Anda di halaman 1dari 36

STEP 4

STEP 7

1. Jelaskan anatomi dan fisiologi dari organ laring, faring, dan tonsil
 Laring

ANATOMI
Laring adalah bagian dari saluran pernafasan bagian atas yang merupakan suatu rangkaian tulang
rawan yang berbentuk corong dan terletak setinggi vertebra cervicalis IV – VI, dimana pada anak-
anak dan wanita letaknya relatif lebih tinggi. Laring pada umumnya selalu terbuka, hanya kadang-
kadang saja tertutup bila sedang menelan makanan.

Lokasi laring dapat ditentukan dengan inspeksi dan palpasi dimana didapatkannya kartilago tiroid
yang pada pria dewasa lebih menonjol kedepan dan disebut Prominensia Laring atau disebut juga
Adam’s apple atau jakun.

Batas-batas laring berupa sebelah kranial terdapat Aditus Laringeus yang berhubungan dengan
Hipofaring, di sebelah kaudal dibentuk oleh sisi inferior kartilago krikoid dan berhubungan dengan
trakea, di sebelah posterior dipisahkan dari vertebra cervicalis oleh otot-otot prevertebral, dinding dan
cavum laringofaring serta disebelah anterior ditutupi oleh fascia, jaringan lemak, dan kulit.
Sedangkan di sebelah lateral ditutupi oleh otot-otot sternokleidomastoideus, infrahyoid dan lobus
kelenjar tiroid.

Laring berbentuk piramida triangular terbalik dengan dinding kartilago tiroidea di sebelah atas dan
kartilago krikoidea di sebelah bawahnya. Os Hyoid dihubungkan dengan laring oleh membrana
tiroidea. Tulang ini merupakan tempat melekatnya otot-otot dan ligamenta serta akan mengalami
osifikasi sempurna pada usia 2 tahun.Secara keseluruhan laring dibentuk oleh sejumlah kartilago,
ligamentum dan otot-otot.

a. KARTILAGO
Kartilago laring terbagi atas 2 (dua) kelompok, yaitu :

Kartilago mayor, terdiri dari :


- Kartilago Tiroidea, 1 buah
- Kartilago Krikoidea, 1 buah
- Kartilago Aritenoidea, 2 buah
Kartilago minor, terdiri dari :

- Kartilago Kornikulata Santorini, 2 buah


- Kartilago Kuneiforme Wrisberg, 2 buah
- Kartilago Epiglotis, 1 buah
b. LIGAMENTUM DAN MEMBRANA
Ligamentum dan membran laring terbagi atas 2 grup, yaitu

Ligamentum ekstrinsik , terdiri dari :


- Membran tirohioid
- Ligamentum tirohioid
- Ligamentum tiroepiglotis
- Ligamentum hioepiglotis
- Ligamentum krikotrakeal

Ligamentum intrinsik, terdiri dari :

- Membran quadrangularis
- Ligamentum vestibular
- Konus elastikus
- Ligamentum krikotiroid media
- Ligamentum vokalis
c. OTOT - OTOT
Otot–otot laring terbagi dalam 2 (dua) kelompok besar yaitu otot-otot ekstrinsik dan otot-otot
intrinsik yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda.

OTOT-OTOT EKSTRINSIK.

Otot-otot ini menghubungkan laring dengan struktur disekitarnya. Kelompok otot ini
menggerakkan laring secara keseluruhan. Terbagi atas :

Otot-otot suprahioid / otot-otot elevator laring, yaitu :

- M. Stilohioideus
- M. Milohioideus
- M. Geniohioideus
- M. Digastrikus
- M. Genioglosus
- M. Hioglosus
Otot-otot infrahioid / otot-otot depresor laring, yaitu :

- M. Omohioideus
- M. Sternokleidomastoideus
- M. Tirohioideus
Kelompok otot-otot depresor dipersarafi oleh ansa hipoglossi C2 dan C3 dan penting untuk proses
menelan (deglutisi) dan pembentukan suara (fonasi). Muskulus konstriktor faringeus medius
termasuk dalam kelompok ini dan melekat pada linea oblikus kartilago tiroidea. Otot-otot ini penting
pada proses deglutisi.

OTOT-OTOT INTRINSIK

Menghubungkan kartilago satu dengan yang lainnya. Berfungsi menggerakkan struktur yang ada di
dalam laring terutama untuk membentuk suara dan bernafas. Otot-otot pada kelompok ini
berpasangan kecuali m. interaritenoideus yang serabutnya berjalan transversal dan oblik. Fungsi otot
ini dalam proses pembentukkan suara, proses menelan dan berbafas. Bila m. interaritenoideus
berkontraksi, maka otot ini akan bersatu di garis tengah sehingga menyebabkan adduksi pita suara.
Yang termasuk dalam kelompok otot intrinsik adalah :

Otot-otot adduktor :

- Mm. Interaritenoideus transversal dan oblik


- M. Krikotiroideus
- M. Krikotiroideus lateral Berfungsi untuk menutup pita suara.

Otot-otot abduktor :

- M. Krikoaritenoideus posterior Berfungsi untuk membuka pita suara.

Otot-otot tensor :

- Tensor Internus : M. Tiroaritenoideus dan M. Vokalis


- Tensor Eksternus : M. Krikotiroideus Mempunyai fungsi untuk menegangkan pita suara.

Pada orang tua, m. tensor internus kehilangan sebagian tonusnya sehingga pita suara melengkung
ke lateral mengakibatkan suara menjadi lemah dan serak.
FISIOLOGI
Laring mempunyai 3 (tiga) fungsi dasar yaitu fonasi, respirasi dan proteksi disamping beberapa
fungsi lainnya seperti terlihat pada uraian berikut :

3 FUNGSI DASAR
a. Fungsi Fonasi
(sudah dijelaskan di nomor 5)
b. Fungsi respirasi
Pada waktu inspirasi diafragma bergerak ke bawah untuk memperbesar rongga dada dan M.
Krikoaritenoideus Posterior terangsang sehingga kontraksinya menyebabkan rima glotis terbuka.
Proses ini dipengaruhi oleh tekanan parsial CO2 dan O2 arteri serta pH darah. Bila pO2 tinggi
akan menghambat pembukaan rima glotis, sedangkan bila pCO2 tinggi akan merangsang
pembukaan rima glotis. Hiperkapnia dan obstruksi laring mengakibatkan pembukaan laring secara
reflektoris, sedangkan peningkatan pO2 arterial dan hiperventilasi akan menghambat pembukaan
laring. Tekanan parsial CO2 darah dan pH darah berperan dalam mengontrol posisi pita suara

c. Fungsi Proteksi.
Benda asing tidak dapat masuk ke dalam laring dengan adanya reflek otot-otot yang bersifat
adduksi, sehingga rima glotis tertutup. Pada waktu menelan, pernafasan berhenti sejenak akibat
adanya rangsangan terhadap reseptor yang ada pada epiglotis, plika ariepiglotika, plika
ventrikularis dan daerah interaritenoid melalui serabut afferen N. Laringeus Superior. Sebagai
jawabannya, sfingter dan epiglotis menutup. Gerakan laring ke atas dan ke depan menyebabkan
celah proksimal laring tertutup oleh dasar lidah. Struktur ini mengalihkan makanan ke lateral
menjauhi aditus dan masuk ke sinus piriformis lalu ke introitus esofagus.

FUNGSI LAINNYA
a. Fungsi Sirkulasi.
Pembukaan dan penutupan laring menyebabkan penurunan dan peninggian tekanan intratorakal
yang berpengaruh pada venous return. Perangsangan dinding laring terutama pada bayi dapat
menyebabkan bradikardi, kadang-kadang henti jantung. Hal ini dapat karena adanya reflek
kardiovaskuler dari laring. Reseptor dari reflek ini adalah baroreseptor yang terdapat di aorta.
Impuls dikirim melalui N. Laringeus Rekurens dan Ramus Komunikans N. Laringeus Superior.
Bila serabut ini terangsang terutama bila laring dilatasi, maka terjadi penurunan denyut jantung.

b. Fungsi Fiksasi.
Berhubungan dengan mempertahankan tekanan intratorakal agar tetap tinggi, misalnya batuk,
bersin dan mengedan.

c. Fungsi Menelan
PERAN LARING
FUNGSI MENELAN PADA LARING
Terdapat 3 (tiga) kejadian yang berhubungan dengan laring pada saat berlangsungnya proses
menelan, yaitu : Pada waktu menelan faring bagian bawah (M. Konstriktor Faringeus Superior, M.
Palatofaringeus dan M. Stilofaringeus) mengalami kontraksi sepanjang kartilago krikoidea dan
kartilago tiroidea, serta menarik laring ke atas menuju basis lidah, kemudian makanan terdorong ke
bawah dan terjadi pembukaan faringoesofageal. Laring menutup untuk mencegah makanan atau
minuman masuk ke saluran pernafasan dengan jalan menkontraksikan orifisium dan penutupan laring
oleh epiglotis. Epiglotis menjadi lebih datar membentuk semacam papan penutup aditus laringeus,
sehingga makanan atau minuman terdorong ke lateral menjauhi aditus laring dan maduk ke sinus
piriformis lalu ke hiatus esofagus.
d. Fungsi Batuk.
Bentuk plika vokalis palsu memungkinkan laring berfungsi sebagai katup, sehingga tekanan
intratorakal meningkat. Pelepasan tekanan secara mendadak menimbulkan batuk yang berguna
untuk mempertahankan laring dari ekspansi benda asing atau membersihkan sekret yang
merangsang reseptor atau iritasi pada mukosa laring.

e. Fungsi Ekspektorasi.
Dengan adanya benda asing pada laring, maka sekresi kelenjar berusaha mengeluarkan benda
asing tersebut.

f. Fungsi Emosi.
Perubahan emosi dapat meneybabkan perubahan fungsi laring, misalnya pada waktu menangis,
kesakitan, menggigit dan ketakutan.

 Faring

1.
ANATOMI
Faring terletak dibelakang cavum nasi, mulut, dan laring. Bentuknya mirip corong dengan bagian
atasnya yang lebar terletak di bawah cranium dan bagian bawahnya yang sempit dilanjutkan sebagai
eosophagus setinggi vertebra cervicalis enam. Dinding faring terdiri atas tiga lapis yaitu mukosa,
fibrosa, dan muskular.
Berdasarkan letak, faring dibagi atas tiga bagian yaitu : nasofaring, orofaring, dan laringofaring.
a. Nasofaring
Nasofaring terletak dibelakang rongga hidung, di atas palatum molle. Nasopharynx
mempunyai atap, dasar, dinding anterior, dinding posterior, dan dinding lateral. Bagian
atap dibentuk oleh corpus ossis sphenoidalis dan pars basilaris ossis occipitalis. Kumpulan
jaringan limfoid yang disebut tonsila pharyngeal, yang terdapat didalam submucosa. Bagian dasar
dibentuk oleh permukaan atas palatum molle yang miring. Dinding anterior dibentuk oleh
aperture nasalis posterior, dipisahkan oleh pinggir posterior septum nasi. Dinding posterior
membentuk permukaan miring yang berhubungan dengan atap. Dinding ini ditunjang oleh arcus
anterior atlantis. Dinding lateral pada tiap-tipa sisi mempunyai muara tuba auditiva ke faring.
Kumpulan jaringan limfoid di dalam submukosa di belakang muara tuba auditiva disebut tonsila
tubaria.
b. Orofaring
Orofaring disebut juga mesofaring, dengan batas atasnya adalah palatum mole, batas
bawahnya adalah tepi atas epiglotis, kedepan adalah rongga mulut, sedangkan kebelakang
adalah vertebra servikal. Orofaring mempunyai atap, dasar, dinding anterior, dinding
posterior, dan dinding lateral. Bagian atap dibentuk oleh permukaan bawah palatum molle
dan isthmus pharygeus. Kumpulan kecil jaringan limfoid terdapat di dalam submukosa
permukaan bawah palatum molle. Bagian dasar dibentuk oleh sepertiga posterior lidah dan celah
antara lidah dan permukaan anterior epiglotis. Membrana mukosa yang meliputi sepertiga
posterior lidah berbentuk irregular, yang disebabkan oleh adanya jaringan limfoid dibawahnya,
yang disebut tonsil linguae. Membrana mukosa melipat dari lidah menuju ke epiglotis. Pada garis
tengah terdapat elevasi, yang disebut plica glosso epiglotica mediana, dan dua plica glosso
epiglotica lateralis. Lekukan kanan dan kiri plica glosso epiglotica mediana disebut vallecula.
Dinding anterior terbuka ke dalam rongga mulut melalui isthmus oropharynx (isthmus faucium).
Dibawah isthmus ini terdapat pars pharyngeus linguae. Dinding posterior disokong oleh corpos
vertebra cervicalis kedua dan bagian atas corpus vertebra cervicalis ketiga. Pada kedua sisi
dinding lateral terdapat arcus palate glossus dengan tonsila palatina diantaranya.
c. Laryngofaring
Laryngofaring terletak di belakang aditus larynges dan permukaan posterior larynx, dan
terbentang dari pinggir atas epiglottis sampai dengan pinggir bawah cartilage cricoidea.
Laryngofaring mempunyai dinding anterior, posterior dan lateral. Dinding anterior dibentuk oleh
aditus laryngis dan membrane mukosa yang meliputi permukaan posterior laringDinding
posterior disokong oleh corpus vertebra cervicalis ketiga, keempat, kelima, dan keenam. Dinding
lateral disokong oleh cartilage thyroidea dan membrane thyrohyoidea. Sebuah alur kecil tetapi
penting pada membrana, disebut fossa piriformis, terletak di kanan dan kiri aditus laryngis.

FISIOLOGI
Fungsi faring yg terutama ialah untuk respirasi, pada waktu menelan, resonansi suara dan untuk
artikulasi
a. FUNGSI MENELAN
Terdapat 3 fase dlm proses menelan yaitu :
- Fase oral : bolus makanan dari mulut menuju ke faring. Gerakan disini disengaja (voluntary)
- Fase faringeal : waktu transport bolus makanan melalui faring. Gerakan disini tidak disengaja
(involuntary)
- Fase esofageal : disini gerakannya tdk disengaja, yaitu pd waktu bolus makanan bergerak
secara peristaltic di esofagus menuju lambung
b. FUNGSI DALAM PROSES BICARA
Pd saat berbicara dan menelan terjadi gerakan terpadu dari otot-otot palatum dan faring. Gerakan
ini antara lain berupa pendekatan palatum mole kearah dinding belakang faring. Gerakan
penutupan ini terjadi sgt cepat dan melibatkan mula-mula m. salphingopharyng dan
m.palatopharyng, kemudian m.levator veli palatine bersama-sama m. konstriktor faring
superior. Pada gerakan penutupan m. levator veli palatine menarik palatum mole ke atas
belakang hampir mengenai dinding posterior faring. Jarak yg tersisa ini diisi oleh tonjolan
Passavant pd dinding belakang faring yg terjadi akibat 2 macam mekanisme yaitu
pengangkatan faring sbg hasil gerakan m.palatofaring (Bersama m.salphingopharyng) dan
oleh kontraksi aktif m. konstriktor faring superior. Mungkin kedua gerakan ini bekerja tdk
pada waktu yg bersamaan.

 Tonsil
2.
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus
didalamnya. Terdapat tiga macam tonsil yaitu tonsila faringeal (adenoid), tonsila palatina,
tonsila lingual yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Tonsil
palatina yang biasanya disebut tonsil saja terletak didalam fossa tonsil.

a. Tonsil Palatina
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua
sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot
palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai
10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa
tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar.

Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh:

- Lateral – muskulus konstriktor faring superior


- Anterior – muskulus palatoglosus
- Posterior – muskulus palatofaringeus
- Superior – palatum mole
- Inferior – tonsil lingual (Wanri A, 2007)

Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi invaginasi atau kripti
tonsila. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang kriptus.
Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular dan jaringan limfatik difus.
Limfonoduli merupakan bagian penting mekanisme pertahanan tubuh yang tersebar di seluruh tubuh
sepanjang jalur pembuluh limfatik. Noduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan
pusat germinal (Anggraini D, 2001).

b. Tonsil Faringeal (Adenoid)


Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang sama
dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu
segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong diantaranya. Lobus ini tersusun
mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah, dikenal sebagai bursa faringeus. Adenoid
tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring. Jaringan adenoid di
nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior, walaupun dapat meluas ke fosa
Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak.
Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan
mengalami regresi (Hermani B, 2004).
c. Tonsil Lingual
Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotika. Di
garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang
terbentuk oleh papilla sirkumvalata (Kartosoediro S, 2007).

d. Fosa Tonsil
Fosa tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot palatoglosus, batas
posterior adalah otot palatofaringeus dan batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor
faring superior (Shnayder, Y, 2008). Berlawanan dengan dinding otot yang tipis ini, pada bagian luar
dinding faring terdapat nervus ke IX yaitu nervus glosofaringeal (Wiatrak BJ, 2005).

FISIOLOGI

Tonsila palatina adalah suatu jaringan limfoid yang terletak di fossa tonsilaris di kedua sudut
orofaring dan merupakan salah satu bagian dari cincin Waldeyer. Tonsila palatina lebih padat
dibandingkan jaringan limfoid lain. Permukaan lateralnya ditutupi oleh kapsul tipis dan di permukaan
medial terdapat kripta. Tonsila palatina merupakan jaringan limfoepitel yang berperan penting
sebagai sistem pertahanan tubuh terutama terhadap protein asing yang masuk ke saluran makanan
atau masuk ke saluran nafas (virus, bakteri, dan antigen makanan). Mekanisme pertahanan dapat
bersifat spesifik atau non spesifik. Apabila patogen menembus lapisan epitel maka sel-sel fagositik
mononuklear pertama-tama akan mengenal dan mengeliminasi antigen.

Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-
0,2% dari kesuluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B danT pada tonsil adalah
50%:50%, sedangkan di darah 55-75%:15-30%. Pada tonsil terdapat sistem imun kompleks yang
terdiri atas sel M (sel membran), makrofag, sel dendrit dan antigen presenting cells) yang berperan
dalam proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi APCs (sintesis immunoglobulin
spesifik). Juga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa Ig G. Tonsil
merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang
sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai dua fungsi utama yaitu menangkap dan mengumpulkan bahan
asing dengan efektif dan sebagai organ produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen
spesifik.
Tonsil merupakan jaringan kelenjar limfa yang berbentuk oval yang terletak pada kedua sisi belakang
tenggorokan. Dalam keadaan normal tonsil membantu mencegah terjadinya infeksi. Tonsil bertindak
seperti filter untuk memperangkap bakteri dan virus yang masuk ke tubuh melalui mulut dan sinus.
Tonsil juga menstimulasi sistem imun untuk memproduksi antibodi untuk membantu melawan
infeksi. Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30
kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fossa tonsilaris,
daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fossa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring.
Secara mikroskopik tonsil terdiri atas tiga komponen yaitu jaringan ikat, folikel germinativum
(merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan limfoid). Lokasi tonsil sangat
memungkinkan terpapar benda asing dan patogen, selanjutnya membawanya ke sel limfoid. Aktivitas
imunologi terbesar tonsil ditemukan pada usia 3 – 10 tahun.

Sumber : Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL edisi ketujuh, Badan Penerbit FK UI

2. Bagaimana proses atau mekanisme imunologi yang terdapat pada tonsil?


Tonsil termasuk bagian Mucosal Associated Lymphoid Tissues (MALT), diperlukan untuk
diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disentisisasi dan berperan dalam sistem
kekebalan permukaan mukosa.
Tonsil mempunyai dua fungsi utama, yaitu: menangkap dan mengumpulkan benda asing dengan
efektif serta tempat produksi antibodi. Sebagian besar terletak di sekitar kapiler intraepitel
tonsil palatina.
Limfosit terbanyak tonsil adalah limfosit B berkisar antara 50-65% dan limfosit T berkisar 40%
dari seluruh limfosit. Tonsil berfungsi mematangkan sel limfosit B menuju mukosa dan kelenjar
sekretori di seluruh tubuh. Tonsil selalu menerima berbagai macam paparan antigen secara
langsung
Transpor antigen pada dasar dan dinding kripte tonsil terdapat sel-sel khusus micropore (M)
dengan bentukan tubulovesikular. Bila tonsil dibelah dan dilihat dengan mikroskop akan
ditemukan banyak bentukan sentrum germinativum tempat sel T dan sel B. Antigen dari luar,
kontak dengan permukaan tonsil akan diikat dan dibawa sel mukosa (sel M), antigen
presenting 12 cells (APCs), sel makrofag dan sel dendrit pada tonsil ke sel T helper (Th) di
sentrum germinativum. Kemudian sel Th ini akan melepaskan mediator yang akan
merangasang sel B. Sel B membentuk imunoglobulin (Ig)M pentamer diikuti oleh pembentukan
IgG dan IgA. Sebagian sel B menjadi sel memori. IgG dan IgA secara pasif akan berdifusi ke
lumen. Bila konsentrasi antigen tinggi akan menimbulkan respon proliferasi sel B pada sentrum
germinativum sehingga tersensitisasi terhadap antigen, mengakibatkan terjadinya hiperplasia
struktur seluler. Regulasi respon imun merupakan fungsi limfosit T yang akan mengontrol
proliferasi sel dan pembentukan imunoglobulin
Pada tonsilitis yang berulang dan inflamasi epitel kripte retikuler terjadi perubahan epitel
skuamosa berlapis, mengakibatkan rusaknya aktifitas sel imun dan menurunkan aktifitas lokal
sistem sel B serta menurunkan produksi antibodi. Kepadatan sel B pada sentrum germinativum
juga berkurang.

Ilustrasi skematis dari respons imun di MALT. Antigen asing dapat memasuki jaringan limfoid
dari situs induktif dengan menggunakan sel M (sel epitel kuning) atau sel dendritik
interdigitating (IDC). Sel M endocyto antigen dan secara aktif mengangkutnya ke saku
basolateral di mana mereka menjadi tersedia untuk sel penyajian antigen seperti sel dendritik
folikular (FDC), makrofag dan sel B. Sel-sel ini bersama-sama dengan IDC dapat menyajikan
antigen ke sel T helper 2 (Th2) dalam cara MHC II - TCR terbatas (TCR = reseptor sel T). Dengan
sekresi interleukin (IL), sel Th2 membantu sel B (B) untuk berubah menjadi efektor antigen
spesifik dan sel B memori. Selanjutnya, memori antigen spesifik dan limfosit T dan B bermigrasi
dari situs induktif ke situs efektor melalui pembuluh getah bening (LV) dan pengeringan kelenjar
getah bening (LN), di mana imunitas humoral sistemik dalam bentuk IgG serum dimulai. Di lokasi
efektor, limfosit resirkulasi meninggalkan darah melalui venula endotel tinggi (HEV). Dengan
bantuan sel T helper 2, sel B ditransformasikan menjadi sel plasma penghasil IgA (PC). Setelah
imunoglobulin ini disekresikan oleh lapisan epitel di bawah bentuk IgA sekretori (sIgA),
kekebalan humoral dibangun. Imunitas seluler dipengaruhi oleh sel T sitotoksik (Tc)
SUMBER : Casteleyn, Christophe |2010/01/01|Morphological characteristics of the ovine
tonsils: a study of their volume and surface area, lymphoid tissue organization, lining epithelia
and vascular architecture

3. Bagaimana indikasi dari tonsilektomi?


The American of Otolaryngology-head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium 1995
adalah:
a. Serangan tonsillitis lebih dari 3x pertahun walaupun telah mendapat terapi yang adekuat
b. Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan
orofacial
c. Sumbatan jalan napas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan napas,
sleepapneu, gangguan menelan, gangguan berbicara dan cor pulmonale.
d. Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak berhasil hilang
dengam pengobatan
e. Napas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan
f. Tonsillitis berulang yang disebabkan oleh bakteri grup A Streptokokus beta hemolitikus
g. Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan
h. Otitis media efusa/otitis media supuratif
Kontraindikasi Tonsilektomi Terdapat beberapa keadaan yang disebut sebagai kontraindikasi,
namun bila sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap
memperhitungkan 17 imbang manfaat dan risiko. Keadaan tersebut yakni: gangguan
perdarahan, risiko anestesi yang besar atau penyakit berat, anemia, dan infeksi akut yang berat.

Sumber : Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL edisi ketujuh, Badan Penerbit FK UI

Untuk keadaan emergency seperti adanya obstruksi saluran napas, indikasi tonsilektomi sudah
tidak diperdebatkan lagi (indikasi absolut). Namun, indikasi relatif tonsilektomi pada keadaan
non emergency dan perlunya batasan usia pada keadaan ini masih menjadi perdebatan. Sebuah
kepustakaan menyebutkan bahwa usia tidak menentukan boleh tidaknya dilakukan tonsilektomi
.
Indikasi absolut:
a) Hiperplasia tonsil yang menyebabkan gangguan tidur (sleep apneu) yang terkait dengan cor
pulmonal.
b) curiga keganasan (hipertropi tonsil yang unilateral).
c) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam (yang memerlukan tonsilektomi Quincy).
d) perdarahan tonsil yang persisten dan rekuren.
Indikasi Relatif:
a) Tonsillitis akut yang berulang (Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun).
b) abses peritonsilar.
c). tonsillitis kronik dengan sakit tenggorkan yang persisten, halitosis, atau adenitis cervical.
d). sulit menelan.
e). tonsillolithiasis.
f). gangguan pada orofacial atau gigi (mengakibatkan saluran bagian atas sempit).
g). Carrier streptococcus tidak berespon terhadap terapi).
h). otitis media recuren atau kronik.
SUMBER : TONSILITIS KRONIS EKSTRASERBASI AKUT| . I Gusti Ayu Harry Sundariyati, S.Ked
|2017

4. Bagaimana indikasi merujuk ke Sp THT?


- pasien komplikasi tonsillitis akut (ada absen peritonsiler, meningitis, demam reumatik akut,
glomeruloneritis)
- indikasi utk tonsilektomi (relative dan absolut)
- tonsillitis difteri
5. Jelaskan mengenai fisiologi menelan
Proses menelan adalah suatu aktivitas neuromuskuler yang kompleks yang meliputi
koordinasi yang cepat dari struktur – struktur dalam kavum oris, faring , laring dan esofagus.
Pada waktu proses menelan, bolus makanan atau cairan akan berjalan dari mulut ke
lambung melalui faring dan esofagus. Untuk proses ini dibutuhkan sekitar 40 pasang otot
dan 5 saraf kranialis.
Proses menelan terdiri dari 3 fase yaitu fase oral (preparasi – propulsif ), fase faringeal dan
fase esofageal.

FASE ORAL
Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang
dilaksanakan oleh gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi dan saliva
untuk menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi dan ukuran yang
siap untuk ditelan. Proses ini berlangsung secara di sadari.
FASE FARINGEAL
Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior
(arkus palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul. Pada fase faringeal
ini terjadi :
1. m. Tensor veli palatini (n.V) dan m. Levator veli palatini (n.IX, n.X
dan n.XI) berkontraksi menyebabkan palatum mole terangkat,
kemudian uvula tertarik keatas dan ke posterior sehingga menutup
daerah nasofaring.
2. m.genioglosus (n.XII, servikal 1), m ariepiglotika (n.IX,nX)
m.krikoaritenoid lateralis (n.IX,n.X) berkontraksi menyebabkan aduksi
pita suara sehingga laring tertutup.
3. Laring dan tulang hioid terangkat keatas ke arah dasar lidah karena
kontraksi m.stilohioid, (n.VII), m. Geniohioid, m.tirohioid (n.XII dan
n.servikal I).
4. Kontraksi m.konstriktor faring superior (n.IX, n.X, n.XI), m.
Konstriktor faring inermedius (n.IX, n.X, n.XI) dan m.konstriktor faring
inferior (n.X, n.XI) menyebabkan faring tertekan kebawah yang
diikuti oleh relaksasi m. Kriko faring (n.X)
5. Pergerakan laring ke atas dan ke depan, relaksasi dari introitus
esofagus dan dorongan otot-otot faring ke inferior menyebabkan bolus
makanan turun ke bawah dan masuk ke dalam servikal esofagus.
Proses ini hanya berlangsung sekitar satu detik untuk menelan cairan
dan lebih lama bila menelan makanan padat.
 FASE ESOFAGEAL
Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari. Bolus
makanan turun lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik.
 
Fase ini terdiri dari beberapa tahapan :
1.       dimulai dengan terjadinya relaksasi m.kriko faring. Gelombang peristaltik
primer terjadi akibat kontraksi otot longitudinal dan otot sirkuler dinding
esofagus bagian proksimal. Gelombang peristaltik pertama ini akan
diikuti oleh gelombang peristaltik kedua yang merupakan respons
akibat regangan dinding esofagus.
2.       Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf
pleksus mienterikus yang terletak diantara otot longitudinal dan otot
sirkuler dinding esofagus dan gelombang ini bergerak seterusnya secara
teratur menuju ke distal esofagus.
 
Cairan biasanya turun akibat gaya berat dan makanan padat turun
karena gerak peristaltik dan berlangsung selama 8-20 detik. Esophagal transit
time bertambah pada lansia akibat dari berkurangnya tonus otot-otot rongga
mulut untuk merangsang gelombang peristaltik primer.
SUMBER : Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 |GAMBARAN PENDERITA DISFAGIA YANG
MENJALANI PEMERIKSAAN FIBEROPTIC ENDOSCOPIC EVALUATION OF SWALLOWING DI RSUP
DR.KARIADI SEMARANG PERIODE 2015 - 2016 |Christin Rony Nayoan Departemen IK THT-KL Fakultas
Kedokteran Universitas Tadulako / KSM RSU Tadulako Palu

6. Apa hubungan anak tidur mendengkur dg keluhan yg dialami pasien?

MENDENGKUR:
 Pada anak, tonsil yang hipertrofi dapat terjadi obstruksi saluran nafas atas yang dapat
menyebabkan hipoventilasi alveoli yang selanjutnya dapat terjadi hiperkapnia dan dapat
menyebabkan kor polmunale. Obstruksi yang berat menyebabkan apnea waktu tidur, gejala
yang paling umum adalah mendengkur yang dapat diketahui dalam anamnesis.
 Akibat hipertrofi tonsil akan menyebabkan pasien sulit bernapas melalui mulut, tidur
mendengkur (ngorok), gangguan tidur karena terjadinya sleep apnea yang dikenal sbg
obstructive sleep apnea syndrome (OSAS)

 Sumber : Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL edisi ketujuh, Badan Penerbit FK UI
halaman 199

 Pembesaran adenoid mungkin dapat menghambat ruang samping belakang hidung yang
membuat kerusakan lewat udara dari hidung ke tenggorokan, sehingga akan bernafas
melalui mulut.Bila bernafas terus lewat mulut maka mukosa membrane dari orofaring
menjadi kering dan teriritasi, adenoid yang mendekati tuba eustachus dapat meyumbat
saluran mengakibatkan berkembangnya otitis media
 Sumber :Reeves, Charlene J., Roux, Gayle, Lockhart, Robin, 2001, Keperawatan Medikal
Bedah Salemba Medika (Edisi 1).

7. Mengapa pasien mengalami nyeri telinga?


 Pembesaran adenoid mungkin dapat menghambat ruang samping belakang hidung yang
membuat kerusakan lewat udara dari hidung ke tenggorokan, sehingga akan bernafas
melalui mulut.Bila bernafas terus lewat mulut maka mukosa membrane dari orofaring
menjadi kering dan teriritasi, adenoid yang mendekati tuba eustachus dapat meyumbat
saluran mengakibatkan berkembangnya otitis media
 Sumber :Reeves, Charlene J., Roux, Gayle, Lockhart, Robin, 2001, Keperawatan Medikal
Bedah Salemba Medika (Edisi 1).

NYERI PADA TELINGA


Nyeri adalah mekanisme protektif untuk menimbulkan kesadaran akan kenyataan bahwa sedang atau
akan terjadi kerusakan jaringan, maka itu nyeri pd telinga merupakan suatu tanda perjalanan dari
sebuah penyakit. Nyeri telinga yg dikenal dg sebutan otalgia adalah keadaan timbulnya nyeri pada
telinga. Rasa nyeri yang dirasakan tdk selalu disebabkan dari penyakit telinga itu sendiri, melainkan
dpt juga berasal dari tempat atau organ lain yg rasa nyerinya dihantarkan ke telinga (nyeri alih atau
referred pain) karena telinga dipersarafi n.cranialis V, VII, IX, dan X serta n.servikalis C2 dan C3

Pada tonsillitis akut bacterial  Rasa nyeri di telinga ini karena nyeri alih (referred pain) melalui
saraf n.glossopharyngeus (n.IX)

Sumber : Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL edisi ketujuh, Badan Penerbit FK UI halaman
199
8. Mengapa didapatkan keluhan nyeri menelan dan demam?

Penurunan nafsu makan:


Virus; Bacteria; Group A – beta hemolytic streptococcus Activation of macrophages by
IFN-γ production of endogenous pyrogen IL-1, IL-4, IL-6, TNF-α endogenous pyrogens
enter the systemic circulation and penetrate hematoencephalic barrier reacts to the
hypothalamusEffects of endogenous pyrogen on hypothalamic cytokines causethe
production of arachidonic acidand prostaglandins Prostaglandins stimulate the cerebral
cortex (behavioral response)leptin  causes stimulation of the
hypothalamus  suppressed appetite.
ACUTE TONSILLO PHARYNGITIS EXUDATIVE, CAPITOL MEDICAL CENTER COLLEGES
INC.,

Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas. Akibat dari proses ini akan
terjadi pembengkakan atau pembesaran tonsil ini, nyeri menelan, disfagia. Kadang apabila terjadi
pembesaran melebihi uvula dapat menyebabkan kesulitan bernafas.Apabila kedua tonsil bertemu pada
garis tengah yang disebut kissing tonsils dapat terjadi penyumbatan pengaliran udara dan makanan.
Komplikasi yang sering terjadi akibat disfagia dan nyeri saat menelan, penderita akan mengalami
malnutrisi yang ditandai dengan gangguan tumbuh kembang, malaise, mudah mengantuk
SUMBER :Stephanie, S., 2011. Multicentre Prospective Study on All Patients Undergoing Tonsillectomy,
Tonsillotomy or Adenoidectomy in Austria in 2009 and 2010. p:26

9. Mengapa didapatkan faring hiperemis tanpa granular?


FARINGITIS  HIPEREMIS
FARINGITIS GRANULAR 
Faringitis granular kronik terjadi pembengkakan folikel limfe pada dinding faring
SUMBER :Merlina,Q.A.,(2012). Pola. Penggunaan. Antibiotika. Dalam Penatalaksanaan. Faringitis
Akut di RSUD. Sleman Yogyakarta Tahun. 2009-2011.Yogyakarta.
10. Bagaimana proses terjadinya perubahan ukuran tonsil?

Thane & Cody membagi pembesaran tonsil dalam ukuran T1 – T4 :

a. T1 : batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar anterior – uvula
b. T2 : batas medial tonsil melewati ¼ jarak pilar anterior uvula sampai ½ jarak anterior – uvula
c. T3 : batas medial tonsil melewati ½ jarak pilar anterior – uvula sampai ¾ jarak pilar anterior –
uvula
d. T4 : batas medial tonsil melewati ¾ jarak anterior – uvula sampai uvula atau lebih

Ukuran besarnya tonsil dinyatakan dengan [Radi, 2012]:

b. T0 : bila sudah dioperasi

c. T1 : ukuran yang normal (< 25%)

d. T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah (>25% <50%)

e. T3 : pembesaran mencapai garis tengah (>50% <75%)

f. T4 : pembesaran melewati garis tengah (>75%)

SUMBER : TONSILITIS KRONIS EKSTRASERBASI AKUT| . I Gusti Ayu Harry Sundariyati, S.Ked
|2017

11. Mengapa didapatkan tonsil yang membesar, hiperemis dan dedritus (+)?
HIPEREMIS (+)  Ada Peradangan  Faringitis
TONSIL :
HIPEREMIS (+)  Ada Peradangan  Tonsilitis

Tonsil T3/T3  batas medial tonsil melewati ½ jarak pilar anterior – uvula sampai ¾ jarak pilar
anterior – uvula

Detritus : Karna infiltrasi bakteri atau virus  lapisan jar limfoid - peradangan  keluar
PMN  terbentuk dedritus (kumpulan sel leukosit, sel epitel lepas, bakteri)

12. Bagaimana interpretasi dari PF pada scenario?


FARING :
HIPEREMIS (+)  Ada Peradangan  Faringitis
TONSIL :
HIPEREMIS (+)  Ada Peradangan  Tonsilitis

Tonsil T3/T3  batas medial tonsil melewati ½ jarak pilar anterior – uvula sampai ¾ jarak pilar
anterior – uvula

Detritus : Karna infiltrasi bakteri atau virus  lapisan jar limfoid - peradangan  keluar
PMN  terbentuk dedritus (kumpulan sel leukosit, sel epitel lepas, bakteri)

13. Apa dx dan dd dari scenario?


DX : TONSILOFARINGITIS KRONIK EKSTRASERBASI AKUT

N BEDA TONSILI TONSILI TONSILITI TONSILIT TONSILITI TONSILITI TONSILI


O TIS TIS S IS S S TIS
AKUT AKUT MEMBRAN MEMBRA MEMBRAN MEMBRAN KRONIK
OSA NOSA OSA OSA
VIRAL BAKTER DIFTERI SEPTIK ANGINA PENYAKIT
IAL PLAUT KELAINAN
VINCENT DARAH
1 PENYE Virus Bakteri Bakteri Bakteri Bakteri Leukimia Proses
BAB Epstein Streptococ Corynebacter streptococc spirochaeta akut, angina radang yg
Barr cus Beta ium us beta atau agranulositos berulang
Hemolitik diphteriae hemolitikus triponema is, infeksi
us Grup A (gram yg ada mononukleos
(S. positif) ada dalam susu is
viridans, di saluran sapi (oleh
S. nafas bagian karena
piogenes, atas diindonesia
pneumoko susu sapi
kus) dimasak
dahulu dg
cara
paeusterisas
i sblm
diminum
shg
penyakit ini
jarang
ditemukan)
2 GEJAL Menyerup Masa Demam Rasa ada
A DAN ai inkubasi 2- sampai 39 yg
TANDA common 4 hari. derajat, nyeri mengganja
cold yang Nyeri kepala, badan l di
disertai tenggorok, lemah, tenggorok,
rasa nyeri nyeri kadang ada tenggorok
tenggorok waktu gangguan an kering
menelan, pencernaan, dan nafas
demam dg rasa nyeri di berbau
suhu tubuh mulut,
tinggi, hipersalivasi,
lesu, rasa gigi dan gusi
nyeri di mudah
sendi, tdk berdarah
nafsu
makan,
rasa nyeri
pd telinga
(otalgia)
3 PF Tampak Tampak Mukosa Tampak
luka kecil tonsil mulut dan tonsil
pada membengk faring membesar
palatum ak hiperemis, dengan
dan tonsil hiperemis tampak permukaa
sgt nyeri dan membran n tdk rata,
dirasakan terdapat putih kriptus
pasien detritus keabuan melebar
(jika berbentuk diatas tonsil dan
terjadi folikel uvula, beberapa
infeksi lacuna dinding kripti terisi
virus atau faring, gusi oleh
coxschaki tertutup serta di proc. detritus
e) pseudome Alveolaris,
mbrane, mulut berbau
kelenjar dan kelenjar
submandib submandibul
ula a membesar
membengk
ak dan
nyeri tekan
4 TERAPI Istirahat, Antibiotic Antibiotika Terapi
minum spektrum spektrum luas local
cukup, luas spt selama 1 ditujukan
analgetika, penicillin, mgg, pd hygiene
dan erytromici memperbaiki mulut dg
antivirus n. Dapat hygiene berkumur
diberikan diberikan mulut, diberi atau obat
jika gejala antipiretik, vitamin C isap
berat obat dan B
kumur yg kompleks Tonsilekto
mengandu mi bila
ng terjadi
desinfekta infeksi
n berulang
atau
kronik,
gejala
sumbatan
serta
kecurigaan
neoplasma
5 KOMPL Pada Komplikas
IKASI anak : i sekitar :
otitis Rhinitis
media kronik,
akut, sinusitis,
sinusitis, atau otitis
abses media
peritonsil secara
dan perkontinu
perifaring, itatum
bronchitis,
glomerulo Komplikas
nefritis i jauh
akut, (secara
miokarditi hematogan
s, artritis, dan
dan limfogen)
septikemia :
endokardit
is, artritis,
myositis,
nefritis,
uveitis,
iridosikliti
s,
dermatitis,
pruritus,
urtikaria,
furunkulos
is

Sumber : Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL edisi ketujuh, Badan Penerbit FK UI halaman
199

14. Apa etiologi dari kasus di scenario?


Beberapa organisme dapat menyebabkan infeksi pada tonsil, termasuk bakteri
aerobik dan anaerobik, virus, jamur, dan parasit.
Pada penderita tonsilitis kronis jenis kuman yang paling sering adalah Streptokokus
beta hemolitikus grup A (SBHGA). Streptokokus grup A adalah flora normal pada
orofaring dan nasofaring. Namun dapat menjadi pathogen infeksius yang memerlukan
pengobatan. Selain itu infeksi juga dapat disebabkan Haemophilus influenzae,
Staphylococcus aureus, S. Pneumoniae dan Morexella catarrhalis.
kultur apusan tenggorok didapatkan bakteri gram positif sebagai penyebab tersering
Tonsilofaringitis Kronis yaitu Streptokokus alfa kemudian diikuti Staphylococcus
aureus, Streptokokus beta hemolitikus grup A, Staphylococcus epidermidis dan kuman
gram negatif berupa Enterobakter, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella dan E.
coli.Infeksi virus biasanya ringan dan dapat tidak memerlukan pengobatan yang khusus
karena dapat ditangani sendiri oleh ketahanan tubuh.
Penyebab penting dari infeksi virus adalah adenovirus, influenza A, dan herpes
simpleks (pada remaja). Selain itu infeksi virus juga termasuk infeksi dengan
coxackievirus A, yang menyebabkan timbulnya vesikel dan ulserasi pada tonsil. Epstein-
Barr yang menyebabkan infeksi mononukleosis, dapat menyebabkan pembesaran
tonsil secara cepat sehingga mengakibatkan obstruksi jalan napas yang akut. Infeksi
jamur seperti Candida sp tidak jarang terjadi khususnya di kalangan bayi atau pada anak-
anak dengan immunocompromised
SUMBER : TONSILITIS KRONIS EKSTRASERBASI AKUT| . I Gusti Ayu Harry Sundariyati, S.Ked
|2017
15. Bagaimana tatalaksana dari kasus pada scenario?
Penatalaksanaan untuk tonsillitis kronik terdiri atas terapi medikamentosa dan operatif.
1. Medikamentosa
Terapi ini ditujukan pada hygiene mulut dengan cara berkumur atau
obat isap, pemberian antibiotic, pembersihan kripta tonsil dengan alat
irigasi gigi atau oral. Pemberian antibiotika sesuai kultur. Pemberian
antibiotika yang bermanfaat pada penderita tonsilitis kronis yaitu
antibiotik golongan penisilin merupakan antibiotik pilihan pada
sebagian besar kasus karena efektif dan harganya lebih murah. Namun,
pada anak dibawah 12 tahun, golongan sefalosporin menjadi pilihan
utama karena lebih efektif terhadap streptococcus.Golongan makrolida
dapat digunakan hanya jika terdapat alergi terhadap penisilin, hal ini
disebabkan efek samping yang ditimbulkan golongan makrolida lebih
banyak.
2. Operatif Untuk terapi pembedahan dilakukan dengan mengangkat
tonsil (tonsilektomi). Tonsilektomi dilakukan bila terapi konservatif
gagal.
SUMBER : TONSILITIS KRONIS EKSTRASERBASI AKUT| . I Gusti Ayu Harry Sundariyati, S.Ked
|2017

SECARA UMUM

Penatalaksanaan tonsilitis secara umum, menurut Firman S, 2006 :

a. Jika penyebabnya bakteri, diberikan antibiotik peroral (melalui mulut) selama 10 hari, jika
mengalami kesulitan menelan, bisa diberikan dalam bentuk suntikan.
b. Pengangkatan tonsil (tonsilektomi) dilakukan jika :
- Tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih / tahun.
- Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 2 tahun.
- Tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 3 tahun.
- Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik.

TONSILITIS AKUT

Menurut Mansjoer, A (1999) penatalaksanan tonsillitis akut adalah :

a. Antibiotik golongan penicilin atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur atau obat isap
dengan desinfektan, bila alergi dengan diberikan eritromisin atau klindomisin.
b. Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder, kortikosteroid untuk mengurangi
edema pada laring dan obat simptomatik.
c. Pasien diisolasi karena menular, tirah baring, untuk menghindari komplikasi kantung selama 2-3
minggu atau sampai hasil usapan tenggorok 3x negatif.
d. Pemberian antipiretik.
Menurut Fahrun Nur 2009, penatalaksanaan tonsilitis akut dengan

a. memperbaiki higiene mulut


b. pemberian antibiotika spektrum luas selama 1 minggu dan Vitamin C dan B kompleks.

Pada beberapa penelitian menganjurkan pemberian antibiotik lebih dari 5 hari. Pemberian antibiotik
secepatnya akan mengurangi gejala dan tanda lebih cepat. Meskipun demikian, tanpa antibiotik,
demam dan gejala lainnya dapat berkurang selama 3-4 hari. Pada demam rematik, gejala lainnya
dapat berkurang selama 3-4 hari. Pada demam rematik, gejala dapat bertahan sampai 9 hari selama
pemberian terapi (Brook, 2008).

TONSILITIS BAKTERI

Untuk tonsilitis bakteri, penisililin merupakan antibiotik lini pertama untuk tonsilitis akut yang
disebabkan bakteri Group A Streptococcus B hemoliticus (GABHS). Walaupun pada kultur GABHS
tidak dijumpai, antibiotik tetap diperlukan untuk mengurangi gejala. Jika dalam 48 jam gejala tidak
berkurang atau dicurigai resisten terhadap penisilin, antibiotik dilanjutkan dengan amoksisilin
asamklavulanat sampai 10 hari (Christoper, Linda 2006; Current, 2007).

TONSILITIS KRONIK

Pada tonsillitis kronik dilakukan terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap dan
terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konservatif tidak berhasil.
Mansjoer, A (1999).

Tonsilektomi merupakan prosedur operasi yang praktis dan aman,


namun hal ini bukan berarti tonsilektomi merupakan operasi minor
karena tetap memerlukan keterampilan dan ketelitian yang tinggi dari
operator dalam pelaksanaannya. Di Amerika Serikat, karena
kekhawatiran komplikasi, tonsilektomi digolongkan pada operasi
mayor. Di Indonesia, tonsilektomi digolongkan pada operasi sedang
karena durasi operasi pendek dan teknik tidak sulit
16. Apa komplikasi dari kasus di scenario?
Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa rhinitis kronik, sinusitis
atau otitis media secara percontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen dan
dapat timbul endocarditis, artritis, myositis, nefritis, uvetis iridosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria, dan
furunkulosis.

: a) Abses peritonsil.

Infeksi dapat meluas menuju kapsul tonsil dan mengenai jaringan sekitarnya. Abses biasanya terdapat
pada daerah antara kapsul tonsil dan otot-otot yang mengelilingi faringeal bed. Hal ini paling sering
terjadi pada penderita dengan serangan berulang. Gejala penderita adalah malaise yang bermakna,
odinofagi yang berat dan trismus. Diagnosa dikonfirmasi dengan melakukan aspirasi abses

b) Abses parafaring. Gejala utama adalah trismus, indurasi atau pembengkakan di sekitar angulus
mandibula, demam tinggi dan pembengkakan dinding lateral faring sehingga menonjol kearah medial.
Abses dapat dievakuasi melalui insisi servikal.

c) Abses intratonsilar. Merupakan akumulasi pus yang berada dalam substansi tonsil. Biasanya diikuti
dengan penutupan kripta pada Tonsilitis Folikular akut. Dijumpai nyeri lokal dan disfagia yang bermakna.
Tonsil terlihat membesar dan merah. Penatalaksanaan yaitu dengan pemberian antibiotika dan drainase
abses jika diperlukan; selanjutnya dilakukan tonsilektomi.

d) Tonsilolith (kalkulus tonsil). Tonsililith dapat ditemukan pada Tonsilitis Kronis bila kripta diblokade
oleh sisa-sisa dari debris. Garam inorganik kalsium dan magnesium kemudian tersimpan yang memicu
terbentuknya batu. Batu tersebut dapat membesar secara bertahap dan kemudian dapat terjadi ulserasi
dari tonsil. Tonsilolith lebih sering terjadi pada dewasa dan menambah rasa tidak nyaman lokal atau
foreign body sensation. Hal ini didiagnosa dengan mudah dengan melakukan palpasi atau ditemukannya
permukaan yang tidak rata pada perabaan.

e) Kista tonsilar. Disebabkan oleh blokade kripta tonsil dan terlihat sebagai pembesaran kekuningan
diatas tonsil. Sangat sering terjadi tanpa disertai gejala. Dapat dengan mudah didrainasi.

f) Fokal infeksi dari demam rematik dan glomerulonephritis. Dalam penelitiannya Xie melaporkan
bahwa anti-streptokokal antibodi meningkat pada 43% penderita Glomerulonefritis dan 33%
diantaranya mendapatkan kuman Streptokokus beta hemolitikus pada swab tonsil yang merupakan
kuman terbanyak pada tonsil dan faring. Hasil ini megindikasikan kemungkinan infeksi tonsil menjadi
patogenesa terjadinya penyakit Glomerulonefritis.

Sumber : Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL edisi ketujuh, Badan Penerbit FK UI halaman