Anda di halaman 1dari 84

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN

GERONTIK SISTEM KARDIOVASKULER PADA Ny.S DENGAN USIA


70 TAHUN DI PANJEN RT 06/RW 32 DI DESA MAGUWOHARJO,
DEPOK, SLEMAN, YOGYAKARTA  

Disusun Sebagai Acuan Untuk Melaksanakan Asuhan Keperawatan Gerontik


Dosen pembimbing: Thomas Aquino Erjinyuare Amigo, S. Kep., Ns. M. Kep., Sp. Kep.
Kom

Disusun oleh :

NI KETUT NIK SANTI


19160099

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia) dipredikasi akan terus meningkat di masa
mendatang terutama di Negara berkembang (Pusat Data dan Informasi Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2014). Menurut Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia, mengatakan bahwa lanjut usia
(lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Berdasarkan Data
Proyeksi Penduduk 2017, jumlah penduduk lansia didunia diperkirakan akan terus
mengalami peningkatan, pada tahun 2015 penduduk lansia didunia mencapai (12,3%),
tahun 2020 mencapai (13,5%), tahun 2025 meningkat menjadi (14,9%) (Pusat Data dan
Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017).
Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang dengan peningkatan jumlah
penduduk lansia yang sangat cepat diperkirakan tahun 2017 terdapat 23,66 juta jiwa
penduduk lansia di Indonesia (9,03%). Penduduk lansia diprediksi mengalmi peningkatan
pada tahun 2020 (27,08 juta), tahun 2025 (33,69 juta) (Pusat Data dan Informasi
Kementerian Kesehatan RI, 2017). Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu
Provinsi yang memiliki persentase lansia tertinggi di Indonesia dengan persentase (13,81%),
diikuti oleh Jawa Tengah (12,59%) dan Jawa Timur (12,35%). Dengan meningkatanya
jumlah lansia diikuti juga dengan meningkatnya masalah kesehatan dan menurunkan
kesejahteraan lansia. Oleh, karena itu pemerintah, perawat dan tenaga kesehatan lainya harus
mempersiapkan merancang berbagai aspek terutama kesehatan yang ditunjukan bagi
kelompok lansia (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
2017).
Lansia mengalami proses penurunan yang dimulai dengan adanya beberapa
perubahan dalam hidup. Perubahan tersebut meliputi perubahan sistem sensori, sistem
pernapasan, sistem integumen, sistem reproduksi, sistem genitourinaria, sistem otot,
sisten pencernaan, sistem persyarafan dan sistem kardiovaskuler (Miller, 2012). Seperti
banyak aspek fungsi fisiologis, sulit untuk menentukan apakah perubahan kardiovaskular
yang disebabkan penuaan normal atau faktor lainnya. Pengetahuan tentang berbeda
Perubahan usia- atau penyakit yang berhubungan dengan fungsi kardiovaskular adalah
dikacaukan oleh fakta bahwa, sampai saat ini, tidak ada teknologi untuk mendeteksi
kardiovaskular patologis asimtomatik proses, seperti oklusi dari arteri koroner utama
(Miler, 2012).
Dengan demikian, beberapa kesimpulan dari Studi menggunakan baru teknik
diagnostik menemukan bahwa 36% dan 39% laki-laki dan perempuan, masing-masing,
memiliki penyakit jantung koroner subklinis dan hanya 12,6% dari orang yang berusia
85 tahun atau lebih memiliki tidak klinis atau penyakit subklinis (Miller, 2012). Di
Amerika Serikat, penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama kematian dan
disabilitas diantara lansia. Penyakit aretri koroner merupakan penyebab dari 85% kasus
kematian yang berhubungan dengan penyakit jantung. Insidensi penyakit kardiovaskuler
lebih tinggi pada kaum pria dari pada wanita. Namun, pada usia 80 tahun, angka
prevalensi antara pria dan wanita sama yang menunjukkan peningkatan insidensi
penyakit diantara lansia wanita. (Stanley dan Beare, 2007).

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mampu memahami konsep teori dan asuhan keperawatan yang tepat untuk lansia
dengan gangguan sistem kardiovaskuler
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus asuhan keperawatan pada lansia yaitu diketahui :
a. Konsep penuaan pada sistem kardiovaskular
b. Pengkajian keperawatan lansia pada sistem kardiovaskular
c. Rencana keperawatan lansia pada sistem kardiovaskular
d. Implementasi keperawatan lansia pada sistem kardiovaskuler
e. Evaluasi keperawatan lansia pada sistem kardiovaskular
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM TERKAIT


Perubahan pada pembuluh darah yang menua ini mengakibatkan peningkatan tekanan
darah (hipertensi) dan penumpukan plak aterosklerosis yang berujung pada penyakit
kardiovaskuler (Stanley & Bare, 2007). Pembuluh darah adalah salah satu organ yang
juga mengalami proses menua, Perubahan yang terjadi dalam proses ini meliputi
perubahan struktur, mekanik dan atau fungsi dari dinding pembuluh darah. Akibat yang
ditimbulkan dari proses ini antara lain penebalan dinding dengan peningkatan kekakuan,
lumen yang melebar dan kemudian diikuti dengan penurunan vascular compliance
(Stanley & Bare, 2007). Organ di dalam tubuh yang berpengaruh terhadap terjadinya
peningkatan tekanan darah karena proses penuaan yaitu:
1. Jantung
Jantung adalah organ berongga berbentuk kerucut dengan ukuran sekitar satu
kepal orang dewasa. Terletak dimedia stinum rongga dada, diantara kolumna vertebra
dan sternum, jantung dibatasi secara lateral oleh kedua paru. Jantung dibungkus oleh
perikardium, lapisan membran vibrosa. Perikardium membungkus jantung dan
menambatkan jantung kestruktur di sekelilingnya, membentuk kantong perikardium.
Lapisan terluar jantung adalah perikardium parietal; perikardium visera (atau
epikardium) melekat pada permukaan jantung. Cairan pelumas serosa yang di
produksi dalam ruang ini melindungi jantung saat berdenyut (Sherwood, 2014).
Dinding jantung terdiri atas tiga lapisan jaringan: epikardium, miokardium, dan
endokardium. Epikardium menyelimuti seluruh jantung dan pembuluh darah besar
kemudian melipati membentuk lapisan parietal yang melapisi perikardium dan
menempel ke permukaan jantung. Miokardium, lapisan tengah dinding jantung, terdiri
atas sel otot jantung khusus (miofibril) yang menyediakan serabut otot jantung
kontraktil. Endokardium adalah membran tipis berlapis 3 yang melapisi ruang jantung
dan pembuluh besar (Sherwood, 2014).
2. Katup Jantung
Jantung mempunyai dua atrium dibagian atas dan dua ventrikel dibagian
bawah. Keduanya dipisahkan secara melintang oleh septum intraventrikular. Tiap
ruangan jantung dipisahkan oleh sebuah katup yang memungkinkan aliran darah satu
arah menuju ruangan selanjutnya atau pembuluh darah besar. Atrium dipisahkan dari
ventrikel oleh dua katup atrioventrikel (AV); katup trikuspid disebelah kanan dan
katup bicuspid (mitral) disebelah kiri (Sherwood, 2014). Ventrikel dihubungkan
kepembuluh besarnya oleh katup semilunaris. Disebelah kanan, katup pulmonalis
(pulmonic) menghubungkan ventrikel kanan dengan arteti pulmonalis. Disebelah kiri,
katup aorta menghubungkan ventrikel kiri dengan aorta. Penutupan katup AV pada
awitan kontraksi (sistol) menghasilkan bunyi jantung pertama, atau S1 (ditandai
dengan bunyi ‘lup’); penutupan katup semilunaris pada awitan relaksasi (diastol)
menghasilkan bunyi jantung kedua, atau S2 (ditandai dengan bunyi ‘dup’) (Sherwood,
2014)
3. Sirkulasi Sistemik, Pulmonal dan Koroner
Sistem sirkulasi mempunyai dua bagian: sirkulasi sistemik (sistem bertekanan
tinggi), yang memasok darah kesemua jaringan tubuh lain dan sirkulasi pulmonary
(sistem bertekanan rendah). Sirkulasi sistemik terdiri atas bagian kiri jantung, aorta
dan cabang nya, kapiler yang memasok otak dan jaringan perifer, sistem vena
sistemik, dan vena cava (Sherwood, 2014). Sirkulasi pulmonar terdiri atas bagian
kanan jantung, arteri pulmonalis, kapiler pulmonalis, dan vena pulmonalis. Sirkulasi
pulmonar dimulai dengan bagian kanan jantung. Darah kurang oksigen dari sistem
vena masuk ke atrium kanan, lewat dua vena besar, vena cava superior dan inferior,
dan dikirim ke paru melalui arteri pulmonalis dan cabangnya. Setelah oksigen dan
karbondioksida bertukar dikapiler pulmonalis, darah kaya oksigen kembali keatrium
kiri melalui beberapa vena pulmonalis. Darah kemudian dipompa keluar dari ventrikel
kiri melewati aorta dan cabang utamanya untuk memasok semua jaringan tubuh
melalui sirkulasi sistemik. Otot jantung disuplai oleh jaringan pembuluhnya sendiri
melalui sirkulasi koroner. Arteri koroner kiri dan kanan berasal dari dasar aorta dan
bercabang keluar mengelilingi miokardium, menyuplai miokardium dengan darah,
oksigen, dan nutrient (Sherwood, 2014).
Arteri koroner utama kiri terbagi membentuk arteri desenden anterior dan
arteri sirkumfeks. Arteri desenden anterior menyuplai septuminterventrikel anterior
dan ventrikel kiri. Arteri koroner kanan menyuplai ventrikel kanan dan membentuk
arteri desenden poterior. Saat kontraksi ventrikel mengirimkan darah melalui sirkulasi
pulmonar dan sirkulasi sistemik, arteri koroner terisi darah keoksigenasi selama
relaksasi ventrikel. Setelah darah mengaliri otot jantung, vena jantung mengalirkan
darah kedalam sinus koroner, yang dikosongkan keatrium kanan jantung. Aliran darah
yang melewati arteri koroner diatur oleh beberapa faktor yaitu tekanan aorta,
vrekuensi jantung (sebagian bessr aliran terjadi selama diastol, saat otot relaks),
aktivitas metabolik jantung, dan tonus (konstriksi) pembuluh darah (Sherwood, 2014)
4. Struktur Pembuluh Darah
Dinding pembuluh darah mempunyai 3 lapisan: tunika intima, tunika media
dan tunika adventisia. Tunika intima, bagian terdalam, disusun oleh endotelium yang
menyediakan permukaan licin untuk mempermudah aliran darah. Pada tunika media,
disusun oleh otot polos dan lebih tebal dibanding tunika media vena. Ini membuat
arteri lebih elastis dibanding vena dan memungkinkan arteri memanjang dan
memendek secara bergantian saat jantung berkontraksi dan relaksasi pada tiap
denyutan, dan menghasilkan gelombang tekanan yang dapat diraba sebagai denyutan
diatas arteri. Arteriol yang lebih kecil kurang elastis dibanding arteri tetapi lebih
banyak mengandung otot polos, yang meningktkan konstriksi dan dilatasi nya. Tunika
adventisia, disusun oleh jaringan ikat dan berfungsi untuk melindungi dan
menambatkan pembuluh (Sherwood, 2014).Vena mempunyai dinding yang lebih
tipis, lumen yang lebih besar dan kapasitas yang lebih besar, serta sebagian besar
dilengkapi dengan katup yang membantu darah mengalir melawan gravitasi kembali
kejantung. Kapiler kecil, yang menyambungkan arteriol dan venula, hanya terdiri atas
satu lapisan tipis tunika intima yang permiabel terhadap pertukaran gas dan molekul
antar sel darah dan jaringan (Sherwood, 2014).
Berdasarkan arah aliran darah maka pembuluh darah dapat dikelompokkan
menjadi dua. Pertama adalah pembuluh darah yang meninggalkan jantung (arteri) dan
pembuluh darah yang menuju jantung (vena). Berdasarkan ukuran penampangnya
(diameter) maka pembuluh darah (arteri dan vena) dapat dikelompokkan menjadi
pembuluh darah besar, sedang, dan kecil. Fungsi Arteri. Denyut arteri darah yang
didorong ke dalam aorta tidak hanya bergerak maju tetapi akan mengakibatkan
peregangan pembuluh darah. Peregangan ini menimbulkan gelombang bertekanan
yang akan berjalan sepanjang arteri. Gelombang bertekanan yang meregangkan
dinding arteri di sepanjang perjalanannya kita kenal sebagai denyut. Kecepatan
perjalanan gelombang ini tidak tergantung pada kecepatan aliran darah dan memiliki
kecepatan yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan kecepatan aliran darah.
Kecepatannya kira-kira 4 m per detik di aorta, 8 m per detik pada arteri besar, dan 16
m per detik pada arteri kecil. Sehingga denyut yang teraba pada arteri radialis terjadi
dalam waktu 0,1 detik setelah ejeksi ventrikel.
Fungsi pembuluh darah Vena. Aliran darah melalui pembuluh darah vena
terutama terjadi karena kerja jantung (pompa jantung), walaupun terdapat pengaruh
dari tekanan negatif intratorakal saat inspirasi (pompa respirasi), dan adanya kontraksi
otot rangka yang menekan vena (pompa otot). Pompa respirasi Waktu inspiasi
tekanan intrapleura turun dari - 2,5 mmHg menjadi - 6 mmHg. Tekanan negatif ini
diteruskan ke vena besar sehingga tekanan vena besar bervariasi dari 6 mmHg waktu
ekspirasi menjadi 2 mmHg pada saat inspirasi tenang. Penurunan tekanan saat
inspirasi membantu venus return ke jantung. Pergerakan diafragma juga membantu
aliran darah vena kembali ke jantung. Tekanan diafragma ke daerah abdominal, yang
terjadi saat inspirasi, akan meningkatkan tekanan abdomen yang akhirnya menekan
darah di vena-vena abdomen ke arah jantung. Pompa Jantung Sisa-sisa tekanan darah
arterial membantu “mendorong” darah ke arah jantung. Penurunan tekanan atrium
juga meningkatkan kemampuan jantung untuk menghisap darah masuk ke dalam
atrium waktu sistolik. (Sherwood, 2014).
5. Fisiologi Peredaran Darah Jantung
Pusingan jantung bermula dibagian kanan jantung. Pembuluh darah vena
(vena kava inferior) menyalurkan semula aliran darah yang rendah kandungan
oksigen ke dalam ruang atrium kanan. Aliran darah tadi akan mengalir dari atrium
kanan ke dalam ventrikel kanan di mana darah akan dipompa ke dalam sistem
pembuluh darah paru-paru melalui arteri pulmonari di mana ia akan menyerap
oksigen dan melepaskan karbon dioksida. Darah yang tinggi kandungan oksigen ini
akan memasuki jantung, dimana darah akan mengalir ke dalam atrium kiri melalui
dua pasang vena pulmonari setiap pasang dari paru-paru kanan dan kiri. Dari atrium
kiri, darah tadi akan memasuki ventrikel kiri dan dipompa keluar ke dalam aorta
untuk penyaluran kesetiap bagian tubuh manusia (Lemone & Bauldoff, 2012). Sistem
peredaran darah yang juga merupakan bagian dari kinerja jantung dan jaringan
pembuluh darah (sistem kardiovaskuler) dibentuk. Sistem ini menjamin kelangsungan
hidup organisme, didukung oleh metabolisme setiap sel dalam tubuh dan
mempertahankan sifat kimia dan fisiologis cairan tubuh. Pertama, darah mengangkut
oksigen dari paru-paru ke sel dan karbon dioksida dalam arah yang berlawanan.
Kedua, yang diangkut dari nutrisi yang berasal pencernaan seperti lemak, gula dan
protein dari saluran pencernaan dalam jaringan masing-masing untuk mengkonsumsi,
sesuai dengan kebutuhan mereka, diproses atau disimpan. Metabolit yang dihasilkan
atau produk limbah (seperti urea atau asam urat) yang kemudian diangkut ke jaringan
lain atau organ-organ ekskresi (ginjal dan usus besar) juga mendistribusikan darah
seperti hormon, sel-sel kekebalan tubuh dan bagian-bagian dari sistem pembekuan
dalam tubuh. (Lemone & Bauldoff, 2012).

B. PROSES MENUA
1. Definisi Lansia
Lansia merupakan tahap terakhir dalam tahap pertumbuhan dan merupakan
proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Proses menua ditandai
dengan adanya perubahan-perubahan baik anatomis, biologis, fisiologis. Lansia
adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas (Undang-undang nomor
13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia). Lansia adalah individu atau
kelompok usia yang berusia 65 tahun keatas (Miller, 2012).
Lanjut usia (lansia) adalah masa dewasa tua dimulai setelah pensiun, biasanya
diantara usia 65 dan 75 tahun. Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan
bahwa lansia adalah induividu yang telah mencapai usia lebih dari atau sama dengan
60 tahun.
2. Klasifikasi Lansia
Berikut ini adalah batasan-batasan usia yang mencakup batasan usia pada lansia:
a. World Health Organization (WHO, 2017) lansia dibagi menjadi empat kategori
yaitu:
1) Usia lanjut (elderly) yang berusia 60 sampai 74 tahun
2) Usia tua (old) yang berusia 75 sampai 90 tahun.
3) Usia sangat tua (very old) yang berusia diatas 90 tahun

b. Menurut Miller (2012), lansia dibagi menjadi tiga kategori yaitu:


1) Tua muda antara usia ( 65 - 74 tahun)
2) Setengah tua antara usia (75 - 84 tahun)
3) Sangat tua antara usia (85 tahun atau lebih)

C. PENUAAN SISTEM TERKAIT


Dengan bertambahnya usia, jantung dan pembuluh darah mengalami perubahan baik
struktural maupun fungsional. Secara umum, perubahan yang disebabkan oleh penuaan
berlangsung lambat dan dengan awitan yang tidak disadari. Penurunan yang terjadi
berangsur-angsur ini sering ditandai dengan penurunan tingak aktivitas, yang
mengakibatkan penurunan kebutuhan darah yang terorganisasi (Miller, 2012).

1. Myokardium dan Mekanisme Neurokonduksi


Perubahan miokardium yang berkaitan dengan usia seperti cadangan amiloid,
penumpukan lipofusin, degenerasi basofil, atrofi atau hipertrofi miokardium,
penebalan dan kekakuan katup, dan peningkatan jumlah jaringan ikat. Dinding
ventrikel kiri sedikit membesar pada lansia yang sehat, tetapi atrofi miokardium yang
signifikan terjadi akibat proses patologis. Atrium kiri membesar juga pada lansia
yang sehat. Perubahan lain terkait dengan usia yaitu penebalan endokardium atrium,
penebalan katup atrioventrikular, dan kalsifikasi pada bagian kecil anulus mitral pada
katup aorta. Perubahan ini mengganggu kemampuan jantung dalam berkontraksi
optimal. Dengan kontraktilitas yang kurang, maka semakin banyak waktu yang
diperlukan untuk siklus pengisian diastolis dan pengosongan sistolik. Akibatnya,
miokardium semakin mudah iritasi dan kurang responsif terhadap impuls yang
berasal dari sistem saraf simpatik (Miller, 2012).
Perubahan fisiologi jantung berkaitan dengan usia sebenarnya minimal, dan
perubahan tersebut berakibat pada kerja jantung hanya pada kondisi stress fisiologis.
Walaupun pada kondisi stress, jantung pada lansia yang sehat bisa beradaptasi, tetapi
mekanisme adaptasi mungkin berbeda dari mereka yang masih muda atau sedikit
kurang efisien. Perubahan akibat usia yang berdampak pada fungsi primer
elektrofisiologi jantung (neurokonduksi sistem). Perubahan akibat usia pada sistem
neurokonduksi meliputi penurunan jumlah sel pacemaker, peningkatan
ketidakteraturan bentuk dari sel pacemaker, dan peningkatan cadangan lemak,
kolagen, dan serat elastis di sekitar sinoatrial node (Miller, 2012; Wallace, 2008).
2. Vaskularisasi
Perubahan terkait usia mempengaruhi pada 2 atau 3 lapisan pembuluh darah
dan berdampak pada fungsional yang berbeda, tergantung pada lapisan mana yang
terganggu. Contohnya, perubahan pada tunika intima (lapisan terdalam) mempunyai
fungsi yang paling berpengaruh terhadap terjadinya aterosklerosis, dan perubahan
pada tunika media akan menyebabkan hipertensi. Lapisan terluar (tunika adventitia)
sepertinya tidak terpengaruh oleh perubahan usia. Pada lapisan ini terdiri dari
jaringan adiposa yang berikatan lemah dan jaringan ikat, sehingga membantu serabut
saraf dan vasa vasorum , mensuplai darah ke tunika media (Miller, 2012). Tunika
media mempunyai 1 lapisan sel endotelial diatas lapisan jaringan ikat. Hal tersebut
mengontrol masuknya lipid dan substansi lain dari darah ke dalam dinding arteri.
Keutuhan sel ndotelial memungkinkan darah untuk mengalir dengan bebas tanpa
adanya clot atau bekuan darah, walaupun ketika sel endotelial rusak, sel endotelial
berfungsi dalam proses pembekuan darah. Dengan peningkatan usia, tunika intima
semakin menebal karena terjadinya fibrosis, proliferasi seluler, dan penumpukan
lipid dan kalsium. Akibatnya, sel endotelial memiliki bentuk dan ukuran yang tidak
beraturan. Oleh karena itu, dinding arteri rentan mengalami aterosklerosis (Miller,
2012).
Tunika media terdiri dari satu atau lebih lapisan sel otot polos yang dikelilingi
oleh jaringan elastin dan kolagen. Sel otot polos terlibat dalam pembentukan jaringan
pembangun untuk memproduksi kolagen, proteoglikan, dan serat elastin. Karena hal
tersebut untuk menyediakan struktur yang mendukung, lapisan ini mengontrol
ekspansi dan kontraksi arteri. Perubahan usia berdampak pada tunika media seperti
peningkatan kolagen dan penipisan dan kalsifikasi serat elastin, yang menyebabkan
kekakuan pembuluh darah. Perubahan ini terutama terjadi pada aorta, yang mana
diameter lumen meningkat untuk mengkompensasi kekakuan arteri akibat penuaan
(Miller, 2012). Penuaan pada tunika media menyebabkan peningkatan tahanan
perifer, gangguan pada fungsi abroreseptor, dan berkurangnya kemampuan untuk
meningkatkan aliran darah ke organ vital. Walaupun pada perubahan ini, tidak
berdampak serius pada kesehatan lansia, hal tersebut meningkatkan tahanan aliran
darah dari jantung sehingga ventrikel kiri dipaksa untuk bekerja lebih berat.
Meskipun, baroreseptor pada ateri besar menjadi kurang efektif dalam mengontrol
tekanan darah, terutama selama perubahan postur. Secara keseluruhan, peningkatan
kekakuan pembuluh darah menyebabkan sedikit meningkatnya tekanan darah sistolik
(Miller, 2012).
Vena mengalami perubahan yang mirip dengan arteri, tetapi derajatnya lebih
rendah. Vena menjadi lebih tebal, lebih melebar, dan kurang elastis. Katup pada
vena besar di kaki menjadi kurang efisien mengembalikan darah ke jantung. Sirkulasi
perifer lebih lanjut dipengaruhi oleh penuaan menyebabkan penurunan massa otot
dan bersamaan dengan penurunan kebutuhan oksigen (Miller, 2012).
3. Mekanisme Baroreflek
Mekanisme baroreflek merupakan proses yang fisiologis yang mengatur
tekanan darah dengan meningkatkan atau menurunkan denyut jantung dan tahanan
pembuluh darah perifer untuk mengkompensasi peningkatan atau penurunan tekanan
arteri sementara. Penuaan yang mengubah mekanisme baroreflek termasuk kekauan
arterial dan penurunan respon kardiovaskular terhadap stimulasi adrenergik.
Perubahan ini menyebabkan respon kompensasi menjadi lambat terhadap stimulasi
hipertensi dan hipotensi pada lansia, sehingga denyut jantung mereka tidak
meningkat atau menurun seperti halnya dengan orang dewasa (Miller, 2012).

D. FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI FUNGSI SISTEM TERKAIT


Banyak faktor risiko yang mempengaruhi fungsi kardivaskuler. Penyakit pada
kardiovaskuler mengarah ke semua proses patologis yang berdampak pada sistem jantung
dan pembuluh darah, termasuk penyakit spesifik contohnya penyakit jantung koroner,
aritmia, aterosklerosis, infark miokard, gagal jantung, penyakit pembuluh darah perifer,
tromboembolisme vena, stroke, dan serangan iskemik sementara tergantung dengan
kondisi kardiovaskuler, karena berdasarkan patologi masing-masing (Miller, 2012).
Beberapa penelitian menemukan faktor risiko yang paling banyak menyebabkan
penyakit kardiovaskuler, seperti stress, obesitas, lipid, diabetes, tekanan darah, tidak
beraktivitas fisik, merokok, kurang asupan buah dan sayur, dan konsumsi alkohol
berlebihan. Beberapa faktor risiko seperti usia, ras, jenis kelamin, dan keturunan, yang
tidak dapat diubah tetapi berperan penting dalam mempengaruhi riwayat risiko seseorang
secara keseluruhan. Beberapa tahun belakangan, meningkatnya ras dan jenis kelamin
yang keduanya berdampak pada penyakit kardiovaskuler dan kesempatan untuk hasil
yang merugikan. Contohnya, terdapat bukti yang kuat terhadap perbedaan kesehatan yang
berhubungan dengan peningkatan prevalensi dan manajemen yang kurang terhadap
penyakit jantung dan faktor risiko wanita. Walaupun usia, jenis kelamin, dan ras tidak
dapat diubah, tetapi sangat penting dalam pengenalan manifestasi penyakit dan
manajemen penyakit kardiovaskuler yang terjadi pada beberapa kelompok khusus. Faktor
sosial ekonomi dan psikososial juga berdampak pada riwayat risiko penyakit jantung dan
faktor ini terkait dengan asuhan keperawatan holistik pada lansia (Miller, 2012)
1. Aterosklerosis
Perubahan aterosklerotik yang dimulai saat masa kanak-kanak dan dapat
berkembang menjadi bentuk plak. Lesi akibat plak yang dapat ruptur, tetap stabil,
atau berlanjut tumbuh berdasarkan penyebab penyakit jantung yang paling
berpengaruh. Beberapa penelitian menyebutkan siklus asimtomatik multipel dari plak
yang erosi dan penyembuhan terjadi sekitar 60% pada kematian jantung mendadak
sebelum kejadian yang fatal. Hal tersebut penting untuk mengidentifikasi dan
mengenali faktor risiko sebelum pasien mengalami gejala. Semua faktor risiko yang
berkaitan dengan penyakit kardiovaskuler tersebut yang dapat berkembang menjadi
aterosklerosis (Miller, 2012)
2. Tidak Aktif Fisik
Tidak aktif fisik merupakan salah satu faktor yang tidak hanya meningkatkan
risiko penyakit kardiovaskuler pada semua orang tetapi juga mengurangi fungsi
jantung pada lansia yang sehat. Dengan tanpa adanya proses patologi, pola tidak
adekuat dari aktivitas fisik akan menganggu dengan kemampuan lansia untuk
beradaptasi terhadap perubahan kardiovaskuler terkait penuaan. Berdasarkan
guideline, tingkat tidak beraktivitas fisik yang meningkatkan risiko penyakit
kardiovaskuler adalah kurang dari 30 menit pada aktivitas fisik yang sedang, paling
tidak 5 hari seminggu atau 20 menit pada aktivitas fisik yang berat 3 hari seminggu.
Kondisi yang sering terjadi pada lansia dan yang menyebabkan tidak beraktivitas
fisik seperti penyakit akut, gaya hidup yang tidak beraturan, pergerakan yang
terbatas, kondisi kronis yang dapat menganggu aktivitas fisik, dan mempengaruhi
psikososial seperti depresi atau kurang motivasi (Miller, 2012)
3. Merokok
Merokok merupakan penyebab yang paling tidak dapat dihindari dari penyakit
kardiovaskuler, penelitian yang dilakukan oleh Surinach et al (2009) baik perokok
aktif maupun perokok pasif, meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler
dengan gejala 10 tahun lebih awal dan kematian terjadi 13 tahun lebih awal pada
perokok dibandingkan yang tidak merokok. Data nasional yang diperoleh oleh Lloyd-
Jones et al (2009) 35% merokok berhubungan dengan kematian akibat penyakit
kardiovaskuler. Efek merokok pada sistem kardiovaskuler termasuk terjadinya proses
aterosklerosis, peningkatan tekanan darah sistolik, peningkatan tingkat kolesterol
LDL, dan penurunan tingkat kolesterol HDL. Walaupun terpapar rokok dalam waktu
yang singkat perokok pasif meningkatkan serangan jantung akibat efek langsung pada
jantung, darah dan pembuluh darah. Seseorang yang tidak merokok tetapi terpapar
asap rokok di rumah atau di tempat kerja (perokok pasif) mempunyai risiko 25-30%
risiko tinggi berkembanya penyakit jantung. Hal tersebut dibuktikan dengan efek
kardiovaskuler dengan menambahkan efek nikotin pada fungsi respirasi dan aspek
kesehatan lainnya seperti peningkatan terjadinya beberapa jenis kanker (Miller, 2012).
4. Kebiasaan Diet atau Pola Makan
Beberapa kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko pada penyakit
kardiovaskuler, termasuk peningkatan berat badan, tekanan darah, kadar glukosa,
kadar lipoprotein dan trigliserida. Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara kebiasaan makan dan kesehatan kardiovaskuler seperti :
a. Asupan lemak total kurang penting dibandingkan jenis lemak yang dikonsumsi,
mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh, yang dapat mengurangi risiko
kardiovaskuler sebesar 24%.
b. Setiap 2% kalori dari lemak jenuh meningkatkan risiko 23% lebih tinggi terhadap
penyakit jantung koroner.
c. Asupan 2,5 penyajian harian grain utuh dapat mengurangi risiko penyakit
kardiovaskuler 21% dibandingkan dengan penyajian sebanyak 0,2%.
d. Konsumsi sepertiga penyajian minyak ikan setiap minggu dapat mengurangi risiko
kematian akibat penyakit kardiovaskuler sebesar 35%
a. Intervensi rendah garam dapat mengurangi risiko 25% setelah 10-15 tahun folow
up (Miller, 2012)
5. Obesitas
Obesitas adalah indeks masa tubuh ≥30 kg/m2. Obesitas dapat meningkatkan
risiko pada banyak kondisi patologis termasuk stroke, diabetes, disorder lipid,
aterosklerosis, hipertensi, penyakit jantung koroner. Analisa data penelitian yang
ditemukan oleh Zhang, Rexrode, Van Dam, Li, dan Hu (2008) bahwa lingkar pinggul
yang lebih tinggi merupakan faktor risiko kematian akibat penyakit kardiovaskuler
bahkan pada wanita dengan berat badan normal (Miller, 2012).
6. Faktor risiko lain
Terdapat faktor risiko lain yang dapat meningatkan risiko penyakit
kardiovaskuler, yaitu hipertensi, lipid disorder, sindrom metabolik, faktor psikososial,
faktor keturunan dan sosial ekonomi (Miller, 2012).
E. KONSEKUENSI FUNGSIONAL SISTEM TERKAIT
Pengalaman kesehatan lansia tidak signifikan mempengaruhi kardiovaskuler ketika
lansia beristirahat, tetapi ketika lansia mulai melakukan latihan fungsi kardiovaskuler
semakin kurang efisien. Walaupun lansia mempunyai faktor risiko penyakit
kardiovaskuler yang berdampak negatif pada proses patologis (Miller, 2012).
1. Pengaruh terhadap Fungsi Jantung
Curah jantung, sejumlah darah yang dipompakan oleh jantung per menit,
merupakan pemeriksaan yang penting pada kerja jantung karena hal tersebut
menunjukan kemampuan jantung dalam memasok oksigen ke tubuh. Walaupun
penurunan curah jantung merupakan hal yang biasa bagi lansia, hal tersebut secara
primer menyebabkan patologis daripada akibat kondisi penuaan. Kecuali sedikit
penurunan curah jantung saat wanita lansia beristirahat, lansia yang sehat tidak
mengalami penurunan curah jantung (Miller, 2012).
2. Pengaruh terhadap Nadi dan Tekanan Darah
Rata-rata nadi normal bagi lansia yang sehat sedikit lebih rendah dibandingkan
dewasa muda tetapi lansia mempunyai ventrikuler dan supraventrikuler aritmia yang
tidak membahayakan karena akibat penuaan yang berdampak pada mekanisme
konduksi jantung. Atrial fibrilasi (aritmia yang lebih parah) biasanya terjadi pada
lansia, tetapi hal ini terkait dengan kondisi patologis seperti hipertensi, penyakit
jantung koroner dibandingkan dengan penuaan. Sebagian besar populasi di dunia,
penuaan berbanding lurus dengan peningkatan tekanan darah sistolik dari usia 30
sampai 40 tahun, dan perubahan ini lebih banyak terjadi pada perempuan
dibandingkan laki-laki. Menurut Williams et al (2008), terdapat juga penurunan
progresif pada tekanan diastolik yang dimulai sekitar usia 50 tahun (Miller, 2012).
3. Pengaruh terhadap Respon Latihan
Dampak fungsional negatif yang berdampak pada kerja kardiovaskuler pada
lansia yang sehat merupakan respon adaptif yang tumpul terhadap latihan fisik. Stres
fisiologis seperti hal yang terkait dengan latihan, peningkatan tergantung pada sistem
kardiovaskuler oleh 4 sampai 5 kali tingkat basal. Adaptif respon melibatkan berbagai
aspek fungsi fisiologis, termasuk respirasi, kardiovaskuler, muskuloskeletal, dan
sistem saraf otonom. Denyut jantung maksimal yang dicapai selama latihan ternyata
menurun, dan kapasitas latihan maksimal dan konsumsi oksigen menurun pada lansia.
Penurunan kondisi fisik dan sejumlah faktor risiko lainnya berpengaruh terhadap
penurunan tersebut. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh McGavock
et al (2009), yang membuktikan oksigen maksimum yang dihirup selama latihan
menurun akibat penuaan tetapi tidak lebih besar terpengaruh oleh faktor risiko seperti
lamanya bedrest (Miller, 2012).
4. Pengaruh terhadap Sirkulasi
Dampak fungsional juga terpengaruh oleh sirkulasi ke otak dan ekstremitas
bawah. Contohnya penuaan pada kardiovaskuler dan mekanisme baroreflek dapat
menurunkan aliran darah ke otak yang meningkat pada lansia yang sehat dan semakin
meningkat pada lansia dengan diabetes, hipertensi, disorder lipid, dan penyakit
jantung. Selain tiu, peningkatan yang tidak beraturan dan dilatasi vena bersamaan
dengan penurunan efiensi katup, yang mengarah ke gangguan pengembalian vena dari
ekstremitas bawah. Akibatnya, lansia rentan mengalami stasis edema pada kaki dan
pergelangan, yang bisa menyebabkan luka stasis vena (Miller, 2012).

F. MACAM-MACAM GANGGUAN (PENYAKIT) PADA SISTEM TERKAIT


Gangguan yang terjadi pada sistem kardiovaskuler akibat penuaan lansia yaitu hipertensi,
gagal jantung kongestif, angina dan infark miokard, stroke.

1. Hipertensi
a. Definisi
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih,
atau tekanan darah yang membutuhkan pengobatan dengan obat anti hipertensi
(Miller, 2012). Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah sistolik
≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg (JNC 8, 2014).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistole lebih dari 140 mmHg dan
tekanan darah diastole lebih dari 90 mmHg berdasarkan hasil rata-rata dua
atau lebih pengukuran oleh pemberi layanan kesehatan (Smeltzer et al, 2010).
b. Etiologi
Hipertensi disebabkan oleh berbagai faktor risiko yang dapat diubah dan tidak
dapat diubah (seperti usia, keturunan) dan perilaku gaya hidup (diet tinggi
sodium, lemak, kurang aktivitas isik, obesitas, stress), serta faktor risiko yang
parah yang berkembang menjadi beberapa jenis penyakit kardiovaskuler dan
ginjal(Smeltzer & Bare, 2001; Wallace, 2008).
1) Riwayat Keluarga
Orang tua dengan hipertensi kemungkinan anaknya juga berisiko
menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar
sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium
individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali
lebih besar. Pasien yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi
harus selalu memeriksa tekanan darah secara teratur untuk menghindari
faktor risiko.

2) Usia
Lansia lebih sering mengalami hipertensi karena perubahan proses
fisiologis yang terjadi. Lansia mengalami penebalan dinding arteri karena
adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot sehingga pembuluh
darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku. Penyempitan
pembuluh darah dapat menyebabkan peningkatan tahanan perifer sehingga
menyebabkan peningkatan tekanan darah.
3) Kurang Aktivitas fisik
Aktivitas fisik sangat bagus untuk jantung dan sistem sirkulasi. Kurangnya
aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko peningkatan tekanan darah,
gangguan pada jantung serta pembuluh darah. Kurangnya aktivitas fisik
juga dapat meningkatkan risiko kejadian obesitas dan kelebihan berat
badan. Kurang aktivitas fisik juga cenderung mempunyai denyut jantung
yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras pada
setiap kontraksi. Makin keras dan makin sering otot jantung memompa,
maka makin besar tahanan yang dibebankan kepada arteri. Hal ini yang
menyebabkan peningkatan tekanan darah.
4) Jenis Kelamin
Kejadian hipertensi cenderung lebih sering terjadi pada laki-laki
dibandingkan dengan perempuan sampai usia 45 tahun. Kejadian
hipertensi sama pada laki-laki dan perempuan pada usia 45-64 tahun.
Kejadian hipertensi lebih sering terjadi pada perempuan pada usia lebih
dari 64 tahun. Sebelum menopause, perempuan dilindungi oleh hormon
estrogen dan progesteron yang berperan dalam meningkatkan kadar High
Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan
faktor pelindung dalam mencegah terjadinya aterosklerosis. Saat
menopause hormon estrogen dan progesteron relatif mengalami penurunan
sehingga proteksi terhadap terjadinya aterosklerosis juga berkurang. Hal
ini yang menyebabkan perempuan rentan terkena hipertensi pasca
menopause.
5) Asupan Garam Berlebih
Asupan garam berlebih meningkatkan risiko kejadian hipertensi. garam
mengandung natrium yang dapat menyebabkan kelebihan volume cairan
dalam tubuh sehingga mengakibatkan jantung bekerja ekstra untuk
memompa darah.
6) Obesitas
Berat badan berlebih meningkatkan kerja jantung, meningkatkan kadar
kolesterol darah, dan trigliserida serta menurunkan kadar HDL. Hubungan
antara kelebihan berat badan dengan tekanan darah yaitu terjadinya
resistensi insulin dan hiperinsulinemia, aktivasi saraf simpatis dan sistem
renin-angiotensin, dan perubahan fisik pada ginjal. Peningkatan konsumsi
energi juga meningkatkan insulin plasma. Natriuretik menyebabkan
terjadinya reabsorpsi natrium dan peningkatan tekanan darah secara terus
menerus.
7) Stres
Stres berkontribusi dalam peningkatan tekanan darah. Stres dalam hal ini
termasuk kehidupan personal, perilaku kesehatan, dan status sosial
ekonomi. Ketika seseorang mengalami stres, maka akan terjadi perubahan
dalam pola hidup seseorang menjadi berkurangnya aktivitas fisik, diet
yang buruk, minum alkohol, dan merokok. Hal inilah yang dapat
menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Stres juga akan
meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung
sehingga menstimulasi aktivitas saraf simpatis meningkatkan tekanan
darah.
8) Riwayat Merokok
Merokok dapat meningkatkan tekanan darah serta berisiko merusak arteri.
Seseorang yang merokok lebih dari 1 bungkus sehari menjadi 2 kali lebih
rentan dibandingkan dengan seseorang yang tidak merokok. Kandungan
nikotin dalam darah merangsang peningkatan denyut jantung dan lama
kelamaan menyebabkan tekanan darah meningkat.
9) Kualitas Tidur
Teori Calhoun & Harding (2012), apabila pada kualitas tidur mengalami
kebiasaan durasi tidur yang pendek atau kualitas tidur yang buruk dapat
meningkatkan tekanan darah pada seseorang. Kualitas tidur yang buruk
dapat mengakibatkan hormon pengaturan kesimbangan tekanan darah
tidak bekerja secara optimal, sehingga kehilangan waktu tidur dapat
membuat sistem saraf menjadi hiperaktif yang kemudia mempengaruhi
sistem seluruh tubuh termasuk jantung dan pembuluh darah. Durasi tidur
yang pendek selain dapat meningkatkan rata-rata tekanan darah dan denyut
jantung juga meningkatkan aktifitas sistem saraf simpatik dan merangsang
stres fisik dan psikososial, pada akhirnya bisa mengakibatkan hipertensi
yang berkelanjutan. Pada saat seseorang mengalam gangguan tidur, maka
hipotalamus akan mengaktifkan 2 sumbu yakni medulla adrenal sympatic
system dan Hipotalamic Pituitary Adrenal-axis (HPA-axis). Pada saat
stresor datang disebabkan oleh gangguan tidur, maka hormon norepinefrin
dan epinefrein disekresi oleh kelenjar medulla adrenal dan efek dari
perangsanganya yaitu langsung pada organ-organ spesifik seperti
pembuluh darah dan jantung, kedua hormon tersebut membuat pembbuluh
darah mengalami vasokontriksi sehingga membuat tahanan perifer
meningkat yang akhirnya dapat meningkatkan tekanan darah.
10) Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga secara empiris yaitu menunjukan bahwa keluarga
sangat penting dalam memberikan baik bantuan secara emosional,
penilaiaan, informasional, maupun intrumental yang dpat membantu
proses penyembuhan penyakit (Friedman, 2010). Dukungan keluarga
merupakan sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap empat
dimensi dari dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan
intrumental, dukungan pehargaan, dukungan sosial keluarga dapat berupa
dari suami, istri, ayah, ibu, atau saudara kandung, sedangkan dukungan
eksternal didapat dari teman atau sahabat ataupun petugas kesehatan
(Friedman, 2010).
c. Manifestasi Klinis
Orang-orang yang menderita hipertensi, selama bertahun-tahun tidak
merasakan gejala, namun ketika hipertensi tidak ditangani, maka akan
merusak arteri serta organ vital di seluruh tubuh. Hal inilah yang
menyebabkan hipertensi disebut sebagai silent killer (American Hearth
Association, 2014). Gejala dari hipertensi yang dapat dirasakan ketika telah
terjadi komplikasi antara lain pusing, sakit kepala, pandangan kabur, mimisan,
hematuri, kelelahan, nyeri dada, dan tengkuk tegang (Stoppler, 2015). Orang
yang menderita hipertensi juga dapat mengalami perubahan pada retina seperti
perdarahan maupun penumpukan cairan, papilledema biasa terjadi pada
hipertensi berat (Smeltzer et al, 2010). Penderita hipertensi juga dapat
merasakan sakit kepala atau pusing (Price & Wilson, 2005).

d. Patofisiologi
Sistem saraf simpatis yang berlebihan dengan stimulasi berlebihan pada
reseptor α-adrenergik dan β-adrenergik, menyebabkan fasokontriksi dan
peningkatan curah jantung. Sistem renin angiotensin-aldosteron memengaruhi
tegangan faomotor dan ekskresi air dan garam, kadar angiotensin II yang
tinggi dalam jangka panjang menyebabkan remodeling areteriolar, yang secara
permanen meningkatkan SVR. Interaksi antara resistensi insulin,
hiperinsulinemia dan fungsi endotel dapat menjadi penyebab primer
hipertensi. Insulin berlebihan mempunyai beberapa efek yang berpotensi
menyebabkan hipertensi: (1) retensi natrium oleh ginjal, (2) peningkatan
aktifitas sistem saraf simpatif, (3) hipertrofi otot polos polos vaskuler, dan (4)
perebuhan transpor ion melintasi membran sel. Sistem kardiovaskuler
beradaptasi dengan peningkatan volume darah dengan meningkatkan curah
jantung. Peningkatan resistensi vaskuler sistemik menyebabkan hipertensi.
(Lemone & Bauldoff, 2012)
2. Infark Miokard
a. Definisi
Infark miokardium adalah penyakit yang terjadi karena penyakit jantung
koroner sebelumnya. Karena kososngnya sirakulasi ke miokardium yang
terkena tidak cepat dikembalikan yang menyebabkan kehilangan miokardium
fungsional yang dapat meemperngaruhi kemampuan jantung untuk
mempertahankan curah jantung efektif. (Lemone & Bauldoff, 2012).
b. Etiologi
Saat ini tidak ada penyebab spesifik yang telah diidentifikasi, faktor resiko MI
adalah faktor resiko penyakit jantung koroner; usia, jenis kelamin, keturunan,
ras, merokok, kegemukan, hiperlipidemia, hipertensi, diabetes, gaya hidup
santai, diet. (Lemone & Bauldoff, 2012).
c. Manifestasi Kinis
1) Nyeri dada; substernal atau prekordial (melintasi seluruh dinding dada);
dapat menjakar ke leher, rahang, bahu, atau lengan kiri.
2) Takikardia, takipnea
3) Dipnea, nafas pendek
4) Mual dan muntah
5) Kecemasan, rasa menjelang ajal
6) Diaporesis
7) Kulit dingin bercak-bercak; penurunan nadi perifer
8) Hipotensi atau hipertensi
9) Palpitasi, disritmia
10) Tanda gagal jantung kiri
11) Penurunan tingkat kesadaran (Lemone & Bauldoff, 2012)
d. Patofisiologi
Infark miokardium terjadi saat aliran darah ke otot jantung sepenuhnya
terhambat, menyebabkan iskemia jaringan yang lama dan kerusakan sel
irafersibel. Oklusi koroner disebabkan oleh rupturnya lesi arterosklerosis
berpluit. Ketika lesi arterosklerosis ruptur atau membentuk ulkus, zat
dilepaskan yang menstimulasi adregasi trombosit, pembentukan trombus, dan
tonus hasomotor lokal. Sebagai hasilnya, pembukuh mengeci dan membentuk
trombus (bekuan) yang menyumbat pembuluh dan aliran darah menuju
miokardium yang jauh dari obstruksi. Cedera seluler terjadi saat sel tidak
mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup. Dengan iskemia lama yang
berlangsung lebih dari 20 hinggan 45 menit, hipoksemia irefersibel
menyebabkan kematian seluler dan nekrosis jaringan. Oksigen, glikogen, dan
simpanan ATP sel iskemik dengan berkurang. Metabolisme seluler berpindah
ke proses anaerob, menghasilkan ion hidrogen dan asam laktat. Asidosei
seluler meningkatkan kerentanan sel terhadap kerusakan lebih lanjut dengan
pelepasan enzim intraseluler lewat membran sel yang rusak. Asidosisi seluler,
ketidakseimbangan elektrolit, dan hormon di lepaskan sebagai respon
terhadap iskemia sel yang memengarushi konduksi inplus dan kontraktilitas
miokardium. Kontaktilitas miokardium menurun, meningkatkan risiko
disritmia, sehingga menurunkan volume sekuncup, curah jantung, tekanan
darah dan perfusi jaringan. (Lemone & Bauldoff, 2012).

3. Gagal jantung
a. Definisi
Gagal jantung adalah gangguan pada fungsi jantung yang disebabkan oleh
kerusakan kontraksi miokardium, yang dapat disebabkan oleh penyakit
jantung koroner dan iskemia atau infark miokardium atau akibat gangguan
otot jantung primer seperti kardiomiopati atau miokarditis. (Lemone &
Bauldoff, 2012)
b. Etiologi
Secara garis besar penyebab gagal jantung dapat diklasifikasikan ke dalam
enam kategori utama: (1) terkait usia, abnormalitas miokardium, misalnya
pada kehilangan miosit (infark miokard), gangguan kontraksi (misal pada blok
left bundle branch), lemahnya kontraksi (kardiomiopati, kardiotoksisitas),
disorientasi sel (misalnya hipertrofi kardiomiopati); (2) kegagalan terkait
beban kerja jantung yang berlebihan (misalnya hipertensi atau stenosis aorta);
(3) kegagalan terkait abnormalitas katup; (4) gangguan ritme jantung
(takiaritmia); (5) abnormalitas pericardium atau efusi perikardium (tamponade
jantung); dan (6) kelainan kongenital jantung. Dikarenakan bentuk penyakit
jantung apapun dapat mengakibatkan gagal jantung, maka tidak ada
mekanisme tunggal yang menyebabkan gagal jantung itu sendiri.
c. Menifestasi Klinis
1) Nafas pendek,
2) Takipnea,
3) Ronki,
4) Respiratorik bila ventrikel kiri terkena; distenis vena leher,
5) Pembesaran hati,
6) Anoreksia, dan mual bila vebtrikel kanan terkena.
7) Keleltihan, pusing,
8) Ortopnea, sianosis,
9) Nokturia, dispnea
10) Nokturna paraksimal. (Lemone & Bauldoff, 2012)
d. Patofisiologi
Penurunan curah jantung pada awalnya menstimulasi baroreseptor aorta, yang
pada gilirannya menstimulasi sistem saraf simpatis (SNS). Stimulasi SNS
menghasilkan respon jantung dan faskuler lewat pelepasan noreprinefrin.
Norefrinefrin meningkatkan frekuensi jantung dan kontraktilitas dengan
menstimulasi reseptor beta jantung. Norefrinefrin juga menyebabkan
vasokontriksi arteri dan vena, meningkatkna aliran balik vena ke jantung.
Peningkatan aliran balik vena meningkatkan pengisian ventrikel dan
peregangan miokardium, meningkatkan tenaga kontraksi (mekanisme Frank-
Starling). Pergangan berlebihan serabut otot yang melebihi batasan
fisiologisnya mengahsilkan kontraksi yang tidak efektif.
Frekuensi jantung yang cepat memperpendek waktu pengisian diastolik,
mengganggu perfusi korpner, dan meningkatkan kebutuhan oksigen
miokardium. Iskemia yang terjadi lebih lanjut menganggu curah jantung.
Reseptor-beta dijantung menjadi kurang sensitif terhadap stimulasi SNS,
menurunkan frekuensi jantung dan kontraktilitas. Ketika reseptor-beta menjadi
kurang sensitif, cadangan norefinefrin dalam otot jantung menjadi
berkurang.sebaliknya, reseptor-alfa dalam pembuluh darah perifer menjadi
sangat sensitif terhadap stimulasi persisten, meningkatkan vasokontriksi dan
meningkatkan afterload dan kerja jantung. (Lemone & Bauldoff, 2012).
4. Infark Miokard
a. Definisi
Menurut AHA (2007) mendefinisikan infark miokard sebagai kerusakan atau
kematian area otot jantung akibat blokade aliran darah pada area tersebut
(Wallace, 2008).
b. Etiologi
Ada beberapa faktor penyebab infark miokard yaitu penyakit jantung koroner,
trombosis koroner, sumbatan pada koroner, dan spasme pada koroner. Selain
itu, infark miokard juga dapat disebabkan oleh syok dan perdarahan (Smeltzer
& Bare, 2001; Wallace, 2008).
c. Manifestasi Klinis
Nyeri dada yang tiba-tiba dan berlangsung terus-menerus pada bagian bawah
strenum dan perut atas. Nyeri akan terasa makin berat sampai tidak
tertahankan. Rasa nyeri yang tajam dan berat menyebar ke bahu dan lengan
kiri. Tidak seperti nyeri pada angina, nyeri ini muncul secara spontan dan
menetap selama beberapa jam bahkan hari, tidak akan hilang dengan dengan
istirahat maupun nitrogliserin. Nyeri juga disertai nafas pendek, pucat,
berkeringat dingin, pusing, dan mual muntah. Pada lansia mungkin tidak
mengalami nyeri tajam akibat infark miokard karena menurunnya respon
neurotransmiter yang terjadii seiring proses menua. Sering terjadi nyeri yang
tidak khas seperti nyeri pada dagu, pingsan juga dapat terjadi (Smeltzer &
Bare, 2001).
d. Patofisiologi
Infark miokard mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai
darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang. Penyebab
penurunan suplai darah mungkin akibat penyempitan kritis arteri koroner
karena aterosklerosis atau penyumbatan total arteri oleh emboli atau trombus.
Penurunan aliran darah koroner juga bisa diakibatkan oleh syok atau
perdarahan, sehingga terjadi ketidakseimbangan antar suplai oksigen dengan
kebutuhan jantung. Miokard infark lebih lanjut berdasarkan lokasi terjadinya
di dinding miokard: inferior (posterior) atau lateral. Meskipun ventrikel kiri
merupakan tempat cedera yang paling sering ditemukan, namun ventrikel
kanan juga dapat mengalami infark (Smeltzer & Bare, 2001).
5. Aterosklerosis Koroner
a. Definisi
Aterosklerosis koroner kondisi patologis arteri koroner yang ditandai dengan
penimbunan jumlah lipid yang abnormal dan jaringan fibrosa pada dinding
pembuluh darah yang mengakibatkan struktur fungsi arteri berubah dan
terjadi penurunan alian darah ke jantung (Smeltzer & Bare, 2001).
b. Etiologi
Aterosklerosis disebabkan oleh kelainan metabolisme lipid, koagulasi darah,
dan keadaan biofisika serta biokimia dinding arteri. Tetapi pada lansia,
penuaan menyebabkan perubahan pada integritas lapisan dinding arteri
(ateroskerosis), sehingga menghambat aliran darah dan nutrisi jaringan.
Perubahan tersebut kadang begitu besar sampai menurunkan oksigenasi dan
meningkatkan konsumsi oksigen jantung. Akibatnya dapat terjadi angina
pektoris berat dan diikuti gagal jantung kongesti. Selain itu, terdapat juga
faktor risiko yang dapat menimbulkan aterosklerosis yaitu merokok,
hipertensi, kolesterol darah tinggi, dan hiperglikemi (Smeltzer & Bare, 2001).
c. Manifestasi Klinis
Aterosklerosis koroner menimbulkan gejala akibat penyempitan lumen arteri
dan penyumbatan aliran darah ke jantung. Akibat sumbatan tersebut, suplai
darah menjadi tidak adekuat (iskemia) yang menimbulkan sel-sel otot jantung
kekurangan oksigen. Akibat iskemia, kemudian muncul nyeri dada (angina
pektoris) yang hilang timbul, tidak disertai kerusakan yang irreversibel sel-sel
jantung. Manifestasi lain yaitu dapat berupa perubahan pola EKG, aneurisma
ventrikel, disritmia, dan kematian mendadak (Smeltzer & Bare, 2001).
d. Patofisiologi
Aterosklerosis berawal ketika lemak kolesterol tertimbun dalam tunika intima
pembuluh darah, yang disebut sebagai ateroma atau plak, yang dapat
mengganggu penyerapan nutrien oleh sel-sel endotel yang menyusun lapisan
intima pembuluh darah. Plak tersebut kemudian menyumbat aliran darah
karena plak menonjol ke lumen pembuluh darah. Akibatnya, endotel
pembuluh darah mengalami nekrosis dan menjadi jaringan parut, sehingga
lumen menyempit dan dinding menjadi kasar, dan cenderung terjadi
pembentukan bekuan darah (Smeltzer & Bare, 2001). Pembentukan trombus
pada permukaan plak, kemudian terjadi konsolidasi trombus akibat efek
fibrin, yang menyebabkan perdarahan ke dalam plak, dan penimbunan lemak
terus terjadi. Jika fibrosa pembungkus plak pecah, maka debris lipid akan ikut
aliran darah dan menyumbat arteri dan kapiler di sebelah distal plak yang
pecah. Struktur anatomi arteri koroner menyebabkan rentan terjadi
aterosklerosis. Arteri berbentuk pilin-pilin dan berkelok-kelok saat memasuki
jantung, yang menimbulkan kondisi yang rentan untuk terbentuknya ateroma
(Smeltzer & Bare, 2001).
6. Angina Pectoris
a. Definisi
Angina pectoris adalah suatu sindrom klinis yang ditandai dengan nyeri
tertekan di dada depan (Smeltzer & Bare, 2001).
b. Etiologi
Penyebabnya diperkirakan berkurangnya aliran darah koroner, menyebabkan
suplai oksigen ke jantung tidak adekuat atau suplai kebutuhan jantung
meningkat. Faktor risiko yang dapat menyebabkan angina pektoris yaitu :
latihan fisik yang berat, makan-makanan yang berat, pajanan dingin yang
menimbulkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan peningkatan tekanan
darah, stress dan berbagai emosi akibat situasi yang menegangkan. Pada saat
terpajan suhu dingin, lansia akan lebih cepat memperlihatkan gejala angina
akibat berkurangnya lemak subkutan untuk mengisolasi rasa dingin (Smeltzer
& Bare, 2001).
c. Manifestasi Klinis
Iskemia otot jantung menyebabkan rasa nyeri yang bervariasi, mulai dari rasa
tertekan pada dada atas, sampai nyeri hebat yang disertai dengan rasa takut
atau rasa akan menjelang ajal. Nyeri sangat terasa pada dada di daerah
belakang sternum atas atau retrosternal. Nyeri menyebar ke leher, dagu, bahu,
dan aspek dalam ekstremitas atas. Pasien biasanya mengalami sesak, tercekik
dengan kualitas yag terus-menerus. Rasa lemah atau baal pada lengan atas,
pergelangan tangan, dan tangan akan menyertai rasa nyeri. Selama terjadinya
nyeri fisik, pasien akan merasa segera meningggal. Karakteristik utama nyeri
angina adalah akan berkurang apbila faktor presipitasinya dihilangkan. Nyeri
pada lansia ditampilkan dalam bentuk kelemahan atau pingsan (Smeltzer &
Bare, 2001).
d. Patofisiologis
Angina pektoris disebabkan oleh aliran darah koroner yang berkurang akibat
sumbatan aterosklerosis, sehingga suplai oksigen ke jantung tidak adekuat,
atau dengan kata lain suplai kebutuhan oksigen ke jantung meningkat. Stress
emosi akibat situasi yang menegangkan menyebabkan frekuensi jantung
meningkat, akibat pelepasan adrenalin dan meningkatnya tekanan darah
sehingga beban kerja jantung meningkat. Makan makanan yang berat akan
meningkatkan aliran darah ke daerah mesenteris untuk pencernaan sehingga
menurnkan ketersediaan darah untuk suplai jantung (Smeltzer & Bare, 2001).
G. PATHWAY PENUAAN SISTEM TERKAIT

TERLAMPIR
H. ASUHAN KEPERAWATAN (TEORI)
1. Pengkajian menggunakan Pola Gordon
a. Pola Persepsi kesehatan dan Pemeliharaan kesehatan
Subyektif:
1) Kurang pengetahuan tentang faktor yang dapat dirubah (merokok tembakau,
kurang aktifitas, gaya hidup, dan obesitas/kegemukan) (LeMone, Burke, &
Bauldoff, 2016)
2) Adanya faktor risiko yang tidak dapat dirubah, seperti usia (usia, ras, jenis
kelamin, dan keturunan)
3) Kurang pengetahuan terkait makanan yang tidak boleh di konsumsi
penderita hipertensi
4) Adanya riwayat hipertensi 140/90 mmHg atau lebih (Miller, 2012)
5) Tidak mengetahui tanda dan gejala hipertensi (pusing/nyeri pada kepala)
b. Pola Nutrisi dan Metabolik
Subyektif :
1) Asupan tinggi garam, lemak jenuh, koresterol, tinggi natrium, dan
konsumsi alkohol berlebihan (Lloyd-Jones et al., 2000 dalam Miller,
2012)
2) Memiliki riwayat diabetes melitus, obesitas (LeMone, Burke, & Bauldoff,
2016)
3) Kebiasaan minum kopi (1-2/hari) (Ayu & Lelyana Rosa, 2012)
4) Adanya pola diet dari berbagai kelompok budaya untuk konsumsi natrium
harian rata-rata (Flegel & Magner, 2009, dalam Miller, 2012)
5) Adanya perubahan BB dalam waktu dekat (meningkat/turun) dan riwayat
penggunaan diuretic
6) Mual dan muntah

Obyektif :

1) Peningkatan kada koresterol, kadar trigliserida (Miller, 2012)


2) Peningkatan kadar glukosa darah puasa sama dengan atau lebih besar dari
100 mg/dL (Miller, 2012)
3) Peningkatan trigliserida 150 mg/dL atau lebih besar
e. Pola Eliminasi
Obyektif:
1) Kerusakan ginjal/kelainan ginjal
2) Pemeriksaan Urinalisa: terdapat darah, protein, glukosa (disfungsi ginjal dan
ada DM)
3) Pemeriksaan BUN/ kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi (fungsi
ginjal)
f. Pola Aktivitas dan Latihan
Subyektif:
1) Kebiasaan aktifitas kurang gerak atau olahraga (Timby & S mith, 2010)
2) Penurunaan aktiftas lansia meliputi aktiftas terutama jenis aktiftas (berat),
frekuesni, sampai lamanya lansia beraktifitas
3) Keluhan lansia saat meakukan aktiftas yaitu mudah lelah dan sesak nafas
saat beraktifitas
4) Hambatan dalam beraktifitas lansia berupa sesak, nyeri dada, nyeri tengkuk,
pusing
5) Terdapat gangguan keseimbangan lansia saat beraktifitas
6) Aktivitas yang lansia lakukan cenderung tidak tuntas
7) IADLs dibantu sebagian oleh keluarga

Obyektif:

1) Ketika tekanan darah meningkat, lien dapat mengidentifikasi gejala seperti


jantung berdenyut atau berdebar sakit kepala, pusing, kelelahan, susah tidur,
gugup, mimisan, dan penglihatan kabur (Timby & S mith, 2010)
2) Denyut nadi meningkat >100
3) Tekanan darah melebihi batas normal
4) Terjadi pembengkakan pembuluh darah superfisial dan dema Periferal
(Timby & S mith, 2010)
5) Pemeriksaan adanya perubahan vaskular pada mata, perdarahan retina, atau
edema saraf optik (Timby & S mith, 2010)
6) Ada tanda tanda hipotensi ortostatik
7) Postur berjalan sempoyongan
8) Ada tanda takikardi dan diaphoresis
9) Distensi vena jugularis, kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi
perifer) pengisian kapiler lambat
10) Pada pemeriksaan Jantung terdapat bunyi murmur, pada pemeriksaan
Rontgent thoraks dan abdomen terdapat kardiomegali, hepatomegali, efusi
pleura
11) Adanya pitting edema pada ekstremitas bawah.
12) Adanya gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.
13) Pada pemeriksaan EKG bisa ditemukan ST elevasi, ST depresi, jarak
interval PR yang jauh. Hasil Lab: CKMB melebihi kadar normal, Troponin
melebihi normal
14) CT Scan: adanya tumor cerebral, encelopati
g. Pola Istirahat dan Tidur
Subyektif:
1) Kualitas tidur yang buruk, dan durasi tidur yang pendek (<7-8 jam)
2) Kualitas tidur yang terganggu
3) Mengeluh ngantuk ketika bangun tidur
Obyektif:
1) Lansia terlihat lesu akibat kurang tidur
2) Lansia sering menguap
h. Pola Kognitif dan Perseptual
Subyektif:
1) Terjadi penurunan atau kerusakan pada fungsi kognitif pada lansia dengan
hipertensi di ukur dengan MMSE untuk mengetahui fungsi kognitif lansia
Obyektif:
1) Adanya perubahan retina seperti perdarahan, eksudat (akumulasi cairan),
penyempitan arteriolar, dan bintik-bintik kapas (infark kecil)
i. Pola Persepsi diri dan Konsep diri
Subyektif:
1) Mudah lupa, bingung dan pikun
Obyektif:
1)
j. Pola Peran dan Hubungan
Subyektif:
1) Kurangnya dukungan keluarga terhadap lansia
Obyektif:
1)
k. Pola Seksual dan Reproduksi
Subyektif:
Obyektif:
l. Pola Koping dan Toleransi Stres
Subyektif:
1) Adanya rasa kecemasan, stres yang berkepanjangan (juga disebut stres
kronis), depresi, isolasi sosial, dukungan sosial yang buruk (Larzelere &
Jones, 2008; Lee et al., 2010, dalam Miller, 2012)
2) Gejala suasana hati: rasa kecemasan, panik, dan khawatir
3) Gejala kognitif: ketidakmanpuan berkonsentrasi, mudah lupa, merasa
khawatir berlebihan dan obyektiitasnya menurun (clark & Beck, 2011)
Obyektif:
1) Perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria atau mudah marah
2) Perubahan suasana hati
m. Pola Nilai dan Kepercayaan
Subyektif:
Obyektif:
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN, NIC, & NOC

No Diagnosa Keperawatan NOC NIC


.
1. Intoleransi Aktivitas 1. Toleransi Terhadap 1. Terapi Aktivitas
Domain : 4 Aktivitas 2. Manajemen Energi
Kelas : 4 2. Keefektifan Pompa 3. Perawatan Jantung
Kode : 00092 Jantung 4. Manajemen Nyeri
3. Tingkat Kelelahan
4. Manajemen Diri :
Penyakit Jantung
2. Penurunan Curah 1. Keefektifan Pompa 1. Perawatan Jantung
Jantung Jantung 2. Perawatan Jantung
Domain : 4 2. Status Jantung Paru Akut
Kelas : 4 3. Tingkat Kelelahan 3. Manajemen
Kode : 00029 4. Pengetahuan: Pengobatan
Manajemen
Penyakit Jantung
5. Manajemen Diri:
Penyakit Jantung
3. Ketidakefektifan Perfusi 1. Perfusi Jaringan 1. Manajemen Syok :
Jaringan Perifer Perifer Jantung
Domain : 4 2. Tanda-Tanda Vital 2. Monitor Tanda –Tanda
Kelas : 4 3. Ketidakefektifan Vital
Kode : 00204 Pompa Jantung 3. Manajemen Pengobatan
4. Manajemen Diri: 4. Manajemen Sensasi
Hipertensi Perifer
5. Pengetahuan :
Manajemen
Hipertensi
4. Ketidakefektifan 1. Pengetahuan: 1. Pengajaran Proses :
Pemeliharaan Kesehatan Promosi Kesehatan Penyakit
Domain : 1 2. Pengetahuan: Proses 2. Pendidikan Kesehatan
Kelas : 2 Penyakit 3. Peningkatan Koping
Kode : 00099 3. Pengetahuan: 4. Scrining Kesehatan
Manajemen 5. Konseling
Hipertensi
4. Manajemen Diri:
Hipertensi
5. Ketidakektifan 1. Manajemen Diri: 1. Pengajaran: Proses
Manajemen Kesehatan Penyakit Akut Penyakit
Domain : 1 2. Perilaku Patuh: 2. Peningkatan
Kelas : 2 Pengobatan Yang Kesadaaran
Kode : 00078 Disarankan 3. Dukungan Keluarga
3. Manajemen Diri:
Hipertensi
4. Penggetahuan :
Manajemen
Hipertensi
6. Nyeri Akut 1. Kontrol Nyeri 1. Pemberian Analgesik
Domain : 12 2. Tingkat Nyeri 2. Manajemen Nyeri
Kelas : 1 3. Pengetahuan 3. Terapi Relaksasi
Kode : 00132 Manajemen Nyeri 4. Monitor Tanda-Tanda
4. Tanda-Tanda Vital Vital
5. Tingkat
Ketidaknyamanan
7. Insomnia 1. Tidur 1. Manajemen Alam
Domain : 4 2. Status Kesehatan Perasaan
Kelas : 1 Pribadi 2. Peningkatan Tidur
Kode : 00095 3. Tingkat Nyeri 3. Manajemen Nyeri
4. Terapi Relaksasi

8. Resiko Ketidakefektian 1. Perfusi Jaringan : 1. Pengajaran : Proses


Perfusi Jaringan Otak Serebral Penyakit
Domain : 4 2. Status Sirkulasi 2. Monitor Tekanan
Kelas : 4 3. Pengetahuan: Intrakranial (Tik)
Kode : 00201 Manajemen 3. Monitor Tanda-Tanda
Hipertensi Vital
4. Manajemen Diri:
Hipertensi
9. Risiko Cedera 1. Kejadian Jatuh 1. Pencegahan Jatuh
Domain : 11 2. Keseimbangan 2. Manajemen
Kelas : 2 3. Perilaku Lingkungan :
Kode : 00035 Pencegahan Jatuh Keselamatan
4. Pengetahuan Jatuh 3. Identifikasi Resiko
(Bulecheck, Butcher, Dochterman, & Wagner, 2013; Herdman & Kamitsuru,
2015; Moorhead, Johnson, Maas, & Swanson, 2013)
BAB III
TINJAUAAN KASUS

A. PENGKAJIAN
1. Pengkajian Keperawatan

Nama Perawat : Ni ketut Nik Santi


Tanggal Pengkajian : Juni 2020
Jam Pengkajian : 16:00 WIB
Biodata Klien
Nama : Ny.s
Umur : 70 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Pedagang
Status pernikahan : Janda
Alamat : Panjen Maguwoharjo RT 06/RW 32
Penanggaung Jawab
Nama : Tn. N
Umur : 45
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Status pernikahan : Menikah
Alamat : Jl. Maguwoharjo Depok Sleman
Hubungan dengan Anak Kandung
klien
2. Keluhan Utama
Klien mengatakana sering mengalami sakit kelapa, kaku pada leher belakangny
sudah dirasakan kurang lebih 3 minggu terakhir
3. Pengkajian Pola Gordon
a. Pola Persepsi kesehatan dan Pemeliharaan kesehatan
Subyektif :
Klien mengatakan sakitnya ini karena sudah tua, jadi bagi klien sudah wajar dan
tidak terlalu khawatir dengan sakit yang dirasakan. Klien mengatakan ketika
merasakan sakit kepala dan kaku pada leher nya biasanya klien beristirahat
(tidur). Klien mengatakan kegiatan yang rutin dilakukan yaitu berjualan jajan di
pasar mulai dari jam 06:00 sampai jam 11:00 siang, klien juga mengatakan jika
dipasar lebih sering berdiri. Klien mengatakan didalam anggota kelurga tidak
ada yang mempunyai riwayat darah tinggi. Klien mengatakan jika dipasar ketika
berjualan setiap hari makan gorengan karena enak, klien juga mengatakan suka
makan yang asin. Klien mengatakan tidak mengetahui bahwa sakit kepala dan
kaku pada leher bekangnya tanda gejala dari darah tinggi. Klien mengatakan
tangan kananya sering kesemutan sampai ke bahu. Klien mengatakan tidak
pernah mengalami tekanan darah tinggi karena terakhir kali melakukan
pemeriksaan tekanan darah kurang lebih 5 bulan yang lalu tetapi hasilnya
normal.
Obyektif:
Rambut lansia berwarna hitam dan beruban (putih), penampilan rapi, kulit teraba
elastis. Mulut klien bersih, gigi terdapat caies, terdapat gigi yang tanggal, lansia
dan lansia tidak menggunakan gigi palsu.
b. Pola Nutrisi dan Metabolik
Subyektif:
Klien menatakan tidak ada masalah dengan nafsu makanya. Klien mengatakan
makan 3 kali sehari, setiap porsinya 1 piring dengan lauknya tempe tahu, sop
bening, dan pecel. Klien mengatakan menyukai semua jenis makanan kecuali
makanan yang terlalu pedas, suka sekali makan gorengan, makan yang asin-asin.
Klien mengatakan ketika berjualan di pasar setiap hari makan gorengan. Klien
mengatakan biasanya minum air putih sebanyak 5 gelas (1200 ml) dan minum
teh sehari 2 gelas (400 ml). Klien juga mengatakan tidak ada mengkonsumsi
suplemen vitamin atau obat-obatan terkait nafsu makan. Klien mengatakan berat
badan teakhir di periksa 5 bulan nya lalu 50 kg.
Obyektif:
Hasil pemeriksaan fisik abdomen : warna perut rata, tidak ada ruam, tidak ada
asites , tidak ada jejas, bising usus 10x/menit, perkusi terdengar suara tympani , tidak
ada nyeri tekan. Pemeriksaan fisik: conjungtiva berwarna pink, palpebra lansia
normal tidak ada pembesaran/pembengkakan, sclera kanan putih, dan sclera kiri
keruh. Berat badan : 50 Kg, tinggi badan : 150 cm = 1,50.
BB (𝑘𝑔) 50
IMT: = = 22,2 (Normal)
TB (𝑚) 2 1,50
Hasil pemeriksaan : kadar koresterol 131 mg/dL, GDS hasil 110 mg/dL.
c. Pola Eliminasi
Subyektif:
Klien mengatakan tidak ada masalah terkait dengan buang air besar nya, klien
mengatakan buang air besar yang rutin 1 kali/sehari setiap pagi, dengan bentuk
lembek warnanya kuning kecoklatan, klien juga mengatakan tidak ada nyeri
pada saat buang air besar. Klien mengtakan tidak pernah menggunakan obat-
obatan untuk memperlancar buang air besar nya.
Klien mengatakan tidak ada maslah dengan buang air kecilnya, Klien
mengatakan buang air kecil 3-4 kali/hari dengan warna kuning, tidak ada rasa
nyeri ketika buang air kecil.
Obyektif:
Pemeriksaan fisik : Abdomen tidak ada asites, tidak ada ruam, saat di ketuk
ginjal lansia tidak merasakan nyeri atau sakit dan kandug kemih teraba kosong.
d. Pola Aktivitas dan Latihan
Subyektif:
Klien mengatakan aktifitas sehari-hari biasanya berjualan di pasar setiap hari
dari jam 06:00 sampai 11:00 siang. Klien mengatakan ke pasar naik motor dari
rumahnya sampai ke pasar. Klien mengatakan di pasar jika pembeli ramai sering
berdiri, dan jarang dudu, tetapi sejak adanya virus covid-19 pembeli lebih sedikit
dari biasanya jadi klien lebih sering duduk. Klien mengatakan sekitar 2 minggu
yang lalu ketika di pasar sedang mendorong kardus barang dengan posisi
jongkok lutut kirinya tiba-tiba nyeri dan nyeri bertambah ketika digerak. Klien
mengatakan sehari setelah kejadian tersebut lututnya semakin nyeri setiap
harinya. Klien mengatakan pada bagian lutut kirinya terlihat bengkak dari pada
lutut kananya. Klien mengatakan sulit untuk berjalan dan berdiri. Klien juga
mengatakan satu minggu tidak bisa beraktifitas seperti biasanya. Klien
mengatakan nyeri lutut yang dirasakan sudah sejak 1 bulan terakhir ini. Klien
mengatakan tidak dapat menekuk kaki kirinya ketika nyeri. Klien mengatakan
tidak memeriksakan nyeri lutut yang dirasakanya rumah sakit. Klien mengatakan
sebelum adanya virus covid-19 mengikuti posyandu dan rutin olahraga setiap
sabtu minggu, tetapi setelah adanya virus covid-19 tidak ada kegiatan posyandu
atau olahraga lagi, jadi klien tidak pernah olahraga. Klien mengatakan ketika
beraktifitas sering sakit kepala tiba-tiba dan kadang-kadang nyeri lututnya juga
terasa.
Obyektif:
Dari pemeriksaan didapatkan hasil tampak bengak pada bagian sekitar lutut kiri
klien, tidak nyeri ketika ditekan, tidak ada kebiruan. Klien tampak memijat-mijat
lutut kirinya ketika merasakan nyeri. Klien telihat kesakitan saat menekuk lutut
kirinya. Pemeriksaan tanda-tanda vital : tekanan darah 151/86 mmHg, Nadi 73
kali/menit, suhu 36,7 Co, dan respirasi 21 kali/ menit, suara nafas vesikuler.
Pemeriksaan jantung:
Indeks Barthel (ADL) : Interprestasi hasil 19 (ketergantungan ringan), ROM
(Range of Motion)/aktif TAMBAHKAN ROM AKTIFNYA. Tidak terdapat
edema pada ektremitas dan pemeriksaan kapilary refill <2 detik.
Pemeriksaan kekuatan otot lansia : (Kanan) 5555 5555 (Kiri ) ekstremitas atas
5555 4444 ekstremitas bawah
e. Pola Istirahat dan Tidur
Subyektif:
Klien mengatakan tidur kurang lebih 7-8 jam/hari, klien juga mengatakan tidur
siang sekitar 1 jam mulai dari jam 12:00-13:00 siang, tidur malam mulai sekitar
jam 21:00 atau jam 22:00 sampai jam 05:00 pagi. Klien mengatakan tidurnya
nyenyak dan tidak pernah ada gangguan tidur seperti bangun tengah malam.
Klien mengatakan merasa segar setelah tidur malam. Klien mengatakan sebelum
tidur klien shalat terlebih dahulu dan berdoa.
Obyektif:
Lansia tampak segar, tidak terlihat lesu/capai, tidak ada lingkar hitam pada
kelopak mata. Klien tidak pernah tampak menguap selama pengkajian.
f. Pola Kognitif dan Perseptual
Subyektif:
Klien mengatakan mengalami gangguan pada pengelihatanya, pada mata bagian
kanannya mengalami katarak yang dirasakan kurang lebih sudah 1 tahun
terakhir, tetapi sudah di operasi bulan februari 2020. Klien mengatakan pada
sebelah kirinya sekarang pandanganya kabur atau tidak jelas ketika melihat.
Klien mengatakan tidak menggunakan alat bantu pengelihatan. Klien
mengatakan pendengaranya masih baik tidak mengalami gangguan pendengaran.
Klien mengatakan masih bisa merasakan rasa asin, manis, asam dan pahit. Klien
mengatakan masih bisa memcium bau wangi dan busuk, seperti bau masakan.
Dalam menggambil keputusan klien biasanya minta pendapat pada anak atau
menantunya atau bahkan pada cucunya. Klien mengatakan didalam keluarganya
ataupun dirinya tidak ada mempunyai riwayat stroke.
Obyektif:
Hasil pemeriksaan : tingkat kesadaran lansia GCS: 15 (Composmentis), tidak ada
disorentasi waktu, tempat, dan orang. Lansia mampu menjawab sesuai dengan
pertanyaan. Hasil pemeriksaan : Intepretasi hasil Short Porteble Mental Status
Questionaire (SPMSQ): fungsi intelektual klien utuh dengan kesalahan 0
g. Pola Persepsi diri dan Konsep diri
Subyektif:
Klien mengatakan tidak merasakan khawatir ataupun cemas. Klien juga
mengatakan sempat merasa sedih karena 1 bulan yang lalu anak kandungnya
meninggal karena sakit kangker paru-paru
Obyektif:
Pada saat pengkajian lansia sangat kooperatif, tidak ada ekspresi marah ataupun
sikap yang menuntut.
h. Pola Peran dan Hubungan
Subyektif:
Klien mengatakan suaminya sudah meninggal sejak tahun 2000 karena penyakit
kanker liver. Klien mengatakan sebelum ada virus covid-19 selalu aktif
mengikuti kegiatan pengajian dan kegiatan yang lainnya yang di adakan oleh ibu
dukuh termasuk kegiatan posyandu lansia setiap sabtu minggu. Klien
mengatakan setelah adanya virus covid-19 tidak ada lagi kegiatan yang biasanya
diikuti. Klien mengatakan hubungan dengan keluarga dan lingkungan
tetangganya sangat baik.
Obyektif:
Dari hasil obervasi interaksi lansia dengan keluarganya sangat baik, anak dan
cucunya sangat akrab dan banyak ngobrol, begitu juga dengan tetangga
dilingkungan lansia sesekali setiap ada orang lewat selalu menyapa lansia, dan
mengobrol
i. Pola Seksual dan Reproduksi
Subyektif:
Klien mengatakan sudah lupa kapan saat mengalami menopause, keluhan yang
dirasa setelah menopause lebih sering merasa pegal dan nyeri persendian. Klien
mengatakan tidak lagi memikirkan hubungan intim karena suaminya sudah lama
meninggal. Klien mengatakan tidak ada keluhan atau riwayat hernia.
j. Pola Koping dan Toleransi Stres
Subyektif:
Klien mengatakan tidak cemas dengan keadaannya saat ini karena menurut klien
hal ini umum terjadi pada usia lanjut. Klien mengatakan sempat mengalami rasa
kehilangan yang sangat dalam karena kehilangan suami tercinta, namun klien
mengatakan setiap manusia pasti akan meninggal sehingga klien tidak ingin
terlalu lama larut dalam kesedihan dan ingin kembali dapat menjalani aktivitas
sehari-hari. Klien mengatakan satu bulan lalu anak keduanya meninggal
sehingga sempat membuatnya sedih. Klien mengatakan tidak ada sesuatu hal
yang membuatnya stres. Klien mengatakan tidak pernah marah-marah, klien
mengatakan jika ada masalah biasanya lansia akan shalat dan setelah itu
menceritakan kepada anaknya. Klien mengatakan tidak takut meninggal
menurutnya itu sudah takdir dari Allah.
Obyektif:
Lansia tidak tampak ketakutan, kecemasan atau khawatir, tidak ada perubahan
mood. Hasil pemeriksaan DASS: Depression : interprestasi hasil 1 (Normal),
Anxiety : interprestasi hasil 4 (Normal) dan Stress : interprestasi hasil 7
(Normal)
k. Pola Nilai dan Kepercayaan
Subyektif:
Klien mengatakan berkeyakinan kepada Allah dan beragama islam. Klien
mengatakan biasanya shalat 5 waktu, biasanya jika shalat magrib ke masjid
untuk berjamaah. Klien mengatakan sering mengikuti kegiatan agama di
keluarga atau di masyarakat, tetapi sejak adanya covid tidak ada lagi kegiatan
agama dimasyarakat. Klien mengatakan budaya yang diikuti yaitu budaya jawa.
Obyektif:
Hasil observasi di kamar klien tersedia alat-alat ibadah seperti sajadah, mukenah,
terdapat juga Al-Qur’an.
B. DIAGNNOSA KEPERAWATAN
ANALISA DATA
No DATA DIAGNOSA KEPERAWATAN
.
1. Data Subjektif : Domain : 5 Persepsi/kognisi
 Klien mengatakan menyukai makanan Kelas : 4
yang asin-asin, dan sering makan yang Kode : 00126
asin-asin Diagnosa : Defisien Pengetahuan
 Klien mengatakan setiap hari makan
gorengan dipasar ketika berjualan
 Klien mengatakan sering pusing, nyeri
dan kaku pada leher belakannya
 Klien mengatakan tangan kananya
sering kesemutan sampai ke bahu
 Klien mengatakan tidak memeriksakan
keluhanya ke rumah sakit atau
puskesmas
 Klien mengatakan tidak mengetahui
bahwa dirinya mengalami tekanan
darah tinggi
 Klien mengatakan tidak mengetahui
bahwa makan gorengan bisa membuat
tekanan darahnya naik sehingga masih
sering memakan gorengan dan tidak
pernah mengurangi konsumsi garam
Data obyektif :
Pemeriksaan tanda-tanda vital : tekanan
darah 151/86 mmHg. Hasil pemeriksaan
kadar koresterol 131 mg/dL
2. Data Subjektif : Domain : 12/Kenyamanan
 Klien mengatakan sudah 2 minggu Kelas : 1
lutut kirinya mengalami nyeri setelah Kode : 00132
mendorong kardus barang. Klien Diagnosa : Nyeri Akut
mengatakan sulit beraktifitas jika
nyerinya timbul.
 Klien mengatakan pernah 1 minggu
tidak dapat beraktifitas (kepasar)
seperti biasanya karena nyeri lututnya
Onset : Klien mengatakan
nyeri yang dirasakan
sudah sekitar 3
minggu
Paliatif : Klien mengatakan
nyerinya berkurang
ketika tidak
digerakan
Provokati : Klien mengatakan
f nyeri yang dirasakan
memberat ketika
berusaha bergerak
Region : Klien mengatakan
nyeri yang dirasakan
di sekita daerah lutut
bagian kiri
Scale : Klien mengatakan
skala nyeri yang
dirasakan ketika
muncul pada scala 7
(Cukup berat)
Time : Klien mengatakan
nyeri yang dirasakan
secara tiba-tiba dan
nyerinya berlangsung
± 3-5 menit
Data obyektif :
 Dari pemeriksaan didapatkan hasil
tampak bengak pada bagian sekitar
lutut kiri klien
 Klien tampak memijat-mijat lutut
kirinya ketika merasakan nyeri
 Klien telihat kesakitan saat menekuk
lutut kirinya

DIAGNOSA KEPERAWATAN (Berdasarkan Priotitas):


1. Nyeri Akut
2. Defisien Pengetahuan

C. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


No DIAGNOSA NOC NIC
. KEPERAWATAN Hasil Intervensi
1. Nyeri Akut 1. Kontrol Nyeri (1605) 1. Manajemen Nyeri
(NOC TERLAMPIR) (1400)
Setelah dilakukan (Penyuluhan terkait
tindakan keperawatan manajemen nyeri)
selama 2 kali pertemuan (NIC TERLAMPIR)
diharapkan kontrol nyeri
Ny.s dapat ditingkatkan 2. Aplikasi
dari dari level 2 (Jarang Panas/Dingin (1380)
menunjukan) ke 4 (Sering (Kompres jahe
menunjukan) dengan Merah hangat)
kriteria hasil: (NIC TERLAMPIR)
1) Ny.s dapat mengenali
kapan nyeri terjadi 3. Terapi Latihan
2) Ny.s dapat Mobilitas Sendi
menggambarkan (0224)
faktor penyebab nyeri (NIC TERLAMPIR)
3) Ny.s dapat
menggunakan
tindakan pengurangan
(nyeri) tanpa
analgesik
2. Tingkat Nyeri (2102)
(NOC TERLAMPIR)
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 2 kali pertemuan
diharapkan tingkat nyeri
Ny.s dapat ditingkatkan
dari dari level 2 (Cukup
berat) ke 4 (Ringan)
dengan kriteria hasil:
1) Nyeri yang dilaporkan
Ny.s berkurang
2) Panjangnya episode
nyeri yang dilaporkan
berkurang
3) Tidak ada ekspresi
wajah nyeri
3. Pergerakan (0208)
(NOC TERLAMPIR)
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 2 kali pertemuan
diharapkan Pergerakan
dapat ditingkatkan dari
level 3 (Cukup terganggu)
ke level 5 (Tidak
terganggu) dengan
kriteria hasil:
1) Ny.s dapat
menggerakan sendi
lututnya
2) Ny.s dapat berjalan
tanpa gangguan nyeri
3) Ny.s dapat bergerak
dengan mudah
2. Defisien 1. Pengetahuan Proses 1. Pengajaran proses
Pengetahuan Penyakit (1803) penyakit (5602)
(NOC TERLAMPIR) (Penyuluhan
Setelah dilakukan Hipertensi)
tindakan keperawatan (NIC TERLAMPIR)
selama 1 kali pertemuan
diharapkan Pengetahuan : 2. Pengajaran:
Proses Penyakit Ny.s Prosedur/perawatan
dapat ditingkatkan dari (5618)
dari level 2 (Pengetahuan (Kombinasi
terbatas) ke level 4 hidroterapi dengan
(Pengetahuan banyak) murottal AL-
dengan kriteria hasil: QUR’AN
1) Ny.s mengetahui (NIC TERLAMPIR)
karakter spesifik
penyakit (hipertensi) 3. Manajemen Perilaku
2) Ny.s mengetahui (4350)
faktor-faktor (NIC TERLAMPIR)
penyebab penyakit
3) Ny.s mengetahui
tanda & gejala
penyakit
4) Ny.s mengetahui
tanda gejala
komplikasi penyakit 1.
2. Pengetahuan : Prosedur
penanganan (1814)
(NOC TERLAMPIR)
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 2 kali pertemuan
diharapkan pengetahuan:
prosedur penangan dapat
di tingkatkan dari level 2
(Pengetahuan terbatas) ke
level 4 (Pengetahuan
banyak) dengan kriteria
hasil:
1) Ny.s mengetahui
pengertian dan
manfaat prosedur
2) Ny.s dapat
mengetahui prosedur
penangan hipertensi
dengan hidroterapi
dengan murottal AL-
QUR’AN
3) Ny.s dapat
mengetahui tujuan
dari prosedur
penangan
4) Ny.s mengetahui
langkah-langkah
prosedur penangan
5) Ny.s mengetahui
Kontra indikasi
prosedur hidroterapi
dengan murottal AL-
QUR’AN
3. Manajemen Diri:
Hipertensi (3107)
(NOC TERLAMPIR)
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 2 kali pertemuan
diharapkan Manajemen
Diri: Hipertensi dapat
ditingkatkan dari level 2
( Jarang menunjukan) ke
level 4 (Sering
menunjukan) dengan
kriteria hasil:
1) Ny.s dapat memantau
tekanan darah
2) Ny.s dapat mengikuti
diit yang
direkomendasikan
3) Ny.s dapat membatasi
asupan garam
4) Ny.s dapat
menggunakan buku
harian untuk
memantau tekanan
darah dari waktu ke
waktu

D. IMPLEMENTASI
No TANGGAL JAM IMPLEMENTASI EVALUASI TTD
.
Tindakan 1: … S:
Respon 1: O:
Tindakan 2: … A:
Respon 2: P:
Tindakan 1: … S:
Respon 1: O:
Tindakan 2: … A:
Respon 2: P:

E. EVALUASI

BAB IV
PEMBAHASAN

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN

B. SARAN
Pemegang Kebijakan
Puskesmas
Masyarakat
Keluarga
DAFTAR PUSTAKA

Bulecheck, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2013). Nursing
Interview Clasification (NIC). St. Louis: Elsevier.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2018). Nanda International Diagnosis Keperawatan :
Definisi dan Klasifikasi 2018-2020 (10th ed.). Jakarta: EGC
JNC-8. 2014. The Eight Report of the Joint National Commite. Hypertension Guidelines: An
In-Depth Guide. Am J Manag Care.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Infodatin: Situasi dan Analisis Lanjut
Usia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI
LeMone, Priscilla., Burke, Karen. M., & Bauldoff, Gerene.(2012). Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Miller, C. A. (2012). Nursing for Wellness in Older Adults (6th ed.). Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2013). Nursing Outcomes
Classification (NOC). St. Louis: Elsevier.
Price, S. A., & Wilson, L. M. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit.
Jakarta: EGC.
Sherwood, L. (2014). Fisiologi Manusia : dari sel ke sistem (6th ed.). Jakarta: EGC.
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2006). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. (A. Waluyo
& M. Ester, Eds.) (8th ed.). Jakarta: EGC.
Stanley, M., & Beare, P. G. (2007). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC.
Stanley, M., 2006, Buku Ajar Keperawatan Gerontik/ Mickey Stanley, Patricia Gauntlett
Beare; alih bahasa Neti Juniarti, Sari Kurnianingsih. Ed.2. EGC, Jakarta
Friedman, M. M., Bowden, V. R., & Jones, E. G. (2010). Buku Ajar Keperawatan Keluarga:
Riset, Teori dan Praktik (5 ed.). (A. Y. Hamid, A. Sutama, N. B. Subekti, D. Yulianti,
& N. Herdina, Penerj.) Jakarta: EGC.
Timby, B. K. ., & S mith, N. E. . S. (2010). Introductory Medical-Surgical Nursing. In
Wolters Kluwer Health | Lippincott Williams & Wilkins (10th ed, pp. 1–1268).
Philadelphia: Library of Congress Cataloging-in-Publication Data Timby

LAMPIRAN NOC NIC KASUS


LAMPIRAN NOC KASUS
Diagnosa: Nyeri Akut
1) Kontrol Nyeri (1605)
Setelah dilakukan intervensi diharapkan status pengetahuan manajemen nyeri (1843) klien dengan melakukan penyuluhan materi nyeri dan pengajaran
prosedur/perawatan (kompres jahe merah hangat) dapat dicapai dari level 2 (pengetahuan terbatas) ke level 4 (pengetahuan banyak) dengan kriteria hasil:
Level
1 2 3 4 5

Tidak ada Pengetahuan Pengetahuan sedang Pengetahuan banyak Pengetahuan sangat


Indikator pengetahuan terbatas banyak
Tidak dapat Klien hanya Klien mengetahui Klien menjelaskan Klien menjelaskan
Klien mengetahui menyebutkan mengetahui pengertian pengertian nyeri dan pengertian dengan pengertian dan tehnik
pengertian nyeri dan nyeri menejemen nyeri singkat dan jelas menejemen nyeri
manajemen nyeri dengan diingatkan
Tidak penah Menyebutkan 1 faktor Menyebutkan 2 faktor Menyebutkan 2 faktor Menyebutkan lebih dari 3
Klien dapat menyebutkan penyebab nyeri penyebab nyeri penyebab nyeri faktor penyebab nyeri
menyebutkan faktor
penyebab nyeri
Tidak mengetahuai Menyebutkan 1 tanda Menyebutkan 2 tanda Menyebutkan 3 tanda Menyebutkan lebih dari 3
Klien mengetahui dan gejala dan gejala dan gejala tanda dan gejala
tanda dan gejala nyeri
Tidak mengetahui Menyebutkan 1 skala Menyebutkan 2 skala Mengetahui 3 skala nyeri Mengetahui lengkap skala
Klien mengetahui nyeri nyeri nyeri
skala nyeri
Tidak mengetahui Mengetahui 1 tehnik Mengetahui 2 tehnik Mengetahui 3 tehnik Mengetahui lebih dari 3
Klien mengetahui relaksasi relaksasi relaksasi tehnik relaksasi
macam-macam tekhik
relaksasi yang efektif
untuk nyeri
Tidak memahami Menyebutkan 1 Menyebutkan 2 Mampu menyebutkan Mampu menyebutkan
Klien mampu perbedaan perbedaan perbedaan dan manfaat perbedaan dan mafaat
memahami manfaat tanpa hambatan
dan perbedaan dari
menejemen nyeri
farmakologi dan
nonfarmakologi
Tidak memahami Klien hanya Klien menjelaskan Klien menjelaskan sesuai Klien menjelaskan sangat
Memahami pengertian menjelaskan secara panjang tidak sesuai sesuai tanpa diingatkan
kompres jahe merah singkat tidak sesuai kembali
hangat
Tidak mengetahui Menyebutkan 1 Menyebutkan 2 Menyebutkan 3 Menyebutkan lebih dari 3
Memahami manfaat
kompres jahe hangat
Tidak mengetahui Menyebutkan 1 Menyebutkan 2 Menyebutkan 3 kontar Menyebutkan lebih dari 3
Memahami indikasi dan indikasi kontar indikasi dan
kontraindikasi dan kompres air hangat indikasi kompres air
indikasi dari kompres hangat
jahe hangat

2) Tingkat Nyeri (2102)


Setelah dilakukan intervensi diharapkan status tingkat nyeri (2102) klien dengan mengaplikasikan terapi panas/dingin (kompres jahe merah hangat) dapat
dicapai dari level 2 (cukup berat) ke level 4 (ringan) dengan kriteria hasil:
Level
1 2 3 4 5

Berat Cukup Berat Sedang Ringan Tidak ada


Indikator
(Klien melaporkan (Klien melaporkan (Klien melaporkan (Klien melaporkan nyeri (Klien melaporkan nyeri
Nyeri yang dilaporkan nyeri di level 9-10 dan nyeri di level 8-7 nyeri di level 6-4 dan di level 3-1 dan nyeri di level 0 dan aktivitas
dari cukup berat tidak bisa melakukan dan aktivitas aktivitas sedikit masih bisa ditahan dan tidak terganggu sama
menjadi ringan aktivitas secara mandiri terganggu) terganggu) dapat melakukan aktivitas) sekali)
(Nyeri di level 9-10, (Nyeri di level 8-7, (Nyeri di level 6-4, (Nyeri di level 3-1, (Nyeri di level 0 panjang
Panjanganya episode panjang nyeri bisa panjang nyeri bisa panjang nyeri bisa panjang nyeri kurang dari nyeri tidak ada)
nyeri berkurang sampai 30 menit lebih) sampai 10-15 sampai 5 menit) 5 menit)
menit)
(Nyeri di level 9-10 dan (Nyeri di level 8-7 (Nyeri di level 6-4 (Nyeri di level 3-1 dan (Nyeri di level 0 klien
Tidak ada ekspresi Klien menangis) dan Klien sedikit manyun) Klien tersenyum) tersenyum lebar)
nyeri wajah meringis)

3) Pergerakan (0208)
Setelah dilakukan intervensi diharapkan status pergerakan (0208) klien dengan melakukan terapi latihan mobilitas sendi (ROM) dapat dicapai dari level 3
(cukup terganggu) ke level 5 (tidak terganggu) dengan kriteria hasil:
Level
1 2 3 4 5

Indikator Sangat terganggu Banyak terganggu Cukup terganggu Sedikit terganggu Tidak terganggu
Dapat menggerakan Klien tidak bisa Klien tidak bisa Klien bisa menekuk Klien dapat menekuk Klien dapat menekuk
sendi lutut melakukan aktivitas menekuk lutut lutut hanya 2 menit kurang dari 5 menit lutut lebih dari 5 menit
secara mandiri dan
dibantu orang lain
Dapat berjalan Tidak bisa berjalan samaKaki lemah dan Bisa berjalan tetapi Bisa berjalan tetapi Bisa berjalan tanpa ada
sekali memerlukan bantuan tidak bisa terlalu lama kadang harus istirahat gangguan
orang lain dan jauh
Dapat bergerak Tidak bisa menggerakan Tidak terlalu bisa Kadang tidak bisa Bisa menggerakan kaki Bisa bergerak bebas
dengan mudah kaki sama sekali menggerakan kaki menggerakan kaki tanpa bantuan
secara bebas secara bebas
Diagnosa: Defisien Pengetahuan
1) Pengetahuan Proses Penyakit (1803)
Setelah dilakukan intervensi diharapkan status pengetahuan proses penyakit (1803) klien dengan melakukan pengajaran proses penyakit
(hipertensi) dapat dicapai dari level 2 (pengetahuan terbatas) ke level 4 (pengetahuan banyak) dengan kriteria hasil:
Level
1 2 3 4 5

Indikator Tidak ada Pengetahuan Pengetahuan Pengetahuan Pengetahuan sangat


pengetahuan terbatas sedang banyak banyak
Karakter spesifik Klien tidak tau Klien tau Klien mengetahui Klien mengetahui Klien mengetahui
penyakit (hipertensi) sama sekali pengertian pengertian, dan pengertian, tanda pengertian, tanda
hipertensi itu apa hipertensi tanda gejala gejala, komplikasi gejala, faktor risiko,
hipertensi dan faktor risiko dari komplikasi dan cara
hipertensi penanganan dari
hipertensi
Klien tidak bisa Klien mampu Klien mampu Klien mampu Klien mampu
Faktor penyebab menyebutkan sama menyebutkan 1 menyebutkan 2 menyebutkan 3-4 menyebutkan 5 atau
(hipertensi) sekali penyebab faktor penyebab faktor penyebab faktor penyebab lebih faktor penyebab
hipertensi hipertensi hipertensi hipertensi hipertensi
Klien tidak Klien mampu Klien mampu Klien mampu Klien mampu
Tanda dan gejala mengetahui tanda menyebutkan 1 menyebutkan 2 menyebutkan 3-4 menyebutkan 5 atau
penyakit (hipertensi) dan gejala penyakit tanda dan gejala tanda dan gejala tanda dan gejala lebih tanda dan gejala
hipertensi hipertensi hipertensi hipertensi
Klien tidak Klien mampu Klien mampu Klien mampu Klien mampu
Proses perjalan mengetahui menjelaskan 1 menyebutkan 2 menyebutkan 3 menyebutkan 4 atau
penyakit patofisiologi tahapan proses tahapan proses tahapan proses lebih tahapan proses
penyakit penyakit penyakit penyakit penyakit

Klien tidak Klien mampu Klien mampu Klien mampu Klien mampu
Komplikasi penyakit mengetahui menyebutkan 1 menyebutkan 2 menyebutkan 3 menyebutkan 4 atau
komplikasi komplikasi komplikasi komplikasi hipertensi lebih komplikasi
penyakit hipertensi hipertensi hipertensi

2) Pengetahuan : Prosedur penanganan (1814)


Setelah dilakukan intervensi diharapkan status pengetahuan prosedur penanganan (1814) klien dengan melakukan pendidikan kesehatan
(penyuluhan materi hidroterapi) dan prosedur penanganan penyakit hipertensi (Kombinasi hidroterapi dengan murottal AL-QUR’AN surah
AR-RAHMAN) dapat dicapai dari level 2 (pengetahuan terbatas) ke level 4 (pengetahuan banyak) dengan kriteria hasil:
Level
1 2 3 4 5

Indikator Tidak ada Pengetahuan Pengetahuan sedang Pengetahuan Pengetahuan sangat


pengetahuan terbatas banyak banyak
Mengetahui Tidak mengetahui Hanya menyebutkan Menyebutkan 2 Menyebutkan 3 Menyebutkan
Pengertian dan 1 manfaat dan manfaat dan manfaat dan pengertian dan
manfaat Prosedur pengertian pengertian pengertian lebih dari 3
manfaat
Klien tidak Klien mampu Klien mampu Klien mampu Klien mampu
Prosedur penanganan mengetahui prosedur menyebutkan 1 menyebutkan 2 terapi menyebutkan 3 menyebutkan 4
penanganan yang terapi hipertensi terapi hipertensi atau lebih terapi
tepat untuk hipertensi
hipertensi

Tujuan prosedur Klien tidak Klien mampu Klien mampu Klien mampu Klien mampu
mengetahui tujuan menyebutkan 1 menyebutkan 2 menyebutkan 3 menyebutkan 4
prosedur tujuan prosedur tujuan prosedur tujuan prosedur atau lebih tujuan
hipertensi prosedur
hipertensi hipertensi
hipertensi
Klien tidak Klien mampu Klien mampu
Langkah-langkah mengetahui menyebutkan menyebutkan 2 Klien mampu Klien mampu
prosedur Langkah-langkah 1langkah prosedur langkah prosedur menyebutkan 3 menyebutkan 4
prosedur Penangan hipertensi
prosedur atau lebih prosedur
hipertensi hipertensi
Klien tidak Klien mampu Klien mampu
Kontra indikasi mengetahui kontra menyebutkan 1 menyebutkan 2 Klien mampu Klien mampu
prosedur indikasi prosedur kontra indikasi kontra indikasi menyebutkan 3 menyebutkan 4
prosedur prosedur kontra indikasi kontra indikasi
prosedur prosedur

3) Manajemen Diri: Hipertensi (3107)


Setelah dilakukan intervensi diharapkan status manajemen diri hipertensi (3107) klien dengan melakukan pengajaran : prosedur penanganan
penyakit (Kombinasi hidroterapi dengan murottal AL-QUR’AN surah AR-RAHMAN) dan manajemen prilaku dapat dicapai dari level 2
(jarang menunjukan) ke level 4 (sering menunjukan) dengan kriteria hasil:
Level
1 2 3 4 5

Indikator Tidak pernah Jarang Kadang-kadang Sering Secara konsisten


menunjukan menunjukan menunjukan menunjukan menunjukan
Mampu melakukan Klien tidak mampu Klien jarang Klien kadang-
secara rutin prosedur melakukan prosedur melakukan prosedur kadang melakukan Klien sering Klien secara
(Kombinasi hidroterapi hidroterapi yang hidroterapi hidroterapi melakukan konsisten
dengan murottal AL- tepat hidroterapi melakukan
QUR’AN surah AR- hidroterapi
RAHMAN) untuk
menurunkan tekanan
darah
Mampu menggunakan Klien tidak pernah Klien hanya 2 Klien melakukan 1
tehnik relaksasi menggunkan tehnik minggu sekali kali dalam seminggu Klien melakukan Klien melakukan
(Kombinasi hidroterapi relaksasi melakukan 2 kali dalam
dengan murottal AL-
QUR’AN surah AR- seminggu setiap hari
RAHMAN)
Membatasi asupan garam Tidak pernah Jarang Kadang-kadang
Siring Setiap hari

SOP PENDIDIKAN KESEHATAN ((5510)


( MANAJEMEN NYERI)

SKOR
NO TINDAKAN SKOR BOBOT
TOTAL
1 Melakukan tahap interaksi
1. Menyiapkan laporan askep keperawatan gerontik 1
2. Persiapan media dan alat utama penunjang intervensi 1
 Leflet Manajemen nyeri 1
3. Keterjangkauan alat dengan perawat 1
4. Kesiapan dan keamanan diri 1
2 Melakukan tahap orientasi
1. Memberi salam 2
2. Menjelaskan tujuan, prosedur tindakan dan lamanya kegiatan 2 2
3. Memberikan kesempatan klien bertanya sebelum melakukan pendidikan kesehatan 2
4. Kejelasan instruksi/gambaran ringkas intervensi 2
5. Kemampuan menyiapakan dan menjaga privasi klien 2
6. Kemampuan merespon terhadap pertanyaan klien 2
3 Melakukan tahap kerja
1. Mempertahankan prinsip dan keamanan kerja dengan benar 3
2. Bantu klien untuk memperjelas keyakinan dan nilai-nilai terkait kesehatan 3 3
3. Menjelaskan kepada klien tujuan dalam program pendidikan kesehatan yang dilakukan 3
4. Menentukan pengetahuan klien terkait nyeri dan manajemen nyeri 3
5. Menjelaskan pengertian nyeri dan menejemen nyeri 3
6. Melakukan diskusi dengan klien terkait kapan nyeri terjadi dan faktor penyebab nyeri 3
7. Menjelaskan tanda dan gejala nyeri 3
8. Menjelaskan tentang skala nyeri dan macam-macam teknik relaksasi yang efektif untuk nyeri 3
9. Menjelaskan kepada klien terkait menejemen nyeri yang bisa digunakan 3
10. Menjelaskan kepada klien terkait perbedaan manfaat penurunan nyeri dengan farmakologi dan 3
non farmakologi
11. Melakukan diskusi dengan klien terkait penggunaan tehnik non farmakologi yang bisa 3
digunakan untuk mengurangi nyeri
12. Hindari tehnik dengan menakut-nakuti klien saat memberikan pendidikan kesehatan 3
13. Mempertahankan komunikasi dengan klien
4 Melakukan tahap terminasi
1. Melakukan evaluasi kegiatan secara lisan 2 2
2. Memberikan reinforcement atas respon dan kerjasama klien 2
3. Melakukan kontrak waktu selanjutnya 2
4. Mengucapkan salam 2
5 Melakukan dokumentasi
1. Menulis hasil evaluasi yang terukur dari tindakan yang telah dilakukan di catatan perkembangan 1
2. Menuliskan hasil tindakan dengan jelas dan lengkap 1 1
3. Melaporkan pada supervisior jika diperlukan 1
4. Memastikan laporan disertai rencana tindakan diwaktu berikutnya 1
SOP PENGAJARAN: PROSEDUR/PERAWATAN (5510)
(MANAJEMEN NYERI KOMPRES JAHE MERAH HANGAT)

N SKOR
TINDAKAN SKOR BOBOT
O TOTAL
1 Melakukan tahap interaksi
1. Menyiapkan laporan askep keperawatan gerontik 1
2. Persiapan media dan alat utama penunjang intervensi 1
 Air panas rebusan jahe merah 1
 Waslap/Handuk
 Baskom
 Handuk kering
3. Keterjangkauan alat dengan perawat 1
4. Kesiapan dan keamanan diri 1
2 Melakukan tahap orientasi
1. Memberi salam 2
2. Menjelaskan tujuan, prosedur tindakan dan lamanya kegiatan 2 2
3. Memberikan kesempatan klien bertanya sebelum kegiatan dilakukan 2
4. Kejelasan instruksi/gambaran ringkas intervensi 2
5. Kemampuan menyiapakan dan menjaga privasi klien 2
6. Kemampuan merespon terhadap pertanyaan klien 2
3 Melakukan tahap kerja
1. Mempertahankan prinsip dan keamanan kerja dengan benar 3
2. Jelaskan penggunaan aplikasi kompres jahe merah hangat alasan perawatan dan bagaimana bisa 3 3
mempengaruhi gejala yang dirasakan kepada klien
3. Memilih metode stimulus yang nyaman dan tersedia untuk melakukan kompres
4. Dekatkan alat-alat yang akan digunakan 3
5. Atur posisi klien senyaman mungkin agar saat proses tindakan klien tetap nyaman dan aman
6. Pastikan suhu air hangat sesuai kenyamanan pasien sebelum di lakukan pengompresan
7. Pilih area stimulus, dan kompres hangat di bagian tubuh yang memerlukan 3
8. Bungkus perangkat panas atau dingin dengan alat atau kain yang sesuai jika di perlukan
9. Minta klien untuk mengungkapkan ketidaknyamanan saat dilakukan kompres 3
10. Kaji kembali kondisi kulit disekitar pengompresan pada 5 menit pertama, hentikan tindakan jika 3
ditemukan tanda iritasi kulit 3
11. Ganti tempat penggunaan panas/dingin atau alihkan stimulus jika kenyamanan tidak di dapat
12. Pengompresan dihentikan jika sudah 10 menit. 3
13. Mempertahankan komunikasi dengan klien 3
4 Melakukan tahap terminasi
1. Merapikan alat-alat yang di gunakan 2 2
2. Melakukan evaluasi kegiatan secara lisan
3. Memberikan reinforcement atas respon dan kerjasama klien 2
4. Melakukan kontrak waktu selanjutnya 2
5. Mengucapkan salam 2
5 Melakukan dokumentasi
1. Menulis hasil evaluasi yang terukur dari tindakan yang telah dilakukan di catatan perkembangan 1
2. Menuliskan hasil tindakan dengan jelas dan lengkap 1 1
3. Melaporkan pada supervisior jika diperlukan 1
4. Memastikan laporan disertai rencana tindakan diwaktu berikutnya 1
Referensi:
SOP TERAPI LATIHAN : MOBILITAS SENDI (0224)
(MELAKUKAN DEMONSTRASI ROM PADA ANGGOTA GERAK BAWAH)

SKOR
NO TINDAKAN SKOR BOBOT
TOTAL
1 Melakukan tahap interaksi
1. Menyiapkan laporan askep keperawatan gerontik 1
2. Persiapan media dan alat utama penunjang intervensi 1
 Leflet/Poster ROM 1
3. Keterjangkauan alat dengan perawat 1
4. Kesiapan dan keamanan diri 1
2 Melakukan tahap orientasi
1. Memberi salam 2
2. Menjelaskan tujuan, prosedur tindakan dan lamanya kegiatan 2 2
3. Memberikan kesempatan klien bertanya sebelum melakukan kegiatan 2
4. Kejelasan instruksi/gambaran ringkas intervensi 2
5. Kemampuan menyiapakan dan menjaga privasi klien 2
6. Kemampuan merespon terhadap pertanyaan klien 2
3 Melakukan tahap kerja
1. Mempertahankan prinsip dan keamanan kerja dengan benar 3
2. Menentukan batasan pergerakan sendi klien 3 3
3. Menjelaskan kepada klien atau keluarga manfaat dan tujuan melakukan latihan ROM 3
4. Memonitor lokasi dan kecenderungan adanya nyeri dan ketidak nyamanan saat pergerakan 3
5. Bantu klien untuk mendapatkan posisi yang nyaman saat melakukan ROM 3
6. Melakukan latihan ROM
 Lutut
Gerakan menekuk dan meluruskan lutut : 3
1) Pegang lutut dengan tangan satu, dan tangan lainnya memegang tungkai
2) Tekuk dan luruskan lutut
 Kaki
Gerakan memutar pergelangan kaki : 3
1) Pegang tungkai dengan tangan satu, tangan lainnya memutar pergelangan kaki

Gerakan menekuk dan meluruskan pergelangan kaki :


1) Pegang telapak kaki dengan tangan satu, dan tangan lainnya memegang pergelangan
tangan klien 3
2) Tekuk pergelangan kaki ke depan dan ke belakang
3

3
3

 Jari-Jari Kaki
Gerakan menekuk dan meluruskan jari-jari kaki :
1) Pegang telapak kaki dengan tangan satu, dan tangan lainnya menekuk dan meluruskan
jari-jari kaki

7. Melibatkan keluarga cara melakukan latihan ROM jika memungkinkan


8. Dukung ambulasi jika memungkinkan
9. Mempertahankan komunikasi dengan klien
4 Melakukan tahap terminasi
1. Melakukan evaluasi kegiatan secara lisan 2 2
2. Memberikan reinforcement atas respon dan kerjasama klien 2
3. Melakukan kontrak waktu selanjutnya 2
4. Mengucapkan salam 2
5 Melakukan dokumentasi
1. Menulis hasil evaluasi yang terukur dari tindakan yang telah dilakukan di catatan perkembangan 1
2. Menuliskan hasil tindakan dengan jelas dan lengkap 1 1
3. Melaporkan pada supervisior jika diperlukan 1
4. Memastikan laporan disertai rencana tindakan diwaktu berikutnya 1

SOP PENGAJARAN: PROSES PENYAKIT (5602)


(HIPERTENSI)

N SKOR
TINDAKAN SKOR BOBOT
O TOTAL
1 Melakukan tahap interaksi
1. Menyiapkan laporan askep keperawatan gerontik 1
2. Persiapan media dan alat utama penunjang intervensi 1
 Leaflet Hipertensi 1
3. Keterjangkauan alat dengan perawat 1
4. Kesiapan dan keamanan diri 1
2 Melakukan tahap orientasi
1. Memberi salam 2
2. Menjelaskan tujuan, prosedur tindakan dan lamanya kegiatan 2 2
3. Memberikan kesempatan klien bertanya sebelum melakukan kegiatan 2
4. Kejelasan instruksi/gambaran ringkas intervensi 2
5. Kemampuan menyiapakan dan menjaga privasi klien 2
6. Kemampuan merespon terhadap pertanyaan klien 2
3 Melakukan tahap kerja
1. Mempertahankan prinsip dan keamanan kerja dengan benar 3
2. Mengkaji tingkat pengetahuan klien terkait dengan proses penyakit hipertensi 3 3
3. Mereview pengetahuan klien mengenai kondisinya (penyakit hipertensi) 3
4. Mengidentifikasi penyebab hipertensi 3
5. Menjelaskan tanda dan gejala yang umum dari penyakit hipertensi 3
6. Menjelaskan patofisiologi penyakit hipertensi dan bagaimana hubungannya dengan anatomi dan 3
fisiologi sesuai kebutuhan 3
7. Menjelaskan komplikasi dari hipertensi 3
8. Edukasi klien mengenai tindakan untuk mengontrol/ meminimalkan gejala 3
9. Mendiskusikan pilihan terapi atau penanganan 3
10. Hindari memberikan harapan yang kosong 3
11. Menjelaskan alasan dibalik terapi yang direkomendasikan 3
12. Mempertahankan komunikasi dengan klien
4 Melakukan tahap terminasi
1. Melakukan evaluasi kegiatan secara lisan 2 2
2. Memberikan reinforcement atas respon dan kerjasama klien 2
3. Melakukan kontrak waktu selanjutnya 2
4. Mengucapkan salam 2
5 Melakukan dokumentasi
1. Menulis hasil evaluasi yang terukur dari tindakan yang telah dilakukan di catatan perkembangan 1
2. Menuliskan hasil tindakan dengan jelas dan lengkap 1 1
3. Melaporkan pada supervisior jika diperlukan 1
4. Memastikan laporan disertai rencana tindakan diwaktu berikutnya 1
SOP PENDIDIKAN KESEHATAN (5510)
( PENYULUHAN MATERI HIDROTERAPI DENGAN REBUSAN JAHE MERAH)

N SKOR
TINDAKAN SKOR BOBOT
O TOTAL
1 Melakukan tahap interaksi
1. Menyiapkan laporan askep keperawatan gerontik 1
2. Persiapan media dan alat utama penunjang intervensi 1
 Handphone 1
3. Keterjangkauan alat dengan perawat 1
4. Kesiapan dan keamanan diri 1
2 Melakukan tahap orientasi
1. Memberi salam 2
2. Menjelaskan tujuan, prosedur tindakan dan lamanya kegiatan 2 2
3. Memberikan kesempatan klien bertanya sebelum melakukan pendidikan kesehatan 2
4. Kejelasan instruksi/gambaran ringkas intervensi 2
5. Kemampuan menyiapakan dan menjaga privasi klien 2
6. Kemampuan merespon terhadap pertanyaan klien 2
3 Melakukan tahap kerja
1. Mempertahankan prinsip dan keamanan kerja dengan benar 3
2. Bantu klien untuk memperjelas keyakinan dan nilai-nilai terkait kesehatan 3 3
3. Menjelaskan kepada klien tujuan dalam program pendidikan kesehatan yang dilakukan
4. Menentukan pengetahuan klien terkait penanganan hipertensi
5. Menjelaskan perbedaan maanfaat penanganan farmakologi dan nonfarmakologi hipertensi 3
6. Menjelaskan pengertian dari hidroterapi 3
7. Menjelaskan manfaat dari terapi hidroterapi 3
8. Menjelaskan indikasi dan kontraindikasi dari hidroterapi 3
9. Menghindari penggunaan tehnik dengan menakut-nakuti saat penyampaian materi 3
10. Memberikan kesempatan pada klien untuk bertanya 3
11. Menjawab pertanyaan klien 3
12. Mempertahankan komunikasi dengan klien 3
4 Melakukan tahap terminasi
1. Melakukan evaluasi kegiatan secara lisan 2 2
2. Memberikan reinforcement atas respon dan kerjasama klien 2
3. Melakukan kontrak waktu selanjutnya 2
4. Mengucapkan salam 2
5 Melakukan dokumentasi
1. Menulis hasil evaluasi yang terukur dari tindakan yang telah dilakukan di catatan perkembangan 1
2. Menuliskan hasil tindakan dengan jelas dan lengkap 1 1
3. Melaporkan pada supervisior jika diperlukan 1
4. Memastikan laporan disertai rencana tindakan diwaktu berikutnya 1
SOP PENGAJARAN PROSEDUR/PERAWATAN (5510)
(TERAPI KOMBINASI HIDROTERAPI DENGAN MUROTTAL AL-QUR’AN SURAH AR-RAHMAN)

SKOR
N TINDAKAN SKOR BOBOT
TOTAL
O
1 Melakukan tahap interaksi
1. Menyiapkan laporan askep keperawatan gerontik 1
2. Persiapan media dan alat utama penunjang intervensi 1
 Air hangat rebusan jahe merah dan dingin 1
 Termometer suhu air
 Baskom
 Handuk kecil 2 (untuk kering & basah)
 Kertas impraboad
 Audio Murottal Al-Qur’an Surah Ar-Rahman Mp3 Muzzamil Hasballah
 Headphone
3. Keterjangkauan alat dengan perawat 1
4. Pengkondisian alat bersih 1
5. Kesiapan dan keamanan diri 1
2 Melakukan tahap orientasi
1. Memberi salam 2
2. Menjelaskan tujuan, prosedur tindakan dan lamanya kegiatan 2 2
3. Memberikan kesempatan klien bertanya sebelum melakukan pendidikan kesehatan 2
4. Kejelasan instruksi/gambaran ringkas intervensi 2
5. Kemampuan menyiapakan dan menjaga privasi klien 2
6. Kemampuan merespon terhadap pertanyaan klien 2
3 Melakukan tahap kerja
1. Mempertahankan prinsip dan keamanan kerja dengan benar 3
2. Kaji pengalaman pasien sebelumnya dan tingkat pengetahuan pasien terkait tindakan yang 3 3
akan dilakukan 3
3. Jelaskan tujuan tindakan yang akan di lakukan 3
4. Gambarkan aktivitas sebelum prosedur atau penanganan 3
5. Informasikan kepada klien mengenai lamanya tindakan yang akan dilakukan 3
6. Jelaskan prosedur penanganan : 3
Langkah-langkah prosedur
1) Mencampurkan air dingin dengan air panas ke dalam baskom
2) Kemudian ukur suhu air dengan termometer (36-390 C) dan Isi baskom setengah penuh 3
sampai atas mata kaki
3) Meletakan baskom dan handuk didekat responden 3
4) Minta responden untuk duduk di kursi, dengan kaki menggantung ke bawah dan pastikan
responden dengan posisi yang nyaman 3
5) Untuk menjaga suhu air letakan kertas impraboad yang sudah di lubangi di atas baskom
6) Selanjutnya celupkan kaki dan rendam kaki responden kedalam baskom yang sudah siap 3
sampai atas mata kaki, tetapi apabila kaki kotor bersihkan terlebih dahulu, kemudian
menutup lubang kertas impraboad menggunakan handuk agar suhu air tetap hangat
7) Memasang headphone pada responden dan memutar Murottal Al-Qur’an Surah Ar- 3
Rahman Muzzamil Hasballah dengan volume sesuai kenyaman responden selama 15
menit 3
8) Setelah selesai 15 menit minta responden untuk berhenti, kemudian angkat kaki
responden keringkan menggunakan handuk dan melepaskan headphone
9) Merendam kaki air hangat dapat dilakukan 3 kali dalam seminggu tiap pagi maupun sore
hari
10) Membereskan alat yang telah dipakai
7. Ajarkan pasien jika harus berasrtisipasi dalam kegiataLibatkan pasien dalam tindakan 3
8. Berikan kesempatan klien bertanya 3
9. Mempertahankan komunikasi dengan pasien 3
4 Melakukan tahap terminasi
1. Melakukan evaluasi kegiatan secara lisan 2 2
2. Memberikan reinforcement atas respon dan kerjasama klien 2
3. Melakukan kontrak waktu selanjutnya 2
4. Mengucapkan salam 2
5 Melakukan dokumentasi
1. Menulis hasil evaluasi yang terukur dari tindakan yang telah dilakukan di catatan 1
perkembangan 1
2. Menuliskan hasil tindakan dengan jelas dan lengkap 1
3. Melaporkan pada supervisior jika diperlukan 1
4. Memastikan laporan disertai rencana tindakan diwaktu berikutnya 1
SOP MANAJEMEN PERILAKU (4350)

SKOR
N TINDAKAN SKOR BOBOT
TOTAL
O
1 Melakukan tahap interaksi
1. Menyiapkan laporan askep keperawatan gerontik 1
2. Persiapan media dan alat utama penunjang intervensi 1
3. Keterjangkauan alat dengan perawat 1 1
4. Kesiapan dan keamanan diri 1
2 Melakukan tahap orientasi
1. Memberi salam 2
2. Menjelaskan tujuan, prosedur tindakan dan lamanya kegiatan 2 2
3. Memberikan kesempatan klien bertanya sebelum melakukan pendidikan kesehatan 2
4. Kejelasan instruksi/gambaran ringkas intervensi 2
5. Kemampuan menyiapakan dan menjaga privasi klien 2
6. Kemampuan merespon terhadap pertanyaan klien 2
3 Melakukan tahap kerja
1. Mempertahankan prinsip dan keamanan kerja dengan benar 3
2. Diskusikan dengan klien terkait terapi yang sudah diajarkan 3
3. Sarankan klien untuk menerapkan terapi yang sudah diajarkan secara mandiri 3
4. Diskusikan dengan klien agar bisa bertanggung jawab terhadap prilakunya 3 3
5. Atur batasan bersama klien agar bisa mengontrol hiprtensinya 3
6. Jangan memojokan klien 3
7. Bantu motivasi klien 3
8. Berikan reinforcement jika klien bersedia mengontrol prilaku dan ingin rutin melakukan
terapi yang diajarkan 3
9. Berikan kesempatan klien bertanya
10. Mempertahankan komunikasi dengan klien 3
4 Melakukan tahap terminasi
1. Melakukan evaluasi kegiatan secara lisan 2 2
2. Memberikan reinforcement atas respon dan kerjasama klien 2
3. Melakukan kontrak waktu selanjutnya 2
4. Mengucapkan salam 2
5 Melakukan dokumentasi
1. Menulis hasil evaluasi yang terukur dari tindakan yang telah dilakukan di catatan 1
perkembangan 1
2. Menuliskan hasil tindakan dengan jelas dan lengkap 1
3. Melaporkan pada supervisior jika diperlukan 1
4. Memastikan laporan disertai rencana tindakan diwaktu berikutnya 1
LAMPIRAN NIC KASUS

1) Pendidikan Kesehatan (5510)


Definisi: Mengembangkan dan menyediakan instruksi dan pengalaman belajar untuk memfasilitasi prilaku adaptasi yang disengaja yang
kondusif bagi kesehatan pada individu, keluarga, kelompok, atau komunitas
Aktifitas-aktifitas:
1. Targetkan saasaran pada kelompok berisiko tinggi dan rentang usia yang akan mendapat manfaat besar dari pendidikan kesehatan.
2. Sasar kebutuhan-kebutuhan yang teridentifikasi dalam healty people 2010: Promosi Keshatan Nasional dan Tujuan Pencegahan
Penyakit, ata kebutuhan lokal, Negara bagian, dan kepentingan nasional lainnya.
3. Identifikasi faktor-faktor internal atau eksternal yang dapat meningkatkanatau mengurangi motivasi untuk berprilaku sehat.
4. Pertimbangkan riwayat individu dalam konteks personal dan riwayat sosial budaya individu, keluarga dan masyarakat.
5. Tentukan pengetahuan kesehata dan gaya hidup prilaku saat ni pada individu, keluarga atau kelompok sasaran.
6. Bantu individu, keluarga, dan masyarakat untuk memperjelas keyakinan dan nilai-nlai kesehatan.
7. Identifikasi karakteristik populas target yang mempengaruhi penilaian strategi belajar.
8. Prioritaskan kebutuhan orang yang belajar dengan mengidentifikasi kebutuhan berdasarkan apa yang disukai klien, keterampilan
perawat, sumber yang tersedia, dan kemungkinan keberhasilan pencapaian tujuan.
9. Rumuskan tujuan dalam program pendidikan kesehatan (tersebut).
10. Identifikasi sumber daya (misalnya: tenagga, ruangan, peralatan, uang dan lain-lain) yang diperlukan untuk melaksanakan program.
11. Pertimbangkan kemudahan akses, hal-hal yang disukai konsumen, dan biaya dalam perencaaan program.
12. Letakkan iklan yang menarik ditempat yang strategis untuk mendapatkan perhatian audiens (yang menjadi) sasaran.
13. Hindari penggunaan teknik dengan manakut -nakuti sebagai strategi untuk memotivasi orang agar mengubah prilaku kesehatan atau
gaya hidup.
14. Tekankan manfaat kesehatan positif yag langsung atau manfaat jangka pendek yang bisa diterima oleh prilaku gaya hidup positif dari
pada (menekankan pada) manfaat jangka panjang atau efek negatif dari ketidakpatuhan.
15. Aplikasikan strategi untuk meningkatkan harga diri aundiens (yang menjadi) sasaran.
16. Kembangkan materi pendididkan tertulis yang tersedia dan sesuai dengan audiens (yang menjadi ) sasaran.
17. Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk menolak prilaku yang tidak sehat atau yang beresiko daripada memberikan saran untuk
menghindari atau mengubah prilaku.
18. Jaga presentasi tetap fokus dan pendek, yang (konsisten) (di) mulai dan berakhir pada maksut / bahasan utama.
19. Gunakan presentasi kelompok untuk memberikan dukungan dan mengurangi ancaman bagi pembelajar yang mengalami masalah
atau keprihatinan yang sama, yang (memang) sesuai (dengan kebutuhan).
20. Gunakan peer leaders (pemimpin kelompok,) guru dan kelompok pendukukng dalam mengimplementasikan dalam program bagi
kelompok yang kecil kemungkinannya untuk mau mendengarkan profesional kesehatan atau orang dewasa (misalnya remaja).
21. Berikan ceramah untuk menyamapaikan informasi dalam jumlah besar, (pada) saat yang tepat.
22. Berikan diskusi kelompok dan bermain peran untuk mempengaruhi keyakinan terhadap kesehatan, nilai-nilai.
23. Lakukan demonstrasi/demonstrasi ulang, partisipasi pembelajar, dan manipulasi bahan (pembelajaran) ketika mengajarkan
keterampilam psikomotorik.
24. Gunakan instruksi dibantu komputer, televisi, video interaktive dan teknologi-teknologi lainnya untuk menyampaikan informasi.
25. Gunakan telekonferensi, telekomunikasi, dan teknologi komputer untuk pembelajaran jarak jauh.
26. Libatkan individu, keluarga dan kelompok dalam perencanaan dan rencana implementasi gaya hidup atau memodifikasi prilaku
kesehatan.
27. Pertimbangkan dukungan keluarga, teman sebaya, dan masyarakat terhadap prilaku yang kondusif terhadap kesehatan.
28. Manfaatkan sistem dukungan sosial dan keluarga untuk meningkatkan efektifitas gaya hidup atau memodifikasi prilaku kesehatan.
29. Tekankan pentingnya pola makan yang sehat, tidur, berolahraga, dan lain-lain bagi individu, keluarga dan kelompk yang meneladani
nilai dan perlaku ini dari orang lain terutama anak-anak.
30. Gunakan berbagai strategi dan intervensi utama dalam program pendididkan.
31. Rencanakan tindakan lanjut jangka panjang untuk memperkuat prilaku kesehatana atau adaptasi terhadap gaya hidup.
32. Ranccan dan implementasikan strategi untuk menila program dan efektifitas biaya penididikan, gunakan data ini untuk memperbaiki
efektifitas program berikutnya.
33. Pengaruhi pengemban kebijakan ynag menjamin pendidikan kesehatan sebagai pentinnya karyawan.
34. Anjurkan kebijakan dimana perusahaan ansuransi mempertimbangkan untuk mengurangi premi atau memberikan manfaat bagi
praktik gaya hidup sehat.

2) Aplikasi Panas/Dingin (1380)


Definisi: Stimulasi kulit dan jaringan di bawahnya dengan menggunakan aplikasi panas atau dingin untuk tujuan mengurangi rasa sakit,
kejang otot, atau peradangan.
Aktivitas-aktivitas:
1. Jelaskan penggunaan aplikasi panas atau dingin, alasan perawatan dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi gejala klien
2. Skrining kontraindikasi klien terhadap suhu dingin atau panas, seperti penurunan atau ketiadaan sensasi, penurunan sirkulasi dan
penurunan kemampuan untuk berkomunikasi
3. Pilih metode stimulasi yang nyaman dan tersedia (misalnya, tas plastik tanah air dengan es yang mencair; bungkusan gel beku;
bungkusan es kimiawi; rendam es, kain atau handuk di lemari es untuk penggunaan dingin; botol air panas; bantal pemanas listrik;
panas, kompres basah; perendaman di bak mandi atau pancuran air, lilin parafin, bak mandi, lampu yang bercahaya, atau bungkus
plastik untuk perangkat panas
4. Pertimbangkan ketersedian dan kondisi kerja yang aman dari semua peralatan yang digunakan untuk mengaplikasikan perangkat
panas atau dingin
5. Pertimbangkan kondisi kulit dan identifikasi setiap perubahan yang memerlukan perubanhan prosedur atau kontraindikasi terhadap
stimulasi
6. Pilih area stimulasi, pertimbangkan pilihan alternatif area ketika aplikasi langsung tidak memungkinkan (misalnya, berdekatan
dengan, arah distal, diantara daerah yang terkena dan daerah otak, serta kontralateral
7. Bungkus perangkat panas atau dingin dengan alat yang terlindungi dengan kain yang sesuai
8. Gunakan kain lembab setelah kulit untuk menungkatkan sensasi dingin atau panas disaat yang tepat
9. Gunakan aplikasi es setelah keseleo pada pergelangan kaki untuk mengurangi edema, diikuti dengan istirahat, kompresi, dan elevasi
(letak lebih tinggi)
10. Instrusikan bagaimana menghindari kerusakan jaringan yang terkait dengan perangkat panas atau dingin
11. Periksa suhu aplikasi, terutama ketika mengunakan aplikasi panas
12. Tentukan durasi aplikasi berdasarkan respon verbal, perilaku, dan biologis individu
13. Tentukan waktu untuk semua aplikasi dengan hati-hati
14. Aplikasikan panas atau dingin secara langsung atau didekat lokasi yang terkena dampak jika memungkinkan
15. Hindari penggunaan aplikasi panas atau dingin pada jaringan yang terkena terapi radiasi
16. Periksa tempat aplikasi dengan hati-hati untuk mengetahui adanya tanda iritasi kulit atau kerusakan jaringan secara keseluruhan pada
5 menit pertama dan kemungkinan dengan frekuensi yang sering selama perawatan
17. Selesaikan perawatan dengan aplikasi dingin untuk meningkatkan vasokontriksi ketika membolak balik aplikasi panas dan dingin
untuk seorang atlet yang terluka
18. Evaluasi kondisi umum, keamanan, dan kenyamanan seluruh perawatan
19. Posisikan untuk memungkinkan gerakan dari sumber suhu jika diperlukan
20. Anjurkan untuk tidak menyesuaikan pengaturan suhu secara mandiri tanpa intruksi sebelumnya
21. Ganti tempat penggunaan panas atau dingin atau alihkan stimulasi jika kenyamanan tidak di dapatkan
22. Instrusikan bahwa penggunaan suhu dingin mungkin menyakitkan sebentar, mati rasa sekitar 5 menit setelah stimulasi awal
23. Instrusikan indikasi mengenai frekuensi dan prosedur aolikasi
24. Instrusikan untuk menhindari cedera pada kulit setelah stimulasi
25. Evaluasi dan dokumentasikan respon terhadap aplikasi panas dan dingin

3) Terapi Latihan : Mobilitas ( pergerakan sendi )0224


Definis : Penggunaan gerak tubuh baik aktif maupun pasif untuk meningkatkan atau memelihara kelenturan sendi
Aktivitas-aktivitas :
1. Tentukan batas pergerakan sendi dan efeknya terhadap fungsi sendi
2. Kolaborasikan dengan ahli terapi fisik dalam mengembangkan dan menerapkan sebuah program latihan
3. Tentukan level motivasi klien untuk meningkatkan atau memelihara pergerakan sendi
4. Jelaskan kepada klien atau keluarga manfaat dan tujuan melakukan sendi
5. Monitor lokasi dan kecenderungan adanya nyeri dan ketidaknyamanan selama pergerakan atau aktivitas
6. Inisiasi pengukuran kontrol nyeri sebelum memulia latihan sendi
7. Pakaikan baju yang tidak menghambat pergerakan klien
8. Lindungi klien dari trauma selama latihan
9. Bantu klien mendapatkan posisi tubuh yang optimal untuk pergerakan sendi pasif maupun aktif
10. Dukung latihan ROM aktif,sesuai jadwal yang teratur yang terencana
11. Lakukan latihan ROM pasif atau ROM dengan bantuan sesuai latihan
12. Instruksikan klien /keluarga cara melakukan latihan ROM pasif,ROM dengan bantuan atau ROM aktif
13. Sediakan petunjuk tertulis untuk melakukan latihan
14. Bantu klien untuk mebuat jadwal latihan ROM aktif
15. Dukung klien untuk melihat gerakan tubuh sebelum memulai latihan
16. Bantu untuk melakukan pergerakan sendi yang ritmis dan teratur sesuai kadar nyeri yang bisa ditoleransi,ketahanan dan pergerakan
sendi
17. Dukung klien untuk duduk ditempat tidur,disamping tempat tidur(menjuntai)atau dikursi,sesuai toleransi
18. Dukung ambulasi,jika memungkinkan
19. Tentukan pergerakan terhadap pencapaian tujuan
20. Sediakan dukungan positif dalam melakukan sendi
1) Pengajaran : Proses Penyakit (5602)
Definisi : Membantu klien untuk memahami informasi yang berhubungan dengan proses penyakit secara spesifik.
Aktivitas-aktivitas:
1. Kaji tingkat pengetahuan klien terkait dengan proses penyakit yang spesifik.
2. Jelaskan patofisiologi penyakit dan bagaimana hubungannya dengan anatomi dan fisiologi, sesuai kebutuhan.
3. Review pengetahuan klien mengenai kondisinya.
4. Kenali pengetahuan klien mengenai kondisinya.
5. Jelaskan tanda dan gejala yang umum dari penyakit, sesuai kebutuhan.
6. Eksplorasi bersama klien apakah dia telah melakukan manajemen gejala.
7. Jelaskan mengenai proses penyakit, sesuai kebutuhan.
8. Identifikasi kemungkinan penyebab, sesuai kebutuhan.
9. Berikan informasi pada klien mengenai kondisinya, sesuai kebutuhan.
10. Identifikasi perubahan kondisi fisik klien.
11. Hindari memberikan harapan yang kosong.
12. Beri ketenangan terkait kondisi klien, sesuai kebutuhan.
13. Beri informasi kepada keluarga/orang yang penting bagi klien mengenai perkembangan klien, sesuai kebutuhan.
14. Berikan informasi mengenai pemeriksaan diagnostik yang tersedia, sesuai kebutuhan.
15. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi dimasa yang akan datang dan/atau
mengontrol proses penyakit.
16. Diskusikan pilihan terapi/penanganan.
17. Jelaskan alasan dibalik manajemen/terapi/penanganan yang direkomendasikan.
18. Dorong klien untuk mengenali pilihan-pilihan/mendapatkan pendapat kedua, sesuai kebutuhan atau sesuai yang diindikasikan.
19. Jelaskan komplikasi kronik yang mungkin ada, sesuai kebutuhan.
20. Instruksikan klien mengenai tindakan untuk mencegah meminimalkan efek samping penanganan dari penyakit, sesuai kebutuhan.
21. Edukasi klien mengenai tindakan untuk mengontrol/meminimalkan gejala, sesuai kebutuhan.
22. Rujuk klien kepada kelompok pendukung/agen komunitas lokal, sesuai kebutuhan.
23. Edukasi klien mengenai tanda dan gejala yang harus dilaporkan kepada petugas kesehatan, sesuai kebutuhan.
24. Berikan nomor telepon yang dapat dihubungi jika terjadi komplikasi.
25. Perkuat informasi yang diberikan dengan anggota tim kesehatan lain, sesuai kebutuhan.

2) Pengajaran : Prosedur/Perawatan (5618)


Definisi : Menyiapkan klien agar dapat memahami dan siap secara mental terkait dengan tindakan atau prosedur yang akan dilakukan
Aktivitas-aktivitas:
1. Informasikan pada klien atau orang terdekat mengenai kapan dan dimana tindakan akan dilakukan
2. Informasikan pada klien dan orang terdekat mengenai lama tindakan akan berlangsung
3. Informasikan pada klien dan orang terdekat mengenai siapa yang akan melakukan tindakan
4. Tekankan kerahasiaan klien pada tim yang terlibat, dengan tepat
5. Kaji pengalaman klien sebelumnya dan tingkat pengetahuan klien terkait tindakan yang akan dilakukan
6. Jelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan
7. Gambarkan aktivitas sebelum prosedur/penanganan
8. Jelaskan prosedur/penanganan
9. Sediakan saksi saat klien menandatangani informed consent sesuai dengan aturan yang berlaku
10. Ajarkan klien jika klien harus berpartisipasi dalam kegiatan tersebut
11. Libatkan klien anak dalam tindakan (misalnya, memegang balutan) tetapi jangan berikan pilihan untuk menghentikan atau
meneruskan tindakan
12. Jika memungkinkan bawa klien mengenai ruang tindakan dan ruang tunggu keluarga
13. Kenalkan klien dengan petugas yang akan melakukan tindakan
14. Jelaskan pentingnya beberapa peralatan beserta fungsi nya (misalnya, monitor)
15. Beritahu klien pentingnya pengukuran tanda vital tertentu selama tindakan
16. Berikan informasi mengenai apa yang akan di dengar, dicium, dilihat, dirasakan selama tindakan
17. Jelaskan pengkajian atau aktivitas paska tindakan beserta rasionalisasinya
18. Informasikan klien agar klien ikut terlibat dalam proses penyembuhan
19. Dukung informasi yang diberikan petugas kesehatan lain
20. Sediakan waktu bagi klien untuk mengantisipasi kejadian yang akan terjadi
21. Instrusikan klien untuk menggunakan teknik koping langsung dalam mengontrol pengalaman pada aspek tertentu
22. Alihkan perhatian klien anak ketika melakukan tindakan
23. Sediakan informasi mengenai kapan dan dimana hasil tindakan dapat diambil, beserta petugas yang akan menjelaskan hasil tersebut
24. Kaji harapan klien mengenai tindakan yang dilakukan
25. Luruskan jika ada harapan yang tidak realistik terkait tindakan
26. Diskusikan pilihan-pilihan tindakan yang memungkinkan
27. Berikan kesempatan bagi klien untuk bertanya ataupun mendiskusikan perasaannya
28. Libatkan keluarga atau orang terdekat jika memungkinkan
3) Manajemen Perilaku (4350)
Definisi : Membantu pasien untuk mengelola perilaku negatif
Aktivitas-aktivitas:
1. Berikan pasien tanggung jawab terhadap prilakunya (sendiri)
2. Komunikasikan harapan bahwa pasien dapat mengontrol perilakuknya
3. Konsultasikan dengan keluarga dalam rangka mendapatkan informasi mengenai kondisi kognisi dasar pasien
4. Atur batasan bersama pasien
5. Tahan diri dari mendebat atau melakukan tawar menawar pada pasien untuk menetapkan batasan prilaku
6. Batasi rutinitas
7. Bina konsistensi dari satu shif ke shif berikutnya terkait dengan rutinitas lingkungan dan perawatan
8. Gunakan pengulangan kesehatan rutin yang konsisten sebagai alat untuk menetapkan rutinitas tersebut
9. Hindari intrupsi
10. Batasi jumlah pemberian pengobatan
11. Gunakan suara bicara yang lembut dan rendah
12. Jangan memojokan pasien
13. Alihkan arah perhatian dari sumber yang menyebabkan agitasi
14. Hindari proyeksi dan gambaran yang dirasakan mengancam pasien
15. Hindari mendebat pasien
16. Acuhkan prilaku yang tidak tepat
17. Turunkan motivasi perilaku pasif-agresif
18. Berikan penghargaan apabila pasien dapat mengontrol nyeri.