Anda di halaman 1dari 29

WRAP UP PBL

SKENARIO 1 BLOK RESPIRASI


“BERSIN DI PAGI HARI”

Kelompok : A-10

Ketua : Keviano Bobby Saputro 1102015113

Sekretaris : Chita Annisha 1102015049

Anggota : Adibah Nauratul Azkiya 1102015006


Ajeng Halida Kustari 1102014011
Asa Gema Karuniawan 1102015036
Chintya Rizki Amelia 1102015048
Eka Heriyanti 1102015065
Karina Utari 1102014140
Laras Oktaviani 1102015118

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2017/2018
Skenario 1

Seorang laki-laki , umur 20 tahun, selalu bersin-bersin di pagi hari, keluar ingus
encer, gatal di hidung dan mata. Keluhan juga timbul bila udara berdebu. Keluhan ini
sudah dialami sejak kecil. Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit serupa,
kecuali penyakit asma pada ayah pasien.

(Skenario bertingkat, informasi selanjutnya tentang scenario tanyakan ke tutor)

Kata Sulit

1. Asma : serangan dispnea paroksismal berulang disertai mengi akibat


kontraksi spasmodik bronki disebabkan oleh manifestasi alergi
atau sekunder akibat kondisi kronik berulang
2. Ingus : sekresi mucus encer dari hidung

Pertanyaan

1. Mengapa pasien bersin-bersin di pagi hari?


2. Apakah ada hubungan antara asma dengan penyakit yang dialami pasien?
3. Mengapa terjadi gatal pada mata dan hidung?
4. Apakah penyakit ini berbahaya atau tidak?
5. Mengapa debu memerparah gejala?
6. Apakah ada hubungan penyakit ini dengan umur?
7. Pemeriksaan apakah yang dapat dilakukan untuk menentukan alergen pada
pasien?

Jawaban

1. Suhu di pagi hari cenderung lebih rendah, dan sistem imun tubuh lebih sensitif
2. Ada, karena asma tersebut dapat dipicu oleh alergi, dan diturunkan secara
genetik
3. Karena ada reaksi hipersensitivitas tipe 1
4. Tergantung derajat keparahan alergi
5. Karena debu merupakan salah satu alergen pasien
6. Ada, karena sistem imun belum sempurna saat masih kecil
7. Skin prick test

Hipotesis

Rendahnya suhu di pagi hari fan debu menstimulasi sistem imun berupa reaksi IgE
yang disebaban oleh reaksi antara makrofag dengan allergen sehingga memicu
produksi histamine pada saluran pernapasan atas, yang merupakan reaksi
hipersensitivitas tipe 1 berupa rhinitis alergi

2
Sasaran Belajar

1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Pernapasan Atas


1.1. Makroskopis
1.2. Mikroskopis

2. Memahami dan Menjelaskan Fungsi Fisiologis Saluran Pernapasan Atas dan


Mekanisme Pertahanan

3. Memahami dan Menjelaskan Rinitis Alergi


3.1. Definisi
3.2. Epidemiologi
3.3. Klasifikasi
3.4. Etiologi
3.5. Patofisiologi
3.6. Manifestasi Klinis
3.7. Diagnosis dan Diagnosis Banding
3.8. Tatalaksana
3.9. Pencegahan
3.10. Komplikasi
3.11. Prognosis

4. Memahami dan Menjelaskan Adab Berwudhu, Bersin, dan Menguap

3
1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Pernapasan Atas
1.1. Makroskopis

A. Hidung

Mempunyai
2 buah nares anterior
=
aperture
nasalis anterior =
lubang hidung
= nostril

Vestibulum
nasi adalah bagian depan
rongga hidung, tempat muara nares anterior. Pada mucusa hidung,
terdapat silia yang kasar untuk penyaring udara
 Rangka hidung terdiri dari bagian luar dibentuk oleh tulang-tulang
: os nasal, processus frontalis os maxillaris
 Bagian dalam rongga hidung yang berbentuk terowongan disebut
dengan cavum nasi (mulai dari nares anterior sampai ke nares
posterior, yang dikenal dengan choanae)
 Cavum nasi (rongga hidung) mempunyai : dasar, atap, dinding
lateral dan medial
 Dasar = dibentuk oleh processus palatinus os maxilla dan lamina
horizontal os palatinus
 Atap = dibentuk oleh os frontale dan os nasal, bagian tengah oleh
lamina cribrosa os ethmoidalis
 Dinding = bagian lateral oleh tonjolan tulang conchae nasalis
(superior, media, inferior). Diantaranya ada saluran yang
dinamakan meatus nasalis (superior, media, inferior)
 Sekat Antara kedua rongga hidung dibatasi oleh dinding yang
berasal dari tulang dan mucusa disebut septum nasi, yang dibentuk
oleh tulang-tulang : cartilage septi nasi, os vomer, lamina
perpendicularis os ethmoidalis
 Persarafan hidung
o Persarafan sensorik dan sekremotorik hidung :
a. Bagian depan dan atas cavum nasi mendapat persarafan
sensoris dari N.nasalis, N.ethmoidalis anterior →
semuanya cabang N.opthalmicus (N.V1)

4
b. Bagian bawah belakang termasuk mucusa conchae nasalis
depan dipersarafi oleh rami nasalis posterior (cabang dari
N.maxillaris/N.V2)
c. Daerah nasopharynx dan conchae nasalis belakang
mendapat persarafan sensorik dari cabang ganglion
pterygolapatinum
o Nervus olfactorius (N.I)
 Perdarahan hidung
o Berasal dari a.carotis interna dan a. carotis externa
o Carotis interna mempercabangkan arteria opthalmica,
selanjutnya bercabang lagi menjadi :
a. Arteria ethmoidalis anterior dengan cabang-cabang :
a.nasalis externa, lateralis, a.septalis anterior
b. Arteria athmoidalis posterior, selanjutnya bercabang lagi
menjadi a.nasalis posterios, a. nasalis posterior, lateral dan
septal, a.palatinus majus
o A.carotis externa mempercabangkan dari a.maxillaris ke
A.spenopalatinum
o Ketika pembuluh darah diatas pada mukosa hidungmembentuk
anyaman kapiler pembuluh darah yang dinamakan plexis
kisselbach (mudah pecah oleh trauma/infeksi sehingga sering
menjadi sumber epitaxis (perdarahan hidung terutama pada
anak

B. Sinus Paranasalis

 Adalah sinus-sinus atau rongga-rongga yang berhubungan


dengan cavum nasi. Ada 4 macam, yaitu :
o Sinus sphenoidalis (2 buah) : mengeluarkan
sekresinya melalu recessus sphenoethmoidalis
keluar pada meatus superior
o Sinus frontalis : ke meatus media
o Sinus ethmoidalis : ke meatus superior dan media
o Sinus Maxillaris : ke meatus media, berbentuk
pyramid terapat dalam corpus maxillare di belakang
pipi (os zygomaticum), dasar sinus berhubungan
dengan akar gigi premolar dan molar

5
 Sin

us-sinus di atas dilapisi oleh mucoperiosteum dan terisi


udara yang berfungsi sebagai resonator suara dan sekresi
sinus dialirkan pada cavum nasi dan bila aliran tersumbat
maka sinus berisi cairan dapat merubah kualitas suara
 Pada sudut mata medial terdapat hubungan hidung dan mata
melalui ductus nasolacrimalis tempat keluarnya air mata ke
hidung melalui meatus inferior
 Pada nasofaring terdapat hubungan hidung dengan rongga
telinga melalui OPTA
C. Faring
Pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai
persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang
rawan Krikoid. Maka letaknya di belakang larinx (larinx-
faringeal). Faring terbagi menjadi 3, yaitu
Nasofaring terdapat Pharyngeal Tonsil dan Tuba Eustachius ,
Orofaring merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,
terdapat pangkal lidah, gabungan sistem respirasi dan pencernaan
Laringofaring terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran
makanan.

6
D. Laring

Daerah yang dimulai dari aditus laryngis sampai batas bawah


cartilago cricoid. Rangka laring terbentuk dari
tulang rawan dan tulang. Laring adalah bagian
terbawah dari saluran napas atas.
1. Berbentuk tulang adalah
os hyoid
2. Berbentuk tulang rawan adalah :
tyroid 1 buah, arytenoid 2 buah,
epiglotis 1 buah. Pada arytenoid
bagian ujung ada tulang rawan
kecil cartilago cornuculata dan
cuneiforme.
3. Tulang
rawan dan
ototnya
berasal dari
mesenkim lengkung faring ke – 4
dan ke – 6. Mesenkin berproliferasi
dengan
cepat,
aditus
laringis berubah
bentuk dari celah sagital menjadi lubang bentuk
T. mesenkin kedua lengkung faring menjadi kartilago
tiroidea, krikoidea serta antenoidea. Epitel laring berproliferasi
dengan cepat. Vakuolisasi dan rekanalisasi terbentuk sepasang
resesus lateral, berdiferensiasi menjadi pita suara palsu dan sejati.

Os hyoid
Mempunyai 2 buah cornu, cornu majus dan minus. Berfungsi
untuk perlekatan otot mulut dan cartilago thyroid
Cartilago thyroid
Terletak di bagian depan dan dapat diraba tonjolan yang disebut
promines’s laryngis atau lebih disebut jakun pada laki-laki.
Jaringan ikatnya adalah membrana thyrohyoid. Mempunyai cornu

7
superior dan inferior. Pendarahan dari a. Thyroidea superior dan
inferior.
Cartilago arytenoid
Mempunyai bentuk seperti burung penguin. Ada cartilago
corniculata dan cuneiforme. Kedua arytenoid dihubungkan
m.arytenoideus transversus.
Epiglotis
Tulang rawan berbentuk sendok. Melekat di antara cartilago
arytenoid. Berfungsi untuk membuka dan menutup aditus laryngis.
Saat menelan epiglotis menutup aditus laryngis supaya makanan
tidak masuk ke laring.
Cartilago cricoid
Batas bawah adalah cincin pertama trakea. Berhubungan dengan
thyroid dengan ligamentum cricothyroid dan m.cricothyroid
medial lateral.
Otot-otot laring :
a. Otot extrinsik laring
 M.cricothyroid
 M. thyroepigloticus
b. Otot intrinsik laring
 M.cricoarytenoid posterior yang membuka plica vocalis.
Jika terdapat gangguan pada otot ini maka bisa
menyebabkan orang tercekik dan meninggal karena rima
glottidis tertutup. Otot ini disebut juga safety muscle of
larynx.
 M. cricoarytenoid lateralis yang menutup plica vocalis dan
menutup rima glottdis
 M. arytenoid transversus dan obliq
 M.vocalis
 M. aryepiglotica
 M. thyroarytenoid

Dalam cavum laryngis terdapat :


Plica vocalis, yaitu pita suara asli sedangkan plica vestibularis
adalah pita suara palsu. Antara plica vocalis kiri dan kanan
terdapat rima glottidis sedangkan antara plica vestibularis terdapat
rima vestibuli. Persyarafan daerah laring adalah serabut nervus
vagus dengan cabang ke laring sebagai n.laryngis superior dan n.
recurrent.

1.2. Mikroskopis

Sistem pernapasan biasanya dibagi menjadi 2 daerah utama:

1. Bagian konduksi, meliputi rongga hidung, nasofaring, laring, trakea,


bronkus, bronkiolus dan bronkiolus terminalis
2. Bagian respirasi, meliputi bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris
dan alveolus.

8
Sebagian besar bagian konduksi dilapisi epitel respirasi, yaitu epitel
bertingkat silindris bersilia dengan sel goblet. Dengan
menggunakan mikroskop elektron dapat dilihat ada 5 macam sel
epitel respirasi yaitu sel silindris bersilia, sel goblet mukosa, sel
sikat (brush cells), sel basal, dan sel granul kecil.

Rongga hidung
Rongga hidung terdiri atas vestibulum dan fosa nasalis. Pada
vestibulum di sekitar nares terdapat kelenjar sebasea dan vibrisa (bulu
hidung). Epitel di dalam vestibulum merupakan epitel respirasi sebelum
memasuki fosa nasalis. Pada fosa nasalis (cavum nasi) yang dibagi dua
oleh septum nasi pada garis medial, terdapat konka (superior, media,
inferior) pada masing-masing dinding lateralnya. Konka media dan
inferior ditutupi oleh epitel respirasi, sedangkan konka superior ditutupi
oleh epitel olfaktorius yang khusus untuk fungsi menghirup/membaui.
Epitel olfaktorius tersebut terdiri atas sel penyokong/sel sustentakuler, sel
olfaktorius (neuron bipolar dengan dendrit yang melebar di permukaan
epitel olfaktorius dan bersilia, berfungsi sebagai reseptor dan memiliki
akson yang bersinaps dengan neuron olfaktorius otak),  sel basal
(berbentuk piramid) dan kelenjar Bowman pada lamina propria. Kelenjar
Bowman menghasilkan sekret yang membersihkan silia sel olfaktorius
sehingga memudahkan akses neuron untuk membaui zat-zat. Adanya
vibrisa, konka dan vaskularisasi yang khas pada rongga hidung membuat
setiap udara yang masuk mengalami pembersihan, pelembapan dan
penghangatan sebelum masuk lebih jauh.

9
Sinus paranasalis
Terdiri atas sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidales dan
sinus sphenoid, semuanya berhubungan langsung dengan rongga hidung.
Sinus-sinus tersebut dilapisi oleh epitel respirasi yang lebih tipis dan
mengandung sel goblet yang lebih sedikit serta lamina propria yang
mengandung sedikit kelenjar kecil penghasil mukus yang menyatu dengan
periosteum. Aktivitas silia mendorong mukus ke rongga hidung.

Faring

Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi pada bagian yang


berkontak dengan palatum mole, sedangkan orofaring dilapisi epitel tipe
skuamosa/gepeng. Bagian pertama faring yang ke arah kaudal berlanjut
sebagai bagian oral organ ini yaitu orofaring Dilapisi oleh epitel jenis
respirasi (bagian yang kontak dengan palatum mole).
Terdiri dari:
Nasofaring (epitel bertingkat torak bersilia, dengan sel goblet)
Orofaring (epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk)
Laringofaring (epitel bervariasi)

Laring
Laring merupakan bagian yang menghubungkan faring dengan
trakea. Pada lamina propria laring terdapat tulang rawan hialin dan elastin
yang berfungsi sebagai katup yang mencegah masuknya makanan dan

10
sebagai alat penghasil suara pada fungsi fonasi. Epiglotis merupakan
juluran dari tepian laring, meluas ke faring dan memiliki permukaan
lingual dan laringeal. Bagian lingual dan apikal epiglotis ditutupi oleh
epitel gepeng berlapis, sedangkan permukaan laringeal ditutupi oleh epitel
respirasi bertingkat bersilindris bersilia. Di bawah epitel terdapat kelenjar
campuran mukosa dan serosa.

Di bawah epiglotis, mukosanya membentuk dua lipatan yang


meluas ke dalam lumen laring: pasangan lipatan atas membentuk pita
suara palsu (plika vestibularis) yang terdiri dari epitel respirasi dan
kelenjar serosa, serta di lipatan bawah membentuk pita suara sejati yang
terdiri dari epitel berlapis gepeng, ligamentum vokalis (serat elastin) dan
muskulus vokalis (otot rangka). Otot muskulus vokalis akan membantu
terbentuknya suara dengan frekuensi yang berbeda-beda.

2. Memahami dan Menjelaskan Fungsi Fisiologis Saluran Pernapasan Atas dan


Mekanisme Pertahanan
Mekanisme Pertahanan:

Mekanisme Batuk

11
Seluruh saluran nafas dari hidung sampai bronkiolus terminalis,
dipertahankan agar tetap lembab oleh selapis mukosa yang melapisi seluruh
permukaan. Mukus ini disekresikan sebagian oleh sel goblet dalam epitel
saluran nafas, dan sebagian lagi oleh kelenjar submukosa yang kecil. Batuk
yang tidak efektif dapat menimbulkan penumpukan sekret yang berlebihan,
atelektasis, gangguan pertukaran gas dan lain-lain.

Mekanisme batuk dibagi menjadi 3 fase:


 Fase 1 (Inspirasi), paru2 memasukan kurang lebih 2,5 liter udara,
oesofagus dan pita suara menutup, sehingga udara terjerat dalam paru2
 Fase 2 (Kompresi), otot perut berkontraksi, diafragma naik dan
menekan paru2, diikuti pula dengan kontraksi intercosta internus. Pada
akhirnya akan menyebabkan tekanan pada paru2 meningkat hingga
100mm/hg.
 Fase 3 (Ekspirasi), Spontan oesofagus dan pita suara terbuka dan udara
meledak keluar dari paru

Mekanisme Bersin
Reflek bersin mirip dengan reflek batuk kecuali bahwa refleks ini
berlangsung pada saluran hidung, bukan pada saluran pernapasan bagian
bawah. Rangsangan awal menimbulkan refleks bersin adalah iritasi dalam
saluran hidung, impuls saraf aferen berjalan dalam nervus ke lima menuju
medulla tempat refleks ini dicetuskan. Terjadi serangkaian reaksi yang mirip
dengan refleks batuk tetapi uvula ditekan, sehingga sejumlah besar udara
dengan cepat melalui hidung, dengan demikian membantu membersihkan
saluran hidung dari benda asing
.
Fungsi utama pernapasan adalah untuk memperoleh O2 agar dapat
digunakan oleh sel-sel tubuh dan mengeliminasi CO2 yang dihasilkan oleh
sel.
 Fungsi Pernapasan Hidung
Bila udara mengalir melalui hidung, ada 3 yang tertentu dikerjakan oleh
rongga hidung.
a. Udara dihangatkan oleh permukaan kontan dengan septum yang
lurus, dengan total area kira-kira160 Cm2.
b. Udara dilembabkan sampai hampir lembab sempurna sebelum
udara meninggalkan hidung.
c. Udara disaring.
d. Ukuran partikel yang terjerat dalam saluran pernapasan berukuran
kira-kira antara 1-5

12
mikrometer,mungkin dikeluarkan dalam bronkiolur kecil sebagai akibat
presipitasi gaya berat.
 Sistem pernapasan melakukan fungsi nonrespirasi lain berikut ini :
a. Menyediakan jalan untuk mengeluarkan air dan panas.
b. Meningkatkan aliran balik vena.
c. Berperan dalam memelihara keseimbangan asam basa normal
dengan mengubah jumlah CO2 penghasil asam (H+) untuk
dikeluarkan.
d. Memungkinkan ketika berbicara, menyaingi dan vikalisasi lain.
e. Mempertahankan tubuh dari infasi bahan asing.
f. Mengeluarkan, memodifikasi, mengaktifkan, atau
menginaktifkan berbagai bahan yang melewatisirkulasi paru.
g. Hidung bagian pernapasan, berfungsi sebagai organ pembau.

Mekanisme
Proses fisiologi pernapsan yaitu proses O 2 dipindahkan dari udara ke
jaringan-jaringan,dan CO2 dikeluarkan ke udara ekspirasi, dapat
dibagai menjadi tiga stadium, yaitu ventilasi,transportasi, dan
repirasi sel.
1. Ventilasi
Merupakan gerak udara masuk paru yang terjadi karena adanya perbedaan
tekanan antara atmosfer dan alveoli akibat gerakan paru dalam rongga dada
yang diperkuat oleh otot-otot pernapasan. Tekanan intrapleura menjadi lebih
negatif selama inspirasi dan kurang negatif selama ekspirasi. Udara bergerak
ke dalam paru selama inspirasi bila tekanan alveolus lebih rendah daripada
tekanan atmosfir, dan udara keluar dari paru selama ekspirasi bila tekanan
atmosfir.

2. Transportasi
A. Difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru (respirasi eksterna) dan
antara darah sistemik dan sel-sel jaringan. Penggerak kekuatan difusi
gas melewati membran alveolokapiler terdiri dari perbedaan tekanan
parsial antara darah dan rongga alveolar. Perbedaan tekanan parsial
untuk difusi O2 relatif besar : O2 alveolar kira-kira 100 mmHg dan
sekitar 40 mmHg dalam darah kapilar paru venosa campuran. Difusi
CO2 dari darah ke alveolus membutuhkan perbedaan tekanan parsial
yang lebih kecil daripada O2 karena CO2 lebih dapat larut dalam lipid.

B. Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar dan penyesuaiannya dengan


distribusi udara dalam alveolus-alveolus. Hal ini berkaitan dengan
hubungan antara ventilasi(dalam paru)-perfusi(aliran darah dalam
kapiler). Idealnya, efisiensi pertukaran gas yang optimal akan
diberikan melalui distribusi dan perfusi sehingga ventilasi-perfusi
hampir seimbang (pada orang normal). Keseluruhan V/Q normal
adalah 0,8 (4L/menit : 5L/menit). Karena gaya gravitasi aliran darah
pulmonal, V/Q pada apex paru lebih tinggi dari 0,8 (V lebih tinggi dari
Q), sedangkan V/Q pada basis paru lebih rendah dari 0,8(V lebih
rendah dari Q). Ketidaksamaan V/Q yang menyebabakan hipoksemi
terjadi pada kebanyakan penyakit pernapasan.

13
i. Unit untung rugi (V/Q > 0,8), ventilasi normal tanpa perfusi (pada
embolisme paru)
ii. Unit pirau (V/Q <0,8), tanpa ventilasi perfusi normal (pada edema
paru, pneumonia)
iii. Unit diam , tanpa ventilasi dan perfusi

C. Reaksi kimia dan fisik dari O2 dan CO2 dengan darah.


Transpor O2 dalam darah
Hampir semua O2 yang dibawa ke jaringan dalam darah terikat pada
hemoglobin , dan hanya sedikit jumlah yang larut dalam plasma
(karena O2 tidak larut dalam plasma). Meskipun kebutuhan jaringan
bervariasi , namun sekitar 75% Hb masih berikatan dengan O 2 pada
waktu Hb kembali ke paru dalam bentuk darah vena campuran. Jadi
hanya 25% O2 dalam darah arteri yang digunakan untuk keperluan
jaringan.
Transpor CO2 dalam darah
Transpor CO2 dari jaringan ke paru untuk dibuang dilakukan dengan
tiga cara:
- Sekitar 10% CO2 secara fisik larut dalam plasma,
- Sekitar 20% CO2 berikatan dengan gugus amino pada Hb dalam
eritrosit.
- Sekitar 70% CO2 diangkut dalam bentuk bikarbonat plasma.

3. Memahami dan Menjelaskan Rinitis Alergi


3.1. Definisi

Inflamasi mukosa hidung dengan gejala bersin-bersin, rasa gatal


hidung tersumbat yang dipicu oleh reaksi hipersensitivitas tipe 1
setelah mukosa hidung terpapar dengan alergen.

3.2. Epidemiologi

Rinitis alergi memengaruhi sekitar 40% anak-anak dan 20- 30%


orang dewasa. Pada anak (<2 tahun) diagnosis rhinitis alergi lebih
sulit ditegakkan. Keluhan pertama biasanya muncul saat usia sekolah.

3.3. Klasifikasi

Klasifikasi menurut Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma (ARIA)


2012, berdasarkan karakteristik gejala, rhinitis alergi dapat dibagi
menjadi:
1. Ringan (mild), harus memenuhi SEMUA hal berikut
ini:
 Tidak ada gangguan tidur
 Tidak ada gangguan pada aktivitas sehari-
hari, olahraga, dan rekreasi
 Tidak ada gangguan pada pekerjaan dan
aktivitas belajar
 Tidak ada gejala berat

14
2. Sedang-berat (moderate-severe), SATU atau LEBIH
dari hal-hal berikut:
 Gangguan tidur
 Gangguan pada aktivitas sehari-hari, olahraga
dan rekreasi
 Gangguan pada pekerjaan dan aktivitas
belajar
 Gejala yang berat
Berdasarkan frekuensi gejala dibagi menjadi:
1. Intermitten: kurang dari 4 hari dalam seminggu /
kurang dari 4 minggu berturut-turut
2. Persisten: lebih dari 4 hari dalam seminggu dan
lebih dari 4 minggu berturut-turut

Rhinitis Non Alergi


Rhinitis non allergi disebabkan oleh infeksi saluran napas
(rhinitis viral dan rhinitis bakterial, masuknya benda asing
kedalam hidung, deformitas struktural, neoplasma, dan massa,
penggunaan kronik dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi
oral, kokain dan anti hipertensif.
Berdasarkan penyebabnya, rhinitis non alergi di golongkan
sebagai berikut:
Tipe-tipe rinitis non alergi adalah:
1. Rinitis Infeksiosa 
Rinitis  infeksiosa  biasanya  disebabkan  oleh 
infeksi pada saluran pernafasan agian atas, baik oleh
bakteri maupun virus. Ciri khas dari rinitis infeksiosa
adalah lendir hidung yang bernanah, yang disertai dengan
nyeri dan tekanan pada wajah, penurunan fungsi indera
penciuman serta batuk.

2. Rinitis Non-Alergika Dengan Sindroma Eosinofilia


Penyakit  ini  diduga  berhubungan  dengan 
kelainan metabolisme  prostaglandin.  Pada hasil
pemeriksaan apus hidung penderitanya, ditemukan
eosinofil sebanyak 10-20%. Gejalanya  berupa  hidung 
tersumbat,  bersin,  hidung meler, hidung  terasa  gatal
dan penurunan fungsi indera penciuman (hiposmia).

3. Rinitis Okupasional
Gejala rinitis  hanya  timbul  di  tempat penderita  bekerja.
Gejala rinitis  biasanya  terjadi akibat  menghirup  bahan-
bahan  iritan  (misalnya debu kayu, bahan kimia).
Penderita juga sering mengalami asma karena pekerjaan. 

4. Rinitis Hormonal 
Beberapa penderita mengalami gejala rinitis pada saat
terjadi gangguan keseimbangan hormon (misalnya 

15
selama kehamilan, hipotiroid, pubertas, pemakaian  pil 
KB). Estrogen diduga menyebabkan peningkatan kadar
asam hialuronat di selaput hidung. Gejala  rinitis  pada 
kehamilan biasanya 
mulai  timbul pada bulan kedua, terus
berlangsung selama  kehamilan  dan 
akan  menghilang  pada  saat persalinan  tiba. Gejala
utamanya adalah hidung tersumbat dan hidung berair. 

5. Rinitis Karena Obat-obatan (rinitis medikamentosa)


Obat-obatan  yang  berhubungan  dengan 
terjadinya rinitis  adalah 
dekongestan topikal, ACE inhibitor, reserpin,
guanetidin, fentolamin, metildopa, beta-bloker,
klorpromazin, gabapentin, penisilamin, aspirin, NSAID,
kokain, estrogen eksogen, pil KB. 

6. Rinitis Gustatorius
Rinitis gustatorius  terjadi setelah mengkonsumsi
makanan  tertentu,  terutama makanan yang panas dan
pedas. 

7. Rinitis Vasomotor
Rinitis vasomotor diyakini merupakan akibat dari
terganggunya keseimbangan sistem parasimpatis dan
simpatis. Parasimpatis menjadi lebih dominan sehingga
terjadi pelebaran dan pembengkakan pembuluh darah
di hidung.
Gejala yang timbul berupa hidung tersumbat, bersin-
bersin dan hidung berair. Gangguan vasomotor hidung
adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa
hidung  yang disebabkan oleh bertambahnya  aktivitas 
parasimpatis. Rinitis vasomotor
adalah gangguan pada mukosa hidung
yang ditandai dengan adanya edema yang
persisten dan hipersekresi kelenjar pada mukosa hidung
apabila terpapar oleh iritan spesifik
Etiologi yang pasti belum diketahui, tetapi diduga
sebagai akibat gangguan keseimbangan
fungsi vasomotor dimana sistem saraf parasimpatis
relatif  lebih dominan. Keseimbangan vasomotor
ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung
temporer, seperti emosi, posisi tubuh, kelembaban
udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dan
sebagainya, yang pada keadaan normal faktor-faktor tadi
tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut.
Merupakan respon non spesifik
terhadap perubahan perubahan lingkungannya,
berbeda dengan rinitis alergi yang mana merupakan
respon terhadap protein spesifik pada zat allergennya.

16
Faktor pemicunya antara
lain alkohol, perubahan temperatur/kelembapan,
makanan yang panas dan pedas, bau – bauan yang
menyengat (strong odor), asap rokok atau polusi udara
lainnya, faktor – faktor psikis seperti : stress, ansietas, 
penyakit – penyakit endokrin, obat-obatan seperti anti
hipertensi, kontrasepsi oral.

3.4. Etiologi
Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi
dari pasien yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan
lingkungan. Genetik secara jelas memiliki peran penting. Pada
20 – 30 % semua populasi dan pada 10 – 15 % anak semuanya
atopi. Apabila kedua orang tua atopi, maka risiko atopi menjadi
4 kali lebih besar atau mencapai 50 %. Peran lingkungan dalam
dalam rinitis alergi yaitu alergen, yang terdapat di seluruh
lingkungan, terpapar dan merangsang respon imun yang secara
genetik telah memiliki kecenderungan alergi.
Adapun alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan
yang masuk bersama udara pernapasan yaitu debu rumah,
tungau, kotoran serangga, kutu binatang, jamur, serbuk sari,
dan lain-lain.
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh
dua tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi
alergi terdiri dari dua fase yaitu :
Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak
dengan allergen hingga 1 jam setelahnya Late Phase Allergic
Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam
dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat
berlangsung hingga 24 jam.
3.5. Patofisiologi
Proses sensitisasi
Dimulai di jaringan hidung saat antigen-presenting sel ( APC ) , yang
terutama sel dendritik , menelan alergen , kemudian allergen tersebut
diubah menjadi antigen peptide , kemudian makrofag bermigrasi ke
kelenjar getah bening , di mana makrofrag menyajikan antigen peptide
ini melalui MHC class II kepada sel Limfosit T CD41 ( sel T ) naif.
Keduanya berhubungan melalui reseptor sel T spesifik (TCR).
Kemudian sel T naif ini berdiffferensiasi menjadi sel Th1 dan sel Th2,
namun dalam kasus alergi sel Th2 yang memainkan peranan penting
yang dalam perkembangannya IL-4 merupakan stimulus bagi
perubahan sel T naif menjadi sel Th2.
Sel dendritik ( DC ) terlokalisir dalam epitel dan submukosa dari
seluruh mukosa pernafasan, termasuk mukosa hidung. Jumlah DC dan
sel T pada permukaan epitel hidung meningkat pada pasien rhinitis.
Selain mengekspresikan antigen , DC dapat mempolarisasi sel T naif
menjadi sel Th1 atau Th2 sesuai dengan fenotip mereka sendiri dan

17
dengan sinyal yang diterima dari antigen serta dari lingkungan mikro
jaringan selama presentasi antigen.
IgE , seperti semua immunoglobulin , disintesis oleh limfosit B ( Sel B
) di bawah regulasi sitokin yang berasal dari Limfosit Th2 . Dua sinyal
yang diperlukan (IL - 4 atau IL – 13) menyediakan sinyal penting
pertama yang mendorong sel-sel B memproduksi IgE. Dalam kasus
IgE -sel memori B , sitokin ini menyebabkan klonal ekspansi . Sinyal
yang kedua adalah interaksi costimulatory antara ligan CD40 pada
permukaan sel T dan Permukaan sel -B . Sinyal ini mendorong aktivasi
sel - B dan beralih rekombinasi untuk produksi IgE.
Setelah diproduksi oleh sel B , antibodi IgE menempel pada
permukaan sel mast dan basofil , membuat mereka ''tersensitisasi ''.
Reaksi alergi dan inflamasi di Hidung
Reaksi alergi pada hidung memiliki komponen awal dan akhir ( fase
awal dan fase akhir ) , yang keduanya berkontribusi pada presentasi
klinis rhinitis alergi . Tahap awal melibatkan aktivasi akut sel efektor
alergi melalui interaksi IgE -alergen dan menghasilkan seluruh
spektrum gejala rhinitis alergi . Tahap akhir ini ditandai dengan
perekrutan dan aktivasi sel-sel inflamasi dan pengembangan dari
hyperresponsiveness hidung dengan gejala yang lebih indolen .
Dalam beberapa menit dari kontak individu peka dengan alergen ,
interaksi IgE - alergen berlangsung , menyebabkan sel mast dan basofil
degranulasi dan melepas mediator preformed seperti histamine,
tryptase, leukotrien sisteinil ( LTC4 , LTD4 , LTE4 ) dan prostaglandin
( primarilyPGD2 ). Sasaran dari mediator ini bervariasi , misalnya ,
1. Histamin mengaktifkan reseptor H1 pada sensorik
ujung saraf dan menyebabkan bersin , gatal-gatal , dan
sekresi reflex tanggapan , tetapi juga berinteraksi
dengan reseptor H1 dan H2 pada pembuluh darah
mukosa, yang menyebabkan pembengkakan pembuluh
darah ( hidung tersumbat) dan kebocoran plasma.
2. Sulfidopeptide leukotrienes , di sisi lain , bertindak
langsung pada reseptor CysLT1 dan CysLT2 pada
pembuluh darah dan kelenjar , dan dapat menyebabkan
hidung tersumbat dan , pada tingkat lebih rendah ,
sekresi lendir.
3. Zat seperti protease ( tryptase ) dan sitokin ( tumor
necrosis factor - a) yang dirilis pada tahap awal dari
reaksi alergi , tetapi peran mereka dalam generasi akut
gejala tidak jelas . Mediator lain yang dihasilkan
melalui jalur tidak langsung , misalnya ,
4. Bradikinin dihasilkan ketika terjadi kebocoran
kininogen ke dalam jaringan dari sirkulasi perifer dan
dibelah oleh kallikrein jaringan yang dihasilkan oleh
kelenjar serosa.

Paparan alergen juga menghasilkan peradangan mukosa hidung


ditandai dengan masuknya dan aktivasi berbagai inflamasi sel serta
perubahan dalam fisiologi hidung , yaitu priming dan hiperresponsif .
Sel yang bermigrasi ke mukosa hidung termasuk sel T , eosinofil ,

18
basofil , neutrofil , dan monosit juga , sel mast meningkat dalam
submukosa dan menyusup ke epitel setelah paparan alergen atau
selama musim serbuk sari.
Setelah hidung terprovokasi alergen pada individu dengan rhinitis
alergi pada biopsy diperoleh sel T mendominasi untuk menyusup ke
jaringan . Dalam sekret hidung , jumlah leukosit meningkat beberapa
kali lipat selama beberapa jam dan mayoritas leukosit adalah neutrofil
dan eosinophil. Sangat mungkin bahwa migrasi sel ini disebabkan oleh
kemokin dan sitokin yang dikeluarkan oleh sel efektor primer, sel mast
, dan basofil , akut dan selama beberapa jam setelah terpapar allergen.
Sitokin Th2 mungkin memainkan peran sentral dalam pengembangan
peradangan mukosa setelah terpapar alergen . Sebagai contoh, IL - 5
adalah sentral dalam perekrutan eosinofil dan IL - 4 adalah penting
dalam perekrutan eosinofil dan basofil. IL - 13 (berasal dari basophil) ,
sel mast , dan sel Th2 , menginduksi ekspresi beberapa kemokin yang
diperkirakan selektif merekrut sel Th2 , yaitu TARC dan monosit yang
diturunkan kemokin. IL - 13 juga dapat merekrut sel dendritic ke situs
paparan alergen melalui induksi matriks metaloproteinase - 9 dan
TARC. Sitokin Th2 yang berasal dari sel-sel T dan sel lainnya
mengabadikan alergi dengan mempromosikan produksi IgE terus
menerus oleh sel B.
Eosinofil tiba dengan cepat di mukosa hidung setelah terpapar alergen .
Eosinofil menghasilkan beberapa sitokin penting seperti IL - 5 , yang
memiliki sifat kemoatraktan yang kuat dan bertindak dalam mod
autokrin untuk mempromosikan kelangsungan hidup eosinofil dan
aktivasinya. Yang paling penting , eosinofil berfungsi sebagai sumber
utama mediator lipid seperti LTC4 , tromboksan A2 , dan platelet
activating Faktor. Masuknya eosinofil adalah diaktifkannya granul
beracun : protein ( MBP ) , protein kationik eosinofil ( ECP ) , dan
eosinophil peroksidase ( EPO ) , yang dapat merusak sel-sel epitel
hidung. Bahkan pada konsentrasi rendah , MBP dapat mengurangi
ciliary beat frekuensi in vitro . MBP juga telah ditunjukkan pada
hewan untuk mengubah fungsi saraf dengan mengganggu muscarinic (
M2 ) reseptor , memungkinkan peningkatan pelepasan asetilkolin pada
saraf persimpatik atau. Efek ini dapat berkontribusi pada fitur
inflamasi respon fase akhir dan hyperresponsiveness hidung.
Pada asma , diyakini bahwa peradangan kronis menyebabkan
remodeling saluran napas. Faktor pertumbuhan yang telah terlibat di
saluran napas juga telah terdeteksi di mukosa hidung individu dengan
rhinitis alergi . Orang mungkin bisa berspekulasi bahwa mukosa
hidung memiliki kapasitas yang jauh lebih tinggi untuk regenerasi
epitel dan perbaikan , mungkin karena embrio yang berbeda asal,
namun kenyataannya bahwa perubahan elemen struktur mukosa jauh
lebih sedikit di mukosa hidung dibandingkan dengan saluran napas
bawah, meskipun mukosa hidung lebih terkena alergen dan racun
lingkungan .
(Sin dan Togias, 2011)
3.6. Manifestasi Klinis
1. Gejala yang mendukung diagnosis rhinitis alergi (2 atau
lebih gejala >1 jam hampir setiap hari): rinorea berair,

19
bersin paroksismal, obstruksi nasal, hidung gatal,dan
konjungtivitis
2. Tanda Klinis:
 Allergic shiners: lingkaran hitam disekitar mata
dan berhubungan dengan vasodilatasi atau
kongesti nasal
 Nasal/allergic crease: garis horizontal di dorsum
hidung yang disebabkan oleh gesekan berulang
keatas pada ujung hidung oleh telapak tangan
atau disebut juga dengan allergic salute
 Pemeriksaan hidung dengan speculum hidung;
mukosa hidung edematosa atau hipertrofi,
berwarna pucat atau kebiru-biruan, dan secret
cair
 Pemeriksaan mata: injeksi dan pembengkakan
konjungtiva palpebral dengan produksi air mata
berlebihan, garis Dennie-Morgan (garis dibawah
kelopak mata inferior)
 Pemeriksaan faring: penampakan cobblestone
(pembengkakan jaringan limfoid pada faring
posterior) dan pembengkakan arkus faring
posterior. Maloklusi dan lengkung palatum yang
tinggi dapat dietmukan pada pasien bernapas
dengan mulut secara berlebihan
 Pada anak dapat ditemukan hipertrofi adenoid
(dari foto lateral leher)

3.7. Diagnosis dan Diagnosis Banding


Anamnesis
Selama anamnesis, pasien sering akan menjelaskan hal berikut
 Gejala klasik rhinitis alergi : hidung tersumbat ,gatal
hidung , rhinorrhea dan bersin . alergik konjungtivitis
( peradangan selaput yang menutupi bagian putih mata )
juga sering dikaitkan dengan rhinitis alergi dan gejala
umumnya termasuk kemerahan dan gatal pada mata
 Evaluasi rumah pasien dan pekerjaan / sekolah :
lingkungan yang berpotensi potensimemicu rhinitis alergi .
Sejarah lingkungan harus fokus pada alergen umum dan
berpotensi relevan termasuk serbuk sari , hewan berbulu ,
lantai tekstil /jok , asap tembakau , tingkat kelembaban di
rumah ,serta potensi zat berbahaya lain yang pasien
mungkin terkena di tempat kerja atau di rumah .

 Penggunaan obat tertentu ( misalnya , beta - blocker ,


asetilsalisilat acid [ ASA ] , non steroid anti-inflammatory
drugs[ NSAID ] , angiotensin-converting enzyme [ ACE ]
inhibitor , dan terapi hormon ) serta penggunaan kokain
berlebihan dapat menyebabkan gejala rhinitis . Oleh karena

20
itu , pasien harus ditanya tentang saat ini atau obat baru dan
penggunaan narkoba.
 riwayat penyakit keluarga (atopik)
 dampak gejala terhadap kualitas hidup
 dan adanya komorbiditas seperti asma , pernapasan
mulut , mendengkur , sleep apnea , keterlibatan sinus ,
otitis media (radang polip telinga tengah atau hidung) .
pasien mungkin
 mendokumentasikan frekuensi dan durasi " pilek "

Sebelum mencari perhatian medis , pasien sering mencoba


menggunakan over-the -counter atau obat lain untuk mengelola
gejala mereka . Menilai respon pasien terhadap Perawatan
tersebut dapat memberikan informasi yang dapat membantu
dalam diagnosis dan manajemen rhinitis alergi berikutnya.
Misalnya, adanya perbaikan gejala  antihistamin generasi
kedua ( misalnya , desloratadine[ AERIUS ] , fexofenadine [
Allegra ] , loratadine [ Claritin ] )sangat sugestif dari etiologi
alergi .
Namun , penting untuk dicatat bahwa respon terhadap
antihistamin generasi pertama ( misalnya , brompheniramine
maleat[ Dimetane ] , chlorpheniramine maleate [ Chlor -
Tripolon ] ,clemastine [ Tavist - 1 ] ) tidak menyiratkan etiologi
alergi karena sifat antikolinergik dan obat penenang agen ini
mengurangi rhinorrhea dan dapat meningkatkan kualitas tidur
terlepas dari apakah rhinitis pasien merupakan peradangan
alergi .
Respon terhadap kortikosteroid intranasal sebelumnya mungkin
juga sugestif dari etiologi alergi , dan kemungkinan
menunjukkan bahwa pengobatan tersebut akan terus
menguntungkan di masa yang akan dating.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pasien dengan dugaan rhinitis alergi harus
mencakup penilaian tanda-tanda luar, hidung , telinga , sinus ,
posterior orofaring( daerah tenggorokan yang berada di bagian
belakang mulut ) , dada dan kulit.
 Tanda-tanda lahiriah yang mungkin sugestif dari rhinitis
alergi meliputi: Sering bernapas melalui mulut ,
menggosok-gosok hidung atau terlihat jelas lipatan nasal
melintang , sering pilek atau kliring tenggorokan , dan
alergi shiners ( lingkaran hitam di bawah mata yang
disebabkan oleh hidung tersumbat ) .
 pemeriksaan hidung : biasanya mengungkapkan
pembengkakan mukosa hidung dan pucat , sekresi tipis.
Pemeriksaan hidung dengan endoskopi internal juga harus
dipertimbangkan untuk menilai kelainan struktural dan
polip hidung.

21
 Telinga umumnya tampak normal pada pasien dengan
rhinitis alergi , namun , penilaian untuk disfungsi tuba
Eustachian menggunakan otoscope pneumatik harus
dipertimbangkan. Manuver Valsava itu ( meningkatkan
tekanan dalam rongga hidung dengan mencoba untuk
meniup melalui hidung sambil menutup telinga dan mulut )
juga dapat digunakan untuk menilain cairan di belakang
gendang telinga.
 Pemeriksaan sinus harus mencakup palpasi sinus bukti
kelembutan atau penyadapan dari gigi rahang atas dengan
lidah depressor untuk bukti sensitivitas . Posterior orofaring
juga harus diperiksa untuk tanda-tanda pasca nasal drip
( akumulasi lender di belakang hidung dan tenggorokan ) ,
dan dada serta kulit harus diperiksa dengan hati-hati untuk
tanda-tanda asma ( misalnya , mengi ) atau dermatitis.

Pemeriksaan Penunjang
Meskipun anamnesis menyeluruh dan pemeriksaan fisik
diperlukan untuk menegakkan diagnosis klinis rhinitis ,
tes diagnostik lebih lanjut biasanya diperlukan untuk
mengkonfirmasi bahwa alergi yang mendasari
menyebabkan rhinitis tersebut .
 Skin prict test dianggap sebagai metode utama
untuk mengidentifikasi pemicu rhinitis alergi
tertentu . Pengujian skin prick melibatkan setetes
ekstrak komersial spesifik allergen pada kulit
lengan bawah atau punggung , kemudian menusuk
kulit untuk memperkenalkan ekstrak ke dalam
epidermis . Dalam 15-20 menit , sebuah respon
wheal - dan - suar ( sebuah wheal pucat tidak teratur
dikelilingi oleh daerah kemerahan) akan terjadi jika
tes positif . Pengujian biasanya dilakukan dengan
menggunakan allergen relevan dengan lingkungan
pasien ( misalnya , serbuk sari , bulu binatang ,
jamur dan tungau debu rumah ) .
 Pengujian skin prick menggunakan alergen - tes IgE
spesifik ( misalnya , tes radioallergosorbent) yang
memberikan ukuran in vitro dari kadar IgE spesifik
pasien terhadap alergen tertentu . Namun, Tes tusuk
kulit umumnya dianggap lebih sensitif dan hemat
biaya daripada tes IgE spesifik alergen tertentu , dan
memiliki keuntungan lebih lanjut.
(Harold,2011)

Diagnosis banding

22
1) Rhinitis vasomotor : suatu keadaan idiopatik yang
didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi, eosinofilia,
perubahan hormonal dan pajanan obat.
2) Rhinitis medikamentosa : suatu kelainan hidung
berupa gangguan respon normal vasomotor yang
diakibatkan oleh pemakaian vasokontriktor topikal
dalam waktu lama dan berlebihan sehingga
menyebabkan sumbatan hidung yang menetap.
3) Rhinitis simpleks : penyakit yang diakibatkan oleh
virus. Biasanya adalah rhinovirus. Sangat menular dan
gejala dapat timbul sebagai akibat tidak adanya
kekebalan atau menurunnya daya tahan tubuh.
4) Rhinitis hipertrofi : hipertrofi chonca karena proses
inflamasi kronis yang disebabkan oleh bakteri primer
atau sekunder.
5) Rhinitis atrofi : infeksi hidung kronik yang ditandai
adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang
chonca.
3.8. Tatalaksana
1. Konservatif
Kurangi atau cegah pajanan terhadap alergen dan jaga
kebersihan dengan salin pencuci nasal
2. Medikamentosa
 Antihistamin oral; terapi lini pertama untuk
gejala ringan. Contoh: cetirizine (10 mg PO
1x/hari), fexofenadine (120 mg 1x/hari),
loratadin (10 mg PO 1x/hari), levocetirizin atau
desloratadin
 Kortikosteroid intranasal untuk gejala
sedang/berat atau persisten gunakan selama 1
bulan konsisten contoh: beclomethasone (168-
336 μg/hari), budesonide (252 μg/hari),
fluticasone (100-200 μg/hari), mometasone
furoate (100-200 μg/hari)
 Dekongestan intranasal (penggunaan dibatasi <5
hari untuk mencegah rhinitis medikamentosa)
diberikan jika disertai obstruksi nasal seperti
pserudoefedrin, oksimetazolin dan fenilepinefrin
3. Tes alergi kulit
Mengidentifikasi alergen untuk dimasukan dalam
imunoterapi
4. imunoterapi
untuk kasus berat yang tidak merespom terhadap efek
farmakologi dan injeksi subkutan periodic atau dapat
berupa preparat sublingual
5. cuci hidung dengan larutan NaCl fisiologis/ NaCl isotonic

23
3.9. Pencegahan
Pada dasarnya penyakit alergi dapat dicegah dan dibagi
menjadi 3 tahap, yaitu:
a. Pencegahan primer
Untuk mencegah sensitisasi atau proses pengenalan dini
terhadap alergen. Tindakan pertama adalah
mengidentifikasi bayi yang mempunyai risiko atopi.
Pada ibu hamil diberikan diet restriksi (tanpa susu, ikan
laut, dan kacang) mulai trimester 3 dan selama
menyusui, dan bayi mendapat ASI eksklusif selama 5-6
bulan. Selain itu kontrol lingkungan dilakukan untuk
mencegah pajanan terhadap alergen dan polutan.
b. Pencegahan sekunder
Untuk mencegah manifestasi klinis alergi pada anak
berupa asma dan pilek alergi yang sudah tersensitisasi
dengan gejala alergi tahap awal berupaalergi makanan
dan kulit. Tindakan yang dilakukan dengan
penghindaran terhadap pajanan alergen inhalan dan
makanan yang dapat diketahui dengan uji kulit.
c. Pencegahan tersier
Untuk mengurangi gejala klinis dan derajat beratnya
penyakit alergi dengan penghindaran alergen dan
pengobatan.
3.10. Komplikasi
1. Polip hidung
Polip hidung adalah pembengkakan berdaging yang tumbuh dari
lapisan hidung atau sinus(rongga kecil di dalam hidung). Mereka
berkembang ketika membran hidung menjadi meradang dan
bengkak, dan kadang-kadang disebabkan oleh rhinitis. Polip
hidung memiliki tanda patognomonis: inspisited mucous glands,
akumulasi sel-sel inflamasi yang luar biasa banyaknya (lebih
eosinofil dan limfosit T CD4+), hiperplasia epitel, hiperplasia
goblet, dan metaplasia skuamosa.
Sebuah polip hidung berbentuk seperti tetesan air mata ketika
tumbuh dan tampak seperti anggur pada batang ketika sudah
dewasa. Mereka bervariasi dalam ukuran dan bisa berwarna
kuning, abu-abu atau pink dalam warna. Mereka juga dapat
tumbuh sendiri atau dalam kelompok dan biasanya
mempengaruhi kedua lubang hidung. Jika polip hidung tumbuh
cukup besar, atau jika mereka tumbuh dalam kelompok, mereka
dapat:
 mengganggu pernapasan
 mengurangi rasa penciuman
 memblokir sinus
Polip kecil dapat menyusut dengan menggunakan semprot hidung
kortikosteroid sehingga mereka tidak menimbulkan penyumbatan
di hidung Anda. Polip besar mungkin perlu pembedahan.

2. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak.

24
3. Sinusitis paranasal merupakan inflamasi mukosa satu atau
lebih sinus paranasal.
Sinusitis adalah komplikasi umum dari rhinitis. Sinusitis
merupakan sinus yang menjadi meradang atau terinfeksi. Jika
sinus menjadi penuh dengan lendir, cairan biasanya akan
mengeluarkannya. Namun, jika cairan tidak dapat
mengeluarkannya, dapat menyebabkan penyumbatan, dan dapat
terinfeksi dengan bakteri. Terjadi akibat edema ostia sinus oleh
proses alergis dalam mukosa yang menyebabkan sumbatan ostia
sehingga terjadi penurunan oksigenasi dan tekanan udara rongga
sinus. Hal tersebut akan menyuburkan pertumbuhan bakteri
terutama bakteri anaerob dan akan menyebabkan rusaknya fungsi
barier epitel antara lain akibat dekstruksi mukosa oleh mediator
protein basa yang dilepas sel eosinofil (MBP) dengan akibat
sinusitis akan semakin parah. Sinusitis adalah masalah umum
untuk orang dengan rhinitis karena kelebihan membangun lendir
atau polip hidung dapat menghentikan sinus dari pengeringan
dengan benar. Gejala umum sinusitis meliputi: rasa sakit dan
nyeri dari sinus yang terinfeksi, hidung tersumbat atau meler,
suhu tinggi (demam) lebih 38ºC (100.4ºF)
3.11. Prognosis
a. Kebanyakan pasien dapat hidup normal dengan gejala.
b. Hanya pasien yang menerima imunoterapi spesifik-alergen
sembuh dari penyakit, namun banyak pasien melakukannya
dengan sangat baik dengan perawatan gejala intermiten. Gejala
rhinitis alergi bisa kambuh 2-3 tahun setelah penghentian
imunoterapi alergen.
Sebagian kecil pasien mengalami perbaikan selama masa remaja,
tapi di sebagian besar, gejala muncul kembali di awal dua puluhan
atau lebih. Gejala mulai berkurang ketika pasien mencapai
dasawarsa kelima kehidupan.

4. Memahami dan Menjelaskan Adab Berwudhu, Bersin dan Menguap


Adab bersin Rasulullah SAW:
1. Merendahkan suara dan menutup mulut serta wajah saat bersin
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersin, maka beliau menutup wajahnya
dengan tangan atau bajunya sambil merendahkan suaranya.
2. Tidak memalingkan leher ke kiri atau ke kanan ketika bersin
Hal ini agar tidak membahayakan kesehatan meskipun dilakukan dengan
alasan untuk menghindari orang yang ada di depannya.
3. Mengeraskan bacaan hamdalah meskipun sedang shalat wajib
Para ulama telah bersepakat atas dianjurkannya mengeraskan hamdalah ketika
bersin dalam shalat, dan tidak disyari’atkan menjawabnya bagi yang
mendengarkannya. Hadits yang membolehkan menjawab hamdalah pada
waktu sholat adalah hadits dhoif.
4. Tasymit (mendoakan seserang yang bersin)
Wajib bagi yang mendengar bacaan hamdalah untuk mengucapkan tasymit
yaitu “Yarhamukallaah” dan jika tidak mendengar bacaan hamdalah dari

25
orang yang bersin, maka maka tidak perlu mengucapkan tasymit bagi orang
yang ada di sekelilingnya. Rasulullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya
Allah menyukai bersin dan membenci menguap, maka apabila ia bersin,
hendaklah ia memuji Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah. Dan
kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk bertasymit
(mendo’akannya).” (HR Bukhari). Hadits ini menunjukkan bahwa tasymit
adalah wajib bagi muslim yang mendengar bacaan hamdalah dari orang yang
bersin.
5. Jawaban setelah mendengar orang yang bertasymit
Apabila seseorang yang bersin mengucapkan hamdalah kemudian orang yang
mendengarnya bertasymit, maka dianjurkan bagi yang bersin untuk
mengucapkan salah satu do’a berikut. Dan merupakan sunnah untuk
mengucapkan doa-doa tersebut secara bergantian.
a. Mengucapkan “Yahdiikumullaah wa yuslihu baalakum (semoga Allah
memberi hidayah dan memperbaiki keadaan kalian).” (HR. Bukhari)
b. Mengucapkan “Yaghfirullahu lanaa wa lakum (semoga Allah
mengampuni kita dan kalian semua).” (HR. Abu Dawud, an-Nasai, dan
Tirmidzi)
c. Mengucapkan “Yaghfirullah lakum (semoga Allah mengampuni kalian
semua).” (HR. Bukhari dan an-Nasai)
d. Mengucapkan “ Yarhamunallah wa iyyaakum wa yaghfirullahu lanaa wa
lakum (semoga Allah merahmati dan mengampuni kami dan kalian
semua.” (HR. Malik)
e. Mengucapkan “Afaanallaah wa iyyaakum minan naari
yarhamukumullaah (semoga Allah mengampuni kami dan kalian semua
dari api neraka dan merahmati kalian semua)” (HR. Bukhari)
f. Mengucapkan ”Yarhamunallaah wa iyyakum (semoga Allah merahmati
kami dan kalian semua)” (HR. At-Thabari)
(Ummu Umar Al-Atsariyyah. 2010)

Adab Menguap Rasulullah SAW:


Menguap dilakukan karena beberapa penyebab, antara lain: mengantuk, gelisah, butuh
tambahan oksigen. Islam juga mengatur bagaimana menguap yg ‘baik’.
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasululloh SAW bersabda:

ُ‫الش^^^ ْيطَان‬ َ ‫اس^^^تَطَا َع فَ^^^إ ِ َّن أَ َح^^^ َد ُك ْم ِإ َذا قَ^^^ا َل هَ^^^ا‬


َّ َ‫ض^^^ ِحك‬ ْ ‫ب أَ َح^^^ ُد ُك ْم فَ ْليَ^^^ ُر َّدهُ َم^^^ا‬ َّ ‫التَّثَ^^^ا ُؤبُ ِم ْن‬
َ ‫الش^^^ ْيطَا ِن فَ^^^إ ِ َذا تَثَ^^^ا َء‬
“Menguap adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap, maka
hendaknya ditahan semampu dia, sesungguhnya jika salah seorang dari kalian
(ketika menguap) mengatakan (keluar bunyi): ‘hah’, maka setan tertawa.” (HR. Al-
Bukhari, Muslim, dan ini lafazh riwayat Al-Bukhari)

Di hadits lain:

ْ ‫ب أَ َح^^^^^^^^^ ُد ُك ْم فَ ْليَ ْك ِظ ْم َم^^^^^^^^^ا‬


‫اس^^^^^^^^^تَطَا َع‬ َّ ‫الص^^^^^^^^^ال ِة ِم ْن‬
َ ‫الش^^^^^^^^^ ْيطَا ِن فَ^^^^^^^^^إ ِ َذا تَثَ^^^^^^^^^ا َء‬ َّ ‫التَّثَ^^^^^^^^^ا ُؤبُ فِي‬
“Menguap ketika sholat adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap,
maka tahanlah semampunya.” (HR Tirmidzi)

Dengan kata lain, Islam menyarankan kita untuk menahan (tidak) menguap. Jika tidak
kuat, maka hendaknya menguap dengan menutup mulut dan tidak mengeluarkan
bunyi.

26
Wajibnya Berkumur-kumur dan Istinsyaq
Berkumur-kumur yang dalam bahasa arabnya Madhmadhah, adalah memasukkan air
ke dalam mulut lalu menggerak-gerakkannya di dalam.
Sedangkan istinsyaq adalah memasukkan air ke dalam lubang hidung dan
menghirupnya hingga ke pangkal hidung. Sementara istinsyar, adalah mengeluarkan
air dari dalam hidung setelah beristinsyar.
Berkumur-kumur dan beristinsyar adalah bagian dari membasuk wajah yang
diperintahkan dalam ayat di atas. Sedangkan membasuh wajah adalah wajib, maka
berkumur-kumur dan beristinsyaq juga wajib menurut pendapat yang lebih shahih.
(Shahih Fiqih Sunnah: 1/150)
Syaikh Abdurahman bin Nashir al-Sa'di dalam tafsirnya, Taisir al-Kariim al-
Rahmaan fii Tafsiir Kalaam al-Mannaan, mengeluarkan dari ayat di atas beberapa
faidah hukum yang banyak. Pada urutan ke tujuh, beliau mengatakan: Perintah
membasuh wajah. Yaitu yang  didapatkan dari bagian muka, dimulai secara
memanjang (meninggi) dari tempat tumbuhnya rambut normal hingga tulang rahang
dan dagu, melebarnya dari telinga satu sampai telinga yang lain. Masuk di dalamnya,
berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung lalu
mengeluarkannya) yang dijelaskan oleh sunnah. Juga masuk dalam bagiannya,
rambut-rambut yang tumbuh padanya. Tapi jika tipis harus menyampaikan air ke
kulit, dan jika lebat maka cukup yang nampak saja.
Lebih jelasnya, kami uraikan empat alasan yang mewajibkannya dalam rincian
sebagai berikut:
1. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk mencuci wajah, sedangkan
mulut dan hidung adalah bagian dari wajah yang bagian dalam. Tidak ada alasan
menghususkan wajah bagian luarnya saja, tidak bagian dalamnya. Padahal semua
bagian tersebut termasuk wajah, sebagaimana mata, alis, pipi, jidad dan lainnya.
2. Allah memerintah untuk mencuci wajah secara mutlak, sementara
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan dengan perbuatan dan
penyampaian. Beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung setiap
kali berwudhu. Tidak pernah didapatkan nukilan, beliau meninggalkannya walau pada
saat beliau membasuh bagian yang penting-penting saja. Jika perbuatan tersebut untuk
melaksanakan suatu perintah, maka hukumnya sama dengan hukum perintah tersebut,
yaitu menunjukkan wajibnya. (Lihat: Syarah al-Umdah, Ibnu Taimiyah: 1/178; dan al-
Tamhid, Ibnu Abdil Barr: 4/36).
3. Perintah berkumur-kumur disebutkan dalam sejumlah hadits, di antaranya dalam
hadits Luqaith bin Shabrah:
ْ‫إِ َذا ت ََوضَّأْتَ فَ َمضْ ِمض‬
"Apabila kamu berwudhu, maka berkumur-kumurlah." (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi,
Nasai, dan Ibnu Majah. Dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah: 1/151. Hadits ini
dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani.)
4. Tentang istinsyaq dan istintsar telah diriwayatkan secara shahih dari sabda
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
ْ‫َم ْن ت ََوضَّأ َ فَ ْليَ ْستَ ْنثِر‬
"Siapa yang berwudhu hendaknya ia beristintsar." (HR. Bukhari, Muslim, dan selain
keduanya)
ْ‫َوإِ َذا تَ َوضَّأ َ أَ َح ُد ُك ْم فَ ْليَجْ َعلْ فِى أَ ْنفِ ِه َما ًء ثُ َّم ْليَ ْنتَثِر‬
"Dan apabila salah seorang kamu berwudhu, maka hendaknya ia memasukkan air ke
dalam hidungnya lalu ia keluarkan kembali." (HR. al-Bukhari, Muslim, dan selain
keduanya)

27
‫إِ َذا تَ َوضَّأ َ أَ َح ُد ُك ْم فَ ْليَ ْستَ ْن ِش ْق‬
"Apabila seorang kamu berwudhu hendaknya dia beristinsyaq." (HR. Muslim)
‫صائِ ًما‬َ َ‫اق إِالَّ أَ ْن تَ ُكون‬ َ َ‫أَ ْسبِ ِغ ْال ُوضُو َء َوخَ لِّلْ بَ ْينَ األ‬
ِ ‫صابِ ِع َوبَالِ ْغ فِى ا ِال ْستِ ْن َش‬
"Sempurnakan wudhu dan sela-sela di antara jari-jemari serta bersungguh-
sungguhlah dalam memasukkan air ke hidung (istinsyaq) kecuali saat engkau sedang
berpuasa." (HR. Ashabus Sunan dan dishahihkan Syaikh Al-Albani) 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wasallam  menghususkan istinsyaq dengan perintah, bukan karena hidung lebih
penting untuk dibersihkan daripada mulut. Bagaimana mungkin, padahal mulut lebih
mulia karena digunakan untuk berdzikir dan membaca Al-Qur'an, serta mulut lebih
sering berubah baunya? Namun –wallahu a'lam- karena syariat telah memerintahkan
untuk membersihkan mulut dengan siwak dan menegaskan perihalnya. Mencuci
mulut sesudah dan sebelum makan disyariatkan menurut sebuah pendapat. Telah
diketahui perhatian syariat untuk membersihkan mulut, berbeda dengan hidung. Jadi,
membersihkan hidung di sini untuk menjelaskan hukumnya, karena dikhawatirkan
perkara ini akan diabaikan." (Syarh al-'Umdah: 1/179-180)
Catatan:
Perlu sama-sama diperhatikan dan disadari, masalah ini sudah dibicarakan ulama
sejak dahulu dan terdapat perbedaan tentang status berkumur-kumur dan beristinsyaq
saat berwudhu. Ada yang menyatakannya mandub/sunnah, berargumen dengan hadits
Rifa'ah bin Rafi' tentang kisah orang yang buruk shalatnya. Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam  bersabda kepadanya:
"Sesungguhnya tidak akan sempurna shalat salah seorang kalian hingga ia berwudhu
dengan sempurna sebagaimana diperintahkan Allah, yaitu ia membasuh wajahnya,
kedua tangannya hingga siku,mengusap kepalanya dan mencuci kedua kakinya
hingga mata kaki . . ." (HR. Ashabus Sunan dan selain mereka)
Pada hadits tersebut, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak menyebutkan tentang
berkumur-kumur dan istinsyaq mengenai apa yang diperintahkan Allah. Hal ini
selaras dengan QS. Al-Maidah: 6 di atas. Penyebutan wajah di sini bukan
perkara mujmal (global) yang membutuhkan perinciannya dari sunnah. Ini juga
merupakan pendapat yang tidak bisa dibatilkan. Wallahu Ta'ala a'lam.
Hanya saja menjaga kumur-kumur dan istinsyaq serta intintsar dalam wudhu adalah
jelas dilaksanakan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  sebagai
bagian pelaksanaan bersuci untuk shalat. Bahkan bagian dari pelaksanaan perintah
Allah dalam membasuh wajah saat berwudhu. Dan sebaik-baik keputusan dalam
ibadah adalah ittiba' kepada sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
ُ‫فَبَ ِّشرْ ِعبَا ِد الَّ ِذينَ يَ ْستَ ِمعُونَ ْالقَوْ َل فَيَتَّبِعُونَ أَحْ َسنَه‬
"Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku. Yaitu mereka yang
mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya." (QS.
Al-Zumar: 17-18)
(Badrul Tamam)    

28
DAFTAR PUSTAKA

Al-Atsary, Abu Ihsan. dan Chairiyah, Ummu Ihsan . Panduan Amal Sehari Semalam .
cetakan ke-3, hal. 277 – 280. Dari : http://remajaislam.com/islam-dasar/amalan/192-
adab-ketika-bersin.html

Sherwood, Laura (2014). Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Alih bahasa: Brahm
U. Pendit. Edisi 8. Jakarta: EGC
Mescher, Anthony L. (2011). Histologi dasar Junquiera: teks & atlas. Alih bahasa:
Frany Dany. Edisi 12. Jakarta: EGC

Dr.H.Inmar Raden, Ms,PA. 2013. Anatomi Kedokteran.

Djojodibroto, Darmanto (2017). Respirologi Ed.2. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran


EGC

Tanto, Chris, et al (2014). Kapita Selekta Kedokteran Ed. IV Jilid II. Jakarta. Penerbit
Media Aesculapius.

Small, Peter. dan Kim ,Harold (2011). Allergy, Asthma & Clinical Immunology,
7(Suppl 1):S3. From : http://www.aacijournal.com/content/7/S1/S3

Tamam, Badrul. dari: http://www.voa-


islam.com/read/ibadah/2011/04/19/14231/wajibnya-berkumurkumur-dan-istinsyaq-
dalam-wudhu/#sthash.7b4LCNxT.dpuf

29