Anda di halaman 1dari 30

TUGAS KEPERAWATAN KELUARGA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA

DENGAN NAPZA

Disusun Oleh :

1. Ani Ainun Nasirotus S NIM 1702012397

2. Indah Novita Sari NIM 1702012413

3. Umar al Faruq NIM 1702012430

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya
penyusunan makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA
DENGAN NAPZA”. Penulisan makalah ini sebagai syarat untuk menyelesaikan tugas mata
kuliah Keperawatan Komunitas pada Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Lamongan.

Makalah ini dapat penulis selesaikan berkat dukungan dari berbagai pihak. Pada
kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih atas segala bantuan materi maupun non
materi, dorongan dan doa dalam menyelesaikannya. Penulis mengucapkan terimakasih kepada:

Budi Utomo S.Kep.,Ns.,M.Kes, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan


beserta para Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan yang telah memberikan
kesempatan dan fasilitas kepada penulis untuk menempuh pendidikan di Program Studi S1
Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Lamongan.

Suratmi S.Kep., Ns., M.Kes, selaku Ketua Program Studi Program Studi S1 Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Lamongan yang telah bersedia
memberi arahan, perhatian, memberikan fasilitas dan motivasi dalam menyelesaikan makalah
ini.

Suhariyati S.Kep., Ns., M.Kep, selaku Dosen Penanggung Jawab Mata Kuliah yang
senantiasa memberi inspirasi, motivasi, bimbingan, dan penguatan dalam mengerjakan
makalah ini.

Suhariyati S.Kep., Ns., M.Kep, selaku Dosen Fasilitator yang senantiasa memberi inspirasi,
motivasi, bimbingan, dan penguatan dalam mengerjakan makalah ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas segala semua kebaikan yang telah memberikan
dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Besar harapan penulis semoga tesis ini dapat
membawa manfaat.

Lamongan, Maret 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iii

BAB 1 1

1.1 KONSEP KELUARGA 1

1.1.1 Definisi Keluarga 1

1. Menurut Departeman Kesehatan RI (1988) 1

2. Menurut BKKBN (1999) 1

3. Jhonson R-Leng R (2010) 1

1.1.2 Tahap Pekembangan Keluarga 1

1.1.3 Teori FCN 4

1.1.4 Peran Perawat Keluarga 5

1.2 KONSEP PENYAKIT 6

1.2.1 Definisi 6

1.2.2 Etiologi 7

1.2.3 Tanda Gejala 9

1.2.4 Patofisiologi 9

1.2.5 Penatalaksanaan Medis 11

1.2.6 Penatalaksanaan Keperawatan 12

1.3 ANALISIS JURNAL 14

BAB 2 15

2.1. KASUS 15

2.2. PENGKAJIAN KEPERAWATAN KELUARGA 15

2.3. ANALISA DATA 28


2.4. PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN 30

2.5. RENCANA KEPERAWATAN 30

2.6. IMPLEMENTASI KESEHATAN 35

2.7. EVALUASI KEPERAWATAN 39

BAB 3 40

3.1 KESIMPULAN 40

3.1 SARAN 41

DAFTAR PUSTAKA 42
BAB 1

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 KONSEP KELUARGA

1.1.1 Definisi Keluarga

1. Menurut Departeman Kesehatan RI (1988)

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdirir dari kepala keluarga dan

beberapa orang yang berkumpul dan yinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam

keadaan saling ketergantungan.

2. BKKBN (1999)

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang
sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertakwa
kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga
dan masyarakat serta lingkungan.
3. Jhonson R-Leng R (2010)
Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang masih memiliki hubungan darah.

1.1.2 Tahap Pekembangan Keluarga

Tahap perkembangan keluarga menurut Duvall dan Milller (Friedman, 1998)

a. Pasangan Baru

Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan perempuan

(istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga

masing-masing. Meninggalkan keluarga bisa berarti psikologis karena kenyataannya

banyak keluarga baru yang masih tinggal dengan orang tuanya.


Dua orang yang membentuk keluarga baru membutuhkan penyesuaian peran dan fungsi.

Masing-masing belajar hidup bersama serta beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan

pasangannya, misalnya makan, tidur, bangun pagi dan sebagainya

b. Keluarga “child bearing” kelahiran anak pertama

Dimulai sejak hamil sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak berumur

30 bulan atau 2,5 tahun.

c. Keluarga dengan anak pra sekolah

Tahap ini dimulai saat anak pertama berumur 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5

tahun.

d. Keluarga dengan anak sekolah

Tahap ini dimulai saat anak berumur 6 tahun (mulai sekolah ) dan berakhir pada saat

anak berumur 12 tahun. Pada tahap ini biasanya keluarga mencapai jumlah maksimal

sehingga keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah, masing-masing anak

memiliki minat sendiri. Dmikian pula orang tua mempunyai aktivitas yang berbeda

dengan anak.

e. Keluarga dengan anak remaja

Dimulai saat anak berumur 13 tahun dan berakhir 6 sampai 7 tahun kemudian. Tujuannya

untuk memberikan tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk

mempersiapkan diri menjadi orang dewasa.

f. Keluarga dengan anak dewasa

Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat anak

terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahapan ini tergantung jumlah anak dan ada atau

tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua.
g. Keluarga usia pertengahan

Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat

pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Pada beberapa pasangan fase ini dianggap

sulit karena masa usia lanjut, perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang

tua.

h. Keluarga usia lanjut

Dimulai saat pensiun sanpai dengan salah satu pasangan meninggal dan keduanya

meninggal.

1.1.3 Teori FCN

Keluarga tempat dimana seorang anak remaja tumbuh dan berkembang, sehingga
keluarga harus berperan dalam membentuk kepribadian dan karakter seorang anak remaja,
baik dari sisi moral, etika, estetika, ahlak, sosial dan emosional (Hartati 2017). Remaja
merupakan tahapan seseorang dimana ia berada di antara fase anak dan dewasa yang ditandai
dengan perubahan fisik, perilaku, kognitif, biologis dan emosi (Kemenkes 2013). Perilaku
seksual pranikah atau premarital sex pada remaja merupakan aktivitas seksual yang dilakukan
remaja dengan lawan jenis sebelum menikah, meliputi semua jenis hubungan fisik untuk
mengekspresikan perasaan erotis atau afeksi (khinayah 2015). Tujuan dari peneitian ini
menganalisis pengaruh faktor fungsi keluarga, faktor self efficiacy, peran peran keluarga dan
mengembangkan model keperawatan peran keluarga terhadap perilaku beresiko premarital
sex pada remaja wanita berbasis family centered nursing dan sefl efficacy untuk menghindari
risiko-risiko perilaku menyimpang yaitu seks pranikah pada anak usia remaja, peran keluarga
dapat mempengaruhi anak secara konsisten terhadap stimulus tertentu baik berupa bentuk
tubuh maupun sikap moral dan spiritual serta emosional anak. Komponen dari tugas dan
peran keluarga yang dapat mempengaruhi perilaku berisiko pada remaja meliputi pemahaman
sosial budaya, fungsi keluarga, self efficacy. (Friedman, 1998; Stipek dan Santrock,
2007,Pratiwi, 2010).

1.1.4 Peran Perawat Keluarga

Peran perawat keluarga adalah sebagai berikut :


a. Sebagai pendidik, perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan
kepada keluarga,terutama untuk memandirikan keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang memiliki masalah kesehatan.

b. Sebagai koordinator pelaksana pelayanan keperawatan, perawat bertanggung jawab


memberikan pelayanan keperawatan yang komprehensif.

c. Sebagai pelaksana pelayanan perawatan, pelayanan keperawatan dapat diberikan


kepada keluarga melalui kontak pertama dengan anggota keluarga yang sakit yang
memiliki masalah kesehatan.

d. Sebagai supervisor pelayanan keperawatan, perawat melakukan supervise ataupun


pembinaan terhadap keluarga melalui kunjungan rumah secara teratur, baik terhadap
keluarga berisiko tinggi maupun yang tidak.

e. Sebagai pembela (advokat), perawat berperan sebagai advokat keluarga untuk


melindungi hak-hak keluarga sebagai klien.

f. Sebagai fasilisator, perawat dapat menjadi tempat bertanya individu, keluarga, dan
masyarakat untuk memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka
hadapi sehari-hari serta dapat membantu memberikan jalan keluar dalam mengatasi
masalah.

g. Sebagai peneliti, perawat keluarga melatih keluarga untuk dapat memahami masalah-
masalah kesehatan yang dialami oleh anggota keluarga.

h. Sebagai modifikasi lingkungan, perawat komunitas juga harus dapat memodifikasi


lingkungan, baik lingkungan rumah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekitarnya
agar dapat tercipta lingkungan yang sehat. (Sudiharto dan Sri Setyowati, 2007)

1.2 KONSEP PENYAKIT

1.2.1 Definisi

Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika dan obat atau bahan berbahaya. Selain istilah
Narkoba juga dikenal istilah NAPZA yaitu Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya. Semua
istilah ini sebenarnya mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko
kecanduan.
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan (UU no 22, tahun 1997)

NAPZA adalah zat-zat kimiawi yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, baik ditelan melalui
mulut, dihirup melalui hidung maupun disuntikkan melalui urat darah. Zat-zat kimia itu dapat
mengubahpikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Pemakaian terus
menerus akan mengakibatkan ketergantungan fisik dan/atau psikologis.

1.2.2 Etiologi

1) Faktor Obat

Obat atau zat yang sering di salah gunakan adalah obat alkohol, benzodiazepin ,
mariyuana, amfetamin , kokain, opium , heroin , morpin dll .

Semua jenis obat tersebut dapat mengakibatkan gangguan mental yang di sebabkan
oleh efek langsung oleh zat tersebut terhadap susunan saraf pusat. Semua jenis obat
tersebut dapat mengakibatkan gangguan mental yang di sebabkan oleh efek langsung
dari zat tersebut terhadap susunan saraf pusat.

2) Faktor individu

Kebanyakan penyalahgunaan NAPZA dimulai atau terdapat pada masa remaja, sebab remaja
yang sedang mengalami perubahan biologik, psikologik maupun sosial yang pesat merupakan
individu yang rentan untuk menyalahgunakan NAPZA. Anak atau remaja dengan ciri-ciri
tertentu mempunyai risiko lebih besar untuk menjadi penyalahguna NAPZA.

3) Faktor lingkungan

Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik di sekitar rumah,
sekolah, teman sebaya maupun masyarakat. Faktor lingkungan yang ikut menjadi penyebab
seorang anak atau remaja menjadi penyalahgunaan NAPZA antara lain adalah:

4) Lingkungan Keluarga
a. Komunikasi orang tua-anak kurang baik

b. Hubungan dalam keluarga kurang harmonis/disfungsi dalam keluarga

c. Orang tua bercerai, berselingkuh atau kawin lagi

d. Orang tua terlalu sibuk atau tidak acuh

e. Orang tua otoriter atau serba melarang

f. Orang tua yang serba membolehkan (permisif)

g. Kurangnya orang yang dapat dijadikan model atau teladan

h. Orang tua kurang peduli dan tidak tahu dengan masalah NAPZA

i. Tata tertib atau disiplin keluarga yang selalu berubah (tidak konsisten)

j. Kurangnya kehidupan beragama atau menjalankan ibadah dalam keluarga

k. Orang tua atau anggota keluarga yang menjadi penyalahguna NAPZA.

5) Lingkungan Sekolah

a. Sekolah yang kurang disiplin

b. Sekolah yang terletak dekat tempat hiburan dan penjual NAPZA

c. Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri
secara kreatif dan positif

d. Adanya murid pengguna NAPZA

6) Lingkungan Pergaulan

a. Berteman dengan pengguna narkoba

b. Tekanan atau ancaman teman kelompok atau pengedar narkoba

c. Lingkungan masyarakat / sosial


7) Lemahnya penegakan hukum

Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung

1.2.3 Tanda dan Gejala

1) Perubahan fisik

a. Badan kurus

b. Tampak mengantuk

c. Mata merah dan cekung

d. bekas suntikan

e. goresan pada lengan dan kaki

2) Perubahan perilaku

a. Emosi labil

b. Takut sinar/air

c. Menyendiri

d. Bohong / mencuri

e. Menjual barang

f. Pergi tanpa pamit

g. Halusinasi

h. paranoid

1.2.4 patofisiologi

Adiksi adalah suatu kelainan sistem saraf pusat (otak) yang membuat kita terus menerus
melakukan sesuatu karena suatu insentif positif, walaupun efek negatifnya lebih merugikan
dalam kehidupan kita sehari-hari atau bahkan bisa mematikan.

Semua zat napza bisa membuat ketagihan karena satu factor utama, yaitu aktivitas di dalam
reward system kita. Reward system adalah mekanisme reinforcement yang ada di otak yang
membantu kita untuk bertahan hidup dan meneruskan gen kita, atau bereproduksi. Semua hal
yang memberikan kenikmatan (terutama makanan) akan melepaskan neurotransmitter
bernama dopamine lewat jalur bernama mesolimbic pathway di otak kita.

Mekanisme inilah yang ditunggangi zat-zat adiktif. Hampir semua zat-zat ini secara langsung
atau tidak langsung menyebabkan dopamine dengan konsentrasi tinggi terus-menerus aktif di
otak kita dan otak kita akan merespon .

1.2.5 penatalaksanaan medis

Pengobatan

Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan detoksifikasi. Detoksifikasi adalah upaya
untuk mengurangi atau berhenti fakta putus zat, dengan doa cara yaitu:

a) Detoksifikasi

Klien keterbatasan pulau (heroin) yg berhenti menggunakan zat yg mengalami gejala putus zat
tidak di beri obat untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut. Klien hanya di biarkan saja
sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri.

b. Detoksifikasi dengan substitusi.

- putau atau heroin dapat di substitusi dengan memberikan jenis opiat misalnya kodein,
bufremorfin, dan metadon. Substitusi bagi pengguna sedatif-hipnotik dan alkohol dapat dari
jenis anti ansietas. Misalnya diazepam pemberian substitusi adalah dengan cara penurunan
dosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Selama pemberian substitusi dapat juga di
berikan obat yg menghilangkan gejala simptomatik, misalnya obat penghilang rasa nyeri,rasa
mual dan obat tidur, atau sesuai dengan gejala yg ditimbulkan akibat putus zat tersebut..

1.2.6 penatalaksanaan keperawatan

Upaya yang di lakukan perawat komunitas yaitu dengan pencegahan meliputi :

1) Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan, misalnya dengan :

a. Memberikan informasi dan pendidikan yg efektif tentang NAPZA.

b. Deteksi dini perubahan perilaku

2) Pencegahan primer :
mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan NAPZA dan melakukan intervensi.

Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja yang mempunyai resiko tinggi
untuk menyalahgunakan NAPZA, setelah itu melakukan intervensi terhadap mereka
agar tidak menggunakan NAPZA.

Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat
menghabat proses tumbuh kembang anak dapat diatasi dengan baik.

3) Pencegahan Sekunder : mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan NAPZA.

4) Pencegahan Tersier : merehabilitasi penyalahgunaan NAPZA.

1.3 ANALISIS JURNAL

Pencarian literatur menggunakan database Analysis of Drug Abuses Using The Health
Belief Model Approcah, kata kunci yang yang digunakan “napza”. Pencarian literatur didapatkan
jurnal sebagai berikut. Lihat tabel 1.3.1

Tabel 1.3.1 Analilis Jurnal

Sampel
Desai
N n dan Instru Analisa
Judul Teknik Variabel Hasil
o. Peneli men Data
tian Samplin
g

1. Analysis of feno Sampel Pernikaha purposi tehnik Penelitian ini


Drug menol n remaja, ve Fokus didapatkan hasil:
70 orang
Abuses ogi wilayah sampli Group
residen, faktor internal yang
Using The geografis ng Discussio
yang mempengaruhi
Health regional n (FGD)
sedang penyalahgunaan
dan
Belief
menjalan subregiona NAPZA adalah sifat
Model
i l, usia, mudah terpengaruh
Approcah
program (63,9%), memiliki
Sampel
Desai
N n dan Instru Analisa
Judul Teknik Variabel Hasil
o. Peneli men Data
tian Samplin
g

rehabilit jenis gaya hidup mewah


asi kelamin, dan suka bersenang-
ketergan kekayaan senang (63,9%),
tungan Faktor eksternal
obat adalah berteman
yang dengan pengguna
terdiri (87,9%), keluarga
dari 10 tidak utuh (74,7%),
residen tidak beragama
di Panti (74,7%), komunikasi
Yakita, kurang baik (73,4%),
40 lingkungan sekitar
residen membuat tertekan
di Panti (60,2%), keadaan
Tabina, ekonomi (51,8%)
dan 20 dan cara
residen memperoleh gratis
di Panti (51,8%). Faktor
Rumoh dominan yang
harapan diperoleh adalah
Aceh. NAPZA membuat
ketagihan dan ingin
mencoba kembali
Samplin (100 %), dan
Sampel
Desai
N n dan Instru Analisa
Judul Teknik Variabel Hasil
o. Peneli men Data
tian Samplin
g

g: berteman dengan
kumpulan pengguna
studi
(87,9 %).
fenomen
ologi

Ringkasan isi jurnal :

Masalah penggunaan Napza merupakan salah satu kontributor utama terhadap beban penyakit
global yang berupa disabilitas dan mortalitas. Berbagai alasan yang menyebabkan seseorang
melakukan penyalahgunaan Napza diantaranya sosial ekonomi, stresor , efek obat; relaks,
peningkatan aktifitas, dan penghilangan mod depresi. Populasi dalam penelitian ini adalah
residen dari tempat rehabilitasi ketergantungan obat yang ada di Kota Banda. Sampel terdiri
atas 21 partisipan .Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik Fokus Group Discussion (FGD),
mengeksplorasi persepsi penyalahguna Napza yang terdiri dari persepsi resiko, persepsi
keparahan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, tindakan, dan keyakinan diri. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa persepsi resiko; resiko penyalahgunaan Napza berdampak pada fisik,
psikis, sosial, spiritual dan prilaku kriminal. Persepsi keparahan; tingkat keparahan yang paling
dominan mengalami halusinasi, perilaku paranoid, depresi, dan emosi tidak stabil. Persepsi
manfaat program rehab; mendapatkan informasi, motivasi, kegiatan positif, komitmen berhenti
menggunakan Napza. Persepsi hambatan; hambatan untuk berhenti dipengaruhi oleh
lingkungan terutama teman. Tindakan; mengikuti program rehab dan didukung oleh keluarga.
Keyakinan diri ; tidak semua partisipan menunjukkan keyakinan diri yang kuat untuk berhenti
menggunakan Napza.

BAB 2

KASUS

2.1 Kasus

An. A seorang pengamen jalanan masuk panti rehabilitasi pada tanggal 19 Juni 2012 pukul
13:00 WIB setelah dirazia oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) di Sekitaran Stasiun Jati
Negara, Bekasi karena kedapatan sedang “ngelem” bersama teman-teman ngamennya.
Kemudian klien dilakukan wawancara dan pemeriksaan lebih lanjut oleh petugas panti
rehabilitasi. Setelah dilakukan wawancara, didapatkan data sebagai berikut :

Klien berusia 12 tahun berasal dari keluarga kurang mampu dan tinggal di lingkungan kumuh
di dekat TPS. Sehari-hari klien bekerja sebagai pengamen jalanan bersama anak-anak sebayanya
yang juga berasal dari keluarga kurang mampu. Klien mengaku dulu pernah sekolah sampai
kelas 2 SD kemudian tidak melanjutkan karena tidak ada biaya. Orang tuanya kemudian
menuntut klien untuk membantu mencari na waktufkah di jalanan.

An. A dan teman-temannya biasa melakukan kegiatan yang tidak biasa/menyimpang dari anak
normal seusianya, disela-sela waktu istirahat ngamen, klien sering “ngelem” di pingggir jalan
bersama dengan teman-temanya. Awalnya hanya karena ikut-ikutan anak jalanan lain dan mulai
penasaran dengan efek yang ditimbulkan. Kemudian klien mulai “ngelem” bersama teman-teman
pengamennya dan lam-kelamaan kebiasaan tersebut menjadi rutinitas klien dan teman-temannya
setiap hari, bahkan terkadang dengan “ngelem” tersebut mereka merasa tidak pernah lelah untuk
mencari uang dijalanan. Kebiasaan “ngelem” ini merupakan kebiasaan yang biasa mereka
gunakan untuk mengalihkan segala masalah yang mereka hadapi, termasuk melupakan rasa lapar
karena berhari-hari tidak makan. Mereka juga mengungkapkan dengan “ngelem” mereka akan
menjadi lebih bersemangat, percaya diri, berenergi. Suatu hari klien tidak ngelem selama sehari
karena ia merasa tidak enak badan, kemudian klien merasa sangat tersiksa dan merasa badan
berkeringat dingin, pusing, gemetaran, dan merasa bahwa hidupnya berat sekali.

2.2 Pengkajian

1. Pola aktivitas atau istirahat

Pasien mengatakan :

- “susah tidur, sering begadang dan kalau tidur suka mimpi buruk”

- “suka tiba-tiba c emas”

- “kalau kerja semangat, malah susah untuk diam”

- “kalau lagi ngelem ya rasanya melayang, kadang-kadang jalan sempoyongan kayak orang
mabok”

2. Sirkulasi

Berdasarkan pemeriksaan fisik :

- Tekanan Darah : 130/90 mmHg

- Nadi : 97 x/menit, takhikardi


3. Integritas Ego

Pasien mengatakan :

- “kalau lagi “ngelem” sambil kumpul ma’ anak-anak, rasanya seneng banget, kayak kagak
ada beban pikiran gitu, jadi lupa aja ma’ masalah dan capek. Malah jadi makin PD dan keren”

- “gua gak pernah merasa kalau itu (“ngelem”-red) salah, orang gua juga gak nyuri lem
orang kok! Hahaha........”

- “dengan ngelem gini, gua ngerasa bisa lepas dari masalah, kalau ngak gini hidup gua bakal
ancur. Gua ‘dah ketergantungan banget”

4. Makan atau minum

Pasien mengatakan :

- ”gak ada napsu makan, dengan “ngelem” aja udah kenyang rasanya”

- “rasanya gua makin kurus juga, dulu gak sampai kerempeng gini, mungkin gara-gara gak
inget makan juga”

5. Neurosensorik

Pasien tampak :

- Emosi psikologis : Gembira, banyak bicara, waspada berlebihan.

- Dilatasi pupil

Pasien mengatakan :

- “kalau ngeliat gitu, mata agak kabur”

- “suka gemeteran juga lama-lama apalagi kalau lagi pengen (“ngelem”-red)”

- “cemas juga kadang-kadang, takut kalau ngak “ngelem” jadi uring-uringan”

6. Nyeri

- (pasien tidak mengeluh nyeri)

7. Pernapasan

Pasien mengatakan :

- “Sering sesak napas seperti tercekik”

8. Keamanan
Pasien mengatakan :

- “kalau ngak “ngelem” badan berasa panas dingin gak jelas, kayak mau meriang rasanya”

- “suka mau marah juga sih, apalagi kalau lagi pengen terus gak dapet, tapi belum pernah
sampai mukulin apalagi bunuh orang”

9. Seksualitas

- (pasien tidak mengeluh ada gangguan di organ genetalia atau masalah kesehatan
reproduksi)

10. Interaksi sosial

- “gua turun ke jalanan gini jadi gepeng juga karena ortu yang ‘gak punya kerjaan, gua mesti
nyari duit buat bertahan hidup”

- “kalau sekolah mungkin gua udah SMP, tapi karena harus kerja begini, gua dah ngelupain
jaman sekolah”

2.3 analisis data

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

Ds: Penyalahgunaan zat Ansietas

Pasien mengatakan merasa


binggung

Pasien mengatakan khawatir dengan


NO DATA ETIOLOGI MASALAH

akibat dari kondisi yang dia hadapi

Pasien mengatakan sulit


berkosentrasi

Pasien mengatakan mengeluh pusing


jika tidak mengalam

Do:

Tampak gelisah

Sulit tidur

Ds: Kurang control tidur Gangguan pola


tidur
Pasien mengeluh sulit tidur

Pasien mengeluh pola tidur berubah

Pasien mengeluh istirahat tidak


cukup

Do:

Ds: Impulsive Gangguan


interaksi sosial
Pasien mengatakan merasa tidak
nyaman dengan situasi sosial

Pasien merasa sulit menerima atau


mengkomunikasikan perasaan

Do:

Kontak mata kurang

Perilaku tidak sesuai usia

2.4 Prioritas Diagnosa Keperawatan


1. Ansietas b.d penyalahgunaan zat

2. Gangguan pola tidur b.d kurang control tidur

3. Gangguan interaksi sosial b.d impulsive

2.5 Rencana Keperawatan

NO SDKI SLKI SIKI

1. Ansietas b.d penyalahgunaan zat Control diri meningkat Dukungan emosional

( D.0080) ( L.09076) ( 1.09256)

Gejala dan mayor Setelah dilakukan tindakan Observasi:

Subjektif : keperawatan 1x24 jam Identifikasi fungsi


marah , frustasi, dan
Merasa binggung diharapkan status nutrisi amuk bagi pasien
Sulit berkonsentrasi membaik dengan kriteria Identifikasi hal yang
Objektif yang telah memicu
hasil : emosi
Tampak gelisah
Terapeutik:
Perilaku menyerang menurun
Tampak tegang
Fasilitasi
Sulit tidur Perilaku melukai diri sendiri / mengungkapkan
perasan cemas,marah,
Gejala dan minor
orang lain menurun atau sedih
Subjektif
Lakukan sentuhan
Verbalisasi ancaman bunuh untuk memberikan
Mengeluh pusing
dukungan
diri menurun
Merasa tidak berdaya
Edukasi:
Objek tif
Anjurkan
Muka tampak pucat mengungkapkan
perasaan yang dialami
Kontak mata buruk
Ajarkan penggunaan
mekanisme
pertahanan yang tepat
NO SDKI SLKI SIKI

Kolaborasi:

Rujuk dan konseling

Gangguan pola tidur b.d kurang Persepsi sensori membaik Teknik menenangkan
control tidur ( D.0055) ( L.09083)
( 1.08248)

Gejala dan mayor


Setelah dilakukan tindakan Setelah dilakukan
Subjektif
keperawatan 1x24 jam tindakan keperawatan
Mengeluh sulit tidur
diharapkan status nutrisi 1x24 jam diharapkan
Mengeluh istirahat tidak cukup
membaik dengan kriteria status nutrisi membaik
Objektif
hasil: dengan kriteria hasil:
-

Gejala dan minor Verbalisasi merasakan Observasi:


Subjektif
sesuatu melalui indra
Identifikasi masalah
Mengeluh kemampuan
pengecapan menurun
beraktifitas menurun yang di alami

Objektif Perilaku halusinasi menurun


Terapeutik:
-

Buat kontrak dengan

pasien

Ciptakan ruangan

yang tenang dan

nyaman

Edukasi:
NO SDKI SLKI SIKI

Anjurkan melakukan

teknik menenangkan

hingga perasaan

menjadi tenang.

Gangguan interaksi sosial b.d Interaksi sosial meningkat Dukungan pemulihan


impulsive penyalahgunaan
( L. 13115) alcohol ( 1. 09263)
( D.0118)

Setelah dilakukan tindakan


Setelah dilakukan
Gejala dan mayor
keperawatan 1x24 jam
tindakan keperawatan
Subjektif
diharapkan status nutrisi
1x24 jam diharapkan
Merasa tidak nyaman dengan
situasi sosial membaik dengan kriteria
status nutrisi membaik
Merasa sulit menerima atau hasil:
dengan kriteria hasil:
mengkomunikasikan perasaan
Perasaan mudah menerima
Objektif Observasi:
Kurang responsive atau tertarik menurun
Monitor kemajuan
pada orang lain pemulihan
Minat melakukan kontak penyalahgunaan
Tidak berminat melakukan kontak
alcohol
emosi dan fisik emosi menurun
Terapeutik:
Gejala dan minor
Gejala cemas menurun Fasilitasi
Subjektif
mengembangkan
- koping produktif dan
bertanggung jawab
Objektif tanpa penyalahgunaan
Gejala cemas berat alcohol

Libatkan dalam
NO SDKI SLKI SIKI

Perilaku tidak sesuai usia kelompok pendukung


dan pencegahan
kekambuhan

Edukasi:

Jelaskan pentingnya
pulih dari
penyalahgunaan
alcohol

Ajarkan pemulihan
trauma akibat
penyalahgunaan
alcohol.

2.6 Implementasi keperawatan

NO Tgl/jam Implementasi Paraf

1. 21/4 Dukungan emosional


2020
08.00 ( 1.092 )

Observasi:

mengidentifikasi fungsi marah ,


frustasi, dan amuk bagi pasien

mengidentifikasi hal yang yang


telah memicu emosi

Terapeutik:

memfaasilitasi mengungkapkan
perasan cemas,marah, atau sedih

melakukan sentuhan untuk


memberikan dukungan

Edukasi:

menganjurkan mengungkapkan
NO Tgl/jam Implementasi Paraf

perasaan yang dialami

mengjarkan penggunaan mekanisme


pertahanan yang tepat

Kolaborasi:

merujuk dan konseling

24/4 Teknik menenangkan


2020
( 1.08248)
08.00

Observasi:

mengidentifikasi masalah yang di

alami

Terapeutik:

membuat kontrak dengan pasien

menciptakan ruangan yang tenang

dan nyaman

Edukasi:

menganjurkan melakukan teknik


menenangkan hingga perasaan
menjadi tenang

24/4 Dukungan pemulihan


2020 penyalahgunaan alcohol ( 1. 09263)

08.00
NO Tgl/jam Implementasi Paraf

Observasi:

memonitor kemajuan pemulihan


penyalahgunaan alcohol

Terapeutik:

memfasilitasi mengembangkan
koping produktif dan bertanggung
jawab tanpa penyalahgunaan
alcohol

melibatkan dalam kelompok


pendukung dan pencegahan
kekambuhan

Edukasi:

menjelaskan pentingnya pulih dari


penyalahgunaan alcohol

mengajarkan pemulihan trauma


akibat penyalahgunaan alcohol.

2.7 Evaluasi Keperawatan

No Dx Tgl/Jam Evaluasi Paraf

24/4 S:
2020
08.00 keluarga dan klien mengatakan sedikit
tenang sudah di jelaskan dan di ajarkan
cara mengatasi penyakit yang di rasakan
klien ( mati rasa)

Klien mengatakan mempraktekkan cara


yang sudah di ajarkan perawat

O:

Klien dan keluarga masih tampak sedikit


No Dx Tgl/Jam Evaluasi Paraf

cemas

A:

Masalah teratasi sebagian

P:

Intervensi di lanjutkan

24/4 S:
2020
08.00 klien mengatakan sudah bisa tidur +/- 6
jam , namun masih merasa lingkungan
kurang nyaman

O:

Ku= sedang kes= CM sudah bisa tidur

A:

Masalah teratasi

P:

Intervensi di lanjtkan

24/4 S:
2020
08.00 Klien mengatakan sudah memahami apa
yang perawat bicarakan

O:

Klien tampak koomperatif

A:

Masalah teratasi

P:

Intervensi di lanjutkan
No Dx Tgl/Jam Evaluasi Paraf

BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdirir dari kepala keluarga dan
beberapa orang yang berkumpul dan yinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan
saling ketergantungan.

Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika dan obat atau bahan berbahaya. Selain istilah
Narkoba juga dikenal istilah NAPZA yaitu Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya. Semua
istilah ini sebenarnya mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko
kecanduan.

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan (UU no 22, tahun 1997)

NAPZA adalah zat-zat kimiawi yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, baik ditelan melalui
mulut, dihirup melalui hidung maupun disuntikkan melalui urat darah. Zat-zat kimia itu dapat
mengubahpikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Pemakaian terus
menerus akan mengakibatkan ketergantungan fisik dan/atau psikologis.

Semua jenis obat tersebut dapat mengakibatkan gangguan mental yang di sebabkan oleh efek
langsung oleh zat tersebut terhadap susunan saraf pusat. Semua jenis obat tersebut dapat
mengakibatkan gangguan mental yang di sebabkan oleh efek langsung dari zat tersebut
terhadap susunan saraf pusat.

3.2 SARAN

Napza harus dicegah sedini mungkin dengan meningkatkan pelayanan kesehatan . Terutama
kepada anak dan keluarga . Remaja dengan penyalahgunaan napza harus di awasi dan di
perhatikan secara penuh agar tidak terjerumus untuk penggunaan napza . Bagi remaja dengan
penyalahgunaan obat-obat napza harus mendapat pengawasan khusus serta rehabilitasi.

Daftar Pustaka
Anderson, E. T. and McFarlane, J. (2007) Buku Ajar Keperawatan Komunitas Teori dan Praktik. 3rd edn.
Jakarta: EGC.

Depkes. (2002). Keputusan Menteri kesehatan RI tentang pedoman penyelenggaraan sarana


pelayanan rehabilitasi penyalahgunaan dan ketergantungan narkotika, psikotropika dan zat
adiktif lainnya (NAPZA). Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Dreyer, Jean-Luc (2010). “New insights into the roles of microRNAs in drug addiction and
neuroplasticity”. Genome Med. 2 (12): 92.

Olsen, Christopher M. (2011). “Natural Rewards, Neuroplasticity, and Non-Drug Addictions”.


Neuropharmacology 61(7): 1109-1122.