Anda di halaman 1dari 15

Makalah

Kehamilan Dengan Gangguan Jiwa Depresi, Psikosa, Psikoneorosa

Disusun untuk memenuhi tugas Individu mata kuliah Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan
Maternal dan Neonatal 1

Dosen Pengampu :

Yuyu Sri Rostiawati,SST

Disusun oleh:

Tiara Oktaviani 018.201.1.030

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA SUBANG

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

PRODI D3 KEBIDANAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas semua limpahan
Rahmat serta Hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Kehamilan Dengan Gangguan Jiwa Depresi, Psikosa, Psikoneorosa”. Makalah ini disusun
guna memenuhi tugas Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dengan segala keterbatasan yang ada pada
penulis, sehingga bentuk dan isi makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, masih terdapat
berbagai kekurangan, untuk itu penulis dengan segala kerendahan hati berharap adanya kritik
dan saran yang bersifat membangun dari segala pihak yang bertujuan untuk penyempurnaan
makalah ini.

Segala saran untuk penyempurnaan makalah ini sangat diharapkan dan dengan ini
diucapkan banyak terima kasih.

Subang, Juni 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................i

DAFTAR ISI .....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ......................................................................................................1


1.2 Tujuan ....................................................................................................................1
1.3 Manfaat...................................................................................................................2

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Depresi....................................................................................................................3
2.2 Psikosa....................................................................................................................6
2.3 Psikoneurosa...........................................................................................................9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ..........................................................................................................11


3.2 Saran ....................................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................12

ii
BAB I

1.1 Latar Belakang


Masalah kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis,
perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah
mengalaminya. Perubahan kondisi fisik dan emosional yang kompleks memerlukan
adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi.
Konflik antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-
norma sosiokultural dan persoalandalam kehamilan itu sendiri (misalnya adanya
perubahan tubuh dan hormonal, kehamilannya tersebut tak diinginkan, jarak
kehamilan yang terlalu dekat, riwayat keguguran ataupun riwayat obstetric buruk
lainnya) dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi
emosional ringan, hingga ke tingkat gangguan jiwa (psikosis ) yang berat. Namun,
ini bukan lah hal yang mengherankan karena ovulasi dan haid juga dapat
menimbulkan psikosis. Penderita sembuh setelah anaknya lahir, akan tetapi dalam
kehamilan berikutnya biasanya penyakitnya timbul lagi. Eklamsia dan infeksi dapat
pula disertai atau disusul oleh psikosis.

Selain itu psikosis dapat menjadi lebih berat dalam kehamilan. Berdasar dari
masalah di atas, maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai kelainan jiwa
dalam kehamilan (depresi, psikosa) dengan tujuan agar masyarakat,terutama wanita
hamil lebih banyak tentang hal tersebut, mulai dari bentuk-bentuk atau jenisnya
sampai cara penanganannya. Dengan mengetahuinya, maka diharapkan mereka yang
menganggap kehamilan adalah boomerang dapat meyadari bahwa hal itu adalah
fisiologis dan peristiwa kodrat yang harus dilalui dan agar mereka dapat
menyesuaikan diri sehingga tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan dalam
hubungannya dengan perubahan emosional.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari depresi, psikosa dan psikoneurosa.
2. Untuk mengetahui penyebab dari depresi, psikosa dan psikoneurosa.
3. Untuk mengetahui jenis dari depresi, psikosa dan psikoneurosa.
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari depresi, psikosa dan psikoneurosa.

1
5. Untuk mengetahui cara pencegahan dan penanganan dari depresi, psikosa dan
psikoneurosa.

1.3 Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan
mahasiswa sehingga dapat mengaplikasikannya dalam memberikan asuhan
kebidanan.
2. Bagi Petugas Kesehatan
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi petugas kesehatan
khususnya bidan dalam memberikan asuhan kebidanan.

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Depresi
Depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa yang merasa tidak berdaya,
tidak bersemangat, tidak ada gairah hidup, yang disertai dengan melemahnya kepekaan
terhadap stimulasi tertentu, pengurangan aktifitas fisik ataupun mental dan kesukaran
dalam berkarir serta menganalisa.

Depresi selama kehamilan merupakan gangguan mood yang sama halnya dengan
depresi yang terjadi pada orang awam pada umumnya. Dimana pada kejadian depresi
akan terjadi perubahan kimiawi pada otak. Dalam hal ini perubahan hormonal pada saat
kehamilan akan mempengaruhi kimiawi otak itu sendiri, yang nantinya akan sangat
berhubugan erat dengan kejadian depresi dan kecemasan dalam kehamilan.

Gangguan ini ditandai dengan perasaan muram, murung, kesedihan atau


berkurangnya minat pada aktivitas. Pasien kadang-kadang dapat sarkastik, nihilistic
memikirkan hal yang sedih. Mereka juga dapat tegang, kaku, dan menolak intervensi
terapeutik. Gejalanya adalah perubahan nafsu makan dan pola tidur, harga diri yang
rendah, hilangnya energy dan pendorongan dorongan seksual.

Depresi bisa diobati dan dimanage selama kehamilan. Depresi saat kehamilan
atau antepartum depresi, merupakan gangguan mood sama halnya dengan depresi klinis.
Gangguan mood merupakan kelainan biologis yang melibatkan perubahan kimia pada
otak. Saat kehamilan, perubahan hormone bisa mempengaruhi kimia otak yang
berhubungan dengan depresi dan gelisah. Hal ini bisa disebabkan/dimunculkan oleh
situasi yang sulit, yang akhirnya menimbulkan depresi.

1. Seseorang dikatakan menderita depresi jika:


a. Keadaan emosi depresi/tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir
setiap hari
b. Kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua
c. Hilangnya berat badan secara signifikan saat tidak melakukan diet
d. Kegelisahan atau kelambatan psikomotor hampir setiap hari
e. Perasaan lelah atau kehilangan kekuatan setiap hari
f. Tidak berkonsentrasi, mengingat, atau mengambil keputusan

3
g. Pekerjaan dan aktivitas sehari-hari terganggu
h. Hubungan calon  ibu dengan orang sekitarnya terganggu
i. Kondisi ibu mengncam keselamatan janin

2. Gejala
Adapun bagi ibu hamil, tanda-tanda atau gejala yang menunjukkan mengalami
depresi tidak jauh atau sama halnya dengan gejala-gejala di atas dan waktunya pun
kurang lebih 2 minggu, yakni diantaranya sebagai berikut :
a. Ditandai dengan perasaan muram, murung, kesedihan, menunjukan lebih banyak
air mata dibandingkan senyum, tidak bisa atau sulit berkonsentrasi, mengingat,
atau mengambil keputusan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
b. Teganggu calon ibu dengan orang-orang sekitarnya, terganggu kondisi ibu
mengancam keselamatan janin dan putus asa, terkadang beberapa ada yang
merasa cemas.
c. Kadang-kadang tegang, kaku, dan menolak intervensi terapeutik. Selain itu,
gejala di atas biasanya disertai perubahan nafsu makan dan pola tidur, harga diri
yang rendah, hilangnya energi dan penurunan dorongan seksual.
d. Jarang mengontrol kehamilan.
e. Tidak pernah memberi stimulus terhadap janin yang dikandungnya.
f. Tidak melakukan persiapan utnuk menyambut bayi yang akan dilahirkan.

3. Penyebab Terjadinya Depresi Pada Kehamilan


Para ahli belum bisa memastikan mengapa depresi terjadi pada wanita hamil,
namun diduga perubahan tingkat hormon yang drastis selama kehamilan dan setelah
melahirkan menjadi penyebabnya. Selain peningkatan kadar hormon dalam tubuh,
menurut penelitian bahwa depresi terjadi karena klien atau penderita depresi
memiliki ketidakseimbangan dalam pelepasan neurotransmitter serotonin mayor,
norepinefrin, dopamin, asetilkolin, dan asam gama aminobutrik. Selain itu, ada pula
hasil penelitian yang menyatakan bahwa terjadinya depresi karena adanya masalah
dengan beberapa enzim yang mengatur dan memproduksi bahan-bahan kimia
tersebut. Dengan demikian, berdampak pula pada metabolisme glukosa dimana
penderita depresi tidak memetabolisme glukosa dengan baik dalam area otak
tersebut. Jka depresi teratasi, aktivitas metabolisme kembali normal. Selain dari
faktor organobiologis di atas, pencetus terjadinya depresi adalah karena factor

4
psikologis dan sosio-lingkungan, misalnya karena akan berubah peran menjadi
seorang ibu, karena kehilangan pasangan hidup, kehilangan pekerjaan, pasca
bencana dan dampak situasi kehidupan sehari-harinya.
Beberapa faktor utama penyebab depresi:
a. Kehamilan yang tidak diharapkan
b. Hamil di luar nikah
c. Faktor ekonomi
d. Faktor ketidakbahagiaan dalam rumah tangga
e. Perasaan cemas menghadapi persalinan.
f. Kurangnya dukungan dari suami dan keluarga
g. Perasaan khawatir yang berlebihan pada kesehatan janin
h. Ada masalah pada kehamilan atau kelahiran anak sebelumnya
i. Sedang menghadapi masalah keuangan
j. Usia ibu hamil yang terlalu muda
k. Adanya komplikasi selama kehamilan
l. Terpisah dari keluarga
m. Rasa takut yang berlebihan.
n. Orang tua tunggal.
o. Riwayat keluarga yang memiliki penyakit kejiwaan.

4. Penatalaksanaan depresi dalam kehamilan


Cara menanggulangi depresi berbeda-beda sesuai dengan keadaan pasien
tersebut, namun biasanya merupakan gabungan dari farmakoterapi dan psikoterapi
atau konseling. Dengan adanya dukungan dari orang orang terdekat serta dukungan
spiritual juga sangat membantu dalam penyembuhan.
a. Harus kita hadapi dengan sikap serius dan mengerti
b. Hendaknya jangan menghibur, memberi harapan palsu, bersikap optimis dan
bergurau karena akan memperbesar rasa tidak mampu dan rendah diri
c. Untuk mengatasi dengan cepat, gunakan obat-obat penenang.
d. Beberapa cara dalam melakukan terapi dan konsultasi  dengan dokter
kandungan seperti dengan metode support group atau psikoterapi yang dapat
dilakukan secara rutin. Perubahan pola hidup dapat memperbaiki depresi
sebagian orang:
e. Olahraga teratur

5
f. Berjemur pada siang hari
g. Penanganan stress
h. Konseling
i. Tidur teratur
j. Relaksasi

5. Pencegahan Depresi
Bagi mereka yang sedang hamil, maka jadikan masa hamil ini sebagai
pengalaman yang menyenangkan dalam hidupnya. Suami dan keluarga pun harus
berperan aktif dalam membantu penyembuhan orang-orang terdekat ini. Dukungan
dari mereka semua akan besar manfaatnya untuk menciptakan mood yang baik bagi
ibu dan janinnya. Diharapkan, dengan dukungan total dari suami, istri dapat
melewati masa kehamilannya dengan perasaan senang dan jauh dari depresi yang
dapat berakibat sama terhadap anak yang di kandungnya. Sehingga pada saatnya
nanti sang ibu hamil dapat melahirkan anak – anak dengan kualitas mental dan fisik
yang baik serta berkualitas.

2.2 Psikosa
Psikosa adalah tingkah laku secara keseluruhan dalam kepribadiannya
berpengaruh tidak ada kontak dengan realitas. Suatu gangguan jiwa dengan khilangan
rasa kenyataaan (sense of reality).

Keadaan ini dapat digambarkan bahwa psikosa adalah gangguan jiwa yang serius,
timbul karena penyebab organic ataupun emosional (fungsional) dan yang menunjukkan
gangguan kemampuan berfikir, bereaksi secara emosional, mengingat, berkomunikasi,
menafsirkan kenyataan dan bertindak sesuai dengan kenyataan, sedemikian rupa
sehingga kemampuan untuk memenuhi tuntutan hidup sehari-hari sangat terganggu.
Psikosa ditandai  oleh/terhadap impuls-impuls serta waham dari halusinasi.

Pada umunya gejala psikosa tidak mampum melakukan partisipasi sosial, sering
ada gangguan bicara, kehilngan orientasi terhadap lingkungan, aspek sosialnya
membahayakan orang lain, diri sendiri, dan perlu perawatan rumah sakit.

Jenis-jenis psikosa yaitu skizophrenia, dan paranoid. Paranoid dilain pihak adalah
jenis yang sudah lebih lanjut ditandai dengan halusinasi sama dengan persepsi palsu dan

6
kecurigaan yang sangat kuat, pola berfikir makin kacau dan tingakah laku makin tidak
normal. Psikosa umumnya terbagi dalam dua golongan besar yaitu:

a. Psikosa fungsional, factor penyebabnya adalah terletak pada aspek kejiwaan,


disebabkan karena sesuatu yang berhubungan dengan bakat keturunan.
b. Psikosa organic, disebakan oleh kelainan atau gangguan pada aspek tubuh.
1. Tanda tanda psikosa:
a. Halusinasi
b. Sejumlah kelainan peilaku, sepeti aktivitas yang meningkat, gelisah, dan
retardasi psikomotor.      
2. Gejala psikosis adalah:
a. Abnormal menampilkan emosi
b. Kebingungan
c. Depresi dan kadang-kadang pikiran bunuh diri
d. Kacau berpikir dan berbicara
e. Kegembiraan
f. Keyakinan palsu
g. Salah persepsi
h. Melihat, mendengar, merasakan, atau memahami hal-hal yang tidak ada
i. Berdasarkan ketakutan/kecurigaan
Menninger telah menyebutkan sindroma klasik yang menyertai sebagian besar pola
psikosa:

a. Perasaan sedih, bersalah yang mendalam


b. Keadaan terangsang yang tidak menentu dan tidak terorganisasi, disertai
pembicaraan dan motorik yang berlebihan
c. Isi pikiran yang berlawanan, acuh tak acuh terhadap harapan sosial
d. Kecendungan membela diri atau rasa kebesaran
e. Keadaan bingung dengan  disorientasi dan halusinasi
Psikosis adalah kondisi mental yang berat dimana terdapat hilangnya kontak dengan
realitas. Proses kejiwaan dalam kehamilan:

1) Triwulan I
a) Cemas ,takut, panik, gusar
b) Benci pada suami

7
c) Menolak kehamilan
d) Mengidam
2) Triwulan II
a) Kehamilan nyata
b) Adaptasi dengan kenyataan
c) Perut bertambah besar
d) Terasa gerakan janin
3) Triwulan III
a) Timbul gejolak baru menghadapi persalinan
b) Perasaan bertanggung jawab
c) Golongan ibu yang mungkin merasa takut
d) Ibu yang mempunyai riwayat/ pengalaman buruk pada persalinan yang lalu

3. Gangguan jiwa yang dapat terjadi pada kehamilan antara lain:


a. Gangguan afektif pada kehamilan
b. Skizofrenia
c. Gangguan cemas menyeluruh
d. Gangguan panic
4. Penyebab psikosa:
a. Internal (perubahan tubuh dan hormonal ibu hamil)
b. Ekstenal (kehamilan yang tidak diinginkan, kehamilan beresiko, dan jarak
kehamilan yang terlalu dekat riwayat keguguran) 
5. Pencegahan psikosa
a. Informasiakan kepada pasien tentng penyakit yang dialaminya
b. ANC rutin
c. Pemenuhan nutrisi
d. Aktivitas yang dilakukan
e. Latihan pernafasan
f. Senam hamil  
6. Penatalaksanaan psikosa
Pengobatan tergantung pada penyebab psikosis. Perawatan dirumah sakit
sering kali diperlukan untuk menjamin keselamatan pada pasien. Penatalaksannan
yang dilakukan adalah:

8
a. Konsultasikan dengan dokter, psikiater, psikolog, dan dengan tenaga kesehatan
lainnya.
b. Sejak pemeriksaan kehamilan pertama kali dengan tenaga medis harus dengan
kesabaran meyakinkan calon ibu bahwa peristiwa kehamilan dan persalinan
merupakan hal yang normal dan wajar.
c. Ajarkan dan berikan latihan-latihan untuk dapat menguasai otot-otot istirahat
dan pernafasan
d. Hindari kata-kata dan komentar yang dapat mematahkan semangat si ibu
e. Hindari komentar suatu kasus dan gelak tawa

2.3 Psikoneurosa
Psikoneurosa adalah ketegangan pribadi yang terus menerus akibat adanya
konflik, ketegangannya tidak mereda akhirnya neurosis (suatu kelainaan mental dngan
kepribadian terganggu yang ringan seperti cemas yang kronis, hambatan emosi, sukar
tidur kurang perhatian terhadap lingungan dan kurang memiliki energi).

1. Tipe neurotisme:
a. Neurostenia, muncul sebagai efek kelelahan mental yang berkembang menjadi
keluhan sakit-sakit yang tidak jelas lokasinya.
b. Hysteria, ditandai dengan kondisi ketidakstabilan emosi. Konflik mentalnya
diekspresikan melalui gejala fisik tertentu yang berpengaruh terhadap fungsi
tubuh secara menyeluruh misalnya perempuan yang tidak berbahagia dalam
perkawinannya akan mengungkapkan kepada suami.
c. Hipokondriasis, keterpakuan terhadap kondisi kesehatan, maksudnya selalu ada
bagian tubuh yang terasa kurang nyaman padahal penyakit yang diderita
sebenarnya penyakit imajjiner.
2. Penyebab
Psikoneurosa atau disingkat dengan neurosa disebabkan oleh faktor-faktor
psikologis dan kultural, khususnya oleh ketakutan dan kecemasan-kecemasan terus-
menerus yang menimbulkan stress atau ketegangan batin yang kuat dan kronis;
sehingga orang mengalami frustasi hebat, konflik-konflik emosional, kepatahan fisik
dan kepatahan mental ( mental breakdown ). Ditambah pula oleh ketidak-imbangan
pribadi dan kurangnya atau sedikitnya usaha serta kemauan, sehingga menambah
banyaknya kecemasan, yang nantinya akan meledak menjadi gejala neurosa.

9
3. Penatalaksanaan psikoneurosa
Dalam psikoterapi, psikolog, konselor dan ahli terapis yag berusaha meyusun
terapi psikologis yang beragam untuk pengobatan yang disesuaikan dengan
kepribadian klien. Penerapan metode dengan secara personal maupun group
(perkelompok). Psikiater berusaha mengkombinasi pengobatan medis dan
psikoterapi secara bersamaan. Perlu untuk diketahui bahwa tidak ada pengobatan
jenis gangguan kecemasan ini hanya menggunakan  satu cara saja, dibutuhkan lebih
kombinasi untuk menyembuhkan gangguan kompleks ini.

10
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perubahan kondisi fisik dan emosional yang kompleks memerlukan adaptasi
terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik
antara keinginan prokreasi, kebanggaan  yang ditumbuhkan dari norma-norma
sosiokultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri, hingga ketingkat gangguan
jiwa yang berat hal tersebut mungkin saja dapat  terjadi dikarenakan:
a. Kehamilan peristiwa yang sulit
b. Ketidak matangan dalam perkembangan emosi dan psikoseksual
c. Bayi yang rasa cemas dan takut akan hal-hal yang mungkin akan terjadi baik
pada ibu maupun pada bayinya.                                                    
Depresi selama kehamilan merupakn gangguan mood yang sama halnya
dengan depresi yang terjadi pada orang awam pada umumnya. Dimana pada kejadian
depresi akan terjadi perubahan kimiawi pada otak. Dalam hal ini perubahan hormonal
pada saat kehamilan akan mempengaruhi kimiawi otak itu sendiri, yang nantinya akan
sangat berhubugan erat dengan kejdian depresi dan kecemasan dalam kehamilan.

3.2 Saran
Diharapkan makalah ini dapat menambah pengtahuan mahasiswa dalam
memberikan pelayanan kebidanan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-
hari. Dan juga dengan makalah ini dapat meningkatkan pelayanan kesehatan
khususnya dalam bidang kebidanan sehingga dapat memaksimalkan kita untuk
memberikan health education dalam pencegahan dan penanganan kasus tentang
kehamilan dengan gangguan penyakit jiwa.

11
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.


http//Wikipedia.Gangguan jiwa.com
Manuaba, Ida Bagus. 2007. Pengantar Kuliah Obstetric. Jakarta : Penerbit  Buku Kedokteran
EGC.
Dirgagunarsa, Singgih. 1982. Pengantar Psikologi. Jakarta : Mutiara Sumber

Widya. Hanafiah Zulfadin, Rusman, dkk. 1989. Stres, Kecemasan dan Depresi. Surabaya.
Yayasan Kesehatan Jiwa ” Aditama ”.

12