Anda di halaman 1dari 33

ANALISIS LITERASI DIGITAL MELALUI PENERAPAN E-LEARNING

BERBASIS SCHOOLGY PADA SISWA KELAS XI IPS


DI SMA NEGERI 1 WURYANTORO

Usulan Penelitian Diajukan untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Penelitian Pendidikan

Diajukan Oleh :

Yunita Mega Saputri

A210170158

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKRTA

SURAKARTA

2020
LEMBAR PERSETUJUAN LAPORAN PENELITIAN

JUDUL : ANALISIS LITERASI DIGITAL MELALUI PENERAPAN E- LEARNING


BERBASIS SCHOOLGY PADA SISWA KELAS XI IPS DI SMA NEGERI 1
WURYANTORO
PENYUSUN : YUNITA MEGA SAPUTRI
NIM : A210170158

Surakarta, 22 Juni 2020


Menyetujui,
Pembimbing Ketua Pelaksana Kegiatan

(Prof. Dr. Harsono, MS) (Yunita Mega Saputri)


NIDN 0620026001 NIM A210170158

2
ANALISIS LITERASI DIGITAL MELALUI PENERAPAN E-LEARNING
BERBASIS SCHOOLGY PADA SISWA KELAS XI
DI SMA NEGERI 1 WURYANTORO

Oleh

Yunita Mega Saputri


Universitas Muhammadiyah Surakarta

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah dengan penerapan e-learning
berbasis schoology akan meningkatkan literasi digital pada siswa. Penelitian ini
menggnakan pendekatan deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Tempat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah di SMA N 1 Wuryatoro. Subjek dalam penelitian
ini adalah siswa kelas XI IPS 1 yang berjumlah 30 orang. Pengumpulan data menggunkan
observasi, dokumentasi dan angket literasi digital. Berdasarkan data yang terkumpul,
kemudian dideskrisikan dan dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan

Kata Kunci : e – learning, schoology, literasi digital

Abstrack

Keywords : e-learning, schoology, digital literacy

3
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT yang dengan kuasa-Nya
manusia dapat terlahir ke muka bumi sebagai makhluk yang paling mulia dengan
segenap akal dan pikiran untuk mencari, memahami, serta membahasakan segala
hikmah di balik semua ciptaan- Nya. Berkat rahmat, taufiq, dan hidayah- Nya pula,
penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini.
Laporan penelitian dengan judul “ANALISIS LITERASI DIGITAL MELALUI
PENERAPAN E-LEARNING BERBASIS SCHOOLGY PADA SISWA KELAS XI IPS DI SMA NEGERI
1 WURYANTORO” ini disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah penelitian
pendidikan.
Tidak lupa penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan laporan penelitian ini, diantaranya :
1. Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum, Dekan FKIP UMS yang telah
memberikan kesempatan untuk menyelesaikan laporan penelitian ini.
2. Prof. Dr. Harsono, MS, Ketua program studi pendidikan akuntansi UMS atas
izin yang diberikan untuk menyelesaikan laporan penelitian ini.
3. Prof. Dr. Harsono, MS, pembimbing yang telah memberikan bimbingan,
arahan, saran, dan kritik selama penelitian, dan penyusunan laporan
penelitian ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
4. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya laporan penelitian ini
yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa laporan penelitian ini masih jauh dari kata
kesempurnaan. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan.
Akhir kata, penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

4
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...........................................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN..................................................................................................ii
ABSTRAK.......................................................................................................................iii
KATA PENGANTAR........................................................................................................iv
DAFTAR ISI.....................................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah....................................................................................1
B. Identifikasi Masalah............................................................................................
C. Pembatasan Masalah.........................................................................................
D. Perumusan Masalah...........................................................................................
E. Tujuan Penelitian................................................................................................
F. Manfaat Penelitian.............................................................................................
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS..................................
A. Kajian Pustaka....................................................................................................
B. Penelitian Terdahulu yang Relevan....................................................................
C. Kerangka Pemikiran............................................................................................
BAB III METODE PENELITIAN...........................................................................................
A. Jenis dan Desain Penelitian................................................................................
B. Tempat dan Waktu Penelitian............................................................................
C. Data, Sumber Data, dan Narasumber.................................................................
D. Kehadiran Peneliti..............................................................................................
E. Teknik Pengumpulan Data..................................................................................
F. Keabsahan Data..................................................................................................
G. Teknik Analisis Data............................................................................................
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................................................
A. Hasil Penlitian.....................................................................................................
B. Pembahasan.......................................................................................................
BAB V PENUTUP..............................................................................................................
A. Simpulan.............................................................................................................
B. Saran..................................................................................................................

5
C. DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
D. RIWAYAT HIDUP PENULIS...................................................................................

6
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Perkembangan media digital dan teknologi informasi saat ini memberikan
tantangan bagi pengguna dalam mengakses, memilih, dan memanfaatkan informasi
dan kemampuan dalam menelusuri informasi tersebut, membutuhkan ketepatan
dan kualitas informasi yang diperoleh oleh pengguna. Kemampuan inilah yang saat
ini dikenal dengan literasi yang dipahami lebih sekedar kemampuan membaca dan
menulis. Namun lebih dari itu, literasi merupakan kemampuan individu untuk
mengggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam kehidupan.
Pemhaaman literasi mencakkup juga kemampuan membaca kata dan membaca
dunia.
Kementrian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud) bekerjasama
dengan kementrian komunikasi dan informatika (kemkominfo) giat meningkatkan
literasi digital di masyarakat. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat menggunakan
internet dan piranti elektronik dengan benar dan bermartabat (Jatinika, 2017). Salah
satu upaya gerakan literasi digital ini dengan membiasakan peserta didik di sekolah
agar terampil melakukan kegiatan literasi digital. Selain itu, kemampuan literasi
digital di Indonesia masih rendah. Hal ini dirujuk berdasakan hasil Program for
International Student Assesment (PISA) tahun 2015 (OECD, 2015), tingkat
membaca/literasi Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara dengan rata-
rata skor 397. Rata-rata skor tingkat membaca/literasi dari 70 negara sebesar 493.
Hal ini berarti tingkat membaca/literasi di Indonesia masih rendah dan di bawah
rata-rata.
Literasi digital adalah diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan
menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dan berbagai sumber yang sangat
luas yang diakses melalui piranti komputer (Paul Gilster, 1997). Literasi digital dapat
diterapkan di keluarga, sekolah dan masyarakat.
Literasi digital dapat ditumbuhkan dengan pembelajaran berbasis elektronik
(e-learning) berbasis e- learning management system (LMS). Learning management
system (LSM) adalah aplikasi softwere atau teknologi berbasis web yang digunakan

7
untuk merencanakan, mengimplementasikan dan menilai proses pembelajaran
(Sicat, 2015). Salah satu LMS yang dapat digunakan adalah schoology.
Schoology adalah salah satu LSM gratis, memungkinkan kolaborasi (secara
online) antara siswa dengan siswa, dosen dengan siswa, bahkan dengan orang tua
(Farmington, 2014). Schoology mengarahkan siswa mengaplikasikan peggunaan
teknologi dalam pembelajaran .
Namun demikian berdasarkan obserasi peneliti di SMA N 1 Wuryantoro,
kemampuan literasi digital peserta didik pada kelas XI IPS masih kurang. Hal ini
mengacu pada angket yang memuat empat indikator literasi digital (Nasrullah dkk,
2017) meliputi (1) Intensitas Penerapan dan Pemanfaatan Literasi Digital dalam
Kegiatan Pembelajaran (2) Jumlah dan Variasi Bahan Bacaan dan Alat Peraga
Berbasis Digital (3) Frekuensi Peminjaman Buku Bertema Digital (4) Jumlah
Penyajian Informasi Sekolah Menggunakan Media Digital atau Situs Laman.
Rendahnya kemampuan literasi digital peserta didik ini berbanding terbalik dengan
piranti elektronik seperti laptop, handphone, tablet yang dimiliki oleh peserta didik.
Solusi dari masalah diatas yaitu dengan mengembangkan media
pembelajaran dengan mengunakan handphone sebagai penghubung dengan
pembelajaran yaitu dengan penerapan e-learning berbasis schoology.
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan diatas, maka penulis
tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ANALISIS LITERASI DIGITAL
MELALUI PENERAPAN E-LEARNING BERBASIS SCHOOLGY PADA SISWA KELAS XI IPS
DI SMA NEGERI 1 WURYANTORO”.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Dengan landasan keterangan dari latar belakang yang telah dijelaskan
diatas, penulis telah mengidentifikasi sejumlah masalah yaitu :
1. Kemampuan literasi digital pada siswa kelas XI IPS 1 masih rendah.
2. Adanya handphone, komputer / laptop tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh
siswa kelas XI IPS 1 dalam literasi digital.

8
C. BATASAN MASALAH
Melihat begitu kompleksnya permasalahan mengenai rendahnya
kemampuan literasi digital pada masyarakat luas, maka penulis perlu membuat
batasan masalah agar hasil penelitian dapat lebih fokus an mendalam pada
permasalahan yang diangkat. Maka dari itu untuk mempermudah penelitian penulis
hanya membatasi penelitian sebagai berikut :
1. Literasi digital melalui pembelajaran elektronik ( e- learning ) dengan
menggunakan web schoolgy.
2. Penelitian ini dilakukan kepada siswa kelas XI IPS 1 di SMA N 1 Wuryantoro.

D. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pada batasan masalah di atas penulis dapat merumuskan
masalah sebagai berikut :
“Apakah dengan penggunaan pembelajaran e-learning berbasis schoology dapat
meningkatkan literasi digital di kelas XI IPS 1 SMA N 1 Wuryantoro?”

E. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan pada rumusan masalah yang telah dibuat, maka penelitian ini
bertujuan untuk:
“Mendeskripsikan bahwa dengan penggunaan pembelajaran e-learning berbasis
schoology dapat meningkatkan literasi digital di kelas XI IPS 1 SMA N 1
Wuryantoro”.

F. MANFAAT PENELITIAN
1. Secara Teoritis
a. Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat/sumbangsih keilmuan
bidang pendidikan, terkhusus pada materi tentang program pembelajaran
e-learning berbasis schoology.
b. Sebagai bahan refrensi bagi peneliti lain dalam mengembangkan ilmu
tentang literasi digital.
2. Secara Praktis

9
a. Bagi Penulis : menambah pengetahuan dan pengalaman bagi penulis
tentang literasi digital melalui penerapan e-learning berbasis schoolgy pada
siswa.
b. Bagi Sekolah : hasil penelitian ini diharapkan banyak diketahui oleh lembaga
pendidikan lain supaya menjadi refrensi dalam menumbuhkan budaya
literasi khususnya literasi digital melalui penerapan e-learning berbasis
schoolgy pada siswa.
c. Bagi masyarakat umum : merubah pola pikir masyarakat yang sebelumnya
menganggap bahwa media digital memiliki banyak dampak negatif bagi
anak, yang semestinya jika digunakan dengan bijak akan berdampak positif.

10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

A. KAJIAN PUSTAKA
1. Literasi Digital
a. Pengertian Literasi Digital
Literasi digital adalah ketertarikan, sikap dan kemampuan individu
dalam menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses,
mengelola, mengintegrasikan, menganalisis dan mengevaluasi informasi,
membangun pengetahuan baru, membuat dan berkomunikasi dengan orang
lain agar dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat. Dalam
konsepsi Potter (Widyastuti, Nuswantoro, & Sidhi, 2016), usaha untuk
meliterasi masyarakat berbasis digital bukan sekedar mengenalkan media
digital tetapi juga menyinergikan kegiatan sehari-hari yang berujung pada
peningkatan produktivitas.
Menurut Sholihah literasi digital adalah upaya untuk menemukan,
menggunakan maupun menyebarluaskan informasi secara efektif (Sholihah,
2016). Media digital merupakan jenis gawai dalam new media. Menurut
Dennis McQuail ada empat jenis media baru, yaitu media komunikasi
antarpribadi misalnya email, media permainan yang bersifat interaktif
contohnya game, media pencari data atau informasi misalnya search engine
di internet, dan media yang bersifat partisipasi, misalnya chatting di
internet.
c. Kompetensi Literasi Digital
Kompetensi berasal dari kata competence yang menggambarkan
penampilan suatu kemampuan tertentu secara utuh yang merupakan
dialetika (perpaduan) antara pengetahuan serta kemampuan.
Dalam arti umum kompetensi mempunyai makna yang hampir sama
dengan keterampilan hidup atau “life skill”, yaitu kecakapan-kecakapan,
keterampilan untuk menyatakan, memelihara, menjaga, dan
mengembangkan diri. Kompetensi atau keterampilan hidup dinyatakan

11
dalam kecakapan, kebiasaan, keterampilan, kegiatan, perbuatan, atau
perfomansi yang dapat diamati bahkan dapat diukur.
Seseorang dapat menguasai literasi digital secara bertahap karena
satu jenjang lebih rumit dari pada jenjang sebelumnya. Kompetensi digital
mensyaratkan literasi komputer dan teknologi. Namun, untuk dapat
dikatakan memiliki literasi digital maka seseorang harus menguasai literasi
informasi, visual, media, dan komunikasi.
Paul Gilster mengelompokkannya ke dalam empat kompetensi inti
yang perlu dimiliki seseorang, sehingga dapat dikatakan berliterasi digital
antara lain :
1) Pencarian di Internet (Internet Searching)
Kompetensi sebagai suatu kemampuan seseorang untuk
menggunakan internet dan melakukan berbagai aktivitas di dalamnya.
Kompetensi ini mencakup beberapa komponen yakni kemampuan
untuk melakukan pencarian informasi diinternet dengan menggunakan
search engine, serta melakukan berbagai aktivitas di dalamnya
2) Pandu Arah Hypertext (Hypertextual Navigation)
Kompetensi ini sebagai suatu keterampilan untuk membaca
serta pemahaman secara dinamis terhadap lingkungan hypertext. Jadi
seseorang dituntut untuk memahami navigasi (pandu arah) suatu
hypertext dalam web browser yang tentunya sangat berbeda dengan
teks yang dijumpai dalam buku teks. Kompetensi ini mencakup
beberapa komponen anatara lain: pengetahuan tentang hypertext dan
hyperlink beserta cara kerjanya, pengetahuan tentang perbedaan
antara membaca buku teks dengan melakukan browsing via internet,
pengetahuan tentang cara kerja web meliputi pengetahuan tentang
bandwidth, http, html, dan url, serta kemampuan memahami
karakteristik halaman web.
3) Evaluasi Konten Informasi (Content Evaluation)
Kompetensi ini merupakan kemampuan seseorang untuk
berpikir kritis dan memberikan penilaian terhadap apa yang ditemukan
secara online disertai dengan kemampuan untuk mengidentifikasi

12
keabsahan dan kelengkapan informasi yang direferensikan oleh link
hypertext. Kompetensi ini mencakup beberapa komponen antara lain:
kemampuan membedakan antara tampilan dengan konten informasi
yakni persepsi pengguna dalam memahami tampilan suatu halaman
web yang dikunjungi, kemampuan menganalisa latar belakang
informasi yang ada di internet yakni kesadaran untuk menelusuri lebih
jauh mengenai sumber dan pembuat informasi, kemampuan
mengevaluasi suatu alamat web dengan cara memahami macam-
macam domain untuk setiap lembaga ataupun negara tertentu,
kemampuan menganalisa suatu halaman web, serta pengetahuan
tentang FAQ dalam suatu newsgroup/group diskusi
4) Penyusunan Pengetahuan (Knowledge Assembly)
Kompetensi ini sebagai suatu kemampuan untuk menyusun
pengetahuan, membangun suatu kumpulan informasi yang diperoleh
dari berbagai sumber dengan kemampuan untuk mengumpulkan dan
mengevaluasi fakta dan opini dengan baik serta tanpa prasangka.
Kompetensi ini mencakup beberapa komponen yaitu: kemampuan
untuk melakukan pencarian informasi melalui internet, kemampuan
untuk membuat suatu personal newsfeed atau pemberitahuan berita
terbaru yang akan didapatkan dengan cara bergabung dan
berlangganan berita dalam suatu newsgroup, mailing list maupun grup
diskusi lainnya yang mendiskusikan atau membahas suatu topik
tertentu sesuai dengan kebutuhan atau topik permasalahan tertentu,
kemampuan untuk melakukan crosscheck atau memeriksa ulang
terhadap informasi yang diperoleh, kemampuan untuk menggunakan
semua jenis media untuk membuktikan kebenaran informasi, serta
kemampuan untuk menyusun sumber informasi yang diperoleh di
internet dengan kehidupan nyata yang tidak terhubung dengan
jaringan.
d. Penerapan Literasi Digital di Sekolah
Menurut Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, penerapan berasal dari
kata “terap” yang berarti juru, berukir, kemudian jadi kata “penerap” yang

13
berarti orang yang menerapkan, sementara “penerapan” adalah
pemasangan atau pengenaan.12 Penerapan dengan istilah lain adalah
implementasi, yang berarti penggunaan peralatan dalam kerja, pelaksanaan,
pengerjaan hingga terwujud, pengejawantahan.
Penerapan literasi digital di sekolah menuntut guru sebagai
fasilitator untuk tidak hanya mendayagunakan sumber-sumber belajar yang
ada di sekolah seperti hanya mengandalkan bahan bacaan buku ajar saja,
tetapi dituntut untuk mempelajari berbagai sumber belajar, seperti majalah,
surat kabar, internet, dan media digital. Hal tersebut sangat penting
diterapkan, agar apa yang dipelajari sesuai dengan kondisi dan
perkembangan dunia.
Pendayagunaan sumber belajar dalam pembelajaran memiliki arti
yang sangat penting, selain untuk melengkapi, memelihara, dan
memperkaya khasanah belajar, sumber belajar juga dapat meningkatkan
aktivitas dan kreativitas siswa. Sehingga pendayagunaan sumber belajar
secara maksimal, memberikan ketepatan dalam menggali berbagai jenis
ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bidang kajian, sehingga pembelajaran
literasi digital akan senantiasa “up to date”, dan mampu mengikuti
akselerasi teknologi dan seni dalam masyarakat yang semakin global.
Sehingga dengan melakukan penerapan literasi digital disekolah,
siswa dapat memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas
dan mendalam sehingga meningkatkan wawasan siswa dan membantu
siswa menyelesaikan tugas mereka dalam menemukan informasi dari
konten digital yang tepat, akurat, dan waktu yang relatif singkat.
b. Media E- Learning
a. Pengertian E-Learning
E-learning dapat diterjemahkan sebagai pembelajaran yang
menggunakan perangkat eletronik sebagai medianya. E-learning
merupakan seperangkat aplikasi dan proses yang dibuat untuk kegiatan
pembelajaran. E-learning lebih mengarah kepada kelas virtual (Virtual
Classroom). Materi-materi dalam kegiatan pembelajaran elektronik
tersebut kebanyakan dihantarkan melalui media internet, intranet, tape,

14
audio maupun video, satelit, televisi interaktif, ataupun media
penyimpanan seperti CD-ROM. Definisi ini menjelaskan bahwa tidak ada
nilai mutlak bahwa e-learning harus terhubung dengan internet. Namun,
secara spesifik, definisi e-learning adalah bergantung dari penyelenggara
kegiatan e-learning tersebut, cara penggunaan, serta tujuan penggunaanya
(Rusman, 2013).
Menurut Rosenberg dalam Rahmasati & Rismiati (2013), E-Learning
merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian
pembelajaran dalam jangkauan luas yang berlandaskan tiga kriteria, yaitu :
E-learning merupakan jaringan dengan kemampuan memperbaharui,
menyimpan, mendistribusikan dan membagi materi ajar atau informasi,
Pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan
menggunakan teknologi internet yang standar. Memfokuskan pada
pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma
pembelajaran tradisional.
Pernyataan di atas menjelaskan bahwa e-learning memiliki
fleksibilitas dalam pengolahannya, meskipun terbatas dengan kemampuan
dari keberadaan jaringan internet itu sendiri. Proses pembelajaran di dalam
e-learning sangat tergantung kepada keberadaan komputer sebagai media
utamanya. Meskipun begitu, dengan komputer proses belajar bisa menjadi
lebih dinamis karena komputer memiliki beragam fitur, sehingga proses
pembelajaran menjadi lebih menyenangkan.
b. Ciri Pembelajaran E-Learning
Aunurrahman (2009) menguraikan beberapa ciri dari pembelajaran
E-learning :
1) E-learning merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memberi
penekanan pada penyampaian informasi,komunikasi, pendidikan pada
penyampaian informasi, komunikasi, pendidika, pelatihan secara online.
2) E-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai
belajar tradisional (model belajar klasikal, kajian terhadap buku teks,
CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab
perkembangan global.

15
3) E-learning tidak berarti menggantikan sistem belajar klasikal yang
dipraktikkan, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui
pengayaan informasi tentang substansi (content) dan mengembangkan
teknologi pendidikan.
4) Kapasitas pembelajaran sangat bervariasi. Hal ini tergantung pada
bentuk konten serta alat penyampaian informasi pesan-pesan
pembelajaran dan gaya belajar. Bilamana konten dikemas dengan baik
dan didukung dengan alat penyampai informasi dan gaya belajar secara
serasi, maka kapasitas belajar ini akan lebih baik yang pada gilirannya
akan memberikan hasil yang baik.
5) E-learning memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan
pembelajaran tradisional.
Menurut Wahyu (2008) dalam Nisiameri, ada beberapa kelebihan
dari E-learning yaitu: merupakan media komunikasi yang efektif, cepat dan
kredibel, mencakup area yang luas, kelas besar atau kelas kecil, kapan saja
dan dimana saja, membangun Komunitas, peningkatan Pembelajaran Siswa.
c. Manfaat E-Learning
Manfaat e-learning dalam kegiatan pembelajaran menurut Siahaan
(2003: 29), antara lain:
1) Sebagai Suplemen (Tambahan).
E-learning berfungsi sebagai suplemen (tambahan), yaitu peserta didik
mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi e-
learning atau tidak.
2) Sebagai Komplemen (Pelengkap).
E-learning berfungsi sebagai komplemen (pelengkap), yaitu
materinyadiprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang
diterima pesertadidik di dalam kelas.
3) Sebagai Substitusi (Pengganti).
E-learning berfungsi sebagai substitusi (pengganti), yaitu peserta didik
sepenuhnya melakukan tatap muka dengan guru melalui internet.
d. Tahapan – Tahapan untuk Membuat Aplikasi E-Learning

16
Tahapan-tahapan untuk membuat aplikasi e-learning menurut Andi
Wahyu Rahardjo Emanuel, dkk. (2008: 8), yaitu:
1) Persiapan Proses persiapan perangkat keras, perangkat lunak, jaringan
komputer, ataupun kurikulum yang harus dipersiapkan sebelumnya.
2) Instalasi Proses pemasangan segala perangkat keras, perangkat lunak,
dan jaringan komputer.
3) Pengisian dan Pengubahan Proses modifikasi teknologi Open Source
yang ada agar sesuai dengan yang diharapkan, mencakup penambahan
tema, penambahan guru, penambahan mata pelajaran atau mata
kuliah, dan lain-lain.
4) Uji Coba Untuk beberapa saat, aplikasi harus melewati fase uji coba
untuk mengetahui dan mengantisipasi segala kemungkinan kesalahan
yang ada sebelum dipakai secara menyeluruh.
5) Pemakaian Penggunaan secara menyeluruh aplikasi e-learning untuk
menunjang proses pendidikan sehari-hari.
Mengacu pada penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
tahapan tahapan untuk membuat aplikasi e-learning, yaitu: (a) persiapan,
(b) instalasi, (c) pengisian dan pengubahan, (d) uji coba, dan (e) pemakaian.
c. Schoolgy
a. Pengertian Schoology
Schoology adalah website yang memadu e-learning dan jejaring
sosial. Konsepnya sama seperti edmodo, namun dalam hal e-learning
schoology mempunyai banyak kelebihan. Membangun e-learning dengan
schoology juga lebih menguntungkan bila dibanding menggunakan
moodle yaitu karena tidak memerlukan hosting dan pengelolaan
schoology (lebih user friendly). Tentu fiturnya tidak selengkap moodle,
namun untuk pembelajaran online di sekolah sudah sangat memadai.
Adapun fitur-fitur yang dimiliki oleh Schoology adalah sebagai berikut:
Courses, Group Discussion, Resources, Quiz, Attendance dan Analytics.
b. Cara Login ke Akun Schoology
Terdapat dua cara untuk login ke akun Schoology, antara lain:
1) Basic, terdiri dari:

17
a) Instruktur, sign up untuk pemilik akun Schoology.
b) Siswa, memerlukan sebuah akses kode yang disediakan oleh guru.
c) Orang tua, memerlukan sebuah akses kode yang disediakan oleh
guru.
2) Enterprise, untuk sebuah institusi atau sekolah yang mengelola guru
dan pembelajaran dengan fungsional dan administrasi pendidikan.
c. Menu-Menu dalam Schoology
Menu-menu yang terdapat dalam aplikasi Schoology antara lain:
1) Courses, dengan menu courses, pengguna dapat membuat kelas baru,
bergabung dengan kelas yang sebelumnya sudah ada atau browsing
melalui daftar kelas yang telah ditetapkan.
2) Groups, berfungsi seperti pesan dinding di mana anggota grup juga
dapat mem-posting pesan dinding. Ketika bergabung dengan sebuah
grup, pengguna dapat mencari bagian dari grup yang pengguna
inginkan.
3) Resources, untuk menjaga, melacak dokumen, file, dan gambar yang
pengguna upload dalam kelas.
4) Recent Activity, untuk menampilkan berita terbaru yang terdapat pada
akun Schoology. Kita dapat mem-posting dan meng-update dalam akun
serta memilih halaman mana yang akan pengguna posting.
5) Calendar, untuk menampilkan halaman kalender yang telah di-posting
sebelumnya di Recent Activity.
6) Messages, untuk mengirimkan pesan atau melihat pesan antara sesama
pengguna Schoology.
7) People, untuk dapat melihat daftar pengguna dalam suatu kelas.

B. PENELITIAN TERDAHULU
1. Penelitian yang dilakukan oleh Seung-Hyun Lee (2014), dengan judul “Digital
Literacy Education for the Development of Digital Literacy”. Tujuan dari
penelitian ini adalah Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji
pengaruh pendidikan literasi digital (DLE) pada pengembangan literasi digital
melalui pusat komunitas teknologi digital lokal, khususnya bagi mereka yang

18
memilikikurangnya literasi digital. Penelitian ini berfokus pada pengukuran
perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pendidikan literasi
digital melalui tes dan survei sebelum dan sesudah kinerja. Studi ini juga
mengukur hubungan antara DLE dan komputer serta penggunaan Internet.
Perbandingan rata-rata dari sampel berpasangan. Hasil uji t dari penelitian ini
menunjukkan peningkatan rata-rata dari pretest ke posttest, menyiratkan
peningkatan literasi digital sebagai hasil dari pendidikan. Tujuan akhir dari
pendidikan literasi digital dalam penelitian ini adalah untuk memberi orang,
yang buta huruf secara digital, dengan kesempatan belajar dan digital untuk
meningkatkan mereka literasi digital melalui pendidikan dalam lingkungan
informal dan untuk memfasilitasi koneksi digital dan inklusi.
2. Penelitian ini dilakukan oleh Shampa Biswas (2013), dengan judul “Schoology-
Supported Classroom Management: A Curriculum Review”. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengevaluasi berbagai prospek manajemen kelas
yang didukung Schoology menggunakan prinsip-prinsip yang dipilih dalam
pembelajaran siswa dan pengembangan literasi dari Cummin et al (2007). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa instruksi yang didukung Schoology memiliki
potensi yang kuat dalam menghubungkan dan berkolaborasi dengan pemangku
kepentingan sekolah pada platform yang sama. Hubungan komunal ini dapat
membantu memenuhi permintaan multi-literasi. Selain itu, nilai-nilai Schoology
yang berbeda untuk individu memiliki kredibilitas untuk meningkatkan prestasi
akademik dan inovasi pendidikan siswa.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Ľubica Knošková dan Lujza Jurkovičová (2012),
dengan judul “Exploration of Learning styles and Digital Literacy for Innovation
in Designing E-learning Courses”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menganalisis gaya belajar serta kelebihan dan kelemahann model pendidikan e-
learning dalam ilmu komoditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa E-learning
semakin banyak digunakan dalam proses pendidikan dan terkadang
menggantikan proses pendidikan tradisional. Meningkatkan efisiensi dan
keberhasilan e-learning adalah tugas yang sulit. Implementasi sistem e-learning
dalam kaitannya dengan gaya belajar siswa yang berbeda dapat meningkatkan
hasil belajar secara keseluruhan. E-learning mempercepat transfer informasi

19
dalam pendidikan dan juga menunjukkan pengayaan kegiatan barunya. Model
pendidikan e-learning yang disusun dengan benar juga mengembangkan literasi
informasi siswa. Pengajaran ilmu Komoditas dalam bentuk e-learning bertujuan
untuk meningkatkan pengajaran mata pelajaran ini dengan memungkinkan
siswa untuk mengkomunikasikan informasi dan pengetahuan, yang lebih mudah
daripada dalam bentuk pengajaran tradisional. Juga, bentuk mediasi pendidikan
oleh siswa ini membentuk konsep dan pengetahuan baru yang mereka pelajari
untuk mengembangkan kompetensi yang telah ditentukan. Presentasi
PowerPoint, video, file audio, foto, dan lainnya dapat digunakan sebagai
motivasi atau interpretasi kurikulum.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Rafi Muhammad ,Jian Ming Zheng, dan Ahmad
Khurshid (2019), dengan judul “Technology integration for students’ information
and digital literacy education in academic libraries”. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk memahami kompetensi teknologi siswa dalam menggunakan
sumber daya basis data dan mencari informasi online. Selain itu, untuk
mengevaluasi konten pelatihan dan instruktur yang ditunjuk pada pendidikan
literasi digital, penelitian ini juga berfokus pada perilaku belajar siswa yang
terpajan secara digital, manajemen perpustakaan dan interaksi akademik siswa
pada tren teknologi baru. Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan yang
kuat antara keterampilan teknologi siswa dengan menggunakan alat-alat digital,
pemanfaatan sumber daya basis data dan penelusuran informasi jaringan di
Web. Hubungan antara universitas dalam hal merekrut instruktur yang ditunjuk
pada pendidikan literasi digital, memperkenalkan kurikulum berbasis TIK dan
hubungan antara manajemen perpustakaan dalam mempertahankan program
pelatihan reguler tentang literasi digital menunjukkan hubungan negatif. Selain
itu, temuan mengungkapkan bahwa paparan digital siswa bukan merupakan
faktor pendorong dalam mengembangkan kompetensi teknologi, tetapi
ditemukan menjadi faktor yang lebih menggembirakan. Juga disimpulkan bahwa
keterlibatan teknologi perpustakaan secara signifikan meningkatkan
keterampilan belajar berbasis teknologi siswa. Implikasi praktis Hasil yang
diperoleh setelah data yang dianalisis dapat membantu manajemen
perpustakaan dalam menyediakan strategi jangka panjang untuk meningkatkan

20
pendidikan literasi digital dan pelatihan bagi siswa dalam pemanfaatan yang
efektif dari teknologi untuk kinerja akademik dan integrasi sosial yang lebih baik.
Asli / nilai Penelitian ini didasarkan pada metode kuantitatif menggunakan
kuesioner. Cakupan basis data yang luas dan keterampilan literasi digital
berdasarkan masukan pelatih dapat meningkatkan kinerja siswa dan kualitas
akademik.
5. Penelitian ini dilakukan oleh Ukwoma Scholastica C.,Iwundu Nkiruka E. dan
Iwundu Ifeanyichukwu Emmanuel (2016), dengan judul “Digital literacy skills
possessed by students of UNN, implications for effective learning and
performance: A study of the MTN Universities Connect Library”. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keterampilan literasi digital yang
dimiliki oleh mahasiswa Universitas Nigeria, Nsukka (UNN), dan sejauh mana
mereka menggunakan keterampilan literasi digital ini dalam karya akademis
mereka. Hasil dari penelitian ini yaitu menunjukkan bahwa beberapa siswa
memiliki keterampilan literasi digital; mereka menggunakan keterampilan
literasi digital ini setiap hari. Mayoritas responden mengindikasikan bahwa
literasi digital telah memengaruhi kinerja akademis mereka sampai batas
tertentu. Tantangan utama untuk memperoleh keterampilan literasi digital
termasuk kegagalan listrik, bandwidth internet rendah, fasilitas TIK, kurangnya
pengembangan program dan standar literasi digital. Implikasi praktis Implikasi
dari penelitian ini adalah bahwa pendirian MTN telah meningkatkan
pengembangan literasi digital di UNN. karena banyak siswa memanfaatkan
fasilitas ini. Orinalitas / nilai Pustakawan dan staf perpustakaan harus dilengkapi
dengan keterampilan dan kompetensi literasi digital yang memadai untuk
memberdayakan mereka untuk melatih dan mendidik pengguna, karena
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah alat utama untuk mengajar,
belajar dan penelitian. Untuk mencapai tujuan ini, ada kebutuhan untuk terlibat
dalam kolaborasi kemitraan publik swasta untuk mensponsori penyediaan
fasilitas TIK ini di lembaga pendidikan tinggi kami untuk meningkatkan
pembelajaran literasi untuk pembangunan nasional.

C. KERANGKA BERFIKIR

21
Berdasarkan penjelasan diatas Literasi digital merupakan satu dari enam
literasi dasar yang diterapkan terutama dalam kegiatan pembelajaran. Lima hal
lainnya antara lain literasi baca tulis, numerasi, sains, finansial serta budaya dan
kewarganegaraan. Input tentang pemanfaatan media elektronik yaitu penggunaan
handphone, komputer / laptop yang tidak dimafaatkan secara optimal dalam
kegiatan pembelajaran berbasis e-learning seingga berdampak pada rendahya
literasi digital.
Pengembangan pembelajaran dengan pemanfaatan media pembelajaran E-
Learning berbasis Schoology sebagai perbaikan untuk meningkatkan kualitas literasi
digital pada siswa, sehingga outputnya adalah penggunaan pembelajaran e-learning
schoology dapat meningkatkan literasi digital pada siswa . kerangka berpikir dalam
penelitian dijelaskan pada gambar dibawah ini :

Literasi digital merupakan satu dari enam literasi dasar yang diterapkan
terutama dalam kegiatan pembelajaran. Lima hal lainnya antara lain literasi
baca tulis, numerasi, sains, finansial serta budaya dan kewarganegaraan.

Input : pemanfaatan media elektronik yaitu penggunaan handphone,


komputer / laptop yang tidak dimafaatkan secara optimal dalam kegiatan
pembelajaran berbasis e-learning seingga berdampak pada rendahya
literasi digital.

. Pengembangan : pembelajaran dengan pemanfaatan media pembelajaran


E-Learning berbasis Schoology sebagai perbaikan untuk meningkatkan
kualitas literasi digital pada siswa

Output : penggunaan pembelajaran e-learning schoology dapat


meningkatkan literasi digital pada siswa

BAB III

22
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian


1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif.
Satori dan Komariah (2011: 28) menjelaskan bahwa Penelitian deskriptif
berusaha untuk mendiskripsikan suatu objek, fenomena, atau seting sosial
terjewantahkan dalam suatu tulisan yang bersifat naratif. Artinya, data, fakta
yang dihimpun berbentuk kata atau gambar dari adanya angkaangka.
Mendiskripsikan sesuatu berarti menggambarkan apa, mengapa dan bagaimana
suatu kejadian terjadi”.
2. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus intrinsik,
dimana penelitian ini dilakukan karena ketertarikan pada suatu kasus tertentu.
Pendekatan studi kasus membuat peneliti dapat memperoleh pemahaman
utuh dan terintegrasi mengenai interalsi berbagai fakta dan dimensi dari kasus
khusus tersebut.
Dalam pendekatan tipe penelitian studi kasus, metode pengumpulan
data dapat melalui wawancara, observasi dan analisis dokumen.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di SMA N 1 Wuryantoro yang beralamat di
Jl. Raya Pracimantoro-Wonogiri No. 184, Ngebeng, Wuryantoro, Kabupaten
Wonogiri.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan selama kurang lebih 1 bulan yang berawal dari
bulan Juni 2020 sampai selesainya penelitian.

C. Data, Sumber Data, dan Narasumber

23
1. Data
Berdasarkan sumbernya, data penelitian dibedakan menjadi dua jenis
yaitu :
a. Data Primer
Data primer merupakan data yang didapatkan secara langsung oleh
peneliti yang berasal dari sumbernya. Data primer sering disebut juga
sebagai data langsung dan lebih bersifat up to date karena peneliti
memperoleh data langsung dari narasumber. Data primer didapatkan
melalui pihak - pihak yang berkaitan dengan penelitian yang dilaksanakan.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang didapatkan secara tidak
langsung oleh peneliti. Data sekunder diperoleh peneliti melalui sumber -
sumber bacaan seperti buku, jurnal, artikel, serta web yang berkaitan
dengan penelitian yang dilakukan. Sumber - sumber tersebut tentunya
merupakan sumber yang terpercaya.
2. Sumber Data
Sumber data yang didapatkan diperoleh dari :
a. Informasi
Informasi merupakan data yang telah dianalisis. Biasanya informasi
berupa data yang telah diorganisasikan dalam bentuk yang sesuai
dengan penelitian untuk digunakan sebagai sumber utama oleh peneliti
dalam pemakaian data. Informasi awal dipilih sesuai dengan tujuan
penelitian.
b. Tempat dan Peristiwa
Tempat merupakan lokasi di mana peneliti memperoleh sumber
data yaitu di SMA N 1 Wuryantoro yang beralamat di Jl. Raya
Pracimantoro-Wonogiri No. 184, Ngebeng, Wuryantoro, Kabupaten
Wonogiri. Tempat dan peristiwa dijadikan oleh peneliti untuk
mendapatkan sumber data untuk mendukung penelitian yang dilakukan.

3. Narasumber

24
Narasumber merupakan seseorang yang memberikan informasi kepada
peneliti untuk dijadikan sebagai data yang mendukung penelitian. Narasumber
dalam penelitian ini terdiri dari :
a. Kepala Sekolah SMA Negri 1 Wuryantoro
b. Guru kelas XI IPS 1
c. Siswa kelas XI IPS 1 sebanyak 30 siswa

D. Kehadiran Peneliti
Peneliti merupakan instrumen dalam penelitian yang melaksanakan
kegiatan penelitian mulai dari perencanaan, pengumpulan data, penganalisisan
data, hingga pada pelaporan hasil penelitian. Sehingga peneliti harus senantiasa
menjadi hubungan yang harmonis sebelum penelitian hingga pada terselesaikannya
laporan penelitian agar memperoleh informasi yang cukup untuk penelitian.
Menurut Murtiyasa dalam penelitian kualitatif peneliti berperan sebagai
kunci utama atau instrumen utama dari sebuah penelitian (the key instrumen)
sehingga harus menjadi pihak yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
sekitar sehingga mampu memperoleh data penelitian yang dibutuhkan (Murtiyasa et
al., 2018).

E. Teknik Pengumpulan Data


Tujuan diadakannya suatu penelitian adalh untuk mendapatkan data,
maka teknik pengumpulan data adalah hal yang sangat penting dalam suatu
penelitian. Menurut Harsono dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian
Pendidikan terdapat beberapa cara dalam pengumpulan data yang meliputi :
1. Wawancara
Cara pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada
responden, atau seorang outoritas (ahli yang berwenang dalam masalahnya).
Dalam penelitian ini narasumber berasal dari siswa kelas XI IPS 1, yang
selanjutnya peneliti mengajukkan beberapa pertanyaan lalu dijawab oleh
narasumber.

2. Observasi

25
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilaksanakan
melalui pengamatan secara langsung terkait dengan kondisi yang terjadi di
lapangan atau tempat penelitian. Dalam penelitian ini peneliti melakukan
pengamatan terhadap media pembelajaran e-learning yang digunakan oleh
siswa.

F. Keabsahan Data
Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi. Triangulasi merupakan suatu
teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan data lain yang di luar data itu,
gunanya untuk pengecekan atau pembanding terhadap data yang telah diperoleh.

G. Teknik Analisis Data


Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif non statistik
melalui triangulasi dan dilaksanakan secara terus menerus untuk dapat mencapai
kelengkapan data. Analisis kualitatif dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu sebelum
penelitian, saat penelitian berlangsung, dan setelah penelitian dilaksanakan.
Sebelum penelitian, peneliti melakukan analisis terhadap data hasil studi
pendahuluan atau analisis terhadap data sekunder (Harsono, 2019). Analisis saat
penelitian dilaksanakan dengan model analisis dengan aktivitas sebagai berikut :
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memokuskan pada hal-
hal yang penting, dicari tema dan polanya.
2. Data Display (Penyajian Data)
Tahap selanjutnya setelah reduksi data yaitu mendisplaykan data.
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dalam bentuk uraian singkat,
bagan, hubungan antar kategori dan sejenisnya. Hal ini untuk mempermudah
untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya
berdasarkan apa yang dipahami.
3. Conclusion Drawing/ Verification
Tahap ketiga yaitu menarik kesimpulan. Kesimpulan awal bersifat
sementara dan dapat berubah apabila tidak ditemukan bukti - bukti yang valid
dan menguatkan untuk mendukung tahap pengumpulan data berikutnya. Akan

26
tetapi apabila kesimpulan tahap awal didukung oleh data - data yang valid dan
konsisten pada saat peneliti melakukan pengecekan kembali terhadap data di
lapangan, maka kesimpulan tersebut merupakan kesimpulan yang bersifat
kredibel.

BAB IV

27
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Berikut ini adalah hasil penelitian Analisis Literasi Digital Melalui Penerapan
E- learning Berbasis Schoology Siswa Kelas XI IPS 1 pada Pembelajaran Ekonomi di
SMA Negeri 1 Wuryantoro :
1. Penerapan dan pemanfaatan literasi digital melalui media e-learning berbasis
schoology pada pembelajaran Ekonomi kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 1
Wuryantoro.
2. Hasil wawancara peneliti mendapati peserta didik dalam proses pembelajaran
telah mengikuti kegitan belajar pada indikator penerapan dan pemanfaatan
literasi digital melalui media e-learning berbasis schoology.
3. Dalam proses pembelajaran dengan media e-learning pada indikator jumlah
dan variasi bahan bacaan dan alat peraga berbasis digital yang terdapat dalam
fitur schoology, peserta didik masih belum terbiasa dengan fitur-fitur
tersebut.
4. Selanjutnya pada indikator frekuensi peminjaman buku bertema digital yang
merupakan salah satu fitur di schoology , menunjukkan bahwa sebagian
besar peserta didik sudah melakukan peminjaman buku digital tersebut.
5. Kemudian pada indikator jumlah penyajian informasi sekolah menggunakan
media digital atau situs laman, sebagian besar peserta didik tidak terlalu
antusias untuk membuka/ mengakses informasi sekolah. Padahal sebagian
besar peserta didik memiliki handphone dan kuota internet untuk mengakses
link yang disediakan.

B. Pembahasan
Pencapaian literasi didasari dari empat indikator antara lain intensitas
penerapan dan pemanfaatan literasi digital dalam kegiatan pembelajaran, jumlah
dan variasi bahan bacaan dan alat peraga berbasis digital, frekuensi peminjaman
buku bertema digital dan jumlah kegiatan di sekolah dengan menggunakan media
digital atau situs laman. Dalam hal ini peneliti melakukan wwawancara terhadap
siswa kelas XI IPS 1 untuk mengukur keempat indikator yang dijelaksan diatas.

28
Pada indikator pertama yaitu intensitas penerapan dan pemanfaatan literasi
digital dalam kegiatan pembelajaran, dalam wawancara yang dilakukan terhadap
peserta didik sebagian besar peserta didik mengikuti kelas dalam schoology . Di
dalam schoology dihadirkan fitur diskusi online yang membahas permasalahan
ekonomi maupun diskusi umum. Selain itu, dihadirkan link-link di dalam diskusi
online yang berisi informasi ekonomi baik itu di internet maupun media sosial yang
ada membuat media ini semakin dapat meningkatkan intensitas penerapan dan
pemanfaatan literasi digital dalam kegiatan pembelajaran. Dan peserta didik dapat
memaksimalkan fitur-fitur tersebut dengan baik.
Selanjutnya pada indikator yang kedua, yaitu jumlah dan variasi bahan
bacaan dan alat peraga berbasis digital, sebagian besar peserta didik masih belum
terbiasa dengan fitur-fitur yang terdapat di schoology. Semua peserta didik di SMA
Negeri 1 Wuryantoro tidak pernah menggunakan LMS dalam kegiatan
pembelajaran. Hal ini membuat pemakaian dengan intensitas yang lebih banyak
diperlukan untuk pembiasaan penggunaan e-learning untuk meningkatkan
kemampuan literasi digital.
Pada indikator frekuensi peminjaman buku bertema digital, sebagian besar
peserta didik sudah melakukan peminjaman buku digital . Schoology menghadirkan
fitur yang ter-link ke aplikasi perpustakaan digital yaitu ipusnas. Hal ini bertujuan
untuk membiasakan peserta didik untuk mendapatkan referensi lebih terkait dengan
pembelajaran ekonomi di perpustakaan terbesar milik pemerintah.
Pada indikator jumlah penyajian informasi sekolah menggunakan media
digital atau situs laman, sebagian besar peserta didik tidak terlalu antusias untuk
membuka/ mengakses informasi sekolah. Padahal sebagian besar peserta didik
memiliki handphone dan kuota internet untuk mengakses link yang disediakan. Hal
ini disebabkan peserta didik lebih tertarik mengakses informasi yang unik, menarik
dan menyenangkan di sosial media yang mereka miliki.
Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan bahwa penggunaan pembelajaran
e-learning berbasis schoology dapat meningkatkan literasi digital di kelas XI IPS 1
SMA N 1 Wuryantoro.
BAB V
PENUTUP

29
A. Kesimpulan
Kemampuan literasi digital dilihat dari empat indikator, yaitu 1) intensitas
penerapan dan pemanfaatan literasi digital dalam kegiatan pembelajaran, 2) jumlah
dan variasi bahan bacaan dan alat peraga berbasis digital, 3) frekuensi peminjaman
buku bertema digital, dan 4) jumlah penyajian informasi sekolah menggunakan
media digital atau situs laman. Dari keempat indikator diperoleh kategori kurang.
Simpulan dari penelitian adalah e-learning berbasis schoology dapat meningkat
kemampua literasi digital peserta didik namun belum maksimal.

B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai pengembangan e-learning
dengan schoology, maka diperoleh saran sebagai beikut:
1. Bagi pendidik, sebaiknya menjelaskan petunjuk penggunaan Schoology
dengan rinci dan jelas, agar peserta didik memahami langkah-langkah
82
pengunaan Schoology sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung
dengan baik.
2. Bagi pendidik, sebaiknya menambahkan simulasi menggunakan virtual
laboratory dalam Schoology, sehingga peserta didik dapat lebih memahami
materi secara individual dengan mandiri.
3. Bagi pendidik, sebaiknya lebih memanfaatkan fitur-fitur link yang tersedia
dalam Schoology sehingga pembelajaran e-learning dengan Schoology
menjadi lebih menarik.
4. Bagi pendidik, sebaiknya memanfaatkan e-learning dengan Schoology untuk
mengatasi keterbatasan waktu pembelajaran dalam kelas.
5. Bagi peserta didik, sebaiknya membaca petunjuk penggunaan yang terdapat
dalam Schoology secara cermat dan teliti, sehingga langkah-langkah
pembelajaran dalam Schoology dapat berjalan dengan baik.

30
DAFTAR PUSTAKA

Albeerdy. (2015). Determinant of the Financial Literacy among College Students in


Malaysia. International Journal of Business, 6(3), 15-24.

Biswas, S. (2013). Schoology-Supported Classroom Management: A curriculum Review.


Northwest Journal of Teacher Education, 12(2). 1-11.

Jennifer Gilbert, S. M. (2007). E-learning: The Student Expperience. British Journal of


Educational Technology, Vol 38, No 4. 560-573.

31
Jurkovičová, Ľ. K. (2012). Exploration of Learning Styles and Digital Literacy for
Innovation in Designing E-learning Courses. International Journal of Economic
Pratices and Theories, 2(2). 2247-7225.

Lee, S.-H. (2014). Digital Literacy Education for the Development of Digital Literacy.
International Journal of Digital Literacy and Digital Competence, 5(3), 29-43.

Meurant, R. C. (2010). How Computer-Based Internet-Hosted Learning Management


System such as Moodle Can Help Develop 1.2 Digital Literacy. International
Journal of Multimedia and Ubiquitous Engineering, Vol.5, No. 2.

Nasongkhla, S. a. (2015). A Group Investigation Learning System for Open Educational


Resources to Enhance Student Teachers' Digital Literacy and Awareness in
Information Ethics. International Journal of Information and Education
Technology, Vol.5, No. 10.

Rafi Muhammad, J. M. (2019). Technology Integration for Students Information and


Digital Literacy Education in Academic Libraries. Information Discovery and
Delivery, 47(4). 2398-6247.

Rila Setyaningsih, A. E. (2019). Model Peguatan Literasi Digital Melalui Pemanfaatan E-


learning. Jurnal ASPIKOM, Vol 3, No 6. 1200-1214.

A'yuni, Q. Q. (2015). Literasi Digital Remaja di Kota Surabaya. Jurnal Libri-net, Vol 4, No
2.

Harsono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan : Untuk Pemula. Sukoharjo: Gumpang


Agung III.

Hanana, A. Y. (2007). Pendidikan Media Literacy pada Siswa SMP N 10 Padang. Jurnal
Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(2).

Tilde Bekker, S. B. (2015). Teaching Children Digital Literacy through Design-Based


Learning with Digital Toolkits in Schools. International Journal of Child-Computer
Interaction, 5, 29-38.

32
Ukwoma Scholastica C., I. N. (2016). Digital Literacy Skills Possessed by Students of UNN,
Implications for Efffective Learning and Performance: A Study of the MTN
Universities Connect Library. New Library World, 11/12. 0307-4803.

Wahyu Aji Pratama, S. H. (2019). Analisis Literasi Digital Siswa Melalui Penerapan E-
learning Bebasis Schoology. Journal of Innovation and Physics Teaching, 6(1). 9-
13.

RIWAYAT HIDUP PENULIS

33