Anda di halaman 1dari 27

SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

"BALISA (BIOBATERAI LIMBAH CAIR SAYUR – SAYURAN) DENGAN


PENAMBAHAN MFC (MICROBA FUEL CELL) RAGI TAPE SEBAGAI SUMBER
ENERGI LISTRIK ALTERNATIF TERBARUKAN”

OLEH :
1. Mohammad Fahmi Fatikhul Umam NIS : 13411
2. Batrisyia Rosieta Widanty NIS : 13726

SMA DARUL ‘ULUM 1 UNGGULAN BPP-TEKNOLOGI


PETERONGAN JOMBANG1
2015/2016
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat dan
kasih – Nya, kami berhasil menyelesaikan karya tulis ini dengan judul “BALISA (Biobaterai
Limbah Cair sayur-Sayuran) dengan Penambahan MFC (Microba Fuel Cell) Ragi Tape
Sebagai Sumber Energi Listrik Alternatif Terbarukan”. Karya tulis ilmiah ini disusun dalam
rangka mengikuti lomba Karya Tulis Ilmiah “LKIR” Tingkat Nasional yang diselenggarakan
oleh Lembaga Ilmi Pengetahuan Indonesia.

Proses penyusunan karya tulis ini melibatkan banyak pihak terkait. Untuk itu, kami
mengucapkan terima kasih atas dukungan dan bantuan yang diberikan dengan tulus, terutama
kepada :

1. Bapak Drs. H. Muhaimin Ms. M.Pd. selaku kepala SMA Darul Ulum 1 Unggulan
BPPT.
2. Bapak Ismail Harianto, S.Pd. selaku pembimbing pada penulisan karya tulis ilmiah
ini.
3. Orang tua kami yang selalu memberikan dukungan baik materiil dan moril.
4. Teman – teman SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT yang telah mendukung dan
memotivasi kami.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan karya tulis ilmiah ini jauh dari
sempurna. Karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari
pembaca.

Jombang, 07 Juni 2015

Penulis

2
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

DAFTAR ISI

Halaman Judul ...................................................................................................... i

Lembar pengesahan .............................................................................................. ii

Kata pengantar....................................................................................................... iii

Daftar isi................................................................................................................ v

Abstrak.................................................................................................................. vi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah............................................................................... 2
C. Batasan Masalah.................................................................................. 2
D. Tujuan Penelitian................................................................................. 3
E. Manfaat Penelitian............................................................................... 3

BAB II KAJIAN PUSTAKA


A. Limbah Sayur - Sayuran...................................................................... 4
B. Ragi Tape............................................................................................. 6
C. Fermentasi........................................................................................... 7
D. Sel Elektrokimia.................................................................................. 9
E. Microbial Fuel Cell (MFC)................................................................. 11
F. Derajat Keasaman................................................................................ 12
G. GGL dan Tegangan Jepit..................................................................... 13
H. Penelitian yang Relevan...................................................................... 15
I. Kerangka Pikir..................................................................................... 16
J. Rumusan Hipotesis.............................................................................. 17

BAB III METODE PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu Penelitian............................................................. 18
3
B. Metode Penelitian............................................................................... 18
C. Alat dan Bahan................................................................................... 19
D. Langkah - Langkah Percobaan........................................................... 20
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

ABSTRAK

Mohammad Fahmi Fatikhul Umam, Batrisyia Rosieta Widanty.2015.Balisa (Biobaterai


Limbah Cair Sayur – Sayuran) Dengan Penambahan Mfc (Microba Fuel Cell) Ragi Tape
Sebagai Sumber Energi Listrik Alternatif Terbarukan. SMA Darul ‘Ulum 1 Unggulan BPP-
Teknologi Peterongan Jombang.

Berbagai macam penelitian telah dilakukan dengan tujuan memanfaatkan dan


menemukan sumber energi terbarukan. Pengembangan sumber - sumber energi baru dari
limbah organik yang diolah secara reaksi kimia merupakan salah satu sumber energi alternatif
terbarukan.

Penelitian memanfaatkan limbah cair sayur - sayuran yang ditambah ragi tape sebagai
elektrolit MFC (Microba Fuel Cell) menjadi sumber energi listrik terbarukan. Tujuan
penelitian adalah mengetahui apakah limbah cair sayur-sayuran dapat dimanfaatkan menjadi
sumber energi listrik alternatif terbarukan, bagaimana pengaruh jumlah sel dan penambahan
MFC (Microba Fuel Cell) ragi tape terhadap nilai tegangan yang dihasilkan dan berapakah
hambatan dari sistem. Penulis mengaplikasikannya dengan membuat elektrolit dari campuran
ragi tape dengan limbah sayur – sayuran berupa tomat, wortel, kentang, dan cabai yang sudah
dihaluskan dengan cara diblender, Kemudian difermentasikan selama 1 hari sampai 4 hari,
untuk menghasilkan tegangan listrik yang optimal, selanjutnya memasukkan elektroda seng
dan tembaga pada setiap gelas beaker berisi limbah cair sayur – sayuran, setelah elektroda
terpasang pada larutan elektrolit limbah cair sayur – sayuran tersebut, dilakukan pengukuran
tegangan dengan variasi lamanya fermentasi dan jumlah sel yang berbeda - beda.

Hasil dari penelitian kami menunjukkan dengan penambahan ragi tape dapat
menghasilkan tegangan listrik yang lebih besar, dikarenakan dalam ragi tape terdapat
kandungan MFC yang terdiri atas  Saccharomyces cerevisiae, Pediococcus sp., Bacillus sp
yang berperan sebagai katalisator selama reaksi elektrokimia berlangsung. Semakin lama
proses fermentasi, nilai tegangan yang dihasilkan semakin besar selama 4 hari dihasilkan 0,96
volt dari nilai 0,85 volt sebelum difermentasi. Dikarenakan nilai tegangan berbanding lurus
dengan lamanya proses fermentasi. Namun setelah dirangkai dengan lampu dan dapat
menyala, nilai tegangan mengalami penurunan dari 3,82 volt menjadi 2,54 volt dikarenakan
adanya hambatan sistem dari limbah dan setelah dihitung menggunakan persamaan hukum
Ohm diperoleh nilai hambatan dalam dari limbah cair sayur – sayuran sebesar 1,76 Ohm.
Artinya semakin besar hambatan dalam sistem maka kualitas limbah sebagai elektrolit
semakin rendah.

Kata kunci: limbah sayur-sayuran, ragi tape, MFC (Microba Fuel Cell), dan fermentasi.

4
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan teknologi yang sangat cepat diikuti oleh kebutuhan yang semakin
besar. Namun, kebutuhan yang semakin besar tidak diimbangi dengan ketersediaan
sumber energi yang cukup. Kebutuhan yang meningkat idealnya diimbangi dengan
jumlah sumber daya energi yang seimbang. Hal tersebut membutuhkan adanya energi
agar semua alat dan teknologi bisa kita gunakan dengan baik kapanpun dan dimanapun.
Contohnya sumber energi tersebut adalah minyak bumi (sumber energi yang tidak dapat
diperbaharui) yang diolah lagi menjadi BBM (Bahan Bakar Minyak). Semakin kita
mengambil hasil kekayaan alam secara terus menerus akan mengakibatkan kehabisan
bahkan menyebabkan kerusakan pada alam ini terutama sumber energi yang tidak bisa
diperbaharui.

Selain itu krisis energi adalah masalah yang sangat fundamental, khususnya
masalah energi listrik. Energi listrik merupakan energi yang sangat diperlukan untuk
melakukan aktivitas sehari-hari. Sumber energi listrik yang berasal dari batu bara dan
minyak bumi, berdampak tidak ramah lingkungan karena menimbulkan polusi udara, dan
untuk memperbaharuinya memerlukan waktu yang lama. Untuk itu sumber-sumber
energi baru perlu diberdayakan karena penggunaan bahan bakar seperti fosil akan habis
kurang lebih 17 tahun mendatang.

Kebutuhan akan sumber energi baru dan terbarukan sedang dikembangkan


melalui penelitian-penelitian salah satu bidang penelitian yang dikembangkan adalah
bioteknologi. Bioteknologi dapat menghasilkan sumber energi listrik yang berasal dari
bahan-bahan organik yang ramah lingkungan, aman bagi manusia, mudah didapat, serta
dapat terus diperbaharui (Muhammad Imaduddin, 2014. Nareswati Dwi Utari, 2014. dan
Bustami Ibrahim, 2014). Fuel cell, geothermal, angin, dan cahaya adalah beberapa
contoh sumber penghasil energi yang sedang dikembangkan secara massal di dunia,
namun hal ini tidak menutup kemungkinan adanya pengembangan sumber-sumber energi
pembaharuan lainnya seperti menggunakan energi yang 5berasal dari mikroba. Jadi, kita
harus mencari dan menemukan energi pembaharuan dimasa depan dengan ide yang
efektif, inovatif, ramah lingkungan, bahkan praktis agar dunia ini terus bersinar hingga di
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

masa yang akan datang

Berdasarkan hasil observasi sampah sayur-sayuran di daerah penulis yaitu


Peterongan Jombang. Sampah atau limbah sayur-sayuran tersebut mencemari sungai
sekitar pondok, dan menyumbat semua drainase yang ada. Bahkan sampai menggangu
indera penciuman warga karena limbah tersebut dalam jumlah yang tidak sedikit dan
busuk. Hal ini mendorong penulis membuat suatu terobosan baru bagaimana cara
mengolah limbah menjadi bahan yang bermanfaat dan tidak mencemari lingkungan.
Melalui limbah cairan sayur - sayuran dengan bantuan ragi tape sebagai MFC (Microba
Fuel Cell), hal tersebut dapat direalisasikan walaupun energi yang dihasilkan bukanlah
sumber energi yang utama bagi kehidupan sekarang.

Jadi dengan adanya hal tersebut, juga bisa mengurangi limbah sayur-sayuran
yang jumlahnya berlimpah di lingkungan kita, dengan cara memanfaatkan sesuatu hal
yang bermanfaat, praktis, inovatif, salah satunya adalah meningkatkan sumber energi
listrik di Indonesia yaitu dengan adanya memanfaatkan limbah sayur-sayuran. Oleh
karena itu, penulis melakukan penelitian yang berjudul Pemanfaatan Limbah Cair Sayur
- Sayuran dengan Penambahan MFC (Microba Fuel Cell) Ragi Tape Sebagai Sumber
Energi Listrik Alternatif Terbarukan”.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah limbah cair sayur-sayuran dapat diolah menjadi sumber energi listrik
alternatif terbarukan ?

2. Bagaimanakah pengaruh lamanya fermentasi melalui penambahan MFC (Microba


Fuel Cell) ragi tape terhadap nilai tegangan yang dihasilkan ?

3. Bagaimanakah pengaruh jumlah sel pada rangkaian seri terhadap nilai tegangan
yang dihasilkan ?

4. Berapakah nilai hambatan dalam yang dimiliki limbah cair sayur-sayuran ?

C. Batasan Masalah

Limbah cair sayur-sayuran dalam penelitian ini meliputi kentang, tomat dan wortel.
6

D. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui apakah limbah cair sayur-sayuran dapat diolah menjadi sumber energi
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

listrik alternatif terbarukan.

2. Mengetahui pengaruh lamanya fermentasi melalui penambahan MFC (Microba


Fuel Cell) ragi tape terhadap nilai tegangan yang dihasilkan.

3. Mengetahui pengaruh jumlah sel pada rangkaian seri terhadap nilai tegangan yang
dihasilkan.

4. Mengetahui nilai hambatan dalam yang dimiliki oleh limbah cair sayur-sayuran

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Bagi penulis, sebagai sarana untuk melatih kepekaan dalam upaya memanfaatkan
sumber daya alam yang belum diberdayakan serta meningkatkan daya kreatifitas,
khususnya dalam menuangkan gagasan, pendapat, pikiran, dan perasaannya dalam
bentuk karya ilmiah.
2. Bagi sekolah, sebagai  menambah khasanah keilmuan di sekolah
3. Bagi masyarakat, lingkungan, dan negara, sebagai pedoman atau ajakan untuk dapat
mengelola limbah sayur – sayuran dengan penembahan ragi tape sebagai sumber
energi alternatif yang dapat meningkatkan potensi daerah.

7
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Limbah Sayur - Sayuran

1. Pengertian Limbah

Limbah atau sampah diartikan sebagai kotoran hasil pengolahan limbah


pabrik ataupun manusia yang mengandung zat kimia berupa sampah dan dapat
menimbulkan polusi serta menganggu kesehatan. Pada umumnya sebagian besar
orang mengatakan bahwa sampah sama sekali tidak berguna dan harus di buang,
namun jika pembuangan dilakukan secara terus menerus maka akan menimbulkan
penumpukan sampah (Anonim, 2013).

Limbah bukanlah suatu hal yang harus di buang tanpa guna, karena dengan
pengolahan dan pemanfaatan secara baik limbah akan menjadi barang yang lebih
berguna dari sebelumnya (Anonim, 2013). Limbah akan menjadi suatu yang sangat
berguna dan memiliki nilai jual tinggi kala limbah diolah secara baik dan benar.
Limbah yang tidak diolah akan menyebabkan berbagai polusi baik polusi udara,
polusi air, polusi tanah dan juga polusi lain yang akan menjadi sarang penyakit
(Kandi, 2006).

Dari pengertian limbah yang ada, limbah di golongkan menjadi 2 jenis limbah, yaitu:

a. Limbah organik

Limbah organik termasuk pada jenis limbah yang mudah diuraikan zat-
zatnya menjadi partikel-partikel yang baik untuk lingkungan. Limbah organik
bisa berupa sampah rumah tangga misalnya sampah sayur-sayuran dan buah-
buahan.

b. Limbah anorganik

Limbah anorganik merupakan limbah yang berasal dari limbah industri


atau pabrik. Limbah industri anorganik yang tidak dapat diuraikan ini akan
berbahaya bagi kesehatan dan menjadi sampah yang tidak berguna bagi manusia
maupun lingkungan sekitar. Limbah rumah tangga yang berupa benda-benda
8
berkas yang berupa plastik, kaleng bekas, botol-botol bekas dan peralatan yang
lain juga di katakan menjadi limbah anorganik karena limbah ini tidak mampu
diuraikan.
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

2. Kentang

Menurut sejarahnya, kentang berasal dari lembah - lembang dataran tinggi di


Chili, Peru, dan Meksiko. Jenis tersebut diperkenalkan bangsa Spanyol dari Peru
ke Eropa sejak tahun 1565. Semenjak itulah, kentang menyebar ke negara – negara
lain, termasuk Indonesia. Menurut catatan awal di Indonesia, tumbuhan ini mulai
ada semenjak tahun 1794, dimulai dengan penanaman di sekitar Cimahi.Semenjak
itu, kentang dapat ditemui pula di Priangan dan Gunung Tengger. Pada tahun 1812,
kentang sudah dikenal dan dijual di Kedu. Sedangkan, di Sumatera tumbuhan ini
dikenal setahun sebelumnya, 1811. Kentang tumbuh di pegunungan dengan
ketinggian antara 1000 mdpl hingga 2000 mdpl, pada tanah humus.

Tabel 2.1 Komposisi kimiawi kentang

Komponen Jumlah

Protein 2.00

Lemak 0.10

Karbonhidrat 19.10

Kalsium 11.00

Fosfar 56.00

Serat 0.30

Zat besi 0.70

Niasin 1.40

Energi 83.00

3. Tomat

Tomat merupakan klasifikasi dari buah maupun sayuran, walaupun struktur


tomat adalah struktur buah. Tomat (Lycopersicum esculentum) merupakan salah
9
satu produk hortikultura yang berpotensi, menyehatkan dan mempunyai prospek
pasar yang cukup menjanjikan. Tomat, baik dalam bentuk segar maupun olahan,
memiliki komposisi zat gizi yang cukup lengkap dan baik. Buah tomat terdiri dari 5-
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

10% berat kering tanpa air dan 1 persen kulit dan biji. Jika buah tomat dikeringkan,
sekitar 50% dari berat keringnya terdiri dari gula-gula pereduksi (terutama glukosa
dan fruktosa), sisanya asam-asam organik, mineral, pigmen, vitamin dan lipid.
Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) termasuk tanaman setahun (annual) yang
berarti umurnya hanya untuk satu kali periode panen. Tanaman ini berbentuk perdu
atau semak dengan panjang bisa mencapai 2 meter (Wiryanta,2002).

4. Wortel

Asal usul wortel tidak begitu jelas karena hampir terdapat di seluruh dunia
secara merata. Di Eropa dan Amerika penanaman wortel dilakukan bersama sama
dengan radish, sedangkan di Indonesia penanaman wortel umumnya bersama-sama
jagung, ubi, bawang bakung, lobak dan kentang.

Wortel segar dapat diolah lebih lanjut dengan cara dikalengkan, dikeringkan
dandan diawetkan untuk makanan bayi. Selain itu wortel dapat dibuat menjadi sari
wortel yang dibotolkan. Kandungan utama wortel adalah air sebanyak 88,2 persen.
Wortel segar banyak mengandung gizi antara lain karoten, protein, vitamin dan
mineral-mineral.

Tabel 2.2 Komposisi kimiawi wortel

Komponen Jumlah

Energi 36.0

Protein 1.0

Lemak 0.6

Karbonhidrat 7.9

Serat 1.0

Kalsium 45.0

Fosfar 74.0

Besi 1.0

Natrium 70.0
10
Tiamin 0.04

Nitasin 1.0
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

5. Cabai

Cabai atau cabai merah atau chili adalah buah dan tumbuhan


anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu,
tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer
di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan. Bagi seni masakan Padang, cabai
bahkan dianggap sebagai "bahan makanan pokok" ke sepuluh (alih-alih sembilan).
Sangat sulit bagi masakan Padang dibuat tanpa cabai.

B. Ragi Tape

Starter yang digunakan untuk produksi tape disebut ragi, yang umumnya
berbentuk bulat pipih dengan diameter 4 – 6 cm dan ketebalan 0,5 cm. Tepung beras
yang bersih dicampur dengan air untuk membentuk pasta dan dibentuk pipih dengan
tangan, kemudian diletakkan di atas nyiru yang dilambari merang dan ditutup dengan
kain saring. Organisme akan tumbuh secara alami pada pasta ini pada suhu ruang dalam
waktu 2 – 5 hari.

Beberapa pengusaha menambahkan rempah-rempah atau bumbu untuk


mendukung pertumbuhan mikroorganisme yang diharapkan. Penambahan sari tebu juga
dilakukan untuk menambah gula. Ragi dipanen setelah 2 – 5 hari tergantung dari suhu
dan kelembapan. Produk akhir akan berbentuk pipih kering dan dapat disimpan dalam
waktu lama. Tidak ada faktor-faktor lingkungan yang dikendalikan. Mikroorganisme
yang diharapkan maupun kontaminan dapat tumbuh bersama-sama. Pada lingkungan
pabrik ragi, mikroflora yang ada telah didominasi mikrobia ragi. Namun demikian, ragi
yang dibuat pada musim hujan akan dijumpai Mucor sp dan Rhizopus sp dalam jumlah
yang lebih banyak dan dibutuhkan waktu pengeringan yang lebih lama.

Jika pasta tetap basah, mikroorganisme tumbuh dan menggandakan diri. Jumlah
kapang pada ragi berkisar dari 8 X 107 sampai 3 X 108/g, khamir 3 X 106 sampai 3 X
107/g dan bakteri kurang dari 105/g. Organisme yang menghasilkan tape dengan aroma
baik adalah gabungan dari Amylomyces rouxii, Endomycopsis fibuliger dan Hansenula
anoma. Untuk tape singkong yang adalah A. Rouxii dan E. Fibuliger.
11
C. Fermentasi

1. Pengertian Fermentasi
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

Respirasi anaerob (fermentasi) adalah respirasi yang terjadi dalam keadaan


ketidaktersediaan oksigen bebas. Asam piruvat yang merupakan produk glikolisis
jika dalam keadaan ketiadaan oksigen bebas akan diubah menjadi alkohol atau asam
laktat.

Pada manusia, kekurangan oksigen sering terjadi pada atlet-atlet yang berlari
jarah jauh dengan kencang. Atlet tersebut membutuhkan kadar oksigen yang lebih
banyak daripada yang diambil dari pernafasan. Dengan kurangnya oksigen dalam
tubuh, maka proses pembongkaran zat dilakukan dengan cara anaerob, yang disebut
dengan fermentasi. Fermentasi tidak harus selalu dalam keadaan anaerob. Beberapa
jenis mikroorganisme mampu melakukan fermentasi dalam keadaan aerob.
(Meirisda, 2013)

2. Mikroba yang Berperan Dalam Proses Fermentasi

a. Fermentasi Asam Asetat

Bakteri Acetobacter aceti merupakan bakteri yang mula pertama diketahui


sebagai penghasil asam asetat dan merupakan jasad kontaminan pada pembuatan
wine. Saat ini bakeri Acetobacter aceti digunakan pada produksi asam asetat
karena kemampuanya mengoksidasi alkohol menjadi asam asetat.

b. Fermentasi Asam Laktat

Fermentasi asam laktat banyak terjadi pada susu. Jasa yang paling
berperan dalam fermentasi ini adalah Lacobacillus sp. Laktosa diubah menjadi
asam laktat.

c. Fermentasi Asam Sitrat

Asam sitrat dihasilkan melalui fermentasi menggunakan jamur


Aspergillus niger. Meskipun beberapa bakteri mampu melakukan, namun yang
paling umum digunakan adalah jamur ini. Pada kondisi aerob jamur ini mengubah
gula atau pati menjadi asam sitrat.

d. Fermentasi Asam Glutamat 12

Asam glutamat digunakan untuk penyedap makanan sebagai penegas rasa.


Mula pertama dikembangkan di Jepang. Organisme yang kini banyak digunakan
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

adalah mutan dari Corynebacterium glutamicu.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fermentasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses fermentasi untuk menghasilkan


etanol adalah sumber karbon, gas karbondioksida, pH substrat, nutrien, temperatur,
dan oksigen.

Untuk pertumbuhannya, yeast memerlukan energi yang berasal dari karbon.


Gula adalah substrat yang lebih disukai. Oleh karena itu konsentrasi gula sangat
mempengaruhi kuantitas alkohol yang dihasilkan.

Kandungan gas karbondioksida sebesar 15 gram per liter (kira-kira 7,2 atm)
akan menyebabkan terhentinya pertumbuhan yeast, tetapi tidak menghentikan
fermentasi alkohol. Pada tekanan lebih besar dari 30 atm fermentasi alkohol baru
terhenti sama sekali.

a. pH

pH dari media sangat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme.


Setiap mikroorganisme mempunyai pH minimal, maksimal, dan optimal untuk
pertumbuhannya. Untuk yeast, pH optimal untuk pertumbuhannya ialah berkisar
antara 4,0 sampai 4,5. Pada pH 3,0 atau lebih rendah lagi fermentasi alkohol akan
berjalan dengan lambat.

b. Nutrisi

Dalam pertumbuhannya mikroba memerlukan nutrisi. Nutrisi yang


dibutuhkan digolongkan menjadi dua yaitu nutrisi makro dan nutrisi mikro.
Nutrisi makro meliputi unsur C, N, P, K. Unsur C didapat dari substrat yang
mengandung karbohidrat, unsur N didapat dari penambahan urea, sedang unsur P
dan K dari pupuk NPK. Unsur mikro meliputi vitamin dan mineral-mineral lain
yang disebut trace element seperti Ca, Mg, Na, S, Cl, Fe, Mn, Cu, Co, Bo, Zn,
Mo, dan Al.

c. Temperatur 13

Mikroorganisme mempunyai temperature maksimal, optimal, dan minimal


untuk pertumbuhannya.Temperatur optimal untuk yeast berkisar antara 25-30ºC
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

dan temperature maksimal antara 35-47ºC. Beberapa jenis yeast dapat hidup pada
suhu 0ºC. Temperatur selama fermentasi perlu mendapatkan perhatian, karena di
samping temperature mempunyai efek yang langsung terhadap pertumbuhan
yeast juga mempengaruhi komposisi produk akhir. Pada temperature yang terlalu
tinggi akan menonaktifkan yeast. Pada temperature yang terlalu rendah yeast
akan menjadi tidak aktif.

D. Sel Elektrokimia

Elektrokimia adalah reaksi kimia yang menghasilkan energi listrik. Dalam


elektrokimia melibatkan reaksi yang sering disebut reaksi oksidasi dan reduksi atau
disingkat dengan redoks.

1. Reaksi Oksidasi atau reduksi adalah : Reaksi dengan perpindahan elektron dari satu
senyawa ke yang lain.

Misal : Cu + 2 Ag+ → Cu+2 + 2 Ag

2. Oksidator / Reduktor

Oksidator adalah yang menerima elektron sedangkan reduktor adalah yang


memberikan elektron.

Sel elektrokimia adalah alat yang digunakan untuk melangsungkan redoks. Dalam
sebuah sel, energi listrik dihasilkan dengan jalan pelepasan elektron pada suatu elektroda
(oksidasi) dan penerimaan elektron pada elektroda lainnya (reduksi).

Elektroda yang melepaskan elektron dinamakan anoda sedangkan elektroda yang


menerima elektron dinamakan katoda. Jadi sebuah sel selalu terdiri dari.

1. Anoda : Elektroda tempat berlangsungnya reaksi oksidasi

2. Katoda : Elektroda tempat berlangsungnya reaksi reduksi.

3. Larutan elektrolit:Suatu zat yang terlarut kedalam bentuk ion-ion

larutan ionik dapat menghantarkan arus, larutan ionik dianggap seperti resistor
14
dalam suatu sirkuit maka ukuran dari sifat-sifat larutan adalah tahanan R, ( atau
ekuivalent dengan konduktan L) mengikuti hukum Ohm (Bird, 1993).

Jenis - Jenis Sel Elektrokimia diantaranya adalah ;


SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

1. Elemen Volta

Elemen Volta dikembangkan pertama kali oleh Fisikawan Italia bernama


Allesandro Volta (1790-1800) dengan menggunakan sebuah bejana yang diisi
larutan asam sulfat (H2SO4) dan dua logam tembaga (Cu) dan seng (Zn). Bagian
utama elemen Volta, yaitu a. kutub positif (anode) terbuat dari tembaga (Cu), b.
kutub negatif (katode) terbuat dari seng (Zn), c. larutan elektrolit terbuat dari asam
sulfat (H2SO4).

Lempeng tembaga memiliki potensial tinggi, sedangkan lempeng seng


memiliki potensial rendah. Jika kedua lempeng logam itu dihubungkan melalui
lampu, lampu akan menyala. Hal ini membuktikan adanya arus listrik yang
mengalir pada lampu. Ketika lampu menyala, larutan elektrolit akan bereaksi
dengan logam tembaga maupun seng sehingga menghasilkan sejumlah elektron
yang mengalir dari seng menuju tembaga. Adapun, reaksi kimia pada elemen
Volta adalah sebagai berikut.

- Pada larutan elektrolit terjadi reaksi H2SO4 → 2H+ + SO2–4

- Pada kutub positif terjadi reaksi Cu + 2H+ → polarisasi H 2 Pada kutub


negatif terjadi reaksi Zn + SO4 → ZnSO4+ 2e

Reaksi kimia pada elemen Volta akan menghasilkan gelembung-


gelembung gas hidrogen (H2). Gas hidrogen tidak dapat bereaksi dengan tembaga,
sehingga gas hidrogen hanya menempel dan menutupi lempeng tembaga yang
bersifat isolator listrik. Hal ini menyebabkan terhalangnya aliran elektron dari
seng menuju tembaga maupun arus listrik dari tembaga menuju seng. Peristiwa
tertutupnya lempeng tembaga oleh gelembung-gelembung gas hidrogen disebut
polarisasi. Adanya polarisasi gas hidrogen pada lempeng tembaga menyebabkan
elemen Volta mampu mengalirkan arus listrik hanya sebentar. Penggunaan larutan
elektrolit yang berupa cairan merupakan kelemahan elemen Volta karena dapat
membasahi peralatan lainnya.

2. Akumulator
15

Akumulator sering disebut aki. Elektrode akumulator baik anode dan


katode terbuat dari timbal (Cu) berpori. Bagian utama akumulator, yaitu ;
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

- Kutup positif (katode) terbuat dari timbal dioksida (PbO2),

- Kutub negatif (anode) terbuat dari timbal murni (Pb),

- Larutan elektrolit terbuat dari asam sulfat (H2SO4) dengan kepekatan 30%.

Lempeng timbal dioksida dan timbal murni disusun saling bersisipan akan
membentuk satu pasang sel akumulator yang saling berdekatan dan dipisahkan
oleh bahan penyekat berupa isolator. Beda potensial yang dihasilkan setiap satu
sel akumulator 2 volt. Dalam kehidupan sehari-hari, ada akumulator 12 volt yang
digunakan untuk menghidupkan starter mobil atau untuk menghidupkan lampu
sein depan dan belakang mobil. Akumulator 12 volt tersusun dari 6 pasang sel
akumulator yang disusun seri. Kemampuan akumulator dalam mengalirkan arus
listrik disebut kapasitas akumulator yang dinyatakan dengan satuan Ampere Hour
(AH). Kapasitas akumulator 50 AH artinya akumulator mampu mengalirkan arus
listrik 1 ampere yang dapat bertahan selama 50 jam tanpa pengisian kembali.

E. Microbial Fuel Cell (MFC)

Biofuel cell adalah sebuah peralatan yang mengubah secara langsung energi


biokimia menjadi energi listrik. Energi penggerak biofuel cell adalah reaksi redoks dari
substrat karbohidrat seperti glukosa dan metanol menggunakan mikroorganisme atau
enzim sebagai katalis, yang menggunakan mikroorganisme disebut Microbial Fuel
Cell (MFC), sedangkan yang menggunakan enzim disebut Enzymatic Fuel Cell (EFC).
Prinsip kerjanya mirip dengan fuel cell. Perbedaan utamanya adalah katalis pada biofuel
cell adalah mikroorganisme atau enzim, oleh karena itu logam mulia tidak diperlukan,
dan kondisi kerja dilakukan pada larutan netral dan temperatur kamar. Sebagai contoh,
oksidasi sempurna satu gram metanol dengan bantuan enzim secara teoritis memberi
energi listrik 5000 mAh. Oksidasi sempurna satu mol glukosa akan melepaskan 24 mol
elektron.

C6H12O6 + 6H2O   6CO2 + 24H+  + 24 e-

Oleh karena itu muatan 2,32 x 106 C per mol glukosa berpotensi untuk disambungkan
melalui sirkuit elektronik. Besarnya arus yang dihasilkan16 dari proses oksidasi ini akan
bergantung pada besarnya :

1. Angka metabolisme
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

2. Efisiensi transer elektron menuju elektroda

Selanjutnya prinsip penggunaan MFC ini erat berhubungan dengan proses


biokimia yang terjadi dengan melibatkan mikroba yang disebut glikolisis, siklus asam
sitrat, dan rantai transfer elektron.

Glikolisis adalah suatu proses penguraian molekul glukosa yang memiliki enam
atom karbon, secara enzimatik untuk menghasilkan dua molekul piruvat yang memilki
tiga atom karbon. Selama reaksi-reaksi glikolisis yang berurutan banyak energi bebas
yang diberikan oleh glukosa yang disimpan dalam bentuk ATP.

F. Derajat Keasaman (pH)

Asam sebagai suatu senyawa yang apabila dilarutkan dalam air akan
membebaskan ion hidrogen (H+). Bronsted dan Lowry mendefinisikan asam sebagai
senyawa yang dapat memberikan proton pada spesies lain. Lewis mendefinisikan suatu
asam sebagai senyawa yang dapat menerima sepasang elektron. Berdasarkan definisi
Lewis tentang asam, jelas bahwa terdapat keasaman antara asam dengan pengoksidasi.
Kedua-keduanya cenderung untuk menarik elektron. Dinamakan elektrofilik atau
elekron attracting agent. Asam akan menerima pasangan elektron dari basa membentuk
ikatan kovalen, sedangkan pengoksidasi menerima elektron (Bird,1987).

Pada dasarnya skala/tingkat keasaman suatu larutan bergantung pada konsentrasi


ion H+ dalam larutan. Makin besar konsentrasi ion H+ makin asam larutan tersebut.
Umumnya konsentrasi ion H+ sangat kecil, sehingga untuk menyederhanakan penulisan,
seorang kimiawan dari Denmark bernama Sorrensen mengusulkan konsep pH untuk
menyatakan konsentrasi ion H. Nilai pH sama dengan negatif logaritma konsentrasi ion
H+ dan secara matematika diungkapkan dengan dengan pH. Selain itu, pH yang
merupakan konsentrasi ion hidronium dalam larutan ditunjukkan dengan skala secara
matematis dengan nomor 0 sampai 14. Skala pH merupakan suatu cara yang tepat untuk
menggambarkan konsentrasi ion-ion hidrogen dalam larutan yang bersifat asam, dan
konsentrasi ion-ion hidroksida dalam larutan yang bersifat basa.

17
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

Gambar 2.1 Skala pH dari 0 sampai 14 (Sugiarto,2004)

Skala ini terbagi menjadi tiga daerah untuk beberapa larutan dengan pH yang
berbeda. Bila larutan mempunyai pH tepat sama dengan 7, larutan tersebut dikatakan
netral. Bila tidak, mungkin bersifat asam atau basa (Sugiarto, 2004).

G. GGL dan Tegangan Jepit

Pada saat tidak ada arus yang mengalir (saklar terbuka), maka beda potensial
pada ujung-ujung sumber tegangan E disebut dengan GGL. Jadi GGL (gaya gerak
listrik) suatu sumber arus listrik adalah beda potensial antara ujung-ujung sumber arus
listrik ketika sumber arus listrik tersebut tidak mengalirkan arus listrik.
E,r

Gambar 2.2 Rangakaian listrik sederhana terdiri dari sumber tegangan dan sebuah
hambatan.

Pada saat saklar di tutup, maka dalam rangkaian mengalir arus listrik. Beda
potensial antara ujung-ujung sumber tegangan pada saat terjadi aliran arus listrik disebut
tegangan jepit. Hubungan antara tegangan jepit (V) dengan GGL (E) adalah ;

V = E – I.r atau V = I.R

E
Sehingga I = R  r

V = tegangan jepit (Volt) R = hambatan luar (ohm)


E = GGL (Volt) r = hambatan dalam sumber tegangan
I = Kuat arus yang mengalir pada rangkaian (ohm)
(A) 18

1. Susunan Seri Sumber Tegangan


E1 E2
E3

r1 r2
r3 I
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

Gambar 2.3 Rangkaian seri sumber tegangan .

Besarnya GGL total dan hambatan dalam total dari sumber tegangan yang disusun
SERI adalah :

Eseri = E1 + E2 + E3

rseri = r1 + r2 + r3

Sehingga kuat arus (I) yang mengalir melalui rangkaian adalah :


E seri
I
Rtotal  rseri

Jika n buah sumber tegangan memiliki nilai E dan r yang sama, maka :

Etotal = n.E dan rtotal = n.r

n.E
I
Sehingga
Rtotal  n.r

2. Susunan Paralel Sumber Tegangan

Beberapa sumber tegangan (baterai) juga dapat dirangkai paralel, dan dihubungkan
dengan hambatan luar R membentuk rangkaian listrik sederhana berikut :

E1

19

E3

R
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

Gambar 2.4 Rangkaian paralel sumber tegangan .

Besarnya GGL total dan hambatan dalam total dari sumber tegangan yang disusun
PARALEL adalah :
Eparalel = E

1 1 1 1
  
rparalel r1 r2 r3

Sehingga kuat arus (I) yang mengalir melalui rangkaian adalah :

E paralel
I
Rtotal  rparalel

Jika n buah sumber tegangan memiliki nilai E dan r yang sama, maka :
r
Etotal = E dan rtotal = n

E
I
r
Rtotal 
Sehingga n

H. Penelitian yang Relevan

Penelitian tentang pemanfaatan limbah organik sebagai sumber energi listrik telah
banyak dilakukan. Meskipun demikian, penelitian ini tetap menarik untuk diadakan lebih
lanjut. Hasil penelitian relevan sebelumnya yang dikaji oleh peneliti adalah penelitian
yang dilakukan oleh Muhammad Imaduddin (2014), Nareswati Dwi Utari (2014), dan
Bustami Ibrahim (2014).
20
1. Muhammad Imaduddin (2014) dalam penelitiannya tentang pengaruh perbandingan
fase slurry sampah sayur yaitu 1 : 2; 1 : 1, dan 2 : 1 serta penambahan EM4 terhadap
nilai tegangan yang dihasilkan diperoleh bahwa tegangan yang dihasilkan paling
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

besar pada fase slurry sampah sayur 1 : 2 dengan penambahan EM4. Dan diketahui
bahwa penurunan energi listrik dipengaruhi pH lingkungan hidup mikroorganisme
serta proses terbentuknya media lekat pada elektroda.

2. Nareswati Dwi Utari (2014) dalam penelitiannya tentang pemanfaatan limbah buah
buahan sebagai penghasil energi listrik dengan teknologi microbial fuel cell (variasi
penambahan ragi dan asetat pada substrat), dapat disimpulkan beberapa hal, bahwa
limbah buah-buahan yang dianggap sampah oleh masyarakat masih mengandung
material organik sederhana (glukosa) yang berpotensi digunakan sebagai sumber
makanan bagi bakteri pada Microbial Fuel cell, penambahan ragi sebesar 12 gr
memiliki hasil yang lebih tinggi di banding yang lainnya serta penambahan asetat
dapat digunakan untuk meningkatkan produksi listrik.

3. Bustami Ibrahim (2014) dalam penelitiannya tentang pembangkit biolistrik dari


limbah cair industri perikanan menggunakan microbial fuel cell dengan jumlah
elektroda yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dari dua
pasang elektroda adalah cara yang optimal untuk menghasilkan tenaga listrik.

Dari tiga kajian penelitian di atas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan
penelitian lebih lanjut. Jika pada penelitian sebelumnya menggunakan variasi
perbandingan fase slurry, penambahan jumlah ragi dan jumlah pasang elektroda, maka
pada kesempatan ini peneliti akan menggunakan variasi lamanya fermentasi dan jumlah
sel yang digunakan.

E. Kerangka Pikir

Limbah Sayur – Sayuran Sel Elektrokimia

(Tomat, Kentang, Wortel,


& Cabai)

21

Ragi Tape Biofuelcell


SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

MFC
Fermentasi
(Microbial Fuel Cell)

Derajat Keasaman (pH) GGL dan Tegangan Jepit

Penelitian yang Relevan

F. Rumusan Hipotesis

Berdasarkan hasil kajian pustaka di atas, maka kami membuat rumusan hipotesis
sebagai berikut.

1. Limbah cair sayur-sayuran dapat diolah sebagai bahan elektrolit sumber energi listrik
alternatif terbarukan melalui proses sel elektrokimia.

2. Semakin lama fermentasi melalui penambahan ragi tape sebagai MFC (Microba Fuel
Cell) akan menghasilkan suatu nilai tegangan semakin besar.

3. Semakin banyak jumlah sel yang dirangkai seri akan menghasilkan nilai tegangan
yang semakin besar.

4. Terdapat penurunan nilai tegangan sebelum dirangkai dengan lampu dan setelah
dirangkai dengan lampu yang disebabkan oleh hambatan dalam sistem limbah.

22
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Objek penelitian ini adalah limbah sayur - sayuran berupa tomat, kentang, wortel
yang diperoleh dari limbah rumah tangga dan pasar jombang.

Eksperimen ini di laksanakan di laboratorium SMA Darul Ulum 1 Unggulan


BPPT Peterongan Jombang. Eksperimen ini dilakukan dari tanggal 6 Juni 2015 sampai
20 Juli 2015.

Waktu pelaksanaan
No Kegiatan
minggu 1 minggu 2 minggu 3

1. Penyusunan naskah

2. Persiapan alat dan bahan

Pembuatan dan
3.
penyempurnaan produk

4. Pengambilan data

5. Dokumentasi penelitian

6. Penyelesaian naskah

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan ialah metode studi pustaka dan eksperimen.
Studi pustaka merupakan langkah awal dalam metode pengumpulan data. Studi pustaka
adalah metode pengumpulan data yang diarahkan kepada pencarian data dan informasi
melalui dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, foto-foto, gambar, maupun dokumen
elektronik yang dapat mendukung dalam proses penulisan.”Hasil penelitian juga akan
semakin kredibel apabila didukung foto-foto atau karya23tulis akademik dan seni yang
telah ada, (Sugiyono,2005:83).

Sedangkan penelitian eksperimen digunakan mencari pengaruh perlakuan


SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

(variabel) tertentu terhadap dampaknya (variabel lainnya) dalam kondisi yang


terkendalikan. Penelitian eksperimen dimaksudkan untuk membuktikan suatu hipotesis,
( Moh. Nazir. 2003).

Adapun variabel penelitian ini adalah ;

1. Percobaan ke – 1 (Pengaruh lamannya fermentasi dengan tambahan MFC (Microba


Fuel Cell) terhadap nilai tegangan).

a. Variabel Tetap/ Kontrol : - Volume campuran limbah sayur - sayuran,

- Luas lempeng elektroda

- Jarak antar elektroda

- Jenis bahan beaker gelas,

b. Variabel Manipulasi : - Lama fermentasi

c. Variabel Respon : - Tegangan yang dihasilkan

2. Percobaan ke – 2 (Pengaruh jumlah sel terhadap nilai tegangan)

a. Variabel Tetap/ Kontrol : - Volume campuran limbah sayur - sayuran,

- Luas lempeng elektroda

- Jarak antar elektroda

- Jenis bahan beaker gelas,

b. Variabel Manipulasi : - Jumlah sel

c. Variabel Respon : - Tegangan yang dihasilkan

C. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian adalah sebagai berikut :

1. Alat
24

a. Voltmeter 1 buah

b. Lempengan seng dan tembaga Masing – Masing 4 Lempeng


SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

c. Jepitan buaya 10 buah

d. Beaker glass 13 buah

e. Mortal 1 buah

f. Alu 1 buah

g. Spatula 1 buah

h. Timbangan 1 buah

i. Kabel 3 buah

j. LED 6 buah

2. Bahan

a. Limbah sayur : kentang, wortel dan tomat

b. Ragi tape 10 butir

D. Langkah – Langkah Percobaan.

Percobaan dilakukan untuk mengetahui lama fermentasi terhadap kualitas tegangan yang
dihasilkan. Adapun langkah – langkahnya sebagai berikut.

1. Menyiapkan campuran sayur - sayuran busuk dengan cara ;

a. Mengupas kulit sayur busuk

b. Memarut sayur busuk

c. Menumbuk sayur busuk dengan mortal dan alu

d. Memasukan dan membagi campuran sayur busuk ke dalam 4 beaker glass


masing-masing 100 mL.

2. Minyiapkan ragi tape dengan cara :


25
a. Menumbuk 10 butir ragi tape dengan mortal dan alu.

b. Membagi serbuk ragi tape menjadi 4 bagian masing-masing 9 gram.


SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

c. Memasukkan tiap bagian ke dalam beaker glass.

3. Melakukan pengujian lamanya Fermentasi terhadap nilai tegangan yang dihasilkan.

a. Melakukan pengukuran besar tegangan sebelum difermentasi.

b. Menutup campuran sayur busuk yang terdapat pada beaker glass dengan
menggunakan plastik

c. Membiarkannya berfermentasi selama 1 hari, 2 hari, 3 hari dan 4 hari.

d. Melakukan pengukuran besar tegangan setelah difermentasi selama 1 hari, 2


hari, 3 hari dan 4 hari.
Cu Zn

Elektrolit
Limbah
Sayur

Gambar 3.1 Rangkaian pengukuran tegangan sebelum dan setelah difermentasi

4. Melakukan pengujian pengaruh jumlah sel pada rangkaian seri terhadap nilai
tegangan yang dihasilkan.

a. Merangkai seri 2 beaker glass dan mengukur nilai tegangannya.

Cu Zn Cu Zn

Elektrolit Elektrolit
Limbah Limbah
Sayur Sayur

Gambar 3.2 Rangkaian pengukuran tegangan untuk 2 sel dirangkai seri

b. Merangkai seri 3 beaker glass dan mengukur nilai tegangannya.

Cu Zn Cu Zn Cu Zn

Elektrolit Elektrolit 26 Elektrolit


Limbah Limbah Limbah
Sayur Sayur Sayur

V
SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang

Gambar 3.3 Rangkaian pengukuran tegangan untuk 3 sel dirangkai seri

c. Merangkai seri 4 beaker glass dan mengukur nilai tegangannya.

Cu Zn Cu Zn Cu Zn Cu Zn

Elektrolit Elektrolit Elektrolit Elektrolit


Limbah Limbah Limbah Limbah
Sayur Sayur Sayur Sayur

Gambar 3.4 Rangkaian pengukuran tegangan untuk 4 sel dirangkai seri

5. Melakukan pengujian nilai hambatan dalam sistem

a. Merangkai seri 4 beaker glass dan menghubungkan dengan lampu LED serta
mengukur nilai tegangannya.
V

Cu Zn Cu Zn Cu Zn Cu Zn

Elektrolit Elektrolit Elektrolit Elektrolit


Limbah Limbah Limbah Limbah
Sayur Sayur Sayur Sayur

Gambar 3.5 Rangkaian pengukuran hambatan dalam system.

Hambatan dalam sistem dapat di hitung menggunakan persamaan hukum OHM


sebagai berikut.

Hambatan (R) = Tegangan (V) / Kuat Arus (I)

Hamabatan sistem (R + r) = {V (sebelum dirangkai lampu) – V (sesuddah

dipasang lampu)} / I

Dimana besar tegangan diperoleh dari nilai tegangan jepit yaitu selisih antara
tegangan sebelum dirangkai lampu dengan tegangan setelah dipasang lampu)

6. Membuat desain produk biobaterai dari limbah cair sayur-sayuran.


27