Anda di halaman 1dari 11

Prinsip – prinsip Ekonomi Islam

Secara garis besar prinsip–prinsip ekonomi Islam, yaitu sebagai berikut :[1]
1.      Dalam ekonomi islam, berbagai jenis sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan
Tuhan kepada manusia. Manusia harus memenfaatkannya seefisien dan seoptimal mungkin dalam
produksi guna memenuhi kesejahteraan secara bersama di dunia, yaitu untuk diri sendiri dan orang
lain. Namun yang terpenting adalah bahwa kegiatan tersebutakan dipertanngung jawabkannya di
akhirat nanti.
2.      Islam mengakui kepemilikan pribadi atas batas-batas tertentu,  termasuk kepemilikan alat
produksi dan faktor produksi.  Pertama ,kepemilikan individu dibatasi oleh kepentingan masyarakat,
dan kedua, islam menolak setiap pendapatan yang diperoleh secara tidak sah, apalagi usaha yang
menghancurkan masyarakat.
3.      Kekuatan penggerak utama ekonomi islam adalah kerja sama seorang Muslim, apakah ia sebagai
pembeli, penjual, penerimaupah, pembuat keuntungan dan sebagainya, harus berpegangan pada
tuntutan Allah Swt.
4.      Pemilikan kekayaan pribadi harus berperan sebagai capital produksi yang akan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Sistem ekonomi islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang
dikuasai oleh beberapa orang saja. Konsep ini berlawanan dengan system ekonomi kapitalis,  dimana
kepemilikan industry di dominasi oleh monopoli dan oligopoli, tidak terkecuali industri yang
merupakan kepentingan umum.
5.      Islam menjamin kepemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan
orang banyak.
6.      Orang muslim harus beriman kepada Allah dan hari akhir, oleh karena itu Islam mencela
keuntungan yang berlebihan, perdagangan yang tidak jujur, perlakuan yang tidak adil, dan semua
bentuk diskriminasi dan penindasan.
7.      Seorang muslim yang kekayaannya melebihi tingkat tertentu (nisab) diwajibkan membayar zakat.
Zakat merupakan alat distribusi sebagian kekayaan orang kaya (sebagai sanksi atas penguasaan harta
tersebut), yang ditujukan untuk orang miskin dan orang – orang yang membutuhkan.
8.      Islam melarang setiap pembayaran bunga (riba) atas berbagai bentuk pinjaman, apakah pinjaman
tersebut berasal dari teman, perusahaan, perorangan, pemerintah maupun individual lain.

Menurut Sjaechul Hadi Poernomo sebagaimana dikutip oleh Abd.Shomad, beberapa prisip
ekonomi Islam, yaitu :[2]

1.      Prinsip keadilan, mencakup seluruh aspek kehidupan, aspek ini merupakan aspek yang terpenting,
sebagaiman telah dijelaskan dalam firman Allah, yaitu : QS. An – Nahl (16): 90: “sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, member kepada kaum kerabat, dan Allah
melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pengajaran”.
Dan QS. Al – Hasyr (59): 7: “Apa saja harta rampasan (fai –i) yang diberitahukan Allah kepada
Rasul- Nya (dari harta benda)yang berasal dari penduduk kota – kota maka adalah untuk Allah,
untuk Rasul, kaum kerabat, anak – anak yatim, orang – orang miskin dan orang – orang yang sedang
dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar diantara orang – orang kaya saja diantara kamu.
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka
tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.
Serta QS. Al – Maidah (5): 8: “ Hai orang – orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang yang
selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali – kali
kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil .Berlaku
adillah,karena adil itu lebih dekat dengan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
2.      Prinsip al – ihsan (berbuat kebaikan), pemberian manfaat kepada orang lain lebih dari pada hak
orang lain.
3.      Prinsip al – Mas’uliyah (accuntability, pertanggung jawaban), yang meliputi berbagai aspek,
yakni pertanggung jawaban antara individu denagn individu (Mas’uliyah al – afrad), pertanggung
jawaban dalam masyarakat (Mas’uliyah al- muj’tama), manusia dalam masyarakat diwajibkan
melaksanakan kewajibannya demi terciptanya kesejahteraan anggota masyarakat secara keseluruhan,
serta tanggung jawab pemerintah (Mas’uliyah al – daulah), tanggung jawab ini berkaitan dengan
baitul mal.
4.      Prinsip al – kifayah (sufficiency), tujuan pokok dari prinsip ini adalah untuk membasmi kefakiran
dan mencukupi kebutuhan primer seluruh anggota dalam masyarakat.
5.      Prinsip keseimbangan / prinsip wasathiyah (al – I’tidal, moderat, keseimbangan), syariat Islam
mengakui hak pribadi dengan batas–batas tertentu. Syariat menentukan keseimbangan kepentingan
individu dan kepentingan masyarakat. Hal ini tampak dari beberapa firman Allah :
a.       QS. Al – Isra’ (17): 29: “  Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan
janganlah kamu terlalu mengulurkannya[3] karena itu kamu jadi tercela dan menyesal”.
b.      QS. Al – Furqan (25): 67: “ Dan orang–orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka
tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah–tengah antara yang
demikian”.
c.       QS. Al – Isra’ (17): 27: “Sesungguhnya pemboros – pemboros itu adalah saudara–saudara setan
dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
d.      QS. Al – An’am (6): 141: “ Dan dialah yang menjadikan kebun–kebun yang berjunjung dan yang
tidak berjunjung, pohon kurma, tanam – tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan
delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang
bermacam–macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan
disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih–lebihan.  Sesungguhnya Allah
tidakmenyukai orang yang berlebih – lebihan”.
6.      Prinsip Kejujuran dan Kebenaran. Prinsip ini merupakan sendi akhlak karimah. Prinsip ini
tercemin dalam  :
a.       Prinsip transaksi yang dilarang, akad transaksi harus tegas, jelas, dan pasti. Baik benda yang
menjadi objek akad, maupun harga barang yang diakadkan itu.
b.      Prinsip transaksi yang merugikan dilarang. Setiap transaksi yang merugikan diri sendiri maupun
pihak kedua dan pihak ketiga dilarang. Sebagaimana sabda Rasullulah Saw.,: “tidak boleh
membahayakan (merugikan) diri sendiri dan tidak boleh membahayakan (merugikan) pihak lain”
c.       Prinsip mengutamakan kepentingan sosial. Prinsip ini menekankan pentingnya kepentingan
bersama yang harus didahulukan tanpa menyebabkan kerugian individu. Sebagaimana kaidah
fiqhiyyah: “bila bertentangan antara kemaslahatan sosial dengan kemashalatan individu, maka
diutamakan kepentingan sosial”.
d.      Prinsip manfaat. Objek transaksi harus memiliki manfaat, transaksi terhadap objek yang tidak
bermanfaat menurut syariat dilarang.
e.       Prinsip transaksi yang mengandung riba dilarang.
f.       Prinsip suka sama suka (saling rela, ‘an taradhin). Prinsip ini berlandaskan pada firman Allah
Swt., dalam QS. An-Nisa’ (4):29 “hai orang orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka
sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu,[4] sesungguhnya Allah adalah
Maha Penyayang kepadamu”.
g.      prinsip tidak ada paksaan. Setiap orang memiliki kehendak yang bebas dari menetapkan akad,
tanpa tunduk kepada pelaksanaan transaksi apapun, kecuali hal yang harus dilakukan oleh norma
keadilan dan kemaslahatan masyarakat.

Menurut M. Umar Chapra, sebagaimana dikutip  oleh Neni Sri Imaniyati, prinsip ekonomi
islam, yaitu:[5]

1.      Prinsip Tauhid (Keesaan Tuhan)


Prinsip tauhid dalam ekonomi islam sangat esensial sebab prinsip ini mengajarkan kepada manusia
agar dalam hubungan kemanusiaan (hubungan horizontal), sama pentingnya dengan hubungan dengan
Allah (hubungan vertikal) dalam arti manusia dalam melakukan aktivitas ekonominya didasarkan
pada keadilan sosial yang bersumber kepada Al-Qur’an. Lapangan ekonomi (economic court) tidak
lepas dari per hatian dan pengaturan islam. Islam melandaskan ekonomi sebagai usaha untuk bekal
beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, tujuan usaha dalam Islam tidak semata-mata untuk
mencapai keuntungan atau kepuasan materi (hedonism) dan kepentingan diri sendiri (individualis),
tetapi juga kepuasan spiritual yang berkaitan erat dengan kepuasan sosial atau masyarakat luas.
Dengan demikian, yang menjadi landasan ekonomi islam adalah tauhid ilahiyyah.
2.      Prinsip Perwakilan (Khilafah)
Manusia adalah Khilafah (wakil) Tuhan di muka bumi. Manusia telah dibekali dengan semua
karakteristik mental dan spiritual serta materi untuk memungkinkan hidup dan mengemban misinya
secara efektif. Posisi manusia sebagai khilafah dapat dilihat dalam berbagai ayat Al-Qur’an, berikut
ini:
a.       QS. Al-Hadid (57):7: “berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah
sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamuj menguasainya.[6] Maka orang-orang
yang beriman diantara kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan
menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar”.
b.      QS. Shad (38): 28: “patutkah kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula)
kami menganggap orang-orang yang betakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat?”.
c.       QS. Al-Fatir (35): 39: “Dia-lah yang menjadikan kamu Khilafah-khilafah di muka bumi.
Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-
orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan
kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”.
d.      QS. Al-An’am (6): 165: “dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan
Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu
tentang apa  yang diberikan Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan
sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
e.       QS. Al-Baqarah (2): 30:”ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
“Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang Khilafah di muka bumi”. Mereka berkata:
“Mengapa engkau hendak menjadikan (Khilafah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “ Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui”.
3.      Prinsip Keadilan (‘Adalah)
Keadilan adalah salah satu prinsip yang penting dalam mekanisme perekonomian islam. Bersikap adil
dalam ekonomi tidak hanya didasarkan pada ayat-ayat Al Qur’an atau Sunnah Rasul tapi juga
berdasarkan pada pertimbangan hukum alam, alam diciptakan berdasarkan atas prinsip keseimbangan
dan keadilan. Adil dalam ekonomi bisa diterapkan dalam penentuan harga, kualitas produksi,
perlakuan terhadap para pekerja, dan dampak yang timbul dari berbagai kebijakan ekonomi yang
dikeluarkan.
Penegakkan keadilan dan pembasmi bentuk diskriminasi  telah ditekankan oleh Al-Qur’an, bahkan
salah satu tujuan utama risalah kenabian adalah untuk menegakkan keadilan. Bahkan Al-Qur’an
menempatkan keadilan sederajat dengan kebajikan dan ketakwaan. Hal ini didasarkan pada QS. Al-
Maidah (5): 8: “hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku adil. Berlaku adillah, karena
adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

4.      Prinsip Tazkiyah


Tazkiyah berarti penyucian (purification). Dalam konteks pembangunan, proses ini mutlak diperlukan
sebelum manusia diserahi tugas sebagai agen of development. Jikalau proses ini dapat terlaksana
dengan baik, apapun pembangunan dan pengembangan yang dilakukan oleh manusia tidak akan
berakibat kecualu dengan kebaikan bagi diri sendiri , masyarakat dan lingkungan.[7]

5.      Prinsip al- Falah


Al-Falah adalah konsep tentang sukses dalam islam. Dalam konsep ini apapun jenisnya keberhasilan
yang dicapai selama didunia akan memberikuan konstribusi untuk keberhasilan diakhirat kelak selama
dalam keberhasilan ini dicapai dengan petunjuk allah. Oleh karena itu, dalam kacamata islam tidak
ada dikotomi antara usaha-usaha untuk pembangunan didunia ( baik ekonomi maupun sektor lainnya),
dengan persiapan untuk kehidupan diakhirat nanti.[8]

Menurut muslimin H.Kara sebagaimana dikutip oleh Neni sri imaniati,prinsip ekonomi islam,
yaitu:[9]

1.      Manusia adalah makluk pengemban amanat allah untuk memakmurkan kehidupan dibumi,
kehidupan sebagai khalifah (wakilnya) yang wajib menjalankan petunjuknya.
2.      Bumi dan langit seisinya diciptakan untuk melayani kepentingan hidup manusia, dan ditundukan
kepadanya untuk memenuhi amanah allah. Allah jugalah pemilik mutlak atas semua ciptaannya.
3.      Manusia wajib bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
4.      Kerja yang sesungguhnya adalah menghasilkan (produksi).
5.      Islam menentukan berbagai bentuk kerja yang halal dan yang haram, kerja yang halal saja yang
dipandang sah.
6.      Hak milik manusia dibebani kewajiban2 yang diperuntukan bagi kepentingan masyarakat. Hak
milik berfungsi sosial.
7.      Harta jangan beredar dikalangan kaum kaya saja, tetapi diratakan dengan jalan memenuhi
kewajiban2 kebendaan yang telah ditetapkan dan menumbuhkan kepedulian sosial berupa anjuran
berbagai macam sedekah.
8.      Harta jangan dihambur2kan untuk memenuhi kenikmatan melampau batas. Mensyukuri dan
menikmati perolehan usaha hendaklah dalam batas yang dibenarkan saja.
9.      Kerja sama kemanusiaan yang bersifsat saling menolong dalam usaha memenuhi kebutuhan
ditegakkan.
10.  Nilai keadilan dalam kerja sama kemanusiaan ditegakkan
11.  Nilai kehormatan manusia dijaga dan dikembangkan dalam usaha memproleh kecukupan dan
kebutuhsn hidup.

Menurut Veithzal Rifai dan Andi Bukhari, prinsip dasar ekonomi islam, yaitu sebagai berikut:
[10]

1.              Individual mempunyai kebebasan sepenuhnya untuk berpendapat dan berbuat suatu keputusan
yang dianggap perlu selama tidak menyimpang dari kerangka syariat islam untuk mencapai
kesejahteraan islam yang optimal dan menghindari kemungkinan terjadinya kekacauan dalam
masyarakat.
2.              Islam mengakui hak milik individu dalam masalah harta sepanjang tidak merugikan
kepentingan masyarakat luas.
3.              Islam juga mengakui bahwa tiap individu pelaku ekonomi mempunyai perbedaan potensi,
yang berarti juga memberikan peluang yang luas bagi seseorang untuk mengoptimalkan
kemampuannya dalam kegiatan ekonomi. Namun, hal ini kemudian ditunjang oleh seperangkat kaidah
untuk menhindari kemungkinan terjadinya konsentrasi kekayaan pada sesorang atau sekelompok
pengusaha dan mengabaikan kepentingan masyarakat.
4.              Islam tidak mengarahkan pada suatu tatanan masyarakat  yang menunjukan kesamaaan
ekonomi, tetapi mendukung dan menggalakan terwujudnya tatanan kesamaan sosial. Kondisi ini
mensyaratkan bahwa kekayaan negara yang dimiliki tidak hanya dimonopoli oleh segelintir
masyarakat saja. Disamping itu dalam sebuah negara islam tiap individu punya luang yang sama
untuk mendapatkan pekerjaan dan melakukan aktivitas ekonomi.
5.              Adanya jaman sosial tiap individu dalam masyarakat. Menjadi tugas dan kewajiban negara
untuk menjamin setiap warga negaranya untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya
6.              Instrumen islam mencegah kemungkinan konsentrasi kekayaan pada sekelompok kecil orang
dan mangnjurkan agar kekayaan terdistribusi pada semua lapisan masyarakat melalui suatu
mekanisme yang telah diatur oleh syariat.
7.           Islam melarang praktik penimbunan kekayaan secara berlebihan yang dapat merusak tatanan
perekonomian masyarakat. Untuk mencegah kemungkinan munculnya praktik penimbunan, islam
memberikan sanksi yang keras kepada para pelatihnya.
8.      Islam tidak mentolerir sedikitpun terhadap setiap praktik asosial dalam kehidupan masyarakat
seperti minuman keras, perjudian, prostitusi, pengedaran ekstasi, pornografi, dsb.

Menurut AM.Hasan Ali, prinsip ekonomi islam yaitu:[11]

1.      Pelarangan riba


2.      Pembolehan jual beli
3.      Zakat
4.      Intersifiasi sedekah
5.      Prinsip musyarakah
6.      Larangan penimbunan dan
7.      Keaadilan ekonomi

Menurut Yusuf Qardhawi, sebagaimana dikutip oleh Sukarwo Wibowo dan Dedi Supriadi,
prinsip-prinsip yang membangun ekonomi Islam adalah sebagai berikut: [12]

1.      Ekonomi Islam menghargai nilai harta benda dan kedudukannya dalam kehidupan. Harta
merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan membantu melaksanakan kewajiban,
seperti sekedar (zakat), haji, jihad, serta persiapan untuk memakmurkan bumi.
2.      Ekonomi Islam mempunyai keyakinan bahwa harta pada hakikatnya adalah milik Allah,
sedangkan manusia hanya memegang amanah (sebagai titipan).
Allah berfirman dalam QS. Al-Hadid (57): 7 “berimanlah kamu kepada Allah dan Rasulnya dan
nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-
orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala
yang besar”.
3.      Ekonomi Islam memerintah manusia untuk berkreasi dan bekerja dengan baik. Islam
mengerjakan umatnya untuk berusaha dan bekerja. Islam mengajarkan umatnya untuk meninggalkan
sifat putus asa dan malas.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mulk (67): 15 “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi
kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya
kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.
4.      Ekonomi Islam mengharamkan pendapatan dari pekerjaan yang kotor. Rasulullah SAW.
Bersabda: “ Setiap daging yang tumbuh dari barang haram maka nerakalah yang lebih utama
baginya”. ( HR. Ahmad)
5.      Ekonomi Islam mengakui hak kepemilikan pribadi dan memeliharanya
6.      Ekonomi Islam melarang pribadi untuk menguasai dan memonopoli barang-barang yang
diperlukan masyarakat.
7.      Ekonomi Islam mencegah kepemilikan dari sesuatu yang membahayakan orang.
Rasulullah SAW. Bersabda: “ Tidak boleh membahayakan diri sendirindan orang lain”. ( HR.
Ahmad dan Ibnu Majah )
8.      Ekonomi Islam menganjurkan untuk megembangkan harta dan melarang menimbun harta (emas,
perak/uang). [13]
Allah berfirman dalam QS. At-Taubah (9): 34-35 “ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya
sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta
orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-
orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka
beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari
dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung
dan punggung mereka ( lalu dikatakan) kepada mereka : “inilah harta bendamu yang kamu simpan
untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.

9.      Ekonomi Islam menganjurkan untuk mewujudkan kemandirian ekonomi bagi umat.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 143 “ Dan demikian (pula) kami telah menjadikan
kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[14] agar kamu menjadi saksi asat (perbuatan)
manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan kamu). Dan kami tidak
menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya
nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu
terasa amat berat, kecuali orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan Allah tidak akan
menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
Manusia”.
10.  Ekonomi Islam menganjurkan adil dalam berinfak. Dan menjaga keseimbangan dalam bekerja.
11.  Ekonomi Islam mewajibkan takaful (saling menanggung) di antara anggota masyarakat.
12.  Ekonomi Islam mempersempit kesenjangan sosial dalam masyarakat.[15]

Menurut Ascarya, prinsip-prinsip ekonomi Islam yang sering disebut dalam berbagai literatur
ekonomi Islam dapat dirangkum menjadi lima hal yaitu: [16]

1.      Sikap hemat dan tidak bemewah-mewahan (abstain from wasteful and luxurious living);
2.      Menjalankan usaha-usaha yang halal;
3.      Implementasi zakat (implementation of zakat);
4.      Penghapusan/ pelarangan riba (prohibition of riba); dan
5.      Pelarangan Masyir (judi/ spekulasi)

http://makalahkuindonesia.blogspot.com/2017/12/makalah-prinsip-prinsip-dari-ekonomi.html
Prinsip – Prinsip Dasar Ekonomi Islam

Prinsip-prinsip Ekonomi Islam itu secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:
Ekonomi Islam memiliki sifat dasar sebagai ekonomi Rabbani dan Insani. Disebut ekonomi
Rabbani karena sarat dengan arahan dan nilai-nilai Ilahiah. Dikatakan ekonomi Insani karena
system ekonomi ini dilaksanakan dan ditujukan untuk kemakmuran manusia.
Keimanan sangat penting dalam ekonomi Islam karena secara langsung akan mempengaruhi
cara pandang dalam membentuk kepribadian, perilaku, gaya hidup, selera dan preferensi
manusia. Dalam ekonomi Islam sumber daya insani menjadi faktor terpenting. Manusia
menjadi pusat sirkulasi manfaat ekonomi dari berbagai sumber daya yang ada.
Dalam Ekonomi Islam, berbagai jenis sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan
Tuhan kepada manusia. Manusia harus memanfaatkannya seefisien dan seoptimal mungkin
dalam produksi guna memenuhi kesejahteraan secara bersama di dunia yaitu untuk diri
sendiri dan untuk orang lain. Namun yang terpenting adalah bahwa kegiatan tersebut akan
dipertanggung-jawabkannya di akhirat nanti.

Tujuan ekonomi islam adalah bahwa setiap kegiatan manusia didasarkan kepada pengabdian
kepada Allah dan dalam rangka melaksanakan tugas dari Allah untuk memakmurkan bumi,
maka dalam berekonomi umat islam harus mengutamakan keharmonisan dan pelestarian
alam.
Secara umum prinsip-prinsip ekonomi menjadi 2 kelompok besar. Masing-masing kelompok
besar ini membentuk suatu bangunan yang akan menjadi prinsip ekonomi islam.
v Berdasarkan pada definisi dan ruang lingkup ekonomi islam, maka terdapat berbagai prinsip
yang harus dipegang teguh dalam menjalankan ekonomi islam. Bagian bangunan  pertama
ekonomi islam didasarkan atas lima nilai universal yakni: tauhid (keimanan), ‘adl (keadilan),
nubuwwah (kenabian), khilafah (pemerintah), dan ma’ad (hasil).[5]

1.      Tauhid
Tauhid merupakan fondasi ajaran islam. Isi tauhid itu sendiri jelas terpampang pada dua
kalimat syahadat yang menyatakan bahwa: “Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah”. Dengan tauhid, manusia menyaksikan bahwa tiada satupun yang layak
disembah selain Allah, tidak ada pemilik langit, bumi dan isinya, selain daripada Allah. Jadi
Allah adalah pencipta alam semesta dan isinya sekaligus pemiliknya, termasuk pemilik
manusia dan seluruh sumber daya yang ada. Karena itu segala aktivitas manusia tak
terkecuali aktivitas ekonomi dibingkai dengan kerangka hubungan dengan Allah. Dan segala
sesuatu yang kita perbuat di dunia nantinya akan dipertanggung jawabkan kepada Allah
SWT. Sehingga termasuk didalamnya aktivitas ekonomi dan bisnis nantinya akan
dipertanggungjawabkan juga. Dengan tauhid yang benar, pelaku ekonomi menjadikan
landasan ketauhidan dalam setiap aktivitasnya. Dengan tauhid yang benar pula, pelaku
ekonomi melakukan aktivitas ekonomi dengan senantiasa mengingat bahwa
pertanggungjawaban yang hakiki adalah pertanggungjawaban akhirat. Dengan pondasi yang
kokoh ini, diharapkan agar setiap pelaku ekonomi dapat memahami dan melaksanakan islam
secara benar, lalu meyakini bahwa ekonomi islam tidak terlepas dari islam itu sendiri.
2.      ‘Adl
Dalam islam didefinisikan sebagai “tidak menzalami dan tidak dizalimi”. Implikasi
(keterlibatan masalah) ekonomi dari nilai ini adalah bahwa pelaku ekonomi tidak dibolehkan
untuk mengejar keuntungan pribadi bila hal itu merugikan orang lain atau merusak alam.
3.      Nubuwwah
Nubuwwah merupakan perwujudan dari rahman, rahim dan kebijaksanaan Allah. Manusia
tidak dibiarkan begitu saja didunia tanpa mendapat bimbingan. Karena itulah diutus para nabi
dan rasul untuk menyampaikan petunjuk dari Allah kepada manusia tentang bagaimana hidup
yang baik dan benar didunia. Sebagaimana di dalam Al Qur’an juga sudah di jelaskan yaitu
Telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik. Rasul merupakan “manusia model”
Model percontohan ideal bagi umat manusia. Maha Suci Allah yang telah menciptakan para
Nabi agar senantiasa memberi kita pedoman dan bimbingan untuk senantiasa selamat
menjalani bahtera dunia menuju kampung akhirat untuk diteladani manusia, karenanya
Rasulullah memiliki sifat-sifat utama yaitu siddiq (benar, jujur), amanah (kepercayaan),
tabligh (keterbukaan/menyampaikan), dan fatanah (kecerdasan).
Sifat nabi di atas menjadi acuan bagi aktivitas ekonomi. Sifat di atas juga sangat manusiawi
sehingga dalam pelaksanaanya sangat nyata untuk dilakukan. Juga sifat di atas adalah
lambang profesionalitas, prestatif, dan kontributif dalam pelaksanaan aktivitas ekonomi.

4.      Khilafah
Khilafah artinya manusia memiliki misi untuk menjadi pemimpin dan pemakmur bumi. Nilai
mendasari prinsip kehidupan kolektif manusia, fungsi dan peran utamanya adalah agar
menjaga keteraturan interaksi (mu’amalah) antar kelompok termasuk bidang ekonomi, dan
memastikan bahwa perekonomian suatu negara berjalan dengan baik tanpa distorsi dan telah
sesuai dengan syariah.

5.      Ma’ad
Ma’ad secara harfiah berarti kemballi. Maksudnya manusia akan kembali pada Tuhan untuk
mempertanggung jawabkan perbuatannya, karena kehidupan manusia bukan hanya
berlangsung didunia saja melainkan terus berlajut diakhirat.[6]
Dan bisa juga di artikan sebagai hasil atau imbalan, sesuai dengan kata Imam Ghazali bahwa
motif para pelaku ekonomi adalah untuk mendapatkan keuntungan/profit/laba. Dalam islam,
ada laba/keuntungan di dunia dan ada laba/keuntungan di akhirat. Oleh karena itu pencapaian
adalah suatu hal yang mutlak 

http://makalahiainkerinci1.blogspot.com/2017/04/prinsip-prinsip-dasar-ekonomi-islam.html