Anda di halaman 1dari 4

NAMA : ALAN DWI SAPUTRA

NIM : PO713203181005
MATKUL : HEMATOLOGI
PRODI : D3 TLM

Fibrinolitik

Fbrinolisis merupakan mekanisme pecahnya benang fibrin (salah satu agen


pembeku darah yang diproduksi dalam darah sebagai produk akhir koagulasi).
Darah juga mengandung enzim fibrinolitik yang berguna mecegah pembentukan
gumpalan atau pembekuan darah pada area yang tidak terluka, sehingga tidak
akan menghalangi aliran darah, dan juga enzim ini akan menghancurkan fibrin
bila luka telah sembuh. Trombosis merupakan pembentukan gumpalan atau
bekuan darah yang tidak normal, yang terjadi bila terdapat gangguan pada jalur
pembekuan darah dan pemecahan fibrin. Obat yang dapat mengaktifkan kerja
fibrinolisis dapat juga menyembuhkan penyakit seperti embolisme paru-paru, dan
infark myocardial yang disebabkan karena adanya gumpalan darah yang
menghalangi aliran darah. .
Fibrinolisis adalah mekanisme fisiologis yang bekerja secara konstan dengan
sistim pembekuan darah untuk menjamin lancarnya aliran darah ke organ perifer
atau jaringan tubuh. Koagulasi dan fibrinolisis merupakan mekanisme yang saling
berkaitan erat sehingga seorang tidak dapat membicarakan masalah koagulasi
tanpa di sertai dengan fibrinolisis demikian juga sebaliknya.dalam system
koagulasis dan fibrinolisis terdapat system lain yang mengatur agar kedua proses
tidak langsung berlebihan .sistem tersebut terdiri dari faktor-faktor penghambat
( inhibitor). Seluruh proses merupakan mekanisme terpadu antara aktifitas
pembuluh darah,fungsi trombosit ,interaksi antara prokoagulan dalam sirkulasi
dengan trombosit ,aktifasi fibrinolisis dan aktifitas inhibitor.

Fibrinolitik bekerja sebagai trombolitik dengan cara mengaktifkan plasminogen


untuk membentuk plasmin, yang mendegradasi fibrin dan kemudian memecah
trombus. Manfaat obat trombolitik untuk pengobatan infark miokard telah
diketahui dengan pasti. Yang termasuk dalam golongan obat ini di antaranya
streptokinase, urokinase, alteplase, dan anistreplase.

Streptokinase dan alteplase telah diketahui dapat menurunkan angka kematian.


Reteplase dan tenekteplase juga disarankan untuk infark miokard; keduanya
diberikan secara injeksi intravena (tenekplase diberikan dengan injeksi bolus).
Obat trombolitik diindikasikan pada semua pasien dengan infark miokard akut.
Pada pasien sedemikian ini manfaat pengobatan yang diperoleh lebih besar dari
risikonya. Penelitian menunjukkan bahwa manfaat paling besar dirasakan oleh
pasien dengan perubahan pada hasil EKG berupa elevasi/peningkatan segmen ST
(STEMI) (terutama pada pasien infark anterior) dan pada pasien dengan bundle
branch block. Pasien tidak boleh menolak pengobatan dengan trombolitik
berdasarkan alasan usia saja karena angka kematian pada kelompok ini tinggi dan
penurunan risiko kematian sama dengan kelompok pasien yang lebih muda.

Streptokinase digunakan dalam pengobatan trombosis vena yang mengancam


jiwa, dan dalam embolisme paru. Pengobatan harus dimulai dengan tepat.

Alteplase, streptokinase, dan urokinase digunakan pada anak-anak untuk


melarutkan trombus intravaskuler dan untuk menormalkan blokade occluded
shunts dan kateter. Pengobatan sebaiknya dimulai sesegera mungkin setelah
terjadi pembekuan darah dan dihentikan apabila terdeteksi perbaikan pada organ
yang sakit, atau shunt atau kateter sudah tidak terblokade.

Keamanan dan efikasi pengobatan dengan menggunakan obat ini masih belum
dapat dipastikan, terutama pada neonatus. Obat fibrinolitik kemungkinan hanya
bermanfaat apabila oklusi arteri mengancam kerusakan iskemik; antikoagulan
mungkin dapat menghentikan bekuan darah menjadi lebih besar. Alteplase
merupakan fibrinolitik yang lebih disukai untuk neonatus dan anak-anak. Risiko
efek sampingnya termasuk reaksi alergi lebih kecil.
Peringatan. Risiko perdarahan dari penyuntikan atau prosedur invasif, kompresi
dada dari luar, kehamilan (lampiran 4), aneurisme abdominal atau kondisi di mana
trombolisis dapat meningkatkan risiko komplikasi embolik seperti pembesaran
atrium kiri dengan fibrilasi atrium (risiko melarutnya bekuan darah yang disertai
embolisasi), retinopati akibat diabetes, terapi antikoagulan yang sudah diberikan
atau yang diberikan bersamaan.

Kontraindikasi. Perdarahan, trauma, atau pembedahan (termasuk cabut gigi) yang


baru terjadi, kelainan koagulasi, diatesis pendarahan, diseksi aorta, koma, riwayat
penyakit serebrovaskuler terutama serangan terakhir atau dengan berakhir cacat,
gejala-gejala tukak peptik yang baru terjadi, perdarahan vaginal berat, hipertensi
berat, penyakit paru dengan kavitasi, pankreatitis akut, penyakit hati berat, varises
esofagus; juga dalam hal streptokinase atau anistreplase, reaksi alergi sebelumnya
terhadap salah satu dari kedua obat tersebut.

Munculnya antibodi terhadap streptokinase dan anistreplase yang terus menerus


terjadi dapat mengurangi efikasi pengobatan berikutnya. Karena itu, kedua obat
ini tidak boleh diulang setelah 4 hari sejak pemberian pertama streptokinase atau
anistreplase. Antibodi dapat juga muncul setelah penggunaan streptokinase topikal
pada luka.

Efek Samping. Efek samping trombolitik terutama mual, muntah, dan perdarahan.
Bila trombolitik digunakan pada infark miokard, dapat terjadi aritmia reperfusi.
Hipotensi juga dapat terjadi dan biasanya dapat diatasi dengan menaikkan kaki
penderita saat berbaring, mengurangi kecepatan infus atau menghentikannya
sementara. Nyeri punggung telah dilaporkan. Perdarahan biasanya terbatas pada
tempat injeksi, tetapi dapat juga terjadi perdarahan intraserebral atau perdarahan
dari tempat-tempat lain. Jika terjadi perdarahan yang serius, trombolitik harus
dihentikan dan mungkin diperlukan pemberian faktor-faktor koagulasi dan obat-
obat antifibrinolitik (aprotinin atau asam traneksamat). Streptokinase dan
anistreplase dapat menyebabkan reaksi alergi dan anafilaksis. Selain itu, pemah
dilaporkan terjadinya sindrom Guillain-Barre setelah pengobatan streptokinase.

Soal Kasus
Seorang wanita berumur 50 tahun dibawah ke rumah sakit dikarenakan
mengalami stroke. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata pasien tersebut
memgalami gangguan dalam system trombolitik yaitu thrombosis daam vena
sehingga dokter memberikan obat yang dapat memecah gumpalan darah di dalam
pembuluh darah.
Berdasarkan pernyataan diatas, obat yang dimaksud adalah….
A. Alteplase
B. Reteplase
C. Tenekteplase
D. Streptokinase
E. Paracetamol
DAFTAR PUSTAKA

.
Frank Firkin, de grucy’s Clinical Hematology in Medical Practice, Fifth
edition, Blackwell Scientific Publication, 1989.

Iman Supardiman, Hematologi Klinik, edisi revisi, Bandung, 1993


.
Siti Budina Kresna, Pengantar Hematologi dan Imunohematologi, Fakultas
Kedokteran UI, 1988.