Anda di halaman 1dari 177

I.

PENDAHULUAN
A. Deskripsi

Ilmu pelayaran ialah ilmu pengetahuan yang mengajarkan cara melayarkan sebuah kapal dari suatu tempat
ke tempat lainnya dengan selamat aman dan ekonomis.Untuk membawa sebuah kapal dari tempat tolak ke
tempat tiba kita membutuhkan bermacam-macam pengetahuan navigasi, yaitu:

Navigasi duga yaitu penentuan posisi kapal di peta laut yang ditentukan berdasarkan perhitungan haluan dan
perhitungan kapal.

Navigasi datar yaitu penentuan posisi kapal di atas peta laut yang ditentukan berdasarkan penilikan benda-
benda bumi seperti gunung, tanjung, pulau dan lain-lain.

Ilmu pelayaran astronomis, yaitu ilmu pelayaran yang menggunakan benda benda angkasa (matahari, bulan,
bintang, dan sebagainya) sebagai pedoman dalam membawa kapal dari satu tempat ketempat lain.

Navigasi elektronik, yaitu ilmu navigasi yang berdasarkan atas alat-alat elektronika seperti radio pencari
arah (RDF),radar, loran, decca, dan sebagainya.

Bahan ajar ini ada dua standar kompetensi yang terdiri atas: pelayaran datar, sistem kemudi dan kompas.
Adapun materi pembelajarannya sebagai berikut :

Materi pembelajaran 1 : Bentuk Bumi & Nama Bagian-bagiannya

Materi Pembelajaran 2: Menjangka Peta

Materi Pembelajaran 3 : Arah-arah diBumi

Materi Pembelajaran 4: MenentukanPosisiKapal

Setelah menguasai materi ini para Taruna diharapkan mampu melayarkan kapal dengan menggunakan alat
bantu navigasi kompas dengan benar sesuai prosedur yang telah ditetapkan, sehingga pelayaran dapat
terlaksana dengan selamat dan efisien.

B. Prasarat

Untuk mempelajari bahan ajar ini Taruna dipersyaratkan memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus
tentang :

1. Peta laut

2. Tanda-tanda di peta laut

3. Benda bantu navigasi

4. Kompas,macam-macamhaluan,variasi,deviasi,sembir/salahtunjuk,

5. Bentuk bumi, lingkaran-lingkaran bumi yang meliputi derajah dan jajar sehingga diharapkan dapat
mempercepat pemahaman dan penerapan.

C. Petunjuk Penggunaan

1. Penjelasan bagi Taruna

1
a. Langkah-langkah belajar yang ditempuh

Kepada para Taruna sebelum menggunakan Bukun Bahan Ajar ini diharapkan berkonsentrasi secara penuh
agar dalam memperhatikan uraian-uraian serta langkah-langkah kerja menjadibenar-benar dapat dipahami
dan bukan menghapalkannya.Apabila terdapat kata atau istilah yang tidak Anda pahami atau tidak terdapat
dalam daftar peristilahan/glossary, tanyakanlah langsung kepada guru di kelas. Untuk memperoleh
pemahaman yang lebih mendalam buatlah kelompok belajar dan banyak praktik, kemudian buatlah
berbagaisoal-soal latihan sebab semakin banyak berlatih penguasaan materi ataupun keterampilan maka
penguasaan materi akan semakin meningkat.

Untuk memberikan kemudahan pada Taruna dalam mencapai tujuan pembelajaran, pada masing masing
butir bagian, para Taruna akan selalu menjumpai uraian materi, bahan latihan, rangkuman/intisari dan tes
formatif sebagai satu kesatuan utuh. Oleh karena itu sebaiknya anda mengetahui seluruh pembahasan itu,
sedangkan untuk

memperkaya pemahaman dan memperluas wawasan mengenai materi, disarankan agar membaca buku
rujukan yang sesuai dan dicantumkan di bagian akhir bahan ajar ini. Kepada para Taruna sebelum
menggunakan bahan ajar ini diharapkan berkonsentrasi secara penuh agar dalam memperhatikan uraian-
uraian serta langkah-langkah kerja agar benar-benar dapat dipahami dan bukan menghapalkannya. Apabila
terdapat kata atau istilah yang tidak anda pahami atau tidak terdapat pada daftar peristilahan/glossary,
tanyakanlah langsung kepada Dosen pembimbing di kelas. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih
mendalam buatlah kelompok belajar kemudian buatlah berbagai soal-soal latihan sebab semakin banyak
berlatih penguasaan materi ataupun keterampilan akan semakin meningkat.

b. Perlengkapan yang harus dipersiapkan

Dalammempelajaribuku ini Andaharusmenyiapkan:

1) Peta laut, dianjurkan peta pelabuhan dan peta pantai

2) Kompas magnet

3) Pejera celah

4) Mistar jajar

5) Sepasang segitiga

6) Pensil runcing 2B

7) Penghapuspensil halus

8) Peruncing pensil

9) Jangka semat atau jangka lukis

10) Teropong

11) Pemberat peta (chart weight)

2
c. Hasil pelatihan

Setelah menyelesaikan pelatihan/praktik sesuai materi yang ada di buku ini,diharapkan agar para taruna
benar-benar dapat memahami materi sesuai proseduryang benar, sehingga di dunia kerja nantinya para
taruna akan mudah dapat membuat dan menentukan posisi dan dapat menggunakan alat bantu pelayaran
kompas kapal di laut.

d. Prosedur sertifikasi

Pada pembelajaran kompetensi dasar yang ada di modul lebih dititik beratkan pada penguasaan pengetahuan
dan keterampilan pelayaran datar dan sistemkemudi dan kompas ketikaberadadilaut. Setelah menguasai
modul l ini, para taruna masih harus menguasai modul standar kompetensi pelayaran niaga yang lainnya
berkaitan dengan kompetensi olahgerak kapal dan komunikasi, kemudian dilanjutkan dengan tahapan ujian
atau evaluasi. Apabila para t telah menguasai semua materi tersebut maka pihak sekolah dapat
merekomendasikan kepada Panitia Pelaksana Uji Kompetensi dan Sertifikasi (PPUKS) agar kepada taruna
yang bersangkutan dapat diberikan kesempatan mengikuti uji kompetensi.

e. Peran Dosen dalam proses pembelajaran

Khusus kepada rekan Dosen diharapkan untuk :

1) Membantu Taruna dalam merencanakan proses belajar

2) Membimbing Taruna melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar

3) Membantu Taruna dalam memahami konsep dan praktik baru dan menjawab pertanyaan siswa mengenai
proses belajar

4) Membantu Taruna untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk

belajar

5) Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan

6) Merencanakan seorang ahli/pendamping Dosen dari tempat kerja

untuk membantu jika diperlukan

7) Merencanakan proses penilaian dan menyiapkan perangkatnya

8) Melaksanakan penilaian

9) Menjelaskan kepada siswa tentang sikap pengetahuan dan keterampilan dari suatu kompetensi yang perlu
untuk dibenahi dan merundingkan rencana pembelajaran selanjutnya

10) Mencatat pencapaian kemajuan Taruna

D. Tujuan Akhir

Setelah mempelajari modulinidiharapkan Taruna bisamenentukan dan melukisgarisbaringan dan membaca


kompas serta dapat menggunakan kemudi kapal, baik ketika kapal berada di tengah laut maupun obyek
sesuai prosedur dengan cepat dan benar.

E. Kompetensi Inti dan Kompetensi

3
PAKET KEAHLIAN : NAUTIKA

MATA PELAJARAN : ILMU PELAYARAN DATAR

4
5
F. CekKemampuan Awal

1. Tuliskan keadaan-keadaan yang membuktikan bahwa bumi berbentuk bulat ?

2. Tuliskan dan jelaskan apa yang anda ketahui tentang lintang dan bujur itu?

3. Apa tujuan utama adanya benda-benda baringan ?

4. Bagaimana prosedur membaring ?

5. Menurut Andamengapa diperlukan adanya benda-benda baringan angkasa seperti bintang, bulan dan
matahari ?

6. Bagaimana prosedur menentukan lintang dan bujur suatu posisi ?

6
II. PEMBELAJARAN

I. BENTUK BUMI DAN UKURAN BUMI.

A. Deskripsi

Bumi adalah suatu benda yang bergerak bebas di luar angkasa dan berbentuk seperti bola.

Koordinat di bumi dibagi atas dua bagian, yaitu:

1. Lintang Tempat ialah jarak antara tempat yang bersangkutan dengankatulistiwa. Lintang dihitung mulai
dari katulistiwa ke utara dan ke selatandari 0° sampai 90°.Lintang Katulistiwa = 0°, Lintang Kutub Utara =
90°U (I, M, U, KU),Lintang Kutub Selatan = 90°S (I, J, S, KS ).

2. Bujur Tempat ialah jarak antara tempat yang bersangkutan denganderajat nol, Bujur dihitung mulai dari
derajah nol ke timur dan ke baratdari 0°sampai 180° dibedakan dalam bujur timur (BT) dan bujur barat(BB).

Beberapa jajar istimewa adalah sebagai berikut :

a. Lingkaran balik Mengkara ialah jajar pada 23½0 U

b. Lingkaran Balik Jadayat ialah jajar pada 23½0 S

c. Lingkaran Kutub Utara ialah jajar pada 66½0 U

d. Lingkaran Kutub Selatan ialah jajar pada 66½0 S

B. Kegiatan Pembelajaran

1. Tujuan Pembelajaran:

Taruna dapat menjelaskan bentuk bumi dan nama bagian-bagiannya.

2. Uraian materi

001. BENTUK DAN UKURAN BUMI.

Bumi adalah suatu benda yang bergerak bebas diruang anggkasa dan berbentuk seperti bola.

Pembuktian dari bentuk bola :


1. Melengkung dari arah Utara – Selatan.
2. Melengkung dari arah Timur – Barat.
3. Apabila berlayar mendekati suatu suar maka yang terlihat pertama kali adalah bagian atasnya.
4. Ditengah laut permukaan bumi terlihat oleh sipenilik berbentuk lingkaran.
5. Bagian permuakaan bumi yang tampak semakain besar jika sipanilik berada semakin tinggi.
6.Pada saat gerhana bulan terliaht bayangan bumi seperti bola

002.DEFINISI LINGKARAN DIBUMI.

Poros Bumi : Garis menengah bola, keliling mana bumi berputar dalam satu hari
Kutub – Kutub : Titik – titik potong permukaan bumi dengan poros bumi.
Khatulistiwa : Lingkaran besar pada jarak 90º dari kutub – kutub.
Jajar : Lingkaran kecil sejajar dengan khatulistiwa.

7
Derajah : Lingkaran Sebagian derajah dari kutub sampai kutub.
Derajah Pertama : Lingkaran bujur melalui greenwich ( Derajah Nol/ Derajah pertama ).

Gambar 1. Bentuk Bumi

003.KOORDINAT DIBUMI.

Lintang : Bujur Derajah dihitung melalui Khatulistiwa sampai jajar yang melalui tempat itu dibedakan dalam
Lintang Utara dan Lintang Selatan dihitung dari 0º - 90º.

Bujur : Busur terkecil pada Khatulistiwa dihitung dari derajah Nol samapai derajah yang melalui tempat
itu. Dibedakan dalam Bujur Timur da Bujur Barat dihitung dari 0º - 180º.

Perbedaan Lintang (∆ Li ) Busur Derajah antara jajar - jajar melalui dua tempat.

Perbedaan Bujur (∆ Bu ) Busur dalam Khatulistiwa antara derajah - derajah melalui dua buah tempat.

Gambar 2. Gambar Bumi

Lingkaran – lingkaran dibumi : Derajah ; Menit,

Dibumi kita dapat melukis dua buah lingkaran yaitu Lingkaran Besar dan Lingkaran kecil.

Lingkaran Besar : Lingkaran yang membagi luas bumi dalam dua bagian yang sama ( titik pusatnya selalu
berhimpit dengan titik pusat bumi ).

8
Lingkaran Kecil : Lingkaran yang membagi luas bumi dalam dua bagian yang tidak sama besarnya.

Derajat = Satu derajat ( 1º ) adalah 1 Bagian dari lingkaran

360

Menit = Satu Menit ( 1‘ ) adalah 1 bagian dari satu derajat..

60

Gambar 3,Lingkaran Besar dan Lungkaran Kecil

Gambar 4. Lintang dan Bujur

004. LINTANG SUATU TEMPAT DIBUMI,

Lintang : Busur derajah yang melalui tempat tertentu. Dihitung mulai dari Khatulistiwa sampai jajar
tempat tsb

Tiap titik diKhatulistiwa mempunyai Lintang = 0º . Sedang dikutub-kutub :intang = 90º .

9
Lintang dubedakan dengan Lintang Utara dan Lintang Selatan dari ( 0º sampai 90º ).

Perbedaan Lintang ( ∆ Li ) : Unsur derajah, dihitung dari jajar titik yang satu sampai jajar titik yang

lain.

Lintang Senama dan Lintang Tak Senama.:

Senama : Jika dua titik dibumi keduanya terletak disetengah bulatan utara atau Selatan

Maka perbedaan Lintangnya dikurangi

Contoh : L1 ( A ) = 02º 20' U.

L2 ( B ) = 05º 30‘ U.--

∆ Li = 03º 10'

Tak Senama : Jika titik yang satu terletak setengah bulatan Utara dan yang lain setengahan bulatan
selatan. Maka perbedaan Lintangnya Ditambahkan

Contoh : L1 ( A ) = 02º 20' U.

L2 ( B ) = 05º 30' S.+

∆ Li = 07º 50'

Penjelasan Lintang Senama dan Lintang Tidak Senama. Jika dua tempat (titik A dan B) di bumi
mempunyai lintang yang senama misalkan Lintang Utara (LU) maka menghitung perbedaan lintangnya (⧍li)
diperoleh dengan mengurangkan kedua lintangnya satu sama lain.

Kemudian jika kedua tempat (titik A dan B) di bumi mempunyai Lintang tidak senama artinya satu
tempat/titik A terletak di Lintang Utara (LU) dan yamg tempat/titk B terletak di Lintang Selatan (LS) maka
menghitung perbedaan Lintangnya (⧍ li) diperoleh dengan menambahkan kedua Lintangnya.

10
005. BUJUR SUATU TEMPAT DIBUMI

Bujur : Busur terkecil pada Khatulistiwa, dihitung mulai dari derajah Nol sampai
derajah yang melalui tempat itu.

Bujur Timur Dan Bujur Barat.

Jika kita berdiri dititk potong dari Khatulistiwa dan derajah Nol dengan menghadap keutara maka

tempat disebelah kanan adalah Bujur Timur dan disebelah kiri Bujur Barat,(0º sampai 180º ).

Semua titik pada derajah yang sama mempunyai bujur yang sama. Tempat-tempat pada bujur 180⁰ T =

180⁰ B pada khatulistiwa kita dapat juga mengukur perbedaan bujur dari dua tempat tertentu.

Perbedaan Bujur ( ∆ Bu ) : Busur terkecil dari Khatulistiwa dihitung dari derajah titik yang satu

sampai derjah titik yang lainnya.

Perbedaan bujur disebut juga Perubahan Bujur.

BUJUR SENAMA DAN TIDAK SENAMA

Senama : Jika kedua Buhurnya senama maka perbedaan Bujur ( ∆ Bu ) kita peroleh
dengan Mengurangi.Satu sama lainnya.

Contoh : B1 ( A ) = 060º 20‘ T.

B2 ( B ) = 067º 50' T –

∆ Bu = 07º 30‘

Tak Senama : Didekat derajah Nol maka untuk memperoleh perbedaan Bujur ( ∆ Bu ) kita hanya
menambakan.

Contoh : B1 ( A ) = 020º 10‘ T.

B2 ( B ) = 030º 30' T +

∆ Bu = 05º 40‘

Didekat derajah 180º maka perbedaan Bujur ( ∆ Bu ) dapat diperoleh dengan dua cara :

a. Jumlahkan kedua bujur tersebut dan kurangkan hasilinya dengan 360º

Contoh : B1 ( A ) = 178º 20‘ T.

B2 ( B ) = 177º 50' T +

356º 10’ ( 360º ) ∆ Bu = 03º 50‘.

Kurangkan tiap bujur dari 180º dan jum lahkan kedua hasinya :

11
Contoh : B1 ( A ) = 178º 20‘ T. ( - 180º ) 01º 40'

B2 ( B ) = 177º 50' T 02º 10‘

∆ Bu = 03º 50‘.

Pada penunjukan Lintang dan Bujur harus selalu diIngat :

Lintang dan perbedaan Lintang dapat dibaca pada setiap derajah.

Bujur dan perbedaan bujur dapat dibaca hanya pada khatulistiwa saja.

Tes Formatif

a. Koordinat di bumi terbagi menjadi dua bagian, tuliskan dan berikan penjelasannya ?

b. Bumi berbentuk bulat, tuliskan keadaan-keadaan yang membuktikan bahwa bentuk bumi itu
memang bulat ?

c. Tuliskan dan jelaskan yang dimaksud dengan Lintang dan Bujur ?

d. Tuliskan yang dimaksud dengan perbedaan lintang dan perbedaan bujur itu ?

12
PEMBELAJARAN KE II.

JAJAR ISTIMEWA DAN ARAH MATA ANGIN

006. JAJAR ISTIMEWA ; DAERAH IKLIM

1. Lingkaran balik Mangkara ialah Jajar pada 23 ½ º Utara

2. Lingkaran Balik Djadajat ialah Jajar pada 23½ º Selatan.

3. Lingkaran Kutub Utara ialah Jajar pada 66½ º Utara.

4. Lingkaran Kutub Selatan ialah Jajar pada 66½ º Selatan.

Lingkaran-lingkaran tersebut membagi permukaan bumi menjadi 5 bagian yang disebut daerah iklim.

I. Daerah Iklim Dingin : Terletak pada tiap setengah bulatan bumi, pada sisi kutub dari lingkaran kutub.

II. Daerah Iklim Sedang : Terletak pada tiap setengah bulatan ( Sub Tropik ) Antara Lingkaran balik dan
lingkaran kutub.

III.Daerah Iklim Panas : Terletak antara dua lingkaran Balik.

Gambar 7. Jajar-jajar Istimewa

007. UKURAN BUMI

Ukuran bumi yang berbentuk bulat disebutdengan derajat, menit dan detik ukuran mana lazim dipergunakan
untukmengukur sudut atau panjang busur suatu derajah di bumi. Tetapidipermukaan bumi untuk pekerjaan
sehari-hari juga diperlukan ukuranpanjang seperti kilometer, meter dan sebagainya.

Dari hal tersebut di atas maka sangat penting untuk mengadakan hubungan ukuran “lengkung” dan ukuran
“memanjang” satu sama lain seperti derajat dan meter, jadi jelasnya mengukur 10 dengan ukuran

13
meter.Pekerjaan tersebut dilakukan dengan menggunakan cara :

1) Penentuan tempat dengan penilikan astronomis adalah menentukan li antara dua buah titik pada derajah
yang sama.

2) Pengukuran jarak secara langsung atau cara triangulasi (pengukuran segitiga).

Maka pada bumi yang berbentuk bola, dapat dihitung :

Gambar 8.Ukuran Bumi

008. PENYIMPANGAN DARI BENTUK BUMI.

Panjang jari-jari bumi didapat dari keliling derajah. Pengukuran derajah pada berbagai lintang menunjukan
bahwa jari-jari bumi tidak semua sama panjangnya .

Ternyata bumi tidak berbentuk bulat penuh tetapi terpipih pada kutub – kutubnya

( Sferoid / Elipsoid )

Sferoid = Benda yang terjadi dengan memutuskan sebuah elips sekeliling poros pendeknya.

Pipihan bumi menurut Hayford :

a–b = 1 a = jari – jari khatulistiwa

a 297 b = jari – jari kutub.

14
Artinya selisih antara jari – jari katulistiwa dan jari – jari kutub adalah :

Gambar 9 , Penyimpangan Dari Bentuk Bola

Akibatnya garis menengah kat > panjang poros bumi

009. BENTUK ELLIPS DARI DERAJAH.

a). Ternyata bahwa

satu menit derajah pada lintang yang tinggi adalah lebih panjang daripada dilintang

yang lebih rendah.

1’ derajah pada kutub ( 1’90 ) = 1861 m

Gambar 10, Bentuk ellips dari derajah.

1’ Derajah pada Khatulistiwa ( 1‘ ₒ ) = 1843 m

1‘ Khatulistiwa (1 kat ) =1855 m

Terbukti bahwa 1‘ kut > 1‘ 1 kat. Didekat kat : menit-menit derajah < menit – menit Jajar pada lintang yang
sama.

Pada Lintang 06º 35’ : menit – menit derajah = Menit – menit jajar.

Pada Lintang Yang Tinggi : Menit – menit Derajah > Menit – menit Jajar

15
b).MIL LAUT ( INTERNATIONAL NAUTICAL MIL )

Nilai menengah dari panjangnya satu menit derajah ( 1861 + 1843 ) m = 1852 m

Pada Lintang ± 45º Panjang Satu Menit Derajah adalah sama dengan 1 mil laut.

Keliling bum = 40.000.000 m bentuk bola ) Jadi 1 mil laut = 40.000.000 = 1851,851 m

350 x 60

Didalam ilmu pelayaran, panjang jari – jari bumi yang berbentuk bola ditentukan sebesar 6370 km.

Dari panjang ini berakibat bahwa

1º Lingkaran Besar = 2 ῃ x 6.370 km = 111, 12 km

360

Jadi 1‘ Lingkaran Besar = 111, 120 m = 1852 m

60

maka 1 mil laut adalah 1’ lingkaran besar dari bumi yang berbentuk bola.

c). LINTANG GEOGRAFIS ( Q ).

Sudut antara normal si Penilik dan bidang Khatulistiwa

Lintang Geografis = Normal ┴ bidang singgung pada si penilik serta bidang Khatulistiwa ┴ arah kutub.

d). LINTANGN GEOSENTRIS ( Q’ ).

Sudut antara jari – jari bumi ditempat si penilik dan bidang khatulistiw).

16
010. 1’JAJAR DAN 1’ ∆ Bu

Jari – jari Jajar ( r ) = Jari –jari kat ( R ) x Cos Li


2 ῃ r = 2 ῃ R x Cos Li

Keliling Jajar = Keliling 1’ x Cos Li

Panjang 1’ Jajar = Panjang 1’ kat x Cos Li.

011. PEMBAGIAN MATA ANGIN

Mawar Pedoman jika garis U – S dan garis T– B ditarik tegal lurus melalui titik pusat mawar, maka akan
membagi wawar menjadi 4 (empat ) kuadran. Tiap kuadran dibagi 8 surat, kemudian dalam surat dibagi
dalam ½ surat dan ¼ surat .

Cakrawala Setempat : Bidang melalui mata si penilik ┴ Normal.

Garis Utara – Selatan : Irisan cakawala setempat dengan bidang derajah si penilik.

Mawar Pedoman : Menggambarkan cakrawala setempat.

Surat Induk : U – T - S dan B

Surat Antara : TL – M – BD – BL

Surat Tambahan : UTL – TTL – TM – SM

SD – BBD – BBL – UBL

1 Surat adalah : 11 ¼ º

17
Jadi : 1 Surat = 11¼⁰ 16 Surat = 180⁰

8 Surat = 90⁰ 32 Surat = 360⁰

Penyebutan surat – surat dari U dan dari S baik dari T maupun dari B.

Contoh penyebutan arah: Barat Daya 225º = S 45º B

Jadi untuk menyatakan arah / haluan dipakailah :

1. Notasi surat ( Mata angin ).

2. Notasi 3 bilangan ( Dari 000º s/d 360º kekanan

3. Notasi kuadran ( U/ S 0º - 90º T/B ).

Gambar 11, Arah Mata Angin

Pembacaan Mata Angin

1. Utara = 360⁰ = 000⁰

2. Utara di Kiri Jarum Pendek = 11¼⁰

3. Utara Timur Laut = 22½⁰

4. Timur Laut di Kanan Jarum Pendek = 33¾⁰

5. Timur Laut = 45⁰

6. Timur Laut di Kiri Jarum Pendek = 56¼⁰

7. Timur Timur Laut = 67½⁰

18
8. Timur di Kanan Jarum Pendek = 78¾⁰

9. Timur = 90⁰

10. Timur di Kiri Jarum Pendek = 101¼⁰

11. Timur Menenggara = 112½⁰

12. Tenggara di Kanan Jarum Pendek = 123¾⁰

13. Tenggara = 135⁰

14. Tenggara di Kiri Jarum Pendek = 146¼⁰

15. Selatan Menenggara = 157½⁰

16. Selatan di Kanan Jarum Pendek = 168¾0

17. Selatan = 180⁰

18. Selatan di Kiri Jarum Pendek = 191¼⁰

19. Selatan daya = 202½⁰

20. Barat Daya diKanan Jarum Pendek = 213¾⁰

21. Barat daya = 225⁰

22. Barat Daya di Kiri Jarum Pendek = 236¼⁰

23. Barat Barat Daya = 247½⁰

24. Barat di Kanan Jarum Pendek = 258¾⁰

25. Barat = 270⁰

26. Barat di Kiri Jarum Pendek = 281¼⁰

27. Barat Barat Laut = 292½⁰

28. Barat Laut di Kanan Jarum Pendek = 303¾⁰

29. Barat Laut = 315⁰

30. Barat Laut di Kiri Jarum Pendek = 326¼⁰

31. Utara Barat laut = 337½⁰

32. Utara di Kanan Jarum Pendek = 348¾0

33. Utara = 360⁰= 000⁰

Contoh Penyebutan arah :

19
Barat Daya = 225⁰ = S 45⁰ B

Timur Menenggara = 112½⁰ = S 67½⁰T

24. Barat di Kanan Jarum Pendek = 258¾⁰ 25. Barat = 270⁰

26. Barat di Kiri Jarum Pendek = 281¼⁰ 27. Barat Barat Laut = 292½⁰

28. Barat Laut di Kanan Jarum Pendek = 303¾⁰ 29. Barat Laut = 315⁰

30. Barat Laut di Kiri Jarum Pendek = 326¼⁰ 31. Utara Barat laut = 337½⁰

32. Utara di Kanan Jarum Pendek = 348¾⁰ 33. Utara = 360⁰ = 000⁰

Tes Formatif

1. Tuliskan dan gambarkan jajar-jajar istimewa?


2. Tulislah pembagian iklim dibumi.?
3. Sebutkan Surat Induk, Surat antara dan tambahan ?
4. Bagaimana cara penyebutan Barat Daya ?

Tugas Praktek

1. Mengenal Peralatan Navigasi Biasa.

2. Mengenal Peralatan Menjangka Peta.

3. Menentukan bentuk bumi dan bagian-bagiannya.

4. Menentukan koordinat dibumi.

20
PEMBELAJARAN KE III.

PROYEKSI PETA
A. Deskripsi

Peta laut ialah hasil pemindahan bentuk lengkung bumi keatas bidang datar yang memuat hal-hal dan
keterangan yang dibutuhkan seorang navigator dalam menentukan posisi kapal, jarak, haluan dan
keselamatan navigasi dilaut serta dilengkapi dengan benda bantu navigasi dan peruman-peruman.

Proyeksi peta adalah cara untuk menggambarkan seluruh atau sebagian permukaan bumi pada sebuah bidang
datar (peta laut).

Katagori proyeksi peta terbagi atas bagian utama yang dijelaskan pada gambar dibawah ini :

1. Proyeksi pada bidang datar ( azimuthal proyection )

2. Proyeksi pada bidang kerucut ( conical proyection )

3. Proyeksi pada bidang silinder ( cylindrical proyection )

Yang dimaksud dengan benda-benda pembantu navigasi ialah benda-benda yang membantu navigator dalam
menemukan daratan bila datang dari laut, dan memberi serta menunjukkan arah ketempat tujuannya
(misalnya pelabuhan).

B. Kegiatan Pembelajaran

1. Tujuan Pembelajaran:

Taruna dapat menggunakan peralatan menjangka peta, membaca istilah-istilah dan membuat garis baringan
diatas peta pelayaran.

2. Uraian Materi:

a. Menjangka Peta

012. PENGERTIAN TENTANG PETA LAUT.

Peta laut ialah hasil pemindahan bentuk lengkung bumi ke atas bidang datar yang memuat hal-hal serta
keterangan yang dibutuhkan seorang navigator dalam menentukan posisi kapal, jarak, haluan dan
keselamatan navigasi dilaut serta dilengkapi dengan benda bantu navigasi dan peruman-peruman.

Peta laut dibuat sedemikian agar dapat dipakai untuk merencanakan atau mengikuti suatu pelayaran di laut
lepas, perairan pedalaman seperti danau, sungai, terusan dan lain-lain. Dengan demikian, peta laut itu
dipakai untuk pedoman berlalu lintas di atas air.

Proyeksi peta yang ideal ialah proyeksi yang tidak mengalami distorsi jarak, sudut, luas dan bentuk,
sehingga keadaan asli permukaan bumi tergambar sama persis dengan peta. Jarak di peta sama dengan jarak
di lapangan atau equidistant. Sudut/arah di peta sama dengan arah/sudut di lapangan atau sama bentuk
(conform). Luas di peta sama dengan luas di lapangan atau sifatnya equalarea. Namun keadaan ideal ini

21
tidak akan dapat dipenuhi oleh suatu proyeksi peta manapun. Jadi distorsi tidak dapat dihilangkan, hanya
dapat dikurangi saja .

Proyeksi peta tidak lain adalah Metoda/ teknik untuk menggambarkan/ memindahkan bidang lengkung
seluruh atau sebagian permukaan bumi ( Bola dari steroid) ke bidang datar yang berupa peta.

Tujuan pokok suatu proyeksi peta adalah menggambarkan bentuk bola bumi/globe ke bidang datar yang
disebut peta dengan distorsi sekecil mungkin. Seperti telah dijelaskan di bagian depan, untuk mencapai
ketiga syarat ideal suatu proyeksi adalah hal yang tidak mungkin, dan untuk mencapai suatu syarat saja
untuk menggambarkan seluruh muka bumi juga merupakan hal yang tidak mungkin. Yang mungkin
dipenuhi ialah salah satu syarat saja dan itupun hanya untuk sebagian dari permukaan bumi. Suatu
kompromi atau jalan tengah antara syarat-syarat di atas bisa diambil, guna memungkinkan membuat
kerangka peta yang meliputi wilayah yang lebih luas.

013. KATAGORI

Katagori Proyeksi Peta yang terrpenting terbagi atas 3 (tiga) bagian utama yang dijelaskan pada gambar di
bawah ini

I. Proyeksi Selinder ( Pada bidang selinder / cylindrical proyection)

2. Proyeksi Azimuth ( Pada bidang singgung / datar / azimuthal proyection).

3. Proyeksi Kerucut ( Pada bidang kerucut / conical proyection).

014. PROYEKSI PETA

Proyeksi peta yang ideal ialah proyeksi yang tidak mengalami distorsi jarak, sudut, luas dan bentuk,
sehingga keadaan asli permukaan bumi tergambar sama persis dengan peta. Jarak di peta sama dengan jarak
di lapangan atau equidistant. Sudut/arah di peta sama dengan arah/sudut di lapangan atau sama bentuk
(conform). Luas di peta sama dengan luas di lapangan atau sifatnya equalarea. Namun keadaan ideal ini
tidak akan dapat dipenuhi oleh suatu proyeksi peta manapun. Jadi distorsi tidak dapat dihilangkan, hanya
dapat dikurangi saja . Proyeksi peta tidak lain adalah teknik memindahkan bidang lengkung permukaan bumi
ke bidang datar yang berupa peta.

Tujuan pokok suatu proyeksi peta adalah menggambarkan bentuk bola bumi/globe ke bidang datar yang
disebut peta dengan distorsi sekecil mungkin. Seperti telah dijelaskan di bagian depan, untuk mencapai
ketiga syarat ideal suatu proyeksi adalah hal yang tidak mungkin, dan untuk mencapai suatu syarat saja
untuk menggambarkan seluruh muka bumi juga merupakan hal yang tidak mungkin. Yang mungkin
dipenuhi ialah salah satu syarat saja dan itupun hanya untuk sebagian dari permukaan bumi. Suatu
kompromi atau jalan tengah antara syarat-syarat di atas bisa diambil, guna memungkinkan membuat
kerangka peta yang meliputi wilayah yang lebih luas.

Pada proyeksi selinder disekeliling globe ditaruhkan bidang selinder yang menyinggung. Sehubungan
dengan persyartan yang harus dipenuhi oleh peta, titik – titk diglobe digambarkan padaselubung selinder tsb.

Poros selinder dapat dipilih sepanjang poros bumi, atau pada bidang khatulistiwa atau sembarang.

22
Gambar 12, Proyeksi Selinder Normal.

Gambar 13, Proyeksi Azimuth

Pada proyeksi Azimuth disini digunakan suatu bidang singgung pada globe. Menurut peraturan tertentu titik
– titik pada globe digambarkan pada bidang datar . Titik singgungnya dapat dipilih dikutub atau disuatu titik
pada khatulistiwa ataua sembarang saja ialah :

1. Proyeksi Azimuth normal ( Polar ).

2. Proyeksi azimuth transfersal ( equatorial )

3. Proyeksi azimuth miring ( sembarang )

x = Titik singgung ( Point Of tangency )

Jika proyeksi berasal dari titik pusat globe maka proyeksi ini disebut proyeksi gnomonik.

23
015. SYARAT –SYARAT PETA LAUT

Agar bekerja didalam peta dapat berlangsung sesederhana mungkin , seharusnya peta laut memenuhi syarat
sebagai berikut :

1. Loksodrom digambarkan sebagai garis lurus sehubungan dengan kepentingan menarik haluan –
haluan dan baringan – baringan.
2. Lingkaran Besar digambarkan sebagai garis lurus . Sehingga perjalanan dan baringan jarak jauh
dapat dikerjakan dengan mudah.
3. Skalanya harus konstan ( Tetap ). Sehingga jarak dapat diukur secara seksama.
4. Peta ini harus konform ( sama sudut ) sehubungan dengan pengukuran dan pelukisan arah – arah.

016. UNTUK KEPENTINGAN NAVIGASI SEHARI - HARI,

1. Peta harus konform ( sama sudut )


2. Loksodrom harus terlukis sebagai garis lurust pada a
3. Perubahan skala sekecil mungkin

Peta – peta dalam konstruksi Mercat or (proyeksi selinder) lengkap memenuhi syarat pada a dan b serta
untuk lintang yang tidak terlampaui luas , juga memenuhi syarat c.

Secara Internasional disepakati bahwa peta – peta laut dengan skala lebih kecil dari 1 : 50.000 dilaksanakan
dalam konstruksi mercator ( 1 mil = 37 mm ).

Untuk peta khusus (misal Lingkaran besar dan peta navigasi kutub ) dan untuk peta – peta skala lebih besar
dilaksanakan dengan proyeksi gnomonik.

017. PENERAPAN / PENGGUNAAN PETA – PETA.

Dimaksud untuk tujuan pembuataan dari peta tersebut . Tujuan ini sudah barang tentu mempengaruhi pada
pilihan metode proyeksinya.

Demikian kita bedakan sebagai berikut :

A. Peta Geologi ( Sususnan kerak bumi )

B. Peta Hydrologi ( Sususnan laut dan samudra )

C. Peta Navigasi Maritim

D. Peta Udara

E. Peta cuaca , dan sebagainya

24
018. UNSUR – UNSUR DIBUMI DAN DIPETA MERCATOR

Tabel 1. bentuk – bentuk derajah / jajar dibumi dan dipeta Mercator

Gambar 14. Bentuk Derajah dan Jajar

019. GAMBARAN PERMUKAAN BUMI

Untuk menggambarkan permukaan bumi dipergunakan Globe dan peta –peta.

Globe : Bola, dalam mana letak berbagai titik pada permukaan bumi satu sama lain diberikan dalam
perbandingan yang sebenarnya.

Peta : Gambaran bumi atau bsebagian permukaan bumi pada bidang datar.

020. LOKSODROM.

Adalah garis dibumi, yang membentuk sudut – sudut yang sama dengan semua derajah.

Loksodrom Istimewa = Derajah – derajah , Jajar – jajar dan khatulistiwa.

25
Haluan : Sudut antara garis lunas kapal dan garis utara sealatan

Jauh : Jarak antara dua titik dibumi diukur dengan mil laut sepanjang loksodrom.

Laju : Kecepatan dinyatakan dalam mil tiap jam / knot

021. JARINGAN PETA

Gambaran derajah – derajah dan Jajar – jajar didalam peta, terdiri atas garis – garis lurus yang saling
memotong tegak lurus.

Dengan persyaratan Sbb :

a. Equipvalent (sama luas) : Luas –luas diberikan dalam perbandingan yang benar.
b. Equidistance : Jarak - jarak terhitung dari suatu titik tertentu diberikan dalam perbandingan yang
sama.
c. Konform ( sama sudut ): Sudut – sudut pada bola bumi berpindah didalam peta , tanpa mengalami
perubahan.

022. SKALA PETA

Skala ialah perbandingan satu satuan panjang dipeta dengan panjang garis tersebut sesungguhnya dibumi..
Untuk menyatakan skala ada beberapa macam cara yang dipakai, antara lain :

Lazimnya disebut dengan pecahan dengan pembilang 1 misanya : Skala 1 atau

10.000

1 : 10.000 Artinya garis dipeta itu harus dikalikan 10.000 untuk mendapatkan panjang sebenarnya.

Misalkan skala peta = 1/p’ , garis dibumi = AB dan garis dipeta = ab Maka ab = 1 x AB

Menyiapkan kamarpeta 1 cm : 10 km, artinya 1 cm dipeta = 10 km pada keadaan sesungguhnya.

a.Skala Grafik (Grafical Scale),

Pada peta sering terdapat sebuah garis yang mempunyai pembagian dalam mil, yard, km atau m. Jarak-
jarak dipeta ini dapat diukur dengan memakai skala tadi.

b. Pembagian Peta Menurut Kegunaan dan Skalanya

1. Peta Ichtisar.

o Skala 1 : 60.000 atau lebih besar

o Skala kecil, meliputi daerah luas

o Details peta tak perlu

o Memberi keterangan tentang navigasi, dapat dipakai untuk menentukan cruise track dari satu tempat
ketempat lain.

26
2. Peta Samudera ( Sailing Chart )

o Skala 1 : 600.000 atau lebih kecil

o Dipakai untuk penyeberangan samudera

o Meliputi daerah yang luas

3. Peta Antar Pulau (Peta Haluan, Peta Perantau, General Chart)

o Skala kira kira antara 1 : 100.000 - 1 : 600.000

o Dipakai untuk antar pulau

o Details peta sudah harus ditunjukkan walaupun tidak seteliti peta pantai atau peta pelabuhan

4. Peta Pantai

o Skala antara 1 : 50.000 - 1 : 100.000

o Dipakai pada waktu mendekati/menjauhi teluk, pelabuhan

o Details peta mutlak diperlukan demi keselamatan pelayaran

5. Peta Penjelas

o Skala antara 1 : 50.000 atau lebih didaerah perairan sempit, daerah berbahaya atau daerah yang rawan
dilayari

o Detail peta mutlak diperlukan

6. Peta Pelabuhan

o Skala kira kira 1 : 50.000 atau lebih

o Dipakai waktu mendekati/meninggalkan pelabuhan atau dermaga, juga untuk merencanakan tempat
berlabuh.

c. Keterangan-keterangan umum/details yang terdapat dalam peta laut

Pada umumnya keterangan yang terdapat pada peta antara lain :

1• Nomer Peta, tertulis pada sudut kiri atas dan kanan bawah peta laut.

2• Nama peta, (titel atau judul peta) biasanya terdapat :

o Di tempat yang paling baik/layak,

o Tidak menutupi route pelayaran utama atau keterangan penting lainnya dari peta itu.

3.Tahun survai/tahun perpetaan,terdapat dibawah nama/judul peta.

4• Tahun penerbitan,terdapat diluar batas peta, tengah-tengah, bawah.

5• Tahun Penerbitan Baru, biasanya disebelah kanan tahun percetakan lama, kalau peta edisi baru
dikeluarkan maka koreksi besar maupun kecil pada peta edisi yang lama otomatis dinyatakan hilang.

27
6• Tanggal koreksi besar,biasanya di sebelah kanan dari tahun penerbitan, jika disebelah kanannya telah
dicetak tahun edisi baru, maka koreksi ini dicetak dibawahnya.

7• Koreksi kecil,ditulis oleh navigator dari buku/berita pelaut Indonesia (BPI), tahun dan nomor BPI ditulis
disebelah kiri bawah sebelah luar batas peta.

Contoh : penulisan 1967 - 12 artinya dikoreksi tahun 1967, dari BPI No. 12, bila koreksi ini sifatnya
sementara maka dibawah koreksi ini ditulis dengan pensil.

(T) = Temporary, (P) = Preliminary.

8• Tahun Percetakan,terdapat disudut sebelah kanan atas.

Contoh :237,69 artinya hari ke 237 dari tahun 1969

9• Skala Peta, biasanya terdapat dibawah judul/nama peta,

10• Ukuran Peta, terdapat di sudut kanan bawah dalam tanda kurung dan dinyatakan dalam inchi/dim

11• Dalamnya Laut,dinyatakan dalam depa dan kaki atau meter atau decimeter. Satuan dalamnya laut
biasanya dicetak dibawah nama/judul peta

Contoh : Sounding in fathom and sounding in meters.

12• Garis Dalam, garis yang menghubungkan tempat-tempat dengan kedalaman yang sama.

13• Lintang dan Bujur di Peta,lintang dipeta terlukis sebagai garis pembatas dibagian atas dan bawah peta,
bujur dipeta terlukis sebagai garis pembatas dibagian kiri dan kanan peta.

023. PETA LAUT

Untuk kepentingan berlayar pada umumnya harus memenuhi syarat – syarat sbb :

1. Sudut- sudut dibumi harus dapat dipindahkan ke peta tanpa perubahan ( konform )

2. Loksodrom garis haluan dipeta harus dapat dilukiskan sebagai garis lurus.

Peta yang memenuhi kedua syarat ini disebut peta bertumbuh akibatnya :

1. Derajah merupakan garis lurus


2. Jajar – jajar merupakan garis lurus.
3. Tiap derajah ┴ tiap jajar.
4. Derajah – derajah harus // satu sama lain.
5. Jajar – jajar harus // satu sama lain

024. PETA MERCATOR

Peta mercator diketemukan oleh Gerdhard Kremer atau didalam bahasa latinnya disebut Gerardus Mercator.
Bentuk proyeksi yang dibuat oleh G.Mercator ini sama dengan bentuk proyeksi silinder, dimana silindernya
menyinggung bola bumi dikatulistiwa dan titik pusat bumi adalah titik pusat proyeksi. Oleh karena itu, bumi

28
berbentuk bola itu tidaklah bulat benar maka hasil proyeksi tidak memberikan gambaran bumi yang
mendekati bentuk yang sebenarnya.Kesalahan-kesalahan yang paling jelas dan besar terdapat pada kutub,
karena jari-jari bumi makin mengecil kearah kutub bila dibandingkan dengan jari-jari bumi di katulistiwa.
Hal itudisebabkan peta Mercator yang dipakai sekarang ini bukanlah hasil proyeksi silinder semata-mata,
tetapi merupakan hasil perhitungan matematika untuk lintang bertumbuh yang dilakukan oleh Edward
Wright. Perhitungan Mercator sebagai hasil perhitungan matematisnya Edward Wright mempunyai beberapa
kelebihan antara lain :

a) Garis lintang dan garis bujur adalah garis-garis lurus yang saling tegak lurus satu sama lain.

b) Garis loxodrome (haluan kapal) juga merupakan garis lurus. Pada peta garis loxodrome memotong bujur-
bujur atas sudut yang sama.

c) Sudut antara garis haluan dibumi sama dengan pada peta katulistiwa dan lintang sejajar satu sama lain
demikian juga bujur-bujur sejajar satu sama lain. Katulistiwa dan lintang tegak lurus bujur-bujur.

d) Skala bujur tetap.

e) Skala lintang dan skala bujur pada peta Mercator.

Skala lintang :

 Terdapat dikiri/kanan pinggiran peta

 10 skala lintang = 60 mil laut

 Skala lintang dipakai untuk mengukur jarak

Skala Bujur :

 Terdapat dipinggir atas/bawah peta

 Skala bujur berdasarkan katulistiwa

 Skala bujur hanya dipakai untuk menentukan bujurnya suatu tempat bukan untuk mengukur jarak pada
bola bumi.

29
Gambar 15, Peta Laut

025. KETERANGAN PETA BERTUMBUH ( KONSTRUKSI MERCATOR ).

Derajah – derajah , Jajar – jajar dan khatulistiwa adalah Loksodrom, jadi dipeta merupakan garis – garis
lurus

Dibumi derajah – derajah memotong khatulistiwa ┴ jadi juga dipeta .

Dibumi Jajar – jajar memotong derajah – derajah ┴ jadi dipeta jajar – jajar itupun merupakan garis lurus //
khatulistiwa.Tarikla garis lurus mendatar, sebagai khatulistiwa dan tentukanlah skalanya pada khatulistiwa .
Maka pada garis lurus tsb dapat dijangka menit – menit khatulistiwanya.

Pada titik – titik bagi tariklah derajah – derajah sebagai garis lurus ┴ khatulistiwa ( misalnya : skala
dikhatulistiwa : 1 cm = 1’ khatulistiwa ). Pada jarak beraapakah jajar – jajar sekarang harus ditarik untuk tiap
menit ? .

Panjang 1’ Jajar pada lintang 0º 1’ dibumi = 1 Kat x Cos 0º 1’. Oleh karena derajah – derajah dipeta itu
ditarik // , maka 1’ Jajar dilukiskan sebagai 1 Khatulistiwa, jadi dikalikan dengan Sec 0º 1’ .

Sekarang menit derajah dari 0º 0’ - 0º 1’ harus juga dikalikan sebagai 1’ Khatulistiwa x Sec 0º 1’.

30
Demikian pula menit derajah dari 0º 1’ - 0º 2’ dilukiskan sebagai 1’ Kat x Sec 0º 2’ dan seterusnya.

Gambar 16, Konstruksi Mercator berdasarkan proyeksi selinder

DEFINISI :

Peta bertumbuh = Peta laut, dalam mana semua menit jajar = 1’ Kat

dari semua Derajah = 1’ Kat x Secan Lintangnmya

Jarak antara jajar pada lintang Φ sampai khatulistiwa dipeta bertumbuh adalah secara mendekati .

( Sec 0º 1’ + Sec oº 2’ + Sec 0º 3’ + ………………. Sec Φ ) x 1’ Khatulistiwa.

026. LINTANG BERTUMBUH

Pengukuran Lintang didalam peta bertumbuh diukur dengan menit – menit khatulistiwa.

Maka didapati

LB Φ = ( Sec 0º 1’ + Sec oº 2’ + Sec 0º 3’ + ………………. Sec Φ ) x 1’ Khatulistiwa

31
Peta bertumbuh ditemukan oleh : Gerad Kremer ( Mercator ) pada tahun 1569.

Peta bertumbuh = peta Lintang bertumbuh = Peta Mercator.

Peta Mercator atau juga disebut dengan Peta Lintang Bertumbuh, mengapa dikatakan peta bertumbuh karena
jarak antara lintang 10° ke lintang 20° lebih besar jaraknya daripada jarak antara lintang 0° ke lintang 10°.
Makin mendekati kutub jarak anata jajar jajar makin membesar atau dikatakan bertumbuh.

Gambar 17. Peta Mercator jarak A0,A1 - A1,A2 < A0 A1- A2A3

Cara penulisan sebuah benda/titik dipeta harus menggunakan lintang (LU/LS) dan bujur ( BT/BB ) adalah
sebagai berikut :

00⁰ 00’ 00’’ LS / LU

000⁰ 00’ 00’’ BT / BB

Contoh :

a. 55⁰30 !25 !! LS

114⁰05’35 ‘’ BT

b. 08⁰ 45’ 55’’ LU

085⁰ 07’00’’BB

027. PEMBUKTIAN KONFORMITAS PETA BERTUMBUH.

Misal ABC adalah segitiga siku –siku kecil di bumi / bola. :

AB Sepanjang Derajah

BC Sepanjang Jajar Lintangnya

Dan abc adalah gambarannya dipeta bertumbuh . Skala pada Khatulistiwa = 1/p

32
Maka ab = 1 X AB Sec Φ dan bc = 1 x BC Sec Φ

p p

Jadi ab = bc : akibatnya ∆ ABC - ∆ abc. Dan ‫ ﮮ‬BAC = ‫ ﮮ‬abc

AB BC

Kesimpula : Sebuah lingkaran kecil dibumi ( dengan jari – jari beberapa mil) mempunyai gambaran dipeta
sebagai lingkaran pula : semua jari – jarinya dikalikan dengan Secan Φ

Gambar 18, Lingkaran kecil dibumi sebagai lingkaran

Peta Bertmbuh Mempunyai Skala yang berubah : ac = ab = 1 Sec Φ

AB AB p

Padaa lintang Φ skalanya adalah 1/p Sec Φ ( Skala pada khatulistiwa = 1/p ).

Skala Φ = Skala Khatulistiwaa x Sec Φ

Penjelasan : BC = RS Cos Φ

bc = rs = rs x Sec Φ

BC RS Cos Φ RS

028. LOKSODROM PADA PETA BERTUMBUH.

Pada bola bumi loksodrom membentuk sudut – sudut yang sama dengan semua derajah.

Sudut – sudut tsb beralih tanpa perubahan didalam peta bertumbuh. Jadi didalam peta ,:oksodrom
membentuk sudut – sudut yang sama dengan derajah, karena derajah – derajah adalah garis – garis lurus
sejajar satu sama lainnya. Jadi Loksodrom terlukis sebagai garis lurus.

33
Gambar 19, Loksodrom sebagai garis lurus dipeta bertumbuh

Garis haluan ialah : garis lurus di peta, yang ditarik oleh Nakhoda dan diharapkan dapat dilkutinya.

029. LINGKARAN BESAR PADA PETA BERTUMBUH

Lingkaran Besar pada bola bumi kita dapati bahwa sudut – sudut Haluan ( dihitung senama dengan Lintang
dan ∆ Bujur ) selalu menjadi lebih besar. Karena didalam peta bertumbuh harus demikian sedangkan derajah
– derajah berjalan sejajar, maka gambaran lingkaran besar didalam peta bertumbuh terbukti sebagai garis
lengkung dengan sisi cekungnya kearah khatulistiwa.

Gambar 20, Lingkaran besar dipeta bertumbuh sebagai garis lengkung.

Dipermukaan bumi selalu jari – jari lingkaran < jarak loksodrom. Namun dipeta laut nampak bahwa jarak
lingkaran bs jarak loksodrom . Apa sebabnya.

34
Gambar 21, Jarak Lingkaran besar dan loksodrom dipeta laut

030. PETA LINTANG MENENGAH

Peta laut. Dalam mana semua menit jajar = 1’ Kat dan semua menit derajah = 1’ Kat x Sec Lm

Gambar 22, Peta Lintang Menengah

Konform : hanya pada lintang menengah dianggap cukup konform, didekat lintang menengah.

Dibandingkan dengan bola bumi dalam mana skalalnya = skala sepanjang Lm pada jajar dipeta maka : -
Menit derajah besanya menjadi sama ( tidak berubah ).

- Menit jajar diatas Lm, menjadi lebih besar.

- Menit jajar dibawah Lm, menjadi lebih kecil.

Akibatnya :

A) - Didekat Lm : tidak berubah

- Diatas Lm : terlampau besar

- Dibawah Lm : elampau kecil.

B) Loksodrom dipeta Lm merupakan suatu garis agak melengkung dengan sisi cekung

35
nya kearah katulistiwa.

Gambar 23, Loksodrom dipeta Lintang Menengah sebagai garis lengkung

C) . Lingkaran – lingkaran pada bola bumi ( dengan jari – jari beberapa mil saja ) didalam

peta Lm : - Didekat Lm : menjadi lingkaran

- Diatas Lm : menjadi ellips, dengan poros panjang pada jajar.

- Dibawah Lm : menjadi ellips, dengan poros panjang pada derjah.

Pada gambar merupakan pembuktian bahwa peta Lm adalah tidak konform.

Maka dari itu Lm hanya terbatas pemakaiannya

031. PEMBATASAN PETA LINTANG MENENGAH :

Apabila kesalahan dalam sudut haluan dikehendaki agar < 1/2⁰ maka :

A. Pada Lm = 0º Lintang harus setinggi 10º 30’ ( Lebar peta 21º )

B. Pada Lm = 45ºLintangnya harus setinggi 46º ( Lebar peta 2º )

36
C. Pada Lm = 60º Lintangnya harus setinggi 60º 30’ ( Lebar peta 1º ).

Gambar 24, Pembatasan Peta Lintang Menengah

032. PETA DATAR

Peta Lm dengan khatulistiwa sebagai lintang menengahnya

Misalkan didalam peta derajah – derajah dan jajar – jajar ditarik setiap 1/2º maka jaringan peta pada LB
terdiri atas empat persegi panjang yang semakin membesar sesuai pertumbuhan lintangnya ( sisi terpanjang
dalam pada derajah.

Pada peta Lm = Terdiri atas empat persegi panjang yang sama dan sebangun ( Sisi terpanjang pada derajah.

Pada peta datar : terdiri atas bujur sangkar

033. PETA STEREOGRAFIK

= Proyeksi pada bidang singgung yang berasal dari tititk lawan ( Titik mata ( daripada titik singgung. Sipat
– sipatnya :

1. Sudut –sudut pada bola bumi beralih kedalam peta tanpa perubahan ( Konform )

2. Lingkaran – lingkaran pada bola bumi menjadi lingkaran pula didalam peta.

Kecuali : Lingkaran yang melalui titil mata, terlukis didalam peta sebagai garis lurus.

Keadaan Istimewa :

a. Peta stereografik kutub.

Bidang singgung pada kutub

Disini : Derajah – derajah merupakan garis – garis lurus melalui kutub, yang memben - tuk sudut
yang sama dengan perbedaan bujur masing – masing.

37
b. Peta Stereografik Khatulistiwa

Bidang singgung pada khatulistiwa

sub a dan b digunakan untuk peta bintang.

034. PETA LINGKARAN BESAR ( Peta Gnomonik ).

= Proyeksi pada bidang singgung yang berasal dari titik pusat bumi.

Pada proyeksi bidang datar terdapat proyeksi gnomonik, stereographic, dan orthographic. Dari ketiga
proyeksi pada bidang datar tersebut yang terkenal adalah proyeksi gnomonik, karena mempunyai sifat-sifat
sebagai berikut :

a) Titik pusat proyeksi adalah titik pusat bumi

b) Pada proyeksi ini digunakan suatu bidang singgung globe

c) Titik-titik pada globe digambarkan pada bidang datar

d) Titik singgungnya dapat dipilihdikutub, dikatulistiwa atausembarang

e) Proyeksi dari lingkaran besar merupakan garis lurus

f) Derajah-derajah dan katulistiwa selalu merupakan garis lurus

g) Derajah-derajah berkumpul di kutub

h) Derajah dari titik singgung tegak lurus katulistiwa dan jajar-jajar

Sipat sipatnya ( II ) : Proyeksi dari jajar merupakan urusan kerucut . Terbentuk oleh selubung kerucut
dengan puncaknya dititk mata dan sumbunya berimpit dengan poros bumi Irisan kerucut ini dengan bidang
singgug adalah proyeksi dari jajar.

misalkan Φ = Bidang jajar dan

ß = Lintang titik singgung.

Gambar 25, Proyeksi Jajar diPeta lingkaran besar

38
Maka : Φ < 90º - ß Proyeksi berupa Hyperbola

Φ = 90º - ß Proyeksi berupa Parabola

Φ > 90º - ß Proyeksi berupa Elips.

Hanya konform didekat titik singgung digunakan untuk melukis baringan – baringan radio

Keadaan istimewa :

A.Peta Gnomonil Kutub

= Bidang Singgung pada kutub Derajah – derajah : merupakan garis – garis lurus melalui kutub, yang
membentuk sudut yang sama dengan perbedaan bujur masing – masing. Jajar – jajart merupakan lingkaran –
lingkaran konsentris, dengan kutub sebagai titik pusatnya. Khatulistiwa tidak terlukis dipeta dan digunakan
untuk pelayaran didaerah sekitar kutub.

B. Peta Gnomonik Khatulistiwa.

= Bidang singgung pada Khatulistiwa Kutub tidak dapat terlukis dipeta.

Gambar 26, Peta Gnomonik

Derajah – derajah merupakan garis – garis // dan ┴ katulistulistiwa.

Derajah dengan ▲ bujur 90⁰ terhadap titik singgung tidsk dapat terlukis dipeta.

Jajar – jajar semua hyperbola

035. PETA ORTOGRAFIK

= proyeksi tegak lurus pad bidang datar, dengan titik mata pada jarak tak terhingga.

Sinar –sinar proyeksi satu sama lainnya // dan ┴ bidang proyeksi .

Digunakan untuk peta permukaan bulan.

39
Gambar 27, Peta Ortografik

Tes Formatif

1. Jelaskan cara memindahkan posisi dari sebuah peta ke peta lain yang berbeda skalanya!

2. Jelaskan cara Anda menyiapkan kamar peta sebelum kapal Anda meninggalkan pelabuhan untuk
melakukan pelayaran!

3. Bagaimana cara Anda menyiapkan petalaut yang akan Anda pakai didalam pelayaran?

4. Sebutkan minimal empat keterangan yang terdapat dibawah judul sebuah peta!

5. Pada peta laut Indonesia dimanakah terdapat keterangan mengenai:

a) nomor peta

b) nama peta

40
c) skala peta

d) satuan ukuran kedalaman yang dipakai

e) variasi

f) tahun-tahun yang telah diteliti sebelumnya

g) nama badan yang menerbitkan

TUGAS PRAKTEK.

1. LEMBAR KERJA TARUNA

MENGENAL PETA LAUT DAN KETERANGANNNYA

Nama Anggota Kelompok :

1. ..................................................

2. ..................................................

3. ..................................................

4. ..................................................

5. ..................................................

6. ..................................................

Semester : ..................................................

Mata pelajaran : ..................................................

Alokasi waktu : 90 menit

Petunjuk Umum

• Kerjakan dan diskusikan LKT ini dengan teman sekelompokmu.

• Tanyakan kepada Dosen jika ada hal-hal yang kurang jelas.

Kesimpulan

Tujuan : Peserta didik dapat mendemonstrasikan Pengenalan dan Pemakaian Peta Laut serta keterangan –
keterangannya sesuai prosedur yang benar.

Bahan dan Alat : Peta Laut, Peralatan Menjangka peta.

Cara kerja

a. Peta laut dibeberkan dimeja peta


b. Bacalah keterangan – keterangan yang ada dipeta laut
c. Menghitung skala lintang dan skala bujur.

41
d. Mengenal peta laut berdasarkan skalanya.
e. Mengenal singkatan – singkatan dipeta laut.
f. Mengenal tanda – tanda bahaya dipeta laut
g. Mengenal Karakteristik lampu suar
h. Mengenal tanda-tanda perambuan dipeta.

42
PEMBELAJARAN KE IV.

PUBLIKASI NAVIGASI
Publikasi navigasi adalah Buku – buku bahan – bahan penting yang diterbitkan untuk membantu

navigator dalam melayarkan kapalnya dengan sebaik – baiknya .

036. Buku – buku dan bahan – bahan tersebut antara lain :

1. Peta Laut edisi terbaru

2. Peta Indonesia No 1 atau BA 5011

3.Katalok BA atau Katalok Indonesia dan folio peta.

4. Daftar Ilmu Pelayaran

5. Brown Almanac Nautica atau Almanak Nautika Indonesia

6. Notice to Marine ( NTM ) atau Berita Pelaut Indonesia ( BPI )

7. IALA Maritime Buoyage System Admiralty

8. Tide Table

9. Tidal Stream Atlas.

10.British Admiralty List Of Light

11.British Admiralty List of Radio Signal

12.Ocean Passage for The World

13.Routering Chart

14.Distance Table

15.Code and Signal Book

16.Nautical Tables ( Norie’s , Burton’s and other )

17.National Sailing Direction

18.Passage Plan

19.Port Information Book

20.British Admiralty Pilot Book

21. Weather Chart

22. Cor leg 1972

23. Medical First Aid Book

43
24. Ocean Plotting Sheet.

25. Weather Forecastle

037.MENINGGALKAN ELABUHAN.

1. Persiapan dikamar peta adalah menyediakan peta – peta laut yang sesuai dengan routenya.a – peta
yang disiapkan adalah peta – peta terbitan terbaru
2. Persiapan buku kepanduan bahari sesuai dengan daerah pelayaran
3. Almanak Nautika tahun terbaru
4. Daftar Ilmu Pelayaran
5. Daftar Suar
6. Daftar Pasang Surut
7. Buku Kepanduan Bahari
8. Daftar Daerah ranjau di Indonesia dan buku – buku atau tabel – tabel lainnya yang dibutuhkan.
9. Alat – alat menjangka peta.

038. MERENCANAKAN JALANNYA PELAYARAN.

1. Pakai selalu peta dengan skala yang terbesar.


2. Tariklah garis haluan – haluan dengan bantuan benda – benda bantu navigasi yang ada seperti, Suar,
tanjung, pelampung dll. Pada garis haluan posisi kapal setiap waktu dapat dilukiskan dengan aman,
demikian juga untuk merubah haluan.
3. Perhitungan kemungkinan kapal akan hanyut oleh arus, adanya hujan, kabut ( cuaca buruk ) yang
dapat menutup bahaya navigasi . Kapal diusahakan berlayar aman terhindar dari bahaya navigasi.
4. Jika perlu hitunglah arus pasang surut.
5. Didaerah perairan ramai atau sempit perhitungkan kemungkinan adanya kapal – kapal lain

nya ditempat yang sama . Diperairan yang sulit sedapat mungkin lewati pada siang hari

atau cuaca terang.

6. Pisahkan peta – peta yang sudah digunakan dan yang akan digunakan dan peta – peta

harus selal u tersusun secara berurutan sesuai pemakaiannya.

039. PADA SAAT KAPAL BERLAYAR.

1. Bernavigasi sesuai peraturan ( P2TL, Perairan pedalaman, Peraturan setempat )


2. Berolah gerak sesuai perintah Nakhoda
3. Menjaga jarak dengan kapal lain
4. Menentukan posisi kapal
5. Berlayar sesuai garis haluan dipeta
6. Mengukur kedalaman laut
7. Hati – hati terhadap bahaya navigasi
8. Mengamati cuaca, barometer, keadaan ombak.
9. Bertanggung jawab terhadap keselamatan navigasi.
10. Dalam keadaan ragu – ragu panggil Nakhoda.

44
039. MEMASUKI PELABUHAN

Tugas seorang navigator adalah menjamin segala pekerjaan dan keselamatan kapal dapat dijamin sampai
kapal samdar didermaga. Adapun persiapan kapal saat akan memasuki pelabuahan a.l. :

1. Hubungi agen atau perwakilan kantor jika ada dipelabuhan tentang rencana tiba dipelabuhan
2. Hubungi kepanduan untuk memasuki alur pelabuhan dan sampai dipelabuhan

3. Persiapka dokumen kapal dan dokumen muatan yang akan dibongkar maupun rencana muat.

4. Persiapka peta pelabuhan , dan pelajari pasang surut air dll.

5. Persiapka alat bongkar muat

Jika persiapkan diatas telah dilaksanakan maka Nakhoda akan memberika intruksikepada ABK untuk
melaksanakan pekerjaanya sesuai dengan tugas masing – masing selama kapal berada dipelabuhan. Semua
itu dilakukan agar kapal berjalan tepat waktu dan tidak mengeluarkan biaya yang banyak.

040. PEMINDAHAN DAN PENENT.UAN POSISI KAPAL

Kegiatn ini dilakukan pada saat kapal melakukan pelayaran dari satu tempat ketempat lainnya.dengan haluan
dan skala peta yang berbeda – beda. Dimana suika kita harus melakukan pemindahan posisi kapal dari satu
peta kepeta lainya, mak kerjakan sebagai berikut :

1. Bila posisi tersebut dinyatakan dengan baringan – baringan atau jarak maka :

-- Gambarkan baringan yang sama dengan peta I ke peta II

-- Ukurlah jarak dipeta dengan skala lintangnya dan denagan cara yang sama diukur pada

peta II.

-- Perpotongan jarak dengan garis baringan dipeta II adalah posisi kapal yang telah

pindahkan.

2. Bila posisi kapal dinyatakan dengan lintang dan bujur, maka :

-- Tentukanlah lintang dan bujur posisi kapal pada peta I

-- Pindahkan posisi ( lintang dan bujur ) pada peta II

Cara ini digunakan bila tidak ada sama sekali baringan atau jarak dari benda – benda

darat untuk penentuan posisi kapal, kita harus mengambil baringan – baringan benda

darat, tanjung, gunung, pelampung atau baringan benda angkasa.

Agar posisi kapal benar maka baringan yang diambil harus benar ( sejati ). Untuk itu kita harus selalu
mengetahui kesalahan pedoman dan pengambilan benda baringan harus lebih dari satu benda.

45
Gambar 28. Cara memindahkan posisi kapal dipeta dgn skala berlainan

Tes Formatif

a. Tuliskan apa yang dimaksud dengan Variasi dan Deviasi dalam ilmu

pelayaran ?

b. Sebuah peta yang dibuat tahun 1978, pada mawar pedoman dipeta tersebut ditulis nilai variasi =
2° Titnur, perubahan tahunnya 6' Timur. Berapakah nilai variasi pada tahun 2008 ?

c. Diketahui tempat olak 12° 20' 00" U- 101° 15' 00" T. Kapal berlayar Haluan Utara, sejauh 158
mil. Ditanyakan ;

1) Kapal berlayar sepanjang?

2) Dimanakah tempat tiba?

3) Berapa Δli?

46
d. Diketahui Barngan Pedoman (Bp) = 220, Variasi = +3, deviasi =+2 Ditanyakan

1) Hitunglah sembir

2) Hitunglah Baringan Magnet(Bm) dan Baringan Sejati (Bs)?

3) Dari jawaban a dan b, buatlah ilustrasi gambarnya ? ( gunakan busur derajat ).

e. Pada saat saudara sedang berlayar, kadang-kadang membawa peta laut yang berbeda skalanya
dan berlayar dengan jarak tempuh yang cukup jauh, sehingga harus memindahkan posisi kapal pada
peta yang satu ke peta yang berkutnya. Jelaskanlah prosedur atau cara saudara memindahkan posisi
kapal dari peta yang satu ke peta yang lainnya pada saat pergantian peta tersebut !

TUGAS PRAKTEK.

2. LEMBAR KERJA TARUNA

MENGENAL DAN MENDEMONTRASIKAN CARA PEMAKAIAN KATALOK PETA.

Nama Anggota Kelompok :

1. ..................................................

2. ..................................................

3. ..................................................

4. ..................................................

5. ..................................................

6. ..................................................

Semester : ..................................................

Mata pelajaran : ..................................................

Alokasi waktu : 90 menit

Petunjuk Umum

• Kerjakan dan diskusikan LKT ini dengan teman sekelompokmu.

• Tanyakan kepada Dosen jika ada hal-hal yang kurang jelas.

Kesimpulan

Tujuan : Peserta didik dapat mendemonstrasikan cara pemakaian katalok peta sesuai prosedur yang benar.

Bahan dan Ala t : Katalok petua, kaca pembesar, alat tulis.

Cara kerja

47
a. Tentukan rute pelayaran yang akan dilayari.

b. Carilah Index dari pembagian zona daerah sesuai rute pelayaran( dari A s/d W)

c. Bila sudah diketahui carilah halaman index tersebut.

d. Catat.lah nomor peta yang tertera dikatalok untuk rute pelayaran tersebut

e. Carilah nomor-nomor peta dilaji peta

f. Sususnlah nomor-nomor peta tersebut sesuai urutannya dari pelabuhan keberangkatan sampai
pelabuhan tujuan.

g. Letakan peta-peta tersebut dalam laji yang terpisah ( Laji peta yg belum dipakai dan yg sudah
dipakai.

3. LEMBAR KERJA TARUNA

MENGENAL DAN MENDEMONTRASIKAN CARA PEMAKAIAN TABEL PASANG SURUT PETA.

Nama Anggota Kelompok :

1. ..................................................

2. ..................................................

3. ..................................................

4. ..................................................

5. ..................................................

6. ..................................................

Semester : ..................................................

Mata pelajaran : ..................................................

Alokasi waktu : 90 menit

Petunjuk Umum

• Kerjakan dan diskusikan LKT ini dengan teman sekelompokmu.

• Tanyakan kepada Dosen jika ada hal-hal yang kurang jelas.

Kesimpulan

Tujuan : Peserta didik dapat mendemonstrasikan cara pemakaian Tabel Pasang Surut sesuai prosedur yang
benar.

Bahan dan Ala t : Katalok petua, kaca pembesar, alat tulis.

Cara kerja

48
a. Tentukan daerah atau pelabuhan yang akan kita lihat kondisi air didaerah tersebut pada Bulan.
Tanggal dan jam yang dimaksud.
b. Lihatlah indeks halaman daerah atau pelabuhan yang dimaksud
c. Bila sudah ditemukan, maka pada daftar tersebut akan terbaca :
1. Daerah atau nama Pelabuhan
2. Jam atau waktu tolok.
3. Bulan
4. Tanggal
5. Jam
6. Kondisi air dalam satuan dm ( Ina ) atau Meter ( BA)
7. Kondisi air saat pasang tinggi dan kondisi air pada saat air paling rendah, biasanya akan
ditandai dengan tanda bintang.
d. Bacalah / carilah posisi air pada waktu yang dimaksud.
e. Perpotomham antara kolom tanggal dan jam didaftar adalah posisi air yang dicari.
f. Jumlahkan dengan posisi air / kedalaman air dipeta ( Chart Datum)
g. Untuk menentukan UKC maka kurangilah dengan draft kapal.

49
PEMBELAJARAN KE V.

SISTIM PELAMPUNGAN
041. BENDA BANTU NAVIGASI

Yang dimaksud dengan benda-benda pembantu navigasi ialah bendabenda yang membantu navigator dalam
menemukan daratan dan menunjukkan arah ketempat tujuannya (misalnya pelabuhan).

Yang termasuk benda-benda bantu navigasi antara lain: mercu suar, kapal suar, rambu-rambu radio, isyarat
kabut, pelampung-pelampung, serta alat-alat elektronik seperti radar, loran, decca dan lain lain.

Benda-benda bantu navigasi ditempatkan ditepi pantai, diperairan sempit yang bisa dilayari, ditempat yang
dapat dilihat dan didengar pada jarak yang aman terhadap bahaya-bahaya navigasi. Kegunaan dan manfaat
benda-benda bantu navigasi terhadap seorang navigator ialah sebagai tanda dan penuntun dalam penentuan
posisi kapal terhadap bahaya bahaya navigasi yang tersembunyi.

042. SISTIM PELAMPUNGAN

Sistim Pelampungan ada 2 macam yaitu :

1) Sistem LATERAL

dipakai ditepi pantai dan perairan sempit yang biasa dilayari, diperairan pedalaman, ditempat yang ada
bahaya.

Tanda – tanda Lateral umumnya digunakan untuk alur tertentu sehubungan dengan arah pelampungan
konvensional tanda ini mengikuti sisi kanan dan sisi kiri alur yang diikuti.

Arah Pelampungan

Arah pelampungan Konvensional dibagi menjadi :

1. Arah pelampungan lokal : Arah diambil pelaut sewaktu memasuki muara sungai atau alur pelayaran
yang lain dari arah laut.
2. Arah pelampungan umum : Arah yang ditetapkan oleh pemerintah suatu negara berdasarkan pada
dimana memungkinkan pad prinsip mengikuti arah jarum jam sekeliling dunia
Arah ini biasanya terdapat dalam Admiralty Sailing Direction dan bila mana perlu tercantum
peta=peta dengan lambang –lambang yang sesuai dan menunjukan bagaimana arah pelampungan
umum memberi arah pada arah pelampungan lokal pada batas luarmuara sungai.
3. Tanda pada peta Admiralty.
Arah pelampungan konvesional ditunjukan pada peta Admiralty dengan tanda warnaMagenta.

Arah diatas menunjukan arah pelampungan ketimur

50
4. Wilayah Pelampungan

Gambar 28, Peta Wilayah Pelampungan


5. Warna
Warna merah dan hijau digunakan untuk tanda Lateral.

51
6. Tanda Puncak
Tanda puncak selinger untuk sisi kiri alur dan kerucut untuk sisi kanan alur.

7. Suar
Suar merah dan hijau untuk tanda Lateral . Tanda Lateral untuk tujuan tertentu mempunyai irama
khas ; kelompok cerlang gabungan ( 2 + 1 ) untuk tanda alur pilihan, cepat atau sangat cepat untuk
tanda bahaya baru

Gambar 29. IALA Maritime Bouyency System (Lateral Marks Region A).

DIAGRAM TANDA LATERAL “ A “

SISI KIRI SISI KANAN

Warna : Merah Warna : Hijau

Bentuk : Selinder,Menara,Batang Bentuk : Kerucut, Menara, Batang

Tanda Puncak : 1(satu) Selinder Merahang. Tanda Puncak : 1 (satu) Kerucut Hijau

Pemantu Balik : Lajur Merah atau Segi Empat. Pemantul Balik : Lajur Hijau atau Segitiga

52
Suar dengan irama sembarang asal berlainan dengan kelompok cerlang gabungan ( 2 + 1 ) yang digunakan
pada tanda Lateral yang telah dimodifikasi yang menunjukan sebuah Alur pilihan

Warna - warna Lateral merah atau hijau sering digunakan untuk suar – suar kecil dipantai seperti penandaan
ujung – ujung Pier dan ujung = ujung Jetty.

ALUR UTAMA

Pada suatu titik dimana alur bercabang bila mengikuti arah pelampungan konvensional, suatu alur yang
diutamakan ditunjukan dengan tanda Lateral kiri atau kanan yang dimodifikasi.

ALUR UTAMA SISI KANAN.

Warna : Merah dengan satu lajur hijau lebar

Bentuk : Selinder, Menara, Batang.

Tanda Pucak : 1 (satu) silinder merah.

Pemantul Balik : Lajur merah atau segi empat.

ALUR UTAMA SISI KIRI

Warna : Hijau dengan satu lajur merah lebar

Bentuk : Selinder, Menara, Batang.

Tanda Pucak : 1 (satu) Kerucut hijau puncak keatas.

Pemantul Balik : Lajur hijau atau segi tiga.

53
Gambar 30. IALA Maritime Bouyency System (Lateral Marks Region B).

DIAGRAM TANDA LATERAL “ B “

SISI KIRI SISI KANAN

Warna : Hijau Warna : Merah

Bentuk : Selinder,Menara,Batang. Bentuk : Kerucut, Menara, Batang

Tanda Puncak : 1(satu) Selinder Hijau Tanda Puncak : 1 (satu) Kerucut Merah

Pemantu Balik : Lajur Hijau atau Segi Empat. Pemantul Balik : Lajur Merah atau Segitiga

54
Suar dengan irama sembarang asal berlainan dengan kelompok cerlang gabungan ( 2 + 1 ) yang digunakan
pada tanda Lateral yang telah dimodifikasi yang menunjukan sebuah Alur pilihan

Warna - warna Lateral merah atau hijau sering digunakan untuk suar – suar kecil dipantai seperti penandaan
ujung – ujung Pier dan ujung = ujung Jetty.

ALUR UTAMA

Pada suatu titik dimana alur bercabang bila mengikuti arah pelampungan konvensional, suatu alur yang
diutamakan ditunjukan dengan tanda Lateral kiri atau kanan yang dimodifikasi.

ALUR UTAMA SISI KANAN.

Warna : Hijau dengan satu lajur Merah lebar

Bentuk : Selinder, Menara, Batang.

Tanda Pucak : 1 (satu) silinder Hijau.

Pemantul Balik : Lajur Hijau atau segi empat.

ALUR UTAMA SISI KIRI

Warna : Merah dengan satu lajur hijau lebar

Bentuk : Selinder, Menara, Batang.

Tanda Pucak : 1 (satu) Kerucut Merah puncak keatas.

Pemantul Balik : Lajur merah atau segi tiga.

55
Gambar 31, Peta system Lateral.

2) Sistem KARDINAL dipakai dilaut lepas, menandakan sektor aman dan dibedakan atas sektor
UTARA – SELATAN, TIMUR – BARAT.

1. NAMA.

Tanda –tanda dinal digunakan dalam hubungannya dengan pedoman untuk menunjukan dimana pelaut bisa
menemukan alur pelayaran yang terbaik.

Tanda-tanda ini ditempatkan disalah satu kuadran ( UTARA,TIMUR,SELATAN dan BARAT) dibatasi oleh
baringan antar Kardinal dari titik yang ditandai titik.

Tanda Kardinal memakai sebutan dari kuadrant dimana mereka ditempatkan maka pelaut akan selamat bila
melayari sisi Utara dari tanda Utara, Melayari sisi Selatan dari tanda Selatan, melayari sisi Timur dari tanda
Timur atau melayari sisi Barat dari tanda Barat.

2.PENGGUNAAN

Tanda Kardinal bisa digunakan untuk :

56
1. Menunjukan air terdalam dalam sebuah area pada sisi seperti trsebut dalam penandaan.
2. Meneunjukan sisi yang aman untuk melewati engan aman suatu bahaya.
3. Menarik Perhatian pada suatu keistimewaan dalam sebuah alur seperti sebuah tikungan ,
persimpangan, percabangan dua atau akhir dari sebuah alur.

3.TANDA PUNCAK

Tanda puncak 2 (dua) buah kerucut hitam merupakan fakta yang penting pada tanda – tandaKardinal, jarak
antara masing – masing kerucut yang jelas menunjukan ciri – ciri tanda Kardinal.

Susunan kerucut – kerucut itu harus benar - benar memang untuk Utara,dan Selatan mudah untuk diingat
namun untuk Timur dan Barat ingatlah hurup W untuk sebuah gelas anggur dapat membantu..

4.WARNA

Tanda – tanda Kardinal hanya menggunakan warna Hitam dan Kuning melajur Datar.

Posisi dari lajur hitam atau lajur – lajurnya berhubungan / tergantung dari puncak – puncak tanda puncak
kerucutnya.

UTARA : Puncak – puncak keatas ; Lajur Hitam diatas lajur kuning.

SELATAN : Puncak – puncak kebawah ; Lajur hitam dibawah lajur kuning.

BARAT : Puncak – puncak kedalam : Lajur hitam dibawah dan diatas lajur kuning.

TIMUR : Puncak – puncak keluar : Lajur hitam diatas dan dibawah lajur kuning.

5.BENTUK

Bentuk tanda Kardinal tidak penting tapi untuk pelampung yaitu pelampung menara atau pelampung batang.

6.SUAR

Tanda - tanda Kardinal hanya memancarkan sinar putih Irama / Karakteristiknya berdasarkan pada
kelompok cerlang sangat cepat yang membedakannya sebagai tanda- tanda Kardinal dan menunjukan
kwardannya.

Perbedaan antara irama cepat dan sangat cepat :

Utara : Tidak terputus ( tapi bukan fixed Light ).

Timur : Kelompok cerlang 3 kali

Selatan : Kelompok cerlang 6 kali diikuti sebuah cerlang panjang.

Barat : Kelompok cerlang 9 kali.

57
Cerlang panjan cerlang (tidak kurang dari 2 detik) segera diikuti oleh kelompok cerlang dari tanda Kardinal
Selatan untuk menegaskan bahwa cerlang 6 kali tidak ditafsirkan sebagai 3 atau 9.

Periode- periode suar Timur, Selatan, dan Barat berturut – turut 10, 15, dan 15 detik bila sebuah suar cepat
dan 5, 10 dan 10 detik btla sebuah suar sangat cepat.

Cerlang cepat rata-rata antara 50 dan 79 cerlang setiap menit, umumnya 50 atau 60 cerlang sangat cepat .
Cerlang sangat cepat antara 80 dan 159 cerlang setiap menit, umumnya 100 atau 120.

7.PEMANTUL BALIK

Satu atau lebih lajur-lajur putih, huruf - huruf, angka - angka atau lambang – lambang bahan pemantul balik
dipakai dalam aturan dasar untuk membedakan tanda – tanda Kardinal tidak bersuar.

Lajur biru dan kuning pada bagian – bagian hitam dan kuning dari tanda digunakan dalam aturan umum.

UTARA : Biru pada bagian yang hitam dan kuning bagian kuning.

TIMUR : 2(dua) lajur biru pada bagian hitam diatas.

SELATAN : Kuning pada bagian kuning dan biru pada bagian hitam.

BARAT : 2(dua) lajur kuning dibagian atas kuning.

58
Gambar 32, Pembagian system Kardinal.

Kedua sistem ini sama maksud dan tujuannya, perbedaannya hanya pada letak/tempat, bentuk dan warna,
penerangan serta sifat-sifatnya.

Kegunaan pelampung (buoy) ialah sebagai tanda adanya bahaya, sebagai tanda adanya perubahan dilaut,
sebagai penuntun atau petunjuk jalan yang aman bagi pelayaran. Pelampung berfungsi sebagai alat bantu
navigasi pada siang hari dalam keadaan cuaca terang. Pada malam hari pelampung yang digunakan adalah
pelampung yang berpenerangan sedangkan pada cuaca buruk atau berkabut pelampung digunakan adalah
pelampung yang menggunakan bunyi (gong, bell).

BAHAYA TERPENCIL.

A.Penggunaan.

Tanda terpencil dipasang dengan penjangkaran pada atau diatas bahaya-bahaya terpencil atau area terbatas
yang disekelilingnya nerupakan perairan yang dapat dilayari seperti sebuah beting dilepas Pantai, atau
gosong atau apapun pulau karang yang sangat kecil yang terpisah oleh sebuah alur yang relatif sempit dari
pantai. Dipata Admiralty posisi suatu bahay pelayaran berada ditengah lambang atau sebuah kedalaman
yang menunjukan bahaya pelayaran. Lambang yang menunjukan pelampung bahaya terpencil kemungkinan
besar dapat bergeser.

59
B,Tanda Puncak.

Tanda puncak berupa 2(dua) buah bola hitam yang bersusun tegak adalah faktor terpenting dari tanda bahaya
terpencil dan dilaksanakan semudah mungkin.

Gambar 33, Tanda Buoy Bahaya terpencil.

D. Bentuk / Sosok.

Tidak ada ikatan tertentu untuk bentuk tanda bahaya terpencil namun untuk sebuah pelampung digunakan
pelampung dengan opstan atau rambu batang.

E, Suar

Suar yang digunakan untuk tanda bahaya terpencil adalah suar warna putih dengan 2(dua) cerlang yang
mengingatkan 2(dua) buah bola tanda puncaknya.

F,Pemantul Suar.

Dalam peraturan dasaar untuk tanda bahaya terpencil yang tidak bersuar digunakan bahan pemantul balik
satu atau lebih lajur putih m huruf – huruf, angka- angka atau lambang-lambang.

Dalam peraturan umum dipakai satu atau lebih pasangan biru diatas lajur – lajur merah.

60
Gambar 34, Tanda Bahaya terpencil dipeta

DAERAH PERAIRAN AMAN

A.Penggunaan

Tanda-tanda perairan aman digunakan untuk menunjukan perairan yang aman untuk dilayari disekeliling
tanda tersebut seperti tanda ditengah alur atau sebuah pelampung pengenal atau menunjukan titik yang
paling aman untuk melewati dibawah jembatan.

B. Warna.

Warna yang digunakan adalah merah putih melajur tegak, ini untuk membedakan dari laur-lajur hitam yang
menendai suatu bahaya.

C. Tanda Poncak.

Tanda puncak ditunjukan dengan 1(satu) buah bola merah.

D. Bentuk.

Bentuk yang digunakan adalah bulat, pelampung menara atau rambu batang.

61
Gambar 35, Tanda Buoy Peraiaran Aman

E. Suar

Suar putih terputus – putus, fase sama atau suar yang menunjukan sebuah cerlang panjang atau Kode Morse
“ A “ dipakai untuk tanda perairan aman yang bersuar jika pakai sebuah cerlang panjang( tidak kurang dari 2
detik) periode suarnya harus 10 detik.

Gambar 36, Tanda perairan aman dipeta

62
Adalah daerah atau alur pelayaran yang dibuat oleh pemerintah suatu negara setempat untuk menandakan
alur perairan yang aman yang dapat dilayari pada saat melewati perairan sempit, sungai atau perairan
menuju pelabuhan.

Gambar 37, Alur Pelayaran

63
e. LETAK DAN WARNA PELAMPUNG ada bermacam macam jenis yang digunakan, antara lain :

a) Pelampung pada sisi kanan (Starboard hand)

 Bentuk pelampung : Runcing

 Warna pelampung : hitam, hitam putih kotak-kotak atau hitam kuning kotak-kotak.

 Tanda Puncak : segitiga atau belah ketupat

 Jika ada Suar : warna penyinaran putih atau hijau cerlang

 Scotlite : warna putih atau hijau

 Pelampung hitam merupakan pelampung sisi kanan

(starboard hand) jika datang dari laut.

b) Pelampung pada sisi kiri (Port hand)

 Bentuk pelampung : tumpul

 Warna pelampung : merah, merah putih kotak-kotak atau merah kuning kotak-kotak

 Tanda Puncak : kubus atau T

 Jika ada Suar : warna penyinaran putih atau merah cerlang

 Scotlite : warna putih atau merah

 Pelampung merah merupakan pelampung sisi kiri (port hand) jika datang dari laut.

c) Pelampung Gosong Tengah-Pemisah dan Pertemuan (Middle ground, mid channel or bifuration)

 Bentuk pelampung : Bundar, baik untuk hilir maupun untuk mudik

 Warna pelampung : Putih merah mendatar baik untuk hilir maupun untuk mudik

 Tanda puncak : untuk hilir, untuk mudik

 Jika ada suar : Isophase = periode gelap sama dengan periode terang

 Scotlite : untuk hilir untuk mudik

d) Pelampung Pengenal ( Landfall )

 Bentuk pelampung : Runcing

 Warna pelampung : biasanya hitam putih atau merah putih vertikal

 Tanda puncak : Silang

 Jika ada suar : Putih cerlang atau putih tetap dengan penggelapan (flashing white or white occulting)

e) Pelampung Kerangka ( Wecks )

64
 Bentuk pelampung :

o dilalui sisi kanan : runcing

o dilalui sisi kiri : tumpul

o dilalui pada kedua sisi : bundar

 Warna pelampung : biasanya hijau

 Tanda Puncak : -

 Jika ada Suar : hijau cerlang atau hijau tetap dengan penggelapan (flashing green or occulting green)

f) Pelampung Khusus (Special buoys)

Gambar 38,
Buoy Perairan
khusus.


Pelampung
Tempat Tuang
(dumping
ground,outfall,spoil ground)

o Bentuk Pelampung : runcing

o Warna Pelampung : kuning hitam mendatar

g) Pelampung Tempat Berlabuh Kapal Karantina (quarantine anchorage)

 Bentuk Pelampung : runcing

 Warna Pelampung : kuning

h) Pelampung Tempat Latihan Tembak Menembak (practice firing ground)

 Bentuk Pelampung : runcing

 Warna Pelampung : keliling warna biru ditengah warna putih hurufwarna merah

 DA = Danger

i) Pelampung Peralihan Antara Laut Lepas dan Daerah Pedalaman

 Bentuk Pelampung : runcing

 Warna Pelampung : merah putih atau hitam putih berbentuk spiral.

65
Gambar 39, System Buoy Peralihan

043. PASANG SURUT


Pergerakan air secara tegak (vertical rise and fall) daripada permukaan laut yang disebabkan oleh gaya tarik
bulan dan atau matahari disebut pasang. Apabila sebagai akibat daripada bekerjanya pasang terjadi
pergerakan air secara mendatar ini disebut arus pasang.

Arus pasang terdiri atas arus air pasang dan arus air surut.

1) Arus air pasang (floot tide) adalah arus yang mulai mengalir di waktu air sedang naik sampai beberapa
saat sesudah air pasang (high water).

2) Arus air surut (floot tide) adalah arus yang mulai mengalir diwaktu air sedang surut sampai beberapa saat
sesudah air surut (low water).

Seandainya arus air pasang itu bergerak ke kanan pada sesuatu tempat tertentu, maka arus air surut akan
bergerak ke arah yang berlawanan, yaitu ke kiri. Sebelum gerakan ke kanan berubah ke kiri (atau
sebaliknya), terdapat beberapa saat dimana gerakan air seakan-akan berhenti dan keadaan ini disebut air
tenang (slack water).

Gerakan naik turunnya permukaan laut umumnya terjadi dua kali dalam sehari.Permukaan laut yang paling
tinggi disebut air tinggi (high tide atau highwater) dan permukaaan laut yang paling rendah disebut air
rendah (low tide atau low water).Jarak dari air tinggi ke air rendah atau sebaliknya disebut lata air (range of
tide). Tinggi daripada air tinggi atau rendahnya air surut tidak selalu sama.Oleh karena itu, diambil suatu
patokan yaitu, air tinggi rata-rata untuk pasang dan air rendah rata-rata untuk air surut.

Tingginya air pasang serta rendahnya air surut sangat penting dalam pelayaran pantai, terutama apabila akan
memasuki sesuatu pelabuhan atau perairan pedalaman. Seorang navigator harus dapat mengetahui dengan
pasti, berdasarkan keterangan-keterangan yang ada apakah kapalnya dapat masuk atau keluar sesuatu
pelabuhan atau sungai dengan aman tanpa mengambil resiko kandas. Reaksi pertama seorang navigator yang
berada pada perairan dangkal atau yang akan memasuki suatu perairan yang dangkal adalah membandingkan
dalamnya laut yang tertera pada peta dengan sarat kapalnya sendiri. Kedalaman laut yang tertera pada peta
dihitung dari suatu muka surutan (chart datum), muka surutan adalah suatu permukaan khayalan dimana
kedalaman laut diukur.Setiap dalam laut yang tercatat pada peta dihitung sampai permukaan ini.

66
Untuk menetapkan muka surutan ini, tidak terdapat keseragaman di antara negara-negara maritim di dunia,
sehingga dalam menggunakan peta kita harus memperhatikan muka surutan apa yang dipakai. Beberapa
contoh dari muka surutan yang dipakai oleh badan-badan hidrografi di dunia adalah :

a) Indonesia : air rendah perbani (Low Water neap).


b) Inggris : air rendah purnama rata-rata (mean Low Water spring).
c) Amerika Serikat :

 di Atlantik, air rendah rata-rata (mean low water).

 di Pasifik, air rendah terendah rata-rata (mean lower low water).

d) Jepang : air rendah purnama Indian (Indian Spring Low water).


e) Belanda : air rendah terendah purnama rata-rata (mean lower low water spring).
f) Bulgaria : permukaan laut rata-rata (mean sea level).
g) Norwegia : air rendah purnama equator (equatorial spring low water).

1) Penjelasan tentang istilah air pasang :

Air rendah perbani adalah letak permukaaan air pada waktu air rendah perbani.

Air rendah rata-rata adalah rata-rata dari semua air rendah pada suatu tempat.

Air rendah terendah adalah dalamnya air pada saat air rendah (surut).

Air rendah terendah rata-rata adalah rata-rata dari letak-letak permukaan air yang terendah pada waktu air
surut.

Air rendah purnama rata-rata adalah rata-rata dari permukaan air pada waktu air rendah purnama.

Air rendah terendah purnama rata-rata adalah rata-rata dari permukaan air terendah pada waktu air rendah
purnama.

Air rendah purnama Indian adalah letak permukaan air pada saat air rendah purnama Indian.

Terkait dengan arus pasang surut maka arus pasang surut adalah gerakan air secara horizontal.

Air tenang adalah pergantian dari gerakan naik kegerakan turun.

Gaya pasang surut adalah selisih antar gaya tarik bulan / matahari dipermukaan bumi dengan dipusat bumi.

Perubahan – perubahan pasang dan surut pada setiap waktu disebut gejala periodik.

Gejala pasang surut menurut teori setimbang disebut teori Newton.

Faktor – faktor yang menyebabkan adanya pasang surut adalah meteorologi, suhu, tekanan udara, berat jenis
udara dsb. Pasang surut biasanya terjadi dua kali dalam sehari , keadaan pasang surut tentu akan terjadi air
yang paling tinggi pada waktu pasang dan air yang paling rendah pada waktu surut.

Jarak antara air tertinggi dan air terendah disebut Lata Air

Dalam kenyataannya air tertinggi dan air terendah itu tidaklah selalu tetap oleh karena itu diambil air
tertinggi rata – rata untuk air pasang dan air terendah rata – rata untuk air surut.

67
Air rendah purnama equator adalah letak permukaan air pada saat air rendah permukaan equator.

Permukaan laut rata-rata adalah letak daripada permukaan laut dirata-ratakan selama 19 tahun pengawasan.

Negara-negara yang memakai muka surutan ini adalah daerah- daerah yang hampir tidak ada pasang
surutnya.

Dari semua benda angkasa yang mempengaruhi peredaran bumi, maka bulanlah yang mempunyai pengaruh
yang paling besar atas terjadinya pasang surut di permukaan bumi. Pada waktu bulan berada di equator,
maka pasang surut yang terjadi untuk setiap tempat di permukaan bumi mengalami dua kali air pasang dan
dua kali air surut yang sama. Apabila bulan tidak berada di equator melainkan berada di sebelah utara atau
selatan, maka tempat-tempat di bumi tidak lagi akan mengalami dua pasang dan dua surut yang sama secara
menyeluruh. Pada lintang-lintang yang tinggi akan mengalami dua pasang yang tidak sama atau hanya satu
pasang.

Pada umumnya terdapat tiga macam pasang, yaitu :

a) Pasang harian ganda (semi diurnal tide) adalah jenis pasang yangmempunyai dua air pasang dan dua
air surut dalam sehari.
Kedudukan air pada waktu pasang (begitu juga pada waktu surut) tidak berbeda besar.
b) Pasang harian tunggal (diurnal tide) hanya terdapat satu air pasang dan satu air surut dalam sehari.
c) Pasang campuran (mixed tide), terdapat kombinasi daripada sifat – sifat pasang harian ganda dan
pasang harian tunggal. Akibatnya maka dalam sehari terdapatlah beberapa air pasang dan beberapa
air surut yang tidak beraturan.

Apabila bulan dan matahari berada pada satu garis lurus dengan bumi maka akan terjadi dua pasang. Apabila
bulan dan matahari berada pada satu sisi, maka terjadi pasang purnama dan apabila bulan berada di satu sisi
sedangkan matahari di sisi yang lain maka terjadi pasang perbani.

2) Tabel-tabel pasang surut

Untuk menyelesaikan soal-soal pasang surut, maka di atas kapal terdapatlah tabel-tabel pasang surut.

a) Untuk Kepulauan Indonesia, termasuk Singapura, kita memakai daftar pasang surut Kepulauan
Indonesia (Indonesian archipelago tide tables) yang diterbitkan oleh HIDRAL. Muka surutan yang
dipakai adalah air rendah perbani, dan waktu yang dipakai adalah waktu tolok. Daftar pasang surut
ini memberikan tabel-tabel untuk setiap pelabuhan, sungai, teluk, selat atau alur-alur pelayaran yang
penting di seluruh kepulauan Indonesia dari Teluk Aru sampai ke Merauke, termasuk Singapura.

Dalamnya air dipeta selalu dihitung dari muka surutan ( Chart Datum ) yangmerupakan sebuah permukaan
khayalan dimana dalamnya laut dihitung.

Muka surutan yang dipakai ialah air rendah perbani yaitu letak permukaan air pada waktu air rendah
perbani ( Low Water Neap = LWN ).

Buku daftar pasang surut Indonesia memuat informasi tentang :

1. Ramalan harian pasang surut


2. Ketinggian ramalan pasang surut berdasarkan decimeter
3. Waktu dipakai adalah waktu tolok

68
4. Angka – angka yang digaris bawahi menunjukan angka air tertinggi dan angka air terendah pada hari
itu.
5. Didalam tabel juga diberikan pembagian daerah waktu diIndonesia dan convention tabel.

Cara Menggunakan Buku Pasang Surut untuk mengetahui pasang surut disuatu tempat adalah :

1. Bulan apa
2. Tanggal berapa
3. Jam berapa
4. Air tertinggi dan air terendah dapat sekalian dilihat pad a angka – angka yang digaris bawah.
( posisi air yang dibutuhkan ).

Tabel 2. Contoh Lembaran Harian Daftar Pasang Surut Indonesia (bulan Januari 1978)

Tabel 3. Contoh Lembaran Harian Daftar Pasang Surut Indonesia (bulan Maret 1978)

044. UNDER KEEL CLEARANCE ( UKC )

Adalah jarak terbebas dasar kapal dengan dasar laut.

Contoh perhitungan UKC :

69
Sebuah kapal berlayar dari Jakarta menuju Surabaya dengan draft Fore 7,3 mtr dan Aft 7,5 mtr Tiba di
Surabaya tgl 10 Agustus 2015 jam 12.00 LT, kedalaman air dipeta 10 mtr dan tinggi air ditabel pasang
surut tgl 10/08/2015 jam 12.00 : 2,3 dm . Berapakah UKC saat kapal tiba .

Jawab : Kedalaman air dipeta = 10,0 mtr

Tinggi air di tabel pasut = 2,3 dm +

Tinggi air didapat = 12, 3 mtr

Draft kapal aft = 7,5 mtr –

UKC = 4,8 mtr

Gambar 40, UKC

Gambar 41, Gaya tarik bulan terhadap bumi

Garis Merah adalah : Gaya tarik bulan pada permukaan bumi dan pada pusat bumi

Garis Biru adalah : Gaya pasang = Selisih antara gaya tarik bulan, antara gaya tarik bulan

70
dipermukaan bumi dengan gaya tarik bulan pada pusat bumi

Interpolasi Jam Tinggi

HW ..................................................

Jam dipilh Interval Duration Range

LW ..................................................

HW ..................................................

Tinggi air = Range Tinggi Air Yg Ada = Interval x Range Duraion = Menit

Interval = Duration Duration Range = Cm

Interval = Menit

Contoh : Soal intervolasi dengan menggunakan tabel .

Time : 02.04 07.58 14.08 20.15

Height ( meter ) : 3,4 0,8 4,0 0,7

Diminta tinggi air jam 12.00 :

Jawab : Duration = 06 H 05 m = 365 menit

71
Range = 3, 2 meter = 320 centimeter

Interval = 2. 03 = 123 menit

Tinggi air jam 12.00 = 123 x 320 cm = 108 cm = 1,08 mtr.

36

Jadi = 4,0 -- 1,08 = 2,92 mtr / 292 cm

Contoh menggunakan peta ( Cotidal chart )

Cotidal chart adalah = sebuah peta yang memuat amplidrom system ( A ) dibuat karena adanya
penyimpangan – penyimpangan didaerah dekat pantai.

Dipakai pada tempat - tempat istemewa dimana air tidak mau berubah karena beberapa hal. Dimana :
A ( amplidrom point ) -- Ada beberapa daerah yang airnya bergerak dan mempunyai

waktu HW sama

-- Dikelilingi oleh garis – garis.

72
.

Cotidal Line = 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. 10. 11. 12. ( MHWI )

Cor ange Line = 0,5. 1. 1,5. 2. 2,5. 3 ( MSR ) jarak makin besar

Contoh soal =

Time = 02.04 07.58 14.03 20.15

Height ( meter ) = 3,4 0,8 4,0 0,7

Kapal x dalam cotidal chartnya mempunyai MHI 4 jam 43 mnt dan MSR 1,8 mtr.

Dinyatakan dalam cotidal chart terkait stan dard point yang mempunyai MHWI 5 jam 18 mnt dan MSR
3,6 mtr. Ditanyakan waktu HW / LW di x jika ramalan standard point sama.

Jawab =

Waktu surut = ( 4 H 43 M -- 5 H 18 M ) + 07.58 ( -- )35 M + 7 H 58 M = 7 H 23 M

Waktu pasang =

Tinggi surut = 1,8 x 0,8 = 0,4.

3,6

= 1,8 x 0,7 = 0,35

3,6

73
Test Formatif

1.Terangkan apa yang dimaksud dengan :

a. System pelampung A

b. System pelampung B

c. System alur pelayaran.

d.Tanda Cardinal Timur dengan suar karakternya

e. Tanda bahaya terpencil

2. Terangkan cara menggunakan tabel ramalan pasang surut.

T ugas Praktek
4.LEMBAR KERJA TARUNA

MENGENAL SYSTEM PELAMPUNGAN.

Nama Anggota Kelompok :

1. ..................................................

2. ..................................................

3. ..................................................

4. ..................................................

5. ..................................................

6. ..................................................

Semester : ..................................................

Mata pelajaran : ..................................................

Alokasi waktu : 90 menit

Petunjuk Umum

• Kerjakan dan diskusikan LKT ini dengan teman sekelompokmu.

• Tanyakan kepada Dosen jika ada hal-hal yang kurang jelas.

Kesimpulan

Tujuan : Peserta didik dapat mendemonstrasikan cara pemakaian Tabel Pasang Surut sesuai prosedur yang
benar.

74
Bahan dan Alat : Miniatur System Pelampungan dan Peta System Pelampungan.

Cara Kerja :

1. Mengenal Alur Pelayaran


2. Mengenal System Pelampungan
a. System Lateral
b. System Kardinal
c. Bahaya Terpenci;
d. Perairan Aman
e. Daerah Khusus

75
PEMBELAJARAN KE VI.

BERLAYAR MENURUT LOKSODROM


Untuk menentukan arah referensi dilaut intrumen yang dipilih adalah Pedoman Magnet dan Pedoman Gyro
sebagai acuan Navigator.

Pedoman Magnet terjadi oleh adanya medan magnet bumi disekeliling bumi Komponen horisontal dari
medan ini dibanyak tempat mempunyai arah yang sama denganarah derajah dibumi., namun karena adanya
pengaruh magnet besi kapal pedoman magnet akan memberikan arah lain pada acuan uang kita berikan pada
arah derajah.

Pedoman Gyro yang terjadi oleh penerapan hukum – hukum gyroskop pada bumi yang berotasi merupakan
instrumen penunjuk arah acuan yang tidak banyak menyimpang dari arah derajah dibumi.

045, ARAH - ARAH ACUAN

Arah – arah acuan yang dipakai adalah :

A. Arah Utara Sejati ( US )

B. Arah Utara Gyro ( Ug )

C. Arah Utara Pedoman Magnet ( up ).

Sebagai acuan relatif keempatberpangkal pada arah bidang membujur kapal.

Arah – arah tersebut dihitung dari 000º sampai 360º kearah kanan. Sudut –sudut horizontalnya dapat dibaca
dimawar pedoman dan bila dibagi dalam surat ialah 32 ( 1 surat 11 1/4º ).

Kapal berlayar dari A ke B maka letak B terhadap A harus dapat ditentukan dan ditunjukan pada haluan
tertentu untuk ke berlayar ke B.

Dan jika dilukiskan kita lukiskan garis singgung yang melalui derajah A, maka garis ini adalah garis Utara
– Selatan.

Arah garis singgung ini kekutub Utara Geografis kita sebut arah Utara Sejati

Gambar 42, Arah Acuan

76
046. ARAH UTARA GYRO.

Poros gasing dari sebuah gasing yang berputar sepakat dengan jumlah putaran sangat tinggi memiliki sipat
penunjuk arah yang cukup stabil.

Gambar 43, Arah Utara Gyro

Yang dimaksud dengan Utara Gyro ialah : Arah horisontal yang ditunjukan oleh titik utara dari mawar gyro
( Ug )

Arah Utara Gyra ialah : suatu arah acuan untuk mngeukur sudut – sudut dalam bidang horisontal.

Arah Utara gyro tidak selalu jatuh sama dengan arah Utara Sejati ( Us ).

Oleh metode – metode kontruksi dan juga pengaruh – pengaruh luar seperti haluan, laju , perubahan haluan
dan laju serta gerakan – gerakan kapal . Maka perbedaan sudut antara kedua arah acuan tersebut tidak akan
tetap sama.

Perbedaan sudut antara Us dan Ug ditunjukan oleh Koreksi Total ( K.t. )

Karna ketergantungan dari Ug maka Ug bisa di sebelah Timur atau sebelah Barat.

Gambar44, Sudut Utara Sejati dengan Utara Gyro

77
047.ARAH UTARA MAGNETIG.

Komponen horisontal dari medan magnit bumi, dikebanyakan tempat mempunyai arah kira – kira sama
dengan arah derajah keUtara. Dan sudut yang dibentuk oleh komponen ini dengan derajah setempat
tergantung dari letak tempatnya dibumi.

Oleh pengukuran pada medan tsb, ditentukan selisih antara arah medan magnit horisontal dan arah geografis.

Komponen horisontal dari medan magnit bumi memberikan arah utara magnetig ( Um ).

Titik nol mawar pedoman didalam lingkungan bebas gangguan ini akan memberikan Um

Perbedaan antara sudut horisontal antara Us dan Um disebut VARIASI

Besarnya variasi tergantung dari letak tempatnya dibumi dan tahun ( Waktu ).

Gambar 45, Sudut antara Utara Sejati dengan Utara Magnet.

b. Diamana – mana dibumi Variasi berubah sangat lambat ialah beberapa menit busur tiap tahun

misalnya : ( 1 ) “ Var “ 15º W ( 1980 ) decreasing ( berkurang ) ab’ 10’ annualy” atau

Var “ 9º W ( 1980 ) increasing ( bertambah ) ab’ 10’ annualy

maka untuk contoh ( 1 ) variasi pada tahun 1986 menjadi.

( 1 ) Var ( 1980 ) = 15º W ( 2 ) Var ( 1980 ) = 9º W

berkurang sampai bertambah sampai

1986 = 6 x 10’ = 1º - 1986 = 6 x 10’ = 1 +

Var ( 1986 ) = 14 º W Var ( 1986 ) = 10º W

Variasi untuk suatu tempat dibumi, dapat dcari didalam

( 1 ) Peta Laut.

( 2 ) Peta variasi

78
( 3 ) Peta Buku kepanduan bahari.

048. ARAH UTARA DARI PEDOMAN MAGNET( Up )

Medan Magnit dikapal dibangkitkan kutub – kutub magnit oleh induksi dari medan magnit dibumi Induksi
tsb memberikan arah medan magnit kapal arah yang berbeda dengan medan magnit bumi.

Yang dimaksud dengan arah Utara Pedoman adalah : Arah Horisontal yang ditunjukan oleh titik Utara

mawar Pedoman ( Up )

Perbedaan antara Um dan Up disebut DEVIASI RUMUS : DEV = Um – Up.

Ganbar 46, Sudut Antara Utara Sejati dan Utara Pedoman

049. ARAH Us – ARAH Um – ARAH Up.

Dari uraian diatas berakibat bahwa ada hubungan antara Us dan Up. Variasi dan deviasi bersama-
sama dilukiskan dalam satu gambar.

79
Gambar 47, Perbedaan Sudut antara US dan Up

RUMUS : SEMBIR = VAR + DEV

050. ARAH LAMBUNG.

Adalah Sudut – sudut dalam bidang horisontal terhadap bidang membujur kapal dari depan kekanan

atau kekiri. Dihitung mulai dari depan kapal sampai 360º.disebut sudut lambung kanan.

Sudutnya mulai dari depan kapal ke kedua sisi sampai 180 dinyatakan oleh Hijau ( Kanan ) atau Merah
( ( kiri ), acuan relatip ini sebagai acuan untuk menjabarkan Sudut Lambung ( SL ). Sebagai pedoman untuk
menentukan arah haluan.

Dengan pertolongan mawar tetap yang arah 000⁰ -- 180⁰ sejajar pada bidang lunas, kita dapat
mengukursudut – sudut lambung tersebut

Gambar 48, Sudut Lambung.

051, RINGKASAN ARAH – ARAH ACUAN

Us = Arah horisontal sepanjang derajah ke Utara

Ug = Arah horisontal dari titik Utara mawar gyro

Um = Arah horisontal dari medan magnet bumi

80
Up = Aarah horisontal dari titik Utara mawar pedoman magnet

Arah Lambung 000º = Arah horisontal dari bidang membujur kapal kedepan.

PERBEDAAN ANTARA ARAH ACUAN.

K.t = Perbedaan sudut antara Us dan Ug.

Var = Perbedaan sudut antara Us dan Um

Dev = Perbedaan sudut antara Um dan Up.

Semb = Perbedaan sudut antara Us dan Up.

81
PEMBELAJARAN KE VII.

MENJABARKAN HALUAN – HALUAN.


Haluan = Sudut yang dihitung mulai dari suatu arah Utara kekanan sampai arah horisontal dari bidang

membujur kapal kedepan.

Dihitung kekanan dari 000º sampai 360º dengan arah – arah acuan Us , Ug, Um , Up disebut berturut- turut :

Haluan sejati ( Hs )

Haluan Gyro ( Hg )

Haluan Magnetic ( Hm )

Haluan Pedoman ( Hp ).

052. HALUAN SEJATI ( Hs )

Haluan sejati adalah sudut antara Us dan arah horisontal dari bidang membujur kapal kedepan dihitung
kekanan ( Hs ).

Jika depan kapal menunjukan ke Us , maka bidang membujur kapal jatuh sama dengan garis U - S.

Jadi Hs = Utara hal ini dinyatakan oleh Hs = 000º , jika kapal berputar kekanan maka Hg akan bertambah.
Jadi Hs dihiung kekanan dari 000⁰ sampai 360⁰

053. HALUAN GYRO ( Hg ).

Haluan Gyro = Sudut antara Ug dan garis layar dihitung kekanan ( Hg ).

Haluan guro tersebut dibaca pada mawar digaris layar dan diberikan kepada jurumudiatau dipasangkan pada
kemudi otomatis.

Rumus adalah : Hs = Hg + Kt

Rumus Penjabaran Haluan :

Hs = Hm + Var
= Hp + Var + Dev
= Hp + Sembir
Hm = Hp + Dev

82
Var / dev / sembir . Selalu ditambahkan.
Artinya : dijabarkan dengan tandanya ( + / - )
+ +
_ _
Jika dari Hp ke Hs sealu dikurangi
Artinya : dijabarkan berlawanan dengan
tandanya
+ -
- +

Gambar 49, Penjabaran Rumus Haluan

Gambar 50,Sudut Perhitngan Hs dan Hg.

054. HALUAN PEDOMAN ( Magnet ).

a).Haluan Pedoman = Sudut antara Up dan arah membujur kapal kedepan ditunjukan oleh garis layar,
dihitung kekanan ( Hp ). Dari 000º sampai 360º

Hubungan antara Hp dan Hs.

83
Gambar 51, Sudut perhitungan antara Hs dan Hp

b).Haluan Magnet = Sudut yang dihitung dari Um kekanan sampai arah horisontal dari bidang
membujur kapal kedepan ( Hm ).

Gambar 52, Sudut Perhitungan antara Hs dan Hm

an
84
Rumus Penjabaran untuk Hm sampai Hs menjadi. Hs = Hm + Var

c) Hubungan antara Hm dan Hp.

Gambar 53, Perhitungan Hs, Hm dan Hp

055. VEKTOR GERAKAN KAPAL

a) Haluan Sejati yang diperoleh ( Hs Ydp ) = Sudut horisontal dihitung kekanan dari Us sampai vektor
gerakan ( v ) dari kapal terhadap permukaan air.

Sebagai akibat dari pengaruh angin, arah gerakan kapal terhadap air adalah berbeda dengan Hs.

85
Perbedaan sudut antara Hs dan Hs Ydp disebut RIMBAN ( Leeway )

Gambar54, Vektor gerakan kapal.

Gambar 55, Sudut Haluan Dasar

Gambar 56, Sudut Rimban

86
Gambar 57, Sudut Perhitungan Rimban

057. PERHITUNGAN HALUAN DAN JAUH.

Maksud dan Tujuan :

1. Menghitung Lintang dan Bujur tempat tiba jika jika diketahui tempat tolak, haluan dan jauh

2. Menghitung haluan dan jauh, jika diketahui tempat tolak dan tempat tiba.

Definisi :

1) Lintang Tolak ( lo ) : Lintang dari tempat tulak.

87
Lintang t\Tiba ( lt ) : Lintang dari tempat tiba

Lintang Menengah : lm = lo + lt

2) Perubahan Lintang ( ∆l ) : Bujur derajah antara jajar – jajar yang melalui tempat tolak dan tempat tiba

Jika Lo dan Lt senama maka ∆l = Lt – Lo atau ∆l = Lt - Lo

Jika Lo dan Lt tak senama maka ∆l = Lo + Lt.

3) Bujur Tolak ( Bo ) : Bujur dari tempat tolak

Bujur Tiba ( Bt ) : Bujur dari tempat tiba.

Perubahan Bujur ( ∆b ) : Bujur khatulistiwa antara derajah – derajah yang melalui tempat tolak
dan tempat tiba.

Jika Bo dan Bt senama maka ∆b = Bt – Bo atau ∆b = Lo - Lt

Jika Bo dan Bt tak senama maka ∆b = Bo + Bt.

4) Pada perhitungan Haluan dan Jauh harus selalu dipakai haluan sejati. Haluan – haluan harus dihitung

dari U - S sampai 90º ke Timur / Barat.

∆l disebut U jika haluan mulai dari U

S S

∆b disebut Timur jika haluan menuju kearah Timur

Barat Barat

058. PEMBAGIAN HALUAN - HALUAN.

Dibedakan : Haluan siku – siku ialah menurut surat induk ( U - S - T - B ) dan haluan serong

A. HALUAN UTARA - SELATAN

Perpindahan sepanjang derajah, hanya ada perubahan dalam lintang ∆l = Jauh

Jika lo dan ∆l Senama = ∆l ditambahkan pada lo untuk mendapatkan lt.( Lintang Tiba ).

tak senama dikurangkan dari

88
Gambar 58, Haluan Utara - Selatan

B. HALUAN TIMUR - BARAT

Perpindahan sepanjang jajar, hanya ada perubahan dalam bujur

Disini jauh sepanjang jajar disebut Simpang.

Bila kita memperbandingkan busur pada jajar antara dua lingkaran bujur dengan busur yang bersangkutan
pada khatulistiwa maka didapati :

Simp : ∆Bu = Keliling Jajar : Keliling Khatulistiwa

= Keliling khatulistiwa x Cos Li : Keliling khatulistiwa.

= Cos Li = 1.

Gambar 59, Haluan Timur - Barat

Daftar II :

Argumen : Lintang ( sampai 72º 28’ ) dan mil – mil simpang kita memperoleh : menit – menit ∆Bu.
Interval untuk lintang telah demikian dipilih sehingga sampai simpang 500 mil, tanpa interpolasi untuk
lintang. Kesalahan dalam tempat tiba (dalam arah Timur – Barat ) berjumlah < mil laut,

Sampai Lintang 4º dan simpang 400’ kita boleh menganggap simp = ∆Bu

89
Daftar III :

Argumen : Lintang ( sampai 72º 28’ ) dan menit – menit bujur, kita memperoleh mil – mil simpang.

C. HALUAN SERONG.

Gambar 60, Haluan Serong

Rumus - rumus.

∆Li = Jauh x Cos H ………………………( 1 )

Simp = Jauh x Sin H ………………………( 2 )

Simp = Tg. H…………………………………( 3 )

∆Li

Bukti :

Bagilah AC = ∆li dalam menit – menit ( banyaknya n ). Tariklah melalui titik – titik tsb jajar – jajarnya.

Tariklah melalui melalui titik potong jajar dan loksodrom ( D,E,F…..) derajahnya terjadilah segitiga –
segitiga sebanyak n.

( ADD’ , DEE’ , EFF’ …………… ) tersebut adalah = a + b + c + …………= Simpang Haluan Serong.

90
059. RUMUS – RUMUS UNTUK ∆Bu

a) ∆Bu = Simp x Sec Lm p= a . Sec ( lo + 1’ ) = 1/n simp . Sec ( lo + 1’ )

q = b . Sec ( lo + 2’ ) = 1/n simp . Sec ( lo + 2’ ) +

∆B = 1/n simp ( sec ( lo + 1’ ) + sec ( lo + 2’ ) .....+ sec l H )

= Simp x sec ( lo + 1’ ) + sec ( lo + 2’ ) + …. + sec l 1 )

Rata – rata dari jumlah secan – secan ini digantikan dengan sec lm. Suatu nilai yang lebih kecil dari padanya,

sehingga kita dapati :

∆Bu = Simp x Sec Lm ( rumus pendekatan )

Simp = ∆Bu x Cos Lm.

Catatan : Kesalahan yang terbesar didapat pada haluan 3 1/8 surat ( 35º 2’ )

Pada Lm = 70º dan jauh = 350 mil, kesalahan dalam tempat tiba adalah < 1 mil laut.

b) ∆Bu = ∆LB x Tg H ( ∆LB = LBl1 – LBlo )

p = 1/n . Simp . Sec ( lo + 1’ ) = 1’ Tg H . Sec ( lo + 1’ )

q = 1/n . Simp . Sec ( lo + 2’ ) = 1’ Tg H . Sec ( lo + 2’ ) +

∆Bu = 1’ Tg H . ( sec ( lo + 1’ ) + sec ( lo + 2’ ) …….. + sec l1 )

= (Sec x ( lo + 1’ ) + sec ( lo + 2’ ) + …….. + sec l 1 x 1’ ) x Tg H

= ∆LB x Tg H

Tg H = ∆ Bu

∆ LB

( jika lo dan l1 tidak senama ∆LB = LBl1 + LBlo ).

91
060. Penjelasan lebih lanjut :

1. ∆Bu = Simpx sec lm dan ∆Bu = ∆LB x Tg H

Pada H = 90º maka Tg H = -- dan ∆LB = nol

jadi kta pakailah : ∆Bu = Simp x sec lm.

2. Jika > 80º , maka Tg H menjadi semakin besar sekali , kesalahan dalam ∆LB yang terjadi oleh
pembulatan ∆li dan dan LB1 akan beralih dengan lebih diperbesar pada ∆Bu.

pada H > 85º , kita pakailah : ∆Bu = Simp x sec lm

Jauh = ∆li x sec H dan Jauh = Simp x Cosec H.

Kedua rumus tersebut dlam ilmu pasti adalah benar , jika haluannya dibulatkan maka kita ambil :

3. Jauh = ∆li x sec H untuk Simp > ∆li

Jauh = Simp x Cosec H untuk Simp > ∆li

Jauh selalu ditentukan dengan nilai terbesar dari li atau simp

4. Besarnya ∆li dan simp dapat dilukiskan sebagai berikut :

jika a) H < 45º maka Simp < ∆Bu

b) H = 45º maka Simp = ∆li

c) H > 45º maka Simp > ∆li

5. Pakailah H > 85º lebih baik pakailah Rumus : Jauh = ∆Li x Tg H x Cosec H.disini log cosec H
dapat ditentukan dengan seksama . Tanpa interpolasi yang teliti terhadap H.

Daftar 1 = Ilmu Pelayaran

Argumen = Haluan dalam derajat dan surat penuh, jauh 1 --- 450 mil, 500, 600 sampai 90 mil

Menentukan ∆Bu dengan daftar I.

∆Bu = Simp x sec Lm

92
Jauh = ∆Li x Sec H Daftar I

Ambilah Lm sebagai H dan Simp, sebagai ∆Li

maka Jauh = ∆Bu atau ∆Bu = ∆LB x Tg H.

Simp = ∆Li x Tg H.

Ambilah ∆LB sebagai ∆Li, maka Simp = ∆Bu

061. SEGITIGA MERCATOR.

= Segitiga siku –siku dipeta bertumbuh , yang dibentuk oleh derajah melalui tempat tolak ( A ), jajar

melalui tempat tiba ( B ) dan loksodrom antara A dan B.

Titik potong dari derajah dan jajar tersebut adalah C

= Gambaran segitiga pelayaran dipeta bertumbuh keduanya disebut juga Segitiga Haluan.

Gambar 61, Segitiga Haluan

Diukur dengan menit tepi tegak : BC = Simp = Tg H.

AC ∆Li

Diukur dengan menit tepi datar ( Menit Khatulistiwa ) : BC = ∆Bu = Tg H.

AC ∆LB

062.PENERAPAN DALAM PERHITUNGAN

I ) Menghitung Tempat Tiba.

Diketahui : Tempat tolak, haluan dan jauh.

Hitunglah : Tempat tiba.

a) Dipecahkan menurut Lm :

93
Li = Jauh x cos H ; Simp = Jauh x sin H dan ∆Bu = Simp x sec Lm.

b) Dipecahkan menurut LB :

Li = Jauh x cos H dan ∆Bu = ∆LB x Tg H.

Dapat dihitung dengan : 1. Logaritma

2. ∆Li diambil dari daftar I

∆LB x Tg H diambil dari daftar I.

II). Menghitung Haluan dan Jauh antara 2 Tempat

Diketahui = Tempat tolak dan tempat tiba

Hitunglah = Haluan dan jauh.

a). Dpecahkan menurut Lm

Tentukanlah ∆Li ( lo – li ) dan Lm

∆Bu ( Bo – B1 ) dan Simp = ∆Bu x cos Lm.

maka : Tg H = Simp dan Jauh = Simp x cosec H atau Jauh = ∆Li x sec H.

∆Li

dapat dihitung dengan : 1. Logaritma

2. Simp diambil dari Daftar III

Tg H dalam 3 desimal dan H dari daftar I

Jauh dengan ∆Li atau simp ; dari daftar I

b) Dipecahkan menurut LB

Tentukanlah ∆Li ( lo – l1 ). ∆Lb ( LB1 – LBo ) dan ∆Bu ( Bo – B1 ).

Tg H = ∆Bu dan Jauh = Li x sec H

∆LB

dapat dihitung dengan : 1. Logaritma

2. Tg H dalam 3 desimal dan H dari daftar I

Jauh dengan ∆Li dan H dari daftar I.

063. SKEMA PERHITUNGAN.

1) Menaghitung tempat tiba

a) Menurut Lm : Tolak : (1)U/S ( 2) T/B

94
Haluan….. Jauh ………∆Li: ( 4 ) U / S ∆Bu = ( 8 ) T / B +/--

Tiba : ( 6 ) U / S (9)

Simp : ( 5 ) …………

Lm : (7) Daftar II

Simp ∆Bu

000 ……….

00 ............

0 ………..

0,0 ……….. +/--

……… ……….
Keterangan (1) (2) (3) : diketahui

(4) (5) : lihat daftar I dengan Haluan dan Jauh

(6) : ditambah atau dikurangi

(7) : ½ lintang ditambahkan pada lintang yang erkecil

(8) : lihat daftar I

(9) : ditambahkan atau dikurangi

b) Menurut LB

Tolak : (1) U / S (2) T / B ; LBo = (6)

H , J dan ∆Li : (4) U / S (12) T / B +/--

Tiba : (5) U / S (13) T / B ; LB1 = (7) +/-

∆LB = (8)

Log Tg H : (9)

Log ∆LB : (10) +

Log ∆Bu : (11)

∆Bu : (12)

Keterangan : (1) , (2), (3) = diketahui

(4) = lihat daftar

(5) = ditambah atau dikurangi

(6), (7) = lhat daftra XVII

95
(8) = ditambah atau dikurangi

(9) = lihat daftar VIII

(10) = lihat daftar X

(11) = ditambahkan

(12) = dicari kembali dalam daftar X

(13) = ditambah atau dikurangi.

Menghitung Haluan dan Jauh.

a) Menurut Lm =

Tolak : (1)U/S = (2) T/B

Tiba : (3)U/S = ( 4 ) T / B +/--

∆Li : ( 5 ) U / S ∆Bu = ( 6 ) T / B

atau

Lm = (7) Simp = (8)

Tg H = Simp (9)

∆Li

H = U / S (10) T/B Daftar III

∆Bu Simp

00 ………

0 ………

0 ,0 ……… +/--

……… ………

keterangan :

(1), (2), (3), (4) : diketahui

(5), (6) ; ditambah atau dikurangi

(7) : ½ ∆Li ditambahkan pada lintang yang terkecil.

(8) : lihat daftar III

(9) : hasil dibagi sampai 3 desimal

(10), (11) : lihat daftar I,

96
Dengan Tg H mendapatkan Haluan dan dengan haluan ini mendapatkan Jauh.

b) Menurut LB =

Tolak : ( 1 ) U / S ( 2 ) T / B, LBo (7)

Tiba : ( 3 ) U / S ( 4 ) T / B LB1 (8) +/--

∆Li : ( 5 ) U /S ∆Bu = ( 6 ) T / B ∆LB (9)

atau

Log ∆Bu : (10)

Log ∆LB : (11) --

Log Tg H = (12)

H = U / S (13) T / B dan Jauh = (14)

Keterangan : (1), (2), (3), (4) = diketahui

(5), (6) = ditambah atau dikurangi

(7), (8) = lihat daftar VIII

(9) = ditambahkan atau dikurangi

(10), (11)= lihat daftar X

(12) = dikurangi

(13) = ditambahkan dengan daftar VIII

(14) = lihat daftar I dengan Haluan tersebut mendapatkan Jauh.

064. HALUAN RANGKAI.


Definisi =

a. Tempat duga : Letak kapal yang diperoleh dari perhitungan haluan dan jauh.
b. Tempat sejati : Letak kapal yang diperoleh dari baringan dan /atau penilikan benda
angkasa.
c. Perolehan duga : Haluan dan jauh diperoleh dari tempat tolak ke tempat duga
d. Perolehan Sejati : Haluan dan jauh dari tempat tolak ke tempat sejati
e. Salah duga : Haluan dan jauh dari tempat duga ke etmpat sejati ( set and drift ).

disebabkan oleh arus,rimban, sembir yang salah penunjukan topdal

97
yang salah mengemudi kurang baik dan lain sebagainya.

Merangkai Haluan : Menjabarkan berbagai haluan dan jauh menjadi satu haluan dan jauh

( satu perolehan duga ) serta menghitung tempat tiba duga

Gambar 62, Haluan Rangkai

065. CARA MERANGKAI HALUAN – HALUAN

a) Merangkai secara Datar

1) Ambilah jumlah aljabar dari semua Lintang dan semua Simp, untuk tiap haluan ( daftar I ).
2) Tentukanlah dari Lo dan jumlah ∆Li. Nilai Lm nya. Jabarkan jumlah simp dengan Lm menjadi
∆Bu ( daftar II ).
3) Perolehan duga Tg H = ɛ Simp ( dalam 3 desimal ) akan memberikan Haluan ( daftar I ).

ɛ ∆li

dengan Haluan dan nilai terbesar dari li dan simp, carilah jauhnya.

b) Merangkai secara bulatan

Merangkai dalam mana untuk tiap haluan ditentukan ∆Bu nya.

contoh :

Dari A = 49º 14’ U ---- 142º 18’ B, kapal berlayar berturut – turut dengan HP sbb :

HP Jauh dev

259º 38 mil (--) 3º

191º 30 mil (+) 7º

157º 28 mil (--) 2º

129º 44 mil (--) 5º

variasi = 12º barat.

98
tempat tiba sejati ( c ) = 48º 00’ U ---- 142º 00’ B.

hitunglah : a). Tempat tiba duga (B)

b). Perolehan duga ( A B)

c). Salah duga ( B C)

Tolak (A) = 49º 14’ ,0 U ---- 142º 18’,0 B

∆Li = 1º 25’,4 S ---- ∆Bu = 30’,8 T --

Tiba (B) = 47º 48’,6 U ----- 141º 47’,2 B

Tg H = ɛ Simp = 20,4 = 0,238

ɛ ∆Li

b ) perolehan duga = S 13º,5 T ; 88 mil

Lm = 48º31’,3 U

Daftar II = Simp ∆BuT

20 30,18

0,4 0,603 +

20,4 30,783

Tiba duga (B) = 47º48’ ,6 U ---- 141º 47’,2 B

Tiba Sejati (C) = 48º00’, 0 U ---- 142º 00’,0 B –

∆Li = 11’, 0 U ---- ∆Bu = 12’,8 B

Simp = 8’,6

99
Tg H = Simp = 8’,6 = 0, 754 Lm = 47º 54’,3

∆Li 11,4

C) Salah Duga = U 37º B : 14,3 mil

Daftar III : ∆Bu Simp

10 6,710

2 1,343

0,8 0,537 +

12,8 8,590

066.MENANDING ARUS
= Memperhitungkan kekuataan arus

Kekuataan arus = KECEPATAN DALAM MIL TIAP JAM

Arah arus = Arah kemana bagian – bagian air itu bergerak.

Kita bedakan 3 macam keadaan :

a) Menghitung tempat tiba

Diketahui : Tempat tolak, haluan, laju dan kekuataan / arah arus

Hitunglah : tempat tiba

Jawab : Pada merangkai secara datar, arus tersebut diperhitungkan sebagai haluan dan

jauh pada urutan terakhir.

Pada merangkai secara bulatan, arus tsb diselipkan diantara haluan – haluan selama ia mengalir.

b) Menghitung salah duga

Diketahui : Tempat tolak, haluan dan laju kapal dan tempat sejati.

Hitunglah : Kekuataan dan arah arus ( salah duga ).

Jawab : Dari tempat tolak haluan dan laju kita hitunglah tempat tiba.

Tentukanlah ∆Li , Lm, dan ∆Bu nya. Ubahlah ∆Bu menjadi Simp ( daftar III ).

Tg H = Simp = dengan Haluan dan nilai terbesar dari ∆Li dan simp kita perolehj auhnya.

100
∆Li

c) Haluan dan jauh diatas arus.

= Haluan yang harus dikemudikan dan jauh yang harus ditempuh dibawah pengaruh arus , untuk
mencapai tempat tujuan.

Olehkarena haluan yang dikemudikan itu, terhadap perjalanan yang ditempuh terletak pada sisi atas dari
arus, ialah sisi dari mana arus itu datang maka haluan yandikemudikan disebut Haluan diatas arus.

Diketahui : Tempat tolak, tempat tiba, kekuataan / arah arus dan laju kapal.

Hitunglah : Haluan yang harus dikemudikan dari banyaknya mil yang harus ditempuh

Jawab : secara kontruksi ( dipeta laut )

Misal ; A = tempat tolak, B = tempat tiba

AD = kekuataan / arah arus dan

AU = garis U – S sejati.

Lukiskan dari D dengan DE ( laju kapal ) sebagai jari – jari sebuah busur lingkaran, yang memotong

AB d E. Tariklah Af // DE dan BF // AD, maka ‫ ﮮ‬UAF adalah haluan diatas arus dan AF adalah jauh

diatas arus.

Gambar 63, Menanding Arus

II. Secara perhitungan ( ilmu ukur sudut ).

1. hitunglah haluan ( ‫ﮮ‬UAB ) dan jauh ( AB ) dari A ke B.

misalkan x = ‫ﮮ‬FAB dan a = ‫ﮮ‬UAD -- ‫ﮮ‬UAB = ‫ﮮ‬B.

Menurut atran sinus dalam ▲AEE’ : Sin x = a ( kekuataan arus )

Sin ἀ k ( laju kapal

Sin x = a x sin ἀ

101
k

Had = ‫ ﮮ‬UAF = H ( haluan ) . x

2. Dalam ▲ABF

‫ ﮮ‬F = 180º -- ( x + ἀ ).

selanjutnya = AF = Sin ‫ﮮ‬a

AB Sin ( x + ἀ ).

AF = AB Sin ἀ = AB Sin a x Cosec ( x + a )

Sin ( x + ἀ

AF = Jauh diatas

067. HALUAN DASAR ( Hd ) dan Jauh terhadap permukaan bumi.

Haluan dasar ( Hd ) = Merupakan sudut, dihitung kekanan mulai dari Us sampai arah vektor laju kapal
terhadap permukaan bumi ( dasar laut ), jaraknya dihtung dalam mil lau internasional.

Jauh adalah jumlah mil laut yang ditempuh terhadap permukaan bumi. Dan dilukiskan dengan Ld, dengan
satuan mil laut ( knot ). Jauh diukur dengan menggunakan topdal.

Pada umumnya topdal hanya mengukur kecepatan membujur kapal terhadap air, dengan demikian laju dan
jauh yang sebenarnya terhadap dasar laut harus diperkirakan , atau ditntukan kemudian dengan alat bantu
navigasi lainnya.

068. PENGARUH GANGGUAN TERHADAP POSISI TIBA DUGA ( PTD ).

Kapal bertolak dalam waktu tertentu ( Wo ) dari posisi tolak A dengan laju ( V ) knot pada haluan Hs tanpa
adanya angin dan arus , maka setelah berlayar selam ( W ) jam , kapal tiba diposisi B.

Dengan keadaan yang ideal ini maka H = Hs.

102
Gambar 64, Posisi Duga Tanpa Pengaruh

Dalam kondisi sebenarnya kapal sealau dipengaruhi oleh angin, ombak dan arus, maka setelah berlayar

( W ) jam denagn haluan yang sama kapal tidak akan tiba di B. jika diterapka dengan vektor laju ( v ),
vektor rimban duga ( Vr ) dan vektor arus ( Va ) maka laju dasar duga menjadi Ld = a + Vr + Va.

Didalam praktek vektor – vektor v,vr dan va,tidak diketahui dengan pasti ,setelah berlayar W jam maka
didapat posisi duga ( PTD )

Posisi duga / tempat duga adalah : merupakan perkiraan terbaik dari posisi yang telah memperhitungkan
segala faktor , dyang mempengaruhi Hd dan Jd.

Gambar 65, Posisi Duga Dengan Pengaruh Berbagai Faktor

069. PENGARUH ANGIN / RIMBAN

Kapal akan dihanyutkan oleh angin terhadap permukaan air disebut rimban ( r ) , Vektor rimban dalam knot
( Vr ) memberikan arah dan kecepatan yang dipengaruhi angin.

Sudut rimban adalah sudut antara arah muka kapal dan arah kemana kapal bergerak terhadap permukaan air.

103
Gambar 66, Pengaruh angin / Rimban

Haluan kapal terhadap arah Us adalah Hs, haluan kapal terhadap air Hsr.

Didefinisikan Hsd sebagai sudut antara arah Us dengan arah gerak kapal terhadap air.

Perbedaan antara Hsr dan Hs disebut sudut rimbna disingkat ( r ). Hsr = Hs Ydp.

Kita menetapkan : Rimban kekiri positip ( angin bertiup dari kiri )

Rimban kekanan negatip ( angin bertiup dari kanan ).

Rumus : Hs = r + Hs

Penentuan vektor rimban (vr)hanya dapat dilakukan sebagian topdal tergantung pada tipenya L atau Ld atau
besaran dari komponen membujur kapal dari lajunya.

Sudut rimban seringkali hanya diperkirakan besarnya tergantung dari vektor angin, tipe kapal, sarat kapal,
Untuk kapal – kapal berukuran besar , kondisi kapal dalam keadaan sarat dalam dan kecepatan penuh, sudut
rimban adalah kecil sekali tetapi untuk kapal – kapal besar sekali bila kondisi kapal kosong ( tolak bara ) dan
kecepatannya kecil rimbannya tidak boleh diabaikan.

Untuk berlayar diair pelayaran sempit. Pengaruh angin harus benar-benar diperhitungkan lebih – lebih kapal
dalam keadaan kosong

Mengoreksi Hs dengan rimban : Hsr = 160º, arah angin dari barat rimban = 6º maka untuk kapal kosong
Hs = 160º -- ( --) 6º

= 166º

104
Gambar 67, Koreksi terhadap Rimban

070. PENGAR.UH ARUS.

Vektor arus = Memberikan arah dan kecepatan arus dalam knots.

Sudut arus ( a ) = sudut antara gerakan kapalterhadap air dan arah gerakan terhadap dasar laut.

Hubungan antara Hd dan Hs diberikan Rumus :

Hsr + a - Hd

Arus kesisi kiri negatip ( -- )

Arus kesisi kanan positip ( + )

V = Vektor laju kapal terhadap air

Va = Vektor arus

Vd = Vektor laju kapal terhadap dasar laut.

Ha = Arah arus.

Gambar 68, Pengaruh Arus.

105
Dikapal digunakan tabel arus dan peta arus untuk mendapatkan Ld yang diperkirakan.

Ld duga adalah jumlah dari proyeksi V dan Va pada arah lintas.

Dari vektor arus. Laju dan haluan dasar kita dapat melukiskan Hsr dan Vr.

Kita lingkarkan ll V’ ll dari ujung Vanpada garis haluan. Maka diperoleh V’ dan Vd. Arah V’
memberikanHsr dan ll Vd ll adalah laju dasar. Jika dikoreksi untuk pengaruh angin ataau dengan rumus
pendekatanmenerapkan sudut arus yang dihitung pada Hsrmaka kita mendapatkan Hs yang dikemudikan.
Jika kapal mengikuti berhaluan Hs ini, maka kapal terhadap dasar laut akan mengikuti garis haluan yang
dinginkan , jika koreksi – koreksi yang ditentukan oleh navigator selalu dengan yang sebenarnya .

Gambar 69, Pengaruh Vektor Arus dan Haluan Terhadap Air

Tetapi karena nilai yang sebenarnya dari arah arus dan rimban tidak pernah diketahui dengan pasti, maka
rute yang ditempuh tidak akan sama dengan rute yang diinginkan. Hal ini akan terbukti deri penentun posisi
yang dilakukan secara teratur.

Posisi (kedudukan yang paling mendekat /PPM ) tidak sama dengan posisi tiba duga ( PTD )

071. PENENTUAN PTD ( DR ) Dalam Praktek.

Pada peta laut kita dapat menentukan PTD pada sembarang waktu,dengan cara melukiskan haluan dasar
duga dan laju dasar dari PPM terakhir untuk waktu tertentu.

Jika dalam waktu itu kita telah menempuh lebih dari satu haluan dasar dan/atau laju, kita jangkakan ini
berturutan. Maka hasil PTD yang diperoleh merupakan pendekatan dari posisi sebenarnya pada saat itu.

106
Gambar 70, Posisi Tiba Duga

072. PERHITUNGAN PTD dan SALAH DUGA

Dari posisi tolak A ( 1A,bA )kapal berlayar dengan haluan dasar duga ( Hd loks ) dan dengan Ld duga,
setelah berlayar selama W jam PTD adalah titik B ( lB, bB ).

Pada saat yang sama navigasi menentukan PPM oleh baringan pengamatan astronomisatau dengan sistim
penentuan tempat lainnya, yaitu C ( lc , bc )haluan dan jauh dari PTD ke PPMkita sebut Salah Duga.

Hd Loks adalah perkiraan dari haluan dasar yang diikuti. Kemudian ternyata bahwa Hd adalah perkiraan
yang lebih baik dari haluan dasar, sebab dari padanya terletak gangguan – gangguan , seperti angi dan arus,
yang tidak dapat diketahui dengan pasti. Juga pengaruh oleh kesalahan – kesalahan yang tidak diketahui
dari alat navigasi yang digunakan, seperti topdal, kemudi ( otomatis atau manual ) serta keadaan laut
( ombak dan arus )ikut menjadi penyebab salah duga.

PEMBELAJARAN KE VIII.

PEMBAGIAN DINAS JAGA DIKAPAL.


Diatakapal yang sedang berlayar perlu dilakukan pembagian waktu jaga laut dalam kurun waktu 24 jam
( sehari ) dibagi menjadi 6 penjagaan, yang masing – masing group adalah 4 jam lamanya.

Adapun pengaturan pembagian jaga tersebut :

107
1. Jam 00.01 – 04.00 jaga larut malam
2. Jam 04.00 – 08.00 jaga dini hari
3. Jam 08.00 – 12.00 jaga pagi hari
4. Jam 12.00 – 16.00 jaga siang hari
5. Jam 16.00 – 20.00 jaga sore hari / petang hari,
6. Jam 20.00 – 24.00 jaga malam hari.

Pusat pengendalian diatas kapal adlah dianjungan kapal, artinya bahwa semua perencanaan disepakati
bersama antara Nakhoda sebagai pipmpinan tertinggi diatas kapal dan dibantu dengan KKM ( sebagai kepala
Dept. Engine ) dan Ch.Off ( sebagai kepala Dept. Dek . Kebersamaan itulah yang menyebabkan terjadinya
suatu kerja kelompok yang diwakili oleh semua departemen yang ada diatas kapal.

Dianjungan kapal dalam menyelenggarakan pelayaran, telah dibagi juga kelompok kerja yang berisikan
perwira jaga dengan jabatan Mualim sebagai penenggung jawab diikuti jurumudi, Marconis. Semua harus
saling mendukung serta mengisi segala kelemahan dan kekurangan bahkan tanpa dimintapun keterangan
atau hal – hal yang membahayakan kapal harus segera disampaikan demi keselamatan kapal dan segala
isinya.

073. MENGUKUR JARAK - JAR AK DIPETA

Bagi suatu pelayaran kapal perlu dapat diukrur jarak-jarak, arah-arah , agar supaya dapat diketahui berapa
jauh pelayaran yang akan ditempuh, berapa jauhnya, berapa mil kecepatan tiap jam serta berapa jauh suatu
benda daratan dari kapal.

Kita sudah mengetahui Loksodrom ialah garis lurus yang ditarik dipeta dari satu tempat ketempat lainya .
Pada waktu ,emgukur jarak dipeta orang harus memperhatikan perubahan ukuran perbandingan dari pada
peta

a. Ukurlah jarak –jarak dipeta senantiasa dengan menit – menit dipinggir peta yang berdiri.
b. Ambilah bagian pinggir yang selaras dengan lintangnya jarak yang akan diukur.
c. Jangka harus didirikan sedemikian rupa, hingga tengah-tengahnya jatuh sama dengan lintang
menengah dari pada lintang menengahnya kedua tempat yang jaraknya harus ditetapkan.

Contoh :

AB adalah loksodrom dari A ke B dan jaraknya harus diukur. Garos – garis titik ialah jajar daripada A
dan B jadi merupakan lintangnya. Lintang menengahnya dipeta +/- 21⁰. Ambilah jarak antara AB
dengan jangka, berdirikanlah jangka itu dipinggir yang berdiri atau derajah 130⁰ sedemikian hingga
tengahnya kaki jangka jatuh sama dengan lintang 21⁰ maka lihatlah diatas oinggir berdiri yang dibagi-
bagi, maka disitu terdapat sekian mildan itulah jaraknya antara A B.

Untuk mengukur haluan – haluan dipergunakan mawar pedoman pada peta dan garisan jajar, atau
derajah / jajar dengan menggunakan busur derjat dan segitiga.

Pada umunya penjangkaan peta dapat dibagi atas persoalan –persoalan sebagai berikut :

1. Suatu tempat diketahui lintang dan bujurnya , bagaimana melukisnya dipeta.


Mengerjakannya :
Carilah pada pinggir peta yang berdiri titik yang terletak pada lintang yang diketahui itu, lalu
tariklah jajar melalui titik tsb, kemudian carilah pada pinggir peta yang mendatar titik yang letaknya

108
pada bujur yang diberikan,lalu tariklah derajah melalui tempat itu. Titik potong dari kedua garis tsb
adalah tempat yang diminta.
2. Menetukan Lintang Bujur suatu tempat.
Mengerjakannya :
Ambilah dengan jangka jarak antara jajar yang berdekatan dengan tempat itu ,taruklah mulai
daripada jajar ini, jangkalah diatas pinggir peta yang berdiri disini dapat dibaca lintangnya menurut
bagian-bagian mil yang ada.
Lalu ambilah jarak dari derajah yang berdekatan sampai ditempat itu, Letakkanlah jangka diatas
pinggir peta yang mendatar, satu kaki diatas derajah tsb, diatas kaki lain, dengan mudah dapat dibaca
bujurnya.
3. Dari salah satu tempa t dipeta melukis haluan dan jauh tertentu.
Mengerjakannya :
Lukislah garis haluan dengan garisan jajar dan mawar pedoman yang ada dipeta, atau dengan busur
derajat dan segitiga serta mempergunakan derajah atau jajar.
Pada garis haluan jangkakanlah jauhnya antara 2 tempat dengan mempergunakan ukuran mil-mil
diatas pinggir yang berdiri +/- ditempatnya kedua tempatdarlintang menengah.
4. Menjangkakan haluan dan jauh daripada dua tempat dipeta.
Mengerjakannya
Ukurlah haluan menurut garis yang menghubungkan kedua tempat dengan garisan jajar digeserkan
sejajar kepusat mawar pedoman yang berdekatan. Bacalah derajat-derajatnya pada busur mawar
pedoman.
Jika dapat dipergunakan busur derajat dan segitiga tidak perlu memakai mawar pedoamn. Jauhnya
dapat dijangkakan seperti dibagian.c.

25⁰

20⁰

15⁰

10⁰

110⁰ 115⁰ 120⁰ 125⁰ 130⁰

109
Gambar 71. Cara Menjangka/Menghitung Garis Haluan

Gambar 72. Cara Menjangka Jarak Lintang di Peta

Gambar 73. Cara Menjangka/Menghitung dan Memindahkan Jarak Lintang Peta

110
Gambar 74. Cara Menjangka Jarak Bujur di Peta

074. MENGHITUNG KECEPATAN DAN JARAK

Cara perhitungan ini tidak ada pengaruh arus dan angin.Maka jauh atau jarak yang harus ditempuh oleh
kapal dalam suatu haluan tertentu dan kecepatan adalah jauh yang ditempuh oleh kapal dalam waktu 1 jam.

Ada beberapa rumus yang sederhana seperti dibawah ini :

1. Jika ingin menghitung jauh yang telah ditempuh kapal dalam waktu

tertentu ialah dengan rumus =

2. Jika menghitung lamanya waktu untuk menempuh suatu jarak

tertentu ialah dengan rumus =

111
3. Jika menghitung kecepatan kapal untuk menempuh waktu tertentu

ialah dengan rumus =

Keterangan :

W : Waktu dalam menit

K : Kecepatan dalam detik lintang (busur)

D : Jauh dalam detik lintang (busur)

Contoh Soal dan penyelesaian

Soal. 1.

a. Kapal berlayar dengan Kecepatan 12,8 knots, kemudian telah

berlayar 49 menit. Berapa jauh kapal berlayar?

Penyelesaian :

Kecepatan kapal 12,8 knots = 12,8 mil / jam = 12,8’

60

Dalam 49 menit kapal berlayar

W x K = 49 x 12,8’ = 627,2’ = ± 10,5 mil

60 60 60

b. Kapal berlayar dengan kecepatan 9 mil/jam, kemudian kapal telah

berlayar 7 jam 50 menit. Berapa jauh kapal berlayar?

112
Penyelesaian :

Dalam 7 jam kapal berlayar = 7 x 9 mil = 63 mil

Dalam 50 menit 50 x 9’ = 450’ = 7,5 mil

60 60

Kapal berlayar selama 7 jam 50 menit sejauh : 63 + 7, 5 mil = 70, 5 Mil

Soal. 2.

1. Jarak yang harus ditempuh 3,7 mil. Kecepatan kapal 9 knots.

Berapa waktu yang diperlukan untuk menempuh 3.7 mil.

Penyelesaian :

Jauh yang sudah ditempuh kapal = 3,7 x 60” (D)

Kecepatan kapal = 9 knots = 9 mil/jam= (9 x 60”)

Jadi waktu untukMenempuh jauh 3,7 mil

= D x 60’ = (3,7 x 60”) x 60’

K (9 x 60”)

= 3,7 x 60’ = 222’

9 9

= ± 25 menit

3. Jauh yang harus ditempuh 119 mil, kecepatan kapal 13,7 mil/jam. Berapakah waktu untuk menempuh
jauh tersebut.

Penyelesaiannya :

Jauh yang sudah ditempuh kapal = 119 x 60’’ (D)

Kecepatan kapal = 13,7 knots = 13,7 mil/jam

= (13,7 x 60’’)

Jadi waktu untuk menempuh jauh 119 mil = D x 60 = ( 119 x 60” ) =

K (13,7 x 60”)

= 119 x 60’ = 7140’ = 521 = 8 jam 4 menit.

13,7 13,7

4. Jauh yang harus ditempuh sebuah kapal misalnya 15 mil, kemudian waktu yang diperlukan 1 jam 10
menit. Berapakah kecepatan kapal yang harus digunakan.

113
Penyelesaian:

Waktu yang diperlukan 1 jam 10 menit = ( 70 x 60” )

Jauh yang ditempuh = 15 mil ( 15 x 60” )

Kecepatan yang diperlukan = D x 60’ = ( 15 x 60” ) x 60’

W (70 x 60”)

= 15 x 60’ = 15 x 6 = 12,6 mil

70 7

075. SINGKATAN – SINGKATAN PADA PETA ADMIRALTY

Macam Tanah Singkatan Umum

114
115
Test Formatif

1. Kapal berlayar dengan kecepatan 15 knots, telah berlayar selama 1 jam 30 menit. Berapa Jauh kapal
berlayar ?.

2.Tempat tolak 27 15’ U - 035 47’ B berlayar keutara sejauh 325 mil. Diminta tempat tiba ?

3. Tempat tolak 05⁰, 40’ U / 178⁰, 30’ T

Tempat tiba 02⁰, 50’ S / 179⁰, 50 0 B

Hitung haluan & jarak di tempat tolak ke tempat tiba ?

4.Jelaskan cara memindahkan posisi dari sebuahpeta kepetalain yang berbeda skalanya!.

5. Pd peta laut dipi dari kareroleh keterangan sebuah suar sbb = Gp Fl (3) 20sec 10M 25m. Apakah arti
karakteristik suar tersebut ?

6. Diketahui : Hp = 120⁰ , dev = - 5⁰ , dan var = 80⁰Timur rimban pada angin Barat Daya = 100. Hitunglah
Haluan Sejati yang diperoleh?

7. Tuliskan maksud dan tujuan penentuan tempat atau posisi kapal ?

8. Diketahui : MV. Start Mariner pada tanggal 22 Mei 2009 pukul 06.00 (WIB) berada pada posisi : 07o
24,5’S – 106o47,6’ T. dari posisi ini kapal berlayar hingga pukul 12.00 (WIB) pada tanggal yang sama
hingga berada pada posisi : 06o 48,5’S– 106o47,6’ T.

Hitunglah :

Kecepatan dan Haluan kapal tersebut?

9. Diketahui tempat tolak 12° 20’ 00’’ U - 101° 15’ 00’’ T. Kapal berlayar Haluan Utara, sejauh 158 mil.
Ditanyakan ;

1) Kapal berlayar sepanjang ?

2) Dimanakah tempat tiba ?

3) Berapa ΔLi ?

116
Tugas Praktek

5.LEMBAR KERJA TARUNA

MENGHITUNG JARAK-JARAK DIPETA

Nama Anggota Kelompok :

1. ..................................................

2. ..................................................

3. ..................................................

4. ..................................................

5. ..................................................

6. ..................................................

Semester : ..................................................

Mata pelajaran : ..................................................

Alokasi waktu : 90 menit

Petunjuk Umum

• Kerjakan dan diskusikan LKT ini dengan teman sekelompokmu.

• Tanyakan kepada Dosen jika ada hal-hal yang kurang jelas.

Kesimpulan

Tujuan : Peserta didik dapat mendemonstrasikan cara Mplot posisi, menentukan Koordinat, Membuat garis
Haluan dan menghitung jarak sesuai prosedur yang benar.

Bahan dan Alat : Peta Laut, Peralatan Menjangka Peta.

Cara Kerja :

1. Mplot posisi lintang dan bujur dipeta

2. Menentukan posisi kapal bila koordinatnya diketahui.

3. Membuat garis Haluan dipeta dengan bantuan garis-garis bujur atau dengan mawar pedoman

4. Menghitung jarak antara tempat tolak dan tempat tiba

5. Menentukan ETA dan ETD suatu pelayar

117
PEMBELAJARAN KE IX.

NAVIGASI PANTAI

A. PENGANTAR
076. TIGA KONDISI NAVIGASI

Penentuan tempat merupakan bagian yang penting dari navigasi, untuk dapat ,ememtukan tempat kedudukan
(posisi) navigasi dibekali sejumlah metode – metode , masing – masing dengan ciri – ciri tertentu yang khas.

Ciri-ciri karakteristik terpenting dari metode penentuan tempat adalah : , waktu pengamatan. Sera selang
waktu pengamatan yang berurutan.

Dalam navigasi dibedakan dalam tiga kondisi yaitu :

1. Navigasi samudera jika bahay terdekat jaraknya 50 mil dari kapal.


2. Navigasi pantai jika bahaya terdekat terletak antara 2 dan 50 mil.
3. Navigasi pelabuhan jika jarak bahaya kurang dari 2 mil.

077. MAKSUD DAN TUJUAN PENENTUAN TEMPAT.

Jika telah diketahui titik tolak maka kita tentukan bebbagai kebijakan navigasi yaitu :

1. Menentukan arah – arah ketitik yang dituju.


2. Menghindari rintangan, gosong – gosong dan bahaya – bahaya lainnya.
3. Menetukan h aluan dan atau laju yang paling ekonomis.
4. Menetapkan letak duga geografis dan menentukan ETA ( Estimate Time Arrival ).
5. Penentuan arus yang dialami. Sejumlah pengamatan dilakukan oleh dinas
6. Memberikan posisi kita kepada berbagai instansi didarat dan kapal – kapal lain :
a. Dalam keadaan tubrukan, kandas, kejadian lain yang memerlukan bantuan atau dapat
memberikan bantuan.
b. Untuk kebutuhan dinas hydrografi menyampaikan bahaya yang baru ditemukan atau
kemungkinan adanya bahaya.
c. Untuk penerusan berita cuaca.

078. PRINSIP PENENTUAN TEMPAT

Penentuan tempat kedudukan dilakukan dengan mengkombinasikan dengan berbagai garis-garis posisi.
Suatu garis posisi disingkat LOP ( Line of Position ), merupakan titik – titik yang masing – masing
memiliki nilai konstan besaran navigasi.

Dalam LOP1 ditetapkan oleh Bs dari menara suar AA dan LOP2 oleh Bs dari pulau BB. Jika kedua
baringan dilakukan bersamaan waktu dan tanpa salah, maka titik potong kedua LOP merupakan posisi
pasti . Suatu posisi dilayarkan yang dperoleh dari Hd dan Ld disebut Posisi Tiba Duga ( PTD ).

118
Gambar 75, Line of Posistion

079. POSISI PALING MENDEKAT ( ppm ).

Hasil perpotongan garis antara LOP1 dan LOP2 bukanlah posisi yang sebenar nya ,

sehubungan itu maka dalam navigasi kita tidak mengatakan tempat kedudukan yang dihasilkan dari
beberapa garis posisi, tetapi kita sebut Posisi Paling Mendekat di singkat PPM, dalam gambar
perpotongan kedua LOP memberikan PPM untuk waktu pengamatan 18.00 ZT dan pembacaa topdal 22.
Garis baringan dalam keadaan jarak sampai titik baringan kurang dari 50 mil, diplot dipeta sbb :

a. Kenalilah titik yang akan dibaring


b. Baringlah titik itu.
c. Carilah baringan waktu dikapal jauh yang terbaca pada topdal dan jika perlu haluan yang

dikemudikan pada saat melakukan baringan.

d. Jabarkan baringan yang diambil menjadi Bs


e. Lukiskan dipeta dari titik baring sebuah garis lurus, berlawanan arah deng. an Bs.
f. Catatlah Hs dan jauh menurut topdal, pada baringan yang diperoleh itu.

080. SYARAT- SYARAT DALAM MENGAMBIL BARINGAN.

Syarat – syarat yang harus dipenuhi oleh baringan dapat diformulasikan sbb :

1. Titik yang dibaring harus merupakan titik yang dikenal.


2. Alat yang dipergunakan harus terpasang baik.
3. Baringan harus dilakukan dengan secermat dan seteliti mungkin, adanya kebiasaaan yang baik
untuk membaring beberapap kali dan diambil pembacaan rata – rata.
4. Koreksi 0koreksi yang harus diterpkan ( koreksi total, sembir ) harus ter pecaya.
5. Titik yang dikenal yang lebih dekat letaknya merupakan pilihan yang baik dari pada titik yang
lebih jauh dari kapal.

119
B. DIFINISI.

081. Titik baringan ; Sinar baringan ; Baringan ;

Navigasi Pantai : Penentuan tempat dengan pertolongan benda – benda darat, yang dicantumkandidalam

peta.

Membaring : Menentukan arah dalam mana kita dari kapal melihat suatu benda.

Titk Baringan : Benda yang dibaring.

Sinara Baringan: Lingkaran besar antara titik baringan dan titik pusat mawar pedoman.

Baringan : Sudut antara sinar baringan dan salah satu arah Utara ( Up, Um,,Us ).

Baringan Pedoman : Sudut antara sinar baringan dan arah Utara Pedoman.

Barinagan Magnet : Sudut antara sinar baringan dan arah Utara Magnet.

Barinagan Sejati : Sudut antara sinar baringan dan arah Utara sejati.

Deviasi selalu dicari dengan haluan pedoman yang dikemudikan pada saat membaring :

082. LENGKUNG BARINGAN.

= Tempat kedudukan semua penilik dalam mana titik baringan yang sama itu memberikan

baringan sejati yang sama.

Lengkung baringan memiliki sipat –sipat sbb ;

1. Ia berjalan melalui titk yang dibaring.


2. Dititk ini ia membuat sudut dengan derajah sudut mana adalah sama dengan baringan sejati
yang diperoleh.
3. Sisi cembungnya menghadap kekhatulistiwa,

120
Gambar 76, Lengkung Baringan

Garis Baringan = Garis lurus dipeta laut yang ditarik dari titik baringan , berlawanan dengan baringan

sejati, ia menyinggung lengkungan dititik baringan ( garis singgung yang bersipat

loksodrom ).

Pada baringan U --- S maka

Lengkung baringan = Sinar Baringan = Garis baringan.

Juga dikhatulistiwa pada baringan T ---- B

sampai jarak 60 mil . Garis baringan boleh menggantikan lengkung baringan.

Jadi baringan suatu benda yang nampak pada umumnya akan memberikan suatu garis lurus dipeta , dalam
mana sipenilik berada.

C.MENENTUKAN JARAK KESUATU BENDA.

( Tinggi benda diatas permukaan air tlah diketahui ).

083. BARINGAN DIKAPAL.

Sama halnya pada haluan – haluan definisi untuk baringan-baringan dapat diberiah ap arkan terhadap arah –
arah acuan yang telah dipilih

Baringan = Suatu horizontal diukur dari arah acuan. tertentu dihitung kekanan samapai

pada arah kita melihat benda yang dibaring.

121
Sudut – sudut baringan itu dihitung ke kanan dari 000⁰ samapai 360⁰.

Gambar 77, Sudut Baringan

084. BARINGAN SEJATI DAN BARINGAN GYRO.

a) Baringan Sejati( Bs ) = Sudut horizontal dihitung dari Us, kekanan sampai pada arah
letak benda.
b) Baringan Gyro ( Bg ) = Sudut horizontal dihitung dari Us, ke kanan sampai pada arah
sipenilik membaring benda.

Disayap – sayap anjungan terdapat anak pedoman ( repeater ) pembaring gyro sehingga navigtor dapat
membaring secara visual, sudut yang dibaca merupakan baringan gyro.

Bg dijabarkan menjadi Bs oleh penerapan koreksi total ( kt ) sehingga di dapat rumus :

Bs = Bg + Kt

Gambar78, Sudut Baringan Sejati dan Baringan Gyro

085. BARINGAN PEDOMAN DAN BARINGAN MAGNET

122
a) Jika nerlayar dengan pedoman magnet serta mengambil baringan - baringan padanya , maka

baringan demikian disebut Baringan Pedoman.

Baringan Pedoman ( Bp ) = Sudut horizontal dihitung dari Up kekanan sampai piada letak benda.

Untuk merubah dari Bp ke Bs kita menggunakan rumus penjabaranyang sama seperti untuk haluan –
haluan pedoman =

Gambar 79, Sudut Baringan Sejati dan Baringan Pedoman

Gambar 80, Perhitungan Sudut Bs dan Bp

b). Baringan Magnetik (iBm ) = Sudut horizontal dihitung dari Um kekanan sampai arah benda

yang dibaring.

Rumus penjabaran dari Bp ke Bm adalah : Bm = Bp + Dev

Pelaksanaan praktis tentang ini hanya untuk menentukan Dev. Dari sub a dan b berakibat penjabaran rumus
Sbb :

123
Bs = Bm + Var

086. BARINGAN LAMBUNG ( Baringan relatif )

Ialah sudut horizontal diukur dari bidang membujur kapal kedepan sampai arah benda yang dibaring.

Jika sudut itu kita ukur dari arah acuan ini kekanan dari 000º sampai 360º maka sudut yang diukur disebut
Sudut Lambung Kanan ( SLK ).

Tetapi jika kita hitung sudut itu kekanan atau kiri dari 000º sampai 180º maka pada nilai bilangan tersebut
kita bubuhi “ HIJAU “ atau “ MERAH “

Gambar 81, Sudut Baringan Lambung

087. KOREKSI UNTUK PENJABARAN SUDUT PADA PEDOMAN MAGNET

Sembir telah kita sebut sebagai suatu koreksi yang terdiri ats jumlah aljabar dari Var dan Dev.

Untuk menjabarkan sududt – sudut yang diukur pada pedoman magnet harus diketahui nilai kedudukan
koreksi tersebut.

Dari uraian terdahulu telah diketahuirumus – rumus penjabaran untuk haluan – haluan dan baringan -
baringan pedoaman magnet ialah sbb :

088. VARIASI ( lanjutan )

1. Dibumi terdapat sepasang kutub yang membangkitkan medan gaya ( kekuatan ) yang meliputi
seluruh bumi. Dibelahan bumi selatan garis – garis gaya berjalan keluar dari permukaan bumi dan
berjalan masuk kepermukaan bumi dibelhan utara, jadi gaya medan tersebut mengarah dari selatan
ke utara ditempat garIs – garis gaya keluar tegak lurus dari permukaan bumiterletak kutub selatan
magnet ( 66º S -- 144º T ) ga ris – garis tersebut berkumpul pada permukaan bumi dan di tempat ia
memotong tegak lurus permukaan bumi terletak kutub utara magnet ( kira – kira 76º U -- 100º B ).

124
2. Namun posisi kutub – kutub magnet adalah tidak tetap, akibatnya medan magnet bumi berubah .
Dalam tiap tahun nilainya kecil saja tetapi untuk navigasi tidak boleh diabaikan.Apabila kita
tempatkansebuah magnet didalam medan magnet bumi, maka kutub utara magnetnya mengarah
dalam medan ini, sama dengan arah medan tsb. Kutub – kutub medan magnet bumi dipermukaan
bumi tidak jatuh sama dengan kutub – kutub geografi. Selain itu medan tsb tidak homogen
sehingga magnet yang dapat dipasang bebas gangguan di dalam medan tsb mengambil arah yang
tidak terletak pada bidang derajah geografi.
Komponen horizontal kekuatan medan dari medan magnet bumi setempat memberikan arah Um
Garis singgung disusut titik pada medan magnet bumi disebut Derajah Magnet.
3. Sudut antara derajah geografi dan derajah magnet dibumi disuatu titik dibumi disebut Variasi.
Olehkarena perubahan medan magnet bumu, maka variasi juga ikut berubah. Besar perubaha
diberikan didalam peta – peta laut sebagai penambahan atau pengurangan ( Increasing / decre –
asing ) dari nilai mutlaknya tiap tahun. Pada peta BA khusus dari USA Pilot Chart diberikan
variasi untuk selurih permukaan bumi untuk tahun tertentu dan juga perubahan variasi tiap
tahun. Variasi tersebut diberikan oleh garis – garis yang ditarik melalui tempat – tempat dengan
variasi yang sama, garis – garis ini disebut dengan ISOGON.
Isogon untuk variasi = nol disebut AGON.
Didalam peta – peta variasi BA , Untuk Var timur garis – garis tsb diberi warna MERAH dan
untuk variasi Barat diberi warna BIRU. Juga diberikan perubahan var oleh garis – garis yang lebih
lebar dan kurang tebal sebagai “ The Approach “ garis – garis ini disebut ISALLOGON.

Contoh diketahui : Var ( 1983 ) = 6º Barat

Incr. Abt. 6’ annualy

hitunglah : Var ( 1988 )

jawab : Var ( 1983 ) = 6º Barat

Inc. ( 1988 -- 1983 ) x 6’ = 0º 5’ +

Variasi 1988 = 6º 5’ Barat.

089. DEVIASI ( Lanjutan ).

1. Peraturan kapal -= kapal 1935 mewajibkan pada kapal niaga Indonesia antara lain bahwa dikapal
harus ada pedoman magnet yang berfungsi dengan baik untuk dapat membaring dan mengemudi .
Ini berati bahwa medan pengganggu magnet kapal setempat harus ditimbal dengan baik oleh orang
ahli dan berwenang. Pada tiap pedoman magnet dikapal harus ada daftar deviasinya, selama dalam
pelayaran deviasi tsb kita tentukan sendiri dengan pengamatan benda – benda dibumi atau benda –
benda angkasa. Deviasi adalah tergantung dari haluan yang dikemudikan dan lintang kapal.
2. Deviasi yang diperoleh dicat at didalam buku harian kapal juga dalam buku harian pedoman
( khusus ). Penentuan deviasi dilaksanankan oleh baringan benda angkasa, garis merkah / penuntun
atau dengan problema snellius

Navigator harus sering kali mememriksa deviasi, ialah pada perubahan haluan dan selatnjutnya

Dihitung paling sedikit tiap penjagaan sekali serta dicatat didalam buku harian pedoaman tersebut.

3. Menentukan jarak kesuatu benda

125
PEMBELAJARAN KE X.

PENENTUAN TEMPAT DENGAN BARINGAN-BARINGAN


090. IKTISAR PEMBAGIAN BARINGAN

Berbagai kombinasi yang dapat terjadi

I. Satu benda dibaring satu kali.

a. Baringan dengan dengan jarak


b. Baringan dengan peruman
c. Baringan dengan garis tinggi.

II. Satu benda dibaring dua kali

a. Baringan dengan geseran


b. Baringan sudut berganda
c. Baringan empat surat
d. Baringan istimewa ( baringan 26 1/2⁰ terhadap haluan )

III. Dibaring dua benda

a. Baringan silang
b. Baringan silang dengan geseran
c. Baringan dengan pengukuran sudut dalam bidang datar.

IV. Dibaring tiga benda

Baringan silang dengan baringan pemeriksa.

Ia. BARINGAN DENGAN JARAK

1. Baringlah benda tersebut pada pedoman


2. Jabarkanlah Bp menjadi Bs
3. Tariklah dipeta garis lurus melalui benda yang dibaring, dalam arah berlawanan dengan Bs
4. Ambilah pada tepi langit tegak lintang dari benda yang dibaring, banyaknya mul jarak didalam
jangka
5. Jangkalah baringan ini pada garis baringan tsb mulai dari benda yang dibitik yang didapat adalah
posisi kapal (s)

Gambar 82, Baringan Dengan Jarak

126
Ib.BARINGAN DENGAN PERUMAN

1. Baringlah benda tsb pada pedoman


2. Jabarkanlah Bp menjadi Bs
3. Tariklah dipeta garis lurus melalui benda yang dibaring dalam arah berlawanan dengan Bs.
4. Tentukanlah keadaan air oleh peruman bersamaan dengan membaring benda yg dikenal
5. Jabarkanlah hasil peruman tsb sampai muka surutan dari peta ( lihat daftar pasang surut )
6. Carilah pada garis baringan suatu kedalaman yang sama dengan kedalaman yg telah dijabarkan itu.
7. Jika ada satu titik yg demikian maka itulah posisi kapal (s) Penting juga mengetahui jeni dasar laut.

Gambar 83, Baringan Dengan Peruman

diperum = 9 mtr

koreksi = 2 mtr --

Kedalaman dipeta = 7 mtr

Ic. BARINGAN DENGAN GARIS TINGGI

1. Baringlah benda tersebut pada pedoman


2. Jabarkanlah Bp menjadi Bs
3. Tariklah dipeta garis lurus melalui benda yang dibaring, dalam arah berlawanan dengan Bs
4. Hitunglah letak dan arah garis tinggi berdasarkan pengukuran tinggi benda angkasa , pada saat
yg sama
5. Tariklah garis tinggi tsb didalam peta
6. Titik potong dari garis baringan dan garis tinggi adalah posisi kapal ( S1 )

Jika garis tinggi jatuh sama dengan derajah maka penentuan tempat ini disebut baringan pada Bujur ( S2 )
Jika garis tinggi jatuh sama dengan jajar : disebut baringan pada pada lintang ( S3 ).

Gambar 84, Baringan Dengan Arah Garis Tinggi

127
IIa. BARINGAN DENGAN GESERAN

= Benda yang sama dibaring dua kali , dengan berubah tempat antara baringan – baringan tsb.

1. Baringlah benda tersebut pada pedoman


2. Jabarkanlah Bp menjadi Bs
3. Tariklah dipeta garis lurus melalui benda yg dibaring dalam arah berlawanan dengan Bs.
4. Baringlah . lagi setelah selang waktu demikian, hingga baringan – baringan tsb berbeda paling
sedikit (30⁰ ) benda yang sama pada pedoman , setelah dijabarkan rmenjadi Bs, tarik lah garis
baringan ke II ini dipeta dan catatlah waktunya.
5. Tentukanlah berdasarkan selisih waktu tsb dan laju kapal , jauhyang ditempuh dan jangkalah ini
kearah garis haluan.
6. Tariklah melalui titik yang didapat ini, sebuah garis sejajar dengan garis baringan I.
7. Titik potong dari garis baringan I dan II yang telah digeserkan adalah posisi kapal ( S ).

Gambar 85, Baringan Dengan Geseran

IIb.BARINGAN SUDUT BERGANDA

( Baringan dengan geseran dalam mana Bar II terhad haluan adalah 2x Bar I terhadap haluan ).

Jadi jarak kebenda yg dibaring pada Bar II adalah sama dengan jauh yg digeserkan antara baringan tsb.

1. Baringlah benda A pada pedoman , dan catatlah waktunya


2. Bacalah haluan pedoman, dan tentukanlah sudut antara baringan dan garis haluan, misalnya 25⁰
pada lambung kiri.
3. Baringlah lagi benda tsb pada pedoman , jika baringan telah bertmbuh sampai 2 x 25⁰ = 50⁰
pada lambung kiri catatlah waktunya
4. Jabarkanlah baringan II menjadi baringan sejati ( Bs ).
5. Tentukanlah dari selisih waktu tsb, jauh yang ditempuh ( sesuai laju kapal ), jauh ini adalah sama
dengan jarak dari kapal sampai benda yang dibarin pada baringan II
6. Tariklah dipeta, mulai dari benda yang dibaring, sebuah garis lurus dalam arah berlawanan dari
baringan II . Selanjutnya jangkalah mulai dari benda yang dibaring pada garis tsb jauh yang
ditempuh itu. Titik yang didapat ( S ) adalah posisi kapal pada baringan II .

128
Gambar 86, Baringan Sudut Berganda.

Cara melukiskan dipeta cukup hanya baringan II saja dan menjangka Jarak AC dengan jauh BC antara
kedua baringan tsb.

IIc.BARINGAN EMPAT SURAT.

( Baringan sudut berganda dalam mana baringan II dilakukan ketika benda itu melintang ).

Disini baringan I adalah 45⁰( 4 surat ) terhadap haluan , jadi baringan II harus tepat melintang ( 90⁰ = 8
surat ) terhadap haluan, Sekarang kita dapat jarak terpendek, dalalm mana benda yang dibaring itu dilewati

Konstruksi dipeta adalah sama seperti halnya pada baringan sudut Berganda.

Gambar 87, Baringan Empat Surat

IId. BARINGAN ISTIMEWA ( baringan 26⁰ ½ terhadap Haluan )

( Untuk mengetahui pada jarak berapakah benda itu akan melintang )

1. 1.Baringlah benda, apabila ini tiba pada 26 ½ ⁰ terhadap haluan dan catatlah waktunya.
2. Baringlah lagi, benda tsb apabila baringannya pada lambung yang sama menjadi 45⁰ catatlah
waktunya
3. Sekarang jika kapal dengan laju yang sama, masih terus berlayar dalam selang waktu yang sama.
Jadi menempuh jarak yang sama , maka benda tsb akan melintang pada lambung yang sama, Pada
saat tsb jarak dari kapal sampai benda yang dibaring adalah sama dengan jauh antara 2 baringan
yang pertama.

129
4. Jadi pada baringan II kita sudah mengetahui dimana kapan akan tiba, jika benda yang dibaring itu
melintang dan karenanya dapat mengambil tindakan seperlunya ( misalnya tiba terlampau dekat
pada pantai ).

Gambar 88, Baringan Istimewa.

Untuk konstruksi dipeta :

Jika benda A kita baring pada pukul 09.00 dalam arah yang membentuk sudut 26 ½ ⁰ dengan garis haluan,
dan pada pukul 09.20 baringan tsb membentuk sudut 45⁰ dengan garis haluan serta selama jangka waktu 20
menit itu jarak yang ditempuh adalah misalnya 4 mil.

Maka AD = CD mil

Jadi benda A akan melintang pada pukul 09.04 dengan jarak 4 mil.

IIIa. BARINGAN SILANG

( Baringan dari dua benda yang dikenal, tanpa perubahan tempat ).

1. Baringlah benda - benda A dan B pada pedoman, secara berurutan


2. .Jabarkanlah baringan – baringan tsb menjadi baringan sejati ( Bs )
3. Tariklah mulai dari A dan B garis – garis lurus dalam arah berlawanan dengan Bs masing – masing.
4. Titik potong dari kedua garis baringan adalah posis kapal ( S ).

Gambar 89, Baringan Dengan Geseran

130
IIIb. BARINGAN SILANG DENGAN GESERAN

( Baringan dari dua benda yang di kenal dalam mana antara kedua penilikan tersebut diadakan geseran ).

1. Baringlah benda A pada pedoman dan catatlah waktunya serta jabarkanlah menjadi Bs.
2. Tariklah garis baringan I dari A, berlawanan dengan arah BsI dan tentukanlah titik potong C
dengan garis haluan
3. Baringlah benda yang kedua ( B ) setelah berselang beberapa waktu lamanya, dan catatlah
waktunya serta jabarkanlah Bp menjadi Bs.
4. Tentukanlah jarak yang ditempuh dan jangkakan ini ( CD ) pada arah haluan, serta tariklah
garis baringan I yang digeserkan melalui D
5. Tariklah dari benda B garis baringan II berlawanan dengan arah Bs II ; titik potong S adalah
posisi kapal pada baringan II.

Gambar 90, Baringan Silang Dengan Geseran

IIIc. BARINGAN DENGAN PENGUKURAN SUDUT DALAM BIDANG DATAR.

1. Baringlah pada pedoman, salah satu dari kedua benda misalnya A, dan ukurlah sekaligus
sudut dalam mana A dan B terlihat dengan sextant ( ᾴ ).
2. Jabarkanlah Bp menjadi Bs, dan tariklah dari A garis lurus dalam arah berlawanan dengan
baringan sejati ( Bs )
3. Lukislah dititik sembarang C pada garis ini, Garis CD yang membentuk sudut dengna AC,
yang sama dengan sudut yang telah diukur ( ᾴ )
4. Tariklah dengan mistar jajar dari B garis lurus sejajar dengan CD. Titik potong S dari
gambar ini dengan garis baringan I adalah posisi kapal.

IV. BARINGAN TIGA BENDA.

Pada baringan silang kita mengambil pula baringan III sebagai baringan pemeriksa. Apabila tidak ada
kesalahan – kesalahan maka garis – garis baringan tsb akan berjalan melalui satu titik sebagai akibat dari
adanya kesalahan baringan. Terjadilah apa yang disebut Segita kesalahan ( ∆ DEF ).

Misalkan kesalahan tsb hanya karena pemakaian sembir ( var + dev ) maka posisi kapal dapat ditentukan
Sbb :

1. Dengan memutarkan ketiga garis - garis baringan

131
2. Dengan stationpointer
3. Dengan kertas hening
4. Dengan lingkaran – lingkaran luar.

Konstruksi dipeta :

a.Dengan memutarkan ketiga garis-garis baringan.

Gambar 91, Baringan Tiga Benda

Ketiga garis baringan tsb diputarkan sama banyaknya (b) dalam arah yang sama sehingga ketiga garis tsb
berjalan melalui satu titik ( S )

b. Dengan stationer pointer :

1. Kaki – kaki ( mistar – mistar ) yanarag dapat bergerak supaya membentuk sudut – sudut dengan
kaki yang tetap sebesar sudu t - sudut antara garis – garis baringn
2. Stasioner ditaruhkan diatas peta sedemikian sehingga sisi tajam dari mistar – mistar itu jatuh
berimpit melalui ketiga benda baringan.
3. Maka titik pusat pembagian lingkaran dari statioponter memberikan tempat sejati ( S )

c. Dengan kertas Hening ( Plastik )

Selembar kertas hening ditaruhkan diatas mawar pedomran ( dipeta ) dan dari titik pusatnya tariklah ketiga
garis baringan tsb. Dengan lukisan ini kerjakanlah seperti halnya dengan stationpoiter

d. Dengan lingkaran – lingkaran luar.

Apabila garis – garis baringan tsb mempunyai kesalahan yang sama namun sudut antara garis – garis
baringan itu adalah tetap benar.

Sipenilik ada pada lingkaran luar dari segitiga yang terbentuk oleh dua garis baringan dengan garis
penghubung titik – titik baringan.

Lingkaran ini dapat dilukiskan (sbb :

1. Dua sisi dibag[ tengah – tengah tegak lurus ( sunbu ) atau


2. Misalkan AB = a dan sudut antara garis – garis baringan D maka :

132
R = 1/2a x cosec < D

J = simp x cosec < H

Didalam daftar I ambilah < D sebagai haluan dan ½ a sebgai simpang maka J = R

( jari – jari lingkaran ). Titik potong dari dua lingkaran tersebut menentukan posisi kpl.

Gambar 92, Titik Potong Pada Lingkaran Luar.

091. SEGITIGA KESALAHAN

Pada kesalahan baringan yang sama pada umumnya letak kapal ada diluar segita kesalahan tsb. Hanya
apabila sipenilik ada didalam segitiga titik baringan maka letak kapal ada didalam segitiga kesalahan tsb.
Dengan kata lain :

Apabila ketiga titik baringan itu terletak pada busur cakrawala < 180⁰, maka sipenilik ada diluar segitiga
kesalahan. Apabila ketiga titik baringan itu terletak pada busur cakrwala > 180⁰ maka sipenilik berada
didalam segitiga kesalahan.

∆ DEF = ∆ kesalahan

∆ ABC = ∆ titik luar

Gambar 93, Segitiga Kesalahan

133
092. PENGARUH KESALAHAN BARINGAN.

Kesalahan – kesalahan baringan dapat terjadi :

1. Oleh kesalahan pengamatan


2. Oleh nilai deviasi yang tidak benar
3. Oleh nilai variasi yang tidak benar

Kesalahan penilikan tsb bahkan dalam keadaan yang baik dapat mencapai 0,5⁰ , apabila kapal oleng atau
mengangguk sehingga mawar pedoman jadi tidak tenang, maka kesalahan tsb dapat lebih besar . Kearah
mana dan berapa besar kesalahan ini, tidak dapat diketahui dengna pasti.

a) Misalkan ∆ Bu = Kesalahan penilaian yang terbesar . Posisi kapal ( S ) terletak didalam segi –
empat – kesalahan. Ialah tempat kedua sektor baringan dari A dan B itu saling memotong.

Gambar 94, Kesalahan Terbesar Dalam Penilikan

b) Misalkan ∆ Bu = Kesalahan sembir yang terbesar.

AS’ = j , maka SS’ = j cosec S sin ∆Bu.

Pada baringan silang maka pengaruh kesalahan dalam baringan adalah terkecil, jika sudut antara garis –
garis baringan itu ( < S ) antara = 90⁰

Gambar 95., Kesalahan Terbesar Dalam Sembir.

134
Dalam ▲ASS’ : SS’ = Sin ∆Bu

J Sin S SS’ = j x cosec S x sin ∆Bu.

Jadi agar SS’ sekecil mungkin, maka j harus sekecil mungkin serta cosec S harus sekecil mungkin ( cosec
90⁰ = 1 )

Kesimpulan :

Mengingat kesalahan dalam baringan, pilihlah selalu benda – benda yang dekat dan sudut perpotongan
garis – garis baringan = 90⁰.

c) Ditinjau dari urutannya membaring , Baringlah lebih dahulu benda yang berubah paling lambat,
ialah benda yang terdekat pada haluan kapal.

Gambar 96, Baringan Terdekat Dengan Haluan.

093. PENGARUH ARUS PADA BARINGAN DENGAN GESERAN.

a. Untuk geseran kita ambil : jauh terhadap air , yang sebenarnya adalah jauh terhadap dasar laut .
Sebaliknya : < S = geseran = 90⁰. Akan tetapi hal ini memerlukan jangka waktu yang lebih besar,
sehingga ▲geseran akan menjadi lebih besar pula. Sebagai nilai minimal geseran, ambilah 30⁰. ↔
Arus dari belakang , letak kapal menjauhi daratan, terhadap

muka mendekati

posisi kapal yang ditunjukan dipeta.

Gambar 97, Pengaruh Arus Pada Baringan Dengan Geseran

135
Dengna arus dari belakang :

BB’ = Haluan dan jauh yg diduga, antara kedua peni –

likan, sedangkan BB2 = haluan dan jauh yang

sebenarnya.

S = Posisi kapal yg ditunjukan dipeta

S’ = posisi sejatikapal yg sebenarny

Apabila pada waktu pergeseran itu arusnya tidak tepat datang dari belakang atapun dari muka, maka
pengaruhnya adalah berlainan.

b. Didalam praktek perhatikanlah selalu pada waktu membaring hal – hal sbb :
1. Catatlah haluan yg dikemudikan.Sebab deviasi tergantung dari padanya
2. Catatlah nilai variasi dipeta laut, ingatlah pada haluannya dan perubahan tahunannya.
3. Jabarkanlah baringan pedoman ( Bp ) menjadi baringan sejati ( Bs ).
4. Pilihlah benda – benda baringan sebaik – baiknya :
a.Benda yang terdekat
b.Pada baringan silang: garis – garis baringan membentuk sudut = 90⁰
c.Untuk membaring: benda sebanyak mungkin diarah muka atau belakang. Jadi yang
terdekat dengan garis haluandan benda II sebanyak mungkin yang melintang kapal.
5. Pada tiap baringan, catatlah penunjukan topdal dan juga waktunya :
Dari pembacaan topdal, kita dapati jauh antara dua baringan ataupun jauh antara dua
baringan silang.Dari penunjukan waktu kita dapat mengetahui pengaruh arus ditempat itu.
6. Periksalah sedapat mungkin nilai deviasi – deviasi didalam daftar kemudi.
c. Baringan Untuk Menentukan Salah Pedoman ( Deviasi ).

Selain untuk menentukan posisi kapal, baringan dapat pula digunakan untuk menentukan deviasi pada
haluan yang sedang dikemudikan.

136
Test Formatif

1.Sebutkan 3 kondisi dalam bernavigasi ?

2.Apakah maksud dan tujuan penentuan suatu temap ?

3.Sebutkan Syarat – syarat dalam mengambil baringan ?

4.Sebutkan berbagai macam ikhtisar baringan ?

5.Bagaimana pelaksanaan baringan silang ?

Tugas Praktek

6.LEMBAR KERJA TARUNA

MENENTUKAN POSISI DIPETA DENGAN BARINGAN

Nama Anggota Kelompok :

1. ..................................................

2. ..................................................

3. ..................................................

4. ..................................................

5. ..................................................

6. ..................................................

Semester : ..................................................

Mata pelajaran : ..................................................

Alokasi waktu : 90 menit

Petunjuk Umum

• Kerjakan dan diskusikan LKT ini dengan teman sekelompokmu.

• Tanyakan kepada Dosen jika ada hal-hal yang kurang jelas.

Kesimpulan

Tujuan : Peserta didik dapat mendemonstrasikan cara Mplot posisi, menentukan Koordinat, hasil baringan
dipeta sesuai prosedur yang benar.

Bahan dan Alat : Peta Laut, Peralatan Menjangka Peta. Alat membaring

137
Cara Kerja :

1. Baringan Obyek yang sedang diamati dan dikenal dengan alat membaring
2. Baringlah obyek dengan sudut tidak kurang dari 30 derajat
3. Pilihlah obyek yang terdekat
4. Hindari kesalahan bpada baringan
5. Merubah Bp menjadi Bs
6. Mplot posisi kapal sesuai dengan baringan yang dikerjakan

138
PEEMBELAJARAN KE XI.

MENENTUKAN DEVIASI OLEH BENDA – BENDA DIBUMI


094. BERBAGAI CARA UNTUK MENENTUKAN DEVIASI

Selain untuk menentukan posisi kapal baringan – baringan dapat juga kita gunakan untuk menentukan atau
memeriksa deviasi pada haluan yang sedang dikemudikan : disini akan diuraikan lebih lanjut berbagai cara
untuk dilakukan dalam pelayaran

A. Dalam pelayaran selalu dianjurkan untuk secara teratur memeriksa nilai deviasi - deviasi yang
tercantum didalam daftar kemudi. Terutamam ini perlu dilakukan apabila kita cukup lam
mengemudikan haluan yang sama dan kemudian merubah haluan. Deviasi pada haluan baru yang
dikemudikan kerapkali akan menyimpang dari nilai yang tercantum didalam daftar kemudi untuk
haluan ini. Hal ini disebabkan oleh pengaruh magnestisme kapal terhadap kedudukan jarum
pedoman
B. Jika dalam pelayaran itu kapal memuat atau membongkar maka jenis barang yang dibongkar atau
dimuat dapat juga mempengaruhi nilai deviasi, sehingga nilai ini tidak sama dengan nilai yang
diberikan didalam daftar kemudi pada haluan yang sedang dikemudikan itu. Maka dari itu
pemeriksaan terhadap deviasi selalu diperlukan, terutama pada perubahan – perubahan haluan. Hasil
penentuan tersebut dicatat dengan seksama didalam jurnal pedoman.

Deviasi dapat kita tentukan ialah sebagai berikut :

1. Dengan membaring dua benda yang terletak dalam satu garis lurus/ garis merkah

2. Dengan membaring suatu benda jauh.

3. Dengan baringan timbal balik

Untuk kepentinganini ini, BS dan Bm harus dihitung dalam derajat dari 0º sampai 360º terhitung dari Utara
melalui Timur

095. MEMBARING GARIS MERKAH ( MEMBARING DUA TITIK BERIMPIT ).

Ini dapat dilakukan sbb :

1. Baringlah dengan pedoman arah kedua titik pada saat keduanya berimpit (terlihat menjadi satu
dalam satu arah)
2. Carilah dipeta laut baringan sejati kedua titik itu pada saat berimpit.
3. Hitunglah dari kedua baringan tersebut sembir dari dari pedoman ( sembir = Bs – Bp)
4. Bacalah pada peta laut variasinya
5. Tentukanlah dari sembir dan variasi nilai deviasinya ( dev = semb – var ).

Berdasarkan urutan diatas, perhitungannnya dapat dilakukan menurut skema dibawah.

Bs = ...................

Bp = ................... ( --)

Semb ped tolok = ...................

139
var = ................... ( -- )

dev ped.tolok = ...................

Gambar 98. Deviasi Dengan Membaring Dua Buah Benda Yang Berhimpit.

Contoh : Diketahui Bs dari titik berimpit adalah 020º haluan yang dikemudikan Timur Laut. Pada saat
keduabenda itu menjadi satu arah, kita baring dengan pedoman keduanya berimpit = 120º, menurut peta laut
variasi = 3º barat. Hitunglah : deviasi pada haluan tersebut

Jawab : Bs = 020º

Bp = 028º --

Semb= (-) 8

var = (-) 3º --

dev= (-) 5º

140
Deviasi yang diperoleh hanya berlaku untuk haluanpedoman yang sedang dikemudikan ( Timur Laut ).
Selanjutnya dengan mengarahkan kapal menurut pedoman berturut – pada surat induk dan surat – surat
antara induk (8arah mata angin). Sambil menahan Kedua titik baringan tetap berimpit,akhirnya kita dapat
memeriksa seluruh daftar kemudi. Hal ini dapat dilakukan pada masing – masing cara penentuan deviasi
tersebut.

096. MEMBARING BENDA JAUH.

Untuk kepentingan ini yang dimaksud dengan benda jauh adalah suatu titik baringan yang jaraknya > 60 x
jari – jari lingkaran putar kapal. Dini nilai paralak pada saat membaring adalah < 1º

Gambar 99, Deviasi Dengan Membaring Benda Jauh

Bm atu Bs benda jauh daoat ditentukan dari peta, didalam bandar, maka letak kapal cukup seksama dikenal.
( dekat pelampung kepil atau dekat pintu masuk bandar dsb)

097. BARINGAN TIMBAL BALIK.

Didart dengan sebuah pedoman yang ditempatkan bebas dari pengaruh besi – besi, kita membaring pedoman
yang ada dikapal dan sebaliknya dengan pedoman tolok kita baring pedoman yang ada didarat pada suatu
isyarat yang telah ditentukan.

Kedua pengamat didarat dan dikapal mencatat waktunya masing – masing pada saat membaring itu. Maka
disini deviasi dapat ditentukan berdasarkan rumusan berikut :

deviasi = Bm + 180º - Bp

Dalam cara ini deviasi tidak tergantung dari variasi.

141
Gambar 100, Deviasi Dengan Baringan Timbal Balik

098. MENYUSUN DAFTAR DEVIASI (daftar kemudi) DIAGRAM DEVIASI.

Daftar kemudi ialah Suatu tabel (daftar) dalam mana tercantum nilai – nilai deviasi pada

haluan – haluan pedoman yang berurutan.

Jadi guna menyusun daftar tsb perlu diketahui nilai kesalahan untuk kesemua 32 surat dari pedoman. Dalam
pelaksanaanya pada pengamatan langsung hanya diperlukan sebanyak 8 mata angin yaitu 4 surat induk dan 4
surat antara induk.

Untuk kepentingan penyusunan tsb kita dapat menggunakan salah satu cara penentuan deviasi yang telah
diuraikan.

Kemudian deviasi pada haluan – haluan lain dapat dicari secara :

1. Interpolasi (sisipan) atau


2. Diagram (lengkungan deviasi).

Contoh :

diketahui : Baringan magnet (Bm) dari benda jauh AA adalah = 100º

sambil kapal membuat lingkaran putar dengan tros muka pada pelampung

kepik didalam bandar, benda jauh tsb dbaring dengan pedoman totok sbb :

Hp (Tolok) Bp

U 098º

TL 096º

T 094º

142
M 096º

S 099º

BD 103º

B 106º

BL 104º

Dimana deviasi pada berbagai haluan dengan pertolongan diagram(lengkungan) deviasi.

Tabel 4 , Nilai Curva Deviasi

143
PEMBELAJARAN KE XII.

PROBLEMA SNELLIUS.
Yang dimaksud dengan metode penentuan tempat ini adalah :

Pengukuran sudut (ᾴ ) dan ( ϐ )antara dua pasang titik yang dikenal dalam bidang hori -

sontal secara bersamaan.

Problema snellius terdiri atas kombinasi dari dua pengukuran sudut horisontal terhadap berbagai pasang
titik - titik yang dikena. Titik potong dari garis posisi ( berupa lingkaran ) yang demikian memberikan
posisi sejati.

099. PERSYARATAN YANG HARUS DIPENUHI.

Seperti halnya pada metode-metode penentuan tempat yang lainmaka dalam “ Snellius “ ini harus
pula memenuhi bebererapa syarat sbb :

1. Sudut ᾴ dan ϐ harus bernilai t erletak antara batas 30⁰ dan 150⁰
2. Jarak antara pengamat sampai titik – titik yang dikenal harus sekecil mungkin.
3. Pengukuran sudut – sudut ᾴ dan ϐ harus dilakukan secara bersamaan atau praktis bersamaan
4. Kedua busur lingkaran / garis singgung harus saling memotong dengan dengan sudut yang sedekat
mungkin dengan 90⁰ tetapi sebaiknya tidak lebih kecil dari 30⁰. Syarat ini terpenuhi jika jumlah
sudut - sudut ᾴ + ϐ + φ terletak antara 30⁰ ---150 ⁰ atau antar batas 210⁰ -- 330⁰. Sudut potong
garis – garis posisi adalah optimal ᾴ + ϐ + φ = 90⁰ atau 270⁰,
5. Titik – titik yang diamati harus merupakan titik – titik yang dikenal, pada pengukuran dengan
seksta, koreksi indeksnya harus diketahui.

100. MANFAAT PROBLEMA SNELLIUS.

A) Metode ini sangat berguna :


1. Untuk penentuan posisi kapal secara akurat apabila sedang sandar atau berlabuh jangkar
2. Untuk menentukan penentuan posisi kapal secara akurat apabila ada dua pengamat yang cukup
terlatih.

B) Keuntungan Metode ini adalah :

1. Lebih akurat daripada penentuan posisi oleh baringan pedoman, karena pembacaan sekstan
lebih akurat daripada pedoman
2. Tidak bergantung dari salah pedoman ( variasi / deviasi )
3. Sudut – sudutnya ( ᾴ dan ϐ ) dapat diukur dari setiap bagian kapal.

C).Kerugiannya adalah :

1. Mengambil waktu lebih lama dari pada penentuan posisi oleh baringan
2. Diperlukan tiga benda yang terpilih
3. Jika benda – benda tersebut telah di petakan secara tidak benar ataupun salah dikenal, maka hasil
penentuan tempat menjadi tidak benar, letak benda – benda salah dipetakan akan mengakibatkan
hal yang sama seperti 3 garis baringan yang tidak saling memotong disatu titik.

144
101. CARA MELUKIS POSISI KAPAL ( S ).

Untuk menentukan plotting posisi itu tidak mutlak perlu melukis lingkaran – lingkarantsb. Ketiga garis OA,
OB, OC dapat juga dilukiskan pada kertas bening / plastik dengan sudut– sudut pada O seperti yang telah
diukur ( ᾴ dan ϐ ). Kemudian kertas itu diltakan pada diatas peta, demikian sehingga OA,OB, dan OC
berturut – tapaturut berjalan melalui benda – benda A, B dan C maka akhirnya posisi O didapat dengan
menandai tusukan dengan jangka.

Gambar 101, Mplot Posisi Kapal Dengan Tusukan Jangka.

102. STATIONPOINTER

Penentuan posisi sejenis ini dilakukan dengan lebih baik dapat dilakukan dengan stationpointer ( Inggris)
atau tree Arm Protector (USA) , alat ini terdiri atas tepi piringan (D) yang terbagi dalam tengahan derajat 0⁰
samapi 180º pada kedua belah sisi. Dibagian tengahnya berlubang sehingga dengan pensil titik pusat
lingkaran / piringan tersebut dapat dilukiskan dipeta.

Pada tepi piringan ini dipasang 3 penggaris / lengan. Lengan yang ditengah adalah tetap pada sedangkan
yang kedua lainnya dapat berputar titik pusat lingkaran. Sisi tajam di kiri lengan tetap (B) memotong
pembagian tepi dititik nol dan berjalan tepat melalui pusat lingkaran. Demikian pula halnya dengan sisi
tajam kanan penggaris (A) dan sisi tajam kiri penggaris (C).

Penggaris – penggaris yang bebas bergerak dapat dikencangkan dengan sekrup jepit pada sembarang
kedududkan. Jika perlu dapat dipasang bagian – bagian penyambung pada penggaris – penggaris tsb. Sudut
yang telah diukur (ᾴ danϐ ) kita stel dengan seksama pada piringan tsb dan penggaris – penggaris dijepit
dengan . Kemudian alat tsb diletakkan diatas peta dan digeserkan dengan cara yang sama seperti halnya
dengan kertas bening.

145
Gambar 102, Mplot Posisi Dengan Cara Stationpointer

103. PEMILIHAN KETIGA BENDA A, B, DAN C.

Untuk menjamin adanya posisi kapal benda – benda yang diamati harus dipilih secara seksama sebagai
berikut :

1. Ketiga benda terletak tepat atau hampir tepat pada satu garis lurus yang sama.
2. Benda yang ditengah adalah lebih dekat kekapal dan pada garis yang menghubungkan kedua benda
lainnya.
3. Kapal berada didalam segitiga yang terbentuk oleh ketiga benda .

Gambar 103. Pemilhan Ketiga Benda A, B,dan C

104. PELAKSANAAN PENENTUAN TEMPAT

Posisi kapal diperoleh dengan jalan pengukuran sudut – sudut dalam bidang horisontal dengan menggunakan
sekstan secara bersamaan (oleh dua pengamat ).

146
Dari 3 benda yang dikenal dipeta ( A,B dan C) diukurlah sudut – sudutnya (ᾴ dan ϐ ) dari dua pasang benda
tersebut(A/B dan B/C). Sebelum pengukuran sebaiknya koreksi indeks dari pesawat sekstan ditentukan
terlebih dahulu yaitu terhadap benda yang terlihat langsung dicermin kecil.

Misalkan A,B, danC adalah ketiga benda yang dikenal dan S = letak kapal.

Sudut – sudut yang diukur adalah ‫ﮮ‬ASB = ᾴ dan ‫ﮮ‬RSC = ϐ

Dari peta telah diketahui :

AB, BC,dan ‫ﮮ‬B maka selanjutnya posisi kapal diperoleh sebagai berikut :

1. Konstruksi dipeta laut :

a. Planimetri (dengan bujur derajat)


b. Trigonometri

2. Alat mekanis

a. Stationpointer
b. Kertas bening / plastik

3. Perhitungan

105. KONTRUKSI DIPETA LAUT.

Planametri (dengan busur derajat ) ᾴ = 40⁰ dan ϐ = 50⁰

1. Lukislah dititik A : sudut ᾴ = 40º maka dari titik 0º dibagian bawah sehingga kaki sudutnya
memotong garis sumbu dari AB dititik P1 yakni titik pusat lingkaran yang melalui A dan B yang
berisi sudut tepisebesar 40º, lingkaran ini merupakantempat kedudukan semua kapal yang
mengukur sudut 40º antara A dan B.
2. Lukislah sudut yang kedua (= ϐ) dengan cara yang sama, yakni dengan meletakan titik pusat busur
derajat dititik C, hingga garis pembagi 90º tepat terletak pada garis hubung BC, maka akan kita
dapati titik P2 pada garis sumbu BC.
3. Lukisla lingkaran yang akan melalui A dan B dengan P1 sebagai titik pusatnya demikian pula
lingkaran yang akan melalui B dan C dengan P2 sebagai titik pusatnya.
Maka kedua lingkaran tersebut saling memotong dititik S sebagai posisi kapal.

147
Gambar 104, Planametri Dengan Busur Derajat

b).TRIGONOMETRI ( Tanpa melukis Sudut – sudut )

1. Hitunglah jari –jari lingkaran yang melalui I AB dan S dengan rumus :

J = Simp x cosec H ( dfat I )

R1 = ½ AB x cosec ᾴ Didalam daftar I : Ambilah sebagai haluan ½ AB sebagai simpang. Maka jauh
yang terkait = jari - jari lingkaran tersebut (R1)

2.Jangkalah R1 dari A dan B1 yang akan memberikan titik pusat lingkaran yang melalui A dan B lukislah
lingkaran itu

3. Kemudian dengan cara yang sama hitunglah R2 dan seterusnya lukislah lingkaran kedua yang melalui B
dan C. Maka titik potong dari kedua lingkaran tersebut adalah posisi kapal (S).

Gambar 105, Trigonometri

106. KESAKSAMAAN LETAK KAPAL.

Kesaksamaan ini tergantung dari jarak titik – titik yang dikenal dan sudut perpotongan kedua lingkaran,
apabila segiempat ABCS merupakan segiempat tali busur maka kedua lingkaran tersebut akan jatuh berimpit
dan penentuan posisi kapal menjadi tidak mungkin.

148
Jadi kapal akan berada pada lingkaran yang melalui ketiga titik A,B dan C yang diamati. Dalam hal ini
jumlah sudut ᾴ + ϐ = suplemen < ABC (ᾴ) artinya ᾴ + ϐ = ɤ = 180º. Guna memperoleh posisi kapal
baringlah salah satu titik tersebut : maka titik potong lingkaran dan garis baringan (Bs) ini merupakan posisi
kapal(S) untuk menjamin terdapatnya posisi kapal, pilihlah ketiga benda itu seperti yang telah diuraikan
pada nomor 112.

Gambar 106, Kesaksamaan Letak Kapal

107. KONSTRUKSI KHUSUS SUDUT KECIL (<15º)

Juga apabila kedua lingkaran itu saling memoton atau sudut yang kecil, penentuan posisi jadi tidak seksama.
Kesalahan kecil dalam sudut – sudut yang dilukiskan akan besar pengaruhnya terhadap letak kapal yang
diperoleh.

Konstruksi untuk sudut – sudut kecil dapat dikerjakan sebagai berikut :

Misalkan : ‫ﮮ‬A – B (ᾷ) = 50⁰ dan

‫ﮮ‬B – C (ϐ) = 10º

Sudut pertama (50º) dilukis seperti biasa dan kita dapatkan lingkaran yang melalui titik A dan B. Kemudian
pada tali busur AB kita lukis sudut sebesar ϐ ialah 10º kearah empat sipengamat berada. Kaki sudut ini
memotong lingkaran dititik D. Tariklah sekarang garis C – D yang selanjutnya akan memotong lingkaran itu
dititik S. Maka titik S adalah posisi kapal yang didapat,

Catatan : Tiitk D tersebut dapat juga diperoleh dengan melukis sudut sebesar

2 x 10º dari titik pusat lingkaran P mulai dari garis PB.

149
Gambar 107, Konstruksi Khusus Sudut Kecil

108. KONSTRUKSI KHUSUS SUDUT BESAR (> 90º)

Misalkan : ‫ ﮮ‬A – B (ᾷ) = 110⁰ dan

‫ ﮮ‬B – C (ϐ) = 50º

Jika kedua lingkaran telah dilukiskan maka S merupakan posisi kapal dan kita kedua busurnya saling
memotong kurang baik.

Untuk mendapatkan perpotongan yang lebih baik maka sekarang tariklah garis lurus dari titik B melalui titik
pusat lingkaran P1 dan P2 yang akan memotong kedua lingkaran tsb masing = massing dititik D dan E.

Akhirnya hubungkanlah titik D dan E maka titik potong garis hubung ini dengan kedua lingkaran tsb adalah
posisi kapal (s).

Gambar 108, Konstruksi Khusus Sudut Besar

150
109. TINJAUAN PERPOTONGAN SUDUT – SUDUT.

Misalkan sudut perpotongan = ɤ

ɤ = 360º – ( ᾷ + ϐ + ɤ )

a. Apabila ( ᾷ + ϐ + ɤ ) = 180º ataupun 360º maka dilukiskan posisi kapal adalah tidak mungkin
b. Apabila 30º > ɤ > 150º m maka perpotongan kurang baik( kurang seksama ).
c. Apanila dikehendaki agar ɤ panjang sudut 30º dan 150º ataupun antara 210º dan 330º
d. Apabila ( ᾷ + ϐ + ɤ ) = 90º ataupun 270º maka perpotongan adalah tegak lurus ( paling baik )

Gambar 109, Tinjauan Perpotongan Sudut- Sudut

151
PEMBELAJARAN KE XIII.

SUDUT BAHAYA DATAR ( HORIZONTAL DANGER ANGLE )


Ini digunakan untuk menghindari bahaya – bahaya

1. Pilihlah dua titik A dan B yang dikenal dipeta


2. Tariklah garis sumbu pada AB
3. Carilah pada garis sumbu tersebut suatu titik x yang dapat digunakan sebagai titik pusat lingkaran
untuk melukiskan tembereng melalui A dan B dalam mana semua bahaya itu tercakup serta
kelilingnya cukup jauh dan aman terhadap bahaya tersebut.
4. Hubungkanlah sembarang titik C pada tembereng lingkaran tersebut dengan A dan B serta ukurlah <
ABC (alpha ) dengan busur derajat. Sudut inilah disebut Sudut bahaya datar
5. Dianjungan sewaktu kapal berlayar ukurlah sudut ito dengan sekstan dalam mana benda A dan B itu
terlihat. Jagalah agar sudut itu tidak menjadi lebih besar daripada sudut yang telah diukur dipeta.

110. SUDUT BAHAYA DATAR (horizontal danger angle)

berguna untuk menentukan atau memastikan bahwa kapal terletak diluar daerah yang berbahaya.

Sudut bahaya datar bukan untuk menentukan posisi kapal.

Cara pelaksanaannya :

1. Ambila dua benda baringan yang akan dipakai sebagai pedoman (AB).
2. Tarik garis AB dan lukiskanlah garis sumbunya (aa’)
3. Tentukanlah titik pusat lingkaran pada garis sumbu tsb (P) sedemikian rupa sehingga bahaya –
bahaya berada didalam lingkaran dengan jari – jari PA atau PB , lalu lukiskan lingkaran tersebut.
4. Ambilah sembarang titik pada lingkaran misalnya titik C
5. Tarik garis AC dan BC sudut BCA diukur dengan busur derajat (φ)
6. Sewaktu berlayar melalui daerah tersebut sudut antara A dan B dengan sekstan dikapal dan harus
dijada sudut pengukurannya selalu lebih kecil dari φ⁰

152
Bila sudut pengukuran ternyata lebih besar dari φº berarti kapal berada didalam lingkaran bahaya datar.
Haluan harus dirubah agar sudut uj=kurnya menjadi lebih kecil dari φº dimana berarti bahwa kapal
sudah berada diluar lingkaran bahaya.

Gambar 110, Sudut Bahaya Datar

111. SUDUT BAHAY TEGAK ( VERTICAL DANGER ANGLE )

Juga digunakan untuk menghindari bahaya – bahaya.

1. Ambilah suatu titik yang dikenal peta (tingginya diatas air telah diketahui) sebagai titik pusat suatu
lingkaran yang mencakup semua bahaya-bahaya itu. Serta kelilingnya cukup jauh dan aman
terhadap bahaya – bahaya tersebut.
2. Sudut (alpha) dalam mana kita pada lingkaran itu melihat titik tersebut diatas garis air disebut sudut
bahaya tegak , dan ini dapat ditentukan dengan :

tg alpha = tinggi benda (dalam meter)

jari – jari lingkaran ( dalam meter).

atau diambil dari daftar 25 dengan argumen – argumen tinggi benda dalam meter dan jarak ke benda mil
laut.

153
3. Di anjungan sewaktu kapal berlayar, ukurlah dengan sekstan : timggi benda tersebut diatas garis air .
Jagalah agar sudut ini tidak menjadi lebih besar daripada tinggi yang telah dihitung tadi.

Gambar 111, Sudut Bahaya Tegak

A. Buatlah sebuah lingkaran dengan suar Dedet sebagai titik pusatnya sehingga bahaya – bahaya
navigasi terletak didalamnya
B. Andaikan jari – jari lingkaran = r meter dan tinggi suar = T meter
C. Sudut φ ditentukan dengan perhitungan menggunakan ru =mus Tgφ = T/r atau dengan lukisan
D. Dikapal sudut suar tersebut dijaga dengan sekstan agar selalu lebih kecil dari φ, agar kapal berada
diluar lingkarn bahaya.

PEMBELAJARAN KE XIV.
154
MENGGUNAKAN GARIS MERKAH / PENUNTUN
112. GARIS PENUNTUN

Garis penuntun atau merkah ialah sebuah garis yang ditarik melalui 2 buah benda yang dikenal dan garis ini
melewati tempat – tempat yang dapat dilayari dengan aman.

Kegunaan dari daris penuntun ini adalah :

1. Untuk menentukan nilai deviasi


2. Untuk menentukan posisi kapal
3. Untuk membuat garis haluan

Biasanya garis ini terdapat pada peta – peta rencanan atau peta – peta pelabuhan .

Jika garis merkah tidak dilukiskan dipeta kita dapat melukis sendiri dengan memperhatikan petunjuk –
petunjuk dari buku kepanduan bahari. Misalnya kapal akan berlayar dari F ke E maka selama pelayaran
tetap diusahakan agar rambu C dab D kelihatan menjadi satu dengan demikian maka kapal tetap berda pada
garis haluan.

Pada saat pulau A kelihatan menjadi satu dengan pulau B kapal sudah berada di E dan haluan dirubah
menjadi ke G dalam pelayaran dari E ke G kedua pulau A dan B tetap diusahakan kelihatan menjadi satu.

Jika garis penuntun ini diikuti benar maka kapal akan berlayar dengan aman. Jadi garis merkah adalah untuk
mempermudah cara pelayaran yang aman.

Untuk memudahkan bernavigasi sering kali dipasang merkah – merkah menara suar – suar penuntun dan
rambu – rambu sehingga kita terhindar dari bahaya – bahaya dengan jalan menahan merkah ini menjadi satu
(berimpit).

Misalnya untuk menunjukan jalan PQR yang harus diikuti, merkah A,A’ B.B’,Cdan C’ telah dipasang
demikian bahwa mula – mula kita harus menahan A dan A’ menjadi stu sehingga kapal tiba pada garis BB’
dan kemudian mengikuti garis merkah CC’.

155
Gambar 112, Penggunaan Garis Penuntun

Apabila merkah – merkah demikian tidak sengaja dipasang kita pun dapat membuatnya sendiri dipeta garis –
garis semacam itu, misalnya dengan pertolongan menara – menara , rambu – rambu, benda – benda lainnya
didalam peta.

113. ATURAN IKUTILAH TANDA YANG DIMUKA ( Follow The Front Mark ).

Gambar 113, Penggunaan Garis Penuntun Untuk menahan merkah –


merkah menjadi satu garis kembali. Maka haluan disini harus diubah kekiri. Apapbila kedua merkah itu
tampak berimpit ( in transit ) kita harus mengambil baringan terhadapnya dan dicocokan arah yang
ditunjukan dipeta. Hal ini akan memberikan kepastian bahwa kedua merkah yang nampak berimpit itu
adalah benda – benda yang benar.

Garis – garis merkah dapat juga digunakan untuk menentukan memeriksa deviasi.

156
Test Formatif

1. Sebutkan beberapa cara untuk menentukan deviasi ?


2. Bagaimana cara menentukan deviasi dengan garis penuntun ?
3. Apakah kegunaan dari garis penuntun ?
4. Apakah keuntungan dan kerugian problema snellius ?
5. Bagaimanakah cara menetukan deviasi dengan baringan timbal balik ?

Tugas Praktek

7.LEMBAR KERJA TARUNA

MENENTUKAN NILAI DEVIASI

Nama Anggota Kelompok :

1. ..................................................

2. ..................................................

3. ..................................................

4. ..................................................

5. ..................................................

6. ..................................................

Semester : ..................................................

Mata pelajaran : ..................................................

Alokasi waktu : 90 menit

Petunjuk Umum

• Kerjakan dan diskusikan LKT ini dengan teman sekelompokmu.

• Tanyakan kepada Dosen jika ada hal-hal yang kurang jelas.

Kesimpulan

Tujuan : Peserta didik dapat mendemonstrasikan cara menentukan deviasi pada saat berlayar sesuai
prosedur yang benar.

Bahan dan Alat : Peta Laut, Peralatan Menjangka Peta.

Cara Kerja :

1. Mencari nilai deviasi dengan bantuan garis penuntun

2. Menentukan posisi kapal dengan bantuan garis penuntun

157
3. Membuat garis haluan dengna bantuan garis penuntun.

4. Menghindari adanya bahaya – bahaya navigasi

5. Berlayar dengan aman saat melewati perairan sempit

6. Dengan garis penuntun menunjukan arah perairan menuju kepelabuhan.

158
PEMBELAJARAN KE XV

PEMBAGIAN JARAK
Tinggi benda yang diambil dari peta atau daftar suar, harus dijabarkan lebih dahulu hingga tinggi diatas
permukaan air pada saat penilikan tersebut.

Kita bedakan tiga keadaan :

1. Benda dimuka tepi langit


2. Puncak benda pada tepi langit
3. Benda dibelakang tepi langit ( nampak sebagian ).

114.JARAK KEBENDA

a) Benda dimuka tepi langit


Kita mengukur sudut puncak -- penilik -- garis air misalkan udut yang diukur = a , dan tinggi
benda = H maka

Jarak ( dalam mil ) = H Cotg ᾴ

1852

Gambar 114, Benda. Di Muka Tepi Langit

b). Puncak benda pada tepi langit.

Jarak ( dalam mil ) si penilik ------ tepi langit = 2.08 Vh

159
( h = tinggi mata dalam meter )

Jarak ( dalam mil ) tepi langit ----- benda = 2.08 VH

( H = tinggi benda dalam meter ).

Jadi jarak ( dalam mil ) si penilik ----- benda = 2.08 ( Vh + VH )

Gambar 115, Puncak Benda Pada Tepi Langit

Daftar 16 memberikan jarak pada saat puncak benda nampak ditepi langit , untuk tinggi mata dan tinggi
benda dalam meter.

Rumus daftar 16 : Jarak = 2,08 ( Vh + VH )

c). Benda dibelakang tepi langit ( Nampak sebagian )

Metode Hengeveld. :

Ukurlah tinggi puncak benda diatas tepi langit dan kurangi lah tinggi tsb dengan penundukan tepi langit
maya dan refraksi bumiawi , sehingga mendapatkan tinggi yang diperbaiki ( a ).

Refraksi bumiawi dalam menit = 1 x jarak duga dalam mil..

12

Misalkan = a = tinggi yang diperbaiki ; M = Modulus

h = tinggi mata ; r = jari – jari bumi

H = tinggi benda ; x = jarak busur

160
Gambar 116, Benda diBelakang Tepi Langit.

Log secan (ᾴ + x ) -- log sec a = log ( 1 + H ) - log ( 1 + h )

r r

Log secan (ᾴ + x ) -- log sec a = H x M -- h x M ( x r )

r r M

r log sec ( ᾴ + x ) -- r log secan ᾴ = H -- h

M M

r log sec ( ᾴ + x ) = r log secan ᾴ + H -- h

M M

misalkan = r log secan ᾴ = F ( ᾴ ) , maka

F ( ᾴ + x ) = F (ᾴ ) + H – h

Daftar 26 A : memberikan nilai r log sec suatu sudut

Dengan r dalam meter, untuk sudut – sudut 0⁰ sampai 10⁰

Catatan : log 1,0001 = 0,0001 x 0,434294 = 0,0001 x M

log 1,0002 = 0,0002 x 0,434294 = 0,0002 x M

log ( 1 + p ) = p x M

Contoh :

Kita mengukur tinggi puncak gunung diatas tepi langit = 2 ⁰ 24’

Tinggi gunung adalah = 3820 mtr, tinggi mata = 10 mtr. Menurut letak duga jarak ke gunung tsb adalah
= 40 mil. Hitunglah jarak menurut perhitungan tsb.

161
Jawab : Tinggi yang diukur = 2⁰ 24’.0

Penundukan tepi langit maya = -- 5’,6 ( daftar 18 )

Refraksi bumiawi ( 1/12 x jarak duga ) = -- 3’,3 +

Tinggi yang diperbaiki (ᾴ ) = 2⁰ 15’,1

Dafttar 26 A : Untuk a = 2⁰ 15’,1 F (ᾴ ) = 4913

H -- h = 3610 +

F (a+X) = 8723

Dicari kembali Daftar 26 A : ᾴ + x = 3⁰ 00’,0

ᾴ = 2 15’,1 –

x = 0⁰ 44’,9.

Jadi jarak 44,9 mil.

115.JARAK PADA BARINGAN MELINTANG.

Apabila suatu benda telah dibaring srta jaraknya telah ditelah ditentukan , maka kita dapat menghitung
berapakah jaraknya ketika benda tersebut melintang dan berapa mil lagi yang harus ditempuh , pada
haluan yang dikemudikan itu.

Gambar 117, Jarak Pada Baringan Melintang.

Nilai – nilai dapat segera kita tentukan dengan pertolongan daftar I ialah sbb :

Ambilah ᾴ = sebgai haluan

J = sebgai jauh

Maka J sin ᾴ didapay pada lajur simpang dan J cos ᾴ pada lajur ∆ Lintang.

162
Penilaian
1. Sikap

a. Sikap Spiritual

Pedoman Observasi Sikap Spiritual

Petunjuk :

Lembaran ini diisi oleh guru untuk menilai sikap spiritual peserta didik.

Berilah tanda cek (V) pada kolom skor sesuai sikap spiritual yang

ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut :

1. Selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan

2. Sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dankadangkadang tidak melakukan

3. Kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan

4. Tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

163
b. Sikap Sosial

1) Jujur

Pedoman Observasi Sikap Jujur

Petunjuk :

Lembaran ini diisi oleh guru untuk menilai sikap sosial peserta didik dalam kejujuran. Berilah tanda
cek (V) pada kolom skor sesuai sikap

164
jujur yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut :

1. Selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan

2. Sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dankadangkadang tidak melakukan

3. Kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan

4. Tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

2) Disiplin

Pedoman Observasi Sikap Disiplin

Petunjuk :

165
Lembaran ini diisi oleh guru untuk menilai sikap sosial peserta didik dalam kedisiplinan. Berilah
tanda cek (V) pada kolom skor sesuai sikap disiplin yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan
kriteria sebagai berikut :

Ya = apabila siswa menunjukkan perbuatan sesuai aspek pengamatan

Tidak = apabila siswa tidak menunjukkan perbuatan sesuai aspek pengamatan.

3) Tanggung Jawab

Pedoman Observasi Sikap Tanggung Jawab

Petunjuk :

166
Lembaran ini diisi oleh guru untuk menilai sikap sosial peserta didik dalam tanggung jawab.
Berilah tanda cek (V) pada kolom skor sesuai sikap tanggung jawab yang ditampilkan oleh peserta
didik, dengan kriteria sebagai berikut :

1. Selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan

2. Sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan kadangkadang tidak melakukan

3. Kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan

4. Tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

167
4) Toleransi

Pedoman Observasi Sikap Toleransi

Petunjuk :

Lembaran ini diisi oleh guru/teman untuk menilai sikap sosial peserta didik dalam toleransi. Berilah
tanda cek (v) pada kolom skor sesuai sikap toleransi yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan

kriteria sebagai berikut :

1. Selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan

2. Sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan kadangkadang tidak melakukan

3. Kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan

4. Tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

168
5) Gotong Royong

Pedoman Observasi Sikap Gotong Royong

Petunjuk :

Lembaran ini diisi oleh guru/teman untuk menilai sikap sosial

peserta didik dalam gotong royong. Berilah tanda cek (V) pada kolom

skor sesuai sikap gotong royong yang ditampilkan oleh peserta didik,

dengan kriteria sebagai berikut :

1. Selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan

2. Sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dankadangkadang tidak melakukan

3. Kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan

4. Tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

169
6) Santun

Pedoman Observasi Sikap Santun

Petunjuk :

Lembaran ini diisi oleh guru untuk menilai sikap sosial peserta didik

dalam kesantunan. Berilah tanda cek (V) pada kolom skor sesuai

sikap santun yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria

sebagai berikut :

1. Selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan

2. Sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan kadangkadang tidak melakukan

3. Kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dansering tidak melakukan

4. Tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

170
7) Percaya Diri

Pedoman Observasi Sikap Percaya Diri

Petunjuk :

Lembaran ini diisi oleh guru/teman untuk menilai sikap sosial

peserta didik dalam percaya diri. Berilah tanda cek (v) pada kolom

skor sesuai sikap percaya diri yang ditampilkan oleh peserta didik,

dengan kriteria sebagai berikut :

1. Selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan

2. Sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan kadangkadang tidak melakukan

3. Kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan

4. Tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

171
2. Pengetahuan

172
173
Lampiran Rubrik dan Kriteria Penilaian :

1.Rubrik Sikap Ilmiah

Kriteria ;

1. Aspek menanya :

Skor 4 Jika pertanyaan yang diajukan sesuai dengan permasalahan yang sedang dibahas

Skor 3 Jikapertanyaan yang diajukan cukup sesuai dengan permasalahan yang sedang dibahas

Skor 2 Jika pertanyaan yang diajukan kurang sesuai dengan permasalahan yang sedang dibahas

Skor 1 Tidak menanya

2. Aspek mengamati :

Skor 4 Terlibat dalam pengamatan dan aktif dalam memberikan pendapat

Skor 3 Terlibat dalam pengamatan

Skor 2 Berusaha terlibat dalam pengamatan

Skor 1 Diam tidak aktif

3. Aspek menalar

Skor 4 Jika nalarnya benar

Skor 3 Jika nalarnya hanya sebagian yang benar

174
Skor 2 Mencoba bernalar walau masih salah

Skor 1 Diam tidak bernalar

4. Aspek mengolah data :

Skor 4 Jika Hasil Pengolahan data benar semua

Skor 3 Jika hasil pengolahan data sebagian besar benar

Skor 2 Jika hasil pengolahan data sebagian kecil benar

Skor 1 Jika hasil pengolahan data salah semua

5. Aspek menyimpulkan :

Skor 4 jika kesimpulan yang dibuat seluruhnya benar

Skor 3 jika kesimpulan yang dibuat seluruhnya benar

Skor 2 kesimpulan yang dibuat sebagian kecil benar

Skor 1 Jika kesimpulan yang dibuat seluruhnya salah

6. Aspek menyajikan

Skor 4 jika laporan disajikan secara baik dan dapat menjawabsemua petanyaan dengan benar

Skor 3 Jika laporan disajikan secara baik dan hanya dapat menjawab sebagian pertanyaan

Skor 2 Jika laporan disajikan secara cukup baik dan hanya sebagian kecil pertanyaan yang dapat di
jawab

Skor 1 Jika laporan disajikan secara kurang baik dan tidak dapat menjawab pertanyaan

175
III. PENUTUP

Dengan menggunakan bahan ajar ini diharapkan Taruna dapat mencapai kompetensi puncak dan dapat
menampilkan potensi maksimumnya sehingga tujuan pencapaian kompetensi dapat terlaksana. Seperti
diterangkan dimuka bahwa tujuan akhir dari proses pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar ini adalah
siswa memiliki kemampuan, kebiasaan dan kesenangan serta menerapkan prinsip-prinsip dalam melakukan
penanganan dan penyimpanan muatan melalui pengamatan, komunikasi dan pelatihan. Untuk itu kepada
para Taruna dan pengguna bahan ajar ini disarankan untuk membaca literatur lain khususnya yang berkaitan
dengan penanganan dan penyimpanan muatan agar pemahaman materi ini menjadi lebih baik dan lengkap.

Setelah menyelesaikan proses belajar dengan bahan ajar ini, para Taruna diharuskan mempelajari bahan ajar
lain yang merupakan rangkaian terintegrasi dalam kompetensi navigasi pantai. Demikian semoga bahan ajar
ini benar-benar dapat digunakan oleh yang memerlukannya.

176
DAFTAR PUSTAKA

1. Admiralty Manual of Navigation. Vol1,London,HMSO 1997 1st Impression (ISBN 0- 11400-3-68-


8)
2. D. BambangSetonoAdi, dkk 2008, NautikaKapalPenangkapIkan, Sekolah MenengahKejuruan
(SMK).
3. DirektoratPembinaanSekolahMenengahKejuruan Jakarta.
4. Frost, A. Practical Navigation for Second Mates, 6th ed. 1985. Glasgow, Brown, Son &Ferguson
5. H.R. SOEBAKTI S. 1993. IntisariIlmuPelayaranDatar. YayasanPendidikanPelayaran“Djadajat –
1963”. Jakarta
6. UsmanSalim, M.Ni, 1979. IlmuPelayaran 1 dan2 KesatuanPelaut Indonesia. Jakarta.
7. YenezkielMatahelumual. Diktat IlmuPelayaranDatar, YayasanMaritim Pembangunan Jakarta.

177

Anda mungkin juga menyukai