Anda di halaman 1dari 20

PEDOMAN INTERNAL PROGRAM DIARE

PUSKESMAS KEMBANG

TAHUN 2019
BAB I
PENDAHULAN

A. Latar Belakang
Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan
konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang
dikatakan menderita Diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau
bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang
berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam (Kemenkes RI, 2011).
Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun
2009, Secara global setiap tahunnya ada sekitar 2 miliar kasus diare
dengan angka kematian 1.5 juta pertahun. Di negara berkembang,
rata-rata anak usia di bawah 3 tahun mengalami episode diare 3 kali
dalam setahun. Setiap episodenya diare akan menyebabkan
kehilangan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh, sehingga
diare merupakan penyebab utama malnutrisi pada anak.
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena
morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Survei morbiditas
yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun
2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun
2000 IR penyakit Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik
menjadi 374 /1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000
penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk. Kejadian
Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan CFR yang
masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan
jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun
2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang,
dengan kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010
terjadi KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204
dengan kematian 73 orang (CFR 1,74 %. Pada tahun 2015 terjadi 18
kali KLB Diare yang tersebar di 11 provinsi, 18 kabupaten/kota,
dengan jumlah penderita 1. 213 orang dan kematian 30 orang (CFR
2,47%).
Pengetahuan petugas dalam tata laksana diare tahun 2009
menunjukan 43,7% yang Mengetahui anamnesa penderita diare
dengan benar, 29,9 % yang tahun menetapkan klasifikasi derajat
dehidrasi, 33,3% yang tahu tata laksana diare tanpa dehidrasi, 12,6 %
yang tahu tata laksana diare dehidrasi ringan /sedang dan 14,9%
yang tahu tatalaksana diare dehidrasi berat. Dari hasil pemantauan
tata laksana diare tahun 2009 masih rendah karena masih di bawah
50%.
Untuk menurunkan kematian karena diare perlu tata laksana
yang cepat dan tepat. IDAI, WHO dan UNICEF merekomendasikan
tatalaksana diare dengan Lintas Diare (Lima langkah Tuntaskan
Diare). Lintas diare meliputi Berikan oralit, Berikan tablet Zinc selama
10 hari berturut-turut, Teruskan ASI-makan, Berikan antibiotik
secara selektif dan Berikan nasihat pada ibu/keluarga.
Berdasarkan data diatas maka Peneliti melakukan
kajian/review pengendalian Diare untuk mengetahui besaran masalah
yang terjadi dilapangan sehingga dapat menjadi rekomendasi dalam
pengembangan program selanjutnya

B. Tujuan Pedoman
1. Tujuan Umum
disusunnya pedoman ini sebagai acuan bagi petugas kesehatan di
UPTD Puskesmas Kembang dalam menyelenggarakan kegiatan
pelayanan penyakit diare di wilayah kerja UPTD Puskesmas
Kembang Kabupaten Jepara.
2. Tujuan Khusus
a. Pelayanan penyakit diare dapat dilaksanaan sesuai dengan
rencana serta memperoleh hasil sesuai yang diharapkan di
kecamatan kembang.
b. Tercapainya cakupan penemuan penderita diare di puskesmas
kembang di puskesmas kembang.

C. Sasaran Pedoman
Sasaran pedoman pelayanan penyakit diare Puskesmas Kembang
meliputi:
1. Pemegang Program
2. Sasaran Primer yakni individu, keluarga dan masyarakat;
3.  Sasaran Sekunder yakni tokoh masyarakat dan kader kesehatan.

D. Ruang Lingkup Pedoman


Ruang lingkup kegiatan diare mencakup beberapa hal meliputi :
1. Pengorganisasian
2. Sarana dan prasarana
3. Sumber daya manusia
4. Pelaksanaan audit dan evaluasi serta pencegahan kejadian
tidak diinginkan
5. Upaya perbaikan berkesinambungan
6. Pengendalian diare
7. Pengendalian factor resiko diare

E. Batas Operasional
Pelaksanaan pengendalian DIARE memerlukan dukungan lintas
program , lintas sector, dan peran serta masyarakat . Pedoman ini mengulas
situasi pengendalian diare, kebuijaka, dan strategi, kegiatan pokok, peran
pemangku kepentingan.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Sumber daya utama yang diperlukan untuk penyelenggaraan
Pelayanan penyakit diare UPTD Puskesmas Kembang adalah
Sumber Daya Manusia (SDM Kesehatan). Yang dimaksud dengan
kualifikasi SDM, sama halnya dengan job spesifikasi, yaitu minimal
golongan/jabatan, masa kerja minimal, pendidikan minimal,
pengalaman kerja, nilai performance (kinerjanya), dan standar
kompetensi.
Adapun pola ketenagaan yang ada di unit pelayanan Promosi
Kesehatan Kembang saat ini adalah sebagai berikut :
Pola Ketenagaan Unit Pelayanan program Diare Kesehatan UPT
Puskesmas
Kualifikasi Jumlah
N
Nama Status Pendidikan Pelatiha
o
n
1 Petugas PNS D3 BTCLS 1
Diare
Total 1

B. Distribusi Ketenagaan
Kepala puskesmas kembang merupakan penaggung jawab
kegiatan P2P diare di puskesmas kembang. Agar pelaksanaan
kegiatan P2P Diare dapat diselenggarakan secara optimal, maka di
setiap puskesmas kembang ditetapkan adanya :

1. Koordinator P2P Diare di puskesmas kembang


2. Perawat / Bidan penaggung jawab desa / daerah binaan.
3. Dokter
4. Kader

C. Jadwal Kegiatan
Jadwal kegiatan pelayanan penyakt diare
Hari : Senin-sabtu
Hari senin – kamis pukul 07.30 – 12.00 Wib
Hari jumat pukul p7.30 – 10.00 Wib
Hari sabtu pukul 07.30 – 11.30 Wib
No Kegiatan Hari Tempat Pelaksanaan ket
1. Pelayanan Setiap Puskesmas Pemegang Pelayanan
dan hari kembang program p2 dilaksakan
pengobata senin Diare oleh dokter
n Diare sampai dan
sabtu pemegang
program

2. Penyuluha Selasa Puskesmas Pemegang Penyuluhan


n kembang program p2 dilakukan di
dilakukan Diare dalam
sebulan se gedung
kali
3. Refresing Satu Desa Pemegang Dilaksanaka
diare pada tahun 2 program p2 n untuk
kader, FKD kali Diare dan pengoptimala
,perangkat Narasumber n
desa pada pencegahan
daerah diare pada
yang masyarakat
banyak
terdapat
penderita
diare
Pelaporan
4. bulanan Satu Puskesmas Pemegang Pelaporan
dan bulan kembang program p2 dilakukan
pelaporan sekali dan ke DKK Diare secara rutin
Online
Diare

BAB III
STANDAR FASILITAS

Untuk mencapai program P2P Diare yang diselenggarakan


berjalan dengan sesuai yang diharapkan dan tercapai mutu
keperwatan yang bekualitas maka harus tersedia ruang pemeriksaan.

A. Denah ruang

= Meja periksa

= Komputer

=Almari buku

= Bad periksa pasien

= kursi tunggu pasien

B. Standar Fasilitas
1. Tersedianya sumber daya manusia ( SDM ) Petugas yang telah
terintegrasi dan telah mendapatkan pelatihan tekbnis pelayanan
keperawatan .
2. Tersedianya peralatan
a. Alat alat kesehatan
1. Tensi Meter
2. Stetoskop
3. Termometer
4. Timbangan Badan
b. Bahan habis pakai
1. Hand scond
2. Masker
c. Perlengkapan
1. Tempat sampah medis yang dilengkapi dengan injakan
pembuka dan penutup
2. Tempat sampah non medis tetutup
d. Mebeler
1. Kursi kerja
2. Meja kerja
3. Lemari arsip
e. Pencatatan dan pelaporan
1. Buku rekam medis pasien
2. Buku register pelayanan
3. Buku pelaporan perbulan
3.Tersedianya sarana transportasi untuk kunjungan kelompok /
masyarakat sesuai kebutuhan.
4. Tersedianya dana operasional untuk melaksanakan pembinaan
dan pelayanan keperawatan kelompok/ keluarga.
5.Tersedianya Pedoman dan Standar Operasional Prosedur diare

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Lingkup Kegiatan
Prinsip tatalaksana penderita diare adalah LINTAS Diare (Lima Langkah
Tuntaskan Diare), yang terdiri atas (Kemenkes RI, 2011) :
1. Berikan Oralit
Oralit merupakan campuran garam elektrolszit seperti natrium klorida
(NaCl), kalium klorida (KCI), trisodium sitrat hidrat dan glukosa anhidrat.
Oralit diberikan segera bila menderita diare, sampai diare berhenti.
Oralit bermanfaat untuk mengganti cairan dan elektolit dalam tubuh yang
terbuang saat diare. Walaupun air sangat penting untuk mencegah
dehidrasi, air minum tidak mengandung garam elektrolit yang diperlukan
untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit dalam tubuh. Campuran
glukosa dan garam yang terkandung dalam oralit dapat diserap dengan
baik oleh usus penderita diare.
Oralit diberikan segera bila anak diare sampai diare berhenti. Cara
pemberian oralit yaitu satu bungkus oralit dimasukkan ke dalam satu
gelas air matang.
a. Anak kurang dari 1 tahun diberi 50-100 cc cairan oralit setiap kali
buang air besar
b. Anak lebih dari 1 tahun diberi 100-200 cc cairan oralit setiap kali buang
air besar
2. Berikan Zinc Selama 10 Hari Berturut-Turut
Zinc merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting untuk kesehatan
dan pertumbuhan anak. Zinc yang ada dalam tubuh akan menurun dalam
jumlah besar ketika anak mengalami diare. Untuk menggantikan zinc yang
hilang selama diare, anak dapat diberikan zinc yang akan membantu
penyembuhan diare serta menjaga agar anak tetap sehat.
Sejak tahun 2004, WHO dan UNICEF menandatangani kebijakan bersama
dalam hal pengobatan diare yaitu pemberian oralit dan Zinc selama 10-14
hari. Hal ini didasarkan pada penelitian selama 20 tahun (1983-2003) yang
menunjukkan bahwa pengobatan diare dengan pemberian oralit disertai
zinc lebih efektif dan terbukti menurunkan angka kematian akibat diare
pada anak-anak sampai 40%.
Pada saat diare, anak akan kehilangan zinc dalam tubuhnya. Pemberian
Zinc mampu menggantikan kandungan Zinc alami tubuh yang hilang
tersebut dan mempercepat penyembuhan diare. Zinc juga meningkatkan
sistim kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah risiko terulangnya diare
selama 2-3 bulan setelah anak sembuh dari diare.
Zinc diberikan satu kali sehari selama 10 hari berturut-turut. Pemberian
zinc harus tetap dilanjutkan meskipun diare sudah berhenti. Hal ini
dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap
kemungkinan berulangnya diare pada 2-3 bulan ke depan.
Obat zinc merupakan tablet dispersible yang larut dalam waktu sekitar 30
detik. Zinc diberikan dengan dosis sebagai berikut :
- Balita umur < 6 bulan : ½ tablet (10 mg)/hari
- Balita umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg)/hari
Zinc diberikan dengan cara dilarutkan dalam satu sendok air matang atau
ASI. Untuk anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah. Zinc aman
dikonsumsi dengan oralit. Zinc diberikan satu kali sehari sampai semua
tablet habis (selama 10 hari) sedangkan oralit diberikan setiap kali anak
buang air besar sampai diare berhenti.
Pemberian zinc selama 10 hari terbukti membantu memperbaiki mucosa
usus yang rusak dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh secara
keseluruhan. Ketika memberikan konseling pada ibu, petugas kesehatan
harus menekankan pentingnya pemberian dosis penuh selama 10 hari
dengan menyampaikan pada ibu tentang manfaat jangka pendek dan
panjang zinc, termasuk mengurangi lamanya diare, menurunkan
keparahan diare, membantu anak melawan episode diare dalam 2-3 bulan
selanjutnya setelah perawatan. Selama itu juga zinc dapat membantu
pertumbuhan anak lebih baik dan meningkatkan nafsu makan.
3. Teruskan ASI Dan Pemberian Makan
Bayi dibawah usia 6 bulan sebaiknya hanya mendapat ASI untuk
mencegah diare dan meningkatkan sistem imunitas tubuh bayi. Jika anak
menderita diare teruskan pemberian ASI sebanyak yang anak inginkan.
Pemberian makan selama anak diare juga harus ditingkatkan sampai dua
minggu setelah anak berhenti diare, karena lebih banyak makan akan
membantu mempercepat penyembuhan, pemulihan dan mencegah
malnutrisi.
Anak yang berusia kurang dari 2 tahun, dianjurkan untuk mengurangi
susu formula dan menggantinya dengan ASI sedangkan untuk anak yang
berusia lebih dari 2 tahun dianjurkan untuk meneruskan pemberian susu
formula dan dipastikan agar anak mendapat oralit dan air matang.
4. Berikan Antibiotik Secara Selektif
Pemberian antibiotik tidak diberikan kepada semua kasus diare. Antibiotik
hanya diberikan jika ada indikasi, seperti diare berdarah atau diare karena
kolera, atau diare dengan disertai penyakit lain. Tanpa indikasi tersebut
tidak perlu pemberian antibiotik.
Penggunaan antibiotik juga harus sesuai dosis yang dianjurkan oleh
tenaga kesehatan. Pemberian antibiotik yang tidak tepat sangat berbahaya
karena dapat menimbulkan resistensi kuman terhadap antibiotik dan
dapat membunuh flora normal yang justru dibutuhkan tubuh. Efek
samping dari penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat
menimbulkan gangguan fungsi ginjal, hati dan diare yang disebabkan oleh
antibiotik. Hal ini juga akan mengeluarkan biaya pengobatan yang
seharusnya tidak diperlukan.
5. Berikan Nasihat Pada Ibu/Pengasuh
Berikan nasihat dan cek pemahaman ibu/pengasuh tentang cara
pemberian oralit, Zinc, ASI/makanan dan tanda-tanda untuk segera
membawa anak ke petugas kesehatan jika mengalami tanda-tanda sebagai
berikut : Buang air besar cair lebih sering, Muntah berulang-ulang,
Mengalami rasa haus yang nyata, Makan atau minum sedikit, Demam,
Tinjanya berdarah dan Tidak membaik dalam 3 hari.
Metode yang digunakan dal
B. Metode
Dalam menjalankan promosi kesehatan adalah (1) Pemberdayaan, (2)
Bina Suasana dan (3) Advokasi serta dijiwai semangat (4) Kemitraan.

C. Langkah Kegiatan
1. RiwayatPenyakit
a. Berapa lama anakdiare ?
b. Berapa kali diaredalamsehari ?
c. Adakah darah dalam tinjanya ?
d. Apakah ada muntah ?berapa kali ?
e. Apakah ada demam ?
f. Makananapa yang diberikan sebelum diare ?
g. Jenis makanan dan minuman apa yang diberikan selama sakit ?
h. Obat apa yang sudah diberikan ?
i. Imunisasi apa saja yang sudah didapat ?
j. Apakah ada keluhan lain ?
2. Menilai Derajat Dehidrasi
Tabel 2.2 A B C
Tabel
Penilaian
Derajat
Dehidrasi
PENILAIAN
Bila ada 2 tanda atau lebih
Lihat : Baik, sadar Gelisah, rewel Lesu, lunglai /
Keadaan Normal cekung tidak sadar
umum Minum Haus, ingin cekung
Mata biasa, minum Malas minum
Rasa haus Tidak haus banyak atau tidak
(beri air bisa minum
minum)
Raba/Periksa Kembali Kembali Kembali
: cepat lambat sangat lambat
Turgor kulit (lebih dari 2
detik)
Tentukan Tanpa Dehidrasi Dehidrasi
Derajat Dehidrasi Ringan- Berat
Dehidrasi Sedang
Rencana Rencana Rencana Rencana
Pengobatan Terapi A Terapi B Terapi C

3. Menentukan Rencana Pengobatan


Berdasarkan hasil penilaian derajat dehidrasi gunakan bagan rencana
pengobatan yang sesuai
1. Rencana terapi A untuk penderita diare tanpa dehidrasi di rumah
2. Rencana terapi B untuk penderita diare dengan dehidrasi ringan
sedang di Sarana Kesehatan untuk diberikan pengobatan selama 3
jam
3. Rencana terapi C untuk penderita diare dengan dehidrasi berat di
Sarana Kesehatan dengan pemberian cairan Intra Vena.

Rencana Terapi A
Untuk Terapi Diare Tanpa Dehidrasi
Menerangkan 5 Langkah Terapi Diare Di Rumah
1. Beri Cairan Lebih Banyak Dari Biasanya
a. Teruskan ASI lebih sering dan lebih lama
b. Anak yang mendapat ASI eksklusif, beri oralit atau air matang
sebagai tambahan
c. Anak yang tidak mendapat ASI eksklusif, beri susu yang biasa
diminum dan oralit atau cairan rumah tangga sebagai tambahan
(kuah sayur, air tajin, air matang, dsb)
d. Beri oralit sampai diare berhenti. Bila muntah tunggu 10 menit
dan dianjurkan sedikit demi sedikit :
Umur <1 tahun diberi 50-100 ml setiap kali berak
Umur > 1 tahun diberi 100-200 ml setiap kali berak
e. Anak harus diberi 6 bungkus oralit (200 ml) dirumah bila :
Telah diobati dengan rencana terapi B atau C
Tidak dapat kembali kepada petugas kesehatan jika diare
memburuk
f. Ajari ibu cara mencampur dan memberikan oralit

2. Beri Obat Zinc


Beri Zinc 10 hari berurut-turut walaupun diare sudah berhenti.
Dapat diberikan dengan cara dikunyah atau dilarutkan dalam 1
sendok air matang atau ASI.
a. Umur < 6 bulan diberi 10 mg (1/2 tablet) per hari
b. Umur > 6 bulan diberi 20 mg (1 tablet) per hari

3. Beri Anak Makanan Untuk Mencegah Kurang Gizi


a. Beri makan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada
waktu anak sehat
b. Tambahkan 1-2 sendok teh minyak sayur setiap porsi makan
c. Beri makanan kaya kalium seperti sari buah segar, pisang, air
kelapa hijau
d. Beri makanan lebih sering dari biasanya dengan porsi lebih kecil
(setiap 3-4 jam)
e. Setelah diare berhenti, beri makanan yang sama dan makanan
tambahan selama 2 minggu

4. Antibiotik Hanya Diberikan Sesuai Indikasi


Misal : Disentri, Kolera, Dll
5. Nasihat Ibu / Pengasuh
Untuk membawa anak kembali ke petugas kesehatan bila :
a. Berak cair lebih sering
b. Muntah berulang
c. Sangat haus
d. Makan dan minum sangat sedikit
e. Timbul demam
f. Berak berdarah
g. Tidak membaik dalam 3 hari.

RENCANA TERAPI B
UNTUK TERAPI DIARE DEHIDRASI RINGAN/SEDANG

1. Jumlah Oralit Yang Diberikan Dalam 3 Jam Pertama Di Sarana


Kesehatan
Oralit Yang Diberikan = 75 ml x BERAT BADAN anak
a. Bila BB tidak diketahui berikan oralit sesuai tabel dibawah ini :
Umur <1 Th 1-4 Th >5 Th
Jumlah 300 ml 600 ml
Oralit 1.200ml

b. Bila anak menginginkan lebih banyak oralit, berikanlah


c. Bujuk ibu untuk meneruskan ASI
d. Untuk bayi < 6 bulan yang tidak mendapat ASI berikan juga 100-
200 ml air masak selama masa ini.
e. Untuk anak > 6 bulan, tunda pemberian makan selama 3 jam
kecuali ASI dan oralit
f. Beri obat Zinc selama 10 hari berturut-turut

2. Amati Anak Dengan Seksama Dan Bantu Ibu Memberikan Oralit


a. Tunjukkan jumlah cairan yang harus diberikan
b. Berikan sedikit demi sedikit tapi sering dari gelas
c. Periksa dari waktu ke waktu bila ada masalah
d. Bila kelopak mata anak bengkak, hentikan pemberian oralit dan
berikan air masak atau ASI. Beri oralit sesuai Rencana Terapi A
bila pembengkakan telah hilang
3. Setelah 3-4 Jam, Nilai Kembali Anak Menggunakan Bagan
Penilaian, Kemudian Pilih Rencana Terapi A, B Atau C Untuk
Melanjutkan Terapi
a. Bila tidak ada dehidrasi, ganti ke Rencana Terapi A. Bila
dehidrasi telah hilang, anak biasanya kencing kemudian
mengantuk dan tidur
b. Bila tanda menunjukkan dehidrasi ringan/sedang, ulangi
Rencana Terapi B
c. Anak mulai diberi makanan, susu dan sari buah.
d. Bila tanda menunjukkan dehidrasi berat, ganti dengan Rencana
Terapi C

4. Bila Ibu Harus Pulang Sebelum Selesai Rencana Terapi B


a. Tunjukkan jumlah oralit yang harus dihabiskan dalam terapi 3
jam di rumah
b. Berikan oralit 6 bungkus untuk persediaan dirumah
c. Jelaskan 5 langkah Rencana Terapi A untuk mengobati anak di
rumah

BAB V
LOGISTIK
Dalam melakukan kegiatan program p2p diare di UPTD puskesmas
kembang tentu seorang petugas kesehatan haruas mendapat dukungan
fasilitas dari puskesmas kembang dari puskesmas agar kegiatan tersebut
dapat berjalan sesuai harapan dan target bulanan dapat tercapai.
Adapun logistik yang diperlukan dalam melakukan kegiatan program antara
lain :
1. Tersedianya sumber daya manusia
2. Tersedianya peralatan sesuai kebutuhan
3. Tersedianya Standar Operasional Prosedur , dan pedoman Diare
4. Tersedianya alat tulis kantor dan rekam medis

BAB VI
KESELAMATAN SASARAN KEGIATAN / PROGRAM
Untuk menjamin keselamatan kegiatan p2p TBC harus dengan
berpedoman pada :
1. Dasar hukum pelaksanaan kegiatan
2. Kebijakan internal puskesmas
3. Standar Operasional Prosedur
4. Kerangka Acuan Kegiatan ( KAK ) setiap kegiatan
Adapun sasaran keselamatan pasien yang ada di UPTD Puskesmas
Kembang adalah :
1. Mengidentifikasi pasien dengan benar
2. Meningkatkan komunikasi yang efektif
3. Meningkatkan keamanan obat obatan yang harus diwaspadai
4. Memastikan lokasi pembedahan yang benar , prosedur yang benar,
pembedahan pada pasien yang benar
5. Mengurangi resiko infeksi akibat perawatan kesehatan
6. Menggurangi resiko cidera pasien akibat terjatuh

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Pencegahan terjadinya infeksi dalam p2p diare harus memperhatikan
hal hal sebagai berikut :
1. Kebersihan tangan ( kuku terpotong pendek, tidak memakai
perhiasan saat merawat pasien, mencuci tangan dengan air mengalir
dan sabun, atau dengan hand rubs )
2. Menggunakan Alat pelindung Diri ( Sarung tangan dan Masker )
3. Pengendalian pencemaran lingkungan ( melakukan dekontaminasi
dan sterilisasi alat , membuang sampah medis atau non medis pada
tempatnya , menggunakan jarum suntik sekai pakai )

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu pelaksanaan kegiatan program p2p diare di UPTD
Puskesmas Kembang antara lain :
1. Terdapat sarana sosialisasi
2. Jumlah tenaga coordinator pencegahan dan pengendalian penyakit
diare satu orang dan memiliki kopetensi yang sesuai standar
3. Adanya SOP program untuk mengetahui indicator kinerja program
4. Pemegang program mengetahui indicator kinerja program
5. Jadwak kegiatan dilakukan sesuai rencana
6. Pelaporan terdiri dari
a. Pelaporan perbulan program
b. Pelaporan on line program perbulan
7. Evaluasi kinerja program perbulan

BAB IX
PENUTUP
Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan dilakukan upaya-
upaya kesehatan. Salah satu upaya kesehatan yang dilakukan pemerintah
dalam meningkatkan derajat kesehatan yang optimal adalah program
pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Penyakit menular yang
sampai saat ini masih menjadi program pemerintah di antaranya adalah
program pengendalian penyakit diare yang bertujuan untuk menurunkan
angka kesakitan dan kematian karena diare bersama lintas program dan
sector terkait.
Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan
konsistensi fesesse lain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan
menderita Diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air
besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang berair tapi tidak
berdarah dalam waktu 24 jam (Kemenkes RI, 2011).

Jepara, 13 November 2019


Kepala puskesmas Kembang Penanggung Jawab Program

Dr. Fitrin miadianti ,MM zulikah

NIP. 197012282007012023 NIP.1985070120190 2 2006