Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN STUDI KELAYAKAN USAHA TANAMAN CABAI MERAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Studi Kelayakan Agribisnis

Dosen Pengampu :
Dr. Tri Ratna Saridewi, S.Pi., M.Si.

Disusun oleh :
Ubaidillah Hamzah : 04.1.17.1005

PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN


JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN BOGOR
KEMENTERIAN PERTANIAN
2020
KATA PENGANTAR

Sembah sujud penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena anugerah


dan rahmat-Nya jualah sehingga Laporan Studi Kelayakan Usaha Tanaman Cabai
Merah penyusunan laporan ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin, yang
mana telah memakan waktu dan pengorbanan yang tak ternilai dari semua pihak
yang memberikan bantuannya, yang secara langsung merupakan suatu dorongan
yang positif bagi penulis ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam
menghimpun bahan untuk menyusun laporan ini.
Namun penulis menyadari bahwa laporan ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan, baik dari segi penyajian maupun dari segi bahasanya. Karena itu
saran dan kritik yang bersifat konstruktif senantiasa penulis harapkan demi untuk
melengkapi dan menyempurnakan laporan ini.

Tasikmalaya, Juni 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................ii

PENDAHULUAN.........................................................................................1

Latar Belakang...........................................................................................1

Tujuan.........................................................................................................3

TINJAUAN PUSTAKA................................................................................5

PEMBAHASAN...........................................................................................8

Aspek Sosial..............................................................................................8

Aspek Lingkungan.....................................................................................9

Analisis Finansial....................................................................................10

PENUTUP.................................................................................................18

Kesimpulan..............................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................19

ii
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pengembangan hortikultura merupakan salah satu aspek pembangunan
pertanian. Usaha meningkatkan produksi hortikultura pada tahun-tahun terakhir
ini cukup mendapat perhatian dari pemerintah. Hal ini tidak lepas dari potensi
pengembangan yang baik serta prospek pemasaran yang cukup cerah.
Luas tanah Kabupaten Tasikmalaya setelah pemekaran dengan Kota
Tasikmalaya adalah sebesar 270.882 ha yang dipergunakan sebagai lahan
pertanian dengan luas 190.450 ha.
Pemanfaatan lahan potensial secara optimal untuk meningkatkan usaha
hortikultura. Berbagai jenis komoditi sayuran, buah-buahan dan tanaman hias
yang memiliki prospek pasar perlu dikembangan secara intensif dengan
permintaan pasar yang paling menguntungkan. Diharapkan melalui usaha ini
dapat meningkatkan pendapatan, banyak menyerap tenanga kerja serta
perolehan devisa negara dapat ditingkatan.
Pada tahun 2015 sampai 2017 berdasarkan data BPS NTP hortikultura
selalu berada di atas angka 100 tertinggi kedua setelah subsektor peternakan.
Hal tersebut dapat diindikasikan bahwa adanya peningkatan pendapatan petani
dari hasil produksi yang lebih besar dari peningkatan pengeluaran kebutuhan
petani.
Tanaman cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang
memiliki nilai ekonomi yang penting di Indonesia. Usahatani tanaman hotikultura
di Indonesia memiliki prospek pengembangan yang sangat baik karena memiliki
nilai ekonomi yang tinggi serta potensi pasar yang terbuka lebar, baik dalam
negeri maupun di luar negeri.
Siklus kebutuhan cabai di Indonesia meningkat menjelang event tertentu,
seperti saat memasuki bulan ramadhan dan hari raya, sehingga permintaan
cabai yang tinggi diiringi dengan harga yang tinggi pula. Faktor lain yang
membuat harga cabai menjadi mahal disebabkan karena musim penghujan,
karena petani yang menanam cabai sedikit dan gagal panen karena serangan
hama penyakit tanaman. Akibatnya keberadaan cabai di pasaran menjadi langka
dan harga melonjak tajam. Selain itu, Indonesia merupakan negara tropis
sehingga tanaman cabai dapat dengan baik, pada tahun 1970an menjadi
pengekspor cabai kering. Sedangkan setelah memasuki tahun 1980an ekspor
cabai kering mengalami penurun.

3
Studi kelayakan usaha tanaman cabai penting untuk dilakukan tujuannya
untuk meminimalkan risiko yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat
dikendalikan, memudahkkan perencanaan, memudahkan pengawasan dan
memmudahkan pengendalian.

4
TINJAUAN PUSTAKA
Aspek finansial merupakan suatu gambaran yang bertujuan untuk menilai
kelayakan suatu usaha untuk dijalankan atau tidak dijalankan dengan melihat
dari beberapa indikator yaitu keuntungan.

Break Event Point (BEP) Analisis ini bertujuan untuk mengetahui sampai
batas mana usaha yang dilakukan dapat memberikan keuntungan atau pada
tingkat tidak rugi dan tidak untung. Estimasi ini digunakan dalam kaitannya
antara pendapatan dan biaya (Syarif, 2011).

Payback Period adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup


kembali pengeluaran investasi (initial cash investment) dengan menggunakan
aliran kas, yang bertujuan untuk mengetahui seberapa lama modal yang telah
ditanamkan dapat kembali dalam satuan waktu.

Net Present Value (NPV) merupakan ukuran yang digunakan untuk


mendapatkan hasil neto (net benefit) secara maksimal yang dapat dicapai
dengan investasi modal atau pengorbanan sumber-sumber lain. Analisis ini
bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh selama umur
ekonomi proyek.

Net Benefit/ Cost Ratio, perbandingan antara present value dari net
benefit positif dengan present value dari net benefit negatif. Analisis ini bertujuan
untuk mengetahui berapa besarnya keuntungan dibandingkan dengan
pengeluaran selama umur ekonomis proyek. Proyek dinyatakan layak
dilaksanakan jika nilai B/C rasio yang diperoleh lebih besar atau sama dengan
satu, dan merugi dan tidak layak dilakukan jika nilai B/C rasio yang diperoleh
lebih kecil dari satu.

IRR (Internal Rate of Return) merupakan tingkat suku bunga yang dapat
membuat besarnya nilai NPV dari suatu usaha sama dengan nol (0) atau yang
dapat membuat nilai Net B/C ratio sama dengan satu dalam jangka waktu
tertentu.

Tanaman cabai tergolong dalam famili terung-terungan (Solanaceae)


yang tumbuh sebagai perdu atau semak. Cabai termasuk tanaman semusim atau
berumur pendek. Menurut Haryanto, (2018), dalam sistematika tumbuh-
tumbuhan cabai diklasifikasikan sebagai berikut :

5
Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisio : Angiospermae

Classis : Dicotyledoneae

Ordo : Tubiflorae (Solanales)

Famili : Solanaceae

Genus : Capsicum

Spesies : Capsicum annuum L.

Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang


memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabai berasal dari benua Amerika tepatnya
daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia
termasuk negara Indonesia (Baharuddin, 2016).
Cabai memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya Kalori,
Protein, Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C. Selain
digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabai juga dapat digunakan untuk
keperluan industri diantaranya, Industri bumbu masakan, industri makanan dan
industri obat-obatan atau jamu. Cabai termasuk komoditas sayuran yang hemat
lahan karena untuk peningkatan produksinya lebih mengutamakan perbaikan
teknologi budidaya. Penanaman dan pemeliharaan cabai yang intensif dan
dilanjutkan dengan penggunaan teknologi pasca panen akan membuka lapangan
pekerjaan baru. Oleh karena itu, dibutuhkan tenaga kerja yang menguasai
teknologi dalam usaha tani cabai yang berwawasan agribisnis dan agroindustry
(Pratama et al., 2017).

Morplogi Tanaman Cabai Merah


Bagian-bagian utama tanaman cabai meliputi bagian akar, batang, daun, bunga
dan buah. Penjelasan bagian-bagian tersebut sebagai berikut ;
1. Akar
Tanaman cabai mempunyai akar tunggang yang terdiri atas akar utama
(primer) dan akar lateral (sekunder). Akar lateral mengeluarkan serabut-
serabut akar yang disebut akar tersier. Akar tersier menembus kedalaman

6
tanah sampai 50 cm dan melebar sampai 45 cm. Rata-rata panjang akar
primer antara 35 cm sampai 50 cm dan akar lateral sekitar 35 sampai 45 cm
(Pratama et al., 2017).
2. Batang
Batang cabai umumnya berwarna hijau tua, berkayu, bercabang lebar dengan
jumlah cabang yang banyak. Panjang batang berkisar antara 30 cm sampai
37,5 cm dengan diameter 1,5 cm sampai 3 cm. Jumlah cabangnya berkisar
antara 7 sampai 15 per tanaman. Panjang cabang sekitar 5 cm sampai 7 cm
dengan diameter 0,5 cm sampai 1 cm. Pada daerah percabangan terdapat
tangkai daun. Ukuran tangkai daun ini sangat pendek yakni hanya 2 cm
sampai 5 cm (Pratama et al., 2017).
3. Daun
Daun cabai merupakan daun tunggal berwarna hijau sampai hijau tua dengan
helai daun yang bervariasi bentuknya antara lain deltoid, ovate atau 7
lanceolate (IPGRI, 1995). Daun muncul di tunas-tunas samping yang
berurutan di batang utama yang tersusun sepiral (Pratama et al., 2017).
4. Bunga
Bunga cabai merupakan bunga tunggal dan muncul di bagian ujung ruas
tunas, mahkota bunga berwarna putih, kuning muda, kuning, ungu dengan
dasar putih, putih dengan dasar ungu, atau ungu tergantung dari varietas.
Bunga cabai berbentuk seperti bintang dengan kelopak seperti lonceng. Alat
kelamin jantan dan betina terletak di satu bunga sehingga tergolong bunga
sempurna. Posisi bunga cabai ada yang menggantung, horizontal, dan tegak
(Pratama et al., 2017).
5. Buah
Buah cabai memiliki plasenta sebagai tempat melekatnya biji. Plasenta ini
terdapat pada bagian dalam buah. Pada umumnya daging buah cabai renyah
dan ada pula yang lunak. Ukuran buah cabai beragam, mulai dari pendek
sampai panjang dengan ujung tumpul atau runcing (Pratama et al., 2017).

7
PEMBAHASAN
Aspek Sosial
Analisis dampak dari aspek sosial dengan adanya usaha terhadap
kesempatan kerja atau pengangguran, peningkatan pendapatan masyarakat,
dan pengaruh kegiatan usaha pada budaya masyarakat sekitar.
1. Tersedianya Kesempatan Lapangan Pekerjaan
Berdasarkan data BPS tentang keadaan ketenagakerjaan di Jawa Barat 2019
sebanyak 1,9 juta orang belum mendapat pekerjaan. Usahatani cabai merah
ini berpengaruh pada ketersediaan kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar,
dengan adanya usahatani cabai salah satu lapangan pekerjaan bagi
masyarakat di Kecamatan Sukahening Kabupaten Tasikmalaya. Diharapkan
kedepannya dengan semakin banyaknya masyarakat/petani yang melakukan
usahatani cabai merah ini, maka kesempatan kerja bagi masyarakat akan
semakin terbuka didukung dengan tingkat pendidikan yang baik dan usia
petani yang produktif.
2. Peningkatan Pendapatan
Pengaruh usahatani cabai merah terhadap pendapatan cukup signifikan,
karena pendapatan budidaya cabai saat ini masih sangat tinggi sehingga
peningkatan pendapatan terhadap petani cabai merah cukup banyak. Bahkan
usahatani ini menjadi salah satu sumber peningkatan ekonomi keluarga petani
di Kecamatan Sukahening Kabupaten Tasikmalaya.
3. Pengaruh Terhadap Budaya
Pengaruh usahatani terhadap perubahan kebiasaan masyarakat/petani relatif
tidak ada pengaruh yang signifikan karena kegiatan budidaya cabai tidak
mengganggu atau merubah pada budaya sekitarnya, karena mata
pencaharian pada umumnya sebagai petani. Sejauh ini pengaruhnya hanya
terjadi pada daya beli petani cabai merah yang meningkat, yang disebabkan
peningkatan pendapatan dari hasil usahatani cabai merah.

Pajak usahatani cabai merah sesuai dengan putusan Mahkamah Agung


Nomor 70P/HUM/2013 yaitu barang hasil pertanian berupa buah-buahan dan
sayur-sayuran sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Pemerintah
Nomor 31 Tahun 2007 termasuk barang yang tidak dikenakan PPN (Bukan
Barang Kena Pajak) sesuai Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang PPN
sehingga atas penyerahan, impor, maupun ekspornya tidak dikenakan PPN.

8
Aspek Lingkungan
Wilayah Kabupaten Tasikmalaya memiliki ketinggian berkisar antara 0-
2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Secara umum wilayah tersebut dapat
dibedakan menurut ketinggiannya, yaitu: bagian utara merupakan wilayah
dataran tinggi dengan ketinggian berkisar antara 1.000 – 2.500 mdpl dan bagian
selatan merupakan wilayah dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 0
– 100 meter dpl (BPS Kabupaten Tasikmalaya, 2016). Iklim Kabupaten
Tasikmalaya wilayah dataran tinggi cocok untuk budidaya cabai merah karena
memenuhi persyaratan tumbuh tanaman cabai merah.
Analisis dampak usaha terhadap lingkungan di sekitamya, baik terhadap
tanah, air, dan udara yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat di
sekitarnya. Aspek lingkungan umumnya berhubungan dengan adanya
pencemaran atau tidak terhadap lingkungan sekitar lokasi usaha yang berasal
dari limbah usaha.

1. Tanah
Kegiatan budidaya cabai merah tidak akan merusak tanah karena pengolahan
tanah dikelola dengan tetap menjaga keseimbangan didalam tanah. Unsur
hara yang tersedia dalam tanah akan berkurang sehingga membutuhkan
pupuk untuk mensuplai kebutuhan hara pada tanah untuk memenuhi
kebutuhan pada tanaman cabai merah. Usahatani cabai merah dapat
meningkatkan kesuburan tanah setelah panen cabai bila dirotasi dengan
komoditas alternatif lain.
2. Air
Sumber air yang akan digunakan berasal dari pegunungan. Dampak terhadap
air yang disebabkan oleh kegiatan usahatani cabai merah sangat sedikit
karena minimnya limbah dari hasil usahatani yang dapat mencemair sanitasi
air serta tidak mengurangi ketersediaan air yang ada disekitar lahan
usahatani.
3. Udara
Dampak negatif usahatani cabai terhadap udara sekitar relatif tidak ada
karena proses budidaya tidak menyebabkan polusi udara bagi lingkungan.

Aspek Lingkungan akan menciptakan dampak negatif apabila terjadi


ketidakseimbangan ekosistem yang disebabkan oleh kegiatan pertanian
disengaja maupun tidak disengaja. Usaha agribisnis dapat menghasilkan limbah,

9
namun perlu adanya pengelolaan yang baik sebagai upaya pencegahan dampak
negatif bagi lingkungan yaitu dengan menerapkan pedoman dalam budidaya
pertanian GAP (Good Agricultural Practices), penerapan sistem pertanian
terpadu dan lainnya.
Analisis Finansial

Sumber Modal

No. Komponen (Rp) Proporsi (%) Total (Rp)


1. Modal sendiri 23.097.600 30% .23.097.600
2. Modal pinjaman 53.894.400 70% 53.894.400
Jumlah (Rp) 76.992.000
Modal usaha budidaya tanaman cabai merah sebesar Rp.76.992.000 dengan
sumber 30% modal sendiri dan 70%modal pinjaman dari bank. nilai modal untuk
waktu 5 tahun mendatang dengan tingkat bunga 20% yaitu

Future Value = P (1+i)ⁿ

Keterangan :

p (present value)

i (interest rate)

n (periode waktu)

Tahun Present Value Fc Future velue


1. Rp.76.992.000 1,2
92.390.400
2. Rp.76.992.000 1,44
110.868.480
3. Rp.76.992.000 1,728
133.042.176
4. Rp.76.992.000 2,0736
159.650.611,2
5. Rp.76.992.000 2.48832 191.580.733,4

Nilai Modal Sendiri

Tahun Present Value Fc Future velue


1. Rp.23.097.600 1,2
27717120
2. Rp.23.097.600 1,44
33260544

10
3. Rp.23.097.600 1,728
39912652,8
4. Rp.23.097.600 2,0736
47895183,36
5. Rp.23.097.600 2.48832 57.474.220,03

Nilai Modal Pinjaman

Tahun Present Value Fc Future velue


1. Rp.53.894.400 1,2
64.673.280
2. Rp.53.894.400 1,44
77.607.936
3. Rp.53.894.400 1,728
93.129.523,2
4. Rp.53.894.400 2,0736
111.755.427,8
5. Rp.53.894.400 2.48832 134.106.513,40

Jadwal Pelunasan Pinjaman


Peminjaman modal sebanyak Rp. 53.894.400 dengan bunga bank 7% sehingga
uang yang harus dikembalikan sebesar : Future Value = P (1+i)ⁿ

= Rp.53.894.400 (1+7%)⁵
= Rp.53.894.400 (1,4025517307)
=75.589.684
Metode Flate Rate

Saldo Akhir
Th Saldo Awal Cicilan (Rp)
(Rp)
Ke (Rp)
Pokok Bunga Total
1. 53.894.400 10.778.880 3.772.608 14.551.488 43.115.520

2. 43.115.520 10.778.880 3.772.608 14.551.488 32.336.640

3 32.336.640 10.778.880 3.772.608 14.551.488 21.557.760

4 21.557.760 10.778.880 3.772.608 14.551.488 10.778.880

5 10.778.880 10.778.880 3.772.608 14.551.488 0

Jumlah (Rp) 53.894.400 18.863.040 72.757.440 -


Metode Sliding Rate

11
Th Saldo Awal Cicilan (Rp) Saldo Akhir
Ke (Rp) Pokok Bunga Total (Rp)
1. 53.894.400 10.778.880 10.778.880 21.557.760 43.115.520

2. 43.115.520 10.778.880 8.623.104 19.401.984 32.336.640

3 32.336.640 10.778.880 6.467.328 17.246.208 21.557.760

4 21.557.760 10.778.880 4.311.552 15.090.432 10.778.880

5 10.778.880 10.778.880 2.155.7776 32.336.656 0


105.633.04
Jumlah (Rp) 53.894.400 51.738.640
0 -

Modal Investasi

No Komponen Jumlah Harga Satuan Jumlah


(Rp) (Rp)
1. Tanah 10.000m² - 10.000.000

2. Selang 200m 140.000 140.000

3. Drum 2 buah 125.000 250.000

4. Gembor 2 buah 50.000 100.000

5. Speayer 2 buah 400.000 800.000

6. Sepatu bot 5 buah 65.000 325.000

7. Cangkul 5 buah 70.000 350.000

8. Kultivator 1 buah 22.000.000 22.000.000

9. Bambu ajir 45 batang 10.000 450.000

10. Perizinan, dll 3.500.0000 3.500.0000

Jumlah 37.915.000
Modal Kerja

No Komponen Jumlah Harga Satuan Jumlah


Kebutuhan (Rp) (RP)
1. Tenaga Kerja - - 7.780.000

2. Benih 22 pack 140.000 3.080.000

3. Pupuk kompos 10 Karung 20.000 200.000

4. Pupuk kandang 1000 karung 12.000 12.000.000

12
5. Sekam bakar 5 Karung 15.000 75.000

6. Pupuk NPK 500 kg 11.000 5.500.000

7. Tali majun 25kg 13 000 325.000

8. Mulsa MPHP 12 roll 350.000 4.200.000

9. Pestisida 10 botol 80.000 2.305.000


3 bungkus 35.000
10 bungkus 140.000
10. Tray 22 tray 14.000 3.612.000

Jumlah 39.077.000
TOTAL INPUT (Cost)

 Sarana Produksi

No Faktor Produksi Jumlah Harga Satuan Jumlah


Satuan (Rp) (Rp)
1. Benih 22 pack 140.000 3.080.000

2. Pupuk kompos 10 Karung 20.000 200.000

3. Pupuk kandang 1000 karung 12.000 12.000.000

4. Sekam bakar 5 Karung 15.000 75.000

5. Pupuk NPK 500 kg 11.000 5.500.000

6. Tali majun 25kg 13 000 325.000

7. Mulsa MPHP 12 roll 350.000 4.200.000

8. Pestisida
- Curacron 10 botol - 80.000 2.305.000
- Furadan 3 bungkus - 35.000
- Antracol 10 bungkus - 140.000
9. Tray 258 tray 14.000 3.612.000

Jumlah 31.297.000

 Tenaga Kerja

No Kegiatan HKP/HKW Jumlah Jumlah


(Rp) Satuan
1. Pengolahan tanah 4 HKP 60.000
240000
2. Penanaman 20 HKW 40.000
800000

13
3. Pelubangan mulsa 2 HKP 60.000
120000
4. Pemasangan ajir 15 HKP 60.000
900000
5. Pengikatan ajir 10 HKW 40.000
400000
6. Penyulaman 10 HKW 40.000
400000
7. Penyiangan 10 HKW 40.000
400000
8. Pemangkasan 8 HKW 40.000
320000
9. Pemupukan susulan 30 HKP 60.000
1800000
10. Pengendalian OPT 40 HKP 60.000
2400000
Jumlah 7.780.000
Input Tetap

No Komponen Jumlah Harga Jumlah JUE Jumlah


Satuan (Rp) (Thn) Penyusutan
(Rp) MT
1. Selang 200m 140.000 140.000 3 14.000

2. Drum 2 buah 125.000 250.000 3 25.000

3. Gembor 2 buah 50.000 100.000 3 10.000

4. Speayer 2 buah 400.000 800.000 5 48.000

5. Sepatu bot 5 buah 65.000 325.000 3 32.500

6. Cangkul 5 buah 70.000 350.000 5 21.000

7. Kultivator 1 buah 22.000.000 22.000.000 5 1.320.000

8. Bambu ajir 45 batang 10.000 450.000 1 135.000

Jumlah 34.415.000 1.605.500


Biaya Total = Biaya Variabel+Biaya Tetap (Penyusutan+Sewa Lahan)

= Rp.50.682.500

Penerimaan (Revenue)

(Populasi x berat per pohon) x Rp.20.000

(27.000 x 0,5) x Rp.20.000

= Rp.270.000.000

14
Arus Kas (Cash Flow)

Uraian Tahun Ke (Rp)


1 2 3 4 5
Arus Kas
Masuk
(Cash
Inflow) - - - -
- Modal 23.097.600 - - - -
Sendiri
- Modal 53.894.400
Pinjaman
- Penjualan 270.000.000 270.000.000 270.000.000 270.000.000 270.000.000
- Penyusutan 1.605.500 1.605.500 1.605.500 1.605.500 1.605.500
- Amortisasi 700.000 700.000 700.000 700.000 700.000
Jumlah 349.297.500 272.305.500 272.305.500 272.305.500 272.305.500
Arus kas
keluar
(Cash Out) 140.000 - - 140.000 -
- Selang 250.000 - - 250.000 -
- Drum 100.000 - - 100.000 -
- Gembor 800.000 - - - -
- Spreayer 325.000 - - 325.000 -
- Sepatu bot 350.000 - - - -
- Cangkul 450.000 450.000 450.000 450.000 450.000
- Bambu
Biaya Tetap
Bunga 3.601.108 3.601.108 3.601.108 3.601.108 3.601.108
Pinjaman 10.288.880 10.288.880 10.288.880 10.288.880 10.288.880
Cicilan pokok 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000
Kultivator 22.000.000 - - - -
Sewa Lahan
Biaya
Variabel 3.080.000 3.080.000 3.080.000 3.080.000 3.080.000
- Benih 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000
- Pupuk
kompos 12.000.000 12.000.000 12.000.000 12.000.000 12.000.000
- Pupuk
kandang 75.000 75.000 75.000 75.000 75.000
- Sekam
bakar 5.500.000 5.500.000 5.500.000 5.500.000 5.500.000
- Pupuk NPK 325.000 325.000 325.000 325.000 325.000
- Tali majun 2.305.000 2.305.000 2.305.000 2.305.000 2.305.000
- Pestisida 3.612.000 3.612.000 3.612.000 3.612.000 3.612.000
- Tray 7.780.000 7.780.000 7.780.000 7.780.000 7.780.000

15
- TK
Jumlah
82.791.988 59.216.988 59.216.988 60.031.988 59.216.988
Arus Kas
Bersih (1-2) 266.505.512 213.088.512 213.088.512 212.273.512 213.088.512
Kas Awal
0 266.505.512 479.594.024 692.682.536 904.956.048
Kas Akhir
(3+4) 266.505.512 479.594.024 692.682.536 904.956.048 1.118.044.560

Penerimaan ¿
R/C : =Rp .270 .000 .000 ,− ¿
Biaya Total Rp . 50.682.500−¿=5,3 ¿

Artinya setiap menginvestasikan Rp.1,00 akan menghasilakan penerimaan Rp.


5,32 atau setiap pengeluaran Rp.1,00 mendapatkan keuntungan Rp.4,3
sehingga layak untuk diusahakan.

Break Even Point (BEP)

a. BEP (dalam, ribuan Rp) = Biaya Tetap : 1 – Biaya Variabel

Penjualan

= Rp.11.605.500 : 1 – Rp.39.077.000

Rp.270.000.000

= Rp. 13.569.393,26

b. BEP (dalam kg) = Biaya Tetap

Harga Satuan – (Biaya variabel x Harga Satuan)

Penjualan

= Rp.11.605.500

Rp.12.000– (Rp. 39.077.000 x Rp.12.000)

Rp.270.000.000

= 1.130,78 kg

16
Payback Periode
Commulative
Th Net Cash
Cash Out Cash In Net Cash
. Flow
Flow
Ke (Rp) (Rp)
(Rp)
(Rp)

0. 37.915.000 - (-37.915.000)

1. 82.791.988 349.297.500 266.505.512 228.590.512


2. 59.216.988 272.305.500 213.088.512 -

3. 59.216.988 272.305.500 213.088.512 -

4. 60.031.988 272.305.500 212.273.512 -

5. 59.216.988 272.305.500 213.088.512 -

17
Analisis NPV, B/C dan IRR Usaha Budidaya Tanaman Cabai
Th ke Pengeluaran Biaya (Rp) Penerimaan Penerimaan DF PV Biaya PV PV Penerimaan DF PV Penerimaan
(Revenue bersih Penerimaan . Bersih Bersih

Investasi Operasional Total 7% 7% 7% 7% 505% 505%


1 2 3 (4=2+3)) 5 (6=5-4) 7 (8=4x7) (9=5x7) (10=6x7 or 9-8) 11 (12=6x11)
0 37.915.000 0 37915000 0 -37915000 1 37915000 0 -37915000 1 -37915000
1 0 82791988 82791988 270000000 187208012 0,934579439 77375689,72 252336448,6 174960758,9 0,165289256 30943473,06
2 0 59216988 59216988 270000000 210783012 0,873438728 51722410,69 235828456,6 184106045,9 0,027320538 5758705,334
3 0 59216988 59216988 270000000 210783012 0,816297877 48338701,58 220400426,8 172061725,2 0,004515791 951852,1214
4 0 60031988 60031988 270000000 209968012 0,762895212 45798116,21 205981707,3 160183591 0,000746412 156722,6035
5 0 59216988 59216988 270000000 210783012 0,712986179 42220894,03 192506268,5 150285374,4 0,000123374 26005,11226
Jumlah 303370812,2 1107053308 803682495,5 Jumlah -78241,77065

Gross B/C 7%: 3,649175409

Net B/C 7% : 22,19695359

IRR : 504,913554

NPV 7% : 803.682.495,4655

NPV 505% : -78.241,77065

18
PENUTUP
Kesimpulan
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa perusahaan usaha
tanaman cabai merah layak diusahakan karena dilihat beberapa uji
kelayakan usaha diantaranya :
- R/V nya senilai 5,3 yaitu setiap 1 rupiah yang dikeluarkan maka akan
menghasilkan pendapatan sebesar 5,3 atau mendapatkan keuntungan
sebesar 4,3 rupiah maka usaha tersebut layak di usahakan.
- Hasil analisa tabel B/C yang diperoleh dalam usaha tanaman cabai
merah yaitu sebesar 3,6 Hal tersebut berarti usaha dikatakan layak
karena nilai B/C diatas 1.
- Hasil analisa tabel NPV 7% yang diperoleh dalam usaha tanaman
cabai merah yaitu sebesar 803.682.495,46 bernilai positif. Hal ini
berarti apabila dalam usaha tanaman cabai merah ingin meminjam
modal usaha dengan bunga bank yang ditawarkan sebesar 7% maka
usaha tanaman cabai merah masih menguntungkan karna NPV
bernilai positif, maka dari itu usaha tersebut layak untuk di usahakan.
- Nilai IRR nya yaitu sebesar 504,91% lebih besar daripada 7% suku
bunga bank jadi perusahaan tersebut layak untuk di jalankan.

19
DAFTAR PUSTAKA
https://www.wartaekonomi.co.id/read248609/meneropong-kontribusi-subsektor-
hortikultura-di-indonesia. Diakses : 3 Mei 2020
https://www.sarno.id/2019/10/aspek-ekonomi-dan-sosial-dalam-studi-kelayakan-
bisnis/. Diakses : 3 Mei 2020

Kumawari Lisda, Dedi H dan Tito H. Analisis Saluran Pemasaran Cabai Merah
Varietas Tanjung 2. Fakultas Pertanian Universitas Galuh.

Pertiwi, Q. D., Hartadi, R., & Mustapit, M. (2014). Analisis Finansial dan
Keberlanjutan Agribisnis Pepaya (Carica Papaya L.) di Desa
Ledokombo Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember. Berkala Ilmiah
Agridevina, 3(2), 123-143.

Sumber : http://eprints.umm.ac.id/43172/3/BAB%20II.pdf. Diunduh 10 Mei 2020


Sumber : http://digilib.unila.ac.id/4304/15/BAB%20II.pdf. Diunduh 10 Mei 2020

20