Anda di halaman 1dari 37

PRESENTASI KASUS

SINDROMA KORONER AKUT INFARK MIOKARD AKUT DENGAN


ST ELEVASI

PENYUSUN

dr. Ejil Frimari Hastia

INTERNSIP DOKTER INDONESIA

RSU PAKUWON SUMEDANG

2020

1
Topik : Sindroma Koroner Akut
Penyusun : dr. Ejil Frimari Hastia

I. Identitas Pasien
Nama : Tn. D
Umur : 45 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Cipadung
Agama : Islam
Suku : Sunda
Status Perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Swasta
No. Rekam Medis : 110286
Tanggal Masuk : 10 maret 2020 (15:07 WIB)
II. Anamnesa

Dilakukan secara auto-anamnesa pada tanggal 10 maret IGD RS Pakuwon pukul


15.07 WIB
.
o Keluhan Utama:
Sesak napas sejak 9 jam SMRS
o Keluhan Tambahan:
Nyeri dada, nyeri ulu hati, mencret, BAK banyak
o Riwayat Penyakit Sekarang:
OS datang ke IGD RS Pakuwon pada tanggal 10 maret 2020 pukul 21.00
WIB dengan keluhan sesak napas yang dirasakan sejak 7 jam SMRS dan dirasakan
semakin memberat. Pasien juga mengeluh adanya nyeri ulu hati yang menjalar ke dada.
Pasien juga mengeluh adanya BAB mencret yang dialami sudah 7x dalam sehari sejak
1 hari SMRS.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat penyakit DM
Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama disangkal.
Riwayat pengobatan paru-paru sebelumnya disangkal.

2
Riwayat penyakit hepatitis disangkal.
Riwayat penyakit hipertensi disangkal.
Riwayat penyakit jantung disangkal.
Riwayat asma dan alergi disangkal
o Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada anggota keluarga yang mengeluh keluhan yang sama dengan pasien
Riwayat DM pada keluarga disangkal
Riwayat TB paru pada keluarga disangkal
Riwayat asma dan alergi pada keluarga disangkal
Riwayat penyakit hipertensi pada keluarga disangkal
o Anamnesis Sistem:
Tanda checklist (+) menandakan keluhan pada sistem tersebut. Tanda strip (-)
menandakan keluhan di sistem tersebut disangkal oleh pasien.
Kulit
(-) Bisul (-) Rambut (-) Keringat malam
(-) Kuku (-) Ikterus (-) Sianosis
(-) Lain-lain

Kepala
(-) Trauma (-) Nyeri kepala
(-) Sinkop (-) Nyeri sinus

Mata
(-) Nyeri (-) Sekret
(-) Radang (-) Gangguan penglihatan
(-) Sklera Ikterus (-) Penurunan ketajaman penglihatan

Telinga
(-) Nyeri (-) Tinitus
(-) Sekret (-) Gangguan pendengaran
(-) Kehilangan pendengaran
Hidung
(-) Trauma (-) Gejala penyumbatan
(-) Nyeri (-) Gangguan penciuman
(-) Sekret (-) Pilek
(-) Epistaksis

Mulut

3
(-) Bibir (-) Lidah
(-) Gusi (-) Gangguan pengecapan
(-) Selaput (-) Stomatitis

Tenggorokan
(-) Nyeri tenggorok (-) Perubahan suara

Leher
(-) Benjolan/ massa (-) Nyeri leher

Jantung/ Paru
(+) Nyeri dada (+) Sesak nafas
(-) Berdebar-debar (-) Batuk darah
(-) Ortopnoe (-) Batuk

Abdomen (Lambung / Usus)


(-) Rasa kembung (-) Perut membesar
(-) Mual (-) Wasir
(-) Muntah (+) Mencret
(-) Muntah darah (-) Melena
(-) Sukar menelan (-) Tinja berwarna dempul
(+) Nyeri perut (-) Tinja berwarna ter
(-) Benjolan

Saluran Kemih / Alat Kelamin


(-) Disuria (-) Kencing nanah
(-) Stranguri (-) Kolik
(+) Poliuria (-) Oliguria
(-) Polakisuria (-) Anuria
(-) Hematuria (-) Retensi urin
(-) Batu ginjal (-) Kencing menetes
(-) Ngompol (-) Kencing seperti air teh

Katamenis
(-) Leukore (-) Perdarahan
(-) Lain-lain (-)

Haid(tidak ditanyakan)

4
() Hari terakhir () Jumlah dan lamanya () Menarche
() Teratur () Nyeri () Gejala Klimakterium
() Gangguan menstruasi () Paska menopause

Otot dan Syaraf


(-) Anestesi (-) Sukar menggigit
(-) Parestesi (-) Ataksia
(-) Otot lemah (-) Hipo/hiper-estesi
(-) Kejang (-) Pingsan / syncope
(-) Afasia (-) Kedutan (tick)
(-) Amnesis (-) Pusing (Vertigo)
(-) Lain-lain (-) Gangguan bicara (disartri)

Ekstremitas
(-) Bengkak (-) Deformitas
(-) Nyeri sendi (-) Sianosis

III. Pemeriksaan Fisik


Dilakukan pada tanggal 10 maret 2020 pukul 15.00 WIB
VITAL SIGNS:
- Kesadaran : Compos mentis
- Keadaan Umum : Sakit Sedang
- Tekanan Darah : 150/90 mmHg
- Nadi : 100 kali/menit
- Respirasi : 24x kali/menit
- suhu : 36,40C
- BB/TB : tidak ditanyakan

STATUS GENERALIS:
- Kulit : Berwarna coklat muda, suhu normal, dan turgor kulit baik.
- Kepala : Bentuk oval, simetris, ekspresi wajah terlihat lemah.
- Rambut : Hitam, lebat, tidak mudah dicabut.
- Alis : Hitam, tumbuh lebat, tidak mudah dicabut.

5
- Mata : Tidak exopthalmus, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil bulat
dan isokor, tidak terdapat benda asing, pergerakan bola mata baik.
- Hidung : Tidak terdapat nafas cuping hidung, tidak deviasi septum, tidak ada sekret,
dan tidak hiperemis.
- Telinga : Bentuk normal, liang telinga luas, tidak ada sekret, tidak ada darah, tidak
ada tanda radang, membran timpani intak.
- Mulut : Bibir tidak sianosis, gigi geligilengkap, gusi tidak hipertropi, lidah tidak
kotor, mukosa mulut basah, tonsil T1-T1 tidak hiperemis.
- Leher :Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening pada submentalis,
subklavikula, pre-aurikula, post-aurikula, oksipital,
sternokleidomastoideus, dan supraklavikula. Tidak terdapat pembesaran
tiroid, trakea tidak deviasi, dan Jugular Venous Pressure bernilai 5+2
cmH2O.
- Thoraks : Normal, Simetris kiri dan kanan, tidak terlihat pelebaran vena, tak terdapat
spider nevy.

Paru-paru
Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri pada saat statis dan
dinamis, perbandingan trasversal : antero posterior = 2:1, tidak terdapat
retraksi dan pelebaran sela iga.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan nyeri lepas, tidak terdengar adanya krepitasi,
fremitus taktil dan vokal kiri simetri kanan dan kiri.
Perkusi :Sonor pada seluruh lapangan paru dan terdapat peranjakan paru hati pada
sela iga VI.
Auskultasi : Suara napas vesikuler, rhonki +/+, wheezing -/-

Jantung
Inspeksi : Iktus kordis terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS IV linea midklavikula sinistra, dan tidak
terdapat thrill
Perkusi : Batas jantung kanan pada ICS V linea para sternalis dextra, batas jantung
kiri pada 2cm lateral ICS V linea midklavikula sinistra.
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II irreguler, tidak terdapat murmur dan gallop
6
- Abdomen
Inspeksi : Tampak simetris, datar, tidak tegang, tidak terdapat kelainan kulit,tidak
ditemukan adanya spider nevy. tidak terlihat massa, tidak pelebaran vena,
tidak terdapat caput medusa.
Auskultasi : Bising usus(+), bising aorta abdominalis tidak terdengar.
Palpasi : Supel, turgor baik, terdapat nyeri tekan pada epigastrik. Tidak terdapat
nyeri lepas, tidak teraba massa, hepatomegaly (-) splenomegaly (-),
Ballotement (-), Undulasi (-).
Perkusi : Suara timpani di semua lapang abdomen, terdapat nyeri ketuk pada
epigastrium, shifting dullness (-).

- Genitalia : tidak dilakukan pemeriksaan


5 5
- Ekstremitas : Akral hangat, cappilary refill kurang dari 2 detik, kekuatan 5 5
otot
Terdapat ulkus pada kaki kiri, tidak terdapat udem pada tungkai bawah,
tidak terdapat palmar eritem, tidak terdapat clubbing finger.
- Refleks fisiologis dan patologis : tidak dilakukan pemeriksaan.
IV. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium :

Hematologi 2/06/2015 3/06/2015 6/06/2015

GDS 151

Hemoglobin 11.6 - 10.7 14 – 18 gr/dl

Hematokrit 36.4 % - 33.8 % 40 – 48 %

Leukosit 17.490 - 20.580 5.000 – 10.000 /uL

Trombosit 277.000 - 380.000 150.000 – 450.000/uL

Fungsi Hati

SGPT - 252 - 0 – 37 U/l

SGOT - 43 - 0 – 41 U/l

Fungsi ginjal

Ureum 58 - - 17-43 mg/dl

Creatinin 1.0 - - 0,7 -1,1


7
Elektrolit

Natrium 139,1

Kalium 4,15

Chlorida 99,7 95 – 107 mMol/l

CKMB I 172 u/L <16 u/L

Troponin I 18.89 ng/dl 0.1-0.2 ng/dl

V. Diagnosis
Diagnosis Kerja: Stemi Anterior
CHF
Gastroenteritis Akut
Anemia
DM II terkontrol
Hipertensi Grade II
Dasar diagnosis :
Anamnesis
OS datang ke IGD RS Pakuwon pada tanggal 10 maret 2020 pukul 15.00 WIB
dengan keluhan utama sesak napas yang dirasakan sejak 7 jam SMRS dan dirasakan
semakin memberat. Pasien juga mengeluh adanya nyeri ulu hati yang menjalar ke dada.
Pasien juga mengeluh adanya BAB mencret yang dialami sudah 7x salam sehari.
Pasien memiliki riwayat DM II.
Pemeriksaan fisik :
- Kulit : Berwarna coklat muda, suhu normal, dan turgor kulit baik.
- Kepala : Bentuk oval, simetris, ekspresi wajah terlihat lemah.
- Rambut : Hitam, lebat, tidak mudah dicabut.
- Alis : Hitam, tumbuh lebat, tidak mudah dicabut.
- Mata : Tidak exopthalmus, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil bulat
dan isokor, tidak terdapat benda asing, pergerakan bola mata baik.

8
- Hidung : Tidak terdapat nafas cuping hidung, tidak deviasi septum, tidak ada sekret,
dan tidak hiperemis.
- Telinga : Bentuk normal, liang telinga luas, tidak ada sekret, tidak ada darah, tidak
ada tanda radang, membran timpani intak.
- Mulut : Bibir tidak sianosis, gigi geligilengkap, gusi tidak hipertropi, lidah tidak
kotor, mukosa mulut basah, tonsil T1-T1 tidak hiperemis.
- Leher :Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening pada submentalis,
subklavikula, pre-aurikula, post-aurikula, oksipital,
sternokleidomastoideus, dan supraklavikula. Tidak terdapat pembesaran
tiroid, trakea tidak deviasi
- Thoraks : Normal, Simetris kiri dan kanan, tidak terlihat pelebaran vena, tak terdapat
spider nevy.

Paru-paru
Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri pada saat statis dan
dinamis, perbandingan trasversal : antero posterior = 2:1, tidak terdapat
retraksi dan pelebaran sela iga.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan nyeri lepas, tidak terdengar adanya krepitasi,
fremitus taktil dan vokal kiri simetri kanan dan kiri.
Perkusi :Sonor pada seluruh lapangan paru dan terdapat peranjakan paru hati pada
sela iga VI.
Auskultasi : Suara napas vesikuler, rhonki +/+, wheezing -/-

Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS IV linea midklavikula sinistra, dan tidak
terdapat thrill
Perkusi : Batas jantung kanan pada ICS V linea para sternalis dextra, batas jantung
kiri pada 2cm lateral ICS V linea midklavikula sinistra.
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II normal, tidak terdapat murmur dan gallop
- Abdomen
Inspeksi : Tampak simetris, datar, tidak tegang, tidak terdapat kelainan kulit,tidak
ditemukan adanya spider nevy. tidak terlihat massa, tidak pelebaran vena,
tidak terdapat caput medusa.
9
Auskultasi : Bising usus(+), bising aorta abdominalis tidak terdengar.
Palpasi : Supel, turgor baik, terdapat nyeri tekan pada epigastik dan abdomen
kanan. Tidak terdapat nyeri lepas, tidak teraba massa, hepatomegaly (-)
splenomegaly (-), Ballotement (-), Undulasi (-).
Perkusi : Suara timpani di semua lapang abdomen, terdapat nyeri ketuk pada
epigastrium, shifting dullness (-).

- Genitalia : tidak dilakukan pemeriksaan


5 5
- Ekstremitas : Akral hangat, cappilary refill kurang dari 2 detik, kekuatan 5 5
otot
Tidak terdapat udem pada tungkai bawah, tidak terdapat palmar eritem,
tidak terdapat clubbing finger.
- Refleks fisiologis dan patologis : tidak dilakukan pemeriksaan.
Pemeriksaan lab :
Hematologi 2/06/2015 3/06/2015 6/06/2015

GDS 151

Hemoglobin 11.6 - 10.7 14 – 18 gr/dl

Hematokrit 36.4 % - 33.8 % 40 – 48 %

Leukosit 17.490 - 20.580 5.000 – 10.000 /uL

Trombosit 277.000 - 380.000 150.000 – 450.000/uL

Fungsi Hati

SGPT 252 - 0 – 37 U/l

SGOT 43 - 0 – 41 U/l

Fungsi ginjal

Ureum 58 - - 17-43 mg/dl

Creatinin 1.0 - - 0,7 -1,1

Elektrolit

Natrium 139,1 135 -145 mMol/l

Kalium 4,15 3,5 -5,5 mMol/l

Chlorida 99,7 93 -107 mMol/l

10
CKMB I 172 u/L <16 u/L

Troponin I 18.89 ng/dl 0.1-0.2 ng/dl

EKG

Rő Thorax
- Cardiomegaly
- Infiltrate pada paru
VI. Diagnosis Banding
- Stable Angina Pektoris
- GERD
- CAD
VII. Pemeriksaan yang Dianjurkan
- Konsultasi spesialis Paru
- EKG / 24 jam
- Angiografi
- Apusan Darah Tepi
- Pemeriksaan profil lipid
- Uji sputum BTA

VIII. Terapi yang diberikan


IGD 2 Juni 2015
Non farmakologis :
- Tirah baring
- IVFD NaCl 500cc / 24jam
- O2 3 Lpm
Farmakologis :
injeksi

11
- Ranitidin 2 x 1ampul
- Furosemide 1x 1 amp
- Ceftriaxone 1 X 2 gr

Oral
 Aspillet 2 X 1
 Clopidogrel 2 X 1
 Simvastatin 1 X 10 mg
 Diazepam 1 X 5 mg
 ISDN 5 mg p.r.n
10 maret 2020
Non farmakologis :
- Tirah baring
- IVFD NaCl 500cc / 24jam
- O2 3 Lpm
Farmakologis :
injeksi
- Arixtra 1 X 2.5 mg
- Furosemide 1x 1 amp
- Ceftriaxone 1 X 2 gr
Oral
 Aspillet 2 X 1
 Clopidogrel 2 X 1
 Simvastatin 1 X 10 mg
 Amlodipine 1 X 5 mg
 ISDN 5 mg p.r.n

11 maret 2020
Non farmakologis :
- Tirah baring
- IVFD NaCl 500cc / 24jam
Farmakologis :

12
injeksi
- Furosemide 1x 1 amp
- Ceftriaxone 1 X 2 gr

Oral
 Aspillet 2 X 1
 Clopidogrel 2 X 1
 Simvastatin 1 X 10 mg
 Amlodipine 1 X 5 mg
 ISDN 5 mg p.r.n
 Captopril 3 X 6.25 mg

12 maret 2020
Non farmakologis :
- Tirah baring
- IVFD NaCl 500cc / 24jam
Farmakologis :
injeksi
Furosemide 1x 1 amp
Oral
 Aspillet 2 X 1
 Clopidogrel 2 X 1
 Simvastatin 1 X 10 mg
 Amlodipine 1 X 5 mg
 ISDN 5 mg p.r.n
 Captopril 3 X 6.25 mg
 Bisoprolol 1 X 125 mg

Nusa Indah 6 Juni 2015


Non farmakologis :
- Tirah baring
- IVFD NaCl 500cc / 24jam

13
Farmakologis :
injeksi
- Arixtra 1 X 2.5 mg
- Furosemide 1x 1 amp
- Ceftriaxone 1 X 2 gr
Oral
 Aspillet 2 X 1
 Clopidogrel 2 X 1
 Simvastatin 1 X 10 mg
 Amlodipine 1 X 5 mg
 ISDN 5 mg p.r.n
 Biodiar 3 X 1

13 maret 2020
Non farmakologis :
- Tirah baring
- IVFD NaCl 500cc / 24jam
Farmakologis :
injeksi
- Furosemide 1x 1 amp
Oral
 Aspillet 2 X 1
 Clopidogrel 2 X 1
 Simvastatin 1 X 10 mg
 Amlodipine 1 X 5 mg
 ISDN 5 mg p.r.n

14 maret 2020
Non farmakologis :
- Tirah baring
- IVFD NaCl 500cc / 24jam
Farmakologis :
Oral

14
 Aspillet 2 X 1
 Clopidogrel 2 X 1
 Simvastatin 1 X 10 mg
 Amlodipine 1 X 5 mg
 Captopril 3 X 6.25 mg

IX. Prognosis
- Quo ad vitam : ad malam
- Quo ad functionam : ad malam
- Quo ad sanactionam : ad malam

15
Follow Up
10 maret 2020

TD: 150/80 mmHg R: 24x/menit


N: 100x/menit S: 36 ̊C

S: O: A: P:
Pasien mengeluh o KU: TSS STEMI Non farmakologis :
jantung berdebar – o KS: CM ANTERIOR - Tirah baring
debar, sesak napas o Kepala: Normocephale GEA - IVFD NaCl
berkurang, batuk (-) o Mata: CA (-/-) SI (-/-) Anemia 500cc / 24jam
demam (-) BAK lacar Hipertensi Grade Farmakologis :
o THT: dbn
BAB lancer II injeksi
o Cor: BJI-BJII
DM II terkontrol - Arixtra 1 X 2.5
irregular, G(-), M(-)
mg
o Pulmo: SNV, rh (+/+),
- Furosemide 1x
wh (-/-)
1 amp
o Abd: buncit, pelebaran
- Ceftriaxone 1 X
vena (-), BU (+), aorta
2 gr
abdominalis tidak
Oral
terdengar, shifting
 Aspillet 2 X 1
dullness (-),
 Clopidogrel 2 X
splenomegaly (-),
1
hepatomegaly (-),
 Simvastatin 1 X
undulasi (-), NT (+)
10 mg
epigastrik.
 Amlodipine 1 X
o Eks: Edema (-), akral
5 mg
hangat, ulkus pedis
 ISDN 5 mg
sinistra
p.r.n

16
 Biodiar 3 X 1
 Captopril 3 X
6.25 mg
11 maret 2020

TD: 120/80 mmHg R: 24x/menit


N: 84x/menit S: 37.2 ̊C
S: O: A: P:
Pasien merasa baikan, o KU: TSS STEMI Non farmakologis :
BAB mencret (-), o KS: CM ANTERIOR - Tirah baring
pusing (-) , BAK o Kepala: Normocephale CHF - IVFD NaCl
dirasa normal. Luka o Mata: CA (-/-) SI (-/-) GEA 500cc / 24jam
dikaki terasa sakit dan Anemia Farmakologis :
o THT: dbn
bengkak DM II terkontrol injeksi
o Cor: BJI-BJII
Hipertensi Grade - Arixtra 1 X 2.5
irregular, G(-), M(-)
II mg
o Pulmo: SNV, rh (-/-),
- Furosemide 1x
wh (-/-)
1 amp
o Abd: buncit, pelebaran
Oral
vena (-), BU (+), aorta
 Aspillet 2 X 1
abdominalis tidak
 Clopidogrel 2 X
terdengar, shifting
1
dullness (-),
 Simvastatin 1 X
splenomegaly (-),
10 mg
hepatomegaly (-),
 Amlodipine 1 X
undulasi (-), NT (-)
5 mg
epigastrik.
o Eks: Edema (-), akral  ISDN 5 mg
p.r.n
hangat.
 Biodiar 3 X 1
 Captopril 3 X
6.25 mg
Bisoprolol 1 X
125 mg

17
12 maret 2020

TD: 120/80 mmHg R: 24x/menit


N: 84x/menit S: 37 ̊C
S: O: A: P:
Demam (-), mual (-), o KU: TSS STEMI anterior Non farmakologis :
nafsu makan baik, o KS: CM CHF - Tirah baring
BAB mencret (-), o Kepala: Normocephale Anemia - IVFD NaCl
pusing (-) , BAK o Mata: CA (-/-) SI (-/-) Hipertensi Grade 500cc / 24jam
dirasa normal. II Farmakologis :
o THT: dbn
DM II terkontrol Oral
o Cor: BJI-BJII
 Aspillet 2 X 1
irregular, G(-), M(-)
 Clopidogrel 2 X
o Pulmo: SNV, rh (-/-),
1
wh (-/-)
 Simvastatin 1 X
o Abd: buncit, tegang,
10 mg
pelebaran vena (-), BU
 Amlodipine 1 X
(+), aorta abdominalis
5 mg
tidak terdengar,
shifting dullness (-),  Captopril 3 X

splenomegaly (-), 6.25 mg

hepatomegaly (-),
undulasi (-), NT (-)
epigastrik.
o Eks: Edema (-), akral
hangat. Ulkus pedis
sinistra

ANALISA KASUS
18
1. Apakah penegakan diagnosis pada pasien ini sudah benar?
Diagnosis STEMI anterior ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang pada pasien ini. Penegakan diagnosis STEMI pada pasien ini
berdasarkan adanya ST elevasi pada ekg pada lead V1 – V4. Menurut pedoman tatalaksana
SKA PERKI 2015 Diagnosis STEMI ditegakkan jika terdapat keluhan angina pektoris akut
disertai elevasi segmen ST yang persisten di dua sadapan yang bersebelahan. Diagnosis juga
diperkuat dengan adanya peningkatan pada troponin I dan CKMB.
Diagnosis anemia ditegakkan dari hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lab dengan
adanya Hb dibawah 14 gr/dl dan adanya konjungtiva anemis pada pasien. Tetapi penyebab
dari anemia belum ditemukan karena tidak dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Diagnosis Gastroenteritis Akut ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan adanya leukositosis pada pasien.
Diagnosis DM II terkontrol ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit terdahulu pasien dan
riwayat pengobatan anti diabetes yaitu metformin. Pada pemeriksaan GDS tidak pernah
ditemukan hasil >200
Diagnosis Hipertensi Grade I ditegakkan berdasarkan adanya riwayat hipertensi pada
pasien. Menurut grading JNC 7 pada pasien ini masuk ke kelompok hipertensi grade 1 yaitu
sistolik 140 – 159 atau diastolic 90 – 99.

2. Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah adekuat?


Belum, karena anemia yang dialami oleh pasien tidak dikoreksi dengan medikamentosa.
Terapi awal dari STEMI yang dialami pasien sudah adekuat dengan diberikannya morfin,
oksigen, nitrat, aspilet, clopidogrel.

3. bagaimana prognosis pada pasien ini?


Dubia ad malam, karena menurut TIMI score, tingkat mortalitas pada Tn. S adalah sebesar
26,8 %

TINJAUAN PUSTAKA

19
1. Definisi
Organisasi kesehatan dunia memprediksi bahwa penyakit kardiovaskuler, terutama
SKA akan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara-negara berkembang
sebelum tahun 2020. World Health Organization (WHO) dan American Heart Association
(AHA) pada akhir tahun 1950 menegakkan diagnosis SKA berdasarkan 2 dari 3 kriteria yaitu
manifestasi klinis nyeri dada, gambaran EKG dan penanda enzim jantung.
Sindroma Koroner Akut (SKA) terdiri dari infark miokard akut (IMA) disertai elevasi
segmen ST (IMA STE), IMA tanpa elevasi segmen ST (IMA non STE) dan angina pektoris
tak stabil (APTS). Walaupun presentasi klinisnya berbeda tetapi memiliki kesamaan
patofisiologi. Jika troponin T atau I positif tetapi tanpa gambaran ST elevasi disebut IMA non
STE dan jika troponin negatif disebut APTS seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1 . Spektrum dan definisi dari SKA. (PERKI,2012)

American College of Cardiology (ACC) menyatakan bahwa adanya peningkatan enzim


jantung yaitu troponin ataupun creatine kinase MB (otot,otak) walaupun hanya sedikit
merupakan penanda adanya nekrosis miokard dan pasien harus dikategorikan sebagai IMA.
Secara umum, IMA-STE menggambarkan oklusi koroner total akut.
Tujuan terapi adalah tindakan reperfusi segera, komplit dan menetap dengan angioplasti
primer atau terapi fibrinolitik. Sedangkan pada pasien dengan IMA non STE/APTS, strategi
awal pada pasien ini adalah meredakan iskemia dan gejala, memantau pasien dengan EKG
serial dan mengulangi pengukuran penanda nekrosis miokard.

2. Epidemiologi

20
Angka mortalitas dalam rawatan di rumah sakit pada IMA-STE dibanding IMA non
STE adalah 7% dibandingkan 4%, tetapi pada jangka panjang (4 tahun), angka kematian
pasien IMA non STE ternyata 2 kali lebih tinggi dibanding pasien IMA-STE.

3. Faktor Risiko
Faktor-faktor resiko penyakit jantung koroner dibagi dua yaitu faktor resiko yang dapat
dimodifikasi dan faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi.
Faktor resiko yang dapat dimodifikasi antara lain:
1. Hipertensi
2. Diabetes
3. Hiperkolesterolemia
4. Merokok
5. Kurang latihan
6. Diit dengan kadar lemak tinggi
7. Obesitas
8. Stress

Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain:


1. Riwayat PJK dalam keluarga
2. Usia di atas 45 tahun
3. Jenis kelamin laki-laki > perempuan
4. Etnis tertentu lebih besar resiko terkena PJK.

4. Patofisiologi

Sebagian besar SKA adalah manifestasi akut dari plak ateroma pembuluh darah
koroner yang koyak atau pecah. Hal ini berkaitan dengan perubahan komposisi plak dan
penipisan tudung fibrus yang menutupi plak tersebut. Kejadian ini akan diikuti oleh proses
agregasi trombosit dan aktivasi jalur koagulasi. Terbentuklah trombus yang kaya trombosit
(white thrombus). Trombus ini akan menyumbat liang pembuluh darah koroner, baik secara
total maupun parsial; atau menjadi mikroemboli yang menyumbat pembuluh koroner yang
lebih distal. Selain itu terjadi pelepasan zat vasoaktif yang menyebabkan vasokonstriksi
sehingga memperberat gangguan aliran darah koroner. Berkurangnya aliran darah koroner

21
menyebabkan iskemik miokardium. Pasokan oksigen yang berhenti selama kurang-lebih 20
menit menyebabkan miokardium mengalami nekrosis (infark miokard).
Infark miokard tidak selalu disebabkan oleh oklusi total pembuluh darah koroner.
Obstruksi subtotal yang disertai vasokonstriksi yang dinamis dapat menyebabkan terjadinya
iskemia dan nekrosis jaringan otot jantung (miokard). Akibat dari iskemia, selain nekrosis,
adalah gangguan kontraktilitas miokardium karena proses hibernating dan stunning (setelah
iskemia hilang), distritmia dan remodeling ventrikel (perubahan bentuk, ukuran dan fungsi
ventrikel). Sebagian pasien SKA tidak mengalami koyak plak seperti diterangkan di atas.
Mereka mengalami SKA karena obstruksi dinamis akibat spasme lokal dari arteri koronaria
epikardial (Angina Prinzmetal). Penyempitan arteri koronaria, tanpa spasme maupun
trombus, dapat diakibatkan oleh progresi plak atau restenosis setelah Intervensi Koroner
Perkutan (IKP). Beberapa faktor ekstrinsik, seperti demam, anemia, tirotoksikosis, hipotensi,
takikardia, dapat menjadi pencetus terjadinya SKA pada pasien yang telah mempunyai plak
aterosklerosis.

Gambar 1.

22
5. Klasifikasi
Berdasarkan jenisnya, Sindroma Koroner Akut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Jenis Penjelasan nyeri dada Temuan EKG Enzim Jantung
Angina Angina pada waktu ·  Depresi segmen T Tidak
Pectoris Tidak istirahat/ aktivitas ringan, ·  Inversi gelombang T meningkat
Stabil (APTS) Crescendo angina, Hilang ·  Tidak ada gelombang Q
dengan nitrat.
NonST Lebih berat dan lama (> 30 ·  Depresi segmen ST Meningkat
elevasi menit), Tidak hilang ·  Inversi gelombang T minimal 2 kali
Miocard dengan pemberian nitrat. nilai batas atas
Infark Perlu opium untuk normal
menghilangkan nyeri.
ST elevasi Lebih berat dan lama (> 30 ·  Hiperakut T Meningkat
Miocard menit), Tidak hilang ·  Elevasi segmen T minimal 2 kali
Infark dengan pemberian nitrat. ·  Gelombang Q nilai batas atas
Perlu opium untuk ·  Inversi gelombang T normal
menghilangkan nyeri.

Tabel 1. Klasifikasi sindrom koroner akut

Berdasarkan beratnya menurut Braunwald:


a. Kelas I: Serangan baru, yaitu kurang dari 2 bulan progresif, berat, dengan nyeri pada waktu
istirahat, atau aktivitas sangat ringan, terjadi >2 kali per hari.
b.Kelas II: Sub-akut, yakni sakit dada antara 48 jam sampai dengan 1 bulan pada waktu
istirahat.
c. Kelas III: Akut, yakni kurang dari 48 jam.

6. Diagnosis
Anamnesis.
Keluhan pasien dengan iskemia miokard dapat berupa nyeri dada yang tipikal (angina
tipikal) atau atipikal (angina ekuivalen). Keluhan angina tipikal berupa rasa \tertekan/berat
daerah retrosternal, menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, area interskapular, bahu, atau
epigastrium. Keluhan ini dapat berlangsung intermiten/beberapa menit atau persisten (>20
menit). Keluhan angina tipikal sering disertai keluhan penyerta seperti diaphoresis,
mual/muntah, nyeri abdominal, sesak napas, dan sinkop. Presentasi angina atipikal yang

23
sering dijumpai antara lain nyeri di daerah penjalaran angina tipikal, rasa gangguan
pencernaan (indigestion), sesak napas yang tidak dapat diterangkan, atau rasa lemah
mendadak yang sulit diuraikan. Keluhan atipikal ini lebih sering dijumpai pada pasien usia
muda (25-40 tahun) atau usia lanjut (>75 tahun), wanita, penderita diabetes, gagal ginjal
menahun, atau demensia. Walaupun keluhan angina atipikal dapat muncul saat istirahat,
keluhan ini patut dicurigai sebagai angina ekuivalen jika berhubungan dengan aktivitas,
terutama pada pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner (PJK). Hilangnya keluhan
angina setelah terapi nitrat sublingual tidak prediktif terhadap diagnosis SKA.
Diagnosis SKA menjadi lebih kuat jika keluhan tersebut ditemukan pada pasien dengan
karakteristik sebagai berikut :
1. Pria
2. Diketahui mempunyai penyakit aterosklerosis non koroner (penyakit arteri perifer /
karotis)
3. Diketahui mempunyai PJK atas dasar pernah mengalami infark miokard, bedah pintas
koroner, atau IKP
4. Mempunyai faktor risiko: umur, hipertensi, merokok, dislipidemia, diabetes mellitus,
riwayat PJK dini dalam keluarga, yang diklasifikasi atas risiko tinggi, risiko sedang,
risiko rendah menurut NCEP (National Cholesterol Education Program)
Nyeri dengan gambaran di bawah ini bukan karakteristik iskemia miokard (nyeri dada
nonkardiak) :
1. Nyeri pleuritik (nyeri tajam yang berhubungan dengan respirasi atau batuk)
2. Nyeri abdomen tengah atau bawah
3. Nyeri dada yang dapat ditunjuk dengan satu jari, terutama di daerah apeks ventrikel
kiri atau pertemuan kostokondral.
4. Nyeri dada yang diakibatkan oleh gerakan tubuh atau palpasi
5. Nyeri dada dengan durasi beberapa detik
6. Nyeri dada yang menjalar ke ekstremitas bawah

Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengidentifikasi faktor pencetus iskemia,
komplikasi iskemia, penyakit penyerta dan menyingkirkan diagnosis banding. Regurgitasi
katup mitral akut, suara jantung tiga (S3), ronkhi basah halus dan hipotensi hendaknya selalu
diperiksa untuk mengidentifikasi komplikasi iskemia. Ditemukannya tanda-tanda regurgitasi
katup mitral akut, hipotensi, diaphoresis, ronkhi basah halus atau edema
24
paru meningkatkan kecurigaan terhadap SKA. Pericardial friction rub karena
perikarditis, kekuatan nadi tidak seimbang dan regurgitasi katup aorta akibat diseksi aorta,
pneumotoraks, nyeri pleuritik disertai suara napas yang tidak seimbang perlu
dipertimbangkan dalam memikirkan diagnosis banding SKA.

Pemeriksaan elektrokardiogram.
Gambaran EKG yang dijumpai pada pasien dengan keluhan angina cukup bervariasi,
yaitu: normal, nondiagnostik, LBBB (Left Bundle Branch Block) baru/ persangkaan baru,
elevasi segmen ST yang persisten (≥20 menit) maupun tidak persisten, atau depresi segmen
ST dengan atau tanpa inversi gelombang T.
Penilaian ST elevasi dilakukan pada J point dan ditemukan pada 2 sadapan yang
bersebelahan. Nilai ambang elevasi segmen ST untuk diagnosis STEMI untuk pria dan
perempuan pada sebagian besar sadapan adalah 0,1 mV. Pada sadapan V1-V3 nilai ambang
untuk diagnostik beragam, bergantung pada usia dan jenis kelamin. Nilai ambang elevasi
segmen ST di sadapan V1-3 pada pria usia ≥40 tahun adalah ≥0,2 mV, pada pria usia <40
tahun adalah ≥0,25 mV. Sedangkan pada perempuan nilai ambang elevasi segmen ST di lead
V1-3, tanpa memandang usia, adalah ≥0,15 mV. Bagi pria dan wanita, nilai ambang elevasi
segmen ST di sadapan V3R dan V4R adalah ≥0,05 mV, kecuali pria usia <30 tahun nilai
ambang ≥0,1 mV dianggap lebih tepat. Nilai ambang di sadapan V7-V9 adalah ≥0,5 mV.
Depresi segmen ST yang resiprokal, sadapan yang berhadapan dengan permukaan tubuh
segmen ST elevasi, dapat dijumpai pada pasien STEMI kecuali jika STEMI terjadi di mid-
anterior (elevasi di V3-V6). Pasien SKA dengan elevasi segmen ST dikelompokkan bersama
dengan LBBB (komplet) baru/persangkaan baru mengingat pasien tersebut adalah kandidat
terapi reperfusi. Oleh karena itu pasien dengan EKG yang diagnostik untuk STEMI dapat
segera mendapat terapi reperfusi sebelum hasil pemeriksaan marka jantung tersedia.

Tabel 2. Lokasi infark berdasarkan sadapan EKG

25
Pemeriksaan marka jantung.
Kreatinin kinase-MB (CK-MB) atau troponin I/T merupakan marka nekrosis miosit
jantung dan menjadi marka untuk diagnosis infark miokard. Troponin I/T sebagai marka
nekrosis jantung mempunyai sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi dari CK-MB.
Peningkatan marka jantung hanya menunjukkan adanya nekrosis miosit, namun tidak dapat
dipakai untuk menentukan penyebab nekrosis miosit tersebut (penyebab
koroner/nonkoroner). Troponin I/T juga dapat meningkat oleh sebab kelainan kardiak
nonkoroner seperti takiaritmia, trauma kardiak, gagal jantung, hipertrofi ventrikel kiri,
miokarditis/perikarditis. Keadaan nonkardiak yang dapat meningkatkan kadar troponin I/T
adalah sepsis, luka bakar, gagal napas, penyakit neurologik akut, emboli paru, hipertensi
pulmoner, kemoterapi, dan insufisiensi ginjal. Pada dasarnya troponin T dan troponin I
memberikan informasi yang seimbang terhadap terjadinya nekrosis miosit, kecuali pada
keadaan disfungsi ginjal. Pada keadaan ini, troponin I mempunyai spesifisitas yang lebih
tinggi dari troponin T. Dalam keadaan nekrosis miokard, pemeriksaan CK-MB atau troponin
I/T menunjukkan kadar yang normal dalam 4-6 jam setelah awitan SKA, rendah menurut
NCEP (National Cholesterol Education Program).

Tabel 3. Definisi dan prognosis SKA berdasarkan kadar serum enzim troponin
T
7. Penatalaksanaan
Terapi Awal
Penanganan dini yang harus segera diberikan pada pasien dengan keluhan nyeri dada
tipikal dengan kecurigaan ACS adalah:

26
1. Oksigenasi
a. Untuk membatasi kekurangan oksigen pada miokard yang mengalami cedera dan
menurunkan beratnya ST-elevasi pada STEMI.
b. Diberikan sampai pasien stabil dengan level oksigen 5-10 liter/menit secara kanul
hidung/sungkup.
2. Nitrogliserin (NTG)
a. Diberikan secara sublingual (SL) (0,3 – 0,6 mg), dapat diulang sampai 3x dengan
interval 5-10 menit jika keluhan belum membaik setelah pemberian pertama,
dilanjutkan dengan drip intravena 5-10 μg/menit (jangan lebih 200 μg/menit).
b. Kontraindikasi: hipotensi
c. Manfaat:
a. memperbaiki pengiriman oksigen ke miokard;
b. menurunkan kebutuhan oksigen di miokard;
c. menurunkan beban awal (preload) sehingga mengubah tegangan dinding
ventrikel;
d. dilatasi arteri koroner besar dan memperbaiki aliran kolateral;
e. menghambat agregasi platelet (masih menjadi pertanyaan).
3. Morphine
a. Dosis 2 – 4 mg intravena
b. Manfaat:
mengurangi kecemasan dan kegelisahan;
mengurangi rasa sakit akibat iskemia;
meningkatkan venous capacitance;
menurunkan tahanan pembuluh sistemik;
menurunkan nadi dan tekanan darah.
c. Efek samping: mual, bradikardi, dan depresi pernapasan.
4. Aspirin
Dosis yang dianjurkan ialah 160–325 mg perhari, dan absorpsinya lebih baik
"chewable" dari pada tablet, terutama pada stadium awal. Aspirin suppositoria (325
mg) dapat diberikan pada pasien yang mual atau muntah. Aspirin boleh diberikan
bersama atau setelah pemberian GPIIb/IIIa-I atau UFH (unfractioned heparin).
Harus diberikan kepada semua pasien ACS jika tidak ada kontraindikasi (ulkus gaster,
asma bronkial).

27
Efek: menghambat COX-1 dalam platelet dan mencegah pembentukan TXA2,
sehingga mencegah agregasi platelet dan konstriksi arterial.
5. Antitrombolitik lain: Clopidogrel, Ticlopidine
a. Derivat tinopiridin ini menghambat agregasi platelet, memperpanjang waktu
perdarahan, dan menurunkan viskositas darah dengan cara menghambat aksi ADP
(adenosine diphosphate) pada reseptor platelet, sehingga menurunkan kejadian
iskemi.
b. Pemasangan stent koroner dapat memicu terjadinya trombosis dan iskemia berulang,
tetapi dapat dicegah dengan pemberian Aspirin dosis rendah (100 mg/hari) bersama
Ticlopidine 2x 250 mg/hari. Efek samping: netropenia, trombositopenia (jarang),
purpura trombotik trombositopenia  perlu evaluasi hitung sel darah lengkap pada
minggu II – III.
c. Clopidogrel sama efektifnya dengan Ticlopidine bila dikombinasi dengan Aspirin,
namun tidak ada korelasi dengan netropenia dan lebih rendah komplikasi
gastrointestinalnya bila dibanding Aspirin, meskipun tidak terlepas dari adanya risiko
perdarahan. Dosis: 1 x 75 mg/hari peroral, cepat diabsorbsi dan mulai beraksi sebagai
antiplatelet agregasi dalam 2 jam setelah pemberian obat dan 40–60% inhibisi dicapai
dalam 3–7 hari .
d. Penelitian CAPRIE (Clopidogrel vs ASA in Patients at Risk of Ischemic Events )
menyimpulkan bahwa Clopidogrel secara bermakna lebih efektif daripada ASA untuk
pencegahan kejadian iskemi pembuluh darah (IMA, stroke) pada aterosklerosis.

Terapi Lanjut
Reperfusi harus dilakukan untuk menghindari kerusakan yang lebih luas pada miokardium.
Reperfusi dapat dilakukan dengan terapi trombolitik dan PCI(percutaneus coronary
intervention).
 Terapi trombolitik
- Terapi trombolitik lebih bagus dilakukan pada waktu kurang dari 6 jam setelah
serangan jantung.
- Pada pasien dengan tekanan sistolik kurang dari 90 mmHg harus diberikan zat
inotropik.
- Agen yang sering digunakan adalah:

28
o Streptokinase 1.5 mega unit dalam 100 ml larutan salin atau dextrose 5%
dalam waktu kurang dari 1 jam
o Alteplase diberikan berdasarkan berat badan pasien
 >65 kg  15 mg bolus dan dilanjutkan dengan 50 mg/30 menit dan 35
mg/60 menit berikutnya.
 <65 kg  15 mg bolus, dilanjutkan dengan 0.75mg/kg/30 menit dam
0.5 mg/kg/60 menit berikutnya.
 Heparin harus diberikan karena peluang untuk terjadi oklusi setelah
terapi alteplase sangat tinggi. Heparin diberikan setelah terapi alteplase
selama 48 jam
o Tenecteplase diberikan secara bolus dan dosisnya berdasarakn berat badan
pasien. Keuntungan teneteplase adalah tidak menginduksi produksi antibodi
o Berikut adalah regimen tenecteplase:
 <60 kg  30 mg iv bolus
 60-70 kg  35 mg iv bolus
 70-80 kg  40 mg iv bolus
 80-90 kg  45 mg iv bolus
 >90 kg  50 mg iv bolus
 Heparin setelah terapi tenecteplase selama 48 jam

- Indikasi:
o Infark miokardium dengan elevasi segmen ST
- Kontraindikasi
o Absolut
 Risiko perdarahan intrakranial
 Riwayat stroke iskemik kurang dari 3 bulan
 Malformasi atriovena
 Neoplasma intrakranial
 Risiko perdarahan
 Perdarahan aktif
 Trauma kepala kurang dari 3 bulan
 Suspek diseksi aorta
o Relatif

29
 Risiko perdarahan intrakranial
 Hipertensi dengan tekanan darah lebih dari 180/110mmHg
 Stroke iskemik lebih dari 3 bulan
 Riwayat hipertensi kronik yang tidak terkontrol
 Risiko perdarahan
 Pengguna antikoagulan
 Riwayat bedah major kurang dari 3 minggu
 Perdarahan dalam kurang dari 4 minggu. Misalnya perdarahan
traktus gastrointestinal, traktus urinarius
 Ulkus peptik yang aktif
 Lain-lain
 Hamil
 Pernah terapi trombolitik kurang dari 12 bulan lebih dari 5 hari
- Indikator terapi yang berjaya
o Nyeri dada berkurang
o Segmen ST tidak lagi elevasi atau berkurang 50%
o CK dan CKMB meningkat lebih awal
o Hemodinamik menjadi lebih stabil
- Indikator terapi gagal
o Nyeri dada menetap
o Elevasi segmen ST yang menetap
o Hemodinamik tidak stabil
o Komplikasi  gagal jantung dan aritmia
- Komplikasi dari terapi trombolitik adalah :

o Hipotensi

o Alergi

o Perdarahan yang tidak terkontrol

o Aritmia

 Percutaneus Coronary Intervention(PCI)


o Indikasi PCI

30
 Nyeri dada yang menetap walaupun sudah diterapi dengan terapi
trombolitik.
 Hemodinamik tidak stabil
 Syok kardiogenik untuk pasien dengan umur kurang dari 75 tahun,
kurang dari 36 jam setelah serangan jantung STEMI
 Gagal jantung dengan nyeri dada kurang dari 12 jam
Setelah diterapi reperfusi dapat juga diberikan terapi berikut:
1. Anti-agregasi trombosit
- Untuk menghindari terjadinya trombosis
- dapat diberikan aspirin dengan dosis 75-150 mg/hari dan harus dikunyah
- tambahan clopidogrel juga mampu menghindari trombosis dengan dosis 75 mg/hari
- aspirin dan clopidogrel harus diminum selama hidup
2. Beta blocker
- Diindikasikan kepada semua pasien MCI akut
- Kontraindikasi pasien dengan gagal jantung, pernah riwayat bronkospasme, blok AV,
bradikardia(nadi<50x/menit)
3. Nitrogliserin
- Menguntungkan dalam mengurangkan perluasan infark tapi tidak mempengaruhi
mortalitas.
- Kontraindikasi pada pasien dengan tekanan sistolik < 100 mmHg
- Dapat diberikan nitrogliserin atau isosorbid dinitrat (2-10 mg/jam)
- Diberikan pada waktu serangan jantung
4. Angiotensi converting enzyme (ACE) inhibitor
- Untuk mengurangkan perluasan infark
- Berikut adalah dosis bagi ACE inhibitor

ACEI Starting dose Target dose


Enalapril 2.5-5 mg x 1/hari 10 mg x 2/hari
Captopril 6.25 mg x 1/hari 25-50 mg x3/hari
Ramipril 2.5 mg x 1/hari 10 mg x 1/hari
Lisinopril 5 mg x 1/hari 10 mg x 1/hari
Quinalapril 5 mg x 1/hari 10-40 mg x 1/hari

5. Angiotensin receptor blocker (ARB)

31
- Penganti untuk ACE inhibitor untuk pasien yang tidak tahan dengan efek sampingnya
misalnya batuk yang berterusan.
- Berikut adalah dosisnya:
ARB Starting dose Max dose
Losartan 50 mg x 1 /hari 100 mg x 1/hari
Valsartan 80 mg x 1/hari 160 mg x 1/hari
Telmisartan 40 mg x 1 /hari 80 mg x 1/hari
Irbesartan 150 mg x 1/hari 300 mg x 1/hari
Candesartan 8 mg x 1/hari 16 mg x 1/hari

6. Terapi statin
- Untuk mengontrol profil lipid
- Dapat diberikan atrovastatin 10-80 mg/hari, simvastatin 20-40 mg/hari, pravastatin 40
mg/hari atau rouvastatin 10-20 mg

7. Penghambat kanal kalsium


- Pemberian diltiazem hanya untuk infark dengan gelombang Q

Algoritma penatalaksanaan pada pasien SKA

32
7. KOMPLIKASI
 Aritmia
 Disfungsi ventrikel kiri
 Hipotensi
 Lain-lain:
o Emboli Paru Dan Infark Paru
o Emboli Arteri Sistemik
o Stroke Emboli

33
o Disfungsi dan Ruptur m. Papilaris

Hasil akhir klinis : mulai rawatan sampai jangka waktu 6 bulan (GRACE,1999)

8. PROGNOSIS
Tergantung dari beberapa hal yaitu:
- Wilayah yang terkena oklusi
- Sirkulasi kolateral
- Durasi atau waktu oklusi
- Kebutuhan oksigen miokardium
Berikut adalah sistem skor yang dapat membantu dalam menentukan prognosis:
Kelas Definisi Mortalitas (%)
I Tak ada tanda gagal jantung kongestif 6
II + S3 dan/atau ronki basah 17
III Edema paru 30-40
IV Syok kardiogenik 60-80

Skoring resiko TIMI untuk ACS:


Usia >65 tahun 1
>3 faktor resiko PJK (riw.kel, HT, kol ↑, DM, rokok) 1
Diketahui PJK 1
Pemakaian ASA 7 hari terakhir 1
Angina berat (<24 jam) 1
↑ petanda biokimia 1
Deviasi ST 1

34
Hubungan antara skor TIMI pada IMA STE terhadap angka kematian dalam 30 hari

KESIMPULAN

Sindroma koroner akut ditandai oleh adanya ketidakseimbangan antara pasokan dengan
kebutuhan oksigen miokard.
Sindroma koroner akut mencakup:
 Angina pektoris tak stabil (APTS)
 Non ST elevation myocard infark (NSTEMI)
 ST elevation myocard infark (STEMI)
Diagnosis ACS dapat ditegakkan dari 3 komponen utama, yaitu dari anamnesis, EKG, dan
pengukuran enzim-enzim jantung (cardiac marker).
35
Angina pectoris tak stabil ditandai dengan keluhan nyeri dada tipikal tanpa peningkatan
enzim jantung.
NSTEMI ditandai dengan nyeri dada tipikal yang disertai perubahan EKG berupa ST depress
dan peningkatan enzim jantung.
STEMI ditandai dengan nyeri dada tipikal yang disertai perubahan EKG berupa ST elevasi
dan peningkatan enzim jantung.
Penanganan dini yang harus segera diberikan kepada pasien nyeri dada dengan kecurigaan
ACS adalah MONACO (morfin, oksigen, nitrat, aspilet, clopidogrel).

DAFTAR PUSTAKA

1. Idrus A, Infark Miokard Akut Dengan Elevasi ST, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
Jilid 3, Edisi 3, Jakarta 2007, halaman 1615-1625
2. PERKI, Pedoman Tatalaksana Sindrom Koroner Akut, 2015, Jakarta
3. Ad editor; DL.Longo, AS Fauci, DL Kasper, SL Hauser, JL Jameson, J Loscalzo, ST
Segment Elevation Myocardial Infarction(STEMI), Harrison’s Manual of Medicine
edisi 17, McGraw Hill 2009, halaman 700-705.

36
4. David L.C, Arun K, Jamshid S, Acute Coronary Syndrome, dapat diundu di situs
Medscape, http://emedicine.medscape.com/article/1910735-overview

37