Anda di halaman 1dari 13

c 



@  
 
c 


Fikar
Sebelum berbicara mengenai Mubtada dan Khabar, sepatutnya untuk
diketahui terlebih dahulu bahwa kalimat (Γϝϡ Νϝ΍) baik kalimat sempurna
maupun tidak, dalam bahasa arab terbagi menjadi dua, yaitu Jumlah
ismiyah (Γϱϡ α΍ϝ΍ Γ ϝϡ Νϝ ΍) adalah kalimat yang didahului oleh isim dan
setiap isim yang berada di awal kalimat tersebut dinamakan mubtada
dan bagian yang melengkapinya dinamakan Khabar yang mana
hukumnya dalam I¶rab harus mengikuti kepada mubtada. Dan Jumlah
Fi¶liyah (Γ ϝϡ Ν ϩϱϝωϑ ) yaitu kalimat yang didahului oleh fi¶il.

Dengan mengetahui pembagian jumlah tersebut akan mempermudah


dalam memahami akan mubtada dan khabar, dan dalam kesempatan kali
ini kita akan membahas secara garis besar tentang mubtada dan khabar
yang sekiranya akan semakin membantu dalam mempelajari bahasa
Arab, adapun pembahasan secara terperinci akan dibahas pada
kesempatan berikutnya bila tidak ada halangan ataupun bisa kembali
melihat pada buku-buku yang menerangkannya lebih mendetail, seperti
Syarah Alfiya Ibnu Malik baik yang disyarah oleh Ibnu µAgil atau Ibnu
Hisyam dan Asymuni.
c 

Mubtada adalah setiap isim yang dimulai pada awal kalimat baik
didahului oleh nafyu maupun istifham, contoh (ϡαΕΏϡ Ω ϡ Ρ ϡ
=Muhammad tersenyum), contoh didahului oleh nafyu (ϑϱν ϝ΍ ϡΩ΍ϕ ΍ ϡ
=tamu itu tidak datang) dan contoh isim yang didahului oleh kata Tanya
(͊ϲϠϋ ΢ΟΎϧ ΃ =apakah yang lulus adalah Ali). Dan hukum isim yang
dimulai pada awal kalimat tersebut (΃Ω ΕΏϡ ϝ΍) adalah Marfu¶ (dibaca
akhir katanya dengan harakah dhamma), kecuali apabila isim tersebut
didahului oleh huruf Jarr tambahan atau yang menyerupainya maka
hukumnya secara Lafadznya adalah Majrur namun kedudukannya dalam
kalimat tetaplah Marfu¶. Contohnya firman Allah SWT : ϩ ϝϝ΍ ΍ ϝ· ϩϝ· ϥϡ ΍ ϡ ϭ
kata Ilah pada ayat tersebut secara lafadznya adalah majrur namun
kedudukannya tetaplah Rafa¶. Dan Mubtada terbagi menjadi dua, yaitu
Mubtada Sharih (Ρϱέ ι ΃Ω ΕΏϡ ) yang mencakup semua isim dhahir
seperti pada contoh di atas, dan juga terdiri dari Dhamir, contohnya (ϭϩ
Ωϩ ΕΝϡ =dia bersungguh-sungguh) atau (ι ϝΥ ϡ Εϥ΃ =kamu ikhlas), yang
Kedua adalah Mubtada Muawwal (ϝϭ΅ϡ ) dari An (ϥ΃ ) dan fi¶ilnya,
contohnya firman Allah SWT (ϡϙϝ έ ϱ Υ ΍ ϭϡϭ ιΕ ϥ΃ ϭ) dan (΍ϭΩΡ ΕΕ ϥ΃
ϡϙϭΩ ωϝ Ώϩ έ΃ ) mubtada pada contoh ini adalah An dan Fi¶ilnya
dita¶wilkan menjadi isim mashdar sebagai mubtada, atau dengan kata
lain An dan fi¶ilnya dijadikan mashdar sebagai mubtada sehingga An
Tashumu menjadi Shiyamukum dan An Tattahidu menjadi itthidadukum
karena mashdar dari kata Shama-Yashumu=berpuasa adalah Shiyam dan
Ittahada-yattahidu=bersatu mashdarnya adalah ittihad,(΍ ϭϡ ϭιΕ ϥ΃ ϭ
=ϙϡ ΍ ϱι ϭ ϡϙϭ Ω ωϝ Ώϩέ΃ ϡϙΩ ΍Ρ Ε΍ = ΍ϭΩ ΡΕΕ ϥ΃ ( ,) ϡϙ ϝ έϱΥ ϡ). Mubtada boleh
terdiri dari banyak kata sedangkan khabarnya hanyalah satu, contohnya
(ϩ ϥΏ΍ ϯϑε ϱ ϥ΃ ΍ ϩ ϕϱϕΡΕ ϩ Εϱϥϡ΃ ϩ Ωϝ ΍ ϭ ϙϕϱΩ ι ).

cc 
Apabila dilihat dari Khabarnya maka Mubtada terbagi menjadi dua,
yaitu Mubtada yang mempunyai khabar, contohnya (ϡαΕΏϡ Ω ϡ Ρ ϡ) dan
Mubtada yang tidak memiliki Khabar, akan tetapi mempunyai isim
marfu¶yang menempati posisi dari pada khabar, contohnya (ϝϑρϝ ΍ ϡΉ΍ ϥ ΃
=apakah bayi telah tidur) Naim adalah mubtada sedangkan Thifl adalah
Fa¶il yang menempati posisi khabar, contoh lain (ϝΥΏϝ΍ ΩϭϡΡϡ ΍ ϡ
=tidaklah terpuji orang kikir), mahmud=terpuji adalah mubtada dan
bukhli adalah Naib Fa¶il yang menempati tempatnya khabar. Mubtada
yang memiliki khabar haruslah terdiri dari isim sharih atau dhahir
ataupun yang telah dita¶wilkan menjadi mashdar yang sharih, sedangkan
mubtada yang tidak memiliki khabar tidak boleh menta¶wilkannya dan
penggunaanya haruslah selalu disertai dengan Nafyu atau istifham.
Adapun Isim marfu¶yang terletak setelah mubtada yang tidak memiliki
khabar yang dibarengi oleh Nafyu atau istifham maka kedudukannya
dalam I¶rab kalimat adalah sebagai berikut:
1. Apabila menunjukkan kepada sifat yang tunggal dan setelahnya
adalah isim yang tunggal contohnya (ϝΝέϝ ΍ έϑ ΍αϡ ΃ ) atau (ΏϭΏΡϡ ΍ ϡ
ϝϭαϙ ϝ΍ ) maka I¶rabnya ada dua kemungkinan, Pertama: sifat yang
pertama setelah istifham (musafir) adalah mubtada dan setelahnya
adalah Fa¶il karena letaknya setelah Isim Fa¶il, atau Naib Fa¶il apabila
terletak setelah isim maf¶ul, keduanya marfu¶menempati kedudukan
khabar. Kedua: Sifat yang pertama (musafir) adalah khabar yang
didahulukan (khabar muqaddam) sedangkan kata (rajul) adalah mubtada
yang diakhirkan (mubtada muakkhar).
2. Apabila sifat yang pertama menunjukkan pada isim tunggal kemudian
setelahnya adalah Mutsanna (yang menunjukkan bentuk dua) atau
Jamak, maka sifat yang pertama adalah mubtada dan isim setelahnya
tersebut adalah Fa¶il atau naib fa¶il yang menempati posisi khabar,
contoh (ϥ΍Ώϝ΍ρϝ΍ ϝϡ ϩϡ ΍ϡ ) dan (ϥϭέι
ϕϡ ϝ΍ Ώ
ϭΏΡϡ ΍ ϡ ) kata Muhmil adalah
mubtada sedangkan thalibani adalah Fa¶il karena terletak setelah isim
Fa¶il, dan kata Mahbub adalah mubtada sedangkan Muqshirun adalah
Naíb Fa¶il karena terletak setelah Isim Maf¶ul.
3. Apabila sifat yang pertama berbentu dua (mutsanna) atau Jamak dan
setelahnya adalah mutsanna atau jamak maka isim yang pertama adalah
khabar yang didahulukan (khabar muqaddam) dan isim yang setelahnya
adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada muakkhar), contohnya (΃
ϥ΍ ϑϱν ϝ΍ ϥ΍ έ ϑ΍ α
ϡ ) dan (ϥϭΩϩΕΝ ϡ ϝ΍ ϥϭέιϕ ϡ ΍ ϡ ), kata musafirani dan
muqshirun adalah khabar muqaddam sedangkan dhaifani dan
mujtahidun adalah Mubtada muakkhar.
Asal dari Mubtada adalah Ma¶rifah atau mubtada haruslah isim yang
ma¶rifah sebagaimana pada contoh-contoh di atas, kecuali apabila
didahului oleh nafyu atau istifham maka boleh mubtada itu nakirah
dengan catatan kenakirahannya tidaklah mengurangi dan mempengaruhi
makna yang dapat diperincikan sebagai berikut:
a. Nakirah tersebut menunjukkan kekhususan baik dengan menyebutkan
sifat atau tidak, ataupun nakirah tersebut secara lafadznya bersandar
pada ma¶rifat, contohnya (΍ ϥΩ ϥω ϝϱΝέ) dan contoh yang idhaf (αϡΥ
Ω ΍ Ώωϝ ΍ ϯϝ ω ϩϝϝ΍ ϥϩ ΏΕϙΕ΍ ϭ ϝι
).
b. Nakirah yang menunjukkan pada sesuatu yang umum, baik
mubtadanya adalah bentuk yang umum, contohnya (ϡϕ΃ ϡ ϕϱϥϡ ϩωϡ), kata
man di sini adalah bentuk nakirah yang umum. Maupun mubtada yang
nakirah tersebut terletak dalam kalimat yang didahului oleh nafyu atau
istifham, contohnya (έ΍Ωϝ΍ ϱϑ ϝΝέ ΍ϡ ) dan (ϡΩ ΍ϕ ΩΡ΃ ϝϩ).
c. Mubtada yang nakirah haruslah didahului oleh kalimat yang terdiri
dari jar majrurr atau dharf, contohnya (ϥ ϭ έΉ΍ ί Γ αέΩϡ ϝ΍ ϱϑ), mubtada di
sini adalah nakirah karena di dahului oleh jar majrur, dan (έΉΏϝ΍ ϝ ϭ Ρ
έ΍ Νε΃ ), kata asyjar adalah nakirah karena didahului oleh dzharf.
d. Nakirah harus Athaf (mengikuti) pada ma¶rifah atau diikutkan pada
ma¶rifah, contohnya (΍ ϥΩϥω ϝΝέϭ Ω ϡΡϡ) kata rajul di sini nakirah karena
ikut pada Muhammad. dan (ϝίϥϡϝ΍ ϱ ϑ ϑαϭϱϭ ϝΝέ) kata rajul diikutkan
pada yusuf.
e. Mubtada yang nakirah merupakan jawaban atas pertanyaan,
contohnya, ada yang bertanya (ϙΩ ϥω ϥϡ ) maka jawabannya (ϕ ϱΩ ι)
dengan menggunakan nakirah, takdirnya adalah (ϱ Ωϥ ω ϕϱΩι).
f. Terletak setelah Laula (΍ ϝϭϝ), contoh (ϙϭΥ΃ ϙϝϩ ϝ ϝΝέ ΍ϝϭϝ).
g. Jika khabarnya adalah sesuatu yang aneh yang keluar dari kebiasaan,
contohnya (Ε Ω ΝαΓ έΝε =pohon bersujud).
Apabila kita melihat dari contoh-contoh di atas dapat dilihat perbedaan
kedudukan mubtada yang kadang didahulukan (mubtada muqaddam)
dan kadang diakhirkan (mubtada muakkhar), kesemuanya itu
mempunyai aturan yang wajib didahulukan maupun boleh didahulukan.

  c 
Mubtada itu wajib didahulukan apabila:
1. Isim yang mempunyai kedudukan sebagai pendahuluan di dalam
kalimat, seperti isim syarat, atau istifham atau Ma yang menunjukkan
ketakjuban, contohnya (΃ έϕϱ ϥϡ Γϱϭ ύϝϝ΍ ϩΕϭ έΙ ϡϥϱ έωεϝ ΍ =barangsiapa
yang membaca syair maka akan bertambah kekayaannya dengan
bahasa), kata Man di sini adalah mubtada yang harus di dahulukan
karena posisinya dalam kalimat sebagai pembukaan dan pendahuluan,
contoh lain (΍ Ω ύ έ ϑ
΍ αϡ ϥϡ =siapakah yang akan bepergian besok), kata
man di sini adalah kata Tanya yang harus selalu didahulukan dan ia
adalah mubtada, contoh lain (ωϱΏέϝ΍ ϝϡΝ΃ ΍ ϡ =alangkah indahnya musim
semi) Kata Ma disini adalah Ma takjub yang mana harus dan wajib
didahulukan.
2. Mubtada yang menyerupai isim syarat, contohnya (Γΰ΋ΎΟ ϪϠϓ ί˵ Ϯϔϳ ϱάϟ΍
=yang menang maka baginya piala), kata allazi dalam kalimat ini
menyerupai isim syarat.
3. Isim tersebut haruslah disandarkan kepada isim yang menempati
posisi dan kedudukan kata pendahuluan, contohnya (ϙΏΝω΃ ϥϡ ϝϡ ω) kata
µamal disandarkan pada Man yang kedudukannya sebagai pendahuluan.
4. Apabila khabarnya adalah jumlah fi¶liyah dan fa¶ilnya adalah dhamir
yang tersembunyi yang kembali kepada mubtada, contohnya (ΏωϝϱΩ ϡ Ρϡ
Γέϙϝ΍ =Muhammad bermain bola) kata yal¶ab adalah khabar jumlah
fi¶liyah dan fa¶ilnya dhamir tersembunyi kembali ke Muhammad.
5. Isim tersebut haruslah disertai dengan huruf Lam untuk memulai atau
Lam tauwkid, contoh (ϥϭϕΕϱ ϥϱΫ ϝϝ έϱΥ Γ έΥ΁ ϝ΍ έ΍ Ω ϝϝϭ) kata addar
dimasuki oleh lam ibtida, dan (έΏϙ΃ ϩϝϝ΍ έϙΫ ϝ ϭ) dimasuki lam tawkid.
6. Mubtada dan khabarnya adalah Ma¶rifat atau kedua-duanya nakirah
dan tidak adanya kata yang menjelaskannya, contohnya (Ωϡ Ρϡ ϙϭ Ώ΃) jika
ingin memberitahukan tentang bapaknya maka wajib didahulukannya,
dan (ϙϭ Ώ΃ Ωϡ Ρϡ ) jika ingin memberitahukan tentang Muhammad.
7. Mubtada teringkas khabarnya oleh Illa atau Innama, contohnya (΍ ϡ
Γϝϱ νϑ ΍ϝ· ϕ Ω ιϝ΍) dan (Ώ
Ϋ ϩϡ Ε
ϥ΃ ΍ ϡϥ· ).
Selain dari tujuh masalah di atas, maka boleh mendahulukan atau
mengakhirkan mubtada.

c 
Mubtada wajib dihilangkan dalam hal-hal sebagai berikut:
1. Apabila mubtada ikut kepada Sifat yang marfu¶ dengan tujuan memuji
atau menghina atau sebagai rasa iba dan saying, contohnya ( Ϊ˳ ϳΰΑ Εέήϣ
Ϣ˵ ϳήϜϟ΍) mubtadanya dihilangkan karena disifati oleh sifat yang rafa¶,
asalnya adalah (ϡϱέϙϝ΍ ϭ ϩ). Contoh lain (Ι
ϱΏΥϝ΍ ϡ ϱΉϝϝ΍ ϥωΩ ωΕΏ΍
=jauhilah dari orang jahat yang jelek sifatnya), asalnya adalah (ϭϩ
ΙϱΏΥ ϝ ΍ ) mubtada nya wajib dihilangkan karena disifati oleh sifat yang
marfu´.
2. Jika menunjukkan jawaban terhadap sumpah, contohnya (ϱ ΕϡΫ ϱϑ
ϕΩι ϝ΍ ϥϝϭϕ ΃ ϝ) asalnya adalah (Ω ϩ ω ϱΕϡ Ϋ ϱϑ) dengan menghilangkan
mubtadanya yaitu µahd.
3. Jika khabarnya adalah mashdar yang mengganti fi¶ilnya, contohnya
(ϝ ϱϡ Ν έΏι ) asalnya adalah (Ν έΏι ϱέΏι ϝϡ ) maka wajib
menghilangkan mubtadanya.
4. Jika khabarnya dikhususkan pada pujian atau cercaan setelah kata
Ni¶ma (ϡ ωϥ) dan Bi¶sa (αΉΏ ) dan terletak diakhir, contohnya (ϡ ωϥ
Ωϡ Ρϡ Ώϝ΍ ρϝ΍ =alangkah baiknya pelajar yaitu Muhammad) dan (αΉΏ
ϝϭαϙϝ΍ Ώ ϝ΍ ρ ϝ΍ =alangkah buruknya pelajar yang pemalas), muhammad
dan kusul pada contoh di atas adalah khabar dari mubtada yang
dihilangkan, asalny adalah (ΩϡΡϡ ϭϩ) dan (ϝϭα
ϙϝ΍ ϭϩ ).
Selain dari empat masalah ini, mubtada juga kebanyakan dihilangkan
jika terletak setelah kata qaul (berkata), contohnya (Γ ω΍ ρ ϥϭϝϭ ϕϱϭ)
mubtadanya dihilangkan, asalnya adalah (Γω΍ ρ ΍ϥέϡ ΃), contoh lain, (΍ ϭϝ΍ ϕ
ϡ΍ ϝΡ΃ Ε ΍ ύν΃ ) dan (ϡϱϕω ίϭ Νω Εϝ΍ ϕϭ) asalnya adalah (Ε΍ ύν
΃ ϱϩ ) dan (΍ϥ΃
ίϭ Νω). Atau mubtadanya terletak setelah Fa sebagai jawban dari syarat,
contohnya (ϡϙϥ΍ϭ Υ·ϑ ϡϩϭρϝ ΍Υϱϥ· ϭ) asalnya adalah (ϡ ϙϥ΍ϭΥ· ϡ ϩ ϑ).

 c 
Mubtada boleh dihilangkan dan dihapus sebagai jawaban atas
pertanyaan orang yang bertanya (Ω ϡ Ρ ϡ ϑϱϙ)?, dan jawabnya (έ ϱΥΏ)
aslinya adalah (έϱΥΏ ϭ ϩ ), atau Mubtada itu boleh dihilangkan apabila
ada kalimat atau kata yang menunjukkan tentangnya, contohnya firman
Allah SWT (΍ ϩ ϱϝωϑ˯ ΍α΃ ϥϡ ϭ ϩ αϑ ϥϝϑ ΍Ρϝ ΍ιϝ ϡ ω ϥϡ) kata Falinafsihi
kedudukannya rafa¶ khabar dan dhamir Ha majrur bil idhafah sedangkan
mubtadanya mahzuf (dihilangkan) begitu juga pada wa man asaa
fa¶alaiha, asalnya adalah (ϩαϑ ϥϝ ϩϝ ϡωϑ΍Ρ ϝ΍ ιϝϡ ω ϥ ϡ) dan (˯΍ α΃ ϥ ϡϭ
΍ ϩϱ ϝω ϩΕ˯ ΍ α·ϑ
).
Dan boleh juga menghilangkan Mubtada dan khabarnya apabila ada dalil
yang menunjukkan kepadanya, contohnya (ΓϕΏ΍ αϡ ϱϑ ΍ϭί ΍ ϑϥ ϱΫ ϝ΍
˯΍ ϕϝ· ϝ΍ ΍ ν
ϱ΃ ΍ ϭϡ ϩ ΍αϥϱΫ ϝ΍ ϭ ˬ ίΉ΍ ϭΝϡ ϩ ϝ) yang dihapus dari kalimat
tersebut adalah mubtada dan khabarnya yaitu (ίΉ΍ϭΝ ϡϩ ϝ) aslinya
haruslah (ίΉ΍ ϭΝ ϡϩ ϝ΍ ν ϱ΃΍ ϭ ϡϩ΍ αϥϱΫϝ΍ ϭ) dihapus karena telah dijelaskan
pada kalimat sebelumnya.

 
Sebagaimana telah dijelaskan di atas mengenai Jumlah Ismiah (Γϝϡ Νϝ΍
Γϱϡα΍ ϝ ΍) yang terdiri dari dua bagian yang memberikan petunjuk serta
pemahaman kepada pendengar agar diterima. Para pakar Nahwu
menyebut bagian pertama dari jumlah ismiah ini dengan Mubtada karena
ia adalah bagian yang dimulai dalam pembicaraan, sedangkan bagian
keduanya dinamakan Khabar karena ia memberitahukan keadaan yang
ada pada mubtada, dan bisa saja terdiri dari segala bentuk sifat baik ia
isim fa¶il, atau maf¶ul ataupun tafdhil, contohnya, (ϝν΍ ϑΩ ϡΡ ϡ ) dan (ϱϝω
Ώϭ ΏΡϡ ).

!  
Para ahli nahwu menyebutkan hukum dari pada khabar adalah sebagai
berikut:
1. Wajib merafa¶ (memberi harakah dhamma) khabar, penyebab khabar
itu marfu¶adalah mubtada , contohnya (ϡϱέ ϙ Εϥ ΃ ) Karim adalah khabar
marfu¶disebabkan oleh mubtada. Contoh lain (έϱΥ Ρϝι ϝ΍ ϭ) Khair
khabar mubtada marfu¶.
2. Khabar pada dasarnya haruslah nakirah, contohnya (ϝν΍ ϑΩ ϡΡ ϡ )
fadhil adalah nakirah dan ia khabar mubtada.
3. Khabar haruslah disesuaikan atau ikut kepada mubtada dari segi
tunggalnya atau tasniyah (bentuk duanya) ataupun jamak, contoh
(ϥ΍ ϕϭϑΕϡ ϥ ΍ Ώϝ΍ ρϝ΍ ( , )ϕϭ ϑ
Εϡ Ώϝ ΍ ρϝ΍ ), dan (ϥϭϕϭϑ
Εϡ Ώ΍ ϝρϝ΍ ).
4. Boleh menghilangkan khabarnya apabila ada dalil yang menunjukkan
kepadanya, dan masalah ini nanti akan dibahas pada pembahasannya.
5. Wajib menghilangkan khabarnya, masalh ini pun akan dibahas nanti
pada pembahasannya.
6. Khabar boleh banyak dan beragam sedangkan mubtadanya hanya
satu, contohnya (ϥρϑϱϙΫ Ωϡ Ρϡ ) zakiyun dan fithn adalah khabar
mubtada, contoh lain (ΏΕ΍ ϙΏ ϱρΥ έω΍ ε Ω ϡΡ ΃ ).
7. Boleh dan wajib didahulukan khabar dari pada mubtada, dan
pembahasan ini pun akan di bahas pada pembahasannya.

c
Khabar terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Khabar Mufrad (Ωέϑϡ ϝ΍ ) yaitu khabar yang bukan berbentuk kalimat
atau yang menyerupai kalimat, akan tetapi terdiri dari satu kata baik
menunjukkan pada tunggal atau mutsanna (bentuk dua) ataupun jamak,
dan harus disesuaikan dengan Mubtada dalam pentazkiran (berbentuk
muzakkarf=lk) atau ta¶nis juga dalam bentuk tunggal, mutsanna dan
jamak. Contoh (ϡϕϝ΍ έϱϥϡ έ =bulan bersinar), (ΓΏΩ ΅ϡ ΓΏϝ΍ ρϝ ΍ =pelajar pr
itu sopan).
2. Khabar Jumlah (Γ ϝϡ Ν), yaitu khabar yang berbentuk kalimat baik
jumlah ismiah (Γϱ ϡα΍) maupun fi¶liyah (ϩ ϱϝωϑ ). Contoh khabar jumlah
ismiah (˯΍ ένΥ ΍ϩέ΍ Νε
΃ ΓϕϱΩ Ρϝ΍ =taman itu pepohonannya berwarna
hijau) atau (ωι
΍ ϥ ϩϥϭϝ ΏϭΙ ϝ ΍ =pakaian itu warnanya bersih), Atsaub
=adalah mubtada pertama, Lawn=Mubtada kedua dan mudhaf, dhamir
Hu=mudhaf ilaih, Nashi¶=khabar mubtada kedua, Jumlah dari mubtada
kedua dan khabarnya menempati posisi rafa¶ yaitu khabar dari mubtada
pertama. Adapaun contoh khabar mubtada dari jumlah fi¶liyah, (ϝ΍ ϑ ρ΃ ϝ΍
Γ ϕϱΩ Ρϝ΍ ϱϑϥϭ Ώωϝϱ=anak-anak bermain di taman) yal¶abun adalah
fi¶il mudhari¶marfu¶karena khabar mubtada yang berbentuk jumlah
fi¶liyah. Khabar jumlah baik ismiah maupun fi¶liyah haruslah
berhubungan dengan mubtada.
3. Khabar syibhu jumlah (Γ ϝ ϡΝϝ΍ ϩΏε ) yaitu khabar yang bukan mufrad
atau jumlah akan tetapi menyerupai jumlah, terdiri dari Jarr wal majrur
(έϭέΝϡϭ έ΍ Ν) dan dharf =kata keterangan,(ϑέυ ). Contoh khabar dari jar
wal majrur (ΓΏϱϕ Ρϝ ΍ ϱϑΏ΍ Εϙϝ ΍ =buku di dalam tas), (ϱϑ ˯΍ ϡϝ ΍
ϕϱέΏ· ϝ ΍ =air di dalam teko). Contoh khabar dari dharf makan
(keterangan tempat), (Ε ΍ ϩ ϡ ΃ϝ΍ ϡ ΍Ωϕ΃ ΕΡΕΓϥΝϝ΍ =surga dibawah telapak
kaki ibu), (ΓέΝεϝ ΍ ϕ ϭϑ έΉ΍ ρϝ΍ =burung di atas pohon), contoh dharf
zaman (keterangan waktu), (βϴϤΨϟ΍ ϡ˴ Ϯϳ ΔϠΣήϟ΍ =bepergian pada hari
kamis), (ωϭΏ α΃ Ω ωΏέϑαϝ΍ =akan bepergian setelah seminggu).

  
Khabar wajib di dahulukan dari mubtada dalam keadaan sebagai berikut:
1. Apabila mubtada nya adalah isim nakirah yang semata-mata tidak
untuk memberitahukan dan khabarnya adalah jar wal majrur atau dharf,
contohnya (ϥ ϭ ϡϝωϡ Γ αέΩϡϝ΍ ϱϑ=di sekolah ada para guru), (ϑϱν΍ϥΩ ϥ ω
=ada tamu). Jika mubtadanya nakirah dengan maksud untuk
memberitahukan maka hukumnya boleh didahulukan atau pada
tempatnya semula, contohnya (΍ ϥΩ ϥω ϡϱΩϕ ϕϱΩ ι ).
2. Jika khabarnya adalah istifham (kata Tanya) atau disandarkan pada
kata Tanya, contohnya (ϙϝ ΍ Ρ ϑ ϱϙ =bagaimana kabarmu), (΍Ϋ ϩ ϥϡ ϥΏ΍
=anak siapa ini) atau (έϑα
ϝ ΍ Γω΍α ϱ ΃ =jam berapa perginya).
3. Apabila ada dhamir yang berhubungan atau bergandengan dengan
mubtada sedangkan kembalinya dhamir tersebut kepada khabarnya atau
sebagian dari khabarnya, contohnya, (΍ ϩ Ώ΍ϝρ Γ αέΩϡ ϝ΍ ϱϑ=di sekolah ada
murid-murid-nya), (΍ ϩ ϝ΍ϑρ΃ Γ ϕϱΩΡϝ ΍ ϱϑ=di tama nada anak-anak-nya),
dhamir yang ada pada mubtada kembali kepada khabarnya.
4. Meringkas khabar mubtada dengan Illa (΍ϝ·) atau Innama (΍ϡ ϥ·),
contohnya, (ΩϡΡϡ ΍ ϝ· ίΉ΍ϑ ΍ ϡ =tiada yang menang kecuali Muhammad),
(Ωϡ Ρϡ ί Ή΍ ϑ΍ ϡ ϥ· =yang menang adalah Muhammad), dalam contoh ini
kata faiz diringkas atau dipendekkan sebagai sifat dari Muhammad.
Boleh mendahulukan atau mengakhirkan khabar apabila khabarnya
sebagai pengkhususan setelah kata Ni¶ (ϡ ωϥ) ma dan Bi¶sa (αΉΏ ),
contohnya (Ω ϡ Ρϡ ϝΝέϝ΍ ϡ ωϥ =alangkah baiknya lelaki itu muhammad),
(Γ ϥ ΍ ϱΥϝ΍ ϝϡωϝ΍ αΉΏ=alangkah buruknya perbuatan khianat),
Muhammad di sini bisa saja mubtada muakkhar dan jumlah fi¶liyah
sebelumnya adalah khabar muqaddam, dan bisa saja mubtadanya
dihilangkan dan Muhammad di sini adalah khabarnya, karena apabila
pengkhususan setelah ni¶ ma dan bi¶ sa didahulukan atas fi¶ilnya maka ia
adalah mubtada dan jumlah fi¶liyahnya adalah khabar muakhhar oleh
sebab itu boleh didahulukan atau diakhirkan.

 
Khabar boleh dihilangkan apabila terletak setelah Iza al fajaiyah (tiba-
tiba), contohnya (Ω α΃ ϝ ΍ ΍Ϋ·ϑΕΝέ Υ=saya keluar tiba tiba ada harimau),
(έρ ϡ ϝ ΍ ΍Ϋ·ϑΕϝι ϭ =saya sampai tiba-tiba hujan), khabarnya dihilangkan,
asli dari kalimat tersebut adalah (έν
΍ΡΩ α
΃ ϝ΍ ΍Ϋ · ) dan (έ ρϡϝ΍ ΍ Ϋ· ϑήϤϬϨϣ).
Apabila ada dalil yang menjelaskannya maka khabar pun boleh
dihilangkan, yang dapat ditemukan pada jawaban dari pertanyaan,
misalanya ada yang bertanya (ΐ΋ΎϏ Ϧϣ =siapa yang alpa?), jawabannya
(˷ϲϠϋ) dengan menghapus khabarnya yaitu (ΐ΋ΎϏ ϲ ˷ Ϡϋ) karena telah
dijelaskan pada pertanyaannya. Dan apabila jumlah ismiah mengikuti
(athf) pada jumlah ismiah yang tidak dihilangkan khabarnya, maka
boleh menghilangkan khabar pada jumlah ismiah yang ma¶thuf,
contohnya (Ωϡ Ρ΃ ϭ Ω ϩ ΕΝϡ Ωϡ Ρϡ =muhammad rajin dan ahmad juga), asal
dari kalimat di atas (ΩϩΕΝϡ Ωϡ Ρ ΃ϭ), dihilangkan khabar jumlah ismiah yang
ma¶tuf karena telah dijelaskan pada sebelumnya.


Adapun tempat-tempat dimana khabar itu wajib dihilangkan adalah
sebagai berikut:
1. apabila mubtadanya adalah isim yang sharih yang menunjukkan pada
sumpah, contohnya (ϕΡϝ΍ ϥΩ ϩε΃ϝ ϙέϡ ωϝ =demi hidupmu saya bersaksi
dengan kebenaran), khabarnya wajib dihilangkan, asalnya adalah (ϙέϡωϝ
ϱϡ αϕ).
2. Khabarnya menunjukkan pada sifat yang mutlak artinya sifat tersebut
menunjukkan akan keberadaan dari sesuatu, dan hal itu terdapat pada
kata yang bergandengan dengan jar majrur atau dharf, contohnya (˯΍ ϡϝ΍
ϕ ϱέΏ· ϝ΍ ϱϑ =air berada di dalam teko), (Ώ
Εϙϡ ϝ΍ ϕ ϭϑ Ώ ΍ Εϙϝ ΍ =buku
berada di atas meja), yang menunjukkan khabarnya telah dihilangkan
yaitu (ΩϭΝϭϡ). Dan apabila mubtadanya terletak setelah Lau la (΍ ϝϭϝ)
maka khabarnya yang berarti keberadaan pun wajib dihilangkan,
contohnya (ϝϑρϝ΍ Γ έ΍ϱαϝ ΍ ΕϡΩιϝ ϩϝϝ΍ ΍ ϝϭ ϝ =jika tidak ada Allah, maka
mobil akan menabrak anak itu), khabar yang dihilangkan adalah kata
(ΩϭΝϭϡ) pada contoh ini.
3. Jika mubtadanya adalah mashdar atau isim tafdhil yang disandarkan
pada mashdar dan setelahnya bukanlah khabar melainkan hal yang
menduduki tempatnya khabar, contohnya (΍ ϕ ϭ ϑΕϡ Ώ ϝ΍ ρϝ΍ ϱω ϱ ΝεΕ
=saya mendukung pelajar yang berprestasi), (: ΍ω ε ΍ Υ Ω Ώ ωϝ΍ Γ ΍ ϝιϝνϑ΃
=sebaik-baik shalatnya sorang hamba dalam keadaan khusu¶) asalnya
adalah (ϩω ϭ εΥ Ω ϥωΩΏωϝ ΍ Γ ΍ ϝιϝ ν
ϑ΃).
4. Khabarnya terletak setelah huruf Wau (ϭ΍ϭ) yang berarti
dengan/bersama (ωϡ ), contohnya, (ϩ ϝϱϡ ίϭ Ώϝ΍ ρ ϝϙ=semua pelajar
bersama kawanya), wau di sini berarti bersama sehingga khabarnya
dihilangkan, dan khabar yang dihilangkan adalah kata (ϥ΍ ϥϭέϕϡ ).

"# $
1. Asal dari pada mubtada adalah ma¶rifah sedangkan khabar adalah
Nakirah, contohnya (ϥϭϕϭϑ Εϡ Ώ΍ ϝρϝ΍ ), namun kadang ada mubtada
datang dalam bentuk ma¶rifat dan khabarnya pun ma¶rifat, contohnya
(΍ϥΏέ ϩ ϝ ϝ΍) dan (΍ ϥϱΏϥ Ω ϡ Ρϡ) mubtadanya ma¶rifah dan khabarnya pun
ma¶rifah karena idhafah. Contoh lain (ϥϭϕΏ ΍αϝ΍ ϥϭϕΏ ΍αϝ΍ ϭ) assabiqun
yang pertama adalah mubtada dan yang kedua adalah khabarnya, sama
dengan (Ε ϥ΃ Ε ϥ΃ ), terdiri dari mubtada dan khabar, tapi bisa juga
assabiqun dan anta yang kedua adalah taukid (menegaskan) pada yang
pertama.
2. Jika mubtadanya adalah mashdar marfu¶, maka mubtadanya boleh
didahulukan, contohnya (ϡ ϙϱϝω ϡ ΍ ϝα).
3. Asal dari khabar mubtada adalah satu, namun boleh saja khabar
terhadap mubtada menjadi banyak, contohnya (ι ΍ ϕ ΏΕ ΍ϙ έω΍ε Ωϡ Ρϡ )
kata penyair, penulis dan penulis kisah semuanya adalah khabar dari
mubtada yang menunjukkan bolehnya ta¶addud khabar terhadap
mubtada.
4. Haruslah memperhatikan pnyesuaian antara khabar dan mubtada,
sebagaimana yang telah disebutkan pada hukum-hukum khabar di atas,
akan tetapi ada sebagian ayat-ayat Al Quran yang membingungkan dan
menimbulkan kesan bertentangan dengan hukum penyesuaian tersebut,
padahal jika dilihat dengan seksama ternyata semua itu ada kesesuaian
antar keduanya.
5. Khabar yang terdiri dari jarr dan majrur atau dharf pada dasarnya
bukanlah khabar, melainkan ia berhubungan dengan kata yang
dihilangkan, dan kata yang dihilangkan tersebutlah yang marfu¶ yang
menunjukkan ia adalah khabar, contohnya, (ϕϱέΏ · ϝ΍ ϱϑ˯΍ ϡ ϝ ΍ ) jarr
majrur di sini hanyalah berhubungan dengan kata yang dihilangkan yaitu
khabar mubtada, takdirnya adalah (ϥΉ΍ ϙ) atau (ΩϭΝϭϡ).
6. Khabar mufrad boleh diikutkan (athaf) kepada khabar jarr majrur,
contohnya (Γ ϭαϕ Ωε΍ ϭ΃ Γέ΍ ΝΡϝ ΍ ϙ ϱ ϩ ϑ
) aysaddu qaswah khabar yang
diathafkan pada jar majrur yaitu kal hijarah.
7. Boleh memisahkan antara mubtada dan khabar, contohnya (ϡϩϭ
ϥ ϭϥϕϭ ϱ ϡϩ Γέ Υ΁ ϝ΍ Ώ), kata hum adalah mubtada, dan yuqinun adalah
khabarnya, dipisahkan oleh jar majrur yang berkaitan dengan khabarnya
yaitu yuqinun.
Y