Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS DIRUMAH, POSYANDU,


POLINDES DENGAN FOKUS PADA POST PARTUM DIRUMAH
(ASUHAN IBU POST PARTUM, JADWAL KUNJUNGAN,
MANAJEMEN IBU POST PARTUM, POST PARTUM GROUP)
MATA KULIAH : KEBIDANAN KOMUNITAS

KELOMPOK VI

ERNI
SALMIATI

STIKES MARENDENG MAJENE


TAHUN AKADEMIK 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi kesehatan
jasmani dan rohani sehingga kita masih tetap bisa menikmati indahnya alam
ciptaannya.Sholawat dan salam tetaplah kita curahkan kepada baginda Nabi Muhammad
SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama yang
sempurna dengan bahasa yang sangat indah .

Penulis disini akhirnya dapat merasakan sangat bersyukur karena telah menyelesaikan tugas
kami yang berjudul ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS DIRUMAH, POSYANDU,
POLINDES DENGAN FOKUS POST PARTUM DIRUMAH :

1. ASUHAN IBU POST PARTUM


2. JADWAL KUNJUNGAN
3. MANAJEMEN IBU POST PARTUM
4. POST PARTUM GROUP
sebagai mata kuliah KEBIDANAN KOMUNITAS oleh dosen pembimbing
Raehan.S.ST.M.Keb

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga terselesaikannya tugas ini.Dan kami memahami jika tugas ini tentu jauh dari
kesempurnaan maka kritik dan saran sangat kami butuhkan guna memperbaiki karya-karya
kami di waktu-waku mendatang.

Majene, 29 Juni 2020

                                                                                                 Penulis 
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..........................................................................................................


Daftar Isi ....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.....................................................................................................
B. Rumusan Masalah................................................................................................
C. Tujuan...................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN (ASUHAN IBU POST PARTUM DIRUMAH)
A. Jadwal Kunjungan Dirumah..................................................................................
B. Manajemen Ibu Post Partum.................................................................................
C. Post Partum Group................................................................................................
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN.....................................................................................................
B. SARAN..................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pelayanan Nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam
sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. Masa nifas dimulai setelah
plesenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu lamanya. Dalam
masa nifas ini, bidan mempunyai peran dan tanggung jawab untuk mendeteksi
komplikasi pada ibu untuk melihat perlu atau tidaknya rujukan, memberikan
konseling kepada ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan,
mengenali tanda-tanda bahaya, memfasilitasi hubungan dan ikatan batin antara ibu
dan bayinya, memulai dan mendorong pemberian ASI.

Bidan di komunitas dapat memberikan asuhan kebidanan selama masa nifas melalui
kunjungan rumah, yang dapat dilakukan pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu
keenam setelah persalinan, untuk membantu ibu dalam proses pemulihan ibu dan
memperhatikan kondisi bayi terutama penanganan tali pusat atau rujukan komplikasi
yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan mengenai
masalah kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan
bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.

B. RUMUSAN MASALAH

Asuhan ibu post partum dirumah :

1. Pengertian Jadwal kunjungan dirumah?

2. Pengertian Manajemen ibu post partum

3. Pengertian Post partum group

C. MANFAAT

Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui Asuhan Ibu Post Partum
Dirumah :

1. Untuk mengetahui pengertian jadwal kunjungan dirumah

2. Untuk mengetahui pengetian ibu post partum

3. Untuk mengetahui pengetian post partum group


BAB II
PEMBHASAN

A. DEFENISI
Asuhan ibu postpartum adalah suatu bentuk manajemen kesehatan yang
dilakukan pada ibu nifas dimasyarakat. Pemberian asuhan secara menyeluruh, tidak
hanya kepada ibu nifas, akan tetapi pemberian asuhan melibatkan seluruh keluarga
dan anggota masyarakat disekitaranya
B. Jadwal Kunjungan Dirumah
Ibu nifas sebaiknya paling sedikit melakukan 4 kali kunjungan masa nifas
dilakukan untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah,
mendeteksi dan menangani masalah–masalah yang terjadi. Dimana hal ini dilakukan
untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik,
melaksanakan skirining yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau
merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya, memberikan pendidikan
kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui,
pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat, serta memberikan
pelayanan keluarga berencana (Prawirohardjo, 2002).
Asuhan post partum di rumah difokuskan pada pengkajian, penyuluhan dan
konseling. Dalam memberikan asuhan kebidanan di rumah bidan dan keluarga
diupayakan dapat berinteraksi dalam suasana yang respek dan kekeluargaan.

Jadwal kunjungan rumah paling sedikit dilakukan 4x, yaitu diantaranya :


1) Kunjungan 1 (6-8 jam setelah persalinan)
Kunjungan pertama dilakukan setelah 6-8 jam setelah persalinan, jika memang
ibu melahirkan dirumahnya. Kunjungan dilakukan karena untuk jam-jam
pertama pasca salin keadaan ibu masih rawan dan perlu mendapatkan perawatan
serta perhatian ekstra dari bidan, karena 60% ibu meninggal pada saat masa
nifas dan 50% meninggal pada saat 24 jam pasca salin.
Adapun tujuan dari dilakukan kunjungan tersebut ialah :
a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
b. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
c. Pemberi ASI awal : bidan mendorong pasien untuk memberikan ASI
d. secara ekslusif, cara menyusui yag baik, mencegah nyeri puting dan
e. perawatan puting (Meilani, 2009: 54)
f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
g. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk jika perdarahan
berlanjut.
h. Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu
dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu
dan bayi dalam keadaan stabil .
i. Perdarahan : bidan mengkaji warna dan banyaknya/ jumlah yang
semestinya, adakah tanda-tanda perdarahan yang berlebihan, yaitu nadi
cepat dan suhu naik, uterus tidak keras dan TFU menaik.
j. Involusi uterus : bidan mengkaji involusi uterus dan beri penjelasan ke
pasien mengenai involusi uterus.
k. Pembahasan tentang kelahiran, kaji perasaan ibu.
l. Bidan mendorong ibu untuk memperkuat ikatan batin antara ibu dan bayi
(keluarga), pentingnya sentuhan fisik, komunikasi dan rangsangan.
m. Bidan memberikan penyuluhan tentang tanda-tanda bahaya baik bagi ibu
maupun bayi dan rencana menghadai kegawat daruratan (Meilani, 2009:
54).
2) Kunjungan 2 (6 hari setelah persalinan)
Kunjungan kedua dilakukan setelah enam hari pasca salin dimana ibu sudah
bisa melakukan aktivitasnya sehari-hari seperti sedia kala.
Tujuan dari dilakukannya kunjungan yang kedua yaitu :
a. Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus
dibawah umbikalis, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
b. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-
tanda penyulit.
c. Memberikan konseling pada ibu mengenai seluruh asuhan pada bayi, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari .
d. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
e. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
(Ambarwati, 2010).
f. Diet : makanan seimbang, banyak mengandung protein, serat dan air
sebanyak 8-10 gelas per hari untuk mencegah konstipasi kebutuhan kalori
untuk laktasi, zat besi, vitamin A.
g. Kebersihan/ perawatan diri sendiri, terutama putting susu dan perineum.
h. Senam kegel serta senam perut yang ringan tergantung pada kondisi ibu.
i. Kebutuhan akan istirahat : cukup tidur.
j. Bidan mengkaji adanya tanda-tanda post partum blues.
k. Keluarga berencana melanjutkan hubungan seksual setelah selesai masa
nifas.
l. Tanda-tanda bahaya : kapan dan bagaimana menghubungi bidan jika ada
tanda-tanda bahaya,
m. Perjanjian untuk pertemuan berikutnya (Meilani, 2009: 54).
3) Kunjungan 3 ( 2-4 minggu setelah persalinan)
Kunjungan ke tiga dilakukan setelah 2 minggu pasca dimana untuk teknis
pemeriksaannya sama persis dengan pemeriksaan pada kunjungan yang kedua.
Untuk lebih jelasnya tujuan daripada kunjungan yang ketiga yaitu :
a. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
(Ambarwati, 2010).
b. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
c. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-
tanda penyulit
a. Memberikan konseling pada ibu mengenai seluruh asuhan pada bayi, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari .
b. Gizi : zat besi/ folat, makanan yang bergizi
c. Menentukan dan menyediakan metode dan alat KB
d. Senam : rencana senam lebih kuat dan menyeluruh setelah otot abdomen
kembali normal
e. Keterampilan membesarkan dan membina anak
f. Rencana untuk asuhan selanjutnya bagi ibu
g. Rencana untuk chek-up bayi serta imunisasi (Meilani, 2009: 54-55).
4) Kunjungan 4 (4-6 minggu setelah persalinan)
Untuk kunjungan yang ke empat lebih difokuskan pada penyulit dan juga
keadaan laktasinya. Lebih jelasnya tujuan dari kunjungan ke empat yaitu :
a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau ibu hadapi
b. Tali pusat harus tetap kencang
c. Perhatikan kondisi umum bayi (Ambarwati, 2009: 88).
d. Memberikan konseling mengenai imunisasi, senam nifas serta KB secara
dini .
Tindakan yang baik untuk asuhan masa nifas normal pada ibu di rumah yaitu:
1. Kebersihan Diri
a. Menganjurkan kebersihan seluruh tubuh.
b. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan
air. Pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva
terlebih dahulu dari depan ke belakang baru kemudian membersihkan daerah
sekitar anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan diri setiap kali selesai
buang air kecil atau besar.
c. Menyarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya
dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan
dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.
d. Menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
e. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk
menghindari menyentuh daerah luka.
2. Istirahat
a. Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang
berlebihan.
b. Menyarankan ibu untuk kembali ke kegiatan-kagiatan rumah tangga biasa
secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi
tidur.
c. Menjelaskan kepada ibu bahwa kurang istirahat akan mempengaruhi ibu
dalam berbagai hal :
1. Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
2. Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
3. Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan
dirinya sendiri
3. Latihan
a. Mendiskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul
kembali normal. Ibu akan merasakan lebih kuat dan ini menyebabkan otot
perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.
b. Menjelaskan bahwa latihan-latihan tertentu beberapa menit setiap hari dapat
membantu mempercepat mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali
normal, seperti:
1) Tidur telentang dengan lengan di samping, menarik otot perut selagi
menarik nafas, tahan nafas ke dalam dan angkat dagu ke dada, tahan satu
hitungan sampai lima. Rileks dan ulangi 10 kali.
2) Untuk memperkuat otot vagina, berdiri dengan tungkai dirapatkan.
Kencangkan otot-otot pantat dan dan panggul tahan sampai 5 kali
hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan sebsnyak 5 kali.
3) Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap
minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke-6
setelah persalinan ibu harus mengerjakan latihan sebanyak 30 kali.
4. Gizi
Pendidikan untuk Ibu menyusui harus:
a. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari
b. Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan
vitamin yang cukup.
c. Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap
kali menyusui)
d. Tablet zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama
40 hari pasca bersalin.
e. Minum kapsul vit. A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A
kepada bayinya melalui ASInya.
5. Perawatan Payudara
Perawatan payudara untuk ibu postpartum dirumah yaitu :
a. Menjaga payudara tetap bersih dan kering.
b. Mengenakan BH yang menyokong payudara.
c. Apabila putting susu lecet oleskan colostrum atau ASI yang keluar pada
sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan
dari putting susu yang tidak lecet.
d. Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI
dikeluarkan dan diminumkan dengan sendok.
e. Apabila payudara bengkak akibat bendungan ASI, lakukan:
1) Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hanagat
selama 5 menit.
2) Urut payudara dari arah pangkal menuju putting atau gunakan sisir
untuk mengurut payudara dengan arah “Z” menuju putting.
3) Keluarkan ASI sebagian dari nagian depan payudara sehingga putting
susu menjadi lunak.
4) Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali. Apabila tidak dapat menghisap
seluruh ASI keluakan dengan tangan.
5) Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
6) Payudara dikeringkan.
6. Hubungan Perkawinan atau Rumah Tangga
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah
berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa
rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan tidak merasakan ketidaknyamanan,
aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap. Banyak
budaya mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu
tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan
tergantung pada pasangan yang bersangkutan.
7. Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu
hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana
mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan
dapat membantu merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka
cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Biasanya wanita tidak
menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama
menyusui. Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid
pertamakembali
Untuk mencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko cara ini adalah 2%
kehamilan. Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, menggunakan
kontrasepsi tetap lebih aman, terutama apabila ibu telah haid lagi.
Sebelum menggunakan metode KB hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan
dahulu kepada ibu:
a. Bagaiman metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektifitasnya
b. Kelebihan/ keuntungan
c. Kekurangannya
d. Efek samping
e. Bagaimana menggunakan metode ini.
f. Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk wanita pasca salin yang
menyusui
Jika seorang ibu telah memiliki metode KB tertentu, ada baiknya untuk
bertemu dengannya lagi 2 minggu utuk mengetahui apakah ada yang ingin
ditanyakan oleh ibu/ pasangan itu dan melihat apakah metode tersebut bekerja
baik.
C. Manajemen Post Partum
1. Defenisi
Asuhan ibu postpartum adalah asuhan yang diberikan pada ibu segera setelah
kelahiran, sampai 6 minggu setelah kelahiran.
2. Tujuan
Adapun tujuannya yaitu untuk memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar
pada ibu segera setelah melahirkan dengan memperhatikan riwayat selama
kehamilan dalam persalinan dan keadaan segera setelah melahirkan agar
terlaksananya asuhan segera/ rutin pada ibu post partum termasuk melakukan
pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan ibu,
mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial, tindakan segera serta
merencanakan asuhan.
Manajemen ibu postpartum antara lain :
1. Pengkajian/ Pengumpulan data
Didasarkan pada data subjektif daan juga Objektif. Data subjektif yaitu data
yang didapatkan langsung daari pasien atau Pasien atau keluarganya langsung
yang berbicara. Sedangkan data Objektif adalah data yang dihasilkan dari hasil
pemeriksaan bidan atau tenaga kesehatan.
a. Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang dibutuhkan
untuk mengevaluasi keadaan ibu.
b. Melakukan pemeriksaan awal post partum.
c. Meninjau catatan/ record pasien, seperti :
1) Catatan perkembangan antepartum dan intra partum
2) Berapa lama (jam/ hari) pasien post partum
3) Keadaan suhu, nadi, respirasi dan Tekanan Darah postpartum
4) Pemeriksaan laboratorium & laporan pemeriksaan tambahan
5) Catatan obat-obat
6) Catatan bidan/ perawat
d. Menanyakan riwayat kesehatan & keluhan ibu,seperti :
1) Mobilisasi
2) BAK dan BAB
3) Keadaan Nafsu makan
4) Ketidaknyamana/ rasa sakit
5) Kekhawatiran
6) Makanan bayi
7) Reaksi pada bayi
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi :
a. Tekanan Darah, Suhu, nadi
b. Kepala, wajah, mulut dan Tenggorokan, jika diperlukan
c. Payudara & putting susu
d. Auskultasi paru2, jika diperlukan
e. Abdomen yang di lihat adalah kandung kencing, keadaan uterus
(perkembangannya)
f. Lochea yang dilihat adalah warna, jumlah dan bau
g. Perineum : edema, inflamasi, hematoma, pus, bekas luka episiotomi/robek,
jahitan, memar,hemorrhoid (wasir/ambeien).
h. Ekstremitas : varises, betis apakah lemah dan panas,edema, reflek.
2. Menginterpretasikan Data.
Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah adalah diagnosa
berdasarkan interpretasi yangg benar atas data yg telah dikumpulkan. Diagnosa,
masalah dan kebutuhan ibu postpartum tergantung dari hasil pengkajian
terhadap ibu
3. Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan
terjadi berdasarkan masalah atau diagnosa yang sudah diidentifikasi dan
merencanakan antisipasi tindakan. Contoh :
Diagnosa : Bendungan Payudara
Masalah potensial : Mastitis
Antisipasi Tindakan : kompres hangat payudara
4. Menetapkan Tindakan Segera
Mengidentifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau
dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota
tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi pasien.
Contoh :
a. Ibu kejang, segera lakukan tindakan segera untuk mengatasi kejang dan
segera berkolaborasi merujuk ibu untuk perawatan selanjutnya.
b. Ibu tiba-tiba mengalami perdarahan, lakukan tindakan segera sesuai dengan
keadaan pasien, misalnya : bila kontraksi uterus kurang baik segera berikan
uterotonika. Bila teridentifikasi adanya tanda-tanda sisa plasenta, segera
kolaborasi dengan dokter untuk tindakan curettage.
5. Membuat Rencana Asuhan
Yaitu dengan Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai
dengan temuan dari langkah sebelumnya. Contoh :
Manajemen asuhan awal postpartum :
a. Kontak dini dan sesering mungkin dengan bayi.
b. Mobilisasi/istirahat baring di tempat tidur
c. Gizi/ diet
d. Perawatan perineum
Asuhan lanjutan :
a. Tambahan vit atau zat besi atau keduanya jika diperlukan
b. Perawatan payudara
c. Pemeriksaan lab terhadap komplikasi jika diperlukan
d. Rencana KB
e. Kebiasaan rutin yang tidak bermanfaat bahkan membahayakan
6. Implementasi Asuhan :
Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman
dari pada rencana asuhan tadi.
7. Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, ulangi kembali
proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah
dilaksanakan tetapi belum efektif atau merencanakan kembali asuhan yang
belum terlaksana jika masih ada. Bidan harus melakukan evaluasi secara terus
menerus selama masa nifas. Evaluasi secara terus menerus meliputi:
1. Meninjau ulang data
a. Catatan intrapartum dan antepartum
b. Jumlah jam atau hari PP
c. Catatan pengawasan dan perkembangan sebelumnya
d. Catatan hasil lab.
e. Catatan suhu, nadi, pernapasan dan TD
f. Catatan pengobatan
2. Mengkaji riwayat
a. Ambulansi : apakah ibu melakukan ambulansi seberapa sering
b. Berkemih : bagaimana frekuensinya, jumlah, apakah ada nyeri/ disuria
c. Defekasi : bagaimana frekuensinya, jumlah dan konsistennya
3. Pemeriksaan fisik
a. Mengukur TD suhu, nadi dan pernapasan
b. Memeriksa payudara dan putting
c. Memeriksa abdomen
d. Memeriksa lokhea
e. Memeriksa perineum dan kaki
Menurut Bahiyatun (2009), manajemen kebidanan terbagi atas :
1. Manajemen nyeri dan ketidaknyamanan
Pada masa nifas banyak terjadi, walaupun tanpa komplikasi saat melahirkan.
2. After pain atau kram perut
Disebabkan oleh adanya serangkaian kontraksi dan relaksasi yang terus-
menerus pada uterus, lebih banyak terjadi pada wanita dengan paritas yang
banyak (multipara) dan wanita menyusui.
3. Pembengkakan payudara
Terjadi karena adanya gangguan antara akumulasi air susu dan meningkatnya
vaskularitas dan kongesti
4. Manajemen konstipasi
Sebagian besar wanita akan defekasi dalam waktu tiga hari pertama setelah
persalinan kemudian akan kembali kekebiasaan semula
5. Manajemen hemoroid
Jika pasien tidak menderita hemoroid akan hilang dalam beberapa minggu,
selama kehamilan sebagian wanita mengalami perdarahan yang keluar dari
anus.
6. Manajemen Diuresis dan Diaforesis
Selama kehamilan, terjadi penyimpanan cairan tambahan untuk membantu
meningkatkan pertumbuhan bayi.
7. Manajemen infeksi
a. Infeksi genital
Disebabkan karena adanya luka pada area pelepasan plasenta, laserasi pada
saluran genital.
b. Infeksi saluran kemih
Dapat terjadi karena kurang menjaga kebersihan.
c. Infeksi saluran pernapasan atas
8. Manajemen cemas
Peran bidan :
a. Bidan dapat memperhatikan dan memberi ucapan selamat atas kehadiran
bayinya.
b. Bidan dapat memberikan informasi dan konseling mengenai kebutuhan ini.
c. Bidan dapat mendukung pendidikan kesehatan
D. Post Partum Group
Di dalam melaksanakan asuhan pada ibu post partum di komunitas salah
satunya adalah dalam bentuk kelompok. Ibu post partum dikelompokkan dengan
mempertimbangkan jarak antara satu orang ibu post partum dengan ibu post
partum lainnya .
Kegiatan dapat dilaksanakan di salah satu rumah ibu post partum/ posyandu
dan polindes. Kegiatannya dapat berupa penyuluhan dan konseling.tentang :
1. Kebersihan diri
2. Istirahat
3. Gizi
a. Nasi 200 gram (1 piring sedang)
b. Lauk 1 potong sedang
c. Tahu/tempe 1 potong sedang
d. Sayuran 1 mangkuk sedang
e. Buah1 potong sedang
f. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
g. Makanan dengan diet berimbang: protein, mineral, vitamin yang cukup
h. Minum sedikitnya 3 liter per hari (8 gelas sehari)
i. Meminum pil zat besi selama 40 hari pasca persalinan
j. Minum kapsul vitamin A
4. Menyusui
a. Nasi 200 gram (1 piring sedang)
b. Lauk 1 potong sedang
c. Tahu/tempe 1 potong sedang
d. Sayuran 1 mangkuk sedang
e. Buah1 potong sedang
f. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
g. Makanan dengan diet berimbang: protein, mineral, vitamin yang cukup
h. Minum sedikitnya 3 liter per hari (8 gelas sehari)
i. Meminum pil zat besi selama 40 hari pasca persalinan
j. Minum kapsul vitamin A
5. Lochea
Pembagian lochea antara lain:
a. Lochea rubra (1-3 hari postpartum) : warna merah segar dan berisi
gumpalan darah, sisa selaput ketuban, sisa vernik, lanugo.
b. Lochea sanguolenta (3-7 hari postpartum) : berwarna merah kekuningan,
berisi darah dan vernik kaseosa.
c. Lochea serosa (7-14 hari postpartum) : Berwarna kekuning-kuningan, berisi
serum
d. Lochea alba ( 14-40 hari post partum) : berwarna putih.
6. Involusi uterus
Setelah bayi dilahirkan, uterus yang selama persalinan mengalami
kontraksi dan retraksi akan menjadi keras, sehingga dapat menutup pembuluh
darah besar yang bermuara pada bekas implantasi placenta. Pada involusi
uteri, jaringan ikat dan jaringan otot mengalami proses proteolitik, berangsur-
angsur akan mengecil sehingga akhir kala nifas besarnya seperti semula
dengan berat 30 gram.
7. Senggama
Secara fisik untuk memulai hubungan suami istri, begitu darah merah
berhenti, ibu dapat memasukkan satu atau dua jari ke dalam vagina tanpa rasa
nyeri. Memulai hubungan suami istri tergantung pada pasangannya.
8. Keluarga berencana
Kelompok pendukung post partum atau yang disebut dengan postpartum
group adalah kumpulan pribadi yang sedang menjalani masa post partum yang
mencoba untuk memuaskan kebutuhan personal, berinteraksi dengan
menghargai tujuan bersama serta untuk mengalami kenikmatan suatu
hubungan yang interdipenden. Para ibu yang mengalami post partum
membutuhkan pengalaman yang sesungguhnya, salah satunya yaitu diberikan
dukungan dari kelompok pendukung seperti dukungan psikologis dan juga
dukungan fisik yang harus juga dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan
untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang
menakutkan. intelektual tentang pengalaman dann harapan-harapan pada saat
tertentu. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dapat dibutuhkan
penanganan ditingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan psikologis
serta bersama-sama dengan melibatkan lingkungannya yaitu suami, keluarga,
dan juga teman dekatnya.
Cara dukungan untuk mengatasi postpartum dari kelompok pendukung
postpartum :
1. Cara pendekatan komunikasi terapeutik yang tujuannya untuk
menciptakan hubungan baik antara bidan dan juga pasien dalam rangka
kesembuhannya dengan cara :
a. Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi
b. Dapat memahami dirinya
c. Dapat mendukung tindakan konstruktif.
2. Cara peningkatan support mental post partum dapat dilakukan keluarga,
misalnya :
a. Sekali-kali ibu meminta suami untuk ikut membantu dalam
mengerjakan pekerjaan rumah seperti membantu mengurus bayinya,
memasak, menyiapkan susu, dll
b. Memanggil orang tua ibu bayi agar bisa menemani ibu dalam
menghadapi kesibukan merawat bayinya.
c. Suami seharusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya dan lebih
perhatian terhadap istrinya.
d. Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertama yang akan lahir.
e. Memperbanyak dukungan dari suami.
f. Suami menggantikan peran istri saat istri kelelahan.
g. Ibu dianjurkan untuk sering sharing dengan teman-temannya yang
baru saja melahirkan.
h. Bayi memakai pampers untuk meringankan kerja ibu.
i. Mengganti suasana dengan bersosialisasi.
j. Suami sering menemani istri dalam mengurus bayinya.
Kelompok postpartum merupakan salah satu bentuk kelompok atau organisasi
kecil dari ibu nifas. Bertujuan untuk mendeteksi, mencegah, dan mengatasi
permasalahan-permasalahan yang timbul masa nifas Ibu nifas sering mnegalami
gangguan psikologi yang dikenal dengan postpartum blues. Dikomunitas sebaiknya
dibentuk postpartum group yaitu kelompok ibu-ibu nifas.
Dalam postpartum group para ibu nifas bisa saling berkeluh kesah dan
mendiskusikan pengalaman melahirkannya, perasaannya saat ini dan bagaimana cara
menghadapi masa nifas. Lewat postpartum group ini maka gangguan-gangguan
psikologis saat nifas diharapkan bisa diatasi (Niken Meilani, 2009:59)
Depresi sesudah melahirkan ini adalah gangguan psikologis yang dalam
bahasa kedokterannya adalah depresi postpartum atau baby blues atau Postpartum
Blues. Postpartum blues merupakan masa transisi mood setelah melahirkan yang
sering terjadi pada 50-70% wanita (Suherni, 2009).
Di dalam melaksanakan asuhan pada ibu postpartum di komunitas, salah
satunya adalah dalam bentuk kelompok. Ibu-ibu postpartum dikelompokkan dengan
mempertimbangkan jarak antara satu orang ibu postpartum dengan ibu postpartum
lainnya
1. Program Ibu Nifas
Kunjungan pada ibu nifas dan neonatus, ASI eksklusif, tablet tambah darah dan
vitamin A
2. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan bersamaan dengan kunjungan pada ibu nifas dan
neonates. Data yang dibutuhkan antara lain : jumlah ibu nifas; kebiasaan atau
tradisi setempat; permasalahan pada masa nifas; sumber daya masyarakat; dan
penentu kebijakan.
3. Mengatur Strategi
Pendekatan dengan keluarga ibu, tomas, togam, kepala desa dan kader sebagai
pengambil keputusan dan penentu kebijakan sangat diperlukan untuk
mewujudkan suatu kelompok ibu nifas.
4. Perencanaan
Buat usulan atau proposal yang didalamnya memuat tentang latar belakang dan
tujuan dari pembentukan kelompok. Perencanaan meliputi kegiatan yang kan
dilakukan, tempat dan waktu, anggaran, serta peserta.
5. Pelaksanaan
Jadikan contoh (Role Model) orang sebagai penentu kebijakan dan lakukan
diskusi untuk membentuk susunan organisasi. Bidan bisa sebagai narasumber,
kemudian buat rencana tindak lanjut.
6. Evaluasi
Dilakukan pada akhir masa nifas, setelah kunjungan ke-4. Pastikan bahwa tujuan
akhir dari pembentukan kelompok benar-benar tercapai, ibu dan bayi sehat, serta
nifas berjalan normal .
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Bidan di komunitas dapat memberikan asuhan kebidanan selama masa nifas melalui
kunjungan rumah, yang dapat dilakukan pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu
keenam setelah persalinan, untuk membantu ibu dalam proses pemulihan ibu dan
memperhatikan kondisi bayi terutama penanganan tali pusat atau rujukan komplikasi
yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan mengenai masalah
kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru
lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.

B. SARAN

Kritik dan saran dari para pembaca sangat kami harapkan demi perbaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat menambah wawasan bagi para pembaca
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta : EGC

Depkes RI. 2006. Asuhan Kesehatan Dalam Konteks Keluarga. Depkes RI : Jakarta.

Karwati, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Komunitas. Trans Info Media : Jakarta.

Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP Sarwono Prawirohardjo