Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH PENERAPAN TERAPI OKUPASI TERHADAP

TINGKAT STRES PADA LANSIA

Ni Putu Widari*, Maria Eugensiana Taji**


AKPER William Booth Surabaya
Email:putu.widari@yahoo.com

ABSTRAK

Terapi okupasi pada lansia merupakan salah satu alternatif non farmakologi yang mudah
dilakukan, mudah dibuat dan mudah digunakan tetapi memberikan manfaat yang besar dalam
menurunkan stres. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penerapan terapi okupasi
terhadap penurunan stres pada lansia di Panti Werda Usia Anugrah Surabaya. Penelitian ini
menggunakan desain penelitian bersifat pra – experimental (one – grup pre – post test desing).
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penghuni Panti Werda Usia Anugrah Surabaya,yang
berjumlah 20 orang. Pengambilan sampel digunakan dengan cara Probality sampling (simple
random sampling), dengan jumlah sampel 19 orang. Pengumpulan data penelitian ini
menggunakan observasi tingkat stres dengan skala Holmes dan Rahe.variabel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah variabel bebas (independen) adalah terapi okupasi dan variabel terikat
(dependen) tingkat stres. Sebelum dilakukan terapi okupasi 19 (100%) responden memiliki tingkat
stres dengan kategori sedang, setelah dilakukan terapi okupasi 8 (42%) responden tingkat stres
rendah, sedangkan 11 (58%) responden masih dalam kategori stres sedang. Analisa data yang
digunakan yaitu dengan uji wilcoxon, hasil yang diperoleh adalah p = 0,005 dengan nilai
(p<0,005), yang berarti ada pengaruh penerapan terapi okupasi terhadap tingkat stres pada lansia di
Panti Werda Usia Anugrah Surabaya. Sejauh ini banyak orang tua belum mengetahui terapi untuk
menurunkan tingkat stres pada dirinya, dengan adanya terapi okupasi, seseorang dibantu untuk
mengatasi atau menghindari tingkat stres yang berkepanjangan.

Kata Kunci : Lansia, Stres, Terapi Okupasi.

ABSTRACT

Occupational therapy in the elderly is one of the non-pharmacological alternatives are


easy to do, easy to make and easy to use but offer significant benefits in reducing stress. The
purpose of this study was to determine the effect of the application of occupational therapy is to
decrease the stress on the elderly in Panti Werda Usia Anugrah Surabaya. This study uses a study
design is a pre - experimental (one - group pre - post test desing). The population in this study are
all inhabitants of Panti Werda Usia Anugrah Surabaya, which numbered 20 people. Sampling is
used in a way probality sampling (simple random sampling), with a sample of 19 people. The
collection of data through observation of this study stress levels by Holmes and Rahe.variabel
scale used in this study is the independent variable (independent) is occupational therapy and the
dependent variable (dependent) stress levels. Prior to occupational therapy 19 (100%) of
respondents have moderate stress levels by categories, occupational therapy after 8 (42%) of
respondents low stress levels, while 11 (58%) of respondents are still in the category of moderate
stress. Analysis of the data used is the Wilcoxon test, the results are obtained with a value of p =
0.005 (p <0.005), which means that there is the influence of the application of occupational
therapy on the level of stress in the elderly in Panti Werda Usia Anugrah Surabaya. So far many
parents do not know the therapy to decrease the level of stress on him, in the presence of
occupational therapy, a person is helped to overcome or avoid prolonged stress level.

Keywords: Elderly, Stress, Occupational Therapy.


PENDAHULUAN 19 UU No.23 tahun 1992 tentang
kesehatan). Menurut Claude Bernad, 1867
Tahapan menjadi dewasa (Potter dan perry,1997) perubahan dalam
merupakan tahap tubuh mencapai titik lingkungan internal dan eksternal dapat
perkembangan yang maksimal. Setelah itu menggangu fungsi organisme sehingga
tubuh mulai menyusut dikarenakan penting bagi organisme tersebut untuk
berkurangnya jumlah sel – sel yang ada beradaptasi terhadap stresor agar dapat
dalam tubuh, sebagai akibatnya, tubuh juga bertahan. Stresor merupakan stimuli yang
akan mengalami penurunan fungsi secara mengawali atau memicu perubahan yang
perlahan – lahan itulah yang dikatakan menimbulkan stres, jika lansia tidak bisa
sebagai proses penuaan mengatasi atau menyesuaikan diri terhadap
(Constantinides,2008). Proses menua perubahan – perubahan yang terjadi pada
(aging) adalah proses alami yang disertai masa tua, maka lansia tersebut akan
adanya penurunan kondisi fisik, psikologis memikirkan dan memiliki persepsi yang
maupun sosial yang saling berinteraksi buruk dan muncul gejala – gejala seperti
satu sama lain pusing, mudah lelah, sulit tidur, dan lain
(Ponto,Bidjuni,Karundeng,2015). Lansia sebagainya.
adalah tahap akhir perkembangan pada Menurut data Word Health
daur kehidupan manusia (R.Siti Maryam, Organization (WHO), Indonesia dengan
Mia F. Ekasarid,2008). Menurut UU No.13 jumlah lansianya menduduki urutan ke –
tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan 18. Dinegara maju seperti Amerika serikat
bahwa lansia adalah seseorang yang telah pertambahan lansia diperkirakan 1.000 per
mencapai usia ≤ 60 tahun. Dikatakan hari,pada tahun 2001 berdasarkan hasil
lansia atau menjadi tua ditandai dengan penelitian Kinsella dan Velkof, bahwa
adanya perubahan yang terlihat sebagai sepanjang tahun 2000, populasi dunia
gejala – gejala perubahan fisik, antara lain tumbuh lebih dari 795.000 setiap bulan
kulit mulai mengendur, timbul keriput (Papalia,2008: 843), dan diperkirakan
rambut beruban, gigi mulai ompong, lebih dari dua kali lipatnya pada tahun
pendengaran dan penglihatan mulai 2025. Pada saat itu terdapat lebih dari 800
berkurang, mudah lelah, gerakan lamban juta orang berusia diatas 65 tahun, dua
dan kurang lincah, serta terjadi pertiga dari mereka berada di negara
penimbuanan terutama diperut dan berkembang (Papalia, 2008: 843).
pinggul. Perubahan psikologis yang sering DiIndonesia jumlah lansia mengalami
dijumpai lansia antara lain perasaan yang peningkatan dari tahun 2000 sebanyak
tidak berguna, mudah sedih, insomnia, 15.262.199 jiwa dengan prosentase 7,28%,
stres, depresi, ansietas dan dimensia. Dari tahun 2005 menjadi 17.767.709 jiwa
beberapa masalah tersebut stres merupakan dengan prosentase 7,97%, dan pada tahun
salah satu faktor yang paling tinggi untuk 2010 meningkat juga menjadi 19. 936.895
memicu kegagalan seseorang dalam jiwa dengan prosentase 8,48%,
mempertahankan keseimbangan terhadap (Padila,2013), dan jumlah lansia yang
suatu kondisi. Stres adalah respon adaptif berada di Jawa timur adalah 4.113.847
dipengaruhi karakteristik individual atau orang atau sekitar 11 % dari total
proses psikologi, yaitu akibat dari penduduk Jawa timur (Birohumas.
tindakan, situasi, atau kejadian eksternal jatimprov, 2015), di kota Surabaya jumlah
yang menyebabkan perubahan fisik dan lansia sekitar 300 ribu lansia, atau 10 %
psikologis terhadap seseorang (Ivancevich dari total penduduk Surabaya. Hasil
dan Matteson,1980 dalam Kreitner dan wawancara yang telah dilakukan penulis
Kinicki,2004). Keberadaan usia lanjut kepada pengurus Panti werda Anugrah
ditandai dengan umur harapan hidup yang didapatkan data dari 20 lansia, 12
semakin meningkat dari tahun ketahun, hal diantaranya kadang masih aktif dalam
tersebut membutuhkan upaya mengikuti kegiatan yang ada di panti
pemeliharaan serta peningkatan dalam werda seperti doa bersama setiap sore di
rangka mencapai masa tua yang sehat, panti, penuh semangat saat ditanyakan
bahagia, berdaya guna dan produktif (Pasal hobi atau kegemaran semasa muda, masih
merasa mampu dan mandiri dalam seseorang untuk melaksanakan suatu tugas
menyelesaikan pekerjaan atau aktivitasnya tertentu yang telah ditentukan dengan
(mandi, makan, minum, BAB, BAK) maksud untuk memperbaiki, memperkuat,
walaupun sebenarnya membutuhkan meningkatkan kemampuan, serta
bantuan pengurus panti ,terkadang tidak mempermudah belajar keahlian atau fungsi
lansia selalu berpikiran negatif dalam yang dibutuhkan dalam proses penyesuaian
menanggapi keadaan yang dilihatnya, diri dengan lingkungan. Selain itu terapi ini
selalu mengeluh atau murung jika juga dapat meningkatkan produktivitas,
sedangkan memikirkan sesuatu, sedangkan mengurangi atau memperbaiki
6 lansia yang lain selulu merasa cemas dan ketidaknormalan (kecacatan), serta
takut, tidak mampu menyelesaikan memelihara dan meningkatkan derajat
pekerjaan yang ringan dan sederhana, kesehatan (Setyoadi dan Kushariyadi,2011).
sering mengalami gangguan pencernaan, Jenis kegiatan yang dapat dilakukan dari
selalu menyendiri di kamar, murung, terapi okupasi adalah latihan gearak badan,
sering bersedih, dan sering panik jika tidak olah raga, kerapian pribadi, pekerjaan sehari
pengurus sedang keluar panti untuk – hari (mengajarkan merapihkan tempat
melakukan kegiatan diluar panti. tidur, melipat baju sendiri, menyapu atau
Setiap orang pernah mengami stres, menata kamar), selain itu terapi juga
dan orang normal dapat beradaptasi dengan mengajarkan seni (tari, musik, atau drama),
stres jangka panjang atau stres jangka pendek diskusidengan topik tertentu, berita, surat
sehingga berlalu. Stres adalah bentuk bakar, televisi, kedaan lingkungan
ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun (Muhaj,2009).
mental. Bentuk ketegangan ini Stres yang terjadi pada lansia
mempengaruhi kinerja keseharian seseorang, harus segera diatasi dan secepatnya
bahkan stres dapat membuat produktivitas untuk dicegah, karena jika ditangani
menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan dengan cepat, maka akan menyebabkan
mental. Sumber stres disebut dengan stresor kematian. Dalam mengatasi dan
dan ketegangan yang di akibatkan karena
menurunkan stres yang terjadi pada
stres, disebut strain. Stres dapat
menyebabkan perasaan negatif atau yang lansia pengobatannya tidak harus
berlawanan dengan apa yang diinginkan atau mahal. Terapi Okupasi pada lansia
mengancam kesejahteraan emosional. merupakan salah satu alternative non
Sumber stresor dapat berasal dari internal farmakologi yang mudah dilakukan,
(diri sendri) dan ekstrernal (keluarga, mudah dibuat dan mudah digunakan
masyarakat, dan lingkungan), (A.Aziz tetapi memberikan manfaat yang besar
Alimul H,2006). Stres berat dapat dalam menurunkan stres. Adapun
menyebabkan seseorang lumpuh bahkan beberapa tujuan dari terapi okupasi
sampai pada kematian, karena merasa tidak adalah sebagai berikut: menciptakan
bahagia seolah – olah tidak lagi berdaya atas kondisi tertentu sehingga klien dapat
dirinya (Tay Swee Noi dan Peter
mengembangkan kemampuan untuk
J.Smith,1991). Tingkat stress lansia berarti
pula tinggi rendahnya tekanan yang dapat berhubungan dengan orang lain
dirasakan atau dialami oleh lansia sebagai dan masyarakat sekitarnya, membantu
akibat dari stresor berupah perubahan – klien melepaskan dorongan
perubahan baik fisik, mental, maupun sosial emosionalnya secara wajar, membantu
dalam kehidupan yang lansia alami. klien untuk menemukan kegiatan yang
Penilaian individu terhadap stresor akan sesuai bakat dan kondisi klien,
mempengaruhi individu untuk melakukan membantu dalam pengumpulan data,
tindakan pecegahan terhadap stresor yang terapi khusus untuk mengembalikan
membuat stres (Safari dan Saputra, 2009). fungsi fisik, meningkatkan gerak sendi,
Menurut peneliti Graff (2007) salah satu cara otot, dan koordinasi gerakan,
dalam pengembalian fungsi mental seseorang
mengajarkan aktivitas sehari – hari
atau pada lansia adalah dengan menggunakan
terapi okupasi. Terapi okupasi merupakan (ADL) seperti makan, berpakaian,
suatu ilmu dan seni pengarahan partisipasi berbelanja, menggunakan alat
tertentu,dan lain – lain, membantu (pra test atau observasi sebelum
klien untuk menyesuaikan diri dengan tindakan), berikutnya dilakukan
pekerjaan rutin ditempat tinggalnya intervensi terapi okupasi selama 1
(rumah, panti, dll). Hal ini dilakukan minggu (10 – 30 menit selama kegiatan
sebagai bentuk peran perawat dalam panti), setelah dilakukan intervensi
kemudian dilakukan observasi perbedaan
meminilmalkan angka kejadian kasus
tingkat stres masing – masing responden
peningkatan stres dari setiap tahunnya per harinya (post test atau observasi
yang terus meningkat. Dari fenomena setelah dilakukan tindakan), kemudian
tersebut menjadi dasar perlu dilakukan masukan kedalam tabel observasi.
penelitian untuk mengetahui sejauh Apabila data pre dan post terapi okupasi
mana pengaruh penerapan terapi sudah terkumpul seluruhnya maka akan
okupasi terhadap penurunan stress pada dilakukan uji wilcoxon untuk menentukan
lansia adanya pengaruh atau tidak.

HASIL
METODE
Panti Werda Usia Anugrah memiliki
kegiatan rutin yang dilakukan setiap
Desain penelitian merupakan
harinya adalah semua anggota panti wajib
rencana penelitian yang disusun mengikuti doa pagi pada pukul 05.00 WIB.
sedemikian rupa sehingga peneliti dapat Setelah doa pagi selesai pengurus panti
memperoleh jawaban terhadap membantu penghuni atau anggota panti
pertanyaan penelitian (Setiadi,2007). untuk membantu membersihkan
Berdasarkan tujuan penelitian, kamar,mandi, berolah raga. Makan pagi
rancangan penelitian yang digunakan dilakukan pada pukul 08.00 WIB. Jam
dalam penelitian ini adalah bersifat pra berkunjung bagi anggota keluarga maupun
– experimental (one – grup pre – post dari organisasi lainnya dilakukan pada
test desing). Tujuan dari penelitian ini pukul 09.00 WIB – selesai. Makan siang
adalah menggungkapkan hubungan pada pukul 12.00 WIB, makan malam pada
pukul 18.00 WIB.Setiap hari senin dan
antara pengaruh penerapan terapi
selasa dilakukan doamalam setelah makan
okupasi terhadap tingkat stres dengan malam selesai.Pukul 21.00 WIB semua
cara melibatkan satu kelompok subjek anggota masuk ke kemar masing – masing
yaitu lansia dan bersiap untuk tidur. Tidak ada
Pada penelitian ini populasinya terdapatnya kegiatan yang berhubungan
adalah lansia yang mengalami stres di dengan terapi aktivitas atau terapi okupasi
panti Werda Usia Anugrah Surabaya di Panti Werda Usia Anugrah Surabaya,
yang mengalami stres sebanyak 20 orang. oleh karena itu peneliti melakukan terapi
Pada penelitian ini sampel yang diambil okupasi yaitu membuat bingkai foto dari
dari sebagian lansia yang mengalami dus, merangkai bunga, origami, menyulam
stres di panti Werda Usia Anugrah kegiatan ini peneliti mlakukannya dalam
Surabaya 19 orang. Pengumpulan data seminggu. Setiap anggota maupun
adalah suatu proses pendekatan terhadap pengurus panti mendapatkan fasilitas
subjek dan proses pengumpulan kesehatan dengan cara pengurus panti
karakteristik subjek yang diperlukan mengantar anggota panti yang sakit untuk
dalam suatu penelitian (Nursalam,2008). pergi ke salah satu rumah sakit swasta di
Pada penelitian ini para responden Surabaya, sedangkan bagi anggota panti
dilakukan intervensi terapi okupasi yang sakit parah pengurus panti akan
selama 1 minggu (10 – 30 menit saat jam mendatangkan dokter untuk diperiksa.
kegiatan panti), sebelum intervensi
dilakukan para responden terlebih dahulu
dikaji tentang berapa kali responden
melakukan kegiatan yang digemari atau
hobi dari responden selama 1 minggu
diketahui responden sebagian besar
pendidikan terakhirnya SD dengan jumlah
Distribusi responden berdasaran jenis responden sebanyak 17 orang (89 %).
kelamin
Distribusi Responden Berdasarkan
rkan pekerjaan

Laki-laki 16%
100% Perempuan 21%
PNS
32% 31% Wirausaha
Swasta

Gambar 1. Diagram Pie distribusi responden Tidak Bekerja


berdasarkan jenis kelamin di Panti Werda
Usia Anugrah, Surabaya, Maret 2016, dapat
diketahui responden seluruhnya berjenis
kelamin perempuan (100%).

Distribusi responden berdasarkan umur Gambaran 4. Diagram Pie distribusi


responden berdasarkan pekerjaan sebelum
16%
masuk di Panti Werda Usia Anugrah
21% 59 – 69
tahun
Surabaya, Maret 2016, dapat diketahui
bahwa sebagian besar pekerjaan lansia
70 – 89 sebelum
m masuk Panti WerdaUsia Anugrah
63% tahun Surabaya adalah
lah swasta 6 orang (32%) dan
>90 tahun wirausaha 6 orang (31%).

Distrisbusi data mengetahui hasil terapi


okupasi terhadap tingkat stres pada lansia di
Gambar 2. Diagram pie distribusi Panti Werda Anugrah Surabaya.
responden berdasarkan umur di Panti
Werda Usia Anugrah Surabaya, Hasil tingkat stres sebelum dilakukan terapi
Maret 2016, dapat diketahui okupasi
responden
esponden terbayak berumur 70 – 89
tahun dengan jumlah responden
sebanyak 12 orang (63%). 1 Tidak
Signifikan
3. Distribusi Responden Berdasarkan 2 Rendah
Pendidikan
100%
3 Sedang
11% SD

SMP
89%
SMA

Gambaran 5 diagram pie Distribusi


Gambar 3 Diagram distribusi reponden data sebelum dilakukan terapi okupasi
berdasarkan pendidikan di Pantai Werda Usia terhadap tingkat stres, Maret 2016,
Anugrah Surabaya, Maret 2016 dapat didapatkan data bahwa seluruh responden
sebelum dilakukan terapi okupasi memilki mengalami stres sebelum dilakukan terapi
kriteria stres sedang sebanyak 19 orang okupasi sebanyak 19 orang (100%), dengan
(100%). kategori tingkat stres sedang. Kemudian
setelah dilakukan terapi okupasi ditemukan
Hasil tingkat stres sesudah dilakukan Te
Terapi responden yang masuk kedalam kategori
Okupasi tingkat stres yang rendah menjadi 8 orang
(42%).

1 Tingkat PEMBAHASAN
Signifikan
2 Rendah Tingkat Stres Sebelum Dilakukan Terapi
42%
Okupasi
58% Pada hasil penelitian berdasarkan 1
3 Sedang tentang distribusi data tingkat stres sebelum
dilakukan terapi okupasi. Seluruh responden
4 Tinggi memiliki tingkat stres sedang dengan jumlah
responden 19 orang (100%). Menurut
Sunaryo, 2004 Stres adalah gangguan pada
tubuh dan pikiran pada seseorang yang
disebabkan oleh perubahan dan tuntutan
Gambaran diagram pie 6 distribusi data kehidupan, yang dipengaruhi oleh
sesudah dilakukan terapi okupasi terhadap lingkungan maupun penampilan individu di
tingkat stres, April 2016, didapatkan data ada dalam lingkungan. Stres pada lansia
beberapa yang menonjol yaitu responden dipengaruhi oleh berbagai faktor dengan
setelah dilakukan terapi okupasi didapatkan tinggi rendahnya tekanan yang dirasakan atau
tingkat stres sedang mengalamilami penurunan dialami oleh lansia sebagai akhibat dari
adalah 11 orang (58%). stressor berupa perubahan – perubah
perubahan baik
fiik, mental, maupun sosial dalam kehidupan
Hasil tingkat stres sesudah dilakukan Terapi lansia.
Okupasi Berdasarkan
erdasarkan diagram 1 yaitu jenis
Tabel 1. Data distribusi frekuensi tingkat kelamin yang keseluruhan respondennya
stres sebelum dan sesudah terapi okupasi, berjenis kelamin perempuan 19 orang
Maret 2016. (100%). Menurut Woman Health, 2009
bahwa stres pada perempuan ditemukan 3
kali lebih banyak
yak dibandingkan sters pada
Terapi laki – laki. Hal ini disebabkan oleh faktor
Okupasi biologis, yaitu neurotransmitter serotonin
Sebel Prose Sesu Prose yang berpengaruh terhadapa terjadinya stres
um ntasi dah ntasi pada seseorang, dimana otak laki – laki dan
Tingkat perempuan memiliki kemampuan yang
stres berbeda dalam menghasilkanhasilkan hormone
Tidak 0 0% 0 0% serotonin. Pada keadaan normal otak laki –
Signifik laki dan perempuan mempunyai kadar
an serotonin yang seimbang, namun otak laki –
Rendah 0 0% 8 42% laki lebih cepat 52 % dari otak perempuan
Sedang
19 100% 11 58% dalammenghasilkan serotinin, hal inilah yang
Tinggi 0 0% 0 0% menjadi penyebab perempuan lebih lebi cepat
mengalami stres, jika dikaitkan antara fakta
TOTAL 19 100% 19 100% dan teori hal ini terjadi karena seluruh
Hasil Uji Wilcoxon : p = 0,005 responden yang berada di Panti Werda Usia
Anugrah adalah lansia yang berjenis kelamin
Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa perempuan, yang sudah tidak bekerja, yang
hasil penelitian di Panti Werda Usia aktivitasnya dalam panti hanya makan, mak
AnugrahSurabaya responden yang nonton TV, berdoa. Karena aktivitas yang
kurang inilah yang menyebabkan Pada penelitian ini sebagian besar
menurunnya kadar serotonin dalam otak responden, sebelum masuk panti memiliki
sehingga lansia tersebut mengalami stres. pekerjaan swata 6 orang (31 %) dan
Berdasarkan diagram 2 jumlah wirausaha 6 orang (32 %). Tuckman dan
responden yang banyak adalah umur 70 – 89 Lorge dalam Taher & Noorkasiani (2009),
tahun sebanyak 12 orang (63%), dan menemukan bahwa pada waktu menginjak
responden yang paling sedikit yaitu umur 59 usia pensiun (65 tahun). Dinyatakan bahwa
– 69 tahun sebanyak 3 orang (16%). Menurut diantara pekerjaan – pekerjaan usia 55 tahun
Tamber, S – Noorkasiani, 2009 semakin keatas yang mempunyai penghasilan
bertambahnya umur manusia akan terjadi berkecukupan keinginan untuk segera
proses penuaan secara regeneratif yang pensiun berbanding terbalik dengan variasi,
berdampak pada perubahan – perubahan pada otonomi dan tanggung jawab yang terkait
diri manusia tidak juga hanya perubahan fisik dengan pekerjaannya. Dengan bekerja
tetapi juga perubahan kognitif, perasaan seseorang dapat menghilangkan kebosanan
sosial,dan sexsual, lansia juga akan dan bersosialisasi, sehingga dapat
mengalami berbagai masalah fisik, mental, mengurangi stres. Stress yang timbul dapat
sosial, dan psikologis. Salah satu masalah muncul dari rasa bosan serta
psikologis yang dialami lansia adalah stres ketidakberdayaan, jika dikaitkan antara kasus
dan dengan bertambahnya usia seseorang, nyata dan teori apabila seorang bekerja dan
semakin siap pula dalam menerima cobaan, mendapatkan penghasillan maka orang
jika dikaitkan antara teori dan kasus nyata tersebut akan merasa berguna bagi orang
maka akan diketahui semakin tua umur lain, khususnya bagi dirinya sendri,
seseorang, maka orang tersebut akan sedangkan jika tidak bekerja orang tersebut
mengalami banyak perubahan, entah itu akan merasa tidak berdaya dan
perubahan yang dialami diri sendri atau yang menggatungkan diri pada orang lain, dan
terjadi dilingkungannya atau orang kegiatan yang dilakukan juga sedikit
terdekatnya yang membuat tingkat stres lebih sehingga menimbulkan rasa bosan dan dapat
tinggi terjadi pada usia lanjut atau lansia. membuat orang tersebut stres.
Pada penelitian ini responden paling
banyak memiliki tingkat pendidikan rendah Tingkat Stres Setelah Dilakukan Terapi
yaitu sekolah dasar (SD) sebanyak 17 orang Okupasi
(89 %). Menurut Stuart dan Studden, 2010 Berdasarkan tabel 2 responden yang
Pendidikan yang rendah akan menyebabkan mengalami perubahan menjadi kategori stres
orang tersebut mudah mengalami kcemasan tingkat rendah sebanyak 8 orang (42%).
dan stres yang berlebihan, tingkat pendidikan Hasil tersebut menunjukan bahwa terjadi
merupakan hal yang terpenting dalam penurunan tingkat stres setelah dilakukan
menghadapi masalah. Semakin tinggi terapi okupasi. Menurut Dalami Ermawati
pendidikan seseorang, memakin banyak (2010) bahwa terapi okupasi adalah kegiatan,
pengelaman hidup yang dilaluinya, sehingga aktivitas atau pekerjaan yang dilaksanakan
akan lebih siap dalam menghadapi masalah oleh klien bukan hanya sekedar memberi
yang terjadi, jika dikaitkan antara teori dan kesibukan pada klien saja, akan tetapi
kasus nyata maka semakin rendah tingkat kegiatan yang dilakukan dapat menyalurkan
pendidikan atau yang berpengetahuan kurang bakat dan emosi klien, mengarahkannya ke
luas semakin susah bagi seseorang tersebut suatu pekerjaan yang berguna sesuai
untuk mendapatkan pikiran yang rasional dan kemampuan dan bakat serta meningkatkan
logis, sehingga dapat dikatakan pengetahuan produktifitasnya, hal ini disebabkan aktivitas
para responden sangat minim oleh karena itu yang digunakan dalam terapi okupasi sangat
mereka menerima masukan dari orang yang dipengaruhi oleh konteks terapi secara
berpendidikan lebih tinggi akhibatnya para keseluruhan, lingkungan, sumber yang
responden dapat menyakini bahwa terapi tersedia, dan juga oleh kemampuan orang
okupasi yang dilakukan responden mampu yang melakukan terapi sendiri (pengetahuan,
menurunkan tingkat stres yang dialami. Hal keterampilan, minat, dan kreativitasnya).
ini dapat menunjukan bahwa para responden Berdasarkan hasil penelitian
sangat kooperatif dengan tindakan yang dikaitkan dengan teori diatas maka
dilakukan oleh peneliti. didapatkan bahwa terapi okupasi
berpengaruh pada tingkat stres pada lansia, kondisi tempat tinggal. Menurut Alimul, aziz
responden seluruhnya mengalami penurunan (2012) kebutuhan tidur pada tingkat
tingkat stres tetapi masih dalam kategori perkembangan masa dewasa tua yaitu 6
sedang sebanyak 11 orang (58 %) dan yang jam/hari,dengan tujuan dan fungsi tidur
mengalami penurunan kategori rendah untuk menjaga keseimbangan mental,
sebanyak 8 orang (42%), hal ini disebabkan emosional, kesehatan, dan mengurangi stres,
oleh pelaksanaan terapi okupasi yang benar jika dikaitan dengan teori dan kasus nyata
dan tepat yaitu selama 7 hari (10 – 30 sebelum dilakukan terapi okupasi lansia di
menit/hari) sehingga dapat membuat lansia panti hampir keseluruhan mengalami susah
merasa berguna dengan kreatifitas yang tidur hal ini dikarenakan mindset bahwa saya
dibuatnya, namun keberhasilan terapi tidak bisa tidur, dan ada rasanya cemas
okupasi yang penulis lakukan pada memikirkan hari tuanya, dan setelah
responden tidak lepas dari kepatuhan dilakukan terapi okupasi lansia diberi arahan,
responden dimana responden benar – benar jika susah tidur lansia dapat melakukan slah
percaya bahwa tindakan ini dapat membantu satu jenis kegiatan terapi okupasi yang telah
proses penurunan tingkat stres pada peneliti ajarkan (merangkai bunga) yang
responden, sehingga pengetahuan tentang nantinya dapat memancing rasa ngatuk untuk
terapi okupasi terhadap tingkat stres sangat segera beristirahat. Pada perubahan aktivitas
minim oleh sebab itu responden menaruh keagamaan menurut Alimul, Aziz (2012),
kepercayaan yang sangat besar kepada menjelaskan bahwa adanya macam – macam
peneliti dan responden merasa nyaman distress spiritual, salah satunya adalah
sehingga diyakini mampu menurunkan spiritual yang sakit, yaitu kesulitan menerima
tingkat stres yang dialami, disisi lain juga kehilangan dari orang yang dicintai atau dari
dukungan juga kepercayaan dari pengurus penderitaan yang berat, jika dikaitkan antara
panti terhadap proses kegiatan bagi anggota teori dan kasus nyata sebagian lansia di panti
panti sanagt besar dimana pengurus panti werda masih merasakan kehilangan dari
kooperatif dengan tindakan yang dilakukan orang yang mereka cintai walaupun itu sudah
oleh peneliti. bertahun – tahun lamanya, dengan adanya
terapi okupasi lansia diajak untuk melakukan
Pengaruh Penerapan Terapi Okupasi kegiatan terapi okupasi (membuat bingkai
Terhadap Tingakat Stres foto dirinya dan orang yang dicintainya dari
Berdasarkan data distribusi tabel kardus) dan meletakannya pada kamar tidur
dapat diketahui bahwa semua responden lansia, sehingga lansia dapat melakukan
yang diteliti memilki kategori tingkat stres aktivitas keagamaannya dengan perasaan
sedang sebelum dilakukan terapi okupasi yang tenang, menerima kondisi atau
sebanyak 19 orang (100%) dan setelah keberadaanya kehilangan orang yang
dilakukan terapi okupasi didapatkan semua dicintainya dengan rasa iklas. Menurut
responden mengalami penurun tetapi masih Sampao (2005) kesendirian di hari libur
dalam kategori sedang 11 orang (58 %) dan adalah masa dimana seseorang meluangkan
yang masuk kedalam kategori rendah waktu untuk bebas dari segala aktivitas
sebnyak 8 orang (42%). Berdasarkan uji pekerjaan pada saat hari raya,atau hari libur
statistik wilcoxon yang didapatkan, bahwa lainnya, terkadang masa ini seseorang merasa
nilai p < 0,05 sedangkan hasil yang diperoleh tidak diperhatikan oleh orang disekitarnya,
yaitu p = 0,005 dengan demikian H0 ditolak serta tidak ada seseorang tempat berbagi rasa
dan H1 diterima yang memiliki arti ada pengelaman jika dikaitan dengan kesendirian
pengaruh penerapan terapi okupasi terhadap di hari libur pada item masalah atau kejadian
tingkat stres pada lansia di Panti Werda Usia yang dialami oleh lansia di panti werda,
Anugrah Surabaya. sebagian besar lansia pada saat hari raya atau
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan liburnya lainnya merasakan kesendirian di
peneliti, dari item – item masalah atau panti karena tidak memiliki lagi sanak
kejadian yang dialami menurut skala Holmes keluarga untuk di datangi saat libur, sehingga
dan Rahe, ada beberapa item yang merka hanya berada di panti, dengan aadanya
mengalami perubahan diantaranya adalah terapi okupasi, maka lansia dapat mengisi
perubahan pola tidur, perubahan pola ktivitas waktu liburannya dengan melakukan
keagamaan,sendirian di hari libur, perubahan kegiatan – kegiatan yang telah diajarkan
peneliti sebelumnya untuk mengurangi rasa DAFTAR PUSTAKA
bosan dan jenuh lansia akhibat
kesendiriannya di hari libur. Alimul Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan
Secara umum dengan bertambahnya usia Dasar Manusia. Jakarta : Salemba
akan menurunkan kekuatan dan kualitas fisik Medika.
juga psikologis. Stres merupakan bentuk ___________. 2007.Metode Penelitian
ketegangan fisik, psikis, emosi maupun Keperawatan dan Teknik Analisa
mental. Bentuk ketegangan ini Data. Jakarta : Salemba Medika.
mempengaruhi kinerja keseharian seseorang ___________. 2008. Pengatar Konsep Dasar
terlebih khusus terjadi pada orang tua.Sejauh Keperawatan. Edisi 2. Jakarta :
ini banyak orang tua yang belum mengetahui Salemba Medika.
terapi untuk menurunkan tingkat stres yang Dalami Ermawati. 2010. Konsep Dasar
ada pada dirinya. Terapi okupasi dapat Keperawatan Jiwa. Jakarta : TIM.
dilakukan dengan cara non farmakologi, Kushariyadi Settyoadi. 2011. Terapi
dengan mengamati dan mengevaluasi pasien Modalitas Keperawatan Pada Klien
waktu mengerjakan suatu aktivitas dan Psikogeriatrik. Jakarta : Salemba
dengan menilai hasil pekerjaan dapat Medika.
menentukan arah terapi dan rehabilitasi Maryam Sity, Mia Fatma Ekasari.Dkk. 2008.
selanjutnya dari pasien tersebut. Penting Mengenal Usia Lanjut Dan
untuk diingat terapi okupasi tidak untuk Perawatannya. Jakarta : Salemba
menyembuhkan, tetapi hanya sebagai media, Medika.
dengan dilakukannnya terapi okupasi Yosep Iyus. 2011. Keperawatan Jiwa.
perubahan tingkat stres yang mereka alami Jakarta : Refika Aditama.
sangat bervarian,semua responden Nursalam. 2011. Kosep Dan Penerapan
mengalami penurunan tetapi, masih dalam Metodologi Penelitian Ilmu
kategori sedang. Tingkat stres mengalami Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis
perubahan yang mengarah ke lebih baik, Dan Isntrumen Penelitian
akan berpengaruh pada pola aktivitas mereka Perawatan. Jakarta : Salemba
untuk mempertahankan stres, sehingga secara Medika.
perlahan terapi okupasi dapat sebagai terapi Padila. 2013. Keperawatan gerontik.
alternative non farmakologi dalam membatu Yogjakarta : nuha medika
mengurangi tingkat stres, dengan kata lain Ponto, Bidjuni, Karundeng. 2015. Jurnal
responden mampu melakukan terapi okupasi Pengaruh Penerapan Terapi Okupasi
secara mandiri serta dapat mengurangi angka Terhadap Penurunan Stres Pada
peningkatan stres yang terjadi pada lansia. Lansia Di Panti Werda Damai
Ranouut Manado. Manado
SIMPULAN Universitas Sam Ratulangi. Diakses
pada tanggal 23 oktober jam 10.30
Tingkat stres pada lansia sebelum WIB
dilakukan terapi okupasi di Panti Werda Usia Yosep Iyus. 2011. Keperawatan jiwa. Jakarta
Anugrah Surabaya, seluruh responden : Refika Aditama
dikategorikan tingkat sedang. Murni dewi, Ludfi Djakfar. 2009. Statistika
Tingkat stres pada lansia sesudah dasar. Surabaya : Srikandi
dilakukan terapi okupasi di Panti Werda Sulaiman wahid. 2004. Analisis Regresi
UsiaAnugrah Surabaya, dengan kategori menggunakan SPSS Contoh kasus
sedang sebanyak 11 orang (58%). dan pemecahannya. Yogjakarta :
Ada pengaruh penerapan terapi Andi Offset
okupasi terhadap tingkat stres pada lansia Rudiawan. 2009. Dasar – dasar Statistika.
di Panti WerdaUsia Anugrah Surabaya Bandung : Alfabeta