Anda di halaman 1dari 30

Tugas akhir matakuliah : metodologi penelitian

ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHA SERTA


FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA PADA UKM JIPANG AL-
FARUQ DI KECAMATAN BETOAMBARI KOTA BAUBAU

DISUSUN
Oleh:

LISDIAWATI
NPM. 17 320 030

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN
BAUBAU
2020

i
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya dengan
Rahmat dan Hidayah-Nya jualah sehingga tugas akhir metodologi penelitian
dengan judul ” Analisis pendapatan dan kelayakan usaha serta faktor yang
mempengaruhinya pada ukm jipang al-faruq di kecamatan betoambari kota
baubau” dapat terselesaikan.
Dalam penyusunan tugas ini, penulis mengalami beberapa hambatan tetapi
berkat kesabaran dan ketekunan serta bantuan dari berbagai pihak, sehingga
tugasi ini dapat terselesaikan.

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...........................................................................................i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................2
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................2
1.4 Manfaat Penelitian ...........................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis ...............................................................................4
2.2 Tinjauan Empiris ...............................................................................18
BAB III KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Pikir ..................................................................................20
3.2 Hipotesis............................................................................................20
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi, Obyek, dan subyek penelitian .............................................21
4.2 Jenis dan sumber data.......................................................................22
4.3 Variabel Penelitian ...........................................................................23
4.4 Operasionalsisasi variabel....................................................... 23
4.5 Teknik pengumpula Ddata...........................................................23
4.6 Teknik Analisis data .........................................................................26

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu pembangunan ekonomi tidak saja tergantung pada pengembangan


industrialisasi dan program-program pemerintah. Namun tidak pula lepas dari
peran sektor informal yang merupakan “katup pengaman” dalam
pembangunan ekonomi. Keberadaaan sektor informal tidak dapat di abaikan
dalam pembangunan ekonomi.

Dalam sejarah perekonomian indonesia, kegiatan usaha sektor informal


sangat potensial dan berperan dalam menyediakan lapangan pekerjaan dengan
penyerapan tenaga kerja secara mandiri. Jauh sebelum krisis ekonomi sektor
informal sudah ada,krisis ekonomi nasional tahun 1998 hanya menambah
jumlah tenaga kerja yang bekerja disektor informal. Pedagang sektor informal
adalah orang yang bermodal relatif sedikit berusaha dibidang produksi barang
dan jasa untuk memenuhi kebutuhan kelompok tertentu di dalam masyarakat.

Karakteristik sektor informal adalah sangat bervariasi dalam bidang


kegiatan produksi barang dan jasa berskala kecil,unit produksi yang dimiliki
secara perorangan atau kelompok,banyak mengunakan tenaga kerja (padat
karya), dan teknologi yang dipakai relatif sederhana, para pekerjanya sendiri
biasanya tidak memiliki pendidikan formal, umumya tidak memiliki
keterampilan dan modal kerja. Oleh sebab itu produktivitas dan pendapatan
mereka cenderung rendah dibandingkan dengan kegiatan bisnis yang
dilakukan di sektor formal. Pendapatan tenaga kerja informal bukan berupa
upah yang diterima tetap setiap bulannya, seperti halnya tenaga kerja formal.
Upah pada sektor formal diintervensi pemerintah melalui peraturan Upah
Minimum Propinsi (UMP). Tetapi penghasilan pekerja informal lepas dari
campur tangan Pemerintah.

1
Pendapatan adalah suatu hasil yang diterima oleh seseorang atau rumah
tangga dari berusaha atau bekerja. Menurut kaslan (2000:250) menyatakan
bahwa pendapatan adalah hasil produksi seluruhnya yang dihasilkan setiap
bulan baik berupa alat-alat produksi, benda-benda konsumsi maupun jasa.
Jenis dari usaha masyarakat bermacam ragam, seperti bertani, nelayan,
beternak, buruh serta berdagang dan juga bekerja pada sektor pemerintah dan
swasta. Tujuan semua yang bekerja dalam sektor formal dan informal adalah
pendapatan. Salah satunya adalah usaha jipang.

Setelah saya melakukan observasi awal dan wawancara dengan pemilik


usaha jipang al-faruq. Usaha jipang al-faruq ini mempunyai kemandirian
untuk meningkatkan pendapatan dalam upaya memenuhi kebutuhan ekonomi
masyarakat. Berdasarkan latar belakang di atas sehingga penulis tertarik
mengangkat judul yaitu “Analisis Pendapatan dan Kelayakan Usaha serta
Faktor yang Mempengaruhinya pada UKM Jipang al-faruq di Kecamatan
Betoambari kota Baubau”

1.1 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah


1. Seberapa besar pendapatan penjual jipang al-faruq di Kecamatan
Ketoambari Kota Baubau
2. Bagaimana kelayakan usaha jipang al-faruq di Kecamatan Betoambari
Kota Baubau
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. untuk mengetahui seberapa besar pendapatan penjual jipang al-faruq di
Kecamatan Betoambari Kota Baubau
2. untuk mengetahui bagaimana kelayakan usaha jipang al-faruq di
Kecamatan Betoambari Kota Baubau

2
1.3 Kegunaan Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini aadalah sebagai
berikut:
1. Manfaat teoritis
a. Dalam penelitian ini di harapkan akan menambah khasanah ilmu
pengetahuan, karena dengan penelitian ini diperoleh melalui
penelitian ilmiah yang di dukung oleh teori dan fakta empiris.
b. Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya yang releva
dengan membantu sebagai landasan teori.
2. Manfaat praktis
Sebagai bahan masukan bagi penjual jipang al-faruq di kecamatan
Betoambari Kota Baubau dalam rangka meningkatkan pendapatannya.

3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis


a. Definisi UKM

Beberapa lembaga atau instansi bahkan UU memberikan definisi Usaha


Kecil Menengah (UKM), diantaranya adalah Kementrian Negara Koperasi dan
Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), Badan Pusat Statistik (BPS),
Keputusan Menteri Keuangan No 316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994,
dan UU No. 20 Tahun 2008. Definisi UKM yang disampaikan berbeda-beda
antara satu dengan yang lainnya. Menurut Kementrian Menteri Negara
Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), bahwa yang
dimaksud dengan Usaha Kecil (UK), termasuk Usaha Mikro (UMI), adalah
entitas usaha yang mempunyai memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp
200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan memiliki
penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000. Sementara itu, Usaha
Menengah (UM) merupakan entitas usaha milik warga negara Indonesia yang
memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200.000.000 s.d. Rp
10.000.000.000. Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi UKM
berdasarkan kunatitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang
memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah
merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang.
Berdasarkan Keputuasan Menteri Keuangan Nomor 316/KMK.016/1994
tanggal 27 Juni 1994, usaha kecil didefinisikan sebagai perorangan atau badan
usaha yang telah melakukan kegiatan/usaha yang mempunyai penjualan/omset
per tahun setinggi-tingginya Rp 600.000.000 atau aset/aktiva setinggi-
tingginya Rp 600.000.000 (di luar tanah dan bangunan yang ditempati)

4
2.2 Tinjauan Empiris
1. Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) adalah sebuah istilah yang mengacu

ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.

200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha dan usaha

yang berdiri sendiri.

Menurut Keputusan Presiden RI nomor 99 tahun 1998 tentang bidang/jenis

usaha yang dicadangkan untuk usaha kecil dan bidang/jenis usaha yang

terbuka untuk usaha menengah atau usaha besar dengan syarat kemitraan,

pengertian usaha kecil adalah “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil

dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil

dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat”.

Kriteria usaha kecil menurut Undang-Undang nomor 9 tahun 1995 tentang

usaha kecil, yaitu:

1) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak

termasuk tanah dan bangunan tempat usaha,

2) Memiliki hasil penjualan tahunan Rp 1.000.000.000,

3) Milik warga negara Indonesia,

4) Berdiri sendiri bukan merupakan anak perusahaan atau cabang

perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung

maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar.

5) Berbentuk usaha orang perorangan, badan usaha yang tidak berbadan

hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.

5
2. Pendapatan

a. Pengertian Pendapatan

Pendapatan atau perolehan merupakan suatu kesempatan mendapatkan

hasil dari setiap usaha yang dilakukan, baik secara langsung maupun tidak

langsung, pendapatan secara langsung diterima oleh setiap orang yang

berhubungan langsung dengan pekerjaan, sedangkan pendapatan tidak

langsung merupakan tingkat pendapatan yang diterima melalui perantara

(Bambang, S. 1994; 121).

Kebutuhan dan keinginan manusia tidak terbatas jumlahnya, hanya

saja kebutuhan dan keinginan tersebut dibatasi jumlah pendapatan yang

diterima oleh seseorang. Pendapatan yang diterima oleh masyarakat tentu

berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, hal ini disebabkan

berbedanya jenis pekerjaan yang dilakukannya. Perbedaan pekerjaan

tersebut dilatarbelakangi oleh tingkat pendidikan, skil dan pengalaman

dalam bekerja. Indikator tingkat kesejahteraan masyarakat dapat diukur

dengan pendapatan yang diterimanya. Peningkatan taraf hidup masyarakat

dapat digambarkan dari kenaikan hasil real income perkapita. Pendapatan

merupakan suatu hasil yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga

dari berusaha atau bekerja. Jenis dari usaha masyarakat bermacam ragam,

seperti bertani, berternak, nelayan, buruh serta berdagang dan juga bekerja

pada sektor pemerintah dan swasta.

Dalam pengertian umum pendapatan adalah hasil pencaharian usaha.

Boediono (1997:106) mengemukakan bahwa pendapatan adalah hasil dari


6
penjualan faktor-faktor produksi yang dimilikinya kepada sektor produksi.

Sedangkan menurut Sukirno (1994:49) mengemukakan bahwa pendapatan

pribadi dapat diartikan sebagai semua jenis pendapatan termasuk

pendapatan yang diperoleh tanpa memeberikan sesuatu apapun yang

diterima oleh penduduk suatu negara. Sebagaimana pendapat para ahli

dapat disimpulkan bahwa pendapatan merupakan gambaran terhadap

posisi ekonomi keluarga dalam masyarakat.

Berdasarkan beberapa pengertian pendapatan diatas dapat disimpulkan

bahwa pendapatan terdiri dari pendapatan perorangan atau pribadi dan

pendapatan perusahaan serta pendapatan nasional. Tujuan dari meraih

pendapatan yang tinggi tidak lain hanyalah untuk mencapai tingkat

penghidupan yang layak serta menaikan tingkat kesejahteraan. Tingkat

penghidupan yang layak dan tingkat kesejahteraan seseorang dapat diukur

dari tingkat pendapatan yang diterimanya begitu juga tingkat kesejahteraan

dan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara maupun daerah juga

diukur dari pendapatan perkapita.

b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan

1) Modal kerja

Modal kerja merupakan salah satu unsur yang terpenting dan

esensial dalam sebuah usaha, karena modal kerja adalah kunci utama

dalam menjalankan sebuah unit bisnis. Tanpa adanya modal kerja

sangat sulit sebuah unit usaha dapat berjalan. Berdasarkan definisi

diatas dapat diambil kesimpulan bahwa modal kerja merupakan


7
sejumlah dana yang dibutuhkan untuk membiayai kegiatan operasional

sehari-hari. Kemudian modal kerja yang dimiliki oleh badan usaha

bersumber dari modal sendiri juga bersumber dari pinjaman atau dari

utang. Adapun sumber pinjaman atau utang mempunyai jangka waktu

baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kemudian konsep modal

kerja terdiri dari konsep kuantitatif yang disebut dengan groos working

capital atau modal kerja kotor, yaitu semua unsur harta lancar.

Kemudian konsep kualitatif yang disebut juga net working capital atau

modal kerja bersih, yaitu kelebihan antara harta lancar dengan hutang

lancar. Selanjutnya konsep fungsional yaitu mengfungsingkan semua

dana yang ada dalam badan usaha untuk mendapatkan pendapatan.

2) Jam Usaha

Dalam melakukan suatu pekerjaan pada sektor formal seperti

perusahaan swasta maupun kantor pemerinta tentunya diberlakukan jam

kerja standar, dan sektor swasta diberlakukan jam kerja lembur, jam

kerja lembur ini dihitung apabila seorang karyawan atau pegawai

bekerja melebihi jam kerja standar. Menurut Undang-Undang No.13

Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan Pasal 77 Ayat 1 jam kerja standar

yaitu 7 jam perhari untuk 6 hari kerja sedangkan 5 hari kerja 8 jam

perhari atau 40 jam perminggu. Pekerja pada sektor informal tidak

mengenal yang namanya jam kerja standar, maka bekerja pada jam

yang tidak terbatas sesuai dengan keinginannya. Yang terpenting bagi

mereka adalah mencari tingkat pendapatan yang tinggi tanpa

8
menghiraukan jam usahanya. Seperti kelompok pedagang kaki lima

yang merupakan salah satu usaha informal, mereka selalu bekerja dalam

artian berdagang tanpa memperhatikan curahan jam usah. Jam usaha

erat hubungannya dengan tingkat pendapatan seseorang, semakin

banyak jam usaha yang dipergunakan maka semakin tinggi tingkat

pendapatan yang akan diterimanya.

Seseorang yang mempunyai nilai waktu yang tinggi akan

menyebabkan nilai waktunya bertambah mahal. Orang yang nilai

waktunya relatif mahal cenderung untuk menggantikan waktu

senggangnya untuk bekerja. Peningkatan tingkat partisipasi kerja akan

menyebabkan terjadinya income dan subtitution efek, income efek

dimaksudkan orang yang berpendapatan tinggi akan mengurangi waktu

bekerjanya dengan menggantikan waktu senggang sehingga tingkat

partisipasi kerja mengalami penurunan sedangkan yang dimaksud

dengan subtitution efek adalah orang yang berpendapatan rendah akan

menambah waktu kerjanya karena waktu kerja semakin mahal sehingga

banyak orang menggantikan waktu senggannya untuk bekerja yang

menyebabkan tingkat partisipasi angkatan mengalami kenaikan.

Kenaikan tingkat upah mempengaruhi penyediaan tenaga kerja

melalui jalur yang berlawanan. Kenaikan tingkat upah disatu pihak

meningkatkan pendapatan (income effect) yang cenderung mengurangi

tingkat partisipasi kerja, sedangkan dipihak lain subtitusi effect yaitu

penambahan waktu kerja akan meningkatkan partisipasi kerja.

9
Kenaikan upah ke tingkat yang lebih tinggi menyebabkan subtitusi efect

lebih dominan dari income effect sehingga mengakibatkan kenaikan

tingkat partisipasi kerja. Setelah mencapai tingkat upah relatif lebih

tinggi efek kembali berpengaruh dari pada subtitusi efek mengakibatkan

pengurangan waktu kerja sehingga berdampak pada tingkat partisipasi

kerja semakin menurun.

Kepala keluarga yang berpendapat tinggi akan mengurangi waktu

kerjanya dengan waktu senggang, sehingga income efek lebih besar dari

subtitusi efek menyebabkan penurunan waktu kerja yang

mengakibatkan penurunan tingkat partisipasi kerja anggot keluarga.

Sebaliknya keluarga yang berpendapatan rendah akan menambah waktu

kerjanya akan mengganti waktu senggangnya untuk bekerja, sehingga

substitusi efek lebih besar dari income efek yang menyebabkan

penambahan waktu kerja sehingga mengakibatkan penambahan tingkat

partisipasi kerja anggota keluarga.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpukan bahwa jam kerja

merupakan jumlah waktu yang diperoleh sesorang dalam melakukan

pekerjaannya. Semakin banyak watktu yang digunakannya maka

semakin tinggi tingkat pendapatannya, dan juga semakin sedikit waktu

yang digunakannya maka semakin rendah pula tingkap pendapatannya.

Tinggi dan rendahnya waktu yang digunakannya mencerminkan

produktivitas kerja seseorang.

3) Pengalaman

10
Kemampuan dan keahlian seseorang dilatarbelakangi oleh

pendidikan dan pengalaman, karena pendidikan membutuhkan proses

yang panjang, begitu juga dengan pengalaman. Pengalaman muncul

akibat dari panjangnya waktu yang dipergunakan dalam bekerja atau

berusaha pada lapangan usaha tertentu. Melalui pengalaman tersebut

timbul keahlian, kemampuan dan keuletan serta pengetahuan. Pada

umumnya semakin berpengalaman seseorang semakin mudah

menjalankan usahanya kearah keberhasilan, dari pengalaman tersebut

seseorang terus belajar dan berusaha memperbaiki dari keadaan yang

tidak menguntungkan kepada arah yang lebih baik dan menguntungkan.

Pengalaman dapat mengajarkan bagaimana cara menghadapi calon

konsumen, menemui dan mempengaruhi calon konsumen, memperoleh

perhatian konsumen dan memenuhi keinginan serta selera konsumen,

dan yang terpenting lagi adalah bagaimana menciptakan kepuasan

konsumen. Apabila konsumen merasa puas atas barang atau produk

yang ditawarkan maka konsumen akan setia terhadap barang atau

produk tersebut. Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan calon

konsumen tersebut menjadi konsumen tetap atau dengan kata lain

pelanggan tetap bagi pedagang tersebut. Semakin banyak pelanggan

semakin banyak pula barang dagangan yang terjual yang pada akhirnya

berdampak pada pendapatannya. Karena pengalaman seseorang dapat

mempengaruhi tingkat pendapatannya. Semakin bertambahnya

11
pengalaman seseorang maka semakin tinggi kemungkinan

meningkatkan pendapatannya.

Pengalaman merupakan salah satu modal yang dimiliki oleh

pekerja untuk meningkatkan produktivitasnya. Semakin tinggi

produktivitas seseorang maka semakin tinggi kemungkinan pendaptan

yang diterimanya. Melalui pengalaman yang dimiliki pekerja mampu

menciptakan strategi-strategi dalam bekerja begitu juga pengalaman

yang dimiliki oleh pedagang mengerti menjalankan strategi pemasaran.

Pengalaman sangat penting sekali dalam menjalankan suatu usaha,

karena pengalaman dapat menuntun dan mengajarkan apa yang harus

dikerjakan. Dengan demikian dapat tercapai tujuan yang telah

ditetapkan.

4) Jenis Barang (Produk)

Berbicara masalah barang dagangan pikiran orang akan tertuju

pada suatu produk tertentu. Produk merupakan semua yang dapat

ditawarkan kepada pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau

dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan

pemakainya (Kotler dan Amstrong. 2003:337). Banyaknya jenis barang

atau keragaman barang yang digelarkan oleh pedagang dapat menarik

minat calaon konsumen untuk membeli, mempergunakan atau

mengkonsumsi, karena dihadapkan banyak pilihan. Lebih lanjut Kotler

dalam Kasmir (2006:174) menyatakan pengertian produk daapat

dijabarkan bahwa produk merupakan sesuatu, baik berupa barang

12
maupun jasa yang ditawarkan kekonsumen agar diperhatikan, dan dibeli

oleh konsumen. Tujuan menawarkan produk ke pasar adalah untuk

memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen.

Sesuai dengan definisi diatas, produk dapat dikelompokkan

menjadi dua jenis, yaitu: produk yang berupa benda fisik atau benda

berwujud, seperti pakaian menyediakan pakaian berupa baju, celana,

sepatu, sandal, handuk dan pakaian lainnya.

c. Analisis Pendapatan

Menurut Boediono (2002:95) jumlah penerimaan atau total revenue

(TR) adalah jumlah produksi di kali harga jumlahnya. Apabila jumlah

produksi diberi simbol “Q” dan harga “P”, secara sistematis dapat

dirumuskan suatu persamaan TR = Q(P). Persamaan ini menunjukan

bahwa “penerimaan (TR) memiliki hubungan eksak (pasti) dengan jumlah

produksi dan harga jual produksi tersebut.

Sunitro dalam Rudin (1994:25) menjelaskan bahwa penerimaan adalah

pemasukan sumber usaha yang berasal dari penjualan barang atau jasa

sebagai usaha untuk memperoleh laba. Sedangkan Soekarwati (1994:11)

menyatakan bahwa penerimaan perkalian antara produksi yang diperoleh

dengan harga jual produk. Untuk menghitung pendapatan dapat

menggunakan rumus sebagai berikut:

Pd = TR – TC

Keterangan:

Pd = Pendapatan Usaha
13
TR = Penerimaan Total (Total Reveneu)

TC = Biaya Total (Total Cost)

Dengan kriteria:

TR > TC : Usaha menguntungkan

TR = TC : Usaha pada titik keseimbangan (titik impas)

TR < TC : Usaha mengalami kerugian

d. Harga

Harga merupakan suatu elemen marketing mix yang menghasilkan

penerimaan penjualan, sedangkan elemen-elemen lainnya hanya

menimbulkan biaya. Karena menghasilkan penerimaan penjualan, maka

harga mempengaruhi tingkat penjualan, tingkat keuntungan, serta share

pasar yang didapat oleh perusahaan (Assauri, 2004:233)

Harga juga merupakan salah satu elemen bauran pemasaran yang

paling fleksibel. Harga dapat di ubah dengan cepat, tidak seperti ciri khas

produk dan perjanjian distribusi (Kotler, 2000:519).

Menurut Alma (2004:169) pengertian harga yaitu suatu atribut yang

melekat pada suatu barang yang memungkinkan barang tersebut dapat

memenuhi kebutuhan (needs), keinginan (wants) dan memuaskan

konsumen (satisfaction) yang dinyatakan dengan uang.

3. Konsep Biaya

a. Pengertian biaya

Menurut Kuswadi (2007 : 72) bahwa biaya adalah semua pengeluaran

untuk mendapatkan barang dan jasa dari pihak ketiga. Hal senada juga
14
dikemukakan oleh Mulyadi (2007 : 8) bahwa biaya adalah pengorbanan

yang diukur dengan satuan uang yang dilakukan untuk mencapai tujuan

tertentu. Sedangkan Kusnadi (2006 : 168) bahwa biaya adalah manfaat

yang dikorbankan dalam rangka memperoleh barang dan jasa. Manfaat

(barang dan jasa) yang dikorbankan diukur dalam rupiah melalui

pengurangan aktiva atas pembebanan utang pada saat manfaat itu diterima.

Berdasarkan pendapat diatas, dapat dikatakan bahwa biaya adalah

pengorbanan yang dikeluarkan saat sekarang dan diharapkan dapat

memperoleh hasil tertentu pada masa yang akan datang.

b. Macam-macam biaya

Untuk tujuan yang berbeda, biaya dapat dibedakan dalam berbagai cara,

sebagaimana Supriyono (2002 : 18) mengemukakan bahwa: Penggolongan

biaya adalah proses mengelompokan secara sistematis atas keseluruhan

elemen yang ada kedalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas

untuk dapat memberikan informasi yang lebih punya arti atau lebih penting.

Mulyadi (2007 : 14) menggolongkan biaya kedalam 5 (lima) cara

penggolongan, menurut:

1) Objek pengeluaran dalam suatu perusahaan yang terdiri atas:

a) Biaya bahan baku, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk

memperoleh bahan baku yang akan diubah menjadi bentuk baru.

b) Biaya tenaga kerja, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk

membiayai karyawan yang bekerja dalam proses produksi

15
c) Biaya overhead pabrik, yaitu biaya yang dikeluarkan selain

biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung untuk

membiayai kegiatan produksi.

2) Fungsi pokok perusahaan yang terdiri atas:

a) Biaya produksi, yakni biaya yang dikeluarkan untuk mengolah

bahan baku menjadi bahan jadi.

b) Biaya pemasaran, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk

menyelenggarakan kegiatan pemasaran produk jadi.

c) Biaya administrasi dan umum, yaitu biaya yang dikeluarkan

untuk membantu kelancaran kegiatan produksi dan pemasaran

produksi.

3) Hubungan biaya dengan sesuatu yang terbagi atas:

a) Biaya langsung, yaitu biaya yang penyebab satu-satunya adalah

karena adanya sesuatu yang dibiayai.

b) Biaya tidak langsung, yaitu biaya yang dikeluarkan tidak hanya

disebabkan karena adanya sesuatu yang dibiayai.

4) Perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume

kegiatan, terdiri atas:

a) Biaya variabel, yaitu biaya yang dalam jumlah totalnya akan

berubah sebanding/proporsional dengan perubahan volume

kegiatan produksi.

b) Biaya semi variabel, yaitu biaya yang perubahannya tidak

sebanding dengan perubahan volume kegiatan produksi.

16
c) Biaya semi tetap, yaitu biaya yang jumlahnya tetap dalam

volume kegiatan tertentu dan akan berubah dengan jumlah yang

konstan pada volume produksi tertentu.

d) Biaya tetap, yaitu biaya yang jumlah totalnya tetap dalam

volume kegiatan tertentu dan waktu tertentu.

5) Atas dasar jangka waktu manfaatnya, terdiri ata:

a) Pengeluaran modal yaitu biaya yang dikeluarkan untuk masa

manfaat lebih dari satu periode akuntansi

b) Pengeluaran pendapatan yaitu biaya yang dikeluarkan yang

masa manfaatnya hanya pada masa/saat atau periode akuntansi

menjadi pengeluaran tersebut.

4. Studi Kelayakan Usaha/Bisnis

a. Pengertian Studi Kelayakan Usaha/Bisnis

Studi kelayakan usaha/bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari

secara mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang akan dijalankan,

dalam rangka menentukan layak tidaknya usaha tersebut dijalankan

(Kasmir dan Jakfar, 2003:7). Studi Kelayakan usaha/ bisnis menyangkut

berbagai aspek baik itu dari aspek hukum, sosial ekonomi serta budaya,

aspek pasar serta pemasaran, aspek teknis serta teknologi sama dengan

aspek manajemen serta serta keuangannya, dimana hal itu digunakan untuk

dasar penelitian studi kelayakan seta hasilnya digunakan untuk mengambil

sebuah keputusan.

b. Tujuan Studi Kelayakan Usaha/Bisnis


17
Studi kelayakan sebelum suatu usaha atau proyek dijalankan sangat

diperlukan agar apabila usaha tersebut dijalankan tidak akan sia-sia atau

tidak membuang uang, tenaga, atau pikiran secara percuma serta tidak

akan menimbulkan masalah yang tidak perlu dimasa yang akan datang.

Bahkan adanya usaha atau proyek diharapkan dapat memberikan

keuntungan serta manfaat kepada berbagai pihak.

18
BAB 3
KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Pikir


Jipang merupakan salah satu usaha kecil dan menengah dimana usaha ini
adalah milik orang perorangan yang berdiri sendiri bukan anak perusahaan atau
cabang perusahaan yang tidak dimiliki atau dikuasai. Tujuan dari berdirinya
suatu usaha adalah untuk mendapatkan keuntungan/pendapatan.
Pendapatan merupakan hasil dari penjualan faktor-faktor produksi yang
dimilikinya dari sektor produksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan
antara lain sebagai berikut: (1) modal kerja yaitu sejumlah dana yang
dibutuhkan untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari (2) jam usaha
yaitu curahan waktu dalam menjalankan usaha, semakin banyak jam usaha
maka semakin banyak pendapatan yang dimiliki usaha tersebut (3) Pengalaman
merupakan salah satu modal yang dimiliki oleh pekerja untuk meningkatkan
produktivitasnya. Semakin tinggi produktivitas seseorang maka semakin tinggi
kemungkinan pendaptan yang diterimanya (4) jenis barang (produk) banyaknya
jenis barang dapat menarik minat konsumen untuk membeli, mempergunakan
atau mengkonsumsi karena dihadapkan banyak pilihan. Suatu usaha yang
memiliki keuntungan layak untuk dijalankan.
Kelayakan suatu usaha sangat perlu diketahui agar apabila usaha tersebut
dijalankan tidak akan sia-sia atau tidak membuang uang, tenaga atau pikiran
secara percuma serta tidak menimbulkan masalah yang tidak perlu dimasa yang
akan datang.
Berdasarkan uraian diatas kerangka pikir dapat digambarkan sebagai
berikut:

19
Pedagang / penjual
jipang al faruq

Analisis pendapatan Pd
= TR – TC
(Soekarwati, 1994:11)

Kelayakan usaha :

- Payback Period (PI) - Average rate of return (ARR)


- Net Present Value (NPV) - Internal rate of return (IRR)
- Profitability Indeks (PI) - Break Even Point (BEP)
- Rasio-rasio Keuangan :
o Reveneu Cost Ratio (R/C)
o Return On Investmen (ROI)

Berdasarkan gambar diatas dapat dijelaskan bahwa pendapatan penjual


bensin pertamini dapat dilihat dari total pendapatan dikurangi dengan total
biaya. Dan kelayakan usaha dapat dilihat dari besarnya pendapatan penjual
bensin Pertamini.

3.2 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pikir di atas maka hipotesis yang penulis ajukan,
yaitu: “Penjualan Jipang Al faruq memiliki kelayakan usaha”

20
BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi, obyek dan subyek penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Batupoaro Kota Baubau.
Kecamatan betoambari merupakan pemekaran dari Kecamatan Betoambari dan
terletak di Pesisir Kota Baubau yang memiliki luas wilayah 1,55 Km dan
jumlah penduduk sebanyak 37.166 jiwa yang di 6 kelurahan, yaitu:
a. Kelurahan Bone-Bone
b. Kelurahan Tarafu
c. Kelurahan Wameo
d. Kelurahan Kaobula
e. Kelurahan Nganganaumala
f. Kelurahan Lanto

Penduduk Kecamatan Batu Poaro umumnya cukup heterogen, penduduk


mayoritas adalah suku Buton, disamping itu terdapat suku lainya seperti suku
Muna, Tolaki, Makassar dan Flores. Pada dasarnya perekonomian penduduk
Batu Poaro ditentukan oleh geografis, tingkat pendidikan, keterampilan dan
teknologi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Bila diliihat dari letak
geografisnya Kecamatan Batu Poaro berada pada pesisir kota Baubau sehingga
dengan demikian kebanyakan penduduknya adalah nelayan dan pedagang
disamping itu terdapat pula penduduk yang bekrja sebagai pegawai baik
pegawai negeri maupun pegawai swasta.

4.2 Jenis dan sumber data


Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Jenis Data

Jenis data yang digunakan penulis dalam penelitian nantinya adalah


data kuantitatif yaitu berupa data dalam bentuk angka yang berasal

21
pendapatan penjual bensin pertamini di Kecamatan Batupoaro Kota
Baubau

b. Sumber Data
1) Data Primer
Data yang diperoleh dari wawancara langsung oleh seluruh penjual
bensin pertamini yang menjadi subyek penelitian berupa tanggapan
responden serta hasil wawancara.
2) Data Sekunder
Data yang diperoleh/dikumpulkan berdasarkan dokumen-dokumen
serta literatur yang berhubungan dengan masalah penelitian ini.

4.3 Variabel penelitian


Dari hasil penelitian analisis pendapatan dan kelayakan usaha pejual jipang
al faruq di Kecamatan Betoambari Kota Baubau selama satu periode (satu
tahun), maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Analisis pendapatan penjual jipang al faruq di Kecamatan Betoambari


Kota Baubau pada tahun 2015 mengalami keuntungan dilihat dari kriteria
Total Revenue (TR) Rp 1.350.000.000 lebih besar (>) dari Total Cost (TC)
Rp 1.087.430.000 yang menghasilkan keuntungan Rp. 262.570.000.

2. Analisis kelayakan usaha penjual jipang al faruq di Kecamatan betoambari


Kota Baubau pada tahun 2015 menunjukan bahwa periode yang
diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluran investasi (Payback
Period) adalah 1 tahun 2 bulan, rata-rata pengembalian bunga (Average
Rate Of Return) sebesar 5,6, nilai bersih sekarang (Net Present Value)
sebesar Rp 15.138.800, rasio aktifitas (Profitability Indek) sebesar 2,96%,
titik Impas (Break Even Point) adalah 1567,2 unit dengan nilai
Rp 15.672.000, nilai manfaat (Reveneu Cost Ratio) sebesar 1,22, peluang
pengembangan usaha (Return On Insvestmen)n sebesar 2,67. Berdasarkan

22
kriteria usaha penjual bensin Pertamini di Kecamatan Batupoaro Kota
Baubau dinyatakan layak untuk dijalankan

4.4 Operasionalsisasi variabel


Jipang al faruq di jalankan dari tangan ke tangan di di jual di kios
manapun.

4.5 Teknik pengumpulan data


Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah
sebagai berikut :

a. Observasi, yaitu peneliti mengunjungi langsung Penjual Bensin


Pertamini, melihat jumlah keseluruhan Pertamini dan melihat aktifitas
pelayanan yang dilakukan oleh penjual bensin Pertamini di Kecamatan
Batupoaro Kota Baubau.
b. Teknik wawancara, wawancara adalah percakapan dengan maksud
tertentu. Percakapan itu dilakukan dengan dua pihak, yaitu
pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan
terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan
itu. Teknik ini dilakukan untuk mengetahui pendapatan Penjual Bensin
Pertamini di Kecamatan Batu Poaro Kota Baubau.
c. Teknik Dokumentasi, Dokumen merupakan catatan peristiwa yang
sudah berlalu. Dokumen biasa terbentuk tulisan, gambar, atau karya
monumental, dari seseorang. Dokumen yang ditunjukan dalam hal ini
adalah segala dokumen yang berhubungan dengan penjual bensin
pertamini di kecamatan Batu Poaro Kota Baubau. Dalam hal ini
dokumen yang dikumpulkan peneliti adalah dalam bentuk gambar
aktifitas penjual bensin Pertamini

4.6 Teknik analisa data


Dalam penelitian ini digunakan analisis usaha, yaitu analisis jangka
pendek atau analisis yang dilakukan untuk mengetahui besarnya keuntungan
yang diperoleh dari suatu kegiatan usaha dalam waktu satu tahun. Metode
23
analisa usaha terdiri atas analisis pendapatan usaha dan analisis kelayakan
usaha
1. Analisis pendapatan dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:
Pd = TR – TC
Keterangan:
Pd = Pendapatan Usaha
TR = Penerimaan Total (Total Reveneu)
TC = Biaya Total (Total Cost)
Dengan kriteria:
TR > TC : Usaha menguntungkan
TR = TC : Usaha pada titik keseimbangan (titik impas)
TR < TC : Usaha mengalami kerugian
2. Analisis Kelayakan Usaha dapat dicari dengan cara menggunakan rumus
sebagai berikut:
a. Payback period (PP)

PP = x 1 tahun
/

b. Average rate of return (ARR)


( )
=
( )

total EAT
! − # ! EAT =
umur ekonomis (n)

investasi
! − # ! 234estasi =
2
c. Net present value (NPV)
kas bersih
NPV = − investasi
(1 + r)
d. Profitability Indeks
∑ ?@
=2 = ∑ ?@
x 100%

Kriterianya :

24
Apabila PI lebih besar (>) dari 1 maka diterima
Apabila PI lebih kecil (<) dari 1 maka ditolak
e. Break Event Point (BEP)
Biaya Tetap
AB= =
(Harga Per Unit − biaya variabel perunit)
f. Rasio-rasio keuangan
1) Reveneu Cost Ratio (R/C)
R/C = TR/TC
Keterangan:
TR = Penerimaan Total (Total Reveneu)
TC = Biaya Total (Total Cost)
Dengan kriteria :
R/C > 1 : Usaha menguntungkan
R/C = 1 : Usaha impas
R/C < 1 : Usaha rugi
2) Return On Investmen (ROI)
L M
ROI = NOP Q ? R Q

Kriteria:
Apabila ROI positif maka diterima
Apabila ROI negatif maka ditolak
Dengan Asumsi sebagai berikut:
- Usaha yang dilakukan adalah usaha mandiri. Dimana penjual jipang al
faraq membeli peralatan pertamini dan bensin dari pemasok untuk dijual
kembali ke konsumen.
- Biaya investasi diasumsikan dikeluarkan pada tahun ke-0
- Modal investasi awal berasal dari modal sendiri dalam hal ini adalah
pembentukan Pertamini berupa peralatan yang dibutuhkan untuk
menjalankan usaha
- Daftar nilai investasi awal (peralatan dan bensin) berdasarkan keterangan
penjual bensin Pertamini

25
- Jangka waktu yang digunakan dalam perhitungan cash flow adalah 1 tahun
- Harga jual bensin perliter ditetap Rp 10.000,- oleh penjual bensin
pertamini
- Perhitungan bahan baku mengikuti harga yang diberlakukan oleh pemasok
- Harga seluruh input dalam masa penelitian diasumsikan tetap
- Suku bunga yang dijadikan dasar dalam perhitungan analisis kelayakan
usaha pada penelitian ini adalah 0% karena penjual pertamini
menggunakan 100% modal sendiri
- Pajak penghasilan diasumsikan 0% karena UKM (Usaha Kecil dan
Menengah) Pertamini belum memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
Badan Usaha

26
DAFTAR PUSTAKA
Alma, Buchari, 2004, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, Edisi Revisi,
Penerbit Alfabeta, Bandung.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Rineka Cipta. Jakarta
Assauri, S. 2004. Manajemen Produksi dan Operasi. FEUI. Jakarta.
Assauri, Sofyan. 2009. Manajemen Pemasaran Dasar, Konsep dan Strategi. Edisi
Pertama. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Bambang, S. 1994, Analisis Laporan Keuangan, LP3ES-Jakarta.
Boediono. 1995. Pengantar Ekonomi Makro, BPFE-UGM, Yogyakarta.
Hasan, Iqbal. 2004. Analisis Data Penelitian Dengan Statistik. Jakarta. Bumi
Aksara
Kasmir, Jakfar. 2003. Studi Kelayakan Bisnis, Cetakan Ke-5, Edisi Kedua.
Jakarta. Kencana.
Kasmir. 2006. Kewirausahaan. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Kotler, Philip. 2000. Manajemen pemasaran. Jilid 2. Bumi Aksara. Jakarta.
Kotler, Plilip. 2009. Manajemen Pemasaran. Jilid 1. Edisi Ke 13. Erlangga.
Jakarta
Kotler, Philip dan Gary Amstrong. 2003. Dasar-Dasar Pemasaran. Jilid 1. Edisis
Kedelapan. Erlangga. Jakarta
Kuswadi Ir. MBA. 2007. Analisis keekonomian Proyek. Yogyakarta. Andi offset.
Laode Rafdin. 2015. Skripsi Analisis Pendapatan Masyarakat Sektor Informal
Dalam Memenuhi Kebutuhan Keluarga Di Kawasan Pantai Nirwana
Kelurahan Sulaa.
Mulyadi. 2007. Akuntansi Biaya, edisi ke-5. Yogyakarta. Graha Ilmu.
Soekarwati. 1994. Analisis Usaha Tani. Penerbit UI-Press. Jakarta
Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta. Bandung
Sumitro. 1994. Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan.
Jakarta : LPES

27