Anda di halaman 1dari 5

Tugas Kelompok ke-1

(Minggu 3/ Sesi 4)

CHARACTER BUILDING PANCASILA

TEAM 3

AGUNG PALITO F – 2201918564

AYUDIAH PUTRI DAMAYANTI – 2201918601

DWI RACHMAT PUTRA - 2201918671

MOCHAMAD AMIRUDIN – 2201918766

NOVAL WINA NURCAHYO – 2201918772

Buatlah sebuah deskripsi 1 halaman Font: Times New Roman, ukuran: 12, spasi: 1,5.

Fakta bahwa kemajuan ilmu dan teknologi, terutama di era informasi ini, memang
membawa dampak negatif disamping, dampak positifnya. Hal inilah yang disebut
dengan ambivalensi ilmu dan teknologi itu terjadi. Apalagi akhir-akhir ini.

Belum selesai masalah kejahatan pembajakan informasi, yang dilakukan oleh para
hackers, sudah muncul masalah hoax yang mulai meresahkan masyarakat. Minat baca
yang rendah diduga kuat menyebabkan hoax ‘terserak’, caci-maki dan ‘sumbu
pendek’ dimana-mana. Belum selesai lagi masalah hoax, akhir-akhir ini sudah muncul
lagi masalah pornografi di media sosial, dalam hal ini whatsapp, bahkan Keminfo
mulai mengeluarkan ancaman-ancaman tertentu berkenaan dengan hal ini.

Berdasarkan deskrispsi kasus di atas, analisal pertannyaan berirkut;

Apa pandangan anda mengenai kasus tersebut? Pandangan anda harus mencerminkan
nilai-nilai Pancasila.

Tugas memuat referensi bacaan.

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


Analisa Kelompok :

Pandangan kami dalam kasus yang terjadi pada sekarang ini adalah adanya masalah
moral dan etika yang terjadi pada masyarakat kita, masalah yang terjadi saat ini
mungkin saja disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat untuk menarapkan nilai-
nilai pancasila pada setiap elemen berbangsa dan ber-negara, masyarakat harusnya
lebih bijak memanfaatkan media sosial, misalnya, memastikan terlebih dahulu akurasi
konten yang akan dibagikan, mengklarifikasi kebenaranya, memastikan manfaatnya,
baru kemudian menyebarkanya. Berita hoax cenderung memberi perintah atau ajakan
untuk segera share dan sebarkan, pada bagian akhir dari informasi yang disebut hoax.
Tentu sebuah ide dan gagasan ketika hendak ingin mencapai suatu kepentingan
tertentu, upaya yang bersifat konsolidatif akan dilancarakan dengan salah satu cara
memberikan intruksi untuk menyebarkan informasi itu. Namun sebelum itu akan
muncul pertanyaan, apa yang melatarbelakangi seseorang akan langsung
menyebarkan informasi yang baru ia dapat kepada orang lain? Beberapa beranggapan
informasi itu menarik, ada yang menganggap informasi itu benar, ada yang
beranggapan informasi itu bersumber dari data yang kredibel. Dan mustahil ada
seorang yang bodoh, tanpa berfikir, dengan serta merta menyebarkan
informasi hoax tanpa pernah tau bersumber dari mana dan apakah datanya benar.
Karena ada sebuah catatan tambahan untuk mengintruksikan share dan sebarkan. Ini
yang menjadi pertanyaan mendasar kita. Andaikata ada sebuah informasi hoax yang
bersumber dari data bohong, namun ditampilkan dengan adanya data statistic
rekayasa, dan foto-foto yang meyakinkan, seseorang yang kritispun akan percaya dan
tidak akan segan-segan untuk menyebarkan informasi tersebut.

Menurut kami pada era saat ini sulit membedakan informasi yang benar dan salah, hal
terpenting adalah meningkatkan literasi media dan media sosial. Kami mengimbau
masyarakat untuk menyelidiki benar atau tidak informasi yang akan dibagikanya, jika
tidak benar, memuat fitnah, hingga anjuran kekerasan yang sangat jelas menentang
nilai – nilai pancasila, informasi itu tak perlu disebarkan. Kekeliruan berfikir
semacam ini pada akhirnya membuat problem awal kita tentang informasi bohong (

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


hoax ) menjadi makin keruh tiap harinya. Media massa perlu menggaris bawahi diri
bahwa status quo- nya sebagai media mainstream sebenarnya dapat berpotensi
menyelamatkan publik dari serangan arus informasi hoax yang tengah beredar. Dan
media massa melalaui penerbitan jurnalistik mainstream seperti koran majalah atau
buletin, hendaknya dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menjadi corong demokrasi
semua elemen kebangsaan.

Lalu berikut, referensi Undang-undang dan peraturan yang berlaku terkait


Hoax dan Pornografi di Indonesia :

Perkembangan teknologi yang pesat pada zaman ini, Pemerintah membuat


suatu aturan yang disebut dengan Cyber Law. Cyber law menurut Sunarto (2006:42)
adalah upaya untuk melindungi secara hukum yang berkaitan dengan dunia maya atau
internet.

Tujuan dari dibentuknya cyber law sendiri menurut Sunarto (2006:42) adalah :

 Melindungi data pribadi

 Menjamin kepastian hukum

 Mengatur tindak pidana cyber crime

 Pengaturan pornografi melalui internet dalam UU ITE

Dalam UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juga
tidak ada istilah pornografi, tetapi “muatan yang melanggar kesusilaan”. Penyebarluasan
muatan yang melanggar kesusilaan melalui internet diatur dalam

 pasal 27 ayat (1) UU ITE mengenai Perbuatan yang Dilarang, yaitu;

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau


mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar
kesusilaan.”

Pelanggaran terhadap pasal 27 ayat (1) UU ITE dipidana dengan pidana penjara
paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 milyar (pasal 45
ayat [1] UU ITE).

 Dalam pasal 53 UU ITE, dinyatakan bahwa

“seluruh peraturan perundang-undangan yang telah ada sebelumnya dinyatakan


tetap berlaku, selama tidak bertentangan dengan UU ITE tersebut.”

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


 Bunyi pasal 29 UU RI NO. 44 tahun 2008 tentang pornografi:

“Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan,


menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan,
memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat
6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda
paling sedikit Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling
banyak Rp 6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).

 Peraturan Perundangan di Indonesia mengenai penyebaran Hoax:

 Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi


Elektronik

 Pasal 28

(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong
dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi
Elektronik.

(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang
ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu
dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras,
dan antargolongan (SARA).

 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana

 Pasal 14

(1) Barangsiapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong,


dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan
hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.

(2) Barangsiapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan


yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan la patut dapat
menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum
dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.

 Pasal 15

Barangsiapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang


berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya
patut dapat menduga bahwa kabar demikian akan atau sudah dapat

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara
setinggi, tingginya dua tahun.

Sumber Literasi :

1. Sitompul, Josua. 2012. Cyberspace, Cybercrimes, Cyberlaw : Tinjauan Aspek Hukum


Pidana. Jakarta: Tatanusa.

2. https://hoaxcapede.wordpress.com/uu-hoax/

3. www.hukumonline.com

4. https://kominfo.go.id/content/detail/8863/penebar-hoax-bisa-dijerat-segudang-
pasal/0/sorotan_media

CHAR6019 – Character Building: Pancasila