Anda di halaman 1dari 34

TUGAS MAKALAH TOKSIKOLOGI

‘’PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KERACUNAN

TOKSIN ALAM’’

OLEH :

KELAS : C

KELOMPOK 11

RAHMAH DWI OKTARINI (O1A1 18 121)

MUH. MUADZ ABDI ASSHIDIQ RAHMAN (O1A1 18 136)

MUH. SYAMSIR MURSALI (O1A1 18 175)

DIASTY NURAISYAH (O1A1 18 177)

DOSEN : Apt. NURALIFAH, S.Farm., M.Kes.

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan rahmat, dan anugerah-Nya kami dapat menyusun Makalah ini dengan
judul “Pencegahan Dan Penanganan Keracunan Toksin Alam” yang disusun
untuk memenuhi tugas Toksikologi.

Tidak sedikit kesulitan yang kami alami dalam proses penyusunan


makalah ini. Namun berkat dorongan dan bantuan dari semua pihak yang terkait,
baik secara moril maupun materil, akhirnya kesulitan tersebut dapat diatasi. Tidak
lupa pada kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih kepada Dosen
yang telah membimbing kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini
dengan baik.

Kami menyadari bahwa untuk meningkatkan kualitas makalah ini kami


membutuhkan kritik dan saran demi perbaikan makalah di waktu yang akan
datang. Akhir kata, besar harapan kami agar makalah ini bermanfaat bagi kita
semua.

Kendari, Juni 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................ii

DAFTAR ISI....................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah .........................................................................................2

1.3 Tujuan Penulisan ...........................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Toksisitas pada Tanaman dan Hewan.............................................................5

2.2 Efek Toksik dari Tanaman pada Organ...........................................................9

2.3 Studi Klinis Racun pada Tanaman..................................................................18

2.4 Cara Pencegahan dan Penanganan Keracunan Toksin Tumbuhan.................18

2.5 Sifat Racun pada Hewan ...............................................................................21

2.6 Contoh Hewan Beracun..................................................................................22

2.7 Anti Racun.......................................................................................................38

2.8 Potensi Aplikasi Klinis dari Racun Tumbuhan dan Hewan............................29

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan......................................................................................................31

3.2 Saran................................................................................................................32

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kehadiran tanaman beracun dan senyawa sekunder terkait dalam lanskap
luas dapat memengaruhi, perilaku hewan, asupan makanan hewani,
keuntungan ternak dan pengembalian ekonomi yang sesuai untuk operasi
peternakan, dan efek akut (penyakit) atau toksik (kematian) kronis pada
individu binatang (Scasta, dkk., 2020).
Konsumsi tanaman tanpa studi toksisitas dapat menyebabkan masalah bagi
tubuh manusia, termasuk organ vital.Juga, senyawa kimia dari tanaman obat
dapat menjadi racun dan dapat menyebabkan kerusakan pada manusia.Dengan
demikian, studi toksisitas diperlukan untuk menentukan dosis toksik produk
turunan tanaman dan efeknya. (Chebaibi, dkk., 2019).
Kasus toksikosis akut, seringkali sulit untuk mendiagnosis penyebab
mortalitas bahkan ketika kematian karena tanaman beracun diduga.Banyak
penyakit menular, degeneratif, dan imunologis menghasilkan tanda-tanda
klinis, perubahan biokimia, dan lesi yang mirip dengan yang disebabkan oleh
tanaman beracun. (Lee, dkk., 2020).
Permasalah bagi banyak produsen, adalah bahwa pengetahuan berdasarkan
pengalaman dengan tanaman beracun sebagian besar spesies tunggal pada
suatu titik waktu tertentu, daripada kemungkinan beberapa spesies tanaman
beracun. Studi eksperimental terbatas menggunakan beberapa toksin dalam
diet domba menunjukkan hasil yang tidak konsisten dengan asupan(Scasta,
dkk., 2020).
Produk-produk beracun dapat menyebabkan kerusakan yang menyebabkan
penampilan hepatosit edema dan bengkak (degenerasi kembung) dengan
sitoplasma tidak teratur dan ruang-ruang besar yang bersih. Nekrosis ditandai
dengan pembengkakan sel, kebocoran, disintegrasi nuklir, dan masuknya sel-
sel inflamasi (Chebaibi, dkk., 2019).

3
Sudut pandang toksikokinetik, hati dapat mengeluarkan sekitar 60% racun
dalam empedu tetapi kembali ke hati melalui resirkulasi enterohepatik.Alpha-
amanitin dengan cepat dibersihkan dari serum oleh ginjal.Sejumlah besar
amatoksin diambil oleh hepatosit dan menjalani sirkulasi enterohepatik yang
luas.Durasi kerja toksin-toksin ini adalah sekitar 10 - 15 jam pada manusia
(Tavassoli, 2019).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada
makalah ini yaitu :
1. Apa yang dimaksud toksisitas pada tanaman dan Hewan?
2. Apa saja efek toksik dari tanaman pada organ?
3. Bagaimana studi klinis racun pada tanaman?
4. Bagaimana cara pencegahan dan penanganan keracunan toksin tumbuhan ?
5. Bagaimana sifat racun pada hewan?
6. Apa saja contoh hewan beracun?
7. Bagaimana anti racun?
8. Bagaimana potensi aplikasi klinis dari racun pada tanaman Dan hewan?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui toksisitas pada tanaman dan Hewan.
2. Untuk mengetahui toksik dari tanaman pada organ.
3. Untuk mengetahui studi klinis racun pada tanaman.
4. Untuk mengetahui cara pencegahan dan penanganan keracunan toksin
tumbuhan
5. Untuk mengetahui sifat hewan beracun.
6. Untuk mengetahui contoh hewan beracun.
7. Untuk mengetahui anti racun.
8. Untuk mengetahui potensi aplikasi klinis dari racun pada tanaman dan
hewan.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Toksisitas pada tanaman dan Hewan


Kata racun ”toxic” adalah berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari akar
kata tox, dalam bahasa Yunani tox berarti panah. Dimana panah pada saat
itu digunakan sebagai senjata dalam peperangan, yang selalu pada anak
panahnya terdapat racun. Di dalam ”Papyrus Ebers (1552B.C.)“ orang
Mesir kuno memuat informasi lengkap tentang pengobatan dan obat. Di
Papyrus ini juga memuat ramuan untuk racun, seperti antimon (Sb),
tembaga, timbal, hiosiamus, opium, terpentine, dan verdigris (kerak hijau
pada permukaan tembaga). Sedangkan di India (500 - 600 B.C.) di dalam
Charaka Samhita disebutkan, bahwa tembaga, besi, emas, timbal, perak,
seng, bersifat sebagai racun, dan di dalam Susrata Samhita banyak
menulis racun dari makanan, tananaman, hewan, dan penangkal racun
gigitan ular (Yulianto dan Nurul, 2017).
Racun adalah setiap zat yang bila dalam jumlah sedikit ditelan atau
dihirup atau diserap atau dioleskan atau disuntikkan ke dalam tubuh atau
dihasilkan dalam tubuh, memiliki aksi kimiawi dan menyebabkan
kerusakan pada struktur atau gangguan fungsi yang menimbulkan gejala,
penyakit atau kematian. Racun (poison) adalah zat yang memiliki efek
berbahaya pada organisme hidup. Sedangkan toksin adalah racun yang
diproduksi oleh organisme hidup. “Bisa”(venom) adalah racun yang
disuntikkan dari organisme hidup ke makhluk lain. “Bisa” (venom)
adalah toksin dan toksin adalah racun, tidak semua racun adalah toksin,
tidak semua toksin adalah venom.
Racun dan “bisa” (venom) adalah toksin, karena toksin
didiskripsikan secara sederhana sebagai bahan kimia yang diproduksi
secara biologis yang mengubah fungsi normal organisme lain. Toksin
adalah produk alami seperti yang ditemukan pada jamur beracun, atau

5
racun ular. Toksikan adalah produk buatan manusia, produk buatan yang
dipaparkan ke lingkungan karena aktivitas manusia; Contohnya adalah
produk limbah industri dan pestisida. Toksoid adalah toksin yang tidak
aktif atau dilemahkan. Toksin adalah racun yang dibuat oleh organisme
lain yang bisa membuat kita sakit atau membunuh kita. Dengan kata lain,
toksin beracun. Toksoid tidak lagi beracun tetapi masih sebagai
imunogenik sebagai toksin dari mana ia berasal.
Berdasarkan sumbernya, bahan toksik dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
a. Toksin tanaman
b. Toksin hewan
c. Toksin lingkungan (air, tanah, udara) (Rahayu dan Moch, 2018).
Racun dapat diklasifikasikan berdasarkan atas berbagai hal salah
satunya klasifikasi berdasarkan sumber alamiah. Racun yang berdasarkan
sumber alamiah adalah klasifikasi racun yang membedakan antara racun
asli yang berasal dari flora dan fauna dan kontaminasi organisme dengan
berbagai racun yang berasal dari bahan baku industri beracun ataupun
buangan beracun dan bahan sintetis beracun (Yulianto dan Nurul, 2017).
Kingdom tumbuhan berpotensi mengandung 300.000 spesies, dan efek
racun tanaman terutama berfungsi sebagai pertahanan melawan pemangsa
alami. Keracunan pada manusia dapat terjadi karena hanya menyentuh dan
menelan tanaman untuk menyebabkan beragam efek merusak. Efek toksik
pada manusia dapat berkisar dari demam sederhana yang disebabkan oleh
paparan serbuk sari tanaman hingga reaksi sistemik serius yang disebabkan
oleh konsumsi tanaman tertentu. Tabel 1 mencantumkan beberapa sindrom
keracunan yang dapat dihasilkan tanaman.

6
Tabel 1
Sindrom Keracunan yang Disebabkan oleh Tanaman

SINDROMA marga MEKANISME (S)

Antimuskarinik Atropa, Datura, Blokade kolinoktor


Hyoscyamus, Solanum muskarinik

Kardiotoksik Adenium, Digitalis, Penghambatan Na +


Convallaria, Nerium seluler, K + -ATPase
meningkatkan
kontraktilitas,
meningkatkan efek
vagal

Konvulsi Anemon, Konium, Blokade reseptor


Laburnum, gamma-aminobutyric
acid (GABA) pada
Nicotiana, Ranunculus saluran neuronal
klorida, perubahan
homeostasis asetilkolin,
meniru asam amino
rangsang, perubahan
saluran natrium,
hipoglikemia

Sianogenik Eriobotrya, Hydrangea, Hidrolisis asam


Prunus lambung glikosida
sianogen melepaskan
sianida

Disritmia Aconitum, Aktivasi saluran


Rhododendron, Veratrum natrium

Nikotinik Conium, Laburnum, Stimulasi


Lobelia, Nicotinia cholinoceptors
nikotinik

Pyrrolizidine Crotalaria, Heliotropium, Pyrroles melukai


Senecia endotelium pembuluh
darah hati atau paru
yang menyebabkan
penyakit veno-oklusif

7
dan nekrosis hati

Toxalbumin Abrus, Ricinus Inhibitor sintesis


protein yang
menyebabkan
kegagalan sistem organ
multipel

Ada banyak variabel yang dapat mempengaruhi konsentrasi racun tanaman


dan yang dapat menjadi faktor utama dalam tingkat keparahan Reaksi yang
akan dialami seseorang pada paparan. Faktor-faktor ini termasuk dari bagian
mana paparan tanaman berasal, umur tanaman, jumlah sinar matahari dan
kualitas tanah tempat tanaman itu tumbuh, dan perbedaan genetik dalam suatu
spesies.Juga, racun tanaman jatuh di bawah sejumlah struktur kimia yang
berbeda, yang berguna dalam memahami racun terkait.Tabel 2 memuat daftar
beberapa klasifikasi umum.
Tabel 2
Klasifikasi Senyawa Kimia Tumbuhan Beracun

KATEGORI MARGA CONTOH


KIMIA

Alkaloid Atropa, Senecio, Tropin, pirolididin, pirimidin, purin,


Nicotiana, Coffea, isoquinolin, steroid, diterpen

Papaver,
Solanum,
Aconitum

Glikosida Digitalis, Steroid, kumarin


Aesculus

Senyawa Abrus, Amanitin, Toxalbumin (abrin, risin),


protein Lathyrus polipeptida (amatoksin, phallotoxins,
phalloidin), amina
(aminopropionitrile)

Asam organik Caladium, Oksalat


Dieffenbachia,
Rheum

Alkohol Cicuta, Cicutoxin, tremetol


Eupatorium 8

Resin dan Ganja, Rhus Tetrahydrocannabinol, urushiol


resinoid
Racun tanaman cenderung berupa senyawa atau protein yang lebih kecil dan
sering kali zat tunggal yang menyinggung dapat ditunjukkan.Sebaliknya, racun
hewan harus dipelajari dalam konteks seluruh racun atau racun yang biasanya
sangat kompleks dan mengandung banyak senyawa toksik individu dan protein
yang sangat besar yang pada dasarnya bekerja bersama untuk menimbulkan
efeknya.
2.2 Efek Toksik dari Tanaman pada Organ
Organ – organ yag dapat berdampak terhadap racun adalah :
 Organ Kulit
Iritasi akibat kontak dermatis, Umumnya tanaman penyebab iritasi ini
menpunyai trikoma Trikoma, atau rambut seperti duriditemukan pada
jelatang menyengat (spesies Urtica, Urticaceae) pada kontak dan
melepaskan getah yang mengiritasi yang mengandung campuran asam
format, histamin, asetilkolin, dan serotonin.
Alergi akibat kontak dermatis, Banyak orang pernah mengalami
dermatitis alergi, paling sering akibat kontak dengan poison ivy.
Dermatitis alergi adalah reaksi alergi aktual yang terjadi di dalam kulit dan
bukan hanya respons terhadap adanya iritankomponen imunologis ini,
tingkat keparahan reaksi dapat berkisar luas.
Contoh dari tanaman beracun terhadap kulit antar lain :

KELUARGA JENIS SPESIES NAMA YANG UMUM


BOTANIK

Amaryllidaceae narsisis Narsisis

Apocynaceae Nerium oleander Oleander

Bromeliaceae Ananas comosus nanas

Asteraceae Ambrosia, Aster, Ragweed, aster,

Krisan, krisan,

Rudbeckia hirta, Blackeyed Susan,

9
Tagetes minuta Marigold Meksiko

Euphorbiaceae Ricinus Biji jarak


communis

Fumariaceae Dicentra Hati yang terluka (Bleeding Heart)


“Sa nda tau juga bahasa Indonya”
spectabilis

Ginkgoaceae Ginkgo Biloba Ginkgo

Liliaceae Allium cepa Bawang

Myrtaceae Eucalyptus Eucalyptus

globulus

Pinaceae Abies balsamea Cemara Balsam

Saxifragaceae Hydrangea Hydrangea

Solanaceae Lycopersicon Tomat, kuda

esculentum, jelatang, kentang

Solanum

carolinense,

S. turerosum

Umbelliferae Daucus carota, Wortel, parsnip sapi

Heracleum
lanatum

Urticaceae Urtica dioica, Jelatang

U. urens

10
 Saluran Pernapasan
Alergi Rhinitis, Demam Hay” atau rinitis akibat inhalasi serbuk sari
tanaman. Spesies rumput Poa dan Festuca adalah kontributor utama
bersama dengan serbuk sari dari beberapa genus gulma di Asteraceae
(misalnya, mugwort, Artemisia vulgaris, di Eropa, dan ragweed,
Ambrosia sp., Di Amerika Utara, Gambar 26-4).
Batuk Refleksi, Pekerja yang mengolah paprika memiliki insiden batuk
yang meningkat secara signifikan ketika menangani Capsicum annuum
(lada manis) dan Capsicum frutescens (lada merah) secara spesifik.
Kedua jenis paprika ini menghasilkan iritasi utama.
Pneumonia Akibat Zat Toksin, Pneumotoxin, 4-ipomeanol, diproduksi
di akar ubi jalar (Ipomea batatas, Convolvulaceae) oleh cetakan Fusarium
solani. 4-Ipomeanol diaktifkan oleh sitokrom manusia P450s menjadi zat
antara yang berikatan dengan DNA.Pada sapi dan kelinci, aktivator P450
utama adalah CYP4B1 yang ditemukan di paru-paru yang menyebabkan
pneumonia.
 Sistem Gastrointestinal
Efek Iritan Langsung Menelan tanaman beracun dapat menyebabkan
iritasi pada saluran pencernaan yang sering mengakibatkan mual,
muntah, dan diare.Menelan kacang tung matang (Aleurites fordii)
menyebabkan sakit perut, muntah, dan diare. Wabah keracunan paling
mungkin terjadi pada anak-anak.
Antimitotik, Podophyllotoxin ditemukan di Podophyllum peltatum (May
apple, Berberidaceae) terutama di dedaunan dan akarnya.Overdosis
Podophyllotoxin menyebabkan mual dan muntah paroksismal yang
parah. Dengan mengikat mikrotubulus, podofilotoksin menghambat
mitosis dari proses.
Penghambatan Sintesis Protein, Kacang jarak (Ricinus communis, Gbr.
26-6) adalah tanaman hias yang menghasilkan biji yang, jika dimakan
oleh anak-anak atau orang dewasa, tidak menyebabkan gejala keracunan
selama beberapa hari setelah konsumsi.Lambat laun, gastroenteritis

11
berkembang yang mengakibatkan hilangnya nafsu makan, dengan mual,
muntah, dan diare.Jika dosis fatal tertelan, gastroenteritis menjadi sangat
parah dan ditandai oleh muntah persisten, diare berdarah, dan ikterus
diikuti oleh kematian dalam waktu enam hingga delapan hari. . Agen
beracun adalah dua lektin yang ditemukan dalam kacang: risin I dan risin
II yang risin II lebih beracun. Ricin II terdiri dari rantai-A dan rantai-
B.B-chain bertanggung jawab untuk membantu rantai-A masuk ke dalam
sel. Ini mengikat residu terminal galaktosa pada membran sel yang
kemudian memungkinkan rantai-A untuk menjadi endositosis. Begitu
masuk, rantai-A menonaktifkan subunit ribosom 60-an sel dengan
depurinasi katalitik residu adenosin dalam rRNA 28-an, sehingga
menghambat sintesis protein.

 Sistem kardiovaskular
Glikosida Cardioactive, Thevetia peruviana (oleander kuning) adalah
tanaman hias umum di Amerika Serikat yang bijinya mengandung
konsentrasi glikosida jantung tertinggi.Dosis fatal bagi orang dewasa
adalah delapan hingga 10 biji.Aspek klinis toksikosis oleander pada
domba telah dijelaskan. Juga, keracunan oleander mungkin tidak
berakibat fatal.
Aksi pada Saraf Jantung, Alkaloid beracun yang ditemukan di
Veratrum viride (American hellebore, Liliaceae, Fig. 26-9), Veratrum
album (European hellebore), dan Veratrum californicum menyebabkan
mual, emesis, hipotensi, dan bradikardia saat tertelan. Album Veratrum
telah digunakan selama berabad-abad untuk "memperlambat dan
melunakkan nadi."Campuran alkaloid termasuk protoveratrine,
veratramine, dan jervine yang mempengaruhi jantung dengan

12
menyebabkan respons berulang terhadap stimulus tunggal yang
dihasilkan dari perpanjangan arus natrium.

Bahan Kimia Vasoaktif,American mistletoe (Phoradendron flavescens)


dan mistletoe Eropa (Viscum album, Loranthaceae) adalah anggota dari
keluarga yang sama dan keduanya menghasilkan racun yang ditandai
untuk pengaruhnya pada sistem kardiovaskular. Baik phoratoxin
(diproduksi oleh American mistletoe) dan viscotoxin (diproduksi oleh
mistletoe Eropa) menyebabkan hipotensi, vasokonstriksi pembuluh di
kulit dan otot rangka, dan bradikardia yang dihasilkan dari tindakan
inotropik negatif pada otot jantung.
 Hati
Kerusakan hepatosit, Alkaloid Pyrrolizidine dapat ditemukan di
Senecio (groundsel, Asteraceae) dan dalam empat genus Boraginaceae,
Echium (bugloss), Cynoglossum (lidah anjing pemburu), Heliotropium
(heliotrope), dan Symphytum (comfrey). Tertelannya konsentrasi
alkaloid ini menyebabkan kerusakan hati dalam bentuk penyakit
venooklusif hati yang terkait dengan peroksidasi lipid.
Racun Jamur, Kebanyakan jamur yang tidakdapat dimakan dapat
menyebabkan rasa tidak nyaman ringan dan tidak mengancam jiwa;
Namun, konsumsi berulang morel palsu, Gyromitra esculenta, telah
ditemukan menyebabkan hepatitis.
Mikotoksin,Racun fumonisin diproduksi oleh jamur Fusarium yang
diketahui tumbuh di jagung.Penelanan pada manusia telah diduga
berhubungan dengan kanker kerongkongan. Fumonisin adalah diester
asam propana-1,2,3-tricarboxylic dan pentahydroxyicosane yang
mengandung asam amino primer yang mirip dengan sphingosine.

13
Kesamaan ini bertanggung jawab atas toksisitas mereka karena mereka
memblokir enzim yang terlibat dalam biosintesis sphingolipid.
 Ginjal dan Kandung Kemih
Karsinogen,Pakis pakis (P. aquilinum), yang sangat umum di seluruh
dunia, adalah satu-satunya tanaman tingkat tinggi yang diketahui bersifat
karsinogenik pada hewan dalam kondisi makan alami.Konsumsi sapi
pakis pakis telah terbukti secara signifikan meningkatkan penyimpangan
kromosom. Juga, bukti telah ditemukan bahwa konsumsi tunas pakis
muda oleh manusia dikaitkan dengan kanker mulut dan tenggorokan.
Degenerasi Tubular Ginjal, Spesies Xanthium (cocklebur, Asteraceae)
telah ditemukan mengandung toksin carboxyatractyloside, yang
menyebabkan perdarahan mikrovaskuler di banyak organ. Konsumsi
spesies jamur Cortinarius telah ditemukan menyebabkan gagal ginjal
akut.Cortinarius orellanus dan C. rubellus (Gbr. 26-12) mengandung
racun orellanin yang mematikan, yang memicu gagal ginjal.

 Darah dan Sumsum Tulang


Antikoagulan, Infeksi jamur pada semanggi manis (Melilotus alba) telah
ditemukan menghasilkan dicumarol, turunan kumarin yang merupakan
antikoagulan kuat.
Genotoksisitas Sumsum Tulang, Argemone (Papaveraceae), spesies
poppy, menghasilkan sanguinarine, alkaloid benzophenanthridine yang
dikenal untuk menginterkalasi DNA dan memiliki potensi karsinogenik.
Studi pada tikus menunjukkan bahwa dosis rendah minyak argemone
meningkatkan penyimpangan kromosom dalam sel sumsum tulang.

14
Sianogen, Cyanogen ditemukan di berbagai macam tanaman termasuk
biji apel, ceri, dan buah persik.Konsentrasi tertinggi ditemukan dalam biji
almond pahit, Prunus amygdalus var amara.
 Sistem saraf
Kejang epileptiformis, umbi kering Cicuta maculata (hemlock air,
Gambar 26-13) menghasilkan neurotoksik cicutoxin (a C17-
polyacetylene).Konsumsi satu umbi dapat menyebabkan keracunan yang
fatal, ditandai dengan kejang tonik-klonik, karena ikatan cicutoxin
dengan saluran klorida berpagar GABA.

Stimulasi Asam Amino, Jamur Amanita muscaria (fl agaric, Gambar.


26-14) dan Amanita pantherian (panther agaric) menghasilkan asam
amino asam ibotenat (asam amino isoxazole) dan turunan muscimol yang
bersifat neurotoksik.Keracunan menghasilkan depresi sistem saraf pusat,
ataksia, histeria, dan halusinasi.

Demielinasi Motor Neuron, neurotoksisitas, anthracenone di


Karwinskia, terutama peroxisomicine A 2, menyebabkan atelektasis
paru, emfisema, dan nekrosis hati yang masif.Penghambatan katalase
dalam peroksisom telah diusulkan sebagai mekanisme toksisitas sel.

15
Neuron serebelar, Legum Swainsonia cansescens, Astragalus
lentiginosus (locoweed tutul), dan Oxytropis sericea (locoweed)
menghasilkan alkaloid indolizidine beracun yang disebut
swainsonine.Swainsonine menyebabkan penghambatan lisosomal dan
sitosomal -mannosidase dan Golgi mannosidase II yang nyata yang
mengakibatkan penghambatan glikoprotein otak yang abnormal dan
oligosakarida kaya-mannose yang pada akhirnya menyebabkan
kematian sel.
Stimulasi parasimpatis, Jamur tertentu dari genus Inocybe,
Clitocybe, dan Omphalatus mengandung jumlah muskarin yang
signifikan, neurotransmitter utama dalam sistem saraf
parasimpatis.Konsumsi satu spesies ini menghasilkan aktivasi
parasimpatis ekstrem yang mengakibatkan diare, berkeringat,
mengeluarkan air liur, dan lakrimasi.
Blok Parasimpatis, Atropin, L -hyoscyamine, dan skopolamin adalah
alkaloid belladonna yang dapat ditemukan dalam berbagai konsentrasi
di beberapa genera Solanaceae seperti Datura stramonium (jimson
weed, Alkaloid ini semua secara efektif memblokir reseptor
muskarinik, pada dasarnya mematikan penggerak parasimpatis pada
organ target).
Blok Neuron Sensorik, Capsaicin yang ditemukan dalam C. annuum
(lada manis) dan C. frutescens (lada merah) menyebabkan sensasi
terbakar pada reseptor sensorik tipe vanilloid (VR1). Ini juga
menurunkan sensitivitas reseptor vanilloid 1 transien potensial
(TRPV1) ujung sensorik dari nociceptor C-fi terhadap rangsangan,
sebuah properti yang memiliki penggunaan terapeutik dalam
mengobati nyeri kronis.Poligodial, seskuiterpen yang ditemukan
dalam Polygonum hydropiper, juga menurunkan kepekaan TRPV1,
sedangkan resiniferatoxin mengaktifkan TRVP1.
 Kerangka Otot dan Persimpangan Neuromuskuler

16
Persimpangan Neuromuskuler, Delphinium barbeyi (larkspur
tinggi, Ranunculaceae), mengandung methyllycaconitine.Tertelannya
racun oleh ternak menyebabkan tremor otot dan ataksia diikuti dengan
sujud dan pada akhirnya dapat menyebabkan terhentinya pernapasan
pada kasus fatal.Methyllycaconitine mirip dengan curare dalam hal ini
memiliki afinitas yang tinggi untuk reseptor asetilkolin di
persimpangan neuromuskuler.
Kerusakan otot rangka, Konsumsi biji Cassia obtusifolia (sicklepod,
Leguminosae) oleh ternak menyebabkan miopati degeneratif pada otot
jantung dan tulang.Ekstrak C. obtusifolia telah ditemukan
menghambat NADH-oksidoreduktase dalam bovine dan swine
mitochondria in vitro.
 Kalsifikasi Tulang dan Jaringan
Tulang dan Jaringan Lunak, Konsumsi Solanum malacoxylon
(Solanaceae) oleh domba dan sapi dapat menyebabkan penurunan
kalsium tulang dan kalsifikasi seluruh sistem pembuluh darah karena
adanya zat seperti vitamin D yang larut dalam air. Dalam kasus yang
parah, organ-organ lain juga dapat terpengaruh seperti paru-paru,
tulang rawan sendi, dan ginjal.
 Reproduksi dan Teratogenesis
Abortifasien, Selain aksinya pada sistem saraf, swainsonine, alkaloid
aktif dalam polong-polongan Astragalus dan Oxytropis, juga
menyebabkan aborsi pada ternak hamil yang secara tidak sengaja
menelan locoweed.
Teratogen, Tertelannya V. californicum (California false hellebore,
Liliaceae) oleh domba hamil diketahui menyebabkan malformasi pada
keturunannya yang dapat meliputi cyclopia, exencephaly, dan
microphthalmia.
2.3 Studi Klinis Racun pada Tanaman
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekstrak akar Uzara mengurangi
sekresi klorida oleh usus secara spesifik dengan menghambat Na+, K+-

17
ATPase. Efek ini terlihat pada toksin kolera yang menyebabkan diare kuat
dengan meningkatkan sekresi klorida dalam usus (Schulzke et al., 2011).
Mekanisme ini dapat memberikan modalitas pengobatan antiinflamasi baru
dan sedang diuji untuk kemungkinan penggunaan medis. Silymarin dan asam
usuat diharapkan sebagai agen antikanker (Mayer et al., 2005a, b).
Tujuan dilakukannya penelitian baru adalah untuk menjelaskan
mekanisme tindakan sehingga perawatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan
individu dan efek toksik dapat dihindari atau interaksi dengan obat
konvensional dapat diminimalkan.
2.4 Cara Pencegahan dan Penanganan Keracunan Toksin Tumbuhan
Sebagian besar racun atau anti nutrisi umumnya diperoleh dari hasil
metabolisme sekunder tanaman. Hasil metabolisme sekunder dibagi dua
berdasarkan berat molekulnya yaitu berat molekul kurang dari 100 dengan
contoh pigmen pinol, antosin, alkohol, asam-asam alifatik, sterol, terpen, lilin
fosfatida, inositol, asam-asam hidroksi aromatik, glikosida, fenol, alkaloid,
ester, dan eter. Metabolisme sekunder lainnya adalah yang berat molekulnya
tinggi yaitu selulosa, pektin, gum, resin, karet, tannin, dan lignin. Tanaman
yang mengandung metabolit sekunder umumnya mengeluarkannya dengan
cara pencucian air hujan (daun dan kulit), penguapan dari daun (contoh
kamfer), ekskresi aksudat pada akar (contoh alang-alang) dan dekomposisi
pada bagian tanaman itu sendiri (Widodo, 2005).

Cara Masuknya Racun Tumbuhan Ke Dalam Tubuh


Ada 3 macam cara masuknya racun tumbuhan ke dalam tubuh
manusia yaitu sebagai berikut :
1. Melalui mulut/alat pencernaan.
Cara masuknya racun melalui mulut adalah saat kita menelan
tanaman tersebut. Perlu diketahui bahwa tumbuhan yang dapat
mengakibatkan keracunan itu bukan hanya tumbuhan beracun seperti
jenis tumbuhan yang tertera diatas.Tetapi tumbuhan yang tidak beracun
juga dapat berubah menjadi tumbuhan beracun dikarenakan suatu hal,

18
misalnya kentang dan wortel yang berwarna agak kehijau – hijauan.
Warna kehijau – hijauan ini disebabkan oleh racun glycoalkaloid. Jika
kita memakan kentang yang telah berwarna kehijau – hijauan tersebut
maka racun yang terkandung dalam kentang akan masuk ke dalam
tubuh kita dan menyebabkan keracunan. Oleh sebab itu, kita harus
meneliti dengan seksama apapun yang akan kita makan.
2. Melalui pernapasan
Racun dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui indra
pembau.Ada beberapa jenis tumbuhan yang berbau dan dapat
mengganggu indra pembau manusia.Tumbyhan tersebut adalah jenis
tumbuhan beracun misalnya bunga bangkai (Raflesia Arnoldi).Jika kita
menjumpai tumbuhan tersebut dan terlalu mencium baunya,maka akan
menyebabkan kita pusing.
3. Melalui kulit atau absorbsi (kontak)
Tumbuhan beracun yang terpapar melalui permukaan kulit dan
dapat meresap ke dalam kulit akan mengakibatkan rasa gatal.Rasa
gatal tersebut dikarenakan tumbuhan itu memiliki bulu - bulu halus
yang bila tersentuh oleh kulit kita akan menempel pada kulit dan
mengakibatkan gatal.

Cara Menjaga Keselamatan/Mencegah Terhadap Tanaman


Beracun
Pada dasarnya tumbuhan terbagi menjadi dua golongan yaitu
tumbuhan yang beracun dan tumbuhan yang tidak beracun. Untuk
menjaga keselamatan dari tumbuhan beracun dapat dilakukan dengan
beberapa cara sebagai berikut:
1) Banyak mencari informasi tentang tanaman beracun diberbagai
media.
2) Untuk keselamatan anak – anak, orang tua perlu mengawasi dan

19
mengenalkan kepada anak tentang tanaman beracun.
3) Beri pengertian kepada anak agar tidak sembarangan bermain dengan
tumbuhan yang tidak di kenal.
4) Perhatikan tumbuhan disekitar kita pastikan bahwa tumbuhan itu
tidak kotor atau berlumpur, tidak berbulu, tidak mencolok warnanya,
tidak berbau busuk, serta tidak berbau almond (pahit).Jika terdapat
ciri tersebut, sebaiknya jauhkan tumbuhan tersebut dari pekarangan
kita agar tidak terjangkau oleh anak – anak.
5) Jika ingin mengkonsumsi tumbuhan yang baru dikenal, ada baiknya
dimasak dengan menggunakan garam untuk menetralisir racun yang
terdapat didalam tumbuhan yang ingin anda konsumsi.
Cara Mengobati/Penanganan Keracunan Tumbuhan Beracun
Penanggulangan keracunan akibat tanaman sebaiknya dilakukan
sesegera mungkin setelah gejala tampak untuk mengurangi akibat buruk
yang lebih jauh. Berikut adalah cara menangani sesuai keluhannya :
1) Jika iritasi terjadi pada kulit, maka segera bilas dengan air yang
mengalir segera, jauhkan dari paparan sinar matahari dan garukan.
2) Jika tertelan, maka sebaiknya minum banyak air, atau jika baru
terjadi dan memungkinkan sebaiknya dimuntahkan untuk
mengeluarkan racunnya. Minum zat penawar racun seperti air
kelapa, susu dan pil arang.
3) Jika kondisi semakin parah, sebaiknya segera larikan ke rumah sakit.
Jika terjadi pada hewan ternak atau kesayangan, sebaiknya segera
bawa ke dokter hewan.
2.5 Sifat Racun pada Hewan
Racun adalah sumber peptida dan protein yang bekerja pada berbagai
target eksogen seperti saluran ion, reseptor, dan enzim di dalam sel dan pada
membran sel. Hewan yang berbisa mampu menghasilkan racun dalam
kelenjar atau kelompok sel eksokrin yang berkembang dan dapat
menghantarkan racun/toksinnya selama menggigit atau menyengat

20
mangsanya. Hewan berbisa atau beracun tersebar luas di seluruh kerajaan
hewan, mulai dari protrium uniseluler.Sifat- sifat dari racun hewan meliputi :
• Racunnya sangat kompleks,
• Mengandung polipeptida,
• Protein dengan berat molekul tinggi dan rendah (beragam),
• Mengandung amina, lipid, steroid, aminopolisakarida, kuinon, glukosida,
dan asam amino bebas, serta serotonin, histamin, dan zat lain.
• Beberapa racun diketahui terdiri lebih dari seratus protein
Sebagian besar racun mungkin memberikan efek pada hampir
setiap sel dan jaringan, dan sifat farmakologis utamanya biasanya ditentukan
oleh jumlah fraksi yang terakumulasi di lokasi target.Tabel berikut
mengungkapkan kisaran yang sangat besar dalam LD50 dari berbagai
senyawa dan racun yang disuntikkan secara intravena ke tikus.

 Mekanisme Racun Hewan


Ketersediaan hayati suatu racun ditentukan oleh komposisi, ukuran
molekul, jumlah atau gradien konsentrasi, kelarutan, tingkat ionisasi, laju
aliran darah ke dalam jaringan, dan sifat-sifat permukaan organ
pencernaan.Racun dapat diserap oleh transportasi aktif atau pasif, difusi
difasilitasi, atau pinositosis, di antara mekanisme fisiologis lainnya.Selain
aliran darah, sirkulasi getah bening tidak hanya membawa kelebihan cairan
interstitial yang dihasilkan oleh racun tetapi juga mengangkut komponen
molekul yang lebih besar dan partikel lainnya kembali ke aliran darah.

21
Lokasi kerja aksi dan metabolisme racun tergantung pada difusi dan
partisi sepanjang gradien antara plasma dan jaringan di mana komponen
disimpan. Setelah toksin mencapai lokasi tertentu, masuknya ke lokasi
tersebut bergantung pada laju aliran darah ke jaringan tersebut, massa
struktur, dan karakteristik partisi toksin antara darah dan jaringan tertentu.
Lokasi reseptor memiliki tingkat sensitivitas yang bervariasi.Pada racun yang
kompleks, mungkin terdapat beberapa lokasi reseptor.Ada juga variabilitas
yang cukup besar dalam sensitivitas lokasi tersebut untuk berbagai komponen
racun.
Racun juga dapat dimetabolisme dalam beberapa jaringan yang berbeda
sebelum menjalani ekskresi.Jumlah racun yang dapat dimetabolisme jaringan
tanpa membahayakan organisme juga bervariasi.Organ atau jaringan dapat
mengandung enzim yang mengkatalisasi sejumlah reaksi, termasuk yang
merusak.Setelah komponen racun diubah secara metabolik, zat akhirnya
diekskresikan terutama melalui ginjal.Usus memainkan peran kecil, dan
kontribusi oleh paru-paru dan sistem bilier belum ditentukan.Proses ekskresi
dapat menjadi rumit dengan aksi langsung dari racun pada ginjal itu sendiri.
2.6 Contoh Hewan Beracun
Artropoda
Ada lebih dari satu juta spesies artropod, umumnya dibagi menjadi 25
jenis, yang hanya sekitar 10 kali perintah berasal dari makna jahat atau
beracun.Ini mencakup arach- nids (kalajengking, laba - laba, kalajengking,
solpuds, tungau, dan caplak), yang paling banyak (kelabang dan milipeda),
serangga (kumbang air, kumbang pembunuh, dan kutu roda), kumbang
(kumbang melepuh), Lepidoptera (kupu - kupu, ngengat, dan ulat), dan
Hymenoptera (semut, lebah, dan tawon).
Arachnida (Kalajengking/scorpio)
Racun berantai pendek ini terdiri dari 20 sampai 40 residu asam amino
dengan tiga atau empat ikatan disulfi dan tampaknya mempengaruhi saluran
kalium atau klorida, sedangkan racun rantai panjang memiliki 58 sampai 76
asam amino resi- uran (6500-8500 Da) dengan empat ikatan disulfi dan

22
terutama mempengaruhi saluran natrium (Mouhat et al, 2004).Racun dapat
mengikat secara selektif ke saluran sel yang sangat berbahaya, sehingga
merusak dekobilisasi awal dari potensi aksi dalam saraf dan otot yang
mengakibatkan keracunan pada saraf mereka.
LABA-LABA/SPIDERS
Sarang laba - laba adalah campuran kompleks komponen berat molekuler
rendah, termasuk ion inorganik dan garam, asam bebas,Asam amino bebas
gluten, amines biogenik dan neurotransmitter, dan racun polipeptida.Toksin
polypeptida mencakup ion channel blockers, peptida pembentukan pori, dan
enzim. Khususnya, hanatoksin 1 dan 2 telah memungkinkan karakterisasi
saluran kalium yang bergantung pada tegangan tinggi (Swartz dan
MacKinnon, 1995; Halo, 2002. Laba - laba di bagi menjadi beberapa spesies
seperti berikut:
Spesies agelena opsis (laba-laba Web corong amerika)
Labah-labah corong amerika (agelena opsis aperta) berisi tiga golongan
agatoxins yang menargetkan saluran ion (Adams, 2004).Induk-agatoxin
tampaknya digunakan - tergantung, tidak kompetitifAntagonis dari saluran
reseptor glutamat.Ini adalah zat asam amino ringan berkadar rendah yang
tidak mengandung asam amino. Kelenjar agatoksin adalah 36 sampai 37
asam amino, C-terminal amidated, peptides dengan empat jembatan disulfi de
(Skinner et al., 1989). Agatoksin ini menyebabkan meningkatnya pelepasan
neurotransmiter secara spontan dari terminal pra - sinaptik dan potensi aksi
berulang pada mesin neu- rons. Selain itu, saluran-agatsin merupakan produk
spesial untuk saluran sodium serangga.
Spesies-spesies Latrodectus (laba-laba janda)
Laba-laba jantan dan betina yang berbisa, hanya betina yang memiliki
taring yang besar dan cukup kuat untuk menembus kulit manusia.Warna perut
laba-laba ini bervariasi antara abu-abu dan cokelat hingga hitam, bergantung
spesiesnya.Pada the black widow, bagian bawahnya berwarna hitam mengilap
dengan bintik merah atau bintik merah dan kadang-kadang dengan bintik
putih pada venter.

23
Spesies loxosiles (laba-laba cokelat atau biola)
Racun laba - laba loxosiles tampaknya mengandung fos - pholipase,
protease, esterase, hyaluronidase, deoxy- ribonuklease, ribonuklease,
ribonuclease, dipeptida, dermoneomiase, dan sphingomiase. Ada perekat
neutrofil pada dinding kapiler dengan jahitan dan pengaktifan melewati
neutrofil di dekat sel-sel endothelial terganggu
Spesies Steatoda
Racun Steatoda paykulliana merangsang pelepasan zat pemancar yang
mirip racun Latrodectus (Cavalieri et al., 1987).Konon, racun itu membentuk
saluran-saluran lonik yang masih dapat digunakan untuk bivalen dan
monvalen cations, dan lamanya waktu di tempat terbuka bergantung pada
potensi membran (Sokolov et al, 1984). Racun paykulliana menyebabkan
kerusuhan motor yang kuat, kram clonic, kelelahan, ataxia, dan kemudian
kelumpuhan di guinea pigs. Akibat S. grossa atau Steatoda fulva di amerika
serikat telah digigit — digoyahkan oleh rasa sakit setempat, sering kali parah;
Indurasi; Pruritus; Dan kerusakan jaringan occa- sional di situs gigitan.
Spesies Cheiracanthium
(laba-laba yang berlarian) ke-160 spesies genus ini hampir tersebar ke
seluruh dunia, meskipun hanya empat atau lima spesies yang terlibat dalam
gigitan pada manusia (Russell, 2001)., Cheiracanthium cenderung gigih dan
kadang - kadang harus dihapus dari daerah gigitan. Untuk alasan itu ada
tinggi tingkat identifikasi berikut gigitan laba-laba.Fraksi racun yang paling
beracun dikatakan sebagai protein 60 kDa, dan racun itu tinggi di
norepinefrin dan serotonin.
Spesies teraphosidae (tarantula)
Tarantula adalah predator dan mereka makan pada berbagai preys vertebrata
dan invertebrata yang ditangkap setelah envenomasi dengan venom yang
bertindak cepat dan ireversibel di pusat dan sistem saraf tepi. Pada manusia,
dilaporkan bahwa gigitan biasanya ringan hingga menimbulkan rasa nyeri
yang hebat di daerah setempat, gatal-gatal yang kuat, dan kelembutan yang
bisa berlangsung selama beberapa jam.Edema, eritema, kekakuan persendian,

24
bengkak, perasaan terbakar, dan kram adalah hal yang umum.Dalam kasus
yang lebih parah, kram yang kuat dan kejang otot yang berlangsung hingga
saat - saat persetubuhan mungkin terlihat.Poecilotheria dan Stromatopelma
spon.Tampaknya paling beracun bagi manusia, meskipun tidak ada korban
jiwa yang dilaporkan.
CHILOPODA (PUSAT)
Racun lipan mengandung protein dengan berat molekul tinggi, proteinase,
esterase, 5-hydroxytryptamine, histamin, lipid, dan polisakarida (Mebs,
2002). Racun semacam itu mengandung protein kardiotoksik yang labil
panas 60 kDa yang menghasilkan, pada manusia, perubahan yang terkait
dengan pelepasan asetilkolin (Gomesetal., 1983). Gigitan menghasilkan dua
tusukan kecil, nyeri tajam, perdarahan segera, kemerahan, dan pembengkakan
yang sering berlangsung selama 24 jam.
DIPLOPODA (MILLIPEDES)
Dengan panjang mulai dari 20 hingga 300 mm, artropoda ini adalah
mahluk berbentuk cacing, mahoni, berwarna coklat tua atau hitam, dan
menyandang dua pasang kaki bersendi per segmen. Lesi yang diproduksi
oleh kaki seribu terdiri dari sensasi terbakar atau menusuk dan perkembangan
lesi kekuningan atau coklat-ungu; selanjutnya, lepuh yang berisi bentuk
cairan serosa, yang dapat pecah. Kontak mata dapat menyebabkan
konjungtivitis akut, edema periorbital, keratosis, dan banyak nyeri; cedera
seperti itu harus segera diobati.
INSECTA(Heteroptera (TrueBugs)
Racun dari serangga ini tampaknya memiliki aktivitas apyrase dan
kekurangan aktivitas 5-nukleotidase, pyrophosphatase anorganik, fosfatase,
dan aktivitas adenilatkinase, tetapi cukup kaya akan sifat protease.Ini
menghambat agregasi platelet yang diinduksi kolagen.Gigitan spesies
Triatoma sangat menyakitkan dan menimbulkan eritema, pruritus,
peningkatan suhu pada bagian yang digigit.pembengkakan yang terlokalisasi,
dan pada orang yang alergi terhadap reaksi saliva-sistemik seperti mual dan

25
muntah dan angioedema. Dengan beberapa gigitan, area luka akan terasa
sakit. meninggalkan depresi.
Hymenoptera (Semut, Lebah, Tawon, dan Hornet)
Formicidae (Semut)
Racun semut Formicinae mengandung sekitar 60% asam format. Racun
semut api miskin polipeptida dan protein, tetapi kaya akan alkaloid seperti
solenopsine (Russell, 2001; Mebs, 2002). Sengatan semut api memunculkan
sensasi terbakar yang menyakitkan, setelah itu timbullah eritema wheal dan
terlokalisasi. mengarah dalam beberapa jam ke vesikel yang jelas. Dalam 12
hingga 24 jam, cairan menjadi purulen dan lesi berubah menjadi pustula.Ini
dapat memecah atau menjadi kerak atau nodulfibrotik. Dalam banyak
sengatan mungkin ada mual, muntah, vertigo, peningkatan keringat, kesulitan
pernapasan, sianosis, koma, dan bahkan kematian
Apidae (Lebah)
Racun dari lebah Afrika tidak jauh berbeda dari lebah Eropa, A. m.mellifer
(Gbr. 26-24). Bekas lebah lebih kecil dan menghasilkan racun lebih sedikit,
tetapi agresifitasnya sedemikian rupa sehingga serangan 50 hingga ratusan
lebah bukanlah hal yang aneh (Russell, 2001). Racun ini mengandung
peptida yang aktif secara biologis, seperti melittin, apamin, peptida pengurai
sel mast, dan lainnya, serta fosfolipase A, dan B, hyaluronidase, histamin,
dopamin, monosakarida, dan lipid.
Vespidae (Tawon)
Racun ini mengandung kandungan peptida yang tinggi, yang meliputi
mastoparan dalam tawon dan lebah serta crabolin dari racun homet.Peptida
ini melepaskan histamin dari sel mast dan terdiri dari 13 hingga 17 asam
amino tanpa jembatan disulfida. Peptida lain bernama tawon kinin
menyebabkan nyeri segera, vasodilatasi, dan peningkatan permeabilitas
pembuluh darah yang mengarah ke edema. Racun ini juga mengandung
fosfolipase dan hyaluronidase, yang berkontribusi pada kerusakan membran
dan jaringan ikat untuk memfasilitasi difusi racun.Protein ini juga
berkontribusi terhadap alergenisitas racun.

26
Lepidoptera (Ulat, Ngengat, dan Kupu-kupu)
Rambut urtik, atau setae, ulat adalah senjata pertahanan efektif yang
melindungi beberapa spesies dari pemangsa.Bahan beracun yang ditemukan
dalam kelenjar racun mengandung asam aristolochic, cardenolides, kalli-
kerin, dan histamin di antara zat-zat lainnya. Aktivitas fibrinolitik telah
ditemukan pada komponen 16 dan 18 kDa (titik isoelektrik 8,5); Cacat
koagulasi seperti protrombin berkepanjangan dan waktu tromboplastin parsial
telah terdeteksi, dan penurunan fibrinogen dan plasminogen telah dicatat.
MULLOSCA (CONE SNAILS)
Siput kerucut bisa disebut praktisi canggih terapi obat kombinasi.Setelah
injeksi, multipel konopeptida bekerja secara sinergis untuk mempengaruhi
mangsa sasaran.Istilah racun cabal telah diterapkan pada tindakan
terkoordinasi dari campuran conopeptide ini."Cabal sambaran petir"
menyebabkan imobilisasi mangsa yang disuntikkan dengan segera karena
berbagai komponen racun menghambat inaktivasi saluran natrium yang diberi
tegangan dan memblokir saluran kalium, yang mengakibatkan depolarisasi
besar-besaran akson di sekitar lokasi injeksi dan keadaan tetanik. Komplotan
fisiologis kedua, "komplotan motorik", bertindak lebih lambat karena
conotoxins harus didistribusikan ke seluruh tubuh mangsa. Hasil keseluruhan
adalah penghambatan total transmisi neuromuskuler.
REPTIL
Kadal
Racun kadal ini memiliki serotonin, amina oksidase, fosfolipase A. zat
pelepas bradikinin, helodermin, gilatoksin, dan aktivitas rendah proteolitik,
serta aktivitas hialuronidase tinggi, tetapi tidak memiliki fosfonometerase dan
fosfodiesterase, asetilkolinesterase, nukleotidase, ATP, deoxyribonuclease,
ribonuclease.oksidase asam amino, dan aktivitas fibrinogenocoagulase.Racun
tersebut telah terbukti mengandung protein 25-kDa, helicromine, yang
mengandung 223 asam amino dan empat pasang ikatan disulfida, yang

27
tampaknya menghambat fluks Ca2 + dari retikulum sarkoplasma
(Morrissetteetal., 1995; Nobileetal. , 1996).Suatu residu asam amino 35,
helodermin menghasilkan hipotensi yang sebagian disebabkan oleh aktivasi
saluran K yang peka terhadap glibenclamide (Horikawaetal., 1998).
Faktanya, helospectin I dan II dan helodermin adalah peptida seperti peptida
intrasstinalnonamidated, diisolasi dari racun kelenjar ludah kadal H.
suspendum dan H. horridum, yang memiliki efek vasodilator yang kuat dan
kuat.
Ular
Informasi Umum dan Klasifikasi Ular memiliki jantung tiga bilik dan
mengandalkan hampir secara eksklusif pada paru kanan yang membesar
(yang membentang sekitar setengah dari panjang tubuh) untuk pernapasan.
Ular berbisa terutama milik keluarga berikut: Viperidae (ular berbisa),
Elapidae, Atractaspididae, dan Colubridae.
2.7 Anti Racun
Antivenom/antiracun diproduksi paling banyak pada keadaan medis untuk
racun ular, laba-laba, kalajengking, dan racun hewan laut. Hewan yang telah
kebal/tahan dengan racun dapat menghasilkan berbagai antibodi terhadap
banyak antigen dalam racun tersebut. Antivenom terdiri dari antisera khusus-
racun atau antibodi yang terkonsentrasi dari serum imun ke racun. Antiserum
mengandung antibodi penawar: satu antigen (monospesifik) atau beberapa
antigen (spesifik polis). Antivenom monovalen memiliki kapasitas netralisasi
yang tinggi, yang diinginkan terhadap racun hewan tertentu. Antisera
polivalen biasanya digunakan untuk perlindungan terhadap beberapa racun,
seperti ular dari wilayah geografis. Sediaan polivalen biasanya membutuhkan
dosis atau volume yang lebih tinggi daripada antivenom monovalen.
Antivenom dapat bereaksi silang dengan racun dari spesies yang jauh dan
mungkin tidak bereaksi dengan racun dari spesies yang dimaksud. Namun
demikian, secara umum, antibodi yang berikatan dengan molekul racun,
membuat efeknya menjadi tidak efektif.

28
Antivenom tersedia dalam beberapa bentuk: antibodi IgG utuh atau
fragmen IgG seperti F(ab)2 dan Fab. Berat molekul IgG utuh sekitar 150.000,
sedangkan Fab sekitar 50.000. Ukuran molekul IgG mencegah ekskresi
ginjaldan menghasilkan volume distribusi yang jauh lebih kecil daripada Fab.
Waktu paruh eliminasi IgG dalam darah sekitar 50 jam.
Semua produk antivenom dapat menghasilkan reaksi hipersensitivitas.
Reaksi hipersensitivitas tipe I (langsung) disebabkan oleh ikatan silang
antigen IgE endogen yang terikat pada sel mast dan basofil. Ikatan antigen
oleh sel mast dapat menyebabkan pelepasan histamin dan mediator lainnya,
menghasilkan reaksi anafilaksis. Setelah diinisiasi, anafilaksis dapat berlanjut
meskipun pemberian antivenom dihentikan.Tipe III hipersensitivitas (serum
sickness) dapat berkembang beberapa hari setelah pemberian antivenom.
2.8 Potensi Aplikasi Klinis dari Racun pada Tanaman dan Hewan
Racun hewan sedang digunakan sebagai alat penelitian dan klinis
berdasarkan tingginya tingkat afiliasinya untuk target spesifik dan sifat
farmakologis yang dipelajari dengan baik.Penelitian aktif telah mencatat
bahwa racun hewan mengandung komponen yang dapat mengurangi rasa
sakit, dapat membunuh kanker tertentu secara selektif, dapat mengurangi
kejadian stroke melalui efek pada pembekuan darah, dan berfungsi sebagai
antibiotik.
Racun juga dapat digunakan sebagai komponen kompleks toksin-reseptor-
antibodi untuk diagnosis gangguan autoimun.Selain menyediakan sarana
yang menjanjikan untuk meneliti dan mengobati penyakit otot dan neurologis
serta kanker, pekerjaan sedang dilakukan untuk merancang metode yang
secara konsisten merekonstruksi dan menyesuaikan keseluruhan struktur
toksin untuk mengikat protein spesifik, seperti HIV.
Lintah, cacing tanah, cacing, siput, kelabang, laba-laba, dan kutu
semuanya menghasilkan zat dengan aplikasi klinis yang potensial, seperti
osteoartritis, trombosis vena dalam, tindakan antimikroba, infeksi usus,
penyakit usus, analgesia, dan hiperlipidemia.

29
30
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada makalah ini adalah :
1. Ada banyak variabel yang dapat mempengaruhi konsentrasi racun
tanaman dan yang dapat menjadi faktor utama dalam tingkat keparahan.
Hewan beracun mendapatkan bisanya akibat masa lalu rantai makanan.
Karena itu, racun seringkali merupakan metabolit yang dihasilkan oleh
mikroorganisme, tanaman, atau hewan fungsi racun pada hewan berbisa
adalah untuk berburu, mencerna makanan dan pertahanan hewan.
2. Dengan melakukan banyak penelitian untuk pengetahuan kita tentang
racun tanaman dan mekanisme kerjanya meningkat, jumlah obat dan
produk medis baru yang bermanfaat secara klinis akan meningkat.
Kemajuan teknologi dalam pemurnian dan identifikasi kimia akan
memungkinkan karakterisasi toksik yang lebih baik juga.
3. Sifat racun Sifat- sifat dari racun hewan meliputi, racunnya sangat
kompleks, mengandung polipeptida, protein dengan berat molekul tinggi
dan rendah (beragam), mengandung amina, lipid, steroid,
aminopolisakarida, kuinon, glukosida, dan asam amino bebas, serta
serotonin, histamin, dan zat lain,beberapa racun diketahui terdiri lebih
dari seratus protein
4. Banyak mencari informasi tentang tanaman beracun diberbagai media,
perlunya ada pengawasan, pastikan tumbuhan itu tidak kotor atau
berlumpur, tidak berbulu, tidak mencolok warnanya, tidak berbau busuk,
serta tidak berbau almond (pahit), jika ingin mengkonsumsi tumbuhan
yang baru dikenal, ada baiknya dimasak dengan menggunakan garam
untuk menetralisir racun.Jika iritasi terjadi pada kulit, maka segera bilas
dengan air, jika tertelan, maka sebaiknya minum banyak air dan penawar
racun, dan jika kondisi semakin parah, sebaiknya segera larikan ke rumah
sakit.

31
5. Contoh hewan beracun dapat berasl dari artropoda (kalajengking dan laba
– laba), pada chilopoda, diplopoda, insecta, hymenoptera (semut, lebah
dan tawon), Lepidoptera (Ulat, Ngengat, dan Kupu-kupu), moluska, dan
reptil.
6. Anti racun atau antivenom paling banyak dibuat untuk racun ular, laa –
laba kalajengking dan hewan beracun dari laut. Antivenom terdiri dari
antisera khusus-racun atau antibodi yang terkonsentrasi dari serum imun
ke racun. Antiserum mengandung antibodi penawar: satu antigen
(monospesifik) atau beberapa antigen (spesifik polis).
7. Lintah, cacing tanah, cacing, siput, kelabang, laba-laba, dan kutu
semuanya menghasilkan zat dengan aplikasi klinis yang potensial, seperti
osteoartritis, trombosis vena dalam, tindakan antimikroba, infeksi usus,
penyakit usus, analgesia, dan hiperlipidemia. Dan masih banyak lagi
penelitian dilakkan
3.2 Saran
Pada saat pembuatan makalah Penulis menyadari bahwa banyak sekali
kesalahan dan jauh dari kesempurnaan.dengan sebuah pedoman yang bisa
dipertanggungjawabkan dari banyaknya sumber Penulis akan memperbaiki
makalah tersebut . Oleh sebab itu penulis harapkan kritik serta sarannya
mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.

32
DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, R. 2013. Mengenali Tumbuhan Beracun atau Berbahaya. Erlangga :


Jakarta.

Hamid A, Nuryani Y. (1992). Pengetahuan Tradisional Tumbuhan Obat di


Indonesia. Departemen pertanian RI : Bogor.

Hanenson, I. B. 1980. Clinical Toxicology. JB Lippincot Company : Toronto.

Klaasen, C. D., 2013, Casarett and Doull’s TOXICOLOGY The Basic Science of
Poisons, MC Graw Hill : New York.

Rahayu, M., dan Moch, F.S., 2018. Toksikologi Klinik. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia : Jakarta.

Widodo, W. 2005. Tanaman Beracun dalam Kehidupan Ternak. UMM Press :


Malang.

Yulianto., dan Nurul, A., 2017. Toksikologi Lingkungan. Kementerian Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta.

33