Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hipertensi adalah suatu kondisi sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskuler yang
progressif akibat dari kondisi lain yang kompleks dan saling berhubungan. Hipertensi
merupakan penyakit peningkatan tekanan darah diatas normal. (Nuraini,2015).

Sebanyak 70% penderita hipertensi yang diketahui hanya 25% yang mendapat
pengobatan, dan hanya 12,5% yang diobati dengan baik (adequately treated cases),
diperkirakan sampai tahun 2025 tingkat terjadinya tekanan darah tinggi akan bertambah 60%,
dan akan mempengaruhi 1,56 milyar penduduk di seluruh dunia. Di dunia, hampir 1 milyar
orang atau 1 dari 4 orang dewasa menderita hipertensi. Tekanan darah tinggi merupakan
penyakit kronis yang bisa merusak organ tubuh manusia (Depkes RI, 2013).

Pada tahun 2013 sedikitnya sejumlah 839 juta kasus hipertensi, diperkirakan menjadi
1,15 milyar pada tahun 2025 atau sekitar 29% dari total penduduk dunia, dimana
penderitanya lebih banyak pada wanita (30%) dibanding pria (29%). Sekitar 80% kenaikan
kasus hipertensi terjadi terutama di negara-negara berkembang (Triyanto, 2014).

Faktor keturunan, pola makan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, merupakan


faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada penderita rawat inap di rumah sakit
umum sari mutiara medan. Hasil Penelitian Syahrini menunjukkan bahwa umur, obesitas,
kebiasaan konsumsi garam, kebiasaan konsumsi makanan berlemak merupakan faktor-faktor
risiko hipertensi primer di puskesmas tlogosari kulon semarangtas kesehatan seperti pada
Puskesmas dan Rumah Sakit (Situmorang,2015).

32
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam


penelitian ini yaitu “Bagaimana Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Tindakan
Pasien Hipertensi Dengan Upaya Pengendalian Hipertensi di Puskesmas Anggeraja Tahun
2019?”

C. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan pasien
hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi di Puskesmas Anggeraja Tahun 2019.

b. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui karakteristik umum (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan)
pasien hipertensi di Puskesmas Anggeraja Tahun 2019.

2. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien hipertensi dengan upaya


pengendalian hipertensi di Puskesmas Anggeraja Tahun 2019.
3. Untuk mengetahui sikap pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi
di Puskesmas Anggeraja Tahun 2019.
4. Untuk mengetahui Tindakan pasien hipertensi dengan upaya pengendalian
hipertensi di Puskesmas Anggeraja Tahun 2019

D. Hipotesis Penelitian

Ho : Tidak ada hubungan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan pasien hipertensi
dengan upaya pengendalian hipertensi di Puskesmas Anggeraja Tahun 2019.

33
Ha : Ada hubungan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan pasien hipertensi
dengan upaya pengendalian hipertensi di UPTD Puskesmas Anggeraja Tahun
2019.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Puskesmas
Penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan mengenai pengetahuan, sikap dan
tindakan pasien dalam mengendalikan hipertensi untuk menurunkan kasus hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas Anggeraja dan juga sebagai bahan masukkan dalam
pengambilan kebijakan.
2. Bagi Masyarakat
Penelitian ini dapat memberikan masukan dan informasi pada masyarakat khususnya
penderita hipertensi tentang pentingnya upaya pencegahan ataupun pengendalian
hipertensi, sehingga dapat menurunkan angka kasus hipertensi dan mencegah kematian
akibat hipertensi.

3. Bagi Peneliti Lain


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan acuan dan informasi bagi peneliti lain
yang ingin melakukan penelitian tentang hipertensi secara lebih mendalam.

F. Keaslian Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh Henry M.F. Palandeng tahun 2015 dengan judul
“Prevalensi Hipertensi Dan Diabetes Mellitus Tipe-2 Di Puskesmas Manado Tahun 2015”.
Penelitian ini menggunakan studi deskriptif dengan pendekatan potong lintang (Cross
Sectional) dengan menggunakkan data sekunder yang di ambil pada pasien di 3 Puskesmas di
Manado (Sario, Karombasan dan Teling Atas). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi

34
penderita Diabetes Melitus tipe 2 sebagian besar pada usia > 60 tahun sebanyak 71 penderita
dan lebih banyak laki – laki dengan jumlah kasus 17 orang (59%). Untuk Hipertensi dengan
jenis kelamin perempuan lebih banyak berjumlah 545 orang (58%) dan pada kelompok usia >
60 tahun. Perbedaan yang dilakukan oleh penulis terletak pada variabel penelitian yang
diteliti, peneliti memakai variabel hipertensi dan diabetes melitus kemudian dilihat
prevalensinya sedangkan penulis hanya memakai variabel tunggal yaitu hipertensi. Metode
analisis data yang digunakan oleh penulis dan peneliti yaitu memakai studi cross-sectional
tetapi dengan jumlah lokasi penelitian yang lebih banyak sejumlah 3 puskesmas.

Penelitian yang dilakukan oleh Ekowati Rahajeng dan Sulistyowati Tuminah tahun
2009 dengan judul “Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia”.Data yang
digunakan pada analisis lanjut ini adalahdata Riskesdas 2007 dengan responden yang
berumur 18 tahun ke atas berjumlah 567.530 orang. Desain analisis yangdilakukan yaitu (1)
analisis potong lintang (cross-sectional)untuk mengetahui besarnya prevalensi hipertensi;
(2)analisis kasus kontrol (case-control) dengan perbandingansampel kasus-kontrol 1:3, untuk
mengetahui faktor yangberisiko terhadap hipertensi. Perbedaan dengan penelitian yang
dilakukan oleh penulis terdapat pada teknik pengambilan data dimana penulis memakai data
sekunder dari wilayah puskesmas sedangkan peneliti memakai data riskesdas dengan besaran
populasi dan sampel yang cukup besar dengan skala nasional. Pada analisis data penulis
hanya mellihat prevalensi hipertensi di wilayah kerja puskesmas sedangkan peneliti
melanjutkan dengan melihat faktor resiko yang menyebabkan terjadinya hipertensi dengan
pendekatan case-control.

35
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka
2.1 Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindra
manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau ranah
kognitif merupakan faktor dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang, sebab dari hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan
akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Notoatmodjo, 2012).
Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek
positif dan aspek negatif. Kedua aspek inilah yang akan menentukan sikap seseorang
terhadap objek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari objek di ketahui maka
menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tesebut (Notoatmodjo, 2012).
Menurut (Notoadmodjo, 2012), tahap pengetahuan di dalam domain kognitif
terdiri dari 6 tingkat, yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari
sebelumnya.Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recall) terhadap yang spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan
yang telah di terima.Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan paling
rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari
antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan
sebagainya.
36
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang di ketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara
benar.Orang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek
yang dipelajari.
3. Aplikasi (aplication)
Aplikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah di pelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat di
artikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,metode, prinsip, dan
sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi
tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat
dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan),
membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
5. Sintesis (syntesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru
daru formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapatmenyusun, dapat merencanakan,
dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau
rumusan - rumusan yang telah ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek.Penilaian-penilaian itu didasarkan pada

37
suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah
ada.

2.2 Sikap
Menurut Notoatmodjo (2012) sikap merupakan suatu reaksi atau respons yang
masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.Sikap itu tidak dapat
langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang
tertutup.Sikap adalah suatu tingkatan afeksi yang baik yang bersifat positif maupun
dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis.Sikap juga sebagai tingkatan
kecenderungan yang bersifat positif atau negatif yang berhubungan dengan objek
psikologi.Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap
stimulus objek dan tidak langsung terlihat yang berarti seseorang mempunyai kesiapan
untuk bertindak, tetapi belum melakukan aktifitas yang disebabkan oleh penghayatan
pada suatu objek.

Sikap adalah salah satu istilah bidang psikologi yang berhubungan dengan
persepsi dan tingkah laku.Istilah sikap dalam bahasa Inggris disebut attitude. Attitude
adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang. Suatu kecenderungan untuk
bereaksi terhadap suatu perangsang atau situasi yang dihadapi.pengertian sikap adalah
perbuatan yang didasari oleh keyakinan berdasarkan norma-norma yang ada di
masyarakat dan biasanya norma agama. Namun demikian perbuatan yang akan
dilakukan manusia biasanya tergantung apa permasalahannya serta benar-benar
berdasarkan keyakinan atau kepercayaannya masing-masing. sikap melibatkan
beberapa pengetahuan tentang sesuatu. Namun aspek yang esensial dalam sikap adalah
adanya perasaan atau emosi, kecenderungan terhadap perbuatan yang berhubungan
dengan pengetahuan.Dari pengertian yang dikemukakan oleh Ellis, sikap melibatkan
pengetahuan tentang sesuatu termasuk situasi. Situasi di sini dapat digambarkan sebagai
suatu objek yang pada akhirnya akan mempengaruhi perasaan atau emosi dan kemudian

38
memungkinkan munculnya reaksi atau respons atau kecenderungan untuk berbuat
(Suharyat, 2014).
Menurut Azwar (2013), ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi
pembentukan sikap pada manusia, antara lain :

1. Pengalaman Pribadi
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan
mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial
2. Pengaruh Orang lain
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial yang
ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang dianggap penting, seseorang yang
kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak, tingkah dan pendapat kita, seseorang
yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berarti khusus bagi kita akan
mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Contoh : Orang tua, teman
sebaya, teman dekat, guru, istri, suami dan lain-lain.
3. Kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan sikap kita.Tanpa kita sadari, kebudayaan telah menanamkan
garis pengaruh sikap kita terhadap berbagai masalah.
4. Media Massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio,
surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan
opini dan kepercayaan. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan
landasan kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
5. Lembaga Pendidikan dan Agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai
pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar
pengertian dan konsep moral dalam diri individu.

39
6. Faktor Emosional
Tidak semua bentuk sikap dipengaruhi oleh situasi lingkungan dan pengalaman
pribadi seseorang, kadang - kadang sesuatu bentuk sikap merupakan pernyataan
yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan
bentuk mekanisme pertahanan ego.

2.3 Tindakan
Menurut Notoatmodjo (2007) suatu sikap belum otomatis terwujudnya dalam
suatu tindakan (overt behavior).Untuk terwujudnya suatu sikap agar menjadi suatu
perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan,
antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas, juga diperlukan faktor
pendukung (support) dari pihak lain. Tindakan mempunyai beberapa tingkatan, yaitu:

1. Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan
diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.

2. Respon terpimpin (guided respons)


Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan
contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua.

3. Mekanisme (mecanism)
Apabila seorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis
atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktek
tingkat tiga.

4. Adaptasi (adaption)
Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan
baik.Artinya tindakan itu sudah di modifikasikannya sendiri tanpa mengurangi
kebenaran tindakannya tersebut.(Notoatmodjo, 2007).

40
2.4 Definisi Hipertensi

Tekanan darah didefinisikan sebagai besarnya gaya yang diberikan oleh darah
untuk melawan dinding pembuluh darah dan biasanya dinyatakan dalam satuan
milimeter raksa. Istilah tekanan darah digunakan untuk menyebutkan tekanan darah
pembuluh arteri.(Adnyani & Sudhana, 2014).

Hipertensi merupakan tekanan darah arteri yang persisten sebesar 140/90mmhg


(milimeter raksa) atau lebih, baik sistol maupun diastol pada umur 18 tahun atau
lebih.Hipertensi atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan
hipertensi arteri, adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri
meningkat.Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari
biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah.Tekanan darah melibatkan
dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi
(sistole) atau berelaksasi di antara denyut (diastole) (Yusuf, 2013).

2.4 Etiologi
Hipertensi essensial bersifat idiopatik, sedangkan hipertensi sekunder merupakan
hipertensi yang disebabkan oleh gangguan organ lainya. Gangguan ginjal yang dapat
menimbulkan hipertensi adalah glomerulonefritis akut, penyakit ginjal kronis, penyakit
polikistik, stenosis arteria renalis, vaskulitis ginjal, dan tumor penghasil renin.
Gangguan pada sistem endokrin juga dapat menyebabkan hipertensi, dintaranya seperti
hiperfungsi adrenokorteks(sindrom Cushing danhiperplasia adrenal kongenital),
hormon eksogen (glukokortikoid, estrogen dan inhibitor monoamin oksidase).
Gangguan pada sistem kardiovaskular seperti koarktasio aorta, peningkatan volume
intravaskular, peningkatan curah jantung, dan rigiditas aorta juga dapat menyebabkan
hipertensi, begitu pula dengan peningkatan intrakranium dan stres akut (Weber et al,
2014).

41
2.5 Klasifikasi
Klasifikasi hipertensi pada dewasa (18 tahun ke atas dan usia lanjut) terbagi atas
hipertensi primer (esensial) (90-95%) dan hipertensi sekunder (5-10%) menurut The
Seventh Report of The Joint National Comittee on Prevention, Detection, Evaluation,
and Treatment of High Blood Pressure (JNC 8). klasifikasi tekanan darah pada orang
dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan
derajat 2 (Bell et al, 2015).

Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC VIII

Klasifikasi Sistolik Diastolik


Tanpa Diabetes/CKD
 >60 Tahun < 150 < 90
 <60 Tahun < 140 < 90
Dengan Diabetes/CKD
 Semua umur dengan < 140 < 90
DM tanpa CKD
 Semua umur dengan < 140 < 90
CKD dengan/tanpa
DM

Sumber : (Fitri DR, 2015)

Tabel 2.2 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC VII

Klasifikasi Sistolik Diastolik


Normal < 120 < 80
Prehipertensi 120-139 80-89
HT derajat 1 140-159 90-99
HT derajat 2 >160 >100
Sumber : (Fitri DR, 2015)

2.6 Faktor Risiko

42
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.Hipertensi
terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer.
Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi antara lain:
a. Genetik
Adaya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu
mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan
kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium
Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar
untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan
riwayat hipertensi.Selain itu didapatkan 70-80% kasus hipertensi esensial dengan
riwayat hipertensi dalam keluarga (Mubin et al, 2010).
b. Obesitas
Obesitas merupakan faktor determinan pada tekanan darah pada kebanyakan
kelompok etnik di semua umur. Menurut National Institutes for Health USA tahun
2001, prevalensi tekanan darah tinggi pada orang dengan Indeks Massa Tubuh
(IMT) >30 (obesitas) adalah 38% untuk pria dan 32% untuk wanita, dibandingkan
dengan prevalensi 18% untuk pria dan 17% untuk wanita bagi yang memiliki IMT
<25 (status gizi normal menurut standar internasional) dan perubahan fisiologis
dapat menjelaskan hubungan antara kelebihan berat badan dengan tekanan darah,
yaitu terjadinya resistensi insulin dan hiperinsulinemia, aktivasi saraf simpatis dan
sistem reninangiotensin, dan perubahan fisik pada ginjal (Adnyani& Sudhana,
2014).
c. Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita, akan tetapi
wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause salah satunya
adalah penyakit jantung koroner. Wanita yang belum mengalami menopause
dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadarHigh
Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor

43
pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan
estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia
premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit
hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Proses
ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai
dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur
45-55 tahun (Giles et al, 2009).
d. Stres
Stres dapat meningkatkan tekanah darah sewaktu. Hormon adrenalin akan
meningkat sewaktu kita stres, dan itu bisa mengakibatkan jantung memompa darah
lebih cepat sehingga tekanan darah pun meningkat (Nuraini, 2015).

e. Kurang Olahraga
Olahragateratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan
tekanan darah dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung
harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu.
Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya
risiko untuk menjadi gemuk.Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai
detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada
setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar
pula kekuatan yang mendesak arteri (Rustiana, 2014).
f. Pola Asupan Garam Dalam Diet:
Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO) tahun 1999,
merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya
hipertensi. Meningkatnya jumlah penderita hipertensi ternyata berhubungan dengan
berubahnya rasio natrium: kalium dalam makanan yang dikonsumsi. Kadar sodium
yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium
atau 6 gram garam) perhari. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan
konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat.Untuk menormalkannya
44
cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler
meningkat.Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan
meningkatnya tahanan perifer pembuluh darah, sehingga berdampak kepada
timbulnya hipertensi (Anggara & Prayitno, 2013).
g. Kebiasaan Merokok
Merokok menyebabkan peningkatan tekanan darah. Kebanyakan efek ini berkaitan
dengan kandungan nikotin.Asap rokok (CO) memiliki kemampuan menarik sel
darah merah lebih kuat dari kemampuan menarik oksigen, sehingga dapat
menurunkan kapasitas sel darah merah pembawa oksigen ke jantung dan jaringan
lainnya.Merokok dapat menyebabkan hipertensi akibat zat-zat kimia yang
terkandung di dalam tembakau yang dapat merusak lapisan dalam dinding arteri,
sehingga arteri lebih rentan terjadi penumpukan plak (arterosklerosis).Hal ini
terutama disebabkan oleh nikotin yang dapat merangsang saraf simpatis sehingga
memacu kerja jantung lebih keras dan menyebabkan penyempitan pembuluh darah,
serta peran karbonmonoksida yang dapat menggantikan oksigen dalam darah dan
memaksa jantung memenuhi kebutuhan oksigen tubuh (Wahyuni, 2013).

2.7 Patofisiologi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE memegang peran
fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen
yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan
diubah menjadi angiotensin I oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I
diubah menjadi angiotensin II yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan
darah melalui dua aksi utama.(Nuraini, 2015).
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa
haus.ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk
mengatur osmolalitas dan volume urin.Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin

45
yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga konsentrasi urin tinggi
berbanding lurus dengan tingkat osmolaritasnya. Untuk mengencerkannya, volume
cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian
intraseluler, akibatnya terjadi tahanan perifer yang semakin meningkat dan pada
akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.(Nuraini, 2015).
Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks
adrenal.Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada
ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi
ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya
konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan
ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan tahanan perifer pada pembuluh
darah (Nuraini, 2015).

2.8 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis yang dapat muncul akibat hipertensi ialah bahwa sebagian
besar gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun. Manifestasi
klinis yang timbul dapat berupa nyeri kepala saat terjaga yang kadang-kadang disertai
mual dan muntah akibat peningkatan tekanan darah intrakranium, penglihatan kabur
akibat kerusakan retina, ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan saraf,
nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) karena peningkatan aliran darah ginjal
dan filtrasi glomerolus, edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler.
Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik
transien yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi atau hemiplegia
atau gangguan tajam penglihatan. Gejala lain yang sering ditemukan adalah epistaksis,
mudah marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, dan mata
berkunang-kunang (Mubin et al, 2010).
2.9 Penatalaksanaan

46
Tujuan umum pengobatan hipertensi adalah menurunkan mortalitas dan
morbiditas yang berhubungan dengan hipertensi.Mortalitas dan morbiditas ini
berhubungan dengan kerusakan organ target.Mengurangi resiko merupakan tujuan
utama terapi hipertensi, dan pilihan terapi obat dipengaruhi secara bermakna oleh bukti
yang menunjukkan pengurangan resiko. (Chobaniam, 2003).
Terapi farmakologi hipertensi diawali dengan pemakaian obat
tunggal.Tergantung level TD awal, rata-rata monoterapi menurunkan TD sistole sekitar
7-13 mm Hg dan diastole sekitar 4-8 mmHg Terdapat beberapa variasi dalam pemilihan
terapi awal pada hipertensi primer.Sebelumnya guideline JNC VII merekomendasikan
thiazide dosis rendah.JNC VIII saat ini merekomendasikan ACE-inhibitor, ARB,
diuretic thiazide dosis rendah, atau CCB untuk pasien yang bukan ras kulit
hitam.Terapi awal untuk ras kulit hitam yang direkomendasikan adalah diuretic thiazide
dosis rendah atau CCB. Di lain pihak guideline Eropa terbaru merekomendasikan 5
golongan obat sebagai terapi awal yaitu ACE-inhibitor, ARB, diuretic thiazide dosis
rendah, CCB atau -blocker berdasarkan indikasi khusus. (Johnson et al, 2015)
Tujuan utama pengobatan hipertensi adalah untuk mencapai dan mempertahankan
target TD. Jika target TD tidak tercapai dalam waktu satu bulan pengobatan, maka
dapat dilakukan peningkatan dosis obat awal atau dengan menambahkan obat kedua
dari salah satu kelas (diuretik thiazide, CCB , ACEI , atau ARB ). (Johnson et al, 2015)

47
48
Gambar 2.1 Algoritme Manajemen Hipertensi Berdasarkan JNC 8 (Muhadi, 2016)

2.10 Komplikasi
Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung
maupun tidak langsung yang bisa mengenai jantung, otak, ginjal, arteri perifer, dan
mata. Beberapa penelitian mengatakan bahwa penyebab kerusakan organ-organ
tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ, atau
karena efek tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor AT1
angiotensin II, stres oksidatif, down regulation dari ekspresi nitric oxide synthase, dan
lain-lain. Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas
terhadap garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan organ target, misalnya
kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi transforming growth factor-β
(TGF-β) (Sanjaya, 2016)

Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya penyakit jantung,


gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan penyakit ginjal.Tekanan
darah yang tinggi umumnya meningkatkan resiko terjadinya komplikasi tersebut.
Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya
memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun. Mortalitas pada pasien hipertensi
lebih cepat apabila penyakitnya tidak terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke
beberapa organ vital. Penyebab kematian yang sering terjadi adalah penyakit jantung
dengan atau tanpa disertai stroke dan gagal ginjal (Bell et al, 2015)

2.11 Pencegahan
a. Pola makan merupakan faktor penting yang menentukan tekanan darah.
Mengkonsumsi buah dan sayuran segar dan menerapkan pola makan yang rendah
lemak jenuh, kolesterol, dan total lemak, serta kaya akan buah, sayur, serta produk
susu rendah lemak terbukti secara klinis dapat menurunkan tekanan darah.Untuk

49
menanggulangi tekanan darah yang tinggi, secara garis besar ada 4 macam diet,
yaitu:

1. Kurangi Konsumsi Garam


Tujuan diet rendah garam untuk membantu menghilangkan retensi
(penahanan) air dalam jaringan tubuh sehingga dapat menurunkan tekanan
darah.Walaupun rendah garam, yang penting dalam melakukan diet ini adalah
komposisi makanan harus tetap mengandung cukup zat-zat gizi, baik kalori,
protein, mineral, maupun vitamin yang seimbang.
2. Diet Rendah Kolesterol dan Lemak
Bertujuan untuk menurunkan kadar kolesterol darah dan menurukan berat
badan bagi penderita yang kegemukan. Mengurangi berat badan.Ada hubungan
yang jelas antara obesitas dengan hipertensi.Obesitas menyebabkan aktivasi
sistem saraf simpatik dan berbagai hormon yang dapat mengubah tekanan
darah. Penurunan berat badan sekitar 4,5 kg dapat menurunkan tekanan darah
sistolik sampai 3mmHg. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengatur
diet ini antara lain sebagai berikut:
a. Hindari penggunaan lemak hewan, margarin, dan mentega terutama goreng-
gorengan atau makanan yang digoreng dengan minyak.
b. Batasi konsumsi daging, hati, limpa, udang, kepiting, minyak kelapa
(santan).
c. Batasi konsumsi kuning telur, paling banyak tiga butir dalam seminggu.
d. Lebih sering mengkonsumsi tempe, tahu, dan jenis kacang.
e. Batasi penggunaan gula dan makanan yang manis-manis. Diet tinggi serat
dianjurkan setiap hari mengkonsumsi makanan berserat tinggi. Penanganan
hipertensi dapat dilakukan dengan pembatasan asupan kalori yang harus
diperhatikan yaitu asupan kalori dikurangi dan menu makanan harus

50
seimbang. Olahraga secara teratur bisa menurunkan tekanan darah tinggi.
(Utomo, 2013)
b. Melakukan olah raga secara teratur tidak hanya menjaga bentuk dan dan berat
badan, tetapi juga dapat juga menurunkan tekanan darah. Jika mempunyai tekanan
darah tinggi. Lakukan selama 30 hingga 45 menit sehari sebanyak 3 kali seminggu
dapat menurunkan tekanan darah.Stres adalah salah satu faktor yang berperan besar
dalam tekanan darah tinggi. Menurunkan stress bermanfaat menurunkan tekanan
darah pada sebagian besar orang. Jalan kan terapi anti stres agar mengurangi stres
dan mengendalikan emosi. Hindari Alkohol Mengkonsumsi alkohol dapat
meningkatkan tekanan darah. Untuk pria yang menderita hipertensi, sekarang
diperkirakan bahwa hipertensi yang berhubungan dengan alkohol merupakan salah
satu penyebab sekunder paling banyak dari hipertensi (Utomo, 2013)

Tabel.2.4 Modifikasi gaya hidup menurut National Institutes of Health (NIH) (2007)
Modifikasi Rekomendasi Penurunan potensial
TD sistolik
Diet natrium Membatasi diet natrium tidak lebih dari 2400 mg/hari 2-8 mmHg
atau 100 meq/hari
Penurunan Berat Menjaga berat badan normal; BMI = 18,5-24,9 kg/ 5-20 mmHg per 10 kg
Badan penururnan berat badan
Olahraga aerobik Olahraga aerobik secara teratur, bertujuan untuk 4-9 mmHg
melakukan aerobik 30 menit
Latihan sehari-hari dalam seminggu. Disarankan
pasien berjalan-jalan 1 mil per hari di atas tingkat
aktivitas saat ini
Diet DASH Diet yang kaya akan buah-buahan, sayuran, dan 4-14 mmHg
mengurangi jumlah lemak jenuh dan total

Membatasi Pria ≤2 minum per hari, wanita ≤1 minum per hari 2-4 mmHg
konsumsi alkohol

51
B. Kerangka Teori

- Tahu
- Memahami
Tingkat Pengetahuan - Aplikasi
- Analisis
- Sintesis
- evaluasi

PENGENDALIAN
Sikap HIPERTENSI

- Persepsi
Tindakan - Respon
- Mekanisme
- Adaptasi

Gambar 2.2 Kerangka Teori


((Notoatmodjo, 2012)

52
C. Kerangka Konsep

FAKTOR PREDISPOSISI

 Karakteristik
Umum
(umur, jenis
kelamin, Upaya
pendidikan,
Pengendalian
pekerjaan)
Terhadap
 Tingkat
Pengetahuan Hipertensi
 Sikap
 Tindakan terhadap
Diet makanan

Gambar 2.3 Kerangka konsep

Keterangan:

: Variabel independent

: Variabel Dependent

53
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif bersifat analitik melalui pendekatan


cross-sectional untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap pasien
hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi di Puskesmas Anggeraja.

B. Tempat dan Waktu


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2019 di Puskesmas Anggeraja. Setelah
semua data terkumpul kemudian dilakukan analisis data.

C. Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi dalam penelitian ini adalah 125 pasien hipertensi yang berkunjung di
Puskesmas Anggeraja.

Sampel adalah sebagian yang diambil di seluruh objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi (Notoadmodjo, 2012). Teknik sampling yang digunakan dalam
penelitian ini adalah simple random sampling sampai jumlah sampel tercapai. Kriteria
inklusi dan ekslusi pada penelitian ini antara lain :

1. Kriteria Inklusi

54
a. Bersedia menjadi responden.
b. Pasien dengan diagnosa Hipertensi
2. Kriteria Ekslusi
a. Pasien hipertensi dengan komplikasi (DM, gagal ginjal dan penyakit jantung)
b. Pasien dengan umur < 35 tahun.

Besar sampel digunakan dengan menggunakan rumus besar sampel untuk uji hipotesis
satu proporsi dari rumus Slovin, yaitu :

N
n=
1+ N (e)²

Keterangan :

n = Besar sampel minimum

e = Kesalahan (absolute) yang dapat ditolerir, pada penelitian ini dipakai e = 0,1 N =
Jumlah populasi

Setelah dilakukan perhitungan dengan diketahui jumlah populasi pasien hipertensi di


Puskesmas Anggeraja adalah berjumlah 125 orang maka didapatkan besar sampel
sebanyak 56 orang.

D. Alat Penelitian

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.
Kuesioner digunakan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan
pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi di Puskesmas Anggeraja.

55
E. Cara Pengumpulan Data
1. Data Primer
Data primer diperoleh langsung dari responden dengan menggunakan kuesioner yang
diajukan kepada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Anggeraja .
2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari profil kesehatan Puskesmas Anggeraja.

F. Variabel dan Definisi Operasional


1. Identifikasi variabel
a. Variabel Bebas
Variabel bebas pada penelitian tersebut adalah karakteristik umum pasien
hipertensi (usia, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan, tingkat pengetahuan
hipertensi), sikap dan tindakan pasien hipertensi.
b. Variable Terikat
Variabel terikat pada penelitian ini adalah upaya pengendalian hipertensi.
2. Definisi operasional
1. Karakteristik umum pasien hipertensi adalah ciri umum yang dimiliki oleh pasien
hipertensi diantaranya adalah usia, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan.
a. Umur adalah rentang hidup responden dari lahir sampai saat penelitian yang
dihitung berdasarkan tanggal lahir pada kartu identitas.
b. Jenis kelamin adalah karakteristik biologis responden berdasarkan hasil
konfirmasi menggunakan kartu identitas dan pengamatan langsung terhadap
ciri-ciri fisik responden.
c. Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang diselesaikan oleh responden
berdasarkan ijazah terakhir yang dimiliki.
d. Pekerjaan adalah kegiatan rutin yang dilakukan responden yang menghasilkan
uang.

56
2. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh responden mengenai
hipertensi.
3. Sikap adalah pandangan, perasaan atau penilaian baik positif maupun negatif
responden mengenai hipertensi.
4. Tindakan adalah upaya dalam mencegah kekambuhan penyakit hipertensi dalam
hal ini adalah diet makanan.
5. Pengendalian hipertensi adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh responden untuk
mengendalikan berbagai macam faktor risiko sehingga dapat menurunkan tekanan
darah pasien hipertensi.

G. Aspek Pengukuran

1. Pengetahuan
Pengukuran variabel pengetahuan responden menggunakan skala
interval,dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Pengetahuan diukur melalui 15 pertanyaan dalam kuesioner.
b. Setiap pertanyaan tersedia 3 jawaban, dan responden diminta memilih 1 jawaban
dari setiap pertanyaan.
c. Jawaban yang dipilih responden atas 15 pertanyaan akan dijumlahkan, berdasarkan
jawaban benar atau salah.
d. Setiap jawaban diberi nilai dengan ketentuan:
 Benar, diberi nilai 1
 Salah, diberi nilai 0
Dari 15 pertanyaan, pertanyaan nomor 1-15 skor tertinggi yang diperoleh adalah
15. Aspek pengukuran dengan kategori jumlah nilai yang ada dapat diklasifikasikan
dalam 3 kategori, yaitu:
a. Tingkat pengetahuan baik apabila responden dapat menjawab pertanyaan dengan
benar dengan skor jawaban > 75% dari nilai tertinggi (11-15).

57
b. Tingkat pengetahuan cukup apabila responden dapat menjawab pertanyaan dengan
benar dengan apabila skor jawaban 40% - 75% dari nilai tertinggi (6-10).
c. Tingkat pengetahuan kurang apabila responden dapat menjawab pertanyaan
dengan benar dengan skor jawaban dari nilai tertinggi <40% (<6). (Azwar,
2012).

2. Pengukuran Sikap
Untuk mengukur sikap responden diberikan pertanyaan yang dinilai berdasarkan
skala Likert dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Sikap diukur melalui 10 pertanyaan dengan kuesioner.
b. Setiap pernyataan tersedia 4 jawaban, dan hanya 1 jawaban yang harus dipilih
responden.
c. Pertanyaan terdiri dari 8 pertanyaan positif dan 2 pertanyaan negatif. Setiap
jawaban dari pertanyaan positif diberi nilai dengan ketentuan:
 Sangat setuju, diberi nilai 4
 Setuju, diberi nilai 3
 Tidak setuju, diberi nilai 2
 Sangat tidak setuju, diberi nilai 1

Sebaliknya, setiap jawaban dari pertanyaan negatif diberi nilai dengan


ketentuan:

 Sangat setuju, diberi nilai 1


 Setuju, diberi nilai 2
 Tidak setuju, diberi nilai 3
 Sangat tidak setuju, diberi nilai 4

58
Dari 10 pertanyaan, untuk pertanyaan nomor 1-10 skor tertinggi yang
diperoleh adalah 40. Cara menentukan kategori tingkat sikap responden mengacu
pada persentase berikut :

a. Tingkat sikap baik responden apabila dapat menjawab pertanyaan dengan benar
dengan skor jawaban > 75% dari nilai tertinggi (30-40).
b. Tingkat sikap cukup apabila responden dapat menjawab pertanyaan dengan
benar dengan skor jawaban 40% - 75% dari nilai tertinggi (16-29).
c. Tingkat sikap kurang apabila responden dapat menjawab pertanyaan dengan
benar dengan skor jawaban dari nilai tertinggi <40% (< 16) (Azwar, 2012).
3. Tindakan
Pengukuran variabel tindakan berupa diet makanan menggunakan
ketentuan sebagai berikut:
a. Tindakan diukur melalui 10 pertanyaan dalam kuesioner.
b. Setiap pertanyaan tersedia 3 jawaban, yaitu : Sering, Kadang-kadangdan Tidak
pernah; responden diminta memilih 1 jawaban dari setiap pertanyaan.
c. Jawabanyang dipilih responden atas 10 pertanyaan akan dijumlahkan,
berdasarkan kategori jawaban sering, kadang-kadang dan tidak pernah.
d. Setiap jawaban diberi nilai dengan ketentuan :
 Sering, diberi nilai 3
 Kadang-kadang, diberi nilai 2
 Tidak pernah, diberi nilai 1

Dari 10 pertanyaan, untuk pertanyaan nomor 1-10 skor tertinggi yang


diperoleh adalah 30. Cara menentukan kategori upaya pengendalian hipertensi
responen mengacu pada persentase berikut:

a. Tingkat tindakan berupa diet makanan baik apabila responden dapat menjawab
pertanyaan dengan benar apabila skor jawaban > 75% dari nilai tertinggi (23-
30).
59
b. Tingkat tindakan cukup apabila responden dapat menjawab pertanyaan dengan
benar dengan skor jawaban 40% - 75% dari nilai tertinggi (12-22).
d. Tingkat tindakan kurang apabila responden dapat menjawab pertanyaan dengan
benar dengan skor jawaban dari nilai tertinggi <40% (<22) (Azwar, 2012).
4. Upaya Pengendalian Hipertensi
Pengukuran variabel upaya pengendalian hipertensi menggunakan skala
interval dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Upaya pengendalian diukur melalui 10 pertanyaan dalam kuesioner.
b. Setiap pertanyaan tersedia 3 jawaban, yaitu: Selalu, Kadang-kadangdan
Tidak pernah; responden diminta memilih 1 jawaban dari setiap pertanyaan.
c. Jawaban yang dipilih responden atas 10 pertanyaan akan dijumlahkan,
berdasarkan kategori jawaban selalu, kadang-kadang dan tidak pernah.
d. Setiap jawaban diberi nilai dengan ketentuan:
 Selalu, diberi nilai 3
 Kadang-kadang, diberi nilai 2
 Tidak pernah, diberi nilai 1

Dari 10 pertanyaan, untuk pertanyaan nomor 1-10 skor tertinggi yang


diperoleh adalah 30. Cara menentukan kategori upaya pengendalian hipertensi
responden mengacu pada persentase berikut:

a. Tingkat upaya pengendalian hipertensi baik apabila responden dapat menjawab


pertanyaan dengan benar apabila skor jawaban > 75% dari nilai tertinggi (23-
30).
b. Tingkat upaya pengendalian hipertensi cukup apabila responden dapat
menjawab pertanyaan dengan benar apabila skor jawaban 40% - 75% dari nilai
tertinggi (12-22).

60
c. Tingkat upaya pengendalian hipertensi kurang apabila responden dapat
menjawab pertanyaan dengan benar apabila skor jawaban dari nilai tertinggi
<40% (<12). (Azwar, 2012).

H. Analisis Data

Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan bantuan


program komputer statistik untuk melihat hubungan tingkat pengetahuan dan
sikap pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi di Puskesmas
Anggeraja variabel dependen dengan variabel independen, dan menggunakan
empat tahapan yaitu editing, coding, entry data dan cleaning. Analisis data dalam
penelitian ini mencakup:

1. Analisis univariat, yaitu analisis yang menggambarkan secara tunggal variabel-


variabel dependen dan independen dalam bentuk distribusi frekuensi.
2. Analisis bivariat yaitu analisis yang dilakukan untuk mengetahui keterkaitan
dua variabel menggunakan uji chi square dengan tingkat kemaknaan dalam p
value hitung yang diharapkan.
a. Ho ditolak jika p < 0,05 maka ada hubungan antara variabel independen
dengan variabel dependen.
b. Terima Ho jika p > 0,05 maka tidak ada hubungan diantara variabel
independen dengan variabel dependen.

61
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Sampel Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Anggeraja pada bulan Juli 2018.Penelitian
kuantitatif bersifat analitik melalui pendekatan cross-sectionalsebanyak56 responden
hipertensi. Pengambilan data dengan metode simple random sampling sampai jumlah
sampel tercapai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Analisis data dari hasil
penelitian ini dilakukan dengan dua cara yaitu analisis univariat dan analisis bivariat
dengan menggunakan uji chi square.

2. Hasil Analisis Univariat


Analisis univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing
variabel yaitu karakteristik umum pasien hipertensi(umur, jenis kelamin, pendidikan dan
pekerjaan),tingkat pengetahuan pasien hipertensi, sikap pasien hipertensi, tindakan
pasien hipertensi berupa diet makanan dengan upaya pengendalian hipertensi di
Puskesmas Anggeraja.
a. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur

No Umur n %

1 35-44 Tahun 8 14,3


2 45-54 Tahun 20 35,7
3 55-64 Tahun 13 23,2
4 ≥ 65 Tahun 15 26,8
62
Jumlah 56 100

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa dari 56 responden yang


berumur 35-44 tahun ada sebanyak 8 responden (14,3%), 45-54 tahun ada sebanyak
20 responden (35,7%), 55-64 tahun ada sebanyak 13 responden (23,2%) dan
responden yang ≥ 65 tahun ada sebanyak 15 responden (26,8%).

b. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin

No Jenis Kelamin n %

1 Laki-laki 26 46,4
2 Perempuan 30 53,6

Jumlah 56 100

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa dari 56 responden diketahui


yang berjenis kelamin laki-laki ada sebanyak 26 responden (46,4%) dan yang berjenis
kelamin perempuan ada sebanyak 30 responden (53,6%).

c. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan

No Pendidikan n %

1 Tidak Sekolah 11 19,6


2 SD 12 21,4

63
3 SMP 6 10,7
4 SMA 24 42,9
5 Perguruan Tinggi 3 5,4

Jumlah 56 100

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa dari 56 responden diketahui


bahwa yang tidak sekolah sebanyak 11 responden (19,6%), yang berpendidikan SD
ada sebanyak 12 responden (21,4%), yang berpendidikan SMP ada sebanyak 6
responden (10,7%), yang berpendidikan SMA ada sebanyak 24 responden (24,9%)
dan yang berpendidikan perguruan tinggi ada sebanyak 3 responden (5,4%).

d. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan

No Pekerjaan n %

1 Tidak Bekerja 10 17,9


2 PNS 16 28,6
3 Wiraswasta 7 12,5
4 Petani/Nelayan/Buruh 21 37,5
5 Lainnya 2 3,6

Jumlah 56 100

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa dari 56 responden diketahui


bahwa responden yang tidak bekerja ada sebanyak 10 responden (17,9%), yang
bekerja sebagai PNS ada sebanyak 16 responden (28,6%), yang bekerja wiraswasta
64
ada sebanyak 7 responden (12,5%), yang bekerja sebagai petani/nelayan/buruh ada
sebanyak 21 responden (37,5%) dan yang bekerja lainnya ada sebanyak 2 responden
(3,6%)

e. Pengetahuan Responden
Berdasarkan hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner tentang
pengetahuan kepada pasien hipertensi di Puskesmas Anggeraja dapat dilihat pada
tabel 4.5 berikut ini

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengetahuan tentang


hipertensi di Puskesmas Anggeraja

No Pertanyaan Benar Salah


n % n %

1 Hipertensi disebut juga sebagai penyakit 50 89,3 6 10,7


2 Berapa tekanan darah normal? 36 64,3 20 35,7
3 Berapa tekanan darah tinggi? 44 78,6 12 21,4
4 Penyakit darah tinggi merupakan penyakit 14 25,0 42 75,0
Keturunan
5 Semakin bertambah umur, tekanan darah semakin 19 33,9 37 66,1
Bertambah
6 Penyakit darah tinggi banyak terjadi pada umur 17 30,4 39 69,6
7 Yang merupakan gejala darah tinggi adalah 24 42,9 32 57,1
8 Apa faktor risiko hipertensi yang tidak dapat 14 25,0 42 75,0
diubah?
9 Apakah komplikasi dari penyakit hipertensi? 16 28,6 40 71,4
10 Bagaimana penanggulangan penyakit hipertensi? 21 37,5 35 62,5

65
11 Kapan harus meminum obat hipertensi? 19 33,9 37 66,1
12 Berikut ini makanan yang dapat menyebabkan 28 50,0 28 50,0
darah tinggi
13 Kelebihan berat badan dapat menyebabkan darah 18 32,1 38 67,9
Tinggi
14 Kegiatan yang dapat mengurangi risiko darah 29 51,8 27 48,2
Tinggi
15 Kebiasaaan yang dapat menyebabkan tekanan 32 57,1 24 42,9
darah tinggi

Responden yang menjawab dengan benar ada sebanyak 50 responden (89,3%).


Berdasarkan pertanyaan berapa tekanan darah normal, responden yang menjawab
dengan benar ada sebanyak 36 responden (64,3%). Berdasarkan pertanyaan
berapa tekanan darah tinggi, responden yang menjawab dengan benar ada sebanyak
44 responden (78,6%). Berdasarkan pertanyaan penyakit darah tinggi merupakan
penyakit keturunan, responden yang menjawab dengan benar ada sebanyak 14
responden (25,0%). Berdasarkan pertanyaan semakin bertambah umur tekanan darah
semakin bertambah, responden yang menjawab dengan benar ada sebanyak 19
responden (33,9%).

Pertanyaan tentang penyakit darah tinggi banyak terjadi pada umur, responden
yang menjawab dengan benar ada sebanyak 17 responden (30,4%). Berdasarkan
pertanyaan yang merupakan gejala darah tinggi adalah, responden yang menjawab
dengan benar ada sebanyak 24 responden (42,9%). Berdasarkan pertanyaan apakah
faktor risiko hipertensi yang tidak dapat diubah, responden yang menjawab dengan
benar ada sebanyak 14 responden (25,0%). Berdasarkan pertanyaan apakah
komplikasi dari penyakit hipertensi, responden yang menjawab dengan benar ada
sebanyak 16 responden (28,6%). Berdasarkan pertanyaan bagaimana penanggulangan

66
penyakit hipertensi, responden yang menjawab dengan benar ada sebanyak 21
responden (37,5%).

Pertanyaan tentang kapan harus meminum obat hipertensi, responden yang


menjawab benar ada sebanyak 19 responden (33,9%). Berdasarkan pertanyaan berikut
ini makanan yang dapat menyebabkan darah tinggi, responden yang menjawab
dengan benar ada sebanyak 28 responden (50,0%). Berdasarkan pertanyaan kelebihan
berat badan dapat menyebabkan darah tinggi, responden yang menjawab dengan
benar ada sebanyak 18 responden (32,1%). Berdasarkan pertanyaan kegiatan yang
dapat mengurangi risiko darah tinggi, responden yang menjawab dengan benar ada
sebanyak 29 responden (51,8%). Berdasarkan pertanyaan kebiasaan yang dapat
menyebabkan tekanan darah tinggi, responden yang menjawab dengan benar ada
sebanyak 32 responden (57,1%).

Penilaian terhadap pengetahuan pasien hipertensi tentang hipertensi dan upaya

pengendaliannya berdasarkan perhitungan total skor dapat dilihat pada tabel 4.6

berikut ini:

Tabel 4.6 Distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan tentang


hipertensi di Puskesmas Anggeraja

Tingkat Pengetahuan n %

Baik 38 67,9
Cukup 13 23,2
Kurang 5 8,9

Jumlah 56 100

67
Berdasarkan tabel 4.6 diperoleh bahwa sebagian besar pengetahuan responden

tentang hipertensi dan upaya pengendaliannya berada pada kategori baik yaitu 38

responden (67,9%).

f. Sikap Responden
Berdasarkan hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner tentang sikap
kepada pasien hipertensi di Puskesmas Anggeraja dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut
ini:

Tabel 4.7 Distribusi frekuensi responden berdasarkan sikap tentang hipertensi


di Puskesmas Anggeraja

No Pertanyaan SS S TS STS

n % n % n % n %

1 Jika merasa pusing dan tengkuk 29 51,8 26 46,4 1 1,8


terasa berat dalam jangka waktu
yang lama sebaiknya
memeriksakan diri ke pelayanan
kesehatan terdekat.
2 Penderita hipertensi sebaiknya 17 30,4 38 67,9 1 1,8
memeriksakan tekanan darah
secara teratur tisap bulan dan

mengontrol pola makan.

3 Kurang istirahat dan banyak 17 30,4 30 53,6 8 14,3 1 1,8


beban pikian dapat menyebabkan

68
tekanan darah meningkat.
4 Penderita tekanan darah tinggi 10 17,9 20 35,7 25 44,6 1 1,8
boleh melakukan olahraga ringan
seperti jogging dan senam
5 Konsumsi garam tidak perlu 1 1,8 5 8,9 37 66,1 13 23,2
dihindari bagi penderita
hipertensi.
6 Mengurangimakanan yang 10 17,9 27 48,2 18 32,1 1 1,8
mengandung lemak seperti
gorengan, dan makanan yang
bersantan perlu dilakukan oleh
penderita hipertensi.
7 Jika istirahat cukup tetapi masih 2 3,6 20 35,7 28 50,0 6 10,7
pusing, teruskan saja minum obat
anti hipertensi tidak perlu ke
puskesmas.
8 Menurunkan berat badan secara 8 14,3 21 37,5 26 46,4 1 1,8
bertahap bisa mengurangi risiko
tekanan darah tinggi.
9 Mengkonsumsi makanan seperti 13 23,2 11 19,6 29 51,8 3 5,4
daging-dagingan dapat
meningkatkan tekanan darah
tinggi.
10 Dukungan keluarga sangat 11 19,6 38 67,9 7 12,5

69
penting peranannya dalam
keberhasilan penderita hipertensi
dalam menjalankan dietnya

Dari tabel 4.7 dapat dilihat bahwa ada sebanyak 29 responden (51,8%) sangat

setuju bahwa jika merasa pusing dan tengkuk terasa berat dalam jangka waktu yang

lama sebaiknya memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan terdekat. Sebanyak 38

responden (67,9%) setuju bahwa penderita hipertensi sebaiknyamemeriksakan

tekanan darah secara teratur tiap bulan dan mengontrol pola makan. Sebanyak 30

responden (53,6%) setuju bahwa kurang istirahat dan banyak beban pikian

dapat menyebabkan tekanan darah meningkat. Sebanyak 25responden (44,6%)

tidak setuju bahwa penderita tekanan darah tinggi boleh melakukan olahraga ringan

seperti jogging dan senam. Sebanyak 37 responden (66,1%) tidak setuju bahwa

konsumsi garam tidak perlu dihindari bagi penderita hipertensi.

Ada sebanyak 27 responden (48,2%) setuju bahwa mengurangi makanan yang

mengandung lemak seperti gorengan, dan makanan yang bersantan perlu dilakukan

oleh penderita hipertensi. Sebanyak 28 responden (50,0%) tidak setuju bahwa jika

istirahat cukup tetapi masih pusing, teruskan saja minum obat anti hipertensi tidak

perlu ke puskesmas. Sebanyak 26 responden (46,4%) tidak setuju bahwa menurunkan

berat badan secara bertahap bisa mengurangi risiko tekanan darah tinggi. Sebanyak 29

responden (51,8%) tidak setuju bahwa mengkonsumsi makanan seperti daging-

70
dagingan dapat meningkatkan tekanan darah tinggi. Sebanyak 38 responden (67,9%)

setuju bahwa dukungan keluarga sangat penting peranannya dalam keberhasilan

penderita hipertensi dalam menjalankan dietnya.

Penilaian terhadap sikap pasien hipertensi tentang hipertensi dan upaya

pengendaliannya berdasarkan perhitungan total skor dapat dilihat pada tabel 4.8

berikut ini:

Tabel 4.8 Distribusi responden berdasarkan sikap tentang hipertensi di


Puskesmas Anggeraja

No Sikap n %

1 Baik 26 46,4
2 Cukup 30 53,6

Jumlah 56 100

Berdasarkan tabel 4.8 diperoleh bahwa sebagian besar sikap responden tentang

hipertensi dan upaya pengendaliannya berada pada kategori cukup yaitu 30 (53,6%).

g. Tindakan Responden Berupa Diet Makanan


Berdasarkan hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner tentang tindakan
berupa diet makanan kesehatan kepada pasien hipertensi di Puskesmas Anggeraja
dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut ini:

SR KD TP
No Pertanyaan
n % n % n %

71
1 Saya makan makanan yang asin-asin : 30 53,6 18 32, 8 14,3
ikan asin, pindang, teri, teulur asin 1
2 Saya mengkonsumsi banyak sayur 26 34,4 14 25, 16 28,6
berserat dan buah 0
3 Saya merokok 29 51,8 17 30, 0 17,9
4
4 Saya minum kopi setiap hari 27 48,2 26 46, 3 5,4
4
5 Saya makan daging ayam tanpa kulit 16 28,6 26 46, 14 25,0
4
6 Saya makan tahu, tempe 21 37,5 9 33, 16 28,6
9
7 Saya minum minuman bersoda 8 14,3 14 25, 34 60,7
0
8 Saya mengurangi makan daging 42 75,0 9 16, 5 8,9
sapi, daging kambing 1
9 Saya mengurangi makan dengan 37 66,1 11 19, 8 14,3
bumbu kecap dan saos 6
10 Saya makan gorengan dengan 40 71,4 9 16, 7 12,5
minyak kelapa/ mentega 1

Berdasarkan tabel 4.9 dapat dilihat bahwa ada sebanyak 30 responden (53,6%)

mengatakan sering makan makanan asin seperti ikan asin, ikan teri dan telur asin.

Sebanyak 26 responden (46,4%) mengatakan sering mengkonsumsi makanan berserat

seperti sayur dan buah. Sebanyak 29 responden (51,8%) mengatakan sering merokok.

Sebanyak 27 responden (48,2%) mengatakan sering minum kopi setiap hari.

Sebanyak 26 responden (46,4%) mengatakan kadang makan daging ayam tanpa kulit.

Ada sebanyak 21 responden (37,5%) mengatakan sering makan tahu dan tempe.

Sebanyak 34 responden (60,7%) mengatakan keluarga tidak pernah minum minuman

bersoda. Sebanyak 42 responden (75,0%) mengatakan sering mengurangi makan

daging sapi dan daging kambing. Sebanyak 37 responden (66,1%) mengatakan sering
72
mengurangi makanan bumbu kecap dan saos. Sebanyak 40 responden (71,4%)

mengatakan sering makan gorengan dengan minyak kelapa/mentega.

Penilaian terhadap tindakan pasien berupa diet makanan dan upaya

pengendaliannya berdasarkan perhitungan total skor dapat dilihat pada tabel 4.10

berikut ini:

Tabel 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Tidakan Pasien Berupa Diet


Makanan

No Faktor Pendukung n %

1 Kurang 33 58,9
2 Cukup 20 235,7
3 Baik 3 5,4
Jumlah 56 100

Berdasarkan tabel 4.10 diperoleh bahwa sebagian besar tindakan berupa diet

makanan responden berada pada kategori kurang memperhatikan diet makanan yaitu

33 responden (58,9%)

3. Hasil Analisa Bivariat


Analisis bivariat dimaksud untuk melihat hubungan masing-masingvariabel terikat
yang mempunyai hasil analisis p < 0,05.
a. Hubungan umur pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi di
Puskesmas Anggeraja

Tabel 4.11 Hubungan umur pasien hipertensi dengan upaya pengendalian


hipertensi di Puskesmas Anggeraja

73
No Umur Upaya pengendalian hipertensi Total P Value

Baik Cukup Kurang n %

n % N % n %
1 35-44 2 3,6 5 8,9 1 1,8 8 14,3
2 45-54 6 10,7 12 21,4 2 3,6 20 35,7 0,642
3 55-64 5 8,9 7 12,5 1 1,8 13 23,2
4 ≥ 65 1 1,8 12 21,4 2 3,6 15 26,8

Jumlah 14 25,0 36 64,3 6 10,7 56 100

Berdasarkan tabel 4.11 hasil uji statistik chi squredilakukan untuk mengetahui

hubungan umur pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi deiperoleh nilai

p > 0,05 (p = 0,642). Dari distribusi umur diketahui responden yang menjawab cukup

berada pada umur 45-54 tahun yaitu ada sebanyak 12 responden (21,4%), untuk jawaban

baik ada sebanyak 6 responden (10,7%) dan kurang ada sebanyak 2 responden (3,6%).

Untuk rentang umur yang memiliki jawaban baik mengenai upaya pengendalian

hipertensi yaitu ≥ 65 tahun yaitu sebanyak 1 responden (1,8%). Hal ini menunjukkan

secara statistik bahwa tidak ada hubungan antara umur pasien hipertensi dengan upaya

pengendalian hipertensi.

b. Hubungan jenis kelamin pasien hipertensi dengan upaya pengendalian


hipertensi di Puskesmas Anggeraja

Tabel 4.12 Hubunganjenis kelamin pasien hipertensi dengan upaya


pengendalian hipertensi di Puskesmas Anggeraja

74
No Jenis Upaya pengendalian hipertensi Total P

kelamin Baik Cukup Kurang n % Value


n % n % n %
1 Laki-laki 6 10,7 16 28,6 4 7,1 26 46,4 0,572
2 Perempuan 8 14,3 20 35,7 2 3,6 30 53,6

Jumlah 14 25,0 36 64,3 6 10,7 56 100

Berdasarkan tabel 4.12 di atas, hasil uji statistik chi square dilakukan untuk

mengetahui hubungan jenis kelamin pasien hipertensi dengan upaya pengendalian

hipertensi diperoleh nilai p > 0,05 (p=0,572). Dari distribusi jenis kelamin diketahui

jenis kelamin perempuan yang menjawab cukup ada sebanyak 20 responden (35,7%),

untuk jawaban baik ada sebanyak 8 responden (14,3%) dan untuk jawaban kurang

baik ada sebanyak 2 responden (3,6%). Untuk jenis kelamin laki-laki yang memiliki

jawaban baik mengenai upaya pengendalian hipertensi ada sebanyak 6 responden

(10,7%). Hal ini menunjukkan secara statistik bahwa tidak ada hubungan antara jenis

kelamin pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi

c. Hubungan pendidikan pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi


di Puskesmas Anggeraja

Tabel 4.13 Hubungan pendidikan pasien hipertensi dengan upaya


pengendalian hipertensi di Puskesmas Anggeraja

75
No Pendidikan Upaya pengendalian hipertensi Total P Value

Baik Cukup Kurang n %

n % n % n %
1 Tidak 0 0 6 10,7 5 8,9 11 19,6
sekolah
2 SD 1 1,8 10 17,9 1 1,8 12 21,4
3 SMP 3 5,4 3 5,4 0 0 6 10,7 0,001
4 SMA 8 14,3 16 28,6 0 0 24 42,9
5 Perguruan 2 3,6 1 1,8 0 0 3 5,4
Tingi

Jumlah 14 25,0 36 64,3 6 10,7 56 100

Berdasarkan tabel 4.13 di atas, hasil uji statistik chi square dilakukan untuk

mengetahui hubungan pendidikan pasien hipertensi dengan upaya pengendalian

hipertensi diperoleh nilai p < 0,05 (p=0,001). Dari distribusi pendidikan diketahui

pendidikan SMA yang menjawab cukup ada sebanyak 16 responden (28,6%) dan

untuk jawaban baik ada sebanyak 8 responden (14,3%). Untuk yang tidak sekolah

tidak ada responden yang memiliki upaya pengendalian yang baik. Kebanyakan

responden yang tidak sekolah memiliki upaya yang cukup yaitu 6 responden (10,7%).

Hal ini menunjukkan secara statistik bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara

pendidikan pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi.

d. Hubungan pekerjaan pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi di


Puskesmas Anggeraja
76
Tabel 4.14 Hubungan pekerjaan pasien hipertensi dengan upaya
pengendalian hipertensi di Puskesmas Anggeraja

No Pekerjaan Upaya pengendalian hipertensi Total P

Baik Cukup Kurang n % Value


n % n % n %
1 Tidak 2 3,6 7 12,5 1 1,8 10 17,9

bekerja
2 PNS 9 16,1 7 12,5 0 0 16 28,6
3 Wiraswasta 3 5,4 4 7,1 0 0 7 12,5 0,007
4 Petani/ 0 0 16 28,6 5 8,9 21 37,5
nelayan/
buruh
5 Lainnya 0 0 2 3,6 0 0 2 3,6

Jumlah 14 25,0 36 64,3 6 10,7 56 100

Berdasarkan tabel 4.14 di atas, hasil uji statistik chi square dilakukan untuk

mengetahui hubungan pekerjaan pasien hipertensi dengan upaya pengendalian

hipertensi diperoleh nilai p < 0,05 (p=0,007). Dari distribusi pekerjaan diketahui yang

paling banyak menjawab cukup yaitu petani/nelayan/buruh sebanyak 16 responden

(28,6%) dan yang menjawab kurang ada sebanyak 5 responden (8,9%). Untuk

pekerjaan lainnya seperti tukang becak dan montir sepeda motor tidak responden yang

77
memiliki upaya pengendalian yang baik. Responden yang bekerja lainnya memiliki

upaya pengendalian yang cukup yaitu 2 responden (3,6%). Hal ini menunjukkan

secara statistik bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan pasien

hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi.

e. Hubungan pengetahuan pasien hipertensi dengan upaya pengendalian


hipertensi di Puskesmas Anggeraja

Tabel 4.15 Hubunganpengetahuan pasien hipertensi dengan upaya


pengendalian hipertensi di Puskesmas Anggeraja

No Pengetahuan Upaya pengendalian hipertensi Total P

Baik Cukup Kurang n % Value


N % n % n %
1 Baik 14 25,0 24 42,9 0 0 38 67,9

2 Cukup 0 0 9 16,1 4 7,1 13 23,2 0,001


3 Kurang 0 0 3 5,4 2 3,6 5 8,9

Jumlah 14 25,0 36 64,3 6 10,7 56 100

Berdasarkan tabel 4.15 di atas, hasil uji statistik chi square dilakukan untuk

mengetahui hubungan tingkat pengetahuan pasien hipertensi dengan upaya

pengendalian hipertensi diperoleh nilai p < 0,05 (p=0,001). Dari distribusi

pengetahuan diketahui pengetahuan yang paling banyak menjawab upaya

pengendalian yang cukup yaitu responden yang pengetahuannya baik ada sebanyak 24

78
responden (42,9%) dan untuk jawaban baik ada sebanyak 14 responden (25,0%).

Untuk responden yang pengetahuannya kurang tidak ada yang memiliki upaya

pengendalian yang baik. Responden yang pengetahuannya kurang baik memiliki

upaya pengendalian yang cukup yaitu 3 responden (5,4%). Hal ini menunjukkan

secara statistik bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan

pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi.

f. Hubungan sikap pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi di


Puskesmas Anggeraja

Tabel 4.15 Hubungan sikap pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi di
Puskesmas Anggeraja

No Sikap Upaya pengendalian hipertensi Total P Value

Baik Cukup Kurang n %

n % N % n %
1 Baik 12 21,4 14 25,0 0 0 26 46,4 0,001

2 Cukup 2 3,6 22 39,3 6 10,7 30 53,6

Jumlah 14 25,0 36 64,3 6 10,7 56 100

Berdasarkan tabel 4.15 di atas, hasil uji statistik chi square dilakukan untuk
mengetahui hubungan sikap pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi
diperoleh nilai p < 0,05 (p=0,001). Dari distribusi sikap diketahui sikap yang paling
banyak menjawab upaya pengendalian cukup yaitu responden yang sikapnya cukup
ada sebanyak 22 responden (39,3%), dan untuk jawaban baik ada sebanyak 2
responden (3,6%). Untuk responden yang sikapnya baik memiliki upaya pengendalian
baik ada sebanyak 12 responden (21,4%) dan untuk pengendaian cukup ada sebanyak
79
14 responden (25,0%). Hal ini menunjukkan secara statistik bahwa terdapat hubungan
yang bermakna antara sikap pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi.

g. Hubungan tindakan berupa diet makanan dengan upaya pengendalian


hipertensi di Puskesmas Anggeraja

Tabel 4.17 Hubungan dukungan keluarga dan petugas kesehatan dengan upaya
pengendalian hipertensi di Puskesmas Anggeraja

No Tindakan Upaya pengendalian hipertensi Total P

Diet Baik Cukup Kurang n % Value


N % n % n %

1 Kurang 14 25,0 19 33,9 0 0 33 58,9


2 Cukup 0 0 16 28,6 4 7,1 20 35,7 0,001
3 Baik 0 0 1 1,8 2 3,6 3 5,4

Jumlah 14 25,0 36 64,3 6 10,7 56 100

Berdasarkan tabel 4.17 di atas, hasil uji statistik chi square dilakukan untuk

mengetahui hubungan tindakan berupa diet makanan dengan upaya pengendalian

hipertensi diperoleh nilai p < 0,05 (p=0,001). Dari distribusi tindakan berupa diet

makanan diketahui yang paling banyak tindakan diet makanan yang kurang memiliki

upaya pengendalian hipertensi yang cukup sebanyak 19 responden (33,9%) dan

tindakan diet makanan yang kurang memiliki upaya pengendalian baik sebanyak 14

responden (25,0%). Untuk responden yang tindakan diet makanan yang baik tidak ada

yang memiliki upaya pengendalian yang baik. Kebanyakan responden yang tindakan
80
diet makanan baik memiliki upaya pengendalian yang kurang ada sebanyak 2 orang

(3,6%). Hal ini menunjukkan secara statistik bahwa terdapat hubungan yang

bermakna antara tindakan beupa diet makanan dengan upaya pengendalian hipertensi.

B. Pembahasan

1. Karakteristik Umur
Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah 56 orang pasien hipertensi di
Puskesmas Anggeraja. Dari hasil penilitian diketahui bahwa dari 56 responden, rentang
umur yang paling banyak yaitu 45-54 tahun 35,7% dan yang paling sedikit adalah
rentang umur 35-44 tahun 14,3%. Hal ini dikarenakan seiring bertambahnya usia,
tekanan darah akan cenderung meningkat. Penyakit hipertensi umumnya berkembang
pada saat umur seseorang berusia lebih dari 40 tahun bahkan pada usia lebih dari 60
tahun ke atas.Hal ini disebabkan karena perubahan miokardium akibat proses menua
berupa atrophy, penurunan berat jantung dan timbulnya lesi fibrotik diantara serat
miokardium, lesi yang mempunyai panjang lebih dari 2 cm mempunyai sifat infark dan
mempunyai korelasi positif dengan beratnya kelainan arteri koroner (Boedhi, 2011).

2. Karakteristik Jenis Kelamin


Menurut jenis kelamin diketahui bahwa dari 56 responden yang berjenis kelamin
laki-laki sebanyak 46,4%, dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 53,6%.
Berdasarkan uji chi square diperoleh nilai p > 0,05 (p=0,572), yang artinya tidak ada
hubungan antara jenis kelamin dengan upaya pengendalian hipertensi. Berdasarkan hasil
penelitian Wahyuni dan Eksanoto (2013), perempuan cenderung menderita hipertensi
daripada laki-laki. Pada penelitian tersebut sebanyak 27,5% perempuan mengalami
hipertensi, sedangkan untuk laki-laki hanya sebesar 5,8%. Perempuan agak relatif kebal
terhadap penyakit ini sampai usia setelah menopause. Efek perlindungan esterogen
dianggap menjelaskan adanya imunitas wanita pada usia sebelum menopause. Wanita
81
yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan
dalam meningkatkan kadarHigh DensityLipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang
tinggi merupakan faktor pelindung pembuluh darah dari kerusakan.Proses ini terus
berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur
wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun
(Robbins et al, 2013).

3. Karakteristik Pendidikan
Menurut pendidikan diketahui bahwa dari 56 responden, yang tidak sekolah ada
19,6%, yang berpendidikan SD ada 21,4%, yang berpendidikan SMP ada 10,7%, yang
berpendidikan SMA ada 24,9% dan yang berpendidikan perguruan tinggi ada 5,4%.
Berdasarkan uji chi square diperoleh nilai p < 0,05 (p=0,001), yang artinya ada
hubungan yang signifikan antara pendidikan pasien hipertensi dengan upaya
pengendalian hipertensi. Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap gaya hidup yaitu
kebiasaan merokok, kebiasaan minum alkohol, dan kebiasaan melakukan aktivitas fisik
seperti olahraga. Tingginya risiko terkena hipertensi pada pendidikan yang rendah,
kemungkinan disebabkan karena kurangnya pengetahuan pada seseorang yang
berpendidikan rendah terhadap kesehatan dan sulit atau lambat menerima informasi
(penyuluhan) yang diberikan oleh petugas sehingga berdampak pada perilaku/pola hidup
sehat (Anggara dan Prayitno, 2013).

4. Karakteristik Pekerjaan
Menurut pekerjaan diketahui dari 56 responden, responden yang tidak bekerja
sebanyak 17,9%, responden yang bekerja sebagai PNS sebanyak 28,6%,responden yang
bekerja wiraswasta sebanyak 12,5%, responden yang bekerja sebagai
petani/nelayan/buruh sebanyak 37,5% dan responden yang bekerja lainnya sebanyak
3,6%. Berdasarkan uji chi square diperoleh nilai p < 0,05 (p=0,007), yang artinya ada
hubungan yang signifikan antara pekerjaan pasien hipertensi dengan upaya pengendalian

82
hipertensi.Arifin (2011) mengatakan bahwa laki-laki dewasa yang bekerja dalam kondisi
pekerjaan dengan stress yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah tidak hanya
selama jam kerja, akan tetapi setelah tiba dirumah bahkan saat tidur. Hal ini menunjukan
bahwa pekerjaan dapat berdampak pada tekanan darah. Setiap pekerjaan memiliki
tingkat stres masing-masing. Menurut Sutanto (2010), stres dianggap sebagai suatu yang
buruk ketika seseorang tidak mampu menanggulangi stres dengan baik. Peningkatan
darah akan lebih besar pada individu yang mempunyai kecenderungan stres emosional
yang tinggi. Bagi wanita berusia 45-64 tahun, sejumlah faktor psikososial seperti
keadaan tegangan, ketidakcocokan perkawinan, tekanan ekonomi, stres harian, mobilitas
pekerjaan, gejala ansietas dan kemarahan terpendam didapatkan bahwa hal tersebut
berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan manifestasi klinik penyakit
kardiovaskuler apapun.

5. Pengetahuan
Dari hasil penelitian diketahui bahwa dari 56 responden total dari jawaban
responden yang paling banyak adalah pengetahun baik yaitu 67,9% dan yang paling
sedikit yaitu tingkat pengetahuan kurang baik 8,9 %. Berdasarkan uji chisquare
diperoleh nilai p < 0,05 (p=0,001), yang artinya ada hubungan yangsignifikan antara
pengetahuan pasien hipertensi dengan upaya pengendalian hipertensi. Mengacu pada
hasil penelitian ini, pengetahuan tentang hipertensi pada responden secara nyata
menunjukkan pengaruhnya terhadap upaya pengendalian hipertensi. Hal ini sesuai
dengan pendapat Maryono (2009) bahwa pengetahuan yang baik akan mampu merubah
gaya hidup dengan cara berhenti merokok sedini mungkin, berolahraga secara teratur,
perbaikan diet, hindari stres serta hindari pola hidup tidak sehat. Semakin baik
pengetahuan responden mengenai hipertensi maka semakin baik pula upaya responden
untuk mengendalikan hipertensi yang dideritanya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti mendapatkan bahwa tingkat
pengetahuan responden mengenai hipertensi di Puskesmas Anggeraja yaitu 67.9%.

83
Menurut Notoadmodjo (2012) pengetahuan dipengaruhi oleh pendidikan, sumber
informasi dan pengalaman. Pengetahuan responden mayoritas dipengaruhi oleh faktor
sumber informasi dan mayoritas tingkat pendidikan responden adalah SMA yaitu 42,9%.
Beberapa responden mendapatkan informasi mengenai hipertensi selain melalui
penyuluhan, informasi dari keluarga ataupun teman dan media elektronikuntuk
mempengaruhi konsep pemikiran masyarakat dan memberikan pengaruh yang sangat
beragam, baik pengaruh ekonomi, psikologis maupun sosial budaya dan merambah
berbagai bidang kehidupan manusia mulai dari tingkat individu, keluarga hingga
masyarakat (Notoadmodjo, 2012).

6. Sikap Responden
Dari hasil penelitian diketahui bahwa dari 56 responden total dari jawaban
responden yang paling banyak adalah sikap cukup baik yaitu 53,6% dan yang paling
sedikit yaitu sikap baik 46,4%. %. Berdasarkan uji chi square diperoleh nilai p < 0,05
(p=0,001), yang artinya ada hubungan yang signifikan antara sikap pasien hipertensi
dengan upaya pengendalian hipertensi. Hal ini sejalan dengan studi Ginting (2010) di
Belawan yang menyatakan sikap terhadap hipertensi mempengaruhi tindakan
pencegahan hipertensi. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi
merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Suatu sikap pada diri individu belum
tentu terwujud dalam suatu tindakan nyata.sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi
hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku tertutup. Dengan demikian sikap
merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap nilai kesehatan individu
serta dapat menentukan cara pengendalian yang tepat untuk penderita
hipertensi(Sunaryo, 2014).
Hasil penelitian ini dapat terlihat bahwa apabila responden memiliki sikap yang
positif maka upaya pengendalian hipertensi yang dilaksanakan juga baik. Perilaku
kesehatan akan di pengaruhi oleh berberapa faktor salah satunya sikap. Sikap yang
dimiliki responden akan memberikan dampak pada kesehatan responden itu sendiri,

84
pengalaman pribadi menjadi dasar dari sikap seseorang yang akan membawa pengaruh
terhadap kesehatannya (Green. 2011).

7. Tindakan Berupa Diet Makanan

Dari hasil penelitian diketahui bahwa dari 56 responden total dari jawaban
responden yang paling banyak adalah diet makanan yang kurang baik yaitu 58,9% dan
diet makanan yang baik 5,4%. Berdasarkan uji chi square diperoleh nilai p < 0,05
(p=0,001), yang artinya ada hubungan yang signifikan antara tindakan berupa diet
makanan dengan upaya pengendalian hipertensi.

Diet merupakan salah satu cara pengendalian hipertensi yang perlu dilakukan oleh
pasien hipertensi untuk menekan angka tekanan darahnya. Hiperkolestrolemia diyakini
mengganggu fungsi endotel dengan meningkatkan produksi radikal bebas oksigen.
Radikal ini menonaktifkan oksida nitrat.Apabila terjadi hiperlipidemia kronis, lipoprotein
tertimbun dalam lapisan intima.Perjalanan terhadap radikal bebas dalam sel endotel arteri
menyebabkan terjadinya oksidasi LDL yang mempercepat timbulnya plak. Oksidasi LDL
diperkuat oleh HDL yang rendah (Price & Wilson, 2013).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Farahdika (2015) yang
menunjukkan adanya hubungan antara diet yang tidak sehat dengan hipertensi. Penelitian
ini dibuktikan dalam analisis bivariat di peroleh nilai p value = 0,0001 (< 0,05), dari hasil
analisis juga diperoleh Odd Ratio (OR) = 6,479 (95% Cl 2,416- 17,373). Hal tersebut
menunjukkan bahwa responden diet tidak sehat berisiko 6,479 kali menderita hipertensi
dibandingkan responden yang diet sehat.

85
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:

1. Rentang umur yang paling banyak adalah 45-54 tahun yaitu 35,7%, jenis kelamin
responden yang paling banyak adalah perempuan yaitu 53,6%, pendidikan yang paling

86
banyak adalah SMA yaitu 42,9%, dan pekerjaan yang paling banyak adalah sebagai
petani/nelayan/buruh yaitu 37,5%.
2. Tingkat pengetahuan responden tentang hipertensi berada pada kategori baik yaitu
67,9%, responden sudah mengerti banyak hal tentang penyakit hipertensi yang
dideritanya.
3. Sikap responden tentang hipertensi berada pada kategori cukup yaitu 53,6%, responden
sudah cukup waspada terhadap penyakit hipertensi yang dideritanya.
4. Tindakan berupa diet makanan yang kurang baik yaitu 58,9%, responden belum cukup
baik untuk mengendalikan penyakit hipertensinya.
5. Upaya pengendalian hipertensi responden berada pada kategori cukup yaitu 64,3%,
responden masih belum terlalu membiasakan melakukan olahraga yang teratur dan masih
mengkonsumsi daging secara berlebih.
6. Terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan dan pekerjaan pasien hipertensi
dengan upaya pengendalian hipertensi di Puskesmas Anggeraja
7. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan pasien hipertensi dengan upaya
pengendalian hipertensi. Tingkat pengetahuan yang baik mempengaruhi upaya
pengendalian hipertensi yang dilakukan responden.
8. Terdapat hubungan bermakna antara sikap pasien hipertensi dengan upaya pengendalian
hipertensi. Tingkat sikap yang cukup mempengaruhi upaya pengendalian hipertensi yang
dilakukan responden.
9. Terdapat hubungan bermakna antara tindakan berupa diet makanan sehat dengan upaya
pengendalian hipertensi. Dukungan keluarga dan petugas kesehatan yang baik
mempengaruhi upaya pengendalian hipertensi yang dilakukan responden menjadi lebih
baik.

B. Saran

87
1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Palu melalui Puskesmas Anggeraja perlu meningkatkan
program komunikasi, informasi dan edukasi tentang hipertensi dan pengendaliannya
melalui penyuluhan, sehingga masyarakat mampu meningkatkan pengetahuan tentang
hipertensi serta mampu melakukan upaya pengendalian penyakitnya dengan baik dan
benar.
2. Pihak Puskesmas Anggeraja perlu juga meningkatkan program Prolanis (Program
Pengelolaan Penyakit Kronis) yang bertujuan untuk mendorong peserta penyandang
penyakit kronis mencapai kualitas hidup optimal
3. Diharapkan masyarakat mengikuti program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
(GERMAS), yang berfokus pada tiga kegiatan, yaitu: melakukan olahraga 30 menit per
hari, mengonsumsi buah dan sayur; dan memeriksakan kesehatan secara rutin.
Masyarakat perlu juga untuk mengurangi konsumsi garam dan daging secara berlebihan.
4. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan data, sumbangan pemikiran
dan perkembangan pengetahuan serta dapat meneliti faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi terjadinya peningkatan kejadian hipertensi untuk peneliti selanjutnya.

88