Anda di halaman 1dari 1

PEMERIKSAAN KESEHATAN TENAGA KERJA

Dr. Wendri Wildiartoni Pattiawira Pelupessy, COH

Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja diwajibkan oleh Undang-undang. Ada Pemeriksaan Kesehatan
Prakarya, Pemeriksaan Kesehatan Berkala dan Pemeriksaan Kesehatan Khusus. Dalam
Perkembangannya pemeriksaan kesehatan ini tidak berdiri sendiri melainkan menjadi satu kesatuan
dengan pemantauan lingkungan kerja, biomonitoring dan pemeriksaan efek kesehatan. Mengapa ini
perlu dilakukan?

Gangguan kesehatan akibat kerja terjadi secara samar-samar, sehingga sering kali terjadi sudah parah.
Kapan mulai terjadinya penyakit itu tidak seorangpun yang mengetahuinya. Nilai Ambang Batas yang
sering diterjemahkan secara salah sebagai batas antara aman dan tidak aman ternyata tidak dapat
melindungi pekerja. Nilai Ambang Batas adalah konsentrasi bahan yang dapat membuat selamat hampir
semua pekerja jika bekerja 8 jam sehari dan 40 jam seminggu. Ya hampir semua, artinya tidak semua
pekerja. Karena itu pemantauan kesehatan itu diperlukan.

Agar efektif dan efisien pemeriksaan kesehatan dilakukan atas dasar risiko yang dihadapi pekerja. Topik
pemeriksaan dipilih sesuai dengan risiko yang dihadapi oleh peserta. Pada tahun 1976, Koyl di Canada
menyusun pedoman pemeriksaan kesehatan yang disebut dengan GULHEMP (General, Upper
extremities, Lower extremities, Hearing, Eye, Mental, Personality). Pedoman ini menyesuaikan antara
beban kerja dan kapasitas fungsional pekerja atau job matching. Pejabat HRD wajib menguraikan beban
kerja untuk masing-masing jabatan, sementara dokter menyiapkan tata cara pemeriksaannya. Ada
tujuh kategori pemeriksaan beban kerja dan kapasitas fungsional.

Pemeriksaan kesehatan menurut Koyl ini sangat sederhana disesuaikan dengan fungsi apa saja yang
diperlukan seseorang untuk bekerja. Ternyata hanya ada 4 fungsi yang diperlukan seseorang untuk
bekerja: vegetatif (tidak meninggal mendadak, jantung dan paru), lokomotif (tangan dan kaki),
perseptif (melihat dan mendengar) dan integratif (sinkronisasi).

Ada beberapa klasifikasi untuk bekerja. Biasanya ada empat kategori: fit untuk semua pekerjaan, fit
sementara ketika modifikasi pekerjaan dilakukan, unfit sementara ketika dilakukan pengobatan atas
terjadinya gangguan kesehatan dan tidak fit untuk semua pekerjaan. Untuk menentukan fit dan unfit
ini, perlu dipertimbangkan penyediaan lapangan kerja orang cacat dan issue hak asasi manusia (HAM).