Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Balita adalah anak usia 1-5 tahun yang masih dalam tahap pertumbuhan

dan perkembangannya yang ditandai dengan aktifitas anak untuk belajar

berbicara, lari dan mulai bersosialisasi. Pada masa balita tentunya masih

memerlukan perhatian khusus dari orang tua, perkembangan ini merupakan hasil

interaksi antara keadaan lingkungan, fisik dan psikis yang menimbulkan tampilan

dan kualitas tumbuh kembang anak (Istiany, 2013).

Balita terbagi menjadi dua golongan yaitu balita dengan usia 1-3 tahun dan

balita dengan usia 1-5 tahun (Soekirman, 2010). Batita adalah suatu istilah untuk

anak berusia di bawah tiga tahun yang mana perkembangannya sudah mulai

terlihat. Pada masa ini anak sudah mulai bisa belajar merangkak hingga berjalan

tetapi harus mendapatkan perhatian yang lebih dari kedua orangtua sedangkan

balita adalah suatu istilah untuk anak berusia dibawah lima tahun yang mana pada

masa ini anak sudah bisa berjalan, masa yang sangat baik dalam perkembangan

tumbuh kembang anak. Pada masa balita, anak mengalami proses pertumbuhan

dan perkembangan yang pesat baik secara fisik, mental, maupun sosial. Anak usia

dibawah lima tahun (Balita) merupakan kelompok yang rentan terhadap kesehatan

dan gizi. Periode dua tahun pertama kehidupan merupakan masa kritis karena

terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat (Depkes RI, 2010).
Perkembangan adalah suatu proses bertambahnya kemampuan dalam

stuktur dan fungsi tumbuh yng lebih kompleks dalam pola yang teratur sebagai

hasil dari proses pematangan. Pemantauan pertumbuhan anak berisi tugas

perkembangan anak yang harus dicapai berdasarkan usia. Perkembangan anak

dibagi menjadi 7 bagian yaitu motorik kasar, motorik halus, komunikatif pasif,

komunikasi aktif, kecerdasan, menolong diri sendiri dan tingkah laku sosial

(soetjiningsih, 2012) sedangkan pertumbuhan adalah perubahan fisik pada

seseorang yang ditandai dengan bertambahnya ukuran berbagai organ tubuh

karena bertambahnya sel-sel dalam tubuh. Indikator pertumbuhan bisa diukur

dengan berat badan, tinggi badan, umur tulang dan status gizi yaitu hasil dari

keseimbangan metabolisme antara asupan makanan dengan zat gizi yang

dibutuhkan oleh tubuh (Marimbi, 2010)

Status gizi balita dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor langsung dan

tidak langsung. Faktor langsung yaitu konsumsi pangan dan penyakit infeksi

sendangkan salah satu faktor tidak langsung yang mempengaruhi status gizi

balita adalah pengetahuan dan sikap ibu. Kurangnya pengetahuan dan sikap ibu

merupakan salah satu penyebab terjadinya kurang gizi pada balita. Ibu yang

memiliki pengetahuan dan sikap gizi yang kurang akan sukar memilih makanan

yang bergizi bagi balita dan keluarganya sehingga akan mempengaruhi asupan

makanan balita dan status gizinya. Balita kurang gizi akan menyebabkan

terganggunya pertumbuhan otak dan tingkat kecerdasan. Hal ini karena kurangnya

produksi protein dan energi yang diperoleh dari makanan (Lestari, 2015).
Pola makan yang baik perlu dibentuk sebagai upaya untuk memenuhi

kebutuhan gizi dan pola makan yang tidak sesuai akan menyebabkan asupan gizi

kekurangan asupan yang kurang dari yang dibutuhkan akan menyebabkan tubuh

menjadi kurus dan rentan terhadap penyakit. Sehingga pola makan yang baik juga

perlu dikembangkan untuk menghindari interaksi negatif dari zat gizi yang masuk

dalam tubuh. Interaksi dapat terjadi antara suatu zat gizi dengan yang lain, atau

dengan zat non gizi. interaksi dapat bersifat negatif (antogenesis). Interaksi negatif

disebut negatif jika merugikan. Interaksi antara zat gizi dapat meningkatkan

penyerapan, atau sebaliknya mengganggu penyerapan zat gizi lain

(Sulistyoningsih, 2011). Pola asuh anak adalah sikap dan pengetahuan ibu atau

pengasuh kepada anaknya dalam pemberian makan, Wirajmadi (2012)

menjelaskan bahwa praktik pemberian makan berkaitan dengan cara pemberian

maka oleh ibu kepada anaknya yang meliputi jenis makanan, frekuensi makan,

porsi dan variasi bahan makanan. Oleh karena itu, pola pemberian makanan

sangat penting diperhatikan.

Masalah gizi kurang belum bisa teratasi dengan baik dalam skala

internasional maupun nasional, Menurut UNICEF (2019) jumlah penderita gizi

kurang di dunia mencapai 700 juta anak dan keadaan gizi kurang masih menjadi

penyebab kematian anak di seluruh dunia. UNICEF melaporkan sebanyak 149

milliar anak anak umur 4 tahun atau menderita gizi buruk yang mengeluarkan

biaya 3,5 trilliun dollar AS atau setara dengan Rp. 49.395 trilliun per tahunnya,

kondisi kesehatan berpengaruh kepada perkembangan otak dan badan. Sebagai

contoh pada masa perang di Yaman 46 % anak usia balita mengalam gizi buruk
berasarkan data pada tahun 2013-2018. PBB menyatakan yaman sebagai negara

yang mengalai krisis kemanusiaan terburuk didunia, sedangkan di Indonesia

hampir tidak mengalami kemajuan sama sekali dalam menurunkan tingkat kurang

gizi anak sejak tahun 2015 yaitu sebanyak 18,9 % anak Indonesia di bawah usia

lima tahun menderita gizi kurang. Balita yang termasuk gizi kurang mempunyai

risiko meninggal lebih tinggi dibandingkan balita yang gizinya baik (UNICEF,

2019).

Salah satu indikator sasaran pembangunan kesehatan pada RPJMN 2020-

2025 adalah penguatan advokasi, komunikasi sosial dan perubahan hidup sehat

terutama mendorong pemenuhan gizi seimbang berbasis konsumsu pangan,

penguatan sistem surbeilans gizi, peningkatan komitmen dan pendamping bagi

daerah dalam intervensi perbaikan gizi dengan strategi sesuai kondisi setempat

dan rspon cepat perbaikan gizi dalam kondisi darurat, proporsi balita mengalami

masalah gizi dari dari 19,6% pada tahun 2013 menjadi 17,7% pada tahun 2019.

Hasil PSG (Pemantauan Status Gizi) tahun 2018 yaitu status gizi balita menurut

indeks berat badan per usia (BB/U) di Indonesia, didapatkan hasil 79,7% gizi

baik, 13,8% gizi kurang, 3,9% gizi buruk, dan 2,6% gizi lebih. Secara nasional

prevalensi gizi kurang sebanyak 14,4% dan gizi buruk sebanyak 3,4% di

Indonesia (Kemenkes, 2020).

Berdasarkan Indeks BB/U, tahun 2016 menurut Provinsi Jambi yaitu 2,37

% gizi buruk, 10,93% gizi kurang 84,90 % gizi baik , dan 1,80% gizi lebih dan

pada tahun 2017 kejadian gizi buruk 2,6%; gizi kurang 8,7%; gizi baik 86,2% dan

gizi lebih 2,4% (Kemenkes RI, 2019). Masalah gizi pada balita dapat memberi
dampak terhadap kualitas sumber daya manusia, sehingga jika tidak diatasi dapat

menyebabkan lost generation. Kekurangan gizi dapat mengakibatkan gagal

tumbuh kembang, meningkatkan angka kematian dan kesakitan serta penyakit

terutama pada kelompok usia rawan gizi yaitu Balita. Ibu yang kurang infomasi

dan pengetahuan dalam memberikan makanan yang bergizi akan mengakibatkan

balita mengalami status gizi kurang. (Zulfita, 2013).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Objek dalam pengetahuan

adalah benda atau hal yang diselidiki oleh pengetahuan itu. Penginderaan terjadi

melalui panca indera manusia, yakni indera raba, rasa, penglihatan, pendengaran

dan penciuman, karena itu pengetahuan dimungkinkan didapat dari berbagai

sumber dan pengalaman (Notoatmodjo, 2010).

Pengetahuan gizi adalah pengetahuan yang membahas sifat sifat nutrient

yang terkandung dalam makanan, pengaruh metaboliknya serta akibat yang timbul

bila terdapat kekurangan zat gizi. Gizi kurang adalah suatu proses kurang makan

ketika kebutuhan normal terhadap satu atau beberapa nutrien tidak terpenuhi, atau

nutrient-nutrien tersebut hilang dengan jumlah yang lebih besar daripada yang

didapat (Cakrawati, 2012).

Menurut Penelitian Puspitasari (2014) Dengan Judul Pengaruh Pendidikan

Kesehatan Terhadap Perubahan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dalam Upaya

Menangani Balita Gizi Kurang Di Desa Mancasan Sukoharjo jenis penelitian yang

dipakai dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan metode

penelitian pre experiment dengan hasil nilai rata-rata pretest sikap sebesar 43,12
dan meningkat menjadi 47,78. Hasil uji paired samples test diketahui nilai t-test

sebesar -5,75 dan nilai p-value 0,001. terdapat perbedaan sikap antara sebelum

(pretest) dan sesudah (posttest) diberikan pendidikan kesehatan tentang upaya

menangani balita gizi kurang (Puspitasari , 2014). Pendidikan kesehatan adalah

proses perubahan perilaku dimana perubahan bukan sekedar proses transfer

materi/teori dari seseorang ke orang lain, tetapi perubahan terjadi atas kesadaran

diri individu, kelompok atau masyarakat sendiri (Mubarak, 2012).

Hasil data yang diperoleh di Puskesmas Jangga Baru kabupaten

Batanghari didapatkan data gizi kurang pada tahun 2018 berjumlah 78 orang laki-

laki 42 orang (54%) perempuam 36 orang (46%), pada tahun 2019 berjumlah 53

orang laki-laki 29 orang (55%) perempuan 24 orang (45%). Gizi kurang

merupakan keadaan tidak sehat karena tidak cukup makan dalam jangka waktu

tertentu. Kurangnya jumlah makanan yang dikonsumsi baik secara kualitas

maupun kuantitas dapat menurunkan status gizi.

Berdasarkan survey awal melalui wawancara dan observasi yang peneliti

lakukan pada tanggal 2 Juni tahun 2020 kepada 10 orang ibu balita yang ada di

Puskesmas jangga 7 orang status gizi anak perempuan dan anak laki-laki dengan

BB/U yang kurang, ibu balita mengatakan tidak tahu tentang pola pemberian

makanan dan gizi yang baik karena mereka belum pernah diberikan pendidikan

kesehatan tentang pola pemberian makanan dan gizi pada anak yang baik dan

kurangnya informasi yang didapatkan. Pada wawancara berikutnya 6 dari 10

orang ibu mengatakan memiliki kebiasaan memberikan jajanan kepada balitanya

untuk sarapan pagi.


Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik mengangkat judul penelitian tentang

Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Pengetahuan Ibu Balita tentang

Pemberian Makanan pada Status Gizi Kurang di Puskesmas Jangga Baru

Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari-Jambi, Tahun 2020.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada Pengaruh Pendidikan Kesehatan

dengan Pengetahuan Ibu Balita tentang Pemberian Makanan pada Status Gizi

Kurang di Puskesmas Jangga Baru Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten

Batanghari-Jambi, Tahun 2020?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui adanya Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan

Pengetahuan Ibu Balita tentang Pemberian Makanan pada Status Gizi Kurang

di Puskesmas Jangga Baru Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari-

Jambi, Tahun 2020.

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk:

a. Mengetahui tingkat pengetahuan Ibu sebelum diberikan pendidikan

kesehatan Tentang Pola Pemberian Makanan Pada Balita Status Gizi

kurang Balita di Puskesmas Jangga Baru Kecamatan Muara Bulian,

Kabupaten Batanghari-Jambi, Tahun 2020.

b. Mengetahui tingkat pengetahuan Ibu sesudah diberikan pendidikan

kesehatan Tentang Pola Pemberian Makanan Pada Balita Status Gizi


kurang Balita di Puskesmas Jangga Baru Kecamatan Muara Bulian,

Kabupaten Batanghari-Jambi, Tahun 2020.

c. Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan Ibu

Tentang Pola Pemberian Makanan Pada Balita Status Gizi Balita kurang di

Puskesmas Jangga Baru Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari-

Jambi, Tahun 2020.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi puskesmas Jangga Baru

Dapat dijadikan bahan masukan dalam pelaksanaan perawatan pada Ibu

dengan dengan status gizi balita dan untuk mengetahui pengetahuan ibu

tentang pola pemberian makanan di wilayah kerja Puskesmas diwilayah kerja

Puskesmas Jangga Baru Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari-

Jambi, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan terhadap masyarakat.

2. Bagi institusi pendidikan

Sebagai referensi bagi pespustakaan dan sebagai acuan bagi penelitian

berikutnya di masa yang akan datang khususnya tentang pola pemberian

makanan dengan status gizi anak balita.

3. Bagi ilmu keperawatan

Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang

keperawatan dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang pemberian

makanan dengan status gizi pada anak balita dengan peran perawat, yaitu:

sebagai fasilitator, edukator, dan konseling.


4. Bagi peneliti lain

Penelitian ini dapat digunakan sebagai panduan atau referensi untuk

penelitian pengetahuan ibu tentang pola pemberian makanan dengan status gizi

kurang pada balita

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif pre eksperiment dengan

pendekatan one group pretest-posttest design, dimana pengukuran perilaku

dilakukan sebelum diberikan pendidikan kesehatan (pre test) kemudian diukur

lagi sesudah diberikan pendidikan kesehatan (post test). Penelitian ini dilakukan

untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan ibu

tentang pola pemberian makanan dengan status gizi balita di Desa Jangga Baru

diwilayah kerja Puskesmas Jangga Baru Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten

Batanghari-Jambi. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu

tentang pemberian makanan pada anak balita status gizi kurang, dan variabel

independennya adalah pendidikan kesehatan ibu tentang tentang pemberian

makanan pada anak balita dengan status gizi kurang. Penelitian ini rencana akan

dilakukan pada bulan Juli-Agusus 2020. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu

yang mengalami status gizi pada anak balita tahun 2020 jumlah populasi yang

kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian semuanya. Sampel

yang diambil peneliti yaitu sebanyak 20 orang. Pengambilan sampel pada

penelitian ini menggunakan tehnik Purposive Sampling.