskesmas pembantu, puskesmas keliling, sekolah, panti,
posyandu dan keluarga.
2. EDUCATOR
Memberikan penkes kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat baik dirumah. Puskesmas, dan di masyarakat -> untuk
menanamkan perilaku sehat, sehingga terjadi perubahan perilaku yang
diharapkan dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal. Ex :
penyuluhan tentang nutrisi, senam lansia, manajemen stress, terapi
relaksasi, gaya hidup, dan penyuluhan proses terjadinya penyakit.
3. KONSELOR
Melakukan konseling keperawatan sebagai usaha memecahkan masalah
secara efektif. Pemberian konseling dapat dilakukan dengan melibatkan
individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
4. ROLE MODEL
Memberikan contoh yang baik dalam bidang kesehatan tentang
bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru dan dicontoh oleh
masyarakat.
Ex : cuci tangan 6 langkah, membuang sampah pada tempatnya, dll.
5. ADVOCATE
Membela hak-hak klien. Pembelaan termasuk di dalamnya peningkatan
apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi
dan melindungi hak-hak klien.
6. CASE MANAGER
Mengelolah berbagai kegiatan pelayanan kesehatan puskesmas dan
masyarakat sesuai dengan beban dan tanggung jawab yang diberikan
kepada perawat.
7. CASE MANAGER
8

Mengelola berbagai kegiatan pelayanan kesehatan puskesmas dan


masyarakat sesuai dengan beban dan tanggung jawab yang di berikan
kepada perawat.
8. COLABORATOR
Bekerjasama dengan tim kesehatan lain -> dokter, ahli gizi, ahli
radiologi, dll dalam kaitanya membantu mempercepat proses
penyembuhan klien.
9. CASE FINDER
Monotoring terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat yang menyangkut masalah-masalah
kesehatan dan keperawatanyang timbul serta berdampak terhadap status
kesehatan melalui kunjungan rumah, pertemuan-pertemuan, observasi,
dan pengumpulan data.
10. CONSULTANT
Sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan
yang tepat untukdiberikan. Peran ini dilakukan ataspermintaan klien
terhadap info tentang tujuan pelayanan keperawatan yang di berikan.

1.2 KONSEP PENYAKIT

1.2.1 Definisi balita pendek (stunting)

Balita pendek (stunting) merupakan keadaan tubuh yang pendek


dan sangat pendek hingga melampaui defisit -2 SD dibawah median panjang
atau tinggi badan. Stunting dapat di diagnosis melalui indeks antropometri
tinggi badan menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang
dicapai pada pra dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi
jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai. Stunting merupakan
pertumbuhan linear yang gagal untuk mencapai potensi genetik sebagai
akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit infeksi (ACC/SCN, 2000).
Stunting adalah masalah gizi utama yang akan berdampak pada
kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Ada bukti jelas bahwa
individu yang stunting memiliki tingkat kematian lebih tinggi dari berbagai
9

penyebab dan terjadinya peningkatan penyakit. Stunting akan


mempengaruhi kinerja pekerjaan fisik dan fungsi mental dan intelektual
akan terganggu (Mann dan Truswell, 2002). Hal ini juga didukung oleh
Jackson dan Calder (2004) yang menyatakan bahwa stunting berhubungan
dengan gangguan fungsi kekebalan dan meningkatkan risiko kematian. Di
Indonesia, diperkirakan 7,8 juta anak mengalami stunting, data ini
berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNICEF dan memposisikan
Indonesia masuk ke dalam 5 besar negara dengan jumlah anak yang
mengalami stunting tinggi (UNICEF, 2007). Hasil Riskesdas 2010, secara
nasional prevalensi kependekan pada anak umur 2-5 tahun di Indonesia
adalah 35,6 % yang terdiri dari 15,1 % sangat pendek dan 20 % pendek.
1.2.2 Etiologi

Menurut beberapa penelitian, kejadian stunted pada anak


merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa
kanak-kanak dan sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan
proses terjadinya stunted pada anak dan peluang peningkatan stunted terjadi
dalam 2 tahun pertama kehidupan.
Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab
tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan
perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin
mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir
dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan
perkembangan.
Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan
disebabkan kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi
yang berulang, dan meningkatnya kebutuhan metabolic serta mengurangi
nafsu makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan
ini semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang
akhirnya berpeluang terjadinya stunted (Allen and Gillespie, 2001).
Gizi buruk kronis (stunting) tidak hanya disebabkan oleh satu faktor
saja seperti yang telah dijelaskan diatas, tetapi disebabkan oleh banyak
faktor, dimana faktor-faktor tersebut saling berhubungan satu sama
10

lainnnya. Terdapat tiga faktor utama penyebab stunting yaitu sebagai


berikut :
1. Asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat
gizi dalam makanan yaitu karbohidrat, protein,lemak, mineral, vitamin,
dan air) 
2. Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR)
3.  Riwayat penyakit.
1.2.3 Tanda Gejala

1. Berat badan dan panjang badan lahir bisa normal,atau BBLR(berat bayi
lahir rendah) pada keterlambatan tumbuh intra uterine, umumnya
tumbuh kelenjarnya tidak sempurna.
2. Pertumbuhan melambat, batas bawah kecepatan tumbuh adalah
5cm/tahun desimal.
3. Pada kecepatan tumbuh tinggi badan < 4cm/ tahun kemungkinan ada
kelainan hormonal.
4. Umur tulang (bone age) bisa normal atau terlambat untuk umurnya.
5. Pertumbuhan tanda tanda pubertas terlambat.
1.2.4 Patofisiologi

Terjadinya stunting pada balita seringkali tidak disadari, dan setelah


dua tahun  baru terlihat ternyata balita tersebut pendek Masalah gizi yang
kronis pada balita disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu
yang cukup lama akibat orang tua/keluarga tidak tahu atau belum sadar
untuk memberikan makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi
anaknya. Riskesdas 2010 menemukan bahwa ada 21,5% balita usia 2-4
tahun yang mengonsumsi energi di bawah kebutuhan minimal dan 16%
yang mengonsumsi protein di bawah kebutuhan minimal. Dan bila ini
berlangsung dalam waktu lama, maka akan mengganggu pertumbuhan berat
dan tinggi badan.
Pada ibu hamil juga terdapat 44,4% yang mengonsumsi energi di
bawah kebutuhan minimal dan 49,5% wanita hamil yang mengonsumsi
protein di bawah kebutuhan minimal yang berdampak pada terhambatnya
pertumbuhan janin yang dikandungnya. Selain asupan yang kurang,
11

seringnya anak sakit juga menjadi penyebab terjadinya gangguan


pertumbuhan. Sanitasi lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang anak
melalui peningkatan kerawanan anak terhadap penyakit infeksi. Anak yang
sering sakit akibat rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat dapat
menyebabkan gangguan pertumbuhan kronis dan berdampak anak menjadi
pendek.

Dari hasil Riskesdas, 2010 lebih dari setengah (54,9%) masyarakat


kita memiliki akses sumber air minum tidak terlindung. Hanya 55,5%
masyarakat yang terakses dengan sanitasi, di perkotaan 71,4% dan pedesaan
38,5%. Penanganan sampah di masyarakat 52% dibakar dan penggunaan
bahan bakar  arang dan kayu bakar 40,0%. Selain itu juga ternyata Dua dari
3 perokok kita (76,7%) merokok di rumah dan dampak dari semua ini
berpotensi menyebabkan penyakit diare dan gangguan pernapasan pada
balita.

1.2.5 Penatalaksanaan

Pengobatan pada stunting antara lain :


1. Kalsium
Kalsium berfungsi dalam pembentukan tulang serta gigi,
pembekuan darah dan kontraksi otot. Bahan makanan sumber
kalsium antara lain : ikan teri kering, belut, susu, keju, kacang-
kacangan.
2. Yodium
Yodium sangat berguna bagi hormon tiroid dimana hormon
tiroid mengatur metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan
tubuh. Yodium juga penting untuk mencegah gondok dan
kekerdilan. Bahan makanan sumber yodium : ikan laut, udang, dan
kerang.
3. Zink
Zink berfungsi dalam metabolisme tulang, penyembuhan
luka, fungsi kekebalan dan pengembangan fungsi reproduksi laki-
12

laki. Bahan makanan sumber zink : hati, kerang, telur dan kacang-
kacangan.
4. Zat Besi
Zat besi berfungsi dalam sistem kekebalan tubuh,
pertumbuhan otak, dan metabolisme energi. Sumber zat besi antara
lain: hati, telur, ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau dan buah-
buahan.
5. Asam Folat
Asam folat terutama berfungsi pada periode pembelahan dan
pertumbuhan sel, memproduksi sel darah merah dan mencegah
anemia. Sumber asam folat antara lain : bayam, lobak, kacang-
kacangan, serealia dan sayur-sayuran.

1.3 ANALISIS JURNAL

Pencarian literatur menggunakan database ………………, kata kunci

yang yang digunakan “………………..”. Pencarian literatur didapatkan jurnal

sebagai berikut. Lihat tabel 1.1

Tabel 1.1 Analilis Jurnal


Sampel
Desain Analisa
No. Judul dan Teknik Variabel Instrumen Hasil
Penelitian Data
Sampling
1. HUBUN Cross Sampel uji Data data Hasil penelitian
GAN Sectiona Seluruh statistik antropo sekunder menunjukkan
BERAT l Balit kai metri hasil bahwa prevalensi
BADAN usia 0- kuadrat. Balita Survei stunting, BBLR
59
DAN yang PSG dan panjang lahir
bulan
PANJA meliput Provinsi rendah adalah
yang
NG ada i nama, Lampun 26,7%, 6,5%, dan
BADAN dalam umur, g 21,8%. Ada
LAHIR databa jenis hubungan antara
DENGA se kelamin panjang badan lahir
N hasil , dengan kejadian
KEJADI survei tanggal stunting
AN PSG lahir, sedangkan BBLR
STUNTI yaitu tanggal tidak berhubungan
seban
13

Sampel
Desain Analisa
No. Judul dan Teknik Variabel Instrumen Hasil
Penelitian Data
Sampling

NG yak survei, dengan kejadian


ANAK 4.735 berat stunting pada anak
12-59 anak. badan usia 12-59 bulan di
BULAN dan Provinsi
Sampling :
DI panjang Lampung tahun
semua
PROVIN Balita usia
badan 2015. Dinas
SI 12-59 serta Kesehatan
LAMPU bulan berat diharapkan dapat
NG yang dan meningkatkan
berjumlah panjang upaya pemantauan
3.129 badan pertumbuhan
anak lahir. Balita khususnya
bayi dengan
panjang lahir
pendek dengan
melakukan
pengukuran secara
berkala panjang
badan anak yang
pelaksanaannya
diintegrasikan
dalam kegiatan
penimbangan
Balita di Posyandu.
Selain
itu perlu juga
penguatan upaya
pencegahan
terjadinya
kelahiran bayi
pendek dengan cara
memberikan
perhatian yang
lebih besar pada
program-program
perbaikan gizi ibu

(Rigkasan isi jurnal terkait ke efektifan intervensi)


BAB 2

ASUHAN KEPERAWATAN …………………..

2.1. KASUS

2.2. PENGKAJIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

2.3. DIAGNOSA KEPERAWATAN

2.4. PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN

2.5. INTERVENSI KEPERAWATAN

2.6. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

2.7. EVALUASI KEPERAWATAN

14
15

BAB 3

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

3.2 SARAN
16

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, E. T. and McFarlane, J. (2007) Buku Ajar Keperawatan Komunitas


Teori dan Praktik. 3rd edn. Jakarta: EGC.
17

LAMPIRAN

(JURNAL)