Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN PROSES PIKIR: WAHAM

A.  Kasus (Masalah Utama)


Gangguan Proses  Pikir: Waham

B.  Proses Terjadinya Masalah


1.      Pengertian
Waham adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang
salah, keyakinan yang tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya,
ketidakmampuan merespon stimulus internal dan eksternal melalui proses iteraksi atau
informasi secara akurat (Yosep, 2009).
Waham adalah keyakinan terhadap sesuatu yang salah dan secara kukuh
dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita
normal (Stuart dan Sundeen, 1998).
Waham adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang
salah, keyakinan yang tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya,
ketidakmampuan merespon stimulus internal dan ekternal melalui proses interaksi atau
informasi secara akurat (Keliat, 1999).

2.      Faktor Predisposisi
Menurut Direja (2011), faktor predisposisi dari gangguan isi pikir, yaitu:
a.    Faktor perkembangan
Hambatan perkembangan akan menganggu hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat
meningkatkan stres dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi, klien menekan
perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.
b.    Faktor sosial budaya
Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbulnya waham.
c.    Faktor psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda atau bertentangan, dapat menimbulkan ansietas
dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan.
d.   Faktor biologis
Waham diyakini terjadi karena adanya atrofi otak, pembesaran vertikel di otak, atau
perubahan pada sel kortikal dan limbic.
e.    Faktor genetic

3.      Faktor Presipitasi
Menurut Direja (2011) faktor presipitasi dari gangguan isi pikir: waham, yaitu :
a.    Faktor sosial budaya
Waham dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti atau diasingkan
dari kelompok.
b.    Faktor biokimia
Dopamine, norepineprin, dan zat halusinogen lainnya diduga dapat menjadi penyebab waham
pada seseorang.
c.    Faktor psikologis
Kecemasan yang memandang dan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah
sehingga klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang menyenangkan.

4.      Mekanisme Koping
1.      Klien : identifikasi koping kekuatan dan kemampuan yang masih dimiliki klien.
2.      Sumber daya dan duungan sosial : pengetahuan keluarga, finansial keluarga, waktu dan
tenaga keluarga yang tersedia, kemampuan keluarga memberikan asuhan.

5.      Proses terjadinya
                 Menurut Yosep (2009), adapun proses terjadinya waham, yaitu: 
   Fase lack of human need 
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik maupun
psikis. Secara fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial
dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan menderita. Keinginan ia
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk melakuakn kompensasi yang
salah. Ada juga klien yang secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan
antara reality dengan self ideal sangat tinggi. Misalnya ia seorang sarjana tetapi
menginginkan dipandang sebagai seorang yang dianggap sangat cerdas, sangat
berpengalaman dan diperhitungkan dalam kelompoknya. Waham terjadi karena sangat
pentingnya pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini. Dapat dipengaruhi juga oleh rendahnya
penghargaan saat tumbuh kembang (life span history).
b.      Fase lack of self esteem
Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self
ideal dengan self reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak
terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya. Misalnya, saat
lingkungan sudah banyak yang kaya, menggunakan teknologi komunikasi yang canggih,
berpendidikan tinggi serta memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap
memasang self ideal yang melebihi lingkungan tersebut. Padahal self reality-nya sangat jauh.
Dari aspek pendidikan klien, materi, pengalaman, pengaruh, support system semuanya sangat
rendah.
c.       Fase control internal external
Klien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia katakan
adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Tetapi
mengahadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang sangat berat, karena kebutuhannya
untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas
dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal.
Lingkungan sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien
itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adequate karena besarnya toleransi dan
keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau
konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain.
d.      Fase environment support
Ada beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya menyebabkan klien
merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai
suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan
kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (Super ego) yang ditandai dengan tidak ada lagi
perasaan dosa saat berbohong.
e.       Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap bahwa
semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan sering diserati
halusinasi pada saat klien menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya klien lebih sering
menyendiri dan menghindari interkasi sosial (isolasi sosial).
f.        Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan yang
salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan
traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang).
Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman
diri dan orang lain. Penting sekali untuk menggung kayakinan klien dengan cara konfrontatif
serta memperkaya kayakinan religiusnya bahwa apa-apa yang dilakukan menimbulkan dosa
besar serta konsekuensi sosial.

6.      Klasifikasi, Jenis dan Sifat Masalah


Proses berpikir meliputi 3 aspek yaitu bentuk pikiran, isi pikiran dan arus pikiran. Menurut
Kaplan, berfikir merupakan aliran gagasan, symbol dan asosiasi yang diarahkan oleh tujuan,
dimulai oleh suatu masalah atau tugas dan mengarah pada kesimpulan yang berorientasi pada
kenyataan.
a.       Gangguan Bentuk Pikir
Dalam kategori ini termasuk semua penyimpangan dari pemikiran rasional, logic dan terarah
pada tujuan.
1)      Dereisme/ pikiran dereistik
Titik berat pada tidak adanya sangkut paut terjadi antara proses mental individu dan
pengalamannya yang sedang berjalan. Proses mentalnya tidak sesuai dengan atau tidak
mengikuti kenyataan, logika atau pengalaman.
2)      Pikiran otistik
Menandakan bahwa penyebab distorsi arus asosiasi adalah dari dalam pasien itu sendiri
dalam bentuk lamunan, fantasi, waham, atau halusinasi. Cara berfikir seperti ini hanya akan
memuaskan keinginannya yang tidak terpenuhi tanpa memperdulikan keadaan seitarnya yang
tidak terpenuhi tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya. Hidup dalam alam pikirannya
sendiri.
3)      Bentuk pikiran non realistic
Bentu pikiran yang sama sekali tidak berdasaran pada kenyataan, mengambil sesuatu
kesimpulan yang aneh dan tidak masuk akal.
b.      Gangguan Arus Pikir
Yaitu tentang cara dan lajunya proses asosiasi dalam pemikiran yang timbul dalam berbagai
jenis :
1)      Perseverasi : berulang-ulang menceritakan suatu ide, pikiran atau tema secara berlebihan.
2)      Asosiasi longgar : mengatakan hal-hal yang tidak ada hubungannya satu sama lain,
misalnya “saya mau makan semua orang dapat berjalan-jalan”. Bila ekstrim, maka akan
terjadi inkoherensi.
3)      Inkoherensi : gangguan dalam bentuk bicara, sehingga satu kalimat pun sudah sulit
ditangap atau diikuti maksudnya.
4)      Kecepatan bicara : untuk mengutarakan pikiran mungkin lambat sekali atau sangat cepat.
5)      Benturan : piiran tiba-tiba berhenti atau berhenti di tengah sebuah kalimat. Pasien tidak
dapat menerangkan mengapa ia berhenti.
6)      Logorea : banyak bicara, kata-kata dikeluaran bertubi-tubi tanpa kontrol, mungkin koherent
atau incoherent.
7)      Pikiran melayang (flight of ideas) :perubahan yang mendadak lagi cepat dalam
pembicaraan, sehingga satu ide yang belum selesai diceritakan sudah disusul oleh ide yang
lain.
8)      Asosiasi bunyi : mengucapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi, misalnya
pernah disengar “saya mau makan” diutarakan seakan berontak.
9)      Neologisme : membentuk kata-kata baru yang tida dipahami oleh umum, misalnya : saya
radiitu, semua partinum.
10)  Irelevansi : isi pikiran atau ucapan yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan atau
dengan hal yang sedang dibicarakan.
11)  Pikiran berputar-putar (circumstantiality) : menuju secara tidak langsung kepada ide pkok
dengan menambahan banyak hal yang remeh-remeh yang majemuk dan tidak relevan.
12)  Main-main dengan kata-kata : membuat sejak secara tidak wajar.
13)  Afasi : mungkin sensori (tidak atau sukar mengerti biacara orang lain) atau motorik (tidak
dapat atau sukar bicara), sering kedua-duanya sekaligus dan terjadi kerusakan otak.
c.       Gangguan Isi Pikir
Dapat terjadi baik pada isi pikiran nonverbal maupun pada isi pikiran yang diceritakan
misalnya :
1)      Kegembiraan yang luar biasa (ecstasy) : dapat timbul secara mengambang pada orang yang
normal selama fase permulaan narkosa (anastesi umum)
2)      Fantasi : isi pikiran tentang suatu keadaan atau kejadian yang diharapkan/ diinginkan, tetapi
dikenal sebagai tidak nyata.
3)      Fobia : rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat
dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahui bahwa hal itu irasional adanya.
4)      Obsesi : Isi pikiran yang kukuh (persisten) timbul, biarpun tidak dikendalikannya dan
diketahui bahwa hal itu tidak wajar atau tidak mungkin.
5)      Preokupasi : Pikiran terpaku hanya pada sebuah ide saja yang biasanya berhubungan
dengan keadaan yang bernada emosional yang kuat.
6)      Pikiran yang tak memadai (Inadequate) : pikiran yang ekstrinsik, tidak cocok dengan
banyak hal, terutama dalam pergaulan dan pekerjaan seseorang.
7)      Pikiran bunuh diri (Suicide thoughts / ideation) : mulai dari kadang-kadang memikirkan hal
bunuh dari sampai terus menerus memikirkan cara bagaimana ia dapat membunuh dirinya
8)      Pikiran hubungan : pembicaraan orang lain, benda-benda, atau sesuatu kejadian
dihubungkan dengan dirinya.
9)      Rasa terasing (aleanasi) : perasaan bahwa dirinya sudah menjadi lain, berbeda asing,
umpamanya heran, siapakah dia itu sebenarnya, rasanya ia berbeda sekali dengan orang lain.
10)  Pikiran isolasi sosial (social isolation) : rasa terisolasi, tersekat, terkunci, terpencil dari
masyarakat, rasa ditolak, tidak disukai orang lain, rasa tidak enak bila berkumpul dengan
orang lain, lebih suka menyendiri.
11)  Pikiran rendah diri : Merendahkan, menghinakan dirinya sendiri, menyalahkan dirinya
tentang suatu hal yang pernah atau tidak pernah dilakukannya.
12)  Merasa dirugikan oleh orang lain : menghina atau menyangka ada orang lain yang telah
merugikannya, sedang mengambil keuntungan dari dirinya, atau sedang mencelakakannya.
13)  Merasa dirinya dalam bidang seksual : acuh tak acuh tentang hal seksual, kegairahan seksual
berkurang secara umum (hiposeksualitas).
14)  Rasa salah : sering mengatakan ia telah bersalah; ini bukanlah waham dosa.
15)  Pesimisme : mempunyai pandangan yang suram mengenai banyak hal pada bidangnya.
16)  Sering curiga : mengutarakan ketidakpercayaannya kepada orang lain; buan waham curiga.
17)  Waham : keyakinan tentang sesuatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataannya atau
tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaannya, biarpun dibutikan
kemustahilan hal itu.
Menurut Direja (2011) dan Azizah (2011), adapun jenis-jenis waham, yaitu :
a)    Waham Kebesaran
Keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki kekuatan khusus atau berlebihan yang
berbeda dengan orang lain, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
b)   Waham Agama
Keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan.
c)    Waham Curiga
Keyakinan seseorang atau sekelompok orang berusaha merugikan atau mencederai dirinya,
diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
d)   Waham Somatik
Keyakinan  seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit,
diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
e)    Waham Nihilistik
Keyakinan seseorang bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan berulang-ulang tetapi
tidak sesuai dengan kenyataan.
f)    Waham Dosa
Keyakinan klien terhadap dirinya telah atau selalu salah atau berbuat dosa atau perbuatannya
tidak dapat diampuni lagi.
g)   Waham yang bizar terdiri dari:
1)        Sisp pikir yaitu keyakinan klien terhadap suatu pikiran orang lain disisipkan ke dalam
pikiran dirinya.
2)        Siar pikir/broadcasting  yaitu keyakinan klien bahwa ide dirinya dipakai oleh/disampaikan
kepada orang lain mengetahui apa yang ia pikirkan meskipun ia tidak pernah secara nyata
mengatakan pada orang tersebut.
3)        Kontrol pikir/waham pengaruh yaitu keyakinan klien bahwa pikiran, emosi dan
perbuatannya selalu dikontrol/dipengaruhi oleh kekuatan di luar dirinya yang aneh.

7.      Penatalaksanaan Medis
Terapi pada gangguan jiwa, khususnya skizofrenia dewasa ini sudah dikembangkan
sehingga klien tidak mengalami diskriminasi bahkan metodenya lebih manusiawi daripada
masa sebelumnya. Penatalaksanaan medis pada gangguan proses pikir yang mengarah pada
diagnosa medis skizofrenia, khususnya dengan gangguan proses pikir: waham, yaitu:
a.       Psikofarmakologi
Menurut Hawari (2003), jenis obat psikofarmaka, dibagi dalam 2 golongan yaitu:
1)      Golongan generasi pertama (typical)
Obat yang termasuk golongan generasi pertama, misalnya: Chorpromazine HCL (Largactil,
Promactil, Meprosetil), Trifluoperazine HCL (Stelazine), Thioridazine HCL (Melleril), dan
Haloperidol (Haldol, Govotil, Serenace).
2)      Golongan kedua (atypical)
Obat yang termasuk generasi kedua, misalnya: Risperidone (Risperdal, Rizodal, Noprenia),
Olonzapine (Zyprexa), Quentiapine (Seroquel), dan Clozapine (Clozaril).
b.      Psikotherapi
Terapi kejiwaan atau psikoterapi pada klien, baru dapat diberikan apabila klien
dengan terapi psikofarmaka sudah mencapai tahapan dimana kemampuan menilai realitas
sudah kembali pulih dan pemahaman diri sudah baik. Psikotherapi pada klien dengan
gangguan jiwa adalah berupa terapi aktivitas kelompok (TAK).
c.       Terapi somatik
Terapi somatik adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan tujuan mengubah
perilaku yang maladaptif menjadi perilaku yang adaptif dengan melakukan tindakan dalam
bentuk perlakuan fisik (Riyadi dan Purwanto, 2009). Beberapa jenis terapi somatik, yaitu:
1)      Restrain
Restrain adalah terapi dengan menggunakan alat-alat mekanik atau manual untuk membatasi
mobilitas fisik klien (Riyadi dan Purwanto, 2009).
2)      Seklusi
Seklusi adalah bentuk terapi dengan mengurung klien dalam ruangan khusus (Riyadi dan
Purwanto, 2009).
3)      Foto therapy atau therapi cahaya
Foto terapi atau sinar adalah terapi somatik pilihan. Terapi ini diberikan dengan memaparkan
klien sinar terang (5-20 kali lebih terang dari sinar ruangan) (Riyadi dan Purwanto, 2009).
4)      ECT (Electro Convulsif Therapie)
ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan menimbulkan
kejang pada penderita baik tonik maupun klonik (Riyadi dan Purwanto, 2009).
d.      Rehabilitasi
Rehabilitasi merupakan suatu kelompok atau komunitas dimana terjadi interaksi
antara sesama penderita dan dengan para pelatih (sosialisasi).

8.      Rentang Respon Sosial


Menurut Stuart and Sundeen (1998) waham merupakan salah satu respon persepsi
paling maladaptif dalam rentang respon neurobiologi. Rentang respon tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut:
Respon

Adaptif                                                       Respon maladaptif
  
Pikiran
logis                      Distor
si pikiran                  Gangguan proses
                                                                                     pikir / delusi / waham
Persepsi akurat                  Ilusi                                    Halusinasi
Emosi konsisten                Reaksi emosi                      Sulit berespon emosi
dengan pengalaman          berlebihan atau kurang      
Perilaku sesuai                   Perilaku aneh atau              Perilaku disorganisasi
                                          tidak biasa
Berhubungan sosial           Menarik diri                       Isolasi sosial
Dari rentang respon neurobiologik diatas digambarkan bahwa bila klien/individu
mendapat suatu stressor maka individu akan berespon menuju respon adaptif maupun respon
maladaptif. Bila individu berespon adaptif, cenderung dapat berpikir logis, persepsi akurat,
emosi konsisten dengan pengalaman, perilaku sesuai dan dapat berhubungan sosial. Bila
individu berespon antara respon adaptif dan maladaptif maka akan menimbulkan pemikiran
kadang – kadang menyimpang, ilusi, reaksi emosional berlebihan atau berkurang, perilaku
ganjil dan menarik diri. Namun bila individu berespon maladaptif maka cenderung
mengalami kelainan pemikiran/delusi/waham, halusinasi, ketidakmampuan untuk mengalami
emosi, ketidakteraturan dan isolasi sosial.

C.  Pohon Masalah

Effec
t
 
Menurut Fitria (2009) dan Yosep (2009), pohon masalah pada pasien dengan waham adalah
sebagai berikut: 
                                              Risiko Perilaku Kekerasan 
  

 
Core  
Problem
 
 
 
                                      Gangguan  proses  Pikir: Waham

Caus
a
 

                                                        Isolasi Sosial

                                              Harga Diri Rendah Kronik 

D.  Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji


Masalah keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan gangguan isi pikir:
waham (Fitria, 2009), adalah:
a.       Gangguan proses pikir: waham
b.      Risiko perilaku kekerasan
c.       Isolasi sosial
d.      Harga diri rendah kronik
Sedangkan data yang perlu dikaji pada pasien dengan gangguan isi pikir: waham
(Fitria, 2009 dan Yosep, 2009), adalah:
a.    Data subyektif
1)      Klien mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling hebat
2)      Klien mengatakan bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus.
b.    Data obyektif
1)      Klien terus berbicara tentang kemampuan yang dimilikinya.
2)      Pembicaraan klien cenderung berulang-ulang
3)      Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan.

E.  Diagnosa Keperawatan

a.       Gangguan Proses  Pikir: Waham


b.      Risiko perilaku kekerasan
c.       Isolasi sosial
d.      Harga diri rendah kronik

F.   Rencana Keperawatan 

RENCANA KEPERAWATAN GANGGUAN PROSES PIKIR : WAHAM


DALAM BENTUK STRATEGI PELAKSANAAN

N KLIEN KELUARGA
O SP1P SPIK
1 Membantu Orientasi realita Mendiskusikan masalah yang dirasakan
keluarga dalam merawat pasien
2 Mendiskusikan kebutuhan yang tidak
terpenuhi Menjelaskan pengertian,tanda dan gejala
waham dan jenis waham yang dialami
3 Membantu pasien memenuhi pasien beserta proses terjadinya
kebutuhannya
Menjelaskan cara-cara merawat pasien
4 Menganjurkan pasien memasukan dalam waham
jadwal kegiatan harian

SP2P SP2K
1 Mengevaluasi jadwal kegiatan harian Melatih keluarga mempraktikkan cara
pasien merawat pasien dengan waham
2 Berdiskusi tentang kemampuan yang Melatih keluarga mempraktikkan cara
dimiliki merawat langsung kepada pasien  waham

3 Melatih kemampuan yang dimiliki

SP3P SP3K
1 Mengevaluasi jadwal kegiatan harian Membantu keluarga membuat jadwal
pasien aktivitas di rumah termasuk minum obat
(discharge planing )
2 Memberikan pendidikan kesehatan
tentang penggunaan obat secara teratur Menjelaskan follow- uf pasien setelah
pulang
3 Menganjurkan pasien memasukan dalam
jadwal kegiatan harian

G. Pelaksanaan
Pelaksanaan atau implementasi perawatan merupakan tindakan dari rencana keperawatan
yang disusun sebelumnya berdasarkan prioritas yang telah dibuat dimana tindakan yang
diberikan mencakup tindakan mandiri dan kolaboratif. Pada situasi nyata sering impelmentasi
jauh berbeda dengan rencana, hal ini terjadi karena perawat belum terbiasa menggunakan
rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan tindakan keperawatan yang biasa adalah
rencana tidak tertulis yaitu apa yang dipikirkan, dirasakan, itu yang dilaksanakan. Hal ini
sangat membahayakan klien dan perawat jika berakibat fatal dan juga tidak memenuhi aspek
legal. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi
dengan singkat apakah rencana perawatan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai kondisi
saat ini. Setelah semua tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan.
Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka kontrak dengan klien dilaksanakan.
Dokumentasikan semua tidakan yang telah dilaksanakan beserta respon klien ( Keliat, 2002,
hal 15).

H.  Evaluasi
Adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien
(Keliat, dkk 1998)
Evaluasi dibagi 2 :
1.    Evaluasi proses (Formatif) dilakukan setiap selesai melakukan tindakan
2.    Evaluasi hasil (Sumatif) dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan khusus
dan umum yang telah ditentukan dengan perawatan SOAP
Hasil yang ingin dicapai pada klien dengan kerusakan interaksi sosial (menarik diri ) yaitu :
1.      Klien dapat berpikir sesuai dengan realitas