Anda di halaman 1dari 3

PANDUAN PRAKTEK KLINIK

ILMU PENYAKIT DALAM


Nomor Dokumen : Revisi : Halaman :
168/Yanmed-Rajal/VII/2020 0/0 1/3

TGL TERBIT : Ditetapkan Oleh


Kepala Rumah Sakit

Dr. Mirta Widia,MARS.MHKes


E10-E14
KETOASIDOSIS DIABETIK
ICD 10 :

KEWENANGAN KLINIS / 3B
TINGKAT KOMPETENSI

A. Pengertian
Merupakan dekompensasi metabolik yang akut ditandai dengan trias
(Definisi)
hiperglikemia, asidosis metabolik dan hiperketonemia terutama
disebabkan oleh defisiensi insulin absolut atau relatif.
1. Poliuri
B. Anamnesis
2. Polidipsi
3. Penurunan berat badan
4. Riwayat berhenti menyuntik insulin
5. Demam
6. Mual muntah
7. Nyeri perut (gastropati diabetik)
8. Sesak
1. Penurunan kesadaran : mulai delirium, depresi sampai koma
C. Pemeriksaan Fisik
2. Pernapasan cepat dan dalam (kussmaul)
3. Dehidrasi (turgor kulit menurun, lidah dan bibir kering)
4. Bau aseton dari hawa nafas tidak terlalu mudah tercium
5. Takikardi
6. Hipotensi
1. Kadar glukosa darah yang tinggi >250 mg/dl
D. Kriteria Diagnosis
2. pH darah <7,3
3. Peningkatan kadar keton serum > 5 mEq/L (asam
hidroksiksibutirat > 0,6mEq/L), disertai dengan keton urin
positif
4. Kadar serum bikarbonat <18 mEq/L dan peningkatan
anion gap
Ketoasisdosis Diabetik
E. Diagnosis
Status hyperosmolar hiperglikemi (HHS)
F. Diagnosis Banding

1. Glukosa darah
G. Pemeriksaan
2. Urinalisis
Penunjang
3. AGD
4. Elektrolit
5. Darah rutin
1. Cairan: digunakan larutan fisiologis berdasarkan perkiraan hilangnya
H. Terapi
cairan pada KAD mencapai 100 cc/kgBB atau sebesar 5-8 liter  jam
pertama: 1 liter, jam kedua: 1 liter dan selanjutnya 1 liter setiap 4 jam
sampai pasien terehidrasi.

2. Insulin: insulin intravena paling umum digunakan. Insulin intramuskuler


atau subkutan adalah alternatif bila pompa infus tidak tersedia atau bila
akses vena mengalami kesulitan, misal: pada anak kecil. Jika tidak terdapat
hipokalemia (K < 3,3 mEq/l), dapat diberikan insulin regular 0,15 u/kgBB,
diikuti dengan infus kontinu 0,1 u/kgBB/jam (5 -7 u/jam). Jika kadar kalium
< 3,3 mEq/l, maka harus dikoreksi dahulu untuk mencegah perburukan
hipokalemia yang akan dapat mengakibatkan aritmia jantung, dengan
target penurunan gula darah 50-75 mg/dL. Jika gula darah tidak menurun
sebesar 50 mg/dl dari nilai awal pada jam pertama, periksa status hidrasi
pasien. Jika status hidrasi mencukupi, infus insulin dapat dinaikkan 2 kali
lipat setiap jam sampai tercapai penurunan gula darah konstan antara 50 -
75 mg/dl/jam. Ketika kadar gula darah mencapai 250 mg/dl, turunkan infus
insulin menjadi 0,05 - 0,1 u/kgBB/jam (3 - 6 u/jam), dan tambahkan infus
dextrose 5 - 10%. Pada kondisi klinik pemberian insulin intravena tidak
dapat diberikan, maka insulin diberikan dengan dosis 0,3 iu (0,4 - 0,6
iu)/kgBB yang terbagi menjadi setengah dosis secara intravena dan
setengahnya lagi secara subkutan atau intramuskular, selanjutnya
diberikan insulin secara intramuskular atau subkutan 0,1 iu/kgBB/jam,
selanjutnya protokol penatalaksanaannya sama seperti pemberian drip
intravena.

3. Kalium: Total deficit K yang terjadi selama KAD diperkirakan mencapai 3-


5 mEq/kgBB. Terapi kalium dimulai saat terapi cairan sudah dimulai, dan
tidak dilakukan jika tidak ada produksi urine, terdapat kelainan ginjal, atau
kadar kalium > 6 mEq/L

4. Glukosa: Bila kadar glukosa mencapai < 200 mg% maka dapat dimulai
infus mengandung glukosa

5. Bikarbonat: masih kontroversial, hanya dianjurkan pada KAD yang berat


(pH<7,1)

6. Pengobatan lain:
a. Antibiotik yang adekuat
b. Oksigen bila pO2 < 80 mmHg
c. Heparin bila ada DIC atau bila hiperosmolar (>380 mOsm/L)

Edukasi DM (pemberian dosis insulin / OAD yang tepat dan kepatuhan),


I. Edukasi
komunikasi efektif terutama saat penyandang DM mengalami sakit akut
(misalnya batuk, pilek, diare, demam, luka)

Baik apabila tidak ada komplikasi


J. Prognosis
I
K. Tingkat Evidens
A
L. Tingkat
Rekomendasi

M. Penelaah Kritis

N. Indikator Medis
1. Kesadaran membaik
2. Sesak berkurang
3. Analisa gas darah normal
4. Gula darah normal

1. Soewondo P. Ketoasidosis Diabetik. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,


O. Kepustakaan
Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th ed.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI;
2006.p.1896-9.
2. Gotera W, Budiyasa DGA. Penatalaksanaan Ketoasidosis Diabetic (KAD).
Jurnal Penyakit Dalam; 2010. Vol 11.

Jakarta, 08 Juli 2020

Disetujui Oleh : Dibuat Oleh :

Ketua Komite Medik Ketua SMF IPD