Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PELAYANAN KONTRASEPSI & RUJUKAN


(KEBIDANAN KOMUNITAS)

OLEH
KELOMPOK 3

ERNI
ASNAH
DEVI
SIPAAMI

STIKES MARENDENG MAJENE


TAHUN AKADEMIK 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi kesehatan
jasmani dan rohani sehingga kita masih tetap bisa menikmati indahnya alam
ciptaannya.Sholawat dan salam tetaplah kita curahkan kepada baginda Nabi Muhammad
SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama yang
sempurna dengan bahasa yang sangat indah .

Penulis disini akhirnya dapat merasakan sangat bersyukur karena telah menyelesaikan tugas
kami yang berjudul PELAYANAN KONTRASEPSI & RUJUKAN sebagai mata kuliah
KEBIDANAN KOMUNITAS oleh dosen pembimbing IRMAYANTI, SST, M,Kes

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga terselesaikannya tugas ini.Dan kami memahami jika tugas ini tentu jauh dari
kesempurnaan maka kritik dan saran sangat kami butuhkan guna memperbaiki karya-karya
kami di waktu-waku mendatang.

Majene, 1 mei 2020

                                                                                                 Penulis 
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..........................................................................................................


Daftar Isi ....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.....................................................................................................
B. Rumusan Masalah................................................................................................
C. Tujuan...................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. PELAYANAN KONTRASEPSI & RUJUKAN.................................................
a. Defenisi .........................................................................................................
b. Macam-macam Jenis Alat Kontrasepsi..........................................................
c. Program Keluarga Berencana diIndonesia.....................................................
d. Tujuan dan Sasaran Program Keluarga Berencana........................................
e. Ruang lingkup rogram KB.............................................................................
f. Manfaat Keluarga Berencana Terhadap Pengendalian Penduduk (Bangsa dan
Negara)...........................................................................................................
g. Pelaksanaan Program Keluarga Berencana di Indonesia Berpijak Pada Dua
Landasan........................................................................................................
h. Manfaat Keluarga Berencana Bagi Kepentingan Nasional............................
B. RUJUKAN ASEPTOR KB BERMASALAH.....................................................
a. Tujuan Rujukan..............................................................................................
b. Jenis Rujukan.................................................................................................
c. Jaringan Rujukan MKET................................................................................
d. Sasaran Rujukan MKET.................................................................................
e. Mekanisme (TATA CARA) Rujukan............................................................
f. Tata laksana Rujukan ....................................................................................
g. Pengelolaan Rujukan KB...............................................................................
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN.....................................................................................................
B. SARAN..................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kontrasepsi efektif adalah metode kontrasepsi IUD, implant dan kontrasepsi mantap.
Program Keluarga Berencana Nasional yang pada pelita V telah berkembang
menjadi Gerakan Keluarga Berencana Nasional telah mencapai hasil-hasil yang
menggembirakan.

Dengan meningkatnya peserta KB dengan metode kontrasepsi efektif terpilih


tersebut, maka dituntut pelayanan yang lebih tinggi kualitasnya serta pengayoman
yang lebih baik. Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan serta pengayoman
ini, system rujukan merupakan salah satu hal yang penting, yang perlu diketahui
oleh setiap petugas atau setiap unsur yang ikut serta dalam gerakan KB Nasional
khususnya maupun oleh setiap peserta atau calon peserta KB pada umumnya.

Semakin rapi sistem rujukan, semakin meningkat pula mampu pelayanan serta
pengayoman, sehingga dapat meningkatkan kemampuan peserta KB dengan metode
kontrasepsi efektif.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas maka penulis dapat mengambil beberapa rumuswan
masal;ah yaitu sebagai berikut :

1. Tujuan rujukan
2. Jenis rujukan
3. Sasaran rujukan MKET
4. Pengelolaan rujukan KB
C. Tujuan Penulisan Makalah

Dari rumusan masalah diatas, maka penulis dapat mengambil beberapa tujuan
penuliosan masalah yaitu sebagai berikut :

1. Ingin mengetahui tujuan rujukan

2. Ingin mengerahui jenis rujukan


3. Ingin mengerahui sasaran rujukan MKET
4. Inginmengerahui pengelolaan rujukan MKET
BAB II

PEMBAHASAN

A. PELAYANAN KONTRASEPSI DAN SISTEM RUJUKAN

a) Definisi

Pelayanan Kontrasepsi secara tradisional dilakukan melalui minum jamu,


mengurut, atau memijit rahim, memakai perintang bikinan sendiri, senggama terputus,
pantang berkala dan membatasi berhubungan badan hanya pada waktuwaktu yang
kurang subur dalam rangkaian haid.

Cara-cara kontrasepsi ilmiah adalah pantang berkala, penggunaan perintang


mekanis (kondom, diafragma), pemakaian zat-zat kimia, pembunuh sperma,
pemakatan alat yang dimasukkan kedalam rahim dan pemakaian hormon untuk
mencegah pembuahan (dengan minum pil tiap hari, dengan suntikan tiap bulan atau 3
bulan) dan susuk KB.

Pasien diberikan informasi yang akurat mengenai kegunaan alat kontrasepsi


serta efek samping yang mungkin saja bisa terjadi. Sehingga pasien sudah memahami
tanda dan gejala yang menyimpang dari pemakaian alat kontrasepsi tersebut dan dapat
langsung menemui bidan ataupun dokter kebidanan bila masalah/komplikasi terjadi

Program Keluarga Berencana merupakan usaha langsung yang bertujuan


mengurangi tingkat kelahiran melalui penggunaan alat kontrasepsi. Berhasil tidaknya
Program Keluarga Berencana akan menentukan pula berhasil tidaknya usaha
mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia. Pertambahan penduduk yang cepat,
yang tidak seimbang dengan peningkatan produksi, akan mengakibatkan kegelisahan
dan ketegangan-ketegangan sosial dengan segala akibatnya yang luas.

b) Macam-Macam Kontrasepsi :

1. Cara kontrasepsi sedrhana tampa alat/obat


a. Senggama terputus (coitus intcruptus)
Senggama dijalankan sebagaimana biasa tetapi pada puncak senggama, alat
kemaluan pria (penis) dikeluarkan sehingga mani keluar di luar vagina.

b. Pantang berkala ialah tidak melakukan senggama dengan seorang wanita yaitu
sekitar waktu terjadi ovulasi. Biasanya ovulasi terjadi pada hari 14 sebelum
haid yang akan datang, tetapi dapat pula lebih cepat atau lebih lambat 2 hari
yakni menjadi hari ke 16 atau hari ke 12 sebelum haid yang akan datang.

2. Kondom
Kondom adalah suatu kantong karet yang tipis, yang dipakai untuk menutupi
penis yang ereksi, agar pada saat senggama, air mani tidak mencapai serviks dan
tidak dapat membuahi sel telur sehingga mencegah kehamilan, kondom menutupi
penis, juga digunakan untuk mencegah penularan penyakit.

3. Alat Perintang Bagi Wanita (Diafragma dan Kap) merupakan karet yang di pakai
untuk menutupi servik atau lobang vagina, guna mencegah masuknya sperma ke
dalam servik dan rahim (Diafragma ditempatkan menutupi serviks). Bentuk dan
ukuran besar kecilnya bermacammacam alat.

4. Spermicide Spermicide adalah bahan kimia yang menghentikan gerak dan


mematikan spermatozoa di dalam vagina sebelum membuahi sel telur. Bahan kimia
tersebut berbentuk tablet, pessarium. foam / busa, krim dan lapisan tipis yang
ditempatkan di dalam vagina setinggi-tingginya dekat cervix.
a. Tablet berbusa
Tablet ini hanya untuk dimasukkan ke dalam vagina. Jangan digunakan tablet
yang sudah hancur atau bernoda kuning. Dan yang sudah kadaluarsa.
b. Krim dan Jelly
Krim atau jelly dapat dipakai dengan atau tanpa diafragma.
c. Foam Foam disediakan dalam kaleng aerosol bersama dengan alat
pemasuknya (aplikator).
d. Lapisan Kotrasepsi (tissue intravag)
Intravag disediakan dalam bentuk selaput/tissue. Setiap kali akan
berhubungan badan dipakai selembar intravag. Intravag dimasukan ke
dalam vagina dengan jari sebelum melakukan hubungan badan, sampai
menyentuh mulut rahim dan tunggu 2 s/d 5 menit sehingga intravag
menjadi larut.
5. Pil
Pil berisikan hormon estrogen dan atau hormon progesteron yang dikonsumsi
wanita secara teratur untuk mencegah kehamilan

6. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) AKDR adalah alat kontrasepsi yang terbuat
dari plastik halus berbentuk spiral (Lipes Loop) atau berbentuk lain (Copper T Cu
200,Copper T 220) atau khusus oleh dokter atau bidan yang sudah dilatih.

7. Kontrasepsi Suntikan Kontrasepsi suntikan yang beredar di Indonesia ada 2 (dua)


macam yaitu DMPA (Depo Medr oxy Progesteron Acetat) yang lazim disebut
Noristerat.

8. Kontrasepsi Susuk (Implant) Kontrasepsi susuk (implant) di Indonesia disebut


dengan nama "susuk KB". Kontrasepsi ini berisi levo norgestrel, terdiri dari 6
kapsul yang diinsersikan

c) Program Keluarga Berencana di Indonesia


a. Pendidikan dan penerangan kepada masyarakat
b. Pendidikan dan latihan petugas pelaksana program KB
c. Pelaksanaan pelayanan KB yang terdiri dari; nasehat perkawinan, pelayanan
kontrasepsi dan pengobatan kemandulan
d. Penelitian dan penilaian program
e. Pencatatan dan pelaporan
d) Tujuan dan Sasaran Program Keluarga Berencana :

1. Tujuan

Meningkatkan kesejahteraan ibu, anak dalam rangka mewujudkan keluarga kecil


yang bahagia, sejahtera yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat yang sejahtera
dengan mengendalikan kelahiran, sekaligus dalam rangka menjamin terkendalinya
pertambahan penduduk di Indonesia.

2. Tujuan Khusus

a. Penurunan fertilitas melalui pengaturan kelahiran dengan pemakaian alat


kontrasespi
b. Penurunan angka kematian ibu hamil dan melahirkan
c. Penurunan angka kematian bayi
d. Penanganan masalah kesehatan reproduksi
e. Pemenuhan hak-hak reproduksi

e) Ruang Lingkup Program KB


1. Kehamilan
2. Bayi
3. Kanak-kanak
4. Remaja
5. PUS
6. Pasca PUS
7. Lansia
f) Manfaat Keluarga Berencana terhadap Pengendalian Penduduk (Bangsa dan
Negara)
Program Keluarga Berencana merupakan salah satu usaha penanggulangan
kependudukan yang merupakan bagian yang terpadu dalam program pembangunan
nasional dan bertujuan untuk turut serta mencipatakan kesejahteraan ekonomi, spiritual
dan sosial budaya penduduk Indonesia, agar dapat dicapai keseimbangan yang baik
dengan kemampuan produksi nasional.

g) Manfaat Keluarga Berencana bagi kepentingan nasional

 Meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak serta keluarga dan
bangsa pada umumnya.

 Meningkatkan taraf hidup rakyat dengan cara menurunkan angka kelahiran


sehingga pertambahan penduduk sebanding dengan peningkatan produksi.

h) Pelaksanaan Program Keluarga Berencana di Indonesia berpijak pada dua


landasan

 Prinsip kepentingan nasional

 Prinsip sukarela, demokrasi dan menghormati hak azazi manusia.

Karena berpijak pada prinsip sukarela maka usaha yang dilakukan merangsang
minat masyarakat terhadap pelaksana Keluarga Berencana. Adapun usaha-usaha yang
dilakukan antara lain melalui pendidikan, penyuluhan dan pendekatan medis. Kegiatan
penerangan dan penyuluhan ditujukan pada masyarakat umum agar setiap anggota
masyarakat memiliki pengertian dan rasa tanggung jawab akan terciptanya keluarga
sejahtera dengan menerima Norma Keluarga Kecil yang Bahagia dan Sejahtera
(NKKBS).

B. RUJUKAN ASEPTOR KB BERMASALAH

Pada beberapa laporan ilmiah dijeskan bahwa terjadi peningkatan akseptor


Metode Kontrasepsi Efektif Terpadu (MKET), yang berupa metode kontrasepsi
hormonal, IUD dan steril. Dengan meningkatkan jumlah akseptor KB tersebut, maka
pemerintah/pemberi pelayanan KB dituntut untuk meningkatkan pelyanan yang lebih
tinggi kualitasnya dan suatu upaya opengayoman akseptor yang lebih baik. Dalam
rangka peningkatan kualitas pelayanan dan upaya pengayoman akseptor ini, maka
system rujukan merupakan sustu hal yang penting yang perlu diketahui oleh setiap
elemen yang terkait dengan pelayanan KB (petugas, calon/akseptor, lembaga dan
masyarakat.

Sistem rujukan dalam mekanisme pelayanan merupakan suatu sistem


pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus masalah yang berhubungan
dengan KB di antara pelayanan KB yang ada, baik secara vertical maupun horizontal.

a. Tujuan Rujukan
Tujuan sistem rujukan di sini adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan dan efisiensi
pelaksanaan pelayanan metode kontrasepsi secara terpadu. Perhatian khusus terutama
ditujukan untuk menunjang upaya penurunan angka kejadian efek samping,
komplikasi dan kegagalan penggunaan kontrasepsi, tujuan rujukan yaitu :

 Terwujudnya suatu jaringan pelayanan KB yang terpadu di setiap tingkat, sehingga


masing-masing unit pelayanan KB sesuai dengan tingkat kemampuan, berdaya guna
dan berhasil guna maksimal, sesuai dengan tingkat kemampuannya masing-masing.

 Peningkatan dukungan terhadap arah dan pendekatan program KB Nasional dalam hal
perluasan jangkauan/pemerataan pembinaan dengan pelayanan yang bermutu, dapat
ditingkatkan serta perlindungan penuh kepada masyarakat.

 Meninhkatkan mutu, cakupan dan efisiensi pelaksanaan pelayanan metode


kontrasepsi secara terpadu. Perhatian khusus terutama ditujukan untuk menunjang
upaya penurunan angka kejadian efek samping, komplikasi dan kegagalan
penggunaan kontrasepsi.

 Sistem rujukan upaya kesehatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan
kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal
balik atas masalah yang timbul, baik secara vertical maupun secara horizontal kepada
fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau dan rasional. Tidak dibatasi oleh
wilayah administrasi. Dengan pengertian tersebut, maka merujuk berarti meminta
pertolongan secara timbal balik kepada fasilitas pelayanan yang lebih kompeten untuk
penanggunalangan masalah yang sedang dihadapi.

Untuk itu dalam melaksanakan rujukan harus telah pula diberikan:

a) Konseling tentang kondisi klien yang perlu menyebabkan perlu rujukan.

b) Konseling tentang kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat rujukan.

c) Informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan dituju.

d) Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai kondisi klien
saat ini dan riwayat sebelumnya serta upaya/tindakan yang telah diberikan.

e) Bila perlu, berikan upaya mempertahankan keadaan umum klien.

f) Bila perlu, karena kondisi klien, dalam perjalanan menuju tempat rujukan harus
didampingi perawat/bidan.

g) Menghubungi fasilitas pelayanan tempat rujukan dituju agar memungkinkan segera


menerima rujukan klien.

b. Jenis Rujukan

Rujukan Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih (MKET) dapat dibedakan atas tiga jenis
yaitu sebagai berikut:
1. Pelimpahan Kasus

 Pelimpahan kasus dari unit pelayanan MKET yang lebih sederhana ke unit
pelayanan MKET yang lebih mampu dengan maksud memperoleh pelayanan
yang lebih baik dan sempurna

 Pelimpahan kasus dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu ke unit
pelayanan yang lebih sederhana dengan maksud memberikan pelayanan
selanjutnya atas kasus tersebut

 Pelimpahan kasus ke unit pelayanan MKET dengan tingkat kemampuan sama


dengan pertimbangan geografis, ekonomi dan efisiensi kerja.

2. Pelimpahan pengetahuan dan keterampilan

 Pelimpahan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu ke unit
pelayanan MKET yang lebih sederhana dengan maksud memberikan latihan
praktis

 Pelimpahan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih sederhana ke unit
pelayanan MKET yang lebih mampu dengan maksud memberikan latihan
praktis

 Pelimpahan tenaga ke unit pelayanan MKET dengan tingkat kemampuan sama


dengan maksud tukar-menukar pengalaman

3. Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostic

 Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostik dari unit pelayanan MKET


yang lebih sederhana ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu dengn
maksud menegakkan diagnose yang lebih tepat

 Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostic dari unit pelayanan MKET


yang lebih sederhana dengan maksud untuk dicobakan atau sebagai informasi

 Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostic ke unit pelayanan dengan


tingkat kemampuan sama dengan maksud sebagai informasi atau untuk
dicobakan

c. Sasaran Rujukan MKET

a) Sasaran obyektif

 PUS yang akan memperoleh pelayanan MKET

 Peserta KB yang akan ganti cara ke MKET

 Peserta KB MKET untuk mendapatkan pengamatan lanjutan


 Peserta KB yang mengalami komplikasi atau kegagalan pemakaian MKET

 Pengetahuan dan keterampilan MKET

 Bahan-bahan penunjang diagnostic

b) Sasaran subyektif

Petugas-petugas pelayanan MKET disemua tingkat wilayah.

d. Jaringan rujukan MKET

a) Dokter/bidan praktek swasta, rumah bersalin dengan kewajiban

 Merujuk kasus-kasus yang tidak mampu di tanggulangi sendiri keunit


pelayanan MKET yang lebih mampu dan terdekat

 Menerima kembali untuk tidakan lebih lanjut kasus yang dikembalikan oleh
unit pelayanan MKET yang lebih mampu.

 Mengadakan konsultasi dengan mengusahakan kunjungan ke unit


pelayanan yang lebih mampu meningkatkan pengetahuan pelayanan yang
lebih mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

 Mengusahakan kunjungan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih


mampu untuk pembinaan tugas dan pelayanan MKET

b) Unit pelayanan MKET tingkat kecamatan (puskesmas) yang mempunyai


kewajiban sebagai berikut :

 Menerima dan menanggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET

 Mengirim kembali kasus yang sudah di tanggulangi untuk dibina l;ebih


lanjut oleh unit pelayanan MKET yang merujuk

 Merujuk kasus kasus yangtidak mampu ditanggulangi keunit pelayanan


MKET yang lebih mampu dan terdekat

 Menerima kembali untuk penerimaan tindak lanjut kasus-kasus yang


dikembalikan oleh unit pelayanan MKET yang lebih mampu

 Mengadakan konsultasi dan mengadakan kunjuungan keunit pelayanan


yang lebih mampu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

 Mengusahakan adanya kunjungan tenaga dari unit pelayanan MKET yang


lebih mampu untuk pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat
 Mengirim bahan-bahan penunjang diagnostic ke unit pelayanan MKET
yang lebih mampu, jika tidak dapat melakukan pemeriksaan diagnose yang
lebih tepat

 Menerima kembali hasil pemeruiksaan bahan-bahan diagnostic yang


sebelumnya dikirim keunit pelayanan MKET yang lebih mampu

c) Unit pelayanan MKET tingkat kabupaten/kotamadya (RS Kelas D, RS Kelas


C).

 Menerima dan menaggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET di


bawahnya

 Mengirim kembali kasus yang sedang ditanggulangi untuk dibina lebih


lanjut oleh unit pelayanan MKET yang merujuk

 Merujuk kasus-kasus yang tidak mampu ditanggulangi keunit pelayanan


MKET yang lebih mampu dan terdekat

 Kasus kembali untuk pembinaan tindak lanjut kasus-kasus yang


dikembalikan oleh unit pelayanan MKET yang lebih mampu

 Mengadakan konsultasi dan mengadakan kunjungan keunit pelayanan yang


lebih mampu untuk pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat

 Mengusahakan adanya kunjungan tenaga dari unit pelayanan yang lebih


mampu untuk pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat

 Mengirim bahan-bahan penunjang diagnostic ke unut pelayanan MKET


yang lebih mampu, jika tidak mampu melakukan pemeriksaan sendiri atau
jika hasilnya meragukan untuk menegakan diagnose yang lebih tepat.

 Menerima kembali hasil pemeriksaan bahan-bahan dagnostic sebelumnya


dikirim keunit pelayanan MKET yang lebih mampu.

d) Unit pelayanan MKET tingkat provinsi (RS Kelas C, RS Kelas B, RS Kelas


B2)

 Menerima dan menanggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET


dibawahnya

 Mengirim kembali kasus yang sudah ditanggulangi untuk dibina lebih lanjut
oleh unit pelayanan MKET yang merujuk

 Menerima konsultasi dan latihan petugas pelayanan MKET dari unit


pelayanan MKET dibawahnya
 Mengusahakan dilaksanakan kunjungan temaga/spesialis keunit pelayanan
MKET yang kurang mampu untuk pembinaan petugas dan pelayanan
masyarakat

 Menerima rujukan bahan-bahan penunjang diagnostic

 Mengirim hasil pemeriksaan bahan-bahan penunjang diagnostic tersebut


diatas

e) Unit pelayanan MKET tingkat pusat (RS Kelas A)

 Menerima dan menanggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET


dibawahnya

 Mengirim kembali kasus yang sudah ditanggulangi untuk dibina lebih lanjut
oleh unit pelayanan MKET yang merujuk

 Menerima konsultasi dan latihan petugas pelayanan MKET dari unit


pelayanan MKET di bawahnya

 Mengusahakan dilaksanakannya kunjungan tenaga/spesialis keunit


pelayanan MKET yang kurang mampu untuk pembinaan petugas dan
pelayanan masyarakat

 Menerima rujukan bahan-bahan penunjang diagnostic

 Mengirimkan hasil pemeruksaan bahan-bahan penunjang diagnostic


tersebut diatas

e. Mekanisme (TATA CARA) rujukan

1. Rujukan kasus

a. Unit pelayanan yang merujuk :

1) Unit pelayanan MKET yang merujuk kasus ke unit pelayanan yang lebih
mampu.

Unit pelayanan yang bisa merujuk kasus ke unit pelayanan yang lebih
mampusetelah melakukan proses pemeriksaan dan dengan hasil sebagai
berikut :

 Berdasarkan pemeriksaan penunjang diagnostic kasus tersebut tidak


dapat diatasi

 Setelah dirawat dan diobati ternyata penderita masih memerlukan


perawatan dan pengobatan di unit pelayanan yang lebih mampu

2) Unit pelayanan merujuk kasus ke unit palayanan yang lebih sederhana


 Setelah melakukan pemeriksaan dengan atau tanpa pemeriksaan
penunjang diagnistik, terhadap penderita ternyata pemngobatan dan
perawatan dapat dilakukan diunit pelayanan yang lebih sederhana

 Setelah melakukan pengobatan dan perawatan ternyata penderita


masih melakukan pembinaan selanjutnya yang dapat dilakukan oleh
unit palayanan yang lebih sederhana

3) Unit pelayanan yang merujuk kasus keunit pelayanan dengan


kemampuannya yang sama.

 Setelah melakukan pemeriksaan dengan atau tanpa pemeriksaan


penunjang diagnostic, ternyata untuk memudahkan penderita
pengobatan dan perawatan dapat dilakukan di unit pelayanan yang
lebih dekat

 Setelah melakukan pengobatan dan perawatan, penderita masih


memerlukan pembinaan lanjutan di unit pelayanan yang lebih dekat

b. Unit layanan yang menerima rujukan

1) Unit pelayanan yang menerima rujukandari unit pelayanan yang lebih


sederhanana

 Memberikan informasi

 Memberikan latihan-latihan pada tenaga yang dikirimkan

 Memberikan kunjungan tenaga-tenaga yang diperlukan oleh unit


pelayanan yang dirujuk
2) Unit pelayanan yang merima rujikan dari unit pelayanan yang lebih mampu

 Memanfaatkan tenaga-tenaga yang dikirim oleh unit pelayanan yang


merujuk untuk pembinaan petugas masyarakat

 Memanfaatkan informasi yang dikirim oleh unit pelayanan yang


merujuk untuk pembinaan tugas

 Unit pelayanan yang menerima rujikan dari unit pelayanan dengan


kemampuan setingkat

 Memanfaatkaninformasi tentang pangalaman dari unit pelayanan yang


merujuk untuk pembinaan tugas.

Pengeloaan Bantuan Biaya Penanggulangan Komplikasi, Kegagalan Biaya Rujukan

1. Bantuan biaya
Diberikan kepada peserta KB yang mengalami efek samping komplikasi maupun
kegagalan:

a. Efek samping ,dengan memberikan obat- obat efek samping secara gratis
b. Kasus kegagalan AKDR,implant dan kontrasepsi mantan dengan kelahiran normal
mendapat bantuan biaya yang disesuaikan dengan perturan daerah setempat dengan
ketentun tarif rumah sakit pemerintah kelas 3
c. Yang dimaksud dengan komplikasi/kasus kegagalan yang disertai komplikasi
AKDR,implant dan kontrasepsi mantap misalnya:
1) Infeksi berat yang memerlukan perawatan
2) Perdarahan berat yang memerlukan perawatan
3) Tindakan pemeriksaan rontgen dan laboratorium untuk membantu diagnosis
4) Komplikasi yang memerlukan tindakan operasi
5) Berdasarkan biaya komplikasi disesuaikan dengan peraturan daerah setempat
dengan ketentuan tarif rumah sakit pemerintah kelas3,termasuk biaya obat-obatan
terpakai
d. Kasus komplikasi/kegagalan yang memerlukan rujukan.apabila peserta kb yang
mengalami komplikasi /Kegagalan herus dirujuk dari unit pelayanan yang lebih
rendah ke unit pelayanan kb yang lebih tinggi, bantuan biaya transport penderita
ditanggung sesuai dengan peraturan yang ada. Semua kasusefek
samping,komplikasi serta kegagalan tersebut diatas dapat dilayani disemua tempat
pelayanan tidak dibatasi pada domisili/tempat tinggal peserta kb yang bersangkutan.

e. Peserta kb yang mengalami kegagalan /komplikasi dan mencari jasa


pelayanan/perawatan swasta yang tidak ditunjuk untuk itu (seperti dokter
swasta,RB/RS swasta) dianggap untuk menanggulangi dengan kemampuaannya
sendiri.bagi mereka dipandang tidak perlu diberikan bantuan biaya atau maksimal
hanya diberikan bantuan minimum,kecuali untuk kasus-kasus gawat darurat seperti
misalnya pemakaian IUD dengan kehamilan diluar kandungan dengan perdarahan
dalam keadaan pre shock.

2. Prosedur

a. Efek sampingan.

Pengadaan obat-obat efek samping dilaksanakan secara terkoordinir ditingkat


propinsi antara BKKBN dengan unit pelaksana sesuai rencana kebutuhan yang telah
disepakati .sedangkan distribusinya dilaksanakan melalui BKKBN kabupaten /kodya
dan alokasinya (penjatahannya) pada masing – masing klinik kb dibicarakan
bersama dengan unit pelaksana kabupaten/kodya yang bersangkutan.

b. Komplikasi dan kegagalan bantuan biaya komplikasi dan kegagalan yang


disebabkan pemakaian alat kontrasepsi diambil di BKKBN kabupaten/Kodya oleh:
1) Tempat pelayanan (Rumah Sakit/Puskesmas /PKBRS).

2) Dalam keadaan khusus oleh pasien /Suami pasien/orang lain yang diberi kuasa
secara tertulis

3) Pengambilan bantuan biaya penanggulangan kegagalan /komplikasi pemakaian


kontrasepsi dengan menyerahkan kwitansi bukti pembayaran kegagalan
/komplikasi pemakaian alat kontrasepsi disertai dengan surat keterangan diagnosa
dari dokter yang merawat serta surat keterangan dari KKb tempat pemasangan
kontrasepsinya, dan surat pernyataan pasien bahwa sudah mendapat perawatan dan
pengobatan dan sudah /belum membayar.

4) Rumah sakit /Puskesmas /PKBRS dapat mengajukan uang muka ke BKKBN


kab/kodya. Penyaluran uang mula selanjutnya kepada BKKBN Dati II setempat.

f. Tata Laksana Rujukan :

 internal antar petugas di satu puskesmas

 Antara puskesmas pembantu dan puskesmas

 Antara masyarakat dan puskesmas

 Antara satu puskesmas dan puskesmas yang lain

 Antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan


kesehatan yang lain

 internal antara bagian /unit pelayanan didalam satu rumah sakit

 Antar rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan lain dan rumah
sait,laboratorium atau fasilitas pelayanan yang lain.

Rujukan bukan berarti melepaskan tanggung jawab dengan menyerahkan


klien-klien ke fasilitas pelayanan kesehatan lainnya,akan tetapi karena kondisi klien
yang mengharuskan pemberian pelayanan yang lebih kompeten dan bermutu melalui
upaya rujukan. Untuk itu, dalam melaksanakan rujukan harus telah pula diberikan:

1. Konseling tentang kondisi klien-klien yang menyebabkan perlu dirujuk

2. Konseling tentang kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat rujukan

3. Informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan yang dituju

4. Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai kondisi klien
saat ini, riwayat kesehatan sebelumnya,serta upaya/ tindakan yang telah diberikan

5. Bila perlu diberikan upaya mempertahankan keadaan umum klien


6. Bila perlu, karena kondisi klien, dalam perjalanan menuju tempat rujukan harus
didampingi perawat/bidan

7. Menghubungi fasilitas pelayanan tempat rujukan dituju agar memungkinkan segera


menerima rujukan klien.

Fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima rujukan,setelah memberikan upaya


pennggulangan dan kondisi klien telah memungkinkan, harus segera mengembalikan
klien ke tempat fasilitas pelayanan asalnya dengan terlebih dahulu memberikan :

1. Konseling tentang kondisi klien sebelum dan sesudah diberi upaya penanggulangan
2. Nasehat yang perlu diperhatikan klien mengenai kelanjutan penggunaan
kontrasepsi
3. Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang merujuk mengenai kondisi klien
berikut upaya penanggulangan yang telah diberikan serta saran – saran upaya
pelayanan lanjutan yang harus dilaksanakan ,terutama tentang penggunaan
kontrasepsi.
g. Pengelolaan Rujukan KB

a) Tatacara merujuk dan menerima rujukan kasus

1. Unit pelayanan KB yang rusak

Kasus bisa setelah dirujuk setelah melalui proses pemeriksaan antara lain sebagai
berikut :

a. dari hasil pemeriksaan penunjang medis sudah dapat dipastikan tidak


dapat diatasi.
b. Memerlukan pemeriksaan penunjang medis yang lebih lengkap, tetapi
pemeriksaan harus bersama penderitaan yang bersangkutan.
c. Setelah diobati/dirawat ternyata memerlukan pengobatan dan perawatan
di unit pelayanan KB yang lebih mampu.
2. Unit pelayanan KB yang menerima rujukan

a. Dapat mengembalikan penderitaan sesudah dirawat diobati tetapi


memerlukan pengawasan /pembinaan selanjutnya dari unit pelayanan KB
yang merujuk.

b. Sesudah diperiksa dan keperluan pemeriksaan penunjang medis


diselesaikan, pengobatan serta perawatannya dapat dilakukan di unit
pelayanan KB yang merujuk.

c. Unit pelayanan KB yang menerima rujukan harus memberi


laporan/informasi (umpan balik) apabila penderita sembuh dan tidak perlu
pengawasan selanjutnya ataupun meninggal dunia.
d. Unit pelayanan KB

b) Tatacara administrasi merujuk dan menerima rujukan kasus

1. Unit pelayanan KB yang merujuk

 Membuat surat pengiriman penderita

 Menyelesaikan hal-hal yang menyangkut administrasi

2. Unit pelayanan KB yang menerima rujukan

 Membuat tanda terima untuk unit pelayanan KB

 Membuat hasil pemeriksaan dan pengobatan serta perawatan pada kartu


catatan medik rujukan KB.

 Mengirim kembali ke unit pelayanan KB yang merujuk bila perlu


pengawasan / pembinaan selanjutnya.

 Merujuk ke unit pelayanan KB yang lebih mampu bila diperlukan

c) Tatacara evaluasi dan monitoring

1. Masing-masing unit pelayanan KB yang ada membuat laporan pelaksanaan


rujukan KB ke pengelola tingkat Propinsi.

2. Pengelola tingklat Propinsi melakukan dan mebuat rekapitulasi pelaksanaan


rujukan KB di wilayahnya masing-masing kemudian diumpan balikkan ke unit
pelayanan KB yang bersangkutan dan di laporkan ke pengelola tingkat pusat.

3. Pengelola tingkat pusat melakukan monitoring dan menyusun laporan


pelaksanaan rujukan KB yang akan menjadi bahan untuk menetapkan
kebijaksanaan selanjutnya mengumpan balikkan ke masing-masing Propinsi
bersangkutan.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sistem rujukan dalam mekanisme pelayanan merupakan suatu sistem pelimpahan


tanggung jawab timbal balik atas kasus masalah yang berhubungan dengan KB di
antara pelayanan KB yang ada, baik secara vertical maupun horizontal.

Tujuan sistem rujukan di sini adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan dan efisiensi
pelaksanaan pelayanan metode kontrasepsi secara terpadu.

a. Mewujudkan suatu jaringan pelayanan KB yang terpadu di setiap tingkat, sehingga


masing-masing unit pelayanan KB sesuai dengan tingkat kemampuan, berdaya guna
dan berhasil guna maksimal.

b. Pembinaan dukungan terhadap arah dan pendekatan program KB Nasional dalam hal
perluasan jangkauan/pemerataan pembinaan dengan pelayanan yang bermutu, dapat
ditingkatkan serta perlindungan penuh kepada masyarakat.

B. Saran

Kami merasa pada makalah ini kami banyak kekurangan, karena kurangnya referensi
dan pengetahuan pada saat pembuatan makalah ini.Kami sebagai penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun pada pembaca agar kami dapat
membuat makalah yang lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

marmi. 2016. Buku ajar pelayanan KB. Pustaka pelajar. yogyakarta

http://www.berkonten.com/2015/09/fungsi-macam-jenis-alat-kontrasepsi.html

https://dellafitriah1995.wordpress.com/2015/05/22/pelayanan-kontrasepsi-dan-rujukan/

https://rizkimarizayeni.wordpress.com/2014/07/01/pelayanan-kb-dan-rujukannya/