Anda di halaman 1dari 39

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.

html

SALINAN

PERATURAN
SEKRETARIS JENDERAL
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
NOMOR 6 TAHUN 2020
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENGELOLAAN PENYALURAN TUNJANGAN PROFESI
DAN TUNJANGAN KHUSUS BAGI GURU BUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 15 ayat (1)


Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 32
Tahun 2019 tentang Pedoman Umum Pembayaran Bantuan
Pemerintah di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan perlu menetapkan Peraturan Sekretaris Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayan tentang Petunjuk
Teknis Pengelolaan Penyaluran Tunjangan Profesi dan
Tunjangan Khusus Bagi Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang


Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4916);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2009 tentang
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen, Tunjangan Khusus
Guru dan Dosen, serta Tunjangan Kehormatan Profesor
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5016);

jdih.kemdikbud.go.id
-2-

3. Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2019 tentang


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 242);
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015
tentang Mekanisme pelaksanaan Anggaran Bantuan
Pemerintah pada Kementerian Negara/Lembaga (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1340)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 173/PMK.05/2016 tentang Perubahan
Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor
168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan
Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian
Negara/Lembaga (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2016 Nomor 1745);
5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 32
Tahun 2019 tentang Pedoman Umum Penyaluran
Bantuan Pemerintah di Lingkungan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Berita Negara Tahun 2019
Nomor 1167);
6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45
Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 1673)
Sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 9 Tahun 2020
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2020 Nomor 124);
7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 46
Tahun 2019 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di
Lingkungan kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor
1728);

jdih.kemdikbud.go.id
htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html
htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html

-3-

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG PETUNJUK
TEKNIS PENGELOLAAN PENYALURAN TUNJANGAN PROFESI
DAN TUNJANGAN KHUSUS BAGI GURU BUKAN PEGAWAI
NEGERI SIPIL.

Pasal 1
Dalam Peraturan Sekretaris Jenderal ini yang dimaksud
dengan:
1. Guru yang berstatus bukan pegawai negeri sipil yang
selanjutnya disebut Guru Bukan PNS adalah pendidik
yang bukan berstatus sebagai pegawai negeri sipil dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.
2. Kepala Sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk
memimpin dan mengelola satuan pendidikan yang
meliputi taman kanak-kanak (TK), taman kanak-kanak
luar biasa (TKLB), sekolah dasar (SD), sekolah dasar luar
biasa (SDLB), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah
menengah pertama luar biasa (SMPLB), sekolah
menengah atas(SMA), sekolah menengah kejuruan
(SMK), sekolah menengah atas luar biasa (SMALB), atau
Sekolah Indonesia di Luar Negeri.
3. Tunjangan Profesi adalah tunjangan yang diberikan
kepada Guru yang memiliki sertifikat pendidik sebagai
penghargaan atas profesionalitasnya.
4. Tunjangan Khusus adalah tunjangan yang diberikan
kepada Guru sebagai kompensasi atas kesulitan hidup
yang dihadapi dalam melaksanakan tugas di daerah
khusus.
5. Daerah Khusus adalah daerah yang terpencil atau
terbelakang, daerah dengan kondisi masyarakat adat
yang terpencil, daerah perbatasan dengan negara lain,

jdih.kemdikbud.go.id
-4-

daerah yang mengalami bencana alam, bencana sosial,


atau daerah yang berada dalam keadaan darurat lain
dan/atau pulau-pulau kecil terluar.
6. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah yang memimpin
pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan daerah otonom.
7. Data Pokok Pendidikan yang selanjutnya disingkat
Dapodik adalah suatu sistem pendataan yang dikelola
oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang
memuat data satuan pendidikan, peserta didik, pendidik
dan tenaga kependidikan, dan substansi pendidikan yang
datanya bersumber dari satuan pendidikan yang terus
menerus diperbaharui secara onlineDinas Pendidikan.
8. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pendidikan anak usia dini,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
9. Kementerian adalah kementerian yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan dibidang pendidikan.
10. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,
dan Transmigrasi yang selanjutnya disebut Kemendes
PDTT adalah Kementerian yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang pembangunan desa dan
kawasan perdesaan, pemberdayaan masyarakat desa,
percepatan pembangunan daerah tertinggal, dan
transmigrasi.
11. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yang
selanjutnya disebut Ditjen GTK adalah Unit Eselon I yang
menangani urusan guru dan tenaga kependidikan di
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
12. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan adalah Unit
Eselon II yang menangani urusan layanan pembiayaan
pendidikan yang berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada Menteri.
13. Dinas Pendidikan adalah Dinas yang menangani urusan
pendidikan pada Pemerintah Daerah Provinsi/
Kabupaten/Kota sesuai kewenangannya.

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html


jdih.kemdikbud.go.id
htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html

-5-

Pasal 2
Petunjuk teknis pengelolaan penyaluran Tunjangan Profesi
dan Tunjangan Khusus bagi Guru Bukan PNS merupakan
pedoman bagi kementerian dan pemerintah daerah dalam
menetapkan dan memberikan Tunjangan Profesi dan
Tunjangan Khusus bagi Guru Bukan PNS.

Pasal 3
Penyaluran Tunjangan Profesi dan Tunjangan Khusus bagi
Guru Bukan PNS dilaksanakan dengan prinsip:
a. efisien;
b. efektif;
c. transparan;
d. akuntabel; dan
e. manfaat.

Pasal 4
(1) Tunjangan Profesi dan/atau Tunjangan Khusus bagi
Guru Bukan PNS disalurkan oleh Pusat Layanan
Pembiayaan Pendidikan.
(2) Penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan sesuai dengan mekanisme pembayaran
Tunjangan Profesi dan Tunjangan Khusus bagi Guru
Bukan PNS.

Pasal 5
(1) Guru Bukan PNS yang diberikan Tunjangan Profesi
dan/atau Tunjangan Khusus sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 meliputi:
a. guru;
b. guru yang diberi tugas sebagai kepala satuan
pendidikan; dan
c. guru yang diberi tugas tambahan.
(2) Tunjangan Profesi dan Tunjangan Khusus Guru Bukan
PNS diberikan dalam bentuk uang melalui rekening bank
penerima tunjangan.

jdih.kemdikbud.go.id
-6-

Pasal 6
(1) Tunjangan Profesi diberikan kepada Guru Bukan PNS
yang memenuhi kriteria penerima Tunjangan Profesi.
(3) Pemberian Tunjangan Profesi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dikecualikan bagi:
a. guru pendidikan agama yang Tunjangan Profesi
guru agama dibayarkan oleh Kementerian Agama;
dan
b. guru yang bertugas di satuan pendidikan kerjasama.

Pasal 7
(1) Tunjangan Khusus diberikan kepada Guru Bukan PNS
yang melaksanakan tugas di Daerah Khusus dan
memenuhi kriteria penerima Tunjangan Khusus.
(2) Daerah Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
berdasarkan pada data:
a. desa sangat tertinggal dari Kemendes PDTT;
dan/atau
b. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
(3) Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b
merupakan:
a. desa yang terkena bencana alam, bencana sosial,
atau daerah yang berada dalam keadaan darurat
lain berdasarkan data dari kementerian/lembaga
yang berwenang; dan/atau
b. desa yang tidak ditetapkan sebagai desa sangat
tertinggal oleh Kemendes PDTT namun memiliki
kondisi sebagai berikut:
1) akses transportasi sulit dijangkau dan mahal
disebabkan oleh tidak tersedianya jalan raya,
tergantung pada jadwal tertentu, tergantung
pada cuaca;
2) hanya dapat diakses dengan jalan kaki atau
perahu kecil; dan/atau
3) memiliki hambatan dan tantangan alam yang
besar.

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html jdih.kemdikbud.go.id


htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html

-7-

(4) Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b


diusulkan oleh kepala daerah kepada Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan untuk dapat dipertimbangkan
mendapat dana Tunjangan Khusus.
(5) Usulan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) berisi nama desa dan data guru Bukan PNS yang
bertugas di desa pada daerah tersebut.
(6) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memverifikasi dan
menetapkan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
sebagai daerah khusus berdasarkan pertimbangan
ketersediaan anggaran bagi seluruh jumlah desa.
(7) Tunjangan Khusus bagi Guru Bukan PNS yang bertugas
pada desa sebagaimana dimaksud pada ayat (6)
dibayarkan terhitung 1 (satu) bulan sejak surat
keputusan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan.

Pasal 8
(1) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat
melakukan pembayaran Tunjangan Profesi yang kurang
bayar (carry over) pada tahun sebelumnya.
(2) Pembayaran Tunjangan Profesi yang kurang bayar (carry
over) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dengan syarat:
a. telah diterbitkannya surat keputusan penerima
Tunjangan Profesi reguler pada tahun sebelumnya;
dan
b. telah diterbitkannya surat keputusan penerima
Tunjangan Profesi kurang bayar pada tahun
berkenaan untuk membayar kekurangan
Tunjangan Profesi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) yang didasarkan pada usulan kurang bayar
melalui aplikasi Sistem Informasi Manajemen
Pembayaran (SIM-BAR).

jdih.kemdikbud.go.id
-8-

Pasal 9
(1) Alokasi Tunjangan Profesi dan Tunjangan Khusus bagi
Guru Bukan PNS ditetapkan setiap tahun anggaran
berjalan.
(2) Alokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.

Pasal 10
Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan melakukan
monitoring dan evaluasi penyaluran Tunjangan Profesi dan
Tunjangan Khusus bagi Guru Bukan PNS.

Pasal 11
(1) Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan menyusun
laporan penyaluran Tunjangan Profesi dan Tunjangan
Khusus bagi Guru Bukan PNS sesuai berdasarkan
laporan realisasi pembayaran Tunjangan Profesi dan
Tunjangan Khusus Guru Bukan PNS setiap 1 (satu)
semester.
(2) Laporan realisasi pembayaran Tunjangan Profesi dan
Tunjangan Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berdasarkan aplikasi SIM-BAR.
(3) SIM-BAR sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
digunakan oleh Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan
sebagai dasar untuk memantau pelaksanaan
pembayaran serta dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Laporan penyaluran Tunjangan Profesi dan Tunjangan
Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
disampaikan paling lambat bulan Januari tahun
berikutnya kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
melalui Sekretaris Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan.

Pasal 12
(1) Guru Bukan PNS yang terbukti menerima Tunjangan
Profesi dan/atau Tunjangan Khusus dan tidak sesuai
dengan Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html


jdih.kemdikbud.go.id
htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html

-9-

Pendidikan dan Kebudayaan wajib mengembalikan


Tunjangan Profesi dan/atau Tunjangan Khusus yang
diterima sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(2) Pengembalian Tunjangan Profesi dan/atau Tunjangan
Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhitung
secara kumulatif sejak terjadi ketidaksesuaian bukti
administrasi, data, dan/atau fakta dan dilakukan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal 13
(1) Teknis penyaluran Tunjangan Profesi tercantum dalam
Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan ini.
(2) Teknis penyaluran Tunjangan Khusus tercantum dalam
Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Pasal 14
Pada saat Peraturan Sekretaris Jenderal ini mulai berlaku,
Peraturan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
5745/B.B1.3/HK/2019 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis
Penyaluran Tunjangan Profesi dan Tunjangan Khusus Guru
Bukan Pegawai Negeri Sipil, dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.

jdih.kemdikbud.go.id
- 10 -

Pasal 15
Peraturan Sekretaris Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan dan mempunyai daya berlaku surut sejak tanggal
2 Januari 2020.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 20 April 2020
SEKRETARIS JENDERAL,

ttd.

AINUN NA’IM
Salinan sesuai dengan aslinya,
Kepala Biro Hukum
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,

ttd.

Dian Wahyuni
NIP 196210221988032001

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html jdih.kemdikbud.go.id


htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html

SALINAN
LAMPIRAN I
PERATURAN SEKRETRARIS JENDERAL
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
NOMOR 6 TAHUN 2020
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENGELOLAAN PENYALURAN
TUNJANGAN PROFESI DAN TUNJANGAN KHUSUS GURU
BUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL

TEKNIS PENYALURAN TUNJANGAN PROFESI BAGI GURU BUKAN PEGAWAI


NEGERI SIPIL

A. Tujuan
Penyaluran Tunjangan Profesi bertujuan untuk:
1. memberi penghargaan kepada Guru Bukan PNS sebagai tenaga
profesional dalam melaksanakan sistem pendidikan nasional dan
mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab;
2. mengangkat martabat Guru Bukan PNS, meningkatkan kompetensi
guru bukan PNS, memajukan profesi Guru Bukan PNS,
meningkatkan mutu pembelajaran, dan meningkatkan pelayanan
pendidikan yang bermutu; dan
3. membiayai pelaksanaan kegiatan pengembangan keprofesian
berkelanjutan yang mendukung pelaksanaan tugas sebagai Guru
Bukan PNS profesional.

B. Awal Pemberian Tunjangan Profesi


1. Tunjangan Profesi bagi Guru Bukan PNS yang baru memperoleh
sertifikat pendidik diberikan pada tahun berikutnya.
2. Guru Bukan PNS yang baru memperoleh Surat Keputusan (SK)
Inpassing atau Penyetaraan pangkat dan jabatan pada tahun
berjalan akan mendapatkan Tunjangan Profesi sesuai dengan
penyetaraan pada tahun berikutnya.

jdih.kemdikbud.go.id
-2-

C. Kriteria Penerima Tunjangan Profesi


Guru Bukan PNS penerima Tunjangan Profesi harus memenuhi kriteria
sebagai berikut:
1. berstatus sebagai Guru tetap yayasan di satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat atau Guru Bukan PNS di satuan
pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah yang
tercatat pada Data Pokok Pendidikan (Dapodik);
2. bertugas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
Pemerintah Daerah/masyarakat yang dibuktikan dengan SK
Pengangkatan oleh pejabat Pembina kepegawaian atau penyelenggara
satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai
dengan kewenangannya;
3. aktif mengajar sebagai guru mata pelajaran/guru kelas atau aktif
membimbing sebagai guru bimbingan konseling/guru teknologi
informatika dan komunikasi, pada satuan pendidikan yang sesuai
dengan peruntukan sertifikat pendidik yang dimiliki;
4. memiliki satu atau lebih sertifikat pendidik;
5. memiliki Nomor Registrasi Guru (NRG) yang diterbitkan oleh
Kementerian;
6. memenuhi beban kerja guru sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan, kecuali bagi:
a. Guru Bukan PNS yang mengikuti program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dengan pola Pendidikan dan
Pelatihan (Diklat) dengan ketentuan Diklat di dalam/luar negeri
dilaksanakan paling banyak 600 (enam ratus) jam atau selama 3
(tiga) bulan dan mendapat izin/persetujuan dari dinas
pendidikan setempat/penyelenggara satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat dengan menyediakan guru
pengganti yang relevan;
b. Guru Bukan PNS yang mengikuti program pertukaran Guru
Bukan PNS dan/atau kemitraan, serta mendapat
izin/persetujuan dari Dinas Pendidikan setempat/penyelenggara
satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat
dengan menyediakan guru pengganti yang relevan; dan/atau
c. Guru yang bertugas di Daerah Khusus.

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html jdih.kemdikbud.go.id


htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html

-3-

7. memiliki penilaian kinerja paling rendah dengan sebutan “Baik”;


8. mengajar di kelas sesuai rasio Guru dan siswa sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
9. tidak terikat sebagai tenaga tetap pada lembaga atau satuan
pendidikan lain.

D. Besaran Tunjangan Profesi


1. Tunjangan Profesi bagi Guru Bukan PNS dibe rikan de ngan
be saran se bagai be rikut:
a. bagi yang telah memiliki SK inpassing atau penyetaraan
diberikan setara gaji pokok PNS sesuai dengan yang tertera pada
SK inpassing atau penyetaraan; atau
b. bagi yang belum memiliki SK inpassing atau penyetaraan
diberikan sebesar Rp1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu
rupiah) setiap bulan.
2. Besaran Tunjangan Profesi se bagaimana dimaksud pada angka 1
dikenakan pajak penghasilan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

E. Tahapan Penyaluran Tunjangan Profesi


1. Pemutakhiran data pada Dapodik
a. Guru Bukan PNS didampingi operator sekolah menginput
dan/atau memperbarui data Guru Bukan PNS dengan benar
melalui aplikasi Dapodik, terutama data sekolah induk, beban
kerja, golongan ruang (bagi Guru Bukan PNS yang sudah
disetarakan), masa kerja, NUPTK, tanggal lahir, dan status
kepegawaian (PNS/bukan PNS).
b. Penginputan dan/atau pembaruan data sebagaimana
dimaksud pada huruf a dilakukan dengan ketentuan sebagai
berikut:
1) mulai bulan Januari sampai dengan Bulan Maret tahun
berjalan untuk pembayaran Tunjangan Profesi semester I
tahun berjalan; dan
2) mulai bulan Juli sampai dengan bulan September tahun
berjalan untuk pembayaran Tunjangan Profesi semester II
tahun berjalan.

jdih.kemdikbud.go.id
-4-

c. Data yang telah diinput dan/atau diperbarui sebagaimana


dimaksud pada huruf a menjadi tanggung jawab Guru Bukan
PNS yang bersangkutan.
d. Guru Bukan PNS dan Dinas Pendidikan sesuai dengan
kewenangannya dapat mengakses data Guru Bukan PNS secara
daring (online) pada info Guru dan Tenaga Kependidikan (info
GTK) yang dapat diakses melalui (website) dan dan aplikasi
telepon cerdas (smartphone).
e. Dalam hal data yang ditampilkan pada info GTK masih terdapat
kesalahan, maka Guru Bukan PNS dapat memperbaiki melalui
Dapodik sebelum SKTP yang bersangkutan terbit.
2. Sinkronisasi data pada Dapodik
Informasi pada info GTK dinyatakan kebenarannya dalam Surat
Pertanggungjawaban Mutlak (SPTJM) yang telah disetujui oleh Kepala
Sekolah pada saat sinkronisasi Dapodik.
3. Verifikasi dan Validasi Data
a. Guru Bukan PNS wajib menyerahkan bukti cetak/print out info
GTK yang sudah tertulis “status validitas data Tunjangan Profesi
VALID” pada bagian atas laman info GTK dan disertai dengan
tandatangan Guru Bukan PNS yang bersangkutan kepada Dinas
Pendidikan sesuai dengan kewenangannya.
b. Dalam hal Dinas Pendidikan sudah mengetahui bahwa data
guru sudah ”VALID” sebagaimana dimaksud pada huruf a, maka
Dinas Pendidikan dapat langsung melakukan verifikasi dan
validasi data.
c. Dinas Pendidikan sesuai dengan kewenangannya melakukan
verifikasi dan validasi data pada bulan Maret untuk penerbitan
SKTP Semester I dan bulan September untuk penerbitan SKTP
Semester II.
d. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan membayar Tunjangan Profesi sesuai dengan gaji
pokok yang tertera pada Sistem Informasi Manajemen Tunjangan
(SIM-Tun) yang sudah divalildasi oleh Dinas Pendidikan sesuai
dengan kewenangannya.
4. Pengusulan data Guru Bukan PNS
Dinas Pendidikan sesuai dengan kewenangannya mengusulkan data
Guru Bukan PNS yang berhak mendapatkan Tunjangan Profesi

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html jdih.kemdikbud.go.id


-5-

melalui SIM-Tun apabila info GTK Guru Bukan PNS bersangkutan


telah valid.
5. Penerbitan dan Penyampaian Surat Keputusan Penerima Tunjangan
Profesi (SKTP)
a. Sumber data yang digunakan dalam penerbitan SKTP
berdasarkan Dapodik terkini.
b. SKTP ditetapkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan
disahkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran berdasarkan usulan
dari Dinas Pendidikan sesuai dengan kewenangannya setelah
dilakukannya proses verifikasi dan validasi.
c. SKTP diterbitkan sebanyak 2 (dua) tahap dalam satu tahun
dengan ketentuan sebagai berikut:
1) SKTP Tahap 1 (satu) terbit dimulai pada bulan Maret
pada tahun berjalan, terbit dimulai pada bulan April pada
tahun berjalan, berlaku untuk pembayaran Tunjangan
Profesi semester I pada bulan Januari sampai dengan bulan
Juni (6 bulan) tahun berjalan; dan
2) SKTP tahap 2 (dua) terbit dimulai pada bulan Oktober pada
tahun berjalan, berlaku untuk pembayaran Tunjangan
Profesi semester II pada bulan Juli sampai dengan bulan
Desember (6 bulan) tahun berjalan.
d. SKTP dapat diunduh oleh Dinas Pendidikan sesuai dengan
kewenangannya melalui aplikasi SIM-Tun.
6. Pembayaran Tunjangan Profesi
a. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan sesuai dengan
kewenangannya membayar Tunjangan khusus ke rekening Guru.
b. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan membayarkan
Tunjangan Profesi setiap triwulan, sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
c. PPK pada Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan menerbitkan
Surat Perintah Pembayaran Langsung (SPP LS).
d. PPK pada Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan
menyampaikan SPP LS kepada Pejabat Penandatangan Surat
Perintah Membayar (PPSPM) untuk diterbitkan Surat Perintah
Membayar (SPM).
e. Daftar usulan penerima Tunjangan Profesi yang menjadi
lampiran SPM dibuat berdasarkan data dari Sistem Informasi

jdih.kemdikbud.go.id
-6-

Manajemen Pembayaran (SIM- Bar) yang digunakan oleh Pusat


Layanan Pembiayaan Pendidikan sebagai alat untuk memantau
pembayaran Tunjangan Profesi.
f. SPM diajukan ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
(KPPN) Jakarta III yang akan digunakan sebagai dasar
penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) .
g. SP2D yang diterbitkan oleh KPPN Jakarta III disampaikan
kepada bank penyalur yang telah ditunjuk oleh Satker Pusat
Layanan Pembiayaan Pendidikan.
h. Bank penyalur menerima SP2D dari KPPN dan Surat Perintah
Penyaluran (SPPn) dari Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan.
i. Bank penyalur menyalurkan Tunjangan Profesi ke rekening
penerima Tunjangan Profesi.
7. Pelaporan penyaluran Tunjangan Profesi
Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan melaporkan penyaluran
Tunjangan Profesi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

jdih.kemdikbud.go.id
-7-

Gambar 1. Proses Penyaluran Tunjangan Profesi bagi Guru Bukan PNS

SEKOLAH DITJEN GURU DAN TENDIK DINAS PENDIDIKAN PROVINSI DINAS PENDIDIKAN KAB/KOTA PUSAT LAYANAN PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

14
Menentukan kriteria
3 1
penerima tunjangan profesi
5 7
DAPODIK Mengajukan calon usulan
Validasi penerima
tunjangan profesi PEMBUATAN
KPPN
2 penerima tunjangan profesi bagi guru SPP/SPM 13
Pendidikan
Menengah dan
2 Pendidikan Khusus BANK PENYALUR
YA
4A melalui SIMTUN Menginput 10
dan 13 16
Menganalisis PENETAPAN
Data untuk PENERBITAN
dilakukan 11 SIMBAR PEMETAAN 18
SP2D
4B Croschek di PEMBAYARAN
Validasi penerima
8 9
tunjangan profesi bagi Lapangan TIDAK YA

6 guru PAUD dan 21 17


Pendidikan Dasar MASUK
melaLui SIMTUN PENGIRI- KE
15 MAN UANG
REKENING
INFO 12B PENERBITAN GURU
SPPn
GTK
12A
TIDAK
24
1
22
23 19
20
REKENING
RETUR
OPERATOR
SEKOLAH

GURU DAPAT
MENGETAHUI

jdih.kemdikbud.go.id
-8-

Keterangan Gambar 1. Proses Penyaluran Tunjangan Profesi bagi


Guru Bukan PNS sebagai berikut:
1. Operator sekolah mengisi data Guru dan data Kepala
Sekolah melalui Dapodik
2. Pendataan Guru sudah terkumpul dalam Dapodik
3. Ditjen GTK menarik semua data yang berkaitan dengan
Guru dari Dapodik
4. A. Ditjen GTK memetakan data Guru baik yang masuk
kriteria maupun yang tidak masuk kriteria penerima
Tunjangan Profesi melalui SIM INFO GTK
B. Ditjen GTK mengirimkan usulan hasil pemetaan Guru
baik yang masuk kriteria maupun yang tidak masuk
kriteria penerima Tunjangan Profesi.
5. Pemetaan data berdasarkan kriteria calon penerima
Tunjangan Profesi untuk guru pendidikan menengah dan
pendidikan khusus langsung dikirim melalui SIMTUN
dinas pendidikan Provinsi untuk divalidasi kebenarannya.
6. Pemetaan data berdasarkan kriteria calon penerima
Tunjangan Profesi untuk Guru Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) dan pendidikan dasar, langsung dikirim melalui
SIMTUN Dinas Pendidikan Kab/Kota untuk divalidasi
kebenarannya.
7. Dinas Pendidikan provinsi memvalidasi data penerima
Tunjangan Profesi untuk guru pendidikan menengah dan
pendidikan khusus yang bukan pegawai negeri sipil
8. Dinas Pendidikan Kab/Kota memvalidasi data penerima
Tunjangan Profesi untuk guru PAUD dan pendidikan
dasar yang bukan pegawai negeri sipil
9. Hasil validasi data dari Dinas Pendidikan Provinsi dan
Dinas Pendidikan Kab/Kota disampaikan ke Pusat
Layanan Pembiayaan Pendidikan untuk dilakukan input
dan analisis data penerima tunjangan
10. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan menetapkan SKTP
Guru yang layak dan sudah memenuhi syarat
11. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan memasukan
SKTP ke dalam Sistem Informasi Manajemen Pembayaran

jdih.kemdikbud.go.id
-9-

(SIM-BAR)
12. A Data guru yang tidak memenuhi syarat penetapan
penerima Tunjangan Profesi, dikembalikan ke Dinas
Pendidikan Provinsi untuk guru pendidikan
menengah dan pendidikan khusus dan Dinas
Kab/Kota untuk Guru PAUD dan pendidikan dasar
B Dinas Pendidkan Provinsi/Kab/Kota melaui SIMTUN
menyampaikan ke Ditjen GTK untuk guru yang tidak
memenuhi syarat penetapan penerima Tunjangan
Profesi
13. Berdasarkkan SIMBAR tersebut, Pusat Layanan
Pembiayaan Pendidikan memetakan penyaluran
tunjangan berdasarkan rekening bank
14. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan membuat SPP
dan SPM untuk disampaikan ke KPPN Jakarta III sebagai
dasar pengajuan penerbitan SP2D.
15. KPPN Jakarta III memverifikasi data sebelum diterbitkan
SP2D
16. KPPN Jakarta III menerbitkan SP2D dan SP2D
disampaikan kepada Bank Penyalur yang telah ditunjuk
oleh Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan
17. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan menerbitkan dan
mengirimkan SPPn kepada bank penyalur sebagai dasar
penyaluran uang ke rekening penerima
18. Bank penyalur melaksanakan penyaluran uang
berdasarkan nama-nama penerima yang ada dalam SPPn
19. Bank Penyalur melaporkan penyaluran uang yang sudah
masuk ke rekenig penerima kepada Pusat Layanan
Pembiayaan Pendidikan
20. Bank Penyalur melaporkan rekening yang bermasalah
(retur) kepada Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan
21. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan mengupload data
pencairan ke dalam SIMBAR
22. SIM-BAR menginformasikan pencairan tunjangan ke
dalam info GTK
23. Guru dapat melihat pencairan tunjangan melalui info
GTK

jdih.kemdikbud.go.id
- 10 -

24. Melalui INFO GTK, semua Guru dapat melihat tentang


data pribadi mereka diantara sudah layak SKTP atau
tidak layak SKTP, sehingga bagi yang kurang layak dapat
memperbaiki kembali kekurangannya melalui Aplikasi
DAPODIK yang diisi Operator Sekolah.

8. Ketentuan Kekurangan bayar


a. Dalam hal terdapat kekurangan pembayaran akibat dari
perbaikan data inpassing/penyetaraan setelah terbitnya SKTP
pada semester I dan/atau SKTP pada semester II, maka
pembayaran terhadap kekurangan bayar tersebut dilakukan pada
tahun berjalan setelah Guru Bukan PNS melakukan proses
perbaikan data inpassing/penyetaraan.
b. Pembayaran terhadap kekurangan pembayaran sebagaimana
dimaksud pada huruf a Terhitung Mulai Tanggal (TMT) gaji
berkala.
c. Nilai hak bayar pada SIM-Bar sesuai dengan SK
inpassing/penyetaraan (proses reload).
d. nominal jumlah uang pada SKTP dibaca sebagaimana nominal
yang tertera pada SK inpassing/penyetaraan setelah proses
perbaikan data inpassing/penyetaraan, sehingga nilai hak bayar
di aplikasi SIM-Bar sesuai dengan jumlah nominal terakhir yang
ada pada Surat Keputusan inpassing/penyetaraan.
9. Pembayaran Tunjangan Profesi Lebih Bayar
a. Guru Bukan PNS yang menerima kelebihan pembayaran
Tunjangan Profesi pada semester I tahun berjalan, maka nominal
Tunjangan Profesi yang diterima oleh Guru Bukan PNS yang
bersangkutan dapat disesuaikan pada semester II dalam tahun
berjalan atau mengembalikan kelebihan Tunjangan Profesi yang
telah diterimanya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
b. Guru Bukan PNS yang menerima kelebihan pembayaran
Tunjangan Profesi pada semester II tahun berjalan, maka
nominal Tunjangan Profesi yang diterima oleh Guru Bukan PNS
yang bersangkutan dapat disesuaikan pada semester I pada
tahun berikutnya.

jdih.kemdikbud.go.id
- 11 -

c. Dalam hal Guru Bukan PNS yang menerima kelebihan


pembayaran Tunjangan Profesi pada semester II sebagaimana
dimaksud pada huruf b tidak memenuhi kriteria penerima
Tunjangan Profesi pada semester I tahun berikutnya, maka Guru
Bukan PNS tersebut harus mengembalikan kelebihan Tunjangan
Profesi yang berlebih.
d. Pengembalian kelebihan Tunjangan Profesi dilakukan dengan
ketentuan sebagai berikut.
1) Guru Bukan PNS yang bersangkutan menyampaikan
informasi kepada Pusat Layanan Pembiayaan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan besaran nominal pembatalan
pembayaran Tunjangan Profesi.
2) Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan membuat kode billing atau
surat setoran melalui aplikasi Sistem Informasi Penerimaan
Negara Bukan Pajak Online (SIMPONI).
3) Berdasarkan kode billing sebagaimana dimaksud pada
angka 2, Guru Bukan PNS yang bersangkutan melakukan
pengembalian melalui pos atau bank dengan batas waktu
paling lambat sesuai dengan jangka waktu yang
tercantum dalam kode billing.
4) Bukti setor pengembalian disampaikan kepada Pusat
Layanan Pembiayaan Pendidikan Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan sehari setelah melakukan penyetoran.
10. Pembatalan dan Penghentian
a. Pembatalan Pembayaran
1) Tunjangan Profesi dapat dibatalkan pembayarannya
apabila:
a) data dan informasi yang digunakan untuk memenuhi
persyaratan terbukti didapat dengan melanggar
hukum;
b) sertifikat pendidik diperoleh tidak sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang ‐ undangan; dan/atau
c) menerima lebih dari satu Tunjangan Profesi.

jdih.kemdikbud.go.id
- 12 -

2) Dalam hal Guru Bukan PNS telah menerima Tunjangan


Profesi namun dibatalkan pembayarannya, maka wajib
mengembalikan ke kas negara dengan mekanisme sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Penghentian Pembayaran
1) Pembeyaran Tunjangan Profesi Guru Bukan PNS dihentikan
apabila penerima Tunjangan Profesi Guru Bukan PNS:
a) meninggal dunia maka penghentian pembayarannya
dilakukan pada bulan berikutnya;
b) mencapai batas usia pensiun, maka penghentian
pembayarannya dilakukan pada bulan berikutnya;
c) diangkat menjadi CPNS maka penghentian
pembayarannya dilakukan pada bulan berjalan dan
pembayaran Tunjangan Profesi selanjutnya akan
dibayarkan oleh Pemerintah Daerah;
d) mengundurkan diri atas permintaan sendiri, maka
penghentian pembayarannya dilakukan pada bulan
berjalan;
e) dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan telah memiliki
kekuatan hukum tetap, maka penghentian
pembayarannya dilakukan pada bulan berjalan;
dan/atau
f) mendapat tugas belajar, maka penghentian
pembayarannya dilakukan pada bulan berjalan; dan
2) penghentian pembayaran berdasarkan surat resmi atau
surat keterangan dari pihak yang berwenang.
3) Kepala Sekolah melaporkan kepada Dinas Pendidikan sesuai
dengan kewenangannya, apabila terdapat Guru Bukan PNS
penerima Tunjangan Profesi yang memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud pada angka 1) sebelum jatuh tempo
pembayaran Tunjangan Profesi.
11. Cuti Guru Bukan PNS
Guru Bukan PNS yang sedang cuti berhak untuk mendapatkan
Tunjangan Profesi apabila cuti dilaksanakan dengan ketentuan
sebagai berikut.
a. Cuti Tahunan
Guru Bukan PNS mendapat liburan yang disamakan dengan hak

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html


jdih.kemdikbud.go.id
htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html
- 13 -

cuti tahunan PNS yaitu maksimal 12 (dua belas) hari kerja


pada libur akademik dalam 1 (satu) tahun berdasarkan
persetujuan dari pejabat pembina kepegawaian atau
penyelenggara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat sesuai dengan kewenangannya.
b. Cuti Haji
Guru Bukan PNS yang melaksanakan ibadah haji berhak untuk
mendapatkan cuti haji apabila yang bersangkutan melaksanakan
ibadah haji untuk pertama kalinya. Guru Bukan PNS yang
bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis dan
mendapat persetujuan dari pejabat pembina kepegawaian atau
penyelenggara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat sesuai dengan kewenangannya.
c. Cuti Sakit
1) Guru Bukan PNS yang sakit 1 (satu) hari sampai dengan14
(empat belas) hari dalam 1 (satu) bulan berhak atas cuti
sakit, dengan ketentuan Guru Bukan PNS yang
bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis
dan mendapat persetujuan dari pejabat pembina
kepegawaian atau penyelenggara satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan
kewenangannya dengan melampirkan surat keterangan dari
dokter pemerintah.
2) Guru Bukan PNS, pejabat pembina kepegawaian, dan/atau
penyelenggara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat yang menyalahgunakan pemberian cuti sakit
dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
d. Cuti Ibadah Keagamaan
1) Guru bukan PNS dapat melaksanakan ibadah keagamaan
(misal umrah) pada saat cuti tahunan.
2) Apabila tidak memungkinkan melaksanakan ibadah
keagamaan pada saat cuti tahunan, Guru Bukan PNS dapat
mengajukan cuti ibadah keagamaan paling banyak 12 (dua
belas) hari dengan ketentuan:
a) Guru Bukan PNS yang melaksanakan ibadah
keagamaan untuk pertama kali;

jdih.kemdikbud.go.id
- 14 -

b) harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada


pejabat pembina kepegawaian atau penyelenggara
satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat; dan
c) Pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan
kewenangannya wajib memperhatikan keberlangsungan
proses kegiatan belajar mengajar dalam memberikan
cuti ibadah keagamaan.
e. Cuti Melahirkan
1) Guru Bukan PNS mendapat persetujuan cuti melahirkan
secara tertulis dari pejabat pembina kepegawaian atau
penyelenggara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat sesuai dengan kewenangannya.
2) cuti melahirkan diberikan untuk kelahiran anak pertama
sampai dengan kelahiran anak ketiga pada saat menjadi
Guru Bukan PNS;
2) cuti melahirkan diberikan paling lama 3 (tiga) bulan.
f. Cuti Alasan Penting
Guru Bukan PNS dapat menggunakan cuti alasan penting paling
lama 14 (empat belas) hari dalam 1 (satu) tahun dengan
ketentuan Guru Bukan PNS yang bersangkutan harus
mengajukan permintaan secara tertulis dan mendapat
persetujuan dari pejabat pembina kepegawaian atau
penyelenggara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat sesuai dengan kewenangannya.
g. Cuti Studi
Guru Bukan PNS yang telah memenuhi kualifikasi akademik
paling rendah S-1 atau D-IV dan telah memiliki sertifikat pendidik
dapat menggunakan cuti studi. Cuti studi dapat diberikan secara
periodik setiap 6 (enam) tahun dihitung sejak yang bersangkutan
memenuhi kualifikasi akademik dan telah memiliki sertifikat
pendidik. Cuti studi dipergunakan untuk melakukan praktik
kerja/magang di Dunia Usaha atau Dunia Industri (DUDI) yang
relevan dengan tugasnya paling lama 6 (enam) bulan dihitung
secara akumulatif dalam jangka waktu 6 (enam) tahun dengan
ketentuan sebagai berikut:

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html jdih.kemdikbud.go.id


htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html
- 15 -

1) penyelenggaraan praktik kerja/magang dilakukan oleh


DUDI yang telah memiliki kerjasama antara
DUDI/kementerian lain/lembaga negara dengan
Kementerian/Pemerintah Daerah;
2) mendapatkan izin/persetujuan dari pejabat pembina
kepegawaian atau penyelenggara satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan
kewenangannya; dan
3) pejabat pembina kepegawaian atau penyelenggara satuan
pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai
dengan kewenangannya menyediakan Guru pengganti yang
relevan.
12. Ketentuan Pindah Satminkal:
a. Guru Bukan PNS yang memiliki sertifikat pendidik selain dari
Kementerian, apabila pindah mutasi ke sekolah di bawah binaan
Kementerian, maka data Guru Bukan PNS tersebut harus
dimasukkan pada aplikasi Dapodik di sekolah yang baru dan
sekolah di bawah binaan Kementerian wajib memasukkan
datanya di Dapodik.
b. Guru Bukan PNS sebagaimana dimaksud pada huruf a harus
membawa bukti penghentian pembayaran Tunjangan Profesi dari
kementerian sebelumnya yang diserahkan ke Dinas Pendidikan
setempat sesuai dengan kewenangannya untuk dimasukkan ke
dalam SIM-Tun.
13. Ketentuan Lain-lain
a. Kementerian menyediakan aplikasi Hadir GTK yang dapat
digunakan Dinas Pendidikan atau penyelenggara satuan
pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk
mendapatkan data kehadiran Guru.
b. Aplikasi Hadir GTK merupakan aplikasi yang dirancang
sebagai bagian dari penilaian kinerja Guru.
c. Pencatatan kehadiran Guru Bukan PNS dapat dilakukan secara
daring (online) melalui aplikasi Hadir GTK yang terdapat pada
laman http://hadir.gtk.kemdikbud.go.id.
d. Tata cara penggunaan aplikasi Hadir GTK diatur dalam
pedoman penggunaan aplikasi Hadir GTK yang dapat diunduh di
laman http://hadir.gtk.kemdikbud.go.id.

jdih.kemdikbud.go.id
- 16 -

e. Ditjen GTK mengunduh hasil rekapitulasi kehadiran Guru


melalui aplikasi Hadir GTK.
f. Hasil rekapitulasi kehadiran disampaikan ke Pusat Layanan
Pembiayaan Pendidikan.

F. Pengendalian dan Pengawasan


1. Pengendalian
Pengendalian pembayaran Tunjangan Profesi ini dilakukan melalui:
a. sosialisasi program penyaluran Tunjangan Profesi oleh Pusat
Layanan Pembiayaan Pendidikan kepada
provinsi/kabupaten/kota dan Guru Bukan PNS sesuai dengan
kewenangannya; dan/atau
b. pemantauan dan evaluasi (monitoring dan evaluasi) yang
dilakukan oleh instansi terkait.
c. upaya penyelesaian masalah yang terjadi dalam proses
pelaksanaan pembayaran Tunjangan Profesi.
2. Pengawasan
Pengawasan dilakukan oleh aparat fungsional internal dan eksternal
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.
G. Pertanggungjawaban
Bentuk pertanggungjawaban bagi pemberi Tunjangan Profesi terdiri dari:
1. SKTP; dan
2. Surat Perintah Pencairan Dana (SPPD).

SEKRETARIS JENDERAL,

ttd.

AINUN NA’IM
Salinan sesuai dengan aslinya,
Kepala Biro Hukum
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,

ttd.

Dian Wahyuni
NIP 196210221988032001

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html jdih.kemdikbud.go.id


htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html

SALINAN
LAMPIRAN II
PERATURAN SEKRETRARIS JENDERAL
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
NOMOR 6 TAHUN 2020
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENGELOLAAN PENYALURAN
TUNJANGAN PROFESI DAN TUNJANGAN KHUSUS GURU
BUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL

TEKNIS PENYALURAN TUNJANGAN KHUSUS BAGI GURU BUKAN


PEGAWAI NEGERI SIPIL

A. Tujuan
Penyaluran Tunjangan Khusus bertujuan untuk:
1. memberi penghargaan kepada Guru Bukan PNS di Daerah Khusus
sebagai kompensasi atas kesulitan hidup yang dihadapi dalam
melaksanakan tugas di Daerah Khusus; dan
2. mengangkat martabat, meningkatkan kompetensi, dan memajukan
profesi Guru Bukan PNS, serta meningkatkan mutu pembelajaran
dan meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu di Daerah
Khusus.

B. Kriteria Penerima Tunjangan Khusus


Tunjangan Khusus Guru Bukan PNS diberikan dengan kriteria sebagai
berikut.
1. Guru Bukan PNS yang bertugas pada satuan pendidikan di Daerah
Khusus yang daerahnya ditetapkan oleh Menteri dengan kriteria:
a. jumlah penerima Tunjangan Khusus pada satuan pendidikan
tidak melebihi kebutuhan guru dan Kepala Sekolah ideal pada
satuan pendidikan tersebut;
b. Daerah Khusus merupakan desa sangat tertinggal berdasarkan
kriteria yang ditetapkan oleh Kemendes PDTT dan data dari
Kementerian;
c. Guru Bukan PNS yang menerima Tunjangan Khusus juga dapat
ditentukan berdasarkan:
1) kepentingan nasional;

jdih.kemdikbud.go.id
-2-

2) program prioritas Pemerintah Pusat; dan/atau


3) ketersediaan anggaran sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
2. Memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK);
dan
3. Memiliki SK penugasan mengajar sebagai guru dan Kepala Sekolah di
satuan pendidikan pada Daerah Khusus dari pejabat pembina
kepegawaian atau penyelenggara satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan kewenangannya.

C. Besaran Tunjangan Khusus


1. Tunjangan Khusus guru Bukan PNS diberikan dengan besaran
sebagai berikut:
a. bagi Guru Bukan PNS yang telah memiliki Surat Keputusan
(SK) inpassing atau kesetaraan diberikan setara gaji pokok
PNS dengan masa kerja dan golongan/ruang yang sama setiap
bulan; atau
b. bagi Guru Bukan PNS yang belum memiliki SK inpassing atau
kesetaraan diberikan sebesar Rp1.500.000,00 (satu juta lima
ratus ribu rupiah) setiap bulan.
2. Besaran Tunjangan Khusus sebagaimana dimaksud pada angka 1
dikenakan pajak penghasilan sesuai dengan ketentuan pe raturan
perundang-undangan.

D. Tahapan Penyaluran Tunjangan Khusus


1. Penarikan Data
a. Data yang digunakan berdasarkan Dapodik yang bersumber dari
sekolah.
b. Data dijamin kebenarannya oleh kepala satuan pendidikan
berdasarkan surat pertanggungjawaban mutlak.
c. Direktorat Jenderal melakukan penarikan data dari Dapodik
pada bulan Maret untuk pembayaran Tunjangan Khusus
semester I dan bulan September untuk pembayaran Tunjangan
Khusus semester II setiap tahun berjalan.
2. Verifikasi kelayakan calon penerima Tunjangan Khusus
a. verifikasi kelayakan calon penerima Tunjangan Khusus sesuai
dengan kriteria penerima Tunjangan Khusus dilakukan oleh

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html jdih.kemdikbud.go.id


htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html
-3-

Ditjen GTK.
b. Hasil verifikasi disampaikan kepada Pusat Layanan Pembiayaan
Pendidikan untuk diidentifikasi, dianalisis, dan ditetapkan
sebagai penerima tunjangan sesuai dengan anggaran yang
dimiliki.
3. Pengusulan Calon Penerima
Pengusulan calon penerima Tunjangan Khusus dilakukan melalui
mekanisme sebagai berikut:
a. Dinas pendidikan mengusulkan calon penerima Tunjangan
Khusus secara daring berdasarkan data calon penerima
Tunjangan Khusus melalui aplikasi Sistem Informasi
Manajemen Aneka Tunjangan (SIM-Antun) berdasarkan hasil
verifikasi, mulai bulan Maret untuk pembayaran Tunjangan
Khusus semester I tahun berjalan dan bulan September untuk
pembayaran Tunjangan Khusus semester II tahun berjalan.
b. Dalam hal Dinas pendidikan belum mengusulkan calon penerima
Tunjangan Khusus paling lama tanggal 31 Mei untuk semester I
dan paling lama tanggal 31 Oktober tahun berjalan untuk
semester II, maka Ditjen GTK dapat mengajukan penetapan calon
penerima tunjangan khusus yang memenuhi persyaratan kepada
Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan.
c. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan mengumpulkan data
calon penerima tunjangan khusus dari Ditjen GTK untuk
diidentifikasi, dan dianlaisis dan kemudian dilakukan Penetapan
sebagai penerima tunjangan khuusus.
d. Dinas pendidikan yang menolak pemberian Tunjangan
Khusus harus menyampaikan surat penolakan yang
ditandatangani oleh gubernur/bupati/walikota kepada Menteri
u.p Ditjen GTK. Ditjen GTK menyampaikan penolakan tersebut
kepada Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan paling
lama diterima 30 April pada tahun berjalan.
4. Pergantian Penerima Tunjangan Khusus
a. Guru yang pernah menerima Tunjangan Khusus dapat diganti
dengan Guru lain yang belum atau tidak menerima Tunjangan
Khusus, apabila Guru yang pernah menerima Tunjangan
Khusus tersebut tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai
penerima tunjangan.

jdih.kemdikbud.go.id
-4-

b. Guru pengganti sebagaimana dimaksud pada huruf a harus


memenuhi kriteria sebagai penerima Tunjangan Khusus.
c. Penggantian penerima Tunjangan Khusus dilakukan dengan
mengusulkan Guru pengganti melalui mekanisme sebagaimana
dimaksud pada angka 3 setelah Guru pengganti tersebut
menerima pemberian tunjangan pemberian tunjangan khusus
terhitung semester berikutnya pada tahun berkenaan.
d. Penggantian penerima Tunjangan Khusus dilakukan dengan
memperhatikan ketersediaan anggaran.
5. Penerbitan Surat Keputusan Penerima Tunjangan Khusus (SKTK)
a. SKTK ditetapkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan
disahkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran pada Pusat Layanan
Pembiayaan Pendidikan berdasarkan usulan dari Dinas
Pendidikan setelah dilakukan proses verifikasi dan validasi
sebanyak 2 (dua) tahap dengan ketentuan sebagai berikut.
1) SKTK tahap 1 (satu) terbit mulai bulan Maret pada tahun
berjalan dan berlaku untuk pembayaran Tunjangan
Khusus semester I pada bulan Januari sampai dengan
bulan Juni (6 bulan) tahun berjalan; dan
2) SKTK tahap 2 (dua) terbit mulai bulan September pada
tahun berjalan dan berlaku untuk pembayaran
Tunjangan Khusus semester II pada bulan Juli sampai
dengan bulan Desember (6 bulan) tahun berjalan.
b. SKTK dapat diunduh ole h dinas pendidikan sesuai melalui
aplikasi SIM-Antun.
6. Tata Kelola Pencairan Tunjangan Khusus
a. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan membayar Tunjangan
Khusus melaui rekening penerima Tunjangan Khusus.
b. Pembayaran Tunjangan Khusus dilakukan setiap triwulan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. PPK pada Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan
menerbitkan Surat Perintah Pembayaran Langsung (SPP LS)
dan menyampaikan SPP LS kepada Pejabat Penandatangan
Surat Perintah Membayar (PPSPM) untuk diterbitkan Surat
Perintah Membayar (SPM).
d. Daftar usulan penerima tunjangan profesi yang menjadi
lampiran SPM dibuat berdasarkan data dari Sistem Informasi

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html jdih.kemdikbud.go.id


htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html

-5-

Manajemen Pembayaran (SIM- Bar) dan digunakan oleh Pusat


Layanan Pembiayaan Pendidikan sebagai alat untuk
memantau pembayaran tunjangan profesi.
e. SPM diajukan ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
(KPPN) Jakarta III yang akan digunakan sebagai dasar
penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D).
f. SP2D yang diterbitkan oleh KPPN Jakarta III disampaikan
kepada bank penyalur yang ditunjuk Pusat Layanan
Pembiayaan Pendidikan.
g. Bank penyalur menerima SP2D dari KPPN dan Surat Perintah
Penyaluran (SPPn) dari Pusat Layanan Pembiayaan
Pendidikan.
h. bank penyalur menyalurkan tunjangan profesi ke rekening
penerima Tunjangan Profesi.
7. Pelaporan penyaluran Tunjangan Khusus
Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan melaporkan penyaluran Tunjangan Khusus sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

jdih.kemdikbud.go.id
-6-

Gambar 2. Proses Penyaluran Tunjangan Khusus bagi Guru Bukan PNS

SEKOLAH DITJEN GURU DAN TENDIK DINAS PENDIDIKAN PROVINSI DINAS PENDIDIKAN KAB/KOTA PUSAT LAYANAN PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

14
Menentukan kriteria
3 1
penerima tunjangan khusus
5 7
DAPODIK Mengajukan calon usulan
Verifikasi dan
PEMBUATAN
mengusulkan
KPPN
2 dan kuota penerima penerima tunjangan SPP/SPM 13
tunjangan khusus khusus bagi guru
Pendidikan
2 Menengah dan BANK PENYALUR
YA
4A Pendidikan Khusus Menginput 10
melalui SIM ANTUN dan 13 16
Menganalisis PENETAPAN
Data untuk PENERBITAN
dilakukan 11 SIMBAR PEMETAAN 18
SP2D
4B Verifikasi dan Croschek di PEMBAYARAN
mengusulkan penerima 8 9
Lapangan TIDAK YA
tunjangan khusus bagi
6 guru PAUD dan 21 17
Pendidikan Dasar MASUK
melalui SIM ANTUN PENGIRI- KE
15 MAN UANG
REKENING
INFO 12B PENERBITAN GURU
SPPn
GTK
12A
TIDAK
24
1
22
23 19
20
REKENING
RETUR
OPERATOR
SEKOLAH

GURU DAPAT
MENGETAHUI

jdih.kemdikbud.go.id
htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html
htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html
-7-

Keterangan Gambar 2. Proses Penyaluran Tunjangan Khusus bagi Guru


Bukan PNS sebagai berikut:
No. Keterangan
1. Operator sekolah mengisi data guru dan data Kepala Sekolah
melalui Dapodik
2. Pendataan guru sudah terkumpul dalam Dapodik
3. Ditjen GTK menarik semua data yang berkaitan dengan Guru dari
Dapodik
4. A Ditjen GTK memetakan data guru baik yang masuk kriteria
maupun yang tidak masuk kriteria penerima tunjangan
khusus melalui SIM INFO GTK
B Ditjen GTK mengirimkan usulan hasil pemetaan guru baik
yang masuk kriteria maupun yang tidak masuk kriteria
penerima tunjangan khusus.
5. Pemetaan data berdasarkan kriteria calon penerima tunjangan
khusus untuk guru pendidikan menengah dan pendidikan khusus
langsung dikirim melalui SIM ANTUN Dinas Pendidikan Provinsi
untuk divalidasi kebenarannya.
6. Pemetaan data berdasarkan kriteria calon penerima tunjangan
khusus untuk guru PAUD dan pendidikan dasar langsung dikirim
melalui SIM ANTUN Dinas Pendidikan Kab/Kota untuk divalidasi
kebenarannya.
7. Dinas Pendidikan provinsi memvalidasi data penerima tunjangan
khusus untuk guru pendidikan menengah dan pendidikan khusus
Bukan Pegawai Negeri Sipil
8. Dinas Pendidikan Kab/Kota memvalidasi data penerima tunjangan
khusus untuk guru PAUD dan pendidikan dasar yang bukan
pegawai negeri sipil
9. Hasil validasi data dari Dinas Pendidikan disampaikan ke Pusat
Layanan Pembiayaan Pendidikan untuk dilakukan input dan
analisis data penerima tunjangan
10. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan menetapkan SKTK kepada
guru yang layak dan sudah memenuhi syarat
11. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan memasukan SKTK ke dalam
Sistem Informasi Pembayaran (SIMBAR)

jdih.kemdikbud.go.id
-8-

No. Keterangan
12. A Data guru yang tidak memenuhi syarat penetapan penerima
tunjangan khusus, dikembalikan ke Dinas Pendidikan
Provinsi untuk guru pendidikan menengah dan pendidikan
khusus dan Dinas Kab/Kota untuk guru PAUD dan
pendidikan dasar
B Dinas Pendidikan melaui SIM ANTUN menyampaikan ke
Ditjen GTK untuk guru yang tidak memenuhi syarat
penetapan penerima tunjangan khusus
13. Berdasarkkan SIMBAR, Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan
memetakan penyaluran tunjangan berdasarkan rekening bank
14. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan membuat SPP dan SPM
untuk disampaikan ke KPPN Jakarta III sebagai dasar pengajuan
penerbitan SP2D.
15. KPPN Jakarta III memverifikasi data sebelum diterbitkan SP2D
16. KPPN Jakarta III menerbitkan SP2D dan dikirimkan kepada Bank
Penyalur yang telah ditunjuk oleh Pusat Layanan Pembiayaan
Pendidikan
17. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan menerbitkan dan
mengirimkan SPPn kepada bank penyalur sebagai dasar penyaluran
uang ke rekening penerima
18. Bank penyalur melaksanakan penyaluran berdasarkan nama-nama
penerima yang ada dalam SPPn
19. Bank Penyalur melaporkan penyaluran uang yang sudah masuk
ke rekenig penerima kepada Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan
20. Bank Penyalur melaporkan rekening yang bermasalah (retur)
kepada Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan
21. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan mengupload data pencairan
ke dalam SIMBAR
22. SIM-BAR menginformasikan pencairan tunjangan ke dalam info
GTK
23. Guru dapat melihat pencairan tunjangan melalui info GTK
24. Melalui INFO GTK, semua Guru dapat melihat tentang data pribadi
mereka diantara sudah layak SKTK atau tidak layak SKTK,
sehingga bagi yang kurang layak dapat memperbaiki kembali
kekurangannya melalui Aplikasi Dapodik yang diisi Operator
Sekolah

jdih.kemdikbud.go.id
htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html
htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html

- 11 -

8. Penghentian Pembayaran Tunjangan Khusus


a. Pembayaran Tunjangan Khusus dihentikan apabila Guru Bukan
PNS penerima Tunjangan Khusus:
1) meninggal dunia maka pembayaran dihentikan pada
bulan berikutnya;
2) mencapai batas usia pensiun maka pembayaran dihentikan
pada bulan berikutnya;
3) mengundurkan diri atas permintaan sendiri maka
pembayaran dihentikan pada bulan berjalan;
4) dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan telah memiliki
kekuatan hukum tetap maka pembayaran dihentikan pada
bulan berjalan;
5) mendapat tugas belajar maka pembayaran dihentikan pada
bulan berjalan;
6) tidak melaksanakan tugas tanpa surat keterangan atau
penugasan dari pejabat yang berwenang maka pembayaran
dihentikan pada bulan berjalan;
7) tidak lagi bertugas di Daerah Khusus atau mutasi ke
jabatan struktural atau fungsional umum maka
pembayaran dihentikan pada bulan berjalan; dan/atau
8) berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja antara
Guru dan penyelenggara pendidikan bagi Guru Bukan PNS
maka pembayaran dihentikan pada bulan berjalan.
b. penghentian pembayaran dilakukan berdasarkan surat resmi
atau surat keterangan dari pihak yang berwenang.
c. Kepala Sekolah melaporkan kepada Dinas Pendidikan sesuai
dengan kewenangannya, apabila terdapat Guru Bukan PNS
penerima Tunjangan Khusus yang memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud pada huruf a sebelum jatuh tempo belum
jatuh tempo pembayaran Tunjangan Khusus.
9. Cuti Guru Bukan PNS
Guru Bukan PNS yang sedang cuti berhak untuk mendapatkan
Tunjangan khusus apabila cuti dilaksanakan dengan ketentuan
sebagai berikut.
a. Cuti Tahunan
Guru Bukan PNS mendapat liburan yang disamakan dengan hak
cuti tahunan PNS yaitu maksimal 12 (dua belas) hari kerja

jdih.kemdikbud.go.id
- 12 -

pada libur akademik dalam 1 (satu) tahun berdasarkan


persetujuan dari pejabat pembina kepegawaian atau
penyelenggara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat sesuai dengan kewenangannya.
b. Cuti Haji
Guru Bukan PNS yang melaksanakan ibadah haji berhak untuk
mendapatkan cuti haji apabila yang bersangkutan
melaksanakan ibadah haji untuk pertama kalinya. Guru Bukan
PNS yang bersangkutan harus mengajukan permintaan secara
tertulis dan mendapat persetujuan dari pejabat pembina
kepegawaian atau penyelenggara satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan
kewenangannya.
c. Cuti Sakit
1) Guru Bukan PNS yang sakit 1 (satu) hari sampai dengan14
(empat belas) hari dalam 1 (satu) bulan berhak atas cuti
sakit, dengan ketentuan Guru Bukan PNS yang
bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis
dan mendapat persetujuan dari pejabat pembina
kepegawaian atau penyelenggara satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan
kewenangannya dengan melampirkan surat keterangan dari
dokter pemerintah.
2) Guru Bukan PNS, pejabat pembina kepegawaian, dan/atau
penyelenggara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat yang menyalahgunakan pemberian cuti sakit
dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
d. Cuti Ibadah Keagamaan
1) Guru Bukan PNS dapat melaksanakan ibadah keagamaan
(misal umrah) pada saat cuti tahunan.
2) Apabila tidak memungkinkan melaksanakan ibadah
keagamaan pada saat cuti tahunan, Guru Bukan PNS dapat
mengajukan cuti ibadah keagamaan paling banyak 12 (dua
belas) hari dengan ketentuan:
a) Guru Bukan PNS yang melaksanakan ibadah
keagamaan untuk pertama kali;

jdih.kemdikbud.go.id
htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html
htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html

- 13 -

b) harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada


pejabat pembina kepegawaian atau penyelenggara
satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat; dan
c) Pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan
kewenangannya wajib memperhatikan keberlangsungan
proses kegiatan belajar mengajar dalam memberikan
cuti ibadah keagamaan.
e. Cuti Melahirkan
1) Guru Bukan PNS mendapat persetujuan cuti melahirkan
secara tertulis dari pejabat pembina kepegawaian atau
penyelenggara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat sesuai dengan kewenangannya.
2) cuti melahirkan diberikan untuk kelahiran anak pertama
sampai dengan kelahiran anak ketiga pada saat menjadi
Guru Bukan PNS;
2) cuti melahirkan diberikan paling lama 3 (tiga) bulan.
f. Cuti Alasan Penting
Guru Bukan PNS dapat menggunakan cuti alasan penting paling
lama 14 (empat belas) hari dalam 1 (satu) tahun dengan
ketentuan Guru Bukan PNS yang bersangkutan harus
mengajukan permintaan secara tertulis dan mendapat
persetujuan dari pejabat pembina kepegawaian atau
penyelenggara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
masyarakat sesuai dengan kewenangannya.
g. Cuti Studi
Guru bukan PNS yang telah memenuhi kualifikasi akademik
paling rendah S-1 atau D-IV dan telah memiliki sertifikat pendidik
dapat menggunakan cuti studi. Cuti studi dapat diberikan secara
periodik setiap 6 (enam) tahun dihitung sejak yang bersangkutan
memenuhi kualifikasi akademik dan telah memiliki sertifikat
pendidik. Cuti studi dipergunakan untuk melakukan praktik
kerja/magang di Dunia Usaha atau Dunia Industri (DUDI) yang
relevan dengan tugasnya paling lama 6 (enam) bulan dihitung
secara akumulatif dalam jangka waktu 6 (enam) tahun dengan
ketentuan sebagai berikut:
1) penyelenggaraan praktik kerja/magang dilakukan oleh

jdih.kemdikbud.go.id
- 14 -

DUDI yang telah memiliki kerjasama antara


DUDI/kementerian lain/lembaga negara dengan
Kementerian/Pemerintah Daerah;
2) mendapatkan izin/persetujuan dari pejabat pembina
kepegawaian atau penyelenggara satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan
kewenangannya; dan
3) pejabat pembina kepegawaian atau penyelenggara satuan
pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai
dengan kewenangannya menyediakan Guru Bukan PNS
pengganti yang relevan.
10. Koordinasi
Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan melakukan koordinasi
pelaksanaan pemberian tunjangan khusus dengan pihak dinas
pendidikan provinsi dan kabupaten/kota sesuai dengan
kewenangannya.
11. Ketentuan Lain-lain
Aplikasi Kehadiran Guru dan Kepala Sekolah dan Tenaga
Kependidikan (Hadir GTK)
a. Kementerian menyediakan aplikasi Hadir GTK yang dapat
digunakan Dinas Pendidikan atau penyelenggara satuan
pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk
mendapatkan data kehadiran Guru dan Kepala Sekolah.
b. Aplikasi Hadir GTK merupakan aplikasi yang dirancang
sebagai bagian dari penilaian kinerja Guru dan Kepala Sekolah.
c. Pencatatan kehadiran Guru Bukan PNS dapat dilakukan secara
daring (online) melalui aplikasi Hadir GTK yang terdapat pada
laman http://hadir.gtk.kemdikbud.go.id.
d. Tata cara penggunaan aplikasi Hadir GTK diatur dalam
pedoman penggunaan aplikasi Hadir GTK yang dapat diunduh di
laman http://hadir.gtk.kemdikbud.go.id.
e. Ditjen GTK mengunduh hasil rekapitulasi kehadiran guru
melalui aplikasi Hadir GTK.
f. Hasil rekapitulasi kehadiran disampaikan ke Pusat Layanan
Pembiayaan Pendidikan.

htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html jdih.kemdikbud.go.id


htps:/ainamulyana.blogspot.com/2020/ 6/persekjen- omor-6 tahun-2020-tentang.html

- 15 -

E. Pengendalian Program
1. Pengendalian Program
Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan melakukan pengendalian pelaksanaan pembayaran
Tunjangan Khusus, yang mencakup semua upaya yang dilakukan
dalam rangka menjamin pelaksanaan pembayaran Tunjangan
Khusus agar dapat berjalan sebagaimana mestinya, tepat sasaran,
tepat waktu, tepat jumlah besaran, dan sesuai dengan peraturan
perundang‐undangan.
Kegiatan pengendalian penyaluran Tunjangan Khusus ini dilakukan
melalui:
a. sosialisasi program penyaluran Tunjangan Khusus kepada
dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota;
b. penyelesaian masalah atas permasalahan yang terjadi dalam
proses pembayaran Tunjangan Khusus; dan/atau
c. rekonsiliasi data penerima Tunjangan Khusus dengan
instansi terkait.
2. Pengawasan
Untuk mewujudkan penyaluran Tunjangan Khusus yang transparan
dan akuntabel, diperlukan pengawasan oleh aparat fungsional
internal dan eksternal sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang‐undangan.

F. Pertanggungjawaban
Bentuk pertanggungjawaban bagi pemberi Tunjangan Khusus adalah:
1. SKTK; dan
2. Surat Perintah Pencairan Dana (SPPD).

SEKRETARIS JENDERAL,

ttd.

AINUN NA’IM
Salinan sesuai dengan aslinya,
Kepala Biro Hukum
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,

ttd.

Dian Wahyuni
NIP 196210221988032001

jdih.kemdikbud.go.id