Anda di halaman 1dari 13

BAB I

KONSEP DASAR MEDIS

A. Defenisi

Karsinoma Sel Skuamosa merupakan salah satu jenis kanker yang berasal dari

lapisan tengah epidermis. Jenis kanker ini menyusup ke jaringan di bawah kulit

(dermis). Kulit yang terkena tampak coklat kemerahan dan bersisik atau

berkerompeng dan mendatar, kadang menyeruapai bercak pada psoriasis

dermatitis atau infeksi jamur.

Karsinoma sel skuamosa dapat tumbuh dalam setiap epitel berlapis skuamosa

atau mukosa yang mengalami metaplasia skuamosa. Jadi bentuk kanker ini dapat

terjadi di lidah, bibir, esophagus, serviks, vulva, vagina, bronkus atau kandung

kencing. Pada permukaan mukosa mulut atau vulva, leukoplakia merupakan

predisposisi yang penting. Tetapi kebanyakan karsinoma sel skuamosa tumbuh di

kulit (90-95%). Sistem yang sering digunakan dalam klasifikasi stadium kanker

adalah sistem tumor-nodus-metastase (TNM), yaitu T menunjukkan besarnya

tumor primer (T1 = kecil; T4 = masif), N untuk metastase ke kelenjar getah

bening dan M untuk menentukan adanya metastase ke organ tempat lain.

B. Etiologi

Faktor-faktor etiologi terbanyak yan berkaitan dengan kaesino sel skuamosa

ialah pemakaian tembakau, konusmsi alcohol dan virus-vurus (kurang jelas).

Termasuk tembakau yang dibakar maupun yang tidak dibakar, seperti dihirup dan

mungkin juga, sirih yang dikunyah (kebiasaan di india, Myanmar dan Pakistan).
Walaupun sebagai besar penderita perokok dan peminum alcohol, sebanyak 10%

ppenderita karsinoma sel skuamosa tidak mengaku menggunakan tembakau atau

alcohol; orang-orang ini cenderung pria atau wanita yang lebih tua.

C. Patofisiologi

Karsinoma sel skuamosa dapat tumbuh de novo, tetapi lebih sering suatu proses

evolusi yang mirip dengan yang tampak pada serviks uteri. Perubahan pra kanker

dalam mulut menjelma sebagai dua bantuk klinik. Bercak putih, datar yang tidak

diketahui penyebabnya selain yang ada hubungan dengan pemakaian tembakau

dan tidak hilang bila dikerok, disebut leokoplakisa. Bercak-bercak merah yang

tidak ada hubugan dengan rangsangan radang eritroplakia.

Karsinoma skuamosa invasive kebanyakan didapati pada tepi lateral lidah dan

dasar mulut; sangat jarang pada palatum dan dorum lidah. Pulau-pulau tumor

yang invasive bermetastasis melalui pembuluh darah limfa dan mengenai kelenjar

getah bening supraomohiod dan servikal. Penyebaranya melalui pembuluh darah

merupakan skuele terakhir dan biasanya sebagai akibat, metastasis kelenjar getah

bening yang menjalar ke duktus torakikus masuk vena sistemik

D. Tanda dan Gejala

Karsinoma sel skuamosa invasif secara klinik ditandai lesi yang ulseratif dan

induratif. Sering daerah ulserasi menunjukkan tepi melingkar, melipat dan mukosa

yang berdekatan dapat menunjukkan batas-batas yang tampak leukoplakia dan

atau eritroplakia. Bila kelenjar servikal yang terkena metastasis sudah mencapai

dimensi cukup besar, dapat diraba, membengkak dan melekat (berbeda dengan
limadenopati yang dapat digerakkan, lunak dan nyeri tekan bila sebagai akibat

penyakit radang).

Secara mikroskopik, karsinoma skuamosa menunjukkan sarang- sarang dan

pulau-pulau sel epitel invasif dengan berbagai derajat diferensiasi (misalnya

keratinisasi). Stroma jaringan ikat biasanya memiliki infiltrasi sel-sel radang

mononuklear. Derajat radang dapat merupakan ukuran reaktivitas imun terhadap

antigen-antigen tumor. Beberapa penelitian menunjukkan prognosis lebih baik

pada tumor-tumor dengan radang hebat.

E. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang

Diagnosa ditegakkan melalui pemeriksaan klinis dan pemeriksaan mikroskopis

melalui biopsi. Seringkali, biopsi ditunda karena keputusan dari dokter maupun

pasien, terdapat infeksi atau iritasi lokal. Tetapi, penundaan tersebut tidak boleh

lebih dari 3-4 minggu. Kadang, luasnya lesi menyulitkan untuk melakukan biopsi

yang tepat untuk membedakan displasia atau kanker. Oleh sebab itu tambahan

penilaian klinis lainnya dapat membantu mempercepat biopsi dan memilih daerah

yang tepat untuk melakukan biopsi. Penggunaan cairan toluidine blue sangat

berguna sekali, karena keakuratannya (lebih dari 90%), murah, cepat, sederhana

dan tidak invasif.

Mekanisme kerjanya dengan afinitas atau menempelnya toluidine blue dengan

DNA dan sulfat mukopolisakarida, sehingga dapat dibedakan apakah terjadi

displasia atau keganasan dengan epitel yang normal dan lesi jinak. Toluidine blue

berikatan dengan membran mitokondria , dimana terikat lebih kuat pada epitel sel

displasia dan sel kanker daripada dengan jaringan normal.


Sitologi eksfoliatif telah membantu dalam menentukan diagnosa. Namun,

kesulitan pengumpulan sel, waktu yang lama dan biaya yang mahal telah

membatasi penggunaannya. Teknik brush biopsy secara luas digunakan pada

sitologi dengan pengumpulan sel yang mewakili keseluruhan epitel berlapis

skuamosa. Prosedurnya tidak menyebabkan sakit, oleh sebab itu tidak perlu

penggunaan anestetikum.

F. Komplikasi

Karsinoma sel skuamosa tidak diobati dapat merusak jaringan sehat di

dekatnya, menyebar ke kelenjar getah bening atau organ lainnya, dan dapat

berakibat fatal, meskipun hal ini jarang terjadi. Risiko karsinoma sel skuamosa

agresif dapat ditingkatkan dalam kasus di mana kanker: Sangat besar atau

mendalam; Melibatkan selaput lendir, seperti bibir; Terjadi pada orang dengan

sistem kekebalan yang lemah, seperti seseorang yang mengambil obat anti-

rejection setelah transplantasi organ

G. Penatalaksanaan

Evaluasi yang cermat terhadap gejala dan simptom sangat penting, termasuk

didalamnya biopsi dan follow- up yang rutin. Pembedahan dilakukan dengan

biopsi insisi menggunakan skapel bila lesi berukuran 5 mm. Teknik ini cepat,

tidak banyak merobek jaringan dan hanya diangkat sedikit sampling. Apabila

ukuran tumor kecil, dapat dilakukan biopsi insisi ataupun eksisi, apabila sulit

membedakan antara displasia dengan karsinoma, dianjurkan menggunakan biopsi

insisi.
Jika hasil biopsi tersebut menunjukkan sel karsinoma skuamosa (terdapat

invasi sel displasia ke jaringan ikat), klinisi dapat merencanakan terapi kanker.

Terapi yang potensial diantaranya pembedahan atupun terapi radiasi. Kadang

kemoterapi digunakan sebagai tambahan, namun beberapa tumor kurang responsif

terhadap kemoterapi. Pemilihan terapi tergantung dari stadium kanker, stadium

dini (kecil dan terlokalisasi), stadium lanjut (besar dan menyebar). Evaluasi

menggunakan teknik pencitraaan yang lebih baik kualitasnya seperti MR

(magnetic resonance) dan CT (computed tomography) sangat dibutuhkan. Teknik

terbaru yaitu menggunakan PET (positron emission tomography), bisa

menentukan metastase ke kelenjar limfe. Teknik ini berguna bagi klinisi untuk

membedakan batas dan rencana terapi, juga menentukan prognosisnya.

Follow-up berkala perlu dilakukan pada lesi prekanker, bahkan bila lesi

tersebut menghilang, dan bila terus berlanjut perlu dilakukan pembedahan. Pada

tepi lesi yang secara klinis dan mikroskopis terlihat normal, bisa menjadi

permasalahan dan bisa terjadi rekurensi.

Penggunaan teknik laser sangat berguna pada terapi kanker dan dapat

mengontrol leukoplakia. Pencegahan menggunakan analog vitamin A (retinoid)

dan antioksidan lain (beta karoten, vitamin C, E) kurang efektif, berdasarkan teori,

antioksidan tersebut dapat membantu menjaga sel-sel tubuh dari radikal bebas,

yang merupakan promotor terjadinya mutagenesis kromosom dan karsinogenesis.

Yang menjadi permasalahan pada penggunaan antioksidan ini adalah toksisitasnya

dan rekurensinya ketika antioksidan ini tidak dilanjutkan. Efektifitas antioksidan

tergantung pada dosis, regimen dan individu pasien.


Dapat pula dengan pendekatan nutrisional dengan diet kaya buah-buahan dan

sayur-sayuran, karena banyak mengandung antioksidan dan protein supresor-sel

yang membantu mengurangi aktifitas mutagenesis dan karsinogenesis.

Pengenalan dan pengontrolan lesi pre-kanker efektif mengurangi angka

morbiditas dan mortalitas kanker mulut

H. Prognosis

Prognosis karsinoma sel skuamosa sangat tergantung kepada : diagnosis; cara

pengobatan dan keterampilan; dan kerja sama Antara orang yang sakit dengan

dokter. Prognosis yang paling buruk bila tumor tumbuh di atas sel kulti normal

(de nova), sedangkan tumor yang ditemulam di kepala dan leher, prognosisinya

lebih baik dari pada ditempat lainnya. Demikian juga prognosis yang ditemukan

diekstremitas bawah, lebih buruk dari pada di ekstremitas atas.


BAB II
ASKEP
A. Pengkajian

Pengkajian keperawatan adalah indentifikasi/analisis masalah (diagnosa

keperawatan), perencanaan implementasi dan evaluasi. Proses keperawatan

menyediakan pendekatan pemecahan masalah yang logis dan teratur untuk

memberikan asuhan keperawatan sehingga kebutuhan pasien terpenuhi secara

komprenhensif dan efektif

a. Aktivitas / istirahat

Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari ;

adanya factor – factor yang mempengaruhi tidur, keterbatasan partipasi

dalam hobi, latihan, pekerjaan atau profesi denganpemajanan karsinogen

lingkungan , tingkat stress tinggi.

b. Sirkulasi

Perubahan pada tekanan darah.

c. Integritas ego

Masalah tentang perubahan penampilan Menyangkal diagnosis , perasan

tidak berdaya, putus asa , tidak mampu, tidak bermakna dan depresi.

d. Eliminasi

Perubahan pada pola defekasi, Perubahan eliminasi urinarius


e. Makanan / cairan

Kebiasaan diet buruk misal : rendah serat, tinggi lemak, aditif, dan bahan

pengawet. Anoreksia , intoleransi makanan, Penurunan pada berat badan.

f. Nyeri / kenyamanan

Ada nyeri, atau derajat bervariasi misalnya : ketidak nyamanan ringan

sampai nyeri berat.

g. Keamanan

Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen., Pemajanan matahari lama /

berlebihan.

h. Seksualitas

Masalah seksual misalnya dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat

kepuasaan.

i. Interaksi sosial

Ketidak adekuatan / kelemahan system pendukung.

B. Diganosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan Agen-agens penyebab cedera (biologis,kimia,

fisik dan psikologis)

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan, terputusnya

kountiunitas jaringan

3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri

4. Gangguan citra tubuh berhubugan dengan perubahan penampilan,

sekunder kehilangan anggota tubuh, hospitalisasi, pemedahan, kemoterapi

atau radiasi
5. Ansietas berhubungan dengan diagnosis, prognosis penyakit

C. Intervensi keperawatan

Diagnosa
No Nursing Outcome Care (NIC) Nursing Intervention Care (NIC)
Keperawatan

1 Nyeri berhubngan Tujuan : Mandiri


- Pain Level, Pain Management
dengan Agen-agens
- Pain control, - Lakukan pengkajian nyeri secara
penyebab cedera
- Comfort level komprehensif termasuk derajat,
(biologis,kimia, fisik Kriteria Hasil : lokasi, karakteristik, durasi,
- Mampu mengontrol nyeri frekuensi, kualitas dan faktor
dan psikologis)
(tahu penyebab nyeri, mampu presipitasi
menggunakan tehnik - Observasi reaksi nonverbal dari
nonfarmakologi untuk ketidaknyamanan
mengurangi nyeri, mencari - Gunakan teknik komunikasi
bantuan) terapeutik untuk mengetahui
- Melaporkan bahwa nyeri pengalaman nyeri pasien
berkurang dengan - Kaji kultur yang mempengaruhi
menggunakan manajemen respon nyeri
nyeri - Evaluasi pengalaman nyeri masa
- Mampu mengenali nyeri lampau
(skala, intensitas, frekuensi - Bantu pasien dan keluarga untuk
dan tanda nyeri) mencari dan menemukan
- Menyatakan rasa nyaman dukungan
setelah nyeri berkurang - Kontrol lingkungan yang dapat
- Tanda vital dalam rentang mempengaruhi nyeri seperti suhu
normal ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
- Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Ajarkan tentang teknik
mengurangi nyeri dengan non
farmakologi (relaksasi dan
distraksi)
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian analgetik
untuk mengurangi nyeri
- Kolaborasi dengan tim kesehatan
lainnya dengan terapi-terapi
alternative lain, seperti ultrasound,
diatermia, menggunakan unit
TENS
2 Kerusakan integritas Tujuan : Mandiri
Tissue Integrity : Skin and - Anjurkan pasien untuk
kulit berhubungan
Mucous Membranes menggunakan pakaian yang
dengan terputusnya,
Kriteria Hasil : longgar
gamgguan pada - Integritas kulit yang baik bisa - Hindari kerutan padaa tempat
dipertahankan (sensasi, tidur
kountiniunitas
elastisitas, temperatur, - Jaga kebersihan kulit agar tetap
jaringan
hidrasi, pigmentasi) bersih dan kering
- Tidak ada luka/lesi pada kulit - Mobilisasi pasien (ubah posisi
- Perfusi jaringan baik pasien) setiap dua jam sekali
- Menunjukkan pemahaman - Monitor kulit akan adanya
dalam proses perbaikan kulit kemerahan
dan mencegah terjadinya - Oleskan lotion atau minyak/baby
sedera berulang oil pada derah yang tertekan
Mampu melindungi kulit dan - Monitor aktivitas dan mobilisasi
pasien
mempertahankan kelembaban
- Monitor status nutrisi pasien
kulit dan perawatan alami
Kolaborasi
- Kolaborasi pmberian antibiotik

3 Hambatan mobilitas Tujuan : Mandiri


Memperlihatkan mobilitas Pressure Management
fisik berhubungan
Kriteria Hasil : - Kaji kebutuhan terhadap bantuan
dengan Nyeri
Tidak mengalami gangguan: pelayanan kesehatan dirumah dan
- Keseimbangan kebutuhan terhadap peralatan
- Koordinasi pengobatan yang tahan lama
- Performa posisi tubuh - Ajarkan dan bantu pasien dalam
- Pergerakan sendi dan otot proses berpindah (misalnya ari
- Berjalan tempat tidur ke kursi)
Bergerak dengan mudah - Berika penguatan positif selama
aktifitas.
- Ajarkan pasien bagaimana
menggunakan postur dan
mekanika tubuh yang benar
melakukan aktivitas
- Dukung latihan ROM aktif atau
pasif jika diperlukan
-
4 Gangguan citra tubuh Tujuan : NIMandiri
Gangguan citra tubuh - Kaji dan dokumentasikan respon
berhubugan dengan
berkurang verbal dan nonverbal pasien
peruahan penampilan,
Kriteria Hasil : terhadap tubuh pasien
sekunder, kehilangan - Selalu menunjukan adaptasi - Identifikasi mekanisme yang
dengan ketunadayaan fisik digunakan oleh pasien
anggota tubuh,
- Penyesuaian psikososial ; - Tentukan harapan pasien
hospitalisasi,,
perubahan hidup, citra tubuh tentang citra tubuh
pembedahan, positif dan harga diri positif. - Pantau frekuensi pernyataan
kritik diri
kemoterapi atau - Ajarkan tentang cara merawat
dan perawatan diri, termasuk
radiasi
komplikasi kondisi medis.
- Rujuk ke pelayanan social
untuk merencanakan perawatan
dengan pasien dan keluarga
- Beri dorongan kepada pasien
dan keluarga untuk
mengungkapkan perasaan, dan
untuk berduka jika perlu.
- Beri dorongan kepada pasien
untuk mempertahankan
kebiasaan berhias sehari-hari
yang rutin dilakukan

Ansietas berhubungan Tujuan : Mandiri


- Anxiety control Anxiety Reduction (penurunan
dengan diagnosis,
- Coping kecemasan)
prognosis penyakit
Kriteria Hasil : - Gunakan pendekatan yang
- Klien mampu menenangkan
mengidentifikasi dan - Nyatakan dengan jelas harapan
mengungkapkan gejala cemas terhadap pelaku pasien
- Mengidentifikasi, - Jelaskan semua prosedur dan apa
mengungkapkan dan yang dirasakan selama prosedur
menunjukkan tehnik untuk - Temani pasien untuk memberikan
mengontol cemas keamanan dan mengurangi takut
- Vital sign dalam batas normal - Berikan informasi faktual
- Postur tubuh, ekspresi wajah, mengenai diagnosis, tindakan
bahasa tubuh dan tingkat prognosis
aktivitas menunjukkan - Lakukan back / neck rub
berkurangnya kecemasan - Dengarkan dengan penuh
perhatian
- Identifikasi tingkat kecemasan
- Bantu pasien mengenal situasi
yang menimbulkan kecemasan
- Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
- Instruksikan pasien menggunakan
teknik relaksasi
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian obat untuk
mengurangi kecemasan