Anda di halaman 1dari 7

Tugas Kelompok ke-3

(Minggu 8/Sesi 12)


Buatlah sebuah deskripsi 1 halaman Font: Times New Roman, ukuran: 12, spasi: 1,5.

Kemajuan teknologi transportasi dan informasi telah mengakibatkan mobilitas sosial


horizontal antara sesame manusia dari berbagai bangsa sungguh tidak dapat dielakkan.
Bahkan dalam konteks Komunitas ASEAN ada sebuah kebijakan dalam bidang ekonomi
yang sangat terbuka yang disebut dengan Masyarakat Ekonomi Asean. Kebijakan ini
memungkinkan masyarakat ASEAN yang memiliki keberagaman latar belakang dapat
melakukan mobilitas sosial horizontal untuk mendapatkan pekerjaan pada Negara-negara lain
di wilayah ASEAN dengan sangat mudah dan terbuka.

1. Uraikan apa tantangan/masalah yang berpeluang muncul ketika interaksi antarnegara


ASEAN ini terjadi?

2. Bagaimana cara kita sebagai orang Indonesia menempatkan diri di dalam relasi
antarbudaya di ASEAN tersebut?

3. Modal budaya apa yang dapat kita gunakan sebagai alat untuk berkomunikasi lintas
budaya ini? Jelaskan dan berikan contohnya.

4. Jelaskan secara garis besar, bagaimana cara kita mengatasi tantangan/masalah yang
(berpotensi) muncul dari relasi antarbudaya di ASEAN ini?

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


Jawaban

1. Dengan terbentuknya kawasan ekonomi terintegrasi di wilayah Asia Tenggara yang


dikenal dengan istilah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic
Community (AEC), Indonesia dan sembilan anggota ASEAN lainnya memasuki
persaingan yang sangat ketat di bidang ekonomi. Pada dasarnya, MEA merupakan
wadah yang sangat penting bagi kemajuan negara-negara ASEAN dalam mewujudkan
kesejahteraan sehingga keberadaannya harus disikapi dengan positif. Dan diharapkan
negara-negara di kawasan Asia Tenggara bisa berkompetisi dan bisa menempatkan
ASEAN masuk ke dalam pasar terbesar di dunia.

Seiring dengan terciptanya peluang-peluang bisnis yang muncul sebagai akibat dari
interaksi antarnegara ASEAN, tentunya terdapat pula resiko/masalah yang mungkin
akan muncul. Risiko tersebut bukan menjadi titik akhir yang tidak bisa diatasi. Akan
tetapi, lebih menjadi tantangan bagi Indonesia untuk meminimalkan berbagai
kemungkinan yang terjadi setiap adanya peluang bisnis tersebut. Tantangan yang
harus dihadapi antara lain :

 Tantangan di Bidang Perdagangan Barang dan Jasa

Arus perdagangan bebas entah itu barang maupun jasa akan


memunculkan competition risk. Artinya, selain menjadi negara pengekspor,
Indonesia juga menjadi sasaran empuk eksportir dari negara lain. Hal ini
mengakibatkan munculnya produk-produk luar yang beragam dalam jumlah
banyak ke Indonesia. Hal ini perlu diwaspadai jika produk-produk yang datang
dari luar negeri memiliki kualitas yang lebih bagus. Industri lokal pun akan
terancam akibat hal tersebut. Efek besar yang ditimbulkan adalah adanya defisit
neraca perdagangan.

Oleh karena itu, para pelaku usaha khususnya para produsen menciptakan produk
yang memiliki standar terbaik sehingga produk lokal tetap memiliki kualitas.
Pada sektor ini, yang memiliki peluang besar adalah para pelaku UMKM. Mulai
dari diberlakukannya MEA sejak awal Januari 2016, Pemerintah telah bekerja
keras melalui Balai Riset dan Standarisasi Industri (Baristand) di bawah komando
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dalam melakukan sosialiasi dan
melakukan peningkatan kualitas SDM.

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


 Tantangan di Bidang Investasi

Pada sektor ini, Indonesia terbilang memiliki risiko yang sangat tinggi karena
adanya exploitation risk. Sebabnya, Indonesia kurang memiliki aturan dan
regulasi yang ketat sehingga sektor-sektor riil semisal pertambangan mudah saja
dikelola negara asing. Untuk yang satu ini, tentunya tidak banyak yang bisa
diperbuat masyarakat. Padahal, Pemerintah memiliki kekuasaan penuh untuk
mencegah adanya eksploitasi alam yang dilakukan perusahaan-perusahaan asing.

 Tantangan di Bidang Ketenagakerjaan

Masalah ketenagakerjaan Indonesia memiliki tantangan yang luar biasa. Kalau


dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas, Indonesia masih kalah jauh dari
negara-negara tetangga, seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Seperti
halnya yang dilansir Republika, pada 2013, Indonesia masih berada di peringkat
ke-4 dalam hal pendidikan dan produktivitas yang dimiliki. Meskipun demikian,
Indonesia masih memiliki posisi yang aman dalam hal ini. Mengingat standar
upah yang berlaku di Indonesia masih tergolong kecil sehingga tenaga kerja asing
masih enggan untuk bekerja di sini. Malah sebaliknya, tenaga kerja Indonesia
lebih memiliki peluang untuk bekerja di luar negeri untuk mendapatkan gaji yang
lebih layak.

 Tantangan di Bidang UMKM

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sasaran dan
fokus Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dalam menciptakan stabilitas dan
perkembangan ekonomi di wilayah regional ASEAN. UMKM Indonesia
memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama tentang kualitas barang
yang dihasilkan. Kebanyakan kualitas produk UKM Indonesia belum memenuhi
standar. Hal itu disebabkan beberapa faktor. Pertama, biaya produksi dalam
negeri yang sangat mahal sehingga tidak mampu menciptakan efisiensi produksi.
Kedua, kurangnya pengetahuan para pelaku usaha kecil menengah (UKM) dalam
menghasilkan barang ataupun jasa yang berkualitas. Kedua hal tersebut sangat
berkaitan dan perlu sesegera mungkin diupayakan solusinya, baik oleh
Pemerintah maupun pelaku usaha sendiri.

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


2. Kehidupan sosial sangatlah dinamis. Kondisi dan status sosial masyarakat Asia
Tenggara yang berbeda dan hidup berdampingan terkadang memunculkan
pertentangan karena perbedaan kepentingan. Masalah-masalah kemanusiaan banyak
terjadi akibat interaksi sosial yang masih dipengaruhi sekat-sekat kepentingan.

Kesamaan sumber daya alam antara beberapa negara dapat mendorong


terbentuknya kerja sama antarnegara. Sebagai contoh, beberapa negara penghasil
minyak bumi membentuk suatu kerja sama yang diberi nama OPEC (Organization of
Petroleum Exporting Countries). Perbedaan sumber daya pangan di setiap negara
ASEAN juga melahirkan kerja sama. Indonesia mengekspor hasil pertanian ke
Singapura. Indonesia juga mengimpor beras dari Myanmar dan Thailand untuk
memenuhi kebutuhannya.

Kebudayaan adalah salah satu di antara 3 (tiga) pilar utama ASEAN dalam proses
mengarah ke tujuan membangun komunitas. Beberapa aktivitas lain yang dilakukan
sebagai dampak pengaruh perubahan komitmen kebudayaan ASEAN antara lain
sebagai berikut.

1) Festival Budaya ASEAN (FBA)


1) Perkemahan Budaya Serumpun ASEAN
2) Industri Musik

kerja sama budaya ASEAN telah mengalami perkembangan dan perubahan, yang
menonjolkan kebudayaan sebagai faktor yang penting bagi pembangunan komunitas
ASEAN secara berkesinambungan. Pengaruh Perubahan Ruang dan Interaksi
Antarruang terhadap Keberlangsungan Kehidupan Politik di Negara-Negara ASEAN.

Dalam pilar sosial budaya, masyarakat ASEAN akan bersama-sama mengatasi


berbagai tantangan di bidang kependudukan, kemiskinan, ketenagakerjaan, dan
kesejahteraan masyarakat. Dalam memperkuat daya saing kawasan, ASEAN
berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kualitas lingkungan
hidup. Masyarakat ASEAN dapat lebih mengenali keragaman budaya negara anggota,
saling menghargai identitas nasional masing-masing, serta mewariskan sebuah
kawasan Asia Tenggara yang aman, damai, dan makmur kepada generasi penerus.

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


Secara kultural, Indonesia memiliki kebudayaan yang paling banyak dan beragam di
antara negara-negara ASEAN sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Pada pilar
ketiga, yaitu ekonomi, pertumbuhan Indonesia masih yang tertinggi dan produk
kreatif yang dihasilkan memiliki daya saing yang cukup bagus. Dalam pilar ekonomi
ini, koperasi dapat dijadikan suatu program yang menarik karena sektor menengah ke
bawah adalah salah satu komponen penunjang ekonomi.

3. Kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki Pancasila tentunya akan menggunakan
acuan ini sebagai alat untuk berkomunikasi, karena nilai-nilai yang terkandung
didalamnya sudah mencerminkan sebagai warga negara harus menjunjung tinggi
nilai-nilai Pancasila agar bisa hidup berdampingan meskipun kita berbeda
kebudayaan, untuk hidup bermasyarakat warga Indonesia menjunjung tinggi nilai-
nilai Bhineka Tunggal Ika. Secara tidak langsung, pandangan ini menjadi modal
dalam mempertahankan budaya kita, menanamkan rasa cinta tanah air, dengan
menyebarluaskan budaya kita kepada lingkungan sekitar, sehingga mereka tahu
bahwa Indonesia memiliki budaya khas yang unik dan indah. Sebagai contoh
Indonesia memiliki warisan budaya yaitu batik, batik adalah salah satu kain dengan
corak khas Indonesia. Sebagai masyarakat yang cerdas dan ikut mengembangkan
budaya, Iwan Tirta berhasil menarik warga negara asing untuk menggunakan
produknya. Warisan budaya lain yang juga telah diakui oleh UNESCO diantaranya
adalah kesenian wayang, angklung, tari saman.

4. Akibat dari perubahan sosial salah satunya adalah memudarnya jati diri bangsa. Jati
diri (human character) adalah suatu sifat, watak, rasa, akal, kehendak, semangat, roh
kesadaran dan kekuatan yang terdapat dalam jiwa manusia sebagai hasil dari
proses belajar tentang nilai-nilai budaya yang luas dan yang muncul dalam perilaku
tindakan.

Cara-cara untuk mengatasi memudarnya jati diri bangsa antara lain :

 Meningkatkan Pemahaman tentang Bhinneka Tunggal Ika

Kalimat Bhinneka Tunggal Ika terdapat dalam lambang negara Indonesia, yaitu
burung Garuda. Secara umum kalimat itu diartikan dengan berbeda-beda tetapi
tetap satu jua. Maksudnya, Indonesia memang terdiri atas berbagai suku, agama,

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


dan ras yang berbeda tetapi perbedaan itu dapat disatukan di dalam negara
Indonesia. Kalau rasa kebhinekaan itu dapat terus dipertahankan atau bahkan
ditingkatkan, tentunya rasa kebangsaan (nasionalisme) dapat juga terus dijaga.
Kita harus bisa meyakinkan diri kita bahwa kebhinekaan (perbedaan) yang
terdapat di Indonesia adalah salah satu ciri atau jati diri bangsa Indonesia yang
harus tetap dilestarikan sehingga nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat
selalu diimplementasikan di kehidupan sehari-hari.

 Menggunakan Pancasila sebagai Filter Budaya Asing dan Kemajuan Iptek

Pancasila adalah dasar negara Indonesia dan sekaligus merupakan pandangan


hidup bangsa. Di dalam sila-sila Pancasila terdapat kristalisasi nilai-nilai yang
dimiliki bangsa Indonesia yang sudah berurat akar. Bagi bangsa Indonesia, nilai-
nilai itu merupakan jati diri bangsa yang menjadi cita-cita moral yang perlu
diwujudkan.

Dengan adanya tantangan globalisasi yang semakin menggila ini, Pancasila dapat
menjadi filter atau penyaring berbagai pengaruh yang ditimbulkan oleh
globalisasi. Tentunya, kita harus bersikap bijaksana dan mau membuka diri
terhadap globalisasi dan kemajuan iptek. Namun, diperlukan juga sikap waspada
terhadap pengaruh yang ditimbulkannya. Apakah pengaruh itu sesuai dengan
Pancasila atau tidak? Kalau sesuai, dapat diambil dan sebaliknya kalau tidak
sesuai dapat ditolak. Dengan begitu, kita dapat mencontoh atau meniru pengaruh
baiknya dan tentunya dapat menghindarkan diri dari pengaruh buruk yang
ditimbulkannya. Dalam hal itu, Pancasila dapat dijadikan ukuran atau filter dalam
penerimaan dan penolakan pengaruh globalisasi yang dapat memudarkan jati diri
bangsa Indonesia.

 Menunjukkan Prestasi Putra Putri Bangsa Indonesia

Yoshua Michael Maranatha, wakil Indonesia dalam The 2nd International Junior
Science Olympiade (IJSO) yang diselenggarakan pada tanggal 4–12 Desember
2005 di Kota Yogyakarta. Dalam ajang prestasi itu, tidak tanggung-tanggung dia
mengantongi dua gelar sekaligus, yaitu sebagai Absolute Winner dan The Best
Theory. Tidak hanya Yoshua. Masih banyak lagi putra putri Indonesia yang

CHAR6019 – Character Building: Pancasila


berprestasi, baik itu di bidang ilmu pengetahuan, olahraga, seni, ataupun bidang-
bidang yang lain. Misalnya, Taufik Hidayat di bidang bulu tangkis yang pada
tanggal 22 Agustus 2005 berhasil menjuarai turnamen piala dunia yang
diselenggarakan di Anaheim, Amerika Serikat. Kamu pun dapat menunjukkan
prestasimu di bidang yang kamu minati. Nah, dengan menggambarkan dan
menunjukkan berbagai prestasi putra putri bangsa Indonesia, tentunya akan dapat
menimbulkan suatu kebanggaan tersendiri. Ternyata, prestasi putra putri
Indonesia diakui oleh internasional.

 Menggambarkan Tantangan-Tantangan Global yang Harus Dihadapi Bangsa


Indonesia

Globalisasi yang sedang melanda dunia ini tentunya menimbulkan berbagai


dampak. Dampak-dampak itu merupakan masalah atau tantangan tersendiri yang
harus dihadapi oleh bangsa Indonesia. Dengan mengetahui tantangan-tantangan
itu dan menggambarkan bagaimana bentuk-bentuknya, maka kita akan lebih
mudah untuk menghadapi dan mencari cara untuk mengatasi tantangan-tantangan
tersebut.

 Memotivasi Bangsa Indonesia untuk Bersikap Kritis terhadap Perubahan

Perubahan belum tentu buruk. Kita harus dapat memilah mana perubahan yang
baik dan mana yang buruk. Setelah itu, kita juga harus pandai-pandai menyikapi
perubahan-perubahan tersebut. Dengan sikap kritis dan bijak, kita dapat
mengambil keuntungan dari sikap perubahan-perubahan yang ada tanpa
terjerumus atau terpengaruh oleh dampak negatif yang ditimbulkannya.

___________________

Atep AbduRofiq. 2015. MENAKAR PENGARUH MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015


TERHADAP PEMBANGUNAN INDONESIA. 1(1): 254-256.

Halifa Haqqi. 2011. PELUANG DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN POTENSI DAERAH


MELALUI KOMUNITAS ASEAN 2015 (Opportunity and challenges in developing local
potential through Asean Community 2015). 14(21): 64-68.

Arifa Ainun Rondiyah , Nugraheni Eko Wardani, Kundharu Saddhono. 2017.


PEMBELAJARAN SASTRA MELALUI BAHASA DAN BUDAYA UNTUK MENINGKATKAN
PENDIDIKAN KARAKTER KEBANGSAAN DI ERA MEA (MASAYARAKAT EKONOMI
ASEAN). 1(1): 147.

CHAR6019 – Character Building: Pancasila