Anda di halaman 1dari 5

Nama : Oktaviani

Kelas : 3 IPA B
Nomer Induk : 36247

Pondok Pesantren Daar El Qolam 3 Kampus Dza’izza


1.Identitas buku

Tema : Sejarah

Judul : Jalan Raya Pos,jalan Daendels

Penerbit : Lentera Dipantara

Tebal : 147 Halaman + 2 lembar sampul

“Indonesia adalah negara budak.Budak diantara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa
lain.”-Pramoedya Ananta Toer

2.Sinopsis

Buku ini ditulis dengan mengalir, tanpa pembagian bab. Pada halaman-halaman awal Pram
menguraikan awal ketertarikannya pada Jalan Raya Pos yang memakan banyak korban jiwa
para pekerja paksa yang ia golongkan sebagai genosida. Ia juga menyinggung beberapa
genosida yang awalnya dilakukan oleh Jan Pietersz Coen (1621)
di Bandaneira, Daendels dengan Jalan Raya Posnya (1808), Cuulturstelsel alias tanam paksa,
genosida pada zaman Jepang di Kalimantan, genosida oleh Westerling (1947) hingga
genosida terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia di awal-awal pemerintahan Orde Baru.
Setelah mengurai sejarah tercetusnya ide pembuatan Jalan Raya Pos di benak Daendels, di
halaman-halaman selanjutnya Pram membagi bukunya ini berdasarkan kota-kota yang
dilewati dan berada di sepanjang Jalan Raya Pos. Pram mencatat dan mengurai 39 kota yang
berada dalam jalur Jalan Raya Pos, baik kota-kota besar seperti 
Batavia, Bandung, Semarang, Surabaya, maupun kota-kota kecil yang namanya jarang
terdengar oleh masyarakat umum seperti Juwana, Porong, Bangil dan lain-lain.
Secara rinci Pram mengungkap sejarah terbentuknya kota-kota tersebut, dampak sosial saat
dibangunnya Jalan Raya Pos, hingga keadaan kota-kota tersebut pada masa kini. Masa-masa
kelam ketika Jalan Raya Pos dikerjakan terungkap di buku ini.
Sampai di kota Sumedang pembangunan jalan harus melalui daerah yang sangat berat
ditembus, di daerah Ciherang Sumedang, yang kini dikenal dengan nama Cadas Pangeran. Di
sini para pekerja paksa harus memetak pegunungan dengan peralatan sederhana, seperti
kampak, dan lain-lain. Dengan medan yang demikian beratnya untuk pertama kalinya ada
angka jumlah korban yang jatuh mencapai 5000 orang.
Ketika pembangunan jalan sampai di daerah Semarang, Daendels mencoba menghubungkan
Semarang dengan Demak. Kembali medan yang sulit menghadang. Bukan hanya karena
tanahnya tertutup oleh rawa-rawa pantai, juga karena sebagian daripadanya adalah laut
pedalaman atau teluk-teluk dangkal. Untuk itu kerja pengerukan rawa menjadi hal utama.
Walau angka-angka korban di daerah ini tidak pernah dilaporkan, mudah diduga betapa
banyak para pekerja paksa yang kelelahan dan kelaparan itu menjadi korban malaria (hal 94).
Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos
sebanyak 12.000 orang. Itu yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah
ada komisi resmi yang menyelidiki.
Selain mengungkap sisi-sisi kelam di balik pembangunan Jalan Raya Pos, Pram juga
senantiasa menyelipkan penggalan kenangan-kenangan masa muda dirinya pada kota-kota di
sepanjang Jalan Raya Pos yang pernah ia singgahi. Ada kenangan yang pahit, mengesankan,
dan lucu yang pernah dialaminya di berbagai kota yang ditulisnya di buku ini. Sebut saja
pengalaman lucu ketika Pram muda yang sedang bertugas sebagai tentara di daerah Cirebon.
Dalam kegelapan malam secara tak disengaja ia pernah buang hajat di sebuah tungku dapur
yang disangkanya kakus, padahal tungku itu masih berisi sisa singkong rebus untuk rangsum
para laskar rakyat.(hal 79)
Buku ini diutup dengan bab "Dan Siapa Daendels" yang ditulis oleh Koesalah Soebagyo
Toer. Dalam bab ini diuraikan biografi singkat Daendels. Selain itu bagian daftar pustaka
yang menyajikan sumber-sumber pustaka yang digunakan Pram untuk menyusun buku ini
mencakup buku-buku yang terbit pada pertengahan abad ke-19 hingga akhir abad ke-20. Tak
heran jika membaca karya ini pembaca akan mendapatkan hal-hal yang detail mengenai
sejarah kota yang dilalui oleh Jalan Raya Pos.
Sayang buku ini tidak memuat peta yang secara jelas menggambarkan rute-rute Jalan Raya
Pos. Buku ini hanya menyajikan reproduksi dari peta kuno yang diambil dari Rijks Museum
Amsterdam (hal 129). Peta yang tak menggambarkan Pulau Jawa secara utuh dan huruf yang
tak terlihat pada peta tersebut tentu saja menyulitkan pembaca untuk memperoleh gambaran
akan sebuah jalan yang dibuat Daendels sepanjang Anyer hingga Panarukan ini.

3.Kelebihan buku

Dan bila telah menyangkut ideologi maka lenyaplah batas-batas ketatanegaraan, regional,
internasional maupun nasional, karena dia hidup dalam benak pribadi perorangan.”
-Pramoedya, hlm. 65-

Menceritakan tentang Jalan Raya Pos/Jalan Raya Daendels atau jalan yang melintangi pulau
Jawa yang sekarang ini lebih akrab disebut Jalur Pantai Utara (Pantura).

Layaknya milestones, Pram menceritakan kondisi daerah yang dilewati pembangunan jalan


raya berukuran 7 meter itu. Masyarakatnya, sejarahnya, dan keadaan mereka kala
prapembangunan, saat pembangunan bahkan pascapembangunan. Setiap daerah memiliki
bobot cerita yag berbeda. Bermula dari sudut Anyer sampai ke Panarukan. Dari penderitaan
romusha pembangunan jalan, cultuurstelsel (tanam paksa), koffie-stelsel (tanam kopi paksa)
dan kelaparan.

Saya senang sekali mengkhatamkan buku ini (walaupun seperti biasa, duluan adek saya),
selama ini saya tidak tahu seluk beluk nama-nama daerah di Indonesia. Jatinegara yang
dulunya bernama Meester Cornelis Senen, pendeta pemilik tanah disana, dst.
Flores yang sejatinya bernama Tanjung Bunga, Tangerang adalah Tanggeran, dan banyak
tempat lain yang namanya berubah karenamisspronounce kumpeni.
Hal lain yang saya temukan di buku ini adalah kebiasaan korupsi orang Indonesia yang
memang mendarah daging sejak dulu, seorang petani hanya mendapat 1/14 bagian usahanya
demi birokrasi dan terjadi selama kurun waktu pejajahan. Kita semua tahu kebiasaan yg
berlangsung lama apalagi 350 tahun itu sukar hilangnya, masih ada sampai sekarang. Amat
disayangkan padahal dulunya Nuswantara ini terkenal dengan pelautnya, rajanya, rakyatnya
yg mulia, jujur, dan antikekerasan. Penjajahan membangkitkan naluri hewani masyarakat
Indonesia raya dan terbawa gen sampai ke anak cucu.

Satu lagi, hal sekecil apapun yang dilakukan di masa lampau bisa sangat besar mempengaruhi
masa sekarang. Besaaar sekali efeknya, apalagi bila yang melakukan petinggi-petinggi.
Efeknya lama, tapi berasaaaaaaaa. Sejarah memang memegang peranan penting sebuah
bangsa.

Ngomong-ngomong di bagian belakang terdapat pengenalan sosok Daendels yang ditulis oleh
Koesalah Soebagiyo Toer yg belum lama ini meninggal(Semoga diterima di sisi-Nya).
Daendels itu di Nederland bukan siapa-siapa, gak penting, hanya ada satu jalan utama yang
menggunakan namanya di sana, dia orang gak punya skill yang kebetulan dijadikan Gubernur
HIndia Belanda.

Tapi siapa yang menyangka, Daendels yang tidak penting itu menjadi Hitlernya Indonesia.
Apa yang dia lakukan di negeri ini adalah kejahatan genosida terbesar selain Orde Baru.
Bahkan ada satu pulau (Pulau Buru) yang seluruh penduduk aslinya dialmarhumkan.

Disamping itu, saya rasa kita semua harus berterimakasih. Berkatnya ada jalur Pantura, rel
kereta api sepanjang Pulau Jawa yang senantiasa memudahkan dalam sektor perdagangan dan
berpergian. Saya yakin, tanpa kekerasan atau paksaan, pada saat ini kita tidak akan bisa
membangun yang serupa seperti itu. Patutlah kita mencintai jalan raya ini, karena harganya
adalah ratusan ribu nyawa, ditambah komoditas, ditambah pemuas nafsu paksa.

Pram adalah guru bangsa, pentutor sejarah yang tidak membosankan, mengalkisahkan segala
hal yang tidak ada di buku-buku pelajaran semasa saya kecil. Menyuguhkan cara pandang
yang berbeda. Saya senang sekali buku-buku lekra, meski bukan fans Soekarno atau anti
Soeharto. Saya membaca, dulu dia pernah membuat buku mengenai hutang Belanda yang
tidak tertagih selama penjajahan, bahkan dia menghitung jumlahnya belum ditambah bunga
selama sekian abad! Tapi sayang buku tersebut tidak disambut hangat oleh petinggi nasional,
apalagi internasional.

“Dengan kekuatan militer yang nisbiah sangat kecil, bangsa-bangsa Eropa mengalahkan
tentara pribumi yang tidak profesional. Dalam abad-abad selanjutnya dunia non-Eropa praktis
telah terjajah oleh bangsa-bangsa Eropa. Dana dan daya dunia non-Eropa tersedot tanpa henti
untuk kekayaan, kemakmuran, kekuatan, dan kemajuan Eropa.”

4. Kekurangan buku

Buku sejarah yang dikemas cukup baik dengan bukti foto dan fakta yang terurai. Lebih baik
jika penulisan waktu ditulis berurutan sejak zaman Daendels hingga masa kini. Menurut saya
lebih banyak kisah tentang masa kini (profesi seorang sopir, cat truk, PSK, dll.) daripada
kisah yang saya ekspektasi, zaman Daendels.

5.Saran presensi

Jalan Raya Pos merupakan salah satu gebrakan awal Daendels di Hindia. Jalan panjang ini
menghubungkan bagian barat sampai timur Pulau Jawa menyusuri pesisir utara. Meskipun
begitu, masih menjadi perdebatan apakah jalur ini benar-benar dibangun dari Anyer (Banten)
sampai Panarukan (Situbondo) seluruhnya pada era Daendels. Proyek ambisius Daendels ini
pastinya melibatkan tenaga yang tidak sedikit. Dan, para pekerjanya tentu saja dikerahkan
dari kaum pribumi atau rakyat Hindia Belanda yang dipekerjakan secara paksa tanpa diberi
upah. Seperti ditulis Jan Breman dalam buku Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa (2014),
pembangunan Jalan Daendels menelan belasan ribu korban jiwa dari rakyat yang
dipekerjakan secara paksa itu.

6.Kesimpulan

Sebuah buku tentang kesaksian. Dan buku ini adalah kesaksian tentang peristiwa genosida
kemanusiaan paling mengerikan di balik pembangunan Jalan Raya Pos atau yang lebih
dikenal dengan Jalan Daendels; jalan yang membentang 1000 kilometer sepanjang utara
pulau Jawa, dari Anyer hingga Panarukan. Inilah satu dari beberapa kisah tragedi kerjapaksa
terbesar sepanjang sejarah di Tanah Hindia.