Anda di halaman 1dari 13

Sabtu, 05 Desember 2009 - 12:43:41, Penulis : Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Kategori : Tafsir
Bakhil Sifat yang Tercela
[Print View] [kirim ke Teman]

ُ‫ل ِميَراث‬ِّ ‫خُلوا ِبِه َيْوَم اْلِقَياَمِة َو‬


ِ ‫ن َما َب‬
َ ‫طّوُقو‬
َ ‫سُي‬
َ ‫شّر َلُهْم‬
َ ‫ل ُهَو‬
ْ ‫خْيًرا َلُهْم َب‬
َ ‫ضِلِه ُهَو‬
ْ ‫ن َف‬
ْ ‫ل ِم‬
ُ ‫ن ِبَما َءاَتاُهُم ا‬
َ ‫خُلو‬
َ ‫ن َيْب‬
َ ‫ن اّلِذي‬
ّ ‫سَب‬
َ‫ح‬
ْ ‫َولَ َي‬
‫خِبيٌر‬
َ ‫ن‬
َ ‫ل ِبَما َتْعَمُلو‬ُ ‫ض َوا‬ ِ ‫لْر‬ َْ ‫ت َوا‬
ِ ‫سَمَوا‬
ّ ‫ال‬
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka
dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu
adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya
pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan
Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali ‘Imran: 180)

Penjelasan beberapa mufradat ayat


‫ضِلِه‬
ْ ‫ن َف‬
ْ ‫ل ِم‬
ُ ‫ن ِبَما َءاَتاهُُم ا‬
َ ‫خُلو‬
َ ‫ن َيْب‬
َ ‫ن اّلِذي‬
ّ ‫سَب‬
َ‫ح‬ ْ ‫ل َي‬
َ ‫َو‬
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka
dari karunia-Nya menyangka …”
Para ulama ahli bahasa maupun ahli qira’ah berbeda dalam membaca bacaan ‫ن‬ ّ ‫سَب‬
َ‫ح‬
ْ ‫ل َي‬
َ ‫ َو‬Apakah
diawali dengan huruf ta’ ‫ن‬ ّ ‫سَب‬
َ‫ح‬ ْ ‫ل َت‬
َ ‫ َو‬atau dengan ya’ ‫ن‬ّ ‫سَب‬
َ‫ح‬ْ ‫ل َي‬
َ ‫َو‬.
Beberapa ulama dari negeri Hijaz dan Iraq, serta qira’ah Hamzah dan Abu Ja’far, membaca
dengan ta’ ‫ن‬ ّ ‫سَب‬
َ‫ح‬ ْ ‫َول َت‬.
Pendapat yang mengawali bacaan dengan huruf ta’, mengartikan bahwa percakapan ditujukan
kepada nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga maknanya adalah: “Sekali-
kali janganlah engkau wahai Muhammad menyangka, bahwa orang-orang yang bakhil…”
Sedangkan ulama yang lain seperti Ibnu Katsir, Abu ‘Umar, Nafi’, Ibnu ‘Amir, ‘Ashim, dan Al-
Kasai’, semuanya sepakat membaca dengan ya’ ‫ن‬ ّ ‫سَب‬
َ‫ح‬ْ ‫ل َي‬
َ ‫َو‬. Namun di antara mereka ada yang
membaca dengan mengkasrah huruf sin, dan ada yang membaca dengan memfathah huruf sin.
Adapun yang membaca dengan mengawali huruf ya’, percakapan ditujukan kepada orang-orang
yang bakhil. Sehingga maknanya adalah: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil
menyangka...” (Tafsir Ath-Thabari dan Zadul Masir)
Demikian pula dalam menerangkan makna “orang-orang yang bakhil” dalam ayat ini, siapakah
mereka? Para ulama juga berbeda pendapat.
Pendapat pertama menerangkan, bahwa mereka adalah orang-orang yang telah Allah Subhanahu
wa Ta’ala berikan harta, tetapi mereka bakhil (menahan diri) dalam menginfaqkan di jalan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menunaikan (mengeluarkan) zakatnya. Pendapat ini dikatakan
oleh Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhuma, riwayat Abu Shalih dari Ibnu Abbas
rahiyallahu ‘anhuma, Abu Wa’il, Abu Malik, Asy-Sya’bi, Ibrahim An-Nakha’i, As-Suddi pada
sebagian riwayat.
Pendapat kedua, mereka adalah orang-orang Yahudi. Mereka bakhil yaitu tidak mau menjelaskan
kepada manusia tentang apa saja yang ada dalam Taurat, juga tentang kenabian Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta sifat-sifatnya. Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Abbas
rahiyallahu ‘anhuma dan Mujahid rahimahullahu.
Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullahu mengatakan, dari dua pendapat tersebut yang benar adalah
pendapat pertama. Yaitu pendapat yang memaknai bakhil -dalam ayat ini- dengan makna, orang
yang menahan diri (tidak menunaikan) zakat. Hal ini sesuai dengan apa yang nampak dari sabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau menafsirkan makna “Harta yang mereka
bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat,” beliau bersabda: “Bakhil itu
adalah orang yang menahan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala (tidak mau menginfaqkan
hartanya). Maka kelak di hari kiamat (harta tersebut) akan diubah menjadi seekor ular jantan
yang ganas berbisa, dan dilingkarkan di lehernya.”
Pemaknaan ini juga sesuai dengan konteks ayat yang ada sesudahnya, “Sesungguhnya Allah
telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah miskin dan
kami kaya’.” Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang-orang musyrikin dari kalangan
Yahudi, mereka menanggapi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, berupa kewajiban
menunaikan zakat, dengan pernyataan: “Sesungguhnya Dia miskin.”
Adapun makna bakhil, kata Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu, adalah manusia yang menahan
hartanya (tidak memberikan/memenuhi) sesuatu dari haknya yang wajib (zakat, infaq fi
sabilillah). Adapun menahan harta pada perkara yang tidak wajib atasnya untuk mengeluarkan
zakat, bukanlah kebakhilan.
Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullahu menerangkan: “Makna bakhil dalam ayat ini adalah
mereka yang tidak mau menginfaqkan hartanya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
menunaikan zakatnya (menurut pendapat yang rajih dalam hal ini).”

َ‫طّوُقون‬
َ ‫سُي‬
َ
“Akan dikalungkan.”
Ibnul Jauzi rahimahullahu mengatakan dalam kitab tafsirnya, Zadul Masir, terdapat empat
pendapat di kalangan para ulama dalam memaknai kalimat ini:
1. Harta yang dibakhilkan oleh manusia, akan diubah kelak di hari kiamat menjadi seekor ular
(yang jahat dan berbisa). Dan ular tersebut akan dililitkan di lehernya. Hal ini berdasarkan hadits
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Ibnu Mas’ud rahiyallahu ‘anhu, beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap orang yang tidak menunaikan (mengeluarkan)
zakat hartanya, kecuali kelak pada hari kiamat harta tersebut akan diubah menjadi seekor ular
jantan yang ganas berbisa, kemana pun dia (pemilik harta tadi) lari/menjauh darinya, dia (ular
tersebut) senantiasa mengikutinya, hingga dililitkan di lehernya.” Pendapat ini diucapkan oleh
Ibnu Mas’ud rahiyallahu ‘anhu dan Muqatil rahimahullahu.
2. Akan dijadikan/dibuatkan bagi orang yang bakhil atas hartanya, kalung yang terbuat dari api
neraka. Pendapat diucapkan oleh Mujahid dan Ibrahim rahimahumallah.
3. Dibebankan tanggung jawab bagi mereka yang bakhil atas hartanya untuk mendatangkannya
kelak pada hari kiamat. Ibnu Abi Najih meriwayatkan hal ini dari Mujahid rahimahullahu.
4. Akan ditetapkan atas mereka amal pebuatan buruknya/dosa dari sebab kebakhilan terhadap
hartanya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Hal ini serperti firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala:
‫عُنِقِه‬
ُ ‫طاِئَرُه ِفي‬
َ ‫ن َأْلَزْمَناُه‬
ٍ ‫سا‬
َ ‫ل ِإْن‬
ّ ‫َوُك‬
“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya
kalung) pada lehernya.” (Al-Isra’: 13)

ِ ‫لْر‬
‫ض‬ َْ ‫ت َوا‬
ِ ‫سَمَوا‬
ّ ‫ث ال‬
ُ ‫ل ِميَرا‬
ِّ ‫َو‬
“Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi.”
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu: “Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala
memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar menafkahkan hartanya dan tidak berlaku bakhil,
sebelum mereka mati. Dan meninggalkan (membiarkan semua yang pernah mereka miliki)
warisan kepunyaan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Serta tidak ada yang akan memberikan
manfaat kecuali apa yang telah mereka infaqkan.”
Ayat ini menjadi penjelas sekaligus menyanggah anggapan manusia yang menyatakan
bahwasanya harta yang diinfaqkan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, zakat yang dikeluarkan,
adalah harta yang hilang dengan sia-sia serta mengurangi jumlah yang ada. Sementara Allah
Dzat Yang Maha pemberi rezeki dan Yang Maha mengetahui kehidupan hamba hamba-Nya
mengabarkan, sesungguhnya harta yang diinfaqkan di jalan-Nya dan zakat yang dikeluarkan oleh
hamba-Nya, akan bertambah berlipat ganda dan tidak akan hilang sia-sia. Bahkan yang tersisa di
tangan manusia itulah yang akan hilang lenyap. Seperti yang tersebut dalam firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala:
‫سٌع‬
ِ ‫ل َوا‬ُ ‫شاُء َوا‬َ ‫ن َي‬
ْ ‫ف ِلَم‬ ُ ‫ع‬ ِ ‫ضا‬َ ‫ل ُي‬
ُ ‫حّبٍة َوا‬
َ ‫سْنُبَلٍة ِماَئُة‬
ُ ‫ل‬
ّ ‫ل ِفي ُك‬
َ ‫سَناِب‬
َ ‫سْبَع‬
َ ‫ت‬
ْ ‫حّبٍة َأْنَبَت‬
َ ‫ل‬
ِ ‫ل َكَمَث‬
ِ ‫لا‬
ِ ‫سِبي‬
َ ‫ن َأْمَواَلُهْم ِفي‬
َ ‫ن ُيْنِفُقو‬
َ ‫ل اّلِذي‬
ُ ‫َمَث‬
‫عِليٌم‬
َ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan
Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha
Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ٍ ‫ل َبا‬
‫ق‬ ِ ‫عْنَد ا‬
ِ ‫عْنَدُكْم َيْنَفُد َوَما‬
ِ ‫َما‬
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (An-Nahl:
96)

Penjelasan ayat
Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia ini termasuk salah satu ayat yang menerangkan apa
akibat yang akan dialami mereka yang bakhil (enggan menunaikan zakat) atas harta yang telah
Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan, kelak di Hari Kemudian. Mereka menyangka, bahwa
kebakhilan itu baik bagi dirinya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan setelah menyebutkan ayat di atas: “Sekali-kali
janganlah orang yang bakhil menyangka, bahwa upaya mengumpulkan harta (tidak mau
menafkahkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menunaikan zakat), akan
memberikan manfaat bagi dirinya. Bahkan perbuatan tersebut akan
memadharatkan/mencelakakan dirinya, baik pada agamanya dan bisa jadi dalam perkara
dunianya.” (Tafsir Al-Qur’anul ‘Azhim, 1/409)
Asy Syaikh As Sa’di rahimahullahu menerangkan, dalam kitab tafsirnya, Taisir Karimir
Rahman: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil menyangka, yaitu orang-orang yang
menahan apa yang ada di sisi mereka dari apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan
dari karunia-Nya, berupa harta, pangkat (jabatan), ilmu, dan lain sebagainya dari segala macam
anugerah dan kebaikan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan, dan Allah Subhanahu wa
Ta’ala perintahkan untuk mendermakan/mengorbankan pada perkara yang tidak memadharatkan
bagi hamba-hamba-Nya. Kemudian dengan hal itu mereka bakhil dan menahannya (tidak mau
memberi, mendermakan, menunaikan zakat, pen.). Menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi
mereka. Sebenarnya perbuatan itu buruk bagi mereka. Buruk dalam hal agama maupun
dunianya, dalam waktu yang segera (di dunia) maupun yang akan datang (di akhirat).”

Hukum bagi orang yang tidak menunaikan zakat karena kebakhilan


Seperti yang dijelaskan oleh para ulama ahli tafsir, kebakhilan seseorang atas harta yang
dimilikinya, akan mengakibatkan keburukan, baik terhadap agama maupun dunianya, dalam
waktu yang segera (di dunia) atau ditunda waktu yang akan datang (di alam kubur/alam akhirat).
Di antara akibat yang disegerakan di dunia adalah:
1. Kebinasaan, seperti yang tersebut dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Jauhkanlah diri kalian dari perbuatan syuh’ (kikir yang disertai tamak). Karena sesungguhnya
(yang demikian) itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, mendorong mereka untuk
menumpahkan darah, dan menghalalkan perkara yang terlarang.” (HR. Muslim, dari Jabir bin
Abdillah rahiyallahu ‘anhu)
Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullahu menjelaskan: “Ini termasuk kebinasaan yang terjadi di
dunia, dan yang mendorong mereka (untuk melakukan semua itu) adalah kebakhilan mereka atas
harta yang selalu mereka jaga dan mereka kumpulkan. Keinginan untuk selalu menambah
(memperbanyak) dan menjaga dari berkurangnya (dengan tidak menginfaqkan, menunaikan
zakat, pen.). Kemudian dia gabungkan, kumpulkan harta milik orang lain, dalam rangka menjaga
keutuhan hartanya. Dan tidak akan memperoleh harta yang bukan miliknya, kecuali dengan
merampas serta fanatisme yang mengantarkan pada pembunuhan dan menghalalkan perkara
yang telah diharamkan.” (Subulus Salam, bab At-Tarhib min Masawi’ Al-Akhlaq)

2. Timbulnya kemunafikan pada hati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


.‫ن‬
َ ‫ضو‬ُ ‫خُلوا ِبِه َوَتَوّلْوا َوُهْم ُمْعِر‬
ِ ‫ضِلِه َب‬
ْ ‫ن َف‬ْ ‫ َفَلّما َءاَتاُهْم ِم‬.‫ن‬ َ ‫حي‬ ِ ‫صاِل‬ّ ‫ن ال‬َ ‫ن ِم‬ّ ‫ن َوَلَنُكوَن‬ ّ ‫صّدَق‬
ّ ‫ضِلِه َلَن‬
ْ ‫ن َف‬
ْ ‫ن َءاَتاَنا ِم‬
ْ ‫ل َلِئ‬
َ ‫عاَهَد ا‬
َ ‫ن‬
ْ ‫َوِمْنُهْم َم‬
َ ‫عُدوهُ َوِبَما َكاُنوا َيْكِذُبو‬
‫ن‬ َ ‫ل َما َو‬
َ ‫خَلُفوا ا‬
ْ ‫عَقَبُهْم ِنَفاًقا ِفي ُقُلوِبِهْم ِإَلى َيْومِ َيْلَقْوَنُه ِبَما َأ‬
ْ ‫َفَأ‬
“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: ‘Sesungguhnya jika Allah
memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah
kami termasuk orang-orang yang shalih.’ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka
sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dari karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah
orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan
pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri
terhadap Allah apa yang mereka telah ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu
berdusta.” (At-Taubah: 75-77)

3. Mendapatkan doa keburukan dari malaikat, sebagaimana yang tersebut dalam hadits
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah setiap hari kecuali ada dua malaikat yang
turun ke bumi. Salah satu malaikat tadi berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang
menginfaqkan hartanya keuntungan.’ Adapun satunya berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah kepada
orang yang kikir terhadap hartanya kerugian’.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah
rahiyallahu ‘anhu)
Adapun ancaman yang terjadi di hari kemudian antara lain:
1. Dikalungkan di lehernya ular jantan ganas lagi berbisa, sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya
harta kemudian ia tidak menunaikan zakatnya maka di hari kiamat nanti harta tersebut akan
diubah menjadi seekor ular jantan ganas lagi berbisa, memiliki dua tanda hitam di atas kelopak
matanya. Ular itu akan melilit lehernya kemudian ular tadi membuka mulutnya lalu mencaplok
pemilik harta dengan dua rahangnya, sambil berkata: ‘Aku adalah hartamu, aku adalah harta
yang kamu simpan (yang tidak ditunaikan zakatnya, pen.)’.” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam membaca ayat: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang
Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi
mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan
akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan
(yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (HR. Al-
Bukhari dari sahabat Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu)

2. Diubah menjadi lempeng logam dari api neraka dan diseterikakan pada bagian dahi, lambung,
dan punggungnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan orang-orang yang
menyimpan emas dan perak dan tidak menginfaqkan di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada
mereka (bahwa mereka) akan mendapat siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu
dalam neraka Jahannam lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka
(lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri
maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (At-Taubah 34-35). Juga
sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah seorang pemilik emas dan perak
(harta) yang tidak menunaikan zakat hartanya, kecuali pada hari kiamat nanti akan dijadikan
untuknya papan logam dari api neraka. kemudian papan itu dipanaskan di neraka jahannam,
setelah itu dengannya disetrikakan pada lambung, dahi, dan punggungnya. Setiap kali dingin
(lempeng logam tadi) dicelupkan kembali (ke neraka), dalam satu hari yang kadarnya (lamanya)
adalah 50.000 tahun, sampai diputuskan perkaranya di antara manusia, kemudian ia akan melihat
jalan hidupnya, apakah menuju ke dalam jannah ataukah ke dalam neraka.” (HR. Bukhari-
Muslim dari sahabat Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu)

3. Unta dan kambing akan menendang-nendang pemiliknya, seperti dalam hadits Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “(Pada hari kiamat) unta-unta akan datang mencari pemiliknya
dalam keadaan yang terbagus (gemuk), dan apabila pemiliknya tidak membayar zakat (ketika di
dunia) maka unta itu akan menendangnya dengan kaki-kaki mereka. Dalam keadaan yang
serupa, kambing-kambing akan menemui pemiliknya dalam keadaan yang terbaik, dan apabila
pemiliknya tidak membayar zakat (ketika di dunia) maka kambing-kambing itu akan
menendangnya dengan kaki-kaki mereka dan menanduknya dengan tanduk-tanduk mereka.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Salah satu dari hak-hak mereka adalah bahwa
ketika diperah susunya air diletakkan di depan mereka.” Nabi menambahkan, “Aku tidak ingin
siapapun dari kalian menemuiku di hari kiamat dengan membawa kambing yang mengembik di
lehernya. Orang seperti itu akan berkata, ‘Wahai Muhammad, tolonglah saya.’ Aku akan berkata
kepadanya, ‘Aku tidak dapat menolongmu, karena aku telah menyampaikan perintah Allah
kepadamu.’ Begitu pula, aku tidak ingin siapapun dari kalian datang menemuiku dengan
membawa seekor unta yang mendengkur di lehernya. Orang seperti itu akan berkata kepadaku,
‘Wahai Muhammad, tolonglah saya.’ Aku akan berkata kepadanya, ‘Aku tidak dapat
menolongmu karena aku telah menyampaikan perintah Allah kepadamu’.” (HR. Al-Bukhari no.
1402 dari sahabat Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menerangkan: “Beberapa riwayat hadits yang menjelaskan
akibat bagi orang yang tidak menunaikan zakat kelak di hari kiamat meskipun secara lahirnya
berbeda-beda namun riwayat-riwayat tersebut satu dengan yang lain tidak bertentangan karena
adanya kemungkinan siksaan itu terjadi secara bersamaan. Maka riwayat dari jalan Ibnu Dinar
(yang menyebutkan bahwa harta yang tidak dizakati akan diubah menjadi ular jantan yang ganas
berbisa) sesuai dengan ayat yang tersebut pada surat Ali ‘Imran: 180. Adapun riwayat Zaid bin
Aslam (yang menyebutkan bahwa harta yang tidak dizakati akan diubah menjadi lempeng logam
yang dicelupkan kedalam neraka Jahannam) sesuai dengan ayat yang tersebut dalam surat At-
Taubah: 34-35.” (Fathul Bari, 3/330)
Wallahu a’lam.
Menyembuhkan penyakit bakhil

Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullahu mengatakan:


“Ketahuilah, bakhil adalah suatu penyakit, ia ada obatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah
menurunkan penyakit, kecuali ada obatnya. Penyakit ini muncul dari dua sebab. Sebab pertama
adalah cinta (menuruti keinginan) syahwat, yang tidak akan dicapai kecuali dengan harta dan
angan-angan yang panjang. Sebab kedua adalah cinta yang mendalam kepada harta itu sendiri.
Dia berupaya agar harta itu tetap tinggal (ada) padanya. Karena beberapa dinar (harta) misalnya,
posisinya hanya sebagai utusan (pengantar), dengannya tercapai (sampailah) sekian hajat dan
syahwat. Karenanya harta itu menjadi sesuatu yang dicintai (disenangi). Kemudian harta itu
sendiri menjadi sesuatu yang dicintai. Karena sesuatu yang menjadi penyampai (perantara)
kepada sekian kelezatan (berupa syahwat, kesenangan), adalah lezat, enak.
Terkadang dia melupakan tujuan yang dicapai, berupa hajat dan syahwat. Sehingga di sisinya
harta itu menjadi sesuatu yang sangat dicintai (asalnya hanya sekadar menjadi perantara, berubah
menjadi maksud dan tujuan, pen.). Jika demikian halnya, maka inilah puncak kesesatan. Karena,
pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara batu dan emas, kecuali dari sisi bahwa ia dapat
dipakai untuk memenuhi banyak kebutuhan. Inilah sebab seorang cinta, senang kepada harta dan
memiliki sikap kikir. Sedangkan obatnya adalah dengan lawan sebaliknya.
Maka untuk mengobati cinta (menuruti keinginan) syahwat, adalah qana’ah dengan sesuatu yang
sedikit (selalu merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh) dan dengan kesabaran. Adapun
untuk mengobati angan-angan yang panjang, dengan memperbanyak mengingat kematian, juga
mengingat kematian teman-temannya. Melihat kepada panjang dan lamanya rasa letih (yang
menimpa) mereka di dalam mengumpulkan harta (semasa hidupnya). Kemudian setelah
meninggal, (harta yang mereka kumpulkan, yang melupakan dari sekian banyak maksud dan
tujuan, zakat/infaq pun tidak pernah mereka tunaikan) hilang sia-sia, tidak memberi manfaat bagi
mereka.
Terkadang seseorang kikir terhadap harta yang dimiliki, disebabkan rasa belas kasihan kepada
keturunannya, seperti anak-anak. Maka obatnya adalah hendaknya ia tahu bahwa Allah
Subhanahu wa Ta’ala Dialah Dzat Yang menciptakan mereka sekaligus yang menjamin
rezekinya. Hendaknya ia juga melihat kepada dirinya sendiri, karena orangtua kadang tidak
meninggalkan (memberi) untuk anaknya uang sepeser pun, (namun pada kenyataannya banyak
anak yang dapat menjalani kehidupan, tanpa harus menggantungkan pemberian atau peninggalan
orangtua, pen.). Hendaknya ia juga melihat kepada apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala
janjikan (persiapkan) bagi orang yang tidak berbuat kikir, dan mendermakan hartanya pada jalan
yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai. Semestinya ia melihat kepada ayat-ayat Al-Qur’an yang
mendorong untuk bermurah hati (dermawan) dan menahan dari perbuatan kikir. Kemudian ia
melihat akibat buruk yang terjadi di dunia.
Jadi, kedermawanan itu baik semuanya, selama tidak melewati batas, sampai pada pemborosan
yang terlarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengajarkan hamba-hamba-Nya dengan
sebaik-baik pengajaran, sebagaimana dalam firman-Nya:
‫ك َقَواًما‬
َ ‫ن َذِل‬
َ ‫ن َبْي‬
َ ‫سِرُفوا َوَلْم َيْقُتُروا َوَكا‬
ْ ‫ن ِإَذا َأْنَفُقوا َلْم ُي‬
َ ‫َواّلِذي‬
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak
(pula) kikir dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah–tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan:
67)
Maka sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah.
Dan kesimpulannya adalah, apabila seorang hamba mendapati harta yang dia infaqkan
(belanjakan) pada perkara yang ma’ruf dan dengan cara yang baik, maka (yakinlah) apa yang di
sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala (harta yang diinfaqkan) lebih terjamin keberadaannya,
ketimbang yang ada di tangannya (yang disimpan dan tidak diinfaqkan). Dan jika seorang tidak
memiliki harta, maka hendaknya ia selalu qana’ah dan menjauhkan diri dari meminta-minta dan
tidak tamak (rakus). (Subulus Salam, Bab At-Tarhib min Masawi’ Al-Akhlaq)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam Majmu’ Fatawa mengatakan bahwa
kebakhilan adalah suatu jenis yang di bawahnya terdapat ragam, ada yang tergolong dosa besar
dan ada yang tergolong dosa kecil seperti pada ayat Ali ‘Imran: 180, An-Nisaa: 36-37, At-
Taubah: 34-35, 54, 76-77, Muhammad: 38, Al-Ma’un: 4-7, dan ayat-ayat lain yang ada dalam
Al-Qur’an yang menyebutkan perintah untuk menunaikan zakat dan mendermakan harta serta
celaan bagi siapapun yang meninggalkannya. Semuanya mengandung makna celaan terhadap
sifat bakhil.
Wallahu a’lam bish-shawab.

1. Orang bakhil menyembah harta benda lebih banyak daripada menyembah Allah, Cintakan pada

harta lebih banyak daripada cinta pada diri sendiri dan benci kepada kebaikan lebih banyak daripada

benci kepada sakit dan dukacita. Oleh itu lihatlah apakah harga manusia jenis ini?

2. Harta merupakan jalan kepada kebaikan dan untuk hidup di kalangan manusia dengan diberi

penghormatan dan kemuliaan apabila bijak menggunakannya sedangkan orang bakhil melihat kepada

harta sebagai matlamat hidup sehingga tidak menghiraukan penghinaan dan kebencian manusia lain

di atas sikap bakhilnya. Orang bakhil seperti manusia yang mati sebelum kematian sebenar dan

menanam diri sendiri sebelum ditanam oleh manusia lain

3. Orang bakhil terlalu mengingati diri sendiri dan lupa kepada Allah serta terlalu bimbang terhadap

kefakiran berbanding kematian. Orang bakhil terlalu takut kepada kefakiran berbanding siksaan dan

pembalasan Allah

4. Seburuk-buruk jenis kebakhilan ialah sikap bakhil yang ada pada pemimpin atau ketua rakyat

melainkan dia bakhil dalam menguruskan harta negara kerana yang demikian itu bertujuan menjaga

amanah yang sememangnya disuruh oleh Allah dan rasulNya.

AHAD, 2008 DISEMBER 21

Sifat bakhil yang tercela


Daripada Abi Said al-Khudri telah bersabda Nabi; "Dua perkara yang tidak akan terhimpun pada seseorang mukmin; bakhil dan
akhlak buruk"[1]. Dalam hadis yang lain Nabi bersabda; "Tidak akan berhimpun sifat kedekut dan keimanan dalam hati seorang
hamba selama-lamanya"[2]. Adapun dalam soheh Muslim Nabi telah berdoa bermaksud: "Ya Allah sesungguhnya aku mohon
perlindungan padamu daripada sifat penakut dan bakhil". Dalam hadis yang lain Nabi bersabda yang bermaksud;" Tiga perkara
yang membinasakan; kebakhilan yang dituruti, hawa nafsu yang di ikuti dan berbangga dengan diri sendiri". Telah berkata
cendiakawan; "Sesiapa yang bersifat bakhil maka dia telah mewariskan hartanya kepada musuhnya".

Beberapa kisah tentang orang bakhil

Ibnu Abbas meriwayatkan satu kisah katanya; seorang lelaki bernama al-Habahib merupakan seorang arab yang tersohor, dan dia

seorang yang bakhil sehinggakan dia tidak menyalakan api pada malam hari kerana tidak mahu seseorang melihat api yang

dipasang lantas mendapat manfaat daripadanya. Jika dia perlukan api untuk melihat dia akan menyalakan dan apabila sudah

mendapat hajatnya maka dia terus memadamkan api itu".

Dikisahkan bahawa seorang lelaki yang kaya raya sentiasa memerhatikan pada setiap perkara kewangannya hinggakan kepada

sekecil-kecil hartanya, pada satu hari dia membeli sesuatu keperluannya kemudian memanggil seorang buruh dan berkata;

"Berapakah upahnya jika kamu mengangkat barangku ini?" si buruh berkata; "Sebiji lobak sahaja". Si bakhil berkata; "cis!

Melampaunya, tidak mungkinkah kurang dari sebiji? Si buruh tidak dapat menjawab. Si bakhil berkata lagi; "kami sekeluarga

membeli sebiji lobak kemudian kami semua berkongsi memakan sebiji lobak itu".

Bagaimanakah mengubati sifat bakhil?

Ketahuilah bahawa punca sifat bakhil adalah cintakan harta. Terdapat dua sebab seseorang itu mencintai harta;

1) Sukakan nafsu syahwat yang tidak akan tercapai kecuali dengan perantaraan harta serta angan-angan dan keinginan

yang tinggi.

2) Seseorang itu mencintai setiap bentuk material. Sebahagian manusia mempunyai kadar harta yang mencukupi untuk

meneruskan saki baki hidupnya jika dia meneruskan kehidupan seperti kelazimannya bahkan hartanya akan berlebih

ribuan, dan dia seorang yang sudah tua tidak punyai anak akan tetapi tidak membenarkan dirinya mengeluarkan

hartanya untuk kewajipan menguruskan dirinya, tidak juga mahu bersedekah yang ianya kan memberi manfaat

kepada dirinya sedangkan dia mengetahui jika dia mati hartanya akan diambil oleh musuh-musuhnya ataupun akan

hilang terhapus jika harta itu terpendam. Orang yang seperti ini janganlah diharap dapat disembuhkan penyakit

bakhilnya.

Maka cara mengubati sikap bakhil ini ialah dengan sifat qana'ah dan sabar bagi menghilangkan kecintaan kepada nafsu syahwat.

Mengubati angan-angan yang panjang dengan banyak mengingati mati. Ibnu Qayyim berkata; "Ketahuilah barangsiapa yang banyak

kecintaannya kepada dunia maka akan banyaklah ditimpa musibah dengan kehilangan apa yang dicintainya. Barangsiapa yang

mengetahui keburukan harta maka dia tidak akan berjinak-jinak dengannya. Barangsiapa yang tidak mengambil daripada harta

kecuali kadar keperluannya kemudian dia menyimpannya untuk hajat dan keperluannya maka dia bukanlah seorang yang bakhil"

wallahu a'lam.

[1] Riwayat Bukhari dalam Adab Mufrad, dan Tirmizi.

[2] An-Nasaie, al-Hakim dan Ahmad daripada Abi Hurairah dan merupakan hadis soheh.

http://yeopmadiny.blogspot.com/2008/12/sifat-bakhil-yang-tercela.html
Akibat dari sifat bakhil
Moderator: pian`z
Post a reply

Search

1 post • Page 1 of 1

Akibat dari sifat bakhil

by zamri » Thu Feb 17, 2005 10:31 am

Secebis Pedoman.(MuslimOnly)

Rakaman ini dipetik dari program Motivasi Pagi -TV 3 (6.30 pagi) oleh Ustazah Noorbayah Mahmood. Di susun oleh seorang
sahabat kita.

Seorang gadis datang menemui Rasulullah dengan tangan kanannya disorokkan ke dalam poket bajunya. Dari raut
wajahnya, anak gadis ini sedang menanggung kesakitan yang amat sangat. Lalu Rasulullah menegurnya.

"Wahai anakku, kenapa wajahmu menampakkan kamu sedang kesakitan dan apa yang kamu sorokkan di tanganmu?"

Lalu gadis malang inipun menceritakan hal yang berlaku padanya :-"Ya,Rasulullah, sesungguhnya aku adalah anak yatim
piatu. Malam tadi
aku telah bermimpi dan mimpiku itu telah membuatkan aku menanggung kesakitan ini." Balas gadis tadi.

"Jika tidak jadi keberatan, ceritakanlah mimpimu itu wahai anakku."

Rasulullah mula tertarik dengan penjelasan gadis tersebut.

"Aku bermimpi berjumpa ibuku di dalam neraka. Keadaannya amat menyedihkan. Ibuku meminta diberikan air kerana dia
amat dahaga kerana kepanasan api neraka itu hingga peluh tidak sempat keluar kerana kekeringan sekelip mata." Gadis
itu berhenti seketika menahan sebak.

"Kemudian kulihat ditangan kirinya ada seketul keju dan ditangan kanannya ada sehelai tuala kecil.Beliau mengibas-
ngibaskan kedua-dua benda tersebut untuk menghalang api dari membakar tubuhnya. Lantas aku bertanya ibuku, kenapa
dia menerima balasan sebegitu rupa sedangkan ketika hidupnya ibuku adalah seorang hamba yang patuh dengan ajaran
islam dan isteri yang taat kepada suaminya?

Lalu ibuku memberitahu bahawa ketika hidupnya dia amat bakhil. Hanya dua benda itu sahaja iaitu seketul keju dan
sehelai tuala kecil pernah disedekahkan kepada fakir. Yang lainnya hanya untuk bermuka-muka dan menunjukkan
kelebihan hartanya sahaja.
Lalu aku terus mencari ayahku. Rupanya beliau berada di syurga dan sedang menjamu penghuni syurga dengan makanan
yang lazat dan minuman dari telaga nabi. Ayahku memang amat terkenal kerana sikapnya yang dermawan dan kuat
beramal. Lalu aku bertanya kepada ayahku.

"Wahai ayah, ibu sedang kehausan dan menanggung azab di neraka.Tidakkah ayah ingin membantu ibu sedangkan di dunia
kulihat ibu amat mentaatimu dan menurut perintah agama."

Lalu dijawab oleh ayahnya. Sesungguhnya beliau dan semua penghuni syurga telah dilarang oleh Allah SWT dari memberi
walau setitik air kepada isterinya kerana itu adalah pembalasan untuk kebakhilan yang dilakukan ketika didunia.

Oleh kerana kasihan melihat azab yang diterima oleh ibuku, aku lantas menceduk sedikit air mengguna tapak tangan
kananku lalu dibawa ke neraka. Belum sempat air tersebut mencecah bibir ibuku, api neraka telah menyambar tanganku
sehingga melecur.

Seketika itu juga aku tersedar dan mendapati tapak tanganku melecur teruk. Itulah sebabnya aku datang berjumpa
engkau ya Rasulullah." Panjang lebar gadis itu bercerita sambil airmatanya tidak henti-henti mengalir dipipi.

Rasulullah kemudian meletakkan tongkatnya ke tapak tangan gadis tersebut lalu menadah tangan, berdoa memohon
petunjuk dari Allah SWT. Jika sekiranya mimpi gadis tersebut adalah benar maka disembuhkanlah agar menjadi iktibar
kepada beliau dan semua umat islam. Lalu berkat kebesaranNya tangan gadis tersebut sembuh.

Rasulullah lantas berkata, "Wahai anakku, pulanglah. Banyakkan bersedekah dan berzikir dan pahalanya kau berikan
kepada ibumu.Mudah-mudahan segala dosanya terampun. INSYALLAH"

"WAR-WARKANLAH KPD SELURUH UMAT MUHAMMAD UNTUK SECEBIS PEDOMAN AGAR TIDAK MENGAMAL SIKAP KEBAKHILAN
TERHADAP SESAMA MANUSIA..."

http://forum.kolejshahputra.edu.my/viewtopic.php?f=13&t=21
zamri

Pentadbir Forum

Posts: 6379
Joined: Wed Feb 16, 2005 4:18 pm

Location: Bilik Server

Gender:



T
o
p

Al Quran – Ali Imron Ayat 180 (Sifat Bakhil)


19 April 2010Saiful AnwarLeave a commentGo to comments
‫خِبيٌر‬
َ ‫ن‬
َ ‫ل ِبَما َتْعَمُلو‬
ُ ‫ض َوا‬
ِ ‫لْر‬
َْ ‫ت َوا‬
ِ ‫سَمَوا‬
ّ ‫ث ال‬
ُ ‫ل ِميَرا‬
ِّ ‫خُلوا ِبِه َيْوَم اْلِقَياَمِة َو‬
ِ ‫ن َما َب‬
َ ‫طّوُقو‬
َ ‫سُي‬
َ ‫شّر َلُهْم‬
َ ‫ل ُهَو‬
ْ ‫خْيًرا َلُهْم َب‬
َ ‫ضِلِه ُهَو‬
ْ ‫ن َف‬
ْ ‫ل ِم‬
ُ ‫ن ِبَما َءاَتاُهُم ا‬
َ ‫خُلو‬
َ ‫ن َيْب‬
َ ‫ن اّلِذي‬
ّ ‫سَب‬
َ‫ح‬ْ ‫ل َي‬
َ ‫َو‬

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya
menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang
mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang
ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali ‘Imran: 180)

Pendapat para ulama tentang ayat ini:


Pendapat pertama menerangkan, bahwa mereka adalah orang-orang yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan harta,
tetapi mereka bakhil (menahan diri) dalam menginfaqkan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menunaikan
(mengeluarkan) zakatnya. Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhuma, riwayat Abu Shalih
dari Ibnu Abbas rahiyallahu ‘anhuma, Abu Wa’il, Abu Malik, Asy-Sya’bi, Ibrahim An-Nakha’i, As-Suddi pada sebagian
riwayat.

Pendapat kedua, mereka adalah orang-orang Yahudi. Mereka bakhil yaitu tidak mau menjelaskan kepada manusia tentang
apa saja yang ada dalam Taurat, juga tentang kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta sifat-sifatnya.
Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Abbas rahiyallahu ‘anhuma dan Mujahid rahimahullahu.

Rasulullah bersabda: “Bakhil itu adalah orang yang menahan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala (tidak mau menginfaqkan
hartanya). Maka kelak di hari kiamat (harta tersebut) akan diubah menjadi seekor ular jantan yang ganas berbisa, dan
dilingkarkan di lehernya.”
Pemaknaan ini juga sesuai dengan konteks ayat yang ada sesudahnya, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan
orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya’.” Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang-
orang musyrikin dari kalangan Yahudi, mereka menanggapi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, berupa kewajiban
menunaikan zakat, dengan pernyataan: “Sesungguhnya Dia miskin.”
Adapun makna bakhil, kata Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu, adalah manusia yang menahan hartanya (tidak
memberikan/memenuhi) sesuatu dari haknya yang wajib (zakat, infaq fi sabilillah). Adapun menahan harta pada perkara
yang tidak wajib atasnya untuk mengeluarkan zakat, bukanlah kebakhilan.

Hukum bagi orang yang tidak menunaikan zakat karena kebakhilan


Seperti yang dijelaskan oleh para ulama ahli tafsir, kebakhilan seseorang atas harta yang dimilikinya, akan mengakibatkan
keburukan, baik terhadap agama maupun dunianya, dalam waktu yang segera (di dunia) atau ditunda waktu yang akan
datang (di alam kubur/alam akhirat).
Di antara akibat yang disegerakan di dunia adalah:
Kebinasaan
seperti yang tersebut dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jauhkanlah diri kalian dari perbuatan syuh’
(kikir yang disertai tamak). Karena sesungguhnya (yang demikian) itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian,
mendorong mereka untuk menumpahkan darah, dan menghalalkan perkara yang terlarang.” (HR. Muslim, dari Jabir bin
Abdillah rahiyallahu ‘anhu)

Timbulnya kemunafikan pada hati


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
‫عُدوُه َوِبَما َكاُنوا‬
َ ‫ل َما َو‬
َ ‫خَلُفوا ا‬
ْ ‫عَقَبُهْم ِنَفاًقا ِفي ُقُلوِبِهْم ِإَلى َيْوِم َيْلَقْوَنُه ِبَما َأ‬
ْ ‫ َفَأ‬.‫ن‬
َ ‫ضو‬
ُ ‫خُلوا ِبِه َوَتَوّلْوا َوُهْم ُمْعِر‬
ِ ‫ضِلِه َب‬
ْ ‫ن َف‬
ْ ‫ َفَلّما َءاَتاُهْم ِم‬.‫ن‬
َ ‫حي‬
ِ ‫صاِل‬
ّ ‫ن ال‬
َ ‫ن ِم‬
ّ ‫ن َوَلَنُكوَن‬
ّ ‫صّدَق‬
ّ ‫ضِلِه َلَن‬
ْ ‫ن َف‬
ْ ‫ن َءاَتاَنا ِم‬
ْ ‫ل َلِئ‬
َ ‫عاَهَد ا‬
َ ‫ن‬
ْ ‫َوِمْنُهْم َم‬
َ ‫َيْكِذُبو‬
‫ن‬
“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian
karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.’ Maka
setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dari karunia itu dan berpaling, dan
mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati
mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang mereka
telah ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.” (At-Taubah: 75-77)
Mendapatkan doa keburukan dari malaikat
sebagaimana yang tersebut dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah setiap hari kecuali ada dua
malaikat yang turun ke bumi. Salah satu malaikat tadi berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menginfaqkan
hartanya keuntungan.’ Adapun satunya berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang kikir terhadap hartanya
kerugian’.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu)

Ancaman diakhirat bagi orang bakhil


Dikalungkan di lehernya ular jantan ganas lagi berbisa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya harta
kemudian ia tidak menunaikan zakatnya maka di hari kiamat nanti harta tersebut akan diubah menjadi seekor ular jantan
ganas lagi berbisa, memiliki dua tanda hitam di atas kelopak matanya. Ular itu akan melilit lehernya kemudian ular tadi
membuka mulutnya lalu mencaplok pemilik harta dengan dua rahangnya, sambil berkata: ‘Aku adalah hartamu, aku
adalah harta yang kamu simpan (yang tidak ditunaikan zakatnya, pen.)’.”

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta
yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya
kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari
kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (HR. Al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu)

Diubah menjadi lempeng logam dari api neraka dan diseterika


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfaqkan di
jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka) akan mendapat siksa yang pedih, pada hari dipanaskan
emas perak itu dalam neraka Jahannam lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu
dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri maka rasakanlah sekarang
(akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (At-Taubah 34-35).

Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah seorang pemilik emas dan perak (harta) yang tidak
menunaikan zakat hartanya, kecuali pada hari kiamat nanti akan dijadikan untuknya papan logam dari api neraka.
kemudian papan itu dipanaskan di neraka jahannam, setelah itu dengannya disetrikakan pada lambung, dahi, dan
punggungnya. Setiap kali dingin (lempeng logam tadi) dicelupkan kembali (ke neraka), dalam satu hari yang kadarnya
(lamanya) adalah 50.000 tahun, sampai diputuskan perkaranya di antara manusia, kemudian ia akan melihat jalan
hidupnya, apakah menuju ke dalam jannah ataukah ke dalam neraka.” (HR. Bukhari-Muslim dari sahabat Abu Hurairah
rahiyallahu ‘anhu)

Unta dan kambing akan menendang-nendang pemiliknya


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Pada hari kiamat) unta-unta akan datang mencari pemiliknya dalam
keadaan yang terbagus (gemuk), dan apabila pemiliknya tidak membayar zakat (ketika di dunia) maka unta itu akan
menendangnya dengan kaki-kaki mereka. Dalam keadaan yang serupa, kambing-kambing akan menemui pemiliknya
dalam keadaan yang terbaik, dan apabila pemiliknya tidak membayar zakat (ketika di dunia) maka kambing-kambing itu
akan menendangnya dengan kaki-kaki mereka dan menanduknya dengan tanduk-tanduk mereka.” Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda: “Salah satu dari hak-hak mereka adalah bahwa ketika diperah susunya air diletakkan di depan
mereka.” Nabi menambahkan, “Aku tidak ingin siapapun dari kalian menemuiku di hari kiamat dengan membawa kambing
yang mengembik di lehernya. Orang seperti itu akan berkata, ‘Wahai Muhammad, tolonglah saya.’ Aku akan berkata
kepadanya, ‘Aku tidak dapat menolongmu, karena aku telah menyampaikan perintah Allah kepadamu.’ Begitu pula, aku
tidak ingin siapapun dari kalian datang menemuiku dengan membawa seekor unta yang mendengkur di lehernya. Orang
seperti itu akan berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, tolonglah saya.’ Aku akan berkata kepadanya, ‘Aku tidak dapat
menolongmu karena aku telah menyampaikan perintah Allah kepadamu’.” (HR. Al-Bukhari no. 1402 dari sahabat Abu
Hurairah rahiyallahu ‘anhu)

Menyembuhkan penyakit bakhil


Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullahu mengatakan:
“Ketahuilah, bakhil adalah suatu penyakit, ia ada obatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menurunkan penyakit,
kecuali ada obatnya. Penyakit ini muncul dari dua sebab. Sebab pertama adalah cinta (menuruti keinginan) syahwat, yang
tidak akan dicapai kecuali dengan harta dan angan-angan yang panjang. Sebab kedua adalah cinta yang mendalam
kepada harta itu sendiri. Dia berupaya agar harta itu tetap tinggal (ada) padanya. Karena beberapa dinar (harta)
misalnya, posisinya hanya sebagai utusan (pengantar), dengannya tercapai (sampailah) sekian hajat dan syahwat.
Karenanya harta itu menjadi sesuatu yang dicintai (disenangi). Kemudian harta itu sendiri menjadi sesuatu yang dicintai.
Karena sesuatu yang menjadi penyampai (perantara) kepada sekian kelezatan (berupa syahwat, kesenangan), adalah
lezat, enak.
Terkadang dia melupakan tujuan yang dicapai, berupa hajat dan syahwat. Sehingga di sisinya harta itu menjadi sesuatu
yang sangat dicintai (asalnya hanya sekadar menjadi perantara, berubah menjadi maksud dan tujuan, pen.). Jika
demikian halnya, maka inilah puncak kesesatan. Karena, pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara batu dan emas,
kecuali dari sisi bahwa ia dapat dipakai untuk memenuhi banyak kebutuhan. Inilah sebab seorang cinta, senang kepada
harta dan memiliki sikap kikir. Sedangkan obatnya adalah dengan lawan sebaliknya.
Maka untuk mengobati cinta (menuruti keinginan) syahwat, adalah qana’ah dengan sesuatu yang sedikit (selalu merasa
cukup dengan apa yang telah diperoleh) dan dengan kesabaran. Adapun untuk mengobati angan-angan yang panjang,
dengan memperbanyak mengingat kematian, juga mengingat kematian teman-temannya. Melihat kepada panjang dan
lamanya rasa letih (yang menimpa) mereka di dalam mengumpulkan harta (semasa hidupnya). Kemudian setelah
meninggal, (harta yang mereka kumpulkan, yang melupakan dari sekian banyak maksud dan tujuan, zakat/infaq pun tidak
pernah mereka tunaikan) hilang sia-sia, tidak memberi manfaat bagi mereka.
Terkadang seseorang kikir terhadap harta yang dimiliki, disebabkan rasa belas kasihan kepada keturunannya, seperti
anak-anak. Maka obatnya adalah hendaknya ia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah Dzat Yang menciptakan
mereka sekaligus yang menjamin rezekinya. Hendaknya ia juga melihat kepada dirinya sendiri, karena orangtua kadang
tidak meninggalkan (memberi) untuk anaknya uang sepeser pun, (namun pada kenyataannya banyak anak yang dapat
menjalani kehidupan, tanpa harus menggantungkan pemberian atau peninggalan orangtua, pen.). Hendaknya ia juga
melihat kepada apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan (persiapkan) bagi orang yang tidak berbuat kikir, dan
mendermakan hartanya pada jalan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai. Semestinya ia melihat kepada ayat-ayat Al-
Qur’an yang mendorong untuk bermurah hati (dermawan) dan menahan dari perbuatan kikir. Kemudian ia melihat akibat
buruk yang terjadi di dunia.
Jadi, kedermawanan itu baik semuanya, selama tidak melewati batas, sampai pada pemborosan yang terlarang. Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah mengajarkan hamba-hamba-Nya dengan sebaik-baik pengajaran, sebagaimana dalam firman-
Nya:
‫ك َقَواًما‬
َ ‫ن َذِل‬
َ ‫ن َبْي‬
َ ‫سِرُفوا َوَلْم َيْقُتُروا َوَكا‬
ْ ‫ن ِإَذا َأْنَفُقوا َلْم ُي‬
َ ‫َواّلِذي‬
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir dan adalah
(pembelanjaan itu) di tengah–tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan: 67)
Maka sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah.
Dan kesimpulannya adalah, apabila seorang hamba mendapati harta yang dia infaqkan (belanjakan) pada perkara yang
ma’ruf dan dengan cara yang baik, maka (yakinlah) apa yang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala (harta yang diinfaqkan)
lebih terjamin keberadaannya, ketimbang yang ada di tangannya (yang disimpan dan tidak diinfaqkan). Dan jika seorang
tidak memiliki harta, maka hendaknya ia selalu qana’ah dan menjauhkan diri dari meminta-minta dan tidak tamak (rakus).
Wallahu a’lam bish-shawab.

source : fairuzelsaid.wordpress.com

• Share t

http://sa1ful.wordpress.com/2010/04/19/al-quran-%E2%80%93-ali-imron-ayat-180-
sifat-bakhil/

Beri Nilai