Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 10 No 3, Hal 297 - 306, Juli 2020 p-ISSN 2089-0834

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal e-ISSN 2549-8134

PERILAKU PENGGUNAAN PESTISIDA BERHUBUNGAN DENGAN KELUHAN


KESEHATAN PETANI PADI
Risma Widianingsih*, Ratna Muliawati, Mushidah
Program Studi Kesehatan Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal, Jln laut 31A Kendal, Jawa
Tengah, Indonesia 51311
*rismawidia.rw@gmail.com

ABSTRAK
Penggunaan pestisida yang tidak sesuai dengan aturan dapat menyebabkan keluhan kesehatan pada
petani. Tujuan penelitian untuk menganalisis perilaku penggunaan pestisida terhadap keluhan
kesehatan pada petani padi di Desa Kebonsari Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal. Penelitian ini
merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam
penelitian ini berjumlah 277 petani, dengan jumlah sampel 67 responden. Sampel diambil dengan
teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi dan kuesioner. Data dianalisis
menggunakan uji Fisher Exact Test. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
significant antara perilaku penggunaan pestisida dengan keluhan kesehatan yang dirasakan petani (p
value = 0,000). Penyuluhan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan dalam
penggunaan pestisida yang aman dan tepat dan sesuai prosedur.

Kata kunci: keluhan kesehatan; pestisida; proses penggunaan pestisida

PESTICIDE USE BEHAVIOR RELATED TO RICE FARMER HEALTH COMPLAINTS

ABSTRACT
The use of pesticides that are not in accordance with the rules can cause health complaints to
farmers. This study aims to analyze the behavior of pesticide use on health complaints on rice farmers
in the Village Kebonsari District Rowosari Kendal. This research is an observational analytic
research with cross sectional approach (cross section). The population in this study amounted to 277
farmers with a total sample of 67 respondents. Samples were taken by purposive sampling technique
from all farmer population of pesticide user in KebonsariVillag. Data were collected through
observation and questionnaires.The results obtained were analyzed using Fisher Exact Test. The
results showed that there was a significant correlation between pesticide use behavior with health
complaints felt by farmers(p value = 0.000.

Keywords: health complaints; pesticide; the process of using pesticides

PENDAHULUAN dengan kematian. Pestisida dalam bentuk


Perkiraan Word Health Organization cairan sangat berbahaya bagi kulit, karena
(WHO) pada tahun 2009 penggunaan dapat masuk ke dalam jaringan tubuh
pestisida di Indonesia cukup tinggi. Pada melalui pori kulit (Girsang, 2009).
tahun 2008 tercatat sekitar 1.336 formulasi
dan 402 bahan aktif pestisida telah Perilaku penggunaan pestisida yang
didaftarkan untuk mengendalikan hama di berlebihan menyebabkan masalah baru
berbagai bidang komoditi. Keluhan akibat yakni adanya residu pestisida pada produk
pestisida pada petani sering terjadi. Mereka pertanian dan pada akhirnya
dapat mengalami pusing – pusing ketika membahayakan petani dan masyarakat luas
sedang menyemprot maupun sesudahnya, baik keselamatan maupun kesehatan
atau muntah – muntah, mulas, mata berair kerjanya. Selama ini penggunaan pestisida
kulit terasa gatal – gatal dan menjadi luka, oleh petani bukan atas dasar keperluan
dan ada yang sampai kejang – kejang, secara indikatif, namun dilaksanakan secara
pingsan dan tidak sedikit kasus berakhir “cover blanket system” artinya ada atau

297
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 10 No 3, Hal 297- 306, Juli 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

tidak hama tanaman, racun berbahaya ini dimulai dari jam 07.00 sampai jam 16.00
terus disemprotkan ke tanaman. Selain itu sore dengan jam istirahat dari jam 12.00
teknik penyemprotan yang kadang sampai jam 13.00. Penelitian ini bertujuan
melawan arah angin, menyebabkan petani untuk menganalisis perilaku penggunaan
menghirup pestisida tanpa disadarinya, pestisida terhadap keluhan kesehatan pada
penggunaan pestisida tidak sesuai dengan petani padi di Desa Kebonsari Kecamatan
dosis dan takaran yang dianjurkan, Rowosari Kabupaten Kendal.
mengaduk campuran pestisida dengan
tangan (Mahyuni, 2015). METODE
Penelitian ini dilakukan di Desa Kebonsari
Berdasarkan survey awal yang dilakukan Kecamatan Rowosari Kabupaten
dengan cara observasi dan wawancara Kendal.Penelitian ini merupakan penelitian
kepada petani padi yang menggunakan observasional analitik dengan pendekatan
pestisida di Desa Kebonsari Kecamatan cross sectional (potong lintang). Teknik
Rowosari Kabupaten Kendal. Observasi pengambilan sampel pada penelitian ini
yang dilakukan kepada 5 pekerja, terdapat dengan purposive sampling.Dengan jumlah
5 petani padi mengeluhkan sakit kepala, sampel 67 responden.Alat pengumpulan
mual dan badan lemas setelah melakukan data yang digunakan dalam penelitian ini
penyemprotan pestisida pada tanaman padi. adalah kuesioner yang telah diuji validitas
Petani padi tersebut mulai pekerjaannya dan reliabilitas dengan menggunakan skala
dimulai dari menyiapkan pestisida yang Guttman.Analisis data dilakukan secara
akan di gunakan ke dalam alat (tank) dan univariat dan bivariat.
kemudian melakukan penyemprotan. Jam
kerjanya tergantung dengan luas sawah HASIL
yang ditanami padi. Biasanya rata – rata Hasil penelitian sebagai berikut.

Tabel 1.
Karakteristik Responden (n=67)
Karakteristik f %
Umur
≤50 35 52,2
>50 32 47,8
Jam Kerja
≤8 51 76,1
>8 16 23,9
Lama Bertani
≤30 34 50,7
>30 33 49,3
Tingkat Pendidikan
Tidak Sekolah 2 3,0
SD 17 25,4
SMP 18 26,9
SMA 28 41,8
Sarjana 2 3,0
Perilaku Penggunaan Pestisida
Baik 7 10,4
Kurang Baik 60 89.6
Keluhan Kesehatan Pada Petani
Pernah mengalami keluhan 44 65,7
Tidak pernah mengalami keluhan 23 34,3

298
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 10 No 3, Hal 297 - 306, Juli 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Tabel 2.
Deskripsi Statistik Hubungan Perilaku Penggunaan Pestisida dengan Keluhan Kesehatan
Petani Padi (n=67)
Perilaku Penggunaan Keluhan Kesehatan Petani
Pestisida Pernah Mengalami Tidak Pernah Mengalami Total
Keluhan Keluhan
f % f % f %
Kurang Baik 44 65,7 16 23,9 60 89,6
Baik 0 0 7 10,4 7 10,4
Tabel 1 terlihat bahwa sebagian besar penggunaan pestisida yang baik dan pernah
responden di Desa Kebonsari Kecamatan mengalami keluhan kesehatan sebanyak 0
Rowosari dengan umur ≤ 50 sebanyak 35 responden (0%) sedangkan responden yang
responden (52,2%). Responden di Desa memiliki perilaku baik dalam penggunaan
Kebonsari Kecamatan Rowosari dengan pestisida dan tidak pernah mengalami
jam kerja ≤ 8 jam/hari sebanyak 51 keluhan kesehatan sebanyak 7 responden
responden (76,1%). Responden di Desa (10,4%).
Kebonsari Kecamatan Rowosari dengan
lama bertani ≤30 tahun sebanyak 34 Analisisi yang digunakan dalam penelitian
responden (50,7%). Responden dengan ini dengan menggunakan uji chi square
tingkat pendidikan SMA sebanyak 28 dengan tingkat signifikasi <0,05. Setelah
responden (41,8%). Sebagian besar dilakukan perhitungan ternyata uji dari
responden di Desa Kebonsari Kecamatan hasil tersebut tidak memenuhi syarat uji chi
Rowosari dengan perilaku kurang baik square, hal ini ditunjukkan dengan adanya
sebanyak 60 responden (89,6%). Sebagian 2 sel nilai harapan yang berjumlah <5 yaitu
besar responden di Desa Kebonsari 50%, maka menggunakan uji alternatif
Kecamatan Rowosari Pernah Mengalami yaitu Fisher’s Exact Test didapatkan nilai p
Keluhan Kesehatan sebanyak 44 responden – value sebanyak 0,000 (p<0,05) yang
(65,7%). berarti bahwa ada hubungan yang
signifikan antara perilaku penggunaan
Hubungan Perilaku Penggunaan pestisida terhadap keluhan kesehatan petani
Pestisida dengan Keluhan Kesehatan padi di Desa Kebonsari Kecamatan
Petani Padi Rowosari Kabupaten Kendal.
Adapun hubungan perilaku penggunaaan
peptisida dengan keluhan kesehatan petani PEMBAHASAN
padi dapat dilihat pada tabel 2 berikut. Karakteristik Responden
Hasil penelitian masih terdapat 32 orang
Tabel 2 hasil penelitian hubungan perilaku petani yang berada dalam rentang umur
penggunaan pestisida terhadap keluhan lanjut (>50 tahun).Keadaan ini
kesehatan petani padi di Desa Kebonsari menunjukkan risiko keracunan pestisida
Kecamatan Rowosari dari tabel 4.9 sangat berpotensi terjadi. Ditambah lagi
didapatkan sebagian besar responden yang pekerjaan sebagai penyemprot sudah
memiliki perilaku penggunaan pestisida dijalaninya selama berpuluh-puluh tahun
yang kurang baik dan pernah mengalami (>30 tahun). Pekerja petani padi pengguna
keluhan kesehatan sebanyak 44 responden pestisida yang tidak sekolah berjumlah 2
(65,7%) sedangkan responden yang pekerja (3,0%), dalam melakukan
memiliki perilaku penggunaan pestisida pekerjaan sebagai petani padi pengguna
yang kurang baik dan tidak pernah pestisida tidak membutuhkan keahlian
mengalami keluhan kesehatan sebanyak 16 khusus, sehingga latar belakang pendidikan
responden (23,9%) dan sebagian kecil tidak diutamakan.
responden yang memiliki perilaku

299
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 10 No 3, Hal 297- 306, Juli 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Hasil penelitian petani melakukan semakin ampuh membunuh hama tanaman


penyemprotan pestisida sekitar 5 sampai 9 dan tanaman semakin subur.
jam per hari sebanyak 67 petani (100%).
Pekerja yang bekerja dalam jangka waktu Cara penggunaan pestisida itu sendiri harus
yang cukup lama dengan pestisida akan benar sesuai aturan. Peraturan pemerintah
mengalami keracunan yang menahun, No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan
artinya makin lama bekerja maka akan Tanaman sebagai penjabaran UU No.12
semakin bertambah jumlah pestisida yang Tahun 1992 memberikan pedoman
terabsorbsi dan mengakibatkan bagaimana penggunaan pestisida secara
menurunnya aktivitas cholinesterase. efektif, efisien serta dampak negatif
Menurut Permenaker No Per-03/Men1986 minimal bagi kesehatan manusia dan
pasal 2 ayat 2a dinyatakan bahwa untuk lingkungan. Pedoman tersebut tercantum
menjaga efek yang tidak diinginkan maka pada pasal 15 ayat (1) yang menyatakan
dianjurkan supaya tidak melebihi 4 jam bahwa “Penggunaan pestisida dalam rangka
sehari dalam seminggu berturut-turut bila pengendalian organisme pengganggu
menggunakan pestisida. Sementara WHO tumbuhan dilakukan secara tepat guna
menerapkan lama penyemprotan terpajan adalah ; tepat jenis, tepat dosis, tepat cara,
pestisida saat bekerja selama 5-6 jam per tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat tempat
hari dan setiap minggu harus dilakukan (Untung, 2007).
pengujian kesehatan termasuk kadar
cholinesterase darah. Penggunaan pestisida sebaiknya tidak
mencampur beberapa jenis dalam sekali
Perilaku Penggunaan Pestisida semprot tanpa melihat bahan aktif yang
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat dalam kemasan. Bila mencampur
petani di Desa Kebonsari Kecamatan hanya menurut pengalaman teman dan
Rowosari melakukan proses pencampuran ternyata bahan aktif yang digunakan sama
yang masih kurang tepat. Dalam walaupun berbeda merek dagangnya. Dapat
penggunaan pestisida perlu diperhatikan menyebabkan pemborosan dalam
jenis pestisida yang digunakan.Dalam menggunakan pestisida karena manfaatnya
aturannya dianjurkan bahwa penggunaan sama. Bahkan petani harus cermat dalam
pestisida pada satu tanaman adalah satu mencampur pestisida karena pestisida yang
jenis saja.Namun dikarenakan banyak dicampur dapat menurunkan daya racun
ragamnya dan organisme pengganggu atau bersifat sangat toksik sehingga
tanaman yang sering menyerang tanaman, berbahaya bagi kesehatan petani, konsumen
petani cenderung menggunakan beberapa dan lingkungan.Berdasarkan hasil
jenis pestisida baik secara berkala ataupun pengamatan, petani cenderung mencampur
sekaligus. pestisida berdasarkan coba-coba dan dari
pengalaman teman (sesama petani).
Pestisida yang paling banyak digunakan
oleh petani penyemprot pestisida di Desa Menurut Wudianto (2011), sewaktu
Kebonsari Kecamatan Rowosari mempersiapkan pestisida yang akan
merupakan campuran dari 2 jenis bahkan 4 disemprotkan, pilihlah tempat yang
jenis pestisida yaitu campuran insektisida sirkulasi udaranya lancar. Di tempat
dan fungisida, ada juga pencampuran tertutup, pestisida yang berdaya racun
beberapa jenis pestisida yang mempunyai tinggi terlebih yang mudah menguap, dapat
fungsi sama. Dari hasil penelitian, mengakibatkan keracunan melalui
responden mengatakan semua jenis pernapasan bahkan bisa mengakibatkan
pestisida dapat dicampur karena semakin kebakaran.Selain itu jangan biarkan anak-
banyak jenis pestisidanya maka akan anak berada disekitar lokasi ini.Buka tutup
kemasan dengan hati-hati agar pestisida

300
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 10 No 3, Hal 297 - 306, Juli 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

tidak berhamburan atau memercik hujan. Begitu juga dengan cara


mengenai bagian tubuh. Setelah itu tuang menyemprot pestisida. Diusahakan
dalam gelas ukur, timbangan atau alat sebaiknya para petani menyemprot dengan
pengukur lain dalam drum atau ember cara yang dapat menghindari kontak
khusus. Bukan wadah yang biasa untuk langsung dengan pestisida yang
keperluan makan, minum dan disemprotkan. Sebab itu pestisida harus
mencuci.Tambahkan air lagi sesuai dosis disemprotkan sesuai dengan tinggi
dan konsentrasi yang dianjurkan.Untuk tanaman.Semakin tinggi tanaman yang
pencampuran pestisida janganlah dalam disemprot maka semakin besar risiko
tangki penyemprot karena sudah dipastikan terpajan pestisida baik karena terpercik,
apakah pestisida dan air yang telah terciprat, terbawa aliran udara, ataupun
tercampur sempurna atau belum. Campuran kontak langsung.
yang kurang sempurna akan mengurangi
keefektifannya. Rata-rata penyemprot pestisida
menyemprotkan pestisida pada tanaman
Petani yang menggunakan jenis pestisida padi dari ukuran tanaman masih kecil
tabur dengan menggunakan ember sebagai sampai tanaman tumbuh besar, tetapi tinggi
tempat pestisida pada saat mencampurkan tanaman padi tidak terlalu tinggi hanya
pestsida menggunakan tangan dan setinggi perut petani. Metode atau cara
menaburkan pestisida juga menggunakan menyemprot petani sebagian besar dengan
tangan secara langsung, petani tidak arah ke bawah sesuai dengan tinggi
menggunakan sarung tangan dan masker tanaman. Penyemprotan biasanya dilakukan
sebagai alat pelindung. Petani yang mulai pukul 06.00–11.00 pagi dilanjutkan
menggunakan pompa gendong (tank) pada sore hari mulai pukul 13.00–16.00
sebagai media atau alat penyemprot sore bila diperlukan tergantung dengan luas
pestisida. Proses pencampuran pestisida sawah. Hal ini belum benar karena
dilakukan pada ember kecil dan kemudian Djojosumarto (2008) mengatakan
dituangkan ke pompa gendong (tank). Pada penyemprotan yang terlalu pagi atau terlalu
saat mencampur pestisida tersebut, petani sore menyebabkan pestisida yang
mengaduk pestisida menggunakan sendok menempel pada bagian tanaman sulit
kayu, ranting kayu, bahkan ada yang kering sehingga terjadi keracunan tanaman,
langsung menggunakan tangan. Alasan sedangkan penyemprotan pada siang hari
yang diutarakan pada petani rata-rata menyebabkan bahan aktif pestisida menjadi
karena hal tersebut sudah biasa dan tidak terurai oleh sinar matahari sehingga daya
ada pengaduk khusus pestisida sehingga bunuhnya menjadi berkurang. Waktu yang
petani menggunakan apa yang ada baik pas untuk melakukan penyemprotan
yang dibawa dari rumah ataupun yang ada pestisda yaitu pada pukul 08.00 -10.00 atau
disekitarnya. Kekurangan yang ditemui sore hari pukul 15.00 -18.00 WIB.
pada proses ini adalah minimnya
penggunaan alat pelindung diri. Pada saat Hasil pengamatan petani tidak
petani mencampur pestisida tidak menggunakan alat pelindung diri dengan
menggunakan alat pelindung diri seperti lengkap untuk menghindari bahaya
masker dan sarung tangan. tertumpah atau terpercik.Petani hanya
menggunakan baju lengan panjang dan topi
Penyemprotan pestisida merupakan proses atau caping.Dengan tidak lengkapnya
dimana pestisida digunakan sesuai dengan pemakaian pelindung diri kemungkinan
fungsi dan kebutuhannya. Hal-hal yang risiko terkena pestisida cukup tinggi
perlu diperhatikan dalam penggunaan terutama pada petani yang menggunakan
pestisida, di antaranya adalah keadaan pompa gendong (tank) sebagai media
angin, suhu udara, kelembaban dan curah penyemprot.Hal ini menunjukkan bahwa

301
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 10 No 3, Hal 297- 306, Juli 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

pengetahuan petani masihlah kurang dalam kemasan pestisida yang telah habis
tentang risiko bahaya pestisida sehingga pakai bisa saja mengalami reaksi dengan
bertindak dengan perilaku yang tidak udara dan mencemari lingkungan bahkan
aman.Sesuai dengan penelitian bahwa sikap membuat masyarakat terpapar dengan
dan tindakan petani yang kurang pestisida secara tidak langsung.Hal ini
mendukung adalah petani kurang setuju sesuai dengan pernyataan Sudarmo (1992)
terhadap pemakaian APD, karena dianggap bahwa pestisida harus disimpan di tempat
mengganggu dan kurang nyaman yang khusus dan dikunci agar jauh dari
digunakan.Disamping itu mereka jangkauan anak-anak dan tidak terkena
beranggapan bahwa APD tidak terlalu sinar matahari langsung.
penting untuk digunakan, karena mereka
menganggap selama menggunakan Keluhan Kesehatan Pada Petani
pestisida mereka baik-baik saja walaupun Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
tanpa menggunakan APD. sebagian besar responden pernah
mengalami keluhan kesehatan. Beberapa
Petani pada umumnya beranggapan bahwa keluhan yang dirasakan petani di Desa
menggunakan APD saat menangani Kebonsari Kecamatan Rowosari
pestisida adalah hal yang tidak praktis dan berdasarkan jenis pestisida yang digunakan
merepotkan.Bahkan, tidak jarang antara lain kulit kemerahan dan gatal yang
ditemukan petani yang mengaku bahwa sifatnya hilang bila tidak kontak dengan
mereka sudah kebal dan terbiasa dengan pestisida dan muncul kembali bila kontak
bau pestisida yang menyengat.Hal ini dapat dengan pestisida, iritasi kulit dimana kulit
terjadi karena minimnya pengetahuan kemerahan dan terasa panas dan batuk,
petani terkait keselamatan kerja. Disamping mual, sesak nafas hingga nafaf berbunyi.
itu, kegiatan penyuluhan dan informasi
pertanian yang sampai pada petani hanya Menurut Girsang (2009) keluhan akibat
memberikan pengetahuan tentang cara pestisida pada petani sering terjadi. Mereka
pemakaian dan manfaat pestisida untuk dapat mengalami pusing – pusing ketika
meningkatkat hasil panen. Dalam konteks sedang menyemprot maupun sesudahnya,
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), atau muntah – muntah, mulas, mata berair
salah satu pengendalian dampak negatif kulit terasa gatal – gatal dan menjadi luka,
pestisida yang dapat dilakukan adalah dan ada yang sampai kejang – kejang,
dengan menggunakan Alat Pelindung Diri pingsan dan tidak sedikit kasus berakhir
(APD).Berdasarkan Pedoman Bimbingan dengan kematian. Pestisida dalam bentuk
Penggunaan Pestisida (Kementrian cairan sangat berbahaya bagi kulit, karena
Pertanian RI, 2011), jenis APD yang dapat masuk ke dalam jaringan tubuh
diperlukan bagi pengguna pestisida adalah melalui pori kulit.
pakaian yang menutupi tubuh, penutup atau
pelindung kepala, pelindung mata, sepatu Akibat yang ditimbulkan oleh pestisida
boot, masker, dan sarung tangan. adalah keracunan, baik akut maupun
kronis.Keluhan yang dirasakan oleh petani
Hasil penelitian menunjukkan petani yang bersifat muncul ketika sedang atau
membuang wadah pestisida yang sudah pun setelah menggunakan pestisida dapat
digunakan di sembarang tempat dan menimbulkan keracunan akut maupun
membuang sisa pestisida di saluran air atau kronis jika tidak segera dilakukan tindakan
di buang di kebun atau tanah dibelakang pengobatan dan pencegahan selanjutnya.
rumah yang terbuka.Seharusnya wadah Keracunan akut dapat menimbulkan gejala
pestisida yang sudah digunakan haruslah sakit kepala, pusing, mual, muntah dan
dibuang dan tidak tersebar dimana- sebagainya.Keracunan pestisida yang akut
mana.Sebab sisa-sisa pestisida yang ada di berat dapat menyebabkan penderita tidak

302
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 10 No 3, Hal 297 - 306, Juli 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

sadarkan diri, kejang-kejang bahkan petani penyemprot menggunakan pestisida


kematian. maka diasumsikan semakin besar
kemungkinan terjadinya keracunan bahan
Keracunan kronis lebih sulit dideteksi kimia pada petani penyemprot pestisida
karena tidak segera terasa, tetapi dalam tersebut.
jangka penjang dapat menimbulkan Hasil perhitungan menggunakan uji
gangguan kesehatan.Beberapa gangguan Fisher’s Exact Test dengan
kesehatan yang sering dihubungkan dengan menghubungkan ke dua variabel antara
pestisida adalah kanker, gangguan syaraf, perilaku penggunaan pestisida dan keluhan
fungsi hati dan ginjal, gangguan kesehatan petani padi didapatkan nilai
pernafasan, keguguran, cacat bayi dan sebanyak 0,000 (
sebagainya (Djojosumarto, 2008).
berarti Ha gagal ditolak yang berarti bahwa
ada hubungan yang signifikan antara
Hubungan Perilaku Penggunaan
perilaku penggunaan pestisida terhadap
Pestisida dengan Keluhan Kesehatan
keluhan kesehatan petani padi.
Petani Padi
Berdasarkan hasil penelitian hubungan
Kontak langsung dengan pestisida besar
perilaku penggunaan pestisida terhadap
perannya berdasarkan sifat fisik pestisida
keluhan kesehatan petani padi di Desa
yang digunakan. Pestisida dalam bentuk
Kebonsari Kecamatan Rowosari didapatkan
cair mungkin masih bisa dilakukan
sebagian besar responden memiliki perilaku
perlindungan dengan menggunakan media
penggunaan pestisida yang kurang baik dan
lain seperti kayu, sendok takar dan lainnya
pernah mengalami keluhan kesehatan,
sehingga mampu menghindari kontak
sedangkan responden yang memiliki
langsung dengan pestisida. Namun apabila
perilaku penggunaan pestisida baik dan
pestisida yang digunakan memiliki bentuk
pernah mengalami keluhan kesehatan tidak
fisik serbuk atau tepung, petani akan lebih
ada.
sering melakukan kontak langsung dengan
pestisida karena sifat pengerjaannya yang
Hasil penelitian yang dilakukan oleh
ditabur langsung pada tanaman. Rustia
Mahyuni (2015) menunjukkan bahwa
(2009) mengutip dalam Nurhayati (1997),
terdapat hubungan yang signifikan antara
menyebutkan bahwa pajanan yang terbesar
jenis pestisida yang digunakan (p value =
dari penyemprot pestisida adalah melalui
0,021), lama kerja (p value = 0,002), dan
kulit adalah tangan. Semakin dekat pajanan
frekuensi lama penyemprotan (jam/hari)
pestisida dalam tubuh semakin mudah
dengan p value 0,018 dengan keluhan
petani terpajan pestisida hal ini dapat
kesehatan yang dirasakan petani
terjadi karena penuangan pada proses
penyemprot pestisida. Penggunaan
pencampuran dekat sekali dengan tubuh,
pestisida perlu diperhatikan secara serius
petani melakukan pencampuran
mengingat bahaya dari pestisida yang dapat
menggunakan tangan, melakukan
menyebabkan keracunan, penyakit, kanker
pencampuran di dekat sumber air yang
bahkan kematian akibat keracunan ataupun
digunakan juga untuk membersihkan tubuh
terpapar pestisida yang ditandai dengan
dan mencuci peralatan makan pada waktu
adanya keluhan kesehatan setelah
di lahan pertanian.
menggunakan pestisida.Tingkat pajanan
terhadap pestisida tidak dirasakan langsung
Pestisida dapat masuk ke tubuh manusia
saat ini karena sifatnya yang kumulatif dan
melalui 3 cara yaitu kontaminasi lewat
berpengaruh terhadap lama kerja yang
kulit. Pestisida yang menempel di
dialami penyemprot pestisida sehingga
permukaan kulit dapat meresap ke dalam
pada akhirnya pajanan pestisida dapat
tubuh dan menimbulkan
menyebabkan kematian.Semakin lama
keracunan.Terhisap lewat hidung atau

303
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 10 No 3, Hal 297- 306, Juli 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

mulut, Pestisida terhisap lewat hidung dapat mempengaruhi tingkat


merupakan yang terbanyak kedua sesudah cholinesterase.
kontaminasi kulit.Pajanan pestisida dapat
masuk ke dalam sistem pencernaan Pestisida yang banyak direkomendasikan
makanan, hal ini dapat terjadi bila petani di untuk bidang pertanian adalah golongan
lahan pertanian karena drift pestisida organofosfat, karena golongan ini lebih
terbawa angin masuk ke mulut, meniup mudah terurai di alam.Golongan
nozel yang tersumbat langsung ke mulut, organofosfat mempengaruhi fungsi syaraf
makanan dan minuman terkontaminasi dengan jalan menghambat kerja enzim
pestisida. (Kementerian Pertanian, 2011). kholinesterase, suatu bahan kimia esensial
dalam mengantarkan impuls sepanjang
Hal yang perlu diperhatikan apabila terkena serabut syaraf. Keracunan pada petani yang
pestisida pada saat proses pencampuran ini ditentukan dengan penurunan
adalah dengan langsung membersihkannya cholinesterase dalam darah sangatlah
dengan air dan sabun ataupun arang aktif besar.Dengan tidak memakai alat pelindung
sesuai dengan sifat dan jenis bahan kimia diri disertai lama kerja lebih dari 15 tahun
yang terkena. Dari hasi pengamatan banyak kemungkinan terpapar pestisida sangat
petani yang membiarkan saja dirinya tinggi akibat lebih seringnya kontak dengan
kontak langsung dengan pestisida.Petani pestisida sehingga risiko keracunan
merasa terciprat ataupun terkena pestisida pestisida semakin tinggi.
sudah merupakan hal biasa sehingga
mereka membiarkan saja tanpa Hasil penelitian menunjukkan petani
membersihkan pestisida yang terkena pada menyemprot tanpa memperhatikan arah
tubuh. angin namun dengan arah bolak-balik
sesuai dengan barisan tanaman. Sebenarnya
Salah satu penyebab dari terjadinya petani mengetahui bahwa arah
keracunan akibat pestisida adalah petani penyemprotan yang baik adalah sesuai
kurang memperhatikan penggunaan alat dengan arah angin namun mereka
pelindung diri (APD) dalam melakukan menganggap menyemprot dengan
penyemprotan dengan menggunakan memperhatikan arah angin lebih
pestisida.APD adalah kelengkapan yang merepotkan dan memakan banyak waktu
wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya bahkan ada petani beranggapan bahwa jika
dan resiko kerja untuk menjaga menyemprot pestisida sesuai dengan arah
keselamatan pekerja itu sendiri dan orang angin maka pestisida akan berbalik
di sekelilingnya.Petani perlu mengenai diri petani dikarenakan angin
memperhatikan perilaku penggunaan berbalik berputar didepan petani. Selain itu
pestisida dan kepatuhan menggunakan belum ditemukan efek langsung dari cara
APD pada saat melakukan pencampuran penyemprotan secara bolak-balik terhadap
dan menyemprot tanaman.(Suma’mur, kesehatan sehingga petani tidak mengubah
2009). cara penyemprotannya. Namun dengan
tidak mengikuti arah angin petani berisiko
Menurut Agung (2013) sebaiknya petani terpapar pestisida seperti terpercik atau
memakai alat pelinndung diri yang wajib terkena langsung ke bagian tubuh dan
dikenakan untuk meminimalkan masuknya pakaian akibat hembusan angin yang
pestisida lewat jalur pernapasan, inhalasi berbalik ke arah tubuh penyemprot.Dan
dan pencernaan, oleh karena itu pemakaian lebih berisiko apabila pestisida yang
masker, topi, sarung tangan, baju lengan disemprotkan langsung mengenai organ
panjang dan celana panjang sangat mata yang tidak dilindungi dengan kaca
dianjurkan untuk mengurangi risiko mata pelindung.
masuknya pestisida dalam tubuh yang SIMPULAN

304
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 10 No 3, Hal 297 - 306, Juli 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Perilaku penggunaan pestisida responden Suma’mur, PK, 2009. Higene Perusahaan


adalah kurang baik sebanyak 60 pekerja dan Kesehatan Kerja.Jakarta :
(89,6%). Responden pernah mengalami Gunung Agung.
keluhan kesehatan sebanyak 44 pekerja
(65,7%). Hasil penelitian ini menunjukkan Untung, Kasumbogo. 2007. Kebijakan
ada hubungan antara perilaku penggunaan Perlindungan Tanaman. Gadjah
pestisida terhadap keluhan kesehatan petani Mada Kebijakan Perlindungan
padi di Desa Kebonsari Kecamatan Tanaman. Yogyakarta : Gadjah Mada
Rowosari Kabupaten. University Press.

DAFTAR PUSTAKA WHO. 2009. The WHO Recommended


Agung Rosyid Budiawan, 2013, Faktor Classification of Pesticides by
Risiko Cholinesterase Rendah pada Hazard and Guidelines to
petani Bawang Merah, Jurnal Classification.
KEMAS. http://www.who.int/ipcs/publications/
pesticides_hazard_2009.pdf.
Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana diperoleh 1 Maret 2017.
Direktorat Pupuk dan Pestisida
Kementerian Pertanian 2011, Wudianto, R. (2011). Petunjuk
Pedoman Pembinaan Penggunaan Penggunaan Pestisida. Jakarta:
Pestisida. Swadaya.

Djojosumarto, P.(2008). Teknik Aplikasi


Pestisida Pertanian. Yogyakarta :
Kanisius.

Girsang, Warlinson. 2009. Dampak Negatif


Penggunaan Pestisida. Fakultas
Pertanian. Universitas Simalungun.
Pematang Siantar. Dikutip dari:
http://usitani.wordpress.com.
Diperoleh 1 Maret 2017.

Mahyuni, EL. 2015. Faktor Risiko Dalam


Penggunaan Pestisida Terhadap
Keluhan Kesehatan pada Petani di
Kecamatan Berastagi Kabupaten
Karo.Jurnal Kesehatan Masyarakat.
Vol. 9. No. I. Maret 2015: 79-89.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia, Nomor 258 Tahun 1992,
tentang Persyaratan Kesehatan
Pengelolaan Pestisida, pdf, diakses
12 Juli 2017.

Rustia Hana, Pengaruh Pajanan Pestisida


Pada Petani di Bandung, Tesis ,
FKMUI, 2009.

305
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 10 No 3, Hal 297- 306, Juli 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

306

Anda mungkin juga menyukai