Anda di halaman 1dari 3

Hubungan antara Transisi Epidemiologi dengan Transisi Demografi dan Kesehatan

Transisi kesehatan terjadi karena adanya transisi demografi dan transisi epidemiologi
(henry,1993). Transisi demografi merupakan akibat adanya
urbanisasi,industrialisasi,meningkatnya pendapatan, tingkat pendidikan, teknologi kesehatan dan
kedokteran di masyarakat. Hal ini akan berdampak pada terjadinya transisi epidemiologi yaitu
perubahan pola kematian yaitu akibat infeksi,angka fertilitas total,umur harapan hidup  penduduk
dan meningkatnya penyakit tidak menular atau penyakit kronik transisi epidemiologi bermula
dari suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatan dan pola penyakit utama penyebab
kematian dimana terjadi penurunan prevalensi penyakit infeksi (penyakit menular), sedangkan
penyakit non infeksi (penyakit tidak menular) justru semakin meningkat.Hal ini terjadi seiring
dengan berubahnya gaya hidup, sosial ekonomi dan meningkatnya umur harapan hidup yang
berarti meningkatnya pola risiko timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantung
koroner, diabetes melitus, hipertensi, dan lain sebagainya Transisi epidemiologi dan demografi,
juga perkembangan ekonomi mengakibatkannegara-negara menghadapi peningkatan beban
akibat Penyakit Tidak Menular (PTM).Pada 1999, PTM diperkirakan bertanggung jawab
terhadap hampir 60% kematian di dunia dan 43% dari beban penyakit dunia (WHO, 2000a).
Diprediksikan pada tahun 2020 penyakit ini akan mencapai 73 persen kematian di dunia dan 60
persen dari bebanpenyakit dunia (WHO, 2002). Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, data Pola Penyebab Kematian Umum di Indonesia, penyakit
jantung dan pembuluh darah dianggap sebagai penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia. 

Perubahan pola penyakit bukan hanya disebabkan oleh transisi epidemiologi saja,
melainkan juga ada transisi yang terjadi pada kependudukan atau transisi demografi. Menurut
Last (2001), transisi demografis adalah penurunan angka kesuburan (termasuk angka kematian)
pada suatu negara, yang sebelumnya dianggap sebagai akibat perubahan teknologi dan
industrialisasi, namun kemudian kemungkinan disebabkan oleh makin banyaknya wanita yang
melek huruf dan perubahan status wanita.

Teori transisi demografis pada negara maju dalam Noor (2008) dijelaskan sebagai
berikut:

 Pada awal pembangunan keadaan negara maju adalah


a. Fertilitas dan mortalitas agak stabil dan angkanya cukup tinggi
b. Pertumbuhan penduduk agak stabil, karena angka kematian tinggi diimbangi angka
kelahiran yang tinggi
 Pada perkembangan dan kemajuan status ekonomi, keadaannya menjadi:
a. Angka kematian mulai turun dan diikuti penurunan fertilitas, yang pada akhir transisi
keduanya akan menjadi stabil. Keadaan ini menghasilkan Net Reproductive Rate
(NRR) = 1.
b. Pada pasca transisi, akhirnya NRR menjadi < 1

Teori transisi demografis di negara maju tidak sesuai dengan keadaan di negara
berkembang, termasuk Indonesia, dalam hal:

a. Penurunan angka kematian di negara berkembang lebih cepat dibanding negara maju,
karena salah satu penyebabnya negara berkembang tidak harus menunggu peningkatan
status sosial ekonomi supaya menghasilkan teknologi yang sudah ada di negara maju
(teknologi diimpor dalam bentuk sudah jadi dari negara maju) seperti imunisasi,
antibiotika dan sebagainya.
b. Penurunan fertilitas cukup cepat dan tidak perlu menunggu kenaikan status ekonomi,
yang disebabkan oleh keberhasilan program Keluarga Berencana (family planning).

Model lainnya menyebut bahwa tidak hanya transisi epidemiologi dan transisi demografi saja
yang mengalami perubahan, tetapi juga pada status gizi yang merubah perilaku dan
menghasilkan gaya hidup modern.

Transisi demografis Gaya Hidup


Balita Manula Tradisional

Transisi Epidemiologis
Transisi Perilaku
PM PTM

Transisi gizi Gaya Hidup


Gizi kurang Gizi lebih Modern

Gambar 1. Transisi Demografis, Epidemilogis, dan Perilaku (Diolah dari: Bustan, 2012)
DAFTAR PUSTAKA

Bustan, Nadjib M., Pengantar Epidemiologi, edisi revisi, Jakarta, Rineka Cipta, 2012

Heryana, Ade. 2016. Transisi Epidemiologi. Jakarta : Universitas Esa Unggul

Anda mungkin juga menyukai