Anda di halaman 1dari 18

Q.S . AL - QURAISY DAN Q.S .

Al - INSYIRAH
KETENTUAN REZKI DARI ALLAH
“Ditujukan untuk memenuhi tugas”
Mata Kuliah : Tafsir
Dosen : M. Sadam Idris, MP.d
Jurusan : Tarbiyah - PAI (II-C)

Di susun Oleh

- Edwin Rohadi Putra


- Maya Azhan
- Vera Nita
- Nur Anisa

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM


JAM’IYAH MAHMUDIYAH
TANJUNG PURA
LANGKAT
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat Nya penyusunan
makalah ini dapat diselesaikan.Makalah ini merupakan makalah Tafsir yang
membahas “Q.s Al – Quraisy & Q.s Al Insyirah ”.Secara khusus pembahasan
dalam makalah ini diatur sedemikian rupa sehingga materi yang disampaikan
sesuai dengan mata kuliah. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit
hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam
penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang
tua, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi . oleh karena itu kami
mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Dosen mata kuliah Tafsir Bapak M Saddam Idris, M.Pd yang telah
memberikan tugas, petunjuk, kepada kami sehingga kami termotivasi dan
menyelesaikan tugas makalah ini.

2.  Orang tua, teman dan kerabat  yang telah turut membantu, membimbing, dan
mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas makalah ini selesai.

Kami sadar, bahwa dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak


kesalahan.Untuk itu kami meminta maaf apabila ada kekurangan. Kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca guna meningkatkan kualitas
makalah penulis selanjutnya. Kebenaran dan kesempurnaan hanya Allah-lah  yang
punya dan maha kuasa .Harapan kami, semoga makalah yang sederhana ini, dapat
memberikan manfaat tersendiri bagi generasi muda islam yang akan datang,
khususnya dalam bidangAyat dan Hadits Pendidikan

i
Tanjung Pura, Mei 2019

Tim Penyusun

DAFTAR IS

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................................1
C. Tujuan Pembahasan.............................................................................................1
BAB II......................................................................................................................2
PEMBAHASAN......................................................................................................2
A. Surah Al – Quraisy...............................................................................................2
B. Surah al-Insyirah..................................................................................................5
C. Keterkaitan Isi Kandungan Surah al-Quraisy dan al-Insyirah tentang
Ketentuan Rezeki Allah SWT............................................................................9
D. Menerapkan Isi Kandungan Surah al-Quraisy dan al-Insyirah tentang
Ketentuan Rezeki Allah SWT., dalam Kehidupan.........................................10
BAB III..................................................................................................................11
PENUTUP..............................................................................................................11
A. Kesimpulan.........................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................12

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kehidupan manusia di dunia ini tidaklah berjalan sendiri. Setiap gerak


langkah yang kita lakukan tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Sehingga
apa yang ada di sekitar kita merupakan ketetapan dari Allah yang maha kuasa
atas segala sesuatu. Ketetapan yang ada pada kita terkadang tidak sesuai
dengan yang kita harapkan. Tetapi perlu diketahui bahwa Dia lebih tahu
dengan apa yang kita butuhkan saat ini.
Salah satu hal yang sudah menjadi ketetapan dari Allah adalah Rizqi.
Rizqi yang diberikan kepada manusia tentunya sesuai dengan ukuran
kemampuan diri manusia itu sendiri. Meskipun terkadang manusia selalu
merasa kurang dengan apa yang telah diterimanya.Ketetapan rizqi yang
diberikan kepada manusia banyak dijelaskan al-qur’an. Diantara surat-surat
yang membahas hal itu adalah surat al-insyiroh dan al-quraisy yang akan
dijelaskan dalam makalah ini. Meskipun tidak secara langsung Allah
menegaskan tentang hal tersebut, tetapi diantara isi kandungan yang ada di
dalam surat al-insyiroh dan al-quraisy mengenai hal tersebut.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana surah al - Quraisy & surah al-Insyirah?


2. Apakah keterkaitan isi kandungan surah al-quraisy dan al-Insyirah tentang
ketentuan rezeki Allah SWT?
3. Bagaimana menerapkan isi kandungan surah al-Quraisy dan al-Insyirah
tentang ketentuan rezeki Allah SWT., dalam kehidupan?

C. Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui surah surah al - Quraisy & Surah al-Insyirah.


2. Untuk mengetahui keterkaitan isi kandungan surah al-Quraisy dan al-
Insyirah tentang ketentuan rezeki Allah SWT.

1
3. Untuk mengetahui menerapkan isi kandungan surah al-Quraisy dan al-
Insyirah tentang ketentuan rezeki Allah SWT., dalam kehidupan?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Surah Al – Quraisy

‫ب‬َّ ‫) فَ ْليَ ْعبُدُوا َر‬2( ‫ف‬


‫هَ َذا‬ "ِ ‫ص ْي‬ ِّ ‫) إِياَل فِ ِه ْم ِر ْحلَةَ ال‬1( ‫ش‬
َّ ‫شتَا ِء َوال‬ ٍ ‫ف قُ َر ْي‬
ِ ‫إِل ِ ياَل‬
)4( ‫ف‬ ٍ ‫) الَّ ِذي أَ ْط َع َم ُه ْم ِمنْ ُج‬3( ‫ت‬
ٍ ‫وع َوآ َمنَ ُه ْم ِمنْ َخ ْو‬ ِ ‫ا ْلبَ ْي‬

Artinya

Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian


pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah
Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah), Yang telah memberi makanan kepada
mereka untuk menghilangkan rasa lapar dan mengamankan mereka dari
ketakutan.

Tafsiran Ayat

Surat Quraisy adalah surah Makiyyah. Namanya yang dikenal secara


umum aadalah surah Quraisy. Tujuan utama surah ini adalah mengingatkan
suku yang paling berpengaruh di Mekah (Suku Quraisy) tentang betapa besar
nikmat Alloh yang mestinya mereka syukuri dengan jalan mengabdi kepada
Tuhan Yang Maha Esa, tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Ayat pertama disini Alloh mengingkatkan kaum musyrikin Mekah


yang mengaku sebagai pembele-pembela rumah-Nya dan tampil di bawah
pimpinan suku yang paling berpengaruh di sana yaitu Suku Quraisy
mengingatkan mereka agar mensyukuri nikmat yang dilimpahkan kepada
mereka dengan jalan mengabdi kepada Tuhan Pemilik rumah itu. Alloh
berfirman: Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka

2
bepergian pada musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam yakni
Syiria, dan Lebanon. 1

Masyarakat Mekah dikagumi dan ditakuti oleh masyarakat di


sekitarnya karena semua pihak mengagungkan Kab’ah, sedang kaum Quraisy
dengan berbagai cabang-cabang kesukuannya memegang tampuk tanggung
jawab memelihara Ka’bah, memenuhi kebutuhannya serta kebutuhan pokok
para peziarahnya. Karena itu mereka memperoleh rasa aman, baik dalam
tempat pemukiman mereka di Mekah maupun dalam perjalanan mereka ke
luar kota. Penghormatan dan rasa kagum itu bertambah sejak dibinasakannya
oleh Alloh SWT. pasukan bergajah yang sengaja datang untukmerubuhkan
Ka’bah yang diurus oleh penduduk Mekah itu (suku Quraisy). 2

Kata quraisy terambil dari kata at-taqarrusy yang berarti


keterhimpunan, kekuatan dan kesucian dari hal-hal buruk. Penamaan suku itu
demikian untuk memuji mereka dalam pesatuan dan kekokohan mereka serta
sikap yang ditampakan mereka dalam perdagangan. Dalam konteks pujian
terhadap suku ini serta pengaruh mereka yang beitu kuat dalam masyarakat,
Nabi SAW. bersabda: “Al-A’immat(u) min Quraisy yang berarti pemimpin-
pemimpin (hendaknya diangkat) dari suku Quraisy” (HR. Ahmad melalui
Anas Ibin Malik).

Pada ayat ke-2 ini menceritakn perjalanan orang quraisy dalam


berdagang. Pada musim dingin mereka berdagang ke negara Yaman dengan
jalur selatan yaitu, Mekah, Thaif, Asir, San’a (Yaman) dan pada musim panas
mereka berdagang ke Negara Syam (Suriah) dengan jalur utara, Mekah,
Madinah, Damaskus, Hunain, Badar, Ma’an (Syirqil Urdun). Hal ini
disebabkan karena tanah arab yang tandus sehingga mereka dalam mencari
rezeki dari Allah melalui jalur perdagangan.
1
M.Quraisy Syihab, Tafsir al-Misbah,Pesan, Kesan dan Keserasian, (Jakarta: lentera hati,
2002), hlm.558-559
2
A.Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Semarang: PT. Karya Thoha Putra, 1993),
hlm. 92

3
Kata rihlah terambil dari kata rahala yang berarti pergi ke tempat yang
relatif jauh. Rihlah adalah kepergian atau perjalanan yang cukup jauh, yang
dimaksud adalah perjalanan dagang kaum Quraisy yang mereka lakukan dua
kali dalam setahun yaitu pada musim dan musim panas. Perjalanan dagang ini
pertama kali oleh kakek Nabi SAW, Hasyim Ibnu ‘Abd Manaf. Ini
disebabkan karena sebelum itu apabila penduduk Mekah mengalami kesulitan
pangan, pemimpin rumah tangga membawa keluarga mereka ke suatu tempat
tertentu dan membangun kemah buat mereka di sana untuk tinggal sampai
mereka mati kelaparan. Ini mereka istilahkan dengan al-I’tifar.

Ketika itu ada salah satu keluarga Bani Makhzum yang bermaksud
melakukan hal tersebut tetapi beritanya didengar oleh Hasyim, maka beliau
menyampaikan kepada suku Quraisy tentang peristiwa itu dan kemudian
beliau meminta mereka bergotong royong untuk saling membantu. Dari
sinilah kemudian mereka bersepakat untuk melakukan perdagangan dengan
keuntungan yang dibagi rata. Apa yang diperoleh si kaya, diperoleh dalam
kadar yang sama oleh orang miskin. Sikap bergotong royong inilah yang
menjadikan perjalanan dagang itu diabadikan oleh surah ini.3

Inti dari ayat ke-3 dan ke-4 adalah Allah mengingatkan orang Quraisy
supaya bersyukur dengan rezeki yang diberikan dengan cara memanfaatkan
sesuai dengan yang diperintahkan Allah. Karena jaminan keamanan yang
mereka peroleh saat perjalanan itu dan karena keuntungan materil yang
mereka raih itu bersumber dari Alloh SWT maka hendaklah mereka yakni
kaum Quraisy penduduk Mekah itu menyembah Tuhan Pemelihara dan
Pemilik rumah ini yakni Ka’bah yang telah memungkinkan mereka meraih
kedua manfaat sekaligus. Yuhan itulah yang telah memberi makan mereka
setelah lapar atau untuk menghilangkan rasa lapar yang mereka derita,
padahal mereka tinggal di lembah yang tidak bertanaman dan memberi
mereka rasa aman dari ketakutan sedangkan penduduk di sekitar mereka
banyak yang sering kali saling merampok dan membunuh.

3
M.Quraisy Syihab, Tafsir al-Misbah,(Jakarta: lentera hati, 2002), hlm.560

4
Masyarakat Mekah mengakui wujud Alloh dan menyatakan diri
pengikut ajaran Nabi Ibrohim AS. Sehingga seharusnya mereka mengesakan
Alloh, karena itulah inti ajarannya, akan tetapi hal ini bertentangan dengan
realitas yang terjadi di masyarakat Mekah. Alloh pada ayat diatas ditunjuk
dengan kalimat “Pemilik rumah ini” yakni Ka’bah. Hal ini digunakan untuk
mengingatkan mereka bahwa kehormatan yang mereka dapatkan di tengah
masyarakat sekitar, serta rasa aman dan jaminan perjalanan itu disebabkan
karena mereka adalah penduduk kota dimana rumah Alloh itu ada.
Dua hal yang disebut oleh ayat terakhir surat ini yaitu kesejahteraan
yang dicapai dengan tersedianya pangan (pertubuhan ekonomi) serta jaminan
(stabilitas) keamanan merupakan dua hal yang sangat penting bagi
kebahagiaan masyarakat. Kedua hal ini jugalah yang dimohonkan oleh Nabi
Ibrahim ketika berkunjung ke Mekah yakni dengan do’a beliau:

ِ ‫ت َمنْ آ َمنَ ِم ْن ُه ْم بِاهَّلل‬ِ ‫ق أَ ْهلَهُ ِمنَ الثَّ َم َرا‬ ْ ‫اج َع ْل َه َذا بَلَدًا آ ِمنًا َو‬
ْ ‫ار ُز‬ ْ ‫َوإِ ْذ قَا َل إِ ْب َرا ِهي ُم َر ِّب‬
‫صي ُر‬ِ ‫ْس ا ْل َم‬ ِ ‫ضطَ ُّرهُ إِلَى َع َذا‬
َ ‫ب النَّا ِر َوبِئ‬ ْ َ‫اآلخ ِر قَا َل َو َمنْ َكفَ َر فَأ ُ َمتِّ ُعهُ قَلِيال ثُ َّم أ‬
ِ ‫َوا ْليَ ْو ِم‬

“Tuhanku, jadikanlah negri ini negri yang aman sentosa, dan


berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman
diantara mereka kepada Alloh dan hari Kemudian.” Alloh berfirman: “Dan
kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku
paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”
(QS. Al-Baqarah [2]: 126).

B. Surah al-Insyirah

1. Lafal Surah al-InsyirahdanTerjemahannya

َ َ‫) الَّ ِذي أَ ْنق‬2( َ‫ض ْعنَا َع ْن َك ِو ْز َرك‬


‫) َو َرفَ ْعنَا‬3( ‫ض ظَ ْه َر َك‬ ْ َ‫أَلَ ْم ن‬
َ َ‫ش َر ْح لَك‬
َ ‫) َو َو‬1( َ‫صد َْرك‬
َ ‫) فَإِ َذا فَ َر ْغتَ فَا ْن‬6( ‫س ًرا‬
‫ص ْب‬ ْ ‫) إِنَّ َم َع ا ْل ُع‬5( ‫س ًرا‬
ْ ُ‫س ِر ي‬ ْ ‫) فَإِنَّ َم َع ا ْل ُع‬4( َ‫لَكَ ِذ ْك َرك‬
ْ ُ‫س ِر ي‬
)8( ‫ار َغ ْب‬ ْ َ‫) َوإِلَى َربِّ َك ف‬7(

1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,

5
2. dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
3. yang memberatkan punggungmu ?
4. dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,
5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,4
8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

2.      Penjelasan Ayat

Ayat 1 merupakan pertanyaan yang bersifat penegasan bahwa


Allah SWT., telah melapangkan dada (hati) Nabi Muhammad Saw.
Perjuangan beliau menegakkan ajaran islam senantiasa menghadapi
rintangan yang berat. Sebagai manusia, beliau juga merasakan kesedihan
dan keprihatinan karena tekanan yang datang dari kaum kafir Quraisy.
Perlakuan yang tidak manusiawi sering diterima para pengikut beliau.
Misalnya, Yasir dan istrinya yang meninggal karena dipanggang di atas
api, Bilal bin Rabah yang hamper mati disiksa oleh Umayyah. Nabi
Muhammad Saw., pun merasakan sendiri ketika diboikot di Syi’b. Beliau
harus makan daun-daunan untuk sekedar mengisi perut. Semua itu beliau
jalani dengan sabar atas limpahan nikmat dari Allah SWT.

Pada ayat 2-3, Allah SWT., berfirman, “Dan Kami pun telah
menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu.” Orang
yang memiliki rasa tanggung jawab pasti berusaha untuk dapat
melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadanya. Nabi Muhammad
4
Abd. Bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2008), hlm.378

6
Saw., adalah contoh orang yang memiliki rasa tanggung jawab besar.
Tugas dakwah yang diamanahkan kepada beliau ternyata berat, sekan-
akan membuat tulang punggung menjadi bungkuk memikulnya. Selama
kurang lebih 3 tahun berdakwah secara sembunyi-sembunyi, beliau
memperoleh pengikut 39 orang. Itu banyak berasal dari orang-orang yang
lemah. Beban berat ini dijawab oleh Allah SWT., denagn memberikan
rasa ringan.

Pada ayat 4 Allah SWT., memberikan penghargaan kepada Nabi


Muhammad Saw., atas kesabarannya melaksanakan tugas dakwah.
Penghargaan itu berupa pengangkatan nama beliau. Penghargaan ini
belum pernah diberikan Allah SWT., kepada siapa pun. Maksud
pengangkatan nama ini, antara lain sebagai berikut. 5

1) Nama beliau diserangkaikan dengan nama Allah SWT., sebagaimana


dalam lafal dua kalimat syahadat, azan, dan iqamah.
2) Keimanan seseorang tidak berarti tanpa disertai keimanan kepada
beliau.
3) Beliau dijadikan suri teladan bagi seluruh manusia, dikarenakan
akhlaq beliau adalah akhlaq qur’an.
4) Allah, malaikat dan seluruh ummat Islam senantiasa mengucapkan
sholawat dan salam kepada beliau.

Pada ayat 5-6, Allah SWT., memberi motivasi kepada Nabi


Muhammad Saw., dan para sahabatnya. Perjuangan berat yang beliau
jalani akan membawa hasil yang gemilang. Hasil ini dapat beliau
saksikan ketika terjadi penaklukkan kota Mekkah pada tahun 8 Hijriah.
Orang0orang kafir yang dahulu membenci dan memusuhi beliau, kini
menjadi tunduk dan taat. Mereka banyak yang masuk Islam. Peristiwa

5
M. Quraisy Syihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dean Keserasian Al-Qur’an.
(Tanggerang: Lentera Hati,2002), hlm. 32

7
itu membuat beliau terharu dan menangis di atas al-Qaswa (nama unta
kesayangan beliau).

Pada ayat 7, Allah SWT., mengingatkan Nabi Muhammad Saw.,


dan pengikutnya agar tidak cepat puas dengan hasil usahanya. Setelah
memperoleh hasil dari satu usahanya, seperti penaklukkan kota mekkah,
hendaklah mempersiapkan diri untuk usaha yang lain. Hal itu dibuktikan
Nabi Muhammad Saw., dan para sahabatnya dalam mengembangkan
dakwah Islam. Setelah penaklukkan kota Mekkah, Islam makin
berkembang ke seluruh jazirah Arab, bahkan ke luar dari Negara Arab.

Pada ayat 8, Allah SWT., mengingatkan beliau dan para


sahabatnya agar senantiasa bersandar kepada Allah SWT. Dalam
kenyataannya, manusia hanya mampu berusaha. Keberhasilan usaha
tersebut sepenuhnya menjadi hak Allah SWT. Oleh karena itu, manusia
harus senantiasa hanya memohon kepada Allah SWT., atas keberhasilan
usahanya. Hanya Allahlah tempat berharap.

3.  Isi kandungan Surah Al-Insyirah

Surah Al-Insyirah turun sebelum Nabi Muhammad berhijrah ke


Madinah. Al-Insyirah artinya kelapangan dada. Surat ini juga dinamakan
dengan al-Syarh. Ada juga yang menyebutnya surat Alam Nasyrah.
Semua nama tersebut merujuk ke ayat pertamanya.6

Surat al-Insyirah adalah surah ke-94, termasuk wahyu yang ke-12


yang diterima Nabi Muhammad Saw. Ia turun sesudah surat ad-Duha dan
sebelum al-‘Ashr. Ia terdiri dari 8 ayat.

6
M. Quraisy Syihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dean Keserasian Al-Qur’an,
(Tanggerang: Lentera Hati,2002), hlm. 33-33

8
Menjelang turunnya surah ad-Dhuha, Rasulullah Saw sangat
gelisah dan bimbang, karena lama tidak mendapatkan wahyu lagi dari
Allah. Sedangkan ketika turunnya surat ini, kegelisahan dan
kekhawatiran tersebut telah hilang. Beliau merasakan kelapangan dada
dan jiwa yang tenang. Oleh karena itu pada awal surat ini Allah
mengingatkan beliau tentang anugerah tersebut.

Isi kandungan surat ini berkaitan dengan akhir surat sebelumnya,


ad-Duha. Yaitu perintah untuk menyampaikan dan menunjukkan nikmat-
nikmat Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Diantara nikmat itu adalah
wahyu yang selama ini telah beliau terima. Dalam surat ini beliau
diingatkan agar terus menyampaikan dakwahnya, walaupun
penyampaian itu berat dan mendapat penolakan oleh banyak manusia.
Beliau tidak perlu khawatir dan berkecil hati, karena Allah akan selalu
bersama beliau.

Ayat pertama dalam surah insyirah berbicara tentang kelapangan


dada dalam pengertian immaterial yang dapat menghasilkan kemampuan
menerima dan menemukan kebenaran, hikmah, kemudahan dan
kebijaksanaan, serta kesanggupan menampung bahkan memaafkan

kesalahan dan gangguan-gangguan orang lain. Kata ‫رشح‬ serupa

maknanya dengan doa Nabi Musa As ;7

‫يَ ْفقَهُوا قَوْ لِي‬  ‫ َواحْ لُلْ ُع ْق َدةً ِم ْن لِ َسانِي‬  ‫ص ْد ِري] َويَسِّرْ لِي أَ ْم ِري‬
َ ‫َربِّ ا ْش َرحْ لِي‬

Artinya :

7
A. Mustafa Al-Maraghi, TafsirAl Maragi, ( PT. Karya Toha Putra Semarang, 1989) , hlm.
68-70

9
Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku
urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka
mengerti perkataanku

Ayat 2-3, menegaskan bahwa disamping anugrah kemudahan


yang akan diperoleh Nabi, ayat di atas melanjutkan bahwa: Dan
disamping itu Kami juga telah menanggalkan darimu beban yang selama
ini engkau pikul dan engkau rasakan sangat memberatkan punggungmu.
Dari ayat ini dapat diketahui betapa berat beban yang dipikul oleh Nabi
Muhammad. Al-Qur’an tidak menjelaskan tentang beban itu, karenanya
timbul berbagai pendapat ulama antara lain:

a. Wafatnya istri beliau Khadijah RA dan paman beliau Abu Thalib.


b. Beratnya wahyu Al-Qur’an yang baru diterima.
c. Keadaan masyarakat pada zaman Jahiliyah

Ayat ke-4 menegaskan anugrah Allah yang lain yakni, disamping


kemudahan dan keringanan beban pada ayat ini Allah memberikan
penghargaan kepada Nabi Muhammad berupa:

a. Nama Nabi Muhammad disejajarkan dengan Allah dalam kalimat


syahadat
b. Seseorang tidak dianggap beriman bila tidak beriman kepada
Muhammad
c. Nama dan sifat Nabi tercantum di kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an
d. Nabi Muhammad dijadikan suri tauladan bagi seluruh umat manusia
e. Semua umat Islam senantiasa menucapkan sholawat kepada Nabi
Muhammad8

8
M. Quraisy Syihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dean Keserasian Al-Qur’an,
(Tanggerang: Lentera Hati,2002), hlm. 39

10
Dalam ayat ke-5 dan ke-6, Allah menyatakan bahwa jika engkau
telah mengetahui dan menyadari betapa besar anugrah Allah itu maka
dengan demikian, menjadi jelas pula bagimu wahai Nabi agung bahwa 
sesungguhnya bersama atau sesaat sesudah kesulitan ada kemudahan
yang besar, sesungguhnya setelah kemudahan ada kesulitan yang besar.
Ayat 5 dan 6 disini sesuai jalannya dengan isyarat yang dikandung dalam
firman Allah:

‫صي ٌر‬ َ َ ‫َذلِ َك بِأَنَّ هَّللا َ يُولِ ُج اللَّ ْي َل فِي النَّ َها ِر َويُولِ ُج النَّ َها َر فِي اللَّ ْي ِل َوأَنَّ هَّللا‬
ِ َ‫س ِمي ٌع ب‬

“Yang demikian itu, adalah karena Sesungguhnya Allah (kuasa)


memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam
malam dan bahwasanya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.”

C. Keterkaitan Isi Kandungan Surah al-Quraisy dan al-Insyirah


tentang Ketentuan Rezeki Allah SWT.

Surah al-Quraisy dan al-Insyirah memiliki keterkaitan tentang


ketentuan rezeki Allah SWT., antara lain sebagai berikut.

1.   Keduanya berisi tentang pemberiaan Allah yang telah menyediakan rezeki


untuk kebutuhan manusia. Pernyataan bahwa Allah telah menyediakan
rizki kepada setiap manusia ini relavan dengan QS. Hud: 6, yang
menyatakan bahwasanya:

‫ست َْو َد َع َها‬ ْ ‫ض إِال َعلَى هَّللا ِ ِر ْزقُ َها َويَ ْعلَ ُم ُم‬
ْ ‫ستَقَ َّرهَا َو ُم‬ ِ ‫األر‬
ْ ‫َو َما ِمنْ دَابَّ ٍة فِي‬
ٍ ‫ُك ٌّل فِي ِكتَا‬
‫ب ُمبِي ٍن‬

11
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah
yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu
dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata
(Lauh Mahfuzh).”

2.   Keduanya berisi tentangrezeki yang diberikan Allah SWT., kepada hamba-
Nya sangat banyak macamnya. Dalam surah al-Quraisy, dijelaskan bahwa
rezeki Allah SWT., ada yang berupa harta hasil perniagaan, makanan, rasa
aman, dan dijauhkan dari rasa cemas. Adapun dalam surah al-Insyirah,
disebutkan beberapa rezeki Allah SWT., antara lain sikap lapang dada
(sabar) dalam berdakwah, diringankan dari beban yang terasa berat dalam
berdakwah, diangkatnya nama Nabi Muhammad Saw., dan kemudahan-
kemudahan yang diberikan Allah SWT.
3.  Dalam surah al-Quraisy dijelaskan bahwa rezeki Allah SWT., akan
diperoleh dengan usaha yang dilakukan manusia, seperti berdagang.
Adapun dalam surah al-Insyirah, terdapat perintah memanfaatkan waktu.
Waktu sangat berharga bagi manusia. Dengan demikian, manusia wajib
berusaha mencari rezeki Allah SWT., untuk memnuhi kebutuhannya.

D. Menerapkan Isi Kandungan Surah al-Quraisy dan al-Insyirah


tentang Ketentuan Rezeki Allah SWT., dalam Kehidupan

Agar perbuatan yang kita lakukan dalam kehidupan ini mempunyai


arti, perbuatan tersebut harus memiliki tujuan yang jelas. Begitupun dalam
mempelajari al-Qur’an. Tujuan mempelajari al-Qur’an ialah untuk
mengetahui maksud ayat yang dipelajari, kemudian diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Adapun penerapan surah al-Quraisy dan al-Insyirah
berkaitan dengan ketentuan rezeki Allah SWT., dalam kehidupan sehari-hari,
antara lain:9
9
T. Ibrahim dan H. Darsono, Pemahaman Al-Qur’an dan Hadis untuk Kelas VIII Madrasah
Tsanawiyah, (Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2013), h. 18-21.

12
1.  Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk kegiatan yang bermanfaat dan
berdaya guna sesuai petunjuk agama;
2.   Tidak bermalasan-malasan sehingga waktu tidak terbuang sia-sia;
3.   Berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencari rezeki Allah SWT.;
4.   Menjaga diri agar tidak melanggar norma agama saat berusaha sehingga
hasil yang diperoleh halal dan diridhoi Allah SWT.;
5.   Mensyukuri hasil yang diperoleh sesuai petunjuk agama;
6.   Memanfaatkan hasil yang diperoleh sebaik-baiknya untuk kepentingan
agama dan manusia; dan
7.   Menggunakan hasil yang diperoleh sesuai ketentuan agama.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Surat Quraisy adalah surah Makiyyah yang tujuan utama surah Quraisy
adalah mengingatkan suku yang paling berpengaruh di Mekah (Suku
Quraisy) tentang betapa besar nikmat Alloh yang mestinya mereka syukuri
dengan jalan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, tanpa
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, sedangkan tema utama surah
Al Insyiroh adalah penenangan hati Nabi Muhammad saw.menyangkut masa
lalu dan masa datang beliau, serta tuntutan untuk berusaha sekuat tenaga dan
penuh optimisme.

Kedua surat tesebut diatas berisi tentang rezeki yang diberikan Allah
kepada makhluknya banyak macamnya. QS. Quraisy menjelaskan rezeki dari
Allah tentang harta perniagaaan, makanan, rasa aman dan jauh dari rasa
cemas. Sedangkan QS. Al-Insyirah menjelaskan beberpaa rezeki dari Allah

13
adalah bersikap lapang dada (sabar) dalm berdakwah, diringankan dari beban
yang berat dan kemudahan yang diberikan kepada Naabi Muhammad.

Pesan lain dari surah Quraisy yaitu menjelaskan rezeki dari Allah akan
diperoleh dengan usaha manusia seperti bertani, berdagang, pegawai, buruh
dsb. Sedangkan QS Al-Insyirah menjelaskan manusia harus pandai
memanfaatkan waktu untuk mencari rezeki guna memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Oleh karenanya sebagai ummat Islam yang bertaqwa maka hendaknya kita
menjalankan segala perintah dan larangan Alloh, apalagi peintah Alloh yang
sudah tercantum di surah Al-Qur’an seperti QS. Al-Insyiroh dan Quraisy
maka tidak ada alasan lain selain mendengarkan dan mengamalkan

14
DAFTAR PUSTAKA

T. Ibrahim dan H. Darsono, Pemahaman Al-Qur’an dan Hadis untuk Kelas VIII
Madrasah Tsanawiyah, Solo, PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2013.

Bin Muhammad, Abd, Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2008

Mustafa al-Maraghi,Ahmad, Tafsir al-Maraghi, Semarang: Karya Thoha Putra,


1993

Mustafa al-Maraghi, Ahmad, TafsirAl Maragi, Karya Toha Putra Semarang, 1989

Quraisy Syihab, Muhammad, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian,


Jakarta: lentera hati, 2002

15