Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu tolak ukur kemajuan salah satu bangsa
sering kali dilihat dari harapan hidup penduduknya.
Demikian juga indonesia sebagai negara berkembang,dengan
perkembangan yang cukup baik,semakin tinggi harapan
hidupnya maka diproyeksikan dapat mencapai lebih dari 70
tahun pada tahun-tahun yang akan datang.
Pada tahun 2000 jumlah orang yang lanjut usia
sebesar 7,28% dan pada tahun 2020 diperediksikan sebesar
11,34 sebesar 11,34% (BPS, 1992). Dari data USABureu of
the cencus,bahkan diperkirakan indonesia akan mengalami
penambahan lansia terbesar seluruhdunia,antara tahun
1999-2025, yaiyu sebesar 41,4% (keinsela dan
teuber,1993).
Menua (menjadi tua = aging) adalah suatu proses
menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan
untuk memperbaiki diri dan mempertahankan fungsi dan
struktur normalnya sehinnga tidak dapat bertahan
terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki
kerusakan yang diderita (Contantinides).
Proses menua (aging proses) merupakan bagian dari
kontinum kehidupan, pengaruh-pengaruhnya bervariasi
secara luas dari satu individu ke individu lainnya tidak
berkembang pada kecepatan yang sama, dan pada satu waktu
tertentu pasien dapat memperlihatkan hanya beberapa
karakteristik. Klasifikasi lansia telah berubah dari
tahun ketahun karena peningkatan lama hidup antara 65-
75 termasuk dewasa lanjut dan lebih dari 75 termasuk
dewasa lansia.
Dengan lanjutnya usia, energi pelan-pelan
berkurang, reaksi terhadap kejadian disekitarnya menjadi

1
lambat, daya kreatif dan inisiatif berangsur-angsur
menyempit dan pelan –pelan dia menarik diri.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam pembuatan laporan ini
adalah :
1. Mampu mengkaji data klien yang ada di Desa Dasan
Baru.
2. Mampu menganalisa data yang diperoleh.
3. Mampu merumuskan diagnosa secara cepat dan tepat.
4. Mampu memprioritaskan masalah dari suatu permasalahan
yang sedang dihadapi.
5. Mampu menentukan tujuan tindakan keperawatan.
6. Mampu merencanakan tindakan keperawatan.
7. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan yang telah
direncanakan.
8. Mampu mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang
telah direncanakan.

C. Metode Penulisan
Adapun metode yang digunakan penulis adalah :
1. Metode Wawancara
Dimana pada metode yang digunakan ini diharapkan
peran aktif dari klien dari setiap pertanyaan yang
diajukan oleh perawat. Pada metode ini perawat bisa
memperoleh data yang lebih akurat, sehingga dapat
membantu perawat dalam menegakkan diagnosa
keperawatan.
2. Metode Observasi
Pada metode ini perawat menilai dan memantau setiap
tindakan dan sikap dari klien.
3. Studi kasus
Penulis melakukan atau mempelajari kasus yang akan di
lakukan pengkajian.

2
4. Studi kepustakaan
Penulis mempelajari kasus dengan menggunakan berbagai
teori atau literature yang diambil dari buku dan
kepustakaan.
5. Sumber data
Primer : Yang diperoleh dari klien itu sendiri.
Skunder : Yang di peroleh dari orang terdekat, team
kesehatan lain, serta hasil pemeriksaan fisik.

6. Sistimatika Penulisan
Adapun sistematika dari laporan peraktek klinik ini
adalah :
BAB I : Pendahuluan terdiri dari latar belakang,
tujuan penulisan, metode penulisan dan
sistimatika penulisan.
BAB II : Tinjauan teori terdiri dari konsep dasar
(pengertian, etiologi, Manifestasi klinis,
patofisiologi,dan penatalaksanaan medis) dan
konsep dasar asuhan keperawatan
(pengkajian,diagnose
keperawatan,perencanaan,pelaksanaan dan
evaluasi).
BAB III : Tinjauan kasus terdiri dari pengkajian,
diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.
BAB IV : Pembahasan terdiri dari pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi. Dimana semua yang ada dalam
pembahasan ini merupakan perbandingan antara
tinjauan teori dan tinjauan kasus.
BAB V : Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar
1. Proses Menua
Menjadi orang tua adalah suatu prosess
menghilangnya secara perlahan – lahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat
bertahan dari infeksi dan memperbaiki diri dari
kerusakan yang diderita
2. Teori Menua
a. Teori genetic
Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa lama hidup
ditentukan pada informasi DNA pada gen.
b. Kerusakan DNA
Informasi yang dibutuhkan yang dibutuhkan seluntuk
membangun protein esensial tergantung pada bangunan
molekul DNA
c. Teori radikal bebas
Radikal bebas mengandung oksigen dengan aktivitas
yang tinggi yang sangat cepat bereaksi dengan
molekul lain dan membuat aktivitas enzim dan
protein dapat berubah.
d. Teori auto imun
Teori ini mengemukakan bahwa proses penuaan
diakibatkan karena antibodi yang bereaksi terhdap
sel normal dan merusaknya.
3. Batasan usia lanjut
1) Menurut WHO;
a) Middle Age / Usia Pertengahan
b) Elderly Age / Usia Lanjut
c) Old Age / Usia Lanjut Tua
d) Very Old Age / Usia Sangat Tua

4
2) Menurut UU Nomor 13 tahun 1998
UU nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia
menyebutkan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang
berusia 60 tahun keatas.
3) Menurut Binner dan Jenner (1977).
a) Usia Kronologis.
Yaitu usia yang menunjuk pada jangka waktu
seseorang sesuai dengan tahun kelahirannya.
b) Usia Biologis.
Yaitu Usia yang menunjuk kepada jangka waktu
seseorang sejak lahirnya berada dalam keadaan
hidup tidak mati.
c) Usia Psikologis.
Yaitu usia yang menunjuk kepada kemampuan
seseorang untuk mengadakan penyesuaian-
penyesuaian kepada situasi yang dihadapi.
d) Usia Sosial.
Yaitu usia yang menunjuk kepada peran-peran yang
diharap atau diberikan masyarakat kepada
seseorang sehubungan dengan usianya.
4. Prinsip proses menua.
a. Proses menua merupakan proses secara terus menerus
(berlanjut) secara alamiah yang dialami semua
makhluk hidup.
b. Proses menua setiap individu pada organ tubuh tidak
sama cepatnya.
c. Proses menua bukanlah suatu penyakit namun
merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh
dalam menghadapi rangsang dari luar tubuh maupun
dalam tubuh.
Dengan demikian kaum lanjut usia sering menderita
berbagai penyakit.

5
5. Tugas Perkembangan Lansia.
a. Penyesuaian terhadap penurunan fisik dan psikis.
b. Penyesuaian terhadap pension dan penurunan
pendapatan.
c. Menemukan makna kehidupan.
d. Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan.
e. Menemukan kepuasan dalam hidup berkeluarga.
f. Penyesuaian diri terhadap kenyataan akan meninggal.
g. Menerima dirinya sebagai seorang lanjut usia.
6. Tipologi Lansia.
a) Menurut Kemampuannya :
1) Lanjut usia mandiri sepenuhnya.
2) Lanjut usia dengan bantuan sebagian.
3) Lanjut usia dengan bantuan sepenuhnya.
b) Menurut Karakter / Pengalaman Hidup :
1) Tipe Konstruktif
2) Tipe Ketergantungan
3) Tipe Bermusuhan
4) Tipe Membenci Diri
7. Perubahan – Perubahan yang Terjadi Pada Lansia.
a. Sel
1) Lebih sedikit jumlahnya.
2) Lebih besar ukurannya.
3) Berkurangnya jumlah cairan tubuh
4) Berkurangnya cairan intra sel.
b. Sistem Syaraf
1)Berat otak menurun.
2)Kurang sensitif terhadap rangsang sentuh.
3)Mengecilnya syaraf panca indera.
4)Menurunnya waktu berespon.
c. Sistem Pendengaran
1) Presbiakusis
2) Membran tympani atropi
3) Peningkatan serumen

6
d. Sistem Penglihatan
1)Sfingter pupil sklerosis
2)Kornea lebih berbentuk sferis / bola
3)Lensa lebih suram / keruh
4)Daya akomodasi hilang
5)Menurunnya lapang pandang
6)Menurunnya kemampuan membedakan warna
e. Sistem Gastrointestinal
1)Kehilangan gigi.
2)Menurunya indera pengecap
3)Esofagus melebar.
4)Peristaltik melemah
5)Fungsi absorbsi melemah
f. Sistem Respirasi
1)Otot pernafasan menjadi kaku
2)Menurunya aktivitas silia
3)Kehilangan elastisitas paru-paru
4)Alveoli melebar dan jumlahnya berkurang
5)Oksigen pada arteri menurun
6)Kapasitas residu meningkat
g. Sistem Muskuloskeletal
1) Tulang kehilangan density
2) Kifosis
3) Pinggang, lutut, dan jari-jari gerakan terbatas
4) Pembesaran sendi dan kuku
5) Tendon mengkerut
6) Atrofi serabut otot
7) Sistem Kardiovaskuler
8) Katub jantung menebal dan menjadi kaku
9) Kemampuan jantung dalam memompakan darah menurun
10) Hilangnya elastisitas pembuluh darah
11) Tekanan darah meninggi

7
h. Sistem Genito-Urinaria
1)Ginjal mengecil, Nefron atrofi, aliran darah ke
ginjal menurun.
2)Otot vesika urina menurun
3)Pembesaran prostat
4)Atrofi vulva
i. Sistem Endokrin
1)Semua produksi hormon menurun
2)Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah
j. Sistem Integumen
1)Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak
2)Pigmentasi dan gangguan elastisitas kulit
3)Kelenjar keringat berkurang
4)Kuku jari menjadi keras dan rapuh
5)Menurunnya respon terhadap trauma

B. Konsep Dasar Vertigo


1. Pengertian
Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere
yang artinya memutar. Pengertian vertigo adalah :
sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau
lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain,
terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat
keseimbangan tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri
dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan
gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik
(nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh dingin,
mual, muntah) dan pusing. (http://www.kalbefarma.com).
2. Etiologi
Menurut (Burton, 1990 : 170) yaitu :
a. Lesi vestibular
b. Fisiologik
c. Labirinitis
d. Menière

8
e. Obat ; misalnya quinine, salisilat.
f. Otitis media
g. “Motion sickness”
h. “Benign post-traumatic positional vertigo”
i. Lesi saraf vestibularis
j. Neuroma akustik
k. Obat ; misalnya streptomycin
l. Neuronitis
m. vestibular
n. Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal
o. Infark atau perdarahan pons
p. Insufisiensi vertebro-basilar
q. Migraine arteri basilaris
r. Sklerosi diseminata
s. Tumor
t. Siringobulbia
u. Epilepsy lobus temporal
v. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :
1) Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
2) Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani,
otitis media purulenta akuta, otitis media
dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma,
rudapaksa dengan perdarahan.
3) Telinga bagian dalam: labirintitis akuta
toksika, trauma, serangan vaskular, alergi,
hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk
gerakan, vertigo postural.
4) Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
5) Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan,
trombosis arteria serebeli posterior inferior,
tumor, sklerosis multipleks.
w. Penyakit SSP :
1) Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis,
arterios-klerosis, anemia, hipertensi

9
kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal,
stenosis dan insufisiensi aorta, sindrom sinus
karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok
jantung.
2) Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
3) Trauma kepala/ labirin.
4) Migren.
5) Epilepsi.
6) Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi,
hipoparatiroid, tumor medula adrenal, keadaan
menstruasi-hamil-menopause.
7) Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas,
sindrom hiperventilasi, fobia.
8) Kelainan mata: kelainan proprioseptik.
9) Intoksikasi.
3. Patofisiologi
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan
informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran.
Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah
susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara
terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat
keseimbangan. Susunan lain yang berperan ialah sistem
optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang
menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N.
III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis, dan
vestibulospinalis.
Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh
akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan
proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan
kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul
kemudian reseptor visual dan yang paling kecil
kontribusinya adalah proprioseptik.
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang
tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh

10
berasal dari reseptor vestibuler, visual dan
proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan,
jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan
diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa
penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam
keadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari
posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan
sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di
perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak
fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau
berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan
terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala
otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot
menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal
yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia
saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya.

4. Klasifikasi Vertigo
Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi
atas beberapa kelompok :
a.Vertigo paroksismal
Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak,
berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian
menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan
tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan,
penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis
ini dibedakan menjadi :
1) Yang disertai keluhan telinga :
Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere,
Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes,
Sindrom Cogan, tumor fossa cranii posterior,
kelainan gigi/ odontogen.

11
2) Yang tanpa disertai keluhan telinga :
Termasuk di sini adalah : Serangan iskemi
sepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi,
Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de
L’enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).
3)Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi:
Termasuk di sini adalah : Vertigo posisional
paroksismal laten, Vertigo posisional paroksismal
benigna.
b.Vertigo kronis
Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan
tanpa (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 47)
serangan akut, dibedakan menjadi:
1) Yang disertai keluhan telinga : Otitis media
kronika, meningitis Tb, labirintitis kronis,
Lues serebri, lesi labirin akibat bahan
ototoksik, tumor serebelopontin.
2) Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri,
ensefalitis pontis, sindrom pasca komosio,
pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis
multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat,
kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler,
kelainan endokrin.
3) Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi
ortostatik, Vertigo servikalis.
c. Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian
berangsur-angsur mengurang, dibedakan menjadi :
1) Disertai keluhan telinga : Trauma labirin,
herpes zoster otikus, labirintitis akuta,
perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada
auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.
2) Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis,
sindrom arteria vestibularis anterior,
ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika,

12
sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan
arteria serebeli inferior posterior.
Ada pula yang membagi vertigo menjadi :
1) Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem
vestibuler.
2) Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem
somatosensorik dan visual.
5. Manifestasi klinik
Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala
sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah,
rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah
pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng
(dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus,
mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah,
lidah merah dengan selaput tipis.
6. Pemerikasaan Penunjang
a. Pemeriksaan fisik :
1) Pemeriksaan mata
2) Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
3) Pemeriksaan neurologik
4) Pemeriksaan otologik
5) Pemeriksaan fisik umum.
6) Pemeriksaan khusus :ENG
7) Audiometri dan BAEP
8) Psikiatrik
9) Pemeriksaan tambahan :
10) Laboratorium
11) Radiologik dan Imaging
12) EEG, EMG, dan EKG.
7. Penatalaksanaan Medis
Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004:
48) Terdiri dari :
1) Terapi kausal
2) Terapi simtomatik

13
3) Terapi rehabilitatif.

C. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Vertigo


1. Pengkajian
a. Aktivitas / Istirahat
b. Letih, lemah, malaise
c. Keterbatasan gerak
d. Ketegangan mata, kesulitan membaca
e. Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai
nyeri kepala.
f. Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur
tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan
cuaca.
g. Sirkulasi
h. Riwayat hypertensi
i. Denyutan vaskuler, misal daerah temporal.
j. Pucat, wajah tampak kemerahan.
k. Integritas Ego
l. Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
m. Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik).
n. Makanan dan cairan
o. Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
p. Penurunan berat badan
q. Perubahan pada pola bicara/pola pikir
r. Penurunan refleks tendon dalam
s. Nyeri/ kenyamanan
t. Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit
kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster,
tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
u. Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.
v. Fokus pada diri sendiri
2. Diagnosa Keperawatan (Doengoes, 1999:2021)
a. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan
ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor,

14
peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan
nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan
posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
b. Koping individual tak efektif berhubungan dengan
ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak
adekuat, kelebihan beban kerja.
c. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai
kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan
kurang mengingat ditandai oleh memintanya
informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti
instruksi.
3. Intervensi Keperawatan
a. Diagnosa Keperawatan 1. :
Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan
ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospasme,
peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan
nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan
posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil :
1) Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
2) Tanda-tanda vital normal
3) pasien tampak tenang dan rileks.
Intervensi :
1) Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala
nyeri.
Rasional : Mengenal dan memudahkan dalam
melakukan tindakan keperawatan.
2) Anjurkan klien istirahat ditempat tidur.
Rasional : istirahat untuk mengurangi intesitas
nyeri.
3) Atur posisi pasien senyaman mungkin

15
Rasional : posisi yang tepat mengurangi
penekanan dan mencegah ketegangan otot serta
mengurangi nyeri.
4) Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan
membuat perasaan lebih nyaman.
5) Kolaborasi untuk pemberian analgetik.
Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi
nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.
b. Diagnosa Keperawatan 2 :
Koping individual tak efektif berhubungan dengan
ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak
adekuat, kelebihan beban kerja.
Tujuan : koping individu menjadi lebih adekuat
Kriteria Hasil :
1)Mengidentifikasi prilaku yang tidak efektif
2)Mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping
yang di miliki.
3)Mengkaji situasi saat ini yang akurat
4)Menunjukkan perubahan gaya hidup yang diperlukan
atau situasi yang tepat.
Intervensi :
1) Kaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum.
Rasional : Mengenal sejauh dan mengidentifikasi
penyimpangan fungsi fisiologis tubuh dan
memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
2)Sarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya.
Rasional : klien akan merasakan kelegaan setelah
mengungkapkan segala perasaannya dan menjadi
lebih tenang.
3)Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala,
penenangan dan hasil yang diharapkan.

16
Rasional : agar klien mengetahui kondisi dan
pengobatan yang diterimanya, dan memberikan klien
harapan dan semangat untuk pulih.
4)Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian,
ambil keuntungan dari kegiatan yang dapat
diajarkan.
Rasional : membuat klien merasa lebih berarti dan
dihargai.
c. Diagnosa Keperawatan 3
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai
kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal
informasi dan kurang mengingat ditandai oleh
memintanya informasi, ketidak-adekuatannya
mengikuti instruksi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang
kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.
Kriteria Hasil :
1) Melakukan prosedur yang diperlukan dan
menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
2) Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan
dan ikut serta dalam regimen perawatan.
Intervensi :
1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga
tentang penyakitnya.
Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman
dan pengetahuan klien dan keluarga tentang
penyakitnya.
2) Berikan penjelasan pada klien tentang
penyakitnya dan kondisinya sekarang.
Rasional : dengan mengetahui penyakit dan
kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan
merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.

17
3) Diskusikan penyebab individual dari sakit
kepala bila diketahui.
Rasional : untuk mengurangi kecemasan klien
serta menambah pengetahuan klien tetang
penyakitnya.
4) Minta klien dan keluarga mengulangi kembali
tentang materi yang telah diberikan.
Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman
klien dan keluarga serta menilai keberhasilan
dari tindakan yang dilakukan.
5) Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau
letak tubuh yang normal
Rasional : agar klien mampu melakukan dan
merubah posisi/letak tubuh yang kurang baik.
6) Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan
sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor
yang berhubungan.
Rasional : dengan memperhatikan faktor yang
berhubungan klien dapat mengurangi sakit kepala
sendiri dengan tindakan sederhana, seperti
berbaring, beristirahat pada saat serangan.
4. Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau
terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang
telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga
dan tenaga kesehatan lainnya. (Carpenito, 1999:28)
Tujuan Pemulangan pada vertigo adalah :
1) Nyeri dapat dihilangkan atau diatasi.
2) Perubahan gaya hidup atau perilaku untuk mengontrol
atau mencegah kekambuhan.

18
BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal Pengkajian :
Nama Pengkaji :
Waktu Pengkajian :
I. PENGKAJIAN
A. Data biografi
Nama : Tn.”A”
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 70 Tahun
Tempat/tgl.lahir :
Gol. Darah : Tidak Tahu
Pendidikan : Tidak Sekolah
Agama : Islam
Status Perkawinan : Nikah
TB/BB : 162 Cm/ 40 Kg
Penampilan : Kurus Langsing
Ciri Tubuh : Kerempeng
Alamat :
Telepon : Tidak Ada
Orang dekat yang
bisa dihubungi : Ny.”M”
Hubungan dengan lansia : Anak
Alamat :

B. Riwayat keluarga
 Genogram

19
 Keterangan;
: Perempuan hidup
: Laki-laki hidup
: Perempuan meninggal
: Laki-laki Meninggal
: Klien
: Tinggal serumah

C. Riwayat Pekerjaan
1. Pekerjaan saat ini:
Klien mengatakan masih aktif bekerja sebagai
petani.
2. Berapa jarak dari rumah:
Sekitar 100 meter dari rumah.
3. Alat transportasi:
Jalan kaki.
4. Alamat pekerjaan:
Klien mengatakan tidak meiliki tempat kerja yang
tetap.
5. Pekerjaan sebelumnya:
Kalau dulu klien mengaku aktif bekerja disawah
namun sekarang sudah tidak lagi karena sudah
tidak memiliki lahan.
6. Sumber-sumber pendapatan dan kecukupan terhadap
kebutuhan:
Tn.”A” menceritakan kebutuhan sehari-hari
terpenuhi dari hasil kerja recahan batu kali
yang dijual setiap seminggu sekali. Pekerjaan
ini juga dibantu oleh sang isteri. Selain itu
tidak ada lagi.

D. Riwayat Lingkungan Hidup


1. Tipe tempat tinggal:
Tipe rumah permanen.

20
2. Jumlah Kamar:
Rumah hanya terdiri dari astu ruangan saja
berukuran 4x3 meter.
3. Jumlah tongkat:
Tidak ada.
4. Kondisi tempat tinggal:
Ruangan rumah tampak kumuh dan lembab karena
hanya terdiri dari satu ruangan yang digunakan
sebagai kamar tidur, tempat memasak dan pakaian
menggantung tidak tertata. Ventilasi ada hanya
satu jendela di bagian depan disamping pintu
tapi tidak pernah dibuka. Pencahayaan hanya
mengandalkan dari pintu depan, terdapat lima
lubang angin berukuran kecil (diameter sekitar
15-20 cm). Terdapat satu ranjang tempat tidur
disisi belakang ruangan.
5. Jumlah orang yang tinggal dirumah:
Ruangan ditempati oleh Tn.”A” dan isterinya
Ny.”S”
6. Derajat privasi:
Ruangan sangat terbuka karena hanya mengandalkan
ventilasi dan pencahayaan dari pintu yang
terbuka saja, sehingga derajat privasinya sangat
kurang.
7. Tetangga terdekat:
Disamping rumahnya terdapat rumah anak-anaknya,
didepan ada rumah anaknya yang bungsu dan
disamping utara rumahnya terdapat rumah anakn
perempuannya yang nomer dua.
8. Alamat/telpon:
Desa Dasan Baru.

21
E. Riwayat Rekreasi
1. Hobi / minat:
Tn.”A” mengatakan sangat gemar bercocok tanam di
sawah.
2. Keanggotaan organisasi:
Tidak pernah berorganisasi
3. Liburan perjalanan:
Tidak ada aktifitas berlibur seperti berjalan-
jalan bersama keluarga ataupun sendiri.

F. Sistim Pendukung
1. Perawat/Bidan/Dokter/Fisioterapi:
Terdapat Poskesdes yang diketuai oleh seorang
bidan.
2. Jarak dari rumah:
Sekitar 500 meter.
3. Rumah Sakit:
Rumah Sakit terdekat adalah Rumah Sakit Umum
Provinsi NTB yang berjarak sekitar 6 Km.
4. Klinik:
Klinik perawatan setingkat Puskesmas yaitu di
Puskesmas Banyumulek yang berjarak 2 Km dari
rumah Tn.”A”.
5. Pelayanan kesehatan dirumah:
Tidak ada.
6. Makanan yang dihantarkan:
Makanan sehari-hari yang dihidangkan oleh
isteri.
7. Perawatan sehari-hari yang dilakukan keluarga:
Tidak ada perawatan khusus yang dilakukan
keluarga terkait upaya menjaga kesehatan Tn.”A”.
Namun Ny.”S” mengaku menyiapkan air hangat
jikalau suaminya menghendaki mandi air hangat.

22
G. Deskripsi Kekhususan
1. Kebiasaan ritual:
Tn.”A” terbiasa melakukan ibadah sholat solat 5
waktu, pengajian di dusun sudah lama tidak
aktif.
H. Status Kesehatan
1. Statatus kesehatan untuk selama satu tahun yang
lalu: Klien mengatakan menderita sakit kepala
berat 2 hari yang lalu, terasa seperti goyang dan
berputar-putar, melayang dan muntah-muntah.
Keluhan ini sering sekali kumat, hampir setiap 2
atau 3 hari.
2. Status kesehatan umum selama lima tahun yang
lalu: Klien mengatakan pernah menderita demam
tinggi dan sakit kepala, kemudian keluarga
membawa berobat ke Puskesmas dan di vonis
penyakit Thyfus oleh dokter.

I. Keluhan Utama
Keluhan saat ini adalah rasa pusing yang masih
datang tiba-tiba, pengelihatan terasa perih dan
kabur.
1. Provokative/Paliative:
Tn.”A” mengatakan merasakan pusing sudah lama,
hilang-timbul. Pusing biasanya kumat jikalau
sedang kelelahan bekerja atau kalau sedang ada
pikiran yang memberatkan.
2. Quality/Quantity:
Terasa goyang, berputar-putar dan seperti
melayang. Semakin berat terasa kalau tidur
dengan bantal yang rendah. Kepala terasa seperti
kosong

23
3. Region:
Rasa sakit dikepala terasa menyebar diseluruh
permukaan kepala. Sedangkan dimata perihnya
dibagian depan bola mata.
4. Severity Scale:
Skala Nyeri untuk pusing saat ini masih terasa
tidak terlalu berat dengan nilai 5 pada skala 0-
10.
5. Timming:
Tn.”A” mengatakan biasanya sakit kepalanya kumat
pada malam hari saat sedang tidur atau bangun
tidur, apalagi sedang banyak pikiran atau
kelelahan.
6. Pemahaman dan penatalaksanaan masalah kesehatan:
Tn.”A” menyadari saat ini dirinya semakin tua
dan sering sakit namun dia harus tetap bekerja
untuk nafkah keluarga, kalaupun sakit ya harus
kedokter katanya.
7. Obat – obatan:
Obat yang sering dikonsumsi oleh Tn.”A” adalah
Paracetamol diminum 3x1 tablet sehari atau
Fanadol 3x1 tablet sehari.
8. Status imunisasi:
Tn.”A” mengatakan tidak pernah imunisasi
Alergi:
Tidak ada riwayat alergi.
Penyakit yang diderita:
Tn.”A” mengatakan dirinya menderita Asthma,
Rhematik, Pusing-pusing dan Pengelihatan kabur.

24
J. Aktivitas Sehari-hari
1. Indeks Katz
Tn.”A” mendapatkan skor A artinya klien mandiri
dalam hal makan, mandi, berpakaian, toileting,
kontinen dan mobilisasi.
2. Oksigenasi
Tn.”A” mengatakan tidak ada masalah pada
pernapasan, hal ini terbukti dengan bernapas
tanpa alat bantu dan frekuensi pernapasan klien
normal yaitu 20 kali/menit.
3. Cairan dan Elektrolit
Tn.”A” mengatakan minum air putih 3 gelas per
hari setiap habis makan, selain air putih
kelayan juga terbiasa minum kopi 1 sehari.
4. Nutrisi
Tn.”A” mengatakan makan 3 kali sehari, dengan
menu yang disuguhkan oleh isterinya.
5. Eliminasi
Tn.”A” mengatakan biasanya BAB sekali sehari dan
BAK sekitar 4-5 kali sehari.
6. Aktivitas
Pagi setelah sarapan Tn.”A” segera memulai
aktifitas hariannya yaitu mengercah batu sungai
menjadi kerikil kecil bahan bangunan.
Demikianlah aktifitas harian yang diceritakan
oleh Tn.”A”.
7. Istirahat tidur
Tn.”A” tidak suka begadang, malam selepas sholat
Isya, mengobrol sejenak dan mereka siap-siap
untuk tidur. Karena baisanya menjdelang shubuh
pagi hari dia sudah terbangun katanya. Kecuali
jikalau ada keluhan seperti sebelumnya,
terkadang bisa tidak tidur semalam suntuk
tambahnya.

25
8. Personal Hygiene
Mandi 2-3 kali sehari, kadang disungai atau
kadang dikamar mandi sekitar rumahnya. Kadang
memakai sabun atau terkadang juga tidak pakai.
9. Seksual
Kebutuhan seksual biologis sudah lama tidak lagi
kata Tn.”A”.
10. Rekreasi
Tidak ada rekreasi jalan-jalan yang di agendakan
oleh Tn.”A” paling sekedar duduk-duduk dipinggir
sungai bersama teman seprofesi disela-sela
katifitas rutinnya. Atau terkadang menonton TV
malam hari sehabis Isya.
11. Psikologis
 Persepsi klien:
Klien mengatakan keluhan kesehatan yang
dialaminya merupakan penyakit yang biasa di
derita orang tua.
 Konsep diri yang terdiri dari :
o Identitas:
Klien mampu memahami kondisinya kini
sebagai orang lansia dan berprilaku
sebagaimana lansia pada umumnya.
o Body image:
Klien mengaku menyadari bentuk kondisi
tubuhnya dan memandang positif terhadap
kondisi dan keadaan tubuhnya saat ini.
o Ideal diri:
Klien dapat bertingkahlaku sewajarnya
sebagai mana lansia pada umumnya.
o Harga diri:
Klien dapat berinteraksi dengan masyarakat
tanpa kendala terkait rasa percaya diri
dan harga diri.

26
o Peran:
Klien bisa berinteraksi dengan masyarakat
sesuai dengan perannya sebagai orang yang
dituakan saat ini.
 Emosi:
Ungkapan klien tentang emosi relatif stabil
walaupun terkadang marah juga sesekali waktu.
 Adaptasi:
Klien mengatakan selalu bisa menyesuaikan
diri dengan lingkungan sekitarnya.
 Mekanisme pertahanan diri:
Setiap permasalahan yang sedang dihadapi oleh
klien selalu berusaha ia sampaikan ke
keluarga bahkan terhadap masalah yang kecil
sekalipun tak terkecuali permasalahan
kesehatan yang sering dialaminya.

K. Tinjauan Sistim
Keadaan umum: Baik
Tingkat kesadaran: Kompos mentis
GCS:
 Membuka mata: 4 (spontan)
 Verbal: 6 (Mengikuti perintah)
 Motorik: 5 (Orientasi baik dan
sesuai)
Total GCS klien adalah 15
Tanda–tanda vital:
 Nadi: 80 kali / menit
 RR:20 kali / menit
 Tensi:130/80 mmHg
 Suhu: 37 derajat
 VOD: 6/6 dan VOS: 5/6
1. Kepala

27
Inspeksi: Rambut putih, tipis, tidak terdapat
kutu, kulit kepala tidak terdapat lesi.
Palpasi : Tidak terdapat benjolan, tidak ada
nyeri tekan.
2. Mata, telinga, hidung:
Inspeksi : mata: tampak gejala pengkristalan
pada lensa mata kiri lebih tebal daripada mata
kanan, tampak lingkaran halo pada kedua bola
mata, telinga dan hidung bentuk simetris,tidak
tampak benjolan polip dihidung, telinga kiri dan
kanan tampak ada serumen, konjungtiva normal,
sclera tidak ikterik, repleks pupil positif.
Palpasi :Tidak ada benjolan dan tidak ada nyeri
tekan
3. Leher
Inspeksi: tampak simetris, tidak tampak
benjolan/pembengkakan kelenjar thyroid ataupun
vena jugularis.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat
pembesaran kelenjar tiroid, maupun pelebaran
vena jugularis .
4. Dada dan punggung :
Inspeksi : Bentuk dada simetris, punggung tampak
kiposis, tampak kemerahan, pernapasan normal
dengan tidak ada tarikan dinding dada, tidak
terdapat lesi disekitar dada dan punggung.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat
massa.
Perkusi : jaringan paru terdengar sonor, pada
daerah jantung terdengar suara pekak.
Auskultasi : suara nafas vesikuler, tidak
terdapat suara ronchi, dan vokal resonan antara
dinding kiri dan kanan sama getarannya dan tidak
ada suara tambahan(murmur).

28
5. Abdomen dan pinggang
Inspeksi: abdomen datar
Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan, tidak ada
massa atau pun benjolan dan turgor kulit kembali
< 2 detik.
Perkusi : suara lambung timpani, hati redup.
Auskultasi : Bising usus normal 12x/menit
6. Ekstremitas atas dan bawah
Inspeksi : Kulit keriput, tidak tampak kemerahan
pada ekstremitas atas dan bawah tonus otot
ekstremitas atas 5, sedangkan ekstremitas bawah
5.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada
ekstremitas atas dan ekstremitas bawah,
persendian tidak teraba hangat.
Perkusi : ketukan tendom bisep dan terisep
normal, reflex patella (+).
7. Sistem imune: Tidak erkaji
8. Genetalia : Tidak terkaji
9. Sistem reproduksi: Klien tidak mengeluhkan
kelainan pada sistem reproduksi.
10. Sistem persarafan
Refleks fisiologis dalam keadaan normal dan
refleks patella yang kanan maupun yang kiri
normal, klien masih mampu tersenyum, meringis,
dan memperlihatkan gigi yang ada.
11. Sistem pengecapan: Kelien masih bisa membedakan
rasa manis, asin, asam dan pahit.
12. Sistem penciuman: Klien masih memiliki sistem
penciuman yang baik terlihat pada kelayan masih
bisa membedakan bau kopi dan parfum.
13. Taktil respon: Klien masih mampu merespon
terhadap stimulus panas, dingin.

29
L. Status Kognitif, Afektif dan Sosial
1) Short Portable Mental Status Questioner
2) Mini Mental State Examination (MMSE)
3) Intervensin Depresi Back
4) APGAR keluarga

M. Data Penunjang
1) Laboratorium:-
2) Radiologi:-
3) EKG:-
4) CT scan:-
5) Obat–obatan: Paracetamol 500 mg

II. Diagnosa Keperawatan


a. Analisa Data
No Symtom Etiologi Problem
1 DS: Ketegangan Gangguan
P:Klien mengatakan merasakan pusing sudah fisik dan rasa
lama, hilang timbul. fikiran nyaman
Pusing biasanya kumat jikalau sedang nyeri
kelelahan bekerja atau kalau sedang ada
pikiran yang memberatkan.
Q:Terasa goyang, berputar-putar dan seperti
melayang.
Semakin berat terasa kalau tidur dengan
bantal yang rendah.
Kepala terasa seperti kosong.
R:Klien mengatakan lokasi sakitnya jauh
didalam kepala.
S:Klien menyatakan nyerinya tidak terlalu
berat (sedang).
T:paling sering kumat pada saat tidur pada
malam hari atau kadang saat bangun tidur.

30
DO:
o Klien mengekspresikan wajah meringis
saat menceritakan tentang penyakitnya.
o Klien menunjukkan lokasi pusingnya
didalam kepala.
o Nyeri sedang nilai 5 Pada skala nyeri
0-10. dirasakan 6 (0-10)
o TTV
TD : 130/90 mmHg
N : 80x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 37 C
2 DS: Katarak Gangguan
o Klien mengatakan pengelihatan tidak persepsi
jelas. sensori
o Klien mengatakan sering silau dan terasa pengliha
perih dimata apabila melihat cahaya. tan
o Klien mengatakan kalau malam susah
berjalan karena pengelihatan terganggu.
DO:
o Klien tampak kesulitan focus pada
pengelihatan.
o Tampak Pengkristalan bola mata kiri
lebih tebal dari pada bola mata kanan.
o Tampak lingkaran halo pada kedua mata.
o VOD: 6/6
o VOS: 5/6
3 DS: Kurang Ketidakm
o Keluarga mengatakan tidak pengetah ampuan
mengetahui cara perawatan anggota uan mencipta
keluarganya yang sakit. tentang kan
o Keluarga mengatakan sudah perawata lingkung
membawa klien berobat ke dokter praktek n an yang
umum, tapi keluahn sering kambuh. anggota kondusif

31
DO: keluarga
o Kelayan terlihat perlahan-lahan saat yang
aktivitas berpindah dari tempat tidur ke sakit.
kamar mandi dan dari tempat tidur ke
musolla
o Lantailicin, pencahayaan pada malam hari
kurang dan kamar mandi tidak ada
pegangan.

b. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
ketegangan fisik dan pikiran.
2. Gangguan persepsi sensori pengelihatan
berhubungan dengan proses kristalisasi lensa mata
(katarak) ditandai dengan
3. Ketidakmampuan menciptakan lingkungan yang
kondusif berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang perawatan anggota keluarga yang sakit.

32
III. Intervensi Keperawatan

Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional
keperawatan
1 Gangguan Setelah 1. Pantau tanda-tanda 1. Mengenal dan memudahkan
rasa nyaman dilakukan vital, intensitas/skala dalam melakukan tindakan
pusing tindakan nyeri. keperawatan.
berhubungan keperawatan 2. Anjurkan klien 2. Istirahat untuk mengurangi
dengan selama 2x30 istirahat ditempat intesitas nyeri.
ketegangan menit di tidur. 3. Posisi yang tepat mengurangi
fisik dan harapkan pusing 3. Atur posisi pasien penekanan dan mencegah
pikiran. berkurang dengan senyaman mungkin ketegangan otot serta
kriteria hasil : 4. Anjurkan klien untuk mengurangi nyeri.
 Klien meminimalkan pergerakan 4. Banyak gerak meningkatkan
mengungkapkan ketika tidur. intensitas pusing
rasa pusing 5. Motivasi keluarga untuk 5. Kerja sama keluarga
berkurang. membantu istirahat menciptakan lingkungan
 Klien tampak tidur klien secara kondusif meningkatkan
tenang dan maksimal. kwalitas istirahat klien.
rileks. 6. Ajarkan teknik 6. Relaksasi mengurangi
 Klien dapat relaksasi dan napas ketegangan dan membuat
beristirahat dalam. perasaan lebih nyaman.

38
tidur dengan 7. Jelaskan manfaat obat 7. Analgetik mengurangi pusing
nyaman. analgetik untuk sehingga klien menjadi lebih
mengurangi pusing. nyaman.
2 Gangguan Setelah 1. Kaji ketajaman 1. Penemuan data awal terhadap
Persepsi dilakaukan penglihatan klien dan komplikasi dapat mencegah
sensori tindakan observasi tanda-tanda kerusakan lebih lanjut.
penglihatan keperawatan disorientasi. 2. Meningkatkan keamanan
berhubungan selama 1x 30 2. Orientasikan klien mobilitas dalam lingkungan.
dengan menit klien terhadap lingkungannya. 3. Rangsangan cahaya yang berat
pengkris mampu 3. Kaji status penglihatan dapat menyebabkan
talan lensa meningkatkan yang kabur dan tanda- ketidaknyamanan.
mata kwalitas tanda iritasi mata. 4. Menghindarkan dari cidera
(katarak) pengelihatan 4. Modifikasi lingkungan fisik.
dalam batas dalam batas keamanan dan 5. Penatalaksanaan dini
situasi kondisi kenyamanan klien. mencegah komplikasi.
dengan kriteria; 5. Anjurkan klien untuk
 Mengenal memeriksakan kesehatan
gangguan peglihatan lebih lanjut.
pengelihatan
dan mampu
berkompensasi

39
terhadap
perubahan
 Mengidentifi
kasi potensial
bahaya dalam
lingkungan.
3 Ketidak Setelah 1. Kaji pengetahuan 1. Tingkat pengetahuan keluarga
mampuan dilakukan keluarga dalam menentukan keefektifan
keluarga tindakan menciptakan lingkungan pendidikan kesehatan.
menciptakan keperawatan kondusif untuk klien 2. Pengetahuan akan memunculkan
lingkungan selama 1x 30 2. Jelaskan pengaruh kerjasama yang signifikan.
yang menit keluarga lingkungan untuk 3. Kerjasama keluarga jaminan
kondusif memahami tentang keamanan dan kenyamana kenyamanan dan keamanan
berhubungan arti pentingnya klien. klien dalam mengatasi
dengan lingkungan yang 3. Motivasi keluarga untuk masalah kesehatannya.
kurang kondusif untuk menciptakan lingkungan
pengetahuan klien dengan kondusif untuk klien
tentang kriteria:
perawatan  Keluarga
anggota menyatakan
keluarga kefahamannya

40
yang sakit tentang
lingkungan
yang kondusif
untuk klien.
 Keluarga
bersedia
menciptkan
lingkungan
yang kondusif

IV. Implementasi Keperawatan

Hari/ No. Dx.


No Tindakan Keperawatan Evaluasi Tindakan Ttd
Tgl Kep.
1 I 1. Mengakaji tanda-tanda vital, 1. TD:130/80 mmhg
intensitas/skala nyeri. N:80x/menit.
2. Menganjurkan klien istirahat S: 37 C
ditempat tidur. RR:20 x/menit Skala nyeri 6
3. Mengatur posisi pasien senyaman (sedang)
mungkin. 2. Klien tampak lebih nyaman tidur
4. Menganjurkan klien untuk dengan 3 bantal yang ditinggikan

41
meminimalkan pergerakan ketika (semi fowler) di tempat tidurnya.
tidur. 3. Klien menyatakan semakin gerak
5. Memotivasi keluarga untuk terasa semakin sakit.
membantu istirahat tidur klien 4. Keluarga menyatakan kesiapannya
secara maksimal. dan meminta dijelaskan lebih
6. Mengajarkan teknik relaksasi terperinci.
dan napas dalam. 5. Klien tampak lebih tenang.
7. Mengedukasi konsumsi obat 6. Parasetamol 500 mg senantiasa
pengurang nyeri. menemani.
2. II 1. Mengkaji ketajaman penglihatan 1. VOD:6/6
klien dan observasi tanda-tanda VOS:5/6
disorientasi. Penglihatan kabur, terasa perih
2. Mengorientasikan klien terhadap dan mata kiri lebih kabur.
lingkungannya. 2. Klien hafal dan memahami
3. Mengkaji status pengelihatan lingkungan sekitar.
yang kabur dan tanda-tanda 3. Terdapat lingkaran halo dikedua
iritasi mata. mata, tanda-tanda pengapuran
4. Memodivikasi lingkungan dalam lensa berwarna putih dikedua
batas keamanan dan kenyamanan mata.
klien. 4. Menata barang dan perabot kamar
5. Menganjurkan klien untuk yang memudahkan klien.

42
memeriksakan kesehatan 5. Klien setuju.
pegelihatan lebih lanjut.
3. III 1. Mengkaji pengetahuan keluarga 1. Keluarga mengatakan tidak
dalam menciptakan lingkungan mengetahui lingkungan khusus
kondusif untuk klien. bagi klien terkait keluhan
2. Menjelaskan pengaruh lingkungan kesehatan yang dialaminya.
untuk keamanan dan kenyamana 2. Keluarga mengiyakan terkait
klien. materi yang dijelaskan.
3. Memotivasi keluarga untuk 3. Keluarga srius mendengarkan
menciptakan lingkungan kondusif Penjelasan.
untuk klien

V. Evaluasi Keperawatan
Diagnosa
No Hari/Tgl Evaluasi
keperawatan

43
1 Gangguan rasa S:
nyaman pusing  Klien mengatakan terasa lebih nyaman dengan posisi istirahat
berhubungan setengah duduk.
dengan  Klien mengatakan kalau tidak banyak bergerak pusing tidak
ketegangan fisik terlalu terasa.
dan pikiran. O:
 Pasien tampak nyaman dan rileks.
 Skala nyeri 3
 Tanda-tanda vital :
TD: 130/80 mmhg
N: 80 x/menit
S: 37
RR: 20 x/menit
A:Masalah teratasi
P:-

2. Gangguan S:
Persepsi sensori  Klien mengatakan masih bisa beraktifitas dengan aman.
penglihatan  Rasa perih dimata masih terasa kalau terkena sinar/cahaya.
berhubungan  Mata kanan lebih kabur.

44
dengan pengkris  Keluarga kooferatif membantu klien dalam aktifitas sehari-hari.
talan lensa  Keluarga mengatakan akan mengajak klien mengontrol
mata (katarak) penglihatannya ke puskesmas.
O:
 VOD:6/6
VOS:5/6
 Inspeksi: tampak lingkaran halo pada OD dan OS.
 Pengapuran mata pada OS lebih tebal/lebih putih.
A:Masalah teratasi sebagian.
P:
 Intervensi dipertahankan.
 Beri support system kepada keluarga untuk memeriksakan klien ke
puskesmas.

3. Ketidak mampuan S:
keluarga  Keluarga mengatakan memahami penjelasan yang diberikan.
menciptakan O:
lingkungan yang  Keluarga tampak kooperatif.

45
kondusif  Keluarga
berhubungan A:Masalah teratasi
dengan kurang P:-
pengetahuan
tentang
perawatan
anggota keluarga
yang sakit

46
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan beberapa data yang


menggambarkan kesenjangan yang terjadi pada antara konsep
teori dengan kenyataan praktek dilapangan sesuai dengan
gambaran kondisi klien. Argumentasi atas kesenjangan yang
terjadi dan solusi yang diambil untuk mengatasi masalah yang
terjadi saat memberikan asuhan keperawatan klien dengan
penyakit Vertigo.
Pembahasannya meliputi keseluruhan langkah – langkah
dalam proses keperawatan, yang meliputi pengkajian ,
diagnoasa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

A. PENGUMPULAN DATA
Pada fase ini, mahasiswa tidak mengalami kesulitan
yang berarti dalam proses pengumpulan data. Kemampuan
pengkaji dalam berbahasa sasak yang lumayan baik menjadi
faktor utama keberhasilan pada fase ini, ditambah dengan
sedikit ramuan empati ketika dihadapan klien membuat
suasana sperti keluarga sendiri.
Pada fase ini mahasiswa mendapat respon yang baik
dan kooperatif dari pihak keluarga ataupun klien sendiri,
dengan harapan mahasiswa diharapkan mampu membantu
anggota keluarganya. Hal ini membuktikan betapa jarangnya
keterpaparan masyarakat setempat akan petugas kasehatan
yang home visit.
Beberapa data yang ternyata belum bisa tersaji
merupakan kendala disini lebih dikarenakan oleh hal atau
kebiasaan setempat yang menyebabkan tidak terkajinya
beberapa kriteri. Seperti contoh dalam mengkaji kesehatan
genetalia. Karena dianggap tabu, hampir tidak ada respon
dari klien.

47
B. ANALISA DATA
Analisa data dilakukan untuk mengnanalisa masalah
yang didapatkan dari pengumpulan data yang dilakukan
berdasarkan masalah yang dialami oleh keluarga binaan.
Dari analisa yang didapatkan bahwa terdapat masalah yang
dihadapi keluarga Tn.”A” yaitu rasa nyeri yang dialami.
Status sebagai pengambil keputusan yang utama
membuat fase ini tidak terlalu sulit dikarenakan
tersajinya beberapa data yang menjadi penentu dalam
masalah ini akibat sifat terbuka dan kooferatif Tn.”A”.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Sebelum perumusan diagnosa keperawatan, terlebih
dulu mahasiswa menentukan tipologi masalah, menganalisa
data yang sudah didapat dan melakukan prioritas
berdasarkan skoring.
Pada dasarnya masalah kesehatan yang dialami oleh
klien cukup banyak, namun ada masalah yang dianggap
paling dominan, yakni rasa nyeri, factor pengelihatan dan
factor pengetahuan keluarga terhadap perawatan keluarga
yang sakit.

D. PERENCANAAN
Dengan berorientasi pada kemandirian keluarga dalam
mengahadapi permasalahannya, tentunya memunculkan
intervensi yang lebih spesifik dalam hal itu. Sebagaimana
dalam permasalahan berikutnya muncul akibat ketidak
mampuan mengidentifikasi permaslahan kesehatan oleh
keluarga. Sehingga arah intervensi lebih khusus kepada
kemandirian kelurga dalam memahami dan mengambil
keputusan terhadap maslah yang dialami.
Dalam tahap ini, mahasiswa mengajak anggota
keluarga terdekat untuk mendiskusikan masalah yang sedang

48
dialami klien dan hal – hal yang dirasa memungkinkan
untuk dilakukan sebagai jalan keluarnya.
Sehingga disepakati penatalakssanaan terhadap
keluhan sakit yang dirasakan dan penyuluhan kesehatan
dirasa sangat penting dilakukan untuk menambah
pengetahuan klien tentang masalah kesehatan dalam
mendukung upaya penyembuhan terutama untuk memunculkan
motivasi dan semangat yang kuat.

E. PELAKSANAAN
Pelaksanaan tindakan keperawatan telah dilakukan
sesuai yang direncanakan. Ada beberapa kendala ternyata.
Berdasarkan kontrak waktu dengan keluarga, tidak dapat
berjalan sepenuhnya karena terkait dengan kesibukan
anggota keluarga yang lain dalam mencari nafkah. Sehingga
pelaksanaan pendidikan kesehatan menjadi tidak optimal.
Dan dalam meminta kesanggupan keluarga mengataasi maslah
yang ada menjadi tidak maksimal pula.
Keterlibatan pengakaji dituntut lebih pro aktif
karena kelurag memohon supaya pengkaji mengantarkan
langsung ke tempat pelayanan kesehatan yang ada.

F. EVALUASI
Pada tahap evaluasi ada masih tersisa intervensi
yang belum sepenuhnya tercapai, sehingga harus
dilanjutkan penatalaksanaan keperawatan. Hal ini menjadi
sulit dikarenakan keluhan kesehatan yang dialami oleh
Tn.”A” merupakan kasus lama yang hampir tidak dilakukan
pengobatan sebagai mana mestinya.

49
BAB V
PENUTUP

1. Kesimpulan
Permasalahan kesehatan dengan rasa nyaman nyeri
pada penyakit vertigo merupakan permasalahn serius
karena rasa tidak nyaman yang sangat dan menghambat
segala aktifitas klien.
Faktor komunikasi menjadi penentu dalam
penataksanaan Askep ini. Keterbukaan dan kerjasama
keluarga sangat besar pengaruhnya sehingga faktor ini
jangan dabaikan.

2. Saran
Kegagalan awal keluarga Tn.”A” dalam permasalahan
kesehatan ini akibat kurangnya komunikasi dan
informasi. Oleh karena itu petugas pelayanan kesehatan
harus lebih akti turun ke masyarakat dalam membantu
permasalahan kesehatan klien.
Masyarakat yang mengalamai keluhan serupa
hendaknya meapor ke Kader Kesehatan yang ada atau
langsung ke Petugas Puskesmas.

50
DAFTAR PUSTAKA

Doenges., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi III.


Jakarta : EGC
Mansoer ,dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III.
Jakarta : EGC
Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29.EGC: Jakarta.
Internet : http://medicastore.com
Internet : www.triohardinhakim08.blogspot.com
Wahit Iqbal Mubarak, dkk. 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas
2. Jakarta : EGC.

51