Anda di halaman 1dari 74

DRAFT

RAHASIA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PETA JALAN
PENDIDIKAN INDONESIA
2020 - 2035

MEI 2020
Daftar Isi

 Tren Global dan Masa Depan Pembelajaran


 Gambaran Pendidikan di Indonesia dan Tantangannya
 Peta Jalan Pendidikan Indonesia

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2


Perubahan teknologi, sosial, dan lingkungan sedang terjadi secara global

Teknologi Sosiokultural Lingkungan


Disrupsi teknologi akan berdampak Perubahan demografi, profil sosio- Habisnya bahan bakar fosil, krisis air,
pada semua sektor ekonomi dari populasi dunia perubahan iklim, permukaan laut naik

• Penerapan otomatisasi, AI (Artificial • Meningkatnya usia harapan hidup dan • Meningkatnya kebutuhan energi dan air
Intelligence), dan big data di semua usia lama bekerja dan berkurangnya sumber daya alam
sektor
• Tumbuhnya migrasi, urbanisasi, • Meningkatnya perhatian terhadap energi
• Konektivitas 5G yang memungkinkan keragaman budaya, dan kelas alternatif untuk melawan perubahan iklim
teknologi lainnya saling terhubung seperti menengah
• Upaya berkelanjutan pada isu lingkungan
kendaraan otonom, drones, dll.
• Meningkatnya tenaga kerja yang terus seperti plastik dan limbah nuklir
• Pencetakan 3D (3D printing), smart bergerak (mobile) dan fleksibel
wearables, augmented dan realitas maya
• Munculnya kepedulian konsumen
(virtual reality) (AR dan VR), dll.
terhadap etika, privasi, dan kesehatan

Sumber: analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 3
Pandemi virus COVID-19 telah mendorong terjadinya perubahan struktural yang
sangat cepat

Melaksanakan pembelajaran jarak jauh


Sekolah-sekolah di seluruh dunia harus cepat beradaptasi dengan sistem digital untuk memfasilitasi pembelajaran jarak jauh

Pendidikan
Institusi banyak mendapat tekanan finansial
Banyak sekolah dan universitas mendapatkan tekanan finansial – salah satunya karena orang tua dan siswa meminta rabat dan
mendorong institusi untuk menurunkan biaya kuliah

Mempercepat akses digital di semua industri


Karena konsumen dan pelaku usaha semakin bergantung kepada teknologi, industri perlu mempercepat proses digitalisasi untuk tetap
relevan dan meningkatkan efisiensi

Tekanan lebih besar untuk memperbaharui keterampilan (misalnya: cyber security)


Dunia Kerja Para pekerja dari berbagai industri perlu dengan cepat menyesuaikan diri dengan cara kerja baru dan memperbaiki keterampilan
mereka untuk tetap kompetitif

Lokalisasi peluang kewirausahaan


Para pelaku wirausaha akan menjadi pendorong penting pemulihan ekonomi dalam menciptakan cara-cara yang inovatif untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat

Sumber: analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 4
Cara bekerja pada masa depan akan jauh berbeda jika dibandingkan dengan hari ini
Tren perubahan

Struktural Munculnya jenis Struktur organisasi, perusahaan, dan tipe pekerjaan baru banyak
pekerjaan baru muncul untuk mengakomodasi manusia dan teknologi yang berubah cepat

Tenaga kerja multi-


Untuk pertama kalinya dalam sejarah, 5 generasi bekerja bersamaan dan
generasi dan
meningkatnya kesadaran akan keberagaman di tempat kerja
beragam

Tidak dibatasi Pekerjaan dapat dilakukan di mana saja dan dengan waktu yang fleksibel
struktur dan tempat Rasio pekerja tidak tetap meningkat (freelancer)

Otonomi Karier ditentukan


Pekerja oleh pekerja, bukan Pekerja memiliki kontrol yang lebih besar akan perjalanan kariernya
perusahaan

Pemberdayaan Digitalisasi dan Teknologi menyederhanakan pekerjaan sehari-hari dan menghubungkan


Teknologi otomatisasi pekerja dengan efisien

Akses dan
Data memberikan pemahaman lebih baik tentang perilaku dan kualitas
pengolahan data pekerja
semakin masif

Sumber: analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 5
Kemampuan memecahkan masalah, kognitif, dan sosial akan menjadi semakin
penting; kebutuhan keterampilan fisik akan semakin berkurang
Perubahan kebutuhan keterampilan tenaga kerja:
Keterampilan Perubahan kebutuhan dari kondisi sekarang
% Pekerjaan
(% pekerjaan)
Rangkuman
masa depan Kebutuhan yang Kebutuhan yang
Kebutuhan stabil
yang meningkat menurun
membutuhkan Keterampilan masa depan (Abad 21) Keterampilan
keterampilan inti saat ini
• Kemampuan
Kognitif 15% 52% 31% 18% memecahkan masalah,
sosial, proses, dan
Sistem 17% 42% 39% 19% sistem adalah
keterampilan yang akan
Pemecahan masalah 36% 40% 40% 20%
paling dicari sebagai
keterampilan inti di
Konten 10% 40% 36% 24%
tempat kerja pada masa
Proses 18% 39% 40% 21% mendatang
• Kebanyakan pekerjaan
Sosial 19% 37% 41% 22% akan mengalami
perubahan dalam
Manajemen sumber daya 13% 26% 43% 21%
keterampilan
Teknis 12% 33% 43% 24%

Fisik 4% 31% 42% 27%

Sumber: World Economic Forum, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 6
Pembahasan sedang berjalan di tingkat global terkait pembelajaran masa depan yang
harus dipersiapkan - OECD Learning Compass 2030
OECD Learning Compass 2030
Kerangka pembelajaran untuk membantu negara-negara memikirkan pembangunan kompetensi agar dapat maju dan sejahtera
pada tahun 2030
1 Kesejahteraan 2030
Pondasi Inti, Kompetensi Inti, dan
• Melebihi sekadar faktor 3
Transformatif
ekonomi, seperti pekerjaan,
pendapatan, dan perumahan, • Mengidentifikasi pengetahuan,
tetapi juga faktor kualitas Ko-agen keterampilan, sikap, nilai, dan
dengan teman
hidup, seperti keseimbangan sebaya, guru, Kesejahteraan kemampuan inti yang perlu dikembangkan
kehidupan kerja, pendidikan, orang tua, 2030 agar dapat maju dan sejahtera pada tahun
keamanan, kepuasan hidup, dan 2030
kesehatan, keterlibatan publik, komunitas • Perubahan dari pembangunan
lingkungan, dan masyarakat pengetahuan menuju pembangunan
keterampilan, sikap, nilai, dan kompetensi
2 Siswa dan Ko-agen
yang lebih luas
• Menekankan pada kebutuhan agar Siklus Antisipasi – Aksi – Refleksi
siswa belajar mencari dan 4 (AAR)
menemukan arah mereka sendiri
melalui cara yang bermakna dan • Pembelajaran sebagai proses
bertanggung jawab (agen siswa) berulang, yaitu siswa terus-menerus
• Dilengkapi dengan interaksi dan meningkatkan pemikiran dan sikap
Kompas
bimbingan dari teman sebaya, Pembelajaran bertanggung jawab untuk kesejahteraan
Agen siswa 2030 bersama
orang tua, guru, masyarakat, dll.
(ko-agen)
1. Pengetahuan: disipliner, interdisipliner, epistemik, prosedural; Keterampilan: kognitif dan meta-kognitif, sosial dan emosional, fisik dan praktis;
Sikap dan nilai: personal, lokal, masyarakat, global Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 7
Sumber: OECD
Negara-negara mengadaptasi sistem pendidikan mereka untuk memenuhi kebutuhan
perubahan agar dapat maju pada masa depan
Benchmark Sistem Pendidikan yang Berubah
Prasekolah Dasar dan Menengah Vokasi Perguruan Tinggi

• Australia: Membuat pendidikan • Kanada: Pembelajaran • Tiongkok: Model “1+x” • Korea Selatan: Proyek Brain
anak usia dini makin mudah disesuaikan dengan memungkinkan lembaga Korea 21 Plus untuk perguruan
diakses dan inklusif ketertarikan/kebutuhan siswa; vokasi dan perguruan tinggi tinggi ternama; infrastruktur
melibatkan pembelajaran menawarkan berbagai macam penelitian yang lebih baik dan
• Belanda: Tes di prasekolah berbasis pengalaman melalui sertifikat keterampilan kompetensi berbasis kreativitas
dihapus sepenuhnya dan proyek masyarakat di samping
digantikan permainan atau meningkatkan perangkat • Jerman: Pelatihan ganda • Singapura: Fokus pada
percakapan digital pendidikan vokasi (VET) pembelajaran berbasis
dengan 330 program pelatihan pengalaman, kursus khusus
• Tiongkok: • Finlandia: Kurikulum inti industri, perguruan tinggi
resmi
Mengimplementasikan berdasarkan bekerja dan otonomi, perangkat berbasis
kebijakan untuk mendorong interaksi secara kolaboratif, • Singapura: Meningkatkan teknologi dan inovasi, pedagogi
akses universal yang aktivitas kreatif, pengalaman sistem Institut Pendidikan fleksibel
menghasilkan kenaikan 50% emosional positif, dengan guru Teknis untuk mengembangkan
penerimaan siswa dalam 8 sebagai pengajar aktif dan keterampilan berteknologi • Tiongkok: Menarik siswa
tahun; bermain/permainan fasilitator pembelajaran. tinggi dengan memperkuat internasional, fakultas, dan
sebagai metode pedagogi kerja sama industri, kerangka partner untuk menambah
utama Perkembangan fleksibel keterampilan diplomasi dan transfer
pengetahuan
Pembelajaran berbasis proyek/penemuan,
Menjamin akses universal Kepemilikan dan keterkaitan Keterkaitan dengan industri (penelitian,
interdisipliner, dan campuran (blended)
Pembelajaran berbasis permainan dengan industri kurikulum, anggota fakultas)
Guru memfasilitasi dan menanamkan
daripada ‘bersekolah’ seperti magang, pengembangan Pembelajaran berbasis proyek,
kesenangan belajar
kurikulum, dan pelatihan guru interdisipliner (seni liberal)
Fokus pada kompetensi, keterampilan
Program micro-degree Program micro-degree
masa depan, dan pengembangan karakter
Jalur fleksibel antara perguruan tinggi Lebih banyak otonomi
dan vokasi Mobilitas dan kerja sama internasional
Sumber: Pencarian media
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 8
Sistem pendidikan Indonesia juga akan mengalami perubahan

1 3
Gambaran
Perekonomian pasar kerja
Indonesia Indonesia
yang berubah yang berbeda-
beda

Bagaimana
seharusnya
pendidikan Indonesia
menyesuaikan?
2 4
Perubahan
Visi
sosiokultural
dan demografi
Indonesia
Indonesia 2045

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 9


1 SDM unggul yang dibutuhkan di masa depan tidak bisa diciptakan oleh
perkembangan ilmu yang dibentuk berdasarkan tren masa lalu

PDB1 Indonesia berdasarkan sektor Berbasis Berbasis Berbasis % Poin


(% kontribusi) Perubahan PDB Sektor
Sumber daya Industri Layanan (2015–2030) (2015–2030)
Total (USD miliar) 78,9 180 861 3.254
14,5 14,1 10,5 -4 pp 7,2%
Pertanian dan Perikanan 22,1
7,2 -2 pp 7,5%
12,5 9,2
16,3 -5 pp 7,2%
Pertambangan dan Utilitas 23,0 21,7
25,2 10,2 +1 pp 9,6%

Industri 12,4 9,8 +1 pp 9,8%


5,0 18,3
Konstruksi 4,8
17,0
19,7 10,0 +1 pp 10,1%
Perdagangan, Retail, dan Perhotelan 18,6
8,9
5,4
Transportasi, logistik, dan Komunikasi 5,0
27,5 +8 pp 11,9%
17,8 19,3
Layanan Lainnya2 14,1

1980 2000 2015 2030E


Layanan
PDB1 / kapita (USD) 522 842 3.366 11.228

1. PDB Nominal; 2. Termasuk asuransi dan keuangan, Real Estat, Pemerintah dan Pertahanan, Pendidikan, Kesehatan dan Bidang Sosial, dan lain-lain
Sumber: Bank Dunia, Reserve Bank of Australia, PBB, Economist Intelligence Unit, BPS, Kearney Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 10
2 Indonesia juga akan mengalami perubahan demografis yang signifikan

Meningkatnya kelas Pesatnya urbanisasi Populasi umur


berpendapatan menengah Populasi perkotaan vs. pedesaan Proyeksi kelompok umur
(# orang; %) Indeks pertumbuhan (2010=100)
Populasi berdasarkan tingkat pendapatan
(# orang; %) Saat ini

Periode
319 306 300 ‘bonus
313 296 demografis’
296 285 65+ terbatas yang
271
271 Kelas 30-64 tersisa
30% berpendapatan 256
33% Perdesaan 250 15-29
lainnya 239 37%
239 40% 0-14
40%
51% 43%
47% 200
50%
69%

81%
150
Kelas
70% berpendapatan 67% Perkotaan
60% menengah 63%
60%
57%
49% 53% 100
50%
31%
19%

2010 2020F 2030F 2040F 2045F 2010 2015 2020F 2025F 2030F 2035F 2010 2015 2020 2025 2030 2035

Sumber: BPS, Bappenas, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 11
2 Indonesia akan menjadi lebih berliterasi digital, stabil secara politik, dan sukses
dalam memberantas kemiskinan
Masyarakat berliterasi digital Stabilitas politik yang lebih baik Garis kemiskinan nol pada 2030
Pengguna internet vs. Pengguna ponsel Indonesia vs. sampel negara ASEAN Populasi yang hidup di bawah garis
(# orang dalam juta; 2010--2024F) Peringkat stabilitas politik (EIU; 2010--2023F) kemiskinan
Pengguna ponsel Populasi Pengguna internet (% Populasi, 2010--2030F)
Indonesia Singapura Vietnam
Di Bawah Garis Di Atas Garis
Setengah populasi akan memiliki Malaysia Thailand Kemiskinan Kemiskinan
500
minimal 2 ponsel pada 2024 8.0
400
7.5
300
7.0
200
73% populasi akan 6.5
100 menggunakan internet setiap 87% 89% 91%
harinya pada 2024 95%
6.0 100%
2010 2013 2016 2019E 2022F 2024F Memiliki
stabilitas
5.5
politik yang
Pendorong pengadopsian teknologi yang lebih baik Pemerintah Indonesia
cepat 5.0 dari menargetkan garis
Thailand kemiskinan 0% pada
42% populasi berusia di bawah 24 tahun 4.5 dan 2030
Vietnam
masyarakat berusia 17–25 tahun aktif mulai 2020 13% 11% 9%
85% menggunakan internet 5%
0%
2010 2013 2016 2019E 2022F 2023F 2010 2015 2019E 2025F 2030F
masyarakat Indonesia memiliki telepon
53% pintar (smartphone)

Sumber: Economist Intelligence Unit, BPS, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 12
3 Indonesia juga akan mengalami perubahan pasar tenaga kerja

Perubahan pada pekerjaan berdasarkan sektor


(# pekerjaan; 2028F)
Pertanian dan Pertambangan Kesenjangan
keterampilan masa
-3,5 juta >10% tenaga kerja +1,8 juta depan yang paling
pekerjaan tergantikan yang tergantikan pekerjaan baru tercipta besar untuk
meliputi operator pekerjaan baru
Grosir dan Retail mesin, pekerja yaitu:
keterampilan dasar, • dasar
-1,6 juta dan pekerja +2,3 juta (pemahaman
pekerjaan tergantikan pertanian terampil pekerjaan baru tercipta membaca, menulis,
dan mendengarkan)
yang umumnya
Industri • interaktif
disebabkan oleh (negosiasi, persuasi),
perkembangan
-1,5 juta teknologi
+1,4 juta dan
• keterampilan IT
pekerjaan tergantikan pekerjaan baru tercipta (pemrograman,
perancangan sistem)

Pekerjaan baru akan hadir di sektor


62% konstruksi, transportasi/pariwisata, dan retail
Sumber: Cisco, Oxford Economics, analisa Kearney
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 13
4 Indonesia membutuhkan SDM yang terpelajar, luhur, adaptif, dan kolaboratif untuk
mencapai target pembangunan 2045
Visi Indonesia 2045 – Sumber Daya Manusia
Input Terkait
Pengembangan
SDM dan sains • Tenaga kerja Indonesia yang berpendidikan (min. pendidikan formal 12 tahun)
& penguasaan • Masyarakat yang memiliki nilai luhur dan nasionalis serta etos kerja yang baik
teknologi • Tenaga kerja yang lebih sehat, fleksibel, dan adaptif
• Pengajar dan pengajaran yang berkualitas tinggi
Pilar Perkembangan

Pembangunan • Peningkatan kontribusi sains dan teknologi untuk pembangunan


ekonomi • Pendidikan vokasi, kewirausahaan, dan karakter yang lebih baik
berkelanjutan • Kolaborasi yang lebih baik antara pemangku kepentingan dan masyarakat

Berdaulat, Untuk mendukung hal tersebut:


• Peningkatan kemudahan berbisnis dan FDI • Kelautan, perikanan, dan pertanian yang
maju, adil,
Pembangunan • Industri dan pengolahan SDA yang bernilai semakin besar; dengan peningkatan
dan makmur yang adil tambah infrastruktur dan tenaga kerja
• Ekonomi kreatif yang lebih kuat dan • Meningkatnya upaya berkelanjutan
pariwisata yang bertumbuh (pemakaian energi terbarukan, pengelolaan
air, dan kualitas lingkungan) lebih baik
Memperkuat
ketahanan • Demokrasi, birokrasi, pemerintahan, • Distribusi kesejahteraan dan pembangunan
nasional dan penegakan hukum, pencegahan korupsi, yang merata
pemerintahan ketahanan, dan keamanan nasional

Sumber: Bappenas, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 14
Daftar Isi

 Tren Global dan Masa Depan Pembelajaran


 Gambaran Pendidikan di Indonesia dan Tantangannya
 Peta Jalan Pendidikan Indonesia

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 15


Elemen-elemen pendidikan yang berperan penting guna menciptakan masyarakat maju antara lain adalah,
tingginya angka partisipasi siswa dan distribusi kualitas pendidikan yang merata di semua jenjang pendidikan

• Kesadaran/ Persepsi Tingginya


• Akses 1 angka
• Keterjangkauan
• Tekanan eksternal partisipasi
siswa

Belajar
Sepanjang
• Kurikulum dan program 2 Hasil Hayat
• Pola pikir dan ‘agen siswa’
pembelajaran Masyarakat maju
• Infrastruktur
• Pedagogi yang • Formal yang kompeten
• Penilaian
• Ekosistem
berkualitas • Informal dan sejahtera
• Nonformal
Distribusi
• Geografis 3 kualitas
• Budaya dan/atau sosioekonomi pendidikan
• Infrastruktur
• Pemerintahan yang
• Pembiayaan merata dan
inklusif

Sumber: analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 16
Secara keseluruhan, angka partisipasi siswa di Indonesia terus meningkat;
kesenjangan yang tersisa berada di tingkat prasekolah dan pendidikan tinggi…
1 Tren dan benchmark penerimaan siswa

Angka Partisipasi Kasar Benchmark


(%; 2006-2018)
Angka Partisipasi Kasar PDB per Kapita
110 (%; 2017 atau setelahnya) (USD ‘000 PPP;
2018)
100 Prasekolah Pendidikan Tinggi
SD/MI/Paket A (Dasar)
Filipina 80,7 35,5 9,0
90
Mesir 28,7 35,2 12,4
80
SMP/Mts/Paket B (Menengah Pertama)
Indonesia 37,9 36,3 13,1
70
Kolumbia 78,5 55,3 15,0
60 SM/SMK/MA/Paket C (Menengah Atas) Brazil 96,3 51,3 16,1

50 Tiongkok 88,1 50,6 18,2

40 Thailand 73,6 49,3 19,1


PAUD (Prasekolah)
30 Meksiko 73,7 40,2 19,8
PT (Pendidikan Tinggi)
Korea Selatan 95,0 94,4 40,1
0
2006 2008 2010 2012 2014 2016 2018

Sumber: BPS, Bank Dunia, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 17
… yang disebabkan rendahnya kesadaran dan terbatasnya/ rendahnya
kesetaraan akses pendidikan prasekolah dan pendidikan tinggi
1 Tren dan permasalahan angka partisipasi

Jenjang Permasalahan Utama

Prasekolah Rendahnya
kesadaran/ Kesadaran orang tua terhadap pentingnya perkembangan anak usia dini/masa emas rendah
persepsi

Terbatasnya
25% desa di Indonesia tidak memiliki pendidikan prasekolah
akses

Pendidikan Rendahnya “… setidaknya butuh 6 tahun bagi lulusan politeknik sebelum dipromosikan ke tingkat yang sama
Tinggi kesadaran/ dengan fresh graduate perguruan tinggi”
persepsi Direktur, Politeknik Manufaktur Astra

Rendahnya
Angka partisipasi kasar pendidikan tinggi hanya 11% di kelompok pengeluaran rumah tangga kuartil
kesetaraan
terendah; berkurang banyak dari 70% untuk tingkat sekolah menengah dan >60% pada kuartil tertinggi
akses

Sumber: analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 18
Hasil PISA membuktikan kurang memadainya hasil belajar pendidikan dasar
dan menengah
2 Tren dan permasalahan hasil belajar pendidikan dasar dan menengah

Skor PISA dan Peringkat (#; 2000-2018) OECD Indonesia Perundungan 41% siswa Indonesia dilaporkan
(% siswa; 2018) mengalami perundungan beberapa
525
kali dalam sebulan (vs. 23% rata-rata
475 OECD)
70% siswa berada di • Konsisten
425 +129 +122 sebagai salah
bawah kompetensi
Membaca 375 minimum satu negara 41% Siswa yang sering mengalami
2018 Peringkat: 72 dari 77 dengan perundungan memiliki skor 21 poin lebih
23% rendah dalam membaca1, merasa sedih,
1995 2000 2005 2010 2015 2020
peringkat
hasil PISA ketakutan, dan kurang puas dengan
hidupnya. Mereka juga memiliki
500 terendah
kecenderungan membolos sekolah
450 • Skor PISA
+139 +115 71% siswa berada yang stagnan
400
di bawah kompetensi dalam 10-15 Pola pikir untuk Hanya 29% siswa Indonesia setuju
Matematika350 minimum tahun terakhir
2018 Peringkat: 72 dari 78 berkembang bahwa ‘kepandaian adalah sesuatu
• Namun (% siswa; 2018) yang bisa berubah banyak’ (vs. 63%
1995 2000 2005 2010 2015 2020 demikian, rata-rata OECD)
selisih skor
500
dengan rata- 63% Siswa dengan pola pikir berkembang
450 rata skor memiliki skor 32 poin lebih tinggi dalam
+101 +93 60% siswa berada di 29%
OECD sudah membaca1, mengekspresikan ketakutan
400 bawah kompetensi sedikit terhadap kegagalan yang lebih rendah,
Sains minimum lebih termotivasi dan ambisius, menjadikan
2018 Peringkat: 70 dari 78 meningkat
pendidikan sebagai hal yang penting
1995 2000 2005 2010 2015 2020

1. Setelah memperhitungkan profil sosio-ekonomi siswa dan sekolah


Sumber: OECD/ PISA, Kearney Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 19
Kurang memadainya hasil belajar pendidikan dasar dan menengah yang
disebabkan kualitas guru, infrastruktur, dan kesenjangan pada pemerintahan
2 Permasalahan utama yang menyebabkan kurangnya hasil belajar pendidikan dasar dan menengah

Pertanyaan guru cenderung dangkal karena


Guru bertindak sebagai pemberi ilmu, ~90% jawaban siswa hanya satu kata dan
Kesenjangan dalam keefektifan mengajar dan bukan fasilitator, dan kurang atau tidak jarang melibatkan berpikir aras tinggi
A fokus pada pengembangan karakter dan
cara mengajar (higher order thinking) dan kurang
penanaman rasa senang belajar penjelasan/alasan jawaban

Rata-rata skor >40% dari seluruh sekolah >20% sekolah di Indonesia


Infrastruktur sekolah yang tidak kompetensi guru >50% sekolah di Indonesia tidak memiliki akses tidak memiliki
B setidaknya rusak ringan internet, khususnya pada
memadai adalah 57 dari 100 perpusatakaan ‘produktif’
jenjang SD

Kurikulum memiliki materi yang terlalu banyak, tidak ada “Kurikulum tidak cukup praktis dan operasional
Kurikulum yang kaku dan berbasis ruang untuk memahami materi, melakukan refleksi untuk diterjemahkan oleh guru ke dalam materi
materi pembelajaran, dsb. pembelajaran dan aktivitas di dalam kelas”
Kepala Sekolah, Kolese Kanisius

Hampir tidak ada


korelasi antara “Guru dan kepala sekolah “Otonomi daerah dan koordinasi
pelatihan guru dan Sejumlah besar guru tidak diberikan insentif antarkementerian membuat
Kesenjangan pemerintahan bantuan pembiayaan honor digaji di bawah untuk meningkatkan implementasi menjadi sulit”
sekolah serta upah minimum hasil belajar karena status COO, Sampoerna School Systems
peningkatan kualitas PNS”

Sumber: OECD, Wawancara


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 20
Kemampuan guru-guru di Indonesia masih belum sebaik standar yang
diharapkan
2 A Kesenjangan dalam keefektifan mengajar dan cara mengajar
Skor Kompetensi Guru (UKG) Rata-rata kata yang diucapkan dalam mata pelajaran
(% dari 100; 2019) berdurasi 50 menit
Rata-rata jumlah kata Rata-rata jumlah kata
(# kata; 2011) siswa guru

SD 54,8% 6.920
6.376 6.276 6.346 6.438
5.914 640 1.018
1.016 824 810
766
3.752
SMP 58,6% 509
5.360 5.452 5.536 5.798 5.902
5.148
3.243

SMA 62,3%

Indonesia Belanda Swiss Republik Australia Amerika Hong


Ceko Serikat Kong
SMK 58,4%

Hanya 3% dari semua kalimat Pertanyaan guru cenderung


yang diucapkan oleh guru yang dangkal karena ~90% jawaban
Rata-rata skor kompetensi guru lebih dari 23 kata; jauh lebih siswa hanya satu kata dan jarang
rendah dari negara lain sebesar 25- melibatkan kemampuan analisis
57 dari 100 41% tinggi (higher order thinking)

Sumber: Kemendikbud, Video Study TIMSS Bank Dunia, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 21
Infrastruktur sekolah yang tidak memadai menjadi salah satu alasan
rendahnya hasil belajar dalam sistem pendidikan dasar dan menengah
2 B Insfrastruktur sekolah yang tidak memadai
Kondisi Ruang Kelas Akses Internet Sekolah SD SMP SMA SMK
(‘000 ruang kelas dan %; 2019) (% dan ‘000 sekolah; 2019)
Kondisi Baik Rusak Ringan Rusak Sedang Rusak Berat 50% 100%

Bali
50,9% 15,5
NTT, NTB
SD 27% 54% 9% 10% 1.063
Jawa 59,9% 96,4

SMP 35% 48% 9% 8% 358 Kalimantan 38,6% 17,7

Papua
4% 24,8% 10,0
Maluku
SMA 45% 46% 163
5%
Sulawesi 43,7% 23,4
2%
SMK 48% 48% 166
3% Sumatra 52,2% 53,0

>40% dari seluruh sekolah tidak memiliki akses


>50% sekolah di Indonesia setidaknya rusak ringan
internet, khususnya pada jenjang Sekolah Dasar (SD)

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 22
Kurang memadainya hasil pembelajaran pendidikan tinggi disebabkan
masalah kualitas pengajar, kurikulum/program, dan kolaborasi industri
2 Tren dan permasalahan pendidikan tinggi

Tingkat pekerja Vokasi • Keterlibatan industri dalam pengembangan kurikulum dan


penguatan kompetensi mahasiswa hanya terbatas pada
(%; 2017-2019) Perguruan Tinggi
segelintir sekolah kejuruan dan perguruan tinggi
Keterlibatan • Program magang/magang terstruktur terbatas
66% 65%
61% industri yang
rendah
45% 44% 47%
• Dosen diharuskan untuk mengikuti pembagian alokasi
Tridharma tanpa memandang preferensi/kompetensi
Peraturan dan • Promosi untuk dosen (baik negeri maupun swasta) harus
persyaratan disetujui oleh kementerian
yang ketat • Akreditasi difokuskan pada administrasi dan keseragaman
2017 2018 2019 Masalah
Utama
Kurikulum yang • Tidak ada persyaratan dan seleksi program interdisipliner yang
Peringkat Universitas di Dunia terintegrasi dengan program utama
kaku
(#; 2020) • Kurikulum pelatihan ganda pendidikan vokasi (TVET) yang
terbatas untuk mempersiapkan angkatan kerja generasi berikutnya
Universitas Institut Teknologi Kesenjangan
Indonesia Bandung yang mencolok
Peringkat #296 Peringkat #331 dalam • Rekrutmen difokuskan pada kualifikasi akademik, alih-alih
kompetensi kompetensi/pengalaman industri
Universitas Institut Pertanian dosen • Terbatasnya pengalaman dosen di luar kampus
Gajah Mada Bogor • 50% dosen lulus dari universitas tempat mereka mengajar (in-
Peringkat #320 Peringkat #600-650 breeding)

Sumber: BPS, Scimago Journal and Country Rank, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 23
Ketimpangan kualitas terlihat antara Pulau Jawa dan daerah lainnya di
Indonesia
3 Tren dan permasalahan distribusi kualitas yang merata

Persebaran Skor AKSI


(2019)

Kalimantan Kesenjangan
Sumatra • B. Indonesia (I) 49,0 -6% Pemerintahan
• I 48,0 -8% • Matematika (M) 39,5 -8%
Sulawesi
• M 39,2 -9% • IPA (S) 43,0 -5%
• I 46,4 -11%
• S 42,5 -6%
• M 37,7 -12% Papua dan Maluku
• S 41,3 -9% • I 46,7 -11%

DKI Jakarta &


• M 36,9 -14% Masalah Batasan
• S
Lanjutan…
DI Yogyakarta Jawa (non-DKI dan DIY) 40,9 -10% Utama Peraturan
• I 52,3 • I 50,2 -5%
• M 4,1 • M 41,2 -5% Bali Nusra
• S 45,4 • S 44,0 -4% • I 46,5 -11%
• M 3,8 -12%
• S 41,2 -9%
Keterbatasan
Legenda: xx
Geografis
Skor AKSI (SMP) xx % perbedaan rata-rata skor AKSI antara DKI Jakarta dan DI Yogyakarta

Besarnya ketimpangan hasil belajar antara Pulau Jawa dan daerah lainnya di Indonesia

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 24
Ketimpangan kualitas disebabkan keterbatasan pemerintahan, peraturan, dan
geografis
3 Tren dan permasalahan distribusi kualitas yang merata

“Otonomi daerah dan “40-50% anggaran pendidikan


koordinasi antarkementerian menghilang sebelum sampai ke anak”
membuat implementasi menjadi Indonesia Corruption Watch
Kesenjangan
sulit”
Pemerintahan “Adanya kesenjangan kompetensi yang
COO, Sampoerna School signifikan antar-Kepala Dinas Pendidikan
ulawesi sistems di Kabupaten ”
I 46,4 -11%
M 37,7 -12% Papua dan Maluku “Kapasitas pelatihan guru
• I 46,7 -11% “Bantuan Operasional “Sebagian besar sangat kurang di seluruh
S 41,3 -9%
Sekolah (BOS) guru adalah guru negeri”
• M 36,9 -14% Masalah Batasan dicairkan berdasarkan paruh waktu
• S 40,9 -10% Utama Peraturan “Tingkat rata-rata gaji guru
jumlah siswa dan bergaji rendah
capaian target alih-alih yang disebabkan yang rendah menyulitkan
a kebutuhan adanya rekrutmen talenta berkualitas
5 -11% pembangunan” moratorium PNS” karena pekerjaan di industri
-12% memberikan gaji lebih baik”
2 -9%
Keterbatasan “Populasi dianggap Mobilitas pendidik yang
Geografis terlalu rendah di daerah rendah karena lokasi
ntara DKI Jakarta dan DI Yogyakarta tertentu sebagai dasar sekolah yang tersebar di
untuk mendirikan sekolah” seluruh negeri

Sumber: Wawancara, VOA, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 25
Kontribusi dari dunia industri dan swasta masih dibutuhkan untuk memajukan
pendidikan di Indonesia

Biaya Pendidikan (Pemerintah vs. Sektor Swasta) (% dari PDB; 2015)


6.5
Biaya dari Pemerintah (% dari PDB)

Norwegia Rata-rata OECD Total Biaya: ≤ 3.5% > 3.5% and < 4.7% ≥ 4.7%
6.0 (Pengeluaran Sektor Swasta)
OECD Non-OECD
Finlandia Islandia
5.5
Belgia

5.0 Swedia
Israel
Austria Selandia Baru
4.5 Rata-rata OECD Perancis Belanda
Kanada UK
(Pengeluaran Pemerintah) Portugal Meksiko Korea Selatan USA Australia
4.0 Polandia
Turki Kolumbia
Jerman
3.5 Italia Spanyol
Yunani Chili
Luksemburg Irlandia
3.0 Jepang
Indonesia Rusia
2.5
0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 1.9 2.0 2.1 2.2 2.3

Biaya dari Sektor Swasta


Potensi naik hanya sedikit Kontribusi dari sektor swasta untuk pendidikan masih jauh (% of PDB)
karena pagu anggaran di bawah negara lainnya
Pemerintah terbatas

Sumber: OECD
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 26
Indonesia perlu meningkatkan kontribusi investasi sektor swasta untuk
pendidikan
Rendahnya total pembiayaan pendidikan
Swasta
Komponen Anggaran Nasional Pembiayaan Pendidikan Pemerintah
(IDR Tn (%); 2015) (% of PDB; 2015)
5,0%
0,9%
Pada tahun 2019, anggaran
3,4% pendidikan nasional telah
0,4% meningkat menjadi IDR 493 T
Lain-lain 1.689 Pendidikan (~25% meningkat dari 2015)
404
(80,7%) (19,3%) 4,1%
Selisih ~Rp250 T (1,1% PDB)
3,0% vs. rata-rata OECD
vs. Rata-rata
OECD :
~10,9%

Namun, secara keseluruhan


Pembiayaan pendidikan menempati porsi
pembiayaan untuk pendidikan lebih
yang signifikan dari APBN
rendah daripada rata-rata OECD

Sumber: OECD, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 27
Daftar Isi

 Tren Global dan Masa Depan Pembelajaran


 Gambaran Pendidikan di Indonesia dan Tantangannya
 Peta Jalan Pendidikan Indonesia

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 28


Visi Pendidikan Indonesia 2035

Membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar


seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan
berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya
Indonesia dan Pancasila

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 29
SDM yang unggul merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi
global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila

Berakhlak Kebinekaan
Mulia Global

Gotong
Mandiri
PELAJAR Royong
PANCASILA

Bernalar Kreatif
Kritis

Pengembangan SDM unggul harus bersifat holistik dan tidak terfokus kepada kemampuan kognitif saja

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 30
MERDEKA BELAJAR
Pendidikan Berkualitas
Seluruh pemangku
bagi Seluruh Rakyat
kepentingan Keluarga Masyarakat
pendidikan (termasuk Indonesia
Organisasi Penggerak, Perusahaan
siswa) menjadi agen Teknologi Edukasi, dll.
Dunia Usaha/
perubahan serta Guru
Industri
memberikan pengaruh Institusi
Pendidikan
dan dukungan
sepenuhnya

“Sekolahkan Anak Indonesia” “Dorong Pembelajaran Siswa” “Tidak Ada Anak yang Tertinggal”

Angka Partisipasi Tinggi Hasil Belajar Berkualitas Distribusi yang Merata


>95% di seluruh jenjang pendidikan dasar dan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik secara geografis maupun status sosial ekonomi
menengah; >70% pada jenjang pendidikan tinggi relevan, hasil penelitian berkualitas tinggi, dan >90%
tingkat penempatan kerja

dapat dicapai melalui perbaikan pada:


Kebijakan, Prosedur, dan Kepemimpinan, Masyarakat, Kurikulum, Pedagogi, dan
Infrastruktur dan Teknologi
Pendanaan dan Budaya Asesmen
• Platform pendidikan nasional berbasis • Kontribusi eksternal (pemerintah dan • Kompetensi guru, kepala sekolah, dan • Kurikulum dan asesmen nasional
teknologi swasta) pemerintah daerah
• Infrastuktur sekolah/ kelas masa depan • Mekanisme akreditasi • Kolaborasi dan pembinaan (lokal dan
• Pembelanjaan anggaran pendidikan yang global) antara guru, satuan pendidikan, dan
efektif dan akuntabel industri
• Otonomi satuan pendidikan

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 31
MERDEKA BELAJAR: Sistem pendidikan untuk membangun kompetensi utama
Kategori Situasi sekarang Arahan di masa depan

Ekosistem • Sekolah sebagai tugas


• Sekolah sebagai kegiatan yang menyenangkan
• Pimpinan sebagai pengatur
• Pimpinan memberikan pelayanan
• Sistem tertutup (pemangku kepentingan berjalan sendiri)
• Sistem terbuka (berbagai pemangku kepentingan berkolaborasi)
• Lebih banyak sumber daya didedikasikan untuk pelajar yang
• Lebih banyak sumber daya didedikasikan untuk pelajar
lebih muda
yang lebih dewasa
• Mendapat dukungan dari pemerintah daerah
• Benturan kepentingan antara pemerintah pusat dan
daerah
• Infrastruktur sekolah yang memadai dan mendukung
• Infrastruktur sekolah yang tidak memadai
pembelajaran
• Manajemen sekolah yang kolaboratif dan kompeten
• Manajemen sekolah terlalu administratif dan terisolasi
• Orang tua/ komunitas yang lebih terlibat
• Orang tua/ komunitas sebagai peserta yang pasif

Guru
• Guru sebagai pelaksana kurikulum • Guru sebagai pemilik dan pembuat kurikulum
• Guru sebagai sumber pengetahuan satu-satunya • Guru sebagai fasilitator dari berbagai sumber pengetahuan
• Kualifikasi sebagai penentu kualitas • Kompetensi dan tujuan sebagai penentu kualitas pengajaran
• Pelatihan guru berdasarkan teori • Pelatihan guru berdasarkan praktik
• Kinerja guru dinilai berdasarkan daftar persyaratan/ • Kinerja guru dinilai secara holistik
administratif

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 32
MERDEKA BELAJAR: Sistem pendidikan untuk membangun kompetensi utama
Kategori Situasi sekarang Arahan ke masa depan

Pedagogi • Pendekatan standardisasi • Pendekatan heterogen


• Siswa sebagai penerima pengetahuan • Siswa ikut menentukan kegiatan belajar
• Pembelajaran berdasarkan sistem • Pembelajaran berorientasi pada siswa
• Fokus kepada kegiatan tatap muka • Pembelajaran memanfaatkan teknologi
• Mengajar sebagai kegiatan individualis • Penggunaan kegiatan kelompok dalam pengajaran
• Pengajaran berdasarkan pembagian umur • Pengajaran berdasarkan level kemampuan siswa

Kurikulum • Perkembangan fleksibel


• Perkembangan linear
• Kurikulum berdasarkan kompetensi
• Kurikulum berdasarkan konten
• Kurikulum sebagai kerangka/ menu
• Kurikulum diwajibkan
• Fokus kepada keterampilan lunak (soft skill) dan
• Fokus kepada kegiatan akademik
pengembangan karakter
• Pelatihan vokasi dipimpin oleh pemerintah
• Pelatihan vokasi dipimpin oleh industri

Sistem
Penilaian
• Penilaian bersifat sumatif/ menghukum • Penilaian bersifat formatif/ mendukung
• Standardisasi penilaian • Penilaian berdasarkan portofolio

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 33
Indonesia harus meningkatkan angka partisipasi sekolah di seluruh jenjang,
khususnya pada pendidikan prasekolah dan pendidikan tinggi
Jenjang Sistem Pendidikan Indonesia dan Target Angka Partisipasi Kasar

Belajar Sepanjang Hayat


Target
APK 2019
Target 2035
APK 2019 2035
Pendidikan Tinggi ~30% ~50%
SMA: ~93% ~100%
SMP: ~101% ~100%
APK Target
SD: ~104% ~100% Pendidikan Tinggi
2019 2035
• Keterampilan teknis tingkat
~39% >85% Dasar dan Menengah tinggi, praktis, dan kognitif
• Pengetahuan yang relevan
• Keterampilan dasar
dengan industri
Prasekolah • Pengetahuan umum
• Keterampilan penelitian
• Pembentukan sikap dan nilai
• Pengembangan
keterampilan kognitif,
sosial, dan emosional

Pengaruh terhadap Sikap dan Nilai


Pengaruh terhadap Pengetahuan
Pengaruh terhadap Keterampilan

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 34
MERDEKA BELAJAR: Strategi Utama
Semula Strategi Menjadi
1 Menerapkan kolaborasi dan pembinaan antarsekolah (TK-SD-SMP-SMA, informal): sekolah
• Belajar sebagai kewajiban • Belajar menjadi sebuah
penggerak, program pembelajaran sebaya, pengelolaan administrasi bersama, pendidikan informal yang
pengalaman yang
berbasis nilai
menyenangkan
• Sistem yang tertutup
2 Meningkatkan kualitas guru dan kepala sekolah: memperbaiki sistem rekrutmen, meningkatkan
(pemangku kepentingan • Sistem terbuka (kerja
kualitas pelatihan, penilaian, serta mengembangkan komunitas/platform pembelajaran
bekerja dengan sistem sama antarpemangku
mereka sendiri) kepentingan)
3 Membangun platform pendidikan nasional berbasis teknologi : yang berpusat pada siswa,
• Guru sebagai penyampai interdisipliner, relevan, berbasis proyek, dan kolaboratif • Guru sebagai fasilitator
informasi/pengetahuan dalam kegiatan belajar
4 Memperbaiki kurikulum nasional, pedagogi, dan penilaian: penyederhanaan konten materi, fokus
• Pedagogi berbasis pada literasi dan numerasi, pengembangan karakter, berbasis kompetensi, dan fleksibel • Pedagogi berbasis
konten, kurikulum, dan kompetensi dan nilai-
penilaian. 5 Meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan distribusi yang merata: nilai, kurikulum, dan
bekerja sama dengan pemerintah daerah melalui pendekatan yang bersifat personal dan konsultatif serta penilaian.
• Pendekatan “satu ukuran memberikan penghargaan berdasarkan prestasi
untuk semua” (One-Size • Pendekatan berbasis
fits all) 6 Membangun sekolah/lingkungan belajar masa depan: aman dan inklusif, memanfaatkan teknologi, kebutuhan individu dan
kolaboratif, kreatif, dan sistem belajar berbasis pengalaman berpusat pada siswa
• Pembelajaran tatap
muka/manual 7 Memberikan insentif atas kontribusi dan kolaborasi pihak swasta di bidang pendidikan: dana CSR, • Pembelajaran yang
insentif pajak, kemitraan swasta publik, otonomi, dan keuntungan yang lebih besar memanfaatkan teknologi
• Program-program
didorong oleh pemerintah 8 Mendorong kepemilikan industri dan otonomi pendidikan vokasi: pihak industri atau asosiasi terlibat • Program-program yang
dalam penyusunan kurikulum, mendorong pembelajaran, dan pembiayaan pendidikan melalui relevan dengan industri
• Administrasi dan peraturan sumbangan sektor swasta atau CSR
yang membebani • Kebebasan untuk
9 Membentuk pendidikan tinggi kelas dunia: diferensiasi misi pendidikan tinggi sebagai pusat-pusat
• Ekosistem yang didorong unggulan serta mempererat hubungan dengan industri dan kemitraan global
berinovasi
oleh pemerintah
Menyederhanakan mekanisme akreditasi dan memberikan otonomi lebih: bersifat suka rela, berbasis • Sebagai agen untuk
10 seluruh pemangku
data, merujuk pada praktik terbaik tingkat global, serta pelibatan industri atau komunitas
kepentingan

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 35
1Membentuk sekolah penggerak untuk memelopori inisiatif Merdeka Belajar melalui
pembimbingan, dukungan rekan, dan pemberdayaan teknologi dalam ekosistem sekolah
Peta Jalan Peningkatan Sekolah
Pendekatan berbeda berdasarkan kesiapan sekolah di daerah, tingkat perkembangan, dan kerja sama
Pilot project Sekolah penggerak:
dengan ~100 Dukungan dan
otonomi untuk pembimbingan untuk Pembiayaan dan
sekolah sekolah, guru terhadap Pusat inovasi untuk Pembimbingan guru otonomi yang lebih
penggerak di pedagogi dan kurikulum, pedagogi, untuk 7– 10 sekolah 7--10 sekolah dengan besar untuk
provinsi yang kurikulum, termasuk kinerja rendah; berbagi pemerintah daerah
dan manajemen dengan kinerja
kegiatan layanan untuk yang berkomitmen dan
“Break the mendukung ekstrakurikuler/
sekolah rendah manajemen data dan memiliki kinerja tinggi
ceiling” olahraga analisis

Platform Pendidikan Nasional


(detail pada halaman selanjutnya)
Manajemen Pemerintah
Guru
Sekolah Daerah
KOMUNITAS KOMUNITAS KOLABORASI
“Pull the
floor” Berbagi administrasi Berbagi sumber
Peran mendalam dan sumber daya daya, pembelajaran
Memulai Kurikulum Top- Pembelajaran yang
teknologi pada hal manajemen untuk sesama rekan dan
dengan 500 down : fokus pada didukung sesama
mendasar; melatih kolaborasi
sekolah literasi, numerasi, rekan untuk 7–10 sekolah termasuk
guru sebagai antarpemerintah
berkembang dan karakter komunitas guru manajemen data dan
fasilitator daerah dengan
analisis insentif yang tepat

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 36
1 Sekolah penggerak akan menjadi katalis untuk mentransformasi sekolah-sekolah
di sekitarnya dan menjadi pusat pelatihan guru
Sekolah penggerak
Masyarakat sipil
(industri, lembaga sosial, kepala desa, pemimpin, dsb.)
Siswa Manajemen
berkontribusi

Fokus membentuk siswa yang berakhlak mulia, • Panutan untuk sekolah lain dalam hal akuntabilitas dan
mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong transparansi
royong, berkebhinekaan global
10.000 • Pelaporan yang didukung oleh teknologi

Sekolah Penggerak
Kepala Sekolah dan Guru Kurikulum

• Kepala sekolah mampu mengembangkan


• Berpartisipasi aktif dalam pengembangan kurikulum
kemampuan guru dalam mengajar
nasional
(instructional leader)
• Guru berpihak kepada anak dan mengajar • Fokus pada pengembangan holistik (termasuk
sesuai tingkat kemampuan siswa (teach at karakter)
the right level)
Pedagogi
Infrastruktur
• Pembelajaran interdisipliner, berbasis masalah dan
• Ruang kelas/ruang belajar digital proyek dan berbasis pengalaman
• Ruang kolaboratif, eksploratif, dan kreatif • Perkembangan kemajuan pembelajaran yang
untuk tumbuh siswa berkontribusi disesuaikan dengan pribadi masing-masing

Keluarga

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 37
2Meningkatkan kualitas guru melalui transformasi Pendidikan Profesi Guru (PPG)
untuk menghasilkan guru generasi baru
Output:
Ujian Seleksi Masuk Program PPG Baru Ujian Kelulusan PPG
Guru Generasi Baru

Ujian seleksi terdiri atas:


Ekspansi penyelenggara PPG
Ujian Penguasaan Konten Ujian Praktik

Ujian Bernalar Kritis Kurikulum PPG berbasis praktik

Ujian Kepribadian Pengajar PPG menguasai


konteks praktik di sekolah Ujian Portofolio
Wawancara
Guru Penggerak sebagai guru Guru
pamong generasi baru

Portofolio Digital

Calon guru

Selama proses pelatihan, pertumbuhan guru akan didukung oleh platform guru, sebuah komunitas kelompok belajar
yang dikelola oleh komunitas guru penggerak

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 38
2 Dua prinsip utama yang menjadi landasan strategi peningkatan kualitas guru

• Semua guru yang mengabdi harus mendapatkan


Kesejahteraan penghasilan yang layak

• Penghargaan lebih akan diberikan kepada guru dengan


Kinerja kompetensi yang baik atau performa yang berkualitas

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 39
2 Generasi baru kepala sekolah dipilih dari guru-guru terbaik

Pelatihan Kepemimpinan Sekolah Baru

Rekrutmen Calon Pelatihan Guru Pelatihan Guru 40.000 kepala


Guru Penggerak Penggerak (Fase 1): Penggerak (Fase 2):
Lokakarya + Magang Pendampingan
sekolah dan
(On-the-job Coaching) 12.500 pengawas
generasi baru yang
berorientasi pada
pembelajaran siswa

Kepala
Pengawas
Sekolah

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 40
3 Membangun platform teknologi untuk mendorong kolaborasi pemangku
kepentingan, meningkatkan keefektifan pembelajaran melalui pendekatan fleksibel
Platform Pendidikan Nasional (bentuk final)
Kepala Otoritas Pembuat
Siswa Guru Industri
Sekolah Pendidikan Daerah Kebijakan

Profil berbasis personalisasi dan perjalanan Penilaian kinerja, Manajemen Magang,


belajar; Kaji rekan dan pembimbingan administrasi dan pembiayaan Pembiayaan

Platform Sekolah Platform Pemerintah


Pembelajaran Pembelajaran Pengujian dan Forum Diskusi Portal Perencanaan dan Kebijakan Pembiayaan &
Layanan berbasis Melalui Siaran Penilaian Pekerjaan Manajemen Sumber Daya Kurikulum Pembayaran
Personalisasi

Infrastruktur Pusat Data Internet

Penilaian dan Portal Pelatihan Guru


Pelatihan Siswa Integritas Data dan
• Mendorong guru (yang ahli dalam bidang tertentu) untuk lainnya…
• Memungkinkan adanya membagikan materinya agar dapat dipelajari guru lainnya • Basis data dan sistem yang terintegrasi untuk
umpan balik berulang meningkatkan akuntabilitas dan kemampuan
Contoh yang berkelanjutan
• Materi pelatihan terkait dengan penyedia pihak ketiga
pemantauan sekolah
Solusi • Memungkinkan siswa
belajar sesuai dengan Penilaian Guru 3600 Portal Pencocok Marketplace BOS
kecepatan masing-masing
menggunakan sistem • Memungkinkan guru dinilai oleh siswa, rekan kerja, • Platform untuk magang, mencari pekerjaan • Transparansi dan akuntabilitas
pembelajaran- e-learning atasan, dll. serta mengidentifikasi kesenjangan dan kesempatan untuk siswa maupun guru pembiayaan
keterampilan dan perkembangan • Transaksi-el (e-transaksi) untuk
pembelian

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 41
3 Platform Pendidikan Nasional ditingkatkan secara nasional dalam 5 tahun dan
dimulai dari marketplace BOS
Platform Pendidikan Nasional
Terpisah untuk tiap-tiap jenjang pendidikan (prasekolah, SD, SMP, …)
Kepala Otoritas Pembuat
Siswa Guru Industri
Sekolah Pendidikan Daerah Kebijakan

Profil berbasis personalisasi dan perjalanan Penilaian kinerja, Manajemen Magang,


belajar; Dikaji oleh rekan dan pembimbingan administrasi dan pembiayaan Pembiayaan

Platform Sekolah Platform Pemerintah


Pembelajaran Pembelajaran Pengujian Forum Portal Perencanaan dan Kebijakan Pembiayaan dan
Layanan Berbasis Melalui Siaran Pekerjaan Manajemen Sumber Daya Pembayaran
Personalisasi dan Penilaian Diskusi Kurikulum

Marketplace BOS Infrastruktur Pusat Data Internet

• Keputusan terkait anggaran Penilaian dan


Portal Pelatihan Guru
Integritas Data dan
pembiayaan sekolah yang demokratis Pelatihan Siswa • Mendorong guru (khususnya yang ahli dalam lainnya…
bidang/mata pelajaran tertentu) untuk membagikan • Basis data dan sistem yang terintegrasi untuk
dan dipublikasikan Contoh
• Memungkinkan adanya
umpan balik berulang yang
materinya agar dapat dipelajari guru lainnya meningkatkan akuntabilitas dan kemampuan
• Materi pelatihan terkait dengan penyedia pihak ketiga pemantauan sekolah
• Penggalangan dana oleh masyarakat Solusi berkelanjutan dan guru
dapat mengambil tindakan
• Transaksi tanpa uang tunai (e-wallet) • Memungkinkan siswa
belajar sesuai dengan
Penilaian Guru 3600 Portal Pencocok Marketplace BOS
untuk transparansi dan akuntabilitas kecepatan masing-masing
menggunakan sistem
• Memungkinkan guru dinilai oleh siswa, rekan • Platform untuk magang, mencari
• Transparansi dan akuntabilitas
pembiayaan
kerja, atasan, dll. dan mengidentifikasi pekerjaan dan kesempatan lainnya baik
pembelajaran-el ( e- • Transaksi-el (e-transaksi untuk
learning)
kesenjangan keterampilan dan perkembangan untuk siswa maupun guru pembelian

2020 Peningkatan 2025

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 42
3 Marketplace BOS online memberikan kepala sekolah fleksibilitas, transparansi, dan
waktu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
Mengapa Marketplace BOS online?

1
JAMINAN AMAN – Aplikasi resmi untuk pembelian barang
dengan proses pembelian sesuai dengan peraturan yang ada

2 JAMINAN MUTU – Barang, jasa, dan SDM yang dapat dibeli /


dibayar melalui marketplace sudah melalui kurasi
Kemendikbud

3
REKOMENDASI PINTAR – Rekomendasi pembelian barang
dan jasa sesuai dengan asesmen kebutuhan sekolah

4 PELAPORAN OTOMATIS – Pelaporan terjadi secara otomatis


kepada semua kementerian dan dinas daerah yang
membutuhkan

Marketplace BOS online bukan hanya meningkatkan


akuntabilitas, tapi juga meringankan beban
administrasi kepala sekolah

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 43
3 Pendidikan yang berbasis teknologi memerlukan sarana dan prasarana yang
memadai di setiap sekolah
Rencana dukungan sarana dan prasarana teknologi

 Melakukan negosiasi dengan perusahaan telekomunikasi untuk


Biaya paket internet mendapatkan harga paket data yang terjangkau
(Data cost)
 Merancang skema subsidi paket data

Ketersediaan perangkat
 Memastikan setiap sekolah memiliki komputer dan infrastruktur
belajar
pendukungnya
(Equipment availability)

 Bekerja sama dengan Kominfo untuk memastikan cakupan


Konektivitas internet dan jaringan yang luas agar siswa dan guru memiliki akses internet
listrik untuk daerah 3T
(Connectivity & electricity)  Berkolaborasi dengan PLN untuk menyediakan akses listrik yang
merata

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 44
Menyesuaikan kurikulum, pedagogi, dan metode penilaian untuk menanamkan
4
kompetensi yang tepat dalam diri generasi masa depan
• Fokus pada kebahagiaan secara holistik • Berorientasi pada kompetensi/hasil
• Konten yang disederhanakan • Dikembangkan bersama industri dan ahli
Kurikulum • Pembaharuan berkala • Kerangka kerja untuk sekolah/guru

Hasil yang Diharapkan: Karakteristik Pelajar Pancasila

Berakhlak Mulia Kreatif

Mandiri Bergotong Royong

Menjadi pembelajar sepanjang hayat yang


dilengkapi dengan kompetensi kompetitif global Bernalar Kritis Berkebinekaan Global
dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila

didukung oleh

Pedagogi dan Penilaian


• Asesmen Kompetensi Minimum (AKM): mengukur kinerja sekolah berdasarkan literasi dan numerasi siswa
• Survei Karakter: mengukur tumbuh kembang siswa secara holistik, tidak hanya aspek kognitif
• Survei Lingkungan Belajar: mengukur kualitas iklim kelas dan sekolah yang mendukung kegiatan belajar

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 45
4 Kurikulum yang disederhanakan, fleksibel, dan berorientasi pada kompetensi
Kurikulum saat ini Kurikulum yang disederhanakan

Standar capaian yang mudah dimengerti guru dan


Standar capaian terlalu kompleks dan terkotak-kotak fokus pada kompetensi yang paling bermakna (rangkaian
(dipisahkan dalam 3 dimensi, Kompetensi Inti dan Dasar) kompetensi utuh, sesuai tahap perkembangan anak dan
Penyederhanaan
kompetensi ilmu)
standar capaian Contoh: Bahasa Indonesia SD: 12 Kompetensi Inti dan
120 Kompetensi Dasar Contoh: Bahasa Indonesia SD dibagi dalam 2 Capaian
Pembelajaran (Kelas 1-3 dan kelas 4-6)

Pemerintah menyediakan berbagai materi ajar: Contoh


Buku teks pelajaran yang dapat digunakan dalam
Fleksibilitas dan penerapan kurikulum, buku teks (buku maupun modul
pembelajaran diatur melalui Permendikbud dan harus
terpisah yang dapat diunduh), lesson plan (RPP), dll.
penyederhanaan berbentuk buku
materi ajar Contoh: SD kelas 1 ada 4 buku yang opsional, dapat juga
Contoh: SD kelas 1 ada 11 buku
diunduh sesuai hasil asesmen siswa

Struktur kurikulum dan alokasi waktu setiap mata


Sekolah dapat menyesuaikan dengan kondisi sekolah
pelajaran diatur kaku per minggu dan selalu sama
dan kebutuhan siswa
sepanjang tahun
Fleksibilitas alokasi
waktu mata pelajaran Contoh: Sekolah di daerah 3T bisa memilih untuk fokus
Contoh: Sekolah di daerah 3T harus membagi semua
ke 1-2 mata pelajaran di satu minggu (agar lebih
mata pelajaran secara rata setiap minggu
mendalami)

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 46
4 Personalisasi dan segmentasi pembelajaran berdasarkan asesmen berkala

Platform teknologi akan memungkinkan guru untuk


melakukan personalisasi dan segmentasi
pembelajaran

Tahapan:

1.1 Guru melakukan asesmen kelas (formatif) secara


berkala yang dapat diakses online

2.2 Guru mengetahui tingkat kompetensi siswa dan


memperoleh rekomendasi lesson plan (RPP),
modul materi pengajaran, dan video yang sesuai
dengan kemampuan siswa

3.3 Guru menyesuaikan proses pembelajaran


misalnya membagi kelas dalam kelompok,
memberi aktivitas dan PR sesuai kemampuan
siswa (personalized assignment)

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 47
4Asesmen Kompetensi Minimum mengukur kinerja sekolah berdasarkan literasi &
numerasi siswa, kompetensi inti untuk tes internasional seperti PISA, TIMSS, dan PIRLS
Karakteristik AKM: Implikasi:

Standar internasional, adaptasi dari PISA dan TIMSS


Sinyal kuat pada guru dan sekolah untuk fokus
pada kemampuan bernalar di semua mata
Mengukur literasi membaca dan numerasi, dua kemampuan
pelajaran
bernalar yang fundamental

Dilakukan di semua sekolah, pada sampel siswa kelas 5, 8, 11


Siswa dan guru menjadi familiar dengan
Asesmen nasional tiap tahun untuk mengukur kinerja sekolah model soal berstandar internasional seperti
dan dinas PISA dan TIMSS

Hasil untuk evaluasi kebijakan serta intervensi bantuan, bukan


memberi peringkat (ranking) siswa
Tidak memberi tekanan pada siswa dan guru
Konsisten dengan asesmen kelas yang bisa digunakan guru untuk berbuat curang
secara mandiri

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 48
4 Contoh soal AKM yang menguji kemampuan bernalar: Numerasi
Numerasi

49

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 49
4 Contoh soal AKM yang menguji kemampuan bernalar: Literasi
Literasi

Pertanyaan Jawaban

50

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 50
4 Survei Karakter dan Lingkungan Belajar mengukur aspek-aspek non-kognitif untuk
mendapatkan gambaran mutu pendidikan secara holistik
Survei Karakter Survei Lingkungan Belajar
(untuk siswa) (untuk guru dan kepala sekolah)

● Tujuan pendidikan melingkupi tumbuh kembang siswa ● Survei Lingkungan Belajar mengukur kualitas iklim kelas
secara holistik, tidak hanya kompetensi kognitif dan sekolah yang mendukung kegiatan belajar
● Survei Karakter melengkapi AKM untuk mengukur hasil ● Survei ini dilakukan pada siswa, guru, dan kepala sekolah
belajar siswa yang bersifat afektif dan motivasional ● Lingkungan sekolah harus bebas dari hal-hal yang
● Mengacu pada Profil Pelajar Pancasila, misalnya: mengancam keamanan psikologis yang menjadi prasyarat
○ Penghargaan akan perbedaan utama proses belajar siswa
○ Keterampilan kolaborasi ● Juga mengukur faktor-faktor guru dan kepala sekolah yang
○ Minat dan kepedulian pada isu-isu sosial menentukan kualitas hasil belajar:

○ Disposisi dan kebiasaan belajar secara mandiri Kepemimpinan Kesejahteraan


Praktik
● Survei ini juga akan mengukur perilaku negatif, seperti: instruksional (well-being) guru
pengajaran guru
kepala sekolah dan kepala sekolah

Intoleransi / Kekerasan Perundungan


radikalisme seksual (Bullying)

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 51
4 Sistem pendidikan publik New Delhi mengalami reformasi melalui ‘kurikulum
kebahagiaan’ seiring dengan program pelatihan guru dan pembimbingan
Studi Kasus: New Delhi, Sistem Pendidikan India
1 ‘Kurikulum Kebahagiaan’ 2 Pelatihan guru dan pembimbingan
Mencari kebahagiaan dalam diri, alih-alih mencari  Pelatihan internasional
kebahagiaan eksternal lebih dipilih, bergantung
pada ketersediaan
Memungkinan untuk sumber daya
melalui peningkatan 1.050 guru akan dipilih
melakukan eksplorasi,
kesadaran serta perhatian untuk mengikuti  Rombongan awal yang
mencari pengalaman,
dan memperdalam pelatihan sebagai terdiri atas 200 guru
dan mengekspresikan
kegiatan belajar ‘guru pembimbing’ telah dilatih di
kebahagiaan
Singapura dan
beberapa pusat pelatihan
Untuk memahami kebahagiaan dalam negeri
dalam diri, hubungan, dan
masyarakat

 45 menit “periode kebahagiaan” setiap harinya yang mencakup meditasi,


mendongeng, sesi tanya-jawab, pendidikan nilai, dan latihan mental
 Tidak ada ujian formal; perangkat pedagogi/penilaian berikut ini yang
digunakan: latihan dan permainan menyenangkan, percakapan reflektif,
mendongeng, praktik memperhatikan, bermain peran/sandiwara, presentasi
(individu dan kelompok), dan aktivitas kolaboratif dan mempererat tim.  Setiap ‘guru pembimbing’ ditugaskan untuk
 Diterapkan mulai pendidikan prasekolah hingga Kelas 8 mendampingi guru-guru di 5–6 sekolah untuk
meningkatkan pedagogi dan kapasitas akademis
~45.000 guru sekolah negeri di Delhi lainnya

Sumber: Kerangka Kerja Kurikulum ‘Delhi Happiness’ (2019), Pencarian media


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 52
5Meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan distribusi
merata di seluruh daerah
Rencana distribusi yang merata di seluruh daerah yang diawasi
Beragam pendekatan kerja sama Pemerintah pusat
dengan pemerintah daerah
Anggaran Infrastruktur
Pendekatan • Pendekatan asimetris untuk memenuhi
Khusus kebutuhan setiap pemerintah daerah, alih-alih
pendekatan ‘satu standar untuk semua (one- Meningkatkan efektivitas dan Meminimalisasi kesenjangan
akuntabilitas distribusi anggaran kualitas infrastruktur sekolah di
size fits all) di seluruh pemerintah daerah
dengan cara: seluruh daerah
• meminimalisasi kerugian dalam
anggaran menuju penerapan 100%
transaksi nontunai, dan
Pendekatan • Pemerintah pusat (misalnya Kementerian • distribusi afirmatif untuk area yang
Konsultatif Pendidikan dan Kebudayaan) sebagai membutuhkan anggaran lebih
penunjang, fasilitator, dan konsultan untuk
pemerintah daerah
Penerimaan Siswa Guru
(Zonasi)
Penerimaan siswa yang adil untuk Redistribusi guru yang adil ke
Penghargaan • Kriteria yang ketat dan jelas untuk pemimpin mengakomodasi kesenjangan daerah-daerah yang kekurangan
Berbasis Merit otoritas pendidikan daerah serta pengangkatan akses dan kualitas di seluruh tenaga pengajar
dan promosi jabatan pengawas daerah
• Penghargaan dan konsekuensi berdasarkan
masukan dan hasil pendidikan yang penting (mis.
angka partisipasi, hasil belajar, dan penghargaan)

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 53
6 Membangun ruang kelas dan ruang belajar pada masa depan yang kreatif, kolaboratif
serta berbasis pengalaman dan didukung teknologi/digital, tetapi aman dan inklusif

Pembelajaran
Berbasis
Kreatif
Didukung Kolaboratif Pengalaman
Pengaturan ruang kelas
Aman dan Teknologi Pembelajaran
langsung dan
yang dapat
disesuaikan,
Inklusif Kelas digital dengan akses
internet, komputer untuk
Kemudahan mengatur
ruang kelas menjadi bermakna melalui kebebasan untuk
Fasilitas darurat/tanggap eksplorasi, interaksi menyesuaikan tata
setiap anak, akses kelompok-kelompok
bencana, bebas pembelajaran daring, dengan lingkungan letak, dekorasi sesuai
untuk memfasilitasi
kerusakan perangkat kolaborasi dan masyarakat kebutuhan/preferensi
pembelajaran
daring yang siswa atau guru untuk
Fasilitas ramah kelompok dan proyek
memungkinkan Banyak peluang untuk mengasah kreativitas
disabilitas pembelajaran sesuai untuk membangun kerja
kecepatan masing- tim, empati, menyelesaikan
Lingkungan bebas masing dan meniru kepemimpinan masalah dunia nyata
perundungan/ skenario kerja nyata
diskriminasi

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 54
6 Beberapa contoh sekolah masa depan: menonjolkan/mengoptimalkan infrastruktur,
sumber daya manusia, pedagogi pembelajaran, dan kesejahteraan siswa
Contoh Sekolah Masa Depan
Green School, Indonesia Anji Play, Tiongkok Innova School, Peru

• Pendekatan tematik dan interdisipliner untuk


mengajarkan materi dan didukung oleh teknologi • Lingkungan apa pun bisa menjadi lingkungan belajar • 70% waktu didedikasikan untuk pembelajaran
kelompok dan 30% lainnya untuk pembelajaran
• Semua pembelajaran terhubung langsung ke • Minimal 90 menit setiap hari didedikasikan untuk
mandiri dan memanfaatkan perangkat daring
bermain di luar ruangan, misalnya menggunakan
penerapan dunia nyata dengan proyek-proyek yang
bahan-bahan seperti tangga dan ember • Ruang kerja dinamis yang memungkinkan guru dan
memberi manfaat langsung bagi sekolah atau
siswa dengan mudah bertransisi antara pembelajaran
masyarakat di sekitar sekolah • Kecepatan belajar tiap-tiap anak mengarahkan pada
kelompok besar dan kecil
perjalanan belajar, terlibat dalam periode penemuan
• Ruang fisik mendukung pemikiran kritis,
yang fokus dan tanpa gangguan, diikuti oleh refleksi • Program inovasi menantang siswa untuk mendesain
kreativitas dan kewirausahaan karena (visual, verbal, abstrak atau konkret) solusi unik permasalahan sosial (terbuka, fokus pada
pembelajaran berlangsung di lingkungan yang pembentukan ide dan proses desain)
sepenuhnya alami dan berkelanjutan
Sumber : Forum Ekonomi Dunia
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 55
7 Meningkatkan kontribusi sektor swasta Direkomendasikan

Insentif Kemitraan Regulasi yang


Keuangan Pemerintah–Swasta Disederhanakan

Retribusi CSR

Austria: Hongkong: Detail di halaman India: Indonesia:


Tunjangan pajak pelatihan Memberlakukan ‘retribusi
selanjutnya Perusahaan besar diharuskan Persayaratan nirlaba dan
pegawai menyubsidi 20% dari konstruksi’ 0,5% pada setiap menyediakan 20% dari kepemilikan tanpa aset untuk
biaya pelatihan internal kontrak komersial yang pendapatannya untuk Corporate yayasan dan proses perizinan
ditandatangani di industri Social Responsibility (CSR) dan yang kompleks menjadi
Tunjangan pajak magang (EUR konstruksi untuk mendanai disarankan mengontribusikan penghalang signifikan bagi sektor
4,380/pemagang) untuk program pendidikan dan sedikit dari persentase swasta atau mitra global untuk
mendorong penerimaan dan penelitian terkait industri keuntungan tahunan untuk berpartisipasi dalam sistem
pendidikan pemagang konstruksi penelitian pendidikan Indonesia

Sumber: Pencarian media


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 56
7Berbagai bentuk kemitraan pemerintah–swasta yang dapat ditingkatkan untuk
pendidikan
Jenis Kemitraan Pemerintah–Swasta Contoh terpilih

Pemberian Layanan Pembiayaan Sisi Kebijakan, Strategi,


Infrastruktur
Pendidikan Permintaan dan Dukungan

Swedia: Australia: Amerika Serikat: Jerman:


Manajemen oleh swasta untuk Pembiayaan oleh Sekolah Axiom Program kredit pajak beasiswa Sistem Pelatihan Ganda Pendidikan
sekolah yang dibiayai pemerintah Education Victoria Vokasi
Perusahaan dan perseorangan
Sekolah independen (dibiayai Perancangan, konstruksi, memberikan donasi kepada Perusahaan pelatihan (swasta)
pemerintah, dijalankan swasta) pengoperasian, pemeliharaan, organisasi nirlaba yang menyediakan pelatihan di tempat kerja
dibiayai sepenuhnya oleh dan pembiayaan 11 sekolah dan 6 menyediakan beasiswa untuk anak melalui magang, sambil memberikan
masukan berharga terhadap kurikulum
pemerintah dan memiliki otonomi fasilitas YMCA di seluruh Melbourne yang memenuhi syarat kredit pajak
dan peraturan untuk memastikan semua
penuh untuk mengalokasikan pendapatan negara pihak memperoleh manfaat
sumber dayanya jika selaras dengan
peraturan pemerintah Inggris: Kolumbia:
Akomodasi Mahasiswa Universitas Sistem voucher Irlandia
India: Hertfordshire Badan Negara SOLAS
125.000 beasiswa negara untuk
Pemerintah Rajasthan – Yayasan membayar biaya sekolah swasta; Mendukung pengembangan program
Proyek Greenfield untuk
Bharti menargetkan siswa berpendapatan Pendidikan, pelatihan lanjutan dan
pengembangan unit tempat
rendah atau berkebutuhan khusus kurikulum yang sesuai dengan
Pihak swasta mengadopsi, tinggal mahasiswa Universitas
bekerja sama dengan sektor
merenovasi, dan mengelola Hertfordshire dan lapangan
swasta, pemerintah, dan nirlaba
sekolah milik pemerintah yang olahraga, pusat kebugaran, ruang Belanda:
sudah ada secara profesional, belajar informal dan sosial, dan Pembiayaan berdasarkan kebutuhan
sementara pemerintah rute bis khusus baru siswa perseorangan
menyediakan infrastruktur dan
sumber daya Pembiayaan diberikan kepada
sekolah berdasarkan jumlah siswa
kurang mampu dan tingkat
kebutuhan siswa

Sumber: Pencarian media


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 57
8Meningkatkan keterlibatan industri melalui penerapan insentif peraturan dan
pembiayaan
Peta Jalan Pendidikan Vokasi

Institusi vokasi 1 Pendidikan 3 Pemerintah


Vokasi
• Membentuk program magang dan penempatan langsung • Mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan
dengan pemain industri untuk menarik keterlibatan industri seperti peraturan yang
• Mengembangkan kurikulum dan skema penilaian bersama disederhanakan dan retribusi kontrak
industri dengan menggunakan masukan dari program • Memungkinkan otonomi/fleksibilitas yang lebih besar bagi
‘Keterampilan Masa Depan Indonesia’ (melampaui keterampilan
“kerah biru”) 1 institusi vokasi untuk berinovasi dan berkembang
– durasi program, kurikulum, staf pengajar, dan kemitraan
• Melatih guru dan mempekerjakan praktisi industri
(akademis dan komersial)
• Memastikan fasilitas setara dengan standar industri
• Memfasilitasi diskusi dan interaksi antara perguruan tinggi
vokasi dan industri melalui platform, seminar, workshop, dll.
Industri (mencakup asosiasi dan serikat pekerja) 2 (meliputi platform ‘Keterampilan Masa Depan Indonesia’
• Mengembangkan bersama kurikulum/program/jurusan
2 untuk mendukung kebutuhan pengembangan SDM untuk visi
Indonesia 2045; detail penjabaran di halaman selanjutnya)
• Memberikan investasi dalam bentuk peralatan/infrastruktur
pedagogi untuk siswa/ mahasiswa • Mendorong kelompok industri-vokasi untuk menciptakan
• Memberikan beasiswa untuk siswa/ mahasiswa distribusi yang merata di seluruh Indonesia
• Terlibat aktif dalam program magang dan penempatan langsung • Mendorong komunikasi komunitas (liputan-media positif)
• Menyediakan pelatihan praktis dan relevan untuk dosen/guru 3 untuk meningkatkan persepsi publik dan mendorong angka
partisipasi vokasi
vokasi
• Membuat program pertukaran mengajar praktisi industri • Membentuk jalur yang fleksibel antara jalur akademis dan
• Memastikan kesesuaian/tingkat perekrutan dengan siswa/ vokasi, dalam ekosistem vokasi, dan dari tempat kerja
mahasiswa berdasarkan keterampilan

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 58
8 Model kolaborasi pendidikan vokasi mencakup ‘pernikahan’ dengan industri/ dunia
kerja dan fleksibilitas jalur lintas pendidikan menengah dan pendidikan tinggi
Contoh Model Kolaborasi Sekolah Vokasi
Contoh bentuk kerjasama
Dosen/pengajar praktisi Bantuan alat
Penyerapan lulusan Kolaborasi riset Sertifikasi kompetensi lulusan
industri lab/infrastruktur
Industri
Penempatan Pengajaran Pemberian Perbaikan/pembuatan
Pelatihan dosen/pengajar
magang kurikulum beasiswa kurikulum PT Vokasi

SMK Pendidikan Tinggi Vokasi


A B C D E F
Pengajaran berupa project-based learning, praktek kerja industri, dan
sertifikasi dari asosasi profesi D1 D2 D3 D4 S2 S3
Terapan Terapan
Pendidikan A SMK program 3 tahun Mahasiswa D2 dapat langsung lanjut
Vokasi program D4

B SMK program 4 tahun.. ..bisa langsung dapat gelar D2

Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) untuk transfer pengalaman


kerja relevan

Pendidikan
Pembelajar dapat bertransisi dari Pendidikan Vokasi ke Pendidikan Akademik (dan sebaliknya) dengan pengakuan kredit/capaian
Akademik pembelajaran dan pengalaman kerja/profesional (RPL), untuk meningkatkan jenjang pendidikannya

Skema fleksibilitas jalur nonlinear (seperti sistem Multi Entry, Multi Exit) akan diberikan kepada pembelajar vokasi yang ingin bertransisi ke
tingkat lanjut, pendidikan akademik, atau industri (dan sebaliknya)

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 59
8 Platform teknologi link & match sebagai alat perencanaan karir siswa dikembangkan
oleh pemangku kepentingan (industri, asosiasi profesi, dll) dan difasilitasi pemerintah
Platform Keterampilan Masa Depan Indonesia Ilustrasi

Kontributor Hasil Contoh Deskripsi Keterampilan


Informasi Bidang
Ahli Bidang Menyediakan deskripsi yang seragam tentang
gambaran bidang dan lapangan kerja Operator Teknisi Insinyur: Insinyur: Manajer Industri
Spesialis Bidang Spesialis TI
Jalur Karier
Pemerintah
Pusat dan Struktur yang jelas berdasarkan norma bidang
Analisis data dan tren Analisis data dan tren Analisis data dan tren Analisis data dan tren Analisis data dan tren
Daerah terhadap perkembangan vertikal dan kemajuan
karier Manajemen otomasi Manajemen otomasi Manajemen otomasi Manajemen otomasi Manajemen otomasi

Pembangunan dan desain Pembangunan dan desain Interaksi manusia –


Deskripsi Peran Pekerjaan Interaksi manusia–mesin Interaksi manusia–mesin infrastruktur IoT infrastruktur IoT mesin
Manajemen industri Manajemen infrastruktur Manajemen industri Manajemen industri Infrastruktur dan
Serikat Pekerja Menghindari kesenjangan informasi antara cyber security IoT cyber security cyber security supervisi IoT
pengusaha dan pekerja dengan meningkatkan Manajemen industri
Manajemen big data Manajemen big data
Manajemen industri
cyber security cyber security
deskripsi bank pekerjaan Manajemen dan supervisi
Simulasi dan pemodelan Simulasi dan pemodelan
jarak jauh
Deskripsi Keterampilan Relevansi keterampilan
Pemrograman Pemrograman Simulasi dan pemodelan
Kerangka kerja mendetail yang mencakup (% of organisasi)
Pengusaha 50% - 65% Desain UI/UX industri Desain UI/UX industri Desain UI/UX industri
seperangkat keterampilan yang dibutuhkan
setiap pekerjaan untuk perkembangan holistik 66% - 85% Model pengembangan
Machine learning Machine learning
dan operasi Agile
86% -100%
Program Pelatihan Keterampilan tambahan yang Berpikir desain
Asosiasi disarankan
Industri Program daring dengan konten terbaru dan
tingkat penempatan yang tinggi … akan digunakan oleh institusi pendidikan dalam memandu
kurikulum dan pedagogi untuk memastikan pasar tenaga kerja
dilengkapi dengan keterampilan yang sesuai

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 60
8Institutes of Technical Education (ITE) Singapura telah meningkatkan persepsi publik
melalui liputan-media positif, program berorientasi masa depan, dan konsolidasi kampus

Studi Kasus: Perubahan Persepsi Institute of Technical Education (ITE) Singapura

Skor Survei 1 Liputan-media 2 Kursus/program yang relevan dan 3 Konsolidasi kampus


Persepsi positif memiliki hubungan/kolaborasi erat
(%; 1997, 2018)  Dahulunya memiliki 10 kampus kecil di seluruh
dengan industri pulau, yang kemudian dikonsolidasi menjadi 3
 Berbagai kampanye
promosi untuk pendidikan kampus canggih antara tahun 2005 hingga 2013;
79%  Hingga tahun 2014, ITE Singapura memiliki lebih dari 100
vokasi/ITE MoU dengan industri dan mitra global
tiap kampus dapat menampung 7.000–10.000
– ‘Tangan yang berpikir mahasiswa
menciptakan  Perdana Menteri memilih ITE (Pusat) sebagai
kesuksesan’: percaya diri, lokasi pidato kenegaraan tahunan sejak 2013
+132% pemuda bertalenta
– ‘Kami membuat anda “Saat memasuki
berkilau’: jalur alternatif lingkungan
menuju kesuksesan kampus,Anda
 Seluruh kampus memiliki pusat pengembangan tidak yakin
34% – ‘Aku yakin’: apakah ini ITE
teknologi, yang di dalamnya staf dan mahasiswa
individu/pemuda yang atau perguruan
terlibat dalam proyek komersial dengan industri dalam
mampu dan berprinsip tinggi. Banyak
pengembangan teknologi pengunjung dari
– ‘Siap menghadapi dunia’: luar negeri
bergairah, percaya diri,  Menerapkan Program Pendidikan Global, yang memberi tahu
terampil/bertalenta menghasilkan >33% kelompok mahasiswa memiliki kami bahwa ITE
pengalaman luar negeri (pertukaran pelajar, ikatan lebih baik
 Dukungan positif dari dengan industri, dll.) daripada
perguruan tinggi
figur penting politik, mereka.”
 Berada di peringkat ke-6 dan ke-7 dalam World Skills
1997 2018 seperti perdana menteri
Competition (2011 dan 2013) secara berurutan

Sumber: Varaprasad (2016), Pencarian media


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 61
9 Membentuk pendidikan tinggi kelas dunia melalui kemitraan yang berkembang,
hubungan industri, dan otonomi dengan tata kelola berbasis hasil yang kuat
Prinsip pendidikan tinggi akademik dan vokasi kelas dunia

Diferensiasi misi perguruan tinggi Dukungan industri/masyarakat dan pemerintah


Industri/masyarakat Perguruan Tinggi
PT Riset (Pusat Unggulan Nasional) akademik dan vokasi
Membangun PT bereputasi dunia di setiap Menjadi salah satu unsur penopang dalam ‘pentahelix’ untuk
diharapkan untuk berperan
bidang; Pusat inovasi untuk daya saing
mempercepat pembangunan dengan cara: secara optimum dalam
bangsa
– Terlibat dalam pengajaran kurikulum/penilaian proyek mahasiswa menyiapkan:
– Meningkatkan kontribusi pendanaan melalui donasi, bantuan alat lab • SDM unggul yang
PT Pendidikan (Unggul dalam Pendidikan) – Melakukan kolaborasi dalam penelitian, komersial kompeten dan berjiwa
1 PT unggul di setiap provinsi; – Penempatan magang dan penyerapan kelulusan Pancasila
Motor pembangunan daerah & nasional
• Pemimpin masa depan
Pemerintah yang akan memimpin
Universitas Terbuka & MOOCS
masyarakat demokratis
1• Memberikan otonomi kepada Pendidikan Tinggi dengan
Untuk perluasan akses PT dan membentuk
ekosistem life-long learning
pengawasan berbasis data dan penjaminan kualitas • Riset dan
2• Mendorong pencapaian skala minimum agar memenuhi standar Pengembangan untuk
kualitas minimal serta menjadi mandiri membentuk ekonomi
• Setiap kelompok perguruan tinggi tidak lebih
3• Memberikan insentif untuk kolaborasi/kemitraan global dan pengetahuan dan
penting dari yang lain perkembangan
domestik dan hubungan industri
• Mahasiswa memiliki kemerdekaan untuk berkelanjutan
menjelajah ilmu lintas kelompok di atas melalui 4• Memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk terlibat lebih
Merdeka Belajar banyak dalam pendanaan pendidikan tinggi

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 62
9 Kemendikbud akan menyediakan 3 mekanisme pendanaan APBN untuk PTN
Jalur pendanaan Kemendikbud ke PTN Penjelasan ada di halaman selanjutnya

1
Berdasarkan IKU (Kontrak
 Performa PTN akan dievaluasi berdasarkan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang
Kinerja) antara Kemendikbud
menjadi kontrak kinerja antara PTN dan Kemendikbud
dengan PTN
 Bantuan operasional akan dihitung berdasarkan bobot atau multiplier pencapaian IKU

2
“Matching Fund” terhadap  PTN berkesempatan untuk menerima dana tambahan apabila PTN tersebut dapat
pendanaan non-APBN yang meningkatkan penerimaan dari sumber dana non-Pemerintah (misalnya kerjasama
berhasil diperoleh oleh PTN industri atau donasi alumni)
 Formula pendanaan akan dibuat secara progresif (mempertimbangkan kondisi awal
masing-masing PTN) dan memiliki jumlah maksimum (ceiling)

3
“Competitive Fund” atau dana  PTN akan diberikan kesempatan untuk membuat proposal tentang proyek aspirasi
untuk proyek aspirasi yang atau rencana yang akan mereka jalankan (dan memiliki dampak terhadap kualitas
menjadi rencana PTN pembelajaran dan/atau otonomi PTN)
 Dana yang dapat diperoleh PTN di kategori ini bersifat terbatas (kompetitif) dan akan
diberikan kepada proyek terbaik yang memiliki dampak terbesar

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 63
9Kinerja PTN akan dinilai berdasarkan Indikator Kinerja Utama (IKU) baru dengan
bobot yang berbeda untuk PTN BH, BLU, dan Satker
Indikator Kinerja Utama (IKU) PTN Akademik Belum final

Indikator Mengapa indikator ini dipilih

1 Persentase lulusan yang lulus dalam 1 tahun terakhir dan pernah bekerja selama 0-6
bulan, melanjutkan studi, atau menjadi wiraswasta Mendorong kualitas, kesejahteraan,
Kualitas lulusan 2 Rata-rata penghasilan per bulan bagi lulusan yang baru mulai bekerja dan relevansi lulusan PTN terhadap
kebutuhan lapangan kerja
3 Persentase lulusan Program Sarjana setahun terakhir yang menghabiskan paling tidak 1
semester di luar kampus

Mendorong dosen untuk mendapat


4 Persentase Dosen tetap yang melaksanakan kegiatan tridharma di kampus lain dan/atau
Kualitas dosen pengalaman di luar kampus dan
bekerja sebagai praktisi (minimum 6 bulan) selama 5 tahun terakhir
bertukar ilmu antar kampus

5 Presentase program studi (prodi) yang melakukan kerjasama1 dengan mitra perusahaan,
organisasi nirlaba, institusi multilateral, atau universitas kelas dunia
6 Persentase mata kuliah yang diajarkan dan/atau dievaluasi oleh praktisi (pelaku industri) Untuk semakin meningkatkan
Kualitas kurikulum
7 Persentase prodi yang memiliki akreditasi dan/atau sertifikasi internasional yang diakui relevansi kurikulum dengan dunia
dan pembelajaran kerja dan standar internasional
8 Jumlah publikasi yang merupakan hasil kemitraan dengan QS top 100 World
Universities/ QS top 20 World Universities by Subject
9 Persentase hasil riset yang digunakan oleh industri/ masyarakat/ kebijakan Pemerintah

1. Kerjasama dapat berupa PKS/ MOA dengan mitra tentang pengembangan kurikulum, magang, penyerapan lulusan, pendirian prodi, dosen tamu praktisi, dan
pelatihan dosen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 64
9 Untuk meningkatkan hubungan dengan dunia kerja, mahasiswa didorong untuk
belajar di luar program studi mereka selama 3 semester dari 8 semester pendidikan
Mahasiswa memiliki hak 3 semester untuk mendapatkan pengalaman
di luar Prodinya:

Magang di perusahaan, organisasi nirlaba dan


1 Magang multilateral, lembaga pemerintahan, atau start-up

Proyek sosial untuk membantu desa membangun


2 Proyek di desa ekonomi, menyelesaikan permasalahan infrastruktur, atau
mengatasi masalah sosial

5 3 Kampus mengajar
Kegiatan mengajar di SD atau SMP, baik di daerah
terpencil maupun perkotaan

8 4 Pertukaran pelajar Mengambil kelas di perguruan tinggi lain

Melakukan penelitian, mulai dari penelitian sains hingga


5 Penelitian / Riset sosial, di bawah pengawasan dosen
1
Membangun dan mengembangkan bisnis mereka sendiri
6 Kewirausahaan secara mandiri yang dibuktikan dengan adanya proposal
bisnis, transaksi konsumen, atau slip gaji karyawan
2
7 Proyek mandiri Mengembangkan proyek berdasarkan topik minat tertentu

Total semester Jumlah Program Semester Proyek Aktivitas sosial yang didedikasikan untuk organisasi
untuk lulus semester di Studi berbeda di luar 8 kemanusiaan sosial lokal atau multinasional
Program di kampus kampus
Studi asal asal

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 65
9 Tiongkok mengembangkan kebijakan dan peta jalan pendidikan tinggi yang
komprehensif untuk memperkuat 100 Perguruan Tinggi teratasnya
Studi Kasus: Diferensiasi Pendidikan Tinggi Tiongkok
Lembaga berasal dari 100 universitas di abad ke-21;yang akan dikembangkan menjadi kelas dunia,
misalnya melalui pertukaran internasional, pengembangan bakat
Pemerintah • Bertanggung jawab untuk melatih mayoritas mahasiswa doktoral, 2/3 mahasiswa pascasarjana, dan
1/3 sarjana
Tiongkok
mendorong
1 2 3 4
diferensiasi
misi yang Lembaga
Lembaga Institusi Perguruan tinggi
selanjutnya penelitian dan pengajaran kejuruan terutama
penelitian yang menyediakan
memungkinkan pengajaran terutama
perguruan tinggi gelar associate 2/3
perguruan tinggi mengajar dengan
Institusi "985" tahun
~ 39 perguruan tinggi "211" sedikit penelitian ~1.327 perguruan
Pendidikan ~112 perguruan ~1.090 perguruan
tinggi
Tinggi tinggi tinggi
memenuhi
kebutuhan pasar
Nama lembaga berasal dari tanggal pengumuman, Mei 1998. Pemerintah
tenaga kerja Tiongkok berkomitmen mengalokasikan dana untuk memilih perguruan tinggi
untuk membangun pusat penelitian baru, mengadakan dan menghadiri
konferensi internasional, menarik fakultas terkenal di dunia, dll.

Statistik Institusi
11 perguruan tinggi masuk
Pendidikan 48% angka partisipasi 60.000 lulusan doktor 428.000 publikasi
>30 Juta mahasiswa dalam Top 100 QS World
kasar (2018) (2018) penelitian University
Tinggi Tiongkok

Sumber: Cai, Y., & Yan, F. (2017). Higher Education and University; Pencarian media
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 66
10 Meningkatkan kredibilitas dan mekanisme akreditasi melalui proses berbasis data dan
secara sukarela, peningkatan keterlibatan masyarakat, dan perbandingan global
Prinsip akreditasi pada masa depan
Jenjang Kondisi pada 2019 Kondisi Akhir
• Kewajiban akreditasi setiap 4 tahun • Akreditasi otomatis dan berbasis data
Prasekolah – Beban administrasi tinggi untuk sekolah (mulai 6 bulan – Beban administratif rendah untuk sekolah
serta sebelumnya) – Persyaratan sumber daya proses audit yang rendah dikarenakan
Pendidikan – Persyaratan sumber daya proses audit yang tinggi karena minimnya kunjungan dan persyaratan dokumen
kewajiban berkunjung dan pengkajian dokumen oleh penilai
Dasar dan
• Standar berbasis pemerintah • Kombinasi antara standar pemerintah dan standar berbasis komunitas
Menengah
• Standar ‘one-size fits all’ dan fokus pada aspek administratif • Standar fokus pada hasil (misalnya peningkatan hasil penilaian/survei)
berdasarkan konteks sekolah
• Akreditasi internasional tidak diakui • Beberapa akreditasi internasional terpilih diakui setara dengan akreditasi
nasional

• Kewajiban akreditasi setiap 5 tahun • Hanya akreditasi secara suka rela dengan pengawasan/jaminan kualitas ketat
Pendidikan – Beban administrasi tinggi untuk perguruan tinggi hingga mulai 1 dari pemerintah untuk memastikan standar minimum terpenuhi
Tinggi tahun sebelumnya – Beban administratif yang lebih sedikit untuk perguruan tinggi
– Persyaratan sumber daya proses audit yang tinggi karena – Persyaratan sumber daya proses audit yang rendah karena minimalnya
kewajiban berkunjung dan kajian dokumen oleh penilai kunjungan dan persyaratan dokumen
• Standar berbasis pemerintah • Standar berbasis komunitas (meliputi industri, asosiasi, dsb.)
• Pembentukan LAM yang kredibel dan mengacu pada standar dan praktek
internasional
• Standar ‘one-size fits all’ yang didesain oleh Kementerian dan Badan • Standar yang fokus pada hasil (misalnya tingkat gaji rata-rata lulusan, tingkat
Akreditasi Nasional (BAN-PT) angkatan kerja, dan hasil survei kepuasan siswa/pemangku kepentingan)
• Akreditasi internasional tidak diakui • Beberapa akreditasi internasional terpilih diakui setara dengan akreditasi
nasional

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 67
M
10 Meningkatkan kredibilitas dan mekanisme akreditasi memungkinkan otonomi dalam
institusi pendidikan ** dapat diterapkan pada pendidikan tinggi dan/atau * dapat diterapkan pada
sekolah swasta pendidikan tinggi
• Membuka program baru dengan bukti • Mempekerjakan/ mempromosikan
kemitraan kelas dunia (misalnya: Top
Kurikulum/ Guru/ Dosen guru/ dosen hingga status profesor di
100 QS Perguruan Tinggi Dunia, Program institusi pendidikan tinggi*
BUMN, dan Fortune 500)* • Mempekerjakan/mempromosikan
• Mengembangkan program guru dan staf di sekolah (di institusi
pembelajaran bersama (micro- negeri)
degree) (misalnya kursus profesional • Menyesuaikan gaji dan
dan tersertifikasi) menghubungkannya dengan kinerja
• Mengembangkan pedagogi untuk (di institusi negeri)
mencapai hasil pembelajaran yang Area
diinginkan dengan
lebih
• Mengembangkan kemitraan banyak • Terlibat dalam aktivitas komersial
eksternal untuk: Kemitraan otonomi Pengoperasian/ yang menghasilkan keuntungan*
– tujuan komersial (misalnya: Manajemen • Menentukan fokus tridharma*
penyewaan bangunan/tanah)** • Persyaratan administratif yang lebih
– tujuan akademis (misalnya sedikit (misalnya akreditasi)
pengembangan bersama kurikulum, • Kontrol yang lebih terkait anggaran,
magang, pembelajaran bersama pengeluaran dan sumber daya
(joint-degree), penelitian gabungan, (misalnya skema hibah (block grant)
pelatihan guru, dan pembimbingan dan fleksibilitas BOS)
sekolah)

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 68
Lokus perubahan pendidikan ada di sekolah, sehingga manajemen anggaran
pendidikan harus dipusatkan di tingkat sekolah
Kondisi pada saat ini Prinsip manajemen anggaran ke depannya

Tidak ada mekanisme untuk memonitor besaran Penyaluran langsung:


anggaran daerah yang digunakan untuk Memaksimalkan anggaran pendidikan yang
meningkatkan kualitas pembelajaran disalurkan langsung ke sekolah

Otonom:
Yang paling mengerti kebutuhan SDM dan
operasional sekolah adalah warga sekolah sendiri, Manajemen anggaran berbasis sekolah:
namun saat ini perekrutan SDM sekolah tergantung meningkatkan otonomi sekolah dalam
pada formasi pemerintah pusat dan daerah penggunaan anggaran, baik untuk SDM maupun
kebutuhan operasional

Transparan:
Pemerintah pusat sulit memastikan dan menjaga Menyediakan platform teknologi tunggal untuk
kualitas barang dan jasa yang dibeli oleh sekolah pembelanjaan sekolah non-tunai (cashless) untuk
barang & jasa yang sudah terjaga kualitasnya

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 69
MERDEKA BELAJAR: Target untuk 15 tahun ke depan (1/2)

Kategori 2020–2025 2025–2030 2030–2035

• Literasi: 396 • Literasi: 423 • Literasi: 451


Skor PISA • Numerasi: 388 • Numerasi: 397 • Numerasi: 407
• Sains: 402 • Sains: 408 • Sains: 414

Pengurangan kesenjangan dalam Asesmen


Kompetensi Minimum (AKM), Survei
5% 10% 15%
Dasar dan Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar
antara sekolah dan kinerja terbaik dan terendah
Menengah
Jumlah Sekolah Penggerak 10.000 20.000 30.000

Prasekolah: 77,5%; SD: 100%; Prasekolah: 80%; SD: 100%; Prasekolah: 85%; SD: 100%;
Angka Partisipasi Kasar
SMP: 100%; SMA: 95% SMP: 100%; SMA: 100% SMP: 100%; SMA: 100%

Jumlah guru yang lulus program Pendidikan


200.000 300.000 400.000
Profesi Guru (PPG) baru

Jumlah Guru Penggerak 100.000 200.000 300.000

Guru dan Kepala Sekolah diangkat dari latar belakang


50.000 100.000 150.000
Tenaga Guru Penggerak
Kependidikan Kepala Dinas Pendidikan Daerah dipilih
berdasarkan persyaratan (scorecard) yang 20% 40% 60%
ditetapkan oleh Kemendikbud

Pengawas diangkat dari latar belakang Guru


50% 60% 70%
Penggerak

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 70


MERDEKA BELAJAR: Target untuk 15 tahun ke depan (2/2)

Kategori 2020 – 2025 2025 – 2030 2030 – 2035

Belanja sekolah dilakukan secara nontunai di


100% 100% 100% (termasuk daerah 3T)
daerah non-3T1

Anggaran pendidikan yang ditransfer


Tata Kelola langsung ke sekolah
35,4% 40% 45%

Kontribusi sektor swasta untuk sektor


0,8% 1,2% 1,6%
pendidikan dalam persentase PDB

Angka Partisipasi Kasar Pendidikan Tinggi 37,6% 45% 50%

Lulusan yang mendapatkan pekerjaan • SMK: 80% • SMK: 82% • SMK: 85%
(termasuk yang melanjutkan pendidikannya) • Pendidikan tinggi vokasi: 80% • Pendidikan tinggi vokasi: 82% • Pendidikan tinggi vokasi: 85%
dalam 1 tahun setelah kelulusan • Pendidikan tinggi: 80% • Pendidikan tinggi: 82% • Pendidikan tinggi: 85%

• SMK: 1x UMR2 • SMK: 1.2x UMR • SMK: 1.4x UMR


Vokasi dan • Pendidikan tinggi vokasi: D1, • Pendidikan tinggi vokasi: D1, • Pendidikan tinggi vokasi: D1,
Rata-rata minimum penghasilan lulusan
Pendidikan D2 1.2x UMR, D4 1.5x UMR D2 1.4x UMR, D4 1.7x UMR D2 1.6x UMR, D4 2x UMR
Tinggi • Pendidikan tinggi: 1.5x UMR • Pendidikan tinggi: 1.7x UMR • Pendidikan tinggi: 2x UMR

• SMK: 75% • SMK: 80% • SMK: 85%


Pengajar yang memiliki pengalaman atau
• Pendidikan tinggi vokasi: 75% • Pendidikan tinggi vokasi: 80% • Pendidikan tinggi vokasi: 85%
sertifikasi industri
• Pendidikan tinggi: 50% • Pendidikan tinggi: 60% • Pendidikan tinggi: 70%

Lulusan D4 dan S1 yang menghabiskan


50% 60% 65%
minimal 1 semester di luar kampus

1. Daerah 3T: daerah yang paling tidak berkembang, terluar, & dekat dengan perbatasan negara
2. UMR: upah minimum regional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 71
Untuk memastikan Kebijakan Merdeka Belajar tetap berlanjut dan semua target akan
tercapai 15 tahun ke depan, ada beberapa prinsip keberlanjutan yang kami terapkan

Prinsip keberlanjutan

1 Mencapai ~20% massa yang kritis (critical mass) pada semua perubahan kebijakan (contoh: 20% sekolah akan
menjadi sekolah penggerak) dan memastikan kondisi yang baik bagi sistem pendidikan untuk beroperasi secara
mandiri

2 Mentransformasi kepemimpinan internal di dalam Kementerian dan di tingkat daerah

3 Merevisi berbagai peraturan perundangan (saat ini yang sedang berjalan adalah UU Sisdiknas – Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional) agar para pemangku kepentingan Pendidikan dapat melanjutkan kebijakan ini

4 Mengintegrasikan peran pihak ketiga dalam sistem pendidikan, misalnya dunia industri dalam perguruan tinggi

Sumber: Kemendikbud
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 72
Perubahan struktural yang disebabkan pandemi COVID-19 akan semakin mendorong
percepatan pelaksanaan beberapa inisiatif dalam peta jalan ini
Perubahan struktural Inisiatif yang perlu dipercepat
Perlu dipercepat

1 Menerapkan kolaborasi dan pembinaan antarsekolah (TK-SD-SMP-SMA,


informal)
Melaksanakan pembelajaran jarak jauh
Pendidikan

2 Meningkatkan kualitas guru dan kepala sekolah

3 Membangun platform pendidikan nasional berbasis teknologi


Institusi banyak mendapat tekanan
finansial 4 Memperbaiki kurikulum nasional, pedagogi, dan penilaian

Meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan


5
distribusi yang merata
Mempercepat akses digital di semua
industri 6 Membangun sekolah/lingkungan belajar masa depan
Lapangan Kerja

7 Memberikan insentif atas kontribusi dan kolaborasi pihak swasta di bidang


Tekanan lebih besar untuk pendidikan
memperbaharui keterampilan (mis.
cyber security) 8 Mendorong kepemilikan industri dan otonomi pendidikan vokasi

9 Membentuk pendidikan tinggi kelas dunia


Lokalisasi peluang kewirausahaan
10 Menyederhanakan mekanisme akreditasi dan memberikan otonomi lebih

Sumber: Kemendikbud, analisa Kearney


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 73
Terima kasih

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan