Anda di halaman 1dari 17

KEPERAWATAN MATERNITAS

BERPIKIR KRITIS DALAM MANAJEMEN KASUS


KEPERAWATAN MATERNITAS PADA MASA PERINATAL
(KEHAMILAN, PERSALINAN DAN NIFAS)

Oleh Kelompok 7

I Gusti Bagus Komang Alit Wardana P07120216056

Putu Sri Wiadnyani P07120216057

Ni Putu Nita Ayu Sandra P07120216058

PROGRAM STUDI PROFESI NERS KELAS B

POLTEKKES KEMENKES DENPASAR


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
DENPASAR
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena

berkat rahmatNya, penulis dapat menyusun makalah yang berjudul “berpikir

kritis dalam manajemen kasus keperawatan maternitas pada masa perinatal

(kehamilan, persalinan dan nifas) ”

Penulis menyadari makalah ini masih terdapat kekurangan, namun

demikian penulis berharap makalah ini dapat menjadi bahan rujukan dan semoga

dapat menambah pengetahuan mahasiswa-mahasiswi kelas B Prodi Ners Jurusan

Keperawatan Politeknik Kesehatan Denpasar.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang

telah membantu dalam penulisan makalah ini.

Dengan segala hormat penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

yang membangun dari semua pihak untuk penyempurnaan makalah ini.

Denpasar, 8 Juli 2020

Kelompok

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang..........................................................................................1
B. Rumusan Masalah.....................................................................................2
C. Tujuan.......................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
A. Definisi......................................................................................................3
B. Berfikir Kritis Dalam Proses Keperawatan...............................................5
C. Model Berfikir Kritis Dalam Keperawatan Maternitas.............................5
D. Berpikir Kritis Dalam Keperawatan Perinatal..........................................6
BAB III SIMPULAN DAN SARAN.....................................................................13
A. Simpulan.................................................................................................13
B. Saran........................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berfikir merupakan suatu proses yang berjalan secara berkesenambungan

mencakup interaksi dari suatu rangkayan pikiran dan persepsi. Sedangkan berfikir

karitis merupakan konsep dasar yang terdiri dari konsep berfikir yang

berhubungan dengan proses belajar dan kritis itu sendiri berbagai sudut pandang

selain itu juga membahas tentang komponen berfikir kritis dalam keperawatan

yang didalamnya dipelajari defenisi,elemen berfikir kritis,model berfikir

kritis,analisa berfikir kritis,berfikir logis dan kreatif, krakteristik berfikir

kritis,pemecahan masalahdan langka-langka pemecahan masalah,proses

pengambilan keputusan,fungsi berfikir kritis,model pebggunaan atribut,proses

intuisi,indikator, dan prinsip utama.

Perawat sebagai bagian dari pemberi layanan kesehatan, yaitu memberi

asuhan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan akan selalu

dituntut untuk berfikir kritis dalam berbagai situasi. penerapan berfikir kritis

dalam proses keperawatan dengan kasus nyata yang akan memberikan gambaran

kepada perawat tentang pemberian asuhan keperawatan yang komprehensif dan

bermutu. Seseorang yang berfikir dengan cara kreatif akan melihat setiap masalah

dengan sudut yang selalu berbeda meskipun obyeknya sama, sehingga dapat

dikatakan, dengan tersedianya pengetahuan baru, seseorang profesional harus

selalu melakukan sesuatu dan mencari apa yang selalu efektif dan ilmia dan

memberikan hasil yang lebih baik untuk kesejateraan diri maupun orang lain.

1
Proses berfikir ini dilakukan sepenjang waktu sejalan dengan keterlibatan

kita dalam pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan yang kita miliki, kita

jadi lebih mampu untuk membentuk asumsi, ide-ide dan membuat simpulan yang

valid. Semua proses tersebut tidak terlepas dari sebuah proses berfikir dan belajar.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan berpikir kritis?

2. Bagaimana berpikir kritis dalam manajemen kasus keperawatan maternitas

pada masa perinatal?

C. Tujuan

1. Mengetahui proses berpikir kritis dalam keperawatan.

2. Mengetahui proses berpikir kritis dalam manajemen kasus keperawatan

maternitas pada masa perinatal.

D. Manfaat

1. Meningkatkan pengetahuan mengenai berpikir kritis dalam keperawatan

maternitas

2. Meningkatkan pengetahuan mengenai berpikir kritis dalam manajemen

kasus keperawatan maternitas

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Berpikir kritis merupakan suatu proses yang berjalan secara

berkisinambungan menjakup interaksi dari suatu rangkayan pikiran dan presepsi.

Sedangkan berpikir kritis merupakan konsep dasar yang terdiri dari konsep

berpikir yang berhubungan dengan proses belajar dan krisis itu sendiri sebagai

sudut pandang selain itu juga membahas tentang komponen berpikir kritis dalam

keperawatan yang didalamnya dipelajari krakteristik, sikap dan standar berpikir

kritis, analisis, pertanyaan kritis, pengambilan keputusan dan kreatifitas dalam

berpikir kritis.

Menurut para ahli (Pery dan Potter,2005), berpikir kritisss adalah suatu

proses dimana seseorang atau individu dituntut untuk menginterfensikan atau

mengefaluasi informasi untuk membuat sebuah penilain atau keputusan

berdasarkan kemampuan,menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman.

Menurut Bandman (1988), berpikir kritis adalah pengujian secara rasional

terhadap ide-ide, kesimpulan, pendapat, prinsip, pemikiran,masalah, kepercayaan,

dan tindakan. Menutut Strader (1992), berpikir kritis adalah suatu proses

pengujian yang menitikberatkan pendapat atau fakta yang mutahir dan

menginterfensikan serta mengefaluasikan pendapat-pendapat tersebut untuk

mendapatkan suatu kesimpulan tentang adanya perspektif pandangan baru.

Proses berpikir ini dilakukan sepanjang waktu sejalan dengan keterlibatan

kita dalam pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan yang kita miliki, kita

3
menjadi lebih mampu untuk membentuk asumsi, ide-ide dan membuat kesimpulan

yang valid, semua proses tersebut tidak terlepas dari sebuah proses berpikir dan

belajar.

Untuk lebih mengoptimalkan dalam proses berpikir kritis setidaknya paham

atau tau dari komponen berpikir kritis itu sendiri, dan komponen berpikir kritis

meliputi pengetahuan dasar, pengalaman, kompetensi, sikap dalam berpikir kritis,

standar/ krakteristik berpikir kritis.

Keterampilan kongnitif yang digunakan dalam berpikir kualitas tinggi

memerlukan disiplin intelektual, evaluasi diri, berpikir ulang, oposisi, tantangan

dan dukungan.

Berpikir kritis adalah proses perkembangan kompleks, yang berdasarkan

pada pikiran rasional dan cermat menjadi pemikir kritis adalah denominatur

umum untuk pengetahuan yang menjadi contoh dalam pemikiran yang disiplin

dan mandiri. Pentingnya berpikir kritis bagi perawat :

a. Penerapan profesionalisme.

b. Pengetahuan tehnis dan keterampilan tehnis dalam memberikan askep.

c. Menggunakan pengetahuan dari berbagai subjek danlingkungannya

d. Menangani perubahan yang berasal dari stressor lingkungan

e. Argumentasi dalam keperawatan

Badman and Badman (1988) terkait dg.konsep berfikir dalam keperawatan :

1. Berhubungan dengan situasi perdebatan.

2. Debat tentang suatu isu

3. Upaya untuk mempengaruhi individu/kelompok

4. Penjelasan yang rasional

4
5. Pengambilan keputusan dalam keperawatan

6. Sehari-hari perawat harus mengambil keputusan yang tepat.

B. Berpikir Kritis Dalam Proses Keperawatan

Perawat berfikir kritis pada setiap langkah proses keperawatan

1. Pengkajian :

a. mengumpulkan data dan validasi

b. Perawat melakukan observasi berfikir kritis dalam pengumpulan data.

c. Mengelola dan menggunakan ilmu-ilmu lain yang terkait. b. Perumusan

diagnosa keperawatan :

C. Model Berpikir Kritis Dalam Keperawatan Maternitas

Dalam penerapan pembelajaran pemikiran kritis di pendidikan keperawatan,

dapat digunakan tiga model, yaitu: feeling, vision model, dan examine model

yaitu sebagai berikut:

1. Feling Model

Model ini menerapkan pada rasa, kesan, dan data atau fakta yang ditemukan.

Pemikir kritis mencoba mengedepankan perasaan dalam melakukan pengamatan,

kepekaan dalam melakukan aktifitas keperawatan dan perhatian. Misalnya

terhadap aktifitas dalam pemeriksaan tanda vital, perawat merasakan gejala,

petunjuk dan perhatian kepada pernyataan serta pikiran klien.

2. Vision model

Model ini dingunakan untuk membangkitkan pola pikir, mengorganisasi dan

menerjemahkan perasaan untuk merumuskan hipotesis, analisis, dugaan dan ide

5
tentang permasalahan perawatan kesehatan klien, beberapa kritis ini digunakan

untuk mencari prinsip-prinsip pengertian dan peran sebagai pedoman yang tepat

untuk merespon ekspresi.

3. Exsamine model

Model ini dungunakan untuk merefleksi ide, pengertian dan visi. Perawat

menguji ide dengan bantuan kriteria yang relevan. Model ini digunakan untuk

mencari peran yang tepat untuk analisis, mencari, meguji, melihat konfirmasi,

kolaborasi, menjelaskan dan menentukan sesuatu yang berkaitan dengan ide.

D. Berfikir Kritis Dalam Keperawatan Maternitas Perinatal

Saat ini praktik keperawatan membutuhkan pemikiran yang terorganisasi,

bertujuan dan disiplin. Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan terus

menerus berhadapan dengan perkembangan teknologi dan perubahan situasi

yang cepat. Mereka dituntut membuat keputusan penting mengenai

kesejahteraan bahkan kelangsungan hidup pasien: dengan menetapkan prioritas,

mengkaji, merencanakan dan mengimplementasikan pilihan penanganan,

mengevaluasi hasil dan melakukan pengkajian ulang. Untuk melaksanakan

proses kompleks ini secara cepat dan akurat, dengan demikian perawat harus

meningkatkan kemampuan untuk berpikir kritis dengan menggunakan

pendekatan yang sistimatik. Pendekatan sistimatik ini memungkinkan perawat

mempertimbangkan dengan cepat data yang ada dan bagaimana penanganannya

sehingga keputusan klinis menghasilkan kriteria hasil yang efektif.

Perawat maternitas dan perinatal harus berfikir dalam semua aspek praktik

keperawatan untuk mendapat hasil yang terbaik. Pengetahuan,sikap dan

6
keterampilan yang didapat saat menjadi pelajar, aplikasi hasil penelitian dan

standar asuhan keperawatan.

Berpikir kritis adalah metoda analisis masalah. Berpikir kritis meliputi

penilaian asumsi, kepercayaan, prospektif dan kemaknaan serta penggunaan

kata, pernyataan dan argumen yang berhubungan dengan masalah

Dalam keperawatan berpikir kritis dibuktikan ketika perawat melaksanakan

fungsi– fungsi berikut :

a. Membedakan penggunaan bahasa yang benar dan salah dalam keperawatan

b. Mengidentifikasi dan merumuskan masalah keperawatan

c. Menganalisis makna istilah yang terkait dengan indikasi, penyebab dan tujuan

serta signifikansi istilah tersebut

d. Menganalisis argumen dan isu ke dalam asumsi dan kesimpulan

e. Menilai asumsi keperawatan

f. Melaporkan data dan petunjuk secara akurat

g. Membuat dan memeriksa kesimpulan berdasarkan data, memastikan bahwa

kesimpulan cukup masuk di akal

h. Membuat dan mengklarifikasi keyakinan

i. Memeriksa, menguatkan dan membenarkan klaim, keyakinan,

kesimpulan, keputusan dan aksi

j. Memberikan alasan yang relevan untuk keyakinan dan kesimpulan

k. Merumuskan dan mengklarifikasi penilaian yang berharga

l. Mencari alasan, kriteria dan prinsip yang membenarkan penilaian yang

berharga secara efektif

m. Mengevaluasi reliabilitas kesimpulan

7
Tiga komponen yang sangat penting dalam berfikir kritis meliputi:

pengetahuan, kemampuan untuk berubah dan beradaptasi, serta kemampuan untuk

membuat keputusan. Metoda ini meningkatkan sikap aktif bertanya dan meliputi

cara berpikir otonom, kreatif, adil yang berfokus pada upaya meyakini dan

bertindak. Berfikir kreatif meliputi sikap dan keterampilan kognitif, untuk bisa

berpikir kritis seseorang harus memiliki keterampilan dan termotivasi untuk

menggunakan sikap yang saling berhubungan dan terintegrasi, antara lain berpikir

secara mandiri dan kerendahan hati (kesadaran mengenai keterbatasan

pengetahuan diri sendiri), keberanian, intergitas, keuletan, empati, berpikiran

terbuka dan mengeksplorasi pemikiran dan perasaan. Keterampilan kognitif

termasuk proses penjelasan yang logis, empat tipe penjelesan mencakup deduktif,

induktif, informal dan praktik.

Berpikir kritis merupakan kunci untuk membuat penilaian kritis yang akurat

dengan menggunakan proses keperawatan.Dalam praktik keperawatan, perawat

mengumpulkan data dari berbagai sumber catatan, observasi, wawancara dan

pertanyaan, kemudian data dikelompokkan, dianalisa dan membuat perencanaan

asuhan keperawatan yang mencakup evaluasi.

Kreatifitas dalam berpikir kritis merupakan proses menemukan sesuatu yang

baru dan memerlukan suatu rangsangan dari lingkungan. Sebagai perawat,

dinyatakan berpikir kreatif jika seorang perawat mampu menemukan hal baru

dengan mempertimbangkan manfaat, tujuan dan melahirkan atau menata kembali

ide yang lama membentuk suatu ide yang baru.

Asuhan keperawatan maternitas diberikan kepada wanita mulai prakonsepsi,

8
kehamilan, persalinan hingga nantinya tumbuh dan berkembang menjadi dewasa.

Manajemen asuhan keperawatan yang diberikan kepada sasaran tersebut akan

terkait dengan semua konsep diatas. Manajemen tersebut diberikan sesuai dengan

masalah yang ada pada sasaran dan cara nya pun akan berbeda sehingga menuntut

perawat untuk selalu memikirkan hal-hal baru agar tata cara yang diberikan

berbeda-beda.

Seorang perawat yang professional harus memiliki karakteristik dalam

berpikir kritis. Hal ini meliputi perawat mampu mempertimbangkan sesuatu

sesuai dengan alasan yang rasional dan logis, bersifat reflektif, mampu

menganalisis, mensintesis, mengevaluasi bukti-bukti yang ada terkait masalah

yang akan dipecahkan, memiliki kemampuan pemecahan masalah (problem

solvig). Karakteristik lainnya menurut beberapa ahli adalah seorang perawat

mampu membuat suatu kesimpulan dari berbagai informasi yang diperoleh, dari

berbagai hasil pemeriksaan yang telah dikumpulkan dengan adanya bukti,

membuat argument yang beralasan untuk mendukung kesimpulan dan

menjelaskan pola fikir yang telah terbentuk dari hasil kegiatan langkah-langkah

karakteristik sebelumnya.

Cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis diantaranya pertama

adalah membaca dengan kritis. Untuk berpikir secara kritis, seorang perawat harus

bisa membaca dengan kritis pula. Semua informasi yang didapat dari berbagai

sumber harus dipikirkan secara kritis, disesuaikan dengan kondisi klien disaat

memberikan suatu asuhan. Membaca kritis berarti menerapkan keterampilan

berpikir kritis seperti mengamati, menghubungkan teks dengan konteksnya,

mengevaluasi teks dari logika dan kredibilitasnya, merefleksikan kandungan teks

9
dengan pendapat sendiri dan membandingkan tes yang satu dengan yang lainnya

yang memiliki keterkaitan.

Cara kedua adalah menulis dengan kritis. Seorang perawat yang telah

melakukan membaca dengan kritis harus menuliskan semua pemahaman yang ada

dalam bentuk tulisan. Salah satu contohnya adalah dokumentasi dalam

manajemen asuhan kebidanan. Dokumentasi tersebut merupakan suatu media bagi

profesi bidan untuk menuangkan semua asuhan yang telah diberikan dan menjadi

acuan untuk asuhan berikutnya.

Cara ketiga adalah meningkatkan analisis dari yang dibaca dan ditulis.

Asuhan keperawatan yang telah dituliskan dapat menjadi bahan diskusi untuk

dievaluasi atau mencari penyelesain masalah atau mendiskusikan hal terburuk

yang mungkin terjadi.

Cara keempat adalah mengembangkan kemampuan observasi. Observasi atau

mengamati suatu kondisi klien akan memudahkan seorang perawat untuk menarik

kesimpulan dari kondisi klien yang diamati. Pengamatan tersebut dikritisi dan

pengamatan yang di dapatkan bisa menjadi acuan untuk menarik kesimpulan yang

berdampak pada pembuatan keputusan.

Cara kelima yaitu meningkatkan rasa ingin tahu, kemampuan bertanya dan

refleksi. Pengajuan pertanyaan yang bermutu yaitu pertanyaan yang tidak

memiliki jawaban benar atau salah atau pertanyaan yang mengharuskan perawat

menjelaskan sehingga memperbanyak berpikir.

Berpikir kritis memungkinkan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien

sesuai dengan data yang di dapatkan, mampu mempertimbangkan alternatif,

sehingga asuhan keperawatan klien berkualitas tinggi dan berpikir reflektif berarti

10
perawat bukan hanya menerima laporan dan tugas melakukan asuhan keperawatan

lanjutan tanpa pemahaman yang signifikan dan evaluasi.

Perawat sebagai praktisi maupun dalam pendidikan harus menggunakan

unsur-unsur dasar dalam berpikir kritis agar asuhan keperawatan maternitas yang

akan diberikan berkualitas. Unsur pertama dalam berpikir kritis adalah konsep.

Seorang perawat harus memahami konsep dasar manajemen asuhan keperawatan,

konsep dasar keperawatan baik definisi, aturan yang mengikat atau etika profesi

dan prinsip prinsip dari konsep keperawatan tersebut.

Unsur kedua adalah asumsi, yaitu dugaan sementara oleh perawat terhadap

kasus keperawatan maternitas yang ditangani. asumsi akan menjadi diagnosa

nyata setelah perawat melakukan pengumpulan data subjektif dan objektif secara

akurat dan diolah dengan berpikir kritis, analisis dan logis.

Unsur ketiga adalah implikasi dan konsekuensi. Perawat melakukan suatu

tindakan dan bertanggung jawab untuk setiap konsekuensi yang timbul dari

masing-masing tindakan yang telah dilakukan karena setiap tindakan memiliki

alasan atau rasionalnya.

Unsur keempat adalah tujuan, manajemen asuhan keperawatan harus jelas

tujuan dan rasional

Unsur kelima adalah pertanyaan atas isu yang ada. perawat dalam melakukan

manajemen asuhan keperawatan harus memecahkan semua pertanyaan atau isu

yang ada.

Unsur keenam adalah informasi akurat, yaitu manajemen asuhan keperawatan

harus didapat dari data yang akurat, jelas sumber, fakta ataupun melakukan

observasi langsung.

11
Unsur ketujuh adalah interpretasi. Manajemen asuhan keperawatan akan

memberikan hasil akhir sehingga dapat mengambil keputusan terhadap asuhan

kebidanan yang diberikan

12
BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

A. Sinpulan

Berpikir kritis merupakan suatu proses yang berjalan secara

berkisinambungan menjakup interaksi dari suatu rangkayan pikiran dan presepsi.

Dalam penerapan pembelajaran pemikiran kritis di pendidikan keperawatan,

dapat digunakan tiga model, yaitu: feeling, vision model, dan examine model.

Perawat maternitas dan perinatal harus berfikir dalam semua aspek praktik

keperawatan untuk mendapat hasil yang terbaik. Pengetahuan,sikap dan

keterampilan yang didapat saat menjadi pelajar, aplikasi hasil penelitian dan

standar asuhan keperawatan.

B. Saran

Bagi mahasiswa pendidikan keperawatan diharapkan mampu meningkatkan

keterampilan dalam keperawatan maternitas guna untuk meningkatkan

pengetahuan dalam keperawatan maternitas sehingga mampu memberikan asuhan

keperawatan maternitas dengan menerapkan dasar berfikir kritis dan memberikan

sesuatu yang berbeda-beda dalam melakukan asuhan keperawatan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Aldina.2016.Berpikir kritis dasar bidan dalam manajemen asuhan kebidanan.FK-


UNAND.Padang

Potter PA & Perry AG. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep,
Proses dan Praktik Edisi 4, Jakarta: EGC.

Tarihoran, Y. (2019). Keterampilan Befikir Kritis Dalam Memberi Asuhan


Keperawatan. Retrieved from https://osf.io/6kydr/download/?
format=pdf

14