Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH LIABILITAS JANGKA PENDEK,

PROVISI DAN KONTINJENSI

Disusun Oleh :

RIZKA MILSA OKTAPIANTI : 1910091510750


MERY ANDANI : 1810091510708
AYU SAFITRI: 1810091510696

JURUSAN : AKUNTANSI 4A

DOSEN PEMBIMBING :
Rani Munika, SE, Akt, M.Ak

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


BANGKINANG
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat-Nya sehingga
kami bisa dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang
sangat sederhana
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Kami akui masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, oleh karena itu
kami harapkan kepada para pembaca untuk memberi masukan-masukan yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Bangkinang, 15 Januari 2020

Penyusun

Kelompok 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................................2

BAB I : PENDAHULUAN...................................................................................................................4

A.   PERANAN DAN DEFINISI...................................................................................................4

1.     Peranan Liabilitas...........................................................................................................4

2.     Definisi...........................................................................................................................4

3.     Jenis dan Klasifikasi.......................................................................................................5

BAB II : PEMBAHASAN.....................................................................................................................7

A.   PROVISI dan KONTINJENSI................................................................................................7

1. Definisi...............................................................................................................................7

2. Pengakuan dan Pengukuran................................................................................................7

3. Garansi...............................................................................................................................8

4. Kewajiban Pengelolaan Lingkungan................................................................................11

5. Litigasi Hukum.................................................................................................................12

6. Liabilitas Kontinjensi.......................................................................................................12

B.PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN.........................................................................................12

1.     Penyajian..............................................................................................................................12

2.     Pengungkapan......................................................................................................................13

C. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN....................................................................................13

BAB III : PENUTUP...........................................................................................................................15

KESIMPULAN............................................................................................................................15

SARAN........................................................................................................................................15
BAB 1
PENDAHULUAN
A.   PERANAN DAN DEFINISI
1.     Peranan Liabilitas
Entitas hampir semua memiliki kewajiban(liabilitas) untuk mendanai kegiatannya. Jarang
sekali entitas hanya menggunakan ekuitas dalam mendanai entitas. Bahkan untuk beberapa
etitas dengan skala besar jumlah utang melebihi modal entitas. Entitas dengan utang yang
yang tinggi dapat diartikan sesuatu yang tidak baik. Jumlah liabilitas tinggi, namun entitas
memiliki kemampuan membayar pokok utang dan bunganya akan menghasilkan manfaat
bagi entitas dan pemegang saham.
Penggunaan liabilitas untuk mendanai entitas harus dipertimbangkan dengan baik sehingga
tetap memberikan manfaat bagi entitas. Liabilitas yang terkait dengan operasi biasanya tidak
ada bunga, liabilitas operasional ini lebih sering diperoleh oleh sebuah perusahaan karena
penundaan pembayaran kepada pemasok, pemerintah, karyawan, atau kepada pihak lain.
Liabilitas dengan bunga mampu menghasilkan manfaat untuk entitas jika bunga pinjaman
lebih rendah dibandingkan imbal dari hsil investasi yang didanai pinjaman.
Entitas menggunakan prinsip matching dalam memutuskan penggunaan liabilitas, prinsip
matching mengharuskan entitas memadankan antara bentuk investasi dan jenis pendanaan
yang digunakan. Jika entitas membutuhkan dana untuk mendanai ekspansi produksi guna
memenuhi tambahan permintaan produksi maka entitas akan menggunakan liabilitas jangka
pendek. Sebaliknya jika entitas akan melakukan ekspansi untuk membangun pabrik maka
memilih menggunakan liabilitas jangka panjang. Konsep matching ini juga terkait dengan
konsep periode pengembalian investasi (payback period).
2.     Definisi
Liabilitas menurut kerangka dasar pengukuran dan pengungkapan laporan keuangan
(KDP2LK) adalah utang entitas masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu,
penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yng
mengandung manfaat ekonomi. Sejak PSAK 1 (Revisi 2009) Penyajian Laporan Keuangan,
istilah kewajiban ini diganti dengan liabilitas, PSAK 1 (Revisi 2009) mengharuskan entitas
menyajikan liablitas jangka pendek terpisah dari liabilitas jangka panjang.
PSAK 1 (Revisi 2009) menjelaskan klasifikasi liabiltas jangka pendek jika memenuhi kriteria
:
1. Entitas mengharapkan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi
normalnya;
2. Entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan;
3. Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah
pelaporan; atau
4. Entitas tidak memiki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas selama
sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.
Entitas mengklasifikasi liabiltas yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai liabilitas
jangka panjang tersebut di atas.
PSAK 1 (Revisi 2009) hanya menjelaskan tentang bagaimana menyajikan liabilitas
dalam laporan keuangan. Pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan liabilitas
jangka pendek dan jangka panjang diatur lebih lanjut dalam PSAK Instrumen Keuangan yaitu
PSAK 50 (Revisi 2013) Penyajian Istrumen Keuangan; PSAK 55 (Revisi 2013) Pengakuan
dan Pengukuran Instrumen Keuangan dan PSAK 60 (Revisi 2013) Pengungkapan Instrumen
Keuangan. Untuk liabilitas diestimasi atau sekarang dikenal dengan istilah provisi diatur
dalam PSAK 57 (Revisi 2009) Provisi, Liablitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi.
3.     Jenis dan Klasifikasi
PSAK 1 (Revisi 2009) tidak membahas secara khusus klasifikasi dan jenis liabilitas jangka
pendek. Bentuk usaha entitas akan menentukan jenis dan klasifikasi liabiltas yang dimilki
sebuah entitas. PSAK 1 (Revisi 2009) hanya memberikan aturan umum dalam penyajian item
dalam laporan keuangan didasarkan pada relevansi informasi tersebut bagi pengguna laporan
keuangan.
Berdasarkan nilainya, liabiltas dapat dikategorikan menjadi liabilitas yang nilainya pasti dan
liabilitas yang nilainya tidak dapat ditentukan sehingga harus diestimasi. Liabilitas yang
nilainya pasti, merupakan bentuk liabilitas yang telah jelas berapa jumlah dibayarkan kepada
pihak lain. Libalitas yang nilainya tidak pasti, jumlahnya diestimasi oleh entitas berdasarkan
informasi yang tersedia. Menurut PSAK 57 (Revisi 2009) disebut sebagai provisi.
Liabilitas juga dapat diklasifikasikan berdasarkan asal terjadinya. Liabilitas yang tejadi
sebagai konsekuensi operasi misalnya utang dagang, utang pajak, beban yang masih harus
dibayar, pendapatan diterima dimuka. Liabilitas berdasarkan kontrak formal misalnya wesel
bayar, utang bank, atau liabilitas jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan.
Jenis Liabilitas Penjelasan
Utang dagang (account Utang yang timbul ketika entitas melakukan pembelian
receivable/ trade receivable) secra tunai.
Utang yang diperoleh dari bank dengan jangka waktu 1
Utang bank jangka pendek
tahun atau kurang.
Wesel bayar Kontrak yang menyatakan bahwa satu pihak akan
melakukan pembayaran sejumlah tertentu kepada pihak
lain di masa mendatang.
Utang pajak Pajak yang belum dibayarkan ke kas negara
Dividen yang telah diumumkan namun belum
Utang dividen
dibayarkan
Beban yang telah terjadi namun sampai tanggal
Beban yang masih harus dibayar
pelaporan belum dibayarkan.
Pendapatan yang telah diterima secara tunai namun
Pendapatan diterima di muka
pendapatannya belum diperoleh.
Utang gaji adalah beban gaji yang telah terjadi namun
belum dibayarkan.
Utang terkait gaji karyawan Iuran pensiun dan ansuransi karyawan serta `pajak atas
gaji yang telah dipotong dari gaji namun belum
dibayarkan.
Uang muka pelanggan(deposit) Uang yang dibayarkan pelanggan sebagai deposit dan
akan diberikan kembali kepada pelanggan sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.   PROVISI dan KONTINJENSI
1.     Definisi
Istilah umum yang digunakan untuk sesuatu yang memiliki ketidakpastian dari sisi kejadian
dan jumlah adalah kontinjensi. Istilah provisi dibedakan dari kontinjensi untuk menjelaskan
terminologi yang berbeda. Dalam PSAK 57 (Revisi 2004), provisi disebut sebagai kewajiban
dietimasi. Provisi bentuk kontinjensi yang disajikan dalam laporan keuangan (on balance
sheet), sedangkan liabilitas kontinjensi hanya diungkapkan dalam laporan keuangan. Istilah
provisi dapat juga diartikan sebagai pencadangan suatu penurunan yang merupakan akun
lawan aset seperti penurunan nilai, depresiasi. Provisi yang dibahas dalam subbab ini tidak
membahas provisi yang merupakan akun lawan aset tertentu namun merupakan bentuk
provisi yang terjadi karena adanya ketidakpastian. PSAK 57(Revisi 2009) mendefinisikan
provisi sebagai liabilitas kini yang waktu dan jumlahnya belum pasti.
Namun liabilitas tersebut pasti akan terjadi
Liabilitas kontinjensi menurut PSAK 57 (Revisi 2009) adalah:
1.     Liabilitas potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya
menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih pada
masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas
2.     Liabilitas kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak
diakui karena
a.     Tidak terdapat kemungkinan besar (probable) eentitas mengeluarkan
sumber daya untuk menyelesaikan liabilitasnnya
b.     Jumlah liabilitas tersebut tidak dapat diukur secara andal
Liabilitas kontinjensi tidak diakui dalam laporan keuangan, liabilitas ini hanya
perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

2.Pengakuan dan Pengukuran


Provisi diakui jika memenuhi tiga syarat, yaitu:
1.     Entitas memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum, konstruktif) sebagai
akibat peristiwa masa lalu
2.     Kemungkinan besar (probable) penyelesaian liabilitas tersebut
mengakibatkan arus keluar sumber daya
3.     Estimasi yang andal mengenai jumlah liabilitas nilainya dapat diukur dengan
andal dapat dibuat

Contoh 11.3 Pengukuran Provisi


Entitas menjual produk dengan memberikan garansi selama 1 tahun dari tanggal penjualan.
Jika kerusakan terdeteksi cacat ringan biaya perbaikan atas seluruh produk yang dijual
Rp100.000.000, jika cacat berat biaya yang dikeluarkan Rp500.000.000. Pengalaman entitas
di masa lalu memberikan indikasi bahwa dalam tahun mendatang kemungkinan 80% produk
terjual tanpa cacat, 15% cacat ringan, 5% cacat berat.
Berdasarkan pengalaman masa lalu tersebut, estimasi biaya perbaikan didasarkan
pada nilai yang diharapkan (expected value) = (80% x 0 ) + (5% x Rp500.000.000) =
Rp40.000.000
Entitas akan mengakui garansi tersebut
Beban Garansi Rp40.000.000
Utang Garansi Rp40.000.000
 
3.Garansi
Pada saat entitas menjual produk, sering kali memberikan garansi / jaminan bahwa produk
yang dibeli tidak rusak dan apat berfungsi dengan baik. Garansi dapat dibedakan menjadi
dua yaitu garansi jaminan (assurance type warranty) dan garansi jasa (service type warranty).
Kedua bentuk garansi ini memiliki pendekatan berbeda.
Garansi jasa merupakan bentuk pelayanan tambahan yang diberikan kepada
pelanggan karena permintaan pelanggan. Tambahan pelayanan purna jual ini, akan
menambah harga jual. Sehingga penjual dapat membedakan produk yang dijual dengan
layanan purna jual tambahandan tidak. Atas garansi jasa ini, penjual akan mengakui
pendapatan ditangguhkan pada saat penjualan dan mengakui sebagai pendapatan saat layanan
purna jual diberikan kepada pelanggan.
Garansi jaminan merupakan bentuk kewajiban penjual untuk memastikan bahwa
produk yang diberikan tidak rusak. Atas garansi jaminan, entitas harus mengakui liabilitas
karena kontraj untuk memberikan pelayanan. Produk – produk elektronik atau peralatan
merupakan contoh produk yang dijual dengan memberikan garansi. Sesuai dengan kontrak
garansi, entitas penjual akan memberikan layanan perbaikan atau penggantian produk dalam
jangka waktu tertentu.
Garansi jaminan produk merupakan contoh dari kontinjensi karena jumlah dan
waktunya tidak pasti. Garansi merupakan bentuk kewajiban kontraktual, karena garansi
diberikan berdasarkan perjanjian jual beli yang tertera dalam dokumen jual beli.

Contoh 11.14 Garansi Produk


PT Kendeng menjual produk dengan memberikan garansi perbaikan selama dua tahun.
Berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, hasil analisis teknis dan pengalaman dari
industri diketahui bahwa hanya 5% pelanggan datang meminta garansi. Dari pelanggan yang
meminta garansi tersebut 70% meminta garansi di tahun pertama dan sisanya di tahun kedua.
Rata – rata biaya yang dikeluarkan untuk memberikan garansi tiap produk sebesar Rp100.000
Pada tahun 2015 penjualan sebanyak 20.000 unit dan tahun 2015 penjualan sebanyak
26.000 unit. Total garansi aktual yang dikeluarkan di tahun 2010 sebesar Rp65.000.000 dan
tahun 2015 sebesar Rp125.000.000. Buatlah jurnal yang diperlukan untuk mencatat garansi
dua tahun tersebut!

Jurnal yang dibuat tahun 2015


Pengakuan beban garansi
Beban Garansi Rp100.000.000
Provisi Garansi Rp100.000.000
(5% x 20.000 x Rp100.000 = Rp100.000.000)
Pemberian garansi tahun 2015
Provisi Garansi Rp65.000.000
Kas Rp65.000.000
 
Provisi garansi yang disajikan pada laporan keuangan 31 Desember 2015 sebesar
Rp35.000.000
Jurnal yang dibuat tahun 2016
Pengakuan beban garansi
Beban Garansi Rp130.000.000
Provisi Garansi Rp130.000.000
(5% x 20.000 x Rp100.000 = Rp130.000.000)
Pemberian garansi tahun 2015
Provisi Garansi Rp125.000.000
Kas Rp125.000.000

 
Provinsi garansi yang disajikan pada laporan keuangan 31 Desember 2016 sebesar
Rp40.000.000
Entitas dapat mencatat jurnal pemberian garansi, baru di akhir periode pelaporan mencatat
provisi dengan jurnal penyesuaian. Jika pendekatan tersebut digunakan maka jurnal yang
dibuat:
Jurnal tahun 2015
Pemberian beban garansi
Beban Garansi Rp65.000.000
Kas Rp65.000.000
 
Tambahan pengakuan beban garansi tahun 2015
Beban Garansi Rp35.000.000
Provisi Garansi Rp35.000.000
5% x 20.000 x Rp100.000 = Rp100.000.000
Beban garansi tambahan Rp100.000.000 – Rp65.000.000 = Rp35.000.000

Jurnal tahun 2016


Pemberian beban garansi
Beban Garansi Rp125.000.000
Kas Rp125.000.000
 

Tambahan pengakuan beban garansi tahun 2016


Beban Garansi Rp5.000.000
Provisi Garansi Rp5.000.000
5% x 26.000 x Rp100.000 = Rp130.000.000
Beban garansi tambahan Rp130.000.000 – Rp125.000.000 = Rp5.000.000
 
Contoh 11.15 Garansi Jaminan Produk dan Jasa
PT Prahu menjual mobil pada 2 Januari 2015 dengan memberikan garansi atas 36.000 km
pertama atau selama tiga tahun mana yang lebih dahulu. Harga jual mobil Rp300.000.000.
Entitas mengestimasi biaya garansi yang akan diberikan selama 3 tahun sebesar Rp7.000.000.
Pelanggan juga membeli garansi jasa senilai Rp9.000.000 sehingga ada tambahan pelayanan
untuk servis mobil tersebut dari standar jaminan yang diberikan. Selama tahun 2015 biaya
terkait dengan jaminan asuransi yang dikeluarkan sebesar Rp5.000.000 dan tahun 2016
sebesar Rp1.000.000. Atas garansi jasa perusahaan mengakui dengan metode garis lurus.
Jurnal yang dibuat oleh perusahaan pada saat melakukan penjualan adalah:
Kas Rp309.000.000
Beban Garansi Rp7.000.000
Provisi Garansi Rp7.000.000
Pendapatan Ditangguhkan Garansi Jasa Rp9.000.000
Penjualan Rp300.000.000
Jurnal pada 2015 saat memberikan garansi jaminan dan pengakuan garansi jasa
Provisi Garansi Rp5.000.000
Kas / persediaan Rp5.000.000
Pendapatan Ditangguhkan Garansi Jasa Rp3.000.000
Pendapatan Garansi Rp3.000.000

4.     Kewajiban Pengelolaan Lingkungan

Menurut PSAK 16 (Revisi 2011) Aset Tetap, termasuk komponen biaya perolehan adalah
estimasi awal biaya pembongkaran, permindahan dan restorasi lokasi aset tetap (dismantling
cost). Pembongkaran dan restorasi lokal aset tetap biasanya terkait dengan kewajiban
lingkungan untuk mengembalikan lokasi seperti kondisi awal, sehingga semua peralatan yang
di atas dan tertanam harus dipindahkan. Pembebanan biaya ini dilakukan bersamaan dengan
pembebanan depresiasi aset tersebut. Karena kewajiban diukur dengan nilai estimasi
pengeluaran yang didiskontokan, maka dengan berlalunya waktu akan diakui beban bunga
untuk menyesuaikan nilai liabilitas.

Contoh 11.16 Akuntansi Liabilitas Pembongkaran Aset


PT Kapuas pada 2 Januari 2015 memulai penggunaan peralatan penambangan (drilling) di
sebuah areal tambang yang dimiliki. Regulasi pemerintah mengharuskan perusahaan
melakukan pembongkaran peralatan tersebut di akhir masa manfaatnya. Masa manfaat
drilling tersebut 10 tahun dengan estimasi biaya sebesar Rp2.000.000.000. Dengan tingkat
diskon 6% selama masa manfaat, nilai wajar kewajiban lingkungan tersebut adalah
Rp1.116.800.000 (Rp2.000.000.000 x 0,5584)
Jurnal pengakuan liabilitas sebagai penambah nilai peralatan drilling
Peralatan Drilling RP1.116.800.000
Liabiltas Pembongkaran Aset Rp1.116.800.000
 
Jurnal pengakuan depresiasi peralatan drilling
Beban Depresiasi Rp1.116.800.000
Akumulasi Depresiasi – Drilling Rp1.116.800.000

 
Depresiasi ini akan dilakukan bersamaan dengan nilai peralatan drilling sebagai satu
kesatuan, tidak didepresiasikan secara terpisah
Jurnal pengakuan bunga atas liabilitas pembongkaran aset
Beban Bunga Rp67.008.000
Liabilitas Pembongkaran Aset Rp67.008.000
Beban bunga = 6% x Rp1.116.800.000 = Rp67.008.000
 
5.     Litigasi Hukum

Litigasi hukum merupakan tuntutan perkara terkait suatu entitas yang sedang berjalan proses
hukumnya. Kasus hukum entitas dapat berakibat timbulnya liabilitas yang harus diselesaikan
oleh ssebuah entitas.

Kasus litigasi dapat terjadi karena kasus pencemaran lingkungan, kecelakaan kerja yang
dialami oleh karyawan, perselisihan masalah pajak, kecelakaan dalam pengiriman barang
sehingga ada pihak yang menuntut perusahaan dan kasus lainnya. Kasus litigasi tidak semua
dalam posisi menimbulkan utang, karena kasus litigasi juga dapat terjadi karena entitas
berada dalam pihak yang dirugikan sehingga justru akan menerima ganti rugi. Litigasi yang
diakui dan diungkapkan adalah litigasi yang brkaitan dengan potensi kerugian entitas
sehingga menimbulkan potensi liabilitas baik provisi maupun kontinjensi bagi entitas

6.     Liabilitas Kontinjensi

Entitas tidak diperkenankan mengakui liabilitas kontinjensi. Artinya liabilitas kontinjensi


tidak pernah diakui dalam laporan posisi keuangan. Keberadaannya hanya perlu diungkapkan
dalam catatan atas laporan keuangan, kecuali jikakemungkinan arus kelaur sumber daya
kecil, maka liabilitas kontinjensi tidak perlu diungkapkan.
Pengakuan aset kontinjensi tidak dipekenankan, adar tidak menimbulkan pengakuan
penghasilan yang tidak pernah direalisasi. Jika sudah dapat dipastikan akan langsung diakui
sebagai aset.

B.PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN


1.     PENYAJIAN
Lianilitas jangka pendek menurut PSAK 1 (Revisi 2009) dalam laporan keuangan
disajikan pada bagian atas sebelum liabilitas jangka panjang. Penyajian menurut PSAK ini
berbeda dengan penyajian menurut IAS 1 yang menempatkan liabilitas jangka pendek setelah
liabilitas jangka panjang. Namun ada perusahaan di Indonesia yang meletakkan liabilitas
jangka pendek liabilitas ekuitas dan liabilitas jangka panjang misalnya PT PLN (Persero).
PSAK tidak menjelaskan klasifikasi dan jenis liabilitas jangka pendek yang harus
disajikan dalam laporan keuangan. Perusahaan yang harus menentukan informasi apa yang
material dan signifikan bagi pembaca sehingga perlu diklasifikasikan secara terpisah.
Umumnya liabilitas jangka pendek diklasifikasikan atas utang usaha, utang pajak, utang
jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun, biaya yang masih harus dibayar,
pendapatan diterima di muka, dan utang jangka pendek lainnya.
PSAK 7 (Revisi 2010) Pengungkapan Pihak-Pihak Berelasi mengharuskan entitas
memisahkan utang yang berasal dari pihak berelasi dan tidak berelasi. Untuk itu utang harus
diklasifikasikan atas dua kelompok tersebut. Pilihan antara apakah pemisahan pihak berelasi
dan tidak berelasi sebenarnya tidak diharuskan disajikan dalam laporan keuangan pokok,
namun dapat diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan dalam rincian utang.
2.     PENGUNGKAPAN
Pengungkapan liabilitas jangka pendek berisikan rincian dan tambahan penjelasan.
Misalnya untuk utang usaha, pengungkapan menjelaskan detail utang usaha berdasarkan
pemasok dengan nilai material, utang berdasarkan klasifikasi umur, dan pengungkapan utang
berdasarkan mata uang asing. Untuk utang pajak pengungkapan berisikan informasi Jenis-
jenis pajak. Kontinjensi yang sering muncul dalam laporan keuangan adalah kasus ligitasi
atau perkara hukum yang dihadapi perusahaan.

C. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN


Entitas melakukan analisis liablitas jangka panjang dengan melihat kemampuannya
untuk membayar utang yang akan jatuh tempo. Rasio yang digunakan adalah rasio lancar
(current rasio), rasio kas (cahs ratio), rasio cepat (quick ratio). Semakin besar jumlah utang
lancar akan memperbesar risiko perusahaan untuk kesulitan membayar utangnya.
Rasio Lancar = Aset Lancar
Liabilitas Jangka Pendek
Rasio Cepat = Aset Cepat
Liabilitas Jangka Pendek
Aset cepat = Aset Lancar - Persediaan – Biaya Dibayar di Muka
Rasio Kas = Kas
Liabilitas Jangka Pendek
Rasio lancar merupakan kemampuan perusahaan membayar liabilitas jangka pendek
dengan menggunakan aset lancar yang dimilikinya. Semakin tinggi rasio lancar menunjukkan
entitas memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam membayar liabilitas jangka pendeknya.
Rasio cepat merupakan kemampuan perusahaan membayar liabilitas jangka pendek
dengan menggunakan aset yang sangat likuid. Aset likuid (cepat) merupakan aset lancar
dikurangkan dengan persediaan dan biaya dibayar di muka. Persediaan untuk dapat menjadi
kas harus dijual dahulu menjadi piutang, baru kemudian ditagih mendapatkan kas. Beban
dibayar di muka tidak dapat dicairkan menjadi kas sehingga tidak dapat digunakan sebagai
alat pembayar liabilitas jangka pendek.
Rasio kas merupakan kemampuan perusahaan membayar liabilitas jangka pendek
dengan menggunakan kas yang dimiliki entitas. Rasio ini merupakan ukuran kemampuan
membayar segera, karena diasumsikan semua liabilitas jangka panjang akan dibayar dalam
waktu yang sangat dekat. Ukuran rasio kas merupakan ukuran yang lebih ketat karena
menganggap bahwa semua utang harus disediakan kas untuk melunasinya.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Liabilitas menurut kerangka dasar pengukuran dan pengungkapan laporan keuangan
(KDP2LK) adalah utang entitas masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu. Liabilitas
mengandung komponen utama yaitu adanya kewajiban kini yang timbul, terjadi dari transaksi
dimasa lalu dan penyelesaiannya menyebbkan arus keluar kas atau sumber daya entitas.
Istilah umum yang digunakan untuk sesuatu yang memiliki ketidakpastian dari sisi
keajadian dan jumlah adalah kontinjensi. Dalam akuntansi, kontinjensi dapat muncul sebagai
liabilitas kontinjensi atau aset kontinjensi. Liabilitas kontinjensi lebih sering dijumpai
dibandingkan dengan aset kontinjensi. Prinsip konservatisme dan kehati-hatian menyebabkan
aset kontinjensi tidak akan pernah diakui sampai aset tersebut diperoleh. Aset kontinjensi jika
potensi terjadinya tinggi dan nilainya dapat diestimasi dengan andal, hanya boleh
diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. PSAK 57 (revisi 2009) mengatur
penyajian dan pengungkapan untuk provisi dan kontinjensi.

SARAN
Penggunaan liabilitas untuk menandai entitas harus dipertimbangkan dengan baik
sehingga tetap memberikan manfaat bagi entitas. Liabilitas yang terkait dengan operasi
biasanya tidak ada bunga. Liabilitas operasional ini biasanya diperoleh perusahaan karena
penundaan pembayaran kepada pemasok, pemerintah, karyawan atau pihak lain. Entitas akan
memperoleh keuntungan karena dapat menunda pembayaran dan menggunakan dana tersebut
untuk investasi atau aktivitas lain.