Anda di halaman 1dari 12

IMPLEMENTASI TEKNIK BLIND WATERMARKING

DALAM DOMAIN SPASIAL PADA CITRA BITMAP

Ryan Wiguna1, Rangga Firdaus dan Ossy Dwi Endah W.

Program Studi Ilmu Komputer, Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Lampung


1
E-mail : the_fighterz@ymail.com; rf@unila.ac.id

ABSTRAK

Watermarking merupakan salah satu teknik yang dikembangkan sebagai usaha


perlindungan terhadap kepemilikan citra digital. Pada penelitian ini teknik blind
watermarking bekerja dalam mode Red Green Blue (RGB) pada citra bitmap (24
bit) dalam domain spasial menggunakan metode Least Significant Bit (LSB).
Teknik blind watermarking dapat digunakan untuk menyisipkan label digital
berupa teks sebagai copyright-labeling. Penyisipan ini dapat dilakukan baik
dengan bantuan kunci maupun tanpa kunci. Kunci yang digunakan adalah
penerapan algoritma DES dan fungsi hash MD5 sebagai bagian dari otentikasi
citra digital. Citra bitmap yang berisi label digital terlihat sama persis dengan
sebelum disisipkan label digital, namun citra ini tidak tahan terhadap proses
pengolahan digital.

Kata kunci : Watermarking, Domain Spasial, Citra Bitmap, Metode LSB, DES, MD5

PENDAHULUAN
Saat ini teknologi digital telah mengalami perkembangan yang sangat
pesat. Terlebih dengan dukungan teknologi internet yang semakin
mempermudah dalam melakukan akses data serta menyebarluaskan secara
bebas berbagai informasi yang dikemas dalam bentuk digital. Beberapa faktor
yang membuat data digital (audio, citra, video dan text) banyak digunakan antara
lain [1] :
a) Mudah diduplikasi dan hasilnya sama dengan aslinya,
b) Murah untuk penduplikasian dan penyimpanan,
c) Mudah disimpan dan kemudian untuk diolah atau diproses lebih lanjut,
d) Serta mudah didistribusikan, baik dengan media disk maupun melalui
jaringan seperti internet.

Dengan kemudahan tersebut mengakibatkan banyak penyimpangan dalam


penyebarluasan informasi/data yang didapat dan secara langsung merasa
sebagai pemiliknya. Hal ini menyebabkan kepemilikan terhadap data digital
semakin susah untuk dibuktikan kebenarannya. Perlindungan hak cipta terhadap
data digital memang sudah menjadi perhatian orang-orang sejak dahulu [2]

ISBN 978–979-8510-20-5
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010
“Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
“Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“ PROSIDING I

Terdapat beberapa cara dalam usaha perlindungan terhadap data digital


salah satunya adalah teknik watermarking. Teknik watermarking dikembangkan
sebagai salah satu jawaban terhadap penentuan keabsahan pemilik/pencipta
dari suatu data digital. Pada dasarnya teknik watermarking bekerja dengan cara
menyisipkan beberapa informasi ke dalam data digital yang dapat menunjukan
kepemilikan terhadap data digital. Teknik tersebut sebenarnya memanfaatkan
kelemahan panca indra manusia seperti mata dan telinga, sehingga teknik
watermarking pada data digital dapat dilakukan.

TUJUAN PENELITIAN
1. Mengembangkan perangkat lunak yang berbasis desktop yang dapat
berjalan secara executable sebagai penerapan teknik watermarking.
2. Membuktikan kelebihan dan kekurangan dari penggunaan metode LSB
(Least Significant Bit) dalam menyisipkan label digital ke dalam gambar.
3. Membuktikan kelebihan dan kekurangan dari penggunaan kunci
kriptografi (DES dan fungsi hash MD5) sebagai keamanan pada proses
watermarking.

RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana melindungi karya digital (citra digital)
2. Bagaimana mengembangkan aplikasi watermarking pada citra digital
3. Bagaimana meningkatkan keamanan pada proses watermarking

LANDASAN TEORI

WATERMARKING
Watermarking merupakan suatu bentuk dari steganography, yaitu ilmu
yang mempelajari bagaimana menyembunyikan suatu data pada data yang lain.
Watermarking (tanda air) ini agak berbeda dengan tanda air pada uang kertas.
Tanda air pada uang kertas ini masih terlihat oleh indera manusia (mungkin
dalam posisi kertas tertentu), tetapi watermarking pada media digital tak akan
dirasakan kehadirannya oleh manusia tanpa alat bantu mesin pengolah digital
seperti komputer [1].
Watermarking sudah ada sejak 700 tahun yang lalu. Pada akhir abad 13,
pabrik kertas di Fabriano, Italia, membuat kertas yang diberi watermark atau
tanda air dengan cara menekan bentuk cetakan gambar atau tulisan pada kertas
yang baru setengah jadi. Ketika kertas dikeringkan terbentuklah suatu kertas
yang berwatermak. Kertas ini biasa digunakan oleh seniman atau sastrawan
untuk menulis karya mereka. Kertas yang sudah dibubuhi tanda air tersebut
sekaligus dijadikan identifikasi bahwa karya seni diatasnya adalah milik mereka.
Ide watermarking pada data digital (sehingga disebut digital
watermarking) dikembangkan di Jepang pada tahun 1900 dan di Swiss tahun
1993. Digital watermarking semakin berkembang seiring dengan semakin
meluasnya penggunaan internet) [3].

386 Seminar Nasional Sains & Teknologi – III


Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
PROSIDING I “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“

Watermarking dalam penerapannya terhadap data digital dapat


diterapkan pada berbagai domain. Maksudnya adalah penerapan watermarking
pada data digital seperti text, citra, video dan audio, dilakukan langsung pada
jenis data digital tersebut (misalnya untuk citra dan video pada domain spasial,
dan audio pada domain waktu) atau terlebih dahulu dilakukan transformasi ke
dalam domain yang lain. Berbagai transformasi yang dikenalkan dalam
pemrosesan sinyal digital seperti [1].
a) FFT (Fast Fourier Transform),
b) DCT (Discrete Cosine Transform),
c) Wavelet Transform, dsb.

Image watermarking mempunyai banyak penggunaan dalam kehidupan


sehari-hari, dibawah ini disebutkan beberapa diantaranya [6].
a) Memberi label kepemilikan (ownership) atau copyright pada citra digital,
watermark menyatakan informasi yang menyatakan pemilik citra atau
pemegang hak penggandaan (copyright). Informasi tersebut bisa berupa
identitas diri (nama, alamat, dsb), atau gambar yang menspesifikasikan
pemilik. Klaim pihak lain yang mengaku sebagai pemilik citra tersebut
dapat dibantah dengan membandingkan watermark yang diekstrak
dengan watermark pemilik citra.
b) Otentikasi atau tamper proofing
Pemilik citra menyisipkan watermark ke dalam citra untuk membuktikan
apakah citra yang sudah disimpan atau beredar masih asli atau sudah
berubah (tamper proofing). Jika watermark yang diekstraksi tidak tepat
sama dengan watermark asli, maka disimpulkan citra sudah tidak otentik
lagi. Keotentikan pemilik juga dapat ditunjukkan karena hanya pemilik
yang mengetahui kunci. Kunci yang salah akan menghasilkan ekstraksi
watermark yang salah pula. Persyaratan untuk aplikasi semacam ini
adalah watermark harus tak tampak (invisible) dan fragile.
c) Finger printing (traitor-tracing)
Pemilik citra mendistribusikan citra yang sama ke berbagai distributor.
Sebelum didistribusikan, setiap citra disisipkan watermark yang berbeda
untuk setiap distributor, seolah-olah cetak jari distributor terekam di
dalam citra. Karena watermark juga berlaku sebagai copyright, maka
distributor terikat aturan bahwa ia tidak boleh menggandakan citra
tersebut dan menjualnya kepihak lain. Misalkan pemilik citra menemukan
citra berwatermark tersebut beredar secara ilegal ditangan pihak lain. Ia
kemudian mengekstraksi watermark di dalam citra digital itu untuk
mengetahui distributor mana yang telah melakukan penggandaaan ilegal,
selanjutnya ia dapat menuntut secara hukum distributor nakal ini.
Persyaratan yang dibutuhkan untuk aplikasi semacam ini adalah
watermark harus tak tampak (invisible) dan kokoh (robust).
d) Aplikasi medis
Citra medis seperti foto sinar-X diberi watermark berupa ID pasien
dengan maksud untuk memudahkan identifikasi pasien. Informasi lain

Seminar Nasional Sains & Teknologi – III 387


Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
“Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“ PROSIDING I

yang dapat disisipkan adalah hasil diagnosis penyakit. Lebih lanjut


mengenai aplikasi ini akan dijelaskan pada bagian tersendiri sebagai studi
kasus. Persyaratan yang dibutuhkan untuk aplikasi seacam ini adalah
watermark harus tak tampak (invisible) dan fragile.
e) Convert communication
Untuk sistem komunikasi di negara-negara dimana kriptografi tidak
diperbolehkan, watermarking dapat digunakan untuk menyisipkan
informasi rahasia. Informasi tersebut disisipkan ke dalam citra, citra
dikirim melalui saluran komunikasi publik, dan penerima mengekstraksi
informasi di dalamnya. Aplikasi semacam ini sama seperti steganografi.
f) Privacy protection
Watermark di dalam citra digunakan untuk mencegah perangkat keras
melakukan penggandaan yang tidak berizin. Aplikasi semacam ini
membutuhkan kolaborasi dengan perangkat keras.

Proses penyisipan watermark ke dalam citra disebut encoding. Encoding


dapat disertai dengan pemasukan kunci atau tidak memerlukan kunci. Kunci
diperlukan agar hanya dapat diekstraksi oleh pihak yang sah. Kunci juga
bermanfaat untuk mencegah watermark dihapus oleh pihak yang tidak
berhak/bertanggung jawab. Sedangkan ketahanan terhadap proses-proses
pengolahan lainnya, itu tergantung pada metode watermarking yang digunakan.
Tetapi berbagai penelitian yang telah dilakukan belum ada suatu metode
watermarking yang ideal yang bisa tahan terhadap semua proses pengolahan
digital yang mungkin [2].

Gambar 1. Skema Proses Penyisipan Watermark pada Citra Digital

Gambar 2. Skema Proses Verifikasi Teknik Non-blind Watermarking

Verifikasi watermark dilakukan untuk membuktikan status kepemilikan


citra digital yang disengketakan. Verifikasi watermark terdiri atas dua sub-
proses, yaitu ekstraksi watermark dan pembandingan [3]. Pada sub-proses
ekstraksi disebut juga decoding, yang bertujuan yaitu untuk mengungkap data
watermark yang disisipkan dalam citra digital. Pada proses decoding dapat
mengikutsertakan citra asli/awal (non blind watermarking) atau tidak sama sekali

388 Seminar Nasional Sains & Teknologi – III


Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
PROSIDING I “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“

(blind watermarking), karena beberapa skema watermarking memang


menggunakan citra asli/awal dalam proses decoding untuk meningkatkan unjuk
kerja yang baik.

CITRA DIGITAL
Citra digital adalah citra yang disimpan dalam format digital (dalam bentuk
file) dan diolah oleh komputer. Citra digital dapat didefinisikan secara matematis
sebagai fungsi intensitas dalam dua variabel x dan y yang dapat dituliskan f(x,y),
dimana (x,y) merepresentasikan koordinat spasial pada bidang dua dimensi dan
f(x,y) merupakan intensitas cahaya pada koordinat tersebut [4]. Citra digital
disebut juga citra diskrit, karena dihasilkan melalui digitalisasi citra kontinu (citra
analog).

Ada tiga jenis citra digital yang sering digunakan, yaitu :


1. Citra Biner (monochrome)
Banyaknya warna ada 2 macam, yaitu hitam dan putih. Dimana gradasi
warna adalah 1 = warna putih, dan 0 = warna hitam.

Gambar 3. Contoh Citra Biner 1 Bit

2. Citra Grayscale (skala keabuan)


Banyaknya warna tergantung pada jumlah bit yang disediakan oleh
memori untuk menampung kebutuhan warna ini. Misalnya 2 bit (2 2)
mewakili 4 warna, 3 bit (2 3) mewakili 8 warna, dan seterusnya sampai
maksimal 8 bit (2 8) yang mewakili 256 warna. Semakin besar jumlah bit
warna yang disediakan di memori, semakin halus gradasi warna yang
terbentuk [5].

Gambar 4 Contoh Citra Grayscale 4 Bit

3. Citra Warna (True Color)


Setiap piksel pada citra warna mewakili warna yang merupakan
kombinasi dari tiga warna dasar (RGB = Red, Green, Blue). Setiap warna
dasar menggunakan penyimpanan 8 bit = 1 byte, yang berarti warna
mempunyai gradasi sebanyak 256 warna. Berarti setiap piksel
mempunyai kombinasi warna sebanyak 28. 28. 28 = 224 = 16 juta warna
lebih [5]
Itulah sebabnya disebut sebagai citra true color karena mempunyai
jumlah warna yang cukup besar sehingga bisa dikatakan hampir
mencakup semua warna di alam.
Penyimpanan citra true color di dalam memori berbeda dengan citra
grayscale. Setiap piksel dari citra grayscale 256 gradasi warna diwakili
oleh 1 byte, sedangkan pada 1 piksel citra true color diwakili oleh 3 byte,

Seminar Nasional Sains & Teknologi – III 389


Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
“Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“ PROSIDING I

dimana masing-masing data byte merepresentasikan warna merah (red),


hijau (green), dan biru (blue).

Gambar 5. Contoh Citra Warna 4 Bit

Gambar 6. Representasi 3 Byte Citra Warna

Contoh dari citra true color adalah citra bitmap 24 bit. Citra bitmap sering
disebut juga dengan citra raster. Citra bitmap menyimpan data kode citra secara
digital dan lengkap (cara penyimpanannya adalah per piksel). Citra bitmap
dipresentasikan dalam bentuk matriks atau dipetakan dengan menggunakan
bilangan biner atau sistem bilangan lain. Citra ini memiliki kelebihan mudah
untuk memanipulasi warna, tetapi untuk mengubah objek lebih sulit. Tampilan
bitmap mampu menunjukan gradasi bayangan dan warna dari sebuah gambar.
Oleh karena itu bitmap merupakan media elektronik yang paling tepat untuk
gambar-gambar dengan perpaduan gradasi warna yang rumit, seperti foto dan
lukisan digital. Citra bitmap biasanya diperoleh dengan cara scanner, kamera
digital, video capture, dan lain-lain [5].

METODE LSB (LEAST SIGNIFICANT BIT)


Metode LSB (Least Significant Bit) merupakan metode watemarking dalam
domain spasial yang paling sederhana [6] serta merupakan salah satu metode
watermarking yang bekerja pada mode warna RGB [7]. Pada susunan byte (1 byte
= 8 bit), ada bit paling berarti (Most Significant Bit atau MSB) dan bit yang paling
kurang berarti (Least Significant Bit atau LSB).

Gambar 7 Struktur Bilangan Biner

Metode LSB menyembunyikan watermark pada citra digital dengan


menyisipkannya pada bit rendah atau yang paling kanan (LSB) pada data piksel.
LSB dari citra akan digantikan dengan bit data watermark. Misalkan dicontohkan
bit data (piksel citra) sebelum penambahan watermark adalah sebagai berikut :

10101100 01010011 11001100 11100011

390 Seminar Nasional Sains & Teknologi – III


Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
PROSIDING I “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“

Kemudian akan disisipkan watermark berupa data bit (yang telah


dikonversi ke dalam bilangan biner) yaitu 1001, sehingga proses perubahan bit
terendahnya adalah sperti gambar 2.8 berikut :

Gambar 8 Skema Penyisipan Bit LSB

Misalkan susunan byte tersebut di dalam citra digital adalah sesuatu


gambar dengan warna tertentu, maka perubahan satu bit LSB tidak akan
merubah warna secara berarti dari persepsi penglihatan manusia (HVS :Human
Visual System).
Jika digunakan suatu citra gambar bitmap 24 bit (true color), maka setiap
piksel (titik) pada gambar tersebut tersusun atas tiga warna RGB yaitu merah,
hijau, dan biru yang masing-masing disusun oleh bilangan 8 bit dari angka 0
sampai 255 atau dalam format biner 00000000 sampai 11111111. Sehingga total
warna yang didapat pada gambar bitmap 24 bit adalah 2 24 = 2 8 . 2 8 . 2 8 =
16.777.216 (16 juta warna). Dengan demikian pada setiap piksel file citra bitmap
24 bit citra dapat disisipkan 3 bit data watermark.

METODE PENELITIAN
Pada makalah ini, proses watermarking dilakukan pada domain spasial
gambar bitmap 24 bit dengan menggunakan metode LSB (Least Significant Bit)
.Untuk meningkatkan keamanan pada proses watermarking digunakan kunci
keamanan menggunakan algoritma DES dan fungsi hash MD5. Berikut
ditunjukkan diagram blok algoritma blind watermarking yang dibangun.

Gambar 9 Diagram Blok Algoritma Blind Watermarking

Seminar Nasional Sains & Teknologi – III 391


Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
“Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“ PROSIDING I

Gambar 10 Skema Posisi Modifikasi Bit Gambar

Berikut ini adalah posisi modifikasi bit gambar dengan ukuran dimensi
minimal yaitu dengan lebar 24 (antara kolom 0 sampai 23) dan tinggi 24 (antara
baris 0 sampai 23) :
1. Bit Tanda Gambar
Posisi bit tanda gambar terletak pada baris 0 sampai baris 7 dan kolom 0.
Modifikasi bit dilakukan sepenuhnya pada semua komposisi warna (RGB).
Bit tanda gambar digunakan sebagai penanda apakah suatu gambar
terdapat label gambar.
2. Bit Info Baris
Posisi bit info baris terletak pada baris 8 sampai baris 15 dan kolom 0.
Modifikasi bit hanya dilakukan pada komposisi warna merah dan hijau
(RG). Bit info baris digunakan sebagai penanda batas baris terakhir saat
looping pada proses ekstraksi.
3. Bit Info Kolom
Posisi bit info kolom terletak pada baris 16 sampai baris 23 dan kolom 0.
Modifikasi bit hanya dilakukan pada komposisi warna merah dan hijau
(RG). Bit info kolom digunakan sebagai penanda batas kolom terakhir saat
looping pada proses ekstraksi.
4. Bit Label Gambar
Posisi bit label gambar terletak mulai kolom 1 sampai kolom n (kolom
gambar). Modifikasi bit dilakukan pada semua komposisi warna (RGB).

392 Seminar Nasional Sains & Teknologi – III


Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
PROSIDING I “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“

5. Bit Tanda Aman


Posisi bit tanda aman terletak pada baris 8 sampai baris 23 dan kolom 0.
Modifikasi bit hanya dilakukan pada komposisi warna biru saja (B). Bit
tanda aman digunakan sebagai penanda apakah suatu gambar terdapat
kunci keamanan.
6. Bit Bebas
Posisi bit bebas terletak mulai baris 24 sampai baris n (baris maksimal
piksel gambar) pada kolom 0. Pada posisi ini bit tidak dilakukan
modifikasi.

PRINSIP KERJA PROSES PENYISIPAN

Misalnya input yang dimasukkan adalah sebagai berikut :


 Label digital : Ryan
 Kunci : iLKoM

Proses penyisipan gambar menggabungkan label digital dengan kunci


disertai tanda pemisah, yaitu berupa string penanda “|” (vertical bar) yang
selanjutnya disebut sebagai label gambar menjadi sebagai berikut :

Label Gambar : iLKoM|Ryan


(Total = 10 karakter)

Label gambar ini dienkripsi dengan algoritma kriptografi DES dan fungsi
hash MD5 menjadi karakter berikut :

GXoqPMDacm4qqubRyxSHFBHfFWU=
(Total = 28 karakter)

Label gambar tersebut kemudian dikonversi kedalam bilangan biner


dengan konsep ASCII (American Standard Code for Information Interchange) dan
disusun menjadi sebagai berikut :

01000111010110000110111101110001010100000100110101000100011000010
11000110110110100110100011100010111000101110101011000100101001001
11100101111000010100110100100001000110010000100100100001100110010
00110010101110101010100111101
(Total = 224 bit Label Gambar)

Bilangan biner tersebut kemudian disisipkan pada tiap piksel gambar


(komposisi warna RGB) secara vertikal.

PRINSIP KERJA PROSES EKSTRAKSI


Label gambar diambil dari data bit-bit LSB pada semua komposisi warna
(Red, Green, dan Blue). Proses pengambilan dilakukan mulai kolom 1 baris 0 dan

Seminar Nasional Sains & Teknologi – III 393


Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
“Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“ PROSIDING I

berakhir pada posisi piksel sesuai info baris dan info kolom. Bit-bit LSB tersebut
kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan sebagai berikut :

01000111010110000110111101110001010100000100110101000100011000010
11000110110110100110100011100010111000101110101011000100101001001
11100101111000010100110100100001000110010000100100100001100110010
00110010101110101010100111101
(Total = 224 bit Label Gambar)

Susuanan bit-bit bilangan biner tersebut dikonversi ke dalam bentuk


karakter dengan konsep ASCII (American Standard Code for Information
Interchange). Konversi dilakukan dengan memisahkan bilangan biner tersebut
tiap kelipatan 8 bit (224 dibagi 8 = 28), sehingga didapatkan sebagai berikut :

Label gambar : GXoqPMDacm4qqubRyxSHFBHfFWU=


(Total = 28 karakter)

Untuk mengekstrak label digital dari label gambar, sebelumnya pengguna


diminta untuk memasukkan kunci keamanan. Kunci yang dimasukkan tersebut
bersifat case sensitive (huruf kapital dan huruf kecil dianggap berbeda) dan
dipakai untuk melakukan dekripsi terhadap label gambar.
Misalnya dengan memasukkan kunci yang salah yaitu “ilkom”, selanjutnya
label gambar tidak berhasil didekripsi. Jika label gambar tetap ingin dimunculkan,
sistem akan menampilkan karakter yang belum terdekripsi tersebut. Dengan
memasukkan kunci yang benar yaitu “iLKoM”, label gambar tersebut didekripsi
menggunakan algoritma kriptografi DES dan fungsi hash MD5. Dalam contoh di
atas dekripsinya adalah sebagai berikut :

Label gambar : iLKoM|Ryan


(Total = 10 karakter)

Untuk mendapatkan label digital dari gambar, label gambar dipotong


terlebih dahulu pada tanda pemisah “|” dan mengambil bagian sebelah kanan
tanda pemisah. Dari contoh ini, didapat label digital sebagai berikut :

Label Digital : Ryan


(Total = 4 karakter)

HASIL OBSERVASI

OBSERVASI PROSES PENYISIPAN


Dalam observasi ini digunakan 2 sampel gambar yang akan disisipkan label
digital dengan memasukkan kunci. Label digital dapat dimasukkan dengan dua
cara yaitu dengan mengetikkan teks langsung maupun menginputkan file teks
(*.txt).

394 Seminar Nasional Sains & Teknologi – III


Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
PROSIDING I “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“

Tabel 1 Observasi Proses Penyisipan Label Digital


No Gambar Asli Label Digital
1 World_Cup_2010.bmp
(732 KB) < Ketik Langsung>

Copyright © 2010
FIFA World Cup

24 bit
2 Tiger.bmp Letter of Recommendation.txt
(5.47 MB) (1.28 KB)
LETTER OF RECOMENDATION

To Whom It Concern,
Herewith I Highly recomended Mr. x, S.Kom continue his
postgraduate
study at your university. My recomemendation is based on
my
experince as his lecture in several course for the past four
24 bit
year.
… continue ….

OBSERVASI PROSES EKSTRAKSI


Dalam observasi ini digunakan 2 sampel gambar hasil penyisipan label digital
sebelumnya, kemudian memasukkan kunci yang benar untuk mendapatkan label
digital.
Tabel 4.2 Observasi Proses Ekstraksi Label Digital
No Gambar Watermark Label Digital hasil ekstraksi
1 World_Cup_2010_Waterma Label_Digital[World_Cup_2010_Watermark.bmp].txt
rk.bmp (732 KB) (33 Bytes)

Copyright © 2010
FIFA World Cup

24 bit
2 Tiger_Watermark.bmp Label_Digital[Tiger_Watermark.bmp].txt
(5.47 MB) (1.28 KB)
LETTER OF RECOMENDATION
To Whom It Concern,
Herewith I Highly recomended Mr. x, S.Kom continue his
postgraduate
study at your university. My recomemendation is based on
my
experince as his lecture in several course for the past four
year.
24 bit … continue ….

Seminar Nasional Sains & Teknologi – III 395


Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010
Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – III
“Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Mencapai Kemandirian Bangsa“ PROSIDING I

KESIMPULAN
1. Dari hasil observasi terbukti bahwa penerapan metode LSB (Least
Significant Bit) cukup baik dalam menyembunyikan data digital (biner) ke
dalam piksel gambar.
2. Proses penyisipan maupun proses ekstraksi tidak menghasilkan
perbedaan yang berarti dalam konsep HVS (Human Visual System) antara
gambar asli dengan gambar berwatermark.
3. Metode ini memilki kelemahan yaitu tidak tahan terhadap proses
pengolahan digital. Hal ini dikarenakan bit-bit label digital disisipkan
langsung pada bit-bit citra digital yang bekerja dalam domain spasial.
4. Penambahan kunci kriptografi dengan algoritma DES dan fungsi hash
MD5 dapat meningkatkan keamanan dalam proses watermarking. Kunci
yang dipakai telah dapat memenuhi kebutuhan otentikasi, keaslian, dan
integritas citra digital.

SARAN
Untuk mendapatkan gambar berwatermark yang bisa lebih tahan terhadap
proses pengolahan digital, gambar yang akan disisipkan hendaknya
ditransformasi dahulu ke domain lain (frekuensi).

DAFTAR PUSTAKA
[1] Evan. Studi digital watermarking citra bitmap dalam mode warna hue
saturation lightness.
[2] Munir, Rinaldi. 2004. Steganografi dan watermarking : bahan kuliah ke-7,
if5054 kriptografi. Departemen Teknik Informatika. Institut Teknologi
Bandung.
[3] Munir, Rinaldi. Sekilas image watermarking untuk memproteksi citra
digital dan aplikasinya pada citra medis.
[4] Persada, A.B. Studi dan implementasi non-blind watermarking dengan
metode spread spectrum.
[5] Sirait, Rummi. Teknologi watermarking pada citra cigital.
[6] Suhono, Supangkat, Kuspriyanto dan Juanda. Watermarking sebagai
teknik penyembunyian label hak cipta pada data digital, Majalah Teknik
Elektro, Vol. 6, No. 3, 2000.
[7] Sutoyo, T., E. Mulyanto, V. Suhartono, O.D. Nurhayati, dan Wijanarto.
2009. Teori Pengolahan Citra Digital. ANDI, Yogyakarta dengan UDINUS,
Semarang

396 Seminar Nasional Sains & Teknologi – III


Lembaga Penelitian – Universitas Lampung, 18 – 19 Oktober 2010