Anda di halaman 1dari 15

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Keadaan Umum
4.1.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian
Usaha penggemukan Kambing PE milik Bapak Suryanto terletak di Desa
Sidojangkung RT 03 RW 01 Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Kabupaten Gresik
merupakan salah satu kota yang terdapat di Jawa Timur dengan luas wilayah 1.191,25 km 2,
dimana di sebelah timur berbatasan dengan Kota Surabaya, sebelah barat berbatasan dengan
Kabupaten Lamongan, sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, dan sebelah selatan
berbatasan dengan Kota Sidoarjo dan juga Kota Mojokerto. Secara geografis wilayah
Kabupaten Gresik terletak antara 112°-113° Bujur Timur dan 7°-8° Lintang Selatan
merupakan dataran rendah dengan ketinggian 2 sampai 12 m diatas permukaan air laut
kecuali Kecamatan Panceng yang mempunyai ketinggian 25 m diatas permukaan air laut.
Kabupaten Gresik terbagi dalam 18 kecamatan dan terdiri dari 330 desa dan
26 kelurahan. Salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Gresik adalah Kecamatan
Menganti, yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Gresik, berjarak kurang lebih 30 km
dari Kota Gresik. Letak astronomis Kecamatan Menganti terletak antara 7º13’59,9” LS -
7º19’00” LS dan 112º31’07” BT - 112º37’45,9” BT. Secara administratif, Kecamatan
Menganti berbatasan langsung dengan Kota Surabaya di sebelah timur, Kecamatan Driyorejo
di sebelah selatan, Kecamatan Cerme di sebelah utara dan Kecamatan Kedamean di sebelah
barat. Kecamatan Menganti memiliki luas sekitar 68,71 km2 yang terbagi menjadi 22 desa,
diantaranya yaitu Laban, Setro, Sidowungu, Hulaan, Menganti, Drancang, Randupadangan,
Pengalangan, Gempolkurung, Kepatihan, Hendorsari, Boboh, Boteng, Beton, Pelemwatu,
Putat Lor, Gadingwatu, Domas, Bringkang, Mojotengah, Katimoho dan juga Sidojangkung,
dimana lokasi usaha penggemukan kambing PE Pak Suryanto berdiri. Kecamatan Menganti
dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Peta Kecamatan Menganti

Kabupaten Gresik mempunyai kondisi iklim yang hampir sama dengan kabupaten-
kabupaten lain yang ada di Jawa Timur. Iklim Kabupaten Gresik termasuk tropis dengan suhu
rata-rata 28,5°C dan kelembaban udara rata-rata 2.245 mm per tahun. Suhu harian di
Kabupaten Gresik berkisar antara 240-320C yang menyebabkan Kabupaten Gresik terasa
sangat panas pada siang hari. Suhu ini terbilang cukup nyaman untuk kelangsungan hidup
ternak kambing, dimana kambing memiliki suhu optimal untuk kelangsungan hidup pada
suhu 180-300C.
4.1.2 Sejarah Usaha Penggemukan Kambing PE Bapak Suryanto
Bapak Suryanto mendirikan usaha peternakan yang bergerak dibidang penggemukan
Kambing PE pada 26 mei 2009 dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan ekonomi
keluarga. Bapak Suryanto mendirikan usaha penggemukan kambing PE ini menggunakan
modal atau biaya sendiri. Pada awal berdirinya usaha penggemukan kambing PE ini hanya
dikelola oleh Bapak Suryanto beserta anak dan juga istrinya dengan jumlah populasi ternak
awal hanya mencapai 40 ekor. Seiring dengan berjalannya waktu, Pak Suryanto saat ini
memiliki jumlah populasi sebanyak 232 ekor kambing PE yang siap untuk digemukkan, serta
memliki pekerja sebanyak 3 orang.
Pak suryanto lahir pada tanggal 6 agustus 1968 yang saat ini telah berumur 51 tahun.
Pak Suryanto lahir dan dibesarkan di Kabupaten Gresik. Saat ini Pak Suryanto bertempat
tinggal di Desa Sidojangkung RT 3 RW 1 Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik dengan
memiliki seorang istri dan 3 orang anak. Pak Suryanto merupakan pemilik sekaligus
pengelola usaha penggemukan Kambing PE ini. Pendidikan terakhir dari Pak Suryanto ini
setingkat dengan sekolah dasar atau SD. Pak Suryanto yang sangat memahami keadaan
kotanya, melihat sebuah peluang usaha yaitu sebuah usaha peternakan. Pak suryanto memulai
usaha peternakan kambing PE yang bergerak dibidang penggemukan ini pada pertengahan
tahun 2009 dengan modal serta pengalaman seadanya. Kambing-kambing bakalan itu
didapatkan dari petani dan juga blantik, serta pakannya didapatkan dari berbagai perusahaan
dan juga petani. Usaha penggemukan kambing PE milik Pak Suryanto sudah berjalan selama
10 tahun dan saat ini memiliki 232 ekor bakalan kambing PE yang siap untuk digemukkan
dengan jumlah pekerja sebanyak 3 orang
4.1.3 Komposisi Kambing PE Bapak Suryanto
Jumlah ternak kambing PE pada peternakan Pak Suryanto erat kaitannya dalam
melakukan kegiatan usaha, semakin banyak kambing PE yang dipelihara maka biaya
produksi yang dikeluarkan juga semakin banyak. Adapun komposisi kambing PE pada
peternakan Pak Suryanto dijelaskan pada Tabel 1.
Tabel 1 Komposisi kambing PE
Komposisi ternak
Ternak (berdasarkan masa penggemukan) Jenis Jumlah UT (0,07) %
kelamin (ekor)
0 bulan Jantan 49 2,87 19,8
Betina - 2,31 15,9
1 bulan Jantan 57 2,73 18,8
Betina - 2,17 14,9
2 bulan Jantan 74 2,52 17,3
Betina - 1,89 13,0
3 bulan 52

Total 232 ? 100


Sumber: Data primer diolah (2019)
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah komposisi kambing PE yang
dipelihara Pak Suryanto per tanggal 20 Juni 2019 – 15 Juli 2019 terdiri dari kambing dengan
masa pemeliharaan 0 bulan (bakalan) berjumlah jantan 49 ekor dan betina - ekor dan
kambing dengan masa pemeliharaan 1 bulan terdiri dari jantan 57 ekor dan betina - ekor.
Kambing dengan masa pemeliharaan 2 bulan terdiri dari jantan 74 ekor dan betina – ekor.
Kambing dengan masa pemeliharaan ini dipersiapkan untuk dijual pada bulan berikutnya
yang bertepatan pada Idul Adha sehingga jumlah kambing masa pemeliharaan 2 bulan
jumlahnya lebih banyak dibandingkan kambing pada masa pemeliharaan 0, 1 dan 3 bulan dan
terdapat kambing dengan masa pemeliharaan 3 bulan yang siap untuk dipasarkan. Total
kambing pada peternakan Pak suryanto sebanyak 232 ekor dengan UT ?.

4.2 Tata Laksana Penggemukan Kambing PE di Peternakan Pak Suryanto


4.2.1 Pemilihan Bakalan
Jenis kambing pedaging yang dipelihara peternak adalah jenis kambing PE. Peternak
memilih bakalan secara langsung. Pemilihan bakalan dilakukan secara selektif dikarenakan
bakalan kambing menjadi hal pertama dan yang utama yang harus dipersiapkan dengan baik,
dimana bakalan dengan kualitas yang baik jika dipelihara dengan manajemen pemeliharaan
yang baik akan menghasilkan ternak yang dewasa dengan kualitas yang baik pula. Bakalan
kambing PE berasal dari berbagai petani dan juga belantik dari berbagai kota seperti
Lumajang, Senduro dan juga Dampit dengan kisaran harga dari Rp 1,5jt – Rp 1,7 jt. Bakalan
yang dipilih adalah bakalan yang memiliki ciri tatapan mata jernih dan tajam, kaki belakang
tidak bengkok, hidung tidak berlendir, anus bersih dan berdiri dengan kokoh serta umur
sekitar 9 – 11 bulan. Pemilihan bibit kambing berumur diatas 4 bulan dengan pertimbangan
bahwa mulai usia 4 bulan, tubuh kambing telah berkonsentrasi pada pembentukan daging,
sehingga akan lebih mudah digemukkan (Ginting dan Ritonga, 2018).
4.2.2 Manajemen Pemeliharaan
Pola pemeliharaan yang digunakan pada peternakan milik Pak Suryanto
menggunakan pola intensif yaitu kambing dikandangkan secara terus menerus. Pemberian
pakan hijauan dan konsentrat dilakukan sehari dua kali pada waktu yang bersamaan
diantaranya pagi hari pukul 08.00 – 09.00 dan siang hari pukul 14.00-15.00. Kambing
bakalan diberi tambahan pakan hijauan pada sore hari yang bertujuan untuk membantu
bakalan ternak dalam beradaptasi mengenai pakan. Pemberian air dilakukan secara ad libitum
yaitu dengan menyediakan air yang selalu ada disebelah tempat pakan. Pemeliharaan untuk
satu kali periode penggemukan kambing dilakukan selama 3-4 bulan, dengan umur kambing
awal pemeliharaan rata-rata sekitar 10 bulan.
Kesehatan ternak juga mendapatkan perhatian yang cukup baik karena kesehatan
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap penampilan ternak dan dapat menyebabkan
kerugian jika ternak terserang penyakit. Sebelum dilakukan proses penggemukan, ternak
diberi obat cacing agar terbebas dari penyakit cacingan. Pengecekan kesehatan dilakukan
setelah pemberian pakan di pagi hari dengan cara melihat kondisi fisik ternak dan nafsu
makan ternak. Jika ternak terindikasi sakit maka akan diberikan obat anti biotik, sedangkan
untuk ternak yang nafsu makannya mulai berkurang maka akan diberikan vitamin B
kompleks untuk merangsang nafsu makan ternak. Penyakit yang umum terjadi pada kambing
milik Pak Suryanto adalah penyakit skabies yang bercirikan terdapat keropeng atau jamur
pada kulit ternak. Pemberian wormectin rutin diberikan pada ternak setiap satu bulan sekali
dengan tujuan untuk mencegah timbulnya jamur/parasit pada kulit ternak penyebab scabies
sekaligus mengobati ternak yang telah terkena skabies
Kegiatan pembersihan kotoran ternak dilakukan satu kali dalam sehari yang dilakukan
pada sore hari setelah pemberian pakan. Kotoran ternak dikumpulkan dalam suatu tempat,
yang nantinya diambil oleh pengepul yang membutuhkan kotoran ternak untuk dimanfaatkan
sebagai kompos maupun biogas. Kandang yang bersih dapat membantu meningkatkan
kenyamanan kambing di dalam kandang sehingga melancarkan usaha penggemukan kambing
dan mengurangi terjadinya berbagai macam penyakit pada kambing.
4.2.3 Kebutuhan Pakan
Pemberian pakan hijauan dan konsentrat di peternakan Pak Suryanto diberikan
sebanyak dua kali dalam satu hari pada waktu yang bersamaan yaitu pada pagi hari pukul
08.00 – 09.00 dan siang hari pukul 14.00 - 15.00. Pakan yang diberikan peternak berupa
hijauan dan juga konsentrat. Hijauan yang digunakan oleh Pak Suryanto adalah rumput gajah,
sedangkan komposisi konsentrat yang digunakan terdiri dari ampas tahu dan gilingan jagung
Pak Suryanto mendapatkan rumput gajah dari hasil menanam sendiri di lahan
miliknya. Sedangkan untuk konsentratnya, Pak Suryanto mendapatkannya dari limbah
beberapa perusahaan
Tabel 2. Kebutuhan Pakan Harian.
Komposisi Kebutuhan Total Kebutuhan Harga/kg Total Biaya (Rp)
(kg/ekor/hari) (kg/farm/hari)
Rumput 2 kg 464 kg 200 92.800
gajah
Gilingan 1 kg 232 kg 2000 464.000
jagung
Ampas tahu 1 kg 232 kg 500 116.000
Total 672.800/hari
Sumber: Data primer diolah (2019)
Berdasarkan Tabel diatas didapatkan informasi bahwa bapak suryanto membutuhkan
Rumput Gajah sebanyak 464 kg/hari. Sedangkan kebutuhan konsentrat ampas tahu sebanyak
232kg/hari dan gilingan jagung 232kg/hari. Konsentrat didapatkan dari limbah berbagai
perusahaan. Setiap harinya Pak Suryanto membutuhkan Rp 672.800 untuk kebutuhan pakan
harian seluruh ternak
Konsumsi pakan ternak kambing PE setiap harinya membutuhkan rumput gajah
2kg/ekor/hari dengan biaya sebesar Rp 400/ekor/hari, sedangkan untuk konsumsi konsentrat
setiap harinya membutuhkan ampas tahu 1 kg/ekor/hari dengan biaya sebesar Rp
500/ekor/hari dan gilingan jagung 1 kg/ekor/hari dengan biaya sebesar Rp 2000/ekor/hari
sehingga biaya yang harus dikeluarkan Bapak Suryanto untuk 1 ekor kambing PE adalah
2900/ekor/hari.
4.2.4 Kandang
Peternak memiliki total luas lahan kandang ±360m2 yang terdiri dari 4 kandang,
tempat penampungan pakan dan tempat penampungan kotoran, dimana tiap kandang
berukuran masing-masing dengan tinggi, panjang dan lebar sekitar 2,5 m x 35 m x 1,5 m dan
setiap kandang disekat menjadi 14 kotak. Setiap kotak berukuran sekitar 2,5 m x 1,5 m yang
dapat menampung kambing PE sekitar 4-6 ekor. Setiap kandang dilengkapi dengan tempat
pakan dengan lebar 50cm dan wadah untuk minum ternak yang terbuat dari plastik dengan
lebar yang sama yaitu 50cm. Kandang dipisahkan dengan jalan setapak selebar 1 m untuk
mempermudah pekerja dalam memberi pakan, membersihkan kandang maupun pengecekan
kesehatan
Menurut Rubiono (2006) menyatakan bahwa model kandang kambing dan domba
terdiri dari dua model yaitu model kandang lantai dan model kandang panggung. Kandang
panggung adalah kandang yang konstruksinya dibuat menyerupai panggung sehingga
dibawah lantai kandang terdpat kolong sebagai saluran pembuangan kotoran dan urin. Pak
Suryanto menggunakan model kandang baterai berbentuk panggung yang dibuat tinggi diatas
permukaan tanah sehingga bagian bawah kandang menjadi berkolong. Kandang dibuat semi
permanen, dengan tiang kolong kandang, dinding serta alas kendang terbuat dari kayu,
sedangkan atap kandang terbuat dari asbes. Dinding dibuat bercelah agar sirkulasi udara
menjadi bagus, sedangkan lantai dibuat bercelah agar kotoran langsung jatuh ke bawah
sehingga memudahkan dalam pengumpulan kotoran ternak. Hal ini sejalan dengan pendapat
Suherman (2017), yang menyatakan bahwa sistem perkandangan yang lebih baik adalah
sistem panggung
Terdapat tempat penampungan pakan di bagian depan yang berukuran 3 m x 1,5 m
yang digunakan oleh peternak untuk menimbun persediaan pakan konsentrat untuk beberapa
hari kedepan, sekaligus menjadi tempat pengumpulan hijauan (rumput gajah) yang selesai
dipotong. Peternak juga menyediakan lahan kosong untuk tempat pembuangan kotoran.
Tempat pembuangan kotoran ini berukuran 3 m x 2 m yang berjarak sekitar 2 m dari sisi
paling belakang kambing PE.
4.3 Modal
Menurut Hassan (2012) mengatakan bahwa modal mempunyai arti yang sangat
penting karena dengan modal inilah perusahaan dapat menjalankan segala aktifitasnya guna
menccapai tujuan perusahaan. Sumber modal terdiri dari dua jenis, diantaranya modal tetap
dan modal kerja. Modal merupakan faktor yang sangat penting dalam keberlangsungan suatu
usaha tidak terkecuali pada usaha penggemukan kambing. Modal yang digunakan oleh
peternak terdiri dari modal tetap dan modal tidak tetap. Modal tetap diantaranya terdiri dari
bangunan, lahan, alat beternak, kendaraan, dan ternak, sedangkan modal tidak tetap terdiri
dari tenaga kerja, pakan, listrik, bahan bakar, obat-obatan, pulsa dan lain sebagainya. Modal
yang dimiliki oleh peternakan bapak suryanto dijabarkan pada tabel 3. sebagai berikut
Tabel 3. Modal Usaha Peternak
Jenis modal Rp/farm/bulan (%)
Modal Tetap
Lahan
Kandang
Peralatan dan perlengkapan kandang
Kendaraan
Sewa Tanah/bulan
Bakalan Ternak
Total Modal Tetap
Modal Kerja
Pakan
Air, Listrik
Bahan Bakar
Obat-obatan
Gaji Pegawai
Pulsa
Total Modal Kerja
Sumber: Data primer diolah (2019)

4.4 Analisis Rugi-Laba Usaha Peternak


Analisis rugi laba pada penelitian ini digunakan dalam perhitungan total keuntungan
yang diperoleh maupun kerugian yang dialami oleh peternak. Dalam analisis rugi laba ini,
terdapat factor yang mempengaruhi diataranya adalah penerimaan dan biaya produksi yang
terdiri dari biaya tetapdan biaya variable
Laporan rugi laba merupakan laporan yang menunjukkan jumlah pendapatan yang
diperoleh dari biaya yang dikeluarkan dan laba atau rugi dalam suatu periode tertentu.
Laporan laba rugi juga memaparkan jenis biaya yang dikeluarkan dalam periode yang sama.
Jika jumlah pendapatan lebih besar dari biaya, maka perusahaan dalam kondisi laba (untung),
sedangkan jika sebaliknya yaitu jumlah pendapatan lebih kecil dari jumlah biaya maka
perusahaan dalam kondisi rugi. Suryana (2009) menyatakan bahwa laporan laba rugi adalah
suatulaporan keuangan yang meringkas penerimaan dan pengeluaran suatu perusahaan dalam
satu periode
4.4.1 Biaya Produksi
Biaya produksi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan suatu usaha.
Biaya produksi dibagi menjadi 2 yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap
diantaranya biaya penyusutan (kendang, peralatan, kendaraan) sedangkan biaya tidak tetap
antara lain pakan, listrik, bahan bakar, dan tenaga kerja. Adapun biaya produksi yang
dikeluarkan oleh bapak suryanto disajikan pada tabel 4
Table 4. Biaya produksi usaha penggemukan kambing PE Bapak Suryanto
No Total harga/bulan %
A. Biaya tetap
1. Penyusutan
a. Kandang 20.833 0,37
b. Peralatan dan perlengkapan
i. Sabit 2.000 0,03
ii. Garpu rumput 500 0,008
iii. Sekop 833 0,01
iv. Choper 10.000 0,18
v. Bak air 16.667 0,29
vi. Timbangan 18.333 0,32
vii. sapu lidi 800 0,01
viii. gerobak kotoran 1.167 0,02
ix. gerobak pakan 1.167 0,02
c. Kendaraan
i. Motor 63.829 1,14
ii. Mobil 159.574 2,85
2. PBB 300.000 5,36
3. Sewa lahan 5.000.000 89,35

Total Biaya Tetap 5.595.703 100

Biaya Variabel
1. Pakan
2.784.000 2,64
a. Rumput gajah
13.920.000 13,22
b. Gilingan jagung
3.480.000 3,30
c. Ampas tahu
4.500.000
2. Gaji pegawai 4,27
3. Bahan bakar
900.000
a. Motor 0,85
300.000
b. mobil 0,28
150.000
c. choper 0,14
500.000 0,47
4. obat-obatan
100.000 0,09
5. Telepon
78.400.000 74,47
6. Ternak
150.000 0,14
7. Listrik
80.000 0,07
8. Air

Total Biaya Variabel 100


Total Biaya Produksi 105.264.000
123.876.003
Sumber: Data primer diolah 2018
Berdasarkan table 4 didpaatkan informasi bahwa biaya tetap yang harus dikeluarkan
peternak setiap bulan adalah sebesar Rp 5.595.703. komponen biaya tetap terbesar yang harus
dikeluarkan adalah sewa lahan dengan biaya sebesar Rp 5.000.000 setiap bulan. Hal ini juga
didukung dengan perolehan presentase sebesar 89,35%, sedangkan untuk biaya variabel yang
paling banyak dikeluarkan dalam usaha penggemukan kambing pe adalah pembelian bakalan.
Biaya yang harus dikeluarkan peternak untuk pembelian bakalan adalah sebesar Rp
78.400.000 per bulan dengan presentase 74,47.

Tabel 5. Rata-rata biaya produksi usaha penggemukan kambing PE


Bulan Populasi Biaya tetap Biaya variable Total biaya Rata-rata biaya
ternak (Rp/bulan/farm) (Rp/bulan/farm) (Rp/bulan/farm) (Rp/ekor/bulan)
7 188 5.595.703 131.821.000 137.416.703 730.940
8 172 5.595.703 112.829.000 118.424.703 688.516
9 176 5.595.703 117.977.000 123.572.703 702.118
10 242 5.595.703 133.334.000 138.929.703 574.090
11 229 5.595.703 109.803.000 115.398.703 503.924
12 231 5.595.703 116.377.000 121.972.703 528.020
1 237 5.595.703 128.099.000 133.694.703 564.113
2 222 5.595.703 107.594.000 113.189.703 509.864
3 222 5.595.703 109.194.000 114.789.703 517.071
4 240 5.595.703 145.960.000 151.555.703 631.482
5 234 5.595.703 118.238.000 123.833.703 529.204
6 232 5.595.703 105.264.000 110.859.703 477.844
Total 2625 67.148.432 1.436.490.000 1.503.638.432 6.957.184
Rataan 219 5.595.703 119.707.500 125.303.203 579.765
Sumber: Data primer diolah 2019
Grafik Rata - Rata Biaya Produksi
800000

700000

600000

500000

400000

300000

200000

100000

0
li us r er r r ri ar
i et ril ei ni
Ju st be ob be be ua ru ar Ap M Ju
u m t m em a n b M
A g te Ok ve s J F e
S ep No De

Tabel 5 diatas menjelaskan bahwa rata-rata total biaya produksi yang harus
dikeluarkan peternak setiap bulan adalah sebesar Rp 125.303.203 sehingga jika
dikalkulasikan dalam satu tahun biaya produksi yang dikeluarkan oleh peternak sebesar Rp
1.503.638.432. Biaya produksi yang dikeluarkan setiap bulannya mengalami fluktuasi.
Perbedaan biaya produksi setiap bulannya digambarkan dalam grafik sebagai berikut :
Gambar Grafik Rata – Rata Biaya Produksi
Gambar XX menunjukkan bahwa rata-rata biaya produksi per ekor setiap bulan yang harus
dikeluarkan peternak setiap bulannya mengalami fluktuasi. Pada bulan juli 2018 rata-rata
biaya produksi yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan bulan-bulan yang lain yaitu
sebanyak 730.939, sedangkan rata-rata biaya produksi terendah ada pada bulan juni 2018
yaitu sebanyak 477.843. rata-rata jumlah biaya produksi tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah
populasi ternak, tetapi juga dipengaruhi oleh biaya variable. Salah satu biaya variable yang
sangat berpengaruh adalah pembelian bakalan. Semakin banyak bakalan yang dibeli per
bulan maka jumlah biaya produksi juga akan semakin besar.
4.4.2 Penerimaan
Penerimaan adalah nilai atau hasil dari suatu benda. Semakin besar jumlah produk
yang dihasilkan dan berhasil dijual akan semakin besar pula penerimaannya, tetapi besarnya
penerimaan tidak menjamin besar pula pendapatan yang diterima (Munawir, 2004). Besarnya
penerimaan pada usaha penggemukan kambing pe pak suryanto dijabarkan pada table xxx
sebagai berikut:
Tabelxxx Penerimaan Penjualan Usaha Penggemukan Kambing PE
Bulan Penerimaan penjualan Penerimaan penjualan Total penerimaan
ternak (Rp/bulan) kotoran (Rp/bulan) (Rp/bulan)
Juli 175.000.000 500.000 175.500.000
Agustus 132.500.000 500.000 133.000.000
September 137.500.000 500.000 138.000.000
Oktober 162.500.000 500.000 163.000.000
November 135.000.000 500.000 135.500.000
Desember 142.500.000 500.000 143.000.000
Januari 165.000.000 500.000 165.500.000
Februari 130.000.000 500.000 130.500.000
Maret 140.000.000 500.000 140.500.000
April 157.500.000 500.000 158.000.000
Mei 127.500.000 500.000 128.000.000
Juni 130.000.000 500.000 130.500.000
Total 1.735.000.000 6.000.000 1.741.000.000
Rataan 144.583.333 500.000 145.083.333
Sumber: Data primer diolah 2019
Total penerimaan peternakan kambing pe bapak suryanto adalah sebesar
1.741.000.000 selama periode juli 2018 hingga juni 2019, total ini diperoleh dari penerimaan
penjualan kotoran ternak sebesar 6.000.000 dan penerimaan dari penjualan ternak sebesar
1.735.000.000. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tingkat penerimaan penjualan kotoran
ternak memberikan tambahan penerimaan bagi peternak.
Boediono (2002) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan penerimaan (revenue)
adalah penerimaan produksi dari hasil penjualan outputnya untuk mengetahui penerimaan
total yang diperoleh dari output atau hasil produksi dikalikan dengan harga jual output.
Grafik penerimaan usaha peternakan kambing pe bapak suryanto disajikan pada gambar.
200000000

180000000

160000000

140000000

120000000

100000000

80000000

60000000

40000000

20000000

0
li us r er r r ri ar
i et ril ei ni
Ju t be ob be be ua ru ar Ap M Ju
us m t m em a n b M
Ag te Ok ve s J F e
S ep No De

Gambar . Rata-rata penerimaan


Berdasarkan gambar xxx diatas diketahui bahwa penerimaan mengalami fluktuasi
setiap bulannya, hal ini dikarenaka oleh perbedaan jumlah penjualan ternak setiap bulannya.
Total penerimaan terbanyak terjadi pada bulan juli 2018, pada bulan tersebut terjadi
peningkatan penerimaan disebabkan oleh momen hari raya idul adha dimana konsumsi
daging kambing meningkat untuk dijadikan hewan kurban.

4.4.3 Pendapatan
Mubyarto (2002) menyatakan bahwa pendapatan merupakan penerimaan yang
dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan. Pendapatan seseorang pada dasarnya
tergantung dari pekerjaan dibidang jasa atau produksi serta waktu jam kerja yang dicurahkan,
tingkat pendapatan per jam yang diterima. Total pendapatan usaha penggemukan kambing PE
Bapak Suryanto dijabarkan dalam tabelxxx sebagai berikut:
Tabelxxx Pendapatan Usaha Penggemukan Kambing PE
Bulan Total Penerimaan Total Biaya Total Pendapatan
(Rp/bulan) (Rp/bulan) (Rp/bulan)
Juli 175.500.000 137.416.703 38.083.297
Agustus 133.000.000 118.424.703 14.575.297
September 138.000.000 123.572.703 14.427.297
Oktober 163.000.000 138.929.703 24.070.297
November 135.500.000 115.398.703 20.101.297
Desember 143.000.000 121.972.703 21.027.297
Januari 165.500.000 133.694.703 31.805.297
Februari 130.500.000 113.189.703 17.310.297
Maret 140.500.000 114.789.703 25.710.297
April 158.000.000 151.555.703 6.444.297
Mei 2019 128.000.000 123.833.703 4.166.297
Juni 130.500.000 110.859.702 19.640.297
Total 1.741.000.000 1.503.638.432 237.361.568
Rataan 145.083.333 125.303.202 19.780.131
Sumber: Data primer diolah 2019
Tabel xxx diatas menunjukkan bahwa total pendapatan usaha ternak per farm/bulan
adalah sebesar 237.361.568 selama periode juli 2018 hingga juni 2019. Hasil tersebut
didapatkan dari selisih antara total penerimaan yang dikurangi dengan total biaya yang
digunakan selama proses produksi. Jumlah ternak yang dijual setiap bulannya berpengaruh
terhadap biaya produksi yang dikeluarkan sehingga pendapatan yang diperoleh peternak
dalam setiap bulan berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada gambar xxx dibawah ini
40000000

35000000

30000000

25000000

20000000

15000000

10000000

5000000

0
li us r er r r ri ri et ril ei ni
Ju t be ob be be ua ua ar Ap M Ju
us em t m em n r
Ag pt Ok ove s J a
F eb M
Se N De
Gambar xxx diatas menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh oleh peternak dalam
setiap bulannya berbeda-beda, pendapatan yang diperoleh peternak pada juli 2018 hingga juni
2019 mengalami peningkatan dan penurunan, pendapatan terbesar terjadi pada juli 2018 yaitu
38.083.297.
4.5 Analisis R/C
Kelayakan usaha dapat dilihat dari efisiensi usaha nilai R/C ratio >1 maka usaha
tersebut mendapat keuntungan karena penerimaan lebih besar daripada biaya produksi,
namun jika nilai R/C ratio <1 maka usaha tersebut mengalami kerugian karena penerimaan
yang diperoleh lebih rendah dari biaya produksi (Ahmad, 2011). Nilai R/C rasio dalam usaha
penggemukan kambing PE milik bapak suryanto dapat dilihat pada table xxx
Tabel XXX nilai R/C rasio usaha penggemukan kambing PE
Bulan Total Penerimaan Total Biaya R/C
(Rp/bulan) (Rp/bulan)
Juli 175.500.000 137.416.703 1,27
Agustus 133.000.000 118.424.703 1,12
September 138.000.000 123.572.703 1,11
Oktober 163.000.000 138.929.703 1,17
November 135.500.000 115.398.703 1,17
Desember 143.000.000 121.972.703 1,17
Januari 165.500.000 133.694.703 1,23
Februari 130.500.000 113.189.703 1,15
Maret 140.500.000 114.789.703 1,22
April 158.000.000 151.555.703 1,04
Mei 2019 128.000.000 123.833.703 1,03
Juni 130.500.000 110.859.703 1,17

Rataan 145.083.333 125.303.203 1,15


Sumber: Data Primer diolah 2019
Table xxx diatas menunjukkan bahwa nilai R/C rasio setiap bulan berbeda-beda,
factor yang mempengaruhi perbedaan R/C rasio yaitu penerimaan yang didapatkan setiap
bulan. Pada table xxx bahwa perhitungan R/C rasio pada usaha penggemukan kambing PE
bapak Suryanto memiliki nilai rata-rata 1,15. Hasil tersebut sejalan dengan teori yang
dikemukakan oleh ahmad (2011) yang menyatakan bahwa usaha dikatakan layak jika nila r/c
rasio >1. Secara keseluruhan usaha ternak kambing pe bapak suraynto dapat dikatakan
efisien karena perbandingan antara penerimaan dengan biaya produksi yang dihasilkan
berimbang yaitu penerimaan lebih besar disbanding biaya produksi.
R/C rasio setiap bulannya mengalami fluktuasi, hal tersebut berkaitan dengan
penerimaan yang berbeda-beda setiap bulannya. Fluktuasi nilai R/C rasio digambarkan dalam
grafik dibawah ini
1.4

1.2

0.8

0.6

0.4

0.2

0
li us r er r r ri ar
i et ril ei ni
Ju st be ob be be ua ru ar Ap M Ju
u m t m em a n b M
A g te Ok ve s J F e
S ep No De

Gamba xxx. Grafik R/C rasio Usaha Penggemukan kambing PE


Gambar xxx diatas menunjukkan bahwa pada bulan juli 2018 r/c rasio mencapai 1,27,
nilai tersebut dipengaruhi oleh tingginya penerimaan seiring dengan peringatan hari raya idul
adha. Sedangkan nilai r/c rasio terendah berada pada bulan mei 2019 yaitu sebesar 1,03
4.6 BEP (Break Even Point)
Analisis BEP (Break Even Point) merupakan suatu teknik analisis yang digunakan
untuk mengetahui keadaan dimana perusahaan tidak menderita kerugian dan juga tidak
mendapatkan laba atau impas. (Retno, 2014). Berikut merupakan perhitungan BEP pada
usaha penggemukan kambing PE
Total Biaya ( Rp )
BEP Produksi = (ekor/farm)
Harga Jual ( Rp )
= 125.303.202/2.500.000
= 50
Total Biaya (Rp)
BEP Harga = (Rp/ekor)
Jumlah Produksi( Rp)

uraian Bep produksi (ekor) Bep harga (Rp)


Total biaya produksi
Total produksi

4.7 Pemasaran
Bulan Jumlah Harga Rata- Penerimaan Penerimaan Total
Ternak Rata Penjualan Penjualan penerimaan/
Terjual (Rp/Ekor) Ternak Kotoran bulan (Rp)
(Ekor) (Rp/Bulan) (Rp/bulan)
Juli 70 2.500.000 175.000.000 500.000 175.500.000
Agustus 53 2.500.000 132.500.000 500.000 133.000.000
September 55 2.500.000 137.500.000 500.000 138.000.000
Oktober 65 2.500.000 162.500.000 500.000 163.000.000
November 54 2.500.000 135.000.000 500.000 135.500.000
Desember 57 2.500.000 142.500.000 500.000 143.000.000
Januari 66 2.500.000 165.000.000 500.000 165.500.000
Februari 52 2.500.000 130.000.000 500.000 130.500.000
Maret 56 2.500.000 140.000.000 500.000 140.500.000
April 63 2.500.000 157.500.000 500.000 158.000.000
Mei 2019 51 2.500.000 127.500.000 500.000 128.000.000
Juni 52 2.500.000 130.000.000 500.000 130.500.000
Total 694 30.000.000 1.735.000.00 6.000.000 1.741.000.000
Rataan 58 2.500.000 0 500.000 145.083.333
144583333,3