Anda di halaman 1dari 99

UU PELAYARAN DAN KOVENSI INTERNASIONAL

BAHAN BACAAN TARUNA/I N2-CDEF

I. PENDAHULUAN (revisi I : hal 51 Pemeriksaan pendahuluan)

Pembelajaran dalam mata pelajaran UU Pelayaran dan Konvensi Internasional untuk


Peserta Nautika Semester 2 meliputi hukum nasional seperti Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (Burgerlijk Wetboek – BW), Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van
Strafrecht-WvS), Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Kopandel-WvK) dan UU
Pelayaran No. 17/2008 beserta turunannya dan Konvensi Internasional yang terkait dengan
pelayaran niaga diantaranya UNCLOS 1982, SOLAS 1974, STCW-1978, ISM-Code, ISPS-Code,
Load Line 1966, MARPOL 1973/1978, MLC-2006.

Penjelasan sedikit tentang Konvensi internasonal


1. UNCLOS = United Nations Convention on the Law of the Sea III 1982
Konvensi PBB tentang Hukum Laut ke 3 th 1982 tgl 10 -12-1982 di ikuti 119 negara
Di ratifikasi Indonesia dgn UU No.17/1985 tgl. 31-12-1985

2. SOLAS 1974
International Convention For The Safety of Life at Sea, 1974
( Konvensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa di Laut )
Kesepakatan Internasional terkait dengan keselamatan jiwa di kapal niaga sbg alat angkut utama
dlm kegiatan perdagangan global
Diratifikasi Indonesia dg Kepres No. 65/1980 tgl 17 Des 1980

3. STCW 1978 = International Convention on Standards of Training, Certification and


Watchkeeping for Seafarers 1978
(Konvensi Internasional ttg standar latihan, sertifikasi, dan tugas jaga bagi para pelaut )
Diratifikasi Indonesia dg Kepres No. 60/1986

4. ISM Code,
International Management for the Safe Operation of the Ships and for Polution Prevention,
Disingkat dengan International Safety Managemen Code = ISM Code)
(Manajemen Internasional untuk Keselamatan Operasi Kapal-kapal & utk Pencegahan Pencemaran )
ISM Code : Code Manajemen Keselamatan Internasional. (tindak lanjut SOLAS 74 Bab IX
Disahkan IMO tgl 4 Nop 1993 di London dengan Resolusi A 741 (18) mulai tgl 1 Juli 1998
SK Dirjen Perla No PY. 67/1/6-96 tanggal 12 Juli 1996 tentang Pemberlakuan Manajemen
Keselamatan Kapal (ISM Code)

5. ISPS Code,
The International Ship and Port Facility Security Code
(Koda Keamanan Internasional terhadap kapal dan fasilitas pelabuhan-(lanjutan SOLAS 74 Bab XII-2)
ISPS Code merupakan pengaturan keamanan minimum untuk kapal, pelabuhan, pemerintah /
lembaga. Berlaku pada tahun 2004 Ratifikasi dgn Kepmenhub No. 33/2003

6. MARPOL 73/78
“International Convention for the Prevention of Oil Pollution from Ships” tahun 1973,
Tentang mencegah pencemaran dan buangan barang-barang atau campuran cairan beracun dan
berbahaya dari kapal.
Disempurnakan dengan “ Tanker Safety and Pollution Prevention – TSPP” Protocol 1978 isinya
(1) meningkatkan keselamatan kapal tanker,
(2) melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan pencemaran laut yang berasal dari
kapal terutama kapal tanker, Konvensi ini dikenal dengan nama MARPOL 1973/1978
Marpol dan Anex I dan II , Diratifikasi Indonesia dgn Kepres No.46/1986 9-9-86
Pengesahan Annex / lampiran : III, IV, V, VI dengan Perpres No. 29/2012 tgl. 20-3-2012

1
7. LOAD LINES CONVENTION 1966 (uraian ada di Bab III Garis Muat)
International on Load Lines Convention 1966 (garis muat kapal)
Aturan batas garis muat yg aman bagi keselamatan kapal, pecegahan kelebihan muatan,
keselamatan lambung timbul, stabilitas kapal.
Ratifikasi : Keppres 47/1976 tgl 2-11-1976
Perpres No. 39/2016 ttg garis muat kapal dan pemuatan sbg pengganti KM 3/2005.

8. MLC 2006 :
Maritime Labour Convention, 2006
MLC menetapkan hak dan perlindungan yang komprehensif di tempat kerja untuk pelaut di dunia,
Bertujuan untuk mencapai pengaturan pekerjaan yang layak bagi pelaut, dan
Mengamankan kepentingan ekonomi dalam persaingan yang adil bagi pemilik kapal yang
berkualitas.
Diratifikasi Indonesia dengan UU No. 15 Tahun 2016 tgl 6 Oktober 2016

TUJUAN DAN LINGKUP UU PELAYARAN


Dalam pembelajaran UU Pelayaran ini, kita tidak masuk kedalam teknis pelaksanaan peraturan
akan tetapi kita hanya memahami kebijakan yang diatur dalam dunia pelayaran niaga, baik
dilihat dari sudut pemerintahan, pelaku bisnis pelayaran dan dari sudut para pelaut kapal niaga.
UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran merupakan pengganti UU No. 21 Tahun 1992
tentang Pelayaran, penggantian UU ini karena begitu cepatnya perkembangan teknologi dunia
pelayaran. Bersamaan pula adanya pergeseran kebijakan pemerintahan Indonesia dari era orde
baru ke era reformamsi yang mengakomodir permintaan rakyat yaitu pemerintahan harus
menganut asas keadilan dan merata tanpa diskriminasi ( pasal 2 ada 12 asas )

Dengan demikian pelayaran diselenggarakan dengan tujuan : (pasal 3)


a. memperlancar arus perpindahan orang dan/atau barang melalui perairan dengan
mengutamakan dan melindungi angkutan di perairan dalam rangka memperlancar kegiatan
perekonomian nasional;
b. membina jiwa kebaharian;
c. menjunjung kedaulatan negara;
d. menciptakan daya saing dengan mengembangkan industri angkutan perairan nasional;
e. menunjang, menggerakkan, dan mendorong pencapaian tujuan pembangunan nasional;
f.memperkukuh kesatuan dan persatuan bangsa dalam rangka perwujudan Wawasan
Nusantara; dan
g. meningkatkan ketahanan nasional.

Ruang lingkup berlakunya UU No. 17 Tahun 2008 adalah : (pasal 4)


a. semua kegiatan angkutan di perairan, kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan
pelayaran, serta perlindungan lingkungan maritim di perairan Indonesia;
b. semua kapal asing yang berlayar di perairan Indonesia; dan
c. semua kapal berbendera Indonesia yang berada di luar perairan Indonesia.

Pelayaran dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah,


Adapun pembinaan dimaksud meliputi pengaturan, pengendalian, dan pengawasan. (pasal 5)
 Pengaturan meliputi penetapan kebijakan umum dan teknis, antara lain, penentuan norma,
standar, pedoman, kriteria, perencanaan, dan prosedur termasuk persyaratan keselamatan
dan keamanan pelayaran serta perizinan.
 Pengendalian meliputi pemberian arahan, bimbingan, pelatihan, perizinan, sertifikasi, serta
bantuan teknis di bidang pembangunan dan pengoperasian.
 Pengawasan meliputi kegiatan pengawasan pembangunan dan pengoperasian agar sesuai
dengan peraturan perundang-undangan termasuk melakukan tindakan korektif dan
penegakan hukum.

2
Pembinaan Pelayaran tersebut dilakukan dengan memperhatikan seluruh aspek kehidupan
masyarakat dan diarahkan untuk: (Pasal 5)
a. memperlancar arus perpindahan orang dan/atau barang secara massal melalui perairan
dengan selamat, aman, cepat, lancar,tertib dan teratur, nyaman, dan berdaya guna, dengan
biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat;
b. meningkatkan penyelenggaraan kegiatan angkutan di perairan, kepelabuhanan,
keselamatan dan keamanan, serta perlindungan lingkungan maritim sebagai bagian dari
keseluruhan moda transportasi secara terpadu dengan memanfaatkan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi;
c. mengembangkan kemampuan armada angkutan nasional yang tangguh di perairan
serta didukung industri perkapalan yang andal sehingga mampu memenuhi kebutuhan
angkutan baik di dalam negeri maupun dari dan ke luar negeri;
d. mengembangkan usaha jasa angkutan di perairan nasional yang andal dan berdaya
saing serta didukung kemudahan memperoleh pendanaan, keringanan perpajakan, dan
industri perkapalan yang tangguh sehingga mampu mandiri dan bersaing;
e. meningkatkan kemampuan dan peranan kepelabuhanan serta keselamatan dan
keamanan pelayaran dengan menjamin tersedianya alur-pelayaran, kolam pelabuhan, dan
Sarana Bantu Navigasi Pelayaran yang memadai dalam rangka menunjang angkutan di
perairan;
f. mewujudkan sumber daya manusia yang berjiwa bahari, profesional, dan mampu
mengikuti perkembangan kebutuhan penyelenggaraan pelayaran; dan
g. memenuhi perlindungan lingkungan maritim dengan upaya pencegahan dan
penanggulangan pencemaran yang bersumber dari kegiatan angkutan di perairan,
kepelabuhanan, serta keselamatan dan keamanan.

PEMERNTAH DAERAH DALAM UU NO. 17/2008

3
Pemerintah daerah diberi kesempatan melakukan pembinaan pelayaran sesuai dengan
kewenangannya, secara garis besar sebagaimana ditetapkan dalam UU Pelayaran ini. Dengan
demikian pembinaan pelayaran tidak didominasi oleh pemerintah pusat saja akan tetapi ada
pelimpahan sebagian kewenangan pusat kepada pemerintah daerah, contohnya :
Perizinan usaha angkutan pelayaran oleh daerah, (Pasal 28)
Bila domisili badan usaha dan kapalnya beroperasi di dalam wilayah kabupaten/kota izin usaha
dikeluarkan oleh Bupati atau Walikota setempat,
Bila domisili badan usaha dan kapalnya beroperasi antar wilayah kabupaten/kota dalam
provinsi, maka izin usahanya dikeluarkan oleh Gubernur provinsi setempat.
Bila badan usaha melakaukan kegiatan lintas pelabuhan antar provinsi dan internasional maka
izin usahanya diberikan oleh Menteri Perhubungan (ayat 1)

Perizinan Angkutan PELRA diserahkan kepada Bupati/Walikota bila wilayah operasinya dalam
wilayah kabupaten/kota setempat,
Apabila kapal PELRA itu beroprasi antar wilayah kabupaten/kota dalam provinsi, antar provinsi
dan internasonal izin usaha diberikan oleh Gubernur setempat. (ayat 2)

Perizinan usaha angkutan sungai dan danau diberikan oleh Bupati/Walikota setempat sesuai
domisili bada usahanya ( DKI Jakarta oleh Gubernur). (ayat 3)
Izin trayek kapal sungai dan danau yang melayani trayek dalam wilayah kabupaten/kota
diberikan Bupati/Walikota .
Bila kapal sungai dan danau itu melayani trayek antar wilayah kabupaten/kota dalam wilayah
provinsi izin trayek diberikan oleh Gubernur setempat.
Bila kapal sungai dan danau melayani trayek antar provinsi dan antar negara maka izin trayek
diberikan oleh Menteri Perhubungan. (ayat 4)
Izin usaha angkutan penyeberangan, diberikan oleh Bupati/Walikota sesuai domisili badan
usahanya ( DKI Jakarta oleh Gubernur ) (ayat 5)
Izin Persetujuan pengoperasian kapal penyeberangan
Bila operasi kapalnya dalam wilayah kabupaten/kota izin diberikan oleh Bupati/Walikota,
Bila melayani trayek antar kabupaten/kota dalam provinsi izin operasi kapalnya oleh Gubernur.
Bila kapalnya antar prov/antar negara izin operasinya oleh Menteri Perhubungan (ayat 6)

Penetapan rencana induk pelabuhan, daerah lingkungan kerja (DLkr), daerah lingkungan
kepentingan pelabuhan (DLKp) untuk pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul ditetapkan
oleh Menteri Perhubungan setelah mendapat rekomendasi dari Gunbernur dan
Bupati/Walikota setempat agar ada kesesuaian tata ruang wilayah provinsi & kabupaten/kota.
Penetapan rencana induk pelabuhan, DLKr, DLKp pelabuhan pengumpan regional
(kedaerahan) oleh Gubernur dan untuk pelabuhan pengumpan lokal (setempat) oleh
Bupati/Walikota
Penetapan Rencana induk pelabuhan, daerah lingkungan kerja, daerah lingkungan
kepentingan pelabuhan sungai dan danau ditetapkan oleh Bupati/Walikota. (Pasal 76)

Izin pembangunan pelabuhan pengumpan regional diberikan oleh Gubernur, untuk


pelabuhan pengumpan lokal diberikan oleh Bupati/Walikota setempat. (Pasal 96)
Izin pengoperasian pelabuhan pengumpan regional oleh Gubernur, untuk pelabuhan
pengumpan lokal diberikan oleh Bupati/Walikota setempat. (Pasal 97)

Izin Pembangunan Pelabuhan Sungai dan Danau diberikan oleh Bupati/Walikota.


Izin pengoperasian pelabuhan sungai dan danau diberikan oleh Bupati/Walikota. (Pasal 98)

4
Penyelenggaraan pelabuhan terdiri dari Otoritas Pelabuhan (OP) dibentuk pada pelabuhan
yang diusahakan secara komersil dan Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) dibentuk pada
pelabuhan yang belum diusahakan secara komersil.
UPP ini ada yang bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan (kewenangan pusat), dan
ada pula UPP yang bertanggung jawab kepada pemerinth daerah (kewenangan diberian
kedaerah). (Pasal 81).
OP dalam pelaksanaannya harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah (Pasal 82), jadi
dalam kegiatan OP, ada yang terkait dengan pemerintah daerah seperti masalah lahan.
Kantor OP tersendiri hanya ada di pelabuhan utama (Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak,
Makasar), sedangkan OP dipelabuhan kelas 1, 2, 3, 4 dan 5 digabung dengan Kantor
Syahbandar, sehingga lebih dikenal dengan KSOP, walaupun dalam UU No. 17/2008 tidak
mengenal KSOP.
Pelabuhan memiliki peran sebagai: (Pasal 68)
a. simpul dalam jaringan transportasi sesuai dengan hierarkinya;
b. pintu gerbang kegiatan perekonomian;
c. tempat kegiatan alih moda transportasi;
d. penunjang kegiatan industri dan/atau perdagangan;
e. tempat distribusi, produksi, dan konsolidasi muatan atau barang; dan
f. mewujudkan Wawasan Nusantara dan kedaulatan negara .
Peran pelabuhan dimaksud dalam Pasal 68 tersebut dilakukan untuk memberikan manfaat bagi
pemerintah daerah. (Pasal 114)
Upaya untuk memberikan manfaat dimaksud dalam Pasal 114 pemerintah daerah mempunyai
peran, tugas, dan wewenang sebagai berikut: (pasal 115)
a. mendorong pengembangan kawasan perdagangan, kawasan industri, dan pusat
kegiatan perekonomian lainnya;
b. mengawasi terjaminnya kelestarian lingkungan di pelabuhan;
c. ikut menjamin keselamatan dan keamanan pelabuhan;
d. menyediakan dan memelihara infrastruktur yang menghubungkan pelabuhan dengan
kawasan perdagangan, kawasan industri, dan pusat kegiatan perekonomian lainnya;
e. membina masyarakat di sekitar pelabuhan dan memfasilitasi masyarakat di wilayahnya
untuk dapat berperan serta secara positif terselenggaranya kegiatan pelabuhan;
f. menyediakan pusat informasi muatan di tingkat wilayah;
g. memberikan izin mendirikan bangunan di sisi daratan; dan
h. memberikan rekomendasi dalam penetapan lokasi pelabuhan dan terminal khusus.

Dengan catatan : Bila pemerintah daerah tidak dapat melaksanakan atau menyalahgunakan
peran, tugas, dan wewenang, tersebut, maka Pemerintah pusat akan mengambil alih peran,
tugas, dan wewenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Demikian sedikit ulasan tentang bisnis pelayaran yang diberikan kepada pemerintah daerah
atau melibatkan Pemerintah daerah, dimana sebelum lahirnya UU No. 17/2008 peran
pemerintah daerah tidak begitu siknifikan.

*** Jenis Pelabuhan , pasal 70 ayat (1)


a. Pelabuhan Laut, dan
b. Pelabuhan Sungai dan Danau

Hirarkhi Pelabuhan Laut , pasal 70 ayat (2)


a. Pelabuhan Utama ( pelabuhan yg terbuka untuk kegiatan dalam negeri & Internsional )
b. Pelabuhan Pengumpul (pelabuhan terbuka untuk kegiatan perdagangan dalam negeri)
c. Pelabuhan Pengumpan (pemasok muatan untuk pelabuhan utama dan pelabuhan

5
pengumpul)

ooo

II. ANGKUTAN DI PERAIRAN

1. DASAR HUKUM
UU No. 17 Tahun 2008 Ttg Pelayaran Bab V
PP No. 20 Tahun 2010 Angkt Perairan
PP No. 22 Tahun 2011 Perubahan

2. Angkutan di Perairan
Kegiatan mengangkut penumpang dan/atau memindahkan barang dg menggunakan kapal.
Jenis angkutan di perairan terdiri atas: (pasal 6)
a. angkutan laut;
b. angkutan sungai dan danau; dan
c. angkutan penyeberangan

3. Angkutan laut terdiri atas: (pasal 7)


a. angkutan laut dalam negeri;
b. angkutan laut luar negeri;
c. angkutan laut khusus; dan
d. angkutan laut pelayaran rakyat.

ad. a. Angkutan Laut Dalam Negeri (Pasal 8, PP 20/2010)


Kegiatan angkutan laut dalam negeri dilakukan oleh perusahaan angkutan laut
nasional (PT, CV), menggunakan kapal berbendera Indonesia dan diawaki oleh WNI
(Pasal 8 ayat 1) (pasal ini disebut asas cabotage = serba Indonesia )

6
Kapal asing dilarang mengangkut penumpang dan/atau barang antar pulau atau
antar pelabuhan di wilayah perairan Indonesia. (Pasal 8 ayat 2 dan PP 20 / 2010)

Kapal asing dengan izin Menteri Perhubungan dapat melakukan kegiatan diwilayah
perairan Indonesia, sepanjang kapal berbendera Indonesia belum tersedia atau
belum cukup tersedia, meliputi kegiatan : (PP 22 Tahun 2011)
a. survey minyak dan gas bumi;
b. pengeboran;
c. operasi lepas pantai;
d. pengerukan; dan
e. salvage dan pekerjaan bawah air.

Kegiatan angkutan laut dalam negeri dilaksanakan dengan : (pasal 9 ayat 1, 2)


- trayek tetap/teratur (liner) (penuh tidaknya muatan, tetap berangkat sesuai jadwal
- trayek tidak tetap & tidak teratur (tramper). (kapal penuh muatan baru berangkat)
Dalam melayani trayek tetap dan teratur tersebut harus memenuhi kriteria :
menyinggahi beberapa pelabuhan secara tetap dan teratur dengan berjadwal; dan
kapal yang dioperasikan merupakan : kapal penumpang, kapal petikemas, kapal
barang umum dan kapal Ro-Ro.

Pengoperasian kapal pada jaringan trayek tetap dan teratur (Pasal 9 ayat 7)
dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional dengan mempertimbangkan:
a. kelaiklautan kapal;
b. menggunakan kapal berbendera Indonesia dan diawaki oleh WNI
c. keseimbangan permintaan dan tersedianya ruangan;
d. kondisi alur dan fasilitas pelabuhan yang disinggahi; dan
e. tipe dan ukuran kapal sesuai dengan kebutuhan
Izin usaha angkutan laut dalam negeri (pasal 28 ayat 1)
a. Bila badan usahanya dan kapalnya beroperasi di wilayah kabupaten/kota, izin
usaha diberikan oleh Bupati/Walikota setempat.
b. Bila badan usahanya dan kapalnya beroperasi antar kabupaten/kota dalam
provinsi, izin usahanya diberikan oleh Gubernur setempat.
c. Bila badan usaha melakukan kegiatan lintas pelabuhan antar provinsi dan
internasional izin usaha diberikan oleh Menteri Perhubungan.

ad. b. Kegiatan angkutan laut luar negeri meliputi : (Pasal 11, 28)
 Kegiatan angkutan laut dari dan ke luar negeri dilakukan oleh perusahaan
angkutan laut nasional dan/atau perusahaan angkutan laut asing menggunakan
kapal berbendera Indonesia dan/atau kapal asing.
(Untuk kapal nasional diawaki WNI, dan kapal asing diawaki WNA dan/atau
WNI)
Trayek angkutan laut luar negeri dpt dilakukan secara tetap & teratur atau tidak
tetap & tidak teratur.
Perusahaan angkutan laut asing hanya dapat melakukan kegiatan angkutan laut
ke dan dari pelabuhan Indonesia yang terbuka untuk perdagangan luar negeri dan
wajib menunjuk agen umum Indonesia, kalau tidak punya agen umum nasional,
kapalnya tidak dapat pelayanan di pelabuhan Indonesia. Ini bedanya dengan
angkutan laut lainnya.

 Kegiatan Keagenan Umum Kapal Angkutan Laut Asing


 Perusahaan AL Asing wajib menunjuk AGEN UMUM

7
 Agen umum tersebut dapat dilakukan oleh:
a. perusahaan nasional keagenan kapal; atau
b. perusahaan angkutan laut nasional
Agen Umum Indonesia bertugas mengurus kepentingan kapal asing selama kapal
asing tersebut berada diwilayah perairan Indonesia. Untuk kelancaran tugas agen
umum tersebut, agen umum kapal asing tersebut dapat menunjuk agen umum
yang ada dipelabuhan terbuka untuk kapal asing sebagai sub agen, karena agen
umum kapal asing tersebut tidak punya cabang atau perwakilan dipelabuhan
dimaksud. Kewajban sub agen tersebut adalah melayani kepentingan kapal asing
tsb selama berada di pelabuhan tempat sub agen berdomisili. (PP No. 20/2010)
 Misalnya, Agen umum X di pelabuhan Tanjung Priok dpt menunjuk Agen
Umum di Pelabuhan Cirebon sbg Sub Agen, bila di pelabuhan Cirebon, agen
umum X tidak punya cabang di pelabuhan Cirebon untuk melayani
kepentingan kapal asing yang di ageni X selama berada di Cirebon.

 Perwakilan Perusahaan Angkutan Laut Asing


 Kegiatan angkutan kapal asing berkesinambungan ke Indonesia.
 Boleh buka perwakilannya di Indonesia dan Perwakilan bisa WNA atau WNI
 Tugasnya mengawasi / memberi nasihat kegiatan agen umumnya.
 Tidak boleh bertindak sbg agen umum,
 Kantornya boleh menumpang di kantor agen.

 Kegiatan Angkutan Laut Lintas Batas


Kegiatan angkutan laut …. lintas batas dapat dilakukan dengan trayek tetap dan
teratur serta trayek tidak tetap dan tidak teratur dan jarak tempuh pelayaran <
150 mil laut. ( Dumai – Malaka, Batam – Singapore dsb)

ad. c. Angkutan Laut Khusus (Pasal 13)


Kegiatan angkutan laut khusus dilakukan oleh Badan Usaha ( PT, CV ): untuk
menunjang usaha pokok dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia yang
memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal sesuai dg kebutuhan kegiatan pokok
usahanya dan diawaki oleh Awak Kapal WNI.
Kegiatan angkutan laut khusus ini wajib punya izin operasi dari pemrintah (DJPL) .
Kapalnya tidak boleh mengangkut muatan milik pihak lain, kecuali izin pihak
Syahbandar.
Pelaksana angkutan laut khusus asing masuk pelabuhan Indonensia terbuka untuk
perdagangan luar negeri wajib menunjuk perusahaan angkutan laut nasional atau
pelaksana kegiatan angkutan laut khusus sebagai agen umumnya.
Pelaksana kegiatan angkutan laut khusus hanya dapat menjadi agen kapal yang
melakukan kegiatan yang sejenis dengan usaha pokoknya.
Usaha pokok dimaksud seperti a.Industri, b. Kehutanan, c. Pariwisata, d. Pertanian ,
e. Pertambangan, dsb.

ad. d. Angkutan Laut Pelayaran Rakyat (Pasal 15 , 16, 28 dan PP 20/2010)


 Kegiatan angkutan laut PELRA sebagai usaha masyarakat yang bersifat tradisional.

8
Yang dimaksud “usaha masyarakat” adalah usaha yang dilakukan oleh warga negara
Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia dengan mendorong usaha-usaha yang
bersifat kooperatif.
Usaha masyarakat tersebut memiliki ciri dan sifat tradisional yaitu mengandung nilai-
nilai budaya bangsa yang tidak hanya terdapat pada cara pengelolaan usaha serta
pengelolanya misalnya mengenai hubungan kerja antarpemilik kapal dengan awak
kapal, tetapi juga pada jenis dan bentuk kapal yang digunakan.
Hal-hal tersebut perlu dilestarikan dan dikembangkan dengan memperhatikan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
 Kegiatan PELRA ini sebagai usaha masyarakat yang bersifat tradisional dan
merupakan bagian dari angkutan diperairan, mempunyai peranan yang penting
dan karakteristk tersendiri.
Yang dimaksud dengan "karakteristik tersendiri" yaitu antara lain sebagai
berikut:
a. ukuran dan tipe kapal yang tertentu (pinisi, lambo, nade, dan lete);
b. tenaga penggerak angin dengan menggunakan layar atau mesin dengan tenaga
kurang dari 535 TK atau 535 TK X 0,736 = 393,76 KW;
c. pengawakan yang mempunyai kualifikasi berbeda dengan kualifikasi yang
ditetapkan bagi kapal;
d. lingkup operasinya dapat menjangkau daerah terpencil yang tidak memiliki fasilitas
pelabuhan dan kedalaman air yang rendah serta negara yang berbatasan; dan
e. Kegiatan bongkar muat dilakukan dengan tenaga manusia (padat karya).
 Kegiatan angkutan laut PELRA dilakukan oleh orang WNI/BU, menggunakan kapal
berbendera Indonesia serta diawaki oleh Awak Kapal WNI
 Pembinaan angkutan laut PELRA dilaksanakan agar kehidupan usaha dan peranan
penting angkutan laut PELRA tetap terpelihara sbg bag. dari potensi angkutan laut
nasional yang merupakan satu kesatuan sistem transportasi nasional.
 Pengembangan angkutan laut PELRA dilaksanakan untuk:
a. meningkatkan pelayanan ke daerah-daerah pedalaman dan/atau perairan yang
memiliki alur dengan kedalaman terbatas termasuk sungai dan danau
b. meningkatkan kemampuannya sebagai lapangan usaha angkutan laut nasional dan
lapangan kerja
c. meningkatkan kompetensi SDM & kewiraswastaan dlm bid. usaha AL nasional.
 Armada angkutan laut PELRA dpt dioperasikan di dalam negeri & lintas batas, baik dengan
trayek tetap & teratur maupun dengan trayek tidak tetap & tidak teratur.

 Penggunaan kapal angkutan laut PELRA berbendera Indonesia berupa


a. kapal layar (KL) tradisional yang digerakkan sepenuhnya oleh tenaga angin;
b. kapal layar motor (KLM) berukuran tertentu dengan tenaga mesin dan luas
layar sesuai ketentuan; atau
c. kapal motor (KM) dengan ukuran tertentu

 Izin usaha angkutan laut PELRA


a. bupati/walikota bagi orang perseorangan WNI atau Badan Usaha yang
berdomisili dalam wilayah kabupaten/kota dan beroperasi pada lintas
pelabuhan dalam wilayah kabupaten/kota; atau
b. gubernur bagi orang perseorangan WNI atau Badan Usaha yang berdomisili
dan beroperasi pada lintas pelabuhan antar kabupaten/kota dalam wilayah
provinsi, pelabuhan antarprovinsi, dan pelabuhan internasional

9
4. Angkutan Sungai dan Danau (Pasal 18, 19 dan 28)
 Kegiatan angkutan sungai dan danau di dalam negeri dilakukan oleh orang perseorangan
WNI atau BU dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia yang memenuhi
persyaratan kelaiklautan kapal serta diawaki oleh Awak Kapal WNI
 Kegiatan angkutan sungai dan danau antara Indonesia dengan negara tetangga dilakukan
berdasarkan perjanjian antara Pemerintah Ind dengan pemerintah negara tetangga
 Angkutan sungai dan danau yang dilakukan antara dua negara hanya dapat dilakukan
oleh kapal berbendera Indonesia dan/atau kapal berbendera negara ybs.
 Kegiatan angkutan sungai dan danau disusun dan dilakukan secara terpadu dengan
memperhatikan intra-dan antarmoda yang merupakan satu kesatuan sistem transportasi
nasional.
 Kegiatan angkutan sungai dan danau dapat dilaksanakan dengan menggunakan trayek
tetap dan teratur atau trayek tidak tetap dan tidak teratur.
 Kegiatan angkutan sungai dan danau dilarang dilakukan di laut kecuali mendapat izin dari
Syahbandar (SIB) dengan tetap memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal.
 Untuk menunjang usaha pokok dapat dilakukan kegiatan angkutan sungai dan danau
untuk kepentingan sendiri.
Kegiatan angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri dapat dilakukan oleh
orang perseorangan WNI atau BU dengan izin Pemerintah.

 Izin usaha angkutan sungai dan danau diberikan oleh:


a. Bupati/Walikota sesuai dengan domisili orang perseorangan WNI atau BU.
b. Gubernur Provinsi DKI Jakarta untuk orang perseorangan WNI atau BU yang
berdomisili di DKI Jakarta.
 Selain memiliki izin usaha, angkutan sungai dan danau dimana kapal yang dioperasikan
wajib memiliki izin trayek dari :
a. bupati/walikota setempat bagi kapal yang melayani trayek dalam wilayah
kabupaten/kota
b. gubernur provinsi setempat bagi kapal yang melayani trayek antarkabupaten/kota
dalam wilayah provinsi
c. Menteri bagi kapal yang melayani trayek antarprovinsi dan/atau antarnegara.

5. Angkutan Penyeberangan (Pasal 21 , 22 dan 28)


 Kegiatan angkutan penyeberangan dalam negeri dilakukan oleh BU dengan menggunakan
kapal berbendera Indonesia yang laiklaut serta diawaki oleh Awak Kapal WNI
 Kegiatan angkutan penyeberangan antara Indonesia dan negara tetangga dilakukan
berdasarkan perjanjian antara Pemerintah Indonesia dan pemerintah negara ybs.

 Angkutan penyeberangan yang dilakukan antara dua negara tersebut hanya dapat
dilakukan oleh kapal berbendera Indonesia dan/atau kapal berbendera negara ybs.

10
 Angkutan penyeberangan merupakan angkutan yang berfungsi sebagai jembatan yang
menghubungkan jaringan jalan atau jaringan jalur kereta api yang dipisahkan oleh perairan
untuk mengangkut penumpang dan kendaraan beserta muatannya.
 Penetapan lintas angkutan penyeberangan tersebut dilakukan dgn mempertimbangkan:
a. pengembangan jaringan jalan dan/atau jaringan jalur kereta api yang dipisahkan oleh perairan;
b. fungsi sebagai jembatan;
c.hubungan antara dua pelabuhan, antara pelabuhan dan terminal, dan antara dua terminal
penyeberangan dengan jarak tertentu;
d. tidak mengangkut barang yang diturunkan dari kendaraan pengangkutnya;
e. Rencana Tata Ruang Wilayah; dan
f. jaringan trayek angkutan laut sehingga dapat mencapai optimalisasi keterpaduan angkutan
antar-dan intramoda.
 Angkutan penyeberangan dilaksanakan dengan menggunakan trayek tetap dan teratur.

 Izin usaha angkutan penyeberangan diberikan oleh:


a. Bupati/walikota sesuai dengan domisili Badan Usaha; atau
b. Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta untuk Badan Usaha yang berdomisili di Daerah
Khusus Ibukota Jakarta.
 Selain memilik izin usaha angkutan penyeberangan, kapal yang dioperasikan wajib
memiliki persetujuan pengoperasian kapal yang diberikan oleh:
a. Bupati/walikota yang bersangkutan bagi kapal yang melayani lintas pelabuhan dalam wilayah
kabupaten/kota;
b. Gubernur provinsi yang bersangkutan bagi kapal yang melayani lintas pelabuhan
antarkabupaten/kota dalam provinsi; dan
c. Menteri bagi kapal yang melayani lintas pelabuhan antarprovinsi dan/atau antarnegara .

6. Angkutan di Perairan untuk Daerah Masih Tertinggal dan/atau


Wilayah Terpencil (Pasal 24, 25)
 Angkutan di perairan untuk daerah masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil wajib
dilaksanakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
 Angkutan di perairan tersebut dilaksanakan dengan pelayaran-perintis dan penugasan.
 Pelayaran-perintis tersebut dilaksanakan dengan biaya yang disediakan oleh Pemerintah
dan/atau pemerintah daerah.
 Penugasan tersebut diberikan kepada perusahaan angkutan laut nasional dengan
mendapatkan kompensasi dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sebesar selisih
antara biaya produksi dan tarif yang ditetapkan Pemerintah dan/atau pemerintah daerah
sebagai kewajiban pelayanan publik.
 Pelayaran-perintis dan penugasan dilaksanakan secara terpadu dengan sektor lain
berdasarkan pendekatan pembangunan wilayah.
 Angkutan perairan untuk daerah masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil dievaluasi
oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah setiap tahun.
 Pelayaran-perintis ini dapat dilakukan dgn cara kontrak jangka panjang dengan perusahaan
angkutan di perairan menggunakan kapal layak laut, berbendera Indonesia diawaki WNI.

Untuk medapatkan izin usaha (Pasal 28)


 Untuk mendapatkan izin usaha angkutan laut, maka Badan Usaha wajib memiliki kapal
berbendera Indonesia minimal GT 175
 Orang perseorangan WNI atau BU dapat melakukan kerja sama dengan perusahaan
angkutan laut asing atau badan hukum asing atau warga negara asing dalam bentuk usaha
patungan (joint venture) dengan membentuk perusahaan angkutan laut yang memiliki
kapal berbendera Indonesia minimal 1 unit kapal GT 5000 dan diawaki oleh WNI

11
7. Angkutan Multimoda (Pasal 50 -54)
 Angkutan perairan dapat merupakan bagian dari angkutan multimoda yang dilaksanakan
oleh Badan Usaha angkutan multimoda.
 Kegiatan angkutan perairan dalam angkutan multimoda dilaksanakan berdasarkan
perjanjian yang dilaksanakan antara penyedia jasa angkutan perairan dan Badan Usaha
angkutan multimoda dan penyedia jasa moda lainnya.
 Angkutan multimoda dilakukan oleh Badan Usaha yang telah mendapat izin khusus untuk
melakukan angkutan multimoda dari Pemerintah.
 Pelaksanaan angkutan multimoda dilakukan berdasarkan 1 dokumen yang diterbitkan
oleh penyedia jasa angkutan multimoda
 Badan Usaha bertanggung jawab (liability) terhadap barang sejak diterimanya barang
sampai diserahkan kepada penerima barang.
 Tanggung jawab penyedia jasa angkutan multimoda meliputi kehilangan atau kerusakan
yang terjadi pada barang serta keterlambatan penyerahan barang.
 Tanggung jawab dapat dikecualikan bila penyedia jasa angkutan multimoda dapat
membuktikan bahwa dirinya atau agennya secara layak telah melaksanakan segala
tindakan untuk mencegah terjadinya kehilangan, kerusakan barang, serta keterlambatan
penyerahan barang.
 Tanggung jawab penyedia jasa angkutan multimoda bersifat terbatas.
"tanggung jawab operator bersifat terbatas" adalah tanggung jawab operator transportasi
multimoda terhadap kerugian yang disebabkan oleh keterlambatan penyerahan adalah terbatas
pada suatu jumlah yang sebanding dengan 2½ x biaya angkut yang harus dibayar atas barang
yang terlambat, tetapi tidak melebihi jumlah biaya angkut yang harus dibayar berdasarkan
kontrak transportasi multimoda.
 Keseluruhan jumlah tanggung jawab yg menjadi beban operator transportasi multimoda
tdk boleh melebihi batas tanggung jawab yg diakibatkan kerugian total terhadap barang.
 Penyedia jasa angkutan multimoda wajib mengasuransikan tanggung jawabnya.

8. Usaha Jasa Terkait dengan Angkutan di Perairan (Pasal 31)


 Untuk kelancaran kegiatan angkutan di perairan dapat diselenggarakan usaha jasa terkait
dengan angkutan di perairan. Usaha jasa terkait dimaksud dapat berupa:
a. bongkar muat barang;
b. jasa pengurusan transportasi;
c. angkutan perairan pelabuhan;
d. penyewaan peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait dengan angkutan laut;
e. tally mandiri;
f. depo peti kemas;
g. pengelolaan kapal (ship management);
h. perantara jual beli dan/atau sewa kapal (ship broker);
i. keagenan Awak Kapal (ship manning agency);
j. keagenan kapal; dan
k. perawatan dan perbaikan kapal (ship repairing and maintenance).
 Usaha jasa terkait tersebut diatas dilakukan oleh BU yang didirikan khusus untuk itu.
 Selain BU yang didirikan khusus untuk itu , kegiatan bongkar muat dapat dilakukan oleh
perusahaan angkutan laut nasional hanya untuk kegiatan bongkar muat barang tertentu
untuk kapal yang dioperasikannya.
 Selain BU yang didirikan khusus kegiatan angkutan perairan pelabuhan dapat dilakukan
oleh perusahaan angkutan laut nasional
 Kegiatan tally yg bukan tally mandiri tsb diatas dpt dilakukan o/ perusahaan angkutan laut
nasional, perusahaan bongkar muat, perusahaan jasa pengurusan transportasi, terbatas
hanya untuk kegiatan cargodoring, receiving/ delivery, stuffing, dan stripping peti kemas
bagi kepentingannya sendiri.

12
 BU yg didirikan utk usaha jasa terkait, wajib memiliki izin usaha.(DJPL-KSOP, UPP)

9. Tarif Angkutan dan Usaha Jasa Terkait (Pasal 35, 36)


 Tarif angkutan di perairan terdiri atas tarif angkutan penumpang & tarif angkutan barang.
 Tarif angkutan penumpang kelas ekonomi ditetapkan oleh Pemerintah.
 Tarif angkutan penumpang nonekonomi ditetapkan oleh penyelenggara angkutan
berdasarkan tingkat pelayanan yang diberikan.
 Tarif angkutan barang ditetapkan oleh penyedia jasa angkutan berdasarkan kesepakatan
antara pengguna jasa dan penyedia jasa angkutan sesuai dengan jenis, struktur, dan
golongan yang ditetapkan oleh Pemerintah
 Tarif usaha jasa terkait ditetapkan oleh penyedia jasa terkait berdasarkan kesepakatan
antara pengguna jasa dan penyedia jasa terkait sesuai dengan jenis, struktur, dan
golongan yang ditetapkan oleh Pemerintah.

10. Kewajiban dan Tanggung Jawab Pengangkut (Pasal 38, 42)


 Wajib Angkut
a. Perusahaan angkutan di perairan wajib mengangkut penumpang dan/atau barang
terutama angkutan pos yang disepakati dalam perjanjian pengangkutan.
b. Perjanjian pengangkutan tersebut dibuktikan dengan karcis penumpang dan
dokumen muatan.
c. Dlm keadaan tertentu Pemerintah memobilisasi (mengerahkan) armada niaga
nasional.
 Tanggung Jawab Pengangkut
1. Perusahaan angkutan di perairan bertangggung jawab terhadap keselamatan dan
keamanan penumpang dan/atau barang yang diangkutnya.
2. Perusahaan angkutan di perairan bertanggung jawab terhadap muatan kapal sesuai
dengan jenis dan jumlah yang dinyatakan dalam dokumen muatan dan/atau
perjanjian atau kontrak pengangkutan yang telah disepakati
 Tanggung jawab akibat pengoperasian kapal, berupa:
a. kematian atau lukanya penumpang yang diangkut;
b. musnah, hilang, atau rusaknya barang yang diangkut;
c. keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang yang diangkut; atau
d. kerugian pihak ketiga.
 Jika dapat membuktikan bahwa kerugian bukan disebabkan oleh kesalahannya, perusahaan
angkutan di perairan dapat dibebaskan sebagian atau seluruh tanggung jawabnya.
 Perusahaan angkutan di perairan wajib mengasuransikan tanggung jawabnya dan
melaksanakan asuransi perlindungan dasar penumpang umum sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
 Perusahaan angkutan di perairan wajib memberikan fasilitas khusus dan kemudahan bagi
penyandang cacat, wanita hamil, anak di bawah usia 5 tahun, orang sakit, orang lanjut usia.
 Pemberian fasilitas khusus dan kemudahan tidak dipungut biaya tambahan.

11. Pengangkutan Barang Khusus dan Barang Berbahaya (Pasal 44-48)


 Pengangkutan barang khusus dan barang berbahaya wajib dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
 Barang khusus berupa:

13
a. kayu gelondongan (logs);
b. barang curah;
c. rel; dan
d. ternak.
 Barang berbahaya berbentuk:
a. bahan cair;
b. bahan padat; dan
c. bahan gas.
 Barang berbahaya diklasifikasikan sbb :
a. Bahan atau barang peledak (explosives);
b. gas-gas yang dimampatkan, dicairkan, atau dilarutkan dengan tekanan (compressed
gases, liquified or dissolved under pressure);
c. cairan mudah menyala atau terbakar (flammable liquids);
d. bahan atau barang padat mudah menyala atau terbakar (flammable solids),
e. bahan atau barang pengoksidasi (oxidizing substances);
f. bahan atau barang beracun dan mudah menular (toxic and infectious substances);
g. bahan atau barang radioaktif (radioactive material);
h. bahan atau barang perusak (corrosive substances); dan
i. berbagai bahan atau zat berbahaya lainnya (miscellaneous dangerous substances).

 Pengangkutan barang berbahaya dan barang khusus wajib memenuhi persyaratan:


a. pengemasan, penumpukan, dan penyimpanan di pelabuhan, penanganan bongkar
muat, serta penumpukan dan penyimpanan selama berada di kapal;
b. keselamatan sesuai dengan peraturan dan standar baik nasional maupun
internasional bagi kapal khusus pengangkut barang berbahaya; dan
c. pemberian tanda-tanda tertentu sesuai dengan barang berbahaya yang diangkut.

 Pemilik, operator, dan/atau agen perusahaan angkutan laut yang mengangkut barang
berbahaya dan barang khusus wajib menyampaikan pemberitahuan kepada Syahbandar
sebelum kapal pengangkut barang khusus dan/atau barang berbahaya tiba di
pelabuhan.

 Badan Usaha Pelabuhan dan Unit Penyelenggara Pelabuhan wajib menyediakan tempat
penyimpanan atau penumpukan barang berbahaya dan barang khusus untuk menjamin
keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas barang di pelabuhan serta bertanggung
jawab terhadap penyusunan sistem dan prosedur penanganan barang berbahaya dan
barang khusus di pelabuhan.

0000

14
III. KESELAMATAN DAN KEAMANAN PELAYARAN
Meliputi : (Pasal 116 s/d 243)
A. Keselamatan dan Keamanan Angkutan di Perairan (Pasal 117-206)
B. Keselamatan dan Keamanan Pelabuhan (Pasal 226-233)
C. Perlindungan Lingkungan Maritim (Pasal 234 – 243)

A. Keselamatan dan Keamanan Angkutan di Perairan (PasaL 117 – 206)


Kondisi terpenuhinya persyaratan: - Kelaiklautan kapal dan Kenavigasian
I. Kelaiklautan Kapal (Pasal 124 -171)
Kelaiklautan kapal wajib dipenuhi setiap kapal sesuai daerah pelayarannya, dan
dibuktikan dengan sertifikat dan surat kapal
Syarat Kelaiklautan Kapal :
a. keselamatan kapal;
b. pencegahan pencemaran dari kapal;
c. pengawakan kapal;
d. kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan penumpang
e. garis muat kapal dan pemuatan
f. status hukum kapal;
g. manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari kapal;
h. manajemen keamanan kapal
ad.a. Keselamatan Kapal
Setiap pengadaan, pembangunan, dan pengerjaan kapal termasuk
perlengkapannya serta pengoperasian kapal di perairan Indonesia harus
memenuhi persyaratan keselamatan kapal.

15
Persyaratan keselamatan kapal dimaksud meliputi:
a. material;
b. konstruksi;
c. bangunan;
d. permesinan dan perlistrikan;
e. stabilitas;
f. tata susunan serta perlengkapan termasuk perlengkapan alat penolong dan radio;
g. elektronika kapal.
Kapal semua jenis dengan ukuran GT 7 atau lebih yang telah memenuhi syarat
keselamatan kapal diberikan sertifikat keselamatan oleh Menteri Perhubungan
kecuali: kapal perang; kapal negara; kapal yg digunakan untuk keperluan olah raga
Sertifikat keselamatan terdiri atas:
 sertifikat keselamatan kapal penumpang;
 sertifikat keselamatan kapal barang;
 sertifikat kelaikan dan pengawakan kapal penangkap ikan .
Keselamatan kapal ditentukan melalui pemeriksaan dan pengujian.
Jenis-jenis sertifikat kapal penumpang antara lain:
1. Sertifikat Keselamatan Kapal Penumpang
meliputi : - keselamatan konstruksi, - perlengkapan- radio kapal
2. Sertifikat Pembebasan :
sertifikat yang memperbolehkan bebas dari beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi).
Jenis-jenis sertifikat keselamatan kapal barang sesuai dengan SOLAS 1974 a.l :
Sertifikat Keselamatan Kapal Barang;
Sertifikat Keselamatan Konstruksi Kapal Barang;
Sertifikat Keselamatan Perlengkapan Kapal Barang;
Sertifikat Keselamatan Radio Kapal Barang; dan
Sertifikat Pembebasan (sertifikat yang memperbolehkan bebas dari beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi).
KAPAL YG TELAH PUNYA SERTIFIKAT
 Dilakukan penilikan secara terus-menerus sampai kapal tidak digunakan lagi.
 Pemeriksaan dan pengujian serta penilikan kapal wajib dilakukan oleh pejabat
pemerintah yang diberi wewenang dan memiliki kompetensi

SERTIFIKAT TIDAK BERLAKU. Apabila:


-masa berlaku sudah berakhir;
-tidak melaksanakan pengukuhan sertifikat (endorsement);
-kapal rusak dan dinyatakan tidak memenuhi persyaratan keselamatan kapal;
-kapal berubah nama;
-kapal berganti bendera;
-kapal tidak sesuai lagi dengan data-data teknis dalam sertifikat keselamatan kapal;
-kapal mengalami perombakan yang mengakibatkan perubahan konstruksi kapal,
---perubahan ukuran utama kapal, perubahan fungsi atau jenis kapal;
-kapal tenggelam atau hilang; atau
-kapal ditutuh (scrapping).

Sertifikat kapal dibatalkan, apabila:


 keterangan dalam dokumen kapal yang digunakan untuk penerbitan sertifikat
ternyata tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya
 kapal sudah tidak memenuhi persyaratan keselamatan kapal
 sertifikat diperoleh secara tidak sah.
WAJIB BERITAHU
Nakhoda / ABK harus memberitahukan kepada Pejabat Pemeriksa Keselamatan
Kapal, apabila mengetahui bahwa kondisi kapal atau bagian dari kapalnya, dinilai
tidak memenuhi syarat keselamatan kapal

16
Pemilik, operator kapal, dan Nakhoda wajib membantu pelaksanaan
pemeriksaan dan pengujian.
 
KLASIFIKASI
Kapal berdasarkan jenis dan ukuran tertentu wajib diklasifikasikan pada badan
klasifikasi untuk keperluan persyaratan keselamatan kapal.
Badan klasifikasi nasional / asing yang diakui dapat ditunjuk melaksanakan
pemeriksaan dan pengujian terhadap kapal untuk memenuhi persyaratan
keselamatan kapal.

LINGKUP KLASIFIKASI, meliputi :


lambung kapal,
instalasi mesin,
instalasi listrik,
perlengkapan jangkar,
instalasi pendingin yang terpasang permanen dan merupakan bagian dari kapal,
semua perlengkapan dan permesinan yang di pakai dalam operasi kapal,
serta sistem konstruksi dan perlengkapan yang menentukan tipe kapal

BIRO KLASIFIKASI
Lembaga klasifikasi kapal yang melakukan pengaturan kekuatan :
 konstruksi dan permesinan kapal,
 jaminan mutu material marine,
 pengawasan pembangunan,
 pemeliharaan, dan
 perombakan kapal
sesuai dgn peraturan klasifikasi (PM 61/2014)

KEGIATAN BIRO KLASIFIKASI


1. Melakukan pengawasan :
- untuk pembangunan kapal baru,
- kapal sedang beroperasi,
- pemberian sertifikasi untuk kapal yang
telah memenuhi persyaratan dari peraturan klasifikasi baik pada bagian
konstruksi maupun permesinan beserta kelengkapannya
2. Mendapatkan wewenang untuk melaksanakan statutoria survei yang dilaksana
kan bertujuan untuk verifikasi sesuai konvensi IMO mengenai keselamatan
pelayaran.
3. Melakukan pengawasan dan memberikan petunjuk dalam perbaikan dan
konversi kapal
NAMA BIRO KLASIFIKASI
Ameican Bureau of Shipping (ABS) (AS Texas 1862)
Bureau Veritas (BV) Perancis aris 1828)
China Classification Society (CCS) (Cina Beijing 1956)
Croatian Register of Shipping (CRS) (Kroasia, Spilit, 1956)
Det Norske Veritas (DNV ) Norwegia 1864)
Germanisher Llyod (GL ) (Jerman, 1867)
DNV-GL. (Norwegia-Jerman Oslo 2013
Indian Register of Shipping (IRS) (India Mumbai 1975)
Korean Register of Shipping (KR) (Korsel, Busan 1960)
Lloyd’s Register (LR) ( London, 1760)
Nippon Kaiji Kyokai (NK/Class NK) (Tokyo 1899)
Polish Register of Shipping (PRS) (Polandia, Gdansk 1936)
Registro Italiano Navale (RINA) (Italia Genoa 1861)
Russian Maritime Register of Shipping (RS) (Rusia, St Petersburg 1913)
Biro Klasifikasi Asing Mendirikan Cabang di Indonesia, syaratnya :

17
Didaftarkan di instansi yang melaksanakan pembinaan bidang keselamatan kapal di
Indonesia dan
Memiliki surveyor WNI pada masing-masing kantor cabang di Indonesia.
BIRO KLASIFIKASI PUNYA PERWAKILAN DI INDONESIA
Ameican Bureau of Shipping (ABS), AS
Bureau Veritas (BV), Perancis
Det Norske Veritas & Germanisher Llyod (DNVGL)
Korean Register of Shipping (KR), KORSEL
Lloyd’s Register (LR), Inggris
Nippon Kaiji Kyokai (NK/Class NK). Jepang
memiliki kantor cabang dibeberapa kota besar di Indonesia.

FUNGSI dan TUGAS BIRO KLASIFIKASI


Melakukan kegiatan-kegiatan :
1. Pengawasan baik untuk pembangunan kapal baru maupun kapal yang sedang
beroperasi
2. Pemberian sertifikasi kapal-kapal yang telah lulus penilaian kesempurnaan
konstruksi dan kelengkapan
3. Kapal yg telah lulus uji kelas akan teregistrasi dan dikelaskan menurut keadaan
teknisnya
4. menangani masalah konstruksi, permesinan, matrial
5. wewenang menjalankan survey yg didasarkan pada
- Load Lines (ILCC 1966)
- SOLAS 74
- IMO Codes (Chemical and Gas Tankers)
- Convention ILO
- MARPOL 73/78)
6. Sertifikasi yang dikeluarkan oleh biro klasifikasi menjadi acuan pihak perusahaan
asuransi
7. Kapal yang mendapatkan kelas dari biro klasifikasi akan memperoleh premi
asuransi yg lebih rendah dibandingkan kapal yg tidak mempunyai sertifikasi kelas
8. Pengawasan menyeluruh dari biro klasifikasi akan memberikan jaminan
keselamatan bagi : - Awak kapal, Penumpang, Pemilik barang.

PELIHARA SERTIFIKAT KAPAL


 Setiap kapal yang memperoleh sertifikat wajib dipelihara sehingga tetap
memenuhi persyaratan keselamatan kapal.
 Pemeliharaan kapal dilakukan secara berkala dan sewaktu-waktu.
 Dalam keadaan tertentu Menteri dapat memberikan pembebasan sebagian
persyaratan yang ditetapkan dengan tetap memperhatikan keselamatan kapal

Kapal sesuai dengan jenis, ukuran, dan daerah-pelayarannya wajib dilengkapi


 perlengkapan navigasi (navigasi elektronika) kapal
 perangkat komunikasi radio dan kelengkapannya
 peralatan meteorologi yg memenuhi persyaratan
 wajib menyampaikan informasi cuaca

Nakhoda yang sedang berlayar dan mengetahui adanya cuaca buruk yang
membahayakan keselamatan berlayar wajib menyebarluaskannya kepada pihak lain
dan/atau instansi Pemerintah terkait.

ad.b. Pencegahan Pencemaran dari Kapal


Setiap kapal yang beroperasi di perairan Indonesia harus memenuhi persyaratan pencegahan
& pengendalian pencemaran. ( teknisnya baca PM 29/2014)

18
Pencegahan dan pengendalian pencemaran ditentukan melalui pemeriksaan dan pengujian.
Kapal yang dinyatakan memenuhi persyaratan pencegahan dan pengendalian pencemaran
diberikan sertifikat oleh Menteri Perhubungan

PENCEMARAN DARI KAPAL


Rusaknya Perairan akibat sengaja / tidak sengaja dari kapal seperti : ( PM.29/2014)
1. tumpahnya minyak,
2. barang cair beracun,
3. muatan berbahaya dalam kemasan,
4. kotoran,
5. sampah
6. udara dari kapal

PENCEGAHAN PENCEMARAN DARI KAPAL


Upaya yg hrs dilakukan Nakoda/AK sedini mungkin untuk menghindari mengurangi
pecemaran:
- tumpahan minyak
- bahan cair beracun
- muatan berbahaya dlm kemasan
- limbah kotran (sewage)
- Sampah (garbage)
- Gas buang dari kapal

PENANGGULANGAN PENCEMARAN DARI PENGOPERASIAN KAPAL


Segala tindakan dilakukan dengan cepat, tepat, terpadu dan terkoordinasi untuk
mengendalikan, mengurangi dan membersihkan :
- tumpahan minyak
- bahan cair beracun
- muatan dari kapal keperairan
untuk meminimalisir kerugian masyarakat dan kerusakan lingkungan laut

TINDAKAN PENCEGAHAN PENCEMARAN MINYAK YG DPT TIMBUL AKIBAT


KECELAKAAN KAPAL
Tindakan pd kapal yg mengalami kecelakaan guna mencegah penyebaran
tumpahan minyak (sbg muatan – sbg bahan bakar kapal) dg cara :
- melokalisir tumpahan minyak
- peyedotan minyak dalam tangki bahan bakar
- pengambilan muatan lainnya yg mencemari laut
- mengangkut bangkai kapal yg menganggu alur

ad.c. Pengawakan Kapal

Dasar hukum
1. UU No.1/2008 ttg Dokumen Identitas Pelaut
2. UU No. 17/2008 Bab IX pasal 135 sd 146 dan pasal 151, 152,
3. PP No. 7 / 2000 tentang Kepelautan
4. Kepmenhub No. KM 30/2008 tentang Dokumen Identitas Pelaut (DIP)
5. Kepmenhub No. KM 70/1998 tentang Pengawakan,
6. PMHub No. PM. 84/2013 Penempatan Pelaut

SYARAT MENJADI PELAUT


1. Memiliki sertifikat kepelatan, berupa :
a. Sertifikat keahlian pelaut (COC) seperti ANT atau ATT
b. Sertifikat keterampilan pelaut (COP) seperti BST, AFF, SCRB, MFA dsb.
2. Sehat jasmani dan rohani. (o/ RS ditunjuk)
3. Sehat jantung, paru, THT dan mata (o/RS ditunjuk)

19
4. Memiliki perjanjian kerja laut (PKL) yang syah
5. Memiliki buku pelaut (Seaman Book) dari Ditjenla
6. Memiliki Paspor kalau mau berlayar di luar negeri
7. Usia minimal 18 tahun (16 tahun)
8. Disijil di Syahbandar dan terdaftar di crew list kapal sesuai nama kapal yg tertulis di PKL.
DOKUMEN IDENTITAS PELAUT
- Buku Pelaut / Seamen Book
- Kartu Identitas Pelaut / SID
(The Seafarers Identity Documents =SID)
- Perjanjian kerja laut.

SUSUNAN AWAK KAPAL NIAGA ( KM 70/1998 Pasal 2 )


Seorang nakhoda, sejumlah perwira dan sejumlah rating
Susunannya berdasarkan :
a. daerah pelayaran
b. Tonase kotor kapal (GT-gross tonnage)
c. ukuran tenaga penggerak kapal (KW=kilowat)

NAMA JABATAN DIKAPA L


 Nakhoda / Pimpinan umum di atas kapal :
- Punyai wewenang dan
- Punya tanggung jawab tertentu sesuai peraturan yg berlaku
 Perwira Kapal (officer/engineer) : para Mualim dan Masinis
Mualim : perwira kapal bagian dek
Masinis : perwira kapal bagian mesin
 Perwira radio = operator radio : perwira yg bertanggungjawab atas tugas jaga radio
 Perwira Keamanan Kapal : Ditunjuk oleh perusahaan salah seorang perwira kapal.

 Awak Kapal :
 semua orang yg bekerja di kapal dan
 terdaftar dlm sijil / crew list
 Anak Buah Kapal / ABK : semua orang yg bekerja dikapal kec. Nakhoda

JABATAN PERWIRA DIKAPAL


 Capten/Nakhoda / Master :
Seorang dari AK menjadi pimpinan umum diatas kapal yg punya wewenang dan
penanggung jawab pelayaran sesuai per-uu-an
 Mualim I
 Perwira kapal bagian dek yg jabatannya setingkat lebih rendah dari Nakhoda kapal
 Sebagai pengganti Nakhoda (sementara),
bilamana Nakhoda kapal tidak cakap (incapacity) untuk melaksanakan tugasnya;
 pengatur muatan, persediaan air tawar dan sebagai pengatur arah navigasi
 KKM (Masinis I)
 Pimpinan dan penanggung jawab atas semua mesin yang ada di kapal baik itu
mesin induk, mesin bantu, mesin pompa, mesin crane, mesin sekoci, mesin
kemudi, mesin freezer dll.
 Masinis II
 Perwira kapal bagian mesin yg jabatannya setingkat lebih rendah dari KKM
 Sebagai pengganti KKM bilamana KKM tdk cakap (incapacity) utk melaksanakan
tugasnya
 bertanggung jawab atas mesin induk

 Tugas Awak Kapal Bagian Dek


1. Nakhoda/Master adalah pimpinan dan penanggung jawab pelayaran sesuai UU.
2. Mualim I/Chief Officer/Chief Mate bertugas pengatur muatan, persediaan air tawar
dan sebagai pengatur arah navigasi

20
3. Mualim 2/Second Officer/Second Mate bertugas membuat jalur/route peta
pelayaran yang akan dilakukan dan pengatur arah navigasi.
4. Mualim 3/Third Officer/Third Mate bertugas sebagai pengatur, memeriksa,
memelihara semua alat alat keselamatan kapal dan juga bertugas sebagai
pengatur arah navigasi.
5. Markonis/Radio Officer/Spark bertugas sebagai operator radio/komunikasi serta
bertanggung jawab menjaga keselamatan kapal dari marabahaya baik itu yang
ditimbulkan dari alam seperti badai, ada kapal tenggelam, dan lain lain.
6. Serang, bosun atau boatswain (Kepala kerja bawahan)
7. Able Bodied Seaman (AB) atau Jurumudi
8. Ordinary Seaman (OS) atau Kelasi atau Sailor
9. Pumpman atau Juru Pompa, khusus kapal-kapal tanker (kapal pengangkut cairan)

 Tugas Awak Kapal Bagian Mesin


1. KKM (Kepala Kamar Mesin)/Chief Engineer, pimpinan dan penanggung jawab atas
semua mesin yang ada di kapal baik itu mesin induk, mesin bantu, mesin pompa,
mesin crane, mesin sekoci, mesin kemudi, mesin freezer, dll.
2. Masinis 2/ Second Engineer bertanggung jawab atas mesin induk
3. Masinis 3/ Third Engineer bertanggung jawab atas semua mesin bantu.
4. Masinis 4/ Fourth Engineer bertanggung jawab atas semua mesin pompa.
5. Juru Listrik/Electrician bertanggung jawab atas semua mesin yang menggunakan
tenaga listrik dan seluruh tenaga cadangan.
6. Mandor (Kepala Kerja Oiler dan Wiper)
7. Fitter atau Juru Las
8. Oiler atau Juru Minyak
9. Wiper (bersih-berih)

 Tugas Awak Kapal Bagian Permakanan


1. Juru masak/ koki bertanggung jawab atas segala makanan, baik itu memasak,
pengaturan menu makanan, dan persediaan makanan.
2. Pelayan/Mess boy bertugas membantu Juru masak

Catatan :
Setiap kapal wajib diawaki oleh Awak Kapal yang memenuhi persyaratan kualifikasi dan
kompetensi sesuai dengan ketentuan nasional dan internasional.
Nakhoda dan ABK untuk kapal berbendera Indonesia harus WNI
Pengecualian AK bukan WNI di kapal berbendera Indonesia dapat diberikan izin sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (PP No.11/2011)

WEWENANG NAKHODA
 Nakhoda KM GT 35/lebih memiliki wewenang penegakan hukum di kapal.
 Nakhoda KM GT 35/lebih bertanggung jawab atas keselamatan, keamanan, dan
ketertiban kapal, pelayar, dan barang muatan. Dan berwenang membuat catatan
kelahiran, kematian, menyaksikan buat surat wasiat diatas kapal

 Nakhoda untuk KM ukuran < GT 35 dan untuk kapal tradisional ukuran < GT 105
dengan konstruksi sederhana, yang berlayar di perairan terbatas bertanggung jawab
atas keselamatan, keamanan dan ketertiban kapal, pelayar, dan barang muatan.
(tidak berwenang dalam Penegakan hukum)

LEPAS TANGGUNG JAWAB NAKHODA


 Nakhoda tidak bertanggung jawab terhadap keabsahan/kebenaran materiil
dokumen muatan kapal.
 Nakhoda wajib menolak dan memberitahukan kepada instansi yang berwenang
apabila mengetahui muatan yang diangkut tidak sesuai dengan dokumen muatan .

21
KEWAJIBAN DAN MENOLAK BAGI NAKHODA
 Nakhoda wajib memenuhi persyaratan pendidikan, pelatihan, kemampuan, dan
keterampilan serta kesehatan.
 Nakhoda wajib berada di kapal selama berlayar.
 Sebelum kapal berlayar, Nakhoda wajib memastikan bahwa kapalnya telah
memenuhi persyaratan kelaiklautan dan melaporkan hal tersebut kepada
Syahbandar.
 Nakhoda berhak menolak untuk melayarkan kapalnya apabila mengetahui kapal
tersebut tidak memenuhi syarat.
 Pemilik atau operator kapal wajib memberikan keleluasaan, kepada Nakhoda untuk
melaksanakan kewajibannya sesuai dengan per-UU-an.

MENYIMPANG DARI RUTE


 Nakhoda berhak menyimpang dari rute untuk tindakan penyelamatan, mengambil
tindakan lainnya yang diperlukan.
 "menyimpang dari rute" dalam rangka penyelamatan dari gangguan cuaca seperti
badai tropis (tropical cyclone) atau taifun (hurricane).
 "tindakan lainnya yang diperlukan" yaitu pertolongan setelah mendengar isyarat
bahaya (distress signal) dari kapal lain yang menyatakan "I'm in danger and
required immediate assitance" (COLREGs)

NAKHODA BERHALANGAN
 Nakhoda KM GT 35 atau lebih, bertugas di kapal sedang berlayar untuk
sementara atau untuk seterusnya tidak mampu melaksanakan tugas, Mualim I
menggantikannya sampai di pelabuhan berikut yang disinggahinya diadakan
penggantian Nakhoda
.
 Dalam hal penggantian Nakhoda disebabkan halangan sementara, penggantian
tidak mengalihkan kewenangan dan tanggung jawab Nakhoda kepada pengganti
sementara
 Dalam hal penggantian Nakhoda disebabkan halangan tetap, Nakhoda pengganti
sementara mempunyai kewenangan dan tanggung jawab

MUALIM I TDK MAMPU MENGGANTIKAN NAKHODA


 Apabila mualim I juga tidak mampu menggantikan Nakhoda yang berhalangan
tersebut, maka Mualim lainnya yang tertinggi dalam jabatan sesuai dengan sijil
menggantikan dan pada pelabuhan berikut yang disinggahinya diadakan
penggantian Nakhoda.
 Apabila seluruh Mualim dalam kapal berhalangan menggantikan Nakhoda, pengganti
Nakhoda ditunjuk oleh dewan kapal (bentuk dewan kapal)

BUKU HARIAN
 Nakhoda kapal motor ukuran GT 35 atau lebih dan Nakhoda untuk kapal
penumpang, wajib menyelenggarakan buku harian kapal.
 Nakhoda kapal motor ukuran GT 35 atau lebih wajib melaporkan buku harian
kapal kepada pejabat pemerintah yang berwenang
dan/atau
atas permintaan pihak-pihak yang berwenang untuk memperlihatkan buku harian
kapal atau memberikan salinannya.
 Buku harian kapal dapat dijadikan sebagai alat bukti di pengadilan.

SIKAP ABK PADA NAKHODA


 ABK wajib menaati perintah Nakhoda secara tepat dan cermat dan
dilarang meninggalkan kapal tanpa izin Nakhoda.
 Bila ABK mengetahui bahwa perintah yang diterimanya tidak sesuai
dengan ketentuan yang berlaku, maka ABK yang bersangkutan berhak

22
mengadukan kepada pejabat pemerintah yang berwenang.

TINDAKAN DISIPLIN
Nakhoda berwenang memberikan tindakan disiplin atas pelanggaran yang
dilakukan setiap ABK yang :
 meninggalkan kapal tanpa izin Nakhoda;
 tidak kembali ke kapal pada waktunya;
 tidak melaksanakan tugas dengan baik;
 menolak perintah penugasan;
 berperilaku tidak tertib; dan/atau
 "berperilaku yang tidak layak" seperti :
 mempengaruhi orang lain untuk mogok kerja, terlambat melakukan
dinas jaga dan/atau melawan perintah atasan.
 mengucapkan kata-kata yang bersifat menghina, memfitnah,
dan/atau tidak santun;
 memiliki minuman keras, material pornografi, dan/atau obat
terlarang; atau
 berjudi, mabuk, dan tindakan asusila.berperilaku tidak layak.

PENUMPANG GELAP
 Selama perjalanan kapal, Nakhoda dapat mengambil tindakan terhadap setiap
orang yang secara tidak sah berada di atas kapal.
 Nakhoda mengambil tindakan apabila orang dan/atau yang ada di dalam kapal
akan membahayakan keselamatan kapal dan Awak Kapal.

LARANGAN MEMPERKERJAKAN ORANG TANPA DI SIJIL


Setiap orang dilarang mempekerjakan seseorang di kapal dalam jabatan apa pun
tanpa disijil dan tanpa memiliki kompetensi dan keterampilan dokumen pelaut yang
dipersyaratkan.

DINAS JAGA DIKAPAL


Setiap pelaut melakukan dinas jaga saat kapal dalam pelayaran di laut. Perwira dek
mulai dari mulaim I sampai mualim III melalukan dinas jaga bersama jurumudi di
anjungan selama 4 jam, perwira mesin, masinis II sampai masinis IV tugas jaga
mengontrol jalannya mesin induk di kamar mesin atau dari ruang kontrol.
Jadwal Dinas Jaga
Waktu Hari ke 1 Hari ke 2 Hari ke 3
O4.00 – 08.00 Tim 1 Tim 1 Tim 1
08.00 – 12.00 Tim 2 Tim 2 Tim 2
12.00 – 16.00 Tim 3 Tim 3 Tim 3
16.00 – 20.00 Tim 1 Tim 1 Tim 1
20.00- 24.00 Tim 2 Tim 2 Tim 2
00.00 – 04.00 Tim 3 Tim 3 Tim 3
6 MASA JAGA SELAMA , dimulai jam 00.00
 Jaga anjungan : 8 jam sehari. (4 jam/jaga)
Larut malam (middle watch) : 00.00 – 04.00 mualim II
Dini hari (morning watch) : 04.00 – 08.00 mualim I/IV
Pagi hari (forenoon watch) : 08.00 – 12.00 mualim III
Siang hari (afternoon watch) : 12.00 – 16.00 mualim II
Sore hari (dog watch) : 16.00 – 20.00 mualim I
Malam hari (first watch) : 20.00 – 24.00 mualim III

1. Di perairan ramai atau berbahaya, waktu cuaca buruk, waktu kabut, atau setiap
keadaan lain yang mengurangi pengelihatan, masuk atau keluar pelabuhan atau
sungai, nahkoda diwajibkan berada di anjungan.

23
2. Mualim dinas (jaga) waktu melakukan jaga laut harus selalu berada di anjungan
dan tidak diperkenankan meninggalkan anjungan tanpa seizin nahkoda.
Sesudah jaga laut ia melakukan ronda dan melaporkan keadaan waktu ronda wajib
ditulis di Journal Kapal.

JAGA DI PELABUHAN pada saat kapal sedang berlabuh/sandar diatur menurut


kepentingannya nahkoda:
1. Jaga mencegah pencurian.
2. Jaga di anjungan.
3. Jaga Kebakaran.
4. Jaga dok, reparasi, las, dll.

ad.d. Kesejahateraan Awak Kapal (PP 7/2000)


Setiap Awak Kapal berhak mendapatkan kesejahteraan yang dinyatakan dalam PKL ,
meliputi:
- gaji;
- jam kerja dan jam istirahat;
- jaminan pemberangkatan ke tempat tujuan dan pemulangan ke tempat asal;
- kompensasi apabila kapal tidak dapat beroperasi karena mengalami kecelakaan;
- kesempatan mengembangkan karier;
- pemberian akomodasi, fasilitas rekreasi, makanan/minuman; dan
- pemeliharaan dan perawatan kesehatan serta pemberian asuransi kecelakaan
kerja

Kesejahteraan kerja dinyatakan dalam perjanjian kerja antara Awak Kapal dengan
pemilik atau operator kapal sesuai dengan peraturan perundang
WAKTU ISTIRAHAT AWAK KAPAL
Setiap awak kapal yang ditugasi jaga harus diberikan waktu istirahat
 minimal 10 jam ( 6 dan 4 ) dlm waktu 24 jam (rata-rata 11 jam dalam 7 hari)
 77 Jam istirahat dalam waktu 7 hari
 Jam istirahat dapat dibagi menjadi tidak lebih dari 2 periode, yang mana salah
satunya  harus berdurasi sedikitnya selama 6 jam dan interval waktu antara periode
yang berlangsung secara terus menerus tidak boleh melampui 14 jam
 Pengurangan jam istirahat menjadi 70 jam dlm 7 hari diperbolehkan utk waktu tdk
lebih dari 2 minggu berturut turut.

KECELAKAAN KERJA
Jika awak kapal setelah dirawat akibat kecelakaan kerja menderita cacat tetap yang
mempengaruhi kemampuan kerja, besarnya santunan ditentukan :
 Cacat tetap yang mengakibatkan kemampuan kerja hilang besarnya santunan
minimal Rp.150.000.000,00
 Cacat tetap yang mengakibatkan kemampuan kerja berkurang besarnya santunan
Sbb :
a. Kehilangan satu lengan : 40%;
b. Kehilangan dua lengan : 100%;
c. Kehilangan satu telapak tangan : 30%;
d. Kehilangan kedua telapak tangan : 80%;
e. Kehilangaan satu kaki dari paha : 40%;
f. Kehilangan dua kaki dari paha : 100%;
g. Kehilangan satu telapak kaki : 30%; x
h. Kehilangan dua telapak kaki : 80%; x Rp.150.juta
i. Kehilangan satu mata : 30%;
j. Kehilangan dua mata : 100%;
k. Kehilangan pendengaran satu telinga : 15%;
l. Kehilangan pendengaran dua telinga : 40%;

24
m. Kehilangan satu jari tangan : 10%
n. Kehilangan satu jari kaki : 5%;

AWAK KAPAL MENINGGAL


Jika awak kapal meninggal dunia, pengusaha angkutan di perairan wajib
membayar santunan :
a. Untuk meninggal karena sakit besarnya santunan min. Rp. 100.000.000,00
b. Untuk meninggal dunia akibat kecelakaan kerja besarnya santunan minimal
Rp 150.000.000,00
SELANJUTNYA BACA PP NO. 7 TAHUN 2000

ad. e. Garis Muat Kapal dan Pemuatan


LOAD LINES CONVENTION 1966
Aturan batas garis muat yg aman bagi keselamatan kapal, pecegahan
kelebihan muatan, keselamatan lambung timbul, stabilitas kapal.
Ratifikasi : Keppres 47/1976 tgl 2-11-1976
Peraturan Presiden No. 84/2017 tentang Pengesahan Protocol of 1988 Relating
to the International Convention on Load Lines, 1966. (Protokol 1988 terkait
dengan Konvensi Internasional tentang Garis Muat Kapal, 1966).

Kapal yang berlayar harus ditetapkan garis muatnya sesuai dengan persyaratan.
Penetapan garis muat kapal dinyatakan dlm Sertifikat Garis Muat.
Pada setiap kapal sesuai dengan jenis dan ukurannya harus dipasang Marka
Garis Muat secara tetap sesuai dengan daerah-pelayarannya.
Setiap kapal yang berlayar harus ditetapkan garis muatnya sesuai dengan
persyaratan.
Penetapan garis muat kapal dinyatakan dalam Sertifikat Garis Muat.
Pada setiap kapal sesuai dengan jenis dan ukurannya harus dipasang Marka Garis
Muat secara tetap sesuai dengan daerah-pelayarannya.
GARIS MUAT / PLIMSOLL (diatur dlm Kepmenhub No KM.3/2005 ttg Lambung
timbul kapal, kemudian diganti dengan Permenhub No. PM 39/2016 ttg Garis
muat kapal dan pemuatan)
Batas Garis muat tidak boleh terbenam pada :
- kapal saat bertolak
- selama dlm pelayaran
- pada waktu tiba di tujuan
sesuai dgn garis muat yg telah ditentukan

Samuel Plimsoll (1824-1898)


anggota Parlemen Inggris yang prihatin dengan hilangnya kapal dan awak kapal karena
overloading muatan kapal.
Pada tahun 1876, dia mengusulkan kepada Parlemen untuk meluluskan Kapal

25
Unseaworthy Bill, dengan cara menandai kapal dengan garis yang akan menghilang di
bawah permukaan air apabila kapal kelebihan muatan (overloading). Garis itu dikenal dg
tanda Plimsoll. Sampai saat ini Plimsoll Mark masih digunakan semua kapal di seluruh
dunia

PEMUATAN
a. Setiap kapal sesuai dgn jenis dan ukurannya hrs dilengkapi dgn informasi
stabilitas untuk memungkinkan Nakhoda menentukan semua keadaan
pemuatan yg layak pada setiap kondisi kapal.
b. Setiap peti kemas yg akan dipergunakan sbg bagian dari alat angkut wajib
memenuhi persyaratan kelaikan peti kemas.

PRINSIP – PRINSIP PEMUATAN 


 Melindungi kapal
 Melindungi muatan 
 Melindungi ABK dan buruh 
 Pemanfaatan ruang muat secara maksimal
 Pemuatan secara sistematis ( cepat dan teratur )

Permenhub nomor PM 39 tahun 2016 init tidak berlaku bagi :


1. Kapal perang.
2. Kapal negara atau kapal pemerintah sepanjang tidak dipergunakan untuk
kegiatan niaga
3. Kapal yacht wisata yang tidak dipergunakan untuk kegiatan niaga
4. kapal penangkap ikan.
5. Kapallayar motor

INFORMASI STABILITAS
a. Setiap kapal ukuran 24 m / lebih dan kapal penumpang semua ukuran harus
dilengkapi dengan buku informasi stabilitas
b. Yang digunakan Nakhoda menentukan semua keadaan pemuatan yang layak
pada setiap setiap kondisi operasi kapal
Tata cara penanganan, penempatan, dan pemadatan muatan barang serta
pengaturan batas harus memenuhi persyaratan keselamatan kapal. (PM 9/2016)

PROSES PEMUATAN
Proses pemuatan dikapal hrs dpt melindungi kapal, muatan, awak kapal,
memperhatikan syarat kecakapan pelaut yg baik (good seaman ship)
Pemuatan tdk boleh melebihi batas marka garis muat yang telah ditenntukn
dalam srtifkat garis muat dan kapal posisi tegak. (PM 39/2016)\

ad. f. Status Hukum Kapal


Status hukum kapal dapat ditentukan setelah melalui proses:
pengukuran kapal PM 8/2013
pendaftaran kapal PM 29/2017
penetapan kebangsaan kapal. PM 29/2017
Konvensi Internasional tentang Pengukuran Kapal1969 (International Convention
on Tonnage Measurement of Ships,1969)
Tonase Kapal adalah.volume kapal yang dinyatakan dalam tonase kotor (gross
tonnage/ GT) dan tonase bersih (net tonnage/NT)
Daftar Ukur adalah daftar yang memuat perhitungan tonase kapal.
Surat Ukur adalah surat kapal yang memuat ukuran dan tonase kapal berdasarkan
hasil pengukuran. (PM. 8 /2013)

26
1. Pengukuran Kapal
Setiap kapal sebelum dioperasikan wajib dilakukan pengukuran oleh
pejabat pemerintah yang diberi wewenang oleh Menteri Perhubungan
Metode pengukuran:
1. Metode pengukuran dalam negeri untuk kapal yang berukuran
panjang kurang dari 24 (dua puluh empat) meter;
2. Metode pengukuran internasional untuk kapal yang berukuran
panjang 24 (dua puluh empat) meter atau lebih;
3. Metode pengukuran khusus untuk kapal yang akan melalui terusan
Suez dan Terusan Panama

Pada kapal yg telah diukur dan mendapat Surat Ukur wajib dipasang Tanda
Selar di kapal yang terlihat oleh umum.
Tanda Selar harus tetap terpasang di kapal dengan baik dan mudah dibaca.
"tanda selar" adalah rangkaian huruf dan angka yang terdiri dari GT,
angka yang menunjukkan besarnya tonase kotor, nomor surat ukur, dan kode
pengukuran dari pelabuhan yang menerbitkan surat ukur .
Contoh : GT 175 No 45/Ba

2. Pendaftaran kapal
Ketentuan kapal yang didaftar :
 Pendaftaran kapal dilakukan di tempat yang ditetapkan oleh Menteri.
 Pemilik kapal bebas memilih salah satu tempat pendaftaran kapal
untuk mendaftarkan kapalnya. 
 Kapal dilarang didaftarkan apabila pada saat yang sama kapal itu
masih terdaftar di tempat pendaftaran lain.
 Kapal asing yang akan didaftarkan di Indonesia harus dilengkapi
dengan surat keterangan penghapusan dari negara bendera asal kapal.

Istilah dalam pendafataran kapal


 Minut Akta adalah asli akta.
 Grosse Akta adalah salinan resmi dari minut akta.
 Sistem Pendaftaran Kapal Elektronik yang selanjutnya disingkat
SPKE adalah sistem pelayanan jasa teknologi informasi pendaftaran
kapal secara elektronik yang diselenggarakan oleh Direktorat
Jenderal. (PM 29/2017)

Pendaftaran kapal
 Kapal yang telah diukur dan mendapat Surat Ukur dapat
didaftarkan di Indonesia oleh pemilik kepada Pejabat Pendaftar
dan Pencatat Balik Nama Kapal yang ditetapkan oleh Menteri Phb
 Kapal yang dapat didaftar di Indonesia yaitu:
Sekurang-kurangnya GT 7
Milik WNI atau BHI dan berkedudukan di Indonesia;
Milik BHI (badan hukum Indonesia) yang merupakan usaha
patungan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh WNI
Bentuk Pendaftaran
 Pendaftaran kapal meliputi:
a. pendaftaran hak milik;
b. pembebanan hipotek; dan
c. pendaftaran hak kebendaan lainnya atas kapal

27
 Pendaftaran hak kebendaan lainnya atas kapal dimaksud meliputi:
a. charter kosong (bare boat charter);
b. sewa guna usaha (leasing).
 Kapal yang telah diukur dan mendapat Surat Ukur dapat didaftarkan
di Indonesia oleh pemilik kepada Pejabat Pendaftar dan Pencatat
Balik Nama Kapal yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan.

Kapal yang didaftar di Indonesia


Pendaftaran hak milik atas kapal dibedakan dlm 3 kategori: (PM 29/2017
a. kapal laut;
b. kapal nelayan;
c. kapal yang berlayar di perairan sungai dan danau
Kategori Kapal Laut
Kapal yang dapat didaftarkan dengan kategori pendaftaran sebagai kapal
laut meliputi:
a. kapal angkutan laut;
b. kapal angkutan penyeberangan;
c. kapal lainnya yang digunakan di laut
Kategori Kapal Nelayan
Meliputi kapal yang digunakan untuk menangkap:
a. Ikan, b. ikan paus, c. anjing laut, d. ikan duyung, e. hewan lainnya yang
hidup di laut
kapal tersebut disamping untuk menangkap ikan, juga digunakan untuk
mengangkut hasil tangkapannya sendiri

Katagori Kapal Berlayar di Sungai dan Danau


Kapal yang berlayar di perairan sungai dan danau meliputi :
kapal yg digunakan di sungai, danau, waduk, kanal, terusan, rawa

TANDA PENDAFTARAN KAPAL

Kapal yang telah didaftar wajib dipasang Tanda Pendaftaran.


"tanda pendaftaran" merupakan rangkaian angka dan huruf yang terdiri dari
angka tahun pendaftaran, kode pengukuran dari tempat kapal didaftar,
nomor urut akta pendaftaran, dan kode kategori kapal.
2008 Pst No. 4999L L = kapal laut, N = kapal nelayan P = kapal sungai dan
danau
GT 175 No 45/Ba Dipasang dikapal ditempat
2008 Pst No. 4999L yang bisa terlihat secara umum

3. Penetaapan Kebangsaan Kapal


Kapal yang didaftar di Indonesia diberikan Surat Tanda Kebangsaan Kapal
Indonesia oleh Menteri Perhubungan
Surat Laut untuk kapal berukuran GT 175 atau lebih;
Pas Besar untuk kapal berukuran GT 7 < GT 175
Pas Kecil untuk kapal berukuran < GT 7
Pas Sungai dan Danau bagi Kapal yg berlayar di perairan sungai & danau

WAJIB MENGIBARKAN BENDERA


 Kapal berkebangsaan Indonesia wajib mengibarkan bendera Indonesi
sebagai tanda kebangsaan kapal.

28
 Kapal berkebangsaan Indonesia dilarang mengibarkan bendera negara
lain sebagai tanda kebangsaan.

 Kapal yang bukan berkebangsaan Indonesia dilarang mengibarkan


bendera Indonesia sebagai tanda kebangsaannya.

IDENTITAS KAPAL
 Setiap kapal yang berlayar di perairan Indonesia harus menunjukkan
identitas kapalnya secara jelas.

 Setiap kapal asing yang memasuki pelabuhan, selama berada di


pelabuhan dan akan bertolak dari pelabuhan di Indonesia, wajib
mengibarkan bendera Indonesia selain bendera kebangsaannya

IDENTITAS KAPAL
"identitas kapal" adalah nama kapal dan pelabuhan tempat kapal
didaftar yang dicantumkan pada badan kapal, bendera kebangsaan yang
dikibarkan pada buritan kapal sesuai dengan Surat Tanda Kebangsaan
yang diberikan oleh Pemerintah negara ybs

ad. g. Manajemen Keselamatan & Pencegahan Pencemaran Dari Kapal


Pemilik atau operator kapal yang mengoperasikan kapal untuk jenis dan ukuran
tertentu harus memenuhi persyaratan manajemen keselamatan dan pencegahan
pencemaran dari kapal.
"kapal untuk jenis dan ukuran tertentu" adalah :
- kapal barang ukuran 500 GT atau lebih
- kapal penumpang semua ukuran
- yang melakukan pelayaran internasional,
ISM CODE = PM 45/2012
sedangkan untuk kapal yang berlayar di dalam negeri jenis dan ukurannya akan
ditetapkan tersendiri. (Dibawah 500 GT berlaku NCVS = KM 65/2009)

Manajemen Keselamatan dan Pencegahan Pencemaran dari kapal


Yaitu satu kesatuan sistem dan prosedur serta mekanisme yang tertulis dan
terdokumentasi bagi perusahaan angkutan laut dan kapal niaga untuk
pengaturan, pengelolaan, pengawasan dan peninjauan ulang serta peningkatan
terus menerus dalam rangka memastikan dan mempertahankan terpenuhinya
seluruh kesesuaian terhadap standar keselamatan dan pencegahan pencemaran
yang dipersyaratkan dalam ketentuan internasional yang terkait dengan
manajemen keselamatan kapal dan pencegahan pencemaran.
Manajemen Keselamatan Kapal
Yaitu manajemen keselamatan dalam pengoperasian kapal yang aman serta
upaya pencegahan pencemaran lingkungan yang diterapkan di
perusahaan dan di kapal.
Sistem Manajemen Keselamatan
Sistem penataan dan pendokumentasian yang memungkinkan personil
menerapkan kebijakan manajemen keselamatan dan perlindungan lingkungan
perusahaan secara efektif
DOKUMEN SISTEM MANAJAMEN KESELAMATAN
(Safety Management System Manual/SMS ManuaL)
Dokumen yang berisikan kebijakan dan prosedur untuk penerapan sistem

29
manajemen keselamatan perusahaan dan kapal
SERTIFIKAT
Kapal yang telah memenuhi persyaratan manajemen keselamatan dan
pencegahan pencemaran dari kapal diberi sertifikat.

Dokumen Penyesuaian Manajemen Keselamatan


(Document of Compliance/DoC)
adalah dokumen pemenuhan yang diterbitkan bagi perusahaan yang telah
memenuhi persyaratan ( PM 45/2012 )

Sertifikat Manajemen Keselamatan (Safety Management Certificate / SMC


adalah sertifikat yang diterbitkan untuk kapal yang membuktikan bahwa
perusahaan dan manajemen diatas kapal bekerja / terselenggara sesuai dengan
sistem manajemen keselamatan yang telah disahkan. ( PM 45/2012 )

2 MACAM SERTIFKAT KAPAL


Sertifikat manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari kapal berupa
 Dokumen Penyesuaian Manajemen Keselamatan (Document of
Compliance/DOC) untuk perusahaan
 Sertifikat Manajemen Keselamat (Safety Management Certificate/ SMC)
untuk kapal.

PENERBITAN SERTIFIKAT
Sertifikat diterbitkan setelah dilakukan audit eksternal oleh pejabat pemerintah
yang memiliki kompetensi atau lembaga yang diberikan kewenangan oleh
Pemerintah.
Sertifikat Manajemen Keselamatan dan Pencegahan Pencemaran diterbitkan oleh
Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri.(DJPL)

ad.h. Manajamen Keamanan Kapal


 Pemilik atau operator kapal yang mengoperasikan kapal untuk ukuran tertentu
harus memenuhi persyaratan manajemen keamanan kapal.
 Kapal yang memenuhi persyaratan manajemen keamanan kapal diberi
sertifikat.
 Sertifikat Manajemen Keamanan Kapal berupa :
 Sertifikat Keamanan Kapal Internasiona
(International Ship Security Certificate/ISSC). (ISPS CODE = PM 134/2016)

"Manajemen Keamanan Kapal"


Satu kesatuan sistem dan prosedur dan mekanisme yang tertulis dan
terdokumentasi bagi perusahaan angkutan laut dan kapal niaga
untuk pengaturan, pengelolaan, pengawasan, dan peninjauan ulang serta
peningkatan terus menerus dalam rangka memastikan terpenuhinya seluruh
kesesuaian terhadap kesiapan kapal menghadapi, mempertahankan, dan
menjaga keamanan kapal dalam rangka meningkatkan keselamatan kapal.

BEBERAPA HAL YG PERLU DIKETAHUI


 Pelabuhan berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi
dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran
 Syahbandar menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran
 Komite Keamanan Pelabuhan (Port Security Committee - PSC )

30
wadah yang terdiri dari seluruh pihak terkait di pelabuhan yang terlibat
dalam penanganan keamanan pelabuhan
 Koordinator PSC adalah Syahbandar atau Kepala kantor UPP yang tugas
operasionalnya dibantu oleh PSO
 Perwira Keamanan Pelabuhan atau Port Security Officerselanjutnya disingkat
PSO adalah pejabat struktural satu tingkat dibawah Syahbandar yang bidang
tugas dan fungsinya terkait dengan penerapan Koda (ISPS Code)

Verifikasi Manajemen Keamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan


adalah verifikasi yang dilakukan secara sistematis terhadap :
pelaksanaan manajemen keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan
kesesuaian persyaratan manajemen keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan
yang telah ditetapkan dan diterapkan secara efektif.

Organisasi Keamanan yang diakui atau (Recognized Security Organization - RSO)


adalah badan hukum yang mempunyai tenaga ahli yang memiliki pengetahuan
keamanan, manajemen resiko, intelijen dibidang kapal dan/atau fasilitas
pelabuhan

Perwira Keamanan Perusahaan (Company Security Officer - CSO)


adalah orang yang ditunjuk oleh perusahan untuk memastikan :
- penilaian keamanan kapal dilaksanakan
- perencanaan keamanan kapal dikembangkan,
diterapkan dan dipelihara
- koordinasi dengan para Perwira
Keamanan Fasilitas Pelabuhan dan Perwira
Keamanan Kapal.

Perwira Keamanan Kapal (Ship Security Officer - SSO)


perwira kapal yang bertanggung jawab kepada nakhoda, ditunjuk oleh
perusahan sebagai penanggungjawab terhadapkeamanan kapal, penerapan,
pemeliharaan dan revisi dari rencana keamanan kapal berkoordinasi dengan
perwira keamanan perusahaan dan perwira keamanan fasilitas pelabuhan .

Perwira Keamanan Fasilitas Pelabuhan (Port Facility Security Officer – PFSO)


adalah petugas yang ditunjuk oleh manajemen perusahaan fasilitas pelabuhan
yang bertanggung jawab terhadap pengembangan, implementasi, revisi dan
pemeliharaan perencanaan keamanan fasilitas pelabuhan bekerjasama dengan
para SSO, CSO dan Pengelola Fasilitas Pelabuhan

Penilaian Keamanan Kapal atau (Security Assessment - SSA )


bagian yang penting dan integral dari proses pengembangan dan pembaharuan
perencanaan keamanan kapal.

Penilaian Keamanan Fasilitas Pelabuhan ( Port Facility Security Assesment - PFSA )


suatu bagian yang penting dan integral dari proses pengembangan dan
pembaharuan perencanaan keamanan fasilitas pelabuhan

Perencanaan Keamanan Kapal (Ship Security Planyang - SSP )


suatu rencana yang dikembangkan untuk memastikan bahwa penerapan dari
langkah-langkah diatas kapal dirancang untuk melindungi orang, muatan
peralatan angkut muatan, gudang perbekalan kapal atau kapal terhadap resiko
suatu gangguan keamanan.

31
.
Perencanaan Keamanan Fasilitas Pelabuhan (Port Facility Security Plan – PFSP )
adalah suatu perencanaan yang dikembangkan untuk memastikan
- penerapan tindakan yang dirancang untuk melindungi kapal dan fasilitas
pelabuhan orang-orang, muatan, peralatan angkut muatan, gudang
perbekalan didalam fasilitas pelabuhan dari resiko suatu gangguan
keamanan

Statement of Compliance of a Port Facility (SoCPF)


adalah suatu pernyataan tertulis dari pemerintah (Designated Authority-DA)
bahwa fasilitas pelabuhan memenuhi persyaratan standart yang
dipersyaratkan dalam ISPS Code.

Designated Authority (DA)


adalah otoritas negara yang ditunjuk oleh Menteri untuk bertanggung
jawab terhadap penerapan Koda di Indonesia.

PENERBIT SERTIFIKAT
Sertifikat diterbitkan setelah dilakukan audit eksternal oleh pejabat pemerintah yang
memiliki kompetensi atau lembaga yang diberikan kewenangan oleh Pemerintah
Sertifikat Manajemen Keamanan Kapal diterbitkan oleh pejabat berwenang yang
ditunjuk oleh Menteri.(DJPL)

SANKSI ADMINISTRATIF (Pasal 171)


Setiap orang yang melanggar ketentuan pasal tertentu Ban VIII dan IX dikenakan sanksi
administratif, berupa:
peringatan;
denda administratif;
pembekuan izin atau pembekuan sertifikat;
pencabutan izin atau pencabutan sertifikat;
tidak diberikan sertifikat; atau
tidak diberikan Surat Persetujuan Berlayar.

II. Kenavigasian (Pasal 172 – 206)


Segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan navigasi
Navigasi adalah proses mengarahkan gerak kapal dari satu titik ke titik yang lain dengan
aman dan lancar serta untuk menghindari bahaya dan/atau rintangan pelayaran.
Kegiatan yang berkaitan dengan navigasi ini adalah
a. Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran;
b. Telekomunikasi-Pelayaran;
c. Pemanduan;
d. Alur dan perlintasan;
e. Hidrografi dan meteorologi;
f. Pengerukan dan reklamasi;
g. Penanganan kerangka kapal; dan
h. Salvage dan pekerjaan bawah air

32
ad.a. Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP)
 Pemerintah bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan keamanan
pelayaran dengan menyelenggarakan SBNP sesuai dengan perkembangan
teknologi.
 Selain untuk menjaga keselamatan dan keamanan pelayaran SBNP, dapat pula
dipergunakan untuk kepentingan tertentu lainnya.
 Penyelenggaraan SBNP wajib memenuhi persyaratan dan standar sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
 Dalam keadaan tertentu, pengadaan SBNP dapat dilaksanakan o/ Badan Usaha.
 SBNP yang diadakan oleh BU diawasi oleh Pemerintah.
 Badan Usaha wajib:
a. memelihara dan merawat SBNP;
b. menjamin keandalan SBNP dengan standar yang telah ditetapkan;
c. melaporkan kepada Menteri tentang pengoperasian SBNP
Larangan :
Setiap orang dilarang merusak atau melakukan tindakan apa pun yang
mengakibatkan tidak berfungsinya SBNP serta fasilitas alur-pelayaran di laut,
sungai, dan danau.
Tanggung Jawab Merusak SBNP
Pemilik dan/atau operator kapal bertanggung jawab pada setiap kerusakan SBNP
dan hambatan di laut, sungai, dan danau yang disebabkan oleh pengoperasian
kapalnya.
Tanggung jawab Pemilik dan/atau operator kapal berupa kewajiban untuk segera
memperbaiki atau mengganti sehingga fasilitas tersebut dapat berfungsi
kembali seperti semula. Perbaikan dan penggantian harus dilakukan
dalam batas waktu 60 hari kalender sejak kerusakan terjadi

Biaya Pemakaian SBNP


Kapal yang berlayar di perairan Indonesia dikenai biaya pemanfaatan SBNP yang
merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Tidak Dikenakan Biaya SBNP
Biaya pemanfaatan SBNP tidak dikenakan bagi kapal negara dan kapal tertentu,
(kapal perang, kapal negara, kapal rumah sakit, kapal yang memasuki suatu
pelabuhan khusus untuk keperluan meminta pertolongan atau kapal yang memberi
pertolongan jiwa manusia, kapal yang melakukan percobaan berlayar, dan kapal
swasta yang melakukan tugas pemerintahan)

ad.b. Telekomunikasi Pelayaran


Pemerintah wajib menjaga keselamatan dan keamanan pelayaran dengan
menyelenggarakan Telekomunikasi-Pelayaran sesuai dengan perkembangan
informasi dan teknologi.
Penyelenggaraan sistem Telekomunikasi-Pelayaran wajib memenuhi persyaratan
dan standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pengadaan Telekomunikasi-Pelayaran sebagai bagian dari penyelenggaraan dapat
dilaksanakan oleh Badan Usaha.
Telekomunikasi-Pelayaran yang diadakan oleh BU diawasi oleh Pemerintah
Setiap orang dilarang merusak atau melakukan tindakan apa pun yang
mengakibatkan tidak berfungsinya Telekomunikasi-Pelayaran serta fasilitas alur-
pelayaran di laut, sungai, dan danau.

33
Pemilik dan/atau operator kapal bertanggung jawab pada setiap kerusakan
Telekomunikasi-Pelayaran dan hambatan di laut, sungai dan danau yang
disebabkan oleh pengoperasian kapalnya.
Tanggung jawab Pemilik dan/atau operator kapal berupa kewajiban untuk segera
memperbaiki atau mengganti sehingga fasilitas tersebut dapat berfungsi kembali
seperti semula.
Perbaikan dan penggantian dilakukan dalam batas waktu 60 hari kalender sejak
kerusakan terjadi.
Badan Usaha wajib:
a. memelihara dan merawat Telekomunikasi-Pelayaran;
b. menjamin keandalan Telekomunikasi-Pelayaran dengan standar yang
telah ditetapkan; dan
c. melaporkan kepada Menteri tentang pengoperasian Telekomunikasi-
Pelayaran.

Pungut Biaya
Kapal yang berlayar di perairan Indonesia dikenai biaya pemanfaatan
Telekomunikasi-Pelayaran yang merupakan PNBP
Biaya pemanfaatan Telekomunikasi-Pelayaran dikenakan bagi seluruh kapal.

Pelayanan Pemerintah
Pemerintah wajib memberikan pelayanan komunikasi mara bahaya, komunikasi
segera, dan keselamatan serta siaran tanda waktu standar
“komunikasi marabahaya” adalah komunikasi yang menunjukkan adanya stasiun
atau unit bergerak atau orang lain dalam keadaan benar-benar bahaya dan
membutuhkan pertolongan segera
(MAYDAY MAYDAY MAYDAY).
"komunikasi segera" adalah komunikasi yang berisikan informasi untuk meminta
pertolongan terhadap orang yang sakit di atas kapal atau informasi untuk
meminta pertolongan terhadap orang jatuh di laut (PAN PAN PAN).
"komunikasi keselamatan" adalah informasi tentang :
 adanya pergeseran posisi SBNP, padamnya SNP, adanya pengeboran minyak
pada suatu posisi di alur-pelayaran, munculnya sebuah karang,
 adanya benda terapung yang membahayakan-pelayaran, dukungan untuk
operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue); atau
pelaporan adanya kapal misterius (phantom ship
(SECURITY SECURITY SECURITY)

ad.c. Pemanduan
 Untuk kepentingan keselamatan dan keamanan berlayar, serta kelancaran
berlalu lintas di perairan dan pelabuhan, Pemerintah menetapkan perairan
tertentu sebagai ;
“perairan wajib pandu"
suatu wilayah perairan yang karena kondisinya wajib dilakukan pemanduan
bagi kapal berukuran GT 500 atau lebih.

34
"perairan pandu luar biasa“wilayah perairan yang karena kondisi perairannya
tidak wajib dilakukan pemanduan tetapi apabila Nakhoda memerlukan
dapat mengajukan permintaan jasa pemanduan
 Penyelenggaraan pemanduan tersebut dipungut biaya,
kecuali kapal perang, kapal negara digunakan u/ tugas negara
 Setiap kapal yang berlayar di perairan wajib pandu dan perairan pandu luar
biasa wajib menggunakan jasa pemanduan.
 Penyelenggaraan pemanduan dilakukan oleh OP atau UPP dan dapat
dilimpahkan kepada BUP yang memenuhi persyaratan.
Penyelenggaraan pemanduan dipungut biaya
 Dalam hal Pemerintah belum menyediakan jasa pandu di perairan wajib pandu
dan perairan pandu luar biasa, pengelolaan dan pengoperasian pemanduan
dapat dilimpahkan kepada pengelola terminal khusus yang memenuhi
persyaratan dan memperoleh izin dari Pemerintah.
 Biaya pemanduan dibebaskan bagi:
a. kapal perang; dan
b. kapal negara yang digunakan untuk tugas pemerintahan.
 Petugas Pandu wajib memenuhi persyaratan kesehatan, keterampilan, serta
pendidikan dan pelatihan yang dibuktikan dengan sertifikat.
 Petugas Pandu wajib melaksanakan tugasnya berdasarkan pada standar
keselamatan dan keamanan pelayaran.
 Pemanduan terhadap kapal tidak mengurangi wewenang dan tanggung jawab
Nakhoda.

Ad.d. Alur dan Perlintasan


 Alur dan perlintasan terdiri atas:
a. alur-pelayaran di laut; dan
b. alur-pelayaran sungai dan danau.
 Alur-pelayaran dicantumkan dalam peta laut dan buku petunjuk-pelayaran
serta diumumkan oleh instansi yang berwenang.
 Pada alur-pelayaran sungai dan danau ditetapkan kriteria klasifikasi alur.

 Penetapan kriteria klasifikasi alur-pelayaran sungai dan danau dilakukan


dengan memperhatikan saran dan pertimbangan teknis dari Menteri yang
terkait Penyelenggaraan alur-pelayaran dilaksanakan oleh Pemerintah.
 Badan Usaha dapat diikutsertakan dalam sebagian penyelenggaraan alur-pel

35
 Untuk penyelenggaraan alur-pelayaran, Pemerintah wajib:
a. menetapkan alur-pelayaran;
b. menetapkan sistem rute;
c. menetapkan tata cara berlalu lintas; dan
d. menetapkan daerah labuh kapal sesuai dengan kepentingannya.

 Untuk membangun dan memelihara alur-pelayaran dan kepentingan lainnya


dilakukan pekerjaan pengerukan dengan memenuhi, persyaratan teknis.
Persyaratan teknis meliputi:
a. keselamatan berlayar;
b. kelestarian lingkungan;
c. tata ruang perairan; dan
d. tata pengairan untuk pekerjaan di sungai dan danau.

 Untuk kepentingan keselamatan dan kelancaran berlayar pada perairan


tertentu, Pemerintah menetapkan sistem rute yang meliputi:
a. skema pemisah lalu lintas di laut;
b. rute dua arah;
c. garis haluan yang dianjurkan;
d. rute air dalam;
e. daerah yang harus dihindari;
f. daerah lalu lintas pedalaman; dan
g. daerah kewaspadaan
 Penetapan sistem rute didasarkan pada:
a. kondisi alur-pelayaran; dan
b. pertimbangan kepadatan lalu lintas.
 Sistem rute harus dicantumkan dalam peta laut dan buku petunjuk-pelayaran
dan diumumkan oleh instansi yang berwenang.
 Tata cara berlalu lintas di perairan dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
 Setiap alur-pelayaran wajib dilengkapi dengan Sarana Bantu Navigasi-
Pelayaran dan Telekomunikasi-Pelayaran.

 Selama berlayar Nakhoda wajib mematuhi ketentuan yang berkaitan


dengan:
 tata cara berlalu lintas;
 alur-pelayaran;
 sistem rute;
 Daerah-Pelayaran Lalu Lintas Kapal; dan
 Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran.

 Nakhoda yang berlayar di perairan Indonesia pada wilayah tertentu wajib


melaporkan semua informasi melalui Stasiun Radio Pantai (SROP) terdekat.

 Pemerintah menetapkan Alur Laut Kepulauan Indonesia dan tata cara


penggunaannya untuk perlintasan yang sifatnya terus menerus, langsung, dan
secepatnya bagi kapal asing yang melalui perairan Indonesia.

36
Penetapan Alur Laut Kepulauan Indonesia dilakukan dengan memperhatikan:
ketahanan nasional;
keselamatan berlayar;
eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam;
jaringan kabel dan pipa dasar laut;
konservasi sumber daya alam dan lingkungan
rute yang biasanya digunakan untuk pelayaran internasional;
tata ruang laut; dan
rekomendasi organisasi internasional yang berwenang.

Semua kapal asing yang menggunakan Alur Laut Kepulauan Indonesia dalam
pelayarannya tidak boleh menyimpang kecuali dalam keadaan darurat.
Pemerintah mengawasi lalu lintas kapal asing yang melintasi Alur Laut
Kepulauan Indonesia.
Pemerintah menetapkan lokasi SBNP dan Telekomunikasi-Pelayaran untuk
melakukan pemantauan terhadap lalu lintas kapal asing yang melalui Alur Laut
Kepulauan Indonesia.
Untuk kepentingan keselamatan berlayar di perairan Indonesia:
a. Pemerintah harus menetapkan dan mengumumkan zona keamanan dan zona
keselamatan pada setiap lokasi kegiatan yang dapat mengganggu keselamatan
berlayar;
b. setiap membangun, memindahkan, dan/atau membongkar bangunan atau
instalasi harus memenuhi persyaratan keselamatan dan mendapatkan izin dari
Pemerintah;
c. setiap bangunan atau instalasi dimaksud dalam huruf b, yang sudah tidak
digunakan wajib dibongkar oleh pemilik bangunan atau instalasi;
d. pembongkaran dilaksanakan dengan ketentuan yang berlaku dan dilaporkan
kepada Pemerintah untuk diumumkan; dan
e. pemilik atau operator yang akan mendirikan bangunan atau instalasi wajib
memberikan jaminan.
( e, f, g,h, pelajari sendiri )

B. Keselamatan dan Keamanan Pelabuhan (Pasal 120-122)


Pembangunan dan pengoperasian pelabuhan dilakukan dengan tetap memperhatikan
keselamatan dan keamanan :
- kapal yang beroperasi di pelabuhan,
- bongkar muat barang,
- naik turun penumpang
- keselamatan dan keamanan pelabuhan

Keselamatan dan keamanan pelabuhan adalah kondisi terpenuhinya manajemen


keselamatan dan sistem pengamanan fasilitas pelabuhan, meliputi : (lihat ISPS Code)

 prosedur pengamanan fasilitas pelabuhan


adalah prosedur pengamanan di fasilitas pelabuhan pada semua tingkatan keamanan
(security level).

 sarana dan prasarana pengamanan pelabuhan;


Sarana dan prasarana pengamanan fasilitas pelabuhan meliputi pagar pengaman,
pos penjagaan, peralatan monitor, peralatan detektor, peralatan komunikasi, dan
penerangan.

37
 sistem komunikasi;
adalah tata cara berhubungan atau komunikasi internal fasilitas pelabuhan,
komunikasi antara koordinator keamanan pelabuhan dengan fasilitas pelabuhan dan
dengan instansi terkait

 personel pengamanan
adalah personel yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan
pengamanan sesuai dengan manajemen pengamanan (International Ship and Port
Facility Security Code/ISPS Code).

C. Perlindungan Lingkungan Maritim (Pasal 123)


Kondisi terpenuhinya prosedur dan persyaratan pencegahan dan penanggulangan
pencemaran dari kegiatan
 kepelabuhanan;
 pengoperasian kapal;
 pengangkutan limbah, bahan berbahaya, dan beracun di perairan;
 pembuangan limbah di perairan;
 penutuhan kapal
Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritim (Pasal 226)
Dilakukan o/ Pemerintah, melalui:
 pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari pengoperasian kapal; dan
 pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari kegiatan kepelabuhanan.
 perlindungan lingkungan maritim juga dilakukan terhadap pembuangan limbah di
perairan dan penutuhan kapal
Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran dari Pengoperasian Kapal
 Setiap Awak Kapal wajib mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran
lingkungan yang bersumber dari kapal. (Pasal 227)
 Kapal dengan jenis dan ukuran tertentu yang di operasikan wajib dilengkapi
peralatan dan bahan penanggulangan pencemaran minyak dari kapal yang
mendapat pengesahan dari Pemerintah. (pasal 228)
 Kapal dengan jenis dan ukuran tertentu yang di operasikan wajib dilengkapi pola
penanggulangan pencemaran minyak dari kapal yang mendapat pengesahan dari
Pemerintah.(Pasal 228)
LARANGAN BAGI KAPAL (Pasal 229)
 Setiap kapal dilarang melakukan pembuangan limbah, air balas, kotoran,
sampah, serta bahan kimia berbahaya dan beracun ke perairan.
 Kecuali dalam hal jarak pembuangan, volume pembuangan, dan kualitas
buangan telah sesuai dengan syarat yg ditetapkan dalam ketentuan Per-UU-an.
 Setiap kapal dilarang mengeluarkan gas buang melebihi ambang batas sesuai
dengan ketentuan per-UU-an
Pencegahan Pencemaran dari Kapal
Upaya yg dilakukan Nakhoda, awak kapal sedini mungkin, Untuk menghindari atau
mengurangi :
 pencemaran tumpahan minyak,
 bahan cair beracun,
 muatan berbahaya dlm kemasan,
 limbah kotoran (sewege),
 sampah (garbage) dan
 gas buang dari kapal
ke perairan dan udara (PP 21/2010)

38
Penanggulangan Pencemaran dari Pengoperasian Kapal
Segala tindakan yg dilakukan secara cepat, tepat dan terpadu serta terkoordinasi untuk :
mengendalikan, mengurangi, membersihkan tumpahan minyak atau bahan cair beracun
dari kapal ke perairan untuk meminimalisasi kerugian masyarakat dan kerusakan
lingkungan laut
 Nakhoda bertanggungjawab menanggulangi pencemaran yg bersumber dari kapal
 Otoritas Pelabuhan , UPP, BUP, Pengelola Terminal Khusus Wajib menanggulangi
pencemaran yg bersumber dari kegiatannya
Pemilik, operator kapal bertanggung jawab atas biaya yg diperlukan dlm penanganan
penanggulangan kerugian yg timbul akibat pencemaran dari kapalnya
Pemilik, operator kapal yg membawa minyak Wajib bertangung jawab untuk mengganti
kerugian pihak ke 3 yg disebabkan oleh pencemaran minyak yg berasal dari kapalnya.
SANKSI BAGI NAKHODA
Nahoda yg tdk melaksanakan kewajibannya
a. Tdk melaporkan terjadinya pencemaran ke Syahbandar
b. Tidak melakukan penanggulangan pencemaran dari kapalnya
dikenakan sanksi administratif berupa pembekuan sertifkat keahlian pelaut selama 1
thn

TANGGUNG JAWAB (Pasal 230)


 Setiap Nakhoda atau penanggung jawab unit kegiatan lain di perairan bertanggung
jawab menanggulangi pencemaran yang bersumber dari kapal dan/atau
kegiatannya.
 Setiap Nakhoda atau penanggung jawab unit kegiatan lain di perairan wajib segera
melaporkan kepada Syahbandar terdekat dan/atau unsur Pemerintah lain yang
terdekat mengenai terjadinya pencemaran perairan yang disebabkan oleh kapalnya
atau yang bersumber dari kegiatannya, apabila melihat adanya pencemaran dari
kapal, dan/atau kegiatan lain di perairan.
 Unsur Pemerintah lainnya yang telah menerima informasi tadinya pencemaran
wajib meneruskan laporan mengenai adanya pencemaran perairan kepada
Syahbandar terdekat atau kepada institusi yang berwenang.
 Syahbandar segera meneruskan laporan tersebutkepada institusi yang berwenang
untuk penanganan lebih lanjut.

Tanggung Jawab Operator/pemilik (Pasal 231)


 Pemilik atau operator kapal bertanggung jawab terhadap pencemaran yang
bersumber dari kapalnya.
 Untuk memenuhi tanggung jawab tersebut pemilik atau operator kapal wajib
mengasuransikan tanggung jawabnya.

PENGANGKUTAN LIMBAH B3 (Pasal 233)


 Pengangkutan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dengan kapal wajib
memperhatikan spesifikasi kapal untuk pengangkutan limbah.
 Spesifikasi kapal tersebut dan tata cara pengangkutan limbah B3 wajib memenuhi
persyaratan yang ditetapkan oleh Menteri.
 Kapal yang mengangkut limbah B3 wajib memiliki SOP tanggap darurat sesuai
dengan ketentuan per-UU-an.
 Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran dari Kegiatan Kepelabuhanan
 Pengoperasian pelabuhan wajib memenuhi persyaratan untuk mencegah timbulnya
pencemaran yang bersumber dari kegiatan di pelabuhan. (Pasal 234)

39
KEWAJIBAN PIHAK PELABUHAN (Pasal 235, 236, 237)
 Setiap pelabuhan wajib memenuhi persyaratan peralatan penanggulangan
pencemaran sesuai dengan besaran dan jenis kegiatan.
 Setiap pelabuhan wajib memenuhi persyaratan bahan penanggulangan pencemaran
sesuai dengan besaran dan jenis kegiatan.
 OP wajib memiliki standar dan prosedur tanggap darurat penanggulan pencemaran.
 OP, UPP, BUP, dan pengelola terminal khusus wajib menanggulangi pencemaran
yang diakibatkan oleh pengoperasian pelabuhan.
 Untuk menampung limbah yang berasal dari kapal di pelabuhan, OP, UPP. BUP, dan
Pengelola Terminal Khusus wajib dan bertanggung jawab menyediakan fasilitas
penampungan limbah.
 Manajemen pengelolaan limbah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan.
 Pengangkutan limbah ke tempat pengumpulan, pengolahan, dan pemusnahan akhir
dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dan
Lingungan Hidup.
Pembuangan Limbah di Perairan (Pasal 239, 240)
 Pembuangan limbah di perairan hanya dapat dilakukan pada lokasi tertentu yang
ditetapkan oleh Menteri dan memenuhi persyaratan tertentu.
 Pembuangan limbah tersebut wajib dilaporkan kepada institusi yang tugas dan
fungsinya di bidang penjagaan laut dan pantai
Penutuhan Kapal (Pasal 241242)
 Penutuhan kapal wajib memenuhi persyaratan perlindungan lingkungan maritim.
 Lokasi penutuhan kapal ditentukan oleh Menteri.
 Persyaratan perlindungan lingkungan maritim untuk kegiatan penutuhan kapal
diatur dengan Peraturan Menteri

Sanksi Administratif (Pasal 243)


a. peringatan;
b. denda administratif;
c. pembekuan izin; atau
d. pencabutan izin.
0000

40
IV. KEPELABUHANAN

1. Dasar :
a. UU No. 17 /2008 Bab VII pasal 67 – 115
b. PP No. 61 /2009 ttg Kepelabuhan
c. PM No. 51 /2015 ttg Penyelenggaraan Pelabuhan Laut

2. KEPELABUHANAN
Segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi pelabuhan untuk menunjang :
 kelancaran, keamanan, dan ketertiban arus lalu lintas kapal, penumpang dan/atau barang,
 keselamatan dan keamanan berlayar,
 empat perpindahan intra-dan/atau antarmoda
 mendorong perekonomian nasional dan daerah
dengan tetap memperhatikan tata ruang wilayah.

3. PELABUHAN
Sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan :
 tempat kapal bersandar,
 naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat barang,
 tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi.

4. PERAN PELABUHAN
1. simpul dalam jaringan transportasi sesuai dengan hierarkinya;
2. pintu gerbang kegiatan perekonomian;
3. tempat kegiatan alih moda transportasi;
4. penunjang kegiatan industri dan/atau perdagangan;
4. tempat distribusi, produksi, dan konsolidasi muatan atau barang; dan
5. mewujudkan Wawasan Nusantara dan kedaulatan negara

5. FUNGSI PELABUHAN
Pelabuhan berfungsi sebagai tempat kegiatan
A. Pemerintahan (PUBLIK)
 pengaturan dan pembinaan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan
kepelabuhanan,
(OP/UPP ATAU Kabid Kepelabuhanan di KSOP)
 keselamatan dan keamanan pelayaran (Syahbandar)
 Kepabeanan (Bea dan Cukai
 Keimigrasian ( Imigrasi )
 Kekarantinaan (Karantina)
B. Pengusahaan (KOMERSIL – PERDATA)
Kegiatan pengusahaan di pelabuhan terdiri atas :
1. penyediaan dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanan
2. jasa terkait dengan kepelabuhanan.

6. JENIS PELABUHAN
1. Pelabuhan laut
pelabuhan untuk melayani kegiatan angkutan laut dan/atau angkutan penyeberangan
yang terletak di laut atau di sungai.
2. Pelabuhan sungai dan danau
pelabuhan untuk melayani angkutan sungai dan danau yang terletak di sungai dan
danau.

41
7. HIRARKI PELABUHAN
Hirarki Pelabuhan laut
1. Pelabuhan utama
2. Pelabuhan pengumpul
3. Pelabuhan pengumpan

ad. 1. Pelabuhan Utama


Melayani kegiatan :
a. Angkutan laut dalam negeri dan internasional
b. Alih muat angkutan laut dalam negeri dan internasional dalam jumlah besar
c. Tempat asal tujuan penumpang/barang
d. Angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antar provinsi

ad. 2. Pelabuhan Pengumpul


Melayani kegiatan :
a. angkutan laut dalam negeri
b. alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah menengah
c. tempat asal tujuan penumpang dan barang,
d. angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antar provinsi.

Ad. 3. Pelabuhan Pengumpan


Melayani kegiatan :
a. angkutan laut dalam negeri,
b. alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah terbatas,
c. merupakan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul,
d. tempat asal tujuan penumpang dan barang,
e. angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan dalam provinsi

8. KEGIATAN PEMERINTAHAN DI PELABUHAN


a. pengaturan dan pembinaan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan
(dilaksanakan oleh Otoritas Pelabuhan – OP Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Mas,
Soekarno Hatta Makasar)
b. Keselamatan dan keamanan pelayaran (dilaksanakan oleh Syahnbandar Utama, KSOP)
c. Kepabeanan, (dilaksanakan oleh Ditjen Bea dan Cukai, Kemenkeu)
d. Keimigrasian (dilaksanakan oleh Ditjen Imigarasi, Kemenkumham))
e. Kekarantinaan (Kemenkes utk karantina manusia, Kementan utk tumbuh2an dan
hewan)
f. kegiatan pemerintahan lainnya yang keberadaannya bersifat tidak tetap

9. PENYELENGGARA PELABUHAN (OP-UPP-KSOP)


Tugasnya Dibidang : pengaturan dan pembinaan, pengendalian, dan pengawasan
kegiatan kepelabuhanan

a. Otoritas Pelabuhan (OP)


dibentuk pada pelabuhan yg diusahakan secara komersial
(Pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan, Makasar)
Tanggung jawab pada Menteri Perhubungan
1) Tugas dan Tanggung Jawab OP
- menyediakan lahan daratan dan perairan pelabuhan
- menyediakan dan memelihara penahan gelombang, kolam pelabuhan, alur-
pelayaran, dan jaringan jalan

42
- menyediakan dan memelihara Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SB
- menjamin keamanan dan ketertiban di pelabuhan
- menjamin dan memelihara kelestarian lingkungan di pelabuhan
- menyusun Rencana Induk Pelabuhan, serta Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan
Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan (DLKp)
- mengusulkan tarif untuk ditetapkan Menteri Perhubungan
- menjamin kelancaran arus barang

2) Wewenang OP
- mengatur dan mengawasi penggunaan lahan daratan dan perairan pelabuhan;
- mengawasi penggunaan Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah
Lingkungan Kepentingan Pelabuhan (DLKp)
- mengatur lalu lintas kapal ke luar masuk pelabuhan melalui pemanduan kapal;
- menetapkan standar kinerja operasional pelayanan jasa kepelabuhanan

b. 1. Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP milik pemerintah pusat )


dibentuk pada pelabuhan yang belum diusahakan secara komersial.
Unit Penyelenggara Pelabuhan Pemerintah Pusat bertanggung jawab pd Menteri
Perhubungan elalui Dirjen Perhubungan Laut (PM 130/2015)

2. Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP milikpemerintah daerah)


Untuk kewenangan provinsi tanggungjawab pada Gubernur
Untuk kewenangan kabupaten tanggung jawab pada Bupati
Untuk kewenangan kota tanggung jawab pada Walikota

Tugas : - melaksanakan pengaturan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan


kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan pelayaran pada
pelabuhan,
 penyediaan dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanan yang belum
diusahakan secara komersial.
Tanggung Jawab UPP
- menyediakan dan memelihara penahan gelombang, kolam pelabuhan, dan
alur pelayaran
- menyediakan dan memelihara Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP)
- menjamin keamanan dan ketertiban di pelabuhan
- memelihara kelestarian lingkungan di pelabuhan
- menyusun Rencana Induk Pelabuhan, serta Daerah Lingkungan Kerja (DLKr)
dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan (DLKp)
- menjamin kelancaran arus barang
- menyediakan fasilitas pelabuhan
- Rencana Induk Pelabuhan
- pengaturan ruang pelabuhan berupa peruntukan rencana tata guna tanah dan
perairan di Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan
Kepentingan pelabuhan (DLKp)

Fungsi  UPP
- Penyiapan bahan penyusunan rencana induk pelabuhan serta Daerah
Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp)
pelabuhan;
- Penyediaan dan pemeliharaan penahan gelombang, kolam pelabuhan, alur
pelayaran, dan sarana bantu navigasi pelayaran;
- Penjaminan kelancaran arus barang, penumpang dan hewan;

43
-  Pengaturan, pengendalian, dan pengawasan usaha jasa terkait dengan
kepelabuhanan dan angkutan di perairan;
-   Penyediaan fasilitas pelabuhan dan jasa pemanduan dan penundaan;
- Penjaminan Keamanan dan Ketertiban di Pelabuhan;
- Penjaminan Kelestarian Lingkungan di Pelabuhan
- Penyiapan bahan pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran dan
- Pengelolaan urusan tata usaha, kepegawaian, keuangan, hukum dan
hubungan masyarakat.

 Daerah Lingkungan Kerja (DLKr)


wilayah perairan dan daratan pada pelabuhan atau terminal khusus yang
digunakan secara langsung untuk kegiatan pelabuhan.

 Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp)


perairan di sekeliling daerah lingkungan kerja perairan pelabuhan yang
dipergunakan untuk menjamin keselamatan pelayaran.

c. K S O P Dibidang OP
mempunyai tugas melaksanakan pengaturan, pengendalian, dan pengawasan
kegiatan kepelabuhanan pada pelabuhan yang diusahakan secara komersial.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, KSOP menyelenggarakan fungsi :
(Permenhub Nomor PM 36 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja KSOP)
1. Pelaksanaan pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran terkait dengan
kagiatan bongkar muat barang berbahaya, barang khusus, limbah bahan
berbahaya dan beracun (B3), pengisian bahan bakar, ketertiban embarkasi dan
debarkasi penumpang, pembangunan fasilitas pelabuhan, pengerukan dan
reklamasi, laik layar dan kepelautan, tertib lalu lintas kapal di perairan pelabuhan
dan alur pelayaran, pemanduan dan penundaan kapal,
2. Pelaksanaan penyusunan Rencana Induk Pelabuhan, Daerah Lingkungan Kerja
dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan, serta pengawasan
penggunanannya, pengusulan tarif untuk ditetapkan Menteri;
3. Pelaksanaan penyediaan, pengaturan dan pengawasan penggunaan lahan
daratan dan perairan pelabuhan, pemeliharaan penahan gelombang, kolam
pelabuhan, alur pelayaran dan jaringan serta sarana bantu navigasi pelayaran;
4. Pelaksanaan penjaminan dan pemeliharaan kelestarian lingkungan di pelabuhan,
keamanan dan ketertiban, kelancaran arus barang di pelabuhan;
5. Pelaksanaan pengaturan lalu lintas kapal keluar masuk pelabuhan melalui
pemanduan kapal, penyediaan dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanan serta
pemberian konsesi atau bentuk lainnya kepada Badan Usaha Pelabuhan;
6. Penyiapan bahan penetapan dan evaluasi standar kinerja operasional pelayanan
hada kepelabuhanan; dan
7. Pelaksanaan urusan keuangan, kepegawaian dan umum, hukum dan hubungan
masyarakat serta pelaporan.

d. SYAHBANDAR / KSOP

1. Syahbandar
Tugas Pokok ( PM.34 Tahun 2012 pasal 2)
mempunyai tugas melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum di bidang
keselamatan dan keamanan pelayaran, serta koordinasi kegiatan pemerintahan di
pelabuhan.
Fungsi ( PM. 34 Tahun 2012 Pasal 3):

44
 Pelaksanaan· pengawasan dan pemenuhan kelaiklautan kapal, keselamatan,
keamanan dan ketertiban di pelabuhan serta penerbitan Surat Persetujuan
Berlayar;
 Pelaksanaan pengawasan tertib lalu lintas kapal di perairan pelabuhan dan
alur pelayaran;
 Pelaksanaan pengawasan kegiatan alih muat di perairan pelabuhan, kegiatan
salvage dan pekerjaan bawah air, pemanduan dan penundaan kapal;
 Pelaksanaan pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran terkait
dengan kegiatan bongkar muat barang berbahaya, barang khusus, limbah
bahan berbahaya dan beracun (B3), pengisian bahan bakar, ketertiban
embarkasi dan debarkasi penumpang, pembangunan fasillitas pelabuhan,
pengerukan dan reklamasi;
 Pelaksanaan bantuan pencarian dan penye1amatan (Search And Rescue/ SAR),
pengendalian dan koordinasi penanggulangan pencemaran dan pemadaman
kebakaran di pelabuhan serta pengawasan pelaksanaan perlindungan
lingkungan maritim;
 Pelaksanaan pemeriksaan kecelakaan kapal;
 Penegakan hukum di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
 Pelaksanaan koordinasi kegiatan pemerintahan di pelabuhan yang terkait
dengan pelaksanaan pengawasan dan penegakan hukum di bidang
keselamatan dan keamanan pelayaran; dan
 Pengelolaan urusan tata usaha, kepegawaian, keuangan, hukum dan
hubungan masyarakat.
2. KSOP
Tugasnya di bidang Kesyahbandaran (PM 36 tahun 2012) .
 melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum di bidang keselamatan dan
keamanan pelayaran,
 koordinasi kegiatan pemerintahan di pelabuhan .
 membantu tugas SAR di wilayah kerja
Fungsi KSOP : (PM 36 tahun 2012)
1. Pelaksanaan pengawasan dan pemenuhan kelaiklautan kapal, sertifikasi kapal,
pencegahan pencemaran dari kapal dan penetapan status hukum kapal;
2. Pelaksanaan pemeriksaan manajemen keselamatan kapal;
3. Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar;
4. Pelaksanaan pemeriksaan kecelakaan kapal, pencegahan dan pemadaman
kebakaran di perairan pelabuhan, penanganan musibah di laut, pelaksanaan
perlindungan lingkungan maritim dan penegakan hukum di bidang
keselamatan dan keamanan pelayaran;
5. Pelaksanaan koordinasi kegiatan pemerintahan di pelabuhan yang terkait
dengan pelaksanaan pengawasan dan penegakan hukum di bidang
keselamatan dan keamanan pelayaran;
6. Pelaksanaan penyusunan Rencana Induk Pelabuhan, Daerah Lingkungan Kerja
dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan, serta pengawasan
penggunanannya, pengusulan tarif untuk ditetapkan Menteri;
7. Pelaksanaan penjaminan dan pemeliharaan kelestarian lingkungan di
pelabuhan, keamanan dan ketertiban, kelancaran arus barang di pelabuhan;
8. Penyiapan bahan penetapan dan evaluasi standar kinerja operasional
pelayanan kepelabuhanan; dan
9. Pelaksanaan urusan keuangan, kepegawaian dan umum, hukum dan
hubungan masyarakat serta pelaporan.
e. BEA CUKAI / PABEAN

45
Menurut undang - undang, pabean berwenang melakukan pengawasan terhadap
lalu lintas barang yang keluar masuk wilayah pabean Indonesia termasuk barang -
barang terlarang, obat - obatan berbahaya atau narkoba serta memungut bea
terhadap barang yang menurut aturannya dikenakan bea yang bertugas.

Selain itu pabean juga berfungsi sebagai:


 Melakukan pencegahan masuknya barang - barang dari luar negeri tanpa didasari
dokumen - dokumen resmi
 Mengawasi langsung lalu lintas barang - barang ekspor dan impor
 Menindak pelaksanaan kegiatan dalam hal barang - barang ekspor atau impor
yang tidak dilengkapi dengan dokumen - dokumen resmi
 Menarik bea masuk dan keluar untuk barang ekspor dan impor
 Melakukan tindakan sesuai hukum terhadap pembawa barang - barang terlarang
yang masuk ke wilayah negara Indonesia

f. IMIGRASI

Fungsi instansi imigrasi adalah melaksanakan pengawasan lalu lintas orang yang
keluar masuk wilayah negara dengan atau tanpa visa dan berwenang untuk
memeriksa paspor setiap orang yang keluar masuk wilayah negara.

Dan memiliki tugas sebagai berikut:


 Perumusan kebijakan teknis, pemberian bimbingan, pembinaan dan pemberian
perizinan di bidang keimigrasian
 Pelaksanaan keimigrasian sesuai dengan tugas pokok yaitu sebagai aparatur
security dan penegak hukum

g. KARANTINA
Fungsi instansi karantina adalah untuk mengkarantina penyakit menular bagi
hewan maupun tumbuhan. Karantina berwenang memeriksa setiap hewan dan
tumbuhan yang masuk wilayah Indonesia dan dapat menahan untuk
mengkarantina bila diketahui terdapat gejala penyakit menular. Dan instansi
karantina juga bertugas sebagai:
 Upaya perlindungan tanaman dan hewan dalam negeri dari ancaman organisme
pengganggu dari luar negeri
 Sebagai tindakan pengawasan dan pengamatan lebih lanjut terhadap
tumbuhan, hewan dan bagian - bagiannya
 Kegiatan yang berhubungan dengan tindakan pencegahan terhadap meluasnya
penyakit tumbuhan dan hewan ke wilayah negara
 Merupakan kegiatan yang bersifat pelayanan sesuai persyaratan tujuan apabila
diminta

h. KESEHATAN
Instansi kesehatan berfungsi untuk memeriksa penyakit manusia yang memasuki
pelabuhan dan berwenang memeriksa setiap manusia yang masuk ke wilayah
Indonesia serta dapat menahan apabila terbukti mengidap penyakit.
Instansi kesehatan juga bertugas sebagai berikut:
 Memeriksa kelengkapan dokumen kapal dalam hal kesehatan dari awak kapal
 Melakukan penahanan terhadap awak kapal yang terbukti mengidap penyakit
 Mencegaj masuknya penyakit manusia yang berasal dari luar negeri ke wilayah
negara Indonesia

46
 Pemeriksaan merupakan kegiatan rutin yang harus dilakukan terhadap awak
kapal yang berasal dari luar negeri
 Pengamanan teknis atas pelaksanaan tugas pokok Direktorat Jendera

10. KEGIATAN PENGUSAHAAN DI PELABUHAN


1. Kegiatan pengusahaan di pelabuhan :
penyediaan dan/atau pelayanan :
a. jasa kepelabuhanan dan
b. jasa terkait dengan kepelabuhanan.
meliputi penyediaan dan/atau pelayanan jasa kapal, penumpang, dan barang.

2. Kegiatan jasa terkait dengan kepelabuhanan meliputi :


- kegiatan yang menunjang kelancaran operasional
- memberikan nilai tambah bagi pelabuhan

PENYEDIAAN DAN PELAYANAN JASA DI PELABUHAN


 jasa dermaga untuk bertambat
 jasa pengisian bahan bakar dan pelayanan air bersih
 jasa fasilitas naik turun penumpang dan kendaraan
 jasa dermaga untuk pelaksanaan kegiatan bongkar muat barang dan peti kemas;
 jasa gudang dan tempat penimbunan barang, alat bongkar muat, serta peralatan pelabuhan;
 jasa terminal peti kemas, curah cair, curah kering, dan Ro-Ro
 jasa bongkar muat barang
 jasa pusat distribusi dan konsolidasi barang
 jasa penundaan kapal.

Prosedur Layanan Kapal


http://priokport.co.id/index.php/priokport/nav/layanan/layanan_kapal

Layanan kapal dapat digambarkan dengan ilustrasi berikut ini. Misalnya, sebuah kapal barang
hendak masuk ke pelabuhan yang dikelola IPC. Kapal barang tersebut harus berlabuh di luar
pelabuhan, lalu syahbandar memeriksa kelengkapan dokumennya. Tujuannya untuk
menentukan apakah kapal barang tersebut layak laut dan telah memenuhi ketentuan
keselamatan pelayaran. Selain itu petugas bea cukai, imigrasi, serta dinas kesehatan dan
karantina melakukan tugasnya di sini. Sambil menunggu pemeriksaan dari petugas yang
bersangkutan, serta menunggu informasi dari pelabuhan berkaitan dengan bisakah bersandar di
dermaga, maka kapal tersebut dikenakan biaya jasa labuh.

Bila informasi dari dermaga menyatakan ada tempat kosong untuk bersandar, maka kapal
barang tersebut segera berangkat menuju pelabuhan dan dermaga. Untuk menjaga keselamatan
awak dan keamanan kapal, maka mesin kapal dimatikan, karena kedalaman lautnya kian
berkurang.

Kapal barang berjalan dengan mesin mati yang terikat tambang di antara dua kapal tunda yang
berada di depan dan di belakang. Orang yang memandu kapal untuk masuk dan keluar
pelabuhan dinamakan jasa pandu. Perjalanan kapal barang masuk ke pelabuhan menuju
dermaga ini dikenakan biaya jasa tunda dan jasa pandu.

Ketika mendekat dermaga, posisi diambil alih kapal kepil untuk membantu menambatkan kapal
di dermaga. Di sini dikenakan biaya jasa kepil dan jasa tambat. Begitu pula sebaliknya saat kapal
barang berangkat dari dermaga menuju laut lepas, dikenakan biaya jasa kepil, jasa pandu, dan
jasa tunda.

Jasa Labuh
Deskripsi : Jasa yang diberikan terhadap kapal agar dapat berlabuh dengan aman menunggu

47
pelayanan berikut seperti tambat, bongkar muat atau menunggu pelayanan lainnya (docking,
pengurusan dokumen dan lain-lain).
Fitur :
 Menghindari kemungkinan bertabrakan dengan kapal lain yang sedang berlabuh.
 Memastikan kedalaman air agar kapal tidak kandas. Tidak menunggu alur pelayaran.
Jasa Pandu
Deskripsi : Jasa pemanduan kapal sewaktu memasuki alur pelayaran menuju dermaga atau kolam
pelabuhan untuk berlabuh.
Fitur : Untuk menjaga keselamatan kapal, penumpang dan muatannya ketika memasuki alur
pelabuhan.
Jasa Tunda dan Kepil
Deskripsi : Melaksanakan pekerjaan untuk mengikat dan melepaskan tali kapal-kapal yang
berolah gerak akan bersandar atau bertolak dari atau satu dermaga, jembatan,
pelampung, dolphin dan lain-lain.
Jasa Tambat
Deskripsi : Jasa yang diberikan utuk kapal bertambat pada tambatan dan secara teknis dalam
kondisi yang aman, untuk dapat melakukan bongkar muat dengan lancar dan aman.
Fitur : Untuk menghindari ineffisiensi karena penggunaan tambatan tidak optimal.
Jasa Pelayanan Air
Deskripsi : Jasa yang diberikan untuk penyerahan air tawar dari darat ke kapal untuk keperluan
kapal dan Anak Buah Kapalnya.
Jasa Telepon
Deskripsi : Jasa yang diberikan untuk pelayanan telepon extention dari darat ke kapal untuk
kepentingan kapal dan Anak Buah Kapal.

Pengguna Jasa Pelabuhan silahkan klik disini  http://cust.pelindo2.com/

000

48
V. KESYAHBANDARAN

1. Dasar Hukum :
UU No. 17 Tahun 208 Bab XI Psl 207 - 225
PP No. 61/2009 ttg Kepelabuhanan
KM 1/2010 ttg SPB
PM 36/2012/ jo PM 135/2015 jo PM 76/2018 ttg Organisasi dan Tata Kerja Syahbandar

2. SYAHBANDAR
pejabat pemerintah di pelabuhan, diangkat oleh Menteri Perhubungan
 memiliki kewenangan tertinggi untuk menjalankan / melakukan pengawasan ,
penegakan hukum di bidang pelayaran di Pelabuhan
 menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran

3. FUNGSI SYAHBANDAR
 Melaksanakan keselamatan dan keamanan pelayaran yang mencakup :
pelaksanaan, pengawasan, penegakan hukum di bidang :
 angkutan di perairan,
 kepelabuhanan,
 perlindungan lingkungan maritim di pelabuhan.
 Membantu pelaksanaan pencarian dan penyelamatan (Search and Rescue/SAR) di
pelabuhan.

4. TUGAS SYAHBANDAR
a. mengawasi kelaiklautan kapal, keselamatan, keamanan dan ketertiban di pelabuhan
b. mengawasi tertib lalu lintas kapal di perairan pelabuhan dan alur-pelayaran
c. mengawasi kegiatan alih muat di perairan pelabuhan
d. mengawasi kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air
e. mengawasi kegiatan penundaan kapal
f. mengawasi pemanduan
g. mengawasi bongkar muat barang berbahaya serta limbah bahan berbahaya dan beracun
h. mengawasi pengisian bahan bakar
i. mengawasi ketertiban embarkasi dan debarkasi penumpang
j. mengawasi pengerukan dan reklamasi
k. mengawasi kegiatan pembangunan fasilitas pelabuhan;
l. melaks bantuan pencarian dan penyelamatan
m. memimpin penanggulangan pencemaran dan pemadaman kebakaran di pelabuhan; dan
n. mengawasi pelaksanaan perlindungan lingkungan maritim;
o. penegakan hukum di bidang keselamatan dan keamanan (PPNS)

5. KEWENANGAN SYAHBANDAR
a. mengkoordinasikan seluruh kegiatan pemerintahan di pelabuhan;
b. memeriksa dan menyimpan surat, dokumen, dan warta kapal;
c. menerbitkan persetujuan kegiatan kapal di pelabuhan;
d. melakukan pemeriksaan kapal;
e. menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar;
g. melakukan pemeriksaan kecelakaan kapal;
h. menahan kapal atas perintah pengadilan; dan melaksanakan sijil Awak Kapal

6. SYAHBANDAR SELAKU KOORDINATOR KEGIATAN PEMERINTAHAN

49
DIPELABUHAN
Melaksanakan koordinasi kegiatan kepabeanan, keimigrasian, kekarantinaan, dan kegiatan
institusi pemerintahan lainnya.
Koordinasi yang dilaksanakan dalam rangka pengawasan dan penegakan hukum di bidang
keselamatan dan keamanan pelayaran.
Dalam melaksanakan keamanan dan ketertiban di pelabuhan, Syahbandar bertindak selaku
komite keamanan pelabuhan (Port Security Commitee).
Selaku komite keamanan pelabuhan Syahbandar dapat meminta bantuan kepada POLRI /
TNI tetapi tetap di bawah koordinasi kewenangan syahbandar

7. PEMERIKSAAN & PENYIMPANAN SURAT, DOKUMEN , WARTA


KAPAL
Pemilik, Operator Kapal, atau Nakhoda wajib memberitahukan kedatangan kapalnya di
pelabuhan kepada Syahbandar.
Kapal tiba di pelabuhan wajib menyerahkan surat, dokumen, dan warta kapal kepada
Syahbandar untuk dilakukan pemeriksaan.
Surat, dokumen, dan warta kapal dikembalikan bersamaan dengan diterbitkannya SPB
a. SURAT DAN DOKUMEN WARTA KAPAL antara lain :
surat ukur,
surat tanda kebangsaan kapal,
sertifikat keselamatan,
sertifikat garis muat,
sertifikat pengawakan kapal,
dokumen muatan.
b. Warta kapal
adalah informasi tentang kondisi umum kapal dan muatannya (ship condition) format
isian disediakan oleh syahbandar
c. WAJIB ISI WARTA KAPAL
Nakhoda wajib : mengisi, menandatangani, dan menyampaikan warta kapal kepada
Syahbandar berdasarkan format yang telah ditentukan oleh Menteri
Perhubungan
8. WAJIB PATUH
Setiap kapal yang :
- memasuki pelabuhan,
- selama berada di pelabuhan, dan
- saat meninggalkan pelabuhan
wajib
mematuhi peraturan dan melaksanakan petunjuk serta perintah Syahbandar
untuk kelancaran lalu lintas kapal serta kegiatan di pelabuhan.
9. PETUNJUK – PERINTAH SYAHBANDAR
- menolak kedatangan kapal,
- memerintahkan perpindahan kapal,
- menentukan tempat labuh jangkar

10. HARUS PERSETUJUAN SYAHBANDAR


Kapal yang melakukan kegiatan perbaikan, percobaan berlayar, kegiatan alih muat di
kolam pelabuhan, menunda, dan bongkar muat barang berbahaya wajib mendapat
persetujuan dari Syahbandar.
WAJIB LAPOR SYAHBANDAR
Kegiatan salvage, pekerjaan bawah air, pengisian bahan bakar, pengerukan, reklamasi,
dan pembangunan pelabuhan

50
11. SURAT PERSETUJUAN BERLAYAR
Setiap kapal yang akan berlayar wajib memiliki SPB dari Syahbandar, ditempat mana
kapal mau berangkat
SPB diterbitkan bila kapal laiklaut dan penuhi kewajiban lainnya
SPB tidak berlaku apabila kapal dalam waktu 24 jam, setelah persetujuan berlayar
diberikan, kapal tidak bertolak dari pelabuhan

TUNDA KEBERANGKATAN KAPAL


Syahbandar dapat menunda keberangkatan kapal untuk berlayar karena :
- tidak memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal atau
- kelengkapan kapal memenuhi syarat tapi karena pertimbangan cuaca

SPB TIDAK DIBERIKAN ATAU DICABUT


1. Pengangkutan barang khusus dan barang berbahaya tidak sesuai dengan ketentuan
2. Kapal tidak laik laut. (bukti sertifikat)
 pencegahan pencemaran dari kapal,
 pengawakan kapal,
 garis muat kapal dan pemuatan,
 kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan penumpang,
 status hukum kapal,
 manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari kapal,
- manajemen keamanan kapal
3. Perombakan kapal tidak sesuai dengan gambar rancang bangun dan data yang telah
disyahkan Ditjen Perhubungan Laut.
4. Sertifikat Kapal tidak dipelihara
5. Kapal tidak memenuhi persyaratan pencegahan dan pengendalian pencemaran.
6. Pihak kapal tidak mematuhi aturan selama berada di pelabuhan, dan saat
meninggalkan pelabuhan .
7. Awak kapal tidak memenuhi persyaratan kualifikasi
- keahlian COP = Certificate of Proficiency (COP) seperti BST
- kompetensi COC (kemampuan) = Certificate of Competency (COC) seperti ANT V

12. PEMERIKSAAN KAPAL


Syahbandar berwenang melakukan pemeriksaan kelaiklautan dan keamanan kapal di
pelabuhan.
Dalam keadaan tertentu, Syahbandar berwenang melakukan pemeriksaan kelaiklautan
kapal dan keamanan kapal berbendera Indonesia / Asing di pelabuhan
“dalam keadaan tertentu"
apabila Syahbandar mendapat laporan adanya indikasi bahwa kapal tidak
memenuhi persyaratan kelaiklautan dan keamanan.

13. PENAHANAN KAPAL  


Syahbandar hanya dapat menahan kapal di pelabuhan atas perintah tertulis pengadilan.
Penahanan kapal berdasarkan perintah tertulis pengadilan dapat dilakukan
berdasarkan alasan sbb :
 terkait dgn perkara pidana;
 terkait dengan perkara perdata.
 klaim-pelayaran dilakukan tanpa melalui proses

000

51
VI. KECELAKAAN KAPAL SERTA PENCARIAN DAN PERTOLONGAN

A. Bahaya Terhadap Kapal (Pasal 244)

 Bahaya terhadap kapal dan/atau orang merupakan kejadian yang dapat menyebabkan
terancamnya keselamatan kapal dan/atau jiwa manusia.
"bahaya" adalah ancaman yg disebabkan o/ faktor eksternal & internal dari kapal.
 Setiap orang yang mengetahui bahaya kapal/jiwa manusia, wajib segera melakukan
upaya pencegahan, pencarian dan pertolongan serta melaporkan kejadian kepada
pejabat berwenang terdekat atau pihak lain.
 Nakhoda wajib melakukan tindakan pencegahan dan penyebarluasan berita kepada
pihak lain apabila mengetahui di kapalnya, kapal lain, atau adanya orang dalam
keadaan bahaya
“orang" termasuk juga orang yang berada di menara suar yang ditemukan dalam
keadaan bahaya.
"pihak lain" antara lain Nakhoda kapal lain yang berada di sekitar lokasi bahaya,
stasiun radio pantai dan pejabat berwenang terdekat, yang
memiliki kewenangan utk menindaklanjuti proses kecelakaan tsb.

 Nakhoda wajib melaporkan bahaya tersebut kepada:


a. Syahbandar pelabuhan terdekat apabila bahaya terjadi di wilayah perairan
Indonesia; atau
b. Pejabat Perwakilan Republik Indonesia terdekat dan pejabat pemerintah negara
setempat yang berwenang apabila bahaya terjadi di luar wilayah perairan
Indonesia.

Pelaporan oleh Nakhoda dilakukan untuk :


 setiap bahaya bagi keselamatan kapal,
 baik yang terjadi di dalam maupun di luar negeri,
 baik yang mengakibatkan atau dapat mengakibatkan kerusakan
pada alur atau bangunan di perairan yang dapat mengganggu
keselamatan berlayar maupun tidak.

"melaporkan" adalah menyampaikan berita bahaya bagi keselamatan kapal dengan


cara sistem telekomunikasi antara lain melalui :
- Stasiun Radio Pantai,
- Vessel Traffic Information System (VTIS),
- semaphore, dan morse serta sarana lain
yang dapat digunakan untuk menyampaikan berita atau
menarik perhatian bagi pihak lain.

B. Kecelakaan Kapal (Pasal 245 - 249)

 Kecelakaan kapal merupakan kejadian yang dialami oleh kapal yang dapat
mengancam keselamatan kapal dan/atau jiwa manusia berupa:
a. kapal tenggelam;
b. kapal terbakar;
c. kapal tubrukan; dan
d. kapal kandas.
 Kecelakaan kapal tersebut diatas merupakan tanggung jawab Nakhoda kecuali dapat
dibuktikan lain.
"dibuktikan lain" adalah berdasarkan pembuktian telah dilakukan upaya dan

52
melaksanakan kewajiban berdasarkan ketentuan per-UU-an
 Dalam hal terjadi kecelakaan kapal tersebut diatas, setiap orang yang berada di atas
kapal yang mengetahui terjadi kecelakaan dalam batas kemampuannya harus
memberikan pertolongan dan melaporkan kecelakaan tersebut kepada Nakhoda
dan/atau Anak Buah Kapal.
 Nakhoda yang mengetahui kecelakaan kapalnya atau kapal lain wajib mengambil
tindakan penanggulangan, meminta dan/atau memberikan pertolongan, dan
menyebarluaskan berita mengenai kecelakaan tersebut kepada pihak lain.
"pihak lain" seperti :
Nakhoda kapal lain yang berada di sekitar lokasi kecelakaan,
stasiun radio pantai dan
pejabat berwenang terdekat yang memiliki kewenangan untuk
menindaklanjuti proses kecelakaan tersebut
 Nakhoda yg mengetahui kecelakaan kapalnya/kapal lain wajib melaporkan kepada:
a. Syahbandar pelabuhan terdekat apabila kecelakaan kapal terjadi di dalam wilayah
perairan Indonesia; atau
b. Pejabat Perwakilan Republik Indonesia atau pejabat pemerintah negara setempat
yang berwenang, apabila kecelakaan kapal terjadi di luar wilayah perairan
Indonesia.
"melaporkan" adalah menyampaikan berita kecelakaan kapal dengan cara sistem
telekomunikasi antara lain melalui :
- Stasiun Radio Pantai, Vessel Traffic Information System (VTIS),
- semaphore, morse serta sarana lain
yg dpt digunakan utk menyampaikan berita atau menarik perhatian pihak lain,
 Pemeriksaan Pendahuluan kecelakaan kapal diwilayah perairan Indonesia, dilakukan
oleh Syahbandar setempat, kecelakaan diluar perairan Indonesia pemeriksaan oleh
Perwakilan RI di negara tsb atau pihak negara ybs, pemeriksaan lanjutan oleh
MAHPEL. (Baca : PP No.9 Tahun 2019 ttg Pemeriksaan Kecelakaan Kapal)

C. Mahkamah Pelayaran (Pasal 250-255)


 MAHPEL dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada Menteri (Perhubungan)
 MAHPEL memiliki susunan organisasi dan tata kerja ditetapkan dengan PERMENHUB
 FUNGSI MAHPEL
MAHPEL memiliki fungsi melaksanakan pemeriksaan lanjutan atas kecelakaan kapal
dan menegakkan kode etik profesi dan kompetensi Nakhoda dan/atau perwira kapal
setelah dilakukan pemeriksaan pendahuluan oleh Syahbandar.
 MAHPEL berwenang memeriksa tubrukan yang terjadi antara :
-kapal niaga dengan kapal niaga
-kapal niaga dengan kapal negara
-kapal niaga dengan kapal perang
 Dalam melaksanakan pemeriksaan lanjutan kecelakaan kapal, MAHPEL bertugas:
meneliti sebab-sebab kecelakaan kapal dan menentukan ada atau tidak adanya
kesalahan atau kelalaian dalam penerapan standar profesi kepelautan yang dilakukan
oleh Nakhoda dan/atau perwira kapal atas terjadinya kecelakaan kapal; dan
 Dalam melaksanakan pemeriksaan lanjutan kecelakaan kapal, MAHPEL bertugas:
meneliti sebab-sebab kecelakaan kapal dan menentukan ada atau tidak adanya
kesalahan atau kelalaian dalam penerapan standar profesi kepelautan yang dilakukan
oleh Nakhoda dan/atau perwira kapal atas terjadinya kecelakaan kapal; dan

53
merekomendasikan kepada Menteri (Perhubungan) mengenai pengenaan sanksi
administratif atas kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh Nakhoda dan/atau
perwira kapal.
 Sanksi administratif , berupa: peringatan; atau pencabutan sementara Sertifikat
Keahlian Pelaut.
 Dalam pemeriksaan lanjutan MAHPEL dapat menghadirkan pejabat pemerintah di
bidang keselamatan dan keamanan pelayaran dan pihak terkait lainnya.
 Dalam pemeriksaan lanjutan, pemilik, atau operator kapal wajib menghadirkan
Nakhoda dan/atau Anak Buah Kapal.
 Pemilik, atau operator kapal yang melanggar ketentuan tidak menhadirkan
Nakhoda/ABK dikenakan sanksi berupa:
peringatan; pembekuan izin; atau pencabutan izin
 Ketentuan lebih lanjut mengenai fungsi, kewenangan, dan tugas Mahkamah Pelayaran
serta tata cara dan prosedur pengenaan sanksi administratif diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Baca : Permenhub No. PM 76/2017 ttg Organisasi dan Tata Kerja MAHPEL .

D. Investigasi Kecelakaan Kapal (Pasal 256-257)

 Investigasi kecelakaan kapal dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan


Transportasi (KNKT) untuk mencari fakta guna mencegah terjadinya kecelakaan
kapal dengan penyebab yang sama.
 Yang dimaksud dengan KNKT adalah institusi yang diberi kewenangan untuk
melakukan investigasi sebab-sebab terjadinya kecelakaan
 Investigasi dilakukan terhadap setiap kecelakaan kapal.
 Investigasi yang dilakukan oleh KNKT tidak untuk menentukan kesalahan atau
kelalaian atas terjadinya kecelakaan kapal.
 Hasil investigasi yg dilakukan oleh KNKT disampaikan kepada Menteri
(Perhubungan) yang disertai dengan rekomendasi untuk memperbaiki kebijakan
yang terkait dengan sistem, sarana dan prasarana transportasi serta sumber daya
manusia.
 Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas KNKT serta tata cara pemeriksaan dan
investigasi kecelakaan kapal diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Baca : Perpres N0. 2/2012 ttg KNKT

E. Pencarian dan Pertolongan (Pasal 258-260)

 Pemerintah bertanggung jawab melaksanakan pencarian dan pertolongan terhadap


kecelakaan kapal dan/atau orang yang mengalami musibah di perairan Indonesia.
 Kapal atau pesawat udara yang berada di dekat atau melintasi lokasi kecelakaan,
wajib membantu usaha pencarian dan pertolongan terhadap setiap kapal dan/atau
orang yang mengalami musibah di perairan Indonesia.
 Setiap orang yang memiliki atau mengoperasikan kapal yang mengalami kecelakaan
kapal, bertanggung jawab melaksanakan pencarian dan pertolongan terhadap
kecelakaan kapalnya
 Tanggung jawab pelaksanaan pencarian dan pertolongan oleh Pemerintah di
koordinasikan dan dilakukan oleh institusi yang bertanggung jawab di bidang
pencarian dan pertolongan (UU N0.29/2014)

54
VII. SUMBER DAYA MANUSIA ( Pasal 261-268)

 Penyelenggaraan dan pengembangan SDM di bidang pelayaran dilaksanakan dengan tujuan


tersedianya SDM yang profesional, kompeten, disiplin, dan bertanggung jawab serta
memenuhi standar nasional dan internasional.
 Penyelenggaraan dan pengembangan SDM mencakup perencanaan, penelitian dan
pengembangan, pendidikan dan pelatihan, penempatan, pengembangan pasar kerja, dan
perluasan kesempatan berusaha.
 Penyelenggaraan dan pengembangan SDM dilakukan terhadap aparatur Pemerintah dan
masyarakat.

 SDM di bidang pelayaran meliputi:


a. sumber daya manusia di bidang angkutan di perairan;
b. sumber daya manusia di bidang kepelabuhanan;
c. sumber daya manusia di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran; dan
d. sumber daya manusia di bidang perlindungan lingkungan maritim

Pihak Penyelenggara diklat


 Pendidikan dan pelatihan di bidang pelayaran diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah
daerah atau masyarakat melalui jalur pendidikan formal dan non formal.
 Jalur pendidikan formal diselenggarakan dalam jenjang pendidikan menengah dan
perguruan tinggi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
 Jalur pendidikan nonformal merupakan lembaga pelatihan dalam bentuk balai pendidikan
dan pelatihan di bidang pelayaran.

Penanggung Jawab Diklat


 Pendidikan dan pelatihan di bidang pelayaran merupakan tanggung jawab Pemerintah,
pembinaannya dilakukan oleh Menteri (Perhubungan) dan menteri yang bertanggung jawab
di bidang pendidikan nasional (Mendikbud)sesuai dengan kewenangannya.
 Pemerintah dan pemerintah daerah mengarahkan, membimbing, mengawasi, dan
membantu penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di bidang pelayaran sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
 Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan
pendidikan dan pelatihan pelayaran.

MODEL DIKLAT
 Pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia di bidang pelayaran disusun dalam model
pendidikan dan pelatihan yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan
 Model pendidikan dan pelatihan paling sedikit memuat:
a. jenis dan jenjang pendidikan dan pelatihan;
b. peserta pendidikan dan pelatihan;
c. hak dan kewajiban pendidikan dan pelatihan;
d. kurikulum dan metode pendidikan dan pelatihan;
e. tenaga pendidik dan pelatih;
f. prasarana dan sarana pendidikan dan pelatihan;
g. standardisasi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan;
h. pembiayaan pendidikan dan pelatihan; dan
 Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta
menjamin terselenggaranya pendidikan dan pelatihan di bidang pelayaran yang bermutu
bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

55
 Perusahaan angkutan di perairan wajib menyedian fasilitas praktik berlayar di kapal untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang angkutan perairan.
 Perusahaan angkutan di perairan, BUP, dan instansi terkait wajib menyediakan fasilitas
praktik di pelabuhan atau di lokasi kegiatannya untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia di bidang pelayaran.
 Perusahaan angkutan di perairan, organisasi, dan Badan Usaha yang mendapatkan manfaat
atas jasa profesi pelaut wajib memberikan kontribusi untuk menunjang tersedianya tenaga
pelaut yang andal

 Kontribusi perusahaan tersebut berupa:


a. memberikan beasiswa pendidikan;
b. membangun lembaga pendidikan sesuai dengan standar internasional;
c. melakukan kerja sama dengan lembaga pendidikan yang ada; dan/atau
d. mengadakan perangkat simulator, buku pelajaran, dan terbitan maritim yang
mutakhir.

 Setiap orang yang melanggar ketentuan :


a. Perusahaan angkutan di perairan wajib menyedian fasilitas praktik berlayar di kapal
untuk meningkatkan kualitas SDM di bidang angkutan perairan.
b. Perusahaan angkutan di perairan, organisasi, dan Badan Usaha yang mendapatkan
manfaat atas jasa profesi pelaut wajib memberikan kontribusi untuk menunjang
tersedianya tenaga pelaut yang andal.

dikenakan sanksi administratif, berupa:


a. peringatan;
b. denda administratif;
c. pembekuan izin; atau
d. pencabutan izin.

 Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan dan pengembangan sumber daya


manusia, tata cara dan prosedur pengenaan sanksi administratif, serta besarnya denda
administratif diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Baca : STCW 1978, amandemen 1995, amandemen 2010 (non formal)


PM 70/2013 tentang diklat pelaut (amandemen 2010) (non formal)
UU 20/2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (formal)
UU 12/2012 tentang Pendidikan Tingggi (formal)

0000

56
VIII . SISTIM INFORMASI PELAYARAN (Pasal 269- 273)

TUJUAN SIP
 Sistem informasi pelayaran bertujuan untuk memberikan informasi di bidang angkutan
perairan dan kepelabuhanan serta terjaminnya keselamatan dan keamanan pelayaran
dan memberikan perlindungan lingkungan maritim
 Sistem informasi pelayaran mencakup pengumpulan, pengolahan, penganalisisan,
penyimpanan, penyajian, serta penyebaran data dan informasi pelayaran untuk:
a. mendukung operasional pelayaran;
b. meningkatkan pelayanan kepada masyarakat atau publik; dan
c. mendukung perumusan kebijakan di bidang pelayaran.
 Sistem informasi pelayaran, diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.
 Pemerintah daerah menyelenggarakan sistem informasi pelayaran sesuai dengan
kewenangannya berdasarkan pedoman dan standar yang ditetapkan oleh Pemerintah.
.
 Sistem informasi pelayaran mencakup:
a. sistem informasi angkutan di perairan paling sedikit memuat:
1) usaha dan kegiatan angkutan di perairan;
2) armada dan kapasitas ruang kapal nasional;
3) muatan kapal dan pangsa muatan kapal nasional;
4) usaha dan kegiatan jasa terkait dengan angkutan di perairan; dan
5) trayek angkutan di perairan.

b. sistem informasi pelabuhan paling sedikit memuat:


1) kedalaman alur dan kolam pelabuhan;
2) kapasitas dan kondisi fasilitas pelabuhan;
3) arus peti kemas, barang, dan penumpang di pelabuhan;
4) arus lalu lintas kapal di pelabuhan;
5) kinerja pelabuhan;
6) operator terminal di pelabuhan;
7) tarif jasa kepelabuhanan; dan
8) Rencana Induk Pelabuhan dan/atau rencana pembangunan pelabuhan.

c. sistem informasi keselamatan dan keamanan pelayaran paling sedikit memuat:


1) kondisi angin, arus, gelombang, dan pasang surut;
2) kapasitas Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran, Telekomunikasi-Pelayaran, serta alur dan
perlintasan;
3) kapal negara di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran;
4) sumber daya manusia bidang kepelautan;
5) daftar kapal berbendera Indonesia;
6) kerangka kapal di perairan Indonesia;
7) kecelakaan kapal; dan
8) lalu lintas kapal di perairan.

d. sistem informasi perlindungan lingkungan maritim paling sedikit memuat:


1) keberadaan bangunan di bawah air (kabel laut dan pipa laut);
2) lokasi pembuangan limbah; dan
3) lokasi penutuhan kapal.

e. sistem informasi sumber daya manusia dan peran serta masyarakat di bidang
pelayaran paling sedikit memuat:
1) jumlah dan kompetensi sumber daya manusia di bidang pelayaran; dan
2) kebijakan yang diterbitkan oleh Pemerintah di bidang pelayaran.

57
 Penyelenggaraan sistem informasi pelayaran dilakukan dengan membangun dan
mengembangkan jaringan informasi secara efektif, efisien, dan terpadu yang melibatkan
pihak terkait dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi.

 Setiap orang yang melakukan kegiatan di bidang pelayaran wajib menyampaikan data
dan informasi kegiatannya kepada Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
 Pemerintah dan/atau pemerintah daerah melakukan pemutakhiran data dan informasi
pelayaran secara periodik untuk menghasilkan data dan informasi yang sesuai dengan
kebutuhan, akurat, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan.
 Data dan informasi pelayaran didokumentasikan dan dipublikasikan serta dapat diakses
dan digunakan oleh masyarakat yang membutuhkan dengan memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi.
 Pengelolaan sistem informasi pelayaran oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dapat
dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lain.
 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyampaian dan pengelolaan sistem
informasi pelayaran diatur dengan Peraturan Menteri.(Perhubungan)

 Setiap orang yang melanggar ketentuan wajib menyampaikan data dan informasi
kegiatan pelayaran kepada pemerinyah dan atau pemerintah daerah, dapat dikenakan
sanksi administratif, berupa:
a. peringatan;
b. pembekuan izin; atau
c. pencabutan izin.

 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedur pengenaan sanksi administratif
serta besarnya denda administratif diatur dengan Peraturan Pemerintah. ...??

0000

58
IX. PERAN SERTA MASYARAKAT
 Dalam rangka meningkatkan penyelenggaraan pelayaran secara optimal masyarakat
memiliki kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam kegiatan
pelayaran.
 Peran serta masyarakat berupa:
a. memantau dan menjaga ketertiban penyelenggaraan kegiatan pelayaran;
b. memberi masukan kepada Pemerintah dalam penyempurnaan peraturan, pedoman,
dan standar teknis di bidang pelayaran;
c. memberi masukan kepada Pemerintah, pemerintah daerah dalam rangka pembinaan,
penyelenggaraan, dan pengawasan pelayaran;
d. menyampaikan pendapat dan pertimbangan kepada pejabat yang berwenang terhadap
kegiatan penyelenggaraan kegiatan pelayaran yang mengakibatkan dampak penting
terhadap lingkungan; dan/atau
e. melaksanakan gugatan perwakilan terhadap kegiatan pelayaran yang mengganggu,
merugikan, dan/atau membahayakan kepentingan umum.
 Pemerintah mempertimbangkan dan menindaklanjuti terhadap masukan, pendapat, dan
pertimbangan yang disampaikan oleh masyarakat.
 Dalam melaksanakan peran serta masyarakat ikut bertanggung jawab menjaga ketertiban
serta keselamatan dan keamanan pelayaran.
 Peran serta masyarakat tersebut diatas dapat dilakukan secara perseorangan, kelompok,
organisasi profesi, Badan Usaha, atau organisasi kemasyarakatan lain sesuai dengan prinsip
keterbukaan dan kemitraan.
 Ketentuan lebih lanjut mengenai peran serta masyarakat diatur dengan Peraturan Menteri.

oooo

59
X. PENJAGAAN LAUT DAN PANTAI
(SEA AND COAST GUARD)
(Pasal 276, - 281)
 Untuk menjamin terselenggaranya keselamatan dan keamanan di laut dilaksanakan fungsi
penjagaan dan penegakan peraturan perundang-undangan di laut dan pantai.
 Pelaksanaan fungsi tersebud dilakukan oleh penjaga laut dan pantai.
 Penjaga laut dan pantai tersebut dibentuk dan bertanggung jawab kepada Presiden dan
secara teknis operasional dilaksanakan oleh Menteri (Perhubungan).

 Dalam melaksanakan fungsi penjagaan dan penegakan Per-UU-an di laut dan pantai. PLP
melaksanakan tugas:
a. melakukan pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran;
b. melakukan pengawasan, pencegahan, dan penanggulangan pencemaran di laut;
c. pengawasan dan penertiban kegiatan serta lalu lintas kapal;
d. pengawasan dan penertiban kegiatan salvage, pekerjaan bawah air, serta eksplorasi dan
eksploitasi kekayaan laut;
e. pengamanan Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran; dan
f. mendukung pelaksanaan kegiatan pencarian dan pertolongan jiwa di laut .
 Dalam melaksanakan fungsi tersebut, maka penjaga laut dan pantai melaksanakan
koordinasi untuk:
a. merumuskan dan menetapkan kebijakan umum penegakan hukum di laut;
b. menyusun kebijakan dan standar prosedur operasi penegakan hukum di laut secara terpadu;
c. kegiatan penjagaan, pengawasan, pencegahan dan penindakan pelanggaran hukum serta
pengamanan pelayaran dan pengamanan aktivitas masyarakat dan Pemerintah di wilayah
perairan Indonesia; dan
d. memberikan dukungan teknis administrasi di bidang penegakan hukum di laut secara terpadu .
 Dalam melaksanakan tugas pengawasan, maka penjaga laut dan pantai mempunyai
kewenangan untuk:
a. melaksanakan patroli laut;
b. melakukan pengejaran seketika (hot pursuit);
c. memberhentikan dan memeriksa kapal di laut; dan
d. melakukan penyidikan.
 Dalam melaksanakan kewenangan penjaga laut dan pantai melaksanakan tugas sebagai
Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
 Ketentuan lebih lanjut mengenai kewenangan penjaga laut dan pantai diatur dengan
Peraturan. Pemerintah.
 Dalam rangka melaksanakan tugasnya penjaga laut dan pantai , didukung oleh prasarana
berupa pangkalan armada penjaga laut dan pantai yang berlokasi di seluruh wilayah
Indonesia, dan dapat menggunakan kapal dan pesawat udara yang berstatus sebagai kapal
negara atau pesawat udara negara.
 Penjaga laut dan pantai wajib memiliki kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan ketentuan
Per-UU-an
 Pelaksanaan penjagaan dan penegakan hukum di laut oleh penjaga laut dan pantai wajib
menggunakan dan menunjukkan identitas yang jelas.
 Ketentuan lebih lanjut mengenai identitas penjaga laut dan pantai diatur dengan PP
 Aparat penjagaan dan penegakan peraturan di bidang pelayaran yang tidak menggunakan
dan menunjukkan identitas yang , dikenakan sanksi administratif sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian.
 Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan serta organisasi dan tata kerja penjaga laut
dan pantai diatur dengan Peraturan Pemerintah.

60
Dengan lahirnya UU No. 17/2008 tentang Pelayaran, berdasarkan
Pasal 276
PEMBENTUKAN PENJAGA LAUT DAN PANTAI PLP

 Untuk menjamin terselenggaranya keselamatan dan keamanan di laut dilaksanakan


fungsi penjagaan dan penegakan peraturan perundang-undangan di laut dan pantai.
 Pelaksanaan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh penjaga laut dan
pantai.
 Penjaga laut dan pantai dibentuk dan bertanggung jawab kepada Presiden dan secara
teknis operasional dilaksanakan oleh Menteri (Perhubungan)

Pasal 277
Dalam melaksanakan fungsi penjagaan dan penegakan per-UU-an dilaut dan pantai, penjaga
laut dan pantai melaksanakan tugas:
1. melakukan pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran;
2. melakukan pengawasan, pencegahan, dan penanggulangan pencemaran
di laut;
3. pengawasan dan penertiban kegiatan serta lalu lintas kapal;
4. pengawasan dan penertiban kegiatan salvage, pekerjaan bawah air, serta
eksplorasi dan eksploitasi kekayaan laut;
5. pengamanan Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran; dan
6. mendukung pelaksanaan kegiatan pencarian dan pertolongan jiwa di
laut

Pasal 346
Penjagaan dan penegakan hukum di laut dan pantai serta koordinasi keamanan di laut tetap
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sampai dengan
terbentuknya Penjagaan Laut dan Pantai.

Dengan lahirnya UU No. 32 /2014 ttg Kelautan


Pasal 59
PEMBENTUKAN BADAN KEAMANAN LAUT
a. Penegakan kedaulatan dan hukum di perairan Indonesia, dasar Laut,dan tanah di
bawahnya, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya serta sanksi atas
pelanggarannya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
dan hukum internasional.
b. Yurisdiksi dalam penegakan kedaulatan dan hukum terhadap kapal asing yang
sedang melintasi laut teritorial dan perairan kepulauan Indonesia (o/PLP) dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional.
c. Dalam rangka penegakan hukum di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi,
khususnya dalam melaksanakan patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan
dan wilayah yurisdiksi Indonesia,dibentuk Badan Keamanan Laut.
Pasal 60
Badan Keamanan Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (3) merupakan lembaga
pemerintah nonkementerian yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung
kepada Presiden melalui menteri yg mengoordinasikannya.(Menko Maritim dan Investasi)
Pasal 61
Badan Keamanan Laut mempunyai tugas melakukan patroli keamanan dan keselamatan di
wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia.

61
Silahkan di diskusikan dengan kelompok, tentang keberadaan
KPLP dan BAKAMLA

XI. PENYIDIKAN (Pasal 282, 283)

Pembentukan PPNS Pelayaran


 Selain penyidik pejabat POLRI dan penyidik lainnya, pejabat pegawai negeri sipil
(PPNS) tertentu di lingkungan instansi yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di
bidang pelayaran diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang ini.
 Dalam pelaksanaan tugasnya pejabat pegawai negeri sipil (PPNS) tertentu berada di
bawah koordinasi dan pengawasan penyidik POLRI.

Tugas PPNS Pelayaran


 PPNS Pelayaran berwenang melakukan penyidikan tindak pidana di bidang
pelayaran.
 PPNS Pelayaran berwenang:
a. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan sehubungan dengan tindak
pidana di bidang pelayaran;
b. menerima laporan atau keterangan dari seseorang tentang adanya tindak pidana
di bidang pelayaran;
c. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
d. melakukan penangkapan dan penahanan terhadap orang yang diduga
melakukan tindak pidana di bidang pelayaran;
e. meminta keterangan dan bukti dari orang yang diduga melakukan tindak pidana
di bidang pelayaran;
f. memotret dan/ atau merekam melalui media audiovisual terhadap orang, barang,
kapal atau apa saja yang dapat dijadikan bukti adanya tindak pidana di bidang
pelayaran;
g. memeriksa catatan dan pembukuan yang diwajibkan menurut Undang-Undang
ini dan pembukuan lainnya yang terkait dengan tindak pidana pelayaran;
h. mengambil sidik jari;
i. menggeledah kapal, tempat dan memeriksa barang yang terdapat di dalamnya
apabila dicurigai adanya tindak pidana di bidang pelayaran;
j. menyita benda-benda yang diduga keras merupakan barang yang digunakan
untuk melakukan tindak pidana di bidang pelayaran;
k. memberikan tanda pengaman dan mengamankan apa saja yang dapat dijadikan
sebagai bukti sehubungan dengan tindak pidana di bidang pelayaran;
l. mendatangkan saksi ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan
pemeriksaan perkara tindak pidana di bidang pelayaran;
m. menyuruh berhenti orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang
pelayaran serta memeriksa tanda pengenal diri tersangka;
n. mengadakan penghentian penyidikan; dan
o. melakukan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab
.
PPNS Pelayaran menyampaikan hasil penyidikan kepada penuntut umum melalui
pejabat penyidik POLRI;

oooo

62
XII. KETENTUAN PIDANA DALAM UU 17/2008 7 Mei 2008
Silahkan dibaca dan dipahami terutama sesuai bidang tugas anda di kapal
Bandingkan pula dg KUHP
Buku II Kejahatan Bab 29 ttg Kejahatan Pelayaran dan
Buku III Pelaggaran Bab 9 tentang Pelanggaran pelayaran

Pasal 284
Setiap orang yang mengoperasikan kapal asing untuk mengangkut penumpang dan/atau barang
antarpulau atau antarpelabuhan di wilayah perairan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak
Rp600.000.000,00.

Pasal 285
Setiap orang yang melayani kegiatan angkutan laut khusus yang mengangkut muatan barang milik pihak
lain dan atau mengangkut muatan atau barang milik pihak lain dan/atau mengangkut muatan atau
barang umum tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (4) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Pasal 286
(1) Nakhoda angkutan sungai dan danau yang melayarkan kapalnya ke laut tanpa izin dari Syahbandar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (6), dipidana dengan pidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun atau denda paling banyak Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).
(2) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mengakibatkan kerugian harta benda
dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak
Rp500.000.000,00.
(3) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mengakibatkan kematian seseorang,
Nakhoda dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah).

Pasal 287
Setiap orang yang mengoperasikan kapal pada angkutan di perairan tanpa izin usaha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling
banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Pasal 288
Setiap orang yang mengoperasikan kapal pada angkutan sungai dan danau tanpa izin trayek
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu)
tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Pasal 289
Setiap orang yang mengoperasikan kapal pada angkutan penyeberangan tanpa memiliki persetujuan
pengoperasian kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (6) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Pasal 290
Setiap orang yang menyelenggarakan usaha jasa terkait tanpa memiliki izin usaha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 33 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling
banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Pasal 291
Setiap orang yang tidak melaksanakan kewajibannya untuk mengangkut penumpang dan/atau barang
terutama angkutan pos sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1), dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

63
Pasal 292
Setiap orang yang tidak mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41
ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 293
Setiap orang yang tidak memberikan fasilitas khusus dan kemudahan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 42 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 294
(1) Setiap orang yang mengangkut barang khusus dan barang berbahaya tidak sesuai dengan
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun atau denda paling banyak Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).
(2) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mengakibatkan kerugian harta benda
dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian seseorang dan
kerugian harta benda dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda
paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah).

Pasal 295
Setiap orang yang mengangkut barang-barang berbahaya dan barang khusus yang tidak menyampaikan
pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 , dipidana dengan pidana penjara paling lama 6
(enam) bulan dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 296
Setiap orang yang tidak mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 297
(1) Setiap orang yang membangun dan mengoperasikan pelabuhan sungai dan danau tanpa izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2
(dua) tahun atau denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
(2) Setiap orang yang memanfaatkan garis pantai untuk melakukan kegiatan tambat kapal dan
bongkar muat barang atau menaikkan dan menurunkan penumpang untuk kepentingan sendiri di
luar kegiatan di pelabuhan, terminal khusus dan terminal untuk kepentingan sendiri tanpa izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 339 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua)
tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Pasal 298
Setiap orang yang tidak memberikan jaminan atas pelaksanaan tanggung jawab ganti rugi dalam
melaksanakan kegiatan di pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 ayat (3), dipidana dengan
pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).

Pasal 299
Setiap orang yang membangun dan mengoperasikan terminal khusus tanpa izin dari Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua)
tahun atau denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Pasal 300
Setiap orang yang menggunakan terminal khusus untuk kepentingan umum tanpa memiliki izin dari
Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua)
tahun atau denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

64
Pasal 301
Setiap orang yang mengoperasikan terminal khusus untuk melayani perdagangan dari dan ke luar
negeri tanpa memenuhi persyaratan dan belum ada penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111
ayat (4) atau ayat (5), dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling
banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Pasal 302
(1) Nakhoda yang melayarkan kapalnya sedangkan yang bersangkutan mengetahui bahwa kapal
tersebut tidak laik laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (2) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp400.000.000,00 (empat ratus juta
rupiah).
(2) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mengakibatkan kerugian harta benda
dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian seseorang dan
kerugian harta benda dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda
paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

Pasal 303
(1) Setiap orang yang mengoperasikan kapal dan pelabuhan tanpa memenuhi persyaratan
keselamatan dan keamanan pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim sebagaimana
dimaksud dalam pasal 122, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda
paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
(2) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mengakibatkan kerugian harta benda
dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian seseorang, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp1.500.000.000,00

Pasal 304
Setiap orang yang tidak membantu pelaksanaan pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 128 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling
banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 305
Setiap orang yang tidak memelihara kapalnya sehingga tidak memenuhi sesuai persyaratan
keselamatan kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 130 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara
paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 306
Setiap orang yang mengoperasikan kapal yang tidak memenuhi persyaratan perlengkapan navigasi
dan/atau navigasi elektronika kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 131 ayat (1), dipidana dengan
pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah).

Pasal 307
Setiap orang yang mengoperasikan kapal tanpa dilengkapi dengan perangkat komunikasi radio dan
kelengkapannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 131 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara
paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Pasal 308
Setiap orang yang mengoperasikan kapal tidak dilengkapi dengan peralatan meteorologi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 132 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan
denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

65
Pasal 309
Nakhoda yang sedang berlayar dan mengetahui adanya cuaca buruk yang membahayakan keselamatan
berlayar namun tidak menyebarluaskannya kepada pihak lain dan/atau instansi Pemerintah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 132 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua)
tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Pasal 310
Setiap orang yang mempekerjakan Awak Kapal tanpa memenuhi persyaratan kualifikasi dan kompetensi
sebagaimana dimaksud dalam pasal 135, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan
denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Pasal 311
Setiap orang yang menghalang-halangi keleluasaan Nakhoda untuk melaksanakan kewajibannya sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 138 ayat (4)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00
(tiga ratus juta rupiah).

Pasal 312
Setiap orang yang mempekerjakan seseorang di kapal dalam jabatan apa pun tanpa disijil dan tanpa
memiliki kompetensi dan keterampilan serta dokumen pelaut yang dipersyaratkan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 145 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling
banyak Rp300.000.000,00 .

Pasal 313
Setiap orang yang menggunakan peti kemas sebagai bagian dari alat angkut tanpa memenuhi
persyaratan kelaikan peti kemas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 ayat (1) dipidana dengan
pidana kurungan paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah).

Pasal 314
Setiap orang yang tidak memasang tanda pendaftaran pada kapal yang telah terdaftar sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 158 ayat (5) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan atau
denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 315
Nakhoda yang mengibarkan bendera negara lain sebagai tanda kebangsaan dimaksud dalam Pasal 167,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00

Pasal 316
(1) Setiap orang yang dengan sengaja merusak atau melakukan tindakan yang mengakibatkan tidak
berfungsinya Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran dan fasilitas alur-pelayaran di laut, sungai dan
danau serta Telekomunikasi-Pelayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 174 dipidana dengan
pidana:
a. penjara paling lama 12 (dua belas) tahun jika hal itu dapat mengakibatkan bahaya bagi kapal
berlayar atau denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah);
b. penjara paling lama 15 (lima belas) tahun, jika hal itu dapat mengakibatkan bahaya bagi kapal
berlayar dan perbuatan itu berakibat kapal tenggelam atau terdampar dan/atau denda paling
banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah); atau
c. penjara seumur hidup atau penjara untuk waktu tertentu paling lama 20 (dua puluh) tahun,
jika hal itu dapat mengakibatkan bahaya bagi kapal berlayar dan berakibat matinya seseorang.

(2) Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan tidak berfungsinya Sarana Bantu Navigasi-
Pelayaran dan fasilitas alur-pelayaran di laut, sungai dan danau dan Telekomunikasi-Pelayaran
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 174, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu)
tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) jika hal itu
mengakibatkan bahaya bagi kapal berlayar.

66
Pasal 317
Nakhoda yang tidak mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 193 ayat (1) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak. Rp200.000.000,00 (dua
ratus juta rupiah)

Pasal 318
Setiap orang yang melakukan pekerjaan pengerukan serta reklamasi alur-pelayaran dan kolam
pelabuhan tanpa izin Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 197 ayat (1), dipidana dengan
pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah).

Pasal 319
Petugas pandu yang melakukan pemanduan tanpa memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 199 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak
Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Pasal 320
Pemilik kapal dan/atau Nakhoda yang tidak melaporkan kerangka kapalnya yang berada di perairan
Indonesia kepada instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (1), dipidana
dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus
juta rupiah).

Pasal 321
Pemilik kapal yang tidak menyingkirkan kerangka kapal dan/atau muatannya yang mengganggu
keselamatan dan keamanan pelayaran dalam batas waktu yang ditetapkan Pemerintah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 203 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan
denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah)

Pasal 322
Nakhoda yang melakukan kegiatan perbaikan, percobaan berlayar, kegiatan alih muat di kolam
pelabuhan, menunda, dan bongkar muat barang berbahaya tanpa persetujuan dari Syahbandar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 216 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam)
bulan atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta. rupiah).

Pasal 323
(1) Nakhoda yang berlayar tanpa memiliki Surat Persetujuan Berlayar yang dikeluarkan oleh
Syahbandar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 219 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).
(2) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mengakibatkan kecelakaan kapal sehingga
mengakibatkan kerugian harta benda dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh)
tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(3) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mengakibatkan kecelakaan kapal sehingga
mengakibatkan kematian dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan
denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta. rupiah).

Pasal 324
Setiap Awak Kapal yang tidak melakukan pencegahan dan penanggulangan terhadap terjadinya
pencemaran lingkungan yang bersumber dari kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 227, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus
juta rupiah).

Pasal 325
(1) Setiap orang yang melakukan pembuangan limbah air balas, kotoran, sampah atau bahan lain ke
perairan di luar ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
229 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak
Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

67
(2) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan rusaknya lingkungan hidup
atau tercemarnya lingkungan hidup dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh)
tahun dan denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mengakibatkan kematian seseorang dipidana
dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak
Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

Pasal 326
Setiap orang yang mengoperasikan kapalnya dengan mengeluarkan gas buang melebihi ambang batas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua)
tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Pasal 327
Setiap orang yang tidak mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 231
ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan dan denda paling banyak
Rp100.000.000,00

Pasal 328
Setiap orang yang melakukan pengangkutan limbah bahan berbahaya dan beracun tanpa
memperhatikan spesifikasi kapal sebagaimana dimaksud dalam pasal 233 ayat (1). dipidana dengan
pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah).
Pasal 329
Setiap orang yang melakukan penutuhan kapal dengan tidak memenuhi persyaratan perlindungan
lingkungan maritim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Pasal 330
Nakhoda yang mengetahui adanya bahaya dan kecelakaan di kapalnya, kapal lain, atau setiap orang
yang ditemukan dalam keadaan bahaya, yang tidak melakukan tindakan pencegahan dan
menyebarluaskan berita mengenai hal tersebut kepada pihak lain, tidak melaporkan kepada
Syahbandar atau Pejabat Perwakilan RI terdekat dan pejabat pemerintah negara setempat yang
berwenang apabila bahaya dan kecelakaan terjadi di luar wilayah perairan Indonesia serta sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 244 ayat (3) atau ayat (4), Pasal 247 atau Pasal 248 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp400.000.000,00 (empat ratus juta
rupiah).

Pasal 331
Setiap orang yang berada di atas kapal yang mengetahui terjadi kecelakaan dalam batas
kemampuannya tidak memberikan pertolongan dan melaporkan kecelakaan kepada Nakhoda dan/atau
Anak Buah Kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 246 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1
(satu) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 332
Setiap orang yang mengoperasikan kapal atau pesawat udara yang tidak membantu usaha pencarian
dan pertolongan terhadap setiap orang yang mengalami musibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
258 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak
Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Pasal 333
(1) Tindak pidana di bidang pelayaran dianggap dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana
tersebut dilakukan oleh orang yang bertindak untuk dan/atau atas nama korporasi atau untuk
kepentingan korporasi, baik berdasarkan hubungan kerja maupun hubungan lain, bertindak dalam
lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama.
(2) Dalam hal tindak pidana di bidang pelayaran dilakukan oleh suatu korporasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), maka penyidikan, penuntutan, dan pemidanaan dilakukan terhadap
korporasi dan/atau pengurusnya.

68
Pasal 334
Dalam hal panggilan terhadap korporasi, maka pemanggilan untuk menghadap dan penyerahan surat
panggilan disampaikan kepada pengurus di tempat pengurus berkantor, di tempat korporasi itu
beroperasi, atau di tempat tinggal pengurus.

Pasal 335
Dalam hal tindak pidana di bidang pelayaran dilakukan oleh suatu korporasi, selain pidana penjara dan
denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda
dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda yang ditentukan dalam Bab ini.

Pasal 336
(1) Setiap pejabat yang melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya atau pada waktu
melakukan tindak pidana menggunakan kekuasaan, kesempatan atau sarana yang diberikan
kepadanya karena jabatan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda
paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
(2) Selain pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pelaku dapat dikenai pidana tambahan berupa
pemberhentian secara tidak dengan hormat dari jabatannya.

000

69
XIII. PERAIRAN INDONESIA (MENURUT UNCLOS)
A. Berdasarkan :
1. UU No. 5/1983 ttg ZEEI
2. UU No. 17/1985 ttg Pengesahan UNCLOS III
3. UU No. 6/1996 ttg Perairan Indonesia
4. UU No. 43/2008 ttg Wilayah Negara.
6. PP No. 36/2002 ttg Hak dan Kewajiban Kapal Asing dlm melaksanakan lintas damai
melalui perairan Indonesia
7. PP No. 37/2002 tentang Hak dan Kewajiban kapal dan pesawat udara asing dalam
melaksanakan hak lintas alur laut kepulauan melalui alur laut
kepulauan yg ditetapkan
Hukum Laut :
Segala peraturan yang berhubungan dengan laut
Hukum Laut Nasional
Hukum yg mengatur tentang laut , yg wilayah lautnya berada dlm kekuasaan satu negara.
Hukum Laut Internasional
Hukum yang mengatur tentang laut, yang wilayah lautnya berada dibawah
kekuasaan lebih dari satu negara, sehingga pengaturannya melalui perjanjian
internasional (bilateral-multilateral)

B. BATAS LUAS LAUT SEBELUM BERLAKUNYA UNCLOS


Ordonantie 1939 (3 mil laut)
(Aturan Laut Teritorial dan Lingkungan-Lingkungan Maritim)
Lembaran Negara atau Staatsblad 1939 – 442 (peraturan zaman Hindia Belanda)
Psl 1 ayat 1
Membagi wilayah daratan Hindia Belanda dlm bagian yang terpisah dengan laut
“Wilayah laut Hindia Belanda lebarnya 3 mil laut diukur dari garis rendah dari pada
pulau-pulau.”
Setelah Indonesia merdeka, luas laut Indonesia tetap 3 mil, sisanya laut bebas
Wilayah Laut Indonesia lebarnya 3 mil laut diukur dari garis air terendah dari pada
pulau-pulau dan bagi pulau yang merupakan bagian dari wilayah daratan dari Indonesia

D. BATAS LAUT SETELAH BERLAKUNYA UNCLOS 1982

1. TERITORIAL 12 mil laut diukur dari titik terluar pulau pulau


(Diawali Deklarasi Djuanda 13 Des 1957 12 mil laut dan diterima UNCLOS Pasal 3)
Batas laut teritorial Indonesia semula 3 mil, (atas dasar ordonansi 1939) diubah melalui
Deklarasi Kabinet Djuanda tanggal 13 Des 1957, menjadi 12 mil, diukur dari garis-garis yg
menghubungkan titik- titik terluar pd pulau-pulau NRI, karena Kabinet PM Djuanda
menghendaki laut dan daratan menyatu tanpa dibatasi laut bebas, sebagai bukti NKRI,
(sekarang dikenal dengan wawasan nusantara)
Deklarasi ini dikukuhkan dengan UU NO. 4 Prp /1960 ttg Perairan Indonesia
Karena kegigihan Indonensia memperjuangkan konsep deklarasi ini sampai ke sidang
Hukum laut PBB tahun 1982 di Yamaica, akhirnya Deklarasi Djuanda ini diakui dlm
UNCLOS - 1982 sebagaimana tertuang dalam Pasal 3 ditetapkan Lebar laut teritorial
sbb :
“Setiap Negara mempunyai hak untuk menetapkan lebar laut teritorialnya sampai
suatu batas yang tidak melebihi 12 mil laut, diukur dari garis pangkal yang
ditentukan sesuai dengan Konvensi ini.”
Akibat positifnya, semua negara pantai atau negara kepulauan memiliki lebar laut
teritorialnya tidak melebihi 12 mil laut, diukur dari titik terluar pulau-pulau,

70
sedangkan ke dalamnya merupakan laut pedalaman dan laut kepulauan milik negara
bersangkutan seutuhnya. (disebut laut wilayah = laut pedalaman, laut kepulauan, laut
teritorial)
Dengan demikian negara pemilik teritorial mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya
sampai batas laut teritorial,
tetapi mempunyai kewajiban menyediakan alur pelayaran lintas damai baik di atas
maupun di bawah permukaan laut.

2. ZEE Indonesia (200 mil laut)


Pengumuman Pemerintah RI 21-3-1980, mengatakan bahwa :
ZEE Indonesia yaitu jalur diluar wilayah Indonesia (12 mil laut) yg lebarnya 200 mil laut
diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia. Konsep ZEE Indonesia ini juga diterima
dalam UNCLOS Pasal 57 : Lebar ZEE, yaitu :
“ZEE tidak boleh melebihi 200 mil laut dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial
diukur.” (UU No. 5/1983 ttg ZEEI juncto UU No. 17/1985 ttg pengesahan UNCLOS)
DI ZEE ini merupakan wilayah ekonomi eksklusif negara pantai, jadi kewenangan negara
pantai hanya menyangkut sepanjang masalah ekonomi saja, seperti memiliki hak-hak
berdaulat yang eksklusif untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi sumber kekayaan
alam serta yurisdiksi tertentu terhadap :
1. Pembuatan dan pemakaian pulau buatan,
2. instalasi dan bangunan,
3. Riset ilmiah kelautan,
4. Perlindungan dan pelestarian lingkungan laut.
5. Hot porsuit (pengejaran kapal asing yang melanggar aturan ZEEI.
Sedangkan Negara berpantai atau tidak berpantai tetap punya kebebasan di laut ZEE
negara pantai, seperti bebas untuk kegiatan pelayaran, penerbangan dan pemasangan
kabel serta pipa di bawah permukaan laut, sesuai dengan prinsip-prinsip Hukum Laut
Internasional,

3. LAUT LEPAS ( UNCLOS pasal 87)

Laut lepas terbuka untuk semua Negara, baik Negara pantai atau tidak berpantai.
Kebebasan laut lepas, dilaksanakan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan dalam
Konvensi ini dan ketentuan lain hukum internasional.
Kebebasan laut lepas itu meliputi, inter alia, baik untuk Negara pantai atau Negara tidak
berpantai :
(a) kebebasan berlayar;
(b) kebebasan penerbangan;
(c) kebebasan untuk memasang kabel dan pipa bawah laut, dengan tunduk pada Bab VI;
(d) kebebasan untuk membangun pulau buatan dan instalasi lainnya yang diperbolehkan
berdasarkan hukum internasional, dengan tunduk pada Bab VI;
(e) kebebasan menangkap ikan, dgn tunduk pada persyaratan yg tercantum dlm bagian 2
(f) kebebasan riset ilmiah, dengan tunduk pada Bab VI dan XIII.

LINTAS DAMAI (UNCLOS Pasal 17 jo UU 6/96) Psl 11 – 17)


Dengan tunduk pada Konvensi ini, kapal semua Negara, baik berpantai maupun tak
berpantai menikmati hak lintas damai melalui laut teritorial. (pasal 17 UNCLOS)
UNCLOS Pasal 19 (UU 6/96 psl 12) Pengertian lintas damai 
1. Lintas adalah damai sepanjang tidak merugikan kedamaian, ketertiban atau keamanan
Negara pantai. Lintas harus dilakukan sesuai dengan ketentuan Konvensi.
2. Lintas suatu kapal asing harus dianggap membahayakan kedamaian, ketertiban atau
Keamanan Negara pantai, apabila kapal tersebut di laut teritorial melakukan salah

71
satu kegiatan sebagai berikut : (lihat pasal 17 UNCLOS)

UNCLOS Pasal 22 (UU 6/96 Psl 14, 18) Alur laut dan skema pemisah lalu lintas di
laut teritorial Negara pantai perlu memperhatikan keselamatan navigasi, dapat
mewajibkan kapal asing melalui laut teritorialnya mempergunakan alur laut dan skema
pemisah lalu lintas kapal. (ALKI)

PENGATURAN SELAT UTK PELAYARAN


Pasal 42 UNCLOS
Negara yg punya selat berhak membuat aturan berkaitan dg lintas laut melalui selat
tersebut, dg memperhatikan ketentuan konvensi :
1. Keselamatan pelayaran dan pengaturan lintas laut
2. Pencegahan, pengurangan dan pengendalian pencemaran laut
3. Pencegahan penangkapan ikan, termasuk penyimpanan alat tangkap ikan dlm palka
4. Muat/Bongkar komoditi, mata uang atau orang, yg bertentangan dg per-UU-an bea
cukai, fiskal, imigrasi dan kesehatan

Yurisdiksi kriminal di atas kapal asing


Yurisdiksi kriminal Negara pantai tidak dapat dilaksanakan di atas kapal asing yang
sedang melintasi laut teritorial untuk ;
“menangkap siapapun atau mengadakan penyidikan yang bertalian dg kejahatan
apapun yg dilakukan di atas kapal selama lintas damai,
kecuali dalam hal yang berikut :
a. Apabila akibat kejahatan itu dirasakan di Negara pantai;
b. Apabila kejahatan itu termasuk jenis yg mengganggu kedamaian Negara tsb atau
ketertiban laut wilayah;
c. Apabila Nakhoda kapal / wakil diplomatik / pejabat konsuler Negara bendera
minta bantuan penguasa setempat ; atau
d. Apabila tindakan demikian diperlukan utk menumpas perdagangan gelap narkotika
atau bahan psychotropis.

WILAYAH INDONESIA 3 MIL LAUT


(ORDONANSI 1939)

WILAYAH INDONESIA SETELAH DEKLARASI DJUANDA


(DITERIMA DALAM UNCLOS 1982 PASAL 3)

72
WILAYAH ZEE INDONESIA 1980
(DIAKUI UNCLOS 1982 PASAL 57)

Laut Teritorial, ZEE, Laut Lepas

0000

XIV. STCW-1978-AMANDEMEN

73
STCW International Convention on Standards of Training Certification and Watchkeeping for
Seafarers 1978 (STCW-1978)
(Konvensi Internasional ttg standar pelatihan, sertifikasi, dn tugas jaga bagi para pelaut )
Mulai berlaku tahun 1984
Diratifikasi Indonesia dg Kepres No. 60/1986
Di Amandemen pada tahun 1995 dan 2010

Konvensi STCW tahun 1978


Menetapkan persyaratan dasar tentang pelatihan, Sertifikasi dan dinas jaga bagi pelaut di tingkat
internasional.
Sebelum ada STCW
Standar pelatihan, sertifikasi dan Watchkeeping petugas dan peringkat didirikan oleh pemerintah masing-
masing.
Akibatnya standar dan prosedur pelayaran bervariasi secara luas / internasional

A. DAFTAR ISI STCW

STCW 1978
Bab I : Ketentuan Umum
Bab II : Nakhoda dan bagian dek
Bab III : Bagian Mesin
Bab IV : Komunikasi dan Personil radio
Bab V : Persyaratan pelatihan khusus utk personil pada kapal yg memiliki tipe tertentu
Bab VI : Fungsi darurat keselamatan kerja
Bab VII : Pemberian sertifikat alternatif
Bab VIII : Tugas jaga

STCW AMANDEMEN 1995 ( standar latihan, sertifikasi & tugas jaga para pelaut)
Bab I : Standar berkaitan dg Ketentuan Umum
Bab II : Standar berkaitan dg Nakhoda dan bag.dek
Bab III : Standar berkaitan dg bagian Mesin
Bab IV : Standar berkaitan dg Komunikasi dan Personil radio
Bab V : Standar berkaitan dg persyaratan pelatihan khusus utk personil pD kapal yg memiliki tipe tertentu
Bab VI : Standar berkaitan dg Fungsi darurat keselamatan kerja, perawatan kesehatan, penyelamatan di laut
Bab VII : Standar berkaitan dg pemberian sertifikat alternatif
Bab VIII : Standar berkaitan dg tugas jaga

STCW AMANDEMEN 2010


Bab I. Ketentuan Umum.
Bab II. Level Dukungan
Bab II. Level Operasional & Manajemen.
Bab III. Mesin
Bab V. Tanker dan Kapal Tanker:
Bab VI. Isu Lingkungan Laut:
Bab VII. Sertifikat Alternatif
Bab VIII. Tugas Jaga

STCW 1978 diperkuat dengan amandemen pada tahun :


1991 : Mengenai persyaratan teknis tambahan yg diperlukan dalam rangka penerapan keadaan
krisis dan sistem keamanan global (GMDSS = Global Maritime Distress and Safety System)
1994 : Mengenai perobahan bab V STCW 1978 ttg syarat yang diwajibkan pd latihan
khusus utk awak kapal tanker
1995 : Amandemen STCW 1995
2010 : Amandemen STCW 2010 Manila

B. 3 PIHAK YANG BERTANGGUNG JAWAB MELAKSANAKAN STCW 1978


1. Adminitration (pemerintah - Ditjen Perhubungan Laut)

74
Tugas merobah peraturan terkait perobahan STCW
2. Shipping Companies (Perusahaan Pelayaran)
- Tugas mengawaki kapalnya sesuai STCW
- Wajib memberi pelatihan tambahan agar kompetensinya sesuai STCW
3. Education and Training Institution (Pusat Pengembangan SDM Perla)
Tugas merobah kurikulum dan sylabus diklat,
Meningkatkan kualitas pengajar dan fasilitas diklat sesuai STCW

C. AMANDEMEN 1995, tujuannya :


Menjabarkan persyaratan teknis code terkait
Menjelaskan keahlian dan kompetensi yang disyaratkan dan mempertimbangkan metode pelatihan modern.
Mensyaratkan pemerintah mengawasi langsung dan mengukuhkan kualifikasi Nakhoda, perwira dan personil
radio yang diberi kewenangan dinas kapal

Standar Kemampuan tanggung jawab :


a. Manajemen level,
b. Operasional level,
c. Supporting level (penunjang)

Manajemen level
Tanggung jawab berkaitan dg tugas sbg Nakhoda, Mualim I, KKM dan Masinis II di kapal.
Jaminan semua fungsi sesuai lingkup tugas dilaksanakan secara baik.

Operasional level
Tingkat tanggung jawab berkaitan dengan :
Tugas sbg perwira dlm tugas navigasi atau tugas jaga mesin atau
Tugas sbg perwira yg ditunjuk sbg jaga kamar mesin atau sbg operator radio.
Pelaksanaan pengontrolan langsung terhadap semua fungsi bidang tugasnya sesuai prosedur yg
benar dibawah pengarahan seseorang yg bertugas dlm tingkat man ajemen

Supporting level
Tingkat pendukung berarti
tanggung jawab yg berkaitan dg pelaksanaan tugas yang diberikan, dibawah pengarahan
seseorang yg bertugas dlm tingkat operasional atau tingkat manajemen.

LINGKUP AMANDEMEN 1995

Tanggung jawab perusahaan


a. Perusahaan pelayaran bertanggung jawab/ menjamin
- Para pelaut yang dipekerjakan memenuhi standar minimum kompetensi internasional
- Kapal diawaki sesuai persyaratan negara bendera.
- Pemeliharaan terhadap catatan terinci dari para pelautnya.
b. Perusahaan pelayaran disyaratkan menjamin pelautnya telah mengikuti familiarization
c. Para pejabat PSC (Port State Control Officers) memiliki kewenangan untuk meyakinkan para
pelaut diatas kapal telah memiliki kompetensi operasional.
d. Setiap administration (negara bendera) bertanggung jawab pada perusahaan untuk
penempatan para pelaut bekerja diatas kapal

RENCANA PELAYARAN
- Pelayaran direncanakan terlebih dahulu, haluan yg ditetapkan diperiksa sebelum dilaksanaka
- KKM bermusyawarah dg Nakhoda, utk menentukan kebutuhan dlm pelayaran ttg bahan
bakar, air bersih, minyak lumas, bahan kimia, suku cadang, alat persediaan dsb.
- Nakhoda hrs menjamin pemberangkatan menuju pelabuhan berikutnya menggunakan peta
yg memadai

PELAKSANAAN TUGAS JAGA

75
Perwira yg tugas jaga navigasi merupakan wakil Nakhoda dan bertanggung jawab atas navigasi
yg aman, hrs patuhi peraturan pencegahan tubrukan di laut 1972 & SOLAS 74
Tugas jaga navigasi hrs dianjungan, tdk boleh meninggalkan tempat sebelum ada pergantian
jaga
Perwira yg tugas jaga mesin berarti wakil KKM dan bertanggung jawab atas keselamatan dan
efisiensi pengoperasian dan pemeliharaan mesin kapal

Nakhoda wajib menjamin bahwa pengaturan tugas jaga telah memadai utk dilaksankan secara
aman
KKM wajib menjamin bahwa pengaturan tugas jaga telah memadai utk memelihara tugas
jaga mesin yg aman
Nakhoda, Perwira dan bawahan hrs mengetahui akibat pencemaran krn operasional kapal
dan kecermatan mencegah pencemaran

D. AMANDEMEN 2010 (mulai berlaku 1 Januari 2012)


1.  Sertifikat Kompetensi & Endorsement-nya hanya boleh dikeluarkan oleh Pemerintah -
sehingga mengurangi kemungkinan pemalsuan sertifikat kompetensi.
2.  Pelaut yang telah menjalani pemeriksaan kesehatan sesuai Standar medis umum untuk
pelaut dari satu negara dapat berlaku di kapal yang berasal dari negara lain tanpa menjalani
pemeriksaan medis ulang.
3.  Persyaratan revalidasi sertifikat dirasionalisasi untuk kepentingan pelaut.
4.  Pengenalan metodologi pelatihan modern seperti pembelajaran jarak jauh dan
pembelajaran berbasis web.
5.  Jam istirahat bagi pelaut dikapal diselaraskan dengan persyaratan Maritime Labor
Convention ILO/MLC (Konvensi Buruh Maritim ILO) 2006, dengan maksud untuk
mengurangi kelelahan.
6.  Memperkenalkan persyaratan-persyaratan tambahan untuk menghindari alkohol dan
penyalahgunaan zat terlarang.
7.  Kompetensi dan kurikulum baru harus terus diperbarui mengikuti perkembangan teknologi
modern dan kebutuhan riil dilapangan.
8. Ketentuan persyaratan baru untuk able seafarers (kecakapan pelaut).
9. Persyaratan baru pelatihan alat-alat modern, misalnya ECDIS (Electronic Charts, and
Information Systems)
10. Persyaratan baru tentang
- pelatihan kesiagaan thdp lingkungan maritime,
- pelatihan tentang kepemimpinan dan kerja tim (leadership and team work).
11. Pelatihan dan sertifikasi untuk electro-technical officers dan rating.
12. Persyaratan updating untuk pelaut yang bekerja dikapal-kapal tankers, dan di liquefied gas
tankers (LNG dan LPG)

Amendemen 2010 yang signifikan diantaranya


 Jam Istirahat baru untuk pelaut
 Tingkatan sertifikat kompetensi baru untuk pelaut pada dek dan mesin
 Pelatihan terbaru, persyaratan yang diperbarui
 Pelatihan keamanan yang bersifat wajib
 Tambahan pada standar medis
 Pembatasan pada alkohol dalam darah dan nafas yang spesifik

STANDAR MEDIS PELAUT


Sertifikat Medis untuk pelaut harus memiliki validitasi 2 tahun atau 1 tahun untuk pelaut
berusia 16-18 tahun.
Jika validitas medis berahir pada tengah pelayaran , maka sertifikat medis dapat
diperpanjang sampai dengan pelabuhan berikutnya dengan masa berlaku 3 bu lan.

Waktu Istirahat
Setiap awak kapal yang ditugasi jaga harus diberikan waktu istirahat
 minimal 10 jam ( 6 dan 4 ) dlm waktu 24 jam (rata-rata 11 jam/hari x 7 hari)

76
 77 Jam istirahat dalam waktu 7 hari
 Jam istirahat dapat dibagi menjadi tidak lebih dari 2 periode, yang mana salah satunya  
harus berdurasi sedikitnya selama 6 jam dan interval waktu antara periode yang
berlangsung secara terus menerus tidak boleh melampaui 14 jam
 Pengurangan jam istirahat menjadi 70 jam dlm 7 hari diperbolehkan utk waktu tdk lebih
dari 2 minggu berturut turut.
TUGAS NAKHODA TTG JAM ISTIRAHAT
Nakhoda harus menempatkan pengumuman yang memuat pembagian jam kerja diatas kapal
berisi informasi jadwal kerja/istirahat harian selama berlayar dan selama dipelabuhan, pada
tempat yang mudah terlihat dan diakses diatas kapal, dalam bahasa yag dipergunakan diatas
kapal dan dalam bahasa Inggris , untuk memudahkan bagi semua ABK.
PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN ALKOHOL
Nakhoda, perwira dan ABK pada saat
- melaksanakan tugas jaga anjungan dan kamar mesin atau tugas lain
- yang berkaitan dengan keselamatan, keamanan dan pencegahan polusi
- tidak diperbolehkan mengkonsumsi alkohol yang melampaui batas kandungan alkohol
dalam darah. (BAC-Blood Alcohol Level) lebih besar dari 0.05 % atau kandungan 0,
25mg/l dalam nafasnya.

PERUBAHAN PENTING DIKLAT PELAUT


Materi BST ditingkatkan :
 pencegahan polusi terhadap lingkungan laut,
 komunikasi yang efektif dan human relationship diatas kapal.
Pemegang sertifikst BST diwajibkan untuk setiap 5 tahun sekali untuk mengikuti diklat
pembaruan

TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN PELAYARAN


Perusahaan pelayaran memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa :(Amandemen
Manila 2010)
a. Pelaut yang bekerja di atas kapalnya telah menerima diklat penyegaran dan pembaruan
(updating)
b. Jumlah awak kapal di atas kapal cukup memenuhi untuk melaksanakan tugas berkaitan
dengan keamanan kapal.
c. Tercipta komunikasi lisan yang efektif setiap saat diatas kapalnya, (SOLAS Chapter V -14).

ISI AMANDEMEN 2010


Beberapa hal pokok terkait Amandemen 2010, adalah sebagai berikut : https://ilmu-
laoet.blogspot.com/2012/07/isi-stcw-amandemen-2010-amandemen-stcw.html 21-5-20
Bab I Ketentuan Umum.
• Peraturan I / 2: Hanya Pemerintah yang dapat mengeluarkan Certificate of Competecy
(COC) dan menyediakan database elektronik utk verifikasi keaslian sertifikat
• Peraturan I /3: Persyaratan Near Coastal Voyage dibuat lebih jelas, termasuk principal yang
mengatur pelayaran dan melakukan "kegiatan usaha" dgn Pihak yg terkait
(negara bendera dan negara pantai).
• Peraturan I/4: Penilaian/pemeriksaan Port State Control (PSC) terhadap pelaut yang
melaksanakan tugas jaga  dan standar keamanan - "Harus memenuhi
Standar keamanan" dalam daftar.
• Peraturan I / 6: Pedoman e-learning (pembelajaran elektronik)
• Peraturan I / 9: standar Medis diperbaharui sejalan dengan Persyaratan ILO MLC.
• Peraturan I/11: Persyaratan revalidasi dibuat lebih rasional dan termasuk  persyaratan
revalidasi atas endorsement sertifikat kapal tanker
• Peraturan I/14 : Perusahaan bertanggung jawab terhadap pelatihan penyegaran
pelaut di kapal mereka
Bab II,  Level Dukungan
Bagian Departemen Dek. Perubahan utama dalam Bab II adalah penambahan
Pelaut Trampil (Able Seafarers/AB) – Deck Rating.

77
Ini terpisah dari Rating yang melaksanakan tugas jaga Navigasi (Rating Forming Part
of a Navigational Watch / RFPNW).
Berdasarkan persyaratan untuk bekerja dikapal, penting bagi pelaut untuk
mendapatkan kualifikasi RFPNW sebisa mungkin pada awal sekali dari karir mereka.
Pelaut tidak secara otomatis mendapat kualifikasi AB sampai kualifikasi RFPNW telah
dipenuhi dan lisensi tersebut harus mendapatkan sertifikat pengukuhan
(endorsement) AB.
Ini akan membutuhkan pelatihan dan pengujian serta akan menjadi pasal baru yang
disebut A-II / 5.

Bab II, Level Operasional dan Manajemen.


Untuk Electronic Chart Display and Information System / ECDIS (Peta dan Sistim
Informasi Elektronik), perlu pelatihan bagi semua Perwira Dek untuk semua kapal
yang dilengkapi dengan ECDIS.
Pelatihan ECDIS dilaksanakan sama seperti pelatihan ARPA ataupun GMDSS,
dimana ada pembatasan dalam STCW yaitu seseorang tidak boleh bekerja di kapal
dengan perlengkapan tersebut jika ia tidak memiliki sertifikat ECDIS.
Pada 2012 hampir semua kapal dengan bobot mati lebih dari 200 ton akan diatur di
bawah hukum yang terpisah untuk memiliki peralatan ECDIS.
Secara otomatis, setiap Perwira Dek dikapal berbobot lebih dari 200 ton akan
membutuhkan pelatihan ECDIS. Akan ada dua tingkat ECDIS, yakni operasional dan
manajemen dengan tanggung jawab yang berbeda dari masing-masingnya.
Manajemen SDM yang bertugas di anjungan kapal, Pelatihan Tim Kerja dan
Kepemimpinan akan diwajibkan baik di tingkat operasional maupun manajemen.

Bab III,  Mesin


Perubahan utama dalam Bab III adalah penambahan Pelaut Trampil bagian Mesin
(Engine Rating). Ini terpisah dari rating yang melaksanakan tugas jaga mesin.
Banyak negara hanya memiliki level rating yang melaksanakan tugas jaga (Rating
Forming Part of a Enginee Watch / RFPEW), dan untuk pelaut trampil pemula dibagian
mesin disyaratkan memiliki sertifikat RFPEW sesuai ketentuan STCW. Ini akan
membutuhkan pelatihan dan pengujian dan akan menjadi pasal baru yang disebut A-
III/5.
Pasal A-III/1 akan diformat ulang dan diatur kembali. Anda tidak lagi perlu melakukan
pelatihan selama 30 bulan  di kamar mesin yang disetujui. Kata-katanya sekarang akan
lebih disinkronkan dengan departemen dek dan berbunyi tiga tahun masa kerja di laut
dengan satu tahun gabungan keterampilan bengkel dan enam bulan jaga mesin
(engine room watchstanding).
Perwira Teknik Elektro (Electro Technical Officer/ETO) dan Bawahan Teknik Elektro
(Electro Technical Rating/ETR) akan ditambahkan.
Manajemen SDM di Kamar Mesin, Pelatihan Tim Kerja dan pelatihan Kepemimpinan
akan diwajibkan baik di tingkat operasional maupun manajemen.

Bab V, Tanker dan Kapal Tanker:


Sekarang akan ada tiga kategori Awak kapal Tanker pada kapal tanker, yaitu:
• Awak kapal tanker Minyak.
• Awak kapal tanker Kimia
• Awak kapal tanker Gas Cair.
Selain itu, setiap kategori Awak kapal tanker akan dipisahkan atas dua tingkat, yaitu :
• Dasar (saat ini disebut asisten)
• Lanjutan (saat ini disebut Penanggung Jawab (PIC).
Yang akan menjadi perubahan besar adalah pemisahan bahan kimia dari minyak dan
masing-masing memerlukan prasyarat tersendiri untuk diawaki pada setiap jenis kapal
dan pelatihan khusus untuk masing-masingnya. Selain itu, akan ada Kursus
Pemadaman Api di Kapal Tanker, meskipun beberapa pihak memperbolehkan
Program Pemadaman Api Dasar untuk menutupi persyaratan ini.
Kapal Penumpang - Akan ada konsolidasi aturan untuk kapal penumpang.
Offshore Supply Vessels (OSV)/Kapal Supply Offshore, Dynamis Positioning  (DP)

78
Vessels/Kapal dengan Kendali Posisi Dinamis dan kapal yang beroperasi di Perairan
yang Tertutupi Es:  Akan ada pasal baru yang memuat panduan terkait lisensi khusus
atau persyaratan pelatihan untuk OSV, DPV dan kapal yang beroperasi di Perairan
yang Tertutupi Es.

Bab VI, Isu Lingkungan Laut:


Amandemen akan mencakup penambahan isu kesadaran lingkungan laut dalam
Kursus Keselamatan Pribadi & Tanggung Jawab Sosial (Personal Safety & Social
Responsibilities/PSSR) yang dilaksanakan sebagai bagian dari Pelatihan Keselamatan
Dasar (Basic Safety Training/BST) serta tingkat operational yang memperhatikan
kelestarian lingkungan laut pada setiap tingkatan sertifikasi sesuai STCW Code A-II / 1
dan A-III / 1.
Pelatihan Keselamatan Dasar (BST) :
Cakupan PSSR akan ditambahkan beberapa subyek sebagai berikut :
• Komunikasi.
• Pengendalian Kelelahan.
• Tim Kerja.
Subyek tambahan ini akan membuat modul PSSR lebih panjang tapi harus kurang dari
satu hari panjangnya. Tetap saja, ini akan memperpanjang program Pelatihan
Keselamatan Dasar dari yang biasanya lima hari menjadi setidaknya 5,5 hari.
Pelatihan Penyegaran untuk Keselamatan :
Salah satu elemen kunci dari amandemen STCW 2010 tampaknya adalah penghapusan
celah yang berkaitan dengan pelatihan penyegaran.
Kode (Aturan) STCW, yang kabur di area ini menyebabkan banyak negara memilih
untuk menafsirkan persyaratan "dalam waktu lima tahun" secara longgar. Telah
diputuskan bahwa program tertentu yang dapat mempengaruhi keselamatan dan
kelangsungan hidup awak kapal dan penumpang mewajibkan latihan penyegaran
pengendalian keadaan darurat / keselamatan dilaksanakan secara berkala.
Latihan penyegaran keselamatan dapat dilaksanakan dalam bentuk e-learning
(pembelajaran secara elektronis), latihan di atas kapal atau pelatihan di darat.
Kursus keselamatan akan memerlukan pelatihan penyegaran setiap lima tahun dan
program pelatihannya dapat diperpendek dari panjang durasi pelatihan aslinya.
Latihan penyegaran dengan metode yang disetujui (di kelas atau kapal - belum
ditentukan) adalah:
• Proficiency in Survival Craft and Rescue Boats (SCRB).
• Advanced Firefighting (AFF).
• Basic Safety Training (BST).
• Fast Rescue Boat.
• Medical Training.
Pelatihan Keamanan.
Amandemen akan mencakup tiga tingkat pelatihan keamanan
• Tingkat Satu – Kesadaran Keamanan (Semua anggota kru)
• Tingkat Dua - Petugas Keamanan
• Tingkat Tiga – Ship Security Officer (Perwira Keamanan Kapal) - ISPS C ode
Pelatihan Anti Pembajakan juga akan ditambahkan pada setiap level/tingkat.

Bab VIII: Tugas Jaga.


Bagian Aturan STCW ini akan diselaraskan dengan ILO MLC. ILO MLC telah
ditandatangani pada tahun 2006 dan dibuat sebagai aturan baru yang mengatur hak
para pelaut sehingga akan ada standar minimum global tentang bagaimana pelaut
diperlakukan.

Harmonisasi dengan IMO MLC


Ketika IMO melakukan pengawasan atas sertifikasi berdasarkan Konvensi STCW, ILO
melakukan pengawasan terhadap  pelaksanaan Konvensi MLC. 
Ketika ILO mengadopsi "Seafarers Bill of Rights" (Hak-Hak Dasar Pelaut) bagi para

79
pelaut di dunia, semua pihak - pemerintah, pelaut dan pemilik kapal - memuji standar
kerja baru ini sebagai perkembangan penting bagi sektor industri dunia yang paling
terglobalisasi.
IMO telah mengambil langkah penting untuk membangun perlindungan di bidang
keselamatan, sertifikasi dan polusi, tetapi sektor ini dibanjiri dengan berbagai standar
ketenagakerjaan internasional dari sejak lebih dari delapan dekade terakhir.

ILO MLC 2006 memodernisasi standar-standar ini untuk:


1. Konsolidasi dan memperbarui lebih dari 60 Konvensi ILO dan Rekomendasi-
rekomendasinya yang telah pernah dibuat sebelumnya.
2.  Menetapkan persyaratan minimum bagi pelaut untuk bekerja pada sebuah kapal.
3. Menangani kondisi kerja, akomodasi, fasilitas rekreasi, makanan dan katering,
perlindungan kesehatan, perawatan medis, perlindungan kesejahteraan dan
jaminan sosial.
4.  Mempromosikan kepatuhan bagi operator dan pemilik kapal dengan memberikan
fleksibilitas yang cukup pada pemerintah untuk menerapkan persyaratan dalam
cara yg terbaik disesuaikan dgn undang-undang nasional masing-masing negara.
5.  Memperkuat mekanisme penegakan/pelaksanaan pada semua tingkatan, termasuk
ketentuan untuk prosedur keluhan yang tersedia bagi pelaut, pengawasan yang
dilakukan oleh para pemilik kapal dan nakhoda terhadap kondisi kapal-kapal
mereka, yurisdiksi negara bendera dan kontrol atas kapal mereka, dan inspeksi
negara pelabuhan pada kapal asing.

STCW 1978 Amandemen 2010 berlaku bagi :


Pelaut-pelaut yg bertugas dikapal pelayaran Samudera yg diberi hak utk mengibarkan bendera
negara.
Kecuali bagi pelaut yg bertugas di : Kapal perang, Armada pembantu AL, Kapal pemerintah non
komersil, Kapal ikan (STCW-F 1995), Kapal kayu yg dibangun secara tradisional, Kapal kayu yg
dibangun secara primitif.

PERSYARATAN MEMPEROLEH SERTIFIKAT PELAUT


Untuk Indonesia berdasarkan STCW-1978 Amandemen 2010 diatur dalam PM 70/2013 jo PM
140/2016 tentang Pendidikan dan Latihan, Sertifikasi serta Jaga Pelaut

oooo

XV. S O L A S 1974

SOLAS ( International Convention For The Safety of Life at Sea), 1974

80
( Konvensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa di Laut )
Diratifikasi Indonesia dg Kepres No. 65/1980 tgl 17 Des 1980
SOLAS adalah Kesepakatan Internasional terkait dengan keselamatan jiwa di kapal niaga
sbg alat angkut utama dlm kegiatan perdagangan global

A. Alasan SOLAS diterbitkan :


 Pekerjaan sebagai pelaut memiliki resiko yang cukup tinggi dan paling berat
 Yang tidak bisa diduga adalah faktor alam.
- Cuaca di laut yang buruk,
- Angin yang sangat kencang serta
- Gelombang yang tinggi.
 Faktor peralatan mesin dan SDM juga tak kalah penting berkaitan dengan keselamatan kapal

B. VERSI SOLAS
Ada 5 versi Konvensi SOLAS ini yaitu :
2. SOLAS 1914 atas kasus kapal Titanic 14 April 1912.
Persyaratan keselamatan pelayaran bagi kapal niaga, yang terdiri atas:
- penyediaan sekat kedap air,
- penggunaan material tahan api;
- peralatan keselamatan,
- peralatan pencegahan dan pemadam kebakaran,
- kewajiban penggunaan radio/telegraf bagi kapal yang membawa lebih dari 50 orang.
SOLAS tahun 1914 ini batal diberlakukan karena pecah perang dunia pertama di Eropa. Hanya
berlaku di Inggris, Prancis, Amerika Serikat dan beberapa negara Skandinavia

3. SOLAS 1929 diberlakukan tahun 1933


Menyepakati sekitar 60 pasal yang meliputi :
 pembangunan kapal,
 peralatan keselamatan,
 pencegahan dan pemadaman kebakaran,
 peralatan telegrafi nirkabel,
 alat bantu navigasi, dan
 aturan pencegahan tabrakan (Collision Regulations).

4. SOLAS 1948 diberlakukan tahun1952


SOLAS 1948 ini menghasilkan beberapa perubahan dalam format SOLAS 1929 namun lebih detil
dan lebih luas cakupannya

5. SOLAS 1960 diberlakukan tahun 1965


SOLAS 1960 mengenai desain untuk meningkatkan faktor keselamatan kapal seperti :
a. desain konstruksi kapal
b. permesinan dan instalasi listrik
c. pencegah kebakaran
d. alat-alat keselamatan
e. alat komunikasi dan keselamatan navigasi

6. SOLAS 74
Konvensi SOLAS 1974 tgl. 21 Okt s/d 1 Nov 1974 di London, diberlakukan tahun 1980.
Ratifikasi dengan Keppres 65/1980

DAFTAR ISI SOLAS 1974

Bab I : Ketentuan Umum


Berisi tentang peraturan-peraturan survei berbagai jenis kapal, dan ketentuan

81
pemeriksaan kapal oleh negara lain.
Terutama yg berhubungan dengan survey / pemeriksaaan berbagai jenis kapal
Penerbitan dokumen yang menandakan bahwa kapal memenuhi persyaratan
konvensi

. Bab II - 1 Konstruksi
Berisi persyaratan konstruksi kapal, sekat-sekat kedap air, stabilitas kapal,
permesinan kapal dan kelistrikan.

Bab II - 2 Pelindungan kebakaran, deteksi kebakaran dan pemadaman kebakaran


Berisi tentang ketentuan tentang sekat kedap api, sistim deteksi kebakaran, dan
peralatan, jenis dan jumlah pemadam kebakaran diberbagai jenis kapal .

Bab III Alat Penolongan dan Pengaturannya


Semua kapal harus ada alat penolong sesuai jenis, perlengkapan, spesifikasi
konstruksi, metode penetapan kapasitas dan ketentuan memelihara, prosedur darurat
dan latihan rutin.

Bab IV Komunikasi Radio (Radio Communications),


Berisi ketentuan pembagian wilayah laut, jenis dan jumlah alat komunikasi yang
harus ada di kapal serta peroperasiannya. selanjutnya adalah GMDSS
(Global Maritime Distress and Safety System).

Bab V Keselamatan navigasi (Safety of Navigation),


Berisi ketentuan tentang peralatan navigasi yang harus ada di kapal, termasuk Radar,
AIS, (Automatic Identification System), VDR (Voyage DAta Recorder) dan mesin serta
kemudi kapal.
Permenhub No. 7 Tahun 2019, mulai 20-8-2019 semua kapal yg berlayar di perairan
Indonesia wajib memasang dan mengaktifkan Sistem Identifikasi Otomatis atau AIS .

Bab VI Muatan barang curah (Carriage of Cargoes),


Berisi ketentuan tentang bagaimana menyiapkan dan penanganan ruang muat dan
muatan, pengaturan muatan termasuk lashing.
Turunannya adalah IG (International Grain) Code. yaitu standar internasional untuk
pengangkutan biji-bijian yang aman dalam jumlah besar .

Bab VII Muatan barang berbahaya (Carriage of dangerous goods),


Berisi ketentuan tentang bagaimana menyiapkan dan menangani muatan berbahaya
yang dimuat di kapal.

Bab VIII Kapal Nuklir (Nuclear ships),


Berisi ketentuan yang harus dipenuhi oleh kapal yang menggunakan tenaga nuklir,
termasuk bahaya-bahaya radiasi yang ditimbulkan.
Bab IX Managemen keselamatan operasi kapal
(Management for the Safe Operation of Ships)
Berisi ketentuan tentang manajemen pengoperasian kapal untuk menjamin
keselamatan pelayaran. Bab ini hadir karena peralatan canggih tidak menjamin
keselamatan tanpa manajemen pengoperasian yang benar.
Mulai 1 Juli 1998 wajib diterapkan bagi kapal penumpang termasuk kapal penumpanag
kecepatan tinggi, oil tanker, chemical tankers, gas carriers, bulk carriers dan kapal barang
kecepatan tinggi bobot 500 GT keatas (ISM Code)

Bab X Ketentuan keselamatan kapal berkecepatan tinggi


(Safety measures for high-speed craft),.
Berisi ketentuan-ketentuan tentang pengoperasian kapal-kapal berkecepatan tinggi,
dan memberlakukan HSC Code.( International Code of Safety for High-Speed Craft)

82
Bab XI-1 Upaya khusus untuk meningkatkan keselamatan maritim
(Special measures to enhance maritime safety),
Berisi ketentuan tentang RO (Recognized Organization), yaitu badan yang ditunjuk
pemerintah sebagai pelaksana survey kapal atas nama pemerintah, nomor identitas
kapal dan Port State Control (Pemeriksaan kapal berbendera asing oleh suatu
negara)
Negara pelabuhan yang melakukan pengawasan akan mengambil langkah bahwa
kapal tidak akan berlayar hingga kondisi menjadi baik sesuai persyaratan konvensi
yang berlaku.

Bab XI-2 Langkah-langkah khusus untuk meningkatkan keamanan maritim


Mengatur ttg Kapal Internasional dan Pelabuhan Fasilitas Keamanan Code (ISPS
Code). berisi ketentuan bagaimana meningkatkan keamanan maritim, oleh kapal,
syahbandar dan pengelola pelabuhan. Dari Bab ini kemudian diberlakukan ISPS
Code.
(The International Ship and Port Facility Security Code – ISPS Code) oleh IMO

Bab XII Aturan tambahan kapal curah


Langkah keselamatan tambahan untuk kapal pengangkut muatan curah (Additional
safety measures for bulk carriers),
Berisi ketentuan tambahan tentang konstruksi untuk kapal pengangkut curah yang
memiliki panjang lebih dari 150 meter

Bab XIII Verifikasi kesesuaian (Verification of compliance),


Berisi ketentuan tentang implementasi SOLAS 1974 di negara-negara yang telah
meratifikasi.

Bab XIV: Langkah keselamatan untuk kapal yang beroperasi di perairan kutub
(Safety measures for ships operating in polar waters),
Berisi ketentuan yang harus dipenuhi oleh kapal yang berlayar di wilayah kutub dan
sekitarnya.

NCVS
Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan nomor KM 65/2009 tentang standar kapal non
konvensi (Non Convention Vessel Standard – NCVS) berbendera Indonesia, dan
SK Dirjen Perhubungan Laut No. Um.008/9/20/DJPL-12 tentang pemberlakuan standar dan
petunjuk teknis pelaksanaan kapal non konvensi berbendera Indonesia.
Alasan NCVS ini diberlakukan bagi kapal berbobot dibawah 500 GT karena SOLAS hanya
mengatur kapal yang berbobot 500 GT atau lebih.

Kapal non konvensi berbendera Indonesia meliputi,


 Kapal penumpang yang hanya belayar di perairan Indonesia,
 Seluruh kapal niaga yang tidak berlayar ke luar negeri,
 Kapal-kapal barang berukuran dibawah 500 GT yang berlayar ke luar negeri,
 Kapal yang tidak digerakan dengan tenaga mekanis (tongkang, pontoon dan kapal
layar),
 Kapal-kapal kayu atau kapal layar motor (KLM) dengan mesin penggerak,
 Kapal-kapal penangkap ikan,
 Kapal-kapal pesiar,
 Kapal-kapal dengan rancang bangun baru dan tidak biasa (novel),
 Kapal-kapal negara yang difungsikan untuk niaga, dan

83
 semua kapal yang ada, yang mengalami perubahan fungsi.

NCVS berlaku terhadap kapal :


1. kapal niaga yang tidak berlayar ke luar negeri;
2. Kapal-kapal niaga berukuran di bawah 500 GT yang ber-layar ke luar negeri;
3. Kapal-kapal yang tidak digerakkan dgn tenaga mekanis (tongkang, pontoon dan kapal layar)
4. Kapal-kapal kayu (KLM) dan kapal kayu dengan mesin penggerak
5. Kapal penangkap ikan;
6. Kapal pesiar
7. Kapal–kapal yang dibangun memenuhi persyaratan kebaharuan
8. Kapal negara yang difungsikan untuk niaga
9. Semua kapal yang ada yang mengalami perubahan fungsi

NCVS tidak berlaku bagi :


1. Kapal pesiar (cruise) yang digunakan untuk perniagaan (sudah konvensi Internasional);
2. Kapal perang;
3. kapal Negara

Daerah pelayaran tidak terbatas : semua pelayaran melebihi 200 mil dari pantai
Daerah pelayaran lepas pantai : pelayaran dalam batas 200 mil dari pantai atau batas yang
lebih kecil yg ditetapkan otoritas yg berwenang
Pelayaran lepas pantai terbatas : pelayaran didalam 30 mil dari batas kedaerah laut aman

Daftar Isi NCVS


Bab I - Pendahuluan
Bab II - Konstruksi
Bab III - Peralatan
Bab IV - Perlengkapan Keselamatan
Bab V - Permesinan dan Kelistrikan
Bab VI - Garis Muat
Bab VII - Pengukuran Kapal
Bab VIII - Pengawakan
Bab IX - Manajemen Operasional 0000

XVI. ISM – CODE

International Managemen for the Safe Operation of the Ships and for Polution Prevention
Manajemen Internasional untuk Keselamatan Operasi Kapal-kapal dan untuk Pencegahan

84
Pencemaran atau disingkat dengan
International Safety Managemen Code (ISM Code )
( Code Manajemen Keselamatan Internasional ).
Code disahkan IMO tanggal 4 Nop 1993 di London dengan Resolusi A 741 (18) dan
Suatu instrumen Internasional yang diwajibkan kepada seluruh anggota IMO untuk
menerapkannya mulai tanggal 1 Juli 1998 sesuai ketentuan dlm konvensi SOLAS 1974
SK Dirjen Perla No PY. 67/1/6-96 tanggal 12 Juli 1996 tentang Pemberlakuan Manajemen
Keselamatan Kapal (ISM Code)
Berdasarkan SK Dirjen Perla, ISM Code berlaku bagi ;
 kapal-kapal berbendera Indonesia yang digunakan untuk pelayaran dalam negeri dan
internasional.
 Mobile Offshore Drilling Unit (yang berbobot kotor lebih dari 500 ton) atau MODU
yang digunakan dalam proses pengeboran minyak juga termasuk dalam kapal yang
diwajibkan memberlakukan ISM Code ini.
SOLAS – 1974
Bab IX : Management for the Safe Operation of Ships.
( Manajemen Keselamatan Operasi Kapal-Kapal )

I. ISI ISM CODE

A. IMPLEMENTASI
1. Ketentuan Umum
2. Kebijakan mengenai Keselamatan dan Perlindungan Lingkungan
3. Tanggung Jawab dan Wewenang Perusahaan
4. Personil yang ditunjuk sbg koordinator antara perusahaan dan kapal
5. Tanggung Jawab dan Wewenang Nakhoda
6. Sumber daya dan Personil
7. Pengembangan program untuk operasi di kapal
8. Kesiapan Terhadap Keadaan darurat
9. Laporan dan Analisis mengenai penyimpangan kecelakaan dan kejadian yang membahayakan
10. Pemeliharaan kapal dan Perlengkapannya
11. Dokumetasi
12. Tinjauan terhadap hasil veriifikasi dan evaluasi perusahaan

B. SERTIFIKAT DAN VERIFIKASI


13. Sertifikasi dan Verifiikasi Berkala
14. Sertifikasi Interim (sementara)
15. Verifikasi
16. Bentuk Sertifikat

PEMBUKAAN
1. Tujuan ISM Code
ISM Code memberikan standar Internasional yang aman untuk :
 manajemen keselamatan dalam pengoperasian kapal-kapal dan
 upaya pencegahan/ pengendalian pencemaran lingkungan.

2. Majelis mengadopsi resolusi A.443 (XI) Tanggal 14-11-1979


Mengundang semua pemerintah untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi nakhoda
kapal dalam melaksanakan tanggung jawabnya berkaitan dengan keselamatan maritim dan perlindungan
lingkungan laut.
3. Majelis mengadopsi resolusi A.680 (17) tanggal 6-11- 1991
Mengakui perlunya organisasi yang tepat dari manajemen untuk :
 memungkinkan merespon kebutuhan orang-orang di atas kapal untuk mencapai dan
mempertahankan standar keselamatan yang tinggi dan perlindungan lingkungan.

85
1. Ketentuan Umum
Definisi
“Manajemen Keselamatan Internasional (ISM) Code"
Kode Manajemen Internasional untuk Keselamatan Pengoperasian Kapal dan Pencegahan
Pencemaran , seperti yang diadopsi oleh Majelis, yang dapat diubah oleh Organisasi .

"Perusahaan"
pemilik kapal atau organisasi lain atau orang tersebut sebagai manajer, atau menyewa kapal
yang telah mengambil alih tanggung jawab untuk pengoperasian kapal dari pemilik kapal
dengan asumsi setuju untuk mengambil alih semua tugas dan tanggung jawab yang
diberlakukan oleh Kode.

"Administrasi"
Pemerintah Negara yang bendera kapal berhak untuk terbang. ?
"sistem manajemen Keselamatan"
sistem yang terstruktur dan terdokumentasi memungkinkan personel Perusahaan untuk
melaksanakan secara efektif keselamatan Perusahaan dan kebijakan perlindungan lingkungan .

"Dokumen Kepatuhan"
dokumen yang dikeluarkan untuk sebuah perusahaan yang sesuai dengan persyaratan
Standar ini.

"Keselamatan Sertifikat Manajemen"


dokumen yang dikeluarkan untuk sebuah kapal yang menandakan bahwa manajemen
Perusahaan dan kapal yang beroperasi sesuai dengan sistem manajemen keselamatan yang
disetujui.
"Bukti obyektif"
informasi kuantitatif atau kualitatif, catatan atau pernyataan fakta yang berkaitan dengan keselamatan
atau terhadap eksistensi dan implementasi elemen sistem manajemen keselamatan, yang didasarkan
pada pengamatan, pengukuran atau tes dan yang dapat diverifikasi.

"Pengamatan"
pernyataan fakta yang dibuat selama audit manajemen keselamatan dan didukung oleh bukti
objektif.

"Non-sesuai"
berarti situasi yang diamati di mana bukti objektif menunjukkan tidak terpenuhinya
persyaratan yang ditentukan

"Mayor non-sesuai“
penyimpangan diidentifikasi menimbulkan ancaman serius terhadap :
- keselamatan personil atau kapal atau risiko serius terhadap lingkungan yang memerlukan
tindakan perbaikan segera dan termasuk kurangnya implementasi yang efektif dan
sistematis persyaratan Kode Etik ini.

"Tanggal Anniversary"
hari dan bulan setiap tahun yang sesuai dengan tanggal berakhirnya dokumen atau sertifikat
yang relevan.

"Konvensi"
Konvensi Internasional untuk Keselamatan Jiwa di Laut, 1974,
Tujuan dari Kode
memastikan keselamatan di laut, pencegahan cedera manusia atau hilangnya nyawa, dan
menghindari kerusakan lingkungan, khususnya lingkungan laut dan properti

86
Tujuan pengelolaan Keselamatan Perusahaan, antara lain:
 menyediakan praktek yg aman dalam operasi kapal dan lingkungan kerja yg aman;
 membangun perlindungan terhadap semua risiko yang teridentifikasi;
 terus meningkatkan keterampilan manajemen keselamatan personil darat dan kapal
kapal,termasuk mempersiapkan untuk keadaan darurat terkait baik untuk keselamatan dan
perlindungan lingkungan.

SASARAN OBYEKTIF
Sasaran secara obyektif ISM Code adalah
Untuk menjamin :
- keselamatan dilaut,
- mencegah terjadinya cedera,
- kehilangan jiwa manusia dan
- menghindari kerusakan pada lingkungan, khususnya lingkungan laut dan harta benda.

2. Kebijakan Mengenai Keselamatan dan Perlindungan Lingkungan


Perusahaan harus menyatakan secara tertulis kebijakannya (policy) tentang :
 keselamatan dan perlindungan lingkungan maritim (kelautan) dan
 memastikan bahwa setiap orang dalam perusahaannya mengetahui dan mematuhinya
Perusahaan menetapkan kebijaksanaan keselamatan dan perlindungan lingkungan menguraikan
tentang :
Sasaran yang akan dicapai yaitu
- menjamin keselamatan dilaut,
- mencegah terjadinya cedera / kehilangan jiwa manusia dan
- menghindari kerusakan pd lingkungan, khususnya dilingkungan laut dan harta benda.
Perusahaan harus menjamin kebijaksanaan dimaksud diimplementasikan dan dipelihara pada
semua tingkat organisasi, basis kapal dan basis darat.

3. Tanggung Jawab dan Wewenang Perusahaan


Perusahaan harus memiliki cukup orang-orang yang mampu bekerja di atas kapal dengan
peranan dan tanggung jawab yang didefinisikan secara tertulis dengan jelas.

4. Orang yg ditunjuk sbg Koordinator / penghubung antara pimpinan


perusahaan dan kapal
Perusahaan harus menunjuk/mengangkat seseorang atau lebih di kantor pusat di darat yang
bertanggung jawab untuk memantau dan mengikuti semua kegiatan yang berhubungan dengan
“Keselamatan” kapal.

5. Tanggung Jawab dan Wewenang Nakhoda / Master


Nakhoda bertanggung jawab untuk membuat sistem tersebut berlaku di atas kapal.
Ia harus membantu memberi dorongan / motivasi kepada ABK untuk melaksanakan sistem
tersebut dan memberi mereka instruksi-instruksi yang diperlukan. Nakhoda adalah “pimpinan”
di atas kapal dan bila dipandang perlu untuk keselamatan kapal atau awaknya dia dapat
melakukan penyimpangan terhadap semua ketentuan yang dibuat oleh kantor mengenai
“Keselamatan” dan “Pencegahan” yang sudah ada.

6. Sumber Daya dan Personalia


Perusahaan harus mempekerjakan orang-orang “yang tepat” di atas kapal dan di kantor serta
memastikan bahwa mereka semua mengetahui tugas-tugas mereka masing-masing.

Sumber Daya dan Personil


Perusahaan harus menjamin bahwa Nakhoda adalah :
 Benar-benar berkualifikasi untuk memegang jabatan pimpinan utama dikapal.
 Mengenal sepenuhnya Sistem Manajemen Keselamatan. (SMK - SMS)

87
 Perlu diberi dukungan sehingga tugas Nakhoda terselenggara dengan selamat.
 Perusahaan menjamin setiap kapal diawaki pelaut yang berkualifikasi , berijazah dan sehat
sesuai persyaratan nasional dan internasional.

7. Pengembangan Rencana untuk Pengoperasian Kapal


Perusahaan menetapkan prosedur persiapan perencanaan, instruksi kerja, dan cheklist untuk operasi di
kapal yang berhubungan dengan keselamatan kapal dan pencegahan pencemaran .

Berbagai tugas yang dilibatkan harus ditetapkan dan ditugaskan kepada personil yang
berkualifikasi.

8. Kesiapan Terhadap Keadaan Darurat


Perusahaan harus siap untuk hal-hal yg tidak terduga (darurat). dpt terjadi setiap saat.
Perusahaan harus mengembangkan rencana-rencana untuk menanggapi situasi-situasi darurat di
atas kapal dan mempraktekkan kepada mereka.
Kesiapan Keadaan Darurat
 Perusahaan menetapkan prosedur untuk mengidentifikasi, menggambarkan dan memberi
reaksi terhadap situasi darurat potensial diatas kapal.
 Perusahaan menetapkan program latihan pelaksanaan kesiapan tindakan darurat .
 SMS memuat setiap tindakan yang menjamin organisasi perusahaan memberi reaksi saat
terjadi bahaya, kecelakaan dan situasi darurat yang melibatkan kapal.

9. Laporan-laporan dan Analisis mengenai penyimpangan, kecelakaann


dan kejadian - kejadian yang membahayakan.
 Tidak ada orang atau sistem yang sempurna.
 Sitem yang baik adalah memberikan suatu cara untuk melakukan koreksi dan
memperbaikinya.
 Jika anda menemukan sesuatu yang tidak benar (termasuk kecelakaan dan situasi-situasi
yang berbahaya atau juga yang nyaris terjadi / near miss) laporkan hal itu.
 Hal-hal yang tidak benar tersebut akan dianalisa dan keseluruhan sistem dapat diperbaiki.

10. Pemeliharaan Kapal dan Perlengkapannya


 Kapal dan perlengkapannya harus dipelihara dan diusahakan selalu baik dan berfungsi.
 AK harus selalu mentaati semua ketentuan yang berlaku.
 Semua peralatan / perlengkapan yang penting bagi keselamatan harus selalu terpelihara
dan diyakinkan akan berfungsi dengan baik melalui pengujian secara teratur / berkala.
 Buatlah record / catatan tertulis semua pekerjaan-pekerjaan yang dilakuka n.

11. Dokumentasi
 Sistem kerja (Sistem Manajemen Keselamatan-SMS) harus dinyatakan secara tertulis
(didokumentasikan) dan dapat dikontrol.
 Dokumen-dokumen tersebut harus ada di kantor dan di atas kapal.
 Harus mengontrol semua pekerjaan administrasi yang berkaitan dengan sistem tersebut
(yakni : laporan-laporan tertulis dan formulir-formulir).

12. Tinjauan terhadap hasil verifikasi dan evaluasi perusahaan


Perusahaan harus mempunyai metode-metode untuk melakukan pemeriksaan internal untuk
memastikan bahwa sistem tersebut berfungsi dan terus meningkat.

Pasal 13 s/d 16 : Sertifikasi, verifikasi dan kontrol


 Pemerintah di negara bendera (Flag administration) atau suatu badan/organisasi yang diakui,
 Akan mengirimkan auditor-auditor eksternal untuk mengecek sistem manajemen keselamatan
dari perusahaan di kantor dan di atas kapal-kapalnya.
 Setelah memastikan bahwa sistem tersebut telah berjalan,

88
 Pemerintah negara bendera kapal akan mengeluarkan Document of Compliance (DoC) untuk
kantor dan Safety Management Certificate (SMC) untuk setiap kapalnya.

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN


Sesuai dengan persyaratan ISM Code, semua perusahaan yang memiliki atau mengoperasikan kapal-
kapal, harus menetapkan Sistem Manajemen Keselamatan untuk perusahaan dan kapalnya dalam
rangka menjamin operasional kapal dengan aman.

Persyaratan tersebut, meliputi mendokumentasikan, menerapkan dan mempertahankan sistem


manajemen keselamatan yang pada akhirnya akan diverifikasi oleh Pemerintah atau organisasi yang
diakui (Recognized Organization / RO) dalam rangka penerbitan sertifikat setelah dipenuhinya
semua persyaratan ISM Code.

Perusahaan (Company) yang telah memenuhi persyaratan akan diterbitkan Dokumen Kesesuaian
atau Document of Compliance (DOC) dan
Setiap kapal yang telah memenuhi persyaratan akan diterbitkan Sertifikat Manajemen Keselamatan
atau Safety Management Certificate (SMC).
Baik DOC maupun SMC masa berlakunya 5 tahun.
Perusahaan dan kapalnya yang tidak dapat memenuhi persyaratan ISM Code akan menghadapi
kesulitan dalam operasionalnya, baik diperairan internasional maupun domestik.

Prosedur untuk mendapatkan sertifikat DOC - ISM Code


1. Menyerahkan form aplikasi dengan dilampirkan manual Sistem Manajemen Keselamatan kepada
BKI Kantor Pusat cq Divisi Statutoria atau Kantor Cabang BKI terdekat.
2. BKI akan melakukan approval atas manual Sistem Manajemen Keselamatan. Apabila ada
kekurangan, maka manual akan dikembalikan untuk diperbaiki.
3. Apabila manual Sistem Manajemen Keselamatan telah memenuhi syarat, maka dilakukan
Verifikasi Awal (Initial Verification) ke kantor perusahaan pemohon untuk diperiksa kesesuaian
antara manual dengan penerapannya. Untuk ini, BKI akan mengirimkan auditor yang kompeten
untuk memeriksa penerapan sistem di perusahaan.
4. Jika memenuhi syarat, maka BKI akan menerbitkan Laporan Audit dan Sertifikat DOC sementara
yang berlaku 5 bulan.
5. Untuk penerbitan DOC permanen dari Pemerintah, BKI akan mengurus penerbitannya setelah
semua ketidak-sesuaian yang ditemukan saat verifikasi sudah diperbaiki dan dilaporkan ke BKI.

Prosedur untuk mendapatkan sertifikat SMC - ISM Code 


1. Kapal harus dioperasikan / dikelola oleh perusahaan yang telah memiliki sertifikat DOC.
2. Menyerahkan form aplikasi dengan dilampirkan salinan DOC kepada BKI Kantor Pusat cq Divisi
Statutoria atau Kantor Cabang BKI terdekat.
3. BKI akan menunjuk auditor yang kompeten untuk melakukan verifikasi diatas kapal untuk
diperiksa kesesuaian persyaratan ISM Code diatas kapal.
4. Jika memenuhi syarat, maka BKI akan menerbitkan Laporan Audit dan Sertifikat SMC sementara
yang berlaku 5 bulan.
5. Untuk penerbitan SMC permanen dari Pemerintah, BKI akan mengurus penerbitannya setelah
semua ketidak-sesuaian yang ditemukan saat verifikasi sudah diperbaiki dan dilaporkan ke BKI

Sertifikasi Document of Compliance (DoC)


DoC diterbitkan kepada setiap perusahaan yang memenuhi persyaratan ISM Code
DoC diterbitkan pemerintah, organisasi yang diakui pemerintah/atas permintaan pemerintah dari negara
penanda tangan lainnya.
Salinan DoC harus berada diatas kapal agar Nakhoda dapat memperlihatkannya jika diminta untuk verifikasi.

Sertifikat Safety Management Certificate (SMC )


SMC diterbitkan kepada setiap kapal oleh pemerintah /organisasi yang diakui pemerintah.
Sebelum menerbitkan “Safety Management Certificate” harus memeriksa / meneliti perusahaan dan
manajemen kapalnya apakah bekerja sesuai dengan Sistem Manajemen Keselamatan

89
Kejadian – kejadian biasanya disebabkan oleh beberapa faktor :
1. Faktor manusia
Faktor manusia merupakan faktor yang paling besar yang antara lain meliputi:
 Kecerobohan didalam menjalankan kapal,
 Kekurang mampuan awak kapal dalam menguasai berbagai permasalahan yang mungkin
timbul dalam operasional kapal, secara sadar memuat kapal secara berlebihan
2. Faktor teknis
Faktor teknis biasanya terkait dengan kekurang cermatan didalam desain kapal, penelantaran
perawatan kapal sehingga mengakibatkan kerusakan kapal atau bagian-bagian kapal yg
menyebabkan kapal mengalami kecelakaan/terbakarnya.
3. Faktor alam
Faktur cuaca buruk merupakan permasalahan yang seringkali dianggap sebagai penyebab
utama dalam kecelakaan laut. Permasalahan yang biasanya dialami adalah badai, gelombang
yang tinggi yang dipengaruhi oleh musim/badai, arus yang besar, kabut yang mengakibatkan
jarak pandang yang terbatas

Keselamatan Pelayaran
keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan yang menyangkut
angkutan di perairan dan kepelabuhanan.
Terdapat banyak penyebab kecelakaan kapal laut; karena tidak diindahkannya keharusan
tiap muatan yang berada di atas kapal untuk diikat (lashing), hingga pada persoalan
penempatan barang yang tidak memperhitungkan titik berat kapal dan gaya lengan stabil,
kunci dari ini adalah titik GM yg positip yg akan dapat mengembalikan kapal ke
kedudukan yg semula.

Sesuai dengan kesadaran terhadap pentingnya faktor manusia dan perlunya peningkatan
manajemen operasional kapal dalam mencegah terjadinya kecelakaan kapal, manusia,
muatan barang/cargo dan harta benda serta mencegah terjadinya pencemaran
lingkungan laut, maka IMO mengeluarkan peraturan tentang manajemen keselamatan
kapal & perlindungan lingkungan laut yang dikenal dengan Peraturan International Safety
Management (ISM Code) yang juga dikonsolidasikan dalam SOLAS Convention.

Pada dasarnya ISM Code mengatur adanya manajemen terhadap keselamatan (safety)
baik Perusahaan Pelayaran maupun kapal termasuk SDM yang menanganinya.

OOOO

XVII. ISPS CODE


The International Ship and Port Facility Security Code – ISPS Code
(Koda Keamanan Internasional terhadap kapal dan fasilitas pelabuhan)

90
Merupakan aturan yang menyeluruh mengenai langkah-langkah untuk meningkatkan keamanan
terhadap kapal dan fasilitas pelabuhan.
Aturan ini dikembangkan sebagai tanggapan terhadap ancaman yang dirasakan dapat terjadi
terhadap kapal dan fasilitas pelabuhan pasca serangan 11 September 2001 di gedung WTC New
York AS.
ISPS Code merupakan pengaturan keamanan minimum untuk kapal, pelabuhan,
pemerintah/lembaga. Berlaku mulai 1 Juli 2004.

A. Mengatur tanggung jawab kepada :


a. pemerintah,
b. perusahaan pelayaran,
c. personel kapal, dan
d. personel pelabuhan / fasilitas
untuk
 mendeteksi ancaman keamanan dan mengambil tindakan pencegahan terhadap insiden
keamanan yang mempengaruhi kapal atau fasilitas pelabuhan yang digunakan dalam
perdagangan internasional.
Beberapa Ancaman maritim :
1. Pembajakan
2. Perompakan
3. Penyelundupan narkoba
4. Penumpang gelap
5. Sabotase
6. Terorisme
7. Pencurian

ISPS Code diimplementasikan melalui SOLAS ‘74


Bab XI-2 mengenai Langkah-langkah khusus untuk meningkatkan keamanan maritim.
Kode ini memiliki dua bagian dokumen yang menjelaskan persyaratan minimum
untuk keamanan kapal dan pelabuhan.
Bagian A memberikan persyaratan wajib.
Bagian B memberikan panduan untuk implementasi

ISPS Code berlaku untuk :


 kapal dalam perjalanan internasional
 kapal penumpang
 Kapal kargo 500 GT ke atas
 unit pengeboran lepas pantai seluler
 fasilitas pelabuhan yang melayani kapal-kapal tersebut

Tujuan utama dari ISPS Code adalah:


 Untuk mendeteksi ancaman keamanan dan menerapkan langkah-langkah keamanan
 Untuk membangun peran dan tanggung jawab mengenai keamanan maritim bagi pemerintah,
pemerintah daerah, kapal dan industri pelabuhan di tingkat nasional dan internasional
 Untuk menyusun dan menyebarluaskan informasi yang berhubungan dengan keamanan
 Untuk memberikan metodologi untuk penilaian keamanan sehingga memiliki di tempat
rencana dan prosedur untuk bereaksi terhadap perubahan tingkat keamanan

Selain persyaratan untuk kapal dan fasilitas pelabuhan, antara lain :


Pemantauan dan mengendalikan akses,
Memantau kegiatan orang dan kargo,
Memastikan keamanan komunikasi sudah tersedi a

Peraturan XI-2/3
 Mewajibkan adanya suatu Administrasi/pemerintah
 mengatur tingkat keamanan dan

91
 menjamin penyediaan informasi dari tingkat keamanan untuk kapal.
 Sebelum memasuki pelabuhan, atau sementara di pelabu han.

Di dalam wilayah Negara penandatangan


 kapal harus mengikuti ketentuan tingkat keamanan yang di buat oleh Pemerintah,
 jika tingkat keamanan lebih tinggi dari pada tingkat keamanan yg ditetapkan oleh
administrasi untuk kapal itu.

Peraturan XI-2/6
 Mengharuskan semua kapal melengkapi dengan sistem peringatan keamanan kapal
(ship security alert system),
 Jika sistem peringatan keamanan kapal diaktifkan akan memulai mengirimkan peringatan
keamanan dari kapal-ke-pantai yaitu kepada otoritas yang kompeten yang ditunjuk oleh
Administrasi/pemerintah,
 untuk mengidentifikasi kapal, lokasi dan menunjukkan bahwa kapal yang berada di bawah
ancaman telah dikompromi.

Peraturan XI-2/8
 Menegaskan peran Nakoda dalam melaksanakan penilaian profesionalnya atas keputusan
yang diperlukan untuk menjaga keamanan kapal.
 Dikatakan Nakhoda tidak akan dibatasi oleh Perusahaan, Penyewa atau orang lain dalam hal
penilaian ini

Yang Penting dari ISPS


Karena ISPS Code berlaku secara internasional dan menuntut kerjasama yang baik, saling
pengertian, dan bahasa yang sama antar Negara peserta, maka ada beberapa istilah yang
digunakan memerlukan pamahaman yang sama pula. Beberapa istilah penting adalah:

1) Ship Security Plan (Rencana Keamanan Kapal),


suatu rencana tertulis yang disusun dan dikembangkan untuk menjamin pelaksanaan setiap tindakan
yang diambil diatas kapal, dirancang sedemikian rupa untuk melindungi orang diatas kapal, muatan,
peralatan angkutan muatan, gudang penyimpanan/ perbekalan dsb terhadap risiko insiden
keamanan.

2) Port facility Security Plan (Rencana Keamanan Fasilitas Pelabuhan),


suatu rencana tertulis yang disusun dan dikembangkan untuk menjamin pelaksanaan setiap
tindakan yang diambil untuk melindungi segala macam fasilitas pelabuhan dan kapal, orang,
muatan, peralatan angkut muatan, tempat-tempat penyimpanan barang didalam fasilitas
pelabuhan terhadap risiko insiden keamanan.

3) Ship Security Officer (Perwira Keamanan kapal),


orang yang berada diatas kapal yang bertanggung jawab kepada nakhoda kapal, ditunjuk oleh
Perusahaan Perkapalan, yang bertanggung jawab atas keamanan kapal termasuk
pelaksanaan dan pemeliharaan Rencana Keamanan Kapal, dan sekaligus bertindak sebagai
penghubung antara Perwira Keamanan Perusahaan dan Perwira Keamanan Fasilitas
Pelabuhan

4) Company Security Officer (Perwira Keamanan Perusahaan),


orang yang ditunjuk oleh Perusahaan yang bertugas menjamin penilaian keamanan
(assessment) kapal dilaksanakan, dan bahwa rencana keamanan kapal dikembangkan,
diserahkan kepada pejabat untuk mendapatkan persetujuan, dan sesudahnya
diimplementasikan dan dipelihara, serta menjadi penghubung antara Perwira keamanan
Pelabuhan dan Perwira keamanan Kapal.

5) Port Facility Security Officer (Perwira Keamanan Fasilitas Pelabuhan),


orang yang ditunjuk untuk bertanggung jawab atas pengembangan, pelaksanaan, perubahan

92
dan pemeliharaan dari Rencana Keamanan Fasilitas Pelabuhan dan juga menjadi penghubung
(liaison officer) antara perwira keamanan kapal dan perwira keamanan perusahaan.

6) Security level (Tingkat Keamanan),


klasifikasi dari keamanan Kapal dan Pelabuhan, menurut intensitas atau kecenderungan yang
dapat terjadi setelah melalui proses pengamatan dan pengumpulan data.
Security level dibagi dalam 3 tingkatan, dengan level 3 yang tertinggi.

Dalam ISPS CODE, yang dimaksud dengan pelayaran adalah Pelayaran Internasional.
Sedangkan pelabuhan yang dimaksud adalah Pelabuhan yang melayani pelayaran kapal
internasional.
Ketentuan-ketentuan dalam ISPS CODE tidak berlaku bagi Kapal Perang, Kapal bantu
Angkatan Laut, atau kapal-kapal lain untuk tujuan non komersial

Sasaran dari Koda ini adalah:


1 Menetapkan suatu kerangka kerja internasional yg meliputi kerjasama antara Negara
Penanda-tangan, Badan Pemerintah, administrasi lokal dan industri pelayaran serta
pelabuhan utk mendeteksi ancaman keamanan dan mengambil tindakan pencegahan
terhadap insiden keamanan yang mempengaruhi kapal atau fasilitas pelabuhan yang
digunakan utk perdagangan internasional;
2 Menetapkan tanggung-jawab dan peran dari masing-masing Negara Penanda-tangan,
Badan Pemerintah, administrasi lokal dan industri pelayaran serta pelabuhan, pada
tingkat nasional dan internasional untuk menjamin keamanan maritim;
3 Menjamin pengumpulan dan pertukaran informasi yg dini dan efisien yg terkait dgn
keamanan;
4 Menyediakan metodologi utk penilaian keamanan seperti tersedianya rancangan dan
prosedur utk mengantisipasi perubahan tingkat keamanan;
5 Menjamin dan yakin bahwa tindakan keamanan maritim yang memadai dan sesuai telah
tersedia.

oooo

XVIII. MARPOL 73/78

93
 Sejak peluncuran kapal pengangkut minyak pertama GLUCKAUF tahun 1885
 penggunaan pertama mesin diesel sebagai penggerak utama kapal
 3 thn kemudian terjadi pencemaran laut bersumber dari minyak .
 Tahun 1954 atas prakarsa Pemerintah Inggris (UK)
 lahirlah “Oil Pullution Convention, yang mencari cara mencegah pembuangan campuran minyak
dan pengoperasian kapal tanker dan dari kamar mesin kapal lainnya
 Sidang IMO “International Conference on Marine Pollution” dari 8 Oktober s/d 2 Nopember
1973 yang menghasilkan
 “International Convention for the Prevention of Oil Pollution from Ships” tahun 1973,
 Disempurnakan dengan “ Tanker Safety and Pollution Prevention – TSPP” Protocol tahun 1978
 Dikenal dengan nama MARPOL 1973/1978

MARPOL pertama kali diadopsi IMO pada 17 Februari 1973, namun kurang mendapat dukungan dari
negara-negara anggota.
Kemudian, sebagai respon atas maraknya kecelakaan kapal tanker, IMO mengadopsi TSPP (Tanker
Safety and Pollution Prevention) pada tahun 1978.
Kombinasi kedua regulasi di atas dikenal dengan nama MARPOL 73/78 yang mulai berlaku pada
2 Oktober 1983.
Indonesia meratifikasi MARPOL dan Anex I, II melalui Keppres No. 46 Tahun 1986.
dan Perpres 29/2012 tentang Anex Ke III, IV, V dan VI

Definisi “Ship” dalam MARPOL 73/78


“Ship” dalam peraturan perlindungan lingkungan maritim adalah semua jenis bangunan yang
berada di laut apakah bangunan itu mengapung, melayang atau tertanam tetap di dasar laut.

INTI DARI PERATURAN MARPOL 1973


1. International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973.
 Mengatur kewajiban dan tanggung jawab Negara-2 anggota yang sudah meratifikasi konvensi
tersebut
 Mencegah pencemaran dan buangan barang-barang atau campuran cairan beracun dan
berbahaya dari kapal.

1. PROTOCOL 1978
Merupakan peraturan tambahan ttg “Tanker Safety and Pollution Prevention (TSPP)”
bertujuan :
 meningkatkan keselamatan kapal tanker
 melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan pencemaran laut yang berasal dari
kapal terutama kapal tanker
 dengan melakukan modifikasi dan petunjuk tambahan untuk melaksanakan secepat mungkin
peraturan pencegahan pencemaran.

PROTOCOL 1 : PELAPORAN
kewajiban semua pihak untuk melaporkan kecelakaan kapal yang melibatkan barang- barang
beracun dan berbahaya
laporan tersebut harus memuat keterangan
• Mengenai identifikasi kapal yang terlibat melakukan pencemaran
• Waktu, tempat dan jenis kejadian
• Jumlah dan jenis bahan pencemar yang tumpah
• Bantuan dan jenis penyelamatan yang dibutuhkan

Nahkoda atau perorangan yang bertanggung jawab terhadap insiden yang terjadi pada kapal
wajib segera melaporkan tumpahan atau buangan barang atau campuran cairan beracun dan
berbahaya dari kapal karena kecelakaan atau untuk kepentingan menyelamatkan jiwa manusia
sesuai petunjuk dalam Protocol
PROTOCOL II : Arbitrasi
Perselisihan antara dua atau lebih Negara anggota mengenai interprestasi atau pelaksanaan isi

94
konvensi.
Apabila perundingan antara pihak-pihak yang berselisih tidak berhasil menyelesaikan masalah
tersebut,
Salah satu dari mereka dapat mengajukan masalah tersebut ke Arbitrasi dan diselesaikan
berdasarkan petunjuk dalam Protocol II konvensi.

Struktur MARPOL terdiri atas enam lampiran teknis (annex I – VI), yaitu:
Annex I: Pencegahan polusi oleh minyak. Berlaku 2 Oktober 1983;
Annex II: Pencegahan polusi zat cair berbahaya (Noxious Substances) dalam bentuk curah.
Berlaku 2 Oktober 1983;
Annex III: Pencegahan polusi dari zat berbahaya (Hamful Substances) dalam bentuk kemasan.
Berlaku mulai 1 Juli 1992;
Annex IV: Pencegahan polusi dari air kotor/limbah (sewage) dari kapal.
Berlaku mulai 27 September 2003;
Annex V: Pencegahan polusi oleh sampah (garbage) dari kapal.
Berlaku mulai 31 Desember 1988;
Annex VI: Pencegahan polusi udara akibat gas buang mesin kapal.
Berlaku mulai 19 Mei 2005.

Annex I dan II bersifat mandatory (wajib), karena merupakan regulasi teknis yang tidak
terpisahkan dari dokumen awal MARPOL 73/78 saat pertama kali
diadopsi.
Annex III –VI bersifat sukarela, dengan waktu berlaku (enter into force) yang juga
berbeda-beda sesuai dengan kecukupan syarat dukungan negara
anggota.

Secara keseluruhan, Per 31 Desember 2005, konvensi MARPOL sudah diratifikasi oleh
136 negara, yang mewakili 98% dari total tonase kapal dunia .

UU 17/2008 BAB XII PERLINDUNGAN LINGKUNGAN MARITIM

Kondisi terpenuhinya prosedur dan persyaratan pencegahan dan penanggulangan


pencemaran dari kegiatan:
 kepelabuhanan;
 pengoperasian kapal;
 pengangkutan limbah, bahan berbahaya, dan beracun di perairan;
 pembuangan limbah di perairan;
 penutuhan kapal

PM 29/2014 ttg Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim


Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritim
Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritim dilakukan oleh Pemerintah,
melalui:
 pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari pengoperasian kapal; dan
 pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari kegiatan kepelabuhanan.

Selain pencegahan dan penanggulangan tersebut perlindungan lingkungan maritim


juga dilakukan terhadap:
 pembuangan limbah di perairan; dan
 penutuhan kapal.

Pencegahan Pencemaran dari Kapal


Upaya yg dilakukan Nakhoda, awak kapal sedini mungkin ,
Untuk menghindari, atau mengurangi
 pencemaran tumpahan minyak,

95
 bahan cair beracun,
 muatan berbahaya dlm kemasan,
 limbah kotoran (sewege),
 sampah (garbage) dan
 gas buang dari kapal
ke perairan dan udara (PP 21/2010)

Penanggulangan Pencemaran dari Pengoperasian Kapal


Segala tindakan yg dilakukan secara cepat, tepat dan terpadu serta terkoordinasi untuk :
mengendalikan, mengurangi, membersihkan tumpahan minyak atau bahan cair beracun dari
kapal ke perairan dan meminimalisasi kerugian masyarakat dan kerusakan lingkungan laut .

Nakhoda bertanggungjawab
Menanggulangi pencemaran yg bersumber dari kapalnya.

Pemilik, operator kapal Bertanggung jawab


Atas biaya yg diperlukan dlm penanganan penanggulangan kerugian yg timbul akibat
pencemaran dari kapalnya.

Pemilik, operator kapal yg membawa minyak


Wajib bertangung jawab Untuk mengganti kerugian pihak ke 3 yg disebabkan oleh
pencemaran minyak yg berasal dari kapaln ya.

SANKSI BAGI NAKHODA


Nahoda yg tdk melaksanakan kewajibannya
a. Tdk melaporkan terjadinya pencemaran ke Syahbandar
b.Tidak melakukan penanggulangan pencemaran dari kapalnya
dikenakan sanksi administratif
berupa
pembekuan sertifkat keahlian pelaut selama 1 tahun

AIR BALAS
Air yg dibawa di atas kapal yg digunakan sbg pengendali trim, kemiringan,
keseimbangan, draft/sarat, stabilitas atau tekanan kapal yg diperlukan oleh kapal yg
kemungkinan mengandung organisme air yg membahayakan dan bibit penyakit
Tidak boleh dibuang sembarangan di laut
Trim = tunggang tungging = perbedaan sarat muka belakang

MANAJEMEN AIR BALAS


Sistem manajemen proses mekanis, fisis, kimiawi, biologi yg dilakukan secara terpisah
atau bersamaan utk menghilangkan, mengurangi tingkat bahaya, atau menghindari
pengambilan atau pembuangan organisme air yg membahayakan dan bibit penyakit
yg berasal dari air balas dan endapannya.
(PM 29/2014 ttg Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim)
**Baca Ballast Water Management Convention 2004 Ditjen Perla 2010

oooo

XIX. MLC 2006

96
Maritime Labour Convention, 2006 (MLC, 2006;
Merupakan Konvensi Tenaga Kerja Maritim, yang dikembangkan oleh ILO,
MLC pilar ke 4 setelah SOLAS 1974, STCW 1978, dan MARPOL 73/78.
MLC merupakan hasil dari negosiasi tripartit oleh wakil pemerintah, pengusaha, pekerja.
MLC menetapkan hak & perlindungan yg komprehensif di tempat kerja utk pelaut di dunia
 Bertujuan untuk mencapai pengaturan pekerjaan yang layak bagi pelaut,
 Mengamankan kepentingan ekonomi dlm persaingan yg adil bagi pemilik kapal yg berkualitas.
MLC 2006) berlaku aktif sejak 20 August 2013
Indonesia meratifikasi MLC 2006 dengan UU No. 15 / 2016 tanggal 6-10-2016.

MLC 2006
Mengatur hak-hak pekerja yang bekerja pada sektor kelautan dan  persaingan yang adil bagi para
pemilik kapal dalam industri perkapalan global. 
MLC, mengatur hubungan pekerja di industri kelautan

Kewajiban Pengusaha (owner kapal) agar memperhatikan perjanjian kerja bersama,


- kewajiban perusahaan keagenan awak kapal,
- jam kerja, keselamatan dan kesehatan kerja,
- prosedur kerja yang jelas
- pekerjaan yang lebih baik dan terarah.

MLC, 2006 dikelompokkan dalam lima bidang utama :


 Persyaratan minimal pelaut yang bekerja dikapal
 Kondisi Kerja
 Akomodasi, Fasilitas Rekreasi, Makan dan Catering
 Perlindungan dan Perawatan Kesehatan, Kesejahteraan dan Perlindungan Keamanan
 Penerapan dan Pelaksanaan

1. Persyaratan minimal pelaut bekerja dikapal


 Usia minimal 16 tahun, untuk kerja malam atau area berbahaya, min 18 tahun.
 Sertifikat kesehatan (medical report) yang diakui oleh negara
 Harus mendapat pelatihan berkaitan dng pekerjaan sebelum melaut
 Harus mendapatkan training keselamatan diri (Personal Safety Training)
 Rekutmen atau Penempatan pelaut harus sesuai prosedur penempatan dan pendaftaran
yang baik,
 Adanya prosedur keluhan dan harus ada kompensasi bila proses rekrutmen gagal.

2. Kondisi Kerja
- Kontrak Kerja harus jelas, legal, dan mengikat
- Gaji harus dibayar minimal setiap bulan dan harus ditransfer secara berkala ke keluarga -bila
dibutuhkan.
- Jam kerja maksimal jam kerja 14 jam /hari atau 72 jam /minggu
- Jam istirahat minimal adalah 10 jam / hari atau 77 jam / minggu.
- Hak cuti tahunan serta cuti di darat.
- Pemulangan pelaut ke negara asal harus gratis
- Bila kapal hilang atau kandas, pelaut memiliki hak pesangon
- Setiap kapal harus punya jenjang karir yang jelas

3. Akomodasi, Fasilitas Rekreasi, Makan dan Catering


-Tempat tinggal dan bekerja harus memperhatikan kesehatan dan kenyamanan pelaut
- Memenuhi persyaratan minimal ruang tidur, ruang hiburan, dan asrama
- Kualitas maupun kuantitas makanan hrs diatur mengikuti negara sesuai bendera kapal (Flag State)
- Koki juga harus memiliki pelatihan yang tepa t

4. Perlindungan dan Perawatan Kesehatan, Kesejahteraan dan Perlindungan Keamanan


• Pelaut harus mendapat fasilitas kesehatan selama di kapal tanpa biaya dengan kualitas

97
pelayanan kesehatan yang sama dengan di darat.
• Pelaut harus dilindungi dari dampak keuangan akibat sakit, cidera, atau kematian yang
berhubungan dengan pekerjaan mereka.
 Pelaut juga harus tetap mendapatkan gaji setidaknya 16 minggu semenjak mulai sakit
 Lingkungan kerja yang aman dan higienis selama bekerja maupun istirahat.
 Pengukuran tingkat kemanan (identifikasi bahaya dan pengendalian resiko) harus dilakukan
untuk mencegah kecelakaan kerja.
 Port States harus menyediakan fasilitas budaya, rekreasi dan informasi yang cukup di daratan
dan terbuka untuk semua pelaut tanpa membedakan ras, kelamin, agama dan pandangan
politik.
 Perlindungan sosial harus diberikan ke semua pelaut.
 Social security coverage should be available to seafarers (and in case it is customary in the flag
state: their relatives). Perlindungan sosial harus diberikan ke semua pelaut.
( Cakupan jaminan sosial harus tersedia untuk pelaut (dan dalam kasus itu adalah kebiasaan
di negara bendera: kerabat mereka )

5. Penerapan dan Pelaksanaan


Flag states bertanggung jawab utk memastikan penerapan aturan bagi kapal yang menggunakan
bendera negara tsb.
Setiap kapal harus dilengkapi “Certificate of Maritime Compliance”. diwajibkan pula memiliki
prosedur keluhan untuk semua kru kapal
Port States harus melakukan investigasi keluhan pelaut
Port States harus melakukan inspeksi tergantung pada keberadaan  “Certificate of Maritime
Compliance”.
Bila sertifikat dimiliki kapal dari negara bendera yang meratifikasi MLC 2006, maka investigasi
hanya dilakukan sekedar untuk memeriksa adanya indikasi ketidak patuhan terhadap standar.
Bila kapal belum memiliki sertifikat, maka investigasi harus dilakukan secara menyeluruh dan
memastikan kapal telah memenuhi MLC 2006.
Jadi MLC 2006 secara tidak langsung juga berlaku untuk negara yang belum meratifikasi MLC bila
mereka ingin berlabuh di negara yang sudah meratifikasi MLC 2006.
Agen yang menyediakan pekerja untuk kapal juga harus diinspeksi menerapkan MLC 2006

MLC ini tidak berlaku untuk:


● Kapal penangkap ikan,
● Kapal yang dibangun secara tradisional
● Kapal perang atau pembantu angkatan laut
● Kapal tidak terlibat dalam kegiatan komersial.

HAL YG DIPERIKSA DALAM PENERAPAN MLC


Usia minimum
Sertifikasi medis
Kualifikasi pelaut
Perjanjian kerja Pelaut
Penggunaan jasa perekrutan
Jam kerja atau istirahat
Tingkatan pengawakan
Akomodasi
Fasilitas rekreasi
Makanan dan katering
Kesehatan dan keselamatan dan pencegahan kecelakaan
Perawatan medis
Prosedur pengaduan
Pembayaran upah

Mengapa harus Mematuhi MLC


Tujuannya adalah memastikan kondisi kerja yang layak sejalan dengan persaingan yg adil.
Setiap kapal berukuran 500 GT lebih yang beroperasi di perairan international maupun antar pelabuhan dlm

98
suatu wilayah Negara wajib melaksanakan konvensi ini.
Setiap kapal wajib memiliki Declaration Maritime Labour Certificate (DMLC) di keluarkan oleh Negara kapal.
Kapal harus mampu menunjukkan bukti DMLC
Kelengkapan DMLC kapal akan selalu di periksa oleh Port State Control (PSC) pelabuhan negara di mana kapal
tersebut berlabuh (berlayar),
Konsekuensi, apabila kapal tersebut tidak memiliki kelengkapan DMLC maka akan di kenakan sangsi.

ILO MLC 2006 memodernisasi standar MLC untuk:


Menetapkan persyaratan minimum bagi pelaut untuk bekerja pada sebuah kapal.
Menangani kondisi kerja, akomodasi, fasilitas rekreasi, makanan dan katering, perlindungan
kesehatan, perawatan medis, perlindungan kesejahteraan & jaminan sosial.
Mempromosikan kepatuhan bagi operator dan pemilik kapal dengan memberikan fleksibilitas yang
cukup pada pemerintah untuk menerapkan persyaratan dalam cara yang terbaik disesuaikan
dengan undang-undang nasional
Memperkuat mekanisme penegakan/pelaksanaan pada semua tingkatan, termasuk ketentuan
untuk prosedur keluhan yang tersedia bagi pelaut,
pengawasan yang dilakukan oleh para pemilik kapal dan nakhoda terhadap kondisi kapal-kapal
mereka, yurisdiksi negara bendera dan kontrol atas kapal mereka, dan inspeksi negara pelabuhan
pada kapal asing.

Keuntungan apakah yang didapat dengan pemberlakan MLC 2006


ILO sebelumnya telah membuat dan memberlakukan berbagai konvensi untuk melindungi para
pelaut seperti ILO 147, ILO 185 dan yang lainnya.
MLC 2006 ini merupakan rangkuman dari konvensi-konvensi ILO sebelumnya dalam upaya
meningkatkan kesejahteraan pekerja di sektor maritim (Pelaut).

Apabila MLC 2006 ini diberlakukan, beberapa hak para pelaut akan dpt terpenuhi yaitu
 Tempat kerja yang aman (safe and secure) sesuai dengan standar keselamatan yang layak;
 Syarat perjanjian kerja yang wajar (fair terms of employment);
 Kerja dan kondisi tempat kerja dikapal yang layak; dan
 Perlindungan kerja, perawatan kesehatan, kesejahteraan dan bentuk lainnya terhadap
perlindungan social (Health protection, medical care, welfare measures and other forms of
social protection).

HAK DASAR PELAUT


"Seafarers' Bill of Rights", yaitu Hak Dasar Pelaut
a. merupakan "tiket" bagi para pelaut untuk menuntut haknya sebagai pekerja,